• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Deskriptif Pendidikan RA dan Madrasah Tahun Akademik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Analisis Deskriptif Pendidikan RA dan Madrasah Tahun Akademik"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1

Analisis Deskriptif

Pendidikan RA dan Madrasah

Tahun Akademik 2009-2010

Tahun ini terjadi penambahan jumlah madrasah negeri dikarenakan beberapa madrasah penegerian baru yang di-SK-kan per Januari 2010 baru terdata sekarang.

A. Pengantar

Pendidikan RA dan Madrasah merupakan satuan pendidikan dibawah naungan Direktorat Pendidikan

Madrasah Ditjen

Pendidikan Islam

Kemenag RI. Pendidikan

RA dan Madrasah

merupakan pendidikan dasar dan menengah yang sangat menentukan standart kualitas sumber

daya manusia yang

mampu melahirkan

generasi penerus bangsa yang berkualitas, menguasai iptek serta berlandaskan iman dan takwa kepada Allah SWT.

B Analisis Deskriptif Data 1. Kelembagaan

Jenis Data yang didata antara lain RA, MI, MTs dan MA. Berdasarkan

data yang berhasil dikumpulkan oleh Bagian Perencanaan dan Data Setditjen Pendidikan Islam, pada Tahun Pendidikan 2009-2010, secara nasional terdapat sebanyak 23.007 RA, 22.239 MI, 14.024 MTs, dan 5.897 MA yang tersebar di 33 propinsi. Jumlah MIN pada Tahun Pendidikan 2009-2010 sebanyak 1.675, MTsN sebanyak 1.418, sementara MAN sebanyak 748. Untuk jenjang MI, jumlah MIN pada

tahun sebelumnya sebanyak 1.662, terdapat perbedaan MIN sebanyak 13 lembaga, sementara untuk jenjang MTs, jumlah MTsN pada tahun sebelumnya sebanyak 1.384, terdapat perbedaan sebanyak 34 lembaga. Sementara untuk jenjang MA pada tahun sebelumnya sebanyak 735, lembaga. Hal ini disebabkan karena

(2)

2

Grafik 1.1. Jumlah Lembaga RA, MIN, MIS, MTsN, MTsS, MAN dan MAS Tahun Pelajaran 2009/2010.

Grafik 1.2. Jumlah RA berdasarkan Status Tahun Pelajaran 2009/2010.

pada tahun ini terjadi penambahan jumlah madrasah negeri dikarenakan beberapa madrasah penegerian baru yang di-SK-kan per Januari 2010 baru terdata sekarang.

Bila dilihat secara keseluruhan, ternyata jumlah lembaga RA, MI, MTs maupun MA secara pendataan terus mengalami peningkatan jumlah lembaga dari tahun ke tahun. Hal ini dimungkinkan oleh beberapa sebab

diantaranya adalah besarnya

tanggungjawab

masyarakat akan

pentingnya pendidikan.

Pendidikan tidak

melulu harus menjadi

tanggung jawab

pemeritah saja,

melainkan juga

menjadi tanggungjawab masyarakat. Hal ini terbukti dari komposisi

jumlah lembaga antara Negeri dan Swasta, ternyata lebih dari 85% lembaga tersebut diselenggarakan

oleh swasta, dalam hal melalui sebuah

yayasan ataupun atas nama

perorngan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pendidikan terutama pendidikan berbasis agama untuk generasi yang akan datang untuk menghadapi tantangan global.

Tinjauan untuk RA berdasarkan statusnya terbagi menjadi Pembina, Inti, Reguler, Lainnya. Sebanyak 127 atau 0,6% RA berstatuskan Pembina,

(3)

3

Grafik 1.3. Jumlah MI berdasarkan Akreditasi Tahun

Pelajaran 2009/2010 sebanyak 4.077 atau 17,7% berstatuskan Inti, dan sebanyak 7.841 atau 34,1% berstatuskan Reguler. Sementara sebanyak 10.962 atau 47,6% berstatuskan

Lainnya. Hanya memang perlu pengkajian lebih lanjut tentang status

lainnya tersebut, mengingat

keterbatasan formulir yang disebarkan, status tersebut perlu diuraikan lebih terinci. Secara keseluruhan masih banyak status Lainnya yang masih perlu digali lebih mendalam lagi, atau informasi sementara yang didapat ternyata perhatian untuk tata kelola jenjang RA ini masih perlu perhatian yang lebih banyak lagi dari lingkungan Ditjen Pendidikan Islam Kemenag RI, sehingga pada saatnya nanti tata kelola lembaga RA jauh lebih baik dan bermutu lagi, mengingat bahwa jenjang RA ini sebenarnya merupakan row input untuk calon-calon siswa MI yang lebih bermutu.

Berbicara masalah tata kelola, ternyata untuk jenjang MI, MTs, dan

MA hal yang penting atau perlu perhatian adalah masalah akreditasi. Masalah akreditasi ini menjadi penting karena ini merupakan tolok ukur mutu

lembaga yang bersangkutan.

Berdasarkan data yang masuk ke Bagian Perencanaan dan Data, untuk jenjang MI ternyata sebanyak 1.688 atau 7,6% berakreditasi A, sementara

sebanyak 9.088 atau 40,9%

berakreditasi B, dan sebanyak 7.170 atau 32,3% berakreditasi C. Sementara sebanyak 4.293 atau 19,3% belum terakreditasi baik itu A, B ataupun C.

Sementara angka untuk akreditasi jenjang MTs, sebanyak 1.199 atau 8,6% memiliki akreditasi A, 5.757 atau 41,1% terakreditasi B, sementara

sebanyak 3.698 atau 26,3%

terakreditasi C, dana sebanyak 3.368 atau 24,0% belum terakreditasi.

(4)

4

Grafik 1. 5. Jumlah MA berdasarkan Akreditasi Tahun Pelajaran 2009/2010

Grafik 1. 4. Jumlah MTs berdasarkan Akreditasi Tahun Pelajaran 2009/2010

Untuk jenjang MA, sebanyak 484 atau 8,2% terakreditasi A, 1.879 atau 31,9% terakreditasi B, sementara

sebanyak 1.650 atau 27,9%

terakreditasi C. Sedangkan sebanyak 1.884 atau 31,9% belum terakreditasi banyak pekerjaan yang harus lebih ditingkatkan dari Direktorat madrasah berkaitan dengan akreditasi. Ternyata secara rerata madrasah di Indonesia yang memiliki akreditasi A dibawah

10%. Ini tentunya membutuhkan manajemen tata kelola yang baik sehingga nantinya akan lebih banyak madrasah yang memiliki akreditasi A, sehingga dengan sendirinya akan membentuk citra madrasah itu sendiri di masyarakat.

2. Peserta Didik atau Siswa

Jumlah keseluruhan peserta didik atau siswa berdasarkan masing-masing jenjang adalah sebanyak 915.315 siswa RA, kemudian sebanyak 3.013.220 siswa MI, sebanyak 2.541.839 siswa MTs, dan sebanyak 917.227 siswa MA.

Sementara komposisi siswa untuk jenjang MI, MTs dan MA berdasarkan status lembaga, sebanyak 375.392 siswa MIN, 2.637.828 siswa MIS, 610.348 siswa MTsN, 1.931.491 siswa

(5)

5

Grafik 1.6. Jumlah Siswa RA, MI, MTs, dan MA Tahun

Pelajaran 2009/2010 MTsS, 319.499 siswa MAN, dan sebanyak 597.728 siswa MAS.

Dari paparan diatas nampaklah bahwa jumlah siswa madrasah swasta berbanding lurus dengan jumlah lembaga yang berstatus swasta. Hal ini menyatakan bahwa kontribusi lembaga swasta sangat berarti di dunia pendidikan agama islam. Ini perlu dicermati agar kualitas atau mutu lembaga tersebut dapat terus termonitor. Komposisi jumlah siswa berdasarkan jenis kelamin, untuk jenjang RA sebanyak 460.154 atau 50,3% berjenis kelamin laki-laki, sementara sebanyak 455.161 atau 49,7% merupakan siswa perempuan. Untuk jenjang RA ini perbandingan jumlah siswa laki-laki dengan perempuan hampir seimbang. Untuk jenjang MI, sebanyak 1.554.253 atau 51,6% siswa laki-laki, dan sebanyak 1.458.967 atau 48,4%

merupakan siswa perempuan.

Perbandingan siswa laki-laki dengan perempuan untuk jenjang MI siswa laki-laki sedikit lebih banyak

dibandingkan dengan siswa

perempuan. Untuk jenjang MTs, sebanyak 1.249.409 atau 49,2% siswa laki-laki dan sebanyak 1.292.430 siswa

(6)

6

Grafik 1.7. Jumlah Siswa RA, MI, MTs, dan MA berdasarkan jenis kelamin Tahun Pelajaran 2009/2010 perempuan. Untuk jenjang MTs

ternyata jumlah siswa perempuan sedikit lebih banyak dibandingkan dengan jumlah siswa laki-laki. Sementara untuk jenjang MA sebanyak 413.846 atau 45,1% siswa laki-laki dan sebanyak 503.381 atau 54,9%

merupakan siswa perempuan.

Ternyata untuk jenjang MA ini mirip dengan jenjang MTs, jumlah siswa perempuan lebih banyak dibandingkan dengan jumlah siswa laki-laki. Paparan diatas menunjukan sesuatu yang

menarik akan

tetapi perlu lanjut dan mendalam, mengapa selepas MI, banyak siswa laki-laki yang tidak melanjutkan

ke jenjang

berikutnya. Indikator lain yang tak kalah pentingnya untuk memonitor

perkembangan lembaga pendidikan adalah nilai rombongan belajar (rombel) dan Angka Partisipasi Kasar (APK). Jumlah rombel untuk jenjang RA adalah sebanyak 47.714 dengan jumlah siswa sebanyak 915.315 orang, sehingga diketahui rasio rombel:siswa

sebanyak 1:19. Jumlah rombel untuk jenjang MI sebanyak 140.585 dengan jumlah siswa sebanyak 3.013.220 orang, sehingga rasio rombel:siswa sebanyak 1:21. Untuk jenjang MTs, jumlah rombel sebanyak 78.648 dengan jumlah siswa sebanyak 2.541.839 orang, rasio rombel:siswa adalah 1:32. Sementara untuk jenjang MA, jumlah rombel sebanyak 31.507 dengan jumlah siswa sebanyak 917.227 orang, sehingga rasio rombel:siswa adalah 1:29.

Sementara komposisi rasio rombel:siswa berdasarkan status madrasah negeri maupun swasta adalah sebagai berikut : untuk MIN sebesar 1:27; MIS sebesar 1:21; MTsN sebesar1:35; MTsS sebesar 1:32; MAN sebesar 1:33; dan MAS sebesar 1:27.

(7)

7

Grafik 1.8. Nilai APK Tahun Pelajaran 2009/2010

Grafik 1.9. Jumlah Pengulang Tahun Pelajaran 2009/2010 Nilai APK untuk RA sebesar 7,51, sementara untuk MI sebesar 11,36, MTs sebesar 19,50 dan MA sebesar 7,28.

Dari nilai APK tersebut nampak bahwa minat masyarakat terhadap madrasah semakin besar dari jenjang RA sampai dengan MTs, akan tetapi pada jenjang MA terlihat turun sangat drastis. Hal ini perlu dicari terobosan-terobosan yang lebih inovatif agar nilai jual MA menjadi semakin baik, sehingga masyarakat tertarik menyekolahkan anaknya di tingkat MA. Indikator pendidikan selanjutnya yang cukup penting adalah jumlah siswa pengulang.

Peningkatan kualitas peserta didik secara perlu mendapat perhatian khusus, berdasarkan data yang ada

dapat dipaparkan bahwa secara rata-rata siswa pengulang untuk jenis kelamin perempuan lebih kecil di banding dengan siswa laki-laki. Hal ini terjadi di tingkat MI, MTs maupun MA baik itu di madrasah negeri maupun swasta (lihat Tabel 1.06, Tabel 1.06.1, dan Tabel 1.06.2).

Berdasarkan data pengulang yang dipaparkan diatas ternyata sebagian besar siswa pengulang adalah siswa laki-laki. Hal ini

(8)

8

Grafik 1.10. Jumlah Siswa Drop Out Tahun Pelajaran 2009/2010

menunjukan bahwa kualitas siswa laki-laki perlu mendapat perhatian lebih khusus lagi, sehingga dimasa yang akan datang jumlah pengulangnya bisa lebih diperkecil.

Indikator pendidikan selanjutnya yang perlu ditinjau adalah jumlah siswa drop out (DO). Secara umum siswa laki-laki di jenjang MI, MTs, MA baik untuk status negeri maupun

swasta lebih mendominasi tingkat drop out siswa dibandingkan dengan siswa perempuan. Ini mungkin perlu kajian mengapa hal tersebut terjadi. Ada apa dengan siswa laki-laki? Hal ini merujuk pada salah satu judul film yang pernah populer di Indonesia. Kualitas siswa laki-laki perlu mendapat perhatian lebih khusus lagi, sehingga jumlah angka putus sekolah/drop out bisa lebih diperkecil. Kemungkinan yang lain adalah perubahan-perubahan nilai-nilai dan cara pandang masyarakat itu sendiri bahwa anak perempuan juga memerlukan pendidikan sampai

dengan jenjang pendidikan yang lebih tinggi sehingga sangat berguna untuk

bekal anak tersebut dimasa

mendatang yang penuh dengan tantangan-tantangan kehidupan.

Berdasarkan diagram atau grafik 1.10. diatas, ternyata terdapat fenomena yang menarik dimana jumlah siswa putus sekolah atau drop out cenderung tinggi di tingkat MTs. Hal ini dimungkinkan karena faktor ekonomi orangtua yang sudah tidak dapat mendukung untuk pembiayaan pendidikan siswa yang bersangkutan. Ini baru dugaan penulis, perlu diteliti lebih mendalam lagi, faktor-faktor pemicu timbulnya siswa putus sekolah di tingkat MTs.

(9)

9

Grafik 1.11. Latar Belakang Pendidikan Kepala RA

3. Personal Lembaga Pendidikan 3.1. Kepala Lembaga Pendidikan

Jumlah Kepala RA sebanyak 23.007 orang. Dari jumlah tersebut bila dilihat dari latar belakang pendidikan atau kualifikasi pendidikan sebanyak 70,1% atau 16.122 orang memiliki jenjang pendidikan kurang dari S1, sebanyak 29,1% atau 6.704 orang berpendidikan S1, dan sisanya sebanyak 181 orang atau 0,8% berpendidikan S2.

Dari Grafik diatas terlihat bahwa masih banyak sekali Kepala RA yang berlatar belakang pendidikan belum S1, hal ini perlu perhatian dan dorongan dari pemerintah agar para Kepala RA tersebut minimal memiliki pendidikan minimal S1, dikarenakan hal ini berkaitan dengan skill individu

tersebut untuk manajemen tata kelola lembaga agar lebih baik.

Latar Belakang Pendidikan Kepala MIN sebanyak 272 orang atau 16,2% berpendidikan kurang dari S1, dan sebanyak 133 orang atau 7,9% berpendidikan S2. Sementara sebagian besar Kepala MIN berpendidikan S1, yaitu sebanyak 1.270 orang atau 77,8%. Sementara untuk Kepala MIS sebagian besar berpendidikan kurang dari S1, yaitu sebanyak 9.800 orang atau 47,7%, sebanyak 10.371 orang

atau 50,4% berpendidikan S1, dan sisanya sebanyak 393 orang atau 1,9% berpendidikan minimal S2. Untuk lebih jelasnya lihat grafik berikut ini (Grafik 1.12.).

(10)

10

Grafik 1.12. Latar Belakang Pendidikan Kepala MI

Grafik 1.13. Latar Belakang Pendidikan Kepala MTs Dari Grafik diatas ternyata

terdapat kondisi atau fenomena yang menarik. Kondisi tersebut adalah bila pada MIN, latar belakang pendidikan Kepala MIN yang belum S1 memiliki jumlah yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan yang memiliki latar belakang pendidikan minimal S1. Kondisi sebaliknya terjadi di MIS, bahwa Kepala MIS yang memiliki latar belakang minimal S1 jauh lebih kecil dibandingkan dengan yang berlatar pendidikan kurang dari S1. Ini berarti bahwa pemerintah harus lebih memperhatikan sektor swasta, karena hal ini berkaitan dengan sumber daya di MI sektor swasta jauh lebih besar daripada MIN, dalam kata lain

pemerintah tidak boleh

“menganaktirikan” sektor swasta, karena kontribusinya yang begitu besar di dunia pendidikan islam.

Untuk jenjang MTsN, sebanyak 54 orang atau 3,8% Kepala MTsN masih

(11)

11

Grafik 1. 14. Latar Belakang Pendidikan Kepala MA berlatar belakang kurang dari S1,

sedangkan sebagian besar sudah berkualifikasi S1 sebanyak 985 orang atau 69,5%, sedangkan sebanyak 379 orang atau 26,7% berkualifikasi S2. Sementara untuk MTsS, sebanyak 2.800 orang atau 22,2% berkualifikasi kurang dari S1, 8.984 orang atau 71,3% berkualifikasi S1, dan selebihnya sebanyak 820 orang atau 6,5% berkualifikasi minimal S2.

Berdasarkan Grafik diatas, perlu adanya dorongan dari pemerintah agar para Kepala MTs yang belum berpendidikan minimal S1, agar segera

meningkatkan kualifikasinya

mengingat tantangan dunia pendidikan ke depan jauh lebih besar, sehingga harus dipimpin oleh seorang individu yang mumpuni secara skill.

Untuk jenjang MAN, sebanyak 12

orang atau 1,6%

Kepala MAN

berkualifikasi kurang dari S1, 463 orang atau 61,9% berkualifikasi S1, dan sebanyak 273 orang atau 36,5% berkualifikasi minimal S2. Sementara untuk MAS sebanyak 582 orang atau 11,3% berkualifikasi kurang

dari S1, 3.926 orang atau 76,2% berkualifikasi S1, dan sisanya sebanyak 641 orang atau 12,5% berkualifikasi minimal S2.

Secara garis besar kualifikasi

kepala madrasah mengalami

peningkatan, yakni yang tadinya belum S1, sekarang sudah menjadi S1, yang sebelumnya S2, sekarang sudah menjadi S2. Pendek kata hal ini perlu didorong terus menerus agar kualitas SDM terutama untuk kepala madrasah terus meningkat secara kualifikasi pendidikannya. Diharapkan dengan semakin tinggi pendidikannya, akan tercipta SDM yang bermutu sehingga mampu menjadi manajer yang handal untuk lembaga-lembaga pendidikan islam khususnya dan dunia pendidikan di Indonesia pada umumnya.

(12)

12

Grafik 1.15. Pendidik RA

3.2. Pendidik

Jumlah Pendidik di jenjang RA sebanyak 94.769 orang dengan komposisi berdasarkan kualifikasi pendidikan, sebanyak 73.455 atau 77,5% berkualifikasi kurang dari S1, dan sisanya 21.314 orang atau 22,5% berkualifikasi minimal S1. Sementara jika dilihat dari Status Kepegawaian, mayoritas sebanyak 87.503 atau 92,3% berstatus Non PNS. Sementara hanya sebagain kecil saja yang berpredikat PNS, yakni sebanyak 7.266 atau 7,7%. Jika ditinjau dari Kategori jenis kelamin, maka sebanyak 84.803 atau 89,5% berjenis kelamin perempuan, sementara 9.966 atau 10,5% berjenis kelamin laki-laki. Hal ini sudah lumrah karena secara psikologis perempuan lebih dekat dengan dunia anak-anak usia dini.

Berdasarkan data diatas

nampaknya, Pemerintah melalui Ditjen Pendis memiliki banyak pekerjaan antara lain sebisa mungkin mengkondisikan agar para Pendidk (Guru) di RA, paling tidak memliki pendidikan minimal S1. Hal ini

berkaitan dengan pemberian

tunjangan profesi, dimana syarat untuk mendapatkan tunjangan profesi adalah pendidikan Pendidik (Guru) minimal adalah S1 atau D4 dan mengikuti pendidikan profesi agar mendapatkan sertifikat pendidikan (Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pasal 9).

Untuk Jenjang MI, jumlah Pendidik (Guru) sebanyak 78.493 orang atau 18,0% berstatus PNS, sementara sebagian besar berstatus Non PNS sebanyak 358.650 atau 82,0%. Jika dilihat berdasarkan kualifikasi pendidikan, maka sebanyak 265.787 orang atau 60,8% berkualifikasi kurang dari S1, sisanya

(13)

13

Grafik 1.16. Pendidik MI

sebanyak 171.356 orang atau 39,2% berkualifikasi minimal S1. Sementara berdasarkan jenis kelamin, maka sebanyak 207.311 atau 47,4% berjenis kelamin Laki-laki, selebihnya sebanyak 229.832 atau 52,6% berjenis kelamin perempuan. Secara jenis kelamin untuk level MI, jumlah guru hampir sama, sehingga disini terlihat juga kesetaraan atau tidak ada diskriminasi untuk menjabat sebagai Guru MI.

Grafik diatas menunjukkan bahwa masih banyak guru yang belum menjadi PNS dan juga secara kualifikasi pendidikan masih banyak yang belum S1. Hal ini tentunya menuntut kerja lebih keras lagi dari aparatur Ditjen Pendidikan Islam untuk

dapat meningkatkan performa

Pendidik di level Madrasah Ibtidaiyah (MI).

Pendidik jenjang MTs berjumlah 264.195 orang dengan 50.498 orang atau 19,1% berstatus PNS, sementara sebanyak 213.697 orang atau 80,9% berstatus Non PNS. Jika dilihat dari sisi kualifikasi pendidikan, sebanyak

91.528 orang atau 34,6%

berkualifikasi kurang dari S1, dan sebanyak 172.667 orang atau 65,4% berkualifikasi pendidikan minimal S1.

Secara jenis kelamin untuk level MTs, jumlah Pendidik berjenis kelamin Laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan Pendidik Perempuan, yakni sebanyak 141.219 atau 53,5% Laki-laki, dan sebanyak 122.976 atau 46,5% Perempuan.

(14)

14

Grafik 1.18. Pendidik MA Grafik 1.17. Pendidik MTs

Grafik diatas melukiskan, bahwa walaupun secara fakta Pendidik (Guru) MTs yang berpendidikan minimal S1 lebih banyak dibanding dengan yang belum S1, namun program untuk peningkatan kualifikasi Pendidik terus

ditingkatkan agar apa yang

diamanatkan di dalam Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen tercapai dengan baik.

Total Jumlah Pendidik untuk jenjang MA sebanyak 121.907 orang dengan 25.229 orang atau 20,7% berstatus PNS, sementara selebihnya sebanyak 96.678 orang atau 79,3% berstatus Non PNS. Kualifikasi pendidikan Pendidik untuk tingkat MA sebagian besar sudah berpendidikan minimal S1 yakni sebanyak 93.147 orang atau 76,4%, sementara sisanya berpendidikan kurang dari S1 sebanyak 28.760 orang atau 23,6%. Secara jenis kelamin kondisi Guru di level MA mirip dengan level MTs, bahwa Pendidik Laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan Pendidik Perempuan, yakni sebanyak 67.154 atau 55,1% berjenis kelamin Laki-laki, sedangkan sebanyak 54.757 atau 44,9% berjenis kelamin perempuan.

(15)

15

Grafik 1.19. Pendidik MI, MTs dan MA

Grafik diatas melukiskan, bahwa walaupun secara fakta Pendidik MA yang berpendidikan minimal S1 lebih banyak dibanding dengan yang belum

S1, namun program untuk

peningkatan kualifikasi Pendidik terus

ditingkatkan agar apa yang

diamanatkan di dalam Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen tercapai dengan baik.

Secara keseluruhan masih banyak pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh Ditjen Pendidikan Islam, mengingat Program Sertifikasi tersebut seperti yang diamanatkan di dalam Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Berdasarkan data yang ada, jumlah Pendidik yang sudah lulusSertifikat sebanyak 1.914 untuk jenjang RA, 17.789 untuk jenjang MI, 15.468 orantg untuk jenjang MTs, dan

sebanyak 6.561 orang untuk jenjang MA. Sehingga secara total jumlah guru yang sudah tersertifikasi sebanyak 41.732 orang. Namun data tersebut adalah data yang masuk ke Bagian Perencanaan dan Data. Kondisi ini menunjukkan bahwa jumlah tersebut masih jauh dari harapan, mengingat jumlah Pendidik yang berpendidikan minimal S1 sebanyak 21.314 orang untuk level RA, 171.356 orang untuk level MI,

kemudian sebanyak

172.667 untuk jenjang

MTs, dan sebanyak

93.147 orang untuk

jenjang MA. Jika

dibandingkan dengan jumlah Pendidik secara total, meminjam istilah yang populer yakni “masih jauh panggang dari api”.

Secara umum berdasarkan grafik diatas menunjukkan bahwa jumlah guru yang sudah tersertifikasi ternyata secara rata-rata kurang dari 11%. Untuk mensukseskan apa yang diamanahkan dalam Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, masih diperlukan program-program dari Ditjen Pendidikan Islam yang mendukung program sertifikasi Guru.

Gambar

Grafik 1.2. Jumlah RA berdasarkan Status Tahun  Pelajaran 2009/2010.
Grafik 1.3. Jumlah MI berdasarkan Akreditasi Tahun  Pelajaran 2009/2010 sebanyak  4.077 atau 17,7% berstatuskan Inti, dan sebanyak 7.841 atau 34,1% berstatuskan Reguler
Grafik 1. 4. Jumlah MTs berdasarkan Akreditasi Tahun  Pelajaran 2009/2010
Grafik 1.6. Jumlah Siswa RA, MI, MTs, dan MA Tahun  Pelajaran 2009/2010
+7

Referensi

Dokumen terkait

Noor membuat event organizer (EO) yang bernama CITA Entertaiment. Nama Cita Entertainment diambil dari nama pendirinya yaitu ibu Nur Cita Qomariyah yang akrab disapa Bu Cita

Proses EDM merupakan proses pengerjaan material yang dikerjakan dengan memanfaatkan loncatan bunga api listrik (  spark  ) yang terjadi pada celah diantara elektroda dan

Vigotsky mengemukakan bahwa pengetahuan dan pemahaman anak ditopang oleh banyaknya komunikasi dengan orang lain, suatu permasalahan tidak mungkin dipecahkan sendiri

Berdasarkan wawancara dengan Bapak Kusnadi selaku Project Coordinator dari Project Fixed Bid, bahwa untuk proses pelaksanaan proyek, dalam mengidentifikasi risiko

Menurut Widodo (2013:9) Clustering atau klasifikasi adalah metode yang digunakan untuk membagi rangkaian data menjadi beberapa group berdasarkan kesamaan-kesamaan

Terhadap berbagai upaya yang bisa dilakukan dalam mewujudkan pelokalan kebijakan HAM di daerah sebagaimana telah disebutkan di atas, maka terhadap perlindungan, pemajuan,

yang Optimum Untuk Pendistribusian Makanan ternak dengan Metode Vogel Approximation (VAM) dan Travelling Salesman Problem (Studi Kasus di PT. Matahari Sakti), Sekolah Tinggi

Berdasarkan perhitungan kapabilitas proses selama periode produksi tahun 2012, nilai sigma level perusahaan untuk tiap waste masih berada dibawah kinerja six sigma, yaitu