• Tidak ada hasil yang ditemukan

5. HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "5. HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

5. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Ketersediaan Fosfor (P) di Perairan Waduk

Hasil pengukuran kosentrasi TP di perairan waduk berkisar antara 0.003 mg/l - 0.294 mg/l (Tabel 13). Menururt Komarawidjaja et al. (2005) pada umumnya perairan yang alami, kandungan total fosfor tidak lebih dari 0.1 mg/l, kecuali pada perairan yang menerima berbagai macam limbah dari rumah tangga dan limpasan dari pertanian yang umumnya menggunakan pupuk. Kosentrasi rata-rata TP hasil pengukuran adalah sebagai nilai yang menyatakan besarnya kosentrasi rata-rata TP di perairan waduk. Dengan demikian ketersediaan P di perairan waduk hasil pengukuran rata-rata 0.128 mg/l selama periode bulan Agustus - Nopember 2010. Nilai kosentrasi TP hampir disemua stasiun pengamatan menunjukkan nilai yang lebih besar dari 0.1 mg/l. Pada stasiun 1 sampai stasiun 4 merupakan daerah aliran sungai yang ke waduk. Berdasarkan hasil pengukuran kosentrasi TP di masing-masing stasiun tersebut dari aktivitas di luar waduk cukup tinggi. Demikian juga di dalam waduk seperti pada stasiun 5 merupakan daerah tengah waduk kosentrasi TP juga tinggi dengan rata-rata 0.128 mg/l. I (Agustus), II (September), III (Oktober) dan IV (Nopember)

Tabel 13 Nilai rata-rata kosentrasi TP (total fosfor) (mg/l) masing-masing stasiun pengamatan dalam periode Agustus - Nopember 2010

Stasiun Pengamatan Rata-rata

I II III IV S-1 0.138 0.040 0.294 0.145 0.155 S-2 0.115 0.022 0.253 0.147 0.134 S-3 0.094 0.080 0.131 0.172 0.119 S-4 0.130 0.074 0.212 0.099 0.129 S-5 0.172 0.024 0.258 0.081 0.134 S-6 0.154 0.023 0.213 0.003 0.098 Rata-rata 0.128

(2)

5.1.1. Dinamika Unsur Fosfor (P) dan Nitrogen (N)

Unsur hara P (total fosfor) dan N (total nitrogen) merupakan unsur penting yang memicu meningkatnya kesuburan perairan, karena unsur tersebut dibutuhkan oleh fitoplankton dan makrofita untuk pertumbuhannya. Di perairan tenang seperti waduk, unsur hara merupakan hal yang paling penting yang memacu produksi primer perairan. Kondisi tersebut berbeda dengan di perairan sungai, karena produksi primernya banyak dikendalikan oleh foktor fisik seperti penetrasi cahaya, arus air dan tipe substrat (McCabe et al. 1985).

Kosentrasi nitrat rata-rata diseluruh stasiun pengamatan berkisar antara 0,024 – 1,800 mg/l dengan rata-rata 0,557 (± 0,547) mg/l. Kosentrasi nitrat di stasiun 1 dan 4 lebih tinggi dibandingkan dengan stasiun lainnya, kandungan nitrat di kedua stasiun tersebut masing-masing berkisar antara 0,237 – 1,800 mg/l dengan rata 0,792 (± 0,724) mg/l dan 0,159 – 1,450 mg/l dengan rata-rata 0,799 (± 0,670) (Tabel 14). Nutrien N selain nitrat yang dapat dimanfaatkan langsung oleh fitoplankton adalah amonium (NH4).

Tabel 14 Nilai kisaran kosentrasi nitrat (NO3) (mg/l) di Waduk Cirata selama

pengamatan

Stasiun Pengamatan Kisaran Rata-rata

I II III IV S-1 0.294 1.800 0.237 0.836 0.237 - 1.800 0.792 ± 0.724 S-2 0.233 1.431 0.227 0.569 0.227 - 1.431 0.615 ± 0.567 S-3 0.225 1.450 0.287 1.127 0.225 - 1.450 0.773 ± 0.611 S-4 0.253 1.405 0.338 0.665 0.253 - 1.405 0.665 ± 0.525 S-5 0.318 0.922 0.443 0.257 0.257 - 0.922 0.485 ± 0.301 S-6 0.251 0.681 0.320 0.217 0.217 - 0.681 0.367 ± 0.213

Amonium (NH4) adalah senyawa yang dapat diserap oleh tumbuhan,

namun apabila berlebih akan bersifat toksik terutama bagi hewan akuatik. Pada lingkungan akuatik, senyawa ini dapat berasal dari proses amonifikasi/ penguraian material oganik yang mengandung unsur N. dalam keadaan yang cukup oksigen, maka unsur ini akan berubah menjadi NO3. Apabila oksigen tidak

mencukupi, maka amonia akan terakumulasi dan menimbulkan bau tidak sedap. Di Waduk Cirata, kosentrasi amonium berkisar antara 0.001 mg/l sampai dengan 0.370 mg/l atau rata-rata 0.127 mg/l (Tabel 15). Kosentrasi amonium rata-rata terlihat lebih tinggi pada stasiun 3, tepatnya di muara Sungai Cibalagung.

(3)

kosentrasi amonium yang tinggi menunjukkan bahwa nitrogen yang masuk ke waduk juga bersumber dari aktivitas antropogenik berupa sisa pupuk di lahan sawah.

Variasi musiman nitrat di perairan dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain, morfologi badan air, sifat kimia substrat yang masuk ke waduk dan produktivitas perairan. Rata -rata kandungan nitrat dan ammonium di semua daerah pengamatan di Waduk Cirata menunjukkan kosentrasi yang jauh melebihi ambang batas baku mutu perairan, karena nilai Baku Mutu Air kandungan unsur N perairan lebih besar dari 0,02 mg/l (PP No. 82 tahun 2001). Hal ini mengindikasikan bahwa perairan Waduk Cirata sudah termasuk perairan dengan beban cemaran unsur N yang tinggi.

Tabel 15 Nilai kisaran kosentrasi amonium (NH4) (mg/l) di Waduk Cirata selama

pengamatan

Stasiun Pengamatan Kisaran Rata-rata

I II III IV S-1 0.013 0.066 0.291 0.055 0.013 - 0.291 0.106 ± 0.125 S-2 0.027 0.083 0.137 0.001 0.001 - 0.137 0.062 ± 0.061 S-3 0.128 0.370 0.278 0.021 0.021 - 0.370 0.199 ± 0.155 S-4 0.097 0.158 0.169 0.281 0.097 - 0.281 0.176 ± 0.076 S-5 0.226 0.129 0.049 0.152 0.049 - 0.226 0.139 ± 0.073 S-6 0.121 0.137 0.025 0.042 0.025 - 0.137 0.081 ± 0.056

Badan air tawar kebanyakan menerima sumber N dan P dari luar Waduk Cirata, N dan P selain berasal dari hasil penguraian sisa pakan yang terbuang dari aktivitas budidaya ikan sistem keramba jaring apung juga berasal dari sejumlah sungai yang mengalir ke waduk, seperti Sungai Citarum dan anak sungainya yaitu Sungai Cisokan, Sungai Cibalagung dan Sungai Cikundul yang merupakan SubDas (daerah aliran sungai) Citarum.

Kosentrasi P terlarut (PO4) di perairan waduk di semua stasiun sudah

tinggi. Kondisi ini terjadi selama pengamatan dari bulan Agustus sampai bulan Nopember 2010. Nilai kosentrasi fosfor di semua stasiun berkisar antara 0.033 (± 0.053) - 0.06 (± 0.06), ditunjukkan pada Tabel 16. Kadar fosfor pada perairan alami berkisar antara 0.005 - 0.02 mg/l P-PO4 (UNESCO/WHO/UNEP 1992 diacu

(4)

dalam Effendi 2000). Nilai kosentrasi fosfor di perairan waduk saat ini bila dibandingkan dengan kadar fosfor di perairan alami, maka perairan Waduk Cirata telah mengalami kelimpahan unsur fosfor atau disebut juga dengan pengkayaan nutrien. Kondisi perairan seperti inilah yang disebut pula dengan perairan yang subur atau perairan eutrofik. Menurut Wetzel (2001) tingkat kosentrasi fosfor 0.031 - 0.1 mg/l termasuk perairan yang eutrofik.

Tabel 16 Nilai kisaran kosentrasi fosfat (PO4) (mg/l) selama pengamatan di

muara sungai dan badan air Waduk Cirata

Stasiun Pengamatan Kisaran Rata-rata

I II III IV S-1 0.012 0.018 0.069 0.053 0.012 - 0.069 0.038 ± 0.027 S-2 0.012 0.006 0.056 0.074 0.006 - 0.074 0.037 ± 0.033 S-3 0.010 0.014 0.084 0.135 0.01 - 0.135 0.061 ± 0.06 S-4 0.012 0.019 0.116 0.052 0.012 - 0.116 0.05 ± 0.047 S-5 0.012 0.011 0.113 0.01 0.01 - 0.113 0.037 ± 0.051 S-6 0.011 0.008 0.113 0.001 0.001 - 0.113 0.033 ± 0.053

Hasil analisa klorofil-a menunjukkan di perairan berada pada kisaran 0.001 - 0.032 mg/l, artinya di beberapa stasiun telah terjadi perkembangan fitoplankton dengan pesat. Uhlmann et al (2001) menjelaskan bahwa kosentrasi P terlarut di perairan, umumnya berkisar antara 0.01 - 0.1 mg/l dan jarang sekali lebih besar dari 0.2 mg/l. Selanjutnya dijelaskan kosentrasi P pada tingkat yang paling kritis untuk dapat memicu terjadinya kelimpahan alga (algal blooom) berkisar antara 0.01 - 0.005 mg/l, namun pada kondisi optimum sekitar 0.05 mg/l.

Menurut USEPA dalam Henderson-Seller & Markland (1987) secara umum badan air yang telah mengalami proses eutrofikasi ditandai dengan menurunnya konsentrasi oksigen terlarut pada lapisan hipolimnion, kenaikan konsentrasi nutrien N dan P, kenaikan padatan terlarut (terutama material organik), penurunan penetrasi cahaya (kecerahan menurun), terjadi blooming alga, dan tingginya sedimentasi serta keragaman jenis alga rendah namun kelimpahan dan produktifitasnya tinggi.

Produktivitas perairan waduk dari pengukuran kandungan klorofil-a berkisar antara 0.007 mg/l - 0.054 mg/l ditunjukkan pada Tabel 17. Selama

(5)

pengamatan nilai kosentrasi klorfil-a terlihat cenderung lebih tinggi pada stasiun 4 dengan nilai kisaran 0.021 - 0.054 mg/l. Stasiun 4 merupakan perairan Muara Sungai Cikundul yang kondisi perairannya dangkal, hasil pengukuran selama penelitian kedalamannya <7 meter. Sementara itu, aktivitas budidaya ikan sistem KJA di Muara Sungai Cikundul tidak ada. Adanya perbedaan nilai klorofil-a di stasiun tersebut berhubungan erat dengan adanya input nutrien N dan P dari daerah pemukiman penduduk dan sawah di daerah tangkapan waduk. Selain itu, fitoplankton yang memiliki klorofil-a cenderung berada pada kedalaman yang masih terpengaruh oleh cahaya matahari. Menurut Sunarto (2002) melimpahnya plankton dapat terjadi karena didukung oleh adanya faktor intensitas cahaya yang cukup dan suplai nutrien.

Tabel 17 Nilai kisaran kosentrasi klo-a (mg/l) di Waduk Cirata selama pengamatan

Stasiun Pengamatan Kisaran Rata-rata

I II III IV S-1 0.015 0.012 0.012 0.013 0.012 - 0.015 0.013 ± 0.001 S-2 0.019 0.011 0.022 0.025 0.011 - 0.025 0.019 ± 0.006 S-3 0.021 0.017 0.037 0.007 0.007 - 0.037 0.021 ± 0.012 S-4 0.026 0.021 0.027 0.054 0.021 - 0.054 0.032 ± 0.015 S-5 0.031 0.018 0.025 0.027 0.018 - 0.031 0.025 ± 0.006 S-6 0.031 0.017 0.027 0.026 0.017 - 0.031 0.025 ± 0.006 5.1.2. Rasio N dan P

Pada umumnya di ekosistem air tawar, fosfor merupakan unsur hara pembatas, sehingga jika seluruh fosfor digunakan maka pertumbuhan fitoplankton dan makrofita akan menurun meskipun nitrogen cukup tersedia.

Hasil perhitungan rasio N:P (NH4 + NO3 : PO4), perairan Waduk Cirata

menunjukkan hampir disemua stasiun pengamatan nilai rasio N dan P lebih besar dari 15:1 (Tabel 18). Menurut Porcella dan Bishop (1975) jika suatu perairan memiliki rasio N:P lebih dari 15:1, maka unsur P menjadi faktor pembatas bagi pertumbuhan jasad nabati di perairan tersebut. sedangkan perairan yang memiliki rasio lebih kecil dari 15:1, pertumbuhan jasad nabati

(6)

dibatasi oleh unsur N. Hasil penelitian rasio N: P di Waduk Cirata diketahui sebagiain besar nilainya > 15. Hal ini menunjukkan perairan Waduk Cirata unsur P sebagai faktor pembatas bagi pertumbuhan jasad nabati.

Perbandingan kadar P dan N di perairan waduk tidak terlalu signifikan terlihat seperti terlihat pada stasiun 6 di daerah outlet waduk bahwa rasio N dan P lebih kecil dari 15. Di sisi lain, rasio N dan P dapat lebih signifikan perbedaannya dengan membandingkan massa atom N dan P, karena massa atom P lebih besar maka nilai P akan menjadi lebih kecil setelah dibagi dengan ketersediaan P di dalam air.

Tabel 18 Nilai rata-rata dan rasio N dan P di perairan Waduk Cirata periode pengamatan bulan Agustus - Nopember 2010

Stasiun/ pengamatan N (mg/l) P (mg/l) Rasio N:P S- 1 0.90 0.04 24 : 1 S- 2 0.66 0.04 18 : 1 S- 3 0.97 0.06 16 : 1 S- 4 0.84 0.05 17 : 1 S- 5 0.62 0.04 17 : 1 S- 6 0.45 0.03 13 : 1

Kosentrasi P sedikit dibutuhkan dalam meningkatkan produksi biomassa fitoplankton. Perkembangan biomassa cenderung mengikuti rasio massa atom 105 : 15 : 1 carbon (C) : nitrogen (N) : fosfor (P), dan konsep ini juga berlaku bagi perkembangan biomassa fitoplankton di perairan tawar (Redfield 1934; Uhlmann dan Albrecht 1968 diacu dalam Gibson 1998). Dalam konsep ini menunjukkan bahwa satu atom P dapat mendukung produksi sejumlah biomassa dengan 15 atom N atau 105 atom C. Dengan demikian penambahan P berdampak sangat besar terhadap perkembangan biomassa dibandingkan penambahan N atau C.

Berdasarkan Tabel 19, rasio massa atom N dan P di perairan Waduk Cirata menunjukkan perbedaan nilai yang signifikan artinya untuk memenuhi ketersediaan keseimbangan kedua unsur tersebut dalam mendukung peningkatan produksi biomassa fitoplankton, satu atom P sebanding dengan membutuhkan paling sedikit 33 massa atom N seperti di stasiun 6. Dalam perbandingan ini belum termasuk sumber N sebagai nitrit (NO2) yang terdapat di

(7)

perairan waduk. Oleh karena itu, P menjadi faktor pembatas karena ketersediaan P jauh lebih kecil dibanding N yang dibutuhkan bagi perkembangan biomassa fitoplankton. Menurut Gibson (1998) pengendalian ketersedian P di perairan sangat efektif dan umumnya menjadi opsi pengelolaan perairan yang sangat tepat untuk dilakukan.

Tabel 19 Nilai rata-rata dan rasio massa atom N dan P di perairan Waduk Cirata periode pengamatan bulan Agustus - Nopember 2010

Stasiun/ pengamatan N (mg/l) P (mg/l) N = 14 P= 31 Rasio massa atom N:P S- 1 0.900 0.040 0.064 0.001 50 : 1 S- 2 0.660 0.040 0.047 0.001 37 : 1 S- 3 0.970 0.060 0.069 0.002 36 : 1 S- 4 0.840 0.050 0.060 0.002 37 : 1 S- 5 0.620 0.040 0.044 0.001 34 : 1 S- 6 0.450 0.030 0.032 0.001 33 : 1

5.2. Beban Fosfor ( P) dari Aktivitas di Luar Waduk

5.2.1. Daerah Aliran Sungai Cirata dan Luasannya

Secara administrasi daerah aliran sungai (DAS) Cirata berada dalam tiga wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Purwakarta. Hasil identifikasi peta RBI (rupa bumi) tahun 2009 bahwa yang termasuk DAS Cirata adalah bagian wilayah yang dibatasi oleh punggung bukit dengan semua arah aliran sungainya mengalir ke Waduk Cirata, seperti peta batas DAS Cirata yang ditunjukkan pada Gambar 10. Berdasrkan batas DAS tersebut diketahui DAS Cirata secara keseluruhan luasnya 1,604 km2.

Daerah aliran sungai Cirata yang paling luas berada dalam wilayah Kabupaten Cianjur, dengan luas 1,113 km2. Selebihnya merupakan wilayah

Kebupaten Bandung Barat dan Purwakarta dengan luas masing-masing 465dan 26 km2. Berdasarkan luas tersebut sekitar 69% DAS Cirata merupakan wilayah

Kabupaten Cianjur.

Daerah aliran sungai DAS Cirata terbagi menjadi 6 wilayah Subdas yang terdiri atas Subdas Cibalagung, Subdas Cikundul, Subdas Cipendeuy, Subdas Cisokan, Subdas Citarum dan Subdas Maniis, ditunjukkan pada Gambar 10.

(8)

Subdas Citarum dan Cipendeuy sebagian besar wilayahnya termasuk dalam Kabupaten Bandung Barat. Subdas Cibalagung, Cikundul dan Cisokan sebagian besar wilayahnya termasuk Kabupaten Cianjur. Sedangkan Subdas Maniis wilayahnya termasuk dalam Kabupaten Purwakarta.

Subdas Cisokan memiliki wilayah yang lebih luas dibading Subdas lainnya, dengan luas wilayah 787 km2 atau sekitar 49 % dari luas Das Cirata

merupakan wilayah Subdas Cisokan. Sementara wilayah Subdas yang paling sedikit adalah Subdas Maniis dengan luas 19 km2 atau hanya sekitar 1.18 % dari

luas DAS Cirata, luas masing-masing Subdas secara lengkap ditunjukkan pada Tabel 20.

Tabel 20 Luas wilayah DAS Cirata

Subdas Cirata Luas (km2) Persentase (%)

Cibalagung 129 8.04 Cikundul 247 15.40 Cipeundeuy 102 6.36 Cisokan 787 49.06 Citarum 320 19.95 Maniis 19 1.18 Total 1604 100

Sebagian besar dari masing-masing DAS Cirata dilalui oleh sungai besar kecuali Subdas Maniis dan Cipendeuy. Sungai yang melintasi Subdas tersebut adalah Sungai Citarum, Cisokan, Cibalagung dan Sungai Cikundul.

Sungai yang melintasi DAS Cirata dapat berperan sebagai media masuknya bahan pencemar seperti fosfor ke Waduk Cirata yang berasal dari berbagai aktivitas di DAS. Berkembangnya aktivitas di DAS Cirata terlihat dengan adanya alih fungsi lahan, seperti lahan hutan menjadi lahan pertanian maupun lahan sawah menjadi lahan pemukiman. Dampak perubahan penggunaan lahan mempengaruhi peningkatan jumlah fosfor ke Waduk Cirata.

(9)
(10)

5.2.2. Kal Kla lahan tah (sistem in pengguna perkebuna Ak masuknya Cirata sep lahan pad spesifik d mewakili j dalam pen Gambar 1 Pa DAS Cirat dan hutan keramba tersebut m asifikasi P asifikasi pe hun 2009 y nformasi ge aan lahan an, sawah, ktivitas dari a fosfor ke W perti ditunju da Gambar di lokasi ter enis sumbe nelitian. 1 Aktivitas ada Gamba ta dapat di n. Sementa jaring apu menjadi pert enggunaan nggunaan l yang diolah eografis). H DAS Cira pertanian la setiap pem Waduk Cira ukkan pada r 8 tidak m rsebut, me er fosfor yan s sumber fos ar 11 menu kelompokka ara di dalam ng (KJA). timbangan n Lahan Su lahan DAS h dengan Hasil analis ata yaitu ahan kering manfaatan la ata. Ilustrasi a Gambar merupakan lainkan seb ng ada di D sfor di DAS unjukkan ba an atas: pe m waduk te Aktivitas d penentuan umber Fosf Cirata berd mengguna is menunju hutan, lah g (ladang/te ahan di DAS i sumber fo 11. Tata l gambaran bagai gamb DAS Cirata y dan dalam ahwa aktiv emukiman, erdapat akt di DAS Cir jumlah fosf for (P) DAS dasarkan p akan peran ukkan terda han terbuk galan) dan S Cirata tur sfor yang m etak gamb pemanfaa baran umu yang menja m Waduk Cir itas peman sawah, per ivitas budid rata dan d for yang ma S Cirata eta penggu gkat lunak apat tujuh ka, pemuk badan air. rut menyum masuk ke W ar pemanfa atan lahan um kondisi adi pertimba rata nfaatan lah rtanian (teg daya ikan d di dalam w asuk ke wad unaan k SIG kelas iman, mbang Waduk aatan yang yang angan an di galan) dalam waduk duk.

(11)

Fosfor dari lahan hutan dan lahan pertanian termasuk sumber fosfor yang prilaku masuk ke perairan melalui proses aliran permukaan (runoff) atau erosi yang terjadi pada saat hujan. Pada saat terjadinya aliran permukaan atau erosi maka lapisan tanah pada kedua permukaan lahan tersebut yang mengandung fosfor akan terkikis dan terbawa bersama aliran air masuk ke waduk.

Lahan sawah dalam pengelolaannya berbeda dengan lahan pertanian (tegalan), pengolahan lahan sawah dengan menambahkan input pupuk, salah satunya penggunaan pupuk SP-36 tujuannya untuk meningkatkan hasil produksi gabah. Jadi sisa pupuk dari lahan sawah yang tidak termanfaatkan terangkut ke waduk melalui aliran permukaan ataupun terbawa air (leaching).

Sumber fosfor lain dari DAS Cirata adalah deterjen dari limbah cair rumah tangga dan budidaya ikan dalam KJA masuk ke waduk karena dibuang langsung ke badan air. Limbah deterjen yang berasal dari bekas air cucian dari setiap rumah tangga yang tinggal di DAS Cirata sebagian besar dibuang langsung ke selokan atau sungai. Limbah deterjen tersebut melalui aliran sungai masuk ke waduk. Demikian halnya dengan aktivitas budidaya ikan yang dilakukan di waduk, limbah sisa pakan yang tidak termanfaatkan oleh ikan menjadi sumber fosfor bagi perairan waduk.

Besarnya sumber fosfor dari DAS Cirata ditentukan oleh tingkat pemanfaatan lahan sebagai sumber fosfor. Dampak perkembangan aktivitas di DAS Cirata telah berimplikasi terhadap terjadinya perubahan pemanfaatan lahan. Perubahan penggunaan lahan sebagai sumber fosfor ditujukkan pada peta penggunaan lahan antara tahun 2000 - 2009 pada Gambar 12 dan 13.

Pada gambar 12, peta penggunaan lahan 2000 - 2009 terjadi pengurangan lahan sumber fosfor rendah dan lahan sumber fosfor tinggi sawah yang masing-masing pengurangannya rata-rata 865.61 km2 dan 284.89 km2 per tahun. Sebaliknya lahan sumber fosfor sedang dan fosfor tinggi pemukiman cenderung bertambah, dengan pertambahan luas masing-masing 743.47 dan 407.03 km2, secara rinci perubahan penggunaan lahan sumber fosfor di DAS

(12)

Tabel 21 Perubahan penggunaan lahan sumber fosfor DAS Cirata dari tahun 2000 - 2009

Sumber fosfor 2000 2009 Tahun Selisih Rata-rata Rendah (km2) 36,569.96 28,779.43 -7790.53 -865.61

Sedang (km2) 66,953.41 73,644.63 6691.22 743.47

Tinggi Pemukiman (km2) 5,911.00 9,574.30 3663.30 407.03

Tinggi Sawah (km2) 50,419.03 47,855.04 -2563.99 -284.89

Dalam kurun waktu sembilan tahun (2000 - 2009) terjadi alih fungsi lahan terutama di Subdas Cikundul dan Subdas Cisokan masing-masing lahan sumber fosfor sedang dan lahan sumber fosfor tinggi sawah menjadi lahan sumber fosfor tinggi pemukiman.

Demikian pula alih fungsi lahan sumber fosfor yang terjadi pada Subdas Cibalagung, Cisokan dan Citarum untuk lahan sumber fosfor rendah menjadi lahan sumber fosfor sedang. Sementara itu, di Subdas Citarum alih fungsi lahan juga terjadi dari lahan sumber fosfor sedang menjadi lahan sumber fosfor tinggi pemukiman, secara jelas alih fungsi lahan sumber fosfor disajikan pada peta tata guna lahan tahun 2000 dan 2009 pada Gambar 12 dan 13.

(13)
(14)

5.2.2.1. Lahan Sumber Fosfor Rendah dan Sedang

Hutan dikelompokkan sebagai lahan sumber fosfor rendah. Hutan dapat berfungsi sebagai penyimpan air sehingga dapat memperkecil laju aliran air di permukaan tanah. Menurut Asdak (2007) berkurangnya kapasitas simpan tajuk (canopy storage capacity) sebagai akibat penebangan hutan akan meningkatkan debit aliran di daerah tersebut karena besarnya masukan curah hujan relatif tidak berubah. Selanjutnya dijelaskan pada lahan semak belukar seluas 15% dan 5% hutan pinus tua ditanami dengan hutan penus secara keseluruhan (areal seluas 20%) hasilnya dapat menurunkan aliran (hasil air) sebesar 130 mm/tahun.

Peranan hutan yaitu mempertahankan tanah tetap pada tempatnya artinya memperkecil laju erosi, hutan berfungsi memberikan tambahan kapasitas tampung air, sehingga volume air larian di bawah tegakan hutan lebih kecil dan hutan meningkatkan infiltrasi (Asdak 2007). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa laju aliran permukaan di daerah hutan lebih kecil dibandingkan tata guna lahan lainnya seperti tegalan, sawah dan pemukiman. Atas dasar fungsi hutan inilah disimpulkan bahwa laju terbawanya fosfor dari lahan hutan lebih kecil dibandingkan jenis penggunaan lahan lainnya.

Berdasarkan karakteristik lahan tegalan, maka lahan tegalan dikelompokkan sebagai sumber fosfor sedang. Tegalan yang berkembang masih dalam skala tradisional yaitu pengolahan lahan tidak mengandalkan input pupuk, namun masih mengandalkan ketersediaan fosfor yang ada di alam.

Menurut Prochaskova (1978) fosfor yang berasal dari lahan pertanian umumnya berkisar antara 5 - 50 kg P/km2 atau rata-rata 27.5 kg P/km2 dalam

setahun, pada dasarnya fosfor yang hilang lebih tinggi berasal dari daerah yang mengalami erosi yang tinggi dan kaya dengan fosfor. Namun tegalan berbeda dangan hutan karena kerapatan tutupan lahan tegalan lebih rendah dibandingkan kerapatan tutupan lahan hutan.

Hasil analisis SIG, diketahui lahan sumber fosfor sedang dan lahan sumber fosfor tinggi sawah memiliki luasan lahan yang lebih luas dibanding luas lahan sumber fosfor rendah dan lahan sumber fosfor tinggi pemukiman. Luas lahan sumber fosfor sedang luasnya 736.30 km2 dan lahan sumber fosfor tinggi

(15)
(16)

Tabel 22 Klasifikasi luas lahan sumber (km2) di DAS Cirata tahun 2009

DAS Cirata Rendah Sedang Tinggi Pemukiman Tinggi Sawah Cibalagung 11.50 81.51 4.09 31.85 Cikundul 41.96 159.56 30.40 13.21 Cipeundeuy 12.22 43.03 4.10 42.97 Cisokan 173.82 247.26 29.83 332.71 Citarum 43.23 191.03 25.61 57.76 Maniis 3.14 13.91 1.58 0.01 Total 285.88 736.30 95.61 478.52

Luas lahan sumber fosfor rendah dan sedang termasuk menentukan jumlah beban fosfor, meskipun kedua jenis kelompok lahan ini tidak ada input fosfor yang diberikan, terutama lahan hutan. Demikian juga untuk lahan fosfor sedang sebagian besar tidak diberikan tambahan input pupuk, karena sebagian besar pertanian yang dilakukan merupakan pertanian kebun campuran yang dikelola secara ekstensif sehingga tidak membutuhkan input pupuk.

Beban fosfor yang berasal dari lahan sumber fosfor rendah dan sedang sangat tergantung pada luasan lahannya. Hasil klasifikasi luas lahan sumber fosfor sedang lebih luas yaitu 736.30 km2 dibandingkan luas lahan lahan sumber

fosfor lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa saat ini pemanfaatan lahan di sekitar waduk lebih banyak dimanfaatkan sebagai lahan pertanian yang lebih dikenal dengan sebutan tegalan atau kebun.

Menurut Susilowati et al. (2005) besarnya laju terbawanya fosfor dari lahan hutan dan semak belukar dan lahan pertanian masing-masing 8.5 kg/km2/tahun dan 28 kg/km2/tahun. Berdasarkan data hasil penelitian terdahulu,

maka hasil perhitungan menunjukkan jumlah beban fosfor dari lahan sumber fosfor rendah sebanyak 2,430 kg per tahun. Sedangakan beban fosfor dari lahan sumber fosfor sedang besarnya 20,616.27 kg per tahun (Tabel 23).

Dari hasil perhitungan beban fosfor dari sumber lahan fosfor rendah dan sedang terlihat bahwa beban fosfor dari kedua kelompok lahan tersebut yang masuk ke perairan waduk tergolong rendah bila dibandingkan dengan luasan lahannya. Dengan demikian sumber fosfor dari lahan fosfor rendah sangat kecil bila dibandingkan dengan lahan sumber fosfor sedang. Berkurangnya lahan hutan di daerah sekitar waduk dapat menyebabkan meningkatnya beban fosfor yang masuk ke waduk. Menurut Carey et al. (2011) terdapat hubungan yang kuat

(17)

antara beban total fosfor yang masuk ke perairan dengan adanya penggunaan lahan di daerah aliran sungai.

Terjadinya alih fungsi lahan di DAS Cirata terutama lahan hutan harus dihindari. Untuk mempertahankan lahan hutan di DAS Cirata dibutuhkan program melakukan penghijauan kembali terhadap lahan sumber fosfor sedang yang tidak produktif. Mempertahankan lahan sumber fosfor rendah (hutan) adalah salah satu usaha untuk mengurangi masuknya fosfor ke waduk.

Tabel 23 Jumlah fosfor dari sumber fosfor rendah dan fosfor sedang di DAS Cirata

DAS Cirata Fosfor Rendah (kg) Fosfor Sedang (kg) Jumlah Fosfor (kg) Cibalagung 97.76 2,282.22 2,379.98 Cikundul 356.66 4,467.64 4,824.30 Cipeundeuy 103.86 1,204.85 1,308.70 Cisokan 1,477.51 6,923.24 8,400.75 Citarum 367.48 5,348.72 5,716.20 Maniis 26.73 389.61 416.35 Total 2,430 20,616.27 23,046.27

5.2.2.2. Lahan Sumber Fosfor Tinggi Pemukiman

Karakteristik pemukiman penduduk

Pengolahan air limbah domestik berupa limbah dari rumah tangga dilakukan terutama untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan khususnya air bersih. Berdasarkan BAPPEDA Kabupaten Cianjur (2010) kriteria dasar pemililhan sistem penanganan limbah merupakan parameter utama dalam penentuan sistem pengolahan air buangan yang sesuai dengan kondisi fisik, sosial dan ekonomi baik saat ini maupun masa yang akan datang. Berdasarkan data statistik sebanyak 43.78% rumah tangga di Kabupaten Cianjur membuang langsung air limbah ke sungai maupun danau.

Sumber fosfor dari limbah pemukiman penduduk berhubungan dengan jumlah penduduk. Jumlah penduduk dalam setiap Subdas ditentukan oleh jumlah

(18)

penduduk kecamatan yang wilayahnya termasuk dalam lingkup masing-masing Subdas. Subdas Cisokan, Citarum, dan Cikundul jumlah penduduknya cukup besar dengan jumlah penduduk masing-masing 1,044,884, 394,556 dan 286,172 jiwa. Sedangkan jumlah penduduk di Subdas Maniis lebih sedikit yaitu 16,626 jiwa. Jumlah penduduk masing-masing Subdas Waduk Cirata disajikan pada Tabel 24.

Tabel 24 Jumlah penduduk yang tinggal di kawasan DAS Cirata tahun 2009 DAS Cirata Jumlah KK Jumlah penduduk Persentase(%) Cibalagung 35,206 140,823 7.13 Cikundul 71,543 286,172 14.49 Cipeundeuy 22,861 91,442 4.63 Cisokan 261,221 1,044,884 52.92 Citarum 98,639 394,556 19.98 Maniis 4,156 16,626 0.84 Total 493,626 1,974,503 100 Sumber: Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Cianjur 2010, Purwakarta dalam

angaka 2010 dan Pemda Bandung Barat 2010.

Berdasarkan Tabel 24, terlihat bahwa sebanyak 52,92% jumlah penduduk DAS Cirata berada dalam wilayah Subdas Cisokan karena Subdas Cisokan memiliki wilayah yang luas mencakup 17 kecamatan. Selanjutnya Subdas Citarum meliputi 11 kecamatan dan Subdas Cikundul 5 kecamtan. Sedangkan Subdas Maniis merupakan Subdas yang paling sedikit wilayahnya hanya satu kecamatan yaitu Kecamatan Maniis dalam wilayah administrasi Kabupaten Purwakarta.

Lahan sumber fosfor tinggi pemukiman berpotensi berkembang di Subdas Cisokan dan Citarum karena kedua subdas tersebut memiliki kondisi topografis lebih landai di banding subadas lainnya. Lahan di ke dua SubDas tersebut terdiri dari lahan sawah sehingga cenderung terjadi alih fungsi lahan sumber fosfor tinggi sawah menjadi lahan fosfor tinggi pemukiman. Berkembangnya lahan sumber fosfor tinggi pemukiman berdampak terhadap meningkatnya limbah rumah tangga dari pemukiman seperti pembunagn limbah cair deterjen.

(19)

Penggunaan deterjen

Penduduk yang tinggal di kawasan DAS Cirata dalam kesehariannya menggunakan deterjen untuk mencuci. Hasil penelitian diketahui ada lima merk deterjen yang umum digunakan untuk mencuci, yaitu Dab, Dbc, Dcd, Dde dan Def (merk deterjen yang tertulis adalah nama inisial).

Deterjen merk Dab merupakan deterjen yang paling banyak digunakan untuk mencuci oleh penduduk yang tinggal di Subdas Cirata. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 54% responden memilih menggunakan deterjen Dab untuk mencuci. Persentase pilihan merk deterjen yang digunakan untuk mencuci dapat dilihat pada Gambar 14.

Deterjen merk Dde, Dbc, Def dan Dcd tingkat penggunaannya tidak jauh berbeda. Berdasarkan persentasenya secara berurutan adalah 16%, 11%, 10% dan 9%. Persentase penggunaan ketiga jenis deterjen tersebut lebih kecil dibandingkan dengan deterjen merk Dab. Ada beberapa alasan responden lebih memilih menggunakan deterjen merk Dab yaitu hasil cucian lebih bersih, mudah didapatkan di warung-warung, dan tersedia kemasan dalam berbagai ukuran berat. Selain itu, deterjen merk Dab sudah dikenal secara umum oleh masyarakat.

Kandungan P dalam setiap merk deterjen yang digunakan berbeda-beda, hasil analisa laboratorium menunjukkan kandungan P deterjen berkisar antara 0.05 - 2.26% per 100 gram deterjen (Tabel 25).

Gambar 14 Persentase pilihan merk deterjen yang dipakai untuk mencuci Dab 54% Dcd 9% Dbc 11% Dde 16% Def 10%

(20)

Kandungan P dalam deterjen merk Dde paling tinggi dibandingkan dengan deterjen jenis merk lainnya yaitu 2.26% per 100 gram deterjen. Sebaliknya kandungan P dalam deterjen Dcd lebih rendah yaitu 0.05% dalam 100 gram bahan deterjen. Penggunaan kedua jenis deterjen ini di masyarakat masih rendah karena ketersediaannya masih terbatas di warung-warung di daerah pedesaan. Berbeda dengan deterjen merk Dab karena selain tinggkat penggunaannya di masyarakat tinggi juga kandungan P dalam deterjen tersebut cukup tinggi yaitu 1.15%. Dengan demikian semakin banyak penggunaan merk deterjen yang mengandung P tinggi, maka potensi P yang terbuang ke lingkungan juga semakin tinggi.

Tabel 25 Kandungan P dalam deterjen

Jenis deterjen P(%W/W) Dcd 0.05 Dbc 1.20 Dab 1.15 Dde 2.26 Def 0.07 Kisaran 0.05 - 2.26 Rata-rata 0.95 Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemakaian deterjen dari setiap

kepala keluarga dalam satu kali mencuci berkisar antara 20.46 - 24.12 gram atau rata rata 22.22 gram. Banyaknya penggunaan deterjen dari setiap KK dipengaruhi oleh jumlah anggota keluarga dan frekuensi mencuci. Semakin banyak jumlah anggota keluarga dalam satu kepala keluarga maka jumlah penggunaan deterjen semakin bertambah. Demikian pula semakin sering mencuci, maka jumlah penggunaan deterjen menjadi lebih banyak.

Umumnya jumlah anggota keluarga dalam satu keluarga rata-rata 4 orang dengan frekuensi mencaci dalam satu minggu berkisar antara 4-7 kali/minggu atau rata-rata 5 kali/minggu. Dengan demikian penggunaan deterjen oleh penduduk yang bermukim di DAS Cirata setiap kepala keluarga rata-rata 6.25 kg dalam kurun waktu satu tahun.

Penggunaan deterjen berpotensi meningkatkan beban P yang terbuang ke lingkungan, karena penduduk sebagian besar masih membuang limbah air cucian langsung ke parit maupun sungai. Hal ini dilakukan karena terbatasnya

(21)

ketersediaan tempat penampungan air limbah pada pemukiman penduduk. Menurut Sebastian (2001) bahan pencemar yang merangsang pertumbuhan yang berlebihan pada bakteri, protozoa, dan alga disebabkan antara lain oleh pupuk pertanian, limbah rumah tangga, kotoran hewan, dan deterjen.

Pemukiman penduduk di setiap Subdas terdiri dari rumah yang dibangun permanen dan semi permanen. Rumah penduduk sebagian besar telah dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi dan difungsikan juga sebagai tempat mencuci, namun sebagian kecil yang dilengkapi dengan tempat penampungan air limbah. Hasil penelitian diketahui sebanyak 21% rumah penduduk yang dilengkapi dengan bak penampungan air limbah dan selebihnya sebanyak 79% pembuangan air limbahnya ke selokan/parit dan langsung ke sungai, secara jelas sistem pembuangan air cucian seperti di tunjukkan pada Gambar 15.

Hasil penelitian diketahui berat P dalam deterjen rata-rata 0.0095 kg P/kg deterjen. Oleh karena itu, rata-rata P dampak pemakian deterjen dari satu kepala keluarga yang terbuang ke perairan 0.059 kg P/tahun.

Gambar 15 (A) Saluran pembuangan air cucian dari tempat cucian umum; (B) Saluran pembuangan air cucian dari rumah penduduk.

Dengan pertimbangan bahwa sebanyak 21% limbah air cucian yang tertampung dalam bak penampungan dan selebihnya beban P dari pemukiman penduduk yang berasal dari penggunaan deterjen masuk ke perairan Waduk Cirata. Dengan demikian beban P yang masuk ke waduk sebanyak 23,154.14 kg dalam satu tahun. Jumlah P yang lebih banyak berasal dari Subdas Cisokan sebanyak 12,252.90 kg karena Subdas Cisokan lebih luas sehingga jumlah penduduknya lebih banyak dibanding Subdas lainnya (Tabel 26).

(22)

Dengan demikian jumlah fosfor dari lahan sumber fosfor tinggi pemukiman akibat penggunaan deterjen sebanyak 23,154.14 kg setiap tahun berasal dari DAS Cirata.

Tabel 26 Jumlah beban P deterjen dari DAS Cirata

DAS Cirata Jumlah kepala keluarga deterjen/tahun (kg) Penggunaan

Jumlah P deterjen/tahun (kg) Cibalagung 27,813 173,829.63 1,651.38 Cikundul 56,519 353,243.56 3,355.81 Cipeundeuy 18,060 112,876.19 1,072.32 Cisokan 206,365 1,289,778.69 12,252.90 Citarum 77,925 487,030.06 4,626.79 Maniis 3,283 20,520.25 194.94 Total 389,965 2,437,278.38 23,154.14

5.2.2.3. Lahan Sumber Fosfor Tinggi Sawah

Pemanfaatan lahan sawah

Sektor pertanian yang berperan di Kabupaten Cianjur dan Bandung Barat adalah pertanian lahan basah terutama komoditas padi. Lahan sawah yang dimiliki oleh kedua kabupaten tersebut berada dalam kawasan daerah tangkapan Waduk Cirata.

Peningkatan produktivitas lahan sawah menjadi salah satu program Kabupaten Cianjur. Hal ini dilakukan karena sampai saat ini produktivitasnya masih belum optimal, rata-rata rasio produksi 14.46 ton/ha/tahun atau 4.87 ton/ha sekali musim tanam (BAPPEDA Kabupaten Cianjur 2010). Kabupaten Cianjur memiliki potensi lahan sawah sebesar 18,494 ha yang tersebar dalam 23 wilayah kecamatan. Pemanfaatan ruang pertanian lahan basah bertujuan untuk mendukung perekonomian lokal di kawasan sekitarnya dan pengembangan perekonomian wilayah Kabupaten Cianjur.

Sektor pertanian Kabupaten Bandung Barat memperioritaskan komoditas padi dan palawija. Kedua komoditas tersebut sampai saat ini memberikan hasil produksi yang paling besar dari sektor pertanian yakni sekitar 197.339 ton atau 56.72% dari jumlah produksi hasil pertanian lainnya (Pemda Kabupaten Bandung Barat 2010).

(23)

Arah pemanfaatan lahan di Kecamatan Maniis yang termasuk dalam kawasan Subdas Maniis memperioritaskan pengembangan lahan perkebunan hanya sebagian kecil pemanfaatannya untuk lahan sawah. Komoditas perkebunan yang dikembangkan adalah buah-buahan seperti belimbing, mangga, duku/langsat, durian, sawo, nangka, sirsak, dan melinjo (Pemda Purwakarta 2007).

Luas sawah

Hasil identifikasi peta tata guna lahan tahun 2009, lahan sawah di kawasan DAS Cirata luasnya 478.52 km2. Lahan sawah tersebut tersebar di

masing-masing Subdas dan lahan sawah di Subdas Cisokan lebih luas dibandingkan dengan Subdas lainnya dengan luasan 332.71 km2 atau sekitar

69.53%. Sebaliknya lahan sawah di Subdas Maniis luasannya yang paling sedikit dengan luasan 0.01 km2. Lahan sawah juga terdapat di Subdas lainnya yaitu Subdas Citarum, Cipendeuy dan Cibalagung masing-masing luasnya 57.76, 42.97 dan 31.85 km2, luas lahan sawah di DAS Cirata disajikan pada Tabel 27.

Tabel 27 Luas lahan sawah di DAS Cirata tahun 2009

DAS Cirata Luas sawah (km2) Persentase (%)

Cibalagung 31.85 6.66 Cikundul 13.21 2.76 Cipeundeuy 42.97 8.98 Cisokan 332.71 69.53 Citarum 57.76 12.07 Maniis 0.01 0.003 Total 478.52 100

Sumber: diolah dari peta Baplan, Kementerian Kehutanan 2009

Penggunaan pupuk SP-36

Hara P diperlukan tanaman sejak awal pertumbuhan dan bersifat sangat mobile dalam jaringan tanaman. Hara ini berfungsi dalam menunjang pertumbuhan akar, anakan, pembungaan, dan pemasakan biji terutama bila temperatur udara rendah.

Keseimbangan hara P yang dibutuhkan oleh padi harus dipasok dari luar dengan cara pemupukan lahan sawah. Pupuk SP-36 (super-36) adalah pupuk yang mengandung unsur hara P, berdasarkan SNI 0086-92-A menetapkan syarat mutu pupuk SP-36 mengandung unsur hara fosfor sebagai P2O5 minimal 46%.

(24)

Dalam Peraturan Menteri Pertanian No.40/Permentan/OT.140/4/2007 dijelaskan bahwa pupuk diberikan untuk mencapai tingkat ketersediaan hara yang esensial yang seimbang di dalam tanah dan optimum guna : (a) meningkatkan produktivitas dan mutu hasil tanaman, (b) meningkatkan efisiensi pemupukan, (c) meningkatkan kesuburan tanah, dan (d) menghindari pencemaran lingkungan.

Pengumpulan data dan informasi teknik pemupukan padi, telah dilakukan wawancara dengan responden yang terdiri dari petani yang memiliki lahan sawah ataupun petani yang menggarap lahan sawah, proses pengumpulan data dengan pengisian kuesioner ditunjukkan pada Gambar 16.

Gambar 16 Pengisian kuesioner oleh petani pengolah sawah

Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani di Subdas Cirata melakukan pemupukan padi berdasarkan atas pengalaman yang berlangsung secara turun temurun. Teknik pemupukan padi yang dilakukan memiliki pola yang sama yaitu waktu pemberian pupuk dan jumlah pupuk yang diberikan antara satu petani dengan petani lainnya mempunyai kesamaan. Pemupukan padi dengan pupuk SP-36 dilakukan dua kali dalam sekali musim tanam. Pemupukan pertama diberikan pada saat padi berumur 7 hari setelah tanam (HST) dan pemupukan kedua diberikan 45 - 60 hari setelah tanam.

Dewasa ini jumlah pupuk SP-36 yang diberikan dengan luas lahan sawah rata-rata 0.47 hektar sebanyak 81.94 kg dalam setahun dua kali musim tanam. Dengan demikian banyaknya pemakaian pupuk SP-36 dalam setahun rata-rata 172 kg/ha sawah atau 17,200 kg/km2. Atas dasar penggunaan pupuk SP-36 per

(25)

km2 sawah, maka jumlah penggunaan pupuk SP-36 di DAS Cirata per tahun

dapat diketahui, seperti disajikan pada Tabel 28.

Penggunaan pupuk SP-36 yang paling banyak adalah Subdas Cisokan sebanyak 5,722,554.38 kg dengan tingkat aplikasi pupuk SP-36 sebanyak 172 kg per hektar dalam setahun. Dengan demikian jumlah penggunaan pupuk SP-36 dari masing-masing Subdas sangat tergantung dari luas lahan sawah dan tingkat aplikasi pupuk SP-36 per hektar sawah. Semakin luas lahan sawah dengan aplikasi pupuk SP-36 semakin banyak maka jumlah penggunaan pupuk semakin banyak. Jumlah penggunaan pupuk SP-36 dari masing-masing Subdas disajikan pada Tabel 28.

Tabel 28 Jumlah penggunaan pupuk SP-36 per tahun di DAS Cirata

DAS Cirata Luas sawah

(km2) Penggunaan pupuk SP-36/tahun (kg)

Cibalagung 31.85 547,826.88 Cikundul 13.21 227,222.14 Cipeundeuy 42.97 739,099.99 Cisokan 332.71 5,722,554.38 Citarum 57.76 993,521.19 Maniis 0.01 249.57 Total 478.52 8,230,474.17 Pada Tabel 28 terlihat bahwa jumlah penggunaan pupuk SP-36 di DAS Cirata untuk pemupukan lahan sawah seluas 478.52 km2 menggunakan

pupuk SP-36 sebanyak 8,230,474.17 kg per tahun.

Berdasarkan Permen Pertanian Nomor 40 tahun 2007 dijelaskan bahwa tingkat aplikasi pupuk SP-36 harus berdasarkan atas ketersediaan hara P di lahan sawah karena pada kenyataannya tidak semua lahan sawah memerlukan pupuk P dan K dalam jumlah yang sama, ada yang perlu banyak dan ada yang perlu hanya sedikit pupuk, bahkan ada pula tanah yang tidak memerlukan tambahan pupuk bila kadar haranya sudah sangat tinggi.

Di sisi lain juga ditegaskan bahwa tidak semua pupuk SP-36 yang diberikan dapat dimanfaatkan oleh padi secara keseluruhan. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar P dalam gabah sekitar 0,2% (Setyorini et al. 2005). Hasil penelitian lain juga menunjukkan bahwa efisiensi penggunaan pupuk SP-36

(26)

berkisar 20 –25 %, sisa P yang tidak terserap tanaman terakumulasi dalam lapisan tanah (Siagian 2002).

Jumlah penggunaan pupuk SP-36 rata-rata sebanyak 172 kg P/ha /tahun oleh petani padi di DAS Cirata termasuk tinggi. Menurut Mario et al. (2008) penggunaan pupuk 36 pada status hara P tinggi sebanyak 50 kg SP-36/ha/musim tanam dan pada status hara P sedang penggunaan pupuk SP-36 sebanyak 75 kg/ha/tahun. Sementara itu, status hara P di lahan sawah daerah Cirata sebagian besar adalah status hara P sedang sampai tinggi (Permentan 2007).

Hasil produksi gabah dalam satu musim panen berkisar antara 5.23 - 8.08 ton/ha pertahun atau rata-rata 7.24 ton /ha dalam setahun. Sedangkan tingkat produksi gabah rata-rata per musim tanam hanya 3.58 ton/ha/musim, hasil ini termasuk tingkat produksi gabah yang rendah.

Penggunaan pupuk SP-36 yang tinggi dengan produksi gabah yang rendah merupakan indikasi kurangnya pemanfaatan fosfor oleh tanaman padi. Dengan demikian dapat mengakibatkan beban fosfor di lahan sawah akan terbawa oleh aliran air ke waduk. Menurut Dobermann dan Fairhurst 2000 dalam Setyorini et al (2005) bahwa P yang terpanen bersama gabah sebanyak 2 kg P/ton gabah. Sementara itu, P yang terdapat dapam pupuk SP-36 sebanyak 16 kg P/36 kg SP36.

Hasil perhitungan fosfor dari lahan sumber fosfor tinggi sawah yang tidak termanfaatkan rata-rata 61.31 kg P/ha/tahun, bila dibandingkan dengan penggunaan pupuk SP-36 per hekter lahan sawah per tahun sebanyak 172 kg/ha/tahun. Hal ini terlihat bahwa tingkat beban P yang tidak termanfaatkan dari lahan sawah sangat tinggi. Hasil perhitungan beban P yang terbuang ke lingkungan dari lahan sumber fosfor tinggi sawah sebanyak 2,965,097.44 kg/km2/tahun atau atau 2,965 ton P/ km2/tahun (tabel 29).

Jumlah total beban fosfor dari DAS Cirata merupakan jumlah beban fosfor dari lahan sumber fosfor rendah, sumber fosfor sedang, sumber fosfor tinggi pemukiman dan sumber fosfor tinggi sawah. Hasil perhitungan jumlah beban fosfor sebanyak 3,011,297.85 kg P/tahun.

(27)

Tabel 29 Jumlah P pupuk yang tidak termanfaatkan dari sumber fosfor tinggi sawah DAS Cirata

DAS Cirata  Penggunaan  pupuk SP‐ 36/thn (kg)  Produksi  gabah/thn  (ton)  P pupuk/thn  (kg)  P  gabah/thn  (kg)  P pupuk tidak  termanfaatkan  (kg)  Cibalagung     547,826.88     23,059.69     243,478.61      46,119.38      197,359.23  Cikundul     227,222.15     9,564.47     100,987.62      19,128.93      81,858.69  Cipeundeuy     739,100.00     31,110.95     328,488.89      62,221.91      266,266.98  Cisokan     5,722,554.38     240,879.61     2,543,357.50      481,759.23      2,061,598.27  Citarum     993,521.19     41,820.31     441,564.97      83,640.62      357,924.35  Maniis     249.57     10.51     110.92      21.01      89.91  Total     8,230,474.17     346,445.54     3,657,988.52      692,891.08      2,965,097.44 

Alokasi beban fosfor dari DAS (PDAS) merupakan jumlah beban P dari

DAS dibagi dengan debit air masuk ke Waduk Cirata sebagai media yang membawa masuknya P ke waduk (KLH 2008). Debit air yang masuk ke waduk rata-rata 4.75 x 109 m3 per tahun (PT PJB Unit Cirata 2010). Dengan demikian

alokasi beban PDAS yang masuk ke waduk rata-rata besarnya 634 mg/m3.

5.3. Perubahan Lahan Sumber Fosfor DAS Cirata sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Jawa Barat tahun 2009 - 2029

Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Jawa Barat tahun 2009- 2029 telah mengklasifikasi pemanfaatan ruang bahwa kawasan DAS Cirata banyak terdapat lahan yang rawan bencana. Atas dasar ini pemanfaatan lahan di DAS Cirata ditujukan sebagian untuk kawasan hutan. Selain itu, kawasan DAS Cirata juga dikembangkan sebagai lahan pemukiman pada kawasan yang tidak rawan bencana.

Perubahan penggunaan lahan DAS Cirata berdasarkan klasifikasi aktivitas sumber fosfor yang mengikuti RTRW Propinsi Jawa Barat tahun 2009-2029 terdapat perubahan terhadap pemanfaatan lahan sumber fosfor sebelumnya (tahun 2000-2009).

(28)

Perubahan penggunaan lahan DAS Cirata atas dasar klasifikasi sumber fosfor yaitu terdapat penambahan luasan lahan pada sumber fosfor rendah dan fosfor tinggi pemukiman. Dalam jangka waktu 20 tahun terjadi penambahan luasan lahan sumber fosfor rendah dan sumber fosfor tinggi pemukiman masing-masing 70,428.97 km2 dan 40,216.80 km2. Sebaliknya, lahan sumber fosfor

sedang dan fosfor tinggi sawah terjadi pengurangan luasan lahan masing-masing 73,103.48 km2 dan 37,542.29 km2 (Tabel 30). Klasifikasi pemanfaatan lahan

sumber fosfor di DAS Cirata ditunjukkan pada Gambar 17.

Tabel 30 Perubahan penggunaan lahan sumber fosfor DAS Cirata mengikuti Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Jawa Barat tahun 2009 - 2029

Aktivitas sumber fosfor Tahun Selisih Rata-rata 2009 2029

Rendah (km2) 28,779.43 9,9208.41 70,428.97 7,825.44

Sedang (km2) 73,644.63 541.15 -73,103.48 -8,122.61

Tinggi pemukiman (km2) 9,574.30 49,791.10 40,216.80 4,468.53

Tinggi sawah (km2) 47,855.04 10,312.74 -37,542.29 -4,171.37

Aturan hirarki perubahan penggunaan lahan secara sederhana ditunjukkan pada Gambar 18. Meskipun pada kenyataannya perubahan penggunaan lahan lebih detil cukup komplit. Gambar 18 menunjukkan bahwa perubahan peruntukan lahan dari satu jenis ke jenis lainnya mengikuti alur panah. Namun perlu ditambahkan bahwa kesesuain lahan berdasarkan RTRW Propinsi Jawa Barat banyak lahan DAS Cirata yang termasuk rawan bencana alam. Dalam kasus ini lahan rawan bencana alam dijadikan lahan hutan. Oleh karena itu, lahan rawan bencana alam yang merupakan lahan tegalan akan menjadi lahan hutan. Hal ini termasuk program pemerintah Propinsi Jawa Barat untuk meningkat lahan hutan hingga 45%.

Laju perubahan pola penggunaan lahan ditentukan oleh jenis penggunaan lahan. Hirarki penggunaan lahan yang paling tinggi adalah area urban yang merupakan gabungan dari area pemukiman dan industri (Santoso 2005).

(29)
(30)

Ata hirarki pe dikelompo lahan hut (tegalan/k pemukima Pe dengan p sedang (t hutan teta tangkapan bencana a Ga La Cikundul, menjadi h meliputi p dan pelaks Pe upaya pen fungsi lah sumber fo as dasar ke erubahan l okkan atas tan, lahan kebun), lah an dan laha erubahan p ertimbanga tegalan dan ap dipertah n air waduk alam sepert ambar 18 H ahan rawan Cisokan, hutan. Hal encapaian sanaan prin menfaatan ngendalian han menjad osfor renda esesuai RT lahan mak dasar laha sumber fo an sumber an sumber fo penggunaan an bahwa s n rawan be hankan ses k yang bera ti longsor. Hirarki peru n bencana dan Citaru ini sesuai kawasan lin nsip mitigas lahan ses aktivitas su di lahan hu h dan seba TRW Propin ka ditetapk an sumber osfor seda r fosfor tin osfor tinggi n lahan su sawah menj encana) ce suai denga ada di bawa bahan peng sebagian b um, lahan dengan pr ndung 45%, i bencana. uai RTRW umber fosfo tan berarti aliknya tela nsi Jawa Ba kan penggu fosfor ren ng (Fs) m nggi pemuk sawah mer umber fosfo jadi pemuk nderung be an fungsi D ahnya dan ggunaan la besar terda rawan ben rogram per , penyediaa Propinsi Ja or di DAS Ci meningkat h mengura arat dan be unaan laha ndah (Fr) y merupakan kiman (Ftp rupakan lah or DAS C kiman, laha erubah me DAS Cirata untuk menc han (Santos apat di subd ncana terse rwujudan p an ruang ke awa Barat irata, karen tkan luasan angi lahan a erpedoman an DAS C yang merup lahan perta p) adalah han sawah. Cirata diteta n sumber f njadi hutan a sebagai cegah terja so 2005) das Cibalag ebut diupay pola ruang etahanan pa sejalan de na terjadiny n lahan akt aktivitas su pada Cirata pakan anian lahan apkan fosfor n dan lahan dinya gung, yakan yang angan engan a alih tivitas umber

(31)

fosfor sedang atau fosfor tinggi. Dengan demikian fosfor yang berasal dari DAS Cirata yang masuk ke waduk dapat menurun.

Di lain pihak pengembangan kawasan permukiman perdesaan sesuai RTRW Propinsi Jawa Barat, diarahkan pada pengembangan ruang permukiman horisontal dengan mempertimbangkan kegiatan dalam kawasan perdesaan, mencakup kegiatan pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, perikanan, pengelolaan sumberdaya alam, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.

Penambahan luasan lahan sumber fosfor tinggi pemukiman tentu berdampak terhadap peningkatan sumber fosfor dari limbah deterjen yang berasal dari rumah tangga. Oleh karena itu, dalam RTRW Propinsi Jawa Barat untuk pengembangan pemukiman harus direncanakan dengan pengembangan pemukiman yang mempersyaratkan kelengkapan sarana pengolahan limbah. Pengembangan pemukiman yang sifatnya tersebar harus direncanakan pembuatan pegolahan limbah setempat/individu (on site), sebaliknya pengembangan pemukiman kawasan atau perumahaan harus menyediakan sarana penanganan limbah rumah tangga yang bersifat komunal. Dengan demikian limbah cair rumah tangga dapat tertangani dan mengurangi beban pencemaran fosfor yang masuk ke waduk.

5.4. Sumber fosfor ( P) dari Aktivitas Budidaya Ikan di Waduk

Fosfor yang berasal dari aktivitas di waduk ditentukan dari aktivitas budidaya ikan dengan sistem keramba jaring apung (KJA). Budidaya ikan di dalam KJA di waduk dilakukan dengan cara intensif. Budidaya intensif adalah pembesaran ikan di dalam wadah KJA dilakukan dengan mengandalkan pemberian pakan buatan (pelet).

Kepemilikan KJA di Waduk Cirata tidak hanya milik penduduk lokal, namun lebih didominasi oleh penduduk pendatang yang berasal dari Bandung, Sukabumi, Ciamis, Jakarta, Jawa Timur bahkan dari luar Jawa yaitu Bangka Belitung dan Sulawesi. Banyaknya KJA yang dimiliki oleh pembudidaya cukup bervariasi mulai dari 2 unit sampai 60 unit KJA atau rata-rata 11 unit KJA per orang.

Jumlah KJA sampai tahun 2007 terlihat cenderung bertambah, namun bertambahnya jumlah KJA tidak diimbangi dengan meningkatnnya jumlah

(32)

produksi. Hal ini mulai terlihat pada tahun 1996 jumlah KJA cenderung meningkat namun produksi justru menurun. Trend penambahan jumlah KJA dalam kurun waktu 20 tahun terkahir ditunjukkan pada Gambar 19. Pada grafik terlihat bahwa tahun 1997 produksi ikan turun sangat drastis hanya 10 ton ikan, sedangkan jumlah KJA meningkat menjadi 25,558 petak atau naik 25% dari tahun sebelumnya. Kondisi tersebut, sudah jauh melebihi batasan jumlah KJA yang ditetapkan dalam ketentuan budidaya ikan di waduk yang menetapkan sebanyak 9,672 petak atau 1% dari luas waduk. Kelebihan jumlah KJA menimbulkan dampak bagi budidaya ikan dan kualitas perairan waduk. Menurut Krismono dan Wahyudi (2001) akibat jumlah KJA yang cenderung bertambah mengakibatkan terjadinya kematian masal ikan di Waduk Cirata dan terjadinya blooming fitoplankton Microsystis sp.

Gambar 19 Pola peningkatan jumlah KJA dan produksi ikan di Waduk Cirata. (Sumber: Krismono 2004; Sukadi et al 2005; Garno 2006; BPWC 2007 dan Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Jawa Barat 2010) Berdasarkan SK Gubernur Jawa Barat No.41 tahun 2002, jumlah KJA di Waduk Cirata adalah 12.000 petak, yang terbagi atas tiga zone, yaitu Zone 1 berada pada wilayah Kabupaten Bandung Barat sebanyak 1.896 petak KJA, Zona 2 berada di Kabupaten Purwakarta sebanyak 4.644 petak dan Zona 3 di Kabupaten Cianjur sebanyak 5.460 petak. Sebaran KJA di ketiga zone perairan waduk ditunjukkan pada Gambar 20.

Hamparan KJA tersebut mendominasi luas perairan Cirata, kecuali daerah bendungan/dam, daerah perairan dangkal dan daerah yang

‐10,000 0 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000 80,000 ‐ 10,000  20,000  30,000  40,000  50,000  60,000  1986 1989 1992 1995 1998 2001 2004 2007 2010 Jumlah KJA (Petak) Produksi (ton) Jumlah  KJA   (petak) Jumlah produksi  (to n ) Tahun

(33)

bergelombang besar. Banyaknya KJA telah melampaui alokasi 12.000 petak, karena yang terbangun adalah 49.985 petak (BPLHD Propinsi Jawa Barat 2009). Perlu dilakukan penertiban jumlah KJA serta lokasinya, agar usaha budidaya KJA berkesinambungan tanpa mengganggu lingkungan Waduk Cirata yang memiliki berbagai fungsi.

Gambar 20 Sebaran keramba jaring apung di Waduk Cirata. (Sumber: BPLHD Propinsi Jawa Barat 2009)

5.4.1.Teknik Budidaya Ikan Sistem KJA

Keramba jaring apung ditempatkan di lokasi budidaya secara berjejer antara satu unit dengan unit KJA lainnya saling menyambung, tujuannya untuk mempermudah pemilik atau penjaga KJA dalam memilihara dan mengawasinya. Budidaya ikan sistem KJA dalam operasionalnya dilengkapi dengan fasilitas pendukung yang terdiri atas rumah jaga, tempat pakan dan kolam karantina, secara lengkap bagian-bagian KJA disajikan pada Gambar 21. Keramba jaring apung terdiri dari keramba (jaring) dan rangka (rakit dan besi) dengan ukuran yang seragam. Satu unit KJA terdiri dari 4 petak (kolam) dan dibangun dari beberapa bagian rangka yang dilengkapi dengan dua lapis jaring. Satu petak KJA dibuat dengan ukuran panjang 7 meter, lebar 7 meter dan dalam 4 meter. Pada setiap satu petak KJA dipasang jaring lapis pertama yang berukuran 7 m x 7 m x 4 m dan dalam satu unit KJA dipasang jaring lapis ke dua

(34)

(jaring baw KJA ditunj Ketera 1. Kola peta 2. Kola 3. Kola 4. Nom 5. Nom Je budidaya Bu pertama ( 71.41 kg p bawah) de Jumlah pe pada Tabe dalam se Sedangka tanam, ka pakan da wah) ukura jukkan pada ngan: m: nomor 1 k am: nomor 1 am: nomor 6 mor 5 tempa mor 7 rumah Gamba nis komodit yang dikem udidaya ikan (jaring atas per petak. S engan juml enebaran be el 31. Satu etahun bud an budidaya arena ikan ari sisa pak

an 14 m x 1 a Gambar 2 1, 2, 3, 4 1 , 2, 3, dan 6 untuk kara at pakan h jaga r 21 Kolam

tas ikan yan mbangkan ya n mas deng s) dengan Sedangkan ah peneba enih ikan m musim pro didaya ikan a ikan nila nila pertum kan ikan m 4 m x 9 m. 22. ukuran 7 m n 4 empat p antina ikan m keramba j ng dibudida aitu budiday gan nila, ika

jumlah pen ikan nila d aran dalam mas dan nila oduksi ikan n mas dap dalam set mbuhannya mas yang d Bentuk sus m x 7 m ma etak dinam aring apung ayakan ada ya ikan mas an mas diteb nebaran da ditebar dala satu musim a dalam bud mas dipelih pat dilakuk tahun hany lambat dan dipilihara da sunan jaring asing-masin akan 1 unit g tampak at lah ikan ma s dengan ik bar dalam p alam satu m jaring lap m rata-rata didaya siste hara selama kan 3 kali ya dilakuka n hanya me alam jaring g untuk sat ng dinamak t usaha tas as dan nila. kan nila. petak jaring musim rata pis kedua (j 69.19 kg/p em KJA disa a 4 bulan, musim ta an 2 kali m endapatkan g lapis pert u unit kan 1 Pola lapis a-rata jaring petak. ajikan maka anam. musim n sisa tama.

(35)

Pembesar buatan (ko Keteranga Tabel 31 P  I  I R 5.4.2. Nut Pa adalah pa merk paka Be kandunga protein pa kandunga ran ikan da omersial) se an: A. Rang Kantong G Padat pe Waduk C Pola budidaya kan Mas   kan Nila   Rata‐rata  trisi Pakan akan ikan akan komers an dengan k erdasarkan an protein re akan berkis an proteinn alam KJA di ebagai sum gka; B. Kat g jaring lapis Gambar 22 enebaran be irata a   yang digun sial dengan komposisi n komposisi elatif tidak j ar antara nya 29 -30 lakukan se mber makana tong jaring s kedua yan Kolam KJA enih ikan m       nakan oleh n bermacam nutrisi yang nutrisi pa auh berbed 24 - 26% d 0%. Ikan cara intens an selama lapis pertam ng diisi ikan A Tampak S mas dan n  Ki 30 25    pembudid m merk. Has berbeda (T akan pada da dari setia dari bahan yang dibud sif melalui p pembesara ma yang di n nila Samping ila per pe isaran    R 0 ‐ 200  5 ‐ 150  aya ikan d sil survei di Tabel 32). Tabel 32 ap merk pa pakan. Ke didayakan pemberian p an. iisi ikan ma etak KJA (k Rata‐rata   71.41   69.19   70.30   di Waduk C temukan ad terlihat b kan. Kandu cuali pakan secara in pakan as; C. kg) di Cirata da 11 ahwa ungan n Pxs tensif

(36)

membutuhkan pakan yang berkualitas dengan nutrisi yang komplit dan seimbang. Menurut Schmittou (1991) kandungan protein pakan untuk ikan mas dan nila umumnya berkisar antara 28 - 30%, bahkan untuk kualitas FCR pakan yang baik kandungan protein pakan 32%.

Tabel 32 Komposisi nutrisi pakan ikan di Waduk Cirata

Jenis pakan Nutrisi pakan Protein (%) Lemak (%) Serat kasar (%) Abu (%) Kadar air (%) *) Fosfor (% w/w) Pxl 25 6 7 12 12 1.45 Pxm 25 6 7 12 12 1.64 Pxn 26 5 7 12 12 1.66 Pxo 24-26 6-8 4-6 10-13 11-13 1.59 Pxp 24 5 7 12 12 1.44 Pxq 25 5 7 12 12 1.59 Pxr 26 5 7 12 12 1.50 Pxs 29-30 5 7 12 1.62 Pxt 26 6 6 11 12 1.38 Pxu 24-26 5-7 6-8 5-8 11-13 1.27 Pxv 25 5 6 12 12 1.40 Kisaran 24 - 30 5 - 8 5 - 8 5 - 13 11 - 13 1.27 - 1.66 Rata-rata 25.25 5.33 6.78 11.89 12.00 1.50 Sumber: Hasil survei data dari label pakan di Waduk Cirata 2010; *) Analisa laboratorium

Unsur nutrisi lain di dalam bahan pakan ikan yang penting adalah fosfor (P) sehingga komposisinya di dalam bahan pakan harus sesuai dengan standarnya. Sebagian besar pakan yang digunakan di Waduk Cirata tidak diketahui jumlah komposisi P yang terdapat di dalam bahan pakan karena komposisi P pakan tidak diinformasikan seperti kandungan nutrisi pakan lainnya pada label pakan.

Fosfor di dalam bahan pakan dibutuhkan sebanyak 0.5 - 0.9% yang berfungsi untuk pertumbuhan, pembentukan tulang dan membantu metabolisme lemak dan karbohidrat (Watanabe 1988). Hasil analisa jumlah P dalam sejumlah bahan pakan yang terdapat di Waduk Cirata sangat bervariasi dengan kisaran antara 1.22 -1.66% (Tabel 32). Dari tabel tersebut diketahui bahwa P pakan rata-rata 1.5%. P yang terdapat di dalam bahan pakan masih tinggi bila

(37)

dibandingkan dengan kebutuhan P oleh ikan. Menurut Watanabe (1988) jumlah P di dalam pakan bervariasi disesuaikan dengan kebutuhan ikan yang dibudidayakan, ikan mas dan nila membutuhkan P di dalam pakan masing-masing 0.6 - 0.7% dan 0.8 - 1.0%. namun bila dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya Sukadi (2010) total P pakan di Waduk Cirata antara 1.38% - 5.18%. Dengan demikian sudah ada penurunan total P pakan tapi penurunannya belum sesuai dengan total P pakan ikan yang umum dibutuhkan oleh ikan.

Tabel 33 Kebutuhan P dalam pakan ikan dalam persentase berat pakan

Jenis ikan Kebutuhan P (%) Sumber

1. Anguilla japonica 2. Salmo trutta 3. S. Salar 4. Onchorynchus mykiss 5. O. Keta 6. Cyprinus carpio 7. Ictalurus punctatus 8. Chrysophrys major 9. Oreochromis niloticus 0.29 0.71 0.30 0.70 - 0.80 0.50 - 0.60 0.60 - 0.80 0.45 - 0.80 0.68 0.90 Arai et al 1975 McCartney 1969 Ketola 1975

Ogino & Tekada 1978 Watanabe et al 1980 Ogino & Tekada 1976 Lovell 1978

Sakomoto & Yone 1980 Watanabe et al 1980 Sumber: Beveridge 2004

Mengacu pada Tabel 33 terlihat bahwa rata-rata ikan membutuhkan P di dalam pakan kecil dari 1%. Sementara pakan yang terdapat di Waduk Cirata P pakan yang paling rendah 1.22%. Dengan demikian limbah P dari sisa pakan yang tidak termanfaatkan oleh ikan berpontensi meningkat karena disamping P dari sisa pakan yang terbuang akibat pemberian pakan yang berlebihan juga kandungan P pakan melebihi kebutuhan ikan.

Mutu pakan yang beredar di Waduk Cirata umumnya belum memenuhi standar nutrisi pakan. Kandungan protein pakan yang masih rendah, sebaliknya kandungan P pakan yang masih di atas kebutuhan standar kebutuahan P oleh ikan pada umumnya. Hal ini membuktikan bahwa fungsi pengawasan mutu pakan di lapangan tidak berjalan atau belum ada fungsi pengawasan mutu pakan.

Kondisi mutu pakan yang demikian terus akan memicu meningkatnya sisa pakan yang akan terbuang karena pakan yang diberikan tidak dapat dicerna dengan baik oleh ikan. Hal ini tidak hanya merugikan pembudidaya namun yang lebih buruk akan berimplikasi terhadap kerusakan lingkungan akibat beban

(38)

limbah dari sisa pakan. Guo dan Li (2003) menjelaskan laju pemanfaatan pakan oleh ikan budidaya 14.8%N dan 11.0% P pakan. Hampir semua N dan P pakan terbuang ke lingkungan perairan. Budidaya ikan patin dengan padat tebar 500 ekor/KJA berat 1,456 kg dalam luas KJA 110 m2, maka untuk menghasilkan 1 kg

ikan segar membuang beban TN 0.160 kg dan TP 0.035 kg ke lingkungan.

5.4.3. Penggunaan Pakan

Hasil penelitian diketahui pakan yang beredar di Waduk Cirata ada 11 merk pakan, namun hanya 7 merk pakan yang banyak digunakan pembudidaya yaitu pakan Pxl, Pxm, Pxn, Pxo, Pxp, Pxq dan Pxr. Pakan merk Pxq, lebih banyak digunakan dalam pola budidaya antara ikan mas dan nila atau 41% penggunaannya dibandingkan pakan merk lainnya. Hasil wawancara dengan pembudidaya, menurut mereka pakan Pxq pakan yang selalu terjamin ketersediaanya dan jenis pakan tersebut sesuai untuk budidaya ikan mas. Persentase penggunaan pakan disajikan pada Gambar 23.

Jenis pakan lain yang banyak digunakan untuk budidaya ikan mas dan nila adalah pakan merk Pxr, Pxo dan Pxp masing-masing persentasenya 15%, 9% dan 8%. Ketiga jenis pakan tersebut juga sudah lama beredar sehingga sudah dikenal oleh pembudidaya tentang kualitasnya. Sedangkan pakan merk Pxm sebanyak 7% pembudidaya lebih memilih menggunakannya untuk budidaya ikan bawal dan nila, karena pakan Pxm lebih sesuai untuk pakan bawal dibanding pakan lainnya.

Pakan merk Pxl dan Pxn keduanya belum banyak digunakan masing-masing hanya 5%, karena menurut pembudidaya kualitasnya kurang bagus dan baru beredar dibandingkan jenis pakan lainnya. Selanjutnya masih ada lima merk pakan lainnya yang tingkat penggunaannya masih rendah dan ketersediaannya masih terbatas.

(39)

Gambar 2 Ju setiap me ditunjukka digunakan setiap mu musim dig dan 1,158 perbedaan sedikit ber Be mengguna dan 936.1 dibutuhka pakan Pxr 968.75 kg 1,158.33, Pxq, Pxo dibanding 23 Persenta KJA di W mlah pakan erk pakan an pada Ga n sebanyak sim. Sedan gunakan se 8,33 kg. Pe n kualitas p rarti pakan erdasarkan akan pakan 11 kg. Hal n jumlah p r, Pxp dan g untuk men 1,178.57 d terlihat bah kan pakan Pxq, 41% ase merk pa Waduk Cira n yang dig jumlahnya ambar 24. J k 1,250.00, ngkan paka cara beruru erbedaan ju pakan, jumla yang digun grafik te n Pxl, Pxq ini terlihat b pakan yang Pxn produk ncapai prod dan 1,187.5 hwa pakan lainnya. Lainnya, 12% akan yang d ata unakan da a bervarias Jumlah pak 1,238.89 da n Pxn, Pxp utan masing umlah peng ah pakan ya akan berku erlihat bah dan Pxo m bahwa untu g lebih ban ksi masing-duksi terseb 50 kg. Bila merk Pxr % digunakan d lam budida si, secara kan Pxl, Px an 1,238.10 dan Pxr da g-masing se gunaan pa ang digunak alitas. wa produ masing-mas uk mencapa nyak. Seda -masing seb but hanya d dibandingka r, Pxp dan Pxr, 15% P Pxo Pxp, 8% dalam budid aya ikan ma rinci peng xq dan Pxo 0 kg dalam alam satu p ebanyak 1,1 kan diduga kan per pet

ksi ikan sing sebany ai jumlah p ngkan men banyak 803 dibutuhkan an penggun Pxn kualita xm, 7% Pxl, 5% Pxn, 5% o, 9% daya ikan s as dan nila ggunaan p o masing-m satu petak petak KJA s 187.50, 1,17 a karena ad

tak KJA sem

mas dan yak 859, 87 produksi ters nggunakan 3.33, 871.43 pakan seba naan pakan asnya lebih istem a dari pakan asing k KJA setiap 78.57 danya makin nila 70.83 sebut jenis 3 dan anyak n Pxl, h baik

(40)

Gambar 24 Jumlah penggunaan pakan dan produksi ikan per petak KJA dalam satu musim budidaya mas dan nila

Hasil penelitian menunjukkan jumlah pakan yang digunakan dalam satu kali musim tanam rata-rata 1205.56 kg/petak, secara rinci jumlah penggunaan pakan per petak KJA disajikan pada Tabel 34. Pada umumnya pemberian pakan dilakukan antara 3 - 5 kali dalam satu hari. Pola pemberian pakan menjadi lebih banyak pada saat harga ikan tinggi maka pembudidaya berupaya mempercepat masa panen, biasanya panen dilakukan setelah pemiliharaan selama 4 bulan dipercepat menjadi 3 - 3.5 bulan. Cara tersebut dilakukan dengan jalan ikan diberi pakan sebanyak-banyaknya atau disebut dengan pemberian pakan sistem pompa. Dengan demikian pola bemberian pakan yang dikembangkan oleh pembudidaya tidak sesuai dengan teknologi pemberian pakan dalam sistem budidaya ikan. Schmittou (1991) menjelaskan bahwa pemberian pakan sebaiknya dilakukan tiga kali setiap hari sebanyak 3% dari bobot tubuhnya; pemberian dosis pakan yang baik antra 3 - 5% dari total biomass tubuh ikan per hari (Sukadi et al. 2007).

Pemberian pakan yang tidak mengikuti teknologi pemberian pakan, maka jumlah dan dosis pakan yang diberikan menjadi tidak sesuai dengan kebutuhan ikan. Pemberian pakan secara berlebihan mengakibatkan pakan yang dimakan oleh ikan tidak dapat dicerna dengan baik dan tidak semua pakan dapat dikonsumsi oleh ikan. Teknik pemberian pakan yang demikian juga dapat meningkatkan jumlah sisa pakan yang terbuang ke perairan. Krismono dan Wahyudi (2001) menjelaskan pemberian pakan dengan sistem pompa jumlah pakan yang terbuang berkisar antara 20 % - 30% ke lingkungan perairan.

‐ 200  400  600  800  1,000  1,200  1,140  1,160  1,180  1,200  1,220  1,240  1,260  Produksi/pet ak  (Kg) Pakan/petak  (Kg) Jenis pakan Pakan/petak  Produksi/petak  Pxq     Pxr     Pxo     Pxp     Pxl      Pxn   Lainnya

(41)

Tabel 34 Jumlah penggunaan pakan per petak KJA (kg) dalam satu musim

5.4.4. Produksi

Produksi ikan yang dibudidaya di Waduk Cirata untuk setiap penebaran benih sebanyak 284 kg ikan mas dan 138 kg ikan nila dalam waktu selama 4 siklus mas dan 2 siklus nila dalam setahun dibutuhkan pakan sebanyak 4.57 ton/ petak/tahun dengan produksi 2.7 ton/petak/tahun (Tabel 35).

Produksi ikan mas per petak KJA, bila dibandingkan dengan kondisi produksi ikan pada tahun 1995 pada saat kondisi air waduk masih bagus satu petak KJA produksi sekitar 2,300 kg/siklus (Abery et al. 2005), sementara sekarang produksi hanya 604 kg/siklus. Perbedaan produktivitas ikan di Waduk Cirata yang sangat signifikan tersebut diduga akibat kondisi air waduk saat ini sudah buruk untuk budidaya disamping itu juga terjadinya penurunan kualitas pakan.

Tabel 35 Produksi ikan per petak KJA dalam setahun

Budidaya       Pakan (ton)       Produksi  (ton)    FCR  

 Ikan Mas   4.65   2.41   1.73  

 Ikan Nila   0.29  

 Total      4.65      2.70   1.73  

Jenis pakan Kisaran Rata‐rata

Ikan Mas ‐ Laju 750 ‐ 2000 1,238.10 ‐ Jatra 500 ‐ 1500 1,158.33 ‐ Turbo 750 ‐ 1500 1,238.89 ‐ Pilar 1000 ‐ 1500 1,178.57 ‐ Cargill 1000 ‐ 2000 1,250.00 ‐ Malindo 1000 ‐ 1500 1,187.50 ‐ Jenis lainnya 1000 ‐ 1500 1,187.50 Rata‐rata 1,205.56

(42)

5.4.5. Loading P dari Budidaya

Hasil perhitungan beban P dari sisa pakan dalam satu petak KJA beban P yang terbuang ke lingkungan besarnya 0.02 ton pertahun atau sebanyak 23 kg P per petak KJA per tahun (Tabel 36). Berdasarkan data jumlah KJA terakhir sebanyak 49,985 petak yang tidak beroperasi sebanyak 10%, jadi jumlah KJA yang aktif sebanyak 44,987 petak KJA (BPLHD 2009). Dengan demikian jumlah total beban P dari sisa pakan yang terbuang ke Waduk Cirata sebanyak 900 ton dalam waktu satu tahun. Menurut Guo dan Li (2003) menyatakan lebih dari 85% N dan P dari pakan yang terbuang di daerah sekeliling KJA.

Jumlah beban P yang terbuang ke perairan waduk dari sisa pakan budidaya ikan dalam KJA masih tinggi. Hal ini terjadi diduga akibat dari berbagai hal yaitu kualitas perairan waduk sudah menurun, pakan yang kurang berkualitas, jumlah KJA melebihi daya dukung, dan penerapan teknologi tidak sesuai petunjuk teknis.

Tabel 36 Beban P dari sisa pakan budidaya ikan per petak/tahun di Waduk Cirata

Sukadi et al (2007) menjelaskan beberapa kriteria penggunaan pakan

yang harus diperhatikan dalam pemberian pakan yaitu gunakan pakan dengan kandungan P yang minimal (0.6 - 0.9%), pakan yang menghasilkan nilai FCR yang rendah, berikan pakan sebanyak 3 - 5% berat biomassa tubuh ikan per hari, kurangi frekuensi pemberian pakan saat nafsu makan ikan berkurang, pada perairan yang mesotrofik pemberian pakan sebanyak 8 kg/hari/luas dan minimalkan limbah akibat pakan pada saat disimpan sampai pakan diberikan.

Budidaya Jumlah  pakan (ton) Produksi  (ton) P  pakan/ton P ikan/ton Jumlah P  pakan Jumlah P  termanfaatkan Ikan mas         4.65          2.41 25.95       40      120.76        96.570 Ikan Nila 0.29       52        14.950 Jumlah      120.76        111.52 Beban P sisa pakan       9.24

(43)

5.5. Daya Tampung Beban P dan Daya Dukung Perairan Waduk

Daya tampung Beban Pencemaran Air (DTBPA) waduk, khususnya daya tampung beban TP dalam hubungannya dengan daya dukung budidaya perikanan KJA, dihitung berdasarkan beberapa aspek yaitu:

a) BMA (baku mutu air) waduk dengan menggunakan parameter P-total sebagai indikator status trofik waduk

b) Alokasi P-total dari DAS yang masuk waduk atau Pdas.

c) Kadar P-total hasil pemantauan kualitas air waduk atau Pi

d) Khususnya untuk perhitungan daya dukung budidaya perikanan KJA maka digunakan data beban P-total dari limbah pakan ikan.

Alokasi Pdas sangat tergantung pada beban pencemaran limbah

penduduk, pertanian, peternakan dan industri (Beveridge 2004). Dalam penelitian ini alokasi TP dari lahan DAS berdasarkan pada 4 kelompok lahan sebagai sumber fosfor yaitu lahan sumber fosfor rendah, sedang, tinggi pemukiman dan tinggi sawah.

Daya tampung beban pencemaran air Waduk Cirata dihitung berdasarkan kadar P-total rata-rata hasil pemantauan pada air waduk yaitu 128 mg/m3,

sedangkan BMA parameter P-total adalah 250 mg/m3 atau 0.25 gram/m3.

Data hasil pemantauan tersebut menunjukkan kualitas air waduk kurang mampu menampung beban P-total yang tinggi. Hasil perhitungan DTBPA untuk budidaya perikanan KJA, seperti ditunjukkan pada Tabel 37.

Hasil perhitungan DTBPA pada Tabel 36, menunjukkan nilai alokasi total P dengan ketentuan batas maksimum P-total budidaya ikan 250 mg/m3 dan

beban P-total dari DAS (Pdas) = 176.28 mg/m3 dan data hasil pemantauan P-total

badan air waduk = 128 mg/m3, maka daya tampung beban pencemaran TP (ΔP)

besarnya sama dengan -54.28 mg/m3.

Pada Tabel 37 terlihat bahwa daya dukung waduk bagi budidaya perikanan dengan alokasi beban P dari DAS 176.28 mg/m3, maka daya dukung untuk perairan waduk budidaya perikanan tidak tersedia.

Gambar

Tabel 15  Nilai kisaran kosentrasi amonium (NH 4 ) (mg/l) di Waduk Cirata selama  pengamatan
Tabel 19  Nilai rata-rata dan rasio massa atom N dan P di perairan Waduk Cirata  periode pengamatan bulan Agustus - Nopember 2010
Gambar 12  K Klasifikasi lahan sumber fosfor di DAS Cirata tahhun 2000
Gambar 13  K Klasifikasi lahan sumber  fosfor d di DAS Cirata tahun 2009
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

CakePHP juga menjadi salah satu framework pilihan yang memungkinkan developer untuk membuat sebuah aplikasi web dengan karakter pengembangan RAD (Rapid

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aplikasi ekstrak pelepah pisang ambon (Musa paradisiaca) dengan dosis berbeda pengaruh terhadap kelangsungan hidup benih

TK-TPA yang bertempat di Dusun Balumbung bernama TK-TPA Tauhidal Islam, TK-TPA ini memiliki nama yang sama dengan Majelis Taklim dan Masjid yang berada di Dusun

(2013) menggunakan ekstrak yang sama memberikan pengaruh penurunan persentase perkecambahan biji gulma maman ungu ( Cleome rutidosperma ) pada konsentrasi lebih rendah dari

[r]

Bagaimana menurut bapak dengan pekerjaan pengangkut garam perempuan yang lebih berat dari pada pengangkut garam laki-laki, tetapi upah pengangkut garam perempuan lebih rendah?.

Pada proses pembelajaran, siswa lebih ditekankan pada unaur gerak dan penyesuaian gerakan melalui metode demonstrasi.dari hasil obsrvasi pada siklus II ini diperoleh data

Koordinasi pun berkaitan dengan kualitas pelayanan publik, hal ini disebabkan oleh koordinasi merupakan suatu upaya untuk mengarahkan kegiatan pemberian pelayanan