Gamangnya Komunikasi Politik Presiden Oleh: Suwandi Sumartias
(Pengajar Komunikasi Politik dan
Koordinator Program Magister Komunikasi Pascasarjana Unpad)
Dalam kurun waktu tiga bulan lebih, Presiden Jokowi tampaknya semakin gamang dalam berkomunikasi di depan publik, khususnya dalam menyampaikan berbagai kebijakan yang menuai protes masyarakat. Terakhir, pemberitaan antara Presiden Jokowi, KPK dan Komisi III DPR tentang calon Kapolri yang bermasalah sangat masif di berbagai media dan menuai berbagai komentar miring, karena calon kapolri dinyatakan tersangka oleh KPK. Alih-alih sebelumnya dihujat juga karena meniadakan subsidi Premium (baca:menaikan harga BBM) yang fantastis, dan lucunya, dalam waktu singkat (senin tanggal 19 Januari 2015) turun kembali menjadi Rp 6.500, sementara harga barang dan kebutuhan rakyat tak pernah bisa turun kembali.
Dua kasus yang menghebohkan di masyarakat, akhirnya selalu terpusat ke Presiden sebagai Kepala Negara sebagai eksekutif. Sosok sederhana, merakyat, jujur dan bersih tampaknya belum memadai untuk tampil sebagai kepala negara, apalagi jika pengelolaan komunikasi politiknya belum dapat meyakinkan sebagai seorang presiden. Kegalauan dan ketidakpercayaan diri dalam setiap melakukan press conference, semakin menegaskan kegagalan komunikasi polik beliau. Bahasa tubuh dan wajah presiden seringkali kurang mendukung sebagai kepala negara yang berwibawa. Padahal menurut Ray Birdwhistell (2004), dalam karyanya ”kinesics and context ” mengungkapkan arti penting bahasa tubuh dan konteks (sebagai presiden) memiliki kaitan erat antara apa yang disampaikan dengan gerakan tubuh. Berbagai pesan yang tersembunyi melalui gerakan tubuh, seringkali berlawanan dengan ucapannya, bahkan terkesan sangat gamang, tergesa-gesa dan tanpa pemikiran/pertimbangan yang matang.
Merk Politik Presiden
Kabinet kerja bentukan presiden sebagai merk politik (political Branding), sejatinya bukan berarti siap kerja tanpa perencanaan dan pemikiran yang komprehensif dalam memahami kondisi nyata bangsa ini. Bahkan, menurut beberapa teman di berbagai kementerian, presiden tak memerlukan visi dan misi lagi, namun yang terpenting program kerja, padahal road map kegiatan kementerian dan atau lembaga selalu diawali dengan visi, misi dan program serta rencana strategis (renstra). Walaupun, benar mental birokrat memerlukan reformasi segera dan mendesak, namun tidak mudah juga.
Brain Mc.Nair (2005) mengingatkan bahwa komunikasi politik di era transformasi yang sangat cepat dan dinamis, maka sikap, pemikiran dan perilaku politik para elite bangsa yang konservatif dan lambat, akan menuai kegagalan komunikasi politik dan atau akan tumbuh iklim komunikasi politik yang tidak sehat. Menurutnya, potensi dan dinamika organisasi sosial politik, budaya, ekonomi, keagamaan, bahkan organisasi teroris-pun seyogianya menjadi kajian mendalam para elite politik , dan organisasi ini selalu berhadapan dengan hadirnya kesadaran warga, media massa dan jejaring sosial yang semakin kuat sebagai sumber pembangun opini masyarakat.
tindakan tersebut tidak melawan kehendak rakyat. Padahal DPR bisa menunda atau menolak nama yang diajukan presiden. Bahkan dikatakan, rakyat yang mana yang menolak calon tersebut. Mereka telah duduk di DPR dan tak lagi ingin terikat dengan rakyat. Alih-alih rakyat telah lupa dan tidak tahu dengan pilihannya. Inilah wujud sementara demokrasi ala Indonesia.
Demokrasi Kosmopolit
Keunggulan media massa dan jejaring sosial telah turut mengantarkan Jokowi sebagai presiden, juga sekaligus menjadi media pemantau dan evaluator atas kinerja presiden dan kebinet kerjanya. Belum ada gebrakan nyata dari presiden dan para pembantunya yang sangat signifikan bagi kepentingan rakyat luas, kecuali berbagai keraguan dan tidak adanya komunikasi dan koordinasi yang matang. Alih-alih adanya gejala menihilkan fungsi legilatif. Gagalnya reformasi birokrasi (sebagai warisan era sebelumnya), tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Jokowi dan para pembantunya untuk segera menuntaskan, dengan berbagai resiko, jika tidak, akan berhadapan dengan gerakan arus bawah yang dimotori para aktor media dan tokoh-tokoh informal lainnya akan membentuk ”parlemen jalanan”.
Arus globalisasi dengan sosok demokrasi kosmopolit telah membawa negara-negara berkembang seperti Indonesia untuk tidak bisa tidak menolak demokrasi kosmopolitan (demokorasi internasional). Negara sebagai praksis politik yang berlandaskan Pancasila seolah tidak siap untuk bersanding dengan demokrasi kosmopolitan, bahkan telah kehilangan gaung dan wibawanya. Pancasila menjadi wacana yang tak lagi menarik perhatian banyak orang, kecuali dalam acara seremonial dan dinding-dinding ruangan. Politik kultural Pancasila yang dibangun bersama para pendahulu negeri ini mulai kehilangan ruh kepercayaan, karena dalam ranah implementasinya seakan tak mampu menjawab perkembangan dunia yang sangat kental dengan warna neoliberalismenya. Praktik korupsi di berbagai elemen birokrasi, bukannya berkurang, namun sebaliknya menjadi gaya dan strategi yang dianggap wajar. Bahkan bagi para koruptor, penjara telah kehilangan makna, kecuali sekedar dianggap “kesialan” saja. Praktik negara mengalami hegemoni oleh sebagian para elite birokrasi dan politisi. Alih-alih kehadiran multi partai dan tokoh politik yang tak beretika dan bermoral, karena mereka hadir di lembaga legislatif nihil komitmen perubahan, kecuali meraup dan haus akan fasilitasnya (zona nyaman birokrasi).
Masalah serius yang dihadapi Presiden Jokowi, bagaimana mewujudkan pemerintahan demokratis yang kontekstual sebagai NKRI dengan mengedepankan pentingnya politik kultural Pancasila dan mampu bersaing secara global, bukan saling meniadakan. Alih-alih sebagai “boneka” para investor asing dengan ideologi dan atau kepentingan masing-masing. Dan untuk mengembalikan kepercayaan warga, Jokowi dengan para pembantunya, perlu melakukan strategi komunikasi dengan semua lembaga negara dan para pemangku kepentingan lainnya secara intensif dan terbuka untuk merumuskan langkah-langkah kerja yang searah dan optimal serta penting untuk kepentingan bangsa dan negara. Termasuk pengelolaan kesan (impression management ) di depan insan pers untuk lebih berwibawa dan mumpuni.