MESIN PRES HIDROLIK
UNTUK MENGEPRES TEMBAKAU
TUGAS AKHIR
Untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat sarjana S-1
Program Studi Teknik Mesin Jurusan Teknik Mesin
Diajukan oleh :
Gani Purwanto
NIM :085214002
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNVERSITAS SANATA DHARMA
HYDRAULIC PRESS MACHINE
FOR PRESSING TOBACCO
FINAL PROJECT
As partitial fulfillment of the requirement to obtain the Sarjana Teknik degree
Mechanical Engineering Study Program Mechanical Engineering Department
by
Gani Purwanto
Student Number : 085214002
SAINS AND TECHNOLOGY FACULTY SANATA DHARMA UNIVERSITY
ii
INTISARI
Saat ini, tembakau dapat dipakai sebagai obat-obatan. Tanaman ini tergolong
jenis tanaman semusim, karena itu perlu penyimpanan supaya tidak kehabisan pada
saat tidak musim tembakau. Oleh karena itu penelitian ini ditujukan untuk membuat
mesin pres hidrolik sederhana yang dapat digunakan untuk pemampatan daun
tembakau agar memudahkan dalam penyimpanannya. Akan tetapi kerapatan hasil
pengepresan daun tembakau tidak boleh merusak tekstur tembakau. Karena itu
penelitian ini ditujukan untuk mengetahui tentang tekanan dan kerapatan yang baik
untuk daun tembakau. Selain itu penelitian ini ditujukan pula untuk mengetahui
karakteristik mesin pres yang dibuat.
Mesin yang dibuat adalah mesin pres hidrolik. Penelitian ini dilakukan
dengan cara pengepresan bahan menggunakan mesin pres serta pengaturan tekanan
sampai tujuh variasi, yaitu 20 kg/cm², 30 kg/cm², 40 kg/cm², 50 kg/cm², 60 kg/cm²,
70 kg/cm²,dan 80 kg/cm². Data yang diambil dalam penelitian ini adalah tekanan
terukur, tinggi tembakau pada saat piston ditahan selama 2 menit, serta tinggi
tembakau setelah piston dinaikan.
Hasil penelitian menunjukan bahwa tekanan yang baik untuk pengepresan
daun tembakau berkisar dari 3 kg/cm² sampai dengan 7,5 kg/cm² dan kerapatan daun
tembakau yang baik sekitar 550 kg/m³ sampai 670 kg/m³.
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat
dan karunia-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini. Penulis
menyadari, bahwa Penulis tidak dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini tanpa campur
tangan Tuhan.
Tugas Akhir merupakan sebagian persyaratan yang wajib ditempuh oleh
setiap mahasiswa Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas
Sanata Dharma Yogyakarta. Tugas Akhir ini juga dapat dikatakan sebagai wujud
pemahaman dari hasil belajar mahasiswa setelah mengikuti kegiatan perkuliahan
selama di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Dalam Tugas Akhir ini akan dibahas mengenai penelitian kerapatan daun
tembakau yang di pres oleh mesin pres hidrolis. Dalam Tugas Akhir tersebut, Penulis
berencana untuk mengetahui dari kerapatan dari daun tembakau yang setelah di press
dan kemampuan mesin bekerja.
Penulis menyadari bahwa penyusunan Tugas Akhir ini juga melibatkan
banyak pihak. Dalam kesempatan ini, Penulis ingin mengucapkan banyak terima
kasih kepada :
1. Ibu Paulina Heruningsih Prima Rosa, S.Si., M.Sc., Dekan Fakultas Sains dan
Teknologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
2. Ir.PK. Purwadi, M.T., Ketua Program Studi Teknik Mesin Universitas Sanata
Dharma Yogyakarta.
3. Bapak Ir. Rines, M.T., dosen pembimbing Tugas Akhir.
v DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
TITLE PAGE
HALAMAN PENGESAHAN
PERNYATAAN……….. i
INTISARI…..……….. ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ……….. v
ISTILAH PENTING ... viii
DAFTAR GAMBAR ………. ix
DAFTAR TABEL ……….. xi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ……… 1
1.2 Rumusan masalah ...……… 3
1.3 Tujuan ...……….. 3
1.4 Manfaat ...………. 4
BAB II
DASAR TEORI
2.1 Pengertian hidrolik ...………... 52.2 Persamaan-persamaan dasar ...…………..……… 10
vi
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Diagram alir penelitian ... 27
BAB IV PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Data hasil percobaaan .………... 41
vii
4.2.6 Perhitungan volum ...……….. 46
4.2.7 Perhitungan kerapatan ... 46
4.3 Hasil perhitungan ………...………..……… 46
4.4 Grafik hasil perhitungan ………...… 49
4.4.1 Grafik untuk mengetahui selisih tinggi tembakau ………. 49
4.4.2 Grafik hubungan antara kerapatan dan tekanan pres ………. 51
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ………. 55
5.2 Saran ...……… 56
DAFTAR PUSTAKA ………. 57
viii
DAFTAR ISTILAH
Simbol Keterangan
P Tekanan (kg/cm2)
F Gaya (kg)
A Luas penampang (cm2)
Q Laju aliran (liter/menit)
V Volume (liter)
t Waktu (menit)
v Kecepatan (cm/detik)
ρ Kerapatan (kg/cm3)
m massa (kg)
VD Volumetric Displacement (cm3)
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Aliran di dalam pipa untuk menjelaskan persamaan Kontinuitas 11
Gambar 2.2 Dua bejana untuk menjelaskan hukum Pascal ... 13
Gambar 2.3 Aliran laminer ...… 15
Gambar 2.4 Aliran turbulen ……...………... 16
Gambar 2.5 Klasifikasi pompa ……... 17
Gambar 2.6 Pompa roda gigi dengan roda gigi internal... 18
Gambar 2.7 Roda gigi external ………...…. 19
Gambar 3.1 Diagram alir langkah- langkah penelitian ...……… 27
x
Gambar 3.9 Panel listrik ...…...………. 31
Gambar 3.10 Relai relai valve ...………....… 32
Gambar 3.11 Presure gauge ... 32
Gambar 3.12 Pompa roda gigi external ...………. 33
Gambar 3.13 Pipa pada sistem hidrolik ...……… 34
Gambar 3.14 Tangki ... 34
Gambar 3.15 Strainer ...……….………... 35
Gambar 3.16 Piston ...………. 36
Gambar 3.17 Limit switch …... 36
Gambar 3.18 Directional control valve ...………. 37
Gambar 3.19 Kotak cetak ... 37
Gambar 3.20 Aliran posisi nol ………... 39
Gambar 3.21 Aliran posisi piston turun ...……… 39
Gambar 3.22 Aliran posisi piston naik ….……….. 40
Gambar 4.1 Grafik selisih tembakau dengn berat bahan 2 kg ………. 49
Gambar 4.2 Grafik selisih tembakau dengan berat bahan 4 kg ………... 50
Gambar 4.3 Grafik selisih tembakau dengan berat bahan 6 kg... 51
Gambar 4.4 Grafik hubungan kerapatan dan tekanan dengan berat bahan 2 kg 52
Gambar 4.5 Grafik hubungan kerapatan dan tekanan dengan berat bahan 4 kg 53
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Bahan tembakau dengan berat 2 kg ...……… 41
Tabel 4.2 Bahan tembakau dengan berat 4 kg ..………... 41
Tabel 4.3 Bahan tembakau dengan berat 6 kg ...……… 42
Tabel 4.4 Data hasil perhitungan untuk bahan 2 kg posisi piston mengepres 47
Tabel 4.5 Data hasil perhitungan untuk bahan 4 kg posisi piston mengepres 47
Tabel 4.6 Data hasil perhitungan untuk bahan 6 kg posisi piston mengepres 47
Tabel 4.7 Data hasil perhitungan untuk berat bahan 2 kg posisi piston naik 48
Tabel 4.8 Data hasil perhitungan untuk berat bahan 4 kg posisi piston naik 48
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sekarang ini tanaman tembakau banyak kegunaannya, diantaranya sebagai
protein anti kanker, melepaskan gigitan lintah, obat diabetes, anti radang,
pemeliharaan kesehatan ternak, dan lain sebagainya. (Sumber:http://laporanipa.
wordpress.com/2012/05/27/manfaat-tembakau/). Tanaman tembakau termasuk
golongan tanaman semusim. Dalam dunia pertanian tergolong tanaman
perkebunan, tetapi bukan merupakan kelompok tanaman pangan. Dari tanaman
tembakau yang paling banyak dimanfaatkan adalah daunnya, sedangkan buahnya
dimanfaatkan untuk ditanam kembali.
Tanaman tembakau telah dikenal oleh masyarakat kira–kira lima abad yang
lalu, yaitu sejak diketemukan pertama kali oleh Columbus pada tahun 1492.
Sebelum Columbus, sebenarnya tanaman tembakau telah dikenal oleh suku Indian
Arawak di Kepulauan India Barat. Cortez pada tahun 1519 menemukan tembakau
pada suku Azatek yang di jumpai di Meksiko, Amerika Tengah. Suku-suku
tersebut mengunakan daun tembakau kering. Tembakau ini dikembangkan pada
pertengahan ke-16 ( Makfoeld,1994 ).
Daun tembakau juga banyak dimanfaatkan untuk kalangan ibu-ibu.
Biasanya ibu-ibu dipedesaan mengunakan daun tembakau sebagai susur dan
tembakau yang sering digunakan seperti tembakau rajangan, yang untuk penguat
Tanaman tembakau dari proses penanaman hingga panen membutuhkan
waktu kurang lebih sekitar 6 bulan. Setelah proses pemanenan daun tembakau,
cara pengolahannya dengan cara dijemur dengan mengunakan sinar matahari
hingga daunnya kering. Ada juga proses pengolahannya dengan cara
dipotong-potong terlebih dahulu lalu dijemur hingga daun tembakau kering. Setelah proses
pengeringan semua daun tembakau dimasukan kedalam proses pengovenan agar
daun tembakau dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama.
Mesin hidrolik dirancang untuk membantu petani tembakau dalam proses
pengepakan. Sebelum adanya mesin hidrolik cara pengepakan daun tembakau
mengunakan mesin pres manual yang digerakan oleh tenaga manusia. Dengan
sulitnya mencari tenaga kerja maka dari itu perancang membuat mesin pres
hidrolik supaya dapat membantu petani dalam proses pengepakan daun tembakau.
Mesin hidrolik dirancang dengan tekanan maksimal 100 kg/cm². Cara proses
pengepresan dengan mengunakan mesin hidrolik yaitu daun tembakau di masukan
kedalam kotak cetak hingga penuh, setelah daun tembakau penuh lalu mesin
hidrolik bekerja dengan cara pengepresan hingga padat. Lalu setelah daun
tembakau padat di dalam kotak cetak, kotak cetak kembali di isi dengan daun
tembakau dan dipadatkan kembali. Cara tersebut dilakukan kembali hingga daun
tembakau memenuhi kotak cetakan. Setelah daun tembakau di pres, lalu daun
tembakau di ikat agar daun tembakau tidak lepas dan kembali mengembang. Hal
ini dilakukan pada kalangan petani menengah keatas yang menanam tembakau
sekalian dengan pengolahannya di lakukan sendiri, dan dipengepul-pengepul
ataupun tembakau yang akan disimpan di tempat penyimpanan harus dipes
terlebih dahulu daun tembakaunya, supaya efisien tempat penyimpananya.
Daun tembakau dapat tidak dipres tetapi dengan cara ditumpuk dan diikat
saja. Tetapi daun tembakau menjadi tidak efesien dalam pengepakannya. Biasanya
hal ini dilakukan pada petani kalangan kecil yang tidak mempunyai mesin pres.
Oleh karena itu mesin pres hidrolik ini dimasudkan untuk memberikan alternatif
bagi petani tembakau dalam pengepakan daun tembakau dan sekaligus sebagai
tugas akhir.
1.2 Rumusan Masalah
1. Dibutuhkan mesin pres tembakau untuk memudahkan dalam proses
pengepakan.
2. Tidak tersedianya tenaga kerja untuk mengepres tembakau dengan mesin
manual.
1.3 Tujuan
1. Membuat mesin pres hidrolik untuk pengepresan daun tembakau.
2. Mengetahui karakteristik dari mesin pres tembakau.
3. Mengetahui hubungan tekanan pengepresan dengan densitas atau
kerapatan hasil pengepresan daun tembakau dan mengetahui kerapatan
1.4 Manfaat
1. Mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh pada perkuliahan, khususnya
pada mata kuliah hidrolik dan pneumatik.
2. Mesin pres yang dibuat dapat dimanfaatkan oleh petani dalam proses
pengepakan daun tembakau.
5
BAB II
DASAR TEORI
2.1 Pengertian hidrolik
Pada dasarnya hidrolik dan pnumatik adalah teknologi mengenai
pembangkitan, pengendalian, dan pentransmisian daya dengan menggunakan
fluida bertekanan. Dalam sistem berdaya fluida dirancang khusus untuk
melakukan usaha yang dilakukan oleh fluida bertekanan yang diberikan kedalam
sebuah silinder atau motor fluida. Umumnya sistem berdaya fluida terbagi
menjadi dua sistem yaitu :
a. Sistem hidrolik
Medium yang digunakan dalam sistem hidrolik adalah zat cair (air,
minyak mineral, minyak sintetik dan lain-lain) sebagai fluidanya.
b. Sistem pneumatik
Medium yang digunakan dalam sistem pnumatik adalah gas (udara,
oksigen, nitrogen) sebagai fluidanya.
Daya fluida dikatakan sebagai otot otomatis karena mempunyai empat
katagori keunggulan utama yaitu :
a. Mudah dan akurat dalam pengendaliannya.
Hanya dengan tuas-tuas sederhana dan tombol-tombol tekan.
Seorang operator sistem berdaya fluida dapat dengan cepat
memulai, menghentikan, mengubah kecepatan dan menyalurkan
b. Mampu melipat gandakan gaya.
Sisitem berdaya fluida (tanpa memakai rodagigi, puli dan tuas-tuas
yang merepotkan) dapat melipatkan gaya dengan mudah dan
efisien.
c. Memberikan gaya atau torsi yang tetap.
Hanya sistem berdaya fluida yang mempunyai kemampuan
menyediakan gaya atau torsi yang tetap (konstan) yang tidak
terpengaruh oleh perubahan kecepatan.
d. Sederhana, aman dan ekonomis.
Umumnya sistem berdaya fluida menggunakan sangat sedikit
bagian yang bergerak dibandingkan dengan sistem mekanis dan
listrik, sehingga sistem-sistem ini lebih mudah untuk dirawat dan
dioperasikan dengan aman, terpadu dan sangat dapat diandalkan.
Bila di pandang dalam segi kelebihan-kelebihan lainya pengunaan sistem
berdaya fluida meliputi :
1. Gerakan aktuatornya dapat dibalikan sewaktu-waktu.
2. Memiliki perlindungan otomatis terhadap beban lebih.
3. Memiliki kendali kecepatan yang dapat divariasikan secara halus,
dan
4. Mempunyai rasio daya persatuan berat yang tinggi dibandingkan
dengan sumber daya lain.
Dalam sistem hidrolik ini juga mempunyai fungsi-fungsi tentang fluida
a. Fluida mempunyai fungsi-fungsi primer misalnya:
1. Memindahkan daya (memindahkan tekanan dan gerakan)
2. Memberikan isyarat untuk kendali.
b. Sebagai fungsi-fungsi sekunder misalnya :
1. Melumasi komponen-komponen yang berputar dan bertranslasi
untuk meminimalkan terjadinya gesekan dan keausan.
2. Memindahkan panas dari lokasi sumber terjadinya panas ke
reservoir.
3. Mengangkut partikel-partikel ke filter.
4. Melindungi permukaan-permukaan dari serangan-serangan zat
kimia, khususnya penyebab korosi.
Dalam mengunakan fluida hidrolik juga harus mengetahui syarat-syaratnya
berdasarkan :
1. Berdasarkan fungsinya
a. Memiliki karakteristik sebagai pelumas terbaik.
b. Viskositasnya tidak rentan terhadap temperatur dan tekanan.
c. Konduktivitas kalor bagus.
d. Koefesien pemuaiannya rendah.
e. Modulus bulknya besar.
2. Dari nilai ekonominya
a. Murah.
b. Stabilitas termal dan kimia serta penuaan yang terjadi harus
3. Dari segi keamanan
a. Memiliki titik nyala yang tinggi atau dalam kondisi operasi tidak
menyala sama sekali.
b. Zat kimia yang terkandung bersifat netral (sama sekali tidak
agresif terhadap semua material yang tersentuh).
c. Tidak berkecenderungan mengikat udara dan menimbulkan busa
atau buih.
4. Pengaruh bagi lingkungan
a. Tidak membahayakan lingkungan.
b. Tidak beracun.
Dalam mesin pres hidrolik ini banyak perangkat atau alat yang digunakan
untuk membantu jalannya dalam sistem hidrolik. Dalam sistem hidrolik ini
perlunya mengunakan alat-alat penyuplainya. Sistem hidrolik terdapat
komponen-komponen pokok yang diperlukan. Komponen tersebut terbagi menjadi enam
yaitu :
1. Motor listrik
Motor listrik atau motor bakar biasanya digunakan untuk
menjalankan/mengerakan pompa supaya fluida dapat mengalir ke
dalam tabung hidrolik.
2. Katup-katup
Untuk mengendalikan arah, tekanan dan laju aliran cairan.
Dimesin ini mengunakan presure. Presure dalam mesin pres
sebagai contoh saja, jadi hanya mengunakan presure dengan
mampu menekan maksimal 100 kg/cm². Beda dengan mesin pres
hidrolik yang ada dalam pabrik yang mampu dengan menekan
lebih dari 100 kg/cm².
3. Tangki ( reservoir atau bak penampung )
Dalam sistem hidrolik, tangki digunakan untuk menyimpan
cairan, yang biasanya minyak hidrolik. Tangki yang terdapat dalam
mesin ini, hanya untuk membuang atau menampung fluida yang
digunakan sebagai bahan dari jalannya hidrolik.
4. Pompa
Untuk memaksakan cairan mengalir masuk kedalam sistem.
Pompa ini bekerja untuk memompa cairan fluida yang ada dalam
tangki dan di alirkan ke dalam silinder hidrolik.
5. Aktuator (silinder & motor hidrolik)
Untuk mengonversikan energi cairan kedalam gaya atau torsi
mekanisme untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu.
6. Pipa-pipa
Pipa dalam hidrolik digunakan untuk membawa cairan dari satu
lokasi ke lokasi lainya. Pipa ini terbuat dari pipa besi, tetapi ada
juga yang memakai slang karet yang pejal. Dalam mesin jaman era
terbaru ini biasanya mengunakan slang karet sudah tidak
2.2 Persamaan-persamaan dasar
1. Konversi Energi
Hukum konversi energi adalah energi tidak dapat diciptakan
maupun dimusnahkan. Total energi sama dengan energi potensial
ditambah dengan energi kinetik.
Energi potensial terbentuk karena disebabkan oleh dua faktor yaitu:
a. Energi potensial yang disebabkan oleh ketinggian fluida
Energi potensial yang disebabkan oleh ketinggian fluida
adalah energi yang tersimpan didalam sekumpulan fluida
yang terletak pada suatu ketinggian yang diukur dari sebuah
bidang referensi.
b. Energi potensial yang disebabkan oleh tekanan fluida
Energi potensial yang disebabkan oleh tekanan fluida adalah
energi yang tersimpan didalam sekumpulan fluida yang
memiliki berat dan memiliki tekanan.
2. Persamaan Kontinuitas
Jika fluida dalam pipa yang diameternya berubah, volume yang
sama akan mengalir dalam waktu yang sama, seperti yang di
Gambar 2.1 Aliran didalam pipa untuk menjelaskan
persamaan Kontinuitas
Jika tidak ada fluida yang ditambahkan atau terbuang, maka laju
aliran di lokasi 1 dan 2 tetap sama.
Laju/debit aliran berubah :
(2-1)
dengan :
Q : laju aliran dalam liter/menit
V : volume dalam liter
t : waktu dalam menit
Volume (2-2)
A : Luas penampang
s : jarak panjang
Digunakan dalam
(2-3)
Kecepatan
(2-4)
dengan (2-5)
Q1 Q2
V1
Dapat dihasilkan :
Persamaan Kontinuitas (2-6)
Laju aliran dalam pompa
(2-7)
3. Hukum Pascal
a. Tekanan akibat gaya luar (hukum Pascal)
Jika sebuah gaya F bekerja pada fluida tertutup melalui suatu
permukaan A, maka akan terjadi tekanan pada fluida. Tekanan
tergantung dari gaya yang bekerja tegak lurus atas permukaan dan
luas.
(2-8)
dengan :
p = Tekanan ( dalam bar )
F = Gaya ( dalam Newton )
A = Luas penampang ( dalam cm²)
Tekanan bekerja ke semua arah dan serentak, jadi tekanan
disemua tempat sama. Hukum ini berlaku selama gaya tarik bumi
dapat diabaikan, yang semestinya ditambahkan dalam perhitungan
sesuai dengan tinggi zat cair. Seperti yang ditunjukan dalam
Gambar 2.2. Dua bejana berhubungan untuk menjelaskan
hukum Pascal
b. Perpindahan gaya hidrolik
Bentuk tangki bukan merupakan salah suatu faktor yang penting
karena tekanan dapat bekerja ke semua sisi dan besarnya sama.
Untuk dapat bekerja dengan tekanan, yang berasal dari gaya luar.
Tekanan dalam sistem ini selalu tergantung dari besarnya beban
dan permukaan efektif. Artinya tekanan dalam sistem meningkat
sampai dapat mengalahkan hambatan yang gerakannya berlawanan
dengan gerakan fluida.
c. Prinsip perpindahan tekanan
Dua buah torak dengan ukuran penampang yang berbeda A1 dan
A2 yang ditempatkan di dalam dua silinder yang saling
berhubungan dan berisi zat cair. Bila penampang A1 menerima
tekanan P1, maka pada torak besar bekerja gaya sebesar
(2-9)
Gaya ini diteruskan ke torak kecil Yang akan menyebabkan
tekanan pada penampang torak kecil F1
A1
F2
(2-10)
(2-11)
Berdasarkan hubungan-hubungan di atas, maka tekanan pada torak
kecil dapat dihubungkan dengan tekanan pada torak besar.
(2-12)
d. Rugi-rugi energi akibat gesekan
Jika fluida dalam keadaan diam tidak bergerak, maka tekanan di
depan, di dalam dan di belakang throttle atau secara umum dalam
sebuah saluran adalah sama. Jika fluida mengalir dalam sebuah
sistem, maka gesekan akan mengakibatkan panas. Dengan
demikian, sebagian dari energi berubah dalam bentuk energi panas,
artinya kerugian tekanan.
Energi hidrolik tidak dapat dipindahkan tanpa kerugian. Besar
kerugian akibat gesekan tergantung dari :
a. Panjangnya saluran pipa
b. Kekasaran dinding pipa
c. Banyaknya belokan pada pipa
d. Diameter pipa
e. Konfigurasi-konfigurasi aliran
Konfigurasi aliran dan juga kerugian akibaat gesekan
berhubungan dengan diameter pipa dan kecepatan aliran pipa.
Terdapat dua macam konfigurasi aliran :
a. Aliran laminar
Dalam aliran laminar partikel-partikel fluida sampai
dengan kecepatan tertentu bergerak dalam lapisan yang
seragam dan hampir tidak saling mempengaruhi.
Gambar 2.3 menunjukan aliran laminer :
Gambar 2.3 Aliran laminer
b. Aliran turbulen
Jika kecepatan aliran bertambah, sedang diameter pipa
sama, maka pada kecepatan tertentu perilaku aliran
berubah. Aliran menjadi bertolak dan turbulen.
Tiap-tiap partikel bergerak tak tertur pada satu arah, tapi
saling mempengaruhi satu sama lain dan saling
Gambar 2.4 Aliran turbulen
(Sumber:http://www.np.edu.sg/biochemical_enginering/lectures/bioreact )
Aliran turbulen menimbulkan hambatan aliran dan
memperbesar rugi-rugi. Oleh karena itu aliran turbulen
tidak diharapkan terjadi dalam sistem-sistem hidrolik.
1.3 Kerapatan
Kerapatan suatu benda ditunjukan oleh perbandingan antara massa suatu
benda dengan volume benda tersebut.
(2-13)
dengan :
ρ : kerapatan ( kg/cm3 )
m : massa suatu benda ( kg )
V : volume suatu benda (cm3 )
2.4 Pompa Hidrolik
Pompa membutuhkan tenaga penggerak (electromotor) untuk dapat bekerja.
pada sistem hidrolik, pompa bekerja untuk menciptakan aliran fluida (untuk
memindahkan volume fluida) dan memberikan gaya yang dibutuhkannya.
Pompa menyedot fluida (biasanya dari tangki) dan mengalirkan keluar. Dari
fluida, sebagai contoh piston dari silinder langkah yang menerima beban sehingga
terjadi peningkatan tekanan fluida hingga cukup tinggi dalam mengatasi
gaya-gaya tahanan.
Tekanan pada sistem hidrolik tidak diciptakan oleh pompa hidrolik,
melainkan terjadi dengan sendirinya karena tahanan yang berlawanan dengan arah
aliran. Tinggi tekan fluida dilihat sebagai batang penghubung dimana pompa
memberikan gaya yang diperlukan.
Gambar 2.5 menunjukan klasifikasi dari pompa dan bermacam-macam
pengeraknya :
Gambar 2.5 Klasifikasi pompa
1. Pompa roda gigi dengan roda gigi internal
Bagian utama pompa roda gigi adalah bentuk roda gigi yang umum
digunakan adalah seperti yang ditunjukan dalam gambar 2.6 sebuah rumah (1),
dimana terdapat sepasang roda gigi yang bergerak (sedemikian rupa) dengan
longgar dalam arah aksial dan radial sehingga unit tersebut praktis terendam
Roda gigi internal 2, bergerak sesuai arah panah menggerakan roda gigi
external 3 pada arah yang sama. Putaran ini menyebabkan roda gigi terpisah
sehingga rongga gigi menjadi bebas. Akibatnya terjadi tekanan negatif pada
pompa sedangkan fluida pada tangki mempunyai tekanan atmosfir, sehingga
fluida mengalir dari tangki ke pompa. Proses ini biasa disebut dengan hisapan
pompa.
Fluida mengisi ruang roda gigi hingga membentuk ruang tertutup dengan
rumah dan elemen berbentuk sabit 4 selama gerakan selanjutnya didorong ke
bagian tekan. Roda gigi sering rapat lagi dan mendorong fluida dari ruang roda
gigi. Kedua roda gigi yang saling bersentuhan mencegah berbaliknya aliran dari
ruang tekan ke ruang hisap.
Gambar 2.6 Pompa roda gigi dengan roda gigi internal
(Sumber: http//www.pirate4x4.com/tech/PRHydro_Steering/index1.html)
2. Pompa roda gigi dengan roda gigi external
Pada kasus ini, dua roda gigi external akan saling kontak. Roda gigi 2
Proses hisapan yang terjadi sama dengan jenis pompa roda gigi internal. Pada
Gambar 2.7 menunjukan roda gigi external, yang gigi nya saling kontak.
Gambar 2.7. Roda gigi external
(Sumber: http://cast.csufresno.edu/agedweb/agmech/graphics/toc.html)
Fluida dalam ruang roda gigi 4 didesak keluar dan keluar dari celah roda
gigi pada sisi tekan. Dari gambar potongan dengan mudah dapat dilihat roda gigi
menutup celah-celahnya sebelum bagian itu jadi kosong. Tanpa mengurangi
beban pada ruang yang tersisa, tekanan yang sangat tinggi dapat terjadi yang akan
menyebabkan getaran keras pada pompa. Untuk itu dipasang lubang pengurang
beban pada tempat ini yang terletak disamping blok-blok bantalan. Akibat tekanan
tinggi, maka terbentuk fluida mampat yang masuk ke ruang tekan.
2.5 Motor listrik
Motor listrik pada sistem hidrolik digunakan untuk mengerakan pompa agar
fluida dapat mengalir ke sistem hidrolik. Dengan persamaan :
(2
-
14)dengan :
Q : laju aliran fluida dalam pompa (gbm)
2.6 Komponen komponen kendali dalam sistem hidrolik
Kendali merupakan salah satu aspek penting dalam berdaya fluida. Tepat
tidaknya fungsi sebuah sistem secara menyeluruh ditentukan oleh benar tidaknya
komponen-komponen sistem kendali yang digunakan.
Sistem berdaya fluida terutama dikendalikan dengan menggunakan
komponen-komponen yang disebut katup-katup (valves). Pada dasarnya terdapat
tiga jenis komponen kendali dalam sistem berdaya fluida:
2.6.1 Directional control valve
Directional control valve (DCV) digunakan untuk mengatur aliran
fluida, arah pergerakan dan posisi dari komponen-komponen yang
dapat dilihat seperti pada Gambar 2.8 Katup ini dapat digerakan
secara manual, mekanis, elektrik dan pneumatik.
Gambar 2.8. Directional control valve
(Sumber: P.Croser, Festo Didactic, 1994, hal: 188)
a. Check valve
Jenis directional control valve yang paling sederhana dan termasuk
one-way (DCV), karena hanya memungkinkan aliran bebas dalam satu
Katup ini mempunyai sebuah pegas ringan untuk menahan klep
(poppet) sehingga dalam posisi tertutup. Seperti yang ditunjukan pada
Gambar 2.9.
Gambar 2.9. Katup pengatur aliran
(Sumber: P.Croser, Festo Didactic, 1994, hal 201)
Dalam aliran bebas biasanya diperlukan tekanan fluida sekitar 5 psi
untuk mengatasi gaya pegas ini. Dalam arah aliran terblokir tekanan fluida
akan membantu klep dalam menutup aliran
b. Pilot-operated check valve
Jenis directional control valve ini selalu memungkinkan aliran bebas
dalam satu arah tetapi hanya membiarkan aliran dalam arah sebaliknya jika
tekanan diberikan port tekanan pilotnya.
Garis putus-putus dalam lambang menunjukan saluran tekanan pilot
yang dihubungkan ke pilot presure port. Klep pada check valve ini
mempunyai pilot piston yang dipasang pada tangkai klep dengan memakai
sebuah mur. Pegas mempertahankan klep pada dudukannya (dalam kondisi
Sedangkan lubang cerat (drain port) dipakai untuk mencegah
timbulnya tekanan dibagian dasar piston.
c. Two-way valve dan four-way valve
Jenis-jenis DCV lainya adalah two-way valve (katup dua jalan) dan for
way valve (katup empat jalan) yang digunakan untuk mengarahkan aliran
yang masuk ke dalam katup menuju ke salah satu dari dua outlet port-nya.
Kebanyakan DCV menggunakan sebuah spool geser untuk mengubah
lintasan aliran yang melalui katup. Untuk posisi spool tertentu, sebuah
konfigurasi lintasan aliran yang khas akan terbentuk dalam kutup.
Directional control valve dirancang dengan dua posisi spool atau tiga
posisi spool. Konfigurasi lintasan aliran untuk masing-masing posisi spool
yang khas ditunjukan secara simbolik dengan empat persegi panjang
(kadang disebut amplop (envelope)). Untuk two-way valve aliran dapat
bergerak dalam dua cara yang bergantung pada posisi spool. Gambar 2.10
menunjukan aliran two-way valve.
Gambar 2.10 Two-way valve
b. Posisi spool 2
Aliran dapat bergerak dari P ke A, port B dan T terblokir.
Sedangkan four-way valve aliran dapat bergerak dengan empat cara
yang khas yang bergantung pada posisi spool. Gambar 2.11
menunjukan aliran four-way valve.
Gambar 2.11 Four-way valve
a. Posisi spool 1
Aliran dapat bergerak dari P ke A dan dari B ke T
b. Posisi spool 2
Aliran dapat bergerak dari A ke T dan dari P ke B
Four-way valve biasanya digunakan untuk mengendalikan
silinder-silinder hidrolik aksi ganda (double-acting hydrolic cylinder). Spool dari
DCV dapat diposisikan secara :
1. Manual,
2. Mekanis,
3. Dengan mengunakan pilot presure atau
4. Dengan mengunakan selenoid listrik.
Spool adalah batang silindris yang mempunyai land-land (bagian
berdiameter besar) yang dimesin sehingga dapat meluncurkan dalam B
A
sebuah lubang bodi katup bersuaian rapat. Dari kelongaran radialnya
kurang dari 0,001 inci.
Alur-alur diantara land-land memberikan jalan aliran diantara
port-port, dan disini juga terdapat port tangki. Port tangki adalah port pada
katup yang dihubungkan dengan pipa menuju (kembali) ketangki minyak
hidrolik.
2.6.2 Presure relief valve
Tipe presure relief valve yang paling banyak digunakan adalah
presure relief valve. Dalam presure biasanya terdapat katup normally closed
yang berfungsi untuk membatasi tekanan sampai pada harga maksimum yang
ditentukan dengan cara menyimpangkan aliran pompa kembali ke tangki.
Dalam sebuah poppetnya juga ditahan diatas dudukannya di dalam katup
dengan mengunakan pegas yang cukup kaku. Ketika tekanan sistem mencapai
sebuah nilai yang cukup tinggi, poppet didesak untuk bergeser dari
dudukannya. Akan memungkinkan aliran melalui outlet menuju ke tangki
selama tingkat tekanan yang tinggi tetap ada.
Gambar 2.12. Pressure relief valve
Dalam presure terdapat sekerup yang dipakai untuk menyetel gaya
pegas tersebut, dan akan menentukan berapa tekanan fluida yang
memungkinkan spool mulai bergeser. Jika sistem hidrolik tidak memerlukan
aliran maka semua aliran pompa akan kembalikan ke tangki melalui relai
valve. Relai valve akan memberikan perlindungan terhadap beban lebih yang
diterima aktuator dalam sistem. Maka dari itu salah satu fungsi relai valve
adalah membatasi gaya atau torsi yang dihasilkan oleh silinder atau motor
hidrolik.
2.6.3 Flow control valve
Flow control valve (FCV) dipakai untuk mengatur kecepatan
silinder-silinder dan motor-motor hidrolik dengan cara mengendalikan laju aliran yang
menuju ke aktuator-aktuator tersebut.
Katup-katup nya sederhana, hanya sebuah orifis yang permanen atau
needle valve yang dapat diatur. Needle valve dirancang agar dapat memberikan
kendali aliran yang halus didalam pipa-pipa berdiameter kecil. Seperti pada
Gambar 2.13:
Gambar 2.13. Flow control valve
(Sumber: P. Croser, Festo Didactic, 1994, hal 219)
katup pengatur laju alirannya memiliki cakram berbentuk tirus
Dalam flow control valve terdapat dua jenis tipe dasar, yaitu :
a) Non – Presure – Compensated
b) Presure compensated
Non-Pc dipakai bila tekanan–tekanan sistem relatif konstan dan
kecepatan-kecepatan pengerak yang dihasilkan tidak terlalu penting.
Katup-katup ini bekerja berdasarkan prinsip bawah aliran yang
melalui sebuah orifis akan konstan jika tekanan turun (presure drop) yang
terjadi konstan. Jika beban atas sebuah aktuator berubah secara signifikan,
tekanan sistem akan berubah cukup besar. Dengan demikian laju aliran yang
27
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Diagram Alir Penelitian
Langkah kerja yang dilakukan dalam penelitian ini disajikan dalam
diagram alir sebagai berikut :
Gambar 3.1 Diagram alir langkah-langkah penelitian Mulai
Membuat atau mengerjakan tabung hidrolik
Merakit komponen-komponen mesin hidrolik
Menjalankan mesin dan mengambil data
Pengolahan data, dengan mengetahui kerapatan dari bahan
3.2 Obyek Penelitian
Obyek dalam penelitian ini adalah pengepresan dengan berbagai variasi
berat bahan dan tekanan yang diatur. Dengan dimulai dari tekanan rendah ke
tekanan tinggi guna memperoleh kerapatan bahan yang dipres.
3.3 Waktu Dan Tempat Penelitian
Proses pembuatan mesin hidrolik dimulai pada semester ganjil tahun
ajaran 2010/2011 di bengkel las bubut Bumiayu- Jawa Tengah. Sedangkan
pengambilan data penelitian dilakukan pada laboratorium Teknologi Mekanik
Jurusan Teknik Mesin Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada semester
genap tahun ajaran 2011/2012.
3.4 Alat Dan Bahan
Model mesin pres hidrolik dapat dilihat pada gambar 3.2 dan kontruksinya
dapat dilihat pada gambar 3.3.
Komponen-komponen yang digunakan pada mesin pres hidrolik tembakau dapat
Gambar 3.3. Konstruksi mesin pres hidrolik
Dalam mesin pres hidrolik ini ada beberapa komponen yang penting
sebagai pengatur jalannya sistem, diantaranya :
1. silinder
silinder hidrolik berfungsi sebagai rumah dari piston. Pemilihan silinder yang
tepat untuk sistem hidrolik adalah mengunakan tipe doble acting cylinder.
Tipe ini dipilih karena dalam silinder terjadi dua aliran fluida.
Gambar 3.4 Silinder dan piston
2. Motor listrik
Motor listrik dalam sistem bekerja sebagai penggerak pompa hidrolik. Motor
listrik yang digunakan seperti pada gambar 3.5. Motor listrik yang digukanan
motor 3 phase dan daya 3 hp.
3. Panel listrik
Rangkaian listrik yang terdapat dalam bok terdiri dari komponen-komponen
yang digunakan untuk menghubungkan dan mengatur jalannya arus listrik
diantaranya: kontaktor, sekring, overload dan push button.
Komponen-komponen tersebut dirangkai menjadi satu rangkaian. Seperti yang terdapat
pada Gambar 3.9. Fungsi panel listrik untuk menghidupkan dan mematikan
mesin serta menahan arus yang berlebih menuju motor sehingga tidak terjadi
konsleting.
Gambar 3.6 Kontaktor Gambar 3.7 Sekering
Gambar 2.8 Overload relai
4. Pressure relief valve
Pressure relief valve berfungsi untuk mengatur tekanan dengan harga tertentu
sesuai dengan yang kita inginkan, maka dari itu dapat dilihat pada pressure
gauge.
Gambar 3.10 Presurrerelai valve
Gambar 3.11 Pressure gauge
5. Pompa
Pompa memiliki fungsi untuk menciptakan aliran fluida (untuk memindahkan
volume fluida) dan memberikan gaya yang dibutuhkannya. Pompa menyedot
fluida (biasanya dari tangki) dan mengalirkan keluar. Dari sana, fluida
Tekanan pada sistem hidrolik tidak diciptakan oleh pompa hidrolik,
melainkan terjadi dengan sendirinya karena tahanan yang berlawanan dengan
arah aliran. Sehingga dalam pengaplikasiaannya menggunakan pompa roda
gigi. Pemilihan roda gigi dikarenakan memiliki system yang tidak rumit dan
mudah didapatkan dengan biaya yang terjangkau. Pompa ini mengunakan
pompa roda gigi external.
Gambar 3.12 Pompa roda gigi external
6. Pipa
Pipa digunakan untuk mendistribusikan fluida dari satu lokasi ke lokasi
lainnya. Pipa umumnya terbuat dari pipa besi dan selang karet. Untuk
sekarang ini mayoritas penggunaan pipa dalam industri menggunakan selang
karet, karena lebih tahan lama dan tidak terjadi korosi. Tetapi dalam mesin ini
menggunakan pipa besi, dikarenakan untuk menghemat biaya pembuatan
Gambar 3.13 Pipa pada sistem hidrolik
7. Tangki
Tangki digunakan untuk menyimpan persediaan oli sekaligus untuk proses
pendinginan (pembiasan panas) oli. Sedapat mungkin tangki dapat
menampung semua oli pada sistem dan cadangannya.
8. Strainer
Strainer didalam sistem hidrolik berfungsi sebagai penyaring oli yang akan
masuk ke komponen-komponen sistem hidrolik. Tujuan dari strainer supaya
oli yang masuk bersih dan tidak ada kotoran yang bisa merusak dari
komponen–komponen sistem hidrolik seperti pada dinding silinder yang
mengakibatkan adanya goresan. Strainer ini terdapat dalam tangki dan
dipasang pada pipa saluran masuk ke silinder hidrolik.
Gambar 3.15 Strainer
9. Piston
Piston dalam sistem berguna untuk menggerakan cetakan pres naik maupun
turun. Diameter kepala piston sendiri adalah 109,7 mm dan diameter batang
piston adalah 60 mm. Kepala piston diberi lapisan kuningan seperti pada
Gambar 3.16 supaya tidak merusak dinding silindernya, bila kepala piston
tidak di lapisi dengan kuningan maka menimbulkan goresan pada dinding
silinder. Hal ini dikarenakan pemakaian bahan yang sama antara silender dan
kepala pistonnya. Piston digerakan oleh fluida yang mengalir didalam tabung
dari bawah tabung hidrolik fluida keluar. Sedangkan piston akan masuk bila
fluida masuk dari bawah tabung hidrolik dan dari atas tabung hidrolik fluida
keluar.
Gamabar 3.16 Piston
10. Limit switch
Limit switch berfungsi sebagai pembatas jarak dalam pengepresan. Posisi
limit switch berada pada jarak maksimal saat piston turun. Cara kerja limit
switch yaitu piston bergerak turun untuk mengepres sampai jarak aman yang
ditentukan, pada saat melewati jarak aman piston menyentuh limit switch
maka secara otomatis mesin akan mati.
Gambar 3.17 Limit switch
Batang piston Kepala piston
Seal
11. Directional control valve
Directional control valve berfungsi sebagai pengatur arah aliran fluida
menuju ke sistem hidrolik. Seperti dilihat pada Gambar 3.18 bahwa terdapat
handel untuk mengatur jalannya aliran. Piston akan turun bila handel ditekan
ke bawah lalu aliran fluida akan menuju atas tabung hidrolik dan mendorong
piston keluar. Sedangkan piston akan naik bila handel ditarik ke atas lalu
aliran fluida menuju ke bagian bawah tabung dan mendorong piston masuk.
Gambar 3.18 Directional Control Valve
12.Kotak cetakan
Kotak cetakan berbentuk persegi empat dengan ukuran dalam 25cm x 25cm
sedangkan ukuran luar 30 cm x 30 cm. Kotak cetakan dapat terbuka atau
terbelah menjadi 2 bagian seperti yang terlihat pada gambar 3.19. hal ini
dibuat untuk mempermudahkan dalam pengambilan bahan setelah dipres.
3.5 Langkah Percobaan
Pengambilan data ketinggian bahan setelah di pres dilakukan secara
bertahap-tahap. Hal pertama yang dilakukan adalah mempersiapkan bahan yang
akan di pres. Selanjutnya untuk pengambilan data memerlukan proses sebagai
berikut :
1. Menimbang bahan yang akan di pres
2. Setelah bahan siap mesin mulai dihidupkan.
3. Mengatur tekanan dilakukan dengan cara mengatur pressure sampai
mendapatkan tekanan yang ditentukan.
4. Masukan bahan yang telah ditimbang ke dalam cetakan
5. Setelah semua siap mulailah mengepres dengan menurunkan handel
directional control valve sampai tekanan yang ditentukan.
6. Diamkan selama 2 menit pada posisi masih mengepres.
7. Setelah 2 menit buka kotak cetakan lalu catat ketinggiannya.
8. Lalu naikan handel untuk menaikan piston.
9. Catat ketinggian bahan yang telah di pres.
10.Ulangi langkah 3 sampai 9 sampai variasi tekanan ke tujuh.
11.Setelah langkah-langkah nya dilakukan semua matikan mesin dengan
1.6 Diagram aliran
1. Pada posisi nol atau hendel pada Directional control valve berada dalam
posisi ditengah.
Gambar 3.20. Aliran posisi nol
2. Pada posisi piston turun atau hendel pada Directional control valve
digerakan keposisi bawah.
3. Pada posisi piston naik atau hendel pada Directional control valve
digerakan keposisi atas.
Gambar 3.22. Aliran posisi piston naik
Tabel 4.3 Bahan tembakau dengan berat 6 kg
tekanan. Dalam setiap beban, percobaan dilakukan sebanyak tujuh kali variasi
tekanan. Data dari hasil percobaan pengepresan tembakau sebanyak tuju kali
variasi tekanan mulai dari 20 kg/cm² sampai dengan 80 kg/cm². Dalam
pengepresan tembakau ini, tidak boleh terlalu padat atau kerapatanya terlalu besar
karena dapat merusak dari tekstur tembakau yang mempunyai kandungan minyak.
4.2 Perhitungan Karakteristik Mesin Dan Pengolahan Data
Perhitungan karakteristik mesin bertujuan untuk mengetahui karakter mesin
yang ditinjau secara teoritis. Contoh perhitungan untuk bahan tembakau dengan
berat 2 kg pada Tabel 4.1 pada kondisi tembakau di pres lalu di tahan selama 2
menit dan pada saat setelah piston di naikan. Perhitungan yang dilakukan untuk
mengetahui volume dan kerapatan tembakau setelah di pres.
4.2.1 Luas silinder dan batang piston
Luas yang tersedia pada silinder dan batang piston dengan diameter silinder
Luas silinder mesin pres
( )
Luas penampang lintang batang piston mesin pres
( )
4.2.2 Laju aliran yang dibutuhkan oleh pompa
Laju aliran yang dibutuhkan oleh pompa dengan putaran motor 1450 rpm
dan kapasitas pompa 10 cc dapat dihitung sebagai berikut :
4.2.3 Kecepatan piston pada saat turun dan naik
Kecepatan piston dapat dihitung dengan laju aliran yang dibutuhkan
Kecepatan piston pada saat turun
Kecepatan piston pada saat naik
( )
( )
4.2.4 Daya motor yang dibutuhkan
Dengan mengetahui cairan yang dibutuhkan pompa (Q) = 241 (cm³/detik)
dan Tekanan maksimal ( ) = 80 (kg/cm²), maka daya motor dapat dicari :
Q = debit minyak, gpm
=
p = tekanan, psi
4.2.5 Perhitungan tekanan yang diterima bahan
4.2.6 Perhitungan volume
Dengan mengetahui luasan cetakan = 25x25 cm dan tinggi tembakau setelah
di pres = 5,8 cm, maka volume dapat dihitung :
4.2.7 Perhitungan kerapatan (ρ)
Dengan mengetahui massa bahan yang dipres = 2 kg dan volume bahan
setelah dipres = 3,625 dm3, maka kerapatan dapat dihitung :
4.3 Hasil Perhitungan
Dari percobaan yang telah dilakukan dengan beban tembakau dan mengatur
4.4 Grafik Hasil Perhitungan
Dari data yang telah diperoleh, kemudian diolah kembali ke dalam bentuk
grafik untuk mengatuhi tinggi tembakau setelah dipres selama 2 menit dengan
tinggi tembakau setelah piston dinaikan setiap tekanan, dan kerapatan tembakau
(kg/m³) dengan tekanan pres (kg/cm²). Grafik yang disajikan untuk setiap
percobaan dapat dilihat pada grafik berikut ini :
4.4.1 Grafik untuk mengetahui selisih tinggi tembakau
1. Grafik selisih tinggi tembakau dengan berat bahan 2 kg
Berdasarkan hasil pengambilan data pada Tabel 4.1, maka dapat dibuat grafik
untuk mengetahui selisih tinggi tembakau setelah dipres selama 2 menit dengan
setelah piston dinaikan yang disajikan pada Gambar 4.1.
Gambar 4.1 Grafik selisih tembakau dengan berat bahan 2 kg
Dilihat dari Gambar 4.1 maka terjadi selisih antara tinggi tembakau setelah 2
menit dengan posisi piston menekan dan tinggi tembakau setelah piston
0
Tekanan yang diterima bahan (kg/cm²)
tinggi tembakau setelah 2 menit
dinaikkan. Selisih terjadi karena tembakau mengembang sehingga pada saat
piston dinaikan tembakau ikut naik. Tetapi semakin besar tekanan yang diberikan
selisih tembakau mengembang saat piston di naikan setelah 2 menit yang terjadi
semakin kecil perubahanya.
2. Grafik selisih tinggi tembakau dengan berat bahan 4 kg
Berdasarkan hasil pengambilan data pada Tabel 4.2, maka dapat dibuat grafik
untuk mengetahui selisih tinggi tembakau setelah dipres selama 2 menit dengan
setelah piston dinaikan yang disajikan pada Gambar 4.2.
Gambar 4.2 Grafik selisih tembakau dengan berat bahan 4 kg
Berdasarkan dari grafik yang didapat dari bahan 4 kg perbandingan selisih
tinggi piston saat masih mengepres dan piston di naikan mendapatkan perbedaan
tinggi. Ini juga berpengaruh dengan kerapatnaya saat piston mengepres dengan
piston dinaikan mendapatkan hasil kerapatan yang berbeda.
0
Tekanan yang diterima bahan (kg/cm²)
tinggi tembakau setelah 2 menit
3. Grafik selisih tinggi tembakau dengan berat bahan 6 kg
Berdasarkan hasil pengambilan data pada Tabel 4.3, maka dapat dibuat grafik
untuk mengetahui selisih tinggi tembakau setelah dipres selama 2 menit dengan
setelah piston dinaikan yang disajikan pada Gambar 4.3.
Gambar 4.3 Grafik selisih tembakau dengan berat bahan 6 kg
Pada grafik dalam Gambar 4.3 dengan bahan 6 kg terjadinya kerapatan tidak
terlalu besar pada tekanan yang terkena bahan antara 3,04 kg/cm² sampai dengan
6,08 kg/cm² bila lebih dari tekanan 6,08 kg/cm² maka tembakau akan rusak karena
kerapatanya yang terlalu rapat dan kandungan minyaknya hilang. Tekanan
maksimal yang terkena bahan tembakau dengan hasil kerapatan yang diinginkan
sekitar 6,08 kg/cm².
Tekanan yang diterima bahan (kg/cm²)
tinggi tembakau setelah 2 menit
4.4.2 Grafik Hubungan Antara Kerapatan Dengan Tekanan Pres
1. Grafik hubungan antara kerapatan dengan tekanan saat tembakau setelah di
pres.
Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan pada Tabel 4.4 dan Tabel
4.7 maka dapat dibuat grafik hubungan antara kerapatan dengan tekanan pres saat
di pres selama 2 menit dan saat piston dinaikan.
Gambar 4.4 Grafik hubungan antara kerapatan dan tekanan pres dengan berat
tembakau 2 kg.
Seperti yang ditunjukan pada Gambar 4.4 hubungan antara kerapatan dengan
tekanan saat tembakau setelah dipres dengan waktu 2 menit dan pada saat piston
di naikan mendapatkan perbedaan kerapatan yang di hasilkan. Namun setiap
beban yang diberikan menunjukan peningkatan kerapatannya. Jadi semakin besar
tekanan yang diberikan maka semakin besar kerapatan yang didapatkan. Tetapi
dalam pengepresan atau proses pengebalan tembakau ini tidak boleh terlalu besar
tekanan yang diberikan, karena bila tekanan yang diberikan besar makan
kerapatanya makin besar. Maka hal ini dapat merusak dari tekstur tembakau yang
menjadi hancur dan tidak bisa di olah lagi karena kandungan minyak yang sudah
hilang.
2. Grafik hubungan antara kerapatan dengan tekanan saat tembakau setelah di
pres.
Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan pada Tabel 4.5 dan Tabel
4.8 maka dapat dibuat grafik hubungan antara kerapatan dengan tekanan pres saat
di pres selama 2 menit dan saat piston dinaikan.
Gambar 4.5 Grafik hubungan antara kerapatan dan tekanan pres dengan berat
tembakau 4 kg
Gambar 4.5 menunjukan hubungan antara kerapatan dan hasil pemampatan
tembakau untuk dua variasi saat piston dalam keadaan mengepres dan pada saat
piston di naikan. Terlihat bahwa tekanan yang diberikan semakin besar maka
semakin besar kerapatan yang dihasilkan.
3. Grafik hubungan antara kerapatan dengan tekanan saat tembakau setelah di
pres.
Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan pada Tabel 4.6 dan Tabel
4.9 maka dapat dibuat grafik hubungan antara kerapatan dengan tekanan pres saat
di pres selama 2 menit dan saat piston dinaikan.
Gambar 4.6 Grafik hubungan antara kerapatan dan tekanan pres dengan berat
tembakau 6 kg
Gambar 4.6 menunjukan hubungan antara kerapatan dan hasil pemampatan
tembakau untuk dua variasi saat piston dalam keadaan mengepres dan pada saat
piston di naikan. Terlihat bahwa tekanan yang diberikan semakin besar maka
semakin besar kerapatan yang dihasilkan. Kerapatan yang ditunjukan pada
55
BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Dari penyelesaian tugas akhir ini dapat disimpulkan :
1. Telah berhasil dibuat mesin pres hidrolik untuk bahan tembakau.
2. Secara teoritis kecepatan piston silinder pada saat turun adalah 2,5 cm/detik
dan kecepatan pada saat naik adalah 3,6 cm/detik sedangkan dalam
kenyataannya kecepatan turun piston 2,0 cm/detik sedangkan pada saat
piston naik 2,5 cm/detik. Hal ini dikarenakan ada nya rugi-rugi dari sistem
hidrolik. Daya yang dibutuhkan mesin untuk kerja sistem hidrolik adalah 3
hp, dengan laju aliran mencapai 241 cm3/detik. Tekanan maksimal yang
digunakan adalah 80 kg/cm2, sedangkan tekanan yang diterima bahan
sekitar 3 kg/cm² - 12 kg/cm².
3. Variasi tekanan yang dilakukan dalam penelitian ini menghasilkan
kerapatan yang berbeda, yaitu dengan beban yang sama dan tekanan pres
yang semakin besar, maka kerapatan yang dihasilkan semakin besar dan
hasil kerapatan yang baik, sekitar 550 kg/m³ sampai 670 kg/m³. Tekanan
pada bahan untuk menghasilkan kerapatan yang baik mulai dari 3 kg/cm²
5.2 Saran
Agar karakteristik dari mesin hidrolik lebih sempurna maka perlu dilakukan
hal-hal sebagai berikut :
1. Masih diperlukan perbaikan dalam perangkaian listrik pada panel
operasi.
2. Penempatan presure gauge sebaiknya di tempatkan sebelum
DAFTAR PUSTAKA
Cahyono B, Untung selagit berusaha Tembakau, 2011. Cahaya Atma Pustaka
Esposito A, Fluida Power With Applications, Fourth edition, 1980. Prentice, Hall
International, Inc.
P.Croser,1994 : Festo didactic hydraulics. Indonisia:Festo
Prayoga, 2003 : Perancangan Mekanisme Mesin Pres Untuk Kertas Afalan; Tugas
akhir , Universitas Kristen Petra
Ranald V. Giles, 1984, Mekanika Fluida dan Hidrolika. Jakarta : Penerbit Erlangga
Rines, 2011. Bahan Ajar Hidrolik dan Penumatik Bagian I. Yogyakarta
Rines. 2011. Bahan Ajar Hidrolik dan Penumatik Bagian II: Pompa dan
Komponen-Komponen Kendali. Yogyakarta
http://www.me.umn.edu/~wkdurfee/projects/ccefp/fp-chapter/fluid-pwr.pdf.
Diakses tanggal 19 April 2012
http://cast.csufresno.edu/agedweb/agmech/graphics/toc.html. Diakses tanggal 13
April 2012
http//www.pirate4x4.com/tech/PRHydro_Steering/index1.html. Diakses tanggal 19
http://laporanipa. wordpress.com/2012/05/27/manfaat-tembakau/
http://www.np.edu.sg/ biochemical_enginering/lectures/bioreact 1. Diakses tanggal
22 April 2012
http://www.alicatscientific.com/Types_of_devices.php. Diakses tanggal 27 Mei
2012
http://hyperphysics.phy-astr.gsu.edu/hbase/pasc. Diakses tanggal 28 Mei 2012
http://www.tahukahkamu.com/2011/12/10-
LAMPIRAN
2. Gambar mesin pres pada saat mengepres
4. Gambar tembakau tekanan lebih dari 70 kg/cm²
5. Gambar tembakau dengan berat bahan 2 kg dengan tekanan 30 kg/cm²