• Tidak ada hasil yang ditemukan

MORALITAS ANAK TAMAN KANAK .

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MORALITAS ANAK TAMAN KANAK ."

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

MORALITAS ANAK TAMAN KANAK-KANAK

Seiring dengan perkembangan kognitif yang terjadi pada anak usia Taman Kanak-Kanak, antara lain terlihat dari perkembangan bahasanya, anak usia tersebut di harapkan mulai memahami aturan dan norma yang di kenalkan oleh orang tua melalui penjelasan-penjelasan verbal dan sederhana. Orang tua atau orang dewasa lain di sekitarnya mulai mengenalkan, berpenampilan, cara dan kebiasaan makan, dan cara berperilaku sesuai dengan aturan yang di tuntut dalam suatu lingkungan atau situasi tertentu. Dalam hal ini komunikasi dan interaksi antara orang tua dan anak menjadi sangat penting keberadaannya. Oleh sebab itu, sejak awal dikatakan bahwa upaya penanaman dan pengembangan perilaku moral yang di lakukan orang tua pada anak tidak dapat di pisahkan dari proses sosialisasi yang terjadi diantara mereka (Dini ., 1996, halaman 133-143)`

Moralitas anak taman Kanak-kanak dan perkembangannya dalam tataran kehidupan dunia mereka di uraikan sebagai berikut.

Sikap dan Cara Berhubungan dengan Orang Lain (sosialisasi)

(2)

dengan cara yang di nilai ibu tidak di sampaikan dengan baik, dengan pendekatan yang lebih bersifat persuasife (membujuk), karena perilaku tidak pantas yang

ditunjukkan anak mungkin tidak di sadarinya. Anak belum sadar bahwa hal itu tidak pantas. Untuk itu di butuhkan kesadaran pendidik (orang tua dan guru TK) dalam memberikan penjelasan dan contoh pada anak. Hal yang penting, pendidik harus banyak memberikan penjelasan tentang apa yang harus di lakukan anak dan contoh nyata tentang bagaimana cara ia melakukan perilaku tersebut. Pendidik harus mampu menunjukkan sikap taat asa (konsisten) terhadap anak untuk memudahkan anak mempelajari dan memahami apa yang di harapkan darinya. Bila tidak,

pendidik juga tidak akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Misalnya, suatu saat orang tua menuruh anak menyalami tamunya, tetapi pada saat itu orang tua

membiarkan anak bersikap acuh tak acuh ketika ada tamu ibunya, atau bahkan membiarkan sikap dan perilaku anak yang tidak pantas dilakukan di depan tamu ibu.

Pendidik harus selalu ingat dan sadar bahwa mereka keterbatasan kecerdasan, pengetahuan dan pengalamannya, pada usia ini anak lebih mudah untuk meniru perilaku orang sekitarnya. Anak usia ini belum terlalu mampu memanfaatkan kemampuan berpikirnya untuk menentukan mana perilaku yang baik dan mana yang buruk.

Pentingnya dalam bentuk perilaku moral anak sangat sesuai dengan apa

dikemukakan oleh kholberg dalam teori perkembangan moral dan pandangan aliran perilaku (behavioris) tentang pembentukan perilaku moral pada anak. Menurut kholberg, pada awalnya anak berperilaku agar ia mendapat pujian dan terhindar dari hukuman, dan ia dapat diterima oleh lingkungan sekitar dan terhindar dari kecaman orang lain. Sementara pandangan ahli psikologi perilaku mengatakan bahwa perilaku moral adalah hasil dari pemberian reinforcement (penguatan), “hukuman” dan “model” dari orang tua. Pada anak yang lebih muda( usia 2 atau 3 tahun) hukuman sedapat mungkin tidak diberikan. Kalaupun orang tua perlu melakukan koreksi terhadap perilaku anak yang tidak pantas dianjurkan dengan cara yang lebih bersifat persuasif, mengingat anak usia itu baru mulai mengenal aturan nilai dan norma. Pada usia itu perilaku tersebut dilakukan anak bukan dengan sengaja, tapi lebih karena dia tidak atau belum tau cara yang

diharapkankan oleh lingkungannya. Bila pada usia ini anak dihukum karena

perilakunya tidak pantas menurut penilaian oaran tua, ia belum mengerti mengapa orang tua menghukumnya. Namun , bila hal yang sama telah berulang kali

(3)

dengan cara kasar dan sambil membentak-bentak; mengatakan “ambilin minum cepatan!”, ibu dapat mengacungkan telunjuknya sambil berkata; “ayo, ibu tidak suka cara kamu seperti itu, ibu tidak akan ikuti keinginanmu, kalau kamu tidak bicara dengan sopan.” Coba bilang yang baik, “ibu mau minum”. Bila anak

mengubah sikapnya dengan cara yang tidak baik itu dengan yang lebih baik, baru ibu penuhi keinginanannya tersebut. Hal ini akan mengajarkan anak bahwa dengan hal yang tidak sopan, ia tidak akan mendapatka apa yang diinginkannya.

Pemahaman dan penanaman nilai moral yang semakin bertambah, akan sangat membantu anak dalam melakukan komunikasi secara baik, yang memungkinkannya diterima oleh lingkungan sosial sekitar dengan baik. Seiring dengan meningkatnya perkembangan moral pada anak maka meningkat pula keterampilan sosialisasinya.

Cara Berpakaian dan Berpenampilan

Orang tua dan guru Taman Kanak-kanak juga perlu menjelaskan bahwa penampilan dan cara berpakaian seseorang dapat memberi kesan tentang perilaku normal seseorang. Individu yang berpenampilan, berpakaian ataupun bergaya hidup yang tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat sekitar, akan di nilai sebagai individu yang berperilaku moral kurang baik. Penampilan dan cara berpakaian yang bagaimana dianggap sesuai dan seperti apa pula yang dianggap tidak sesuai perlu dipelajari oleh individu sejak dini. Pada anak Taman Kanak-kanak, hal-hal seperti itu harus mulai dikenalkan dan diajarkan. Anak harus tau dimana dan pada situasi apa ia boleh menggunakan baju tidur dan bila ia kesekolah, harus memakai seragam sekolah. Selain itu, cara bersolek, bersikap dan berpenampilan yang bagaimana, yang dianggap pantas dengan situasi dan orang yang

dihadapinya. Tentu saja dengan usia yang masih relatif sangat muda, hhal-hal tersebut tidak semuanya harus secara sengaja diajarkan kepada anak-anak. Kesempatan untuk mengajarkan hal-hal seperti itu seringkali tergantung dari

kejadian atau pengalaman yang terjadi kepada anak. Misalnya, seorang anak Taman Kanak-kanak selesai mandi tanpa menggunakan handuk, ia langsung berlari

keruang tamu padahal sedang ada tamu ayahnya disana. Pada saat itu, ibu dan ayahnya dapat menjelaskan bahwa perilakunya tersebut tidak pantas. Misalnya, ibu dapat menjelaskan dengan cara sebagai berikut:”Dani, ayo pergi ke kamar,

keringkan badanmu, pakai baju dan sisir rambut dulu yang rapih, baru keluar”.

(4)

mengenakan celana dalam dengan singlet saja dengan alasan panas. Ia boleh hanya menggunakan pakaian seperti itu bila di dalam rumah, sedangkan jika keluar apalagi tempat umum ia harus mengenakan pakaian lengkap. Misalnya, ayah dapat mengatakan kepadanya demikian: “Ah, kalau begitu ayah malu mengajak Dani ke took, pergi dengan pakaian seperti itu, kan tidak pantas. Pakai celana pendek saja dengan baju kaos tipis tidak apa, pokoknya asal rapi dan sopan.”

Terkadan anak perempuan yang sering melihat ibunya berdandan, suatu ia ingin berdandan seperti ibunya. Ketika akan pergi kesekolah, ia minta dipakaikan lipstick dan kalung yang biasa diapaki ibunya. Pada saat inilah kesempatan ibu untuk menjelaskan kepada anak bahwa cara berdandan anak berbeda dengan orang dewasa, dengan cara berdandan untuk kesekolah juga berbeda untuk berdandan kepesta. Orang yang tidak berdandan sesuai dengan tempat dan waktu akan dinilai aneh atau tidak pantas. Pada kesempatan lain, ibu dapat menjelaskan dengan cara sebagai berikut:”Salsa, seseorang memakai lipstick itu kalau sudah besar seperti ibu, kalau masih kecil seusia kamu belum pantas untuk memakainya, apalagi kamu mau berangkat kesekolah.”

Sikap dan Kebiasaan

(5)

secara bertahap anak juga sudah dapat diajarkan untuk makan dengancara yang sesuai dengan aturan dan adat kebiasaan yang berlaku di sekitar.

Selain hal-hal yang berkaitan langsung dengantata cara makan ini, anak juga sudah harus diajari tentang hal hal yang harus diketahui dan melkukannya bila akan atau sesudah makan. Misalnya berdoa sebelum makan. Sebelum makan anak muslim diajari untuk berdoa dan mengucap “basmala” dan sesudah makan mengucapkan “hamdalah”. Sedangkan anak yang beragam lain perlu diajari doa makan sesuai dengan ketentuan agamanya. Melalui doa-doa tersebut pendidik menanamkan rasa syukut kepada anak atas makanan yang dinikmatinya, membantu anak agar

mampu menghargai makanan dan rezeki yang dianugerahkan Allah.

Banyak anak yang seusia ini mengalami masalah dan kesulitan yang berhubungan dengan makan. Bila kelompok ibu sedang berkumpulm tidak jarang kesulitan makan anak jadi topik inti yang hangat di bicarakan. Umumnya ibu-ibu tersebut tidak tahu harus bagaimana, atau harus melakukan usaha apalagi untuk membuat anaknya makan seperti yang di harapkan. Rasanya, sudah berbagai usaha di lakukan, mulai dari masak makanan kesukaannya, makanan yang bervariasi, dan coba

menyajikandengan cara yang menarik, namun anak tetap tidak berselera makan. Mungkin kadang orang tua melupakan sesuatu hal juga yang penting untuk makan. Mungkin, kadang orang tua melupakan suatu hal yang juga penting untuk di

perhatikan yaitu suasana makan. Banyak orang tua yang secara tidak sadar menciptkan suasana makan yang tidak menyenangkan, misalnya memaksakan anak menghabiskan makanan dengan porsi yang melebihi kapasitas anak,

memarahi anak selama kegiatan makan berlangsung sebab-sebab sepele, misalnya makan dengan sikap yang kurang rapi, banyak nasi tumpah, atau tidak mau duduk tenang, memaksa anak memakan makanan yang tidak di sukainya;atau sejak awal sudah mengancam anak misalnya: “awas ya kalau makanannya dilepehin

(dimuntahkan), ibu jewer kamu!” ini bisa membuat suasana makan anak jadi mencekam kurang baik. Orang tua berharap dengan cara tersebut, anak akan merasa seperti yang diinginkan, namun justru akan mendapat hasil yang sebaliknya.

(6)

Sikap dan Perilaku Anak yang Memperlancar Hubungan dengan Orang Lain

Bagian pembahasan ini masih berkaitan dengan cara berhubungan dengan cara orang lain,tetapi lebih di khususukan pada hubungan tidak langsung,namun membawa dampak pada kelancaran hubunganya dengan orang lain. Hal ini pada dasarnya didasari oleh sikap egois ( hanya mementingankan diri sendiri) dan acuh tak acuh kepada kepentingan orang lain. Contohnya, sekelompok remaja yang membuat kebisingan di lingkungan sekitar di larut malam, menunjukan bahwa mereka bersikap egois, egois dan banyak contoh lainya. Kasus-kasus tersebut membuktikan pentingnya penanaman sosial sejak dini. Pengaruh era globalisasi harus diwaspadai dan dianntisipasi, karena tidak semata memberikan dampak positif, melainkan juga memberi peluang yang besar untuk menimbulka hsl ysng negatif, bila tidak diimbangi dengan upaya yang kuat dalam penananan moral anak sejak usia dini.

Ketika anak memasuki era pra sekolah, seiring dengan perkembangan berbahasa dan berpikirnya,brbagai informasi yang dilihat dan didengarnya merupakan pelajaran bagi perkembangan perilaku moral yang kurang baik,dapat pula dilihat pada kehidupan sehari-hari mereka. Anak usia 4 tahun yang agresif, selalu

menimbulkan masalah di rumah, karena sering memukul, menedang dan

melempari orang-orang terutama ibu dan pembantunya, bila permintaanya tidak dituruti. Demikian d sekolah, ia sering menjadi penyebab timbulnya perkelahian dengan teman sekelasnya, suka merebut mainan yang sedang dipegang temanya, dan mengucapkan kata-kata kasar terhadap guru, bila ia ditegur oleh gurunya. Pada anak seusianya walaupun perilakunya tersebut belum dikatakan bermoral, tetapi dinilai sudah melampaui batas kewajaran, dan perlu mendapat perhatian serius dari pendidik ( orang tuan dan guru) agar tidak berlanjut hingga besar dan berkembang menjadi perilaku yang tidak baik.

Saat ini berbagai media masa yang sudah canggih, didukung oleh kemajuan teknologi yang sangat pesat dapat merupakan narasumber yang jauh lebih sarat informasi bagi anak dibandingkan infomasi yang dapat diperoleh dari orang tua atau gurunya. Melalui acara televisi dari berbagai saluran, video, laser disc, parabla bahkan sekarang internet dapat menghindari dampak negatif dari berbagai

(7)

kesempatan yang tepat berusaha memasukan nilai dan norma yangf dapat mengarahkannya pada perilaku positif. Kalau orang tua dulu merasa tabu

membahas masalah-masalah seksual kepada anaknya yang masih berusia muda, maka kini hal tersebut justru harus dikenalkan para pendidik sejak dini, dengan cara yang teapat untuk itu, pendidik dituntut untuk membekali dirinya dengan berbagai informasi yang berhubungan dengan bidang ilmu agama. Sikap anak yang semskin kritid dan brani, menyebabkan pendidikan akan kewalahan menghadapinuya,bila ia tidak mempersiapkan dan menambah khasanauh pengetahuanya.

Pendidik harus mampu menyelami pikiran dan jiwa anak, mencoba menyamakan persepsi mereka agra dapat memberikan informasi sesuai dengan kebutuhan dsn daya tangkap anak. Dengan demikian, dalam banyak hal pendidik harus mampu menempatkan dirinya setara dengan anak didiknya, dapat menjadi teman jika dibutuhkan, tetapi dalam hal-hal tertentu juga harus menunjukan ketegasan dan kewajibanya sebagai orang tua atau pendidik adalah orang yang harud dihormati dan dipatuhinya. Kalaupun ada hal-hal yang tidak sesuai dengan pendapatnya, anak juga harus tau bagaimana menyampaikan perbedaan pendapat tersebut dengan cara yang tepat.

Dengan demikian penanaman moral kepada anak usia pra sekolah dapat dilakukan dengan berbagai cara dan lebih disarankan untuk menggunakan pendekatan yang lebih bersifat individual, persuasif dan informal ( santai dan penuh keakraban). Pendekatan individual sama dengan anak lain, walaupun dengan usia yang sama. Pendekatan individual artinya anak diperluakan sebagai individu yang unik, yang tidak selalu dapat mereka selalu diperlakukan sama dengan anak lain, walaupun dengan usia yang sama. Pendekatan yang bersifat agamis saat ini juga dirasakan sangat perlu, buruk atau baik dan apa pula konsekuensinuya dari perilakunya tersebut. Misalnya, anak yang beragama islam sejak dini harus sudah diajarkan sholat dan mempelajari Al-Qur’an secara bertahap anak harus tahu arti dan manfaat sholat dan apa pula kerugianya bila hal itu ditinggalkannya

Dengan penanaman nilai moral dan agama yang secara bertahap akan menjadi bagian dari dirinya, diharapkan anak dapat mengarahkan dirinya pada perilaku moral yang baik dan mneghindari perilaku moral yang buruk.

(8)

Perkembangan moral dan etika pada diri anak Taman Kanak-kanak dapat diarahkan pada pengenalan kehidupan pribadi anak dalam kaitannya dengan orang lain. Misalnya, mengenalkan dan menghargai perbedaan di lingkungan tempat anak hidup, mengenalkan peran gender dengan orang lain, serta mengembangkan kesadaran anak akan hak dan tanggung jawabnya. Puncak yang diharapkan dari tujuan pengembangan moral anak Taman Kanak- kanak adalah adanya

keterampilan afektif anak itu sendiri, yaitu keterampilan utama untuk merespon orang lain dan pengalaman- pengalaman barunya, serta memunculkan perbedaan-perbedaan dalam kehidupan teman disekitarnya. Hal yang bersifat substansial tentang pengembangan moral anak usia Taman Kanak- kanak di antaranya adalah pembentukan karakter, kepribadian, dan perkembangan sosialnya. Guru Taman Kanak-kanak harus menguasai strategi pengembangan emosional, sosial, moral dan agama bagi anak Taman Kanak-kanak. Juga, guru Taman Kanak-kanak perlu untuk senantiasa mengadakan penelitian tentang pengembangan dan inovasi dalam bidang pendidikan bagi anak usia prasekolah.

Tahapan Perkembangan Moral Anak Taman Kanak-kanak

Ruang lingkup tahapan/ pola perkembangan moral anak di antaranya adalah tahapan kejiwaan manusia dalam menginternalisasikan nilai moral kepada dirinya sendiri, mempersonalisasikan dan mengembangkannya dalam pembentukan pribadi yang mempunyai prinsip, serta dalam mematuhi, melaksanakan/menentukan

pilihan, menyikapi/menilai, atau melakukan tindakan nilai moral Menurut Piaget anak berpikir tentang moralitas dalam 2 cara/ tahap, yaitu cara heteronomous (usia 4-7 tahun ), di mana anak menganggap keadilan dan aturan sebagai sifat-sifat dunia (lingkungan) yang tidak berubah dan lepas dari kendali manusia dan cara autonomous (usia 10 tahun keatas) dimana anak sudah menyadari bahwa aturan-aturan dan hukum itu diciptakan oleh manusia. Menurut Kohlberg, perkembangan moral anak usia prasekolah berada pada level/ tingkatan yang paling dasar, yaitu penalaran moral prakonvensional. Pada tingkatan ini anak belum menunjukkan internalisasi nilai-nilai moral. Pertimbangan moralnya didasarkan pada akibat-akibat yang bersifat fisik dan hedonistik. Ada 4 area perkembanga yang perlu ditingkatkan dalam kegiatan pengembangan atau pendidikan usia prasekolah yaitu

perkembangan fisik, sosial emosional, kognitif dan bahasa.

(9)

Secara umum ”potensi” adalah sebuah kemampuan dasar yang dimiliki manusia yang sangat mungkin untuk di kembangkan, sehingga pada intinya potensi sendiri berarti suatu kemampuan yang masih bisa di kembangkan menjadi lebih baik lagi.

Manusia utuh berarti sosok manusia yang tidak persial, fragmental. Apalagi split personality. Utuh artinya lengkap, meliputi semua hal yang ada pada diri manusia. Manusia menuntut terpenuhinya kebutuhan jasmani , rohani, akal, fisik, dan

psikisnya. Berdasarkan pikiran demikian dapat di uraikan konsepsi manusia seutuhnya ini ini secara mendasar yakni mencakup pengertian sebagai berikut:

Keutuhan potensi subjek manusia sebagai subjek yang berkembang. Kebutuhan wawasan (orientasi) manusia sebagai subjek yang sadar nilai yang menghayati dan yakin akan cita-cita dan tujuan hidupnya.

Sebagai anak manusia, sesungguhnya Allah telah melengkapi seorang anak dengan seperangkat kemampuan yang telah tertanam pada diri manusia, berupa sejumlah kemampuan, seperti kemampuan dalam perkembangan moral etika, juga

kemampuan dalam perkembangan pribadi, sosial dan kemasyarakatan. Potensi itulah yang harus ditangkap oleh para orang tua dan guru, untuk selanjutnya dikembangkan ke arah positif. Anak dengan sentuhan pendidikan ini akan menjadi manusia yang bermoral, bermartabat, dan mampu menjadi manusia yang mencapai kemuliaan dalam kehidupanya sesuai kodratnya.

Perkembangan moral dan etika pada anak pra sekolah ( Taman Kanak-Kanak) dapat diarahkan pada pengenalan kehidupan pribadi dalam kaitanya dengan orang lain; mengenal dan menghargai perbedaan dilingkungan tempat anak hidup;

mengenalkan peran jenis ( role of gendre) dan orang lain, dan mengembangkan kesadaran hak dan tanggung jawabnya.

Berkaitan dengan perkembangan moral ini, anak juga secara simultan dapat mengembangkan dirinya dalam hal perkembangan kepribadian, sosial, dan kemasyarakatan. Hal itu dapat diprogramkan melalui kegiatan yang mendukung perkembangan kepribadian, sosial dan emosional yang sejalan denga

(10)

menantang anak untuk belajar; memberikan kesempatan bagi anak untuk bekerja sendiri, dalam kelompok kecil dan besar; menyelenggarakan kegiatan imajinatif yang menyenangkan; mengembangkan ketrampilan mandiri dalam merawat dan melayani diri sendiri.

Dalam hal penerapanya, guru dapat melakukan pendekatan sumber terstruktur dalam membantu anak yang rawan dalam perkembangan sosial emosionalnya termaksuk kesulitan perilaku anak itu sendiri.

Bentuk kegiatan lain yang masih terkait dengan pengembangan pribadi, sosial dan kemasyarakatan adalah memberikan kesempatan bermain dan belajar tentang keyakinan religius dan kultural; menjalin hubungan konstraktif antara anak-guru, guru-guru, dan pihak lain; memberikan peluang pada anak untuk melakukan

pengamatan, penilaian dan perencanaan belajar untuk tahapan selanjutnya sesuai dengan yang diinginkan anak.

KEMAMPUAN ANAK DALAM MORALITAS

Tujuan pendidikan dan pengembangan moral anak ini menurut Adler(1007) adalah dalam rangka pembentukan kepribadian yang harus dimiliki oleh manusia seperti:

Dapat beradaptasi pada berbagai situasi dalam relasinya dengan orang lain dan dalam hubungan dengan berbagai kultur.

Selalu memahami sesuatu yang berbeda dan menyadari bahwa dirinya memiliki dasar pada identitas kulturnya.

Namun menjaga batas yang tidak kaku pada dirinya bertanggung jawab terhadap bentuk batasan yang dipilihnya sesaat dan terbuka pada perubahan.

(11)

Pada tahun-tahun awal kehidupanya, seorang anak dibentuk oleh nilai-nilai orang dewasa. Bahkan sebelum seorang anak dilahirkan, orang tuanya sudah

mengungkapkan nilai-nilai mereka dengan cara yang akan mempengaruhi anak-anak mereka. Demikian Robert Coles (2000) mengungkapkan betapa pentingnya para orang tua dan guru memerhatikan potensi awal dari setiap anak kita.

SUBTANSI PENGEMBANGAN MORAL PADA ANAK TAMAN KANAK-KANAK

Berdasarkan pada Pola Pengembangan Kurikulum berbasis Kompetensi tentang Program Studi Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak jenjang diploma 2 yang dikeluarkan oleh Direktorat Jendral Pendidiksn Tinggi Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi ( PPTK& KPT) tahun 2003, seorang calon guru di Taman Kanak-Kanak harus memiliki salah satu diantara sejumlah kompetensi, yaitu menguasai strategi pengembangan aspek-aspek perkembangan anak usia Taman Kanak-Kanak. Kompetensi tersebut diantaranya masyarakat bahwa guru dan calon guru Taman Kanak-Kanak harus menguasai strategi pengembangan emosional, sosial, moral, dan agama usia

Taman Kanak-Kanak. Untuk itulah berikut ini dipaparkan berberapa hal yang bersifat substantif tentang pengembangan moral pada anak taman kanak-kanak.

Terkait dengan pengembangan moralitsanya, anak taman kanak-kanak pada dasarnya masih sangat memerlukan bantuan dalam berberapa hal, seperti pembentukan pengembangan karakter (formation of caracter), pembentukan kepribadian ( shsping of personality), dan perkembangan sosial (social

development).

Pembentukan karakter pada anak akan memberikan dampak yang sangat besar dalam pembentukan dirinya sendiri. Oleh sebeb itu, anak yang diajari dengan iklim kerja keras dan tanggung jawab, akan cenderung menunjukan prestasi yang tinggi. Kebiasaan semacam ini hendaknya telah berakar sebelum anak masuk sekolah. Karakter ini aka tertata dalam pikiran dan hati anak usia dini, melalui,standar yang tertata dari orang tuanya,harapan yang mapan dan contoh yang konsisten.

(12)

terhadap kecakapan seorang untuk mengembangkan ikatan emosional dengan orang lain. Dalam relasi awal dengan orang tua, anak belajar memahami tentang bagaimana orang lain memperlakukan dirinya dan bagaimana dirinya harus mempercayai orang lain. Keadaan ini akan berlanjut terus dan akan membantu membentuk perilaku sosial pada kehidupan masa dewasa, pengembangan dan pendidikan tentang memiliki moral memiliki kedudukan strategis bagi kehidupan anak Taman Kanak-Kanak hingga dewasa. Bila masih ada orang berparadigma lama yang berpendapat bahwa mendidik anak Taman Kanak-Kanak itu enteng, gampang dan mudah dan sangat sederhana, maka itu tentu merupakan tantangan bagi kita sebagai praktisi pendidikan anak usia Taman Kanak-Kanak. Betapa masyrakat dan orang tua itu perlu disadarkan bahwa perubahan jaman, perkembangan ilmu

pengetahuan memberikan pengaruh besar bagi kehiduapan manusia. Untuk itulah, seyogianya pula para guru atau calon guru Taman Kanak-Kanak senantiasa

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai unsur utama Sumber Daya Manusia (SDM) Aparatur Negara mempunyai peranan yang menentukan keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Sosok PNS yang

Hasil penelitian penelitian menunjukan bahwa 1 Pembelajaran pembelajaran keterampilan menyimak membutuhkan buku ajar yang mengakomodasi tujuan pembelajaran, materi ajar,

pertambahan berat badan, dan efisiensi penggunaan ransum broiler fase starter dan finisher dalam penelitian ini menunjukkan angka yang semakin menurun (P < 0,05)

Setelah diperoleh data baik data primer maupun data sekunder, kemudian data tersebut dikelompokkan sesuai dengan jenis data. Data yang telah dikumpulkan dan

Rumpun bangsa domba yang terlibat dalam penelitian ini terdiri atas 34 ekor domba Garut (GG), 12 ekor domba persilangan Moulton Charollais (MM) x Garut (GG) atau disebut

2.2 Teori-Teori yang Relevan dengan Obyek 2.2.1 Tujuan Perancangan Pusat Edukasi Interaktif Tujuan utama Pusat Edukasi Interaktif adalah sebagai sarana belajar dalam berbagai

1. Kelengkapan dan keaslian klenteng sebagaimana aslinya seperti dahulu dan yang terpenting sederhana tidak bermewah- mewahan. Terdapat papan sinci 4 murid nabi yang biasa

Perusahaan yang melakukan manajemen laba umumnya memiliki relevansi nilai yang lebih kecil dibandingkan yang tidak melakukannya, dan investor lebih menyukai mengukur