• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Memilih Saham Yang Bagus Memaha

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Strategi Memilih Saham Yang Bagus Memaha"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Strategi Memilih Saham Yang Bagus,Memahami Overreaction di Pasar Modal

dan teori dow

Strategi Memilih Saham Yang Bagus

MUNGKIN ada yang ingin berinvestasi di pasar modal, tapi pertanyaannya adalah bagaimana kita dapat memilih investasi saham yang bagus?

Perlu diketahui, informasi saja tidaklah mencukupi, sebagai investor kita perlu untuk mengenal beberapa strategi yang biasa dilakukan oleh para analis saham.

Dengan menjadi nasabah suatu perusahaan sekuritas yang baik, kita akan memperoleh laporan analisis terkini. Kita juga bisa melengkapi informasi tersebut dengan informasi yang mungkin kita peroleh dari perusahaan itu sendiri atau dari surat kabar.

Price to earning ratio

Price earning ratio (PER atau P/E) adalah cara mengukur seberapa besar investor menilai laba yang dihasilkan perusahaan. Perhitungan rasio ini dilakukan dengan membagi harga saham di bursa efek dengan laba bersih per saham.

Rasio PER sangat penting untuk dipahami bagi para investor saham. Jumlah laba perusahaan yang dihasilkan akan memengaruhi jumlah dividen yang bisa dibayarkan kepada pemegang saham. Jika labanya meningkat, potensi dividen yang akan diberikan juga akan meningkat, walaupun belum tentu selalu demikian, karena terdapat kebijakan perusahaan yang diputuskan melalui Rapat Umum Pemegang Saham mengenai jumlah laba yang dibayarkan (dividen) kepada pemegang saham. RUPS dapat memutuskan bahwa tidak ada pembagian dividen karena seluruh laba akan ditahan. Namun hal tersebut bersifat kasuistis.

Secara umum, saham dengan PER atau P/E yang lebih rendah dari perusahaan sejenis sering disebut sebagai saham murah atau undervalue, sehingga memberikan daya tarik tersediri bagi investor untuk membelinya. Namun, saham perusahaan yang bagus sering kali diburu para investor sehingga harga menjadi sangat tinggi yang mengakibatkan PER menjadi tinggi. Sementara saham yang tidak diburu para investor, harganya rendah yang mengakibatkan PER-nya rendah. Kita harus jeli memilih saham perusahaan yang bagus dengan PER yang rendah. Sebaiknya kita menggunakan dan melihat rasio PER sebuah perusahaan dalam suatu periode yang cukup lama. Jadi kita akan melihat PER perusahaan berdasarkan tren perubahan angka PER secara historis.

Dividen yield

(2)

untuk investor. Dengan memerhatikan angka dividen yield, sebagai investor kita dapat melihat dan mencari saham perusahaan yang sehat dan memiliki potensi pertumbuhan laba yang bagus.

Strategi pemilihan saham

Ada beberapa strategi yang sering dipergunakan dan cukup populer di kalangan investor yakni:

1. Teori pertumbuhan

Teori ini mengembangkan analisis terhadap sebuah perusahaan dalam sebuah industri dengan data yang menunjukkan pertumbuhan dari satu periode bisnis ke periode bisnis selanjutnya. Kita harus dapat mencari perusahaan yang memiliki angka pertumbuhan yang lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Teori ini secara tersirat menyatakan keinginan investor untuk mendapatkan keuntungan dari segi pertumbuhan modal melalui pendapatan dari dividen. Bila investor dapat memilih atau menemukan sebuah perusahaan yang berada dalam tingkat pertumbuhan dan perusahaan tersebut menjadi pemimpin di dalam industri, investor kemungkinan besar akan mendapatkan keuntungan cukup besar.

2. Value investing

Teori value investing secara umum adalah mencari atau menganalisis saham-saham perusahaan yang memiliki kualitas baik seperti neraca keuangan yang kuat, dsb. Namun saham-saham tersebut dihargai di bawah harga semestinya atau undervalued oleh bursa saham. Harga yang rendah atau undervalued yang terjadi, bisa disebabkan menurunnya kinerja perusahaan ataupun karena industrinya sedang tidak dalam kondisi yang menguntungkan.

Para investor yang melakukan analisis dengan teori ini mencari saham-saham perusahaan kuat yang saat ini kurang diminati para investor di bursa saham. Sebagai indikator awal, yang dapat kita lakukan adalah dengan melihat rasio PER yang rendah dari sebuah perusahaan. Menentukan rasio PER tinggi atau rendah memerlukan data atau informasi historis dari perusahaan tersebut.

Selain rasio PER, kita juga dapat melihat rasio dividen yield bila mengunakan teori ini. Semakin besar dividen yield yang ditawarkan, umumnya akan memberikan potensi pengembalian yang tinggi pula.

3. Dividen growth

Melalui teori ini maka investor dapat menggunakan strategi untuk memilih saham-saham perusahaan yang selalu meningkatkan dividennya dalam jangka waktu yang panjang. Sebagai contoh, jika suatu perusahaan selalu menaikkan dividen yang dibayarkan kepada investor selama 10 tahun perusahaan tersebut beroperasi, investor dapat memutuskan membeli saham perusahaan tersebut jika menggunakan strategi ini.

(3)

Apa pun strategi yang digunakan, sebenarnya jika kita sudah memilih saham perusahaan yang memiliki fundamental yang bagus, tentunya dengan analisis yang baik, dalam jangka panjang keputusan ini biasanya akan memberikan tingkat keuntungan yang cukup memadai. Namun umumnya karena kurang siapnya investor untuk mengatasi penurunan drastis dari harga saham tersebut dalam jangka pendek, investor tersebut segera menjual saham tersebut sehingga mengalami kerugian. Bila kita berinvestasi di saham, kita harus memiliki jangka investasi yang cukup panjang untuk mengantisipasi penurunan harga saham yang mungkin saja terjadi dalam beberapa waktu. Namun berdasarkan pengalaman, bila investor sudah menganalisis fakta-fakta atau informasi dengan hati-hati, menggunakan akal sehat, menginvestasikannya untuk periode jangka panjang, dan memiliki kesabaran, investasi saham dapat dipilih menjadi alternatif investasi yang menguntungkan..

Memahami Overreaction di Pasar Modal

Fenomena overraction di pasar modal adalah terjadinya penyimpangan harga aset (saham) dari harga wajarnya (fair value) dikemukakan DeBondt & Thaller. Penyimpangan yang terjadi dapat dikategorikan ke dalam 2 (dua) kelompok yaitu overvalued dan undervalued. Overvalued dapat dimaknai apabila harga saham dinilai terlau tinggi dibandingkan harga wajarnya, sebaliknya jika dinilai terlau rendah dinamakan undervalued. Harga saham yang mengalami overvalued atau undervalued dari harga wajarnya (mispricing). Secara umum, apabila sebagian besar harga saham-saham dengan kapitalisasi pasar yang besar mengalami mispricing, maka pasar modal BEI dapat dikategorikan kurang efisien karena dianggap tidak dapat merefleksikan substansi informasi/news perekonomian dengan wajar.

Overreaction tersebut dimungkinan terjadi karena para pelaku pasar, terutama investor dan traders, sebagian melakukan transaksi saham secara tidak rasional bahkan cenderung emosional terhadap seluruh informasi yang masuk ke bursa. Terlebih jika informasi yang diterima pasar adalah berita buruk (bad news), maka para investor cenderung menilai saham terlalu rendah (underweight) dari nilai wajarnya (intrinsic value) sehingga saham menjadi undervalued. Begitu pula jika yang diterima pasar good news, pasar cenderung menilai berlebih atas nilai informasi yang diterima (overweight) yang mengakibatkan harga saham mengalami overvalued. Maka harga yang berlaku di pasar modal cenderung mengalami distorsi pada saat pembentukan harganya (price formation).

(4)

Saham-saham yang sebelumnya sangat diminati investor (winner), setelah kurun waktu tertentu menjadi kurang peminat dan mengalami koreksi harga melalui aksi jual berlebih (oversold) yang menyebabkan harganya turun terlalu dalam sehingga mengalami undervalued. Sebaliknya, saham-saham yang sebelumnya mengalami undervalued atau losser karena penilaian negatif berlebih berbalik menjadi incaran investor. Dengan demikian harganya mengalami peningkatan berlebih kembali (overvalued). Return saham dapat terbalik secara berlebih akibat aksi

perdagangan yang overreaction tersebut. Sehingga saham-saham dengan abnormal return positif (winner) dapat berubah menjadi negatif (losser), begitu pula sebaliknya.

Masalah overreaction di BEI tentu menimbulkan masalah bagi para investor selama ini karena mereka melakukan keputusan transaksi terhadap saham/aset tanpa mengetahui nilai wajar yang sebenarnya. Akibatnya, para investor dikategorikan melakukan fad trading secara masif dan sistemik sehingga harga yang terbentuk tidak sesuai dengan valuasinya. Frekuensi price reversal menjadi tinggi yang mana masuknya informasi ke bursa, dengan konten bagus atau buruk, akan direspon oleh overreaction dan price correction berulang-ulang. Situasi ini juga mempengaruhi tingkat efisiensi BEI secara keseluruhan karena harga saham tidak sesuai dengan kandungan informasi yang masuk bursa, baik informasi historis, publik ataupun private. Mekanisme

overreaction dan price correction tersebut menciptakan margin of safety yang cukup besar untuk melakukan strategi value investing ala Warren Buffet atau contrarian strategy.

Dow Theory

Umurnya sudah lebih dari 100 tahun dan teori ini telah banyak dijadikan dasar dalam melakukan analisa teknikal. Teori Dow diformulasikan dari serangkaian artikel di Wall Street Journal yang digawangi oleh Charles H. Dow dari 1900 sampai 1902, dimana ia meninggal dunia. Editorial dan artikel ini menggambarkan keyakinan Dow mengenai bagaimana pasar saham berperilaku dan bagaimana pasar dapat dijadikan ukuran dalam melihat lingkungan bisnis.

Dow belum sempat menerbitkan teori lengkapnya terhadap pasar, tetapi beberapa rekan dan pengikutnya telah mempublikasikan hasil kerjanya yang telah diperluas ruang lingkupnya.

Dow yakin bahwa pasar saham secara keseluruhan adalah sebuah patokan yang terpercaya mengenai kondisi bisnis didalam ekonomi dan dengan menganalisa keseluruhan pasar, seseorang dapat dengan akurat melihat kondisi tersebut dan mengidentifikasi arah pergerakan pasar.

Teori pertamanya ia gunakan untuk membentuk Dow Jones Industrial Index dan Dow Jones Rail Index (sekarang indeks transportasi), yang sebenarnya dikumpulkan oleh Dow untuk Wall Street Journal. Dow menciptakan indeks-indeks ini karena ia merasa mereka adalah gambaran akurat dari kondisi bisnis didalam ekonomi karena mereka mencakup dua segmen ekonomi utama yaitu industri dan transportasi. Walaupun indeks-indeks tersebut telah mengalami banyak perubahan dalam 100 tahun terakhir, teorinya masih digunakan pada indeks pasar saat ini.

(5)

alasan ini, pelaku pasar dan trader seharusnya mengetahui enam elemen dasar dari Dow Theory.

I. Pasar Mendiskon Apapun

Elemen mendasar pertama dari teori Dow mengemukakan bahwa semua informasi, baik saat ini, masa lalu bahkan masa depan, telah didiskon atau diserap kedalam pasar dan tercermin pada harga saham dan indeks.

Informasi tersebut termasuk semuanya mulai dari emosi investor sampai ke data inflasi atau data ekonomi lainnya, juga pengumuman laporan keuangan perusahaan yang akan dibuat setelah pasar tutup. Berdasarkan asumsi ini, informasi yang tidak termasuk adalah sesuatu yang tidak diketahui seperti bencana alam. Tetapi bahkan resiko dari kejadian tersebut telah diserap kedalam pasar.

Penting untuk diingat bahwa ini tidak menggambarkan kemampuan dari pelaku pasar atau bahkan pasar itu sendiri untuk mengetahui kejadian di masa depan. Lebih kearah, dalam beberapa periode waktu, semua faktor yang telah terjadi dan diekspektasi akan terjadi telah diserap oleh pasar. Seiring adanya perubahan, seperti resiko pasar, pasar menyesuaikan hal ini dengan harga, merefleksikan informasi baru.

Ide bahwa pasar mendiskon apapun sebenarnya bukan hal baru bagi analis teknikal, karena ini adalah dasar yang digunakan oleh banyak alat analisa teknikal. Karenanya, dalam analisa teknikal, seseorang hanya perlu melihat pergerakan harga, dan tidak faktor lain seperti neraca keuangan.

Seperti analisa teknikal utama lainnya, teori Dow sangat berpatokan pada harga. Namun, teori Dow lebih menitikberatkan pada pasar secara keseluruhan daripada hanya beberapa saham tertentu.

Jadi teori Dow ini menitikberatkan pada analisa pasar secara keseluruhan melalui pergerakan harga sebuah indeks saham dari pasar modal. Juga patut diperhatikan bahwa teori Dow ini berfokus pada pergerakan harga dan tren indeks, implementasi juga bisa digabungkan dengan elemen analisa fundamental. Walaupun begitu banyak pihak mengatakan bahwa teori Dow lebih cocok sebagai alat analisa teknikal.

II. Pasar Tiga Tren

Bagian penting dari teori Dow adalah mengenali arah pasar secara keseluruhan. Untuk bisa melakukan ini, teori Dow menggunakan analisa tren.

Nah, dengan begitu anda harus mengerti terlebih dahulu mengenai metode analisa garis tren. harga memang bergerak dalam sebuah arah umum tetapi bukan berarti harga bergerak dalam garis lurus. harga akan cenderung membentuk harga tertinggi (peak) lalu kemudian membentuk low (trough), tetapi akan cenderung bergerak dalam satu arah.

Umumnya tren dibagi menjadi tiga jenis, yaitu naik (uptrend), turun (downtrend), dan

(6)

ketika pergerakan harga tersebut membentuk low (trough), trough ini tidak boleh melewati trough sebelumnya. Berlaku sebaliknya untuk tren turun.

Teori Dow mengidentifikasi tiga jenis tren dalam pasar yaitu primer, sekunder, dan minor. Sebuah tren primer adalah tren yang paling besar dan bertahan lebih dari satu tahun, sedangkan tren sekunder adalah tren menengah yang bertahan tiga minggu sampai tiga bulan dan sering diasosiakan sebgai pergerakan yang berlawanan dengan tren primennya. Dan yang teakhir, tren minor, bertahan kurang dari tiga minggu dan diasosiasikan sebagai pergerakan didalam tren menengah.

Tren Primer

Dalam teori Dow, tren primer adalah sebuah tren mayor (besar) yang terjadi didalam pasar, dimana menjadi yang paling penting untuk ditentukan. Hal ini karena tren besar ini akan mempengaruhi semua pergerakan harga dan juga akan mempengaruhi tren sekunder dan minor. Dow mengatakan bahwa tren primer biasanya akan berlangsung antara satu sampai tiga tahun tetapi masih bisa bervariasi.

Dengan tidak mengecualikan panjang waktu tren, tren primer masih akan memiliki efek sampai adanya konfirmasi pembalikan arah (reversal). Sebagai contoh, jika dalam sebuah tren naik harga ditutup dibawah harga terendah sebelumnya yang dibentuk melalui trough, ini dapat menjadi sinyal bahwa pasar bergerak ke arah bawah, dan tidak bergerak ke harga yang lebih tinggi.

Dalam menganalisa tren, salah satu yang paling sulit adalah untuk menentukan seberapa lama pergerakan harga akan berlangsung dalam tren primer sebelum nantinya berbalik arah. Aspek paling penting adalah mengidentifikasi arah tren ini dan membuat posisi yang searah, bukan melawannya, ingat tren adalah teman, sampai adanya sinyal bahwa tren primer akan berbalik arah.

Tren Sekunder

Kalau tren primer adalah arah utama dalam pergerakan harga pasar. Sebaliknya, tren sekunder bergerak berlawanan arah denagn tren primer, atau sebagai koreksi dari tren primer.

Sebagai contoh, jika tren primernya adalah naik maka tren sekunder adalah pergerakan koreksi dari tren primer atau pembentukan harga terendah yang lebih tinggi dari harga terendah

sebelumnya. Berlaku juga untuk kebalikannya jika tren primernya adalah turun.

Karena tren sekunder ini dianggap sebagai pergerakan koreksi dari tren primer, yang perlu diingat adalah pergerakan koreksi ini tidak menjadi pembalikan arah atau reversal.

(7)

retracement dari tren sekunder berkisar antara sepertiga sampai duapertiga dari pergerakan tren primer. Contoh, jika tren primer sebuah indeks saham bergerak dari 10,000 sampai 13,000 (3,000 poin), maka tren sekundernya diharapkan akan membuat indeks tadi turun setidaknya 1,000 poin (sepertiga dari 3,000 poin).

Karakter penting lainnya dari tren sekunder adalah pergerakan harga di tren ini cenderung lebih fluktuatif dibandingkan dengan tren primernya.

Tren Minor

Tipe terakhir dari tiga jenis tren dalam teori Dow, tren minor, umumnya berlangsung kurang dari tiga minggu. tren minor secara umum adalah pergerakan koreksi dari tren

sekunder.

Karena tipikalnya yang jangka pendek dan fokus jangka panjang pada teori Dow, tren minor bukan merupakan perhatian utama bagi orang-orang yang menggunakan teori ini. Tetapi bukan berarti ini menjadi tidak relevan, tren minor harus diperhatikan karena menjadi bagian dari tren yang lebih besar yaitu sekunder dan primer.

Fokus dan perhatian utama dari teori Dow adalah tren primer dan sekunder, sedangkan tren minor hanya dianggap sebagai pelengkap saja. Jika terlalu banyak berfokus pada tren minor, ini bisa memicu adanya transaksi yang tidak rasional karena trader perhatiannya akan terganggu oleh pergerakan harga jangka pendek dan kehilangan pandangan jangka panjang.

III. Tiga Fase Tren Primer

Karena tren primer adalah tren yang paling vital untuk dipahami, teori Dow mengkategorikan tiga fase yang terjadi didalam sebuah tren primer, yaitu fase akumulasi (distribusi), fase

partispasi publik, dan fase pelampauan (excess). Coba kita tengok bagaiman aplikasi ketiga fase ini dalam pasar bullish dan bearish.

Pasar Bullish (Tren Primer Naik) Fase Akumulasi

Fase awal terbentuknya pasar bullish adalah fase akumulasi, yang merupakan dimulainya pergerakan tren naik. Ini juga dianggap sebagai titik dimana investor-investor yang mengetahui mengambil posisi dipasar.

Fase akumulasi biasanya muncul diakhir sebuah tren turun, ketika semuanya terlihat buruk. Tetapi fase ini juga merupakan waktu ketika pasar berada dilevel paling menarik karena pada titik ini kebanyakan berita buruk telah diserap oleh pasar, karena itulah downside risk-nya menjadi terbatas dan menawarkan valuasi yang menarik.

(8)

Dari sisi teknikal, awal dari fase akumulasi ini ditandai dengan dimulainya fase konsolidasi di pasar. Ini terjadi ketika tren turun mulai terlihat datar seiring dengan tekanan jual yang

berkurang.

Sebuah tren naik baru akan dikonfirmasi jika harga tidak membuat harga terendah baru jika dibandingkan dengan harga terendah sebelumnya.

Fase Partisipasi Publik

Ketika investor-investor yang memiliki informasi masuk pasar pada fase akumulasi, mereka melakukannya dengan asumsi bahwa yang terburuk telah berakhir dan pemulihan akan terjadi kedepannya. Seiring dengan kenaikan di fase ini, tren primen baru masuk kdelam fase yang dikenal dengan istilah fase partisipasi publik.

Di fase ini, sentimen negatif mulai berkurang seiring dengan kondisi bisnis yang semakin baik. Jika kabar-kabar baik mulai mengisi pasar, akan ada lebih banyak investor yang akan kembali masuk pasar.

Fase ini bukan hanya menjadi fase terpanjang, tetapi juga salah satu yang dibarengi oleh pergerakan harga terbesar.

Fase Pelampauan

Seiring dengan semakin besarnya kenaikan harga yang disebabkan kondisi bisnis yang baik dan jumlah pelaku pasar yang masuk semakin banyak, disinilah fase pelampauan dimulai.

Fase terakhir dalam tren naik ini adalah waktu bagi investor pintar untuk mulai keluar pasar. Dititik ini persepsinya adalah semuanya berjalan sangat baik dan hanya hal baik yang ada didepan. Dititik ini juga biasanya pembeli terakhir masuk pasar setelah terjadi kenaikan harga yang besar. Sayangnya mereka membeli disaat harga mendekati nilai tertinggi.

Selama fase ini, banyak perhatian harus diberikan pada sinyal-sinyal akan adanya pelemahan karena bisa saja menjadi pertanda bahwa tren naik akan berakhir dan akan berganti menjadi tren turun.

Pasar Bearish (Tren Primer Turun) Fase Distribusi

Fase pertama dalam pasar bearish adalah fase distribusi, periode dimana pelaku pasar yang telah mendapatkan keuantungan mulai menjual (mendistribusikan) posisi mereka. Fase ini berlawanan dengan fase akumulasi pada pasar bullish. Pada fase ini, sentimen keseluruhan masih terus optimis dengan ekspektasi bahwa pasar akan terus bergerak naik.

Sama seperti fase akumulasi, fase distribusi juga sulit untuk diidentifikasi ditahap-tahap awal. Sebuah tren penurunan akan terkonfirmasi jika harga gagal membentuk tertinggi baru

dibandingkan dengan tertinggi sebelumnya.

Fase Partisipasi Publik

(9)

mendasarnya adalah mulai banyak pelaku pasar yang melepas posisinya dan kondisi pasar semakin buruk serta sentimen menjadi lebih negatif. Pasar akan terus bergerak turun seiring dengan naiknya aksi jual pelaku pasar.

Fase Panik

Ini adalah fase terakhir dari tren bearish yang memiliki kecenderungan adanya kepanikan yang ditandai dengan adanya aksi jual dalam jumlah yang sangat besar dengan waktu yang relatif singkat. Dalam fase panik ini, pasar diliputi sentimen negatif termasuk data ekonomi yang lemah dan bisnis perusahaan yang memburuk.

Biasanya banyak investor akan melepas posisinya dengan 'kepanikan' dan mereka-mereka ini adalah yang masuk pasar di fase pelampauan. Tetapi ketika pasar terlihat dilevel terburuknya fase akumulasi biasanya dimulai dan tren primer naik bisa mulai menunjukkan dirinya dan ini artinya siklus berulang dengan sendirinya.

IV. Indeks Pasar Harus Saling Mengkonfirmasi

Menurut teori Dow, pembalikan arah besar dari pasar bullish ke pasar bearish, atau sebaliknya tidak dapat disinyalisasikan kecuali kedua indeks (secara tradisional adalah Dow Jones Industrial dan Dow Jones Rail Averages) dalam sebuah kesamaan. Gampangnya, jika salah satu indeks mengkonfirmasi adanya sebuah tren primer naik baru tetapi indeks lainnya masih dalalm tren primer turun, sulit untuk mengasumsikan bahwa sebuah tren baru telah dimulai.

Alasan untuk hal ini bahwa sebuah tren primer, baik naik ataupun turun, adalah arah keseluruhan bagi pasar saham, dimana dalam teori Dow adalah cerminan dari kondisi bisnis pada ekonomi. Ketika pasar saham berkinerja baik, itu karena kondisi bisnis dalam keadaan baik, dan ketika pasar saham berkinerja buruk, hal itu disebabkan oleh buruknya kondisi bisnis. Jika kedua indeks Dow tersebut berada dalam sisi yang bertentangan, berarti belum ada kejelasan tren kondisi bisnis.

Jika kondisi bisnis menyebabkan indeks pasar utama bergerak ke arah berlawanan, kejanggalan ini mengindikasi bahwa tren primer akan sulit terbentuk. Ketika mencoba untuk mengkonfirmasi tren primer baru, karenanya, sangat vital bahwa lebih dari satu indeks menunjukkan sinyal yang sama dalam periode waktu yang relatif tidak jauh. Jika ada kesamaan dalam pergerakan indeks-indeks ini, ini adalah pertanda bahwa kondisi bisnis bergerak ke arah yang ditunjukkan.

Karenanya, kenaikan indeks memberikan sinyal sebuah tren naik baru.

V. Volume Harus Mengkonfirmasi Tren

Dalam teori Dow, sinyal utama untuk melakukan beli dan jual berdasarkan pergerakan harga pada indeks. Volume juga digunakan sebagai indikator kedua untuk membantu mengkonfirmasi apa yang diindikasikan oleh pergerakan harga.

(10)

ini adalah bahwa tren naik menunjukkan kekuatan ketika volume naik karena banyak pelaku pasar yang ingin membuat posisi beli dengan keyakinan bahwa momentum naik masih akan berlanjut. Volume rendah selama masa koreksi memberikan sinyal bahwa banyak pelaku pasar belum mau menutup posisinya karena mereka yakin bahwa momentum dari tren primer akan berlanjut.

Kebalikannya, jika volume bergerak melawan tren, ini adalah sebuah tanda adanya pelemahan pada tren yang sedang terjadi. Contohnya, jika pasar dalam keadaan tren naik tetapi volume rendah dalam pergerakan keatas, ini adalah sinyal bahwa aksi beli mulai melemah. Jika pembeli mulai meninggalkan pasar atau berbalik menjadi penjual, hanya ada sedikit peluang bahwa pasar akan meneruskan tren naiknya. Hal yang sama juga terjadi pada kebalikannya ketika pasar sedang dalam tren turun, dimana kalau volume naik merupakan indikasi bahwa lebih banyak pelaku pasar menjadi penjual.

Nah, dalam teori Dow ini, jika tren telah dikonfirmasi oleh volume, mayoritas uang di pasar akan bergerak bersama dengan tren dan bukan melawannya.

VI. Tren Masih Akan Berlanjut Selama Belum Muncul Tanda Reversal Yang Jelas

Alasan utama untuk mengidentifikasi tren adalah untuk menentukan arah keseluruhan dari pasar jadi posisi dapat diambil sesuai dengan arah tren dan bukan melawannya. Seperti diilustrasikan dibagian ketiga, tren bergerak bergantian dari naik menjadi turun dan sebaliknya, sehingga menjadi penting untuk mengidentifikasi transisi antara kedua arah tren tersebut.

Dalam teori Dow, bagian keeanam dan terakhir menyatakan bahwa tren masih terus berlangsung selama tanda-tanda yang ada belum memberikan indikasi jelas bahwa arah telah berubah.

Trader menunggu gambaran jelas mengenai pembalikan arah tren karena tujuannya bukan untuk membuat bingung pembalikan arah sesungguhnya di tren primer dengan tren sekunder atau hanya koreksi singkat. Ingat bahwa sebuah tren sekunder adalah sebuah pergerakan berlawanan arah dari tren primer yang tidak akan terus berlanjut. Misalnya tren primernya naik, tetapi indeks saat ini sedang dalam keadaan turun. Jika seorang investor mengambil posisi jual (short), dengan menyimpulkan bahwa penurunan saat ini adalah sebuah tren turun primer baru, mereka mungkin akan menerima resiko besar ketika tren primer terus berlanjut naik.

Kecuali anda dapat dengan aman menyimpulkan, berdasarkan sinyal-sinyal yang ada, bahwa tren telah berubah, jika tidak anda akan mengambil posisi yang berlawanan dengan arah tren. Sebagai patokan umum, ini bukan sebuah ide yang bijak, karena banyak pihak yang telah menanggung kerugian akibat melawan arah pasar.

VII. Ditel Teori Dow

(11)

Harga Penutupan dan Kisaran Pergerakan

Charler Dow sangat berpatokan pada harga penutupan dan tidak terlalu memusingkan pergerakan intraday dari indeks. Agar sebuah sinyal tren dapat terbentuk, harga penutupan harus

memberikan sinyal tren-nya, bukan pergerakan harga intraday.

Fitur lain dalam teori Dow adalah kisaran pergerakan. Periode pergerakan harga menyamping (sideway) ini dilihat sebagai periode konsolidasi, dan trader harus menunggu pergerakan harga untuk menembus garis tren sebelum menyimpulkan kemana arah pasar. Misalnya, jika harga bergerkan diatas garis tren, kemungkinan pasar akan bergerak dalam tren naik.

Sinyal dan Identifikasi Tren

Satu aspek sulit untuk mengimplementasikan teori Dow adalah identifikasi akurat dari pembalikan arah tren. Ingat, bagi mereka yang mengikuti teori Dow akan mengambil posisi sesuai dengan arah pasar keseluruhan, jadi vital baginya untuk mengidentifikasi titik dimana arah ini berbalik.

Salah satu teknik utama yang digunakan untuk mengidentifikasi pembalikan arah tren adalah analisa harga tertinggi dan terendah (peak & trough analysis). Peak adalah harga tertinggi yang dari pergerakan harga pasar, sedangkan trough adalah harga terendah dalam pergerakan harga pasar. Perlu dicatat bahwa teori Dow mengasumsikan bahwa pasar tidak bergerak dalam garis lurus tetapi dari tertinggi ke terendah, dengan keseluruhan pasar bergerak dalam arah yang memiliki tren.

Sebuah tren naik adalah serangkaian peak yang lebih tinggi dan trough yang lebih tinggi pula secara berurutan.

Sebuah tren turun adalah serangkaian peak yang lebih rendah dan trough yang lebih rendah secara berurutan.

Bagian keenam dari teori Dow adalah tren masih akan berlangsung selama belum ada sinyal pembalikan arah yang jelas. Sama seperti hukum gerak Newton, dimana gerakan sebuah objek cenderung bergerak ke satu arah sampai ada kekuatan yang mengganggu pergerakan tersebut. Hampir serupa, pasar akan terus bergerka dalam sebuah arah primer sampai sebuah kekuatan, seperti perubahan kondisi bisnis, cukup kuat untuk merubah arah dari pergerakan primer.

(12)

secara berurutan menjadi harga tertinggi dan harga terendah yang lebih rendah, yang merupakan sebuah komponen dari tren primer turun.

Pembalikan Arah Tren Naik

Pembalikan arah dari tren primer turun ketika pasar tidak lagi turun ke harga terendah dan tertinggi yang lebih rendah. Hal ini terjadi ketika pasar membentuk harga tertinggi yang lebih tinggi dibandingkan harga tertinggi sebelumnya dan diikuti oleh harga terendah yang lebih tinggi dibandingkan harga terendah sebelumnya, yang merupakan sebuah komponen dari tren naik.

Pembalikan Arah Tren Turun

VIII. Relevansi Saat Ini

Ada sedikit keraguan bahwa teori Dow adalah sebuah hal besar bagi sejarah analisa teknikla. Banyak bagian didalamnya yang merupakan dasar dari apa yang kita kenal saat ini. Aspek dalam teori Dow juga berhubungan dengan teori lain seperti teori Elliott Wave.

Bagaimanapun, karena adaptasi aslinya dan perbaharuan bagian-bagian didalamnya,

relevansinya sebagai teknik analisa independen telah melemah. Alasan untuk ini karena semakin banyaknya teknik dan alat analisa yang lebih komprehensif, dimana merupakan bagian daro teori Dow, tetapi telah dilebarkan cakupannya.

Salah satu permasalahan yang lebih besar dari teori ini adalah bahwa orang-orang yang

mengikuti teori ini dapat melewatkan keuntungan besar karena ukuran konservatif pada sinyal pembalikan arah tren. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sinyak terkonfirmasi ketika terdapat harga tertinggi berurutan (tren naik) atau harga terendah berurutan (tren turun). Bagaimanapun, apa yang sering terjadi ketika pasar telah menunjukkan sinyal jelas mengenai pembalikan arah, pasar telah menghasilkan keuntungan yang besar.

Masalah lain dengan teori Dow selama ini, ekonomi dan indeks yang selama ini digunakan Dow telah berubah. Konsekuensinya, hubungan antara kedua indeks, yang awalnya digunakan Dow untuk analisa, telah melemah. Gambarannya adalah sektor industri dan transportasi bukan lagi hal dominan dalam ekonomi. Teknologi, misalnya, saat ini telah menjadi bagian penting dari produksi dan pertumbuhan ekonomi.

Hal ini menjadi penting karena dasar pengamatan indeks adalah bahwa mereka merupkan leading indicator dari kondisi bisnis. Ekonomi telah secara jelas menjadi lebih tersegmen, membutuhkan analisa lebih banyak indeks, yang dapat mengurangi keakuratan dan patokan waktu dari analisa teori Dow. Bayangkan anda sedang menganalisa enam indeks sambil

menunggu apa yang dikatakan bagian ke empat yaitu indeks pasar harus saling mengkonfirmasi.

(13)

tulisan dan ide teknikal lainnya. Juga penting dalam teori Dow adalah emosi dalam pasar, yang masih merupakan karakteristik dari tren pasar.

Charles Dow dan teori Dow membantu investor untuk menambah pengetahuannya mengenai pasar jadi mereka dapat membaut investasi menjadi lebih baik dan mencapai kesuksesan investasi.

Penutup

Teori Dow mewakili awal dari analisa teknikal. Dengan mengerti teori ini dapat membuat anda lebih banyak mengerti analisa teknikal dan memiliki sebuah pandangan analis mengenai bagaimana mekanisme pasar.

Mari kita rangkum apa yang telah kita diskusikan sebelumnya:

* Teori Dow diformulasikan dari serangkaian editorial Wall Street Journal yang dibuat oleh Charler H. Dow, yang merefleksikan pandangan Dow mengenai bagaimana cara kerja pasar saham dan bagaimana pasar dapat digunakan untuk mengukur kondisi lingkungan bisnis.

* Dow yakin bahwa pasar saham secara keseluruhan adalah sebuah ukuran yang bisa diandalkan dari keseluruhan kondisi bisnis didalam ekonomi dan dengan menganalisa keseluruhan pasar, seseorang dapat secara akurat mendapatkan kondisi tersebut dan mengidentifikasi arah tren pasar utama dan kemungkian arah saham-saham tertentu.

* Pasar mendiskon segalanya

* Teori Dow menggunakan analisa tren untuk menentukan arah mana yang dituju pasar * Tren primer adala tren pasar utama

* Tren sekunder adalah koreksi dari tren primer

* Tren primer dibentuk dalam tiga fase. Untuk tren naik, fasenya adalah fase akumulasi, fase partisipasi publik dan fase ekses. Untuk tren turun, ketiga fasenya adalah fase distribusi, fase partisipasi publik, dan fase panik.

* Indeks pasar harus saling mengkonfirmasi.

* Volume harus mengkonfirmasi tren. Indeks adalah sinyal utama yang mengindikasikan pergerakan sebuah saham, tetapi volume digunakan sebagai indikator kedua untuk membantu adanya konfirmasi dari apa yang diindikasikan oleh pergerakan harga.

* Tren masih akan berlangsung sampai muncul sinyal jelas pembalikan arah

* Dow mengandalkan harga penutupan dalam menentukan tren, nukan pergerakan harga intraday.

* Analisis peak & trough merupakan teknik utama dalam mengidentifikasi tren dalam teori Dow

Referensi

Dokumen terkait

produk yang akan diproduksi Penyimpanan data r n Proses Penentuan Variabel Algoritma Genetik - Ukuran Populasi - Panjang kromosom - Probabilitas crossover dan mutasi - Parameter k

Menerapkan teori Menerapkan teori kinetik gas dalam kinetik gas dalam pemecahan masalah pemecahan masalah Unjuk kerja Unjuk kerja Ceklist pengamatan Ceklist pengamatan pada

Hal ini dikarenakan kecamatan tersebut memiliki jumlah kolong terbanyak dibandingkan dengan Kecamatan Gerunggang dan Gabek sehingga banyak habitat potensial yang dapat

Untuk menyederhanakan permasalahan, kita dapat menggunakan variabel sebagai pengganti kalimat dalam soal; (10) Menyelesaikan masalah yang lebih sederhana atau serupa,

Upaya transfer informasi teknologi pengolahan jagung melalui kegiatan pelatihan adalah cara yang efektif untuk dilakukan pada masyarakat Desa Nanati Jaya yang memiliki

Sel-sel neoplasia memiliki karakteristik seperti, sel neoplasia tidak mematuhi batas pertumbuhan sel yang normal, sel neoplasia kurang melekat satu sama lain dan beberapa

Secara prinsip mereka mengajukan pandangan bahwa bentuk sensor yang dapat diperkenankan adalah 'sensor negatif, yang berarti '[Badan] sensor hanya diperbolehkan melarang film,

kebudayaan Barat, kata "History" yang diekwivalenkan dengan sejarah dalam bahasa Indonesia terhimpun dalam empat pengertian secara harfiyah, yakni : (1)