• Tidak ada hasil yang ditemukan

manuscript

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "manuscript"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN MEROKOK TERHADAP GANGGUAN FUNGSI KOGNITIF DI LINGKUP UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

The Relationship Between Smoking And Cognitive Disfunction In Scope University Of Muhammadiyah Makassar

NURMAWATI A.T

Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar Indonesia. Hp: 085 398 309 981, E-mail: [email protected] Abstrak

Merokok masih merupakan salah satu kebiasaan masyarakat yang sering kita jumpai.World Health Organization (WHO) mencatat Indonesia sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar ketiga di dunia setelah Cina dan India.Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan serta janin.Akan tetapi ternyata tidak banyak masyarakat yang mengetahui dampaknya terhadap fungsi kognitif.Penelitian ini bertujuan untuk megetahui hubungan merokok terhadap gangguan fungsi kognitif.Jenis penelitian merupakan penelitian observasional dengan rancangan studi kasus kontrol dengan total 106 sampel.Penilaian fungsi kognitif dengan wawancara menggunakan kuesionerMini Mental State Examination (MMSE). Hasil uji statistik menggunakan uji chi-square dan juga uji alternatif fisher’s Exact test menunjukkan bahwa terdapat hubungan merokok terhadap gangguan fungsi kognitif (p = 0,022; OR 4,365 dan 95% CI = 1,142 16,685). Selain itu, terdapat pula hubungan frekuensi merokok per hari dengan gangguan fungsi kognitif (p = 0,017; OR 5,949 dan 95% CI = 1,355-26,117).

Kata kunci : Merokok, Frekuensi Merokok, Fungsi Kognitif.

Abstract

Smoking remains one of the habits of the society that we always seen. The World Health Organization (WHO) noted Indonesia as the third biggest country with the number of smokers in the world's after China and India. Smoking can cause cancer, heart attacks, impotence and disorders of pregnancy and fetus. However, it turns out that not many people know their impact on cognitive function.This research to study about relationship between smoking and cognitive disfunction. The research used observational study with case control design with 106 total samples. Assessment of cognitive function with interviews using questionnaireMini Mental State Examination (MMSE.This study using statistic test with chi square test and fisher test as alternative showed that there is relation between smoking and cognitive disfunction (p = 0,022; OR 4,365 dan 95% CI = 1,142 16,685). Beside, there is also relation between frequence of smoking and cognitive disfunction (p = 0,017; OR 5,949 dan 95% CI = 1,355-26,117).

Keywords: Smoking, Frequence of Smoking, Cognitive Function.

`

PENDAHULUAN

Merokok masih merupakan salah satu kebiasaan masyarakat yang sering kita jumpai. Meskipun sebagian dari mereka sudah mengetahui bahaya

merokok bagi kesehatan, namun kebiasaan merokok tetap saja mereka lakukan.1,2

(2)

ketiga di dunia setelah Cina dan India.3 Rokok merupakan salah satu zat adiktif yang di dalamnya terkandung kurang lebih 4.000 (empat ribu) zat kimia antara lain nikotin yang bersifat adiktif dan tar yang bersifat karsinogenik.Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan serta janin.4Akan tetapi ternyata tidak banyak masyarakat yang mengetahui dampaknya terhadap fungsi kognitif.4

Fungsi kognitif adalah kemampuan berpikir dan memberikan rasional, termasuk proses belajar, mengingat, menilai, orientasi, persepsi dan perhatian.5 Berdasarkan hasil penelitian di Universitas Northumbria, orang yang merokok akan terjadi penurunan kognitif, seperti kehilangan beberapa memorinya dibanding orang yang tidak merokok. Nikotin yang terkandung dalam rokok dapat mempengaruhi atensi perokok dibanding bukan perokok.6

Berdasarkan hasil penelitian di atas, penulis ingin mengetahui hubungan merokok terhadap gangguan fungsi kognitif.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik dengan menggunakan pendekatan case control Studydibandingkan dengan desain studi analitik lainnya, biaya studi ini lebih murah dan secara teknis lebih mudah dilakukan.Penelitian dilakukan di lingkup Universitas Muhammadiyah Makassar pada bulan Desember 2016 – Januari 2017. Sampel penelitian ini adalah terdiri dari sampel kasus yang merupakan responden merokok dan sampel kontrol responden tidak merokok.

Teknik penarikan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik penarikan sampel jika peneliti mempunyai pertimbangan tertentu dalam menetapkan sampel sesuai dengan tujuan penelitian, instrument yang digunakan , biaya dan waktu. Responden yang dipilih menjadi sampel adalah laki-laki dengan usia antara 30 – 55 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi.

Adapun kriterianya yaitu, 1) Kriteria Inklusi :

a) Laki-laki yang merokok umur 30-55 tahun di Makassar

b) Laki-laki yang tidak merokok umur 30-55 tahun di Makassar

c) Bersedia menjadi responden pada penelitian ini.

2) Kriteria Ekslusi :

Memiliki riwayat penyakit seperti, riwayat stroke,riwayat hipertensi, riwayat cedera kepala, dan riwayat diabetes mellitus

Pada penelitian ini, data diperoleh dari data primer, yaitu dengan wawancara dan penilaian langsung menggunakan kuesionerMini Mental State Examination (MMSE).

(3)

HASIL PENELITIAN

A. Analisa Univariat

1. Umur

Tabel 5.1 Distribusi

RespondenBerdasarkan Umur

Umur Frekuensi Persentase (%)

30-39

Tahun 51 48.1

40-49

Tahun 37 34.9

50-55

Tahun 18 17.0

Total 106 100

Sumber : data primer 2016

Berdasarkan tabel 5.1 didapatkan, bahwa responden yang berumur 30-39 tahun sebanyak 51 orang (48,1%), responden yang berumur 40-49 tahun sebanyak 37 orang (34,9%), responden yang berumur 50-55 tahun sebanyak 18 orang (17,0%).

2. Frekuensi Merokok Sumber : data primer 2016

Berdasarkan tabel 5.2 didapatkan, sebanyak 32 responden (60,4%) adalah perokok ringan, dan sebanyak 21 responden (39,6%) adalah perokok berat.

3. Lama Menjadi Perokok Tabel 5.3 Distribusi

RespondenBerdasarkan Lama Menjadi Perokok

Frekuensi Persentase

(%) ≤10

Tahun 12 22,6

> 10

Tahun 41 77,4

Total 53 100

Sumber : data primer 2016

Berdasarkan tabel 5.3 dapat dilihat bahwa sebanyak 41 responden (77,4%) mengkonsumsi rokok lebih dari 10 tahun dan sebanyak 12 responden (22,6%) mengkonsumsi rokok kurang dari atau sama dengan 10 tahun.

4. Jenis Rokok yang Dihisap Tabel 5.4 Distribusi Responden

Berdasarkan Jenis Rokok yang Dihisap

Frekuensi Persentase (%)

Filter 49 92,5

Non

Filter 4 7,5

Total 53 100

Sumber : data primer 2016

Berdasarkan tabel 5.4 dapat dilihat bahwa rata-rata responden mengisap rokok dengan jenis filter, yang ditunjukkan pada data sebanyak 49 responden (92,5%) sedangkan yang mengisap jenis non filter sebanyak 4 responden (7,5%).

Tabel 5.2 Distribusi Responden Perokok Berdasarkan Frekuensi Merokok (Per Hari)

Frekuensi Persentase

(%) ≤ 1

Bungkus 32 60,4

> 1

Bungkus 21 39,6

(4)

5. Interpretasi Kognitif

a. Responden Merokok (Kasus) Tabel 5.5 Distribusi Responden

Merokok Berdasarkan Fungsi Kognitif

Frekuensi Persentase (%)

Normal 42 72,9%

Probable Gangguan

Kognitif

11 20,8%

Total 53 100

Sumber : Data Primer 2016

Berdasarkan tabel 5.5 dapat dilihat bahwa responden yang merokok rata-rata memiliki fungsi kognitif normal yaitu sebanyak 42 responden (72,9%). Sedangkan sebanyak 11 responden (20,8%) yang memiliki fungsi kognitif probable gangguan kognitif.

b. Responden Tidak Merokok (Kontrol)

Sumber : data primer 2016

Berdasarkan tabel 5.6 dapat dilihat bahwa responden yang tidak merokok sebagian besar memiliki fungsi kognitif normal yaitu sebanyak 50 responden (94,3%). Sedangkan yang memiliki kognitif probable gangguan kognitif yaitu sebanyak 3 responden (5,7%).

B.Analisa Bivariat

Analisis bivariat bertujuan untuk mengetahui hubungan dan besar risiko dari masing-masing faktor risiko (variabel bebas) dengan fungsi kognitif (variabel terikat). Terdapatnya hubungan

antara faktor risiko dengan fungsi kognitif ditunjukkan dengan nilai p < 0,05, nilai odds ratio (OR) > 1 dan 95% CI tidak mencakup nilai 1.

1. Hubungan Antara Status Merokok dengan Fungdi Kognitif Tabel 5.7 Hubungan Status Merokok dengan Fungsi Kognitif

Variabel MMSE

Status Merokok Normal

probable gangguan kognitif

Total P OR CI

f % f % f %

0,022 4,365

1,14 2-16,6

85

Tidak Merokok 50 94,3 3 5,7 53 100

Merokok 42 79,2 11 20,8 53 100

Total 92 86,8 14 13,2 106 100

Sumber : Data Primer 2016

Tabel 5.6 Distribusi Responden Tidak Merokok Berdasarkan Fungsi Kognitif

Frekuensi Persentase

(%)

Normal 50 94,3%

Probable Gangguan

Kognitif

3 5,7%

(5)

Dari tabel 5.7 dapat dilihat distribusi responden merokok yang memiliki fungsi kognitif normal sebanyak 42 responden (79,2%), dan yang mengalami probable gangguan kognitif sebanyak 13 responden (20,8%). Sedangkan pada responden yang tidak merokok yang memiliki fungsi kognitif yang normal yaitu 50 responden (94,3%) dan yang mengalami probable gangguan kognitif sebanyak 3 responden (5,7%).

Dari hasil analisis chi-square didapatkan Pvalue 0,022 (P <0,05) berarti ada hubungan merokok dengan fungsi kognitif menggunakan Mini Mental State Examination (MMSE). Nilai OR adalah 4,365dengan confident interval1,142-16,685.Dari hasil tersebut di dapatkan responden yang merokok 4,365 kali lebih berisiko mengalami penurunan fungsi kognitif dibandingkan responden yang tidak merokok.

2. Hubungan Antara Frekuensi Merokok dengan Fungsi kognitif

Tabel 5.8 Hubungan Frekuensi Merokok (Per hari) dengan Fungsi Kognitif

Variabel MMSE

Frekuensi Merokok

Normal

probable gangguan kognitif

Total P OR CI

f % F % f %

0,017 5,949 1,355-26,117

≤ 1 bungkus 29 90,6 3 6,6 32 100

> 1

bungkus 13 61,9 8 38,1 21 100

Total 42 79,2 11 20,8 53 100

Sumber : data primer 2016

Dari tabel 5.8 dapat dilihat proporsi responden menurut variabel frekuensi merokok, maka proporsi yang memiliki fungsi kognitif normal terbanyak yaitu pada mereka yang merokok dengan frekuensi merokok kurang dari satu bungkus sebanyak 29 responden (90,6%). Sedangkan proporsi yang mengalami probable gangguan kognitif terbanyak yaitu pada mereka yang merokok dengan frekuensi lebih dari satu bungkus sebanyak 8 responden (38,1%).

Berdasarkan uji

Chi-squaredidapatkan tidak memenuhi syarat untuk uji Chi-square , maka kita uji alternatif menggunakan Fisher's Exact Testdan didapatkan hasilP value 0,017(P

(6)

3. Hubungan Antara Lama Menjadi Perokok dengan Fungsi Kognitif Tabel 5.9 Hubungan Lama Menjadi Perokok dengan Fungsi Kognitif

Variabel MMSE

Lama Merokok

Normal

probable gangguan kognitif

Total P OR CI

f % F % f %

0,421 3,548

0,406-31,005 ≤ 10

tahun 11 91,7 1 8,3 12 100

> 10

tahun 31 75,6 10 24,4 41 100

Total 42 79,2 11 20,8 53 100

Sumber : data primer 2016

Dari tabel 5.9dapat dilihat proporsi responden menurut variabel lama menjadi perokok, maka proporsi yang memiliki fungsi kognitif normal pada mereka yang merokok kurang dari 10 tahun sebanyak 11 responden (91,7%) dan yang mengalami probable gangguan kognitif hanya 1 responden (8,3%). Sedangkan proporsi responden merokok lebih dari 10 tahun sebanyak 31 responden (75,6%) yang fungsi kognitif normal serta 10 responden

(24,4%) yang mengalami probable gangguan kognitif.

Berdasarkan uji alternatif Fisher's Exact Test didapatkan hasil P value 0,421 yang menunjukkan P > 0,05. Hal ini berarti lama menjadi perokok tidak berhubungan dengan fungsi kognitif.

4. Hubungan Antara Jenis Rokok yang Dihisap dengan Fungsi Kognitif Tabel 5.10 Hubungan Jenis Rokok yang Dihisap dengan Fungsi

Kognitif

Variabel MMSE

Jenis Rokok

Normal

probable gangguan kognitif

Total P OR CI

f % F % f %

0,187 4,444 0,550-35,901 Filter 40 81,6 9 18,4 49 100

Non Filter 2 50 2 50 4 100

Total 42 72,9 11 20,8 53 100

Sumber : data primer 2016

Dari tabel 5.10 dapat dilihat proporsi responden menurut variabel jenis rokok yang dihisap, maka proporsi yang

(7)

dan yang mengalami probable gangguan kognitif sebanyak 9 responden (18,4%). Sedangkan proporsi responden merokok dengan rokok non filter sebanyak 2 responden (50%) yang fungsi kognitif normal serta 2 responden (50%) yang mengalami probable gangguan kognitif.

Berdasarkan uji alternatif Fisher's Exact Test didapatkan hasil P value 0,134 yang menunjukkan P > 0,05. Hal ini berarti jenis rokok yang dihisap tidak berhubungan dengan fungsi kognitif.

PEMBAHASAN

A.Hubungan Merokok dengan Fungsi Kognitif

Kognitif digunakan sebagai istilah yang mencakup semua proses mental seperti mengingat, berpikir, penalaran, dan bahasa. Memori adalah bagian penting dari fungsi kognitif yang memudahkan dalam penyimpanan, pemeliharaan dan pencarian informasi pada memori jangka pendek dan panjang.6

Saat rokok dibakar dan dihisap, maka nikotin yang terdapat dalam rokok akan masuk ke dalam sel di mulut dan hidung, serta sepanjang saluran pernapasan. Setelah itu, paru-paru dengan cepat menyerap nikotin dan mengedarkannya keseluruh tubuh melalui darah. Nikotin yang terbawa oleh darah akan ke otak juga. Dimana dapat memicu pelepasan beberapa zat (misalnya dopamin) serta mengaktifkan system saraf pusat dan simpatik.4

Studi dalam bidang neurosains menyebutkan bahwa fungsi otak sangatbergantung pada kualitas dan kuantitas suplai darah pada wilayah otak yang sedang aktif.Dengan demikian, jika terjadigangguan pada pembuluh darah dan atau pada sel-sel darah, maka secara langsung atautidak langsung akan mempengaruhi kualitas kerja sistem pembuluh darah otak dan padaakhirnya akan mempengaruhi kerja otak secara keseluruhan. Nikotin yang masuk akan mendorong terjadinya gangguan

psikologis.7Pengaruh nikotin terhadap otak juga sudah dapat terlihat pada bagian otak yang terkena melalui metode fMRI. Metode fMRI adalah suatu hal yang masih jarang dilakukan karena keterbatasan alat dan ahli serta biaya. Dengan metode fMRI ditemukan rokok dapat berpengaruh terhadap bagian otak yaitu otak perokok memiliki aktifitas yang berbeda dengan non-perokok di area ventral (rostral anterior cingulate cortex,insula, opercular, dan occipital gyrus), dorsal (dorsal medial/lateral prefrontal cortex dan dorsal anterior cingulate cortex), serta jaringan mesolimbic (anterior cingulate, hippocampus, dan medial orbital). Dimana bagian tersebut terkait dengan fungsi kognitif otak.4

(8)

Penelitian ini sejalan dengan penelitian Monique Ernst et al (2001) menyatakan bahwa orang yang merokok memiliki kognitif yang buruk dibanding dengan orang yang tidak merokok. Akan tetapi berbeda dengan penelitian Bell et al (1999) menyatakan bahwa jika berhenti merokok dalam waktu 12 jam dapat merusak atensi dan kemampuan kognitif.8

Dari penelitian, juga didapatkan jenis kognitif yang paling banyak terganggu adalah recall dan kalkulasi dari responden.

B.Hubungan Riwayat Merokok (Frekuensi Merokok, Lama Menjadi Perokok dan Jenis Rokok yang Dihisap) dengan Fungsi Kognitif

Hal in ditunjukkan dalam uji alternatif Fisher's Exact Test yaitu Pvalue 0,017 yang menunjukkan P< 0,05. Hal ini berarti terdapat hubungan positif antara frekuensi merokok dengan fungsi kognitif. Nilai OR 5,949 dengan lower 1,355 dan upper 26,117. Berarti responden dengan frekuensi merokok (frequent smoker) lebih dari satu bungkus per hari berisiko mengalami penurunan fungsi kognitif dibandingkan responden dengan frekuensi merokok kurang dari satu bungkus per hari.

Marcus Richards et al (2003) dalam penelitiannya yang menyatakan bahwa merokok dikaitkan dengan kecepatan penurunan kognitif pada memori verbal dan dengan kecepatan visual. Efek merokok ini sebagian besar oleh individu yang merokok lebih dari 20 batang per hari.9

Secara teori, beberapa zat kimia dalam rokok bersifat kumulatif, suatu saat dosis racunnya akan mencapai titik toksin sehingga mulai kelihatan gejala yang ditimbulkannya sehingga pada perokok-perokok berat dengan jumlah

rokok yang dihisap lebih dari 10 batang per hari akan merasakan dampak yang ditimbulkan oleh asap rokok tersebut lebih cepat dibanding perokok ringan dengan jumlah rokok yang dihisap kurang dari 10 batang setiap harinya.9

Hubungan lama menjadi perokok dengan fungsi kognitif didapatkan hasil dari uji alternatif Fisher's Exact Test yaitu P value 0,421 yang menunjukkan P > 0,05. Hal ini berarti lama menjadi perokok tidak berhubungan dengan fungsi kognitif. Walaupun dalam hasil penelitian Rusli A. Mustofa, yang menyatakan bahwa dampak rokok akan terasa setelah 10-20 tahun pasca digunakan.10

Ini tergantung responden walaupun lama merokok mereka lebih dari 10 tahun, akan tetapi dari wawancara ditemukan beberapa dari mereka merokok kurang dari satu bungkus per hari bahkan ada diantara mereka menargetkan satu bungkus rokok untuk satu minggu. Walaupun dalam teori mengatakan bahwa perokok lama dapat mempengaruhi fungsi kognitif seseorang.Hal ini dimungkinkan karena penurunan fungsi kognitif tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja.Melainkan banyak faktor yang bisa mempengaruhi fungsi kognitif.

(9)

berfungsi sebagai penyaring asap rokok yang akan dihisap, sehingga nantinya tidak terlalu banyak bahan kimia yang akan masuk sampai ke paru-paru.11

Dari responden yang didapatkan sebagian besar dari mereka mengkonsumsi rokok filter.Dari analisis data yang dilakukan baik itu pada responden merokok ataupun tidak merokok rata-rata dari mereka masih memiliki fungsi kognitif normal, karena hal tersebut dapat didukung oleh usia yang masih tergolong muda, pendidikan, ataupun pola hidup dari responden. Hal ini juga dapat disebabkan karena adanya perbedaan metode penelitian dan jumlah proporsi sampel yang didapatkan. Pada penelitian ini digunakan desain penelitian case control dengan proporsi kasus dan kontrol yang sama. Pada penelitian-penelitian sebelumnya menggunakan desain penelitian cohort ataupun cross sectional dengan jumlah sampel yang lebih banyak.

C.Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini menggunakan data primer yang dilakukan dengan cara wawancara langsung dengan responden. Keterbatasan waktu baik dari peneliti maupun dari responden, Karena wawancara dilakukan di sela-sela kuliah ataupun setelah kuliah, untuk mencari responden yang bersedia meluangkan waktunya untuk diwawancarai.Selain itu, sikap responden yang tidak terbuka pada saat wawancara.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :

1. Terdapat hubungan antara merokok dengan gangguan fungsi kognitif.

2. Terdapat hubungan antara frekuensi merokok per hari dengan gangguan fungsi kognitif.

3. Tidak terdapat hubungan lama menjadi perokok dan jenis rokok yang dihisap dengan gangguan fungsi kognitif.

4. Jenis gangguan fungsi kognitif yang lebih banyak terganggu adalah recall dan kalkulasi.

SARAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka saran yang dapat diberikan peneliti antara lain :

1. Kebiasaan merokok perlu dihindari demi terjaganya kualitas fungsi kognitif.

2. Perlunya sosialisasi kepada masyarakat terkait dampak merokok bagi kesehatan terutama kesehatan otak (fungsi kognitif) baik oleh pemerintah maupun instansi pendidikan.

3. Diharapkan ada penelitian selanjutnya yang dapat meneruskan penelitian ini agar lebih sempurna.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ambarwati A, Umaroh AK, Kurniawati F,dkk. Media Leaflet, Video dan Pengetahuan Siswa SD tentang Bahaya Merokok (Studi Pada Siswa SDN 78 Sabrang Lor Mojosongo Surakarta). Jurnal Kesehata Masyarakat.[Internet]. 2014;:7-13 Available from. hhtp://journal.unnes.ac.id/nju/index.p hp/kemas

2. Riskesdas Makassar. Perilaku Merokok mahasiswa di Kota Makassar. 2010;2–12

3. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI.

(10)

Sedunia. 2013.

4. Liem A. Pengaruh Nikotin Terhadap Aktivitas Dan Fungsi Otak Serta Hubungannya Dengan Gangguan Psikologis Pada Pecandu Rokok. 2010;18(2):37–50.

5. Wardhani P.L Hasra IHM. Prevalensi Gangguan Fungsi Kognitif Dan Depresi Pada Pasien Stroke Di Irina F Blu Rsup Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. 2014.

6. O’Neill T. “ Smoking to Forget ” :

The Impact of Prolonged Smoking on Prospective Memory.Thesis [Internet]. 2010; Available from: http://nrl.northumbria.ac.uk/572/ 7. Nururrahmah. Pengaruh Rokok

Terhadap Kesehatan Dan Pembentukan Karakter Manusia. Prosiding Seminar Nasional. 2014;01. 8. Ernst, M., Heishman, S. J., Spurgeon,

L., & London, E. D. (2001). Smoking history and nicotine effects

on cognitive

performance. Neuropsychopharmaco logy.(2001)25, 313–319.

9. Richards M, Jarvis MJ, Thompson N, Wadsworth MEJ. Cigarette Smoking

and Cognitive Decline in Midlife :

Evidence From a Prospective Birth Cohort Study. 2003;93(6):994–8. 10.Sadli M, Riko R. Jurnal Kesehatan

Kartika Jurnal Kesehatan Kartika. 2010;18–25.

Gambar

Tabel 5.3 Distribusi RespondenBerdasarkan Lama  Menjadi Perokok
Tabel 5.6 Distribusi Responden Tidak Merokok Berdasarkan
Tabel 5.8 Hubungan Frekuensi Merokok (Per hari) dengan Fungsi Kognitif
tabel proporsi responden menurut variabel

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Meskipun mengetahui begitu pentingnya pengawasan namun masih saja sering kita jumpai perusahaan-perusahaan yang tidak melakukan pengawasan dengan sebaik-baiknya,

World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa 175 juta anak di negara bekembang mengalami kekurangan gizi jika ditinjau dari berat badan untuk umur

Zingiberaceae sangat sering kita jumpai dikawasan indonesia, hal ini karena iklim tropis dari negara Indonesia merupakan iklim yang sangat berpotensi untuk

World Health and Organization (WHO) dalam Global Status Report on Violence Prevention tahun 2014, berdasarkan survei yang dilakukan pada 133 negara melaporkan kekerasan

World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa 175 juta anak di negara bekembang mengalami kekurangan gizi jika ditinjau dari berat badan untuk umur

health/primary care organizations or societies such as World Health Organization (WHO), World Organization of Family Doctors (WONCA), European Forum for Primary Care, European

Perilaku merokok kaum laki-laki mudah kita jumpai sekitar kita, kecendrungan merokok terus meningkat dari tahun ke tahun, baik pada laki-laki maupun

Data menurut World Health Organization WHO menunjukkan bahwa ada sebanyak 300 juta perokok di negara maju dan mendekati tiga kali lipat sebanyak 800 juta perokok di negara berkembang.1