• Tidak ada hasil yang ditemukan

cara pembayaran perdagangan internasiona

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "cara pembayaran perdagangan internasiona"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

CARA PEMBAYARAN EKSPOR-IMPOR

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kepabeanan Ekspor Impor

Disusun oleh : Rinaldy Achmad

Naufan Faris Hidayat 125030300111021

Kemal Andita 125030307

Rirqi Sanny Abri Wiratama

PRODI BISNIS INTERNATIONAL

JURUSAN ADMINISTRASI BISNIS

FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

(2)

BAB I PENDAHULUAN

LATARA BELAKANG

Pada dewasa ini, perkembangan perdagangan internasional semakin kita rasakah. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya dan mudahnya kita menemukan barang yang berasal dari luar negri yang berada di sekitar kita. Contohnya, TV yang diproduksi di Jepang bisa kita dapatkan dengan mudah, maupun baju yang berasal dari Amerika bisa kita beli dengan mudah.

Kemudahan ini dikarenakan efek globalisasi. Batas-batas negara seakan-akan tidak ada lagi. Dengan begitu, negara-negara dengan mudah menyebarluaskan produknya. Hal ini juga didukung oleh pesatnya perkembangan teknologi. Teknologi membuat semuanya lebih mudah, seperti mencari informasi.

Pelaku perdagangan internasional juga semakin beragam. Kini, dengan kemajuan teknologi, semua memiliki kapasitas untuk melakukan proses perdagangan yang melintasi batas-batas negara.

Semakin berkembangnya perdagangan internasional, menuntut kita untuk mengetahui lebih dalam mengenai hal ini. Ini ditujukan agar daya saing kita tidak kalah oleh negara lain. Dan hal yang penting mengenai perdagangan internasional adalah metode pembayarannya. Dalam perdagangan internasional terdapat berbagai metode pembayaran seperti tunai, konsiyasi, wesel, open account, ataupun L/C. Setiap metode pembayaran memiliki karakteristik dan kelebihan sendiri-sendiri.

RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang penulisan masalah ini, poin-oin yang bisa ambil untuk menjadi pokok bahasan adalah :

(3)

2. Bagaimana metode pembayaran dengan Tunai ?

3. Bagaimana metode pembayaran dengan Konsinyasi ?

4. Bagaimana metode pembayaran dengan Open Account ?

5. Bagaimana metode pembayaran dengan Wesel Inkaso ?

TUJUAN PEMBAHASAN

Berdasarkan butir-butir masalah yang menjadi pokok bahasan pada makalah ini, adapun tujuan dari pembahasan materi ini adalah untuk :

1. Mengetahui bagaimana metode pembayaran dengan Letter of Credit

2. Mengetahui bagaimana metode pembayaran dengan Tunai

3. Mengetahui bagaimana metode pembayaran dengan Konsinyasi

4. Mengetahui bagaimana metode pembayaran dengan Open Account

(4)

BAB II ISI

MACAM PEMBAYARAN INTERNASIONAL 1. LETTER of CREDIT

Banyak istilah yang dipakai untuk menyebutkan Letter of Credit dalam perdagangan internasional. Hal tersebut bergantung kepada kebijaksanaan dan kebiasaaan suatu negara atau bank dalam penggunaan pemilihan bahasa. Nama-nama tersebut antara lain :

a. L/C, karena L/C berwujud Letter atau surat

b. Comercial Letter of Credit, karena dapat diperdagangkan atau dijual belikan

c. Documentary Credit, karena pencairan L/C didasarkan pada dokumen-dokumen dan bukan atas dasar barang.

d. Credit, karena sifat L/C berupa kredit.

Definisi Letter of Credit

Letter of Credit adalah sebuah alat bayar perdagangan internasional yang dibuat untuk melindungi kepentingan eksportir maupun importir. Harapannya, dengan adanya L/C, kedua belah pihak yang melakukan perdagangan akan merasa aman. Berikut definisi L/C dari beberapa ahli :

a. Menurut Amir (2001)

Letter of Credit itu adalah suatu surat yang dikeluarkan oleh bank devisa atas permintaan importir nasabah bank devisa bersangkutan dan ditujukan kepada eksportir diluar negri yang menjadi relasi dari importir tersebut. Isi surat itu menyatakan bahwa eksportir penerima L/C diberi hak oleh importir untuk menarik wesel (surat perintah untuk melunasi hutang) atas importir yang bersangkutan untuk sejumlah yang disebut dalam surat itu.”

(5)

“Letter of Credit adalah janji membayar dari bank penerbit kepada penerima yang membayarnya hanya dapat dilakukan oleh bank penerbit jika penerima menyerahkan kepada bank penerbit dokumen-dokumen yang sesuai dengan persyaratan L/C.”

c. Menurut Adisasmita (2007)

Letter of Credit adalah setiap perjanjian apapun nama dan bentuknya yang tidak dapat dibatalkan pihak dan merupakan jaminan dari issuing bank untuk membayar atas penyerahan dokumen yang sisyaratkan dalam L/C.”

Letter of Credit adalah setiap perjanjian, yang dibuat suatu bank (Issuing Bank) untuk memenuhi permintaan dan instruksi seorang nasabah (Applicant) atau bertindak atas namanya sendiri.

i. Melakukan pembayaran kepada pihak ketiga (Beneficiary) atau orang yang ditunjuk oleh pihak ketiga atau meng-accept atau membayar wesel-wesel yang ditarik oleh Beneficiary, atau

ii. Memberi kuasa bank lain untuk meng-accept dan membayar wesel-wesel tersebut, atau

iii.Memberi kuasa bank lain untuk menegosiasi, pembayaran dokumen-dokumen ditetapkan, asalkan persyaratan dan kondisi dari kredit yang bersangkutan telah dipenuhi.

Dari definisi-definisi L/C diatas dapat diketahui bahwa L/C dapat menjamin lancarnya pembayaran yang dilakukan importir kepada eksportir dan memberikan keyakinan kepada pihak eksportir bahwa pihak importir akan melunasi pembayaran terhadap barang yang telah diekspornya. Adanya syarat dan perjanjian yang tercantum dalam L/C menjadikan L/C sebagai surat jaminan dalam pembayaran perdagangan internasional.

(6)

L/C umumnya melindungi kepentingan eksportir dan akibatnya, eksportir mendesak importir agar menerbitkan L/C untuk kepentingannya sebelum mengapalkan barang. L/C dapat dikeluarkan oleh importir sendiri (merchant’s L/C), tetapi besar resikonya, maka dikehendaki L/C dikeluarkan bank ( banker’s L/C ).

Berdasarkan L/C, maka bank yang terlibat setuju mengadakan pembayaran atas dokumen-dokumen yang diserahkan, bila menurut pengamatannya telah memenuhi persyaratan L/C. Bank sama sekali tidak terikat dan tidak punya kepentingan atas kontrak-kontrak barang yang dikapalkan. Bila barang yang dikaplkan tersebut ternyata salah atau rendah mutunya, tetapi dokumen yang bersangkutan memenuhi syarat, maka importir lah yang bertanggung jawab atas pembayarannya, kendatipun dokumen-dokumen tersebut telah dipalsukan.

Tujuan penggunaan L/C adalah untuk memberikan jaminan pembayaran kepada eksportir atas barang yang dijualnya, sedangkan bagi importir memberikan jaminan bahwa banknya (Issuing Bank) tidak akan melakukan pembayaran, sebelum persyaratan yang ditentukan dalam L/C telah dipenuhi. Dengan demikian fungsi dari penggunaan L/C adalag sebagai berikut :

1. Merupakan suatu perjanjian yang dibuat oleh bank untuk menyelesaikan transaksi perdagangan internasional.

2. Memberikan pengamanan bagi pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi yang diadakannya.

3. Menjamin pembayaran, asalkan persyaratan L/C telah dipenuhi.

4. Merupakan instrumen pembayaran yang didasarkan atas dokumen-dokumen dan bukan atas barang dagangan atau jasa.

5. Membantu Issuing Bank memberikan fasilitas pembayaran kepada importir dan memonitor penggunaannya.

Pihak-pihak yang terlibat dalam L/C

Dalam pembuatan atau pembukaan Letter of Credit (L/C) terdapat pihak-pihak yang terkait didalamnya yaitu :

a. Importir

(7)

melaksanakan pembayarannya kepada pihak bank devisa atas nama eksportir dengan memenuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku untuk impor, seperti surat izin impor dan sebagainya.

b. Ekportir

Pihak ini mengadakan transaksi ekspor dan merupakan pihak yang menerima L/C. Pihak eksportir juga merupakan pihak yang bertanggung jawab atas keabsahan barang yang akan diekspor dengan bertanggung jawab untuk memenuhi syarat dan ketentuan ekspor.

c. Bank Pembuka L/C

Bank pembuka L/C ini dikenal dengan opening bank atau issuing bank. Bank ini melakukan pembukuan kredit setelah adanya permohonan pengajuan pembukaan L/C dari pemohon kredit yaitu importir.

d. Bank Penerus L/C

Bank penerus L/C ini sering disebut dengan advising bank atau negotiating bank. Bank penerus merupakan bank yang akan meneruskan hasil pembukuan L/C kepada kantor cabang atau salah satu koresponden Banknya di negara eksportir. yang diterbitkan atas L/C yang bersangkutan.

g. Remminting Bank

Adalah pihak Bank yang meneruskan dokumen-dokumen dari eksportir kepada opening bank. Pihak remmiting bank dapat dilakukan oleh advising bank atau paying bank.

h. Reimbursing Bank

Adalah bank yang melakukan penggantian atas pembayaran (reimbursement) terhadapa bank yang melakukan pembayaran atau membayar, meng-accept atau menegosiasi wesel atas L/C.

(8)

Adalah suatu badan peneliti yang bergerak dibidang penelitian mutu/kualitas, jenis, jumlah, harga barang dan sebagainya atas permintaan pihak yang berkepentingan.

j. Maskapai pelayaran dan Maskapai Penerbangan

Adalah perusahaan yang memberikan jasa pengangkutan dengan menerima uang jasa angkut. Perusahaan ini menerima barang dari eksportir dan mengangkutnya ketempat importir. Perusahaan ini juga dapat menerbitkan tanda bukri muat barang berupa Bill of Lading bagi maskapai pelayaran dan Air Bill bagi maskapai penerbangan.

k. Perusahaan Asuransi

Adalah perusahaan yang memberikan perlindungan atas resiko barang yang akan diangkut.

l. Bea Cukai Pabean

Adalah instansi resmi dari suatu negara yang memberikan izin untuk pemuatan barang ke kapal dalam kegiatan ekspor dan memberikan izin untuk mengeluarkan barang dari pelabuhan untuk dimasukkan kedaerah bebas pabean dalam negri pada kegiatan impor.

m. Departemen Perdagangan

Instansi pemerintah yang bertugas mengatur tata niaga perdagangan, antara lain memberikan perijinan, menetapkan pembatasan barang-barang yang akan diekspor maupun diimpor dan mengeluarkan ketentuan-ketentuannya.

Dokumen yang diperlukan dalam L/C

Seperti yang dijelaskan diatas, Letter of Credit adalah metode pembayaran dalam perdagangan internasional yang didasarkan pada dokumen-dokumen. Dokumen-dokumen yang dimaksudkan antara lain :

a. Letter of Credit

Adalah suatu pernyataan tertulis dari Bank atas permintaan importir (sebagai nasabahnya) untuk menyediakan sejumlah uang tertentu bagi kepentingan pihak eksportir.

b. Bill of Leading (B/L) atau Konosemen

(9)

juga merupakan bukti dari adanya perjanjian pengankutan barang-barang melalui laut.

Dari pengertian diatas, maka dapat disimulkan bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam B/L terdiri dari :

1) Shipper, adalah perusahaan yang mengekspor dan mengirim barang. 2) Carrier, adalah perusahaan pengangkutan barang.

3) Consignee, adalah penerima barang atau yang ditunjuk

Fungsi dari Bill of Lading (B/L) :

1) Tanda bukti adanya suatu perjanjian antara shiper, carrier dan consigne. 2) Tanda bukti penerimaan barang (A receipt For Goods) yang berarti

barang telah diterima oleh carrier dari shipper untuk diangkut dan diserahkan serta diterimakan kepada consigne di pelabuhan tujuan. 3) Tanda bukti pemilikan barang (A document Of Tittle To The Goods) yang

berarti pemegang B/L adalah pemilik barang untuk sementara selama diangkut dan peusahaan angkutan bertindak sebagai wali/wakil pemegang B/L.

4) Tanda bukti pembayaran uang tambang (A Dock Receipt) yang berarti bahwa uang tambang telah dibayar baik dibayar dimuka pada saat pemuatan barang dipelabuhan atau dibayar dibelakang pada saat barang dibongkar dipelabuhan tujuan

c. Air Waybill atau surat muat udara

Yaitu tanda terima barang yang telah dimuat dalam pesawat, yang juga merupakan bukti dari kepemilikan barang (Document Of Tittle) dan juga merupakan bukti dari adanya perjanjian pengangkutan barang-barang melalui udara.

d. Comercial Invoice (Faktur Dagang)

Salah satu dokumen yang harus disertakan dalam L/C adalah faktur atau disebut comercial invoice. Faktur merupakan suatu nota yang dibuat oleh penjual atau eksportir mengenai barang-barang yang dijual kepada pembeli atau importir.

Faktur dagang berisi keterangan tentang : 1) Nama, alamat pembeli secara lengkap 2) Jenis, kualitas, merek dan kuantitas barang

(10)

4) Nama alat transportasi

5) Nama pelabuhan/bandara dan peralihan tujuan 6) Syarat jual beli

7) Harga satuan dan jumlah yang harus dibayar oleh pembeli sesuai dengan perjanjian jual beli

Faktur juga menjadi dasar didalam penarikan/penerbitan wesel dan sebagai dasar bagi jumlah penutupan asuransi, serta fakta menjadi suatu bukti tertulis adanya suatu transaksi bila terjadi perselisihan antara eksportir dengan importir.

e. Dokumen Asuransi

Adalah suatu perjanjian dimana seseorang penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima suatu premi, untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan yang memungkinkan akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tak tentu.

f. Packing List

Disebut juga daftar pengepakan/isi peti, artinya packing list berisikan perincian lengkap dai barang yang terdapat dalam setiap peti, sehingga dari setiap peti dengan mudah diketahui isinya satu persatu atau juga merupakan daftar yang menjelaskan bahwa barang yang akan dikirim telah terperinci.

g. Dokumen-dokumen Lain

Disamping terdapat dokumen utama terdapat pula dokumen-dokumen lain yang dianggap penting dalam kegiatan usaha pihak importir yang dapat dimasukkan dalam persyaratan yang harus dilengkapi oleh pihak eksportir. Dokumen-dokumen tersebut merupakan dokumen penunjang yang terdiri dari :

1) Certificate of Weight

Merupakan surat keterangan tentang keadaan berat barang yang berisi daftar rincian timbangan atau ukuran dari tiap-tiap peti pengepakan. Menerangkan tentang berat bersih barang dan berat kotor barang.

(11)

Merupakan surat keterangan yang menerangkan daftar ukuran, panjang, tebal garis tengah dari isi barang. Kegunaan dokumen ini bagi eksportir untuk menghitung ongkos angkut.

3) Certificate of Pay to Sanitory

Merupakan surat keterangan yang menerangkan bahwa barang yang akan dikirim bebas dari penyakit berbahaya.

4) Test Certificate

Merupakan surat pernyataan yang dibuat oleh laboraturium atau badan yang independen, berisikan tentang penjelasan bahwa barang telah diuji baik menyangkut tingkat kekuatan, kapasitas dan Sehingga sertifikat ini secara tidaj langsung memberikan jaminan atas kualitas barang tersebut kepada pihak pembeli.

Sistematis Pembukaan Letter of Credit

(12)

Jenis-Jenis L/C 1. L/C yang Umum 1) Irrevocable L/C

L/C yang tidak dapat dibatalkan dan dirubah secara sepihak, sehingga semua persyaratan tetap mengikat dan berlaku. Kecuali ada persetujuan perubahan dari ekportir yang disahkan oleh Bank masing masing. Dibagi menjadi :

a. Irrevocable Sight L/C

Suatu Irrevocable L/C yang mengandung persyaratan, bahwa pembayaran dapat dilaksanakan secepatnya, setelah wesel ekspor diajukan/diserahkan.

b. Irrevocable Usance L/C

Irrevocable L/C yang mengandung persyaratan “pembayaran berjangka”.

2) Irrevocable Confirmed L/C

L/C selain diadviskan/ diteruskan kepada ekportir juga “dikonfirmasi” dan advising bank dapat bertindak sebagai confirming Bank. Bila tidak, bank lain bisa dilibatkan confirming Bank, yakni Bank yang mengikatkan diri untuk menjamin dibayarnya L/C tersebut sesuai syarat-syarat L/C.

3) Irrevocable Unconfirmed L/C

L/C yang diadviskan melalui Bank lain yang tidak menyatakan tambahan penggunaan kewajiban apapun atas L/C tersebut. Kebanyakan L/C yang dibuka oleh Bank-Bank asing tanpa dikonfirmasi, karena Bank yang menerbitkan L/C tersebut telah cukup dikenal baik kreadibilitasnya.

2. Jenis-jenis L/C yang Khusus 1) Red Clause L/C

L/C yang memberkan fasilitas kepada eksportir untuk menarik sejumlah uang lebih dulu sebelum ekspor dilaksanakan, tanpa penyerahan jaminan dan hanya dilakukan dengan mentandatangani kwitansi serta letter of undertaking. Hasil negosiasi dokumen diutamakan untuk melunasi pinjaman (uang muka) red calused, bila ada sisanya dapat dibayarkan kepada yang berkepentingan.

2) Restricted L/C

L/C yang membatasi pengambi alihan (negosiasi) wesel dan dokumen hanya pada Bank yang tercantum dalam L/C tersebut.

(13)

L/C yang dapat diambil alih oleh Bank lain dan tidak terbatas pada Bank yang pihak ketiga, sehingga penggunaanya terbatas pada Beneficiary yang tercantum dalam L/C tersebut.

6) Revolving L/C

L/C yang dipakai untuk mengekspor berulang-ulang selama waktu yang ditentukan.

7) Back to Back L/C

L/C yang dapat dijadikan jaminan oleh ekportir untuk membuka seperangkat L/C kepada supplier untuk menggantikan barang yang dipesan atau diminta oleh pembeli/ Bank pembuka L/C.

8) Premiliminary L/C

Merupakan berita pendahuluan suatu L/C, sehingga belum merupakan L/C yang definitif atau surat berharga yang dapat dijadikan pegangan. L/C ini berbentuk teleks/ kawat yang belum merupakan “Operation Credit Instrument”

9) Merchat’s L/C

L/C yang dibuka oleh importir tanpa tanggung jawab bank atau lembaga keuangan bukan bank, sedangkan Bank hanya sebagai pengirim L/C saja.

10) Stanby L/C

L/C dimana Issuing Bank berjanji akan melaksanakan pembayaran, jika Bank Accountee tidak memenuhi janjinya

11) Straight L/C

L/C yand dapat mengilat opening bank, apabila dokumen-dokumen diajukan “secara langsung (straight)” kepadanya. L/C ini biasanya jatuh tempo di negara bank pembuka.

(14)

a. Penjual/eksportir dapat menggantungkan kepercayaan pada L/C yang dikeluarkan bank daripada L/C yang dikeluarkan oleh pedagang, karena ada jaminan pembayaran bank setelah penyerahan dokumen yang sesuai dengan syarat L/C. b. Penjual/eksportir menerima pembayaran secepatnya dari pihak pembayar, bila

semua dokumen sesuai dengan syarat L/C diserahkan kepada pihak Bank pembayar. Walaupun pembeli/pengimpor belum menerima dokumen-dokumen tersebut.

c. Penjual/eksportir dapat menggunakan L/C untuk pembiayaan selanjutnya, seperti back to back L/C dan sebagainya.

d. Pembeli/pengimpor diharuskan menyediakan dana atau presentase tertentu, sampai barang impor tersebut tiba untuk ditebus.

e. Pembeli/importir dapat menggunakan hak pemilikan atas dokumen-dokumen berdasarkan L/C, untuk memperoleh pembiayaan selanjutnya, yakni pinjaman pembiayaan kembali dan sebagainya.

f. Pembeli/pengimpor merasa terjamin, bahwa bank akan menolak pembayaran kepada penjual atau eksportir. Kecuali penjual/eksportir telah memenuhi persyaratan L/C yang telah diminta pembeli atau pengimpor kepada banknya, seperti yang tercantum dalam L/C.

2. Kelemahan, antara lain :

a. Timbul biaya bank dalam penanganan L/C

b. Butuh waktu untuk memproses surat-surat yang diperlukan melalui bank

c. Bank hanya berkepentingan terhadap dokumen saja dan tidak bertanggung jawab pada barang

d. Pembeli/importir tidak mendapat jaminan, bahwa barang-barang yang dipesan dengan harga tertentu adalah yang sebenarnya dikapalkan.

2. PEMBAYARAN TUNAI

Metode pembayaran secara tunai dapat dipandang sebagai kebalikan dari metode rekening terbuka. Dengan cara pembayaran tunai ini, pembayaran dilakukan bersama-sama dengan surat pesanan atau menunggu diterimanya kabar bahwa barang telah dikapalkan oleh eksportir. Cara pembayaran seperti ini mempunyai beberapa kelemahan, antara lain :

(a) Untuk pembelian barang tersebut, importir harus menyediakan dana, walaupun barang yang dibelinya belum diterimanya.

(15)

resiko keterlambatan datangnya barang dan resiko yang timbul dari jujur tidaknya pihak eksportir.

Dengan demikian, cara semacam ini tidak banyak dipakai dalam perdagangan internasional. Cara pembayaran semacam ini biasanya disyaratkan oleh eksportir dimana importir belum dikenal oleh eksportir atau dimana eksportir kurang percaya akan kredibilitas importir.

Ada beberapa metode pembayaran transaksi internasional secara tunai, yaitu dengan menggunakan :

a. Surat wesel bank atas tunjuk b. Telegraphic transfer h. Uang kertas dan uang logam. a. Wesel Bank atas tunjuk

Biasa disebut bankers sight draft, dapat didefinisikan sebagai surat perintah yang dibuat oleh bank domestik yang ditujukan kepada bank korespondennya di negara lain untuk membayar sejumlah uang tertentu yang disebutkan dalam surat wesel, kepada si pembawa surat wesel atau kepada pihak tertentu seperti yang disebutkan di dalamnya. b. Telegraphic Transfer

Biasa disingkat dengan menggunakan singkatan T/T, prinsipnya tidak berbeda dengan wesel bank atas tunjuk seperti yang diuraikan diatas. Perbedaan antara kedua cara pembayaran tersebut hanya terletak pada cara yang dipergunakan untuk mengirimkan berita kepada pihak payee. Kalau surat wesel bank, pemberitahuan kepada payee biasanya dilakukan dengan menggunakan pengiriman lewat pos, sedangkan transaksi telegraphic transfer berita pembayaran dikirimkan lewat telex. Dengan sendirinya pengiriman berita perintah pembayaran teresebut oleh pihak bank domestik sebagai drawer dilakukan dengan menggunakan kata-kata sandi.

c. L/C Tunai

(16)

pengekspor dan dimana eksportir menolak mengirimkan barang ke negara pengimpor sebelum ia memperoleh kepastian atas terselenggaranya pembayaran dengan segera. d. Traveler’s Letter of Credit

Merupakan surat dagang dimana bank memberikan otoritas kepada seseorangg seperti yang ditunjuk dalam L/C tersebut untuk menarik surat wesel atas tunjuk terhadap bank yang mengeluarkan L/C dengan cara menunjukan L/C tersebut kepada pihak bank korespondensinya di negara lain. L/C semacam ini banyak dipergunakan oleh pedagang-pedagang yang keluar negri dengan maksud berbelanja barang-barang dagangan berupa barang-barang kelontong.

e. Traveler’s Check

Banyak digunakan oleh wisatawan. Travelers Check tersebut oleh para wisatawan dapat ditukarkan dengan mata uang negara dimana travelers check tersebut diuangkan atau ditukarkan dengan mata uang lainnya tergantung kepada aturan aturan yang berlaku di negara bersangkutan, pada bank-bank atau bahkan mungkin juga dapat langsung dibelanjakan di toko-toko besar dinegara tertentu yang lembaga-lembaga finansialnya sudah cukup maju.

Pada azasnya, travelers check merupakan surat wesel yang ditarik oleh sebuah bank yang memerintahkannya dirinya sendiri untuk membatarkan sejumlah uang atas tunjuk kepada orang yang namanya dicantumkan dalam travelers check tersebut.

Agar travelers check diterima oleh kebanyakan bank di negara lain, perlu dipenuhi syarat : (1) adanya kepercayaan yang cukup besar dari bank-bank di berbagai negara terhadap bank atau lemaba keuangan yang menerbitkan travelers check tersebut, (2) nilai yang tercantum dalam travelers check dinyatakan dalam mata uang kuat dan (3) travelers check tersebut tidak mudah dipalsu.

f. International Money Order

Mirip dengan banker’s sight draft , perbedaanya yang pokok ialah kalau dalam banker’s sight draft bank yang menarik surat wesel harus memiliki saldo pada bank yang bertindak sebagai drawee, dalam money order hal itu tidak diperlukan. Untuk transaksi money order biasanya transfer yang harus dibayar oleh pihak pengirim uang relatif sangat rendah.

g. Cek Perorangan

(17)

memakan waktu cukup lama. Dari penerima dilain pihak, transaksi seperti ini kurang menguntungkan, sebab untuk menguangkannya memakan waktu.

h. Uang Logam dan Uang Kertas

Seperti halnya pembayaran dengan menggunakan cek perorangan, transaksi dengan menggunakan mata uang asing, yang dapat berupa uang kertas atau uang logam, relatif sangat kecil. Pada umumnya yang melakukan pembayaran dengan menggunakan mata uang asing ialah wissatawan.

3. KONSINYASI (CONSIGNMENT)

Konsinyasi merupakan sistem pengiriman barang-barang ekspor pada importer di luar negeri di mana barang-barang tersebut dikirim oleh ekspotir sebagai titipan untuk dijualkan oleh importir dengan harga yang telah ditetapkan oleh eksportir, barang-barang yang tidak terjual akan dikembalikan kepada eksportir.

Dalam sistem ini eksportir memegang hak milik atas barang, sedangkan importir hanya merupakan pihak yang dititipi barang untuk dijual. Hal ini terjadi karena pengiriman barang belum menemukan ada pembeli yang tertentu di LN. Penjualan barang di luar negri dapat dilaksanakan melalui Pasar Bebas ( Free Market) atau Bursa Dagang (Commodites Exchange) dengan cara lelang dan bila kita berkunjung ke department store maupun toko–toko yang menjual berbagai macam produk dengan kapasitas besar, maka seringkali kita berpikiran apakah toko tersebut tidak bermasalah dengan stok yang tidak habis terjual atau stok yang menumpuk dan tidak dapat dikembalikan ke supplier.

Penjualan dengan system konsinyasi merupakan proses penyerahan barang oleh pemilik barang kepada pihak lain yang bertindak sebagai agen penjual, namun hak kepemilikan atas barang tersebut tetap berada di tangan pemilik sampai barang tersebut telah dijual ke customer akhir oleh agen penjual.

Proses Konsinyasi

Cara pelaksanaan lelang pada umumnya sebagai berikut :

1. Pemilik barang menunjuk salah satu broker yang ahli dalah salah satu komoditi. 2. Broker memeriksa keadaan barang yang akan di lelang terutama mengenai jenis

(18)

3. Broker menawarkan harga transaksi atas barang yang akan dijualnya, harga transaksi ini disampaikan kepada pemilik barang.

4. Oleh panitia lelang akan ditentukan harga lelang yang telah disesuaikan dengan situasi pasar serta serta kondisi perkembangan dari barang yang akan dijual. Harga ini akan menjadi pedoman bagi broker untuk melakukan transaksi.

5. Jika pelelangan telah dilakukan broker berhak menjual barang yang mendapat tawaran dari pembeli yang sana atau yang melebihi harga lelang.

6. Barang-barang yang ditarik dari pelelangan masih dapat dijual di luar lelang secara bawah tangan

7. Yang diperkenankan ikut serta dalam pelalangan hanya anggota yang tergabung dalam salah satu commodities exchange untuk barang-barang tertentu.

8. Broker mendapat komisi dari hasil pelelangan yang diberikan oleh pihak yang diwakilinya.

Resiko Konsinyasi

Resiko yang dapat timbul dalam system ini antara lain :

1. Modal terlalu lama tertimbun pada barang yang diperdagangkan. 2. Tidak ada kepastian eksportir akan menerima pembayaran.

3. Eksportir dapat menjadi korban kenakalan importir yang melaporkan barang yang terjual tidak sesuai dengan yang sebenarnya.

4. Bila impotir tidak membayar, tidak ada bukti untuk menuntutnya di pengadilan

Ciri-Ciri Konsinyasi

Konsinyasi merupakan suatu perjanjian dimana salah satu pihak yang memiliki barang menyerahkan sejumlah barang kepada pihak tertentu untuk dijualkan dengan harga dan syarat yang diatur dalam perjanjian. Pihak yang menyerahkan barang (pemilik) disebut Konsinyor / consignor / pengamanat. Pihak yang menerima barang Konsinyasi disebut Konsinyi / Consigner / Komisioner. Bagi konsinyor barang yang dititipkan kepada konsinyi untuk dijualkan disebut barang konsinyasi (konsinyasi keluar/consigment out)

Terdapat 4 hal yang merupakan ciri dari transaksi Konsinyasi yaitu :

(19)

2) Pengiriman barang Konsinyasi tidak menimbulkan pendapatan bagi Konsinyor dan sebaliknya.

3) Pihak Konsinyor bertanggungjawab terhadap semua biaya yang berhubungan dengan barang Konsinyasi kecuali ditentukan lain.

4) Komisioner dalam batas kemampuannya berkewajiban untuk menjaga keamanan dan keselamatan barang-barang komisi yang diterimanya.

Kelemahan dan Kelebihan Konsinyasi

Alasan Komisioner menerima perjanjian Konsinyasi, antara lain :

1) Komisioner terhindar dari resiko kegagalan memasarkan barang tsb.

2) Komisioner terhindar dari resiko rusaknya barang atau adanya fluktuasi harga. 3) Kebutuhan akan modal kerja dapat dikurangi.

Alasan-alasan Konsinyor untuk mengadakan perjanjian Konsinyasi :

1) Konsinyasi merupakan cara untuk lebih memperluas pemasaran.

2) Resiko-resiko tertentu dapat dihindarkan misalnya komisioner bangkrut maka barang konsinyasi tidak ikut disita.

3) Harga eceran barang tersebut lebih dapat dikontrol.

Tata Cara Konsinyasi

Sistem penjualan ini sebenarnya sudah dikenal oleh masyarakat secara umum dengan istilah yang berbeda-beda. Ada yang mengenalnya dengan istilah titip jual. Caranya adalah dengan menitipkan produk yang hendak kita jual di toko-toko lain. Sebelum membahas lebih dalam mengenai penjualan konsinyasi, ada baiknya kita mengenal beberapa isitlah yang terkait dengan system penjualan konsinyasi antara lain:

 Consignor: Merupakan istilah yang digunakan untuk menyebutkan pihak yang memiliki barang.

 Consignee: Merupakan cara penyebutan untuk pihak yang menerima titipan barang dari Consignor untuk dijualkan.

(20)

 Consignment-in: Merupakan akun yang digunakan oleh Consignee untuk mencatat transaksi yang berhubungan dengan barang milik Consignor yang dititipkan kepada Consignee.

a. Sudut pandang Consignee

Terlepas atau terhindar dari risiko kegagalan penjualan barang/produknya. Karena hak kepemilikan barang tetap berada di tangan Consignor. Sehingga Consignee tidak mengalami kerugian yang ditimbulkan akibat stok persediaan yang menumpuk, dan tidak dapat menghasilkan perputaran uang dalam waktu yang lama. Bayangkan apabila penjualan dilakukan dengan system penjualan pada umumnya, dimana penjual diharuskan untuk membeli barang dari produsen sehingga hak kepemilikian barang berpindah tangan. Kemudian barang tersebut berada di tangan pembeli hingga berhasil di jual ketangan end customer. Apabila kondisi pasar berubah, sehingga mengakibatkan perusahaan gagal menjual persediaannya, maka kerugian yang ditanggung perusahaan akibat barang tidak bergerak akan lebih besar.

Consignee juga dapat menghindari risiko atas kerusakan barang persediaan dan fluktuasi harga yang terjadi, karena kembali lagi hak kepemilikan barang tidak berada di tangan Consignee. Mari kita lihat di salah satu Department Store yang menjual berbagai produk-produk kebutuhan yang menyandang brand asing, mulai dari pakaian hingga consumer goods. Mereka hanya perlu melakukan display atas barang-barang konsinyasi dari Consignor, kemudian memasarkan kepada consumen dan memperoleh komisi atas produk-produk yang berhasil mereka pasarkan.

(21)

me-retur produk tersebut kepada Cosnignor. Sehingga produk yang di-display selalu produk yang terbaik.

Consignee tidak akan menghadapi masalah barang rusak. Consignee juga tidak perlu khawatir apabila terjadi fluktuasi harga barang yang signifikan. Hal ini tidak dapat diakomodir oleh system jual beli pada umumnya. Misalnya supplier membeli barang dengan harga normal untuk dijual. Kemudian pada saat akan dijual ke end customer, terjadi perubahan kondisi di pasaran yang mengakibatkan harga pasar turun 40%. Produsen akan mengalami kerugian akibat penurunan harga tersebut. Hal ini tidak akan terjadi apabila penjualan dilakukan dengan system konsinyasi. Consignee tidak akan mempermasalahkan perubahan harga pasar atas produk yang dijual. Karena risiko fluktuasi harga tetap menjadi tanggungan Consignor.

Masalah modal kerja yang terbatas juga dapat diatasi. Dengan modal kerja yang terbatas, Consignee tetap dapat melakukan usaha perdagangan, karena Consignee tidak perlu melakukan pembelian atas produk yang akan dijualnya. Sehingga modal kerja yang terbatas dapat digunakan Cosignee untuk melakukan investasi ke hal yang lainnya.

b.Sudut pandang Consignor

Dari segi Consignor, terdapat beberapa alasan yang menyebabkan Consignor bersedia melakukan penjualan secara konsinyasi. Antara lain adalah karena:

1. Dengan system penjualan konsinyasi, dimungkinkan produsen akan memperoleh daerah pemasaran yang lebih luas, terutama untuk beberapa karakteristik produk yang pada umumnya merupakan produk baru dimana permintaan untuk produk tersebut masih belum dapat diprediksi pada saat meluncurkan produk. Apabila jumlah permintaan untuk produk tersebut masih belum dapat diprediksi, maka system penjualan konsinyasi akan membantu, karena area pemasaran yang luas, dan dapat menjangkau seluruh daerah dalam suatu Negara.

(22)

berivestasi untuk suatu cabang penjualan baru, hanya perlu menitipkan produknya kepada Consignee dan memberikan komisi kepada Consignee atas kemampuannya menjual produk tersebut.

3. Barang dengan fluktuasi harga yang cukup tinggi juga berpengaruh terhadap kemampuan pasar untuk menjualnya. Consignor cukup menitipkan produknya kepada Consignee yang berada di lokasi daerah-daerah pemasaran yang diinginkan, dan Consignee dapat membantu menjualkan produk Consignor di daerahnya.

4. Alasan lain Consignor melakukan system konsinyasi adalah karena system penjualan konsinyasi dapat menekan risiko kerugian bagi Consignee. Bilamana terjadi kebangkrutan pada pihak Consignee, sehingga mengakibatkan seluruh property Consignee harus disita, maka barang-barang yang diakui sebagai barang konsinyasi tidak dapat disita oleh pihak penyita karena barang tersebut bukan milik Consignee.

5. Consignor dapat melakukan pengontrolan atas harga jual produknya yang berada di tangan Consignee. Hal ini disebabkan karena hak kepemilikan barang tetap berada di tangan Consignor, sehingga hanya Consignor yang berhak melakukan penentuan harga jual yang diberikan oleh Consignee. Hal ini untuk menghindari persaingan harga yang akan berakibat buruk bagi permintaan barang di pasar, sekaligus memastikan bahwa harga masih dapat dijangkau oleh consumen. Pengawasan ini akan sulit dilakukan apabila menggunakan system penjualan pada umumnya, atau system penjualan melalui dealer dimana hak kepemilikan barang telah berada di tangan dealer tersebut.

6. Pengontrolan atas jumlah barang yang berada di pasaran dapat dikontrol oleh Consignor. Selain itu jumlah persediaan yang tersisa di gudang Consignor pun dapat dengan mudah dilakukan. Hal ini sangat berguna bagi Consignor untuk mengurangi risiko kekurangan atau kelebihan barang. Dengan mudahnya melakukan control atas jumlah stok, maka Consignor pun akan lebih mudah dalam menentukan rencana produksi kedepannya.

(23)

Sistem pembayaran ini adalah kebalikan dari sistem ” Advance Payment ” dimana dalam hal ini yang menanggung resiko adalah eksportir sedangkan yang mendapat fasilitas kredit atau penangguhan bayaran adalah importir. Sistem pembayaran ini mekanismenya dimulai dimana pihak eksportir mengirim barangnya lebih dahulu sebelum adanya pembayaran apapun dari pihak importir.

Dalam sistem pembayaran ini pihak eksportir memberikan kredit (seller credit) kepada pihak pembeli (importir). Setelah barang dikirim, eksportir akan mengirim commercial invoice kepada importir. Dalam commercial invoice tersebut tercantum, antara lain tanggal berapa pihak importir harus membayarnya, biasanya dicantumkan juga clause yang menyatakan pembayaran mendahului tanggal tersebut diberi discount (potongan harga). Cara pembayaran ini lazim dipakai apabila pihak eksportir mengenal baik bonafiditas pihak importir.

Sistem pembayaran ini dapat terjadi apabila :

1. Ada kepercayaan penuh antara eksportir dan importir

2. Barang-barang dan dokumen akan langsung dikirim kepada pembeli 3. Eksportir kelebihan dana

4. Eksportir yakin tidak ada peraturan di negara importir yang melarang transfer pembayaran impor tersebut ke dalam rekening eksportir

Resiko-resiko yang dapat terjadi dalam sistem pembayaran ini antara lain :

1. Eksportir tidak mendapat perlindungan apakah importir akan membayar.

2. Dalam hal importir tidak membayar, eksportir akan kesulitan dalam membuktikannya di pengadilan karena tidak ada bukti-bukti

3. Penyelesaian perselisihan akan menimbulkan biaya bagi eksportir.

(24)

Jaminan yang dapat diperoleh dari eksportir dengan syarat-syarat pembayaran ” Open Account ” ini antara lain yaitu :

1. Pengetahuan bahwa pembeli atau importir memiliki nama atau reputasi yang baik 2. Pengetahuan bahwa keadaan ekonomi dan politik negara importir stabil yang

mana laporan tersebut diperoleh dari bank 3. Adanya asuransi kredit

5. WESEL INKASO (COLLECTION DRAFT)

Dalam sistem ini eksportir memiliki hak pengawasan barang-barang sampai weselnya (draft) dibayar importir. Eksportir atau penarik wesel (drawer) mengapalkan barang sementara dokumen pemilikan atas pengiriman barang secara langsung atau melalui banknya didalam negeri dikirim ke bank importer di luar negeri yang merupakan pihak tertarik dari wesel yang bersangkutan (drawee). Pemilikan atas dokumen – dokumen yang diperlukan oleh importer untuk mengeluarkan barang-barang tersebut tidak dilepaskan sampai persyaratan-persyaratan penagihan wesel tersebut telah dipenuhi. Penyerahan dokumen kepada importir didasarkan pada :

1. D/P (Document against Payment) : penyerahan dokumen kepada importir dilakukan apabila importir telah membayar

2. D/A (Document against Acceptance) : penyerahan dokumen kepada importir dilakukan apabila importir telah mengaksep weselnya.

Dalam sistem pembayaran ini pihak importir berada di pihak yang beruntung karena : 1. Tidak perlu menyetor sejumlah uang untuk menjamin pembukaan L/C

2. Tidak perlu membayar biaya bank yang besar

3. Tidak perlu membayar sebelum menerima dokumen-dokumen pemilikan barang

Namun dilain pihak eksportir tetap menanggung sejumlah resiko atau masalah-masalah yakni :

1. Resiko ekonomi dan politik Negara importer 2. Importir mengulur-ulur waktu pembayaran

3. Importir tidak mengambil alih dokumen-dokumen tersebut 4. Importir membatalkan transaksi

5. Pembayaran tidak dilakukan importir (wesel tidak diaksep atau wesel yang diaksep tidak dibayar importir)

6. Mencari pembeli barang

7. Demurrage (lewat waktu untuk bongkar muat kapal) 8. Ongkos-ongkos pengapalan dan pengapalan kembali

(25)
(26)

BAB III PENUTUP RANGKUMAN

(27)

Daftar Pustaka

Hamdani. 2012. Ekspor Impor Tingkat Dasar Level Satu. Jakarta : Bushindo

Hutabarat, Roselyne. 1994. Transaksi Ekspor Impor. Jakarta : Erlangga

Santoso, Rudy Tri. 1994. Transaksi Ekspor Impor edisi kedua. Yogyakarta : Andi Offset

http://charisblogger.blogspot.com/2013/03/macam-macam-pembayaran internasional.html (diakses Minggu, 9 Maret 2014)

http://okayana.blogspot.com/2009/08/cara-dan-alat-pembayaran-internasional.html (diakses Minggu, 9 Maret 2014)

Referensi

Dokumen terkait

pihak yang memanfaatkan jasa pengiriman barang dari luar negeri. Memberikan masukan kepada pihak yang terlibat dalam bidang. pengiriman barang dari luar negeri ke

bahwa dalam rangka peningkatan ekspor barang dan jasa non migas dipandang perlu melakukan kegiatan promosi perdagangan yang dilakukan oleh Pusat Promosi Perdagangan Indonesia di

Secara harfiah, impor adalah barang dan jasa yang diproduksi di luar negeri dan dijual di dalam negeri (Mankiw, 2006). Impor terjadi jika ada kelebihan permintaan

daftar riwayat hidup yang memuat pengalaman kerja paling singkat 2 (dua) tahun di bidang perdagangan dalam negeri, perdagangan luar negeri, pengembangan ekspor, perlindungan

Dalam perdagangan internasional terdapat dua kegiatan pokok, yaitu kegiatan impor dan kegiatan ekspor. Impor adalah kegiatan membeli barang atau jasa dari luar negeri. Orang atau

(3) Dalam hal sumber pembiayaan berasal dari Kreditor Swasta Asing atau Lembaga Penjamin Kredit Ekspor, Perjanjian Pinjaman Luar Negeri sebagaimana dimaksud pada ayat

Sebaliknya,defisi ttransaksi berjalan berarti impor lebih besar daripada ekspor sehingga terjadi pengurangan investasi dalam luar negeri, karena ekspor dan impor

Sehingga jumlah dan nilai ekspor akan dipengaruhi oleh harga relatif antara barang-barang dalam negeri dan luar negeri, yang pada gilirannya akan tergantung dari harga dalam