• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DAMPAK DISKRIMINASI PEKERJA TER (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS DAMPAK DISKRIMINASI PEKERJA TER (1)"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1

ANALISIS DAMPAK DISKRIMINASI PEKERJA TERHADAP PENDAPATAN

EKONOMI PEREMPUAN DISEKTOR INDUSTRI KOTA PALEMBANG

Luis Marnisah1, Endah Dewi Purnamasari2 1

Fakultas Ekonomi, Universitas Indo Global Mandiri email: [email protected]

2

Fakultas Ekonomi Universita Indo Global Mandiri email: [email protected]

ABSTRACT

This research aims at finding how far woker discriminations occur to the worker foward womwns income. The method of research was using survey by selecting ang investigating samples which taken from the population to find out the events and correlation aming the variables to find out several evidences dealing with population. Explantion rsearch can test the hypoteses which here been built by the researcher ang explain the effect of persund prejudies variabel, imperfect, imformation, promotion toward the womwn income. Teh population of the research was all the the workers in middle industry sector. The analysis of data which was gamed by using multiple regression.these analyses included: validity test and reability test, classic assumption, multiple regression analysis, hypoteses testing through t-test , F-test and the analysis of coefficient

determination. The analysis showed that there was regression equality: Y = bX1+ bX2+ bX3+ e. The result of analysis showed the value of personal prejudice (X1) wass 0,008 and has impact toward the income, the value of imperfeel, informating wass -0,030 and it has impact toward the income and the the value of promotion wass 0,048 and it has impact toword the income ang 0,46 was influenced by the variables together

Keyword:discrimination, income, industy

Latar Belakang

Negara berkembang pada umumnya menghadapi banyak permasalahan di bidang kependudukan, seperti tingginya tingkat kelahiran, kemiskinan, pengangguran, pendidikan dan produktivitas. Di Indonesia salah satu masalah yang dihadapi adalah banyaknya tenaga kerja terutama yang belum memperoleh kerja. Kelebihan tenaga kerja disatu pihak adalah akibat langsung dari adanya pergeseran struktur umur yang tadinya belum masuk usia kerja, sekarang sudah termasuk dalam usia kerja, hal ini merupakan potensi sumber daya manusia untuk pembangunan, di pihak lain penciptaan kesempatan kerja masih lamban dibandingkan dengan pesatnya laju pertumbuhan angkatan kerja.

Keadaan yang tidak seimbang antara pertumbuhan angkatan kerja dan kemampuan untuk menciptakan kesempatan kerja akan menimbulkan akibat buruk terhadap pembangunan suatu bangsa. Sebab prestasi pembangunan suatu bangsa bukan hanya di ukur dengan pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga dapat menciptakan kesempatan kerja yang luas, mensejahterakan masyarakat dan pemerataan hasil-hasil pembangunan.

(2)

Penduduk Kota Palembang yang masuk dalam angkatan kerja pada tahun 2010 tercatat 259.422 orang perempuan, 411.413 orang laki-laki yang berusia 15 tahun keatas dengan rincian yaitu angkatan kerja yang bekerja sebanyak 210.524 orang perempuan, 366.598 orang laki-laki; angkatan kerja yang tidak bekerja 48.898 orang perempuan dan 44.815 orang laki-laki. Persentase angkatan kerja pada sektor lapangan pekerjaan yaitu 1.74 orang perempuan, 2.70 orang laki-laki pada sektor pertanian; 7.79 orang perempuan, 11.50 orang laki-laki di sektor Industri; 37.18 orang perempuan, 24.00 orang laki-laki di sektor perdagangan; 37.42 orang perempuan, 23.83 orang laki-laki di sektor Jasa; 15.87 orang perempuan, 37.97 orang laki-laki disektor lainnya (Sakernas; 2010)

Dari data di atas terlihat bahwa Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) wanita telah memberikan perannya dalam berpartisipasi di pasar kerja. Hal ini mengisyaratkan bahwa semakin banyak wanita yang terampil dan mampu mensejajarkan diri dengan laki-laki. Berarti bahwa wanita mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam menggerakkan roda pembangunan, terutama dalam pasar tenaga kerja dan kegiatan ekonomi lainnya.

Organization for Economic

Cooperation and Development (OECD)

memperhatikan masalah penghasilan di mana pendapatan kaum perempuan masih jauh tertinggal di banding laki-laki. Rata-rata nilai penghasilan pekerja laki-laki di sejumlah industri lebih besar 17,6% dibandingkan perempuan. Kesenjangan terbesar terjadi di Korea Selatan dan Jepang, dimana penghasilan laki-laki diatas 30% lebih besar dibandingkan perempuan. Kesenjangan terkecil terjadi di Belgia dimana laki-laki mendapat penghasilan 9,3% lebih besar dibandingkan perempuan http://www.seputarindonesia.com/read/201 3/04

Hasil temuan Pusat Studi Wanita (Bernas; Agustus 1997) menjelaskan bahwa kondisi pekerjaan pabrik di Indonesia pada umumnya buruk. Mereka bukan hanya menerima perlakuan tidak adil dalam hal upah dan fasilitas kerja, tetapi juga tidak memperoleh perlindungan yang seharusnya sebagaimana diamanatkan dalam

undang-undang. Bergerak dari kondisi tersebut bagaimanakah gambaran buruh perempuan di industri manufaktur berdasarkan perspektif gender. hasil penelitian (Daulay; 2006) menemukan ketidakadilan gender di pabrik diantaranya adalah jenis pekerjaan, penyediaan fasilitas kerja yang berbeda, perbedaan pemberian upah, jenjang karier, pelecehan seksual.

Daya beli buruh perempuan di Indonesia untuk membeli kebutuhan makanan sehari-hari, kebutuhan akan beras 1 kg pada tahun 1994, buruh perempuan harus bekerja selama 221 menit atau 3,5 jam lebih. Sementara kalau kita bandingkan dengan buruh Filipina dan Hongkong mereka hanya memerlukan waktu 55 menit saja atau tidak sampai satu jam bekerja. Hal ini terlihat pula pada pembelian makanan murah, buruh perempuan di Indonesia harus bekerja selama 312 menit, sementara buruh perempuan Tahiland hanya 23 menit. Hal ini berarti buruh perempuan di Indonesia harus bekerja lebih keras dari buruh perempuan di Tahiland karena kalau mau menyamakan dengan kondisi Tahiland mereka harus bekerja hampir 17 kali lipat dai buruh perempuan Thailand (Daulay; 2006; 3)

Hasil penelitian Martini (2004) menyatakan bahwa dalam satu rumah tangga sekalipun bisa terjadi kepentingan dan apresiasi yang tidak sama. Oleh karena itu tidak dapat diasumsikan bahwa jika sebuah program pembangunan berhasil belum tentu dapat dinikmati hasilnya oleh seluruh anggota keluarga dengan bobot yang sama. Seyogyanya saat ini pemarginalan perempuan sudah tidak saatnya lagi, di saat bangsa ini sedang berjuang memulihkan kondisi perekonomian dalam meningkatkan posisi tawar di tingkat dunia. Ketika kesetaraan

gender mulai dipahami, bahkan dikalangan kaum laki-laki sekalipun, tidak sewajarnya menempatkan perempuan diwilayah domestik sebagai masyarakat kelas dua, apalagi yang secara ekonomi turut serta menopang ekonomi keluarga.

(3)

kerja yang keras atau tidak sehat. Akan tetapi, upaya mengatur dan memperbaiki kondisi di sektor informal, jika tidak dilakukan dengan keterlibatan penuh perempuan yang bersangkutan, bisa berakibat buruk terhadap peluang yang dapat di raih perempuan.

Wanita pekerja secara umum diklasifikasikan sebagai bukan pencari nafkah utama keluarga (secondary worker) mempunyai motivasi yang berbeda-beda berdasarkan jenjang sosial ekonomi keluarga maupun tingkat pendidikan. Pada masyarakat golongan bawah wanita memasuki pasar kerja merupakan keharusan karena untuk menunjang ekonomi keluarga. Sebaliknya wanita yang berasal dari golongan ekonomi menengah mempunyai alternatif pilihan antara bekerja atau menganggur. Mereka memutuskan untuk ikut berpartisipasi kerja apabila lapangan pekerjaan yang tersedia sesuai dengan ststus sosial ekonomi keluarga maupun tingkat pendidikan. Lain lagi halnya untuk wanita yang berasal dari golongan sosial ekonomi atas, mungkin motivasi mereka berpartisipasi dalam pasar kerja tidak lagi pada penghasilan yang akan diperoleh, tetapi sesuatu diluar faktor ekonomi seperti memanfaatkan waktu atau mencapai kepuasan untuk dirinya sendiri.

Selain kemampuan skil dan penguasaan teknologi, persoalan lain yang dihadapi perempuan usaha mikro dan kecil adalah: Keterbatasan dana/kurangnya modal, yang disebabkan adanya keterbatasan akses kelembaga keuangan karena perbedaan gender, tingkat pendidikan rendah, mempengaruhi pola pikir berusaha, yang konvensional dan cenderung tertutup, produktivitasnyapun cenderung rendah, ketika tuntutan pasar makin meluas, tidak siap mengantisipasi, kebijakan pemerintah yang kurang proporsional untuk perempuan, keterbatasan/ kurangnya kesempatan dalam membangun jaringan, termasuk jaringan pasar karena sibuknya berproduksi yang tidak dapat ditinggalkan setiap saat, sehinga sulit meningkatkan kapasitasnya (Syarif ; 2007).

Hal ini disebabkan karena dibalik perbedaannya dengan laki laki, perempuan memiliki kelebihan berupa: perempuan memiliki semangat, ketekunan, ketelitian,

kepercayaan dan optimisme yang amat tinggi, dapat mengurus banyak hal sehingga cocok memulai dan memiliki usaha kecil sendiri, bukan berarti tidak dapat memimpin perusahaan besar, kelebihan dalam menentukan dan mengerti keiinginan pelanggan, menunjukkan perhatian kepelanggan dan menjadi pendengar yang lebih baik, oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menjawab permasalahan yang dihadapi perempuan pelaku ekonomi pada kotribusinya terhadap keluarga di Sumatera Selatan terutama keterkaitannya dengan kesetaraan gender yang berlaku saat ini di lingkungan rumah tangganya serta anggapan masyarakat umum terhadap isu gender (ILO; 1999; 56). Beberapa cerita tentang permasalahan tenaga kerja wanita di Palembang yang akan diungkap adalah: pembagian tugas antar anggota keluarga terutama suami istri dalam memenuhi kebutuhan ekonomi, pandangan perempuan terhadap kesetaraan gender, produktivitas dan efisiensi perempuan pekerja industri, jasa dan perdagangan, dan proporsinya, memberikan kontribusi secara ekonomi, faktor yang melatarbelakangi perempuan sebagai pekerja industri, di kota Palembang.

Perumusan Masalah

Dari uraian di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya diskriminasi pada pekerja di sektor industri.

b. Faktor yang mana paling signifikan berpengaruh terhadap diskriminasi pekerja di sektor industri.

c. Bagaimana dampak yang ditimbulkan oleh diskriminasi terhadap pendapatan pekerja di sektor industri

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Untuk mengetahui dan

(4)

prajudice terhadap pendapatan ekonomi wanita di sektor industri

b. Untuk mengetahui dan

menganalisis pengaruh variabel informasi tidak sempurna terhadap pendapatan ekonomi wanita di sektor industri c. Untuk mengetahui dan

menganalisis pengaruh variabel promosi terhadap pendapatan ekonomi wanita di sektor industri

d. Untuk mengetahui dan

menganalisis pengaruh variabel prajudice, informasi tidak sempurna dan promosi secara bersama-sama terhadap pendapatan ekonomi wanita di sektor industri

Manfaat Penelitian

Penelitian ini dilakukan mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi penulis sendiri, maupun bagi para pembaca atau pihak-pihak lain yang berkepentingan, dan penelitian ini di fokuskan untuk industri menengah yang berada di kota Palembang, dan bagi pihak lain yang berkepentingan dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan

Tinjauan Pustaka

Teori Tenaga Kerja

Tenaga kerja merupakan pertemuan antara permintaan akan tenaga kerja (demand for labor) dan penawaran tenaga kerja (supply of labor). Jika pada pasar produk, perusahaan merupakan penawar (supplier) produk dan rumah tangga sebagai peminta (demander) produk maka pada pasar tenaga kerja, perusahaan bertindak sebagai peminta dan rumah tangga sebagai penawar jasa tenaga kerja. Meskipun demikian, tenaga kerja yang ditawarkan dan diminta mempunyai ciri yang unik yang berbeda dengan permintaan dan penawaran produk, seperti yang dinyatakan banyak ahli (McConnel,1999) sebagai berikut:

The labor market is a rich and complicated place. When a worker takes a

job he expects to earn a wage, but will also care about rates of wage growth, fringe benefits, levels of risk, retirement practices, pensions, promotion and lay off rules, seniority rights and grievance procedures. In return the worker must give up some time, but he is also asked to upgrade his skills, train other workers, provide effort and ideals, and defe to authority in questions of how his time is spent”

Adam Smith (1729-1790) bahwa alokasi sumber daya manusia yang efektif adalah pemula pertumbuhan ekonomi. Setelah ekonomi tumbuh, akumulasi modal (fisik) baru mulai dibutuhkan untuk menjaga agar ekonomi tumbuh. Dengan kata lain, alokasi sumber daya manusia yang efektif merupakan syarat perlu (necessary condition) bagi pertumbuhan ekonomi.

Teori Harod-domar (1946) investasi tidak hanya menciptakan permintaan, tapi juga memperbesar kapasitas produksi. Kapasitas produksi yang membesar membutuhkan permintaan yang lebih besar pula agar produksi tidak menurun. Jika kapasitas yang membesar tidak diikuti dengan permintaan yang besar, surplus akan muncul dan disusul penurunan jumlah produksi.

Salah satu masalah yang biasa muncul dalam bidang angkatan kerja ketidak seimbangan akan permintaan tenaga kerja (demand for labor) dan penawaran tenaga kerja (supply of labor), pada suatu tingkat upah. Ketidakseimbangan tersebut penawaran yang lebih besar dari permintaan terhadap tenaga kerja (excess supply of labor) atau lebih besarnya permintaan dibanding penawaran tenaga kerja (excess demand for labor) dalam pasar tenaga kerja.

Teori Diskriminasi Pasar Kerja

(5)

Menurut Kaufman (2005; 450), deskripsi deskriminasi berbeda antara

“Premarket discrimination”. Premarket

discrimination terjadi pada saat seseorang belum memasuki pasar kerja. Diskriminasi

ini terjadi bila terdapat perlakuan “inferior”

yaitu perlakuan yang bersifat merendahkan terhadap kaum minoritas untuk mengenyam pendidikan, sebagai contoh, suatu keluarga akan membedakan perlakuan untuk anak laki-laki dan anak wanitanya dalam melanjutkan pendidikan. Anak laki-laki akan disekolahkan setinggi-tingginya dengan harapan akan siap bersaing bila memasuki pasar kerja, sementara anak wanita hanya disekolahkan dengan tingkat yang lebih rendah. Ada dua teori tentang masalah ketenagakerjaan (Mulyadi; 2006; 58)

Teori Lewis (1959) yang mengemukakan bahwa kelebihan pekerja merupakan kesempatan bukan suatu masalah. Kelebihan pekerja suatu sektor akan memberikan andil terhadap pertumbuhan output dan penyediaan pekerja di sektor lain. Dan adanya kelebihan penawaran kerja tidak memberikan masalah pada pembangunan ekonomi.

Teori Fai Renis (1961) menurutnya ada tiga tahap pembangunan ekonomi dalam kondisi kelebihan buruh. Pertama, para pengangguran semu dialihkan ke sektor industri dengan upah institusional yang sama. Kedua, tahap di mana pekerja pertanian menambah output tetapi memproduksi lebih kecil dari upah institusional yang mereka peroleh. Ketiga, tahap ditandai awal pertumbuhan swasembada pada saat buruh pertanian menghasilkan output lebih besar dari pada upah institusional.

Teori Personal Prejudice

”Personal Prejudice” yang bersifat

subjektif. Prejudice diartikan sebagai prasangka buruk atau tidak suka terhadap seseorang atau sekelompok orang. Ketidaksukaan ini muncul karena sejumlah penyebab, misalnya: penampilan, bahasa/ gaya bicara, kebiasaan yang tidak umum, sehingga ada jarak dengan individu atau kelompok tersebut, baik jarak secara fisik, maupun secara sosial. Prasangka ini dapat

terjadi pada pemberi kerja maupun pekerja itu sendiri. Prasangka yang berbeda akan menghasilkan upah yang berbeda.

Implikasi dari “prejudice” untuk pola

pendapatan dan pekerja mayoritas dan minoritas pertama kali diungkapkan oleh Gary Becker (1971; 47). Becker mengobservasi prejudice kearah pekerja minoritas disebabkan oleh tiga sumber kelompok mayoritas yairu pemberi kerja

(employer discrimination), pekerja

(employer discrimination) itu sendiri dan konsumen (costumer discrimonation).

Teori Informasi Tidak Sempurna

Diskriminasi terjadi karena tidak sempurnanya informasi yang diterima pada saat penerimaan pekerja yang tidak sempurna dihadapi oleh perusahaan dalam proses penyaringan yang akan terlihat dari hasil menggunakan karakteristik pribadi pekerja untuk merekrut mereka ke dalam kelompok produktifitas individu yaitu pendidikan, pengalaman kerja sebelumnya atau nilai tes. Karateristik kelompok yaitu ras, jenis kelamin atau kebangsaan.

Jika perusahaan akan merekrut pegawai, maka perusahaan ingin iklan di koran yang mengakibatkan banyaknya pelamar kerja dari kelompok-kelompok ras dan gender yang memiliki berbagai tingkat pendidikan dan pengalaman kerja, maka perusahaan akan menyaring pelamar

berdasarkan karakteristik yang berkorelasi dengan setiap pekerja, tingkat pendidikan yang berkinerja dalam rangka proses penyaringan, yang diamati antara lain adalah ras.

Teori Promosi

(6)

Promosi adalah sebuah jenis transfer yang meliputi penugasan kembali seorang pegawai pada sebuah posisi yang kemungkinan besar diberikan pembayaran yang lebih tinggi dan tanggungjawab, hak dan kesempatan yang lebih besar. Demosi kadang-kadang disebut transfer kebawah adalah sebuah jenis transfer meliputi pemotongan pembayaran hak dan kesempatan.

Teori Pendapatan

Tujuan pembangunan ekonomi yang harus dicapai adalah agar pendapatan masyarakat meningkat dengan cara memacu pertumbuhan sehingga hasil dari pertumbuhan dapat didistribusikan secara merata. Karena itu masalah distribusi pendapatan menjadi masalah yang cukup penting (Boediono; 1999; 1)

Kuncoro (2006; 155) menyatakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu disertai dengan distribusi pendapatan yang merata dan biasanya terjadi trade off antara pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan. Trade off yang terjadi membawa implikasi yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi yang rendah.

Namun Kuznets dalam Todaro (2000; 207) berpendapat lain bahwa pada tahap-tahap awal pertumbuhan, distribusi pendapatan cenderung memburuk, namun pada tahap-tahap berikutnya akan membaik. Berdasarkan pendapat Kuznets ini berarti kebijakan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi adalah mutlak diperlukan. Pendapat Kuznets dikenal dengan kurva U terbalik.

Umumnya distribusi pendapatan dibedakan menjadi dua (Sagir; 2006; 5) yakni distribusi pendapatan fungsional (fungsional distribution of income) dan distribusi pendapatan personal (personal

distribution of income). Distribusi

pendapatan fungsional adalah distribusi pendapatan berdasarkan fungsi kepemilikan faktor input, misalnya sebagai pemilik modal atau pekerja; sedangkan yang dimaksud dengan distribusi pendapatan personal adalah menyangkut distribusi pendapatan antara

perorangan atau antara kelompok rumah tangga dalam masyarakat tanpa mempersoalkan sumber pendapatannya apakah berasal dari upah, sewa atau lainnya. Ketidakmerataan distribusi pendapatan fungsional akan terjadi antara para pekerja sebagai penerima upah dengan para pemilik modal sebagai penerima sewa modal. Sekelompok kecil pemilik modal menerima distribusi yang relatif besar dari total pendapatan, sedangkan kelompok pekerja yang jumlahnya mayoritas menerima bagian yang relatif kecil. Pola distribusi pendapatan yang demikian tentu tidak diinginkan, karena tidak memenuhi rasa keadilan di masyarakat (Hasibuan; 1996; 2)Ketidakmerataan distribusi pendapatan personal terjadi antara seseorang dengan orang lainnya atau antara kelompok rumah tangga dengan rumah tangga lainnya tanpa melihat fungsi masing-masing apakah sebagai pekerja atau pemilik modal (Hasibuan; 1996; 4). Kajian ini akan memfokuskan pada distribusi pendapatan

personal.

Untuk pemilihan pada kenyataannya berdasarkan selektifitas jenis kelamin, migrasi banyak dilakukan oleh laki-laki daripada perempuan. Hal ini menurut (Shaw ; 2002; 14) disebabkan laki-laki lebih mudah mencari pekerjaan apapun tanpa harus terkait pada masalah yang berkenaan dengan tradisi ataupun budaya.

Metodologi Penelitian

Penentuan Lokasi Penelitian

(7)

Lokasi penelitian adalah dengan melakukan pemilihan sampel secara sengaja (purposive) terhadap beberapa kecamatan yang ada di Kota Palembang. Banyak penduduk kota Palembang yang bekerja sebagai pekerja di sektor industri. Lokasi perusahaan yang akan menjadi sampel pada penelitian ini adalah Kecamatan Ilir Barat II, Kecamatan Gandus, Kecamatan Seberang Ulu I, Kecamatan Kertapati, Kecataman Ilir Barat I, Kecamatan Bukit Kecil, Kecamatan Ilir Timur I, Kecamatan Kemuning, Kecamatan Ilir Timur II, Kecamatan Kalidoni, Kecamatan Sako, Kecamatan Sukarame, Kecamatan Alang-Alang Lebar. Sedangkan Kecamatan Seberang Ulu I, Kecamatan Plaju dan Kecamatan Sematang Borang tidak akan diambil sampelnya, karena di Kecamatan tersebut tidak terdapat perusahaan industri menengah.

Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian survey. Penelitian survey menyelidiki populasi (semesta) dengan menseleksi dan menyelidiki sampel-sampel yang ditarik dari populasi untuk menemukan peristiwa relatif, distribusi, dan hubungan-hubungan antar variabel-variabel (Kerlinger, 1973:410).

Babbie(1973:57) mengemukakan bahwa rancangan penelitian survey memiliki tiga tujuan umum, yaitu deskripsi, eksplanasi, dan eksplorasi.Tujuan deskriptif adalah untuk melakukan pembuktian deskriptif mengenai populasi, yakni menemukan distribusi dari karakter-karakter atau atribut-atribut tertentu. Tujuan deskriptif secara khusus melibatkan penentuan frekuensi kejadian sesuatu peristiwa atau hubungan antara dua variabel, termasuk melakukan prediksi spesifik (Churchill, 1983:57).

Tujuan eksplanasitif adalah untuk melakukan pembuktian-pembuktian eksplanatori mengenai populasi, sementara tujuan eksploratif adalah untuk

“mencari” atau menemukan ide-ide dan wawasan wawasan terhadap sebuah topik tertentu. Penelitian ini eksplanatasi yang ditujukan untuk menguji hipotesis. Hal

ini berdasarkan pertimbangan bahwa penelitian ekplanatasi dapat menguji hipotesis yang telah dibangun oleh peneliti dan menjelaskan pengaruh variabel personal prejudice, informasi tak sempurna, promosi, pasar tenaga kerja, pelatihan dan pilihan pekerjaan terhadap pendapatan pekerja disektor industri yang berupa upah, gaji dan bonus di kota Palembang

Populasi dan Sampel

Menurut Sugiyono (2009) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Populasi penelitian ini adalah seluruh pekerja perusahaan disektor industri dengan kategori menengah yang terdapat di Kota Palembang. Industri menengah yang berada di Kota Palembang berjumlah 52 industri yang tersebar di 13 kecamatan.

Berdasarkan keterangan diatas maka jumlah populasi atau pekerja industri di sektor menengah di kota Palembang adalah 2.616 orang, penarikan sampel dirancang dengan tahapan sebagaimana dikemukakan oleh Zikmund (1994: 359), yaitu: mendefinisikan populasi, menseleksi sebuah sampel, menentukan metode sampling, menentukan prosedur untuk menyeleksi uni-unit sampling, penentuan ukuran sampel, menseleksi unit-unit sampling aktual, melaksanakan pengumpulan data.

(8)

Tahap ketiga adalah penentuan metode sampling, yakni penentuan apakah sampel yang akan dipilih merupakan sampling probabilitas atau non-probabilitas dan penentuan metode penarikan sampel. Penelitian ini menggunakan metode sampling probabilitas dengan teknik stratifikasi proporsional. Dalam penilitian ini, perusahaan-perusahaan industri kategori menengah umumnya telah distrata menurut jenis industrinya, dikenal sebagai klasifikasi industi dan teridentifikasi sebanyak 52 jenis. Tahap keempat adalah penentuan unit sampling, di sini yang menjadi unit sampling adalah pekerja yang bekerja pada perusahaan-perusahaan disektor industri yang berkategori menengah. Dengan asumsi bahwa perusahaan-perusahaan target distruktur menggunakan pola produk tunggal, maka unit sampling adalah sama dengan unsur-unsur sampling, yakni 2.616 pekerja sampling.

Tahap kelima adalah analisa data dengan program SPSS Versi 16.0. Mempertimbangkan bahwa tidak ada ukuran sampel yang benar maka direkomendasikan ukuran sampel merentang antara 100 hingga 200. Pendekatan lainnya untuk menentukan ukuran sampel adalah sebagai mana yang dikonfigurasikan oleh Krejcie dan Morgan (1970) mengenai ukuran sampel yang diperlukan untuk ukuran-ukuran populasi tertentu, dihitung dengan tingkat kesalahan 5% (Sugiyono; 2002; 63). Sebagai tuntunan untuk pemilihan ukuran sampel, Gay (1996; 125) menyatakan: untuk populasi kurang dari 100, maka sampel adalah keseluruhan populasi; jika populasi sekitar 500, maka dipilih sampel 50%; jika populasi sekitar 1.500, maka sampel adalah 20%; jika populasi sekitar 5.000, ukuran populasi hampir tidak relevan dan sebuah sampel berukuran 400 akan sangat memadai. Penentuan ukuran sampel secara tradisional adalah menggunakan pendekatan statistik, dan di antara pendekatan yang populer adalah pendekatan Yamane (1973; 227).

Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a.Data primer diperoleh dengan menggunakan instrumen atau alat kuesioner berisi sejumlah pertanyaan tertulis yang terstruktur untuk memperoleh informasi dari responden.

b.Data skunder dalam penelitian ini diperoleh dari mempelajari buku-buku literatur, penelitian-penelitian sebelumnya, laporan-laporan dan perusahaan yang menjadi objek penelitian, data dari instansi yang terkait (ada hubungannya dengan industri yang diteliti)

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a.Wawancara : teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara berkomunikasi secara langsung

b.Observasi : teknik ini dilakukan dengan cara pengamatan terhadap tingkat laku dan kegiatan dari responden tanpa pengajukan pertanyaan apapun kepada responden.

c.Kuesioner (angket) : teknik pengumpulan data dengan memberikan atau menyebarkan daftar pertanyaan kepada responden dengan harapan mereka akan memberikan respon atas daftar pertanyaan tersebut. Hal ini berkaitan dengan data primer yang dibutuhkan oleh peneliti.

Analisa Data

a. Metode Analisa Deskriptif

(9)

b. Metode Analisa Statistik Inferensial

Analisa inferensial bertujuan menguji nilai hipotesis variabel. Analisis terhadap data menggunakan pendekatan dua tahap (two-step

approach), yakni pertama melakukan

analisis terhadap model pengukuran

(measurement model) dan kedua

adalah melakukan analisis terhadap model struktural. Pengujian terhadap model struktural menggunakan fasilitas SPSS Versi 16.0.

Model Analisis

Model analisis yang digunakan untuk menganalisis pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen adalah model regresi linier berganda (multiple linier regresiaon method). Model analiasis statistik ini dipilih karena dalam penelitian ini dirancang untuk meneliti variabel independent yang berpengaruh terhadap variabel dependent, dengan menggunakan data time series cross section (pooling data). Model penelitian ini diharapkan dapat menggambarkan apakah semua faktor penjelas (independen) berpengaruh baik bersama-sama maupun secara persial terhadap variabel dependen. Model tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:

Y = a + b1x1 + b2x2 + b3x3

Y = pendapatan pekerja wanita

X1 = faktor prajudice

X2 = faktor Informasi tidak sempurna

X3 = faktor Promosi

Hasil Pembahasan

Analisis mengenai hasil pengolahan data dalam rangka menguji hipotesis yang telah ditentukan, serta pembahasan terhadap analisis data tersebut secara rinci yaitu untuk mengetahui faktor -faktor yang menyebabkan terjadinya diskriminasi pada pekerja di sektor industri, faktor yang menyebabkan diskriminasi yang

mana paling signifikan berpengaruh terhadap diskriminasi pekerja di sektor industri serta dampak yang ditimbulkan oleh diskriminasi pada pekerja terhadap pendapatan di sektor industri

Survey telah dilakukan terhadap 260 responden dari 2.600 tenaga kerja laki-laki dan perempuan yang bekerja di sektor industri menengah yang berada di kota Palembang. Untuk melihat pengaruh prajudice (X1), informasi tidak sempurna

(X2) dan promosi (X3) terhadap adanya

diskriminasi pendapatan antara tenaga kerja laki-laki dan perempuan.

Pada penelitian ini data diperoleh dengan pengisian kuesioner bersifat kualitatif dengan menggunakan skoring. Masing-masing variabel diajukan untuk memilih jawaban : Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Cukup ( C ), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS), sedangkan skoring untuk masing-masing jawaban tersebut adalah SS =5, S=2, C=1, TS= 4 dan STS=5

Berdasarkan data hasil kuesioner terlihat pada tabel yang dioleh dengan SPSS versi 16,00 diperoleh besarnya pengaruh masing-masing variabel independent X1,X2,X3 terhadap variabel

dependent (Y) dengan hasil sebagai berikut:

Pengujian variabel-variabel X (variabel bebas) secara parsial (individu)

Pengujian variabel X1, X2, X3

dilakukan dengan prosedur sebagai berikut

1. Uji Koefisien Determinan (R2) dan Uji Korelasi (R)

a. Uji Koefisien Determinan. Nilai R2 = 0,002 atau 0,2% Hal ini berarti variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat secara simultan sebesar 0,2%. b. Uji Korelasi.

(10)

mempengaruhi variabel terikat dan sedang tidak diteliti dalam penelitian ini sebesar 93,4%.

2. Membuat hipotesis H0: b1 = 0

Artinya tidak ada pengaruh antara variabel X1, X2, X3 dengan

variabel Y pendapatan ekonomi tenaga kerja wanita disektor industri

Ha : b1 ≠ 0

Artinya ada pengaruh antara variabel X1, X2, X3 dengan

variabel Y pendapatan ekonomi tenaga kerja wanita disektor industri

Dari nilai F Hitung = 0,181 atau nilai sig = 0,909, maka dapat dikatakan bahwa dalam penelitian ini H0 diterima, hal ini

berarti pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dinilai sangat kecil.

3. Uji Regresi Persamaan regresi

Y = 21,942 + 0,008X1– 0,030X2

+ 0,048X3

a. Nilai konstanta sebesar = 21,942.

b. Nilai koefisien X1, jika

dinaikkan 1 point maka nilai Y akan naik sebesar 0,008 point.

c. Nilai koefisien X2, jika

dinaikkan 1 point maka nilai Y akan turun sebesar 0,030 point.

d. Nilai koefisien X3, jika

dinaikkan 1 point maka nilai Y akan naik sebesar 0,048 poin.

4. Uji Variabel – variabel X yang paling signifikan.

Dari hasil olah SPSS maka didapat bahwa variabel X1

sebesar 0,006, varibel X2 sebesar

0,021 dan variabel X3 sebesar

0,041. Maka yang paling besar berpengaruh adalah variabel X3

yaitu Promosi.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan hasil penelitian sebagaimana pada bab-bab diatas, maka berikutkesimpulan dari penelitian ini sebagai berikut:

1. Faktor prajudice berpengaruh positif terhadap pendapatan pekerja wanita dimana faktor prajudice naik satu point akan mempengaruhi sebesar 0,008 atau 0,8% point pendapatan wanita pekerja disektor industri.

2. Faktor Informasi tidak sempurna berpengaruh negatif terhadap pendapatan pekerja wanita dimana faktor informasi tidak sempurna naik satu point akan menurunkan sebesar 0,030 atau 0,30% point pendapatan wanita pekerja disektor industri

3. Faktor promosi berpengaruh positif terhadap pendapatan pekerja wanita dimana faktor promosi naik satu point akan mempengaruhi sebesar 0,048 atau 4,80% point pendapatan wanita pekerja disektor industri

4. Faktor prajudice, informasi tidak sempurna dan promosi secara bersama-sama mempengaruhi pendapatan wanita pekerja sebesar 0,002 atau sebesar 0,2%

Saran

Berdasarkan hasil kesimpulan diatas maka sarankan agar perusahaan lebih memperhatikan faktor prejudice dan promosi, karena kedua variabel ini sangat berpengaruh terhadap pendapatan wanita pekerja disektor industri yang berkategori menengah.

DAFTAR PUSTAKA

Angel, L.Ruiz., 2009. Wage Gap By Gender Puerto Rico And Other Countries. University of Puerto Rico.

(11)

Perspektif untuk Studi Gender Kedepan. Fakultas Ekonomi Universitas Udayana.

Biro Pusat Statistik. 2007.

Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia, Jakarta. BPS

Claudia Goldin. Gender Gap http://www.econlib.org/libr ary/Enc/Gender Gap 28/02/2011

Dowling Sophie. 2008. Analisis Gender: Sebuah Panduan Pengantar. Resource Management in Asia Facific Program Australian National University.

Ferdinand, A.2006., Metode Penelitian Manajemen: Pedoman Penelitian Untuk penulisan Skripsi, Tesis dan Disertasi Ilmu

Manajemen, Badan

Penerbit Universitas Diponegoro Semarang.

Harmona Daulay 2006. Buruh Per empuan di Industri Manufaktur Suatu Kajian dan Analisis Gender. Fisip

USU

Hillary M.Lips, 2003, The Gender Pay Gap: Concrete Indicator of Womens Progress Towart Equality, Analyse of Social Issue and Public Policy, Vol 3 No.1, 2003, pp, 87-109

Istijanto, 2008, Riset Sumber Daya Manusia: Cara Praktis Mendeteksi Dimensi-dimensi Kera Karyawan

PT, Gramedia Pustaka Utama Jakarta

International Labor Office, Jakarta.

2005. Strategi

Pengarusutamaan Gender.

Kantor Perburuhan International Jakarta.

International Labor Office Jenewa. 1999. Action Plan on Gender Maintreaming and Gender Equality (Rencana Aksi Pengarusutamaan Gender dan Kesetaraan Gender)

Judith E Gray-Bowen, Miami-Dade Country Public Schools,Gender Compensation Discrimination: an

Exploration of Gender Compensasi Gap and Higher Education Convention, Journal of Business Studies Quarterly, 2010 Vol 2 No.1. ppl 65-82

Khotimah Khusnul. 2009.

Diskriminasi Gender Terhadap Perempuan Dalam Sektor Pekerjaan.

Stain Purwokerto.

Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). http:/www.seputar- indonesia.com/21/02/2011 19:36

Pratiwi Linda, 2009, Marginalisasi Per empuan Dalam Industri dan Pengaruhnya

Terhadap

Kesejahteraan Keluarga Pekerja, Institut Pertanian Bogor.

Syarif Muhammad. 2007.

Karakteristik Dinamis Pekerja Sektor Industri: Analisa produktivitas dan Fungsi Upah Pekerja pada Industri Udang Beku di Kota Makasar.

The Council of Economic

(12)

Techno Hardware. Gaji Pekerja IT Wanita Labih Rendah 28% Ketimbang Pria

http://techno.Oke/21/2/201 3;

Wikipedia, Encyclopedia. Male-Female Income Disparity in The United States. Main Article Gender Pay Gap.

Yuping Z, Emily H, Meiyan W. 2008. Gender-Based Employment and Income Differences in Urban China:

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian, tuturan di atas merupakan sebuah pernyataan bahwa tuturan tersebut termasuk ke dalam tindak tutur ilokusi, karena penutur mengatakan perkataan atau tuturan

Menjawab rumusan masalah penelitian, (1) jenis deiksis apa sajakah yang terdapat dalam roman di atas menunjukkan bahwa ada empat jenis deiksis, yakni deiksis persona,

akuntansi mengenai struktuk kepemilikan perusahaan, intangible asset dan intellectual capital , serta nilai perusahaan. 3) Memberikan pengembangan pada ukuran-ukuran konseptual

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) hasil belajar siswa yang diberikan strategi pembelajaran PBL lebih tinggi dari siswa yang diberikan strategi

merencanakan arah jabatan atau karier. Bagi siswa yang masih kesulitan dalam.. menentukan kariernya, maka di sekolah SMA Gapura ini terdapat konselor

 Peningkatan kadar dan aktivitas hormon-hormon FSH dan estrogen yang disebabkan tidak adanya hormon LH dan pengaruhnya karena produksinya telah dihentikan oleh peningkatan

Pengukuran nilai paralaks pada foto udara dengan alat stereoskop adalah pengamatan yang dilakukan dengan cara melihat objek yang ada pada 2 lembar foto udara yang memiliki nomor

Empat kunci penting agar pelaksanaan perkuliahan menggunakan strategi kolaboratif berbasis masalah dapat menjadi kegiatan belajar-mengajar yang berpotensi mengembangkan beberapa