ISSN : 2302-450X
PROSIDING
PERTEMUAN DAN PRESENTASI KARYA ILMIAH
BALI, 28 JULI 2017
PEMBICARA UTAMA SEMINAR PARALEL DENGAN TEMA
“Internet of Think (IoT) & Big Data : Teknologi, Tantangan dan
Pelu-ang”
Dr. Nyoman Putra Sastra, ST.,MT.
Irsan Suryadi Saputra
PENYUNTING AHLI
Dr. Anak Agung Istri Ngurah Eka Karyawati, S.Si,M.Eng.
Dr. H. Agus Zainal Arifin,S.Kom.,M.Kom.
Dr. I Ketut Gede Suhartana,S.Kom.,M.Kom
Dr.techn. Ahmad Ashari,M.Kom.
PELAKSANA SEMINAR
PELINDUNG
Rektor Universitas Udayana, Bali
PENANGGUNG JAWAB
Dekan Fakultas MIPA Universitas Udayana
Ketua Program Studi Teknik Informatika, FMIPA Universitas Udayana
PANITIA
I Gede Oka Gartria Atitama, S.Kom., M.Kom.
Gst. Ayu Vida Mastrika Giri,S.Kom., M.Cs.
Luh Arida Ayu Rahning Putri, S.Kom.,M.Cs.
Dewa Made Bayu Atmaja Darmawan, S.Kom., M.Cs.
I Putu Gede Hendra Suputra, S.Kom., M.Kom.
I Gede Arta Wibawa,S.T., M.Cs.
I Made Widiartha, S.Si., M.Kom.
I Gusti Agung Gede Arya Kadnyanan, S.Kom., M.Kom.
I Gst. Ngurah Anom Cahyadi Putra, S.T., M.Cs.
I Wayan Supriana, S.Si.,M.Cs.
Dra. Luh Gede Astuti, M.Kom
Dr. I Ketut Gede Suhartana, S.Kom.M.Kom
Dr. A.A. I. N. Eka Karyawati, S.Si.,M.Eng.
I Gede Santi Astawa, S.T., M.Cs.
Made Agung Raharja, S.Si., M.Cs.
Ida Bagus Gede Dwidasmara, S.Kom.,M.Cs.
I Komang Ari Mogi, S.Kom., M.Kom.
Ida Bagus Made Mahendra, S.Kom., M.Kom.
Pemilihan Tempat Pembuangan Akhir (TPA)
Sampah Menggunakan Metode Technique For Others
Reference by Similarity to Ideal Solution
I Wayan Rudi Eri Astawan
1, I Made Widiartha
21,2 Jurusan Ilmu Komputer, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana
1[email protected] 2[email protected]
Abstrak
—
Sampah merupakan suatu bahan yang sudah habis pakai oleh manusia dan sudah dibuang atau bisa juga dikatakan sampah merupakan hasil dari sumber daya alam yang belum diolah sehingga belum menghasilkan nilai ekonomis. Sampah yang tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan banyak permasalahan yang tidak diinginkan, di Kabupaten Tabanan sampah yang dihasilkan mencapai 250 meter kubik perhari dan hanya ada satu tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Seiring perkembangan waktu dan pertumbuhan penduduk yang cepat, tempat pembuangan akhir sampah tidak akan bisa menampung banyaknya sampah yang dihasilkan oleh penduduk Kabupeten Tabanan. Sistem Pendukung Keputusan (SPK) pemilihan tempat pembuangan akhir sampah ini bertujuan untuk membantu pemilihan lokasi TPA sampah yang tepat sehingga tidak menimbulkan masalah di masa mendatang. Salah satu metode SPK yang dapat digunakan adalah Topsis (Technique For Others Reference by Similarity to Ideal Solution).
Metode Topsis merupakan metode salah satu metode multi kriteria yang dapat digunakan dalam mengidentifikasi solusi dari beberapa alternatif berdasarkan minimalisasi dari jarak titik yang ideal serta memaksimalkan jarak dari titik yang terendah. Hasil akhir dari penelitian ini adalah sebuah aplikasi sistem pendukung keputusan pemilihan tempat pembuangan akhir sampah di Kapupaten Tabanan, diharapkan dengan aplikasi ini dapat membantu pihak – pihak terkait dalam pemilihan tempat pembuangan akhir sampah yang tepat. Kata kunci
—
sampah, SAW, SPK, Tabanan, TPA.Abstract
—
Waste is a material that has been discharged by humans and has been discarded or it could be said that waste is the result of natural resources that have not been processed so as not to produce economic value. Waste that is not handled properly will result in many unwanted problems, in Tabanan District the waste produced is 250 cubic meters per day and there is only one landfill (TPA) of waste. As time progresses and rapid population growth, landfills can not accommodate the amount of waste generated by the people of Tabanan Regency. Decision Support System (SPK) selection of final waste disposal site aims to help the selection of proper waste landfill location so as not to cause problems in the future. One of the SPK methods that can be used is Topsis (Technique For Others Reference by Similarity to Ideal Solution).
The Topsis method is a method of a multi-criteria method that can be used in identifying solutions from several alternatives based on minimization of the ideal point spacing and maximizing distance from the lowest point. The final result of this research is an application of decision support system of final waste landfill selection in Tabanan District, it is expected that this application can assist the parties related in the selection of the right garbage dump.
Keywords
—
garbage, SAW, SPK, Tabanan, TPA.I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Sampah merupakan suatu bahan yang sudah habis pakai oleh manusia dan sudah di buang atau bisa juga dikatakan sampah merupakan hasil dari sumber daya alam yang belum di olah sehingga belum menghasilkan nilai ekonomis[1]. Permasalahan tentang sampah sudah sering terjadi pada perkotaan, kurangnya pengeloan yang baik dan sedikitnya tersedia tempat pembuangan sampah menjadikan salah satu faktor penyebab permasalahan sampah. Dengan bertambahnya jumlah penduduk maka jumlah
sampah yang dihasilkan juga akan semakin banyak. Hal ini harus diimbangi dengan penambahan jumlah tempat pembuangan akhir (TPA) sampah supaya tidak memunculkan masalah lingkungan. Selain itu bertambahnya jumlah sampah dan tidak diimbangi dengan pembuatan tempat pembuangan akhir sampah yang baru akan mengakibatkan TPA yang lama akan mengalami overload atau kepenuhan sehingga membutuhkan TPA baru. Pengambilan keputusan dengan baik dan seksama dalam pemilihan TPA sampah yang baru memiliki tujuan membantu pihak-pihak yang terlibat supaya hasil tempat pembuangan akhir yang didapatkat
agar sesuai dan supaya tidak menumbulkan masalah di masa mendatang.
Menurut Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kabupaten Tabanan pada tahun 2016 jumlah sampah di Tabanan mencapai 250 meter kubik perhari. Sementara jumlah TPA yang ada di Kabupaten Tabanan sampai saat ini hanya ada satu tempat pembuangan akhir sampah yaitu TPA Mandung yang bertempat di Desa Mandung, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan. Dari penelitian sebelumnya tentang pemilihan lokasi TPA, ada beberapa metode yang digunakan seperti mendapatkan lokasi yang digunakan untuk TPA berdasarkan atas teknik klasifikasi daerah, dengan rentang yang digunakan antara 0 sampai 255 skala byte yang menggunakan metode fuzzy logic dan Analilytical
Hierarchy Process (AHP). Namun dari penelitan-penelitian
sebelumnya tentang rekomendasi tempat TPA, belum ada memberikan nilai kriteria dan bobot yang sudah ditentukan langsung dari instansi terkait.
Maka dalam penelitian ini yaitu tentang sistem pendukung keputusan pemilihan lokasi TPA sampah menggunakan metode Topsis. Penggunaan metode Topsis memiliki keunggulan yaitu memiliki konsep yang sederhana dan sangat mudah untuk di pahami, selain itu metode Topsis memiliki komputasi yang efisien. Selain keunggulan metode Topsis juga memiliki kelemahan dimana harus adanya bobot yang ditetapkan serta dihitung terlebih dahulu[2]. Metode TOPSIS merupakan metode pendukung keputusan yang diharapkan dapat mengevaluasi nilai dari semua objek yang diberikan secara spesifik[3]. Penggunaan metode TOPSIS pertama kali diutarakan oleh Hwang dan Yoon, dimana merupakan metode yang berisi beberapa kriteria sederhana dan efisien sehingga digunakan untuk mengidentifikasi solusi dari himpunan beberapa alternatif yang ada [4].
Hasil akhir dari penelitian ini adalah sebuah aplikasi sistem pendukung keputusan pemilihan tempat pembuangan akhir sampah yang diharapkan dapat menjadi alat bantu untuk pihak-pihak terkait dalam mendukung dalam mengambil keputusan untuk menentukan lokasi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah yang sesuwai.
B. Tinjauan Pustaka
1) Sistem Pendukung Keputusan (SPK) : Sistem
pendukung keputusan merupakan suatu sistem yang bisa menyelesaikan masalah dan mempunyai kemampuan untuk pengkomunikasian masalah. Sistem pendukung keputusan mempunyai dua kondisi yaitu kondisi semi terstruktur dan tidak terstruktur. Kondisi sistem pemdukung tersebut dipakai saat ada sebuah kondisi tertentu yang tidak bisa diputuskan [5].
SPK bertujuan untuk membantu dan mempermudah pengguna aplikasi dalam memilih suatu keputusan yang lebih baik, sistem pendukung keputusan akan sangat membantu saat sebuah pilihan yang susah untuk di tentukan.
2) Tempat Pembuangan Akhir (TPA) : TPA merupakan
lokasi akhir penempatan sampah dimana sampah akan diolah secara aman sehingga tidak menimbulkan masalah terhadap lingkungan yang ada di sekitarnya. Untuk itu diperlukan sarana dan perlakuan yang tepat sehingga mendapatkan tempat pembuangan akhir sampah dan menghasilkan olahan sampah yang baik bisa tercapai [6].
Besarnya potensi kerusakan lingkungan yang akan ditimbulkan jika tempat pembuangan akhir tidak sesuwai akan mengakibatkan banyak kerugian, oleh karena itu penentuan lokasi TPA harus dilakukan dengan hati-hati dan mengikuti aturan yang ada. Pada SNI No. 03-3241-1994 sudah tercantum tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi TPA Sampah yang baik. Adapun tata cara pemilihan lokasi TPA sampah tersebut adalah [7] :
1. Daerah yang akan digunakan sebagai tempat TPA sampah bukan termasuk daerah yang rawan geologi (bukan daerah patahan, bukan daerah yang rawan longsor, bukan daerah yang rawan gempa, dll)
2. Daerah yang akan digunakan sebagai tempat TPA sampah bukan termasuk daerah yang rawan hidrogeologis yaitu daerah kedalaman air tanahnya kurang dari 3 meter, dll. 3. Daerah yang akan digunakan sebagai tempat TPA sampah
bukan daerah yang rawan topografis (daerah dengan kemiringan lahannya lebih dari 20%).
4. Daerah yang akan digunakan sebagai tempat TPA sampah bukan daerah yang rawan terhadap proses penerbangan di Bandara (jarak yang disarankan minimal 1,5 – 3 km) dan juga bukan di daerah/kawasan yang sudah dilindungi oleh negara. 3) Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) : Metode Topsis merupakan salah satu metode
MADM yang banyak diguanakan untuk memecahkan suatu permasalahan atau menentukan suatau keputusan yang tepat dari banyak pilihan yang ada. Metode Topsis memiliki konsep dimana alternatif terbaik yang sudah di pilih selain mempunyai jarak terpendek dari solusi ideal positif, tapi juga mempunyai jarak terpanjang dari solusi ideal negatif [8]. Pada mode MADM Teknik seperti ini banyak digunakan untuk menyelesaikan permasalahan tentang pendukung keputusan secara praktis[9]. Metode topsis banyak digunakan dikarnakan metode topsis memiliki konsep yang sederhana dan mudah dipahami, selain itu metode topsis juga memiliki komputaional yang efisien dan memiliki kemampuan mengukur nilai alternatif-alternatif secara matematis. Secara umum, prosedur TOPSIS mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
1. Membuat matriks keputusan yang sudah ternormalisasi, seperti persamaan 1. 𝑟𝑖𝑗 = 𝑥𝑖𝑗 √∑𝑚𝑖=1𝑥𝑖𝑗2 (1) 167
Keterangan :
xij merupakan peringkat kinerja alternatif i terhadap atribut
ke-j
rij merupakan elemen dari matrik keputusan yang sudah
ternormalisasi
2. Membuat matriks keputusan yang sudah ternormalisasi terbobot, seperti persamaan 2.
𝑦 = [ 𝑦11 𝑦12 … 𝑦𝑖𝑗 𝑦21 𝑦22 … 𝑦2𝑗 . 𝑦𝑖1 . 𝑦𝑖2 . . … 𝑦𝑖𝑗 ] 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑦𝑖𝑗= 𝑤𝑗𝑟𝑖𝑗 (2) Keterangan :
wj merupakan bobot dari kriteria ke-j
yij merupakan elemen dari matrik keputusan yang ternormalisasi
terbobot.
3. Menentukan matriks solusi ideal positif dan matriks solusi ideal negatif 𝐴+= (𝑦 1+, 𝑦2+, ⋯ , 𝑦𝑛+) (3) 𝐴−= (𝑦 1−, 𝑦2−, ⋯ , 𝑦𝑛−) (4) Dengan : 𝑦𝑗+= { max 𝑖 𝑦𝑖𝑗, 𝑗𝑖𝑘𝑎 𝑗 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑎𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑡 𝑘𝑒𝑢𝑛𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 min 𝑖 𝑦𝑖𝑗, 𝑗𝑖𝑘𝑎 𝑗 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑎𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑡 𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 (5) 𝑦𝑗−= { min 𝑖 𝑦𝑖𝑗, 𝑗𝑖𝑘𝑎 𝑗 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑎𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑡 𝑘𝑒𝑢𝑛𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 max 𝑖 𝑦𝑖𝑗, 𝑗𝑖𝑘𝑎 𝑗 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑎𝑡𝑟𝑖𝑏𝑢𝑡 𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 (6) 4. Menentukan jarak antara nilai setiap alternatif dengan matriks solusi ideal positif dan matriks solusi ideal negatif
𝐷𝑖+= √∑𝑛𝑗=1(𝑦𝑖+− 𝑦𝑖𝑗)2 (7)
Keterangan :
Dj+ merupakan elemen dari matrik solusi ideal positif.
𝐷𝑖−= √∑𝑛𝑗=1(𝑦𝑖𝑗− 𝑦𝑖−)2 (8)
Keterangan :
Dj- merupakan elemen dari matrik solusi ideal negatif.
5. Menentukan nilai preferensi untuk setiap alternatif. 𝑉𝑖=
𝐷𝑖−
𝐷𝑖−+𝐷𝑖+ (9)
Keterangan :
Nilai vj yang lebih besar merupakan prioritas alternative.
II. METODE PENELITIAN
A. Data
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan spesifikasi data sebagai berikut :
1) Jenis Data : Jenis data yang digunakan dalam penelitian
ini ada dua yaitu data sekuder dan data primer, data sekunder berupa data kriteria-kriteria yang digunakan untuk membangun tempat pembuangan akhir sampah yang sesuwai menurut Dinas Kebersihan dan Pertamanan kabupaten Tabanan, dan data primer berupa nilai pembobotan dari masing-masing kriteria yang ada yang langsung dinilai oleh kepala Dinas Kebersihan dan
Pertamanan kabupaten Tabanan. Berikut merupakan kriteria dan pembobotan kriteria yang digunakan dalam penelitian ini :
Tabel 1
Kriteria dan nilai pembobotan kriteria menurut Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tabanan.
No Kriteria Bobot 1 Jarak dengan pusat kota 2 2 Kondisi Tanah 2 3 Harga Tanah 4 4 Jumlah penduduk 2
Berikut merupakan tipikal sepuluh data dari alternatif calon tempat yang digunakan dalam pembangunan tempat pembuangan akhir sampah di Kabupaten Tabanan :
Tabel 2
Tipikal sepuluh data alternatif tempat pembangunan tempat pembuangan akhir sampah
Alternatif C1 C2 C3 C4 Benefit Benefit Cost Cost A1 37.3 40 350 2637 A2 10.3 40 500 9965 A3 8.3 40 500 1884 A4 18.4 40 350 2779 A5 27.7 10 900 2701 A6 17 10 200 4521 A7 3.7 40 500 6699 A8 36.3 5 400 6480 A9 11.5 40 350 2467 A10 9.4 40 350 1920
2) Sumber Data : Data yang digunakan pada penelitian ini
didapatkan dari Dinas Perpajakan kabupaten Tabanan yang bertempat di Komplek Pemerintahan Kabupaten Tabanan di Jalan Pahlawan, Tabanan, Bali.serta data dari jurnal-jurnal di internet.
3) Teknik Pengumpulan Data : Peneliti mendapatkan data
dengan cara menyalin data serta melakukan wawancara kepada kepala kebersihan dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tabanan atas ijin Dari Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) kabupaten Tabanan.
B. Diagram Use Case
Diagram use case akan mendeskripsikan isteraksi aktor dengan sistem yang dibuat. Berikut merupakan diagram use case yang dibagun :
Gbr. 1 Diagram use case
Dalam gambar seperti yang ditunjukkan pada Gbr. 1 terdapat dua aktor yaitu kepala bidang kebersihan dan kepaka DKP, dimana kepala bidang kebersihan bisa melakukan beberapa aktifitas yaitu tambah alternatif, harus alternatif, edit kriteria, penelaian, alternatif, dan bobot, hapus penilaian, proses analisa sementara itu kepala DKP bisa melakukan dua aktivitas yaitu melihat hasil akhir yang berupa perangkingan dan mencetak hasil perengkingan.
C. Activity Diagram
Diagram activity akan menggambarkan aktivitas dari sebuah sistem yang ada, diagram aktivity bukan mengambarkan aktivitas aktor tapi menggambarkan aktivitas yang dapat dilakukan oleh sisem. Berikut merupakan diagram aktivity yang dibangun :
Gbr. 2 Activity Diagram
Dalam gambar seperti yang ditunjukan pada Gbr. 2 terdapat sepuluh aktivitas yang terdapat pada sisem, dan terdapat dua
decission. D. Flochart
Flowchart akan menggambarkann urutan proses yang sudah diurutkan secara mendetain dan menggambarkan hubungan antara suatu proses dengan proses yang lainnya. Berikut merupakan flowchart metode topsis yang dinbangun :
Gbr. 3 Flowchart Metode Topsis
Pada flowchart seperti yang ditunjukkan pada Gbr. 3 memperlihatkan enam proses dan dua data, ke enam proses tersebut adalah proses pembuatan matrik keputusan, normalisasi matrik, perbaikan bobot kriteria, perkalian matrik dengan bobot kriteria, menemukan solusi ideal negatif dan positif, menentukan jarak alternatif dan preferensi setiap alternatif sedangkan terdapat dua data yaitu data alternatif tempat pembuangan akhir sampah, dan data bobot kriteria.
E. Diagram ERD
Diagram ERD yang di buat menunjukan relasi dari entitas dari aplikasi yang akan dibangun, berikut merupakan diagram ERD yang dibangun :
Gbr 4 Diagram ERD aplikasi SPK penentuan tempat pembuangan akhir sampah
Gbr 4 memperlihatkan ada lima entitas yang saling berelasi yaitu entitas penililaian, kepala kebersihan, alternatif, bobot dan kriteria. Dimana entitas penilaian berelasi dengan tiga entitas yaitu entitas alternatif, entitas kepala kebersihan dan entitas bobot. Sementara entitas bobot juga berelasi dengan entitas kriteria.
F. Teknik Pengujian Aplikasi Blackbox
Metode blackbox digunakan untuk mengujikan aplikasi yang telah dibuat dengan kriteria pengujian sebagai berikut :
Tabel 3
Kriteria Pengujian Aplikasi Menggunakan Metode Blackbox
No Kriteria Pengujian
1 Pengguna dapat melakukan login 2 Pengguna dapat menambahkan alternatif 3 Pengguna dapat mengubah alternatif
4 Pengguna dapat memberi nilai alternatif berdasarkan kriteria 5 Pengguna dapat mengubah nilai bobot
6 Pengguna dapat menentukan normalisasi matrik keputusan 7 Pengguna dapat menentukan solusi ideal positif dan negatif 8 Pengguna dapat menentukan jarak alternatif
9 Pengguna dapat melakukan perengkingan
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Tahap-tahap proses aplikasi
Berikut merupakan tahapan-tahapan perjalan aplikasi sistem pemilihan tempat pembuangan akhir sampah dengan menggunakan metode Topsis (Technique For Others Reference
by Similarity to Ideal Solution)
1) Proses login : Pada aplikasi sistem pemilihan tempat
pembuangan akhir sampah dengan metode topsis ini pengguna
diharuskan login terlebih dahulu sebelum menggunakan fitur-fitur yang tersedia pada aplikasi, pengguna diharuskan mempunyai username dan password yang bisa didapatkan dengan melakukan proses register terlebih dahulu. Berikut merupakan tampilan halaman login dari aplikasi yang dibangun :
Gbr 5. Tampilan Halaman Login Aplikasi
Setelah pengguna berhasil melakukan proses login, selanjutnya pengguna dapat melakukan proses pendukung keputusan dengan menggunakan metode Topsis.
2) Memasukan calon atribut : setelah pengguna berhasil melakukan login, selanjutnya pengguna akan memasukan calon-calon alternatif tempat pembuangan akhir sampah. Pada halaman untuk menginputkan calon alternatif tempat pengguna akan memasukan nama desa yang dijadikan alternatif tempat pembuangan akhir sampah dan juga kecamatan dimana desa itu berada. Berikut merupakan tempilan halaman untuk menginputkan alternatif tempat pembuangan akhir sampah :
Gbr 6. Tampilan Memasukan calon atribut tempat pembuangan akhir sampah
3) Memasukan nilai alternatif berdasarkan kriteria yang
sudah ditetapkan : setelah pengguna selesai memasukan calon
alternatif tempat pembuangan akhir sampah, selanjunya pengguna harus memasukan nilai alternatif berdasarkan kriteria yang sudah ditetapkan sebelumnya, jumlah nilai yang dimasukan tersebut harus sesuwai dengan jumlah altenatif yang sudah diinputkan oleh pengguna. Berikut merupakan tampilan halaman untuk memasukan nilai alternatif berdasarkan kriteria yang tersedia :
Gbr 7. Tampilan Memasukan nilai alternatif berdasarkan kriteria
4) Menginputkan nilai bobot : setelah pengguna selesai memasukan calon alternatif tempat yang digunakan untuk tempat pembuangan akhir sampah, selanjutnya pengguna akan memasukan nilai bobot untuk masing-masing kriteria yang sudah disediakan, awalnya nilai bobot sudah diisikan pada program tapi jika pengguna mempunyai penilaian yang berbeda terhadap nilai pembobotan yang sudah ada pengguna bisa mengubah sesewai kepentingan pengguna. Berikut merupakan tampilan halaman pembobotan kriteria :
Gbr 8. Tampilan Memasukan nilai bobot.
5) Normalisasi matrik keputusan : setelah pengguna menginputkan semua nilai alternatif berdasarkan kriteria yang ada, proses selanjutnya adalah melakukan normalisasi matrik berdasarkan nilai alternatif yang sudah diinputkan sebelumnya. Untuk proses normalisasi menggunakan rumus nomer (1) yang ada pada kajian pustaka. Berikut merupakan tampilan halaman hasil dari proses normalisasi matrik data alternatif tempat pembuangan akhir sampah pada aplikasi :
Gbr 9. Tampilan Normalisasi matrik keputusan
6) Perkalian matrik ternormalisasi dengan bobot kriteria : setelah selesai proses pernormalisasian matrik selanjutnya dilakukan proses mengalikan matik ternormalisasi dengan bobot kriteria yang sudah ditentukan. Berikut merupakan tampilan halaman hasil dari perkalian matrik ternormalisasi dengan bobot kriteria :
Gbr 10. Tampilan Matrik normalisasi terbobot
7) Menentukan solusi ideal positif dan negatif : setalah melakukan proses perkalian matrik ternormalisasi dengan bobot kriteria, selanjutnaya menentukan solusi ideal positif dan negatif. Solusi ideal positif didapatkan dengan mencari nilai terbesar pada masing-masing kolom kriteria yang ada, begitu juga sebaliknya mencari solusi ideal negatif dengan mencari nilai terkecil pada masing-masing kolom kriteria yang ada. Berikut merupakan tampilan halaman untuk menentukan solusi ideal positif dan solusi ideal negatif :
Gbr 11. Tampilan solusi ideal positif dan solusi ideal negatif
8) Menentukan jarak alternatif : setelah mentukan solusi ideal positif dan solusi ideal negatif selanjutnya menentukan nilai jarak alternatif, untuk menentukan jarak alternatif digunakan rumus nomer (7 dan 8) pada tinjauan pustakan. Berikut merupakan tampilan halaman menentukan jarak alternatif pada aplikasi :
Gbr 12. Tampilan nilai jarak alternatif
9) Menentukan perengkingan alternatif tempat pembuangan akhir samapah yang paling sesuwai. : setelah
mendapatkan nilai jarak alternatif, selanjutnka dilakukan proses perengkingan dimana nilai alternatif yang paling baik (terbesar) akan menjadi alternatif yang paling sesuwai untuk dijadikan tempat pembuangan akhir sampah di kabupaten Tabanan. Berikut merupakan tamplikan halaman untuk menampilkan hasil perengkingan pada aplikasi :
Gbr 13. Tampilan Hasil Perhitungan Nilai Akhir
B. Pengujian dengan Metode Blackbox
Berikut merupakan hasil pengujian aplikasi pendukung keputusan pemilihan tempat pembuangan akhir sampah dengan menggunakan metode blackbox :
No Kriteria Pengujian Hasil
1 pengguna dapat melakukan
login Berjalan dengan baik 2 Pengguna dapat menambahkan
alternatif Berjalan dengan baik 3 Pengguna dapat mengubah
alternatif Berjalan dengan baik 4 Pengguna dapat memberi nilai
alternatif berdasarkan kriteria Berjalan dengan baik 5 Pengguna dapat mengubah nilai
bobot Berjalan dengan baik 6 pengguna dapat menentukan
normalisasi matrik keputusan Berjalan dengan baik
7 pengguna dapat menentukan solusi ideal positif dan negatif Berjalan dengan baik 8 pengguna dapat menentukan
jarak alternatif Berjalan dengan baik 9 pengguna dapat melakukan
perengkingan Berjalan dengan baik
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang dilakukan tentang sistem pendukung keputusan pemilihan tempat pembuangan akhir sampah (studi kasus: Kabupaten Tabanan), dapat disimpulkan bahwa perengkingan calon tempat pembuangan akhir sampah dapat dilakukan dengan sistem pendukung keputusan menggunakan metode Topsis dan dengan adanya sistem pendukung keputusan ini dapat mempermudah Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tabanan dalam mengambil keputusan penentuan tempat pembuangan akhir sampah (TPA) baru.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terimakasi ke berbagai pihak yang telah membantu kelancaran dari penelitian ini baik kepada dosen pembimbing, dinas kebersihan, Pertamanan kabupaten Tabanan dan pihak-pihak lainnya yang membabtu peletian ini sampai selesai.
REFERENSI
[1] Manik, K.E.S, Pengelolaan Lingkungan Hidup, Jakarta: Djambatan, 2003. [2] Afifah, Nur, 2012, Sistem Pendukung Keputusan Penerimaan Beasiswa
Magang Menggunakan Metode Topsis
[3] Zhu Xiaoqian, Wang Fei, Wang Haiyan, Liang Changzhi, Tang Run, SunXiaolei, dan Li Jianping. 2014. “TOPSIS method for quality credit evaluation: A case of air-conditioning market in China”. Journal of Computational Science. 5, 99–105.
[4] Xu Qiang, Zhang Yuan-Biao, Zhang Jing, dan Lv Xin-Guang. 2015. “Improved TOPSIS Model and its Application in the Evaluation of NCAA
Basketball Coaches”. Modern Applied Science. 9, 2.
[5] Turban, E, et al, Decision Suport Systems and Intelelligent System, 6th
Edition, Upper Saddle River,NJ: Prentice Hall, 2001.
[6] Anonim, Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008
tentang Pengolahan Sampah, 2008.
[7] Anonim, SNI 19-3241-1994 tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi Tempat
Pembuangan Akhir Sampah, Dinas Pekerjaan Umum, 1994.
[8] Yoon, K., & Hwang, C. L. Multiple Attribute Decision Making: Methods
and Applications. Berlin: Springer, 1981.
[9] Yeh, C. A Problem-based Selection of Multi-attribute Decision-making
Methods. International Transactions in Operational Research , 2002,
p.169-181.