• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peraturan Perundangan STASTISTIK UU0071960

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peraturan Perundangan STASTISTIK UU0071960"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 7 TAHUN 1960

TENTANG

STASTISTIK

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa guna mel aksanakan pembangunan semest a ol eh Negara

sert a unt uk l ain-l ain keperl uan kebij aksanaan Pemerint ah dan masyarakat pada umumnya perl u t ersedia st at ist ik-st at ist ik yang memberikan gambaran berupa angka yang waj ar dari segenap ciri-ciri, kegiat an dan keadaan masyarakat Indonesia,

b. bahwa kegiat an st at ist ik yang dilakukan ol eh Biro Pusat St at ist ik sampai dewasa ini masih didasarkan pada "St at ist iek Ordonant ie 1934" (St aat sbl ad 1934 No. 508), yang dil engkapi dengan Keput usan-keput usan Ment eri Perekonomian/ Perdagangan, padahal ordonansi t ersebut t idak sesuai lagi dengan keadaan dan kemaj uan-kemaj uan yang cepat yang dicapai ol eh Negara kit a; c. bahwa disegenap kegiat an st at ist ik perl u diadakan keseragaman,

koordinasi dan pembagian t ugas diant ara inst ansi-inst ansi Pemerint ah;

d. bahwa mut u st at ist ik nasional perlu dipert inggi;

Mengingat : a. Musyawarah Dewan Ment eri t anggal 8 Januari 1960:

b. Pasal 5 ayat (1) Undang-undang Dasar 1945;

c. Perat uran Pemerint ah Penggant i Undang-undang No. 10 t ahun 1960 (Lembaran-Negara t ahun 1960 No. 31);

Dengan perset uj uan Dewan Perwakilan Rakyat Got ong-Royong;

Memut uskan :

Mencabut "St at ist iek Ordonnant ie 1934" (St aat sbl ad 1934 No. 508) sebagaimana dilengkapi dengan Keput usan-keput usan Ment eri Perekonomian/ Perdagangan dan Menet apkan :

UNDANG-UNDANG TENTANG STATISTIK.

BAB I UMUM.

Pasal 1. Def inisi.

(1) Yang dimaksud dalam Undang-undang ini dengan "st at ist ik" ial ah ket erangan-ket erangan berupa angka yang memberikan gambaran yang waj ar dari sel uruh ciri-ciri, kegiat an dan keadaan masyarakat Indonesia.

(2) Dengan "kegiat an st at ist ik" dimaksud sel uruh t indakan yang mel iput i:

(2)

Pasal 2.

Tent ang Biro Pusat St at ist ik.

(1) Didalam lingkungan Kabinet Perdana Ment eri sebagai badan penyaluran st at ist ik bert indak Biro Pusat St at ist ik.

(2) Biro Pusat St at ist ik mempunyai t ugas:

a. mel akukan kegiat an st at ist ik yang dit ugaskan kepadanya ol eh Pemerint ah, ant ara lain dibidang pert anian agraria, pert ambangan, perindust rian, perhubungan, perdagangan, perburuhan, keuangan, pendapat an nasional pendidikan dan keagamaan;

b. at as nama Pemerint ah mel aksanakan koordinasi dilapangan kegiat an st at ist ik dari segenap inst ansi Pemerint ah, dipusat maupun didaerah, dengan t uj uan mencegah dil akukannya pekerj aan-pekerj aan yang serupa (doubl ures) oleh dua at au l ebih inst ansi, memaj ukan keseragaman dal am penggunaan def inisi, kl asif ikasi. ukuran-ukuran dan l ain-l ain:

c. mengadakan daya-upaya agar masyarakat menyadari t uj uan dan kegunaan st at ist ik guna memudahkan penyel idikan st at ist ik.

(3) Susunan dan organisasi Biro Pusat St at ist ik diat ur ol eh Perat uran Pemerint ah.

Pasal 3.

Tent ang Badan Penasehat Negara Urusan St at ist ik.

(1) Sebuah Badan Penasehat Negara Urusan St at ist ik dibent uk, yang anggot anya t erdiri dari wakil -wakil Dewan Perancang Nasional, pegawai-pegawai t inggi beberapa Depart emen sert a Kepala Biro St at ist ik, dit ambah dengan beberapa t enaga ahli.

(2) Badan Penasehat Negara Urusan St at ist ik mempunyai t ugas memberi pert imbangan kepada Pemerint ah t ent ang obyek- obyek apa yang perl u disusun st at ist iknya, cara dan organisasi dari pel aksanaan sesuat u kegiat an st at ist ik dan siapa yang sebaiknya menyel enggarakan penyel idikan it u.

(3) Bila perlu Badan Penasehat Negara Urusan St at ist ik ini dapat memint a ket erangan, pendapat dan saran dari f ihak lain guna dapat menyusun nasehat yang seksama.

BAB II.

PELAKSANAAN PEKERJAAN STATISTIK.

Pasal 4. Penyel enggaraan.

(1) Biro Pusat St at ist ik dalam mengumpul kan ket erangan-ket erangan berupa angka yang diperl ukan unt uk mel aksanakan penyusunan st at ist ik yang dit ugaskan kepadanya oleh Pemerint ah, dapat mengerahkan pegawai-pegawainya sendiri at au pegawai- pegawai inst ansi Pemerint ah l ainnya maupun orang-orang l ain.

(2) Biro Pusat St at ist ik, set elah mengadakan hubungan dan perundingan dengan l ain inst ansi Pemerint ah, dipusat maupun didaerah, berwenang menyerahkan sebagian dari pekerj aan st at ist ik kepada inst ansi t ersebut .

Bagian pekerj aan yang dapat diserahkan berupa:

a. menyediakan bahan-bahan ket erangan yang diperl ukan sebagai persiapan penyelidikan st at ist ik.

b. melancarkan masuknya daf t ar isian.

c. menelit i kebenaran dan kelengkapan ket erangan-ket erangan yang diberikan dalam daf t ar isian.

(3)

Pasal 5. Koordinasi.

(1) Unt uk kepent ingan koordinasi dilapangan st at ist ik, maka set iap pej abat yang bert anggung-j awab mengenai urusan st at ist ik sesuat u inst ansi Pemerint ah, bil a int ansinya bermaksud mengadakan kegiat an st at ist ik, diharuskan t erl ebih dahul u mendengarkan pendapat Kepal a Biro Pusat St at ist ik mengenai rencananya yang lengkap, disert ai cont oh daf t ar isian yang akan dipakai, penj el asan-penj el asannya, macam st at ist ik yang akan disusun dan pembiayaannya.

(2) Kegiat an st at ist ik yang menurut pendapat Kepal a Biro Pusat St at ist ik memerl ukan biaya yang besar at au mel iput i kal angan yang l uas, penyel enggaraannya perl u mendapat perset uj uan Pemerint ah.

(3) Barangsiapa yang bert anggung-j awab mengenai urusan st at ist ik sesuat u inst ansi Pemerint ah, berkewaj iban menyampaikan kepada Biro Pusat St at ist ik sal inan dari st at ist ik-st at ist ik yang dihasil kan, kecual i st at ist ik yang semat a-mat a diperl ukan unt uk menggunakan int ern inst ansi yang bersangkut an.

Pasal 6.

Kewaj iban unt uk memberikan ket erangan st at ist ik.

(1) Biro Pusat St at ist ik at au int ansi Pemeri nt ah lainnya yang mendapat t ugas at au izin khas dari Pemerint ah unt uk mengadakan suat u kegiat an st at ist ik dapat mewaj ibkan set iap orang at au badan unt uk memberikan ket erangan-ket erangan st at ist ik yang diperlukan, baik secara lisan maupun t ert ulis.

(2) Dal am hal t ert ent u Pemerint ah dapat memberi wewenang kepada Biro Pusat St at ist ik at au inst ansi Pemerint ah l ainnya, unt uk keperluan kegiat an st at ist ik, melihat dal am buku-buku dan/ at au naskah-naskah dari orang at au badan.

Barangsiapa yang bert anggung-j awab at as buku-buku dan/ at au naskah-naskah t ersebut , diwaj ibkan memperl ihat kannya bil a dimint a.

(3) Ket erangan-ket erangan mengenai periode yang menurut pandangan Badan Penasehat Negara Urusan St at ist ik t ergolong rahasia perusahaan t idak t ermasuk ket erangan-ket erangan yang diwaj ibkan ol eh Undang-undang ini unt uk diberikan.

Pasal 7.

Kerahasiaan ket erangan-ket erangan perseorangan.

(1) Unt uk menj amin kerahasiaan ket erangan perseorangan mengenai orang at au

badan, maka set iap orang yang mendapat kan t ugas unt uk melakukan kegiat an st at ist ik, dilarang meneruskan ket erangan it u, selain yang diperlukan unt uk menunaikan t ugasnya dibidang st at ist ik, at au bila t erj adi suat u perkara sebagai t ermaksud pada pasal 8 dan 9.

(2) Pemerint ah menent ukan set el ah mendengarkan pert imbangan Badan Penasehat Negara Urusan St at ist ik, hasil -hasil mana dari kegiat an st at ist ik dapat diumumkan, dengan pengert ian bahwa sesuat u yang dapat mengakibat kan kerugian bagi seseorang at au badan yang memberikan ket erangan it u, t idak akan diumumkan.

BAB III.

PELANGGARAN DAN HUKUMAN.

Pasal 8.

(4)

(1) Barangsiapa yang mendapat t ugas, mel akukan kegiat an st at ist ik dibawah Undang-undang ini, yang :

a. dengan sengaj a mel anggar l arangan dal am pasal 7 ayat (1) diat as, at au

b. dengan sengaj a membant u memberikan at au membuat ket erangan st at ist ik yang pal su, at au

c. dal am menj al ankan t ugasnya mencari at au mencoba memperol eh ket erangan lain dari pada yang dit ugaskan kepadanya, dihukum dengan hukuman penj ara set inggi-t ingginya enam bulan at au hukuman denda sebanyak-banyaknya Rp. 10. 000, - (sepul uh ribu rupiah).

(2) Tindak-pidana dimaksud dal am ayat (1) pasal ini dianggap sebagai kej ahat an.

Pasal 9.

Bagi yang memberikan ket erangan st at ist ik.

(1) Barang siapa menurut Undang-undang ini diwaj ibkan memberi ket erangan unt uk keperluan kegiat an st at ist ik, yang :

a. t anpa al asan yang sah menol ak memberi ket erangan yang dimint a ol eh pet ugas st at ist ik, at au

b. sesudah mendapat peringat an t ert ul is, t anpa al asan yang sah bel um j uga mengirimkan kembal i dal am j angka wakt u yang t el ah dit et apkan dal am surat peringat an it u daf t ar isian yang diki rimkan kepadanya unt uk diisi, at au

c. t idak memenuhi kewaj iban unt uk memperlihat kan buku-buku dan/ at au naskah-naskah sepert i dimaksud dalam pasal 6 ayat (2) dihukum dengan hukuman kurungan set inggi-t ingginya enam bul an at au hukuman denda sebanyak-banyaknya Rp. 10. 000, (sepul uh ribu rupiah).

(2) Bila dalam hal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sub b dari pasal ini sampai perlu disusuli surat peringat an yang kedua dan orang yang waj ib memberikan ket erangan it u t anpa alasan yang sah masih belum j uga mengisi dan mengirimkan kembal i daf t ar isian it u dal am j angka wakt u yang t el ah dit et apkan, maka hukuman pelanggaran it u dapat diperberat sampai dua kalinya.

(3) Barangsiapa yang menurut pasal 6 ayat (1) diat as diwaj ibkan memberikan

ket erangan st at ist ik, dengan sengaj a memberikan ket erangan yang t idak benar, dihukum dengan hukuman penj ara set inggi-t ingginya sat u t ahun at au hukuman denda sebanyak-banyaknya Rp. 20. 000, - (dua puluh ribu rupiah).

(4) Tindak-pidana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) pasal ini dianggap sebagai

pelanggaran dan t indakan-t indakan dimaksud dalam ayat (3) pasal ini sebagai kej ahat an.

BAB IV. PENUTUP.

Pasal 10.

Ket ent uan-ket ent uan yang disebut dalam pasal-pasal 6, 7, 8 dan 9 Undang-undang ini hanya berlaku bagi kegiat an-kegiat an st at ist i k yang dilakukan at as t ugas at au dengan izin khas dari Pemerint ah.

Pasal 11.

(5)

Pasal 12.

(1) Undang-undang ini dapat disebut Undang-undang St at ist ik 1960. (2) Undang-undang ini mulai berlaku pada hari diundangkan.

Agar set iap orang dapat menget ahuinya, memerint ahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempat an dalam Lembaran-Negara Republ ik Indonesia.

Disahkan di Jakart a

pada t anggal 26 Sept ember 1960. Pej abat Presiden Republ ik Indonesia,

DJUANDA.

Diundangkan di Jakart a

pada t anggal 26 Sept ember 1960. Aj un Sekret ariat Negara,

(6)

PENJELASAN

UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1960

TENTANG

STATISTIK.

UMUM.

Usaha penyusunan St at ist ik di Indonesia sel ama pemerint ah Hindia Bel anda didasarkan kepada St at ist ik Ordonnant ie 1934, yang t idak mempersoal kan penyel esaiannya bil a t erj adi suat u doubl ure dal am pekerj aan st at ist ik. Hal ini dapat dif ahami mengingat dalam masa it u kebut uhan akan st at ist ik pada umumnya t erbat as kepada macam st at ist ik yang menggambarkan perkembangan hasil usaha kapit al asing saj a, hingga sudahlah dipandang cukup memberikan ket ent uan sekit ar usaha penyusunan st at ist ik oleh Biro Pusat St at ist ik.

Dengan beralihnya pemerint ahan penj aj ahan ke Pemerint ahan nasional , kebut uhan Pemerint ah akan st at ist ik bert ambah l uas l agi, apal agi mengingat bahwa guna penyusunan rencana pembangunan semest a dan penil aian pel aksanaannya diperl ukan banyak ket erangan kwant it at if sebagai dasar. Kenyat aan yang nampak dewasa ini ial ah hampir t iap j awat an pent ing menyusun st at ist ik-st at ist ik dibidangnya sendiri.

Karena it u Pemerint ah menganggap perl u mengat ur segenap kegiat an st at ist ik agar merupakan usaha yang dikoordinasikan dengan maksud unt uk mencapai daya guna set inggi-t ingginya. Mengingat bahwa suat u obyek mempunyai banyak segi yang masing-masing menj adi perhat ian bagi inst ansi t ert ent u, maka penyel idikan st at ist ik yang dil akukan ol eh berbagai inst ansi akan mudah memperl ihat kan adanya pekerj aan rangkap (doubl ure), bila t idak ada suat u inst ansi yang bert indak sebagai badan koordinasi. Selain dari pada it u banyak ket erangan-ket erangan yang t erkumpul dalam administ rasi berbagai j awat an, bil a secara sist emat is disusun, dapat merupakan ket erangan kwant it at if yang bermanf aat , baik sebagai bahan sesuat u st at ist ik yang bel um ada, maupun sebagai bahan yang memudahkan kelak suat u penyel idikan st at ist ik, karena dengan t ersedianya suat u "f rame" dapat l ah dipakai cara penyel idikan yang ringkas dan murah. Tambahan l agi Pemerint ah menganggap pent ing j uga bahwa dal am berbagai st at ist ik diperhat ikan dan digunakan pengert ian-pengert ian, ukuran-ukuran dan kl asif ikasi yang seragam hingga di pert inggi nil ai dan kegunaan st at ist ik it u.

Berhubung dengan hal-hal t ersebut maka Undang-undang ini menunj uk suat u inst ansi sebagai badan koordinasi, ialah Biro Pusat St at ist ik.

Perihal kewaj iban dan hak dari masyarakat t erhadap usaha st at ist ik perl u dij el askan sebagai berikut :

(7)

Dengan adanya j aminan yang demikian maka diharapkan bahwa t ak ada suat u halangan unt uk t idak memberikan ket erangan yang sebenarnya.

PASAL DEMI PASAL.

Pasal 1.

Dengan st at ist ik dimaksud dan disini st at ist ik-st at ist ik yang t erut ama dit uj ukan unt uk keperl uan yang l uas, t erut ama guna memungkinkan perencanaan yang saksama dan dipakai j uga sebagai dasar pengambilan keput usan-keput usan dalam menghadapi masalah-masalah dibidang ekonomi dan sosial yang dewasa ini bercorak ragam dan kompleks. Khususnya unt uk keperluan Pemerint ah dan umumnya unt uk keperluan badan-badan, l embaga-l embaga, perusahaan-perusahaan swast a maupun perseorangan. Obyek yang menj adi sasarannya ial ah aspek-aspek, gej al a-gej al a sosial , ekonomi dan kul t uril dari pada masyarakat Indonesia sert a keadaan al am sekit ar masyarakat it u.

Meskipun st at ist ik merupakan kesimpul an dal am bent uk angka-angka (dat a kwant it at if ) mengenai gej al a-gej al a yang masaal , namun karena dapat disusun demikian rupa hingga dapat dinyat akan hubungan-hubungan t imbal balik ant ara sat u dengan lain gej ala, maka st at ist ik dapat j uga memberikan kesimpul an-kesimpul an yang mengandung unsur-unsur kwalit at if . Karena dalam "kegiat an st at ist ik" t ersimpul j uga analisa maka st at ist ik t idak saj a memberikan gambaran ringkas berupa angka t ent ang hal-hal yang t erkumpul angka-angkanya, t et api j uga memungkinkan dibuat nya perkiraan-perkiraan dan/ at au general isasi dari pada golongan yang lebih l uas lagi dari pada yang diselidiki.

Pasal 2.

Mengenai kedudukan Biro St at ist ik didalam lingkungan Kabinet Perdana Ment eri perl u dij elaskan bahwa hal ini sesungguhnya berart i penet apan Biro t ersebut dibawah pimpinan Ment eri Pert ama dalam rangka susunan Kabinet -Kerj a sekarang ini. Penempat an disit u dianggap lebih prakt is dan pula l ebih bermanf aat dit il ik dari sudut obyekt ivit et .

Biro Pusat St at ist ik sel ainnya menyel enggarakan beberapa macam st at ist ik t ert ent u yang dit ugaskan kepadanya ol eh Pemrint ah, j uga berkewaj iban mengat ur agar kegiat an st at ist ik yang dil akukan ol eh berbagai inst ansi l ainnya dapat disal urkan menuj u maksud yang sewaj arnya.

Umumnya t uj uan dari pada organisasi st at ist ik yang resmi ial ah membuat st at ist ik-st at iik-st ik yang dibut uhkan oleh negara. St at iik-st ik it u berbeda-beda menurut gej al a yang dipel aj ari, namun segenap st at ist ik mempunyai sat u hal yang sama. Ial ah bahwa st at ist ik merupakan pernyat aan berupa angka t ent ang masyarakat yang mempunyai banyak f aset , t et api merupakan sat u kesat uan yang organik, t erpengaruh oleh bagian-bagiannya, dan mempengaruhi bagian-bagiannya.

Dal am masyarakat modern dan kompl eks maka penget ahuan seseorang dan pengal aman individual t idakl ah cukup unt uk mendapat kan sel uruh f akt a dari suat u keadaan unt uk mendasarkan keput usan-keput usannya.

St at ist ik adal ah al at yang t erbaik unt uk memperol eh ket erangan yang cukup, dan dapat dipercayai mengenai gej al a-gej al a yang kompl eks.

(8)

Unt uk mencapai maksud yang sewaj arnya, st at ist ik resmi harus diorganisasikan sebagai sat u organ, sebagai bagian-bagian yang t erj al in secara t erat ur menj adi sat u dihadapkan kepada sat u t uj uan. Hal ini hanya t ercapai dengan adanya-kesat uan dan koordinasi dalam kegiat an. Usaha Biro Pusat St at ist ik perlu diperluas agar masyarakat menyadari sepenuhnya t uj uan dan kegunaan st at ist ik. Ini akan memudahkan usaha mengumpul kan ket erangan-ket erangan st at ist ik. Selainnya mengeluarkan brosur-brosur dan mengadakan siaran- siaran radio t ent ang st at ist ik dengan t uj uan memberikan penget ahuan secara popul er kepada khal ayak ramai, j uga perl u diusahakan secara berkal a penerbit an-pener bit an hasil st at ist ik yang bersif at umum dalam bent uk sederhana dan ringkas.

Pasal 3.

"St at ist ik Ordonnant ie 1934" memuat ket ent uan bahwa sebuah "Commissie voor de uit voering van de St at ist iekordonnant ie" perlu mendampingi Pemerint ah dalam menent ukan kebij aksanaan dal am urusan st at ist ik. Anggot a-anggot anya diambilkan dari orang-orang yang mengingat kedudukannya dipandang mempunyai pandangan luas t ent ang kepent ingan negara dan dunia perusahaan bert al ian dengan pel aksanaan ordonnant ie t ersebut . Dengan sendirinya beberapa t okoh yang mewakili dunia perusahaan asing duduk j uga sebagai anggaot a didal amnya.

Dalam bent uk ket at a-negaraan dewasa ini Pemerint ah beranggapan bahwa sudahlah cukup bila anggot a Badan Penasehat Negara Urusan St at ist ik diambilkan dari kalangan pegawai-pegawai t inggi Depart emen-depart emen dan wakil -wakil dari Dewan Perancang Nasional dit ambah dengan Kepal a Biro Pusat St at ist ik sert a t enaga-t enaga ahl i baik dari kal angan Pemerint ah maupun dari kalangan swast a dan j uga dari organisasi-organisasi rakyat . Dengan diikut sert akan Depernas didalam Badan ini maka t erj amin pul a adanya penyel esaian kebi j aksanaan dil apangan st at ist ik dengan kebut uhan Depernas akan ket erangan st at ist ik. Kemungkinan sel al u ada unt uk mendengarkan pendapat dari kal angan perusahaan dan badan-badan swast a.

Pasal 4.

Pengumpul an dat a st at ist ik lazimnya memerlukan pengerahan t enaga "int erviewer" yang t idak sedikit j umlahnya hingga t idaklah cukup bila hanya dikerahkan pegawai-pegawai dari Biro Pusat St at ist ik yang berada didaerah-daerah. Karena it u perlu diberi kemungkinan menggunakan t enaga dari luar Biro Pusat St at ist ik yang bila perlu diberi uang balas-j asa sebesar yang dit et apkan oleh Kepal a Biro Pusat St at ist ik. Acapkal i pengumpul an ket erangan-ket erangan st at ist ik dilakukan secara meliwat i pos dan dal am hal obyek penyel idikan t erl et ak dipedusunan maka perl u adanya bant uan dari inst ansi-inst ansi l ain yang mempunyai pet ugas-pet ugasnya sampai dikecamat an at au kel urahan unt uk mel ancarkan masuknya ket erangan-ket erangan at au unt uk mengadakan penel it ian t erhadap kebenaran pengisian daf t ar pert anyaan yang dikirimkan. Sel ain dari pada it u sering pul a dal am menyiapkan suat u kegiat an st at ist ik diperl ukan bahan-bahan ket erangan unt uk dij adikan rangka dal am menyusun program kerj a dan bahan-bahan ini dengan t idak begit u banyak usaha dapat diperoleh dari administ rasi suat u j awat an/ inst ansi t ert ent u.

(9)

Pasal 5.

Dal am penj el asan mengenai pasal 2 t elah dikemukakan bahwa perlu diadakan koordinasi dalam usaha penyusunan st at ist ik. Koordinasi dit uj ukan pert ama agar dalam hal sesuat u inst ansi bermaksud mengadakan penyel idikan st at ist ik dapat dipast ikan t erlebih dahulu bahwa ket erangan-ket erangan yang diperlukan t idak dapat diperoleh dari penyel idikan lain yang t el ah dilakukan ol eh inst ansi l ain at au apakah bil a ada penyelidikan lain t idak mungkin dengan sedikit t ambahan pada hal-hal yang diselidiki menampung kebut uhan inst ansi it u. Dengan demikian t ercapai penghemat an pengel uaran negara dan khal ayak ramaipun t idak banyak t erganggu ol eh berbagai macam daf t ar pert anyaan yang hampir serupa Keduanya, dit uj ukan unt uk mencapai keseragaman dal am pemakaian cara, def inisi, kl assif ikasi dan ukuran-ukuran hingga nil ai dan kegunaannya bert ambah. Perl u j uga dij aga agar dal am pemberian uang balasj asa pada para int erviewer diadakan pat okan- pat okan yang serupa unt uk menghindarkan perbedaan dalam kesediaan membant u berbagai penyel idikan.

Mengingat bahwa Biro Pusat St at ist ik mempunyai t ugas menyusun dan menyediakan pelbagai macam st at ist ik baik yang bahan-bahan dasarnya ia kumpulkan sendiri maupun yang didasarkan kepada bahan-bahan dari inst ansi l ain, maka dari sudut prakt is dianggap t et ap bila Biro t ersebut diberi f ungsi j uga unt uk membahas rencana t iap penyel idikan st at ist ik yang hendak disel enggarakan ol eh sesuat u inst ansi.

Dengan demikian dapat lah diharapkan t idak saj a t ercegahnya doubl ure, t et api j uga bahwa t iap-t iap penyelidikan dapat diberi doublure, t et api j uga bahwa t iap-t iap penyelidikan dapat diberi bent uk yang lebih berguna lagi karena dapat mempersat ukan beberapa kebut uhan.

Penyel idikan st at ist ic secara kecil -kecil an dit il ik dari sudut biayanya dan j uml ah individu yang diselidiki at aupun yang cukup dij al ankan oleh t enaga-t enaga dari inst ansi yang berkepent ingan, dapat dilakukan sesudah rencananya t erlebih dahul u dibicarakan dengan Biro Pusat St at ist ik. Tet api dalam hal penyelidikan yang luas dan menyangkut berbagai inst ansi, maka perlu dimint akan perset uj uan Pemerint ah dahul u sebelumnya diselenggarakan.

Tiap-t iap t ahun Pemerint ah memerlukan gambaran t ent ang segenap aspek sosial ekonomi dari masyarakat dan unt uk maksud t ersebut maka Biro Pusat St at ist ik berkewaj iban menyediakan suat u kumpul an macam-macam st at ist ic yang disusun demikian rupa hingga dengan mudah dapat dipelaj ari hubungan ant ara sesuat u gej al a dengan yang lain. Unt uk memudahkan t ugas t ersebut maka kepada inst ansi-inst ansi lain yang j uga menyusun st at ist ik diwaj ibkan meneruskan buah hasilnya kepada Biro Pusat St at ist ik, kecual i j ika st at ist ic it u hanya mempunyai art i bagi keperl uan int ern inst ansi t ersebut .

Pasal 6.

Sepert i t elah dikemukakan dalam penj elasan umum maka kewaj iban unt uk memberikan ket erangan-ket erangan st at ist ik yang dil et akkan kepada seseorang at au badan t idaklah merupakan suat u hal yang perlu dirasa sebagai beban yang berat mengingat akan :

a. t uj uannya st at ist ik;

b. t erj aminnya kerahasiaan ket erangan perseorangan;

(10)

d. prinsip yang dianut ol eh Biro Pusat St at ist ik bahwa sej auh mungkin harus dicegah diaj ukannya pert anyaan-pert anyaan yang dapat menimbulkan syak wasangka at au yang sangat menyangkut soal kepribadian hingga bila diwaj ibkan unt uk dij awabnya, t oh akan diperoleh ket erangan-ket erangan yang kurang dapat dipercaya.

Biro Pusat St at ist ik hanya akan menggunakan wewenangnya unt uk melihat buku-buku/ naskah-naskah seseorang at au badan-dalam usahanya mengumpulkan ket erangan st at ist ik, bila obyek yang sedang disusun st at ist iknya memerl ukan ket erangan-ket erangan yang khusus t erdapat dalam buku-buku/ naskah-naskah it u, dan orang yang bert anggung-j awab dan waj ib memberikan ket erangan dimaksud, sendiri t anpa bant uan pet ugas st at ist ik t idak dapat mengut ip angka yang dikehendaki dan dimaksudkan oleh Biro Pusat St at ist ik. At au bila perlu menelit i kebenaran angka-angka yang t elah dit eruskan kepada Biro Pusat St at ist ik. Sekali-sekali wewenang ini t idak ada sangkut -paut nya dengan penyel idikan bert al ian dengan paj ak at au hal lainnya diluar st at ist ik.

Pasal 7.

Pasal ini memberi j aminan t ent ang dipegangnya t eguh sif at kerahasiaan dari ket erangan-ket erangan perseorangan baik mengenai seseorang at au badan.

Meskipun t ugas dari Biro Pusat St at ist i k menyaj ikan ket erangan berupa angka gabungan t et api dapat pul a t erj adi bahw a angka gabungan it u masih bel um cukup menyel ubungi sif at perseorangan, misal nya saj a angka yang merupakan gabungan mengenai produksi dari hanya dua perusahaan. Dalam hal ini dipert imbangkan t erlebih dahul u apakah pengumuman angka demikian t idak dapat merugikan f ihak yang t el ah memberikan ket erangan-ket erangan it u. Unt uk it u maka Biro Pusat St at ist ik sel al u merundingkan dan memint a perset uj uannya kepada badan at au perusahaan yang bersangkut an.

Pasal 8 dan 9.

Dalam usaha memperoleh bahan-bahan ket erangan berupa angka dari seseorang at au badan, Biro Pusat St at ist ik sel aku berpedoman kepada suat u kenyat an bahwa hasil nya akan l ebih baik bil a ket erangan-ket erangan it u diberikannya secara sukarel a dan dengan penuh kesadaran akan perlunya pengumpulan ket erangan-ket erangan it u, dari pada bila ket erangan-ket erangan it u diperoleh dengan ancaman hukuman. Dalam hal dirasakan adanya paksaan maka j awaban-j awaban it u akan cendrung unt uk sedikit banyak menyimpang dari kebenaran. Karena it u akan sel al u diperhat ikan dengan sungguh-sungguh syarat -syarat t ehnis mengenai pengumpul an ket erangan-ket erangan dan t erlebih dahulu diselenggarakan pemberian penj el asan dan penerangan t erhadap umum mengenai usaha it u.

Meskipun t it ikberat dalam usaha st at ist ik dilet akkan pada kerj asama yang seerat -erat nya dengan umum, namun ancaman hukuman perlu diadakan t erhadap pelanggar-pelanggar yang t anpa alasan yang sah mengelakkan diri dari kewaj ibannya membant u usaha st at ist ik.

Hukuman-hukuman yang disebut dalam kedua pasal ini didasarkan kepada pokok pikiran bahwa pel anggaran/ kej ahat an yang serupa selayaknya diberi hukuman yang serupa pul a baik bagi pet ugas maupun bagi umum.

(11)

Pasal 10.

Mengenai kegiat an st at ist ik lain dari pada yang dilakukan at as t ugas at au dengan izin khas dari Pemerint ah, dipandang t idak perlu unt uk menggunakan ancaman hukuman yang dit ent ukan dalam pasal 8 dan 9 dan unt uk melet akkan kewaj iban-kewaj iban kepada umum sebagaimana t ert era dalam pasal 6 dan 7, karena kegiat an st at ist ik lainnya akan merupakan usaha secundair dalam art i penyusunan st at ist ik yang bahan-bahannya t inggal mengambil dari cat at an-cat at an yang t elah ada at au dari administ rasi sesuat u inst ansi. Mungkin j uga st at ist ik lain it u merupakan st at ist ik yang int ern dan t idak menyangkut umum.

Pasal 11.

Sudah j elas.

Pasal 12.

Referensi

Dokumen terkait