1
Andi Abd. Muis
1, Rosmiati Ramli
21
Prodi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Parepare
Kota Parepare Indonesia [email protected]
2
Prodi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Parepare
Kota Parepare Indonesia [email protected]
Abstrak - Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh kompetensi profesional guru Pendidikan Agama Islam terhadap peningkatan motivasi belajar peserta didik pada SMA Negeri 2 Parepare. Metode penelitian, adalah metode deskriptif kuantitatif yang bersifat korelasional, yaitu untuk melihat pengaruh antara variabel bebas dan variabel terikat. Populasi penelitian ini adalah seluruh guru Pendidikan Agama Islam dan peserta didik kelas XII SMA Negeri 2 Parepare. Pengambilan Sampel dilakukan dengan random sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan dua instrumen, yaitu wawancara dan angket. Data yang diperoleh diolah dengan manual dan menggunakan bantuan program pengolahan data statistik SPSS.Hasil analisis statistik deskriptif persepsi guru dan peserta didik menunjukkan bahwa kompetensi profesional guru Pendidikan Agama Islam tergolong tinggi dengan skor rata-rata 40.44 dan motivasi belajar Pendidikan Agama Islam kelas XII SMA Negeri 2 Parepare tergolong sedang dengan skor rata-rata 39,80. Hasil analisis statistik inferensial menunjukkan bahwa kompetensi profesional guru Pendidikan Agama Islam berpengaruh secara signifikan terhadap motivasi belajar peserta didik kelas XII SMA Negeri 2 Parepare, dengan persamaan regresi Y= 10,391 + 0,755 X1, dan koefisien determinasi R2= 0,932. Dari hasil analisis di atas, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif kompetensi profesional guru Pendidikan Agama Islam terhadap peningkatan motivasi belajar peserta didik kelas XII SMA Negeri 2 Parepare.
Kata Kunci: Kompetensi, Profesional, Motivasi Belajar, Pendidikan Agama Islam, SMA Negeri 2 Kota Parepare.
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan upaya sadar yang dilakukan oleh pendidik dalam rangka membawa peserta didik menjadi manusia ideal. Manusia ideal yang dicita-citakan telah dirumuskan sendiri oleh setiap bangsa atau setiap komunitas. Bagi Bangsa Indonesia, manusia ideal yang ingin dibentuk telah termuat dengan jelas dalam tujuan Pendidikan Nasional yang tercantum dalam UU RI. No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab XI pasal 39, yakni:
Pendidikan Nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdasakan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab
Mengaktualisasikan tanggungjawab yang diemban oleh guru Pendidikan Agama Islam tentu saja menggunakan prosedur yang berpijak pada landasan intelektual yang harus dipelajari secara terencana, sabar, ulet, dan tanggap terhadap setiap kondisi yang dihadapi sehingga pada akhirnya akan membuahkan hasil yang diharapkan.
Kedudukan guru Pendidikan Agama Islam pada SMA Negeri 2 Parepare sangat penting dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain situasi yang dihadapi guru
Pendidikan Agama Islam dalam
melaksanakan pengajaran mempunyai
Kompetensi profesional guru Pendidikan Agama Islam pada SMA Negeri 2 Parepare merupakan faktor yang sangat penting dalam mempengaruhi kinerja guru Pendidikan Agama Islam untuk mencapai tujuan pendidikan sedangkan motivasi merupakan kekuatan pendorong bagi peserta didik untuk melakukan suatu kegitan yang diwujudkan dalam bentuk perbuatan nyata yang mendukung proses pembelajaran. Dengan demikian semakin tinggi motivasi belajar peserta didik maka semakin tinggi pula kualitas pembelajaran begitu pula sebaliknya, semakin rendah motivasi belajar peserta didik maka semakin rendah kualitas pembelajaran. Apabila guru Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 2 Parepare memiliki kompetensi profesional yang baik, maka peserta didik akan terdorong dan berusaha meningkatkan kemampuannya dalam belajar, taat dan patuh terhadap apa
yang berlaku disekolah sehingga
memperoleh hasil yang maksimal.
KAJIAN PUSTAKA
1. Kompetensi Profesional Guru Pendidikan Agama Islam
a. Pengertian Kompetensi Profesional Guru
Muh. Uzer Usman mengemukakan bahwa: kompetensi berarti kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan atau memutuskan sesuatu hal. Pengertian dasar
kompetensi yakni kemampuan atau kecakapan begitu pula dijelaskan dalam kamus umum Bahasa Indonesia, kompetensi adalah (kewenangan) kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan suatu hal. Sedangkan Profesional adalah bersangkutan dengan profesi, memerlukan kepandaian atau keahlian khusus untuk menjalankannya dan menjadi sumbar penghasilan kehidupan. Dari pengertian diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa kompetensi profesional guru adalah kemampuan khusus yang dimiliki seorang pendidik yang berupa penguasaan materi pelajaran bidang studi secara luas dan mendalam yang mencakup, penguasaan subtansi isi materi kurikulum mata pelajaran disekolah dan substansi keilmuan.
b. Karakteristik Kompetensi Profesional Guru.
Karakteristik kompetensi
profesional guru merupakan cerminan yang senantiasa menjadi pertimbangan untuk
sosok seorang guru, khususnya dalam hal ini guru Pendidikan Agama Islam yang notabene mempunyai tugas yang cukup berat dalam mengemban amanah sebagai pendidik yang diharapkan berkontribusi dan mampu mewujudkan insan kamil dan senantiasa menjadi manusia yang rahmatan lil alamiin. Adapun karakter kompetensi profesional itu sendiri, yaitu:
1) Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran pendidikan agama islam.
2) Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran pendidikan agama islam.
3) Mengembangkan materi
pembelajaran mata pelajaran pendidikan agama islam secara kreatif
4) Mengembangkan profesionalitas secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif.
5) Memanfaatkan teknologi
informasi dan komunikasi dalam
berkomunikasi dan
mengembangkan diri.
Peran Guru Sebagai Tenaga Profesional
UU RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 2 ayat 1, yang dijelaskan bahwa guru sebagai tenaga profesional mengandung arti bahwa pekerjaan guru hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang mempunyai kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikasi pendidik sesuai dengan persyaratan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan tertentu.
Sebagai tenaga profesional, guru seharusnya menyadari bahwa esensi pokok suatu profesi atau jabatan adalah kemampuan teknis profesional yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan dalam jangka waktu yang lama. Akan tetapi, keahlian teknis saja belum sepenuhnya menjamin seseorang menjadi profesional. Seorang dapat dikatakan profesional apabila di samping memiliki keahlian teknis, yang
bersangkutan juga harus memiliki
2. Motivasi Belajar Peserta Didik.
a. Pengertian Motivasi Belajar
Motivasi berasal dari bahasa latin
movere yang berarti dorongan atau daya penggerak . Motivasi ini hanya diberikan kepada manusia, khususnya kepada para bawahan atau pengikut. Pada dasarnya motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mendorong gairah seseorang dengan maksud agar mereka mau bekerja keras dengan memberikan semua kemampuan dan keterampilannya untuk mewujudkan suatu tujuan tertentu.
Menurut Wagner dan Hallenbeck yang dikutip oleh Imran Sireger, dkk., bahwa motivasi adalah faktor yang memprakarsai secara langsung dan berkelanjutan perilaku manusia dari waktu ke waktu. Dengan demikian, bahwa motivasi adalah merupakan perangkat proses di mana mampu dan dapat
membangkitkan, mengarahkan, dan
memelihara atau menjaga suatu perilaku diri seseorang dalam rangka untuk mencapai tujuan.
Berkaitan dengan hal tersebut, beberapa psikolog menyebutkan bahwa motivasi adalah sebagai konstruksi hipotetik yang digunakan untuk menjelaskan suatu keinginan, arah intensitas, dan keajengan perilaku yang diarahkan oleh tujuan. Dalam motivasi tercakup konsep-konsep seperti kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan
untuk berafiliasi, kebiasaan dan
keingintahuan seseorang terhadap sesuatu.
b. Sifat dan Jenis-Jenis Motivasi
Motivasi seseorang dapat
bersumber dari dalam diri sendiri, yang dikenal sebagai motivasi internal, dan dari luar diri seseorang yang disebut dengan motivasi eksternal. Pada pokoknya motivasi memiliki dua sifat, yaitu: (1) motivasi intrinsik dan (2) motivasi ekstrinsik, yang saling keterkaitan satu dengan lainnya.
a) Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik adalah motivasi yang bersumber dalam diri sendiri yang biasa dikenal dengan motivasi internal. Motivasi ini timbul tidak memerlukan rangsangan dari luar karena memang telah ada dalam diri individu yang sejalan dengan kebutuhannya.
b) Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah dorongan terhadap perilaku seseorang yang ada di luar perbuatan yang dilakukannya.
Orang berbuat sesuatu karena dorongan dari luar, seperti adanya hadiah dan menghindari hukuman. Hal ini biasa pula disebut sebagai motivasi eksternal.
c. Motivasi Dalam Pembelajaran
Motivasi sebagai potensi mental yang dimiliki setiap individu dengan tingkat kekuatan yang berbeda-beda. Para ahli ilmu jiwa berbeda pendapat tentang tingkat kekuatan tersebut. Namun mereka sependapat bahwa motivasi itu dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: (1) motivasi primer dan (2) motivasi sekunder.
a) Motivasi Primer
Motivasi primer merupakan
dorongan mental yang mendasar yaitu dorongan biologis atau jasmani manusia. Secara umum tindakan dan perilaku individu dipengaruhi oleh insting atau kebutuhan jasmaninya. Misalnya, rasa lapar, haus, keagamaan, seksualitas, rasa ingin tahu, memelihara, dan sebagainya. Bisa juga disebut sebagai motivasi alamiyah.
b) Motivasi Sekunder
Motivasi sekunder adalah motivasi yang diperoleh melalui belajar. Hal ini berbeda dengan motivasi primer. Sebagai contoh, orang yang lapar akan tertarik pada makanan tanpa belajar. Untuk memperoleh makanan tersebut orang harus bekerja terlebih dahulu. Agar dapat bekerja dengan baik, maka orang harus belajar bekerja. Bekerja dengan baik merupakan motivasi sekunder. Dengan bekerja orang akan mendapatkan uang, sehingga uang sebagai penguat dari motivasi sekunder, dan dengan uang orang bisa membeli makanan apa saja untuk menghilangkan rasa haus dan laparnya.
d. Peran Motivasi dalam
Pembelajaran
Motivasi pada dasarnya dapat
membantu dalam memahami dan
menjelaskan perilaku individu, termasuk perilaku individu yang sedang belajar. Ada beberapa peranan penting dari motivasi dalam pembelajaran. Lebih lanjut Hamzah B. Uno mengatakan, bahwa peranan motivasi dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
2) Motivasi dalam Memperjelas Tujuan Belajar
3) Motivasi dalam Menentukan Ketekunan Belajar
METODOLOGI PENELITIAN 1. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Penelitian merupakan salah satu cara yang dilakukan untuk mencari pengetahuan baru. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Lokasi penelitian adalah SMA Negeri 2 Parepare.
Penelitian ini menggunakan pendekatan multi disipliner. Pendekatan multi disipliner adalah pendekatan yang melihat suatu permasalahan dari berbagai macam sudut pandang disiplin keilmuan, sehingga persoalan dan solusi yang ditawarkan lebih komprehensif dan utuh. Pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam tulisan adalah :
1. Pendekatan pedagogis 2. Pendekatan psikologis 3. Teologis-Normatif
2. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru Pendidikan Agama Islam yang ada di SMA Negeri 2 Parepare berjumlah 3 orang dan peserta didik Kelas XII yang berjumlah 250 orang.
Adapun yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah 3 orang guru mata pelajaran pendidikan agama Islam atau 100% dari populasi guru mata pelajaran pendidikan agama Islam yang ada di SMA Negeri 2 Parepare, dan 25 orang peserta didik atau 10% dari jumlah populasi peserta didik. Alasan mendasar pengambilan sampel dengan persentasi yang disebutkan, oleh karena teknik penentuan sampel ini dipilih berdasarkan teknik random sampling (yakni pengambilan unsur-unsur sampel yang dianggap representativ secara acak dan dapat mewakili seluruh populasi).
4. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang
dipergunakan dalam penelitian ini yaitu (1) wawancara (interview) terkait dengan kompetensi profesional guru Pendidikan Agama Islam yang diperoleh dari guru dan (2) angket (kuesioner) terdiri dari angket kompetensi Profesional Guru dan motivasi belajar peserta didik yang diperoleh dari peserta didik. Instrumen yang baik harus
memenuhi dua persyaratan penting yaitu valid dan reliabel. Oleh karena itu, angket
harus diuji kevaliditasannya dan
kereliabilitasannya terlebih dahulu sebelum digunakan. Adapun angket yang digunakan dalam penelitian ini terlebih dahulu divalidasi oleh validator ahli yang telah banyak melakukan penelitian yang terkait dengan masalah penelitian. Berdasarkan hasil validasi ahli, angket yang digunakan dalam penelitian ini baik dengan skor rata-rata 3,6 atau 4 dalam arti data berdistribusi valid dan reliabel.
5. Analisis Data
Untuk menganalisis data hasil penelitian dan pengajuan hipotesis yang telah diajukan dalam penelitian, maka data yang terkumpul berupa skor angket kompetensi profesinal guru Pendidikan Agama Islam dan motivasi belajar peserta didik pada SMA Negeri 2 Parepare, semuanya diolah dengan analisis statistika inferensial dan analisis deskriptif.
6. Uji Keabsahan Data
Uji keabsahan data dalam penelitian ini hanya ditekankan pada uji validitas dan realibilitas.
validitas dalam peneliian ini merupakan konsep yang mengacu pada kesahihan angket yang divalidasi oleh seorang ahli dalam bidang penelitian untuk menganalisis seberapa jauh kesimpulan hasil penelitian menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Reliabilitas merupakan penerjemahan dari katareliabilityyang mempunyai katarelydanability. Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi disebut sebagai pengukuran yang reliabel (reliable). Dalam penelitian ini ditunjukkan konsistensi skor yang diperoleh subjek yang diukur dengan alat yang sama.
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh bahwa secara umum kompetensi profesional guru Pendidikan Agama Islam berpengaruh positif terhadap peningkatan motivasi belajar peserta didik pada SMA Negeri 2 Parepare, maka pada kajian penelitian akan dikemukakan pembahasan dari hasil penelitian yang dilakukan.
a. Hasil Analisis Deskriptif
Islam menunjukkan bahwa tergolong tinggi dengan total skor 47, adapun hasil dari perolehan angket guru dan peserta didik tentang kompetensi profesional guru Pendidikan Agama Islam tergolong tinggi. Dari 25 responden yang ada, diperoleh ata-rata 40,44 dari skor ideal 43 dan motivasi belajar peserta didik tergolong sedang dengan rata-rata 39,80 dari skor ideal 44.
Dari hasil analisis data diketahui bahwa tingginya implementasi kompetensi profesional guru Pendidikan Agama Islam juga dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal pada diri guru. Guru yang memiliki IQ memadai dan faktor lain yang mendukung dengan baik maka guru tersebut
akan dapat lebih memaksimalkan
kompetensi profesionalnya.
Motivasi belajar merupakan salah satu faktor internal dan eksternal yang penting untuk menunjang pencapaian prestasi peserta didik sebagaiaman menurut khoiriyah bahwa motivasi merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Motivasi belajar yang baik akan memberikan dorongan bagi peserta didik untuk mencapai prestasi yang baik pula. Rata-rata prestasi belajar Pendidikan Agama Islam kelas XII SMA Negeri 2 Parepare yang diperoleh yaitu 39,80. Hal ini berarti dengan tingkat motivasi belajar peserta didik belum dapat memaksimalkan belajarnya untuk mencapai prestasi yang baik karena sesungguhya hasil belajar akan menjadi optimal jika memiliki motivasi, semakin tinggi motivasi yang dimiliki maka akan semakin baik prestasi yang akan dicapai. Hal ini disebabkan karena kontribusi dari motivasi belajar dari Peserta didik XII SMA Negeri 2 Parepare hanya sebesar 37% sedangkan selebihnya dipengaruhi oleh faktor lain.
b. Hasil Analisis Infrensial
Hasil analisis inferensial menunjukkan bahwa kompetensi profesional guru Pendidikan Agama Islam berpengaruh positif terhadap motivasi belajar peserta didik pada SMA Negeri 2 Kota Parepare dengan konstribusi sebesar 93,2%. Jadi semakin tinggi kompetensi profesional guru Pendidikan Agama Islam (X2) peserta didik
maka semakin tinggi motivasi belajar peserta didik (Y), dengan kenaikan sebesar 0,750 unit untuk X1 dan kenaikan sebesar
0,601 unit untuk X2 atau dapat dijelaskan
dengan persamaan regresi Y= 10,391 + 0,755.
Kemudian dari hasil pengujian hipotesis diperoleh bahwa kompetensi profesional guru Pendidikan Agama Islam berpengaruh positif terhadap motivasi belajar peserta didik pada SMA Negeri 2 Kota Parepare dengan koefisien determinasi sebesar 10,391. Hal ini berarti bahwa 93,2% variabel kompetensi profesional guru Pendidikan Agama Islam dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik dengan asumsi bahwa pengaruh variabel-variabel lain diabaikan.
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian dan
pembahasan di atas, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Implementasi kompetensi profesional yang dimiliki oleh guru Pendidikan Agama Islam dari hasil analisis deskriptif prepsepsi guru dengan skor rata-rata 47 dan peserta didik tergolong tinggi dengan rata-rata 40,44 dari skor ideal 43.
2. Kondisi motivasi belajar peserta didik pada SMA Negeri 2 Parepare tergolong sedang dengan rata-rata 39,80 dari skor ideal 44.
3. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa: terdapat pengaruh yang
signifikan antara kompetensi
profesional guru Pendidikan Agama Islam terhadap motivasi belajar peserta didik kelas XII SMA Negeri 2 Parepare, dimana setiap kenaikan satu unit X1 mengakibatkan 0,755
unit kenaikan Y, atau dapat
dijelaskan dengan persamaan regresi Y= 10,391 + 0,755 X1.
4. Dari hasil uji hipotesis disimpulkan bahwa: terdapat pengaruh yang
signifikan antara kompetensi
profesional guru Pendidikan Agama Islam terhadap Peningkatan motivasi belajar peserta didik kelas XII SMA Negeri 2 Parepare, dengan besarnya kontribusi 93,2%. Jadi semakin tinggi
kompetensi profesional guru
Pendidikan Agama Islam (X2) peserta
X1 dan kenaikan sebesar 0,601
unit untuk X2 atau dapat
dijelaskan dengan persamaan regresi Y= 10,391 + 0,755.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Arikunto S.Menejemen Penelitian. Edisi revisi. Jakarta ; Rineka Cipta, 2006.
[2] ________ . Prosedur Penelitian. Jakarta; Rineka Cipta. 1998.
]4] Ali Moh. Perangkat Kemampuan Dasar Guru Pendidikan Dasar,Jakarta: P3TK, 1985.
[5] Brophy Jere dan Good E Thomas L. Educational Psichology; A Realistic Approach New York; Olongman, 1990.
[6] Gaffar.Perencanaan Pendidikan; Teori dan metodologi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan kebudayaan, Dirjen Pendidikan Tinggi, Proyek pengembangan Tenaga Kependidikan, 1987.
[7] Hamalik, Oemar. Kurikulum dan Pembelajaran. Cet. IV; Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2003.
[8] Hasibuan, Malayu S.P.Organisasi dan Motivasi; Dasar Peningkatan Produktivitas, Cet. V; Jakarta: PT. Bimu Aksara, 2007.
[9] Kunandar. Guru Profesional, Implementasi KTSP dan Sukses dalam Sertifikasi Guru.Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007.
[10] Khoiriyah Peran Kompetensi Profesional Guru Pendidikan Agama Islam dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di SMP Negeri 13 Malang. Skripsi Jurusan Pendidikan Agama Islam Fak Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang 2009.
[11] Margono.Metodologi Penelitian Pendidikan. Rineka Cipta, 2000.
[12] Narbuko, Cholid dan Achmadi, Abu. Metodologi PenelitianCet. V; Jakarta: Bumi Aksara, 2003.
[13] Rasyid, Nasiruddin.Profil Profesional Guru Memasuki Milenium III, Majalah Bulanan, Dunia Pendidikan,Edisi 15 Juli-14 Agustus; Makassar: Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, 2001.
[14] Sudjana, Nana.Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2009.
[15] Saekhan, Muchith. Pembelajaran kontekstual, Semarang: Rasail Media Grup, 2008.
[16] Sugiyono. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta, 2008.
[17] Tiro, Arif Muhammad. pengembangan instrumen pengumpulan data penelitian Cet.1: CV; Indra Karya Mandiri Publiser Makassar. 2012.
[18] Utsman Moh, Najati. Psikologi dalam Al Qur an diterjemahkan oleh M. Zaka Alfarisi, Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 2005.