• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ketentuan Material Pajak Hotel dan Restaurant File

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Ketentuan Material Pajak Hotel dan Restaurant File"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

1

H. Edi Sumantri, SE, MSi

KETENTUAN MATERIAL PAJAK

DAERAH

BERDASARKAN UU NO. 28 TAHUN

2009

Oleh

:

(2)

2

Perimbangan Keuangan Negara dengan Daerah-daerah yang Berhak

Mengurus Rumah Tangganya sendiri

I. 3 Jenis Pajak untuk Dati I yaitu :

1. Pajak Verponding

2.

Pajak Kendaraan Bermotor

3. Pajak Rumah Tangga

II. 5 Jenis Pajak untuk Dati II yaitu :

1. Pajak Verponding Indonesia

2.

Pajak Jalan

3. Pajak Potong Hewan

4. Pajak Kopra

5.

Pajak Pembangunan

(3)

PAJAK DAERAH DI DKI JAKARTA

Undang-undang Nomor 11 tahun 1957 memberikan keleluasaan pada Daerah

untuk menciptakan jenis-jenis Pajak Daerah baru sepanjang belum dipungut

oleh Pemerintah tingkat atas, sehingga jumlah jenis pajak-pajak daerah

mencapai 43 jenis dan yang dipungut di DKI Jakarta sebanyak 14 jenis Pajak

Daerah yaitu :

1.Pajak Kendaraan Bermotor

2.Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor

3.PAJAK PEMBANGUNAN 1

11.Pajak atas Kendaraan Tidak Bermotor

12.Pajak Alat Angkutan di Air

13.Bea Balik Nama Alat Angkutan di Air

14.Pajak Potong Hewan

(4)

TAX REFORM I

Dengan diberlakukannya Undang-undang No. 18 Tahun 1997 tentang Pajak

Daerah dan Retribusi Daerah, beberapa jenis Pajak Daerah dihapus, jenis

Pajak Daerah yang dihapus yaitu :

1.Pajak Bangsa Asing

2.Pajak Penjualan Minuman Keras

3.Pajak Radio

4.Pajak Anjing

5.Pajak atas Kendaraan Tidak Bermotor

6.Pajak Alat Angkutan di Air

7.Bea Balik Nama Alat Angkutan di Air

8.Pajak Potong Hewan

Undang-undang No. 18 Tahun 1997 memberikan tambahan beberapa jenis

Pajak Daerah baru bagi Daerah sebagai pengganti yaitu :

1.PBB KB

2.PABT AP

3. Pengambilan & Pengolahan Bahan Galian Golongan C

(5)

TAX REFORM I

UU NO. 18 TAHUN 1997

Pajak Daerah dan Retribusi Daerah

Dengan PP No. 19 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah

I.Jenis Pajak Daerah TK I

1. PKB

2.

BBN-KB

3.

PBB-KB

II.

Jenis Pajak Daerah TK. II

1.

PAJAK HOTEL DAN RESTORAN

2.

PHI

3.

PRK

4.

PPJ

5.

Pajak Pengambilan & Pengolahan Bahan Galian Golongan C

6.

PABT-AP

(6)

TAX REFORM II

UU NO. 34 TAHUN 2000

Pajak Daerah dan Retribusi Daerah

Dengan PP No. 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah

I.Pajak Provinsi

1.Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air

2.Bea Balik Nama Kendaraan Ber-motor dan Kendaraan di Atas Air

3.Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor

4.Pajak Pengambilan dan Peman-faatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan

II.Pajak Kabupaten/Kota

6.

Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C

7.

Pajak Parkir

(7)

Daerah

UU 34/2000

UU 28/2009

Provinsi

1. Pajak Kendaraan Bermotor

2. Bea Balik Nama Kendaraan

1. Pajak Kendaraan Bermotor

2. Bea Balik Nama Kendaraan

(8)

Daerah

UU 34/2000

UU 28/2009

Kabupaten /

Kota

1. Pajak Hotel

2. Pajak Restoran

3. Pajak Hiburan

7.

Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan

(perubahan nomenklatur)

8.

Pajak Air Tanah

(pengalihan dari Prov)

9.

Pajak Sarang Burung Walet

10. PBB Pedesaan & Perkotaan

(pendaerahan pajak pusat)

11. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan

Bangunan

(pendaerahan

pajak pusat)

TAX REFORM III ( Local Taxing Power )

(9)

TAX REFORM III ( Local Taxing Power )

(10)

No

PAJAK PROVINSI

UU-34/2000

UU 28/2009

1

PAJAK KENDARAAN BERMOTOR

KB Pribadi (Pertama)

KB Pribadi (Kedua, dst)

KB Umum/Pem/TNI/POLRI

2

BEA BALIK NAMA KEND BERMOTOR

Penyerahan Pertama

Penyerahan Kedua, dst

Alat Berat (Penyerahan I)

Alat Berat (Penyerahan II,dst)

10%

20%

20%

1%

0,75%

0,075%

3

PAJAK BAHAN BAKAR KEND BERMOTOR

5%

10%**

(Utk tarif KB Umum dpt

ditetapkan 50% lebih

rendah)

**Tarif PBB-KB yang ditetapkan dalam Perda dapat diubah dengan Perpres (dalam jangka waktu 3 tahun)

TAX REFORM III ( Local Taxing Power )

(11)

PAJAK KABUPATEN/KOTA

PAJAK KABUPATEN/KOTA

UU-34/2000

UU-34/2000

UU 28/2009

UU 28/2009

1. Pajak Hotel

10%

10%

11. PBB Pedesaan & Perkotaan

-

0,3%

TAX REFORM III ( Local Taxing Power )

(12)
(13)

RESTORAN ADALAH FASILITAS PENYEDIA MAKANAN

DAN / ATAU MINUMAN DENGAN DIPUNGUT

BAYARAN, YANG MENCAKUP JUGA RUMAH MAKAN,

CAFETARIA,

KANTIN,

WARUNG,

BAR,

DAN

SEJENISNYA

TERMASUK JASA BOGA/KATERING;

(14)

DENGAN NAMA PAJAK RESTORAN DIPUNGUT PAJAK ATAS

PELAYANAN RESTORAN.

(1)OBJEK PAJAK RESTORAN ADALAH

PELAYANAN

YANG DISEDIAKAN

OLEH RESTORAN .

(15)

TIDAK TERMASUK OBJEK PAJAK RESTORAN :

PELAYANAN YANG DISEDIAKAN OLEH RESTORAN

ATAU RUMAH MAKAN YANG PENGELOLAANNYA SATU

MANAJEMEN DENGAN HOTEL;

PELAYANAN YANG DISEDIAKAN OLEH RESTORAN

YANG NILAI PENJUALANNYA (PEREDARAN USAHA)

TIDAK MELEBIHI

Rp. 200.000.000,00 (DUA RATUS

JUTA RUPIAH)

PER TAHUN.

( perlu kajian akademis terkait

peredaran usaha)

(16)

SUBJEK PAJAK RESTORAN ADALAH ORANG PRIBADI

ATAU

BADAN

YANG

MEMBELI

MAKANAN

DAN/ATAU MINUMAN DARI RESTORAN.

WAJIB PAJAK RESTORAN ADALAH ORANG PRIBADI

ATAU BADAN YANG MENGUSAHAKAN RESTORAN.

DASAR PENGENAAN PAJAK RESTORAN ADALAH

JUMLAH PEMBAYARAN YANG

DITERIMA ATAU

YANG SEHARUSNYA DITERIMA

RESTORAN.

TARIF PAJAK RESTORAN DITETAPKAN SEBESAR 10

%

(17)

MASA PAJAK ADALAH JANGKA WAKTU YANG

LAMANYA SAMA DENGAN 1 (SATU) BULAN

TAKWIM,

BAGIAN DARI BULAN DIHITUNG SATU BULAN

PENUH.

SAAT TERUTANG PAJAK :

PAJAK RESTORAN YANG TERUTANG TERJADI PADA

SAAT PEMBAYARAN KEPADA PENGUSAHA

RESTORAN ATAS PELAYANAN DI RESTORAN.

(18)

PERKEMBANGAN WAJIB PAJAK, RENCANA DAN REALISASI

PENERIMAAN PAJAK RESTORAN SELAMA 7 TAHUN

(19)

Lokal taxing empowerment …. Pajak Restoran ?

Batasan peredaran usaha yg dikecualikan dari objek.

Pajak Restoran Bukan Pajak Warteg

Perlukah perlakuan khusus thd warteg dan Kaki Lima

Sistem pemungutan Pajak Restoran ……... ? PP 91 /

2009 ?

Potensial loss Pajak Restoran.

Perhitungan Potensi Penerimaan Pajak Restoran,

E comers Pajak Restoran.

Perlakuan Pemajakan thd Potongan Harga/ Discount. ?

Optimalisasi Penerimaan Pajak Restoran.

(20)

NO

Penguatan perpajakan daerah

Penguatan perpajakan daerah

(

(

local taxing empowerment

local taxing empowerment

)

)

.

.

PERTIMBANGAN

PAJAK RESTORAN

DIPERLUAS MENJADI

PAJAK RESTORAN DAN

JASA BOGA

1.

Saat ini terjadi duplikasi pengenaan Pajak Restoran

dan PPN terhadap usaha layanan jasa boga dalam

bentuk penjualan makanan dan minuman pada outlet

yang tidak dinikmati ditempat seperti pastry, ice

cream dan makanan siap saji lainnya yang

pesanannya

dapat

dibawa

pulang

(take

away)/delivery order (DO).

2.

Obyek pajak ini untuk tingkat nasional secara

(21)

21

Peredaran usaha restoran yg dikecualikan

UU 34/2000

UU 28/2009

DEFINISI RESTORAN :

Psl 1 angka 6 Perda No. 8 th 2003 ttg Pajak Restoran : Restoran adalah tempat menyantap makanan dan / atau minuman yang disediakan dengan dipungut bayaran, tidak termasuk usaha jasa boga/katering.”

TIDAK TERMASUK PAJAK RESTORAN : Psl 3 ayat (2) huruf “c” Perda No. 8 th 2003 :

Pelayanan yang disediakan noleh restoran atau rumah makan yang peredaran usahanya tidak melebihi Rp. 30.000.000,- per tahun.

Pasal 4…… Perubahan besarnya peredaran usaha sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 ayat (2) huruf “c”, sesuai dengan perkembangan perekonomian dapat ditinjau kembali dengan keputusan Gubernur”

Dalam Perda 12/2010 tidak ada Pasal yg terkait dengan kewenangan Gub utk meninjau besaran peredaran usaha yg dikecualikan

DEFINISI RESTORAN :

Pasal 1 angka 23 UU No. 28 tahun 2009 :

Restoran adalah fasilitas penyedia makanan dan / atau minuman dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga rumah makan, kafetaria, kantin, WARUNG, bar, dan sejenisnya termasuk jasa boga/ katering.”

Pasal 1 angka 10 Perda 12/2010 ttg Pajak Restoran : Restoran adalah fasilitas penyedia makanan dan / atau minuman dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga rumah makan, kafetaria, kantin, WARUNG, bar, dan sejenisnya termasuk jasa boga/ katering.”

TIDAK TERMASUK PAJAK RESTORAN :

Psl 3 ayat (3) huruf “b” Raperda Pajak Restoran :

(22)

Perlakuan Pemajakan dengan Diskon

Perlakuan Pemajakan dengan Diskon

PASAL 6 :

PASAL 6 :

Dasar Pengenaan Pajak Restoran adalah jumlah

Dasar Pengenaan Pajak Restoran adalah jumlah

pembayaran yang diterima atau yang seharusnya

pembayaran yang diterima atau yang seharusnya

diterima restoranm

diterima restoranm

Penjualan Makanan Minuman

=

Rp 1.000.000,00

Service charge5 %

=

Rp 50.000,00

Pajak Restoran 10 % x 1.050.000,- =

Rp

105.000,00

Diskon 10 % x 1.000.000,-

= Rp 100.000,00

Jumlah yg dibayar konsumen

=

Rp

1.055.000,00

Penjualan Makanan Minuman

=

Rp 1.000.000,00

Service charge5 %

=

Rp 50.000,00

Pajak Restoran 10 % x 1.050.000,- =

Rp

105.000,00

Diskon 10 % x 1.000.000,-

= Rp 100.000,00

(23)
(24)

HOTEL

ADALAH

FASILITAS

PENYEDIA

JASA

PENGINAPAN/PERISTIRAHATAN

TERMASUK

JASA

TERKAIT LAINNYA DENGAN DIPUNGUT BAYARAN,

YANG MENCAKUP JUGA MOTEL, LOSMEN, GUBUG

PARIWISATA, WISMA PARIWISATA, PESANGGRAHAN,

RUMAH PENGINAPAN DAN SEJENISNYA,

SERTA

RUMAH KOS DENGAN JUMLAH KAMAR LEBIH DARI

10 (SEPULUH);

( perlu kajian akademin terkait Rumah Kos, dari

aspek keadilan)

(25)

DENGAN NAMA PAJAK HOTEL DIPUNGUT PAJAK ATAS PELAYANAN YANG

DISEDIAKAN OLEH HOTEL DENGAN PEMBAYARAN, TERMASUK JASA

PENUNJANG SEBAGAI KELENGKAPAN HOTEL YANG SIFATNYA MEMBERIKAN

KEMUDAHAN DAN KENYAMANAN, TERMASUK FASILITAS OLAH RAGA DAN

HIBURAN .

OBJEK PAJAK HOTEL ADALAH PELAYANAN YANG DISEDIAKAN OLEH HOTEL

DENGAN

PEMBAYARAN,

TERMASUK

JASA

PENUNJANG

SEBAGAI

KELENGKAPAN HOTEL YANG SIFATNYA MEMBERIKAN KEMUDAHAN DAN

KENYAMANAN, TERMASUK FASILITAS OLAH RAGA, HIBURAN

DAN

PERSEWAAN RUANGAN DI HOTEL YANG DISEWAKAN OLEH PIHAK

HOTEL

.

JASA PENUNJANG ADALAH FASILITAS TELEPON, FAKSIMILI, TELEKS,

INTERNET, FOTOCOPY, PELAYANAN CUCI , SETERIKA, TRANSPORTASI,

DAN FASILITAS SEJENIS LAINNYA YANG DISEDIAKAN ATAU DIKELOLA

(26)

TIDAK TERMASUK OBJEK PAJAK HOTEL :

a. JASA

TEMPAT

TINGGAL

ASRAMA

YANG

DISELENGGARAKAN OLEH PEMPUS DAN PEMDA

b. JASA

SEWA

APARTEMEN,

KONDOMINIUM

DAN

SEJENISNYA.

c. JASA TEMPAT TINGGAL DI RUMAH SAKIT, ASRAMA

PERAWAT, PANTI JOMPO, PANTI ASUHAN, DAN PANTI

SOSIAL LAINNYA YG SEJENIS.

(27)

SUBJEK PAJAK HOTEL ADALAH ORANG PRIBADI

ATAU BADAN YANG MELAKUKAN PEMBAYARAN

KEPADA ORANG PRIBADI ATAU BADAN YANG

MENGUSAHAKAN HOTEL.

WAJIB PAJAK HOTEL ADALAH ORANG PRIBADI ATAU

BADAN YANG MENGUSAHAKAN HOTEL.

DASAR PENGENAAN PAJAK HOTEL ADALAH JUMLAH

PEMBAYARAN YANG DITERIMA ATAU YANG

SEHARUSNYA DIBAYAR KEPADA HOTEL.

TARIF PAJAK HOTEL DITETAPKAN SEBESAR 10 %

(28)

MASA PAJAK ADALAH JANGKA WAKTU YANG

LAMANYA SAMA DENGAN 1 (SATU) BULAN

TAKWIM,

BAGIAN DARI BULAN DIHITUNG SATU BULAN

PENUH.

SAAT TERUTANG PAJAK :

PAJAK HOTEL YANG TERUTANG TERJADI PADA SAAT

PEMBAYARAN KEPADA PENGUSAHA HOTEL ATAS

PELAYANAN DI HOTEL.

(29)

PERKEMBANGAN WAJIB PAJAK, RENCANA DAN

(30)

Lokal taxing empowerment …. Pajak HOTEL ?

Pajak Persewaan Ruangan vs Pajak Hotel.

Rumah Kos…. Jumlah kamar Vs Peredaran Usaha

Sistem pemungutan Pajak Hotel …….. ? PP 91 /

2009 ?

Potensial loss Pajak Hotel.

Perhitungan Potensi Penerimaan Pajak Hotel,

E comers Pajak Hotel.

Perlakuan Pemajakan thd Potongan Harg/

Discount ?

Optimalisasi Penerimaan Pajak Hotel.

(31)

NO Penguatan perpajakan daerah Penguatan perpajakan daerah (

(local taxing empowermentlocal taxing empowerment))..

PERTIMBANGAN

PAJAK HOTEL DI PERLUAS MENJADI

PAJAK PERSEWAAN RUANGAN

1. Usulan perlunya diberikan kewenangan yang lebih besar kepada Daerah melalui perluasan basis pajak daerah seperti Perluasan Obyek Pajak Hotel termasuk Apartemen, Kondominium dan Jasa Persewaan Ruangan,

2. Perluasan Basis Pajak Daerah Melalui Penambahan Obyek Pajak maupun Jenis Pajak Baru Sangat Diperlukan Dalam Rangka Memperbaiki Struktur Penerimaan APBD dan Memperkuat Penerimaan PAD.

3. Diusulkan sebagai upaya memperluas basis pajak daerah tanpa menambah jenis pajak baru, karena pada dasarnya pajak persewaan ruangan saat ini sudah dikenakan PPN Jasa yang meliputi Jasa Persewaan Ruangan untuk perkantoran, tempat usaha, pertokoan, apartemen, ruang pertemuan.

4. Pajak Hotel pada dasarnya juga merupakan Pajak Atas Jasa Persewaan Ruangan untuk penginapan.

5. Pajak persewaan ruangan ini secara teoritis lebih cocok menjadi pajak daerah karena konsumsinya jelas hanya pada 1 (satu) daerah (obyeknya tidak mobile).

(32)

PERTUMBUHAN WAJIB PAJAK

(33)

Contoh soal

Penerapan Ketentuan Sanksi dalam SKPDKB

33

Pemeriksaan dilakukan pada bulan April 2012 untuk masa

pajak Januari s/d Desember 2011, dan SPKDKB diterbitkan 14 April 2012

dengan hasil pemeriksaan sbb :

(34)

Penerapan Sanksi dalam SKPDKB

34

Dasar Pengenaan Pajak dari hasil pemeriksaan

=

25,000,000,000

a. Pokok pajak yang terutang

=

2,500,000,000

b. Pembayaran Masa Jan s/d Des 2011

=

2,000,000,000

c. Pokok pajak kurang bayar

=

500,000,000

d. Sanksi Administrasi

Kenaikan

(25% x Rp. 2.500.000.000)

=

625,000,000

* Bunga

(lihat tabel)

=

83.400,000

708.400,000

(35)

Penerapan Sanksi dalam SKPDKB

35

Sanksi Administrasi Berupa Bunga 2% per bulan Th.2011

(36)

Referensi

Dokumen terkait

2.6 Pengaruh Motivasi Kerja terhadap Kinerja Auditor Sudah banyak penelitian mengenai pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja karyawan yang sudah dilakukan sebelumnya, antara

SBdP 3.1 Memahami gambar cerita. 4.1 Membuat gambar cerita. INDONESIA 3.1 Menentukan pokok pikiran dalam teks lisan dan tulis. 4.1 Menyajikan hasil identifikasi pokok

Angkringan sebagai sebuah usaha untuk menumbuhkan kembali ekonomi rakyat harus dapat ditopang agar usaha ini tidak tergerus oleh gaya hidup sekarang. Angkringan

Saw.SM, Tong L, Chua WH, Koh D, Tan DTH.Katz J.Incidence and Progression of Myopia in Singapore School Children.Investigative Ophthalmology and Visual Science, January

Tabel diatas menunjukan bahwa dalam menggunakan layanan situs Bukalapak responden menginginkan website dengan tingkat kualitas produk yaitu produk yang memiliki

PETUGAS TEKNIS OPERASIONAL PELAYANAN Tugas pokok : Melaksanakan kegiatan pelayanan kesehatan masyarakat.. Penyusunan rencana kegiatan dibidang pelayanan medik, penunjang medik

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa kami dapat menyelesaikan Tesis Pengaruh Mobilisasi Progresif Level I Terhadap Risiko Dekubitus

Pengaruh pupuk mikrobiologis pada massa akar , jumlah dan massa nodul massa Akar ( Tabel 1 ) pada varian dengan inokulasi diterapkan pada rata-rata untuk ketiga mempelajari