• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Metode Economic Order Quantity (EOQ) Dalam Menganalisis pengendalian Persediaan Padi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Penerapan Metode Economic Order Quantity (EOQ) Dalam Menganalisis pengendalian Persediaan Padi"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

2.1 Persediaan

2.1.1 Pengertian Persediaan

Masalah umum pada suatu model persediaan bersumber dari kejadian yang dihadapi

setiap saat dibidang usaha, baik dagang ataupun industri. Kejadian tersebut dapat

berupa ketersediaan barang yang overload (melampaui kebutuhan) atau sebaliknya kekurangan barang dalam memenuhi permintaan. Pada dasarnya analisis persediaan

berkenaan dengan teknik mendapatkan tingkat persediaan yang optimal dengan

menjaga keseimbangan biaya yang tidak terduga.

Persediaan merupakan suatu model yang umum digunakan untuk

menyelesaikan masalah yang berkait dengan usaha pengendalian barang dalam suatu

aktivitas perusahaan. Ciri khas dari model perusahaan adalah solusi optimalnya

difokuskan untuk menjamin persediaan dengan biaya yang serendah mungkin.

Secara umum, persediaan adalah segala sumber daya organisasi yang

disimpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan. Persediaan adalah

komponen, material, atau produk jadi yang tersedia di tangan, menunggu untuk

digunakan atau dijual.

Persediaan adalah bahan mentah, barang dalam proses (work in process),

barang jadi, bahan pembantu, bahan pelengkap, komponen yang disimpan dalam

antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan.

Menurut Kusuma (1999) persediaan didifenisikan sebagai bahan atau barang

yang disimpan untuk digunakan atau dijual dalam pada periode mendatang.

Persediaan dapat berbentuk bahan baku yang disimpan untuk di proses, komponen

(2)

Menurut Ristono (2009) persediaan adalah suatu teknik yang berkaitan

dengan penetapan terhadap besarnya persediaan bahan yang harus diadakan untuk

menjamin kelancaran dalam kegiatan operasi produksi, serta menetapkan jadwal

pengadaan dan jumlah pemesanan bahan baku yang seharusnya dilakukan oleh

perusahaan. Penetapan jadwal dan jumlah pemesanan yang harus dipesan merupakan

pernyataan dasar yang harus terjawab dalam pengendalian persediaan.

Persediaan merupakan sumberdaya yang digunakan untuk memenuhi

kebutuhan pelanggan pada saat ini atau masa depan. Salah satu persoalan manajemen

yang potensial adalah persediaan. Persediaan terdiri dari empat jenis, yaitu persediaan

bahan mentah, persediaan dalam proses, persediaan barang pemeliharaan, dan

persediaan barang jadi. Fungsi dari persediaan adalah untuk menjaga keseimbangan

permintaan dengan penyediaan bahan baku dan waktu proses diperlukannya

persediaan, menghindari inflasi dan perubahan harga, menghindari kekurangan stok

karena cuaca, kekurangan pemasok, masalah mutu, dan pengiriman, serta menjaga

operasi agar berjalan lancar (Susanto, 2009).

Persediaan diterjemahkan dari kata “inventory” yang merupakan timbunan barang (bahan baku, komponen, produk setengah jadi, atau produk akhir, dll) yang

secara sengaja disimpan sebagai cadangan (safety atau buffer-stock) untuk manghadapi kelangkaan pada saat proses produksi sedang berlangsung.

2.1.2 Sistem Persediaan

Sistem persediaan adalah suatu mekanisme mengenai bagaimana mengelola

masukan-masukan yang sehubungan dengan persediaan menjadi output, dimana

untuk itu diperlukan umpan balik agar output memenuhi standar tertentu. Mekanisme

sistem ini adalah pembuatan serangkaian kebijakan yang memonitor tingkat

persediaan, menentukan persediaan yang harus dijaga, kapan persediaan yang harus

diisi, dan beberapa besar pesanan harus dilakukan. Sistem ini bertujuan menetapkan

(3)

baku secara optimal, dalam kuantitas yang optimal, dan pada waktu yang optimal.

Kriteria optimal adalah minimasi biaya total yang terkait dengan persediaan, yaitu

biaya penyimpanan , biaya pemesanan, dan biaya kekurangan persediaan.

Keputusan dalam pengedalian persediaan tradisional dapat diklasifikasikan

kedalam variabel kuantitatif dan variabel kualitatif.

Secara kuantitatif, variabel keputusan pada pengendalian sistem persediaan

adalah sebagai berikut:

1. Berapa banyak jumlah barang yang akan dipesan atau dibuat.

2. Kapan pemesanan atau pembuatan harus dilakukan.

3. Berapa jumlah persediaan pengaman.

4. Bagaimana mengendalikan persediaan.

Secara kualitatif, masalah pesediaan berkaitan dengan sistem pengoperasian

persediaan yang akan menjamin kelancaran pengelolaan persediaan adalah sebagai

berikut:

1. Jenis barang apa yang dimiliki.

2. Di mana barang tersebut berada.

3. Berapa jumlah barang yang sedang dipesan.

4. Siapa saja yang menjadi pemasok masing-masing item.

2.1.3 Penyebab dan Fungsi Persediaan

Persediaan merupakan suatu hal yang tak terhindarkan. Penyebab timbulnya

persediaan adalah sebagai berikut:

1. Mekanisme pemenuhan atas permintaan. Permintaan terhadap suatu barang

tidak dapat di penuhi seketika bila barang tersebut tidak tersedia sebelumnya.

Untuk menyiapkan barang ini diperlukan waktu untuk pembuatan dan

(4)

2. Keinginan untuk meredam ketidakpastian. Ketidakpastian terjadi akibat

permintaan yang bervariasi dan tidak pasti dalam jumlah maupun waktu

kedatangan, waktu pembuatan yang cenderung tidak konstan antara satu

produk dengan produk berikutnya, waktu tenggang (lead time) yang

cenderung tidak pasti karena banyak faktor yang tidak dapat dikendalikan.

Ketidakpastian ini dapat diredam dengan mengadakan persediaan.

3. Keinginan untuk melakukan spekulasi yang bertujuan mendapatkan

keuntungan besar dari kenaikan harga di masa mendatang.

Pada prinsipnya persediaan mempermudah atau memperlancar jalannya

operasi perusahaan yang harus dilakukan secara berturut-turut untuk memproduksi

barang-barang serta menyampaikannya pada para pelanggan atau konsumen.

Menurut Yamit, 1999 Ada empat faktor yang dijadikan fungsi dari persediaan,

yaitu :

1. Faktor waktu

Menyangkut lamanya proses produksi atau distribusi sebelum barang jadi

sampai kepada konsumen.

2. Faktor ketidakpastian waktu datang dari supplier

Menyebabkan perusahaan memerlukan persediaan agar tidak menghambat

proses produksi maupun keterlambatan pengiriman kepada konsumen.

3. Faktor ketidakpastian penggunaan dari dalam perusahaan

Disebabkan oleh kesalahan dalam peramalan permintaan, kerusakan mesin,

keterlambatan operasi, bahan cacat dan berbagai aspek lainnya.

4. Faktor ekonomis

Adanya keinginan perusahaan untuk mendapatkan alternatif biaya rendah

dalam memproduksi atau membeli item dengan menentukan jumlah yang

(5)

Menurut Rangkuti, 1995 ada tiga fungsi dari persediaan yaitu:

1. Fungsi Decoupling

Persediaan yang memungkinkan perusahaan dapat memenuhi permintaan

pelanggan tanpa tergantung pada supplier. Persediaan bahan mentah diadakan

agar perusahaan tidak akan sepenuhnya tergantung pada pengadaannya dalam

hal kuantitas dan waktu pengiriman. Persediaan barang dalam proses diadakan

agar departemen-departemen dan proses-proses individual perusahaan terjaga “kebebasannya”. Persediaan barang jadi diperlukan untuk memenuhi permintaan produk yang tidak pasti dari para pelanggan. Persediaan yang

diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat

diperkirakan atau diramalkan disebut fluctuationstock.

2. Fungsi Economic Lot Sizing

Persediaan lot size ini perlu mempertimbangkan penghematan atau potongan pembeliaan, biaya pengangkutan per unit menjadi lebih murah dan

sebagainya. Hal ini disebabkan perusahaan melakukan pembelian dalam

kuantitas yang lebih besar, dibandingkan biaya- biaya yang timbul karena

besarnya persediaan (biaya sewa gudang, investasi, resiko, dan sebagainya).

3. Fungsi Antisipasi

Apabila perusahan menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diperkirakan

dan diramalkan berdasar pengalaman atau data-data masa lalu, yaitu

permintaan musiman. Dalam hal ini perusahaan dapat mengadakan persediaan

(6)

2.1.4 Jenis- Jenis Persediaan

Assauri, S (1993) mengemukakan bahwa persediaan dibedakan atau dikelompokkan

menurut jenis dan posisi barang tersebut di dalam urutan pengerjaan produk, yaitu:

1. Persediaan bahan baku (Raw materials Stock), yaitu persediaan dari

barang-barang berwujud yang digunakan dalam proses produksi. Barang

dapat diperoleh dari sumber-sumber alam ataupun dibeli dari supplier atau

perusahaan yang menghasilkan bahan baku bagi perusahaan pabrik yang

menggunakannya.

2. Persediaan bagian produk atau parts yang dibeli (purchased parts/ komponen stock) yaitu persediaan barang–barang yang terdiri dari parts yang diterima dari perusahaan lain, yang dapat secara langsung

di-assembling dengan parts lain, tanpa melalui proses produksi sebelumnya. 3. Persediaan bahan-bahan pembantu atau barang-barang perlengkapan

(supplies stock) yaitu persediaan barang–barang atau bahan–bahan yang

diperlukandalam proses produksi atau yang digunakan dalam proses

produksi untuk membantu berhasilnya produksi atau yang dipergunakan

dalam bekerjanya

2.1.5 Komponen-Komponen Biaya Persediaan

Masalah utama yang ingin dicapai oleh pengendalian persediaan adalah

meminimumkan biaya operasi total perusahaan. Jadi, ada dua keputusan yang perlu

diambil dalam hal ini, yaitu : (1) berapa jumlah yang harus dipesan setiap kali

pemesanan, dan (2) kapan pemesanan itu harus dilakukan.

Dalam menentukan jumlah yang dipesan pada setiap kali pemesanan, pada

dasarnya harus dipertemukan dua titik ekstrim yaitu memesan dalam jumlah yang

(7)

mempunyai pengaruh yang tidak menguntungkan perusahaan. Hasil yang terbaik

akan diperoleh dengan mempertemukan keduanya.

Berbagai macam biaya yang perlu diperhitungkan di saat mengevaluasi

masalah persediaan. Di antara biaya-biaya tersebut, ada tiga kelompok utama, yaitu :

1. Biaya pemesanan (ordering cost) dan biaya pengadaan (procurement cost)

Ordering cost merupakan total biaya pemesanan dan pengadaan bahan sehingga siap untuk dipergunakan atau diproses lebih lanjut. Dengan kata lain,

mencakup pula biaya-biaya pengangkutan,pengumpulan, pemilikan,

penyusunan, dan penempatan di gudang. Sampai kepada biaya-biaya

manajerial dan klerikal yang berhubungan dengan pemesanan sampai

penempatan bahan/barang di gudang. Untuk dapat membedakan secara tegas

antara kedua macam biaya tersebut (ordering cost dan procurement cost) dapat dilihat dari sifat “fixed-variable” biaya-biaya yang dikeluarkan pada waktu pemesanan. Seringkali total kedua biaya tersebut bervariasi menurut

jumlah barang yang dipesan.

Total biaya pemesanan dapat dikelompokan menjadi dua. Pertama, kelompok

biaya pemesanan yang bersifat “fixed”, yang tidak tergantung pada jumlah

barang yang dipesan. Kedua, kelompok bidang pemesanan yang bersifat “variable”, yang tergantung pada jumlah barang yang dipesan. Bagian yang bersifat fixed disebut ordering cost, sedangkan yang bersifat variable disebut procurement cost.

Biaya-biaya pemesanan meliputi :

1. Pemrosesan pesanan dan biaya ekspedisi

2. Biaya transportasi

3. Biaya telepon

4. Biaya administrasi (biaya surat-menyurat)

5. Biaya pengepakan dan penimbangan

(8)

7. Biaya pengiriman ke gudang

8. Biaya utang lancar, dan sebagainya

2. Biaya penyimpanan (holding cost atau carryng cost)

Holding cost atau carryng cost timbul karena perusahaan menyimpan

persediaan. Biaya penyimpanan (holding costs atau carrying costs) terdiri atas

biaya-biaya yang bervariasi secara langsung dengan kuantitas persediaan.

Biaya penyimpanan perperiode akan semakin besar apabila kuantitas bahan

yang dipesan semakin banyak, atau rata–rata persediaan semakin tinggi.

Biaya- biaya penyimpanan meliputi :

1. Biaya fasilitas-fasilitas penyimpanan (termasuk penerangan, pendingin

ruangan dan sebagainya)

2. Biaya modal (opportunity cost of capital) yaitu alternative pendapatan atas

dana yang diinvestasikan dalam persediaan)

3. Biaya gudang

4. Biaya penghitungan fisik

5. Biaya asuransi persediaan

6. Biaya pajak persediaan

2. Biaya kehabisan atau kekurangan bahan (shortage cost)

Shortage cost timbul apabila ada permintaan terhadap barang yang kebetulan sedang tidak tersedia di gudang dan biaya ini timbul akibat tidak terpenuhinya

kebutuhan pemesanan. Untuk barang-barang tertentu,pemesan dapat diminta

untuk menunda pembeliannya atau dengan kata lain pemesan diminta untuk

menunggu. Dalam hal ini shortage cost yang timbul selain biaya ekstra untuk

membuat lagi barang yang dipesan, juga berupa berkurangnya kepercayaan

pemesan apabila pesanan terlambat dipenuhi. Tetapi, untuk barang kebutuhan

(9)

pelanggan karena ia akan segera mencari barang yang dibutuhkannya di

perusahaan lain.

Biaya-biaya yang termasuk biaya kehabisan atau kekurangan bahan yaitu :

1. Kehilangan penjualan

2. Kehilangan pelanggan

3. Biaya pemesan khusus

4. Biaya ekspedisi

5. Terganggunya operasi

6. Tambahan pengeluaran kegiatan manajerial, dan sebagainya.

2.2 Pengendalian Persediaan

Pengendalian persediaan merupakan tindakan yang sangat penting dalam menghitung

berapa jumlah optimal tingkat persediaan yang diharuskan, serta kapan saatnya mulai

mengadakan pemesanan kembali. Pengendalian persediaan adalah salah satu fungsi

manajemen yang dapat dipecahkan dengan menerapkan metode kuantitatif. Konsep

ini dapat diterapkan baik untuk industri skala kecil maupun industri skala besar

(Rangkuti, 1996).

Pengendalian persediaan merupakan suatu usaha memonitor dan menentukan

tingkat komposisi bahan yang optimal dalam menunjang kelancaran dan efektivitas

serta efisiensi dalam kegiatan perusahaan. Pengendalian persediaan perlu

diperhatikan karena berkaitan dengan biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan

sebagai akibat adanya persediaan. Sehingga persediaan yang ada harus seimbang

dengan kebutuhan, karena persediaan yang berlebih beresiko menimbulkan kerusakan

pada produk dan biaya penyimpanan yang tinggi. Begitu pula sebaliknya apabila

terlalu sedikit akan mengganggu kelancaran produksi,oleh karena itu, perlu adanya

keseimbangan didalam pengadaan persediaan sehingga dapat menekan biaya-biaya

(10)

pengadaan persediaan perlu diperhatikan karena berkaitan langsung dengan biaya

yang harus ditanggung perusahaan sebagai akibat adanya persediaan (Ristono, 2009).

2.3 ModelEconomic Order Quantity (EOQ) 2.3.1 Pengertian Economic Order Quantity (EOQ)

Metode ini diperkenalkan pertama kali oleh Ford Harris dari Westinghouse pada

tahun 1915. Metode ini merupakan inspirasi bagi para pakar persediaan untuk

mengembangkan metode-metode pengendalian persediaan lainnya. Metode ini

dikembangkan atas fakta adanya biaya variabel dan biaya tetap dari proses produksi

atau pemesanan barang.

Jika suatu barang dipesan dari pemasok, berapa pun jumlah barang yang

dipesan, biaya pemesanan (telepon, pengiriman, administrasi, dan lain-lain). Besarnya

selalu sama. Artinya, biaya pemesanan tidak tergantung pada jumlah pemesanan

melainkan pada berapa kali jumlah pemesanan.

Jika suatu barang diproduksi, perusahaan harus men „set up‟ mesin dan fasilitas produksi lainnya, harus membuat rencana, dan lain-lain yang biaya tersebut

tidak akan berbeda untuk jumlah produksi yang berbeda.

Fakta lainnya, ada biaya yang berubah jika jumlah unit yang diproduksi atau

dipesan berubah. Biaya ini berbanding lurus dengan jumlah yang diproduksi.

Termasuk dalam kategori ini adalah harga barang, biaya penyimpanan, biaya

penampungan, dan lain-lain.

Menurut Gitosudarmo, (2002:101) EOQ merupakan volume atau jumlah

pembelian yang paling ekonomis untuk dilaksanakan pada setiap kali pembelian.

Untuk memenuhi kebutuhan itu maka dapat diperhitungkan pemenuhan kebutuhan

(pembeliannya) yang paling ekonomis yaitu sejumlah barang yang akan dapat

(11)

EOQ adalah jumlah pesanan yang dapat meminimumkan total biaya

persediaan, pembelian yang optimal. Untuk mencari berapa total barang yang tetap

untuk dibeli dalam setiap kali pembelian untuk menutup kebutuhan selama satu

periode (Yamit, 1999)

Ada dua keputusan dasar dalam EOQ (Agustian et al, 2014), yaitu:

1. Berapa jumlah bahan baku yang harus dipesan pada saat bahan baku

tersebut perlu dibeli kembali (Replenisment Cyle).

2. Kapan perlu dilakukan pembelian kembali (Reorder Point).

Metode EOQ klasik memberikan bentuk analisis persediaan paling mendasar.

Model ini memberikan sarana untuk menentukan berapa jumlah yang harus dipesan

(kuantitas pesanan) dan kapan pemesanan harus dilakukan sehingga biaya-biaya yang

berhubungan dengan persediaan dapat diminimalisir. Asumsi dasar atas model-model

ini adalah bahwa permintaan diketahui dengan pasti dan bersifat konstan (Limansyah,

2011).

Dengan demikian, secara matematis biaya total persediaan dapat dinyatakan

sebagai berikut:

Biaya Total Persediaan = Biaya Pembelian + Biaya Pemesanan + Biaya Penyimpanan

+ Biaya Kekurangan (2.1) Misalkan permintaan akan suatu barang adalah konstan sepanjang waktu dengan

(12)

Gambar 2.1 Biaya Persediaan

Sumber. (Rangkuti,1995)

Karena dalam model persediaan barang EOQ diasumsikan tidak terjadi

kekurangan barang dan biaya pembelian tidak berpengaruh seperti yang ditunjukkan

pada gambar 2.1, maka persediaan (2.1) menjadi:

Biaya Total Persediaan = Biaya Pemesanan + Biaya Penyimpanan (2.2)

Biaya pemesanan adalah biaya yang dikeluarkan ketika sebuah pesanan

diajukan, sehingga besarnya biaya pemesanan selama setahun adalah

= (2.3)

Keterangan:

: Biaya pembelian

: Frekuensi Pemesanan dalam Setahun

: Tingkat permintaan (demand) perhorizon waktu perencanaan

(13)

Biaya penyimpanan adalah biaya yang dikeluarkan untuk pemeliharaan

barang selama barang tersebut disimpan, sehingga besarnya biaya penyimpanan

selama setahun adalah

(2.4)

Keterangan:

: Biaya penyimpanan perunit barang

: Rata-rata banyaknya barang yang disimpan

: Jumlah pemesanan ekonomis

Dengan mensubtitasikan persamaan (2.3) dan (2.4) kedalam persamaan (2.2),

maka diperoleh biaya total persediaan untuk model persediaan barang EOQ adalah

(2.5)

Selanjutnya untuk mencari nilai Q sehingga diperoleh biaya total persediaan yang

minimum, maka haruslah

. Diperoleh

(

) (

)

(14)

Jadi agar biaya total persediaan menjadi minimum, maka jumlah pesanan yang harus

diajukan perusahaan adalah

√ unit.

2.3.2 Menentukan Jumlah Pemesanan yang Ekonomis (EOQ)

Metode EOQ mengasumsikan permintaan secara pasti dengan pemesanan yang dibuat

secara konstan serta tidak adanya kekurangan persediaan (Rangkuti, 1995).

Adapun asumsi yang harus dipenuhi dalam metode EOQ, yaitu :

1. Tingkat permintaan datang secara konstan, berulang-ulang dan diketahui.

2. Tidak diperbolehkan terjadinya kehabisan persediaan.

3. Bahan yang dipesan dan diproduksi pada satu waktu.

4. Biaya pemesanan setiap unit adalah konstan.

5. Barang yang dipesan tunggal.

Tetapi dalam kenyataannya asumsi-asumsi di atas tidak dipenuhi semuanya,

karena kondisi dan keadaan yang terkadang bisa terjadi tiba-tiba. Oleh karena itu

metode EOQ mengalami pengembangan yang disesuaikan dengan kondisi dan

keadaan dari perusahaan itu sendiri. Secara umum, metode EOQ dapat dirumuskan

sebagai berikut:

Keterangan:

: Biaya setiap kali memesan

: tingkat permintaan (demand) perhorizon waktu perencanaan

(15)

2.3.3 Menentukan Jumlah Persediaan pengaman (safety Stock)

Persediaan Pengaman (safety Stock) adalah suatu pencegahan terhadap stockout

(persediaan habis Di gudang). Faktor-faktor yang mempengaruhi stockout tersebut

seperti permintaan yang berubah-ubah.

Secara umum dapat dirumuskan sebagai berikut:

atau (2.7)

Keterangan:

: Safety factor yang digunakan oleh perusahaan

: Standar deviasi permintaan

: Persediaan pengaman

2.3.4Menentukan Saat Pemesanan Kembali (Reorder Point)

Salah satu asumsi model EOQ adalah bahwa suatu pemesanan diterima dalam

tenggang waktu tidak lama setelah pemesanan barang dilakukan. Apabila antara

pemesanan barang dengan datangnya barang yang dipesan tidak selalu sama

(tenggang waktunya tidak pasti), maka perlu ditentukan kapan pemesanan kembali

barang dilaksanakan agar resiko perusahaan dapat ditekan seminimal mungkin.

Dalam menetukan saat pemesanan kembali dapat ditentukan dengan cara

sebagai berikut:

(2.8)

Keterangan:

: Reorder Point

(16)

: lead Time

: persediaan pengaman

2.3.5 Menentukan Persediaan Maksimal

Besarnya persediaan maksimal tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut (Fitriani et

al, 2014)

(2.9)

Keterangan:

: Maximum inventory

: persediaan pengaman

: Economic Order Quantity

2.3.6 Menentukan Total Biaya persediaan

Dan untuk mendapatkan total biaya persediaan (Rangkuti, 1995) merumuskan :

(2.10)

Keterangan:

: Biaya total persediaan

: jumlah permintaan (per unit ) dalam waktu yang ditentukan

: Economic Order Quantity

: biaya pemesanan dalam sekali pemesan dilakukan

Gambar

Gambar 2.1 Biaya Persediaan

Referensi

Dokumen terkait

Usaha ternak sapi perah dapat difokuskan pada peningkatan produksi susu dan pedet, sehingga hasil produksi yang dihasilkan lebih optimal.. Produk yang dihasilkan, pasca panen

Upaya pendisiplinan di SMPN 3 Surakarta dapat dianalisis menggunakan teori disiplin dan hukuman Michel Foucault karena dalam pendisiplinan atau membentuk

Dari pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan lingkungan kerja adalah keadaan di dalam tempat bekerja yang mencerminkan hubungan

Dengan mengetahui struktur dan morfologi selulosa bacterial, material sintetik dapat didisain untuk memiliki sifat mekanik yang tepat, dengan bentuk,

Setelah lama bergelut dengan region, saya menemui kendala yaitu akan cukup sulit menggunakan region bila bentuk form yang akan kita buat tidak sama dengan bentuk dasar

Kelompok Tani di Kecamatan Sungai Tabuk pengelolaan nya dilaksanakan oleh Kios Warga Tani yang merupakan salah satu kios di Kecamatan Sungai Tabuk yang dipilih

Kata  “komunikasi” merupakan asal  dari bahasa latin, communis,

prosedur pelaksanaan pemberian Kredit Kepemilikan Rumah di PT. Bank Tabungan Negara cabang pembantu Bubutan – Surabaya. 1.5.2 Bagi Pembaca. Dapat memberikan informasi yang