Ada banyak penyakit yang ditemukan di dalam masyarakat dan dianggap sepele oleh masyarakat terutama para kaum muda, yang sering disebut dengan maag atau gastritis. Penyakit gastritis terjadi karena adanya pembengkakan pada lapisan mulkosa, dinding lambung yang disebabkan oleh iritasi, infeksi,dan atropi mulkosa lambung [ CITATION mis09 \p 1 \l 1057 ]. Berdasarkan penelitian kesehatan dunia WHO mengadakan tinjauan kebeberapa negara dunia didapatkan hasil persentase angka kejadian gastritis, yaitu, Inggris 22%, China 31%, Jepang 14,5%, Kanada 35%, dan Perancis 29,5%. Di dunia, kejadian gastritis sekitar 1,8-2,1 juta dari jumlah penduduk setiap tahunnya [CITATION Gus11 \p 2-3 \l 1057 ]. Indonesia menempati peringkat keempat jumlah penderita gastritis terbanyak setelah negara Amerika,Inggris dan Bangladesh yaitu berjumlah 430 juta penderita gastritis. Insiden gastritis di Asia Tenggara sekitar 583.635 dari jumlah penduduk setiaptahunnya Kemenkes RI (2008, dalam Hutafea,2015,hal 1-2).
Angka kejadian gastritis di Indonesia menurut WHO adalah 40,8%, dan angka mengalami peningkatan, 2.906 orang pada tahun 2012, 3.982 orang pada tahun 2013, dan 4.340 orang pada tahun 2014[ CITATION Khu16 \p 3-4 \l 1057 ].
akan mengakibatkan penyakit ini “datang dan pergi”, penderita tidak kunjung sembuh yang dapat menggagu aktivitas dan kualitas hidup terganggu.
Faktor risiko gastritis adalah menggunakan OASIN, memiliki kebiasaan mengkonsumsi minuman beralkohol, kebiasaan merokok, sering mengalami stres, serta memiliki pola makan yang tidak teratur serta dan terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang pedas dan asam Zilmawati (2007, dalam Angkow, Robot & Onibala,20014, hal 1).
Pemerintah telah mengupayakan pengendalian faktor risiko PTM, berupa promosi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat melalui perilaku CERDIK, yaitu Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat seimbang, Istirahat yang cukup, dan Kelola stres. Cek kesehatan secara berkala yaitu pemeriksaan faktor risiko PTM dapat dilakukan melalui Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) PTM (Kemenkes RI,2016).
berdasarkan Hasil study pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di Universitas’Aisyiyah Yogyakarta sebanyak 15 orang (37,5%) menderita gastritis dari 40 orang (39,06%) dari jumlah keseluruhan mahasiswa.
kekambuhan gastritis tersebut berhubungan dengan minum OAINS untuk mengurangi rasa sakit.
Sehingga berdasarkan fenomena pada latar belakang, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor yang berhubungan dengan kekambuhan gastritis pada pasien gastritis di Universita’Aisyiyah Yogyakarta.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan maka peneliti dapat merumuskan ”Faktor yang mempengaruhi kekambuhan gastritis di Universitas’Asyiyah yogyakarta”.
C. Tujuan penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kekambuhan gastritis.
2. Tujuan Khusus
1. Mengetahui gambaran pola makan dengan kekambuhan gastritis pada mahasiswa Universitas’Aisyiyah Yogyakarta.
2. Mengetahui gambaran stress dengan kekambuhan gastritis pada mahasiswa Universitas’Aisyiyah Yogyakarta.
3. Mengetahui gambaran kebiasaan merokok dengan kekambuhan gastritis pada mahasiswa Universitas’Aisyiyah Yogyakarta.
D. Manfaat penelitian
a. Ilmu penegtahuan
Bagi ilmu pengetahuan ini dapat sebagai menambah informasi tentang pengaruh pendidikan kesehatan mahasiswa agar dapat mencegah kekambuhan.
b. Institusi
Untuk akademik penelitian ini dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan mahasiswa keperawatan mengenai penyakit gastritis dan bagaimana cara pencegahan gastritis.
c. Profesi Keperawatan
Memberi masukan pada pengembangan pembelajaran khusunya keperawatan medikal bedah dalam memberikan pendidikan kesehatan pada remaja khusunya yang memiliki penyakit gastritis.
d. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat memberikan data awal dalam mengadakan penelitian yang terkait dengan faktor yang mempengaruhi kekambuhan gastritis pada mahasiswa.
e. Bagi responden
E. Ruang Lingkup Penelitian
a. Ruang lingkup materi
Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ilmu keperawatan medikal bedah dan epidomologi penyakit tidak menular.
b. Rung lingkup respondent
Respondent penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Keperawatan di Universitas’Aisyiyah.
c. Ruang lingkup tempat
Tempat yang digunakan sebagai tempat penelitian adalah di Universitas’Aisyiyah
d. Ruang lingkup waktu
F. Keaslian penelitian
Tahun Judul Hasil Desain Penelitian saya
1 2 3 4 5 6 7
1 Rika 2016 Hubungan
Antara
sectional Kesamaan dengan penelitian ini adalah variabel
Maulidiyah 2006 Hubungan antara Stress Dan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjaun Teoritis
1. Gastritis
a. Pengertian Gastritis
gastritis merupakan peradangan atau perdarahan yang mengenai mukosa lambung, yang mengakibatkan pembengkakan mukosa lambungsampai terlepasnya epitel mukosa superficial yang menjadi salah satu penyebab gangguan saluarn sistem pencernaan Sukarmin, (2012, dalam Rika 2016). Adapun faktor penyebanya antara lain faktor iritasi, infeksi dan ketidak teraturan dalam pola makan misalnya makan terlalu banyak, cepat, telat makan. Makanan yang terlalu banyak bumbu dan pedas dapat juga menyebabkan terjadinya gastritis[CITATION Pra13 \l 1057 ]
b. Tipe-tipe gastritis
Gastritis menurut jenisnya terbagi menjadi 2, yaitu, 1) Gastritis akut
Yang disebabkan oleh mencerna asam atau alkali kuat yang dapat menyebabkan mukosa menjadi gangren atau perforasi. Gastritis akut dibagi menjadi dua garis besar yaitu :
inflamasi terutama aspirin (aspirin yang dosis rendah sudah dapat menyebabkan erosi mukosa lambung).[ CITATION Bru07 \l 1057 ]
b) Gastritis Endogen akut adalah gastritis yang disebabkan oleh kelainan badan.
2) Gastritis kronik
Inflamasi yang terjadi pada lambung yang lama dapat disebabkan oleh ulkus benigna atau maligna dari lambung, atau oleh bakteri Helicobacter pylory (H. Pylory). Gastritis kronik dikelompokkan lagi dalam 2 tipe yaitu tipe A dan tipe B. Dikatakan gastritis kronik tipe A jika mampu menghasilkan imun sendiri. Tipe ini dikaitkan dengan atropi dari kelenjar lambung dan penurunan mukosa. Penurunan pada sekresi gastrik mempengaruhi produksi antibodi. Anemia pernisiosa berkembang pada proses ini. Gastritis kronik tipe B lebih lazim. Tipe ini dikaitkan dengan infeksi helicobacter pylori yang menimbulkan ulkus pada dinding lambung [ CITATION Rik16 \l 1057 ]
c. Etiologi
penyakit, iritasi bahan seperti alkohol, aspirin, NSAID, serta bahan korosif refluks empedu atau cairan pankreas. Sedangkan gastritis kronik banyak disebabkan ooleh ulkus benigna atau malgina atau bakteri hellocobactery pylory[ CITATION Nur15 \t \l 1057 ]
d. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis dari penyakit ini cukup bervariasi. Pada sebagian pasien, gangguan ini tidak menimbulkan gejala yang khas[CITATION Placeholder1 \t \l 1057 ], manifestasi gastritis akut dan kronis hampir sama. Berikut penjelasannya :
1) Gastritis akut : nyeri epigastrium, mual muntah,dan perdarahan terselebung maunpun nyata. Denganendoskopi terlihat mulkosa lambung hyperemia dan udem, mungkin juga ditemukan erosi perdarahan aktif.
2) Gastritis kronik : kebanyakan gastritis atrofik, seperti tukak lambung, defisiensi zat besi, anemia pernisilosa dan karsioma lambung.
2. Konsumsi Kopi
3. Konsumsi alkohol
Konsumsi akohol dalam jumlah sedikit akan merangsang produksi asam lambung berlebih, nafsu makan berkurang, dan mual. Hal tersebut merupakan gejala dari penyakit gastritis. Sedangkan dalam jumlah yang banyak, alkohol dapat merusak mukosa lambung.
4. Pola Makan
Pola makan adalah suatu cara atau usaha dalam mengatur jumlah dan jenis makanan, yang penting bagi tubuh berupa asupan nutrsi karbohidrat, lemak, protein dan senyawa-senyawa gizi penting lainnya dan harus didukung pengaturan pola makan [ CITATION Wah12 \l 1057 ].
a. Frekuensi makanan
frekuensi makan merupakan jumlah makan dalam sehari yang meliputi makanan lengkap (full meat) dan makanan selingan (snack). Bila frekuensi makan sehari-hari semakin kecil, tidak memenuhi makanan lengkap dan makanan selingan maka akan rentan untuk terkena penyakit maag. Disebabkan bila perut dibiarkan kosong selama ≥ 3 jam, sehingga asam lambung pun semakin banyak diproduksi oleh lambung [ CITATION Rah13 \l 1057 ]
b. Jenis makanan
malam, yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayur, buah dan minuman. Yang berfungsi sebagai sumber energi (kalori) dalam tubuh dan memberi rasa kenyang [ CITATION Hut151 \l 1057 ].
c. Porsi makanan
Jumlah atau porsi merupakan suatu ukuran maupun takaran makanan yang dikonsumsi pada tiap kali makan.
5. Faktor Psikis (Stres)
Stres dapat disebabkan oleh kelelahan badan yang diakibatkan oleh kecemasan, tekanan-tekanan yang dialami dalam menjalani kehidupan (Scala, 2003).
6. Merokok
Merokok merupkan salah satu kebiasaan menghisap rokok yang dilakukan dalam kehidupan sehari hari merupakan suatu kebutuhan yang tidak bisa dielakan lagi yang mengalami kencenderungan terhadap rokok. Ketika seorang merokok dapat menghabat sekresi pankreas, dan nikotin akan mengerut,dapat melukai pembuluh darah pada dinding lambung [ CITATION Ira05 \l 1057 ]
7. Obat Yang Mengiritasi Lambung
sedangkan efek sistemik yaitu melalui penghambatan COX-1 sehingga produksi PG terhambat [ CITATION Amr16 \l 1057 ].
B. Tinjauan Islam
Beberapa surat Al-Qur’an yang membahas tentang sistem pencernaan yaitu di dalam QS abasa 23-32 :
Artinya : Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” ( Qs Abasa : 24-32 )
Allah subhanahu wala dalam ayat di atas memerintahkan setiap manusia untuk melihat apa yang dia makan, apa yang masuk ke dalam perutnya. Perintah tersebut mengandung beberapa hikmah diantaranya :
menciptakan makanan untuk manusia… yaitu makanan yang merupakan kebutuhan pokok hidupnya, bagaimana Allah menyediakan baginya sarana kehidupan, hal ini agar dia mempersiapkan diri untuk kehidupan di akherat “. 2. ketika memerintahkan setiap manusia untuk melihat apa yang dimakan, Allah
subhanahu wa ta’ala menyebutkan beberapa nama makanan yang sebenarnya sangat bagus untuk kelangsungan kehidupan manusia itu sendiri, seperti biji-bijian, anggur, sayur-sayuran, zaitun, atau kurma, kebun-kebun yang lebat, dan buah-buahan.
3. Perintah untuk memperhatikan makanan, adalah perintah untuk berhati-hati memilih makanan, agar kita tidak sembarang mengkomsumsi makanan yang membahayakan kesehatan kita. Diantara makanan-makanan yang bisa memicu terjadi penyakit maag adalah makan-makanan yang mengandung lemak, seperti coklat, gorengan, minuman bersoda, minuman yang beralkohol, produk olahan susu yang tinggi lemak, daging tinggi lemak, kafein yang terdapat dalam kopi. Begitu juga makanan terlalu pedas dan lain-lainnya. Orang yang sembarangan makan tanpa melihat dan meneliti makanan tersebut, berarti tidak mengamalkan ayat di atas, oleh karenanya dia sangat rentan terkena penyakit maag.
terlambat makan atau makan tergesa-gesa dan terlalu cepat, juga memicu penyakit maag.
5. Perintah untuk melihat makanan, juga perintah agar makanan yang kita makan tidak berlebihan.
6. Tekanan batin dan kecemasan serta kesedihan akan menyebabkan kadar asam lambung meningkat tajam dan ini berujung pada maag dan perih pada lambung. Begitu juga, ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan, serta perasaan negatif - khususnya saat makan - akan merangsang sistem syaraf simpatik yang mengakibatkan berkurangnya enzim-enzim pankreas, sehingga menciptakan kesulitan di dalam pencernaan makanan.
7. Stress juga bisa memicu seseorang untuk mengkonsumsi obat penenang atau merokok atau minuman-minuman beralkohol, itu semua akan menyebabkan tukak lambung terganggu
Berdasarkan landasan teori di atas, maka kerangka teori yang diperoleh adalah sebagai berikut:
Keterangan:
: Variable diteliti : Variable tidak diteliti : Dapat mempengaruhi : tidak diteliti
Gambar 2.1 Kerangka teori
Sumber : Hutafea,Damayanti (2015), Murjayanah,Hanik (2011)
D. Hipotesis Penelitian Faktor psikis
(Stres)
Makanan
Kebiasaan makan tidak teratur
Jenis makanan atau minuman yang merangsang peningkatan asam lambung
Obat yang mengiritasi lambung OAINS (aspirin)
Kortikosteroid (cortisone, prednisone)
Merokok
Meningkatkan produksi asam
lambung gastritis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah :
1.
Terdapat hubungan pola makan dengan kekambuhan gastritis padaMahasiswa Universitas’Aisyiyah yogyakarta
2. Tidak terdapat hubungan merokok dengan kekambuhan gastritis pada pada Mahasiswa Universitas’Aisyiyah yogyakarta
3. Terdapat hubungan stres dengan kekambuhan gastritis pada Mahasiswa Universitas’Aisyiyah yogyakarta
Jenis penelitian ini menggunakan Kuantitatif kolerasi dengan tujuan untuk melihat faktor yang berhubungan dengan terjadinya kekambuhan gastritis pada mahasiswa keperawatan. Dan penelitian ini menggunakan desain cross sectional dimana peneliti melakukan pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point timeapproach) [ CITATION Soe12 \l 1057 ]
B. Variable Penelitian
Variablel dalam penelitian ini dikatagorikan menjadi dua yaitu [ CITATION Sug13 \l 1057 ].
a. Variabel terikat (Dependen)
Variabel terikat merupakan variable yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. variabel terikat dalam penelitian yaitu, Kekambuhan Gastritis
b. Variabel bebas (Independen)
c. Hubungan Antar Variablel
Gambar 3.1 Hubungan Antar Variablel
Variabel Terikat Variabel Bebas
1. Pola Makan
2. Faktor psikis (stress) 3. Merokok
4. OAINS
Kekambuhan Gastritis
Variabel Penggangu 1. Konsumsi Alkohol 2. Konsumsi kopi
C. Definisi Operasional
Definisi Operasional dalam penelitian ini yang merupakan penjelasan dari variabel dependen dan independen adalah
Tabel 3.1 Definisi Operasional
NO Nama Variabel Definisi Alat Ukur Indikator Skala 1 Kekambuhan
Wawancara Kambuh dan tidak kambuh
Nominal
2 Pola makan Kebiasaan seseorang dalam
3 Faktor stress Suatu kondisi yang dialami responden
4 Merokok Perilaku seseorang dalam menghisap
D. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi merupakan keseluruhan subjek penelitian [ CITATION Ari09 \l 1057 ] Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa jurusan keperawatan UNISA Yogyakarta yang masih aktif mengikuti perkuliahan.
Tabel 3.2 Populasi
Kelas A Kelas B Kelas C Kelas D Jumlah
Semester I 71 Mhs 73 Mhs 76 Mhs 62 Mhs 282 Mhs
Semester III 72 Mhs 72 Mhs 76 Mhs 39 Mhs 260 Mhs
Semester V 86 Mhs 85 Mhs 76 Mhs 242 Mhs
Semester VII 55 Mhs 55 Mhs 48 Mhs 158 Mhs
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih dengan cara tertentu sehingga dianggap mewakili populasi [ CITATION ast10 \l 1057 ] Besar sampel adalah banyaknya anggota yang dijadikan sampel.Teknik pengambilan sampel digunakan secara Quota sampling.
Tabel 3.3 Sample
Tingkat Sample
Semester I 112 mahasiswa
Semester III 104 mahasiswa Semester V 99 mahasiswa
Semester VII 3 mahasiswa
a. Kriteria inklusi
1) Mahasiswa jurusan keperawatan Annvullen Universitas’Aisyiyah dan mahasiswa yang bersedia menjadi respoden
b. Kriteria esklusi
2) Mahasiswa yang tidak berada dilokasi pada saat penelitian/ sakit. 3) Mahasiswa yang tidak siap berpartisipasi dalam penelitan ini.
E. Etika Penelitian
Masalah etika penelitian keperawatan merupakan masalah yang sangat penting dalam penelitian, mengingat penelitian keperawatan berhubungan langsung dengan manusia, maka segi etika penelitian harus diperhatikan [ CITATION Placeholder3 \l 1057 ], Masalah etika yang harus diperhatikan antara lain adalah sebagai berikut :
1. Lembar persetujuan (informed Consent)
Merupakan bentuk persetujuan responden kepada peneliti untuk mengikuti/ berperan dalam penelitian. Setiap responden diberi kebebasan dalam menentukan sikap dalam penelitian. Setiap responden diberi kebebasan dalam menetukan sikap setuju/ tidak setuju menjadi responden setelah dijelaskan tentang maksud dan tujuan penelitian.
2. Anomality (tanpa nama)
Masalah etika keperawatan merupakan masalah yang memberikan jaminan dalam penggunaan subjek penelitian dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan
3. Confidentially (kerahasiaan)
lainnya. Informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiannya oleh peneliti.
F. Alat dan Metode Pengumpulan Data
Alat pengumpul data instrument dalam penelitian ini menggunakan kuesioner dalam bentuk pernyataan-pernyataan yang berkaitan dengan data karateristik demografi kekambuhan gastritis, pola makan,faktor psikis (stress), merokok, menggunakan obat OASIN
1. Data Demografi
Identitas meliputi nama/inisial, usia, jenis kelamin, pendidikan terakhir, pekerjaan, dan status pernikahan serta diagnosa medis.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kekambuhan gastritis a) Pola Makan
Untuk mengetahui hubungan pola makan terhadap kekambuhan gastritis pada mahasiswa keperawatan, peneliti menggunakan kuisioner yang terdiri dari 10 pertanyaan positif. Kuesioner ini menggunakan skala Likert dengan 4 pilihan jawaban dengan skor tertinggi untuk tiap pertanyaan adalah 4 dan skor terendah adalah 1. Maka nilai tertinggi yang akan didapat adalah 40 dan nilai terendah adalah 10.
Rumus :
panjangkelas=skor tertinggi−skor terendah banyak kelas
p=40−10
p=15
Dikatakan makan teratur apabila jumlah skor 10-25 dan tidak teratur apabila jumlah skor 26-40.
b) Faktor psikis (stress)
Untuk mengetahui hubungan faktor psikis (stress) terhadap kekambuhan gastritis pada mahasiswa keperawatan, peneliti menggunakan kuisioner yang terdiri dari 10 pertanyaan positif. Kuesioner ini menggunakan skala Likert dengan 4 pilihan jawaban dengan skor tertinggi untuk tiap pertanyaan adalah 4 dan skor terendah adalah 1. Maka nilai tertinggi yang akan didapat adalah 40 dan nilai terendah adalah 10.
Rumus :
panjangkelas=skor tertinggi−skor terendah banyak kelas
p=33−11
2
p=11
Dikatakan makan teratur apabila jumlah skor 11-22 dan tidak teratur apabila jumlah skor 23-33.
Tabel 3.4 Kisi kisi kuesioner faktor kekambuhan gastritis
Jenis
pertanyaan PertanyaanFavorabel UnfavorabelPertanyaan Jumlah
Pola makan 1,5,7,11,20,18,14,16,17,21 - 10
Faktor psikis
(stress)
2,3,4,6,8,9,10,13,,19 12,15 11
1. Metode Pengolahan Data
Data yang di peroleh dari kuesioner di olah secara komputerisasi untuk memudahkan pengelolahan data maka di lakukan tahap melalui :
a. Editing( Pengumpulan data )
Merupakan kegiatan untuk melakukan pengecekan, isian check list, apakah jawaban yang ada sudah lengkap, jelas, relevan dan konsisten. b. Coding ( Pengkodean)
Merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi angka atau bilangan, kegunaannya adalah mempermudah pada saat analisis data dan juga mempercepat pada saat entry data. Adapun kode yang diberikan dari hasil pengumpulan data :
1) untuk umur responden ≤30 tahun diberi kode 1, 31-40 tahun diberi kode 2, 41-50 tahun diberi kode 3, > 50 tahun diberi kode 4.
2) Untuk jenis kelamin laki-laki kode 1 dan perempuan kode 2. 3) Pada faktor pola makan teratur diberi kode 1 dan tidak teratur diberi
kode 2.
4) Pada faktor psikis (stress) diberi kode memiliki stress dan tidak memiliki stress diberi kode 2.
5) Pada merokok, yang tidak merokok diberi kode 1 dan merokok diberi kode 2.
6) Pada penggunaan OAINS yang tidak menggunakan diberi kode 1 dan yang menggunakan diberi kode 2.
Setelah dilakukan isian chek list terisi penuh dan benar dan juga sudah melewati pengkodean maka langkah selanjutnya adalah memproses data agar dapat dianalisis, proses data dilakukan dengan cara enty (memasukkan) data dari master table ke dalam tabulasi.
d. Clening data ( Pembersihan Data )
Merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah dimasukkan, apabila ada kesalahan atau tidak ( Notoatmodjo, 2010)
2. Analisa data
a. Analisa univariat
Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karateristik setiap variabel penelitian. Bentuk analisis univariat tergantung dari jenis datanya. Untuk data numerik digunakan nilai mean (rata-rata), median dan standar deviasi. Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan presentase dari tiap variabel. Data hasil penelitian dideskripsikan dalam bentuk tabel, grafik, maupun narasi, untuk mengevaluasi besarnya proporsi dari masing masing variabel bebas yang diteliti (Notoadmojo, 2010).
b. Analisis bivariat
1 variabel bebas dan 1 variabel terikat serta skala nominal maka untuk menghitung tingkat keeratan hubungan menggunakan uji statistic chi-square (α 0,05). Pada tabulasi silang akan dicari nilai OR (odds ratio) untuk mengetahui peluang terjadinya suatu kejadian dibandingkan peluang tidak terjadinya kejadian tersebut. Interpretasi nilai OR yaitu jika OR=1 artinya faktor risiko bersifat netral atau tidak memiliki peluang terhadap terjadinya kekambuhan gastritis. Jika nilai OR<1 artinya faktor resiko bersifat positif atau memiliki peluang terhadap terhadap terjadinya kekambuhan gastritis [ CITATION Dha11 \l 1057 ]
H. Jalanya Penelitian
Adapun tahap kegiatan penelitian dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Tahap persiapan
a. Konsultasi dengan pembimbing
b. Studi pustaka untuk menetukan acuan penelitian c. Menyusun proposal penelitian
d. Presentasi proposal 2. Tahap pelaksaan
a. Mengurus surat ijin penelitian
b. Mengambil sampel dengan kriteria yang ditentunkan
menjadi responden penelitian. Apabila bersedia langsung diberikan kuesioner
d. Menjelaskan cara pengisiannya
e. Mengambil kembali kuisioner jika responden telah selesai. f. Mengecek kembali pengisian responden jika ada yang belum di
isi dan setelah itu mengumpulkannya kepada peneliti.
g. Setelah mendapatkan data, peneliti memilih dan memeriksa kembali data yang telah diperoleh. Melakukan rekap data, semua data digabung menjadi satu. Kemudian data tersebut dilakukan analisa data statistik menggunakan program software komputer
3. Tahap penyusunan
a. Penyusunan laporan hasil penelitian b. Konsultasi
c. Seminar hasil penelitian d. Perbaikan
e. Pengumpulan hasil penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Al Qur'an Dan Penyakit Maag - Ahmadzain.com.
https://www.ahmadzain.com/read/karya-tulis/311/al-quran-dan-penyakit-maag/ Diakses 11 desember 2017
Amrulloh, F., & Utami, N. (2016). Hubungan Konsumsi OAINS Terhadap Gastritis.
Arif, M., & dkk. (2001). Kapita Selekta Kedokteran . jakarta: Media Aesculapiur. Arikunto, S. (2009). Prosedur Penelitian: Suatu pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta.
Bruner, & Sudart. (2007). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC. Damayanti. (2016). Faktor Yang Berhubungan Dengan Kekambuhan Gastritis
Pada Pasien Gastritis Di Rsud Dr. Pirngadi Kota Medan.
Dharma, K. (2011). Metodologi Penelitian Keperawatan Panduan Melkasnakan dan Menerapkan Penelitian. Jakarta Timur: CV.Trans Info Media.
Gustin, K. R. (2011). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Gastritis Pada Pasien Berobat Jalan Di Puskesmas Gulai Bancah Bukit Tinggi. Artikel Penlitian , 1
Hidayat, A. (2008). Pengantar Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Salemba Medika. Hutafea, D. (2015). Faktor Yng Berhubungan Dengan Kekambuhan Gastritis Pada
Pasien Gastritis Di RSUD DR. PirngadI Kota Medan.
Irawan, A. (2005). Faktor Resiko Terhadap Kejadian Dispepsia Di Instalasi Rawat Inap RSUD Cideres Kabupaten Majalengka .
Khusna, L. (2016).Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Upaya Pencegahan Kekambuhan Gastritis Di Wilayah Kerja Puskesmas Gatak Sukoharjo.34. misnadiarly. (2009). Mengenal Organ Cerna: Gastritis (penyakit maag). jakarta:
yayasan pustaka obor indonesia.
Misnadiarly. (2009). Mengenal Penyakit Organ Cerna:Gastritis (Dyspepsia atau maag), Infeksi Mycobacteria pada Ulcer Gastrointestinal. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Murjayanah, H. (2011). Faktor-Faktor Risiko Yang Berhubungan Dengan Kejadian Gastritis. Semarang.
Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Nuratif, K. (2015). Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Keperawatan dari Nanda Nic-Noc. Jogjakarta: Mediation jogja.
Pratiwi, W. (2013). Hubungan Pola Makan Dengan Gastritis Pada Remaja Di Pondok Pesantren Daar El-Qolam Gintung, Jayanti, Tangerang.
Rahma, Ansar, & Rismayanti. (2013). Risk Factors For Gastritis In Kompili Clinic Gowa District.
Rika. (2016). HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN PERILAKU PENCEGAHAN. WHO , 3.
Rika. (2016). Hubungan Antara Pengetahuan Dan Perilaku Pencegahan Gastritis Pada Mahasiswa Jurusan Keperawatan.
Selviana, B. (2015). Effect Of Coffee And Stress With The Incidence Of Gastritis. J Majority .
Sudoyo, A. w., & dkk. (2006). Buku Ajar Ilmu penyakit Dalam (Vol. edisi IV). Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatatif Dan R& D. Bandung: Alfabeta.
suryono, S. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid Tiga. jakarta: Balai Penerbit FKUI.