• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab VII Keuangan Negara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Bab VII Keuangan Negara"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB VII

KEUANGAN NEGARA.

1. Perkembangan Keuangan Negara, jaitu alat jang terpenting bagi Pemerintah untuk melaksanakan kebidjaksanaan dalam segala lapangan, diantaranja dalam bidang ekonomi, menundjukkan bahwa beban jang harus ditanggung oleh Pemerintah adalah berat. Dari angka-angka pengeluaran Pemerintah njata terlihat adanja ketjen-derungan makin meluasnja aktivitet daripada seluruh aparat Peme-rintah, disebabkan oleh karena membubungnja kebutuhan-kebu-tuhan masjarakat. Hal ini dapat disaksikan umpamanja dilapangan pendidikan, jang semendjak penjerahan kedaulatan telah meng-alami kemadjuan jang pesat, namun meskipun begitu masih terasa belum mentjukupi. Sementara itu keamanan dalam negeri djuga memerlukan pengeluaran biaja jang besar (didalam periode 1953 sampai dengan 1957 pengeluaran-pengeluaran untuk Angkatan Pe-rang meliputi l.k. 22—27% dari seluruh pengeluaran Negara) Achir-nja kiraAchir-nja perlu djuga disebutkan sebab lainAchir-nja — disampingAchir-nja kenaikan harga-harga dalam negeri — jang membawakan kenaikan pengeluaran Pemerintah diatas, jaitu meningkatnja kebutuhan dari-pada daerah-daerah Swatantra, jang memerlukan dana-dana jang makin lama makin besar untuk membiajai usaha-usahanja.

2. Selama periode 1953 sampai dengan 1957 pengeluaran Peme-rintah (realisasi) telah menundjukkan kenaikan jang tjepat, seperti digambarkan oleh angka-angka dibawah ini.

PERKEMBANGAN PENGELUARAN NEGARA (dalam djutaan rupiah dan dengan indeks 1953 = 100). Tabel 60.

(2)

1953 1954 1955 1956 1957 1958 (2) Kementerian 3.87,9 3.327,3 3.937,5 4.378,9 6.055,5 11.084,6

Pertahanan (100) (85,8) (101,5) (112,9) (156,2) 286,— (3) Dinas 1.423,9 1.413,2 1.854,7 3.799,6 5.102,2 6.124,2 Perbelandjaan (100) (99,2) (130,2) (266,8) (358,3) (430,1) (4) Pemerintah 1.131,2 1.249,7 1.329,3 1.536,7 1.799,5 2.230,3 Agung (100) (110,4) (117,5) (135,8) (159) (197,1) (5) Kementerian 857,5 856,11 975,1 1.138,— 1.408,5 1.741,7 P.P. dan K. (100) (99,8) (113,7) (132,7) (164,2) (203,1)

Ternjata bahwa pengeluaran Pemerintah seluruhnja telah me-ningkat hampir dua kali lipat dari tingkat pengeluaran dalam tahun 1953. Pos-pos pengeluaran jang terpenting menundjukkan kenaikan, jang berkisar antara 156% dan 358%. Adalah menarik perhatian bahwa pada umumnja angka indeks menundjukkan suatu lontjatan keatas dalam tahun 1956, kedjadian mana terdapat pula pada per-kembangan daripada penerimaan Negara.

3. Segipenerimaan Negara selama masa ini pada umumnja me-nundjukkan pula perkembangan jang meningkat, seperti digambar-kan oleh angka-angka dibawah ini:

PERKEMBANGAN PENERIMAAN NEGARA (dalam djutaan rupiah dan dengan indeks 1953 = 100) Tabel 61.

1953 1954 1955 1956 1957 1958

Djumlah seluruhnja 13.590,5 11.538,6 14.226,5 18.451,5 20.570,6 23.272,6 (100) (84,9) (104,4) (135,6) (151,3) (171.2) Pos-pos penerimaan (2) Bea impor + 3.197 2.174 2.948 6.857 6.196 T.P.I. (100) (68) (92,8) (214,1) (194,4)

(3)

Djika dilihat komponen-komponen jang terpenting, maka per-kembangan jang diperlihatkan oleh penerimaan padjak-padjak langsung adalah menggembirakan, jang telah meningkat setjara berangsur-angsur (steady) dan telah mentjapai angka indeks sebesar 173,9 dalam tahun 1957. Meskipun begitu, tidak dapat dikatakan bahwa kenaikan dalam penerimaan padjak-padjak langsung ini membawa pengaruh terhadap perkembangan penerimaan negara pada keseluruhannja, sebesar pengaruh dari penerimaan-penerima-an T.P.I. + bea masuk.

PADJAK-PADJAK LANGSUNG DAN T.P.I. + BEA IMPOR (dalam persentase dari penerimaan bersih).

Tabel 62.

1953 1954 1955 1956 1957

Padjak-padjak langsung 10,8 28,7 30,3 19,8 20,8

T.P.I. + bea impor 32,9 25,6 28,6 43,5 36,7

(4)

5. KETJENDERUNGAN DARIPADA PENGELUARAN DAN PENERIMAAN NEGARA DINJATAKAN DENGAN

ANGKA-ANGKA INDEKS. Tabel

63.

Pengeluaran Negara Penerimaan Negara

1953 100 100

1954 106,5 84,9

1955 114,7 104,4

1956 140,7 135,6

1957 180,1 151

1958 248,4 171,2

Meskipun pengeluaran dan penerimaan Negara keduanja telah menundjukkan suatu ketjenderungan jang meningkat, namun ada -lah menarik perhatian bahwa angka indeks pengeluaran selalu ada diatas angka indeks penerimaan dalam sesuatu tahun dan per-bedaan menundjukkan djumlah terbesar dalam tahun 1957. Realisasi penerimaan dan pengeluaran septa defisit dari tahun 1953 hingga 1958 dapat dilihat pada tabel 65. Dengan adanja perbedaan dalam besarnja kenaikan antara pengeluaran dan penerimaan, jang rupa-rupanja akan sukar untuk dapat menghapuskannja dalam waktu dekat, perlu hal ini mendapat perhatian sebesar-besarnja. Apalagi djika diingat bahwa penerimaan Negara began tergantung dari volume dan nilai perdagangan luar negeri, terutama impor, jang dalam waktu dekat tidak memberikan harapan-harapan jang besar.

(5)

ANGGARAN BELANDJA.

Tabel 64.

(djutaan rupiah).

Pengeluaran Penerimaan Defisit

1953 — — —

1954 13.561,9 10.970,8 2.591,1

1955 13.991,3 11.992,9 1.998,4

1956 20.001,2 18.194,7 1.806,5

1957 22.274,1 20.872,— 1.402,1

1958 27.720,1 23.036,6 4.683,5

Sumber: Kementerian Keuangan.

REALISASI (GROSS).

Tabel 65. (Djutaan rupiah).

Pengeluaran Penerimaan Defisit

1953 14.216,6 13.590,5 626,1

1954 15.140,8 11.538,6 3.602,2

1955 16.316,8 14.195,3 2.121,5

1956 20.014,9 18.431,9 1.583,—

1957 25.609,8 20.526,9 5.082,9

1958 35.312,9 23.272,6 12.040,3

Sumber: Kementerian Keuangan.

(6)

PERBANDINGAN ANGGARAN BELANDJA DAN REALISASI.

Tabel 66. (djutaan rupiah).

(7)

PENERIMAAN NEGARA (Gross).

Tabel 67. (djuta an r u pi a h) .

1953 1954 1955 1956 1957 s/d Sept.1958

I. Padjak

ber-kohir 1.873,2 2.181,1 2.796,9 2.793,6 3.173,7 2.974,— II. Padjak tak

berkohir 1.008,5 1.015,5 1.034,1 1.421,7 1.403,7 925,6 III. Bea dan tjukai 3.772,7 3.200,— 3.759,9 4.249,5 4.659,4 4.187,1 I.V. I.B.W. *) 457,8 491,6 197,8 476,— 355,1 137,7

V. Pendapatan

rupa-rupa 6.478,3 4.650,4 3.334,9 6.792,9 7.281,— 6.073,8 VI. Penerimaan

langsung ber-hadapan dengan

penge-luaran 3.071,7 2.698,2 3.654,— 2.640,1

13.590,5 11.538,6 14.195,3 18.431,920.526,9 .16.938,3

Sumber: Kementerian Keuangan.

(8)

PENERIMAAN BERSIH PEMERINTAH.

Tabel 68.

(djutaan rupiah)

1953 1954 1955 1956 1957

A. Padjak-padjak;

1. Langsung,

p. peralihan 655 805 945 1.169 1.455

p. upah 229 244 299 327 348

p. perseroan 1.083 1.330 1.804 1.569 1.581

p. untung pendjualan

bebas 22 14 10 2 3

p. langsung lainnja 38 46 73 48 138

Sub total 2.027 2.439 3.131 3.115 3.525

Z. Tak langsung.

p. peredaran 634 611 557 942 833

bea masuk 1.283 995 1.105 1.872 1.785

bea keluar biasa 101 107 143 161 60

bea keluar lainnja 912 437 609 263 139

Tjukai 1.355 1.593 1.830 1.877 2.593

p. Tak langsung

lain-nja 189 214 192 235 302

Sub total 4.474 3.957 4.436 5.350 5.712

Djumlah A. 6.501 6.396 7.567 8.465 9.237

B. Saldo-saldo

Perusahaan Negara 205 61 98 476 355

C. Berbagai penerima-an Sertipikat

Devi-sen/T.P.I. 1.914 1.179 1.843 4.985 4.411

T.P.I. — 296 337 212 103

Bagian-bagian

da-lam keuntungan 87 121 144 75 81

Konsesi-konsesi

pertambangan 114 74 85 102 12

Denda-denda pengadilan dari

lain-lain 14 15 18 18 22

L.A.A.P.L.N. 530 100 47 99 107

Rupa-rupa 342 225 168 1.301 2.545

Djumlah C. 3.001 2.010 2.642 6.792 7.281

Gambar

Tabel 60.1953
Tabel 61.1953
Tabel 66. (djutaan rupiah).
Tabel 67.(Gross). (djutaan rupiah).
+2

Referensi

Dokumen terkait

Belanja adalah semua pengeluaran kas daerah yang mengurangi ekuitas dana dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya

Tanpa warkat, tidak dapat diperdagangkan, tidak dapat dilikuidasi/dicairkan sampai dengan jatuh tempo, kecuali pada periode early redemption. Tanggal Penetapan 20

a) Menyedikan informasi mengenai apakah penerimaan periode berjalan cukup untuk membiayai seluruh pengeluaran. b) Menyediakan informasi mengenai apakah cara memperoleh

6.1 Dana cadangan adalah dana yang disisihkan untuk menampung kebutuhan yang memerlukan dana relatif cukup besar yang tidak dapat dibebankan dalam satu

Hal ini menunjukkan secara statistik bahwa kondisi pengeluaran pemerintah di sektor pendidikan pada periode observasi dari negara Filipina berada pada kondisi

Hipotesis dapat diartikan sebagai dugaan awal atau jawaban sementara terhadap permasalahan, maka penulis merumuskan hipotesis bahwa kebijakan keamanan yang diambil oleh

Perhitungan perputaran aset tetap untuk periode pengamatan tahun 2012 sampai tahun 2014 sebagai berikut: Dari perhitungan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa tingkat perputaran

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja keuangan PT Perkebunan Nusantara VII selama periode 2010 sampai 2019 dari analisis rasio keuangan pada likuiditas, profitabilitas, dan