GPB Suka Arjawa
PRESIDEN,
PARTAI POLITIK,
DAN MASYARAKAT
PRESIDEN, PARTAI POLITIK, DAN MASYARAKAT ©GPB Suka Arjawa
Penerbit : Buku Arti e-mail : [email protected]
Pracetak : Nyoman Krining
Sampul Ketut Pangus
Cetakan pertama, Mei 2015
Diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka
Datar Isi
Ucapan Terima Kasih v Pengantar
Pemilihan Presiden di Tengah Perubahan Sosial ix
PRESIDEN
Presiden Itu Harus Diatur Juga 3
Faktor Perpecahan Dalam Pemilihan Calon Presiden 6 Menyikapi Calon Presiden Dari Istri Pejabat Negara 10 Lepaskan ”Set Kedua”, Kosentrasi Pada Set Berikut! 14 Baik Buruk Calon Presiden yang Berani Tampil Lebih Dulu 18 Kelemahan Popularitas Calon Presiden Indonesia 22 Realitas Televisi Dalam Perebutan Presiden Indonesia 26 Presiden Dalam Mata “Pancingan’ Relawan 30
Saling Membagi Informasi Untuk Memajukan Indonesia 34 Citra Dalam Pelantikan Presiden Indonesia 38
Mewujudkan Quick Wins Dalam Pemerintahan Indonesia Baru 41
Melihat Jokowi Menjalankan Pemerintahan Tanpa “Politik” 44
Menghargai Presiden Memilih Anggota Kabinet 47 Memberikan Kesempatan Kabinet untuk Bekerja, Bekerja dan Bekerja 50
PARTAI-PARTAI
“Partai Pemulung” 59
Ngaku Kalah Atau Sekedar Strategi? 62
Mengatasi Sanksi Sosial Terhadap Partai Demokrat 65 Kesediaan Berkorban dan Mengalah Dari Partai Politik 69 Penyebaran Inspirasi Dari Gabungan Partai Politik 73
Sisi Lain Konlik Internal Partai Demokrat 77
Hindari Jadi Parpol Pahlawan ”Kepagian” 81 Zigzag Politik Golkar dan Potensi Poros Ketiga 85 Menyaksikan Babak Lanjutan Dinamika Partai Golkar 89 Membuang Kesempatan Memperbaiki Citra 93
Dinamika Golkar Dalam Politik Indonesia 96
Menerawang Masa Depan Golkar Pasca Munas Bali 100 Menunggu Respon Politik Dari Konstituens Golkar 103 Di Balik Sikap Bolak-balik Pemilihan Kepala Daerah 107 Agar Partai Tak Hancur dan Kekuasaan Tak Melayang 111
MASYARAKAT
Menyindir Aparat Lewat Sandal Jepit 117
Minoritas, Dilema Demokrasi, dan Rhoma Irama 121 Elite Politik Seharusnya Mampu Menjadi Promotor 125 Korupsi dan Kekuatan Modal Sosial 129
Strategi untuk Memaksimalkan Bantuan Langsung Tunai 133 Hubungan Perusahan-Buruh Menjadi Tantangan
Pemerintah 137
Sikap Kepada Perempuan: Tradisionalis di Tengah “Modernisasi” 141
Jika Ratu Adil Bertemu Ratu Adil Dalam Pemilu 145 Melindungi Rakyat Dari Pembohongan Politik 149
Berbagai Persoalan Menghadang Bonus Demograi 153
Potensi Perubahan Sosial Jika Kewenangan Pemilihan di DPRD 157
RAKYAT DAN WAKILNYA
Politisi Muda Cerdas, Bukan yang Perlihatkan Otot Lengan 167
Mencari Sosok Anggota Legislatif Berwawasan Luas 171 Kesempatan untuk Memperbaiki Kualitas Caleg 175 Waspada Memilih Politisi di Tengah Perubahan Sosial 179 Peran dan Makna Keterlibatan Politisi di Masyarakat 183 Persiapan Menghadapi Kenyataan Usai Pemilu 187 Masyarakat Kerja Keras Mengawal Perda RTRW 191 Daerah Tingkat II, Kebijakan Otonomi Paling Ideal 195 Memanfaatkan Sisa Waktu Secara Maksimal 199 Pilihan Senator Cermin Sikap Politik Masyarakat 203 Tanda-Tanda Kebingungan dan Kegagalan Reformasi Indonesia 207
Negara Lain Memutari Mars, Politisi Indonesia Berputar-Putar 211
Kegaduhan dan Kekonyolan Penampilan Awal Anggota DPR 215
Ucapan Terima Kasih
B
uku ini disusun berdasarkan tulisan yang telah diuat di harian Balipost pada penerbitan periode 2004 sampai dengan 2014. Sebagai penulis, saya sudah menulis cukup banyak artikel, baik dengan nama sendiri maupun nama samaran di harian ini. Saya berterma kasih kepada harian ini yang telah menerbitkan tulisan saya sejak dekade sembilanpuluhan, malah sejak akhir dekade delapan puluhan. Pada awalnya tulisan tersebut berkisar pada masalah-masalah internasional, sesuai studi yang saya tempuh. Akan tetapi, mulai akhir dekade sembilanpuluhan, tulisan ini berkisar pada politik domestik dan persoalan-persoalan sosial domestik yang sedang hangat pada waktu itu. Tulisan yang dibuat sebagian besar merupakan analisis dan respon keadaan politik dan sosial yang sedang hangat, baik internasional maupun nasional, sehingga dapat dikatakan tulisan ini mengaca kepada situasi hangat pada waktu tersebut.Dalama buku yang merupakan kumpulan tulisan ini, dipilih tiga kelompok tulisan yang masing-masing mengacu kepada tema presiden dengan segala persoalan yang terjadi dan dihadapi, persoalan partai politik dan terakhir adalah kemasyarakatan. Dalam hal kemasyarakatan, digabungkan dengan tulisan tentang Dewan Perwakilan Rakyat, sebab bagaimamanapun parlemen merupakan wakil rakyat dengan berbagai dinamika yang ada di sekitarnya.
budaya, saling berebutan. Rakyat yang memahami persoalan ini, menjadi tersenyum, bahkan tertawa karena seolah mereka hanya merebut posisi presiden saja tetapi setelah memegang posisi tidak mampu menjalankannya dengan baik. Menjadi bulan-bulanan lawan politik dan massa karena kebanyakan para “perebut” itu hanya melihat hal kepresidenannya saja tanpa berupaya melihat bagaimana rasa dan tugas menjalankan hal ikhwal tentang kepresidenan. Sedangkan partai politik perlu dikedepankan karena bukan saja menjadi aktor tetapi juga agen dalam sistem politik suatu negara. Sudah jelas juga Indonesia. Partai politik memegang peran penting sebagai jembatan kepentingan antara rakyat dengan pemerintah dan negara dalam mencapai kesejahteraan. Di organisasi ini pula para aktor politik digodog sebelum ia menjadi tokoh legislatif atau eksekutif. Bahkan sampai sekarang konstitusi Indonesia masih mengharuskan calon presiden dicalonkan oleh partai politik. Tentang partai politik di Indonesia, dinamikanya sungguh menarik. Ia tidak hanya menjadi lokasi bagi pemegang keputusan politik untuk beraktivitas, akan tetapi dapat juga menjadi ajang untuk melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalu.
Misalnya seorang pengangguran tiba-tiba saja mendapatkan keberadaannya di partai politik dan kemudian justru menjadi kunci dalam sikap politik partai tersebut. Partai dengan demikian boleh dikatakan mampu membelokkan karir seseorang. Organisasi ini jelas mempunyai peran untuk mencari kekuasan dan pengaruh, dan selanjutnya apabila berhasil menduduki posisi politik, juga dapat memeperbaiki kondisi ekonomi seseorang. Maka, tidak heran kemudian posisi-posisi struktural pada partai politik menjadi
rebutan, yang ujung-ujungnya dapat membuat konlik internal partai.
pemerintah. Bagaimanapun hal ini merupakan subangan positif. Dalam konteks realitas politik, boleh dikatakan partisipasi politik masyarakat ini adalah dalam bentuk informal, yang disuarakan tidak melalui cara formal di lembaga pemerintahan. Meski demikian, partisipasi seperti ini penting dan bahkan menjadi tontonan bagi masyarakat. Kritikan dan usulan melalui radio atau televisi, tentu saja dapat disaksikan secara langsung oleh banyak masyarakat Indonesia. Sebaliknya, apabila kita melihat salah satu peran dari anggota DPR (D), tidak lain mereka adalah wakil-wakil rakyat yang melakukan partisipasi politik secara formal di gedung parlemen. Para anggota legislatif ini membawa aspirasi politik dari masyarakat, yang dalam hal ini adalah masyarakat konstituensnya. Melalui perwakilan di DPR (D) inilah masyarakat akan memberikan masukan atau tuntutan yang berkaitan dengan tujuan kesejahteraan mereka.
Dengan alasan-alasan seperti itulah, maka tiga tema tersebut, yakni kepresidenan, kepartaipolitikan, dan kemasyarakatan penting untuk dilihat, dibaca kembali dan sudah tentu direnungkan bagaimana komentar yang harus diberikan di kemudian hari. Tentu maksudnya perkembangan pemikiran, ide dan sikap kritis di masa mendatang. Berdasarkan tulisan tersebut dapat dibuat pikiran baru terhadap tiga tema diatas. Sebagai tambahan, saya mencoba memberikan berbagai pendapat di bagian pendahuluan pada buku ini. Saya lebih banyak mengupas pada hal-hal yang berkaitan dengan kepresidenan karena sebagai negara berkembang dan menganut budaya paternalistik, hal kepresidenanlah yang akan lebih banyak menentukan arah negara di masa depan.
Saya bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas diterbitkannya buku yang memuat kumpulan tulisan ini. Saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Pemda Bali yang telah memberikan pembiayaan atas penerbitan buku ini. Selanjutnya tidak dapat dilepaskan peran sahabat Gung Mas Ruscitadewi yang telah memfasilitasi terbitnya tulisan ini. Jelas saya mengucapkan terima kasih kepada pihak Bali Post yang telah menerbitkan tulisan-tulisan penulis. Kepada Aryantha Soethama saya juga mengucapkan terima kasih atas penerbitan dan koreksi dari tulisan di buku ini.
maaf apabila di dalam tulisan-tulisan ini masih banyak kekurangan. Pencantuman tanggal pemuatan di Harian Balipost, kemungkinan tidak semuanya tepat karena data yang tercatat pada komputer berpotensi berbeda dengan tanggal pemuatan di koran. Akhrinya saya persembahkan buku ini untuk anggota “pasukan khusus” di keluarga kami, Ibun, Ageks dan Abetzs. Terima kasih untuk semuanya.
Pengantar
Pemilihan Presiden
di Tengah Perubahan Sosial
P
osisi presiden seolah-olah menjadi lokus paling diincar oleh para pejabat atau politisi di berbagai negara. Akan tetapi, kalau dilihat secara seksama, pengaruh seorang presiden tentu saja tetap terbatas. Misalnya dilakukan dengan undang-undang dan konstistusi negara. Malah sejarah India memperlihatkan bahwa orang paling berpengaruh pada masyarakat bukanlah presiden tetapi tokoh kharismatis. Mahatma Gandhi selalu dihubung-hubungkan dengan kemerdekaan negara itu dari Inggris dan selalu pula dikaitkan dengan gerakan satyagraha, perlawanan tanpa kekerasannya yang termasyur itu. Di Iran, tokoh paling berpengaruh bukanlah presiden, tetapi pemimpin agama Islam, yang disebut dengan Ayatollah. Negara-negara seperti Amerika Serikat atau Filipina, menempatkan presiden sebagai pemimpin politik, pemimpin negara dan pemimpin pemerintahan.yang dijatuhkan oleh anggota MPR. Akan tetapi, karena sudah ketentuan seperti demikian, rakyat tidak dapat berbuat banyak. Sistem politik sudah memungkinkan jalannya pemilihan seperti itu. Ketika kemudian politik berganti, dengan adanya reformasi yang diperjuangkan rakyat (dipelopori mahasiswa) tahun 1998, suasanya sangat berubah. Keterikatan antara rakyat dengan presiden boleh dikatakan dekat. Kedekatan ini terlihat karena rakyat secara langsung memilih presiden tanpa harus melalui perantara lembaga. Peran Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk memilih presiden sudah pupus dan kemudian digantikannya secara langsung. Ini merupakan perubahan sosiologis sangat penting bagi sistem kenegaraan Indonesia. Adanya pilihan seperti ini perlu dijelaskan secara sosiologis karena bagaimanapun wujud politik itu, pada akhirnya akan menukik menuju masyarakat. Manfaat dari perubahan cara memilih presiden itu langsung dapat diterjemahkan oleh masyarakat.
akan bertanya dengan rekan-rekannya, dengan kualitas pertanyaan yang berbeda. Jika dulu mereka bertanya, dengan kalimat awal “siapa” kini, adalah “bagaimana”. Artinya terkesaan di masa lalu, di jaman Orde Baru, presiden itu sudah dipatok dengan calon yang sudah ada. Kini dengan pertanyaan “bagaimana”, mereka tertantang untuk mengetahui gambaran-gambaran calon presiden yang ditampilkan oleh partai politik.
Perubahan sosial tidak hanya menyangkut masalah kualitas pemilihan lewat upaya-upaya rasionalitas tersebut, tetapi juga tentang keberanian masyarakat dalam melakukan sikap kritis secara langsung. Ini merupakan perubahan tidak saja pada sikap sosial tetapi juga perubahan dalam budaya politik. Ada beberapa budaya politik yang tercatat di masyarakat. Di masa lalu, orientasi politik masyarakat lebih banyak diam dan menyerahkan semua persoalan politiknya kepada elit. Akan tetapi dengan adanya sistem presiden yang dipilih secara langsung, maka orientasinya untuk terlibat di dalam sistem politik juga secara langsung, dan subyektif. Artinya, masyarakatlah yang akan melakukan penilaian dan memilih presiden berdasarkan persepsinya mandiri. Dalam bilik pemilihan, ia akan mencoblos sesuai dengan persepsinya sendiri terhadap calon-calon yang sudah ada. Tentu juga perubahan sosial tersebut menyangkut peran wanita. Dalam mengemukanan pendapat, kaum perempuan di Indonesia sudah ikut terlibat lebih besar. Ini tidak lain merupakan hasil dari sosialisasi politik kepeda perempuan, dimana yang dimaksudkan disini adalah proses penanaman nilai-nilai dan pembentukan sikap politik dan pola tingkah laku politik wanita (Siagian, 1996: 228)
langsung perdebatan dan penampilan kandidat di televisi, tetapi juga secara bersamaan muncul upaya maksimal dari panelis untuk mengeluarkan kemampuan bertanya, menggali potensi-potensi, kelebihan dan kekurangan kandidat. Pada saat yang sama juga muncul ke permukaan bagaimana hal ikhwal kualitas dari kandidat presiden mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Ini merupakan upaya yang luar biasa dari sistem demokrasi yang muncul dengan menghadirkan calon presiden yang mampu mendorong keserempakan semua pihak tersebut.
Sikap masyarakat untuk “sengaja” duduk di depan televisi (atau mungkin datang langsung ke studio), merupakan upaya kognitif,
subyektiikasi agar betul-betul mengetahui kemampuan kandidat
presiden. Rakyat akan menilainya dan kemudian, dengan cara seperti itu mereka mampu menangkap pemahaman-pemahaman sendiri orientasi dan kecerdasan dari sang kandidat. Malah, di desa-desa rakyat tidak sekedar menonton di televisi, akan tetapi secara langsung juga melakukan diskusi dengan rekan-rekan tentang pendapat, kelebihan dan kekurangan dari calon presiden ini. Sikap dan tindakan ini dimungkinkana begitu karena di desa, nonton bersama televisi itu masih terjadi. Secara langsung, akan muncul dialektika, pendapat baru dan pikiran baru terhadap calon presiden yang ada. Ini merupakan pengayaan. Jadi, budaya politik masyarakat akan menuju pada sikap subyektif. Cara seperti ini akan menghasilkan pilihan lebih cerdas dan rasional karena mereka memilih bukan hasil petunjuk dari orang lain, atau atas dasar indoktrinasi pihak lain, tetapi merupakan pilihan berdasarkan olah pikir secara mandiri. Masyarakat yang mampu melakukan olah pikir sendiri dan membuat keputusan politik sendiri, merupakan cikal bakal kecerdasan politik. Dan kecerdasan berpolitik merupakan syarat utama dari sebuah demokrasi.
tantangan lebih besar. Kesalahan kandidat politik yang berjuang memperebutkan posisi eksekutif (atau posisi jabatan apapun), terlihat pada melihat panggung itu sekdar di selingkaran studio televisi saja. Padahal, jangkauan televisi jauh lebih luas. Karena itulah kemudian sikap dan penampilan kandidat di televisi ini sangat berpengaruh. Mereka harus mampu menjawab pertanyaan demi memuaskan semua penonton televisi, bukan hanya mereka-mereka yang ada di studio saja. Kesiapan inilah yang sering kali mempengaruhi hasil dari penampilan televisi dari kandidat politik, maupun presiden dalam berpenampilan di televisi. Konon hal inidapat dimanfaatkan dengan baik ketika John F. Kennedy bertarung dengan Richard Nixon dalam perdebatan di televisi. Kenndy bertarung memakai baju jas yang warnanya tegas hitam sehingga penonton dapat menafsirkan ketegasananya. Sedangkan Nixon memakai jas abu-abu sehingga tidak dapat dipersepsikan tegas.
Perubahan orientasi masyarakat menjadi pekerjaan penting bagi politisi dan pembuat kebijakan Indonesia, terutama saat pemilihan presiden. Pada kondisi ini, masyarakat akan dapat bersikap secara langsung terhadap kepemilihan presiden. Secara tidak langsung akan mampu memberikan pendidikan politik dan latihan berpolitik. Sasarannya adalah bahwa di masa depan, sikap politik masyarakat ini tidak dilakukan secara serampangan dan kekerasan tetapi sopan dan santun dengan cara berbicara yang bagus dan runut. Dalam level negara, hal ini akan memerlukan waktu yang lama. Akan tetapi harus dilakukan demi pendidikan politik tersebut. Ditambah dengan contoh-contoh yang dilakukan oleh elit masyarakat, apalagi oleh elit politik, maka keinginan untuk mendapatkan masyarakat yang santun dalam berpolitik akan dapat dipercepat. Bagi Indonesia, kesantunan dan kesopanan politik ini sangat penting. Bukan saja untuk memutus sejarah politik yang terkesan tidak santun sejak tahun 1965, akan tetapi juga demi mendukung kekayaan ragam budaya dan kekayaan alam Indonesia yang melimpah. Politik yang tidak santun akan menguras pikiran dan waktu sehingga membuat upaya kosentrasi mengurusi segala kekayaan alam Indonesia, tidak dapat dilakukan.
Hasil politik tidak santun adalah konlik dan kecurigaan. Dan output dari konlik tersebut adalah ketidakkosentrasian dan ketidaksadaran
akan potensi diri. Itulah yang terjadi di Indonesia sekarang, sehingga membuat segala kekayaan budaya dan alam itu dikuras oleh pihak-pihak lain. Atau terkuras oleh monopoli-monopoli tertentu.
Komunikasi Politik
politik, dan pada akhirnya lingkungan politik. Komunikasi politik ini akan berubah sesuai dengan apa yang diperkenalkan dalam model sistem pemilu yang baru. Kajian-kajian di lapangan, komunikasi politik ini meluas, malah ikut memperbarui cara berbicara rakyat di berbagai tempat. Jika di masa lalu, anggota masyarakat ketakuta berbicara di ruang-ruang publik, maka ketika ada perubahan orientasi seperti setelah refromasi ini, pembicaraan tersebut menjadi jelas, berani dan terkadang terasa berlebihan.
Komunikasi politik hematnya dapat dibagi menjadi beberapa hal. Sebagai sebuah tindakan mengungkap ujaran, komunikasi politik itu dapat dimaknai sebagai cara berbicara, mengemukakan pendapat kepada siapapun dari sesorang atau kelompok, atau organisasi yang memuat tentang pesan-pesan politik. Pesan-pesan itu dapat berupa upaya mempengaruhi, menambah pengetahuan tentang konsepsi politik, propaganda, sampai dengan hal-hall yang menjatuhkan pihak lain dengan tujuan mendapatpakn power atau kekuasaan.
(Romli, 2005: 144). Tokoh-tokoh masyarakat, seperti tokoh budaya, para penggerak ekonomi, kelompok orang kaya dan sejenisnya juga mendominasi pembicaraan-pembicaraan politik. Mereka tidak hanya berbicara di lingkungan formal, tetapi terkadang juga membicarakannya di saat upacara adat atau sembahyang. Dengan demikian, sifat politik itu lebih banyak elitis. Pembicaraan politik yang sifatnya nasional, sangat periodik dan pada waktu yang telah ditentukan. Terutama satu tahun menjelang pemilihan umum atau setahun menjelang sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat, instansi-instansi pemerintah akan ramai-ramai menggelar apa yang dinamakan kebupatan tekad pada waktu itu. Kebulatan tekad ini biasanya pada waktu itu adalah memberikan gelar sebagai Bapak Pembangunan bagi Presiden Soeharto dan ditambahi embel-embel agar Sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat memilih kembali Soeharto menjadi presiden.
Akan tetapi, setelah adanya pemilihan langsung presiden ini, komunikasi politik dalam bentuk ujaran tersebut, bebas dan berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di masa Orde Baru. Pembicaraan soal suksesi kepemimpinan, bahkan tentang penjatuhan presiden, diujarkan oleh masyarakat secara terbuka melalui berbagai macam media. Kelompok-kelompok politik juga bebas mengutarakan calon presidennya dengan berbagai embel-embel. Dan masyarakat umum juga melakukan hal yang sama tanpa ketakutan ditangkap atau dikritik oleh siapapun. Monopoli komunikasi politik tersebut tidak hanya dilakukan oleh pemerintah tetapi juga oleh masyarakat. Dan yang paling penting juga adalah keterlibatan perempuan, baik pada bidang politik maupun sebagai partisipan politik. Perkembangan tersebut merupakan perkembangan penting karena mengubah konstelasi sikap kritis sebelumnya yang lebih didominasi kaum laki-laki. Partisipasi ini merupakan bagian dari sikap kritis perempuan, dimana mencoba membongkar segala sesuatu yang memojokkan perempuan (:Fuadi, 2013: 302) Inilah yang bisa dikatakan sebagai
bentuk perubahan yang signiikan dalam model komunikasi politik
setelah jaman reformasi.
bidang komunikasi politik. Indikatornya adalah adanya perubahan paling mendasar dan cepat terhadap pola komunikasi tersebut. Hal mendasar terletak pada du ahal, yaitu aktor yang menjadi pembawa komunikasi dan metode komunikasinya. Aktornya tidak lagi dikuasai oleh pemerintah, tetapi khalayak umum, bahkan tanpa memperlihatkan pendidikannya. Mereka dapat mengutarakan apa saja pendapatnya tentang presiden dan calon presiden yang disulkan. Metodenya, tidak lagi terkontrol dengan memakai waktu dan alat tertentu tetapi dilakukan secara mandiri, dengan ujaran mandiri. Soal waktu, kalau dilihat dari kemunculannya, maka model komunikasi politik yang bebas ini tidak hanya tahun 2014 tetapi sesungguhnya telah berakar sejak kejatuhan rejim Orde Baru tahun 1998.
Mengacu kepada hasil dari adanya komunikasi politik yang bebas ini, memang tidak dapat dikatakan secara instan sukses. Bahwa sekarang tetap menghasilkan para politisi yang tetap mementingkan dirinya sendiri, presiden yang juga masih belum mampu membuat keputusan yang cepat, ini mungkin bukan merupakan hasil yang baik dari komunikasi politik yang telah dilakukan sejak jauh hari sebelumnya. Akan tetapi, dengan adanya berbagai kebebasan mengeluarkan pendapat itu, setidaknya masyarakat telah mampu menyelami pembelajaran politik, sampai dengan berbagai hasil yang didapatkannya.
Sikap Kepada Presiden
itu dan sekaligus juga kebiasaan masyarakat, mulai dari struktur masyarakat kelas atas sampai dengan masyarakat paling bawah. Harus diakui sikap pasif seperti ini pada akhirnya menjadi gaya, kebiasaan dan kemudian menurun dicontoh oleh generasi-generasi setelahnya. Reformasi yang terjadi tahun 1998 sesungguhnya harus berjuang keras untuk mengubah perilaku ini karena generasi yang “tersedia” pada tahun 1998, adalah mereka-mereka yang sudah terbiasa dengan perilaku sosial seperti itu. Mungkin kegagalan memberantas korupsi di masa reformasi, disebabkan oleh adanya perilaku seperti ini. Intinya, sikap masyarakat pada jaman Orde Baru kepada presiden, adalah pasif.
Akan tetapi, mengatakan sikap pasif ini terus-terusan terjadi sampai akhir masa jabatan Presiden Soeharto dan Orde baru, tidak dapat dikatakan secara total. Kejatuhan Orde Baru dan turunnya kekuasaan Presiden Soeharto merupakan hasil dari pemikiran-pemikiran berani dan kritis. Sikap dari masyarakat, yang saat itu dipelopori oleh mahasiswa di Jakarta, adalah berani dan kritis. Yang dibutuhkan masyarakat saat itu adalah seorang pemimpin yang juga menjadi negarawan, bukan sekedar politisi. Seorang negarawan harus mampu menunjukkan keilmuannya untuk melaksanakan hal kepemrintahan. Mereka menggunakan ilmu pengetahuan sebagai sarana dalam menjalankan pemerintahan (Kelsen, 2014: 422). Inilah yang menjadi tuntutaan masyarakat. Ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang dapat ditulis, terlupakan dan dipelajari kembali dalam wajud dan substansinya yang tidak berubah. (Pakpaham, 1996: 111). Lepas dari dukungan dari pihak luar negeri maupun dari pihak-pihak tertentu di dalam negeri, kenyataannya adalah bahwa suara mahasiswa dan masyarakat itu, berhasil menjatuhkan kekuasaan Orde Baru dan melengserkan Soeharto dari kekuasaan.
Secara spesiik juga harus dilihat bahwa ketika mahasiswa melakukan
Terhadap pemerintahan Abdurahman Wahid dan B.J. Habibie, sikap ini masih juga dapat dikatakan pasif. Tidak terlalu banyak yang dapat diungkapkan karena pada pemerintahan ini model campuran itu masih kelihatan. Maksudnya, sistem politik dengan kewenangan MPR untuk menjatuhan presiden masih ada. Maka, kedua presiden ini kemudian seolah-olah dijatuhkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. Suara kritis mahasiswa dan masyarakat pada tahun 1998 itu tidak kelihatan pada pemerintahan B.J. Habibie dan Presiden Abdurahman Wahid.
Maka, sikap kritis yang paling kelihatan justru terlihat pada masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri dan pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono. Sikap kritis dari masyarakat ini secara sederhana bisa diungkapkan melalui konsep mengomentari berbagai perilaku dan kebijaksanaan yang dibuat presiden dan kemudian memberikan berbagai pendapatnya. Mungkin hal ini dapat dikatakan hal yang sangat sederhana apabila dikaitkan dengan teori kritis seperti dalam pengertian sosiologi. Namun demikian, seperti yang diungkapkan oleh Ritzer yang mengutip Bleich, bahwa teori kritis ini mengkritisi segala aspek kehidupan sosial dan intelektual. Terhadap teori-teori lain, salah satunya teori kritis tersebut mengkritisi positivism karena pendekatan ini sangat menentang peran aktor yang dipandang mempengaruhi berbagai tindakan sosial (Ritzer, Goodman, 2007: 177). Dengan memakai pendekatan sederhana tentang teori kritis tersebut, dalam dikatakan bahwa berbagai komentar yang dilakukan oleh masyarakat, termasuk sikap yang dikeluarkan oleh masyarakat masuk kedalam ranah teori kritis tersebut.
pada pemilihan umum tahun 1999. Akan tetapi setelah megawati menjabat sebagai presiden menggantikan Gus Dur, maka terlihat bagaimana kualitas kepemimpinan Megawati Soekarnoputri yang sesungguhnya. Masyarakat yang sebelumnya menjadi pendukung berat Megawati justru menjauh dan menyadari bahwa dari sisi kepemimpinan, Megawati tidak mempunyai kapasitas yang kuat untuk memimpin Indonesia. Hal yang sama juga terjadi kepada kepemimpinan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Sifat-sifat semangat dan revolusioner yang ditampilkan oleh para pengurus partai, dan juga pejabat partai yang duduk di pemerintahan, seperti anggota DPR (D) dan kepala daerah, tidak berhasil memuaskan rakyat. Maka, ketika diselenggarakan pemilihan presiden secara langsung tahun 2004, Megawati yang berpasangan dengan Hasyim Muzadi, kalah oleh pasangan Susilo Bambang Yudoyono dengan Yusuf Kalla.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia telah berhasil memperlihatkan sikap kritisnya. Sudah tentu sikap kritis tersebut muncul sebagai akibat dari kebijakan-kebijakan politik dan cara Megawati membuat kebijakan yang dipandang tidak memuaskan oleh rakyat. Salah satu yang paling kelihatan dari Megawati saat menjadi presiden adalah kelambatan dan sikap diamnnya yang terlalu banyak, sampai-sampai anak buahnya yang berada pada lingkungan istana membuat semacam jargon “diam itu emas”. Ini merupakan kelemahan dari Presiden Megawati Soekarnoputri.
saat itu memerlukan obat yang mujarab untuk menyembuhkan penyakit seperti kesenjangan antara kaya dan miskin, kesenjangan daerah Indonesia bagian barat, tengah dan timur serta bagaimana mempercepat pemberantasan kemiskinan. Inilah yang membuat Megawati kalah dalam pemilihan presiden pada pemilihan umum tahun 2004.
Citra Internasional
Pemilihan presiden, dimanapun di dunia, juga akan sangat menentukan citra negara dan bangsa. Di Indonesia, disamping sebagai kepala pemerintahan, presiden juga adalah seorang kepala negara. Sebenarnya, antara tugas sebagai kepela pemerintahan dan kepala negara ini satu dalam dua hal. Sebagai kepala negara, presiden akan mengangkat duta dan konsul, mengadakan perjanjian dengan negara lain, juga menyatakan perang atau perdamaian dengan negara-negara lain. Dalam konteks seperti ini, presiden tentu mempunyai arti yang penting bagi negara-negara lain. Karena itulah kemudian, secara politis presiden tersebut bisa mencerminkan bagaimana hubungan suatu negara dengan negara lain di satu masa yang akan datang. Track record presiden, perilaku politik sampai kelompok politiknya, akan menjadi penentu bagi negara-negara lain untuk memprediksi hubungan dengan negara tersebut.
Seperti misalnya terhadap Presiden Soeharto yang dibandingkan dengan Presiden Soekarno di masa lalu. Ketika Presiden Soekrno memegang kekuasaan di Indonesia, citra sebagai presiden yang lincah dan tidak takut dalam pergaulan internasional, serta pernah menantang negara-negara lain, membuat citranya di Asia Tenggara cukup menakutkan dan negara-negara lain khawatir kalau eksietensi negara mereka ditaklukkan oleh Indonesia di bawah kepemimpinan
Soekarno. Pada masa itu, Indonesia pernah konlik dengan Malaysia dan konlik dengan Belanda masalah Irian barat. Di masa Soeharto,
Peembentukan organisasi ini menegaskan bahwa Indonesia merupakan negar apecinta damai dan tidak ingin menganggu negara-negara lain.
Karena itulah, merupakan hal yang positif apabila seorang presiden baru di suatu negara, melakukan kunjungan kerja ke negara-negara tetangga segera setelah dilantik sebagai kepala negara. Tujuannya tidak lain untuk memberitahukan secara simbolis kepada negara-negara tetangga tersebut bahwa negara-negara bersangkutan mempunyai niat bertetangga baik dengan negara-negara di sekitarnya. Melalui kunjungan tersebut juga akan secara langsung dapat dilihat bagaimana sesungguhnya gaya, kepribadian, sikap politik dari kepala negara bersangkutan sehingga dapat secara langsung menilai dan berdialog dengan presiden. Kunjungaan kepada negara-negara tetangga sebaiknya merupakan prioritas bagi presiden baru. Setelah itu adalah negara sahabat yang posisinya jauh. Sahabat dapat saja berposisi kauh tetapi mempunyai kesamaan ide dan sumber daya.
Apa yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo ketika melakukan
kunjungan ke beberapa negara tetangga, merupakan releksi dari
posisinya sebagai kepala negara agar secara langsung negara bersangkutan memahami bagaimana sikap politik, perilaku dan latar belakang politik dari presiden baru Indonesia.
Masyarakat
Kalau dilihat dari konteks budaya politik masyarakat Indonesia, sesungguhnya apa yang terjadi pada pemilihan presiden itu, budaya politik yang diperlihatkan oleh masyarakat Indonesia adalah campuran. Di satu sisi, orientasi kognitifnya sudah maju karena telah
mampu mengidentiikasi hasil dari sebuah kebijakan politik yang
secara rasional, sesuai dengan pengetahuan politik masyarakat. Apabila kemudian dilihat pilihan-pilihan presiden berikutnya dari masyarakat, yaitu kepada Susilo Bambang Yudoyono dan Joko Widodo, maka segala nilai yang telah dicapai berdasarkan orientasi terhadap budaya politik tersebut, cukup meragukan. Masyarakat kemudian cenderung memilih presiden berdasarkan kharisma yang diperlihatkan oleh calon presiden yang ada. Susilo Bambang Yudoyono dan Joko Widodo boleh dikatakan sebagai presiden yang kharismatis. Dan presiden yang kharismatis, belum tentu juga mempunyai kemampuan manajerial yang bagus untuk mengelola negara, apalagi negara besar seperti Indoensia. Ada beberapa ciri dari charisma yang melekat pada dua calon presiden itu, yakni polos, kalem dan tidak neko-neko, atau berapi-api. Ini merupakan ciri khas dari budaya Indonesia yang tidak mengemukakan apa yang ada sesungguhnya di dalam hati.
Kedua, pada Susilo Bambang Yudoyono, ada nuansa kegantengan dan pada Joko Widodo hal merakyatnya, melalui instrument blusukan. Padahal dua intrumen itu sama sekali tidak terkait dengan kemampuan manajemen. Rakyat Indoensia kiranya memilih presiden berdasarkan hal ini. Tindakan blusukan, seperti yang dilakukan Joko Widodo boleh dikatakan memutus paham lama yang tergambar dalam konsepsi ptron-klien, konsepsi yang lebih tertuju pada kepentingan para elit penguasa dengan kelompoknya (Moeljarto, 1996: 44). Tentu maksudnya adalah keberpihakan dalamm menjalankan kebijakan. Masyarakat yang memilih pemimpinnya berdasarkan charisma tersebut, tidaklah dapat dikatakan sebagai masyarakat yang modern. Tradisionalisme masih menjadi dominasi pemikiran dari masyarakat seperti ini. Dengan demikian, boleh dikatakan bahwa sikap masyarakat Indonesia ini campuran. Pada satu sisi sudah masuk modern karena memilih untuk tidak memilih presiden yang dipandangnya gagal. Akan tetapi, pilihannya tetap bercorak tradisional.
tidak hanya persoalan politik dalam arti garis besar saja (mencari pendukung) tetapi sangat jauh lebih luas dari itu. Sudah jelas presiden akan mengurusi masalah ekonomi, kejahatan, budaya, sosial dan sebagainya. Akan tetapi, sering juga presiden harus mengurusi intrik-intrik politik dari pesaingnya. Juga upaya-upaya penyingkiran. Dihadapkan dengan kondisi seperti ini, presiden yang hanya mengadalkan charisma saja, akan mudah goyang dalam mengambil keputusan. Kemungkinan, Megawati Sokerano Putri dan Joko Widodo terkena sindrom seperti ini sehingga lambat mengambil keputusan. Megawati juga merupakan presiden yang mempunyai charisma tersendiri, meski dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, terutama sebagai anaknya Presiden Soekarno, proklamator RI, dan juga ditekan pada jaman pemerintahan Soeharto. Pada konteks tertentu, hal yang sama juga terlihat pada Susilo Bambang Yudoyono. Intinya, presiden yang terlalu mengandalkan kharisma akan kelabakan apabila berhadapan dengan intrik-intrik politik dan gerakan-gerakan politik yang mendadak.
Kedua, presiden yang terlalu mengandalkan kharisma, justru dibebani tuntutan besar oleh rakyatnya. Artinya, rakyat pemilih terlalu berharap agar presiden mampu menyelesaikan segala persoalan di masyarakat. Ia dianggap sebagai ratu adil sehingga mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan segala persoalan yang ada. Padahal, seperti yang telah diutarakan tadi, tidak akan mungkin presiden dapat menyelesaikan persoalan kompleks di masyarakat. Dengan demikian, apabila presiden tidak mampu menyelesaikan tugas yang dibebankannya, keterikatan masyarakat akan segera berkurang dan nilai kharismanya langsung melemah. Ujung-ujungnya rakayat tidak akan memberikan dukungan lagi. Bahkan mungkin sang presiden tidak akan dipercaya.
tetapi dapat dilihat pada saat ia di it dan proper test. Perdebatan calon
presiden yang diselenggarakan menjelang pemilihan merupakan salah satu ajang untuk mengukur itu. Presiden yang tidak terpilih secara rasional, akan secara mudah tidak mendapatkan kepercayaan dari masyarakat pemilih.
Partai Politik
Partai politik merupakan alat utama bagi negara demokratis untuk membuktikan kedemokrasiannya. Partai politik juga merupakan salah satu infrastruktur politik, yakni suatu kelengkapan yang diperlukan untuk menjalankan hal-hal yang bersifat kenegaraan
(Syaiie, Azhari, 2012: 79). Tidak dapat disangsikan bahwa disamping
Partai lah yang akan menyampaikan persoslan itu melalui perdebatan di parlemen. Menurut pendapat Plato, terbentuknya negara bermula dari keinginan untuk memenuhi kebutuhaan yang bemacam-macam tersebut dengan cara bekerjasama (Chmid, 1980: 14). Keempat, adalah kelanjutan dari bagian ketiga tadi, yaitu memperjuangkan kepentingan dan kesejahteraan masyarakat secara formal di gedung parlemen. Mereka yang memperjuangkan tidak lain adalah anggota-anggota partai politik yang telah berhasil menjadi anggota parlemen. Cara ini lebih bagus dibanding dengan jaman Orde Baru karena pada jaman itu, wakil rakyat yang dicalonkan partai, diseleksi pemerintah terlebaih dahulu (Sihbudi, 1997: 157). Saat ini masing-masing anggota parlemen mempunyai konstituens yang ada di masyarakat. Dalam konteks keadilan, para elit partai yang menjadi perwakilan masyarakat haruslah mampu menjadi sarana untuk mencapai keadilan disetributif, yaitu suatu hubungan antara negara dengan warga, yangberarti negara wajib memberikan keadilan kepada masyarakat dalam bentuk kesejahteraan, bantuan, subsidi dan kesempatan hidup bersama berdasar hak dan kewajiban (Santoso, 2014: 92-93).
politik akan mampu kembali merebut hati rakyat kalau kebijakan partai tersebut kembali kepada nilai-nilai sosial yang ada. Tentu saja, seperti yang diungkapkan di depan tadi, partai politik juga sangat ddpengaruhi oleh ketokohan seseorang, charisma serta pola dan gaya pendkatannya kepada masyarakat. Partai Demokrat, Golkar, PDI Perjuangan, dan partai lain, pernah mengalami pasang surut seperti ini di dalam perjalanan kepolitikannya. Pasang surut tersebut tidak hanya terjadi pada skala nasional, tetapi juga lokal.
Persaingan Partai
Dalam percaturan partai politik, tidak jarang sebuah partai pemmpunyai ideologi dan nilai-nilai yang sama. Misalnya, partai politik dapat saja mempunyai ideologi Pancasila yang juga dipakai oleh partai lainnya. Partai politikpun dapat mempunyai nilai nasionalis atau nasionalis keagamaan. Dengan adanya persamaan nilai dan ideologi ini, maka persaingan-persaingan antara satu partai dengan partai lainnya tidak dapat dihindarkan. Yang kemudian menjadi pemegang peran di dalam konteks persaingan seperti ini
tidak lain adalah igur seorang pemimpin partai politik atau cara
mereka melakukan pendekatan kepada masyarakat. Sebagai negara yang sedang berkembang, masyarakat Indonesia masih sangat melihat figure ketokohan yang ada di dalam partai politik. Ini tidak dapat dilepaskan dari budaya Indoensia yang masih terikat dengan messias atau juru selamat. Inilah yang sering menjadi daya tarik dari partai politik. Karena itulah misalnya PDI Perjuangan mempunyai massa yang banyak karena terkait dengan figure Soekarno, proklamator Indonesia. Kharisma ini sekarang melekat pada Megawati Soekarnoputri sebagai pimpinan partai tersebut. Tidak dapat dilepaskan juga pada Partai Demokrat yang demikian
melekat pada igur Susilo Bambang Yudoyono, yang juga mempunyai
charisma yang kuat. Bukti bahwa Susilo Bambang Yudoyono mempunyai kharisma, adalah keberhasilannya terpilih menjadi presiden sebanyak dua kali. Partai Golkar pun pada hal-hal tertentu, juga mengandalkan pada kharisma Soeharto, presiden Indonesia yang kedua.
bermacam-macam. Maka, untuk melakukan hal tersebut partai politik melakukan berbagai macam pendekatan kepada masyarakat. Memberikan bantuan keuangan terhadap pembangunan hak milik umum, seperti misalnya balai pertemuan umum, memperbaiki jalan atau justru membuka pasar yang terjangkau oleh masyarakat. Bahkan ketika dilaksanakan pemilihan umum, anggota partai politik juga ada yang memberikan uang sogokan. Cara-cara seperti ini sering dinilai controversial karena uang menjadi faktor utama dalam pendekatan kepada masyarakat. Padahal, partai politik seharusnya mempunyai misi untuk mendidik masyarakat dalam hal melakukan pilihan tersebut. Partai juga mempunyai strategi lain, yaitu berupaya menarik massa dengan menonjolkan figure, meskipun ia bukan
igure kharismatis. Figur popular dipandang menguntungkan dengan menarik keberpihakan masyarakat kepada penampilan dari igure
tersebut. Masyarakat negara berkembang sering kali mengaitkan pilihannya dengan emosi psikologis yang ada. Karena alasan-alasan seperti inilah kemudian banyak partai politik yang memakai artis untuk menjadi calon anggota legislatif, sekaligus menjadi anggota partainya. Pilihan kepada artis inipun tidak lepas dari kontroversial. Dalam konteks edukasi politik, pemilihan kepada artis tidak mampu member pendidikan politik kepada masyarakat karena mereka hanya mendekatkan diri saja secara emosional. Artis yang popular belum tentu juga mampu mengartikulasikan kepentingan-kepentingan politik dari masyarakat sehingga pemilihan artis sebagai anggota partai dan selanjutnya menjadi anggota parlemen, dipandang sia-sia.
Terhadap berbagai kritik inilah kemudian partai politik mencoba melakukan beberapa tindakan. Misalnya Partai Hanura melakukan langkah dengan memberikan pembekalan kepada anggota legislatifnya sebelum menjalankan tugas di parlemen. Ini dilakukan, baik di daerah maupun di pusat.
Konlik Internal
kepada keinginan untuk menduduki posisi strktural yang strategis,
merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya konlik di
dalam tubuh partai politik. Seluruh faktor-faktor yang diungkapkan tersebut bermula dari cara pandang yang sederhana sesungguhnya, yaitu bagaimana mewujdukan ide yang teruji untuk mencapai tujuan. Kelemahan dari konsepsi ini adalah bahwa ide itu hanya teruji secara sepihak, yang dapat diuji menurut keyakinan sendiri maupun kelompok. Ketika keyakinan probadi dari seorang anggota partai, apalagi tokohnya, mendapat dukungan dari pihak lain, maka muncullah berbagai kelompok di dalam partai tersebut, yang sering disebutkan dengan faksi. Dalam satu partai politik dijumpai banyak faksi. Partai Golkar yang didirikan oleh berbagai ormas di awal pendiriannya, potensi memunculkan faksi. Demikian juga Partai Demokrasi Indonesia di jaman Orde baru.
Dalam perkembangannya, dasar konflik yang bermula dari perbedaan ide pribadi itu, berkembang juga faktor lain yang muncul sebagai pemicu. Faktor pemicu ini hanyalah sebuah unsur yang bukan
dasar tetapi kehadrannya akan dapat menumbuhkan konlik secara lebih cepat karena dasar dari konlik tersebut sudah ada. Kehadiran
penyandang dana partai atau orang kaya yang mempunyai dana besar, kehadiran orang popular, atau seorang tokoh masyarakat yang
mempunyai anakbuah banayak, akan mampu memicu konlik yang
sudah ada. Sebuah partai politik yang mempunyai ketetapan untuk menempatkan kadernya sebagai pejabat struktural berpengaru,
jelas akan menumbuhkan konlik besar apabila kemudian ada kader
yang tiba-tiba naik pangkat menjadi tokoh semata-mata karena ia seorang artis atau seorang yang mempunyai dana banyak. Konon PDI Perjuangan sempat goyang keberadaannya karena kehadiran Joko Widodo sebagai calon presiden. Padahal Joko Widodo bukanlah kader yang berjuang dari bawah. Kalau dilihat berbagai plot penggoyangan kepada Joko Widodo awal tahun 2015 ini, kelihatan bahwa ada yang tidak puas dengan kehadiran presiden Indonesia itu pada PDI Perjuangan.
Konlik internal partai biasanya membuat kestabilan organisasi goyang dalam waktu yang cukup lama. Apalagi misalnya aktor konlik
yang terjadi kalau penyebab konlik tersebut ada di tangan tokoh.
Yang pertama adalah tergusurnya tokoh ini dari posisi strukturall tertentu. Dan kedua, sebagai akibatnya menyebabkan munculnya partai baru. Keberadaan Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Nasdem, bahkan Partai Demokrat dikatakan sebagai akibat adanya perpecahan yang terjadi diantara Partai Golkar (Syamsudin Harris, Kompas, 28 Maret 2015). Bagi negara yang politiknya sedang berkembang, seperti Indonesia saat ini, perpecahan partai politik yang kemudian memuculkan partai baru mempunyai manfaat positif. Para tokoh tersebut semakin terasah keberaniannya karena membentuk partai baru, dan dalam konteks partai bersangkutan, eskalasi konflik menjadi lebnih sempait dan kemudian mampu menghilangkan
konlik lebih cepat. Bahwa Partaii Golkar kembali dilanda konlik
Daftar Pustaka
Fuadi, Munir, 2013, Teori-Teori Besar (Grand Theory) dalam Hukum, Cet II, Jakarta, Kencana Prenada Media group.
Haryanto, 1982, Sistem Politik: Suatu Pengantar, Yogyakarta, Liberty. Kelsen, Hans, Yusron, Nurulita (terj.), 2014, Dasar-Dasar Hukum Normatif:
Prinsip-Prinsip Teoritis untuk Mewujudkan Keadilan dalam Hukum dan Politik (Cetakan III), Bandung, Nusa Media.
Moeljarto, Vidhyandika, 1996, “Dimensi Politik Ekonomi Pembangunan Nasional: Kebijakan dan Reformasi”, dalam Analisis, Tahun XXV, No. 1, Januari-Februari 1996.
Pakpahan, Agus, 1996, “Pengembangan Pertanian dalam Era Globalisasi: Pertanian Berbasis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi”, dalam Prisma, Nomor Khusus 25 Tahun Prisma, 1971-1996
Ritzer, George, Goodman, Douglas, Alimandan (terj.), 2007, Teori Sosiologi Modern, Jakarta, Kencana Prenada Media Group.
Romli, Lili, 2005, “Demokrasi dalam Bayang-Bayang Kekuatan Jawara: Kasus Provinsi Banten”, dalam Haris, Syamsudin (Ed.), Pemilu Langsung di Tengah Oligarki Partai: Proses Nominasi dan Seleksi Calon Legislatif Pemilu 2004, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama
Santoso, Agus, 2014, Hukum. Moral, dan Keadilan; Sebuah Kajian Filsafat Hukum (Cet.II), Jakarta, Kencana Prenada Media Group.
Schmid, JJ. Von, Wiratno, dkk (Terj), 1980, Ahli-Ahli Pikir besar tentang Negara dann Hukum: Dari Plato Sampai Kant, Jakarta, PT. Pembangunan.
Setiadi, Elly M., Kolip, Usman, 2013, Pengantar Sosiologi Politik, Jakarta Kencana Prenada Media Group.
Siagian, Faisal, 1996, “Keterwakilan Wanita Indonesia di Lembaga Legislatif”, dalam Analisis Tahun XXV, No. 3, Mei-Juni 1996.
Sihbudi, Riza, 1997, “Mengkaji Ulang Praktek Pemilihan Umum Kita”, dalam Analisis, XXVI, No. 2, Maret-April 1997.
PRESIDEN
Presiden Itu
Harus Diatur Juga
S
ebulan menjelang kampanye legislatif dimulai, pembicaraan tentang undang-undang kepresidenan mencuat. Disebutkan bahwa undang-undang ini sebaiknya selesai sebelum presiden dilantik bulan Oktober mendatang. Ini penting agar tidakmenimbulkan persoalan konliktual di masa-masa mendatang. Pada
pihak lain, banyak juga yang terkejut dengan adanya pemikiran untuk membuat undang-undang kepresidenan tersebut.
pantas dalam berdemokrasi.
Salah satu upaya untuk mengatasi kegamangan seperti itu, serta untuk menjaga jalannya transisi secara benar menuju demokrasi, adalah pembentukan mahkamah konstitusi yang bertugas untuk menilai kembali segala produk perundang-undangan yang muncul di masa transisi ini berdasarkan konstitusi dari negara yang bersangkutan. Tujuannya tidak lain adalah agar arah perundangan-undangana yang dibuat tidak menyimpang dengan konstitusi negara (yang demokratis). Jika ada penyimpangan, itu akan bisa diluruskan. Fenomena ini sebenarnya lumrah terjadi di negara mana saja yang mengalami transisi politik seperti itu, seperti Afrika Selatan (dari apartheid menuju demokrasi), Rusia (dari komunisme menuju demokrasi) serta negara-negara di Amerika Latin yang banyak mengalami perubahan politik dari masa otoriter menuju demokrasi (salah satunya adalah Nicaragua). Indonesia pun membentuk mahkamah konstitusi serta berbagai komisi lain yang akan mencoba meninjau dan menilai produk-produk hukum yang dibuat.
Dalam konteks masa transisi tersebut, di Indonesia salah satu lembaga yang mesti mendapatkan perhatian adalah lembaga kepresidenan. Jika dicoba dilihat ke masa lalu, lembaga inilah yang paling kental dominasinya sebelum reformasi itu bergulir. Banyak yang mempermasalahkan bagaimana sepak terjang Jendral Soeharto ketika menjaba presiden dulu. Tetapi ketika reformasi telah bergulir, presidenpun kembali dipermasalahkan, baik ketika jamannya Habibie, Gus Dur maupun sekarang di masa Megawati Soekarnoputri. Sebagian dari pemerintahan Habibie dan Gus Dur dinilai sebagai tidak ada bedanya dengan Soeharto. Sedangkan Megawati dinilai sebagai tidak pernah tegas, ragu-ragu dan sebagainya. Dalam hal Megawati, bisa jadi keragu-ragauan itu terjadi karena ketakutan akan tindakannya yang dinilai menyimpang seperti yang pernah ditimpakan kepada presiden-presiden terdahulu. Ini dikarenakan tidak ada ketentuan perundangan yang jelas terhadap hak dan kewajiban presiden.
penyimpangan anatupun gugatan terhadap presiden kelak, permasalahannya akan bisa dikembalikan kepada ketentuan hukum yang ada itu. Perundangan ini, bukan saja perlu di masa transisi sekarang tetapi juga untuk masa depan. Perkembangan politik yang selalu dipengaruhi dinamika globalisasi akan bisa diatasi dengan undang-undang seperti itu. Sebaliknya undang-undang presiden inipun kelakpun direvisi lagi. Jika undang-undang kepresidenen ini kelak dinilai keluar jalur dario pakem demokrasi dan konstitusi Indonesia, mahkamah konstitusi pasti bersedia menjalankan tugasnya untuk menjaga lebenaran tersebut.
Faktor Perpecahan Dalam
Pemilihan Calon Presiden
“P
ertengkaran” soal pencalonan presiden tahun 2014 telah dimulai. Ini barangkali masalah kecil atau masalah awal yang bisa saja kelak mewarnai perdebatan soal pencalonan di masa mendatang. Tinggal kurang lebih dua tahun lagi bagi partai politik untuk memunculkan calon pemimpin pemerintahan Indonesia, dan periode waktu ini (awal sampai pertengahan tahun 2012) paling baik untuk memunculkan calon tersebut. Jika telah ada kesepakatan partai politik untuk memilih calonnya, maka perjalanan setahun mendatang akan matang untuk memperkenalkan diri kepada masyarakat.Sentralitas 2014
Pemilu presiden 2014 merupakan isu yang sangat sentral dan amat penting bagi partai politik, terutama partai politik besar. Dikatakan sentral dan sangat penting karena ”lowongan” untuk menjadi presiden pada saat itu sangat besar. Susilo Bambang Yudoyono yang kini menjabat sebagai presiden, sudah tidak dibolehkan konstitusi menduduki jabatan itu untuk yang ketiga kalinya. Maka, dengan kondisi demikian, siapapun akan mempunyai peluang menjadi presiden. Sentralitas pemilihan pada saat itu juga akan berlaangsung seimbang. Artinya satu faktor yang menjadi pengikat pemilih, yaitu
igur, kemungkinan besar akan lenyap. Banyak yang menyebutkan bahwa faktor igurlah yang menentukan keberhasilan SBY menjadi
presiden. Ketika sosok ini telah tidak mungkin mencalonkan diri lagi,
maka faktor igur itu akan hilang. Secara teoritik, masih belum ada individu lain dalam politik Indonesia yang mempunyai igur seperti SBY. Karena itu faktor igur tidak akan menjadi penentu lagi.
Ada beberapa kemungkinan yang menjadi faktor penentu dalam pemilihan presiden nanti. Dalam konteks kultur Bali (kuno), seorang pemimpin biasanya disebut ”kelihan”. Ini artinya mereka yang lebih tua. Makna dari kata tersebut, diharapkan mereka yang mampu menjadi pemimpin itu terletak pada orang yang lebih tua karena dipandang pengalamannya lebih luas, lebih dahulu hidup (lahir) sehingga dengan pengalamannya itu akan mampu memimpin secara arif dan bijaksana. Akan tetapi dalam perjalanan waktu kata ”kelihan” itu jelas tidak hanya bermakna kuno yang mengartikan umur semata akan tetapi meluas pada lebih tua dalam berbagai hal, termasuk tataran kemampuan ekonomi, sosial, budaya bahkan intelektualitas. Karena itulah yang menjadi pemimpin tersebut tidak harus mereka yang mempunyai usia tua. Jika mereka masih muda dan mempunyai kemampuan ekonomi tinggi, bisa juga menjadi pemimpin. Demikian juga yang mempunyai kemampuan besar di bidang intelektual, budaya, teknologi, sosial dan sebagainya.
konteks keragaman yang ada di Partai Golkar. Karena itulah ketika Dewan Pimpinan Pusat mencalonkan Aburizal Bakrie sebagai calon pemimpin negara, maka ada pihak yang masih belum memandang cukup karena ada ”kelihan” yang lain. Mungkin Aburizal Bakrie ”tua” dalam kemampuan ekonomi akan tetapi ada Akbar Tanjung yang juga ”kelih” dalam pengalaman berpolitik dan organisasi. Yang terakhir ini tidak saja pernah menjadi ketua umum partai akan tetapi juga berkali-kali menjadi menteri di jaman Presidenn Soeharto, dan berpengalaman ”menyelamatkan” Golkar ketika dikoyak-ayik saat reformasi tahun 1998. Mungkin juga nanti akan muncul pendapat lain, karena Yusuf Kala juga mempunyai predikat ”kelihan”, yakni berpengalaman menjadi wakil presiden, sebuah jabatan yang hanya tinggal satu anak tangga lagi menjadi presiden.
Pemilu presiden 2014 sudah pasti akan mampu memancing masyarakat untuk lebih bersikap rasional, memakai pertimbangannya sendiri untuk mendapatkan manfaat maksimal, tidak lagi tergantung dari figur semata. Karena itulah masyarakat akan dipermainkan oleh faktor-faktor seperti yang disebutkan diatas, yaitu besar dan tua dalam kemampuan ekonomi, sosial, budaya, atau teknologi. Bisa saja kelak yang terpilih menjadi presiden adalah seorang budayawan yang memang dipandang layak oleh masyarakat. Bisa juga seorang aktivis sosial.
Partai Besar harus Waspada
mampu menggerakkan rakyat dalam jumlah yang besar pula dalam melakukan pilihan karena basis mereka di akar rumput juga besar. Namun sekali partai ini salah dalam memilih atau melakukan mekanisme, partai yang bersangkutan, sekali lagi, akan ditertawai pemilih.
Menyikapi Calon Presiden
Dari Istri Pejabat Negara
S
ilang pendapat tentang dicalonkannya anggota keluarga presiden Susilo Bambang Yudoyono menjadi presiden periode 2014-2019, sampai saat ini terus saja berlangsung. Hal ini sebenarnya telah muncul tahun lalu, tiga tahun sebelum pemilihan presiden dilakukan. Beberapa waktu lalu diberitakan bahwa tokoh Partai Demokrat sempat ditegur Presiden SBY karena menyebut-nyebut kecocokan Ibu Ani Yudoyono sebagai presiden mendatang. Pertimbangannya, beliau pernah menjadi wakil ketua umum Partai Demokrat, salah satu pendiri paartai ini dan menguasai masalah kenegaraan. Kemampuan Ibu Ani menguasai masalah ketatanegaraan disebabkan karena posisinya sebagai istri dan mendampingi presiden dalam berbagai kunjungan. Hal ini menjadi sebuah konsekuensi logis dari jabatan sebagai seorang istri presiden. Dengan berbagai pertimbaangan itulah, kalangan internal Partai Demokrat memandang layak untuk menjadi calon presiden.terletak pada adanya preseden buruk pada politik Indonesia yang mampu mempengaruhi perilaku-perilaku politik Indonesia di masa mendatang. Arus reformasi Indonesia sangat alergi dengan oligarki/ dinasti politik yang memungkinkan berbagai sanak keluarga ikut dilibatkan dalam dunia politik yang mereka kuasai. Harus diakui bahwa fenomena demikian sangat kuat terjadi di luar struktur presiden. Cukup banyak kepala daerah tingkat I dan tingkat II di Indonesia yang melibatkan sanak keluarganya ke dalam kegiatan dan jabatan politik dimana mereka berada. Dengan demikian, masuknya Ibu Ani Yudoyono sebagai calon presiden dikhawatirkan akan lebih melanggengkan lagi model-model oligarki politik ini di Indonesia, sehingga kondisinya tidak akan terlalu jauh berbeda dengan apa yang terjadi di masa lalu.
memadukan kecerdasan dengan kedewasaan masyarakat karena di ruang seperti itulah masyarakat akan mengemukakan segala macam pendapat dan rasa intelektualnya kepada pihak yang lain. Dan dari lokasi ini pula masyarakat akan diperlihatkan kemampuannya untuk menerima pendapat baru, menilai sebuah fenomena dan menerima segala kekurangan dari kadar intelektualnya. Ruang publik tidak saja bisa berbentuk ruang dalam arti sebenarnya seperri lapangan, warung, dan sejenisnyaa tetapi juga media lain seperti surat kabar, televisi, radio yang menyiarkan acara-acara interaktif. Tentu juga medua genggam seperti telepon seluler dan ruangtatap muka yang lain. Kecerdasan politik masyarakat akan sangat tergantung dari hal-hal yang diutarakan diatas dan kecerdasan inilah yang akana menentukan lolos tidaknya pilihan bagi anggota keluarga para pejabat negara itu.
Sistem demokratisasi merupakan komponen jaringan yang memungkinkan terpadunya antara kebebasan masyarakat, berbagai elemen kecerdasan dan komponen politik kenegaraan berbaur dalam menentukan output (keluarannya). Jadi, tidak ada lagi unsur pemaksaan dalam pemilihan politik karena masyarakat telah dilindungi kebebasannya dalam memilih, masyarakat mampu menggunakan berbagai bentuk akal kecerdassannya untuk menilai, melakukan pilihan dan bertindak dalam ukuran-ukuran politik. Sistem demokratisasi yang melindungi harga kemanusiaan akan memberikan hasil yang positif bagi keberlanjutan ketatanegaraan.
nilai yang tidak berbeda dengan anak seorang presiden, istri mantan presiden, suami mantan presiden atau anak dari mantan presiden.
Kalaupun muncul suara-suara untuk mencalonkan Ibu Ani Yudoyono sebagai calon presiden mendatang, itu akan mempunyai konsekuensi negatif dan positif seperti yang diungkapkan diatas.
Bagaimana harus menganggapi atau menafsirkan sikap presiden yang konon menegur pejabat Partai Demokrat tersebut?
Lepaskan ”Set Kedua”,
Kosentrasi Pada Set Berikut!
K
etika permainan bulutangkis masih konvensional dengan memakai poin 15 untuk satu set, ada hal menarik yang diperlihatkan para pemain dunia saat itu. Jika set pertama mereka telah unggul lalu mengalami kemunduran mental pada set kedua, pemain ini akan melepaskan set kedua itu. Ia akan berjuang habis-habisan di set ketiga. Kebanyakan mereka berhasil memenangkan pertandingan. Tidak hanya di bulutangkis, pada permainan lainpun demikian. Bola volly, sepakbola, tenis juga demikian. Dari pada ngotot di set kedua tetapi mental sudah kedodoran, lebih baik melepaskan set itu untuk mengirit tenaga dan memulihkan kepercayaan diri. Setiap set mempunyai mental tersendiri dan daya juang tersendiri pula.perubahan orientasi partai. Satu saja aparat partai menyimpang dari aturan normatif dari kehidupan sosial, memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengembalikan kepercayaan publik. Seperti juga dunia olahraga, jeda waktu ambil nafas ini akan tetap berpotensi untuk meraih kemenangan.
Apa kaitannya dengan partai politik?
Disamping Partai Keadilan Sejahtera yang tiba-tiba menghadapi masalah besar, Partai Demokrat kini tiba-tiba juga ribut di dalam akibat beberapa survei yang menyebutkan elektabilitas partai ini menukik tajam. Yang muncul kemudian adalah desakan untuk memundurkan ketua umum partai yang bersangkutan. Turunnya ketua umum ini diharapkan akan mampu memulihkan kepercayaan
diri pendukung, dengan ”bantuan” igur Susilo Bambang Yudoyono
pada partai. Masih belum jelas bagaimana peran SBY pada partai ini. Desakan turunnya ketua umum, disebabkan karena adanya tuduhan sang ketua umum terlibat korupsi.
Namun demikain dari sisi upaya pemulihan kepercayaan diri, ribut-ribut untuk menurunkan ketua umum ini sudah sangat terlambat. Kontroversi soal tuduhan korupsi tersebut sudah berlangsung berbulan-bulan bahkan lebih dari setahun. Rentang waktu kontroversial setahun ini merupakan jawaban yang paling jelas, mengapa elektabilitas partai begitu merosot. Inilah salah satu kegagalan partai dalam memelihara kepercayaan publik. Dengan begitu upaya untuk memulihkan kepercayaan publik cukup sulit di tengah iklim keterbukaan yang sekarang sudah mempengaruhi masyarakat.
partai atau pejabat teras lainnya, justru akan memicu faksional baru atau mempertegas faksionall yang sudah ada di dalam partai. Faksional adalah pengelompokan di dalam satu partai politik, yang merupakan wujud dari perpecahan dan menjadi cikal bakal partai baru. Hal lain yang bisa terjadi adalah kecurigaan akan adanya ambisi-ambisi perorangan atau kelompok untukmenduduki jabatan atau mempertahankan kekuasaan. Artinya, upaya pencopotan itu mempunyai nilai ganda. Ia tidak semata-mata beralasan memulihkan nama baik partai tetapi di balik itu tersimpan tujuan tersembunyi untuk mempertahankan kekuasaan individu atau kelompok tertentu pada bidang pemerintahan.
Dalam hal Partai Demokrat misalnya, menurunnya elektablitas partai ini amat mungkin tidak hanya disebabkan oleh berbagai kasus korupsi yang menimpa kader-kadernya tetapi disebabkan oleh
takdir partai itu sejak awal yang melekat pada igur Susilo Bambang
Yudoyono. Figur inilah yang mengikat masyarakat. Dalam dua pemilu sebelumnya, Susilo Bambang Yudoyono masih bisa mencalonkan diri menjadi presiden. Fenomena demikian berbanding lurus dengan
igur SBY dan berbanding lurus juga dengan daya lekat partai itu
kepada masyarakat. Kini ketika kesempatan SBY sudah tidak ada lagi menjadi presiden, maka hal demikian juga berbanding lurus dengan daya lekat masyarakat kepada paartai tersebut. Orang bisa
saja melepaskan keterikatakn partai karena igur yang mereka panuti
sudah tidak mungkin menjabat lagi. Jadi, menurunnya elektablitisa partai ini juga bisa dikaitkan dengan sebuah resiko politik bagi partai
yang terlalu mengandalkan igur sebagai cara untuk meraih suara.
Di jaman modern sekarang, sudah tidak jamannya lagi partai politik memakai figur untuk meraih massa. Dalam konteks internasional, entah itu di Amerika Serikat (Kennedy). India (Nehru), Pakistan (Bhutto), Indonesia (Sukarno), sudah jauh merosot peran
igur tersebut dalam meraih suara masyarakat. Faktor pengaruhnya
Baik Buruk Calon Presiden
yang Berani Tampil Lebih Dulu
A
pabila Partai Golkar telah menyebutkan calon presidennya untuk pemilu 2014, seperti juga yang dilakukan oleh Hanura atau Gerindra, tidak demikian halnya dengan Partai Demokrat, PDI Perjuangan dan PKS. Meski dua partai terakhir calonnya telah sering disebut-sebut, tetapi tetap belum ada nama pasti. Samar-samar mungkin ya, tetapi kepastiannya belum ada. Di Bali, apa yang dibilang samar itu cukup menakutkan dan dihindari orang, dipakai sebagai mitos untuk menghindari tempat-tempat tertentu. Bagi partai politik yang bersemangat ikut pemilu presiden 2014, acara samar-samar ini harus diperhatikan betul karena bisa-bisa akan dihindari masyarakat. Menunggu survei hasil pesanan juga belum tentu akan mampu memberikan kontribusi positif bagi elektablitas calon. Jadi, bagaimana sebaiknya memosisikan calon presiden setahun sebelum perebutan pemimpin tersebut digelar?faktor penguat keberhasilannya. Keberanian memunculkan diri itu penting untuk masa ketika rakyat masih dalam keadaan stelemate memilih pemimpin. Ketika mencalonkan diri tahun 2004, mungkin masyarakat telah tahu bagaimana kepemimpinan presiden-presiden sebelumnya. Dalam arti, masyarakat telah mengetahui bagaimana kinerja dan pola kepemimpinan presiden sebelumnya. Wajah abu-abu itu sepertinya diselingi oleh jelasnya tampilan Susilo Bambang Yudoyono karena memberanikan diri menegaskan sikap. Tetapi, bukan saja Susilo Bambang Yudoyono yang menjadi penjelas juga apa yang dilakukan Amin Rais.
Karena itulah kemudian, mereka yang menyatakan berani tampil menjadi presiden mempunyai peran penegas, membuat suasana abu-abu meluber dan cenderung ke arah positif. Apabila misalnya tahun 2004 itu, SBY tidak mencalonkan diri, melainkan misalnya Yusuf Kalla, bisa jadi Kalla akan terpilih menjadi presiden karena ia menjadi faktor penegas di saat suasana abu-abu. Bahwa kemudian SBY yang terpilih, barulah kemudian faktor X yang berperan. Faktor X itulah yang terletak pada kharisma, pembawaan dan nJawani tersebut.
Sekarang, sesungguhnya faktor abu-abu itu telah jelas terlihat dalam blantika politik Indonesia. Hebat di awal periode pemerintahn baik tahun 2004-2008 maupun 2009-2014, tetapi SBY banyak mendapat kritik menjelang akhir kepemimpinannya. Mudahnya presiden marah, mengritik lawan serta kasus korupsi yang tetap marak, merupakan beberapa kritik yang ditujukan kepada pemerintahan SBY. Kritik dan kenyataan dari pemerintahan tersebut kemudian semakin menyadarkan masyarakat bahwa memilih presiden tidak harus sekedar memilih kharisma belaka tetapi ada faktor lain, misalnya kemampuan manajemen, agar mampu menjalankan tugas kenegaraan. Dengan demikian, bolehlah dikatakan bahwa sebenarnya sekarang masalah fenomena politik itu masih abu-abu. Rakyat masih belum bisa menilai bagaimana keberhasilan pemerintah sebelumnya.
syukur-syukur memberi masukan. Wilayah abu-abu yang ditinggalkan oleh kepemimpinan sebelumnya seolah menjadi tercoret dan digantikan oleh harapan-harapan dari kepemimpinan (calon) yang baru ini. Dalam massa yang dipenuhi oleh area abu-abu, harapan itu sangat penting. Politik boleh dikatakan sebagai pengelolaan harapan sehingga bisa dipercaya oleh masyarakat. Calon presiden yang berani tampil terlebih dahulu, memiliki kesempatan lebih besar mengelola harapan itu menjadi potensi kemenangan, baik melalui janji-janjinya maupun fakta-fakta yang berupaya diungkapkan. Waktu dan manajemen kampanye yang akan membuktikan bagaimana keberhasilan calon presiden tersebut mengelola harapan kepada masyarakat. Akan tetapi,waktu dan keterampilan juga yang kemudian mampu memperbaiki kesalahan-kesalahan saat memperkenalkan diri kepada masyarakat. Keberhasilan pengelolaan, termasuk tentu saja profesionalitas, akan mampu menumbangkan citra bahkan kharismatis seorang calon presiden kompetitor. Dalam hal Indonesia, nampaknya masyarakat sudah semakin paham apa makna kharisma itu dan sejauhmana kharisma mampu mendongkrak keberhasilan dalam mengelola negara. Kharisma mungkin mampu menarik pemilih tetapi belum tentu mampu melakukan pengelolaan negara secara lebih baik. Sejarah Indonesia dalam batas-batas tertentu telah membuktikan hal tetrsebut.
kekuasaan Orde Baru. Dalam arti lain, trauma itu berlangsung hampir satu generasi. Maka, tantangan calon presiden yang lebih dahulu berani mengumumkan dirinya ke ruang publik sangat besar. Berani tampil ke publik haarus diimbangi dengan tindakan dan kiat-kiat yang benar-benar bersih dan taktis, tidak melakukan janji muluk-muluk dan harus mampu mencitrakan diri sebagai calon presiden yang berasih.
Kelemahan Popularitas
Calon Presiden Indonesia
C
alon presiden dari Partai Golkar ternyata masih banyak mengritik. Bukan hanya dari kalangan eksternal tetapi justru dari sisi internal partai ini banyak yang melakukan otokritik. Misalnya, ada yang menyuruh mundur saja dan lebih baik berposisi sebagai King Maker. Tetapi, Partai Demokrat juga mempunyai masalah sama. Meski mekanisme konvensi sebagaian sudah berjalan, akan tetapi hasil konvensi inipun banyak yang meragukan. Kemungkinan calon presiden dari hasil itu tidak akan bisa ikut bertarung kalau partai ini tidak mendapatkan suara banyak dalam pemilihan legislatif nanti. Akibatnya, Demokrat harus ikut koalisi dengan pertai lain. Apabila hal ini terjadi, belum tentu calon dari partai tersebut terpilih dan diajukan. Alasannya: peserta konvensi Partai Demokrat kalah populer dibanding calon partai lain, apalagi Jokowi yang menjadi ”milik” PDI Perjuangan. Meski partai ini masih malu-malu kucing mencalonkan gubernur DKI itu tetapi, justru rakyat akar rumput banyak yang menggadang-gadangnya menjadi calon presiden. Malah para bebotoh telah ada mulai pasang taruhan, apakah kelak Jokowi dicalonkan atau tidak oleh PDI Perjuangan. Kalau sudah begini, sikap partai pun pada akhirnya mendorong munculnya perilaku judi di masyarakat. Jadi, sebaiknya partai politik mesti tahu juga keadaan masyarakat kalau memang para elitnya masih malu-malu mengakui keunggulan calon yang tiba-tiba muncul di masyarakat.itu ternyata memiliki hal lain di belakangnya. Calon dari partai ini jelas mempunyai popularitas tinggi. Bukan karena pernah menjadi menteri, pemilik perusahan besar termasuk juga sering kelihatan di televisi, tetapi baik kiprahnya dalam dunia ekonomi Indonesia maupun dinasti keluarganya memang telah mempunyai posisi tersendiri di Indonesia. Akan tetapi, sebagai calon presiden, popularitas itu memang tidak cukup. Disinilah harus dilihat bahwa missi sebagai calon presiden mempunyai faktor lain tersembunyi, tidak kelihatan, dimana faktor inilah yang mengaitkannya dengan kehendak masyarakat. Secara umum dikatakan bahwa kharisma akan mendorong masyarakat untuk memilih. Tetapi di samping kharisma ada faktor tersembunyi yang sangat mempengaruhi sikap masyarakat untuk memilih. Dikatakan tersembunyi karena ada kekuatan penggerak yang mendorong masyarakat memilih yang bersangkutan sebagai presiden. Apabila kharisma Soekarno dilihat dari cara berpidatonya, keberaniannya dan kepintarannya bersilat lidah, bagaimana harus menilai keterpilihan dari Cory Aquino sebagai Presiden Filipina tahun 1986?
Pada konteks itulah harus dilihat bagaimana kondisi pemilihan umum presiden Indonesia tahun depan. Seorang calon presiden harus dipersepsikan mempunyai kekuatan tersembunyi di luar kharisma yang dimilikinya. Jadi, kharisma itu boleh dikatakan sebagai sebuah keperluan, tetapi tidak cukup dengan kharisma saja karena mesti ada sesuatu yang melekat di hati masyarakat, berdasarkan ”indra keenam” mereka. Karena itu setiap calon presiden yang akan melaju pada pemilihan nanti, tidak cukup hanya populer saja. Popularitas bisa dikatakan sebagai langkah pertama dari tiga langkah yang harus dimiliki. Setelah popularitas, langkah berikutnya adalah kharismatik. Tetapi dalam konteks Indonesia dan negara-negara berkembang, kharisma ternyata tidak cukup. Harus ada agenda tersembunyi yang bisa menggugah masyarakat untuk memilihnya. Macam-macam yang ada pada agenda tersembunyi ini, misalnya ratu adil, kesungguhan, benar-benar jujur, tulus, tidak muluk-muluk, keteladanan yang hanya masyarakat mampu mengartikan dan meyakininya.
Popularitas itupun juga harus dilihat secara hati-hati. Konsepsi ini ada dua, yakni konstruksional dan popularitas populis. Popularitas konstruksional adalah keadaan yang sengaja dibentuk untuk membuat seseorang terkenal. Pembentuknya macam-macam seperti ketersediaann dana yang banyak, sekutu, jaringan, media massa atau membuat sensasi tertentu sehingga menjadi dikenal orang. Sedangkan popularitas populis, memang keadaan yang benar-benar membuat seseorang itu terkenal karena prestasi dan pembawaan dirinya. Masyarakat menerima orang seperti ini ”ikhlas”, paham, tahu, menyadari dan membenarkan populernya sehingga tidak mengandung kecurigaan-kecurigaan tertentu. Tetapi popularitas yang dikonstruksi, banyak menimbulkan kecurigaan dari masyarakat. Artis yang tiba-tiba populer sangat dicurigai karena ia kemungkinan sengaja dipopulerkan demi keuntungan media massa bersangkutan. Politisi yang tiba-tiba populer juga dicurigai karena kemungkinan dengan modal besar mereka mampu memplot berita, membikin acara sendiri atau membikin sensasi demi peemberitaan itu. Rakyat tidak akan menerima popularitas konstruksionall seperti ini.
disengaja hanya semata-mata untuk mendapatkan simpati politik. Jika kharismatis saja masih belum bisa ditampilkan melalui metode konstruksi seperti ini, bagaimana mungkin para politisi tersebut mampu membentuk image ”tersembunyi” yang memang diperlukan dan dipercayai masyarakat untuk memilihnya. Dalam konteks pemilihan presiden mendatang, maka sebagian besar calon presiden yang telah berani memunculkan dirinya ke publik, termasuk mereka yang ikut konvensi, ada dalam ranah popularitas terkonstruksi itu, yakni upaya sengaja membentuk popularitas bagi dirinya. Di balik kelebihan mereka yang telah berani menampilkan diri terlebih dahulu ke hadapan publik, kelemahan mereka terletak pada popularitasnya yang masih berbentuk popularitas kontruksional. Masih jauh dari harapan publik yang menginginkan ada kekuatan tersembunyi, yang mampu mendorong keinginnan mereka untuk memilih. Apalagi sebagian para politisi Indonesia sudah kadung di cap tukang bohong oleh masyarakat.
Realitas Televisi Dalam
Perebutan Presiden Indonesia
D
ua stasiun televisi sekarang mirip acara wayangan. Jika acara televisi satunya menayangkan segala pembelaan terhadap pasangan Jokowi-Jusuf Kalla, maka acara televisi sebelah menayangkan segala hal berbau baik tentang pasangan Prabowo-Hatta Rajasa. Sebaliknya apabila stasiun satu menyiarkan segala yang berbau miring tentang Prabowo-Hatta Rajasa, stasiun tetangganya menyoroti ”kemiringan” pasangan capres Jokowi-Jusuf Kalla. Kenyataan ini seperti dunia adegan wayang karena dua stasiun televisi itu ”dikendalikan” oleh mereka yang tergabung dalam kompetisi presiden Indonesia 2014. Jika dilihat dari teorinya Teguh Srimulat, fenomena dua televisi ini sungguh-sungguh sebuah lawakan.Teori Teguh tentang lawak adalah sebuah pembelokan atau kekeliruan makna, gerak, atau fungsi dari realitas sosial. Karena itu, orang yang paling lucu di dunia adalah balita dan anak-anak karena mereka membelokkan dan mengelirukan semua kasanah sosial. Televisi yang seharusnya memberikan pencerahan kepada masyarakat, justru memberikan kebingungan. Tertawa merupakan output stasiun tersebut, dan outcome nya bisa golongan putih. Di tengah tekanan ekonomi yang masih terasakan oleh banyak masyarakat, serta tegang-tegangnya kompetisi calon presiden tersebut, maka penampilan dari dua stasiun televisi ini memberikan nuansa tertawa juga. Jadi tetap mempunyai manfaat.
lokal, apalagi pada tingkat nasional. Tidak lain karena ”benda” ini mampu memberikan informasi secara audiovisual. Dengan data, serta gambar bergerak yang ditayangkan kepada masyarakat, televisi merupakan sumber daya potensial pada aktivitas politik. Satu