HUBUNGAN ANTARA KONFORMITAS DENGAN CITRA TUBUH PADA REMAJA PUTRI

167  16  Download (0)

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA KONFORMITAS

DENGAN CITRA TUBUH PADA REMAJA PUTRI

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Disusun oleh:

Maria Wening Sulistyowati Handayani 07 9114 073

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

i

HUBUNGAN ANTARA KONFORMITAS

DENGAN CITRA TUBUH PADA REMAJA PUTRI

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Disusun oleh:

Maria Wening Sulistyowati Handayani 07 9114 073

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(3)
(4)
(5)

iv

“ Ser ahkanlah per buatanmu kepada Tuhan, maka ter laksanalah

segala r encanamu.”

Amsal 16 : 3

All our dream can come t rue if we have t he courage t o pursue

t hem.

-Walt Disney-

When you want something, all the univer se conspir es in

helping you to achieve it.

-Paulo Coelho-

(6)

v Bea u t i fu l D ecem ber ...

5 D esem ber & 1 2 D esem ber 2 0 1 1

Skr i psi i n i ku per sem ba h ka n u n t u k :

Y esu s K r i st u s, d a n

B u n d a Sa n t a Pel i n d u n g, M a r i a i bu Y esu s

K ed u a Or a n g T u a ,

Y oh a n n es d e B r i t t o Sa r d i ,

d a n Su r a st r i A d i

K ed u a k a k a k t er ci n t a ,

A br a h a m B on d a n A j i W a h y on o D a v i d On t osa r i M ed i Set y a w a n

T a k l u p a j u ga u n t u k

(7)
(8)

vii

HUBUNGAN ANTARA KONFORMITAS DENGAN CITRA TUBUH

PADA REMAJA PUTRI

Maria Wening Sulistyowati Handayani

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan negatif antara konformitas dengan citra tubuh pada remaja putri. Subyek dalam penelitian ini adalah remaja putri berusia 13 s.d. 18 tahun. Jumlah subyek dalam penelitian ini berjumlah 75 orang siswi. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara purposive sampling pada siswi SMP Pangudi Luhur 1 dan SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. Peneliti mempunyai hipotesis bahwa terdapat hubungan negatif antara konformitas dengan citra tubuh pada remaja putri. Data penelitian diungkap dengan skala konformitas dan skala citra tubuh yang telah disusun berdasarkan teknik Likert. Uji coba alat ukur dikenakan pada 84 subyek try out dan menghasilkan koefisien reliabilitas skala konformitas sebesar 0.90 dan koefisien reliabilitas skala citra tubuh sebesar 0.915. Validitas konkuren skala citra tubuh diukur dengan Contour Drawing Rating Scale yang menghasilkan korelasi 0.517 (p>0.05). Analisis data dilakukan dengan menggunakan korelasi Pearson Product Moment. Hasil uji hipotesis penelitian menunjukkan korelasi antara konformitas dengan citra tubuh pada keseluruhan subyek sebesar 0.081 dan nilai signifikansi 0.250 (p>0,05) yang berarti tidak ada hubungan negatif antara konformitas dan citra tubuh pada remaja putri. Uji hipotesis juga dilakukan pada kelompok subyek SMP, yakni remaja putri berusia 13 s.d. 15 tahun dan kelompok subyek SMA, yakni remaja putri berusia 16 s.d. 18 tahun. Hasil uji hipotesis pada subyek SMP menunjukkan korelasi sebesar 0.219 dengan nilai signifikansi 0.103 (p<0.05). Hasil uji hipotesis pada subyek SMA menunjukkan korelasi sebesar -0.283 dengan nilai signifikansi 0.047 (p>0.05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara konformitas dan citra tubuh pada remaja putri berusia 16 s.d. 18 tahun, sedangkan pada remaja putri usia 13 s.d. 15 tahun tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konformitas dan citra tubuh.

(9)

viii

THE RELATION BETWEEN CONFORMITY AND BODY IMAGE IN ADOLESCENT GIRLS

Maria Wening Sulistyowati Handayani ABSTRACT

This study aims to determine whether there is a negative relationship between conformity and body image in adolescent girls. The subjects in this study were young girls aged between from 13 to 18 years old. The number of subjects in this study amounted to 75 girls. Sampling method in this research was purposive sampling has done on students of Pangudi Luhur 1 Junior High School and Pangudi Luhur Senior High School in Yogyakarta. Researcher have hypothesized that there is a negative relationship between conformity and body image in adolescent girls. The research data revealed conformity scale and body image that had been prepared based on Likert technique. Scales try out in 84 try-out-subject produced coefficient reliability of conformity at 0.90 and coefficient reliability of body image amounted at 0,915. Concurrent validity of the body image scale was measured with Contour Drawing Rating Scale which produced correlation at 0.517 (p>0.05). Data analysis was performed using Pearson Product Moment Correlation. Hypothesis test result showed a correlation between conformity and the body image was 0.081 and the significance value was 0.250 (p>0.05), which means there was no negative correlation between conformity and body image in adolescent girls. Hypothesis test has been examined on subjects of Junior High School, that were adolescent girls aged 13 to 15 years old and Senior High School subjects, that were adolescent gilrs aged 16 to 18 years old. Hypothesis test result on subjects of Junior High School showed a correlation was 0.219 and the significance value was 0.103 (p<0.05). Hypothesis test result on subjects of Senior High School showed a correlation was -0.283 and the significance value was 0.047 (p<0.05). These results of this study showed that there was significant negative correlation between conformity and body image in adolescent girls aged 16 to 16 years old, whereas in adolescent girls aged 13 to 15 years old, there was no significant correlation between conformity and body image.

(10)
(11)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur dan terima kasih penulis sampakan pada Tuhan Yesus Kristus atas berkat dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Psikologi dari Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Skripsi ini berjudul ”Hubungan Antara

Konformitas dengan Citra Tubuh pada Remaja Putri”. Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan skripsi ini, penulis mendapatkan banyak bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima sebesar-besarnya kepada :

1. Tuhan Yesus Kristus dan Ibu Santa Pelindung, Bunda Maria yang senantiasa memberkati dan menyertai langkahku. Thankful and Grateful.

2. Bapak Yoannes de Britto Sardi dan Ibu Surastri Adi, terima kasih untuk semua curahan kasih, kesabaran, dan doa, serta semua pelajaran kehidupan. 3. Mas Abraham Bondan dan Mbak Ika, Mas David Ontosari dan Mbak Santi

terima kasih untuk kehangatan dan motivasi yang tak putus selalu diberikan. 4. Ibu Dr. Christina Siwi Handayani selaku Dekan Fakultas Psikologi dan Ibu

Titik Kristiyani, M.Psi untuk semua kesempatan belajar yang diberikan. 5. Bapak V. Didik Suryo Hartoko, S.Psi., M.Si selaku dosen pembimbing

skripsi sekaligus dosen pembimbing akademik. Terima kasih atas bimbingan serta dorongan selama kuliah terutama dalam setiap proses skripsi ini.

(12)

xi

waktu dan kesempatan yang diberikan, terima kasih juga untuk siswi-siswi yang bersedia menjadi subyek baik subyek try-out maupun subyek penelitian. 7. Bapak Y. Heri Widodo, M.Psi selaku selaku kepala P2TKP, serta Bapak C.

Wijoyo Adinugroho, S.Psi selaku koordinator divisi Konseling P2TKP. Terima kasih untuk motivasi dan bimbingannya serta kesempatan menjadi asisten selama 1 tahun yang memberi saya banyak pengalaman.

8. Seluruh dosen Fakultas Psikologi, terima kasih untuk bekal ilmu dan kemampuan, serta segala inspirasi dari bapak-ibu dosen. Terima kasih untuk seluruh karyawan Fakultas Psikologi, Mas Gandung, Mbak Nanik, Mas Muji Lab, Mas Doni, dan Pak Giek yang selalu memberikan senyuman, sapaan hangat, bahkan juga candaan yang membuat saya nyaman berada di kampus. 9. Keluarga besar R. Ngt. Notopandoyo Bogem dan Rumpun Paulus

Pawirodikromo, terima kasih untuk dorongan semangat dan kekerabatannya. 10. Andika Diwangkara, terima kasih telah menjadi partner, sahabat, sekaligus

kakak yang super. Terima kasih berjuta-juta untuk segala hal yang datang dari kamu, matahari, tanpa terkecuali.

(13)
(14)

xiii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH... ix

BAB II LANDASAN TEORI... 9

(15)

xiv

1. Pengertian Citra Tubuh... 9

2. Aspek Citra Tubuh... 11

3. Faktor yang Mempengaruhi Citra Tubuh... 15

B. Konformitas... 16

1. Definisi Konformitas... 16

2. Aspek-Aspek Konformitas... 17

C. Nilai Tubuh dalam Masyarakat... 20

D. Remaja Putri... 22

E. Dinamika Hubungan... 27

F. Hipotesis... 32

BAB III METODE PENELITIAN... 33

A. Jenis Penelitian... 33

B. Identifikasi Variabel Penelitian... 33

C. Definisi Operasional... 33

1. Konformitas... 33

2. Citra Tubuh... 34

D. Alat Pengumpulan Data... 34

1. Pengukuran Konformitas... 35

2. Pengukuran Citra Tubuh... 36

E. Subyek Penelitian... 37

F. Uji Coba Alat Pengumpulan Data... 39

G. Validitas dan Realibilitas Alat Pengumpulan Data... 39

1. Validitas dan Realibilitas Skala Konformitas... 40

(16)

xv

H. Metode Analisis Data... 49

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN... 50

A. Pelaksanaan Penelitian... 50

B. Hasil Penelitian... 50

1. Deskripsi Subyek Penelitian... 50

2. Deskripsi Data Penelitian... 51

3. Kategorisasi Data Penelitian... 54

4. Analisis Data... 57

C. Pembahasan... 76

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 83

A. Kesimpulan... 83

B. Keterbatasan Penelitian... 83

C. Saran... 84

(17)

xvi

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Blue Print Skala Konformitas... 36

Tabel 2. Blue Print Skala Citra Tubuh... 37

Tabel 3. Deskripsi Statistik Data Penelitian Variabel Konformitas... 51

Tabel 4. Uji t Mean Empirik dan Mean Teoritik Skala Konformitas.... 52

Tabel 5. Deskripsi Statistik Data Penelitian Variabel Citra Tubuh... 53

Tabel 6. Uji t Mean Empirik dan Mean Teoritik Skala Citra Tubuh... 53

Tabel 7. Kategorisasi Skor pada Skala Konformitas... 55

Tabel 8. Kategorisasi Skor pada Skala Citra Tubuh... 56

Tabel 9. Uji Normalitas Residu... 58

Tabel 10. Uji Normalitas Residu Subyek SMP... 59

Tabel 11. Uji Normalitas Residu Subyek SMP outlier dihapus... 60

Tabel 12. Uji Normalitas Residu Subyek SMA... 61

Tabel 13. Uji Linearitas... 62

Tabel 14. Uji Linearitas Subyek SMP... 63

Tabel 15. Uji Linearitas Subyek SMP outlier dihapus... 65

Tabel 16. Uji Linearitas Subyek SMA... 67

Tabel 17. Uji Linearitas Subyek SMA outlier dihapus... 69

Tabel 18. Uji Hipotesis... 71

Tabel 19. Uji Hipotesis outlier dihapus... 72

Tabel 20. Uji Hipotesis Subyek SMP... 72

Tabel 21. Uji Hipotesis Subyek SMP outlier dihapus... 73

Tabel 22. Uji Hipotesis Subyek SMA... 74

(18)

xvii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Contour Drawing Rating Scale...47 Gambar 2. Scatter Plot Variabel Citra Tubuh dan Variabel Konformitas...63 Gambar 3. Scatter Plot Variabel Citra Tubuh dan Variabel Konformitas

pada Subyek Siswi SMP...64 Gambar 4. Scatter Plot Variabel Citra Tubuh dan Variabel Konformitas

pada Subyek Siswi SMP outlier dihapus...66 Gambar 5. Scatter Plot Variabel Citra Tubuh dan Variabel Konformitas

pada Subyek Siswi SMA...68 Gambar 6. Scatter Plot Variabel Citra Tubuh dan Variabel Konformitas

(19)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Skala Penelitian... 91

Lampiran 2. Hasil Analisi dan Seleksi Aitem Skala Konformitas dan Skala Citra Tubuh... 105

Lampiran 3. Hasil Uji Reliabilitas Skala Konformitas dan Citra Tubuh... 108

Lampiran 4. Hasil Uji Validitas Konkuren Skala Citra Tubuh... 110

Lampiran 5. Hasil Data Deskriptif Skala Konformitas dan Skala Citra Tubuh... 112

Lampiran 6. Hasil Uji t Mean Empirik dan Mean Teoretik... 117

Lampiran 7. Hasil Uji Normalitas Residu... 118

Lampiran 8. Hasil Uji Normalitas Residu pada Subyek SMP... 121

Lampiran 9. Hasil Uji Normalitas Residu pada Subyek SMA... 127

Lampiran 10. Hasil Uji Linearitas... 130

Lampiran 11. Hasil Uji Linearitas Subyek SMP... 132

Lampiran 12. Hasil Uji Linearitas Subyek SMA... 136

Lampiran 13. Hasil Uji Hipotesis... 140

Lampiran 14. Hasil Uji Hipotesis Subyek SMP... 142

Lampiran 15. Hasil Uji Hipotesis Subyek SMA... 144

(20)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Remaja sangat memperhatikan tubuhnya dan melakukan berbagai aktivitas yang berpusat pada tubuh. Remaja, khususnya remaja putri cenderung menyukai kegiatan merawat tubuh dengan mengunjungi salon kecantikan. Selain itu, banyak pula remaja yang gemar berbelanja pakaian dan kosmetik untuk menunjang penampilannya supaya terlihat menarik. Aronson, Wilson, dan Akert (2005) menyatakan bahwa 70% remaja putri di Amerika Serikat melakukan aktivitas diet untuk mengurangi berat badan dengan mengurangi porsi dan frekuensi makan, bahkan memuntahkan makanan atau menggunakan obat pelangsing tubuh.

(21)

Usia remaja juga merupakan usia kritis ketika muncul sikap dan perilaku memperhatikan penampilan kian menonjol. Hal ini tidak terlepas dari masa pubertas yang mengawali usia remaja. Pada masa pubertas, terjadi perubahan ukuran dan proporsi tubuh karena berkembangnya seks primer dan sekunder (Hurlock, 1997). Perubahan fisik tersebut membawa dampak pada remaja, khususnya remaja putri, yakni mereka mengkhawatirkan bertambahnya berat pada masa puber. Salah satu tugas perkembangan remaja terutama pada masa puber adalah menerima kenyataan akan perubahan fisik, namun hanya sedikit remaja yang mampu menerimanya, sehingga mereka tidak puas dengan penampilannya (Hurlock, 1997).

Fallon dan Rozin (dalam Grogan, 1999) melakukan studi garis bayangan (silhouette study) dengan memberikan sembilan gambar tubuh perempuan dari yang sangat kurus hingga sangat gemuk. Dari hasil studi tersebut, ditemukan bahwa para perempuan memilih gambar yang lebih gemuk untuk menggambarkan bentuk tubuh nyata mereka, dan memilih bentuk tubuh yang jauh lebih kurus untuk menggambarkan bentuk tubuh ideal, serta menunjukkan bahwa perempuan mempunyai ketidakpuasan yang sangat tinggi (Grogan, 1999).

(22)

Eksperimen yang dilakukan oleh Stice dan Shaw (dalam Maria, Prihanto, & Sukamto, 2001) menunjukkan bahwa perempuan yang melihat gambar model yang bertubuh kurus akan merasa bersalah, depresi, stres, malu, tidak aman, dan tidak puas terhadap sosok tubuhnya.

Di Indonesia, ketidakpuasan tubuh juga mempunyai dampak buruk, seperti penelitian yang dilakukan oleh Maria, Prihanto, dan Sukamto (2001) yang menunjukkan bahwa ketidakpuasan tubuh dan kepribadian narsistik mempunyai hubungan yang sangat signifikan dengan perilaku gangguan makan anoreksia dan bulimia nervosa. Penelitian lain dilakukan oleh Arimbi, Saptaningrum, dan Sulistyani (dalam Maria, Prihanto, & Sukamto, 2001) yang menunjukkan bahwa perempuan yang bertubuh gemuk akan tersingkir dan hal itu tidak menyenangkan, karenanya perempuan harus tetap berusaha langsing agar tetap atau semakin berdaya. Hal tersebut menegaskan kembali bahwa ketidakpuasan tubuh yang tinggi mempunyai efek buruk, yakni mempengaruhi harga diri remaja dan membentuk penilaian negatif terhadap tubuhnya sendiri.

(23)

seseorang yang dibentuk oleh pikiran individu itu sendiri, atau dengan kata lain gambaran tubuh individu menurut individu itu sendiri.

Penilaian seseorang terhadap tubuhnya dipengaruhi oleh bagaimana sosial atau orang lain memandang tubuh. Selain itu, dalam suatu kelompok sosial dengan budaya tertentu, terdapat standar tubuh yang ideal. Standar tubuh yang ideal tersebut ada dalam kelompok-kelompok remaja dan tersebar pada masing-masing individu melalui interaksi dan perbincangan sehari-hari. Hal ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Berscheid dan Walster (dalam Synott, 2007) melakukan penelitian dan menemukan pendapat dari para siswa bahwa orang-orang yang berpenampilan fisik baik umumnya lebih sensitif, baik hati, menarik, kuat, cerdik, rapi, berjiwa sosial, ramah, dan menyenangkan daripada orang-orang yang kurang baik. Orang-orang yang mempunyai penampilan menarik secara fisik akan lebih diterima oleh lingkungan (Synott, 2007).

(24)

(2007) memaparkan pula bahwa informasi yang disampaikan media massa ikut memberi kontribusi terhadap pandangan dan nilai-nilai mengenai tubuh yang berkembang di masyarakat termasuk remaja perempuan. Dalam sebuah penelitian yang melibatkan 158 remaja perempuan siswi SMP di Kota Bandung yang berusia 12-15 tahun, ditemukan bahwa komparasi sosial yang dilakukan mereka terhadap selebritis dan model sebagai representasi citra media massa dapat berpengaruh negatif terhadap citra tubuh mereka (Amalia, 2004).

(25)

Konformitas oleh Cialdini dan Goldstein (dalam Taylor, Peplau, & Sears, 2009) dijelaskan sebagai tendensi untuk mengubah keyakinan atau perilaku diri sendiri agar sesuai dengan perilaku orang lain. Selain itu, pendapat yang serupa juga dikemukakan oleh Baron, Byrne, dan Branscombe (2006), bahwa konformitas adalah suatu pengaruh sosial, yakni individu-individu berusaha mengubah perilaku atau sikap mereka dengan tujuan untuk mengikuti norma-norma yang ada dalam kelompok atau sosial. Hal itu dilakukan oleh remaja dengan maksud supaya kelompok menyukai, memperlakukan, dan bersedia menerimanya (Sears, Freedman, & Peplau, 1985). Hal tersebut menggugah keingintahuan peneliti untuk melihat apakah dorongan konformitas seorang remaja pada kelompok sebaya mempunyai kontribusi pada citra tubuhnya, apakah remaja yang konformis cenderung mempunyai citra tubuh yang rendah.

(26)

aturan, atau nilai yang dianut kelompoknya. Selain itu, sikap dan pemikirannya pun akan disesuaikan dengan standar nilai tentang tubuh menurut kelompok. Penelitian-penelitian sebelumnya lebih banyak mengkaji pengaruh tekanan yang diberikan kelompok terhadap citra tubuh, namun kurang melihat sikap remaja terhadap tekanan tersebut. Oleh sebab itu, peneliti tertarik untuk meneliti hubungan antara citra tubuh dengan konformitas yang lebih menekankan pada hubungan antara sikap remaja dalam merespon tekanan dari kelompok sebaya dengan penilaian remaja terhadap tubuhnya. Peneliti tertarik untuk melihat apakah citra tubuh remaja putri ditentukan oleh tingkat konformitasnya terhadap kelompok sebaya.

B. RUMUSAN MASALAH

Apakah terdapat hubungan negatif antara konformitas dengan citra tubuh pada remaja putri?

C. TUJUAN

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan negatif antara konformitas dengan citra tubuh pada remaja putri.

D. MANFAAT

1. Manfaat Teoritis

(27)

memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan, khususnya disiplin ilmu Psikologi, dan secara lebih khusus bagi kajian Psikologi Perkembangan dan Sosial. Selain itu, hasil penelitian ini juga dapat bermanfaat bagi peneliti dan peneliti lain yang mempunyai ketertatikan untuk mengkaji permasalahan remaja seputar relasi sosial dan perkembangan fisik. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan gambaran kondisi remaja saat ini serta memberi informasi yang penting bagi penelitian selanjutnya.

2. Manfaat Praktis

a. Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi remaja sebagai bahan refleksi mengenai sikap konformisnya pada kelompok sebaya serta keterkaitannya dengan citra tubuhnya yang dimiliki. Selain itu, mampu memberikan wawasan bagi remaja untuk menentukan sikap terhadap tekanan sosial yang mampu mempengaruhi penilaian dirinya sendiri. b. Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi orang tua yang memiliki

(28)

9

BAB II

LANDASAN TEORI

A. CITRA TUBUH

1. Pengertian Citra Tubuh

Citra tubuh atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Body image didefinisikan oleh Kamus Lengkap Psikologi (Chaplin, 2006), sebagai ide seseorang mengenai penampilan badannya di hadapan orang atau bagi orang lain, kadang dimaksudkan pula konsep seseorang mengenai fungsi tubuhnya. Oleh Grogan (1999), citra tubuh didefinisikan sebagai suatu persepsi, pikiran, dan perasaan seseorang tentang tubuhnya. Selanjutnya, ditambahkan oleh Schilder (dalam Grogan, 1999), bahwa citra tubuh merupakan gambaran mengenai tubuh seseorang yang dibentuk oleh pikiran individu itu sendiri, atau dengan kata lain gambaran tubuh individu menurut individu itu sendiri.

Secara lebih sederhana, citra tubuh juga merupakan gambaran mental yang dimiliki seseorang tentang tubuhnya, seperti yang dikemukakan oleh Rudd dan Lennon (2001). Ditambahkan pula oleh Cash dan Pruzinsky (2002), bahwa citra tubuh merupakan sikap yang dimiliki seseorang terhadap tubuhnya berupa penilaian positif maupun negatif.

(29)

penampilan fisiknya sendiri, sebuah persepsi unik individu terhadap tubuhnya. Definisi tersebut menjelaskan bahwa citra tubuh dipahami sebagai suatu evaluasi terhadap ukuran tubuh seseorang, berat, maupun aspek lain yang mengarah pada penampilan fisik.

Thompson, et al. (1999) juga menambahkan bahwa gangguan citra tubuh diartikan sebagai suatu ketidakpuasan terhadap tubuh, perhatian dan distres yang berhubungan dengan aspek penampilan fisik. Penekanannya secara khusus pada penilaian subyektif, kognitif, perilaku, dan perseptual individu terhadap tubuh baik pada area-area tertentu tubuh maupun keseluruhan penampilan fisik.

Citra tubuh mempunyai keterkaitan dengan harga diri dan citra diri. Oleh Alipoor, Goodarzi, Nezhad, dan Zaheri (2009) citra tubuh dijelaskan sebagai suatu konstruk psikologis yang mengarah pada konsep diri, termasuk citra diri dan perasaan individu tentang tubuhnya sendiri. Seorang individu yang mempunyai citra tubuh rendah juga terkait dengan konsep diri yang rendah atau kurangnya perasaan diri berharga yang didasarkan pada perasaan masing-masing individu terhadap tubuhnya.

(30)

menjabarkan citra tubuh dengan sangat jelas. Thompson mampu melengkapi definisi yang diungkapkan oleh Grogan serta Cash dan Pruzinsky yang menyatakan bahwa citra tubuh merupakan penilaian orang terhadap tubuhnya baik positif maupun negatif. Thompson tidak hanya menjelaskan mengenai penilaian, namun juga tentang bagaimana individu mengevaluasi area-area tubuhnya maupun keseluruhan penampilan fisiknya. Thompson memperjelas definisi-definisi tersebut dengan menekankan pada penilaian masing-masing individu terhadap tubuh yang secara khusus mengarah pada ukuran, berat badan, dan penampilan fisik. Penilaian tersebut yang kemudian akan mempengaruhi sikap dan perilaku masing-masing individu. Selain itu, menurut Thompson, citra tubuh tidak hanya terbatas pada persepsi, penilaian secara kognitif maupun afektif, namun juga memahami adanya reaksi-reaksi individu dalam sikap dan perilaku yang muncul.

2. Aspek Citra Tubuh

(31)

Selanjutnya, menurut Schilder (dalam Grogan, 1999) citra tubuh mempunyai aspek persepsi, pikiran, dan emosi. Dimensi persepsi merupakan estimasi individu terhadap ukuran atau bentuk tubuh. Dimensi pikiran merupakan penilaian terhadap penampilan. Dimensi emosi yakni perasaan individu terhadap tubuhnya, yakni bentuk dan ukuran tubuh.

Selain itu, Alipoor, et al. (2009) menjelaskan bahwa konstruk citra tubuh dapat dijelaskan dalam tiga dimensi, yakni dimensi kognitif, emosional, dan idealistik. Dimensi kognitif membahas tentang bagaimana seseorang memikirkan penampilannya. Dimensi emosional membahas tentang bagaimana seseorang merasakan penampilannya. Yang terakhir, dimensi idealistik membahas tentang bagaimana seseorang ingin tubuhnya ditampilkan.

(32)

Dari berbagai aspek yang telah dijelaskan mengenai citra tubuh, terdapat beberapa kesamaan, yakni aspek kognitif dan emosional. Aspek-aspek lain yang juga dikemukakan adalah Aspek-aspek perilaku dan harapan yang ideal terhadap tubuh. Berdasarkan uraian aspek-aspek citra tubuh di atas, peneliti menggunakan aspek yang dikemukakan oleh Thompson, et al. (1999) sebab konstruk citra tubuh tidak hanya terbatas pada penilaian dan perasaan individu terhadap tubuh, namun juga termasuk bagaimana individu bereaksi dan melakukan tindakan berdasarkan pikiran dan perasaannya tersebut, yang kemudian dimaksud dalam dimensi perilaku.

Berikut ini akan dijelaskan lebih rinci masing-masing aspek citra tubuh yang dikemukakan oleh Thompson (dalam Thompson, Heinberg, Altabe, & Tantleff-Dunn, 1999) :

(33)

bahwa orang lain memandang tubuhnya negatif, sehingga ia pun memandang dirinya demikian.

b. Aspek Perseptual, yakni penilaian yang terlalu tinggi pada ukuran tubuh diri sendiri yang dikaitkan dengan perasaan individu. Perasaan yang dimaksudkan adalah perasaan suka maupun tidak suka pada bagian tubuh tertentu maupun pada keseluruhan tubuh. Aspek ini mempunyai fokus yang lebih besar pada pengalaman subyektif individu terkait kepuasan atau ketidakpuasannya. Individu yang merasa tidak puas dengan tubuhnya kemudian mempunyai kecemasan akan kegemukan. Kecemasan tersebut umumnya ditunjukkan dengan gangguan makan anoreksia dan bulimia nervosa, harga diri yang rendah dan gejala depresi. Aspek ini juga menyebutkan mengenai distorsi persepsi pada bentuk dan ukuran tubuh, yakni ketidaksesuaian antara tubuh nyata yang dipersepsikan dan tubuh ideal yang diinginkan.

(34)

tidak dapat mengenakan pakaian yang menonjolkan bentuk tubuh atau penampilan supaya terlihat menarik. Selain perilaku penghindaran terdapat pula tindakan yang mengarah penilaian fisik, misalnya membaca atau memperhatikan iklan yang ditampilkan di media massa, melakukan aktivitas fisik seperti fitnes atau olahraga, serta melakukan diet untuk mengurangi berat badan. Perilaku lain yang muncul juga berupa aktivitas memerhatikan tubuh dengan memeriksa bagian-bagian tubuh seperti yang sering di lakukan perempuan di depan cermin.

3. Faktor yang Mempengaruhi Citra Tubuh

Menurut Cash dan Pruzinsky (2002), faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya citra tubuh pada seseorang, secara khusus pada remaja antara lain melalui media massa, keluarga, dan hubungan interpersonal.

(35)

b. Kedua, yakni faktor keluarga, menurut teori belajar sosial, orang tua dalam keluarga merupakan model yang penting dalam proses sosialisasi. Orang tua merupakan model bahi anak untuk membangun penilaian terhadap tubuh. Selain itu, penilaian anak akan tubuhnya dipengaruhi oleh penilaian orang tua terhadap tubuh anak. Sikap orang tua yang menilai tubuh anak secara negatif akan diikuti oleh anak, sehingga anak akan cenderung menilai tubuhnya secara negatif pula. c. Ketiga, relasi sosial interpersonal. Dalam relasi interpersonalnya,

seseorang cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain. Umpan balik yang diterima mempengaruhi konsep diri seseorang termasuk penilaian terhadap penampilan fisik. Penilaian dari orang lain terhadap penampilan dalam hubungan interpersonal mempengaruhi pikiran dan perasaan seseorang terhadap tubuhnya.

B. KONFORMITAS

1. Definisi Konformitas

(36)

Menurut Baron, Byrne, dan Branscombe (2006), konformitas adalah suatu pengaruh sosial, yakni individu-individu berusaha mengubah perilaku atau sikap mereka dengan tujuan untuk mengikuti norma-norma yang ada dalam kelompok atau sosial. Definisi lain mengenai konformitas juga dikemukakan oleh Cialdini dan Goldstein (dalam Taylor, Peplau, & Sears, 2009), bahwa konformitas adalah tendensi untuk mengubah keyakinan atau perilaku seseorang agar sesuai dengan perilaku orang lain. Taylor, Peplau, dan Sears (2009) juga menyatakan konformitas dimaksudkan sebagai kesediaan untuk menyesuaikan diri dengan norma kelompok dianggap sebagai sesuatu yang perlu dan penting bagi kerukunan kelompok.

Santrock (2002) menjelaskan pula bahwa konformitas muncul ketika individu meniru sikap atau tingkah laku orang lain dikarenakan tekanan yang nyata maupun yang dibayangkan oleh mereka. Tekanan untuk mengikuti teman sebaya menjadi sangat kuat pada masa remaja. Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa konformitas merupakan kecenderungan sikap seseorang untuk mengikuti pemikiran, tindakan, maupun norma kelompok agar sama dengan kelompoknya.

2. Aspek-aspek Konformitas

(37)

a. Aspek Informasional

Pada beberapa situasi, individu merasa tidak yakin dengan apa yang mereka pikirkan dan bagaimana harus bereaksi. Untungnya, individu mempunyai sumber pengetahuan dan informasi yang berguna, yakni perilaku orang lain. Bertanya kepada orang lain tentang apa yang mereka pikirkan atau menyaksikan apa yang mereka lakukan untuk membantu individu tersebut mengatasi situasi tertentu. Pengaruh dari orang lain mendorong seseorang untuk menyesuaikan diri atau konform karena mereka melihat orang lain sebagai sumber informasi untuk menuntun perilaku mereka. Di dalam aspek informasional terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, yakni :

i. Pengaruh informasi sosial

Orang menyesuaikan diri karena percaya bahwa interpretasi orang lain terhadap stimulus yang ambigu lebih akurat daripada pemahamannya sendiri dan hal tersebut dapat membantu mereka memilih tindakan yang paling tepat dan sesuai.

ii. Penerimaan pribadi

Penyesuaian diri terhadap perilaku orang lain atas dasar kepercayaan bahwa apa yang orang lain lakukan dan katakan adalah benar.

(38)

Penyesuaian diri terhadap perilaku orang lain secara umum tanpa perlu mempercayai apakah yang mereka lakukan atau katakan tersebut merupakan hal yang tepat atau benar.

b. Aspek Normatif

i. Agar diterima, disukai, dan diakui oleh kelompok

Individu menyesuaikan diri dengan norma sosial yang dianut oleh kelompoknya, yakni, aturan-aturan tertentu mengenai perilaku, nilai, dan kepercayaan yang diterima atau diakui. Individu yang tidak mengikuti aturan-aturan tersebut akan merasa berbeda, sulit diterima, dan menyimpang dari kelompok. Anggota kelompok yang menyimpang diejek atau ditertawakan, dihukum, atau ditolak oleh orang lain di dalam kelompok tersebut.

(39)

C. NILAI TUBUH DALAM MASYARAKAT

Tubuh tidak hanya dipandang sebagai aspek biologis semata, namun juga melibatkan aspek sosial-kultural. Tubuh dan bagian-bagiannya dimuati oleh simbolisme kultural dan bersifat sosial (Synott, 2007). Ditambahkan oleh Amalia (2007), bahwa tubuh dengan semua organ, atribut, fungsi, kondisi, dan inderanya bukan hanya merupakan kondisi biologis, melainkan merupakan produk sosial dengan kompleksitas yang luas. Informasi-informasi mengenai tubuh disampaikan melalui media massa yang dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya setempat dan norma-norma sosial yang berlaku. Media massa turut membangun konsep mengenai tubuh ideal dengan menampilkan perempuan cantik, menarik, dan bertubuh langsing.

(40)

tubuh yang ideal mulai muncul pada sekitar tahun 1920 (Grogan, 1999). Selain itu, tubuh yang kurus dianggap sebagai hasil dari kesuksesan pemasaran industri pakaian dan mode, yang kemudian menjadi standar budaya dan sosial masyarakat mengenai kecantikan pada abad ke-20 (Gordon dalam Grogan, 1999).

Standar ideal tersebut semakin mengakar dalam nilai sosial dengan berkembangnya media massa di seluruh penjuru dunia. Selain itu, media massa mampu menanamkan standar tubuh yang ideal adalah tubuh yang ramping yakni dengan menampilkan model, artis, bintang film yang mempunyai tubuh ramping atau bahkan kurus. Menurut Amalia (2007), kecantikan fisik tidak dapat terpisahkan dari diri perempuan. Dijelaskan pula bahwa kulit putih bersih, tubuh langsing, rambut hitam lurus teurai menjadi standar umum untuk menggambarkan idealitas tubuh perempuan Indonesia. Remaja menilai tubuh mereka dengan standar yang menjadi ukuran dalam masyarakat.

(41)

yang berkembang pada masa itu (Amalia,2007). Usaha-usaha tersebut antara lain diwujudkan dalam perilaku diet, merawat tubuh, dan berbelanja kosmetik serta pakaian guna menunjang penampilan agar tampil menarik.

D. REMAJA PUTRI

Menurut Santrock (2007), masa remaja adalah periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa, yang melibatkan perubahan-perubahan biologis, kognitif, dan sosio-emosional. Hurlock (1997) memberi batasan masa remaja berdasarkan usia kronologis, yakni antara 13 hingga 18 tahun. Menurut Santrock (2007), rentang usia remaja dimulai sekitar usia 10 hingga 13 tahun dan berakhir pada usia 18 hingga 22 tahun. Stanley Hall (dalam Hurlock, 1997) menyatakan bahwa masa remaja merupakan suatu tahap perkembangan yang dikarakteristikkan sebagai “storm and stress”, yakni remaja sangat dipengaruhi oleh suasana hati dan tidak dapat dipercaya.

(42)

yang ideal berdasarkan konsep dari berbagai sumber individu ideal dalam kelompoknya. Kedua, kepercayaan tradisional tentang penampilan yang pantas untuk jenis kelamin tertentu cenderung mewarnai sikap remaja sedemikian rupa, sehingga mengganggu penerimaan terhadap tubuhnya sendiri (Hurlock, 1997). Kesadaran akan adanya reaksi sosial terhadap berbagai bentuk tubuh meyebabkan remaja prihatin akan pertumbuhan tubuhnya yang tidak sesuai dengan standar budaya yang berlaku (Hurlock, 1997).

Santrock (2007) menyatakan bahwa pada masa pubertas, remaja mengembangkan citra individual mengenai seperti apa tubuhnya. Berscheid dan Walster (dalam Synott, 2007) melakukan studi penelitian di Amerika dan menemukan pendapat dari para siswa, bahwa orang-orang yang berpenampilan baik umumnya lebih sensitif, baik hati, menarik, kuat, cerdik, rapi, berjiwa sosial, ramah, dan menyenangkan daripada orang-orang yang berpenampilan kurang baik. Para siswa juga meyakini bahwa mereka yang cantik secara seksual lebih responsif daripada mereka yang tidak menarik. Dikatakan pula bahwa orang-orang yang mempunyai penampilan menarik secara fisik akan lebih diterima oleh lingkungan. Seorang remaja akan memperhatikan tubuhnya untuk mencari dukungan sosial. Semakin kuat keprihatinan anak puber atau remaja akan dukungan sosial pada dirinya, semakin ia mengkhawatirkan penampilan dirinya (Hurlock, 1997).

(43)

mengevaluasi dirinya. Remaja cenderung membandingkan dirinya dengen kelompok sebaya serta dengan remaja lain yang populer, menarik dan atletis. Hal tersebut didukung oleh pendapat Ribner (2000) yakni, remaja berusaha untuk mengatasi perubahan pubertas mereka dengan baik, beberapa remaja menjadi sangat memperhatikan penampilan fisik mereka. Melakukan aktivitas mandi berjam-jam dan menghabiskan waktu dengan memperhatikan tubuh di depan kaca merupakan hal biasa dilakukan remaja.

Remaja merasa cemas terhadap penampilan mereka dan berpikir tentang tubuh mereka yang terlalu tinggi atau terlalu pendek, terlalu kurus atau terlalu gemuk, dan tidak menarik dalam beberapa hal. Remaja laki-laki dan perempuan merasa cemas dengan penampilan fisik mereka, namun remaja putri cenderung tidak senang dengan penampilan mereka dibandingkan remaja putra yang sebaya. Oleh sebab itu, remaja putri lebih mudah mengalami depresi dan mempunyai masalah terkait harga diri yang dapat terbawa hingga masa dewasa. Ribner (2000) menyatakan bahwa remaja ingin berpenampilan seperti kelompok sebayanya, segala hal yang dapat menjauhkannya dari kelompok sebayanya dirasakan sangat mengganggu.

(44)

berperilaku, berpenampilan, bersikap menurut nilai kelompoknya dengan maksud supaya kelompok menyukai, memperlakukan, dan bersedia menerimanya (Sears, Freedman, & Peplau, 1985).

Remaja mengikuti nilai yang ada dalam kelompoknya. Hal itu disesuaikan dengan minat yang dimiliki. Hurlock (1997) memaparkan beberapa minat remaja, antara lain : minat rekreasi yakni dengan aktivitas olahraga serta mengembangkan hobi yang dimiliki, minat pribadi yakni pada penampilan diri dan pakaian, minat pada prestasi akademik maupun non-akademik, minat pada kemandirian, minat pada uang, minat pada pendidikan, minat pada pekerjaan, minat pada agama, minat pada simbol status, serta minat pada seksualitas.

Berbagai minat remaja tersebut berkembang seiring dengan perkembangan tahap usia, sosialisasi interpersonal, serta diikuti dengan berbagai pengalaman unik masing-masing individu. Dari berbagai minat remaja tersebut terdapat minat terhadap penampilan yang menunjukkan bahwa remaja mempunyai kesukaan untuk memperhatikan penampilan fisiknya. Kernan (dalam Hurlock, 1997) menambahkan, penampilan remaja, terutama di hadapan teman-teman sebaya, merupakan petunjuk yang kuat dari minat remaja dalam bersosialisasi, alasannya demi kebersamaan dengan teman sebaya. Minat terhadap penampilan tersebut kemudian disesuaikan dengan nilai atau standar tubuh yang ideal dalam kelompok sosial.

(45)

sebaya sebagai kelompok, maka pengaruh teman-teman sebaya pada sikap, pembicaraan, minat, penampilan, dan perilaku lebih besar daripada pengaruh keluarga (Hurlock, 1997). Remaja mempunyai keinginan untuk tampil sama dan bersedia mengikuti nilai atau norma yang dipegang kelompoknya, yang dinamakan konformitas. Konformitas muncul ketika individu meniru sikap atau tingkah laku orang lain dikarenakan tekanan yang nyata maupun yang dibayangkan oleh mereka (Santrock, 2003). Faktor fisik dan budaya tertentu mempengaruhi kepopuleran remaja. Remaja yang secara fisik menarik akan lebih populer dibandingkan dengan mereka yang tidak menarik (Kennedy dalam Santrock, 2003).

(46)

E. DINAMIKA HUBUNGAN

Remaja merupakan masa pembentukan identitas diri. Dalam proses pembentukan identitas diri tersebut, remaja banyak menyerap berbagai informasi dari luar dan membandingkan dengan dirinya. Remaja cenderung membandingkan dirinya dengan teman sebayanya kemudian melakukan penyesuaian dengan kelompok sebayanya. Remaja cenderung memandang sikap, pendapat, dan perilaku orang lain yang dibandingkan dengan dirinya sendiri kemudian menirunya dan menjadikan hal-hal tersebut menjadi sikap, pendapat, serta perilakunya. Bagi remaja, penyesuaian diri dengan kelompok jauh lebih penting daripada individualitas (Hurlock, 1997).

Begitu pula halnya dengan penampilan, remaja menyadari bahwa penampilan merupakan hal yang penting dalam relasi sosial dan penampilan merupakan hal yang pertama diperhatikan oleh orang ketika berinteraksi dalam lingkungan sosial. Kesadaran akan adanya reaksi sosial terhadap berbagai bentuk tubuh meyebabkan remaja prihatin akan pertumbuhan tubuhnya yang tidak sesuai dengan standar budaya yang berlaku (Hurlock, 1997). Remaja yang sedang ingin mengembangkan relasi sosialnya terutama dengan teman sebaya kemudian berusaha mencari dan memahami standar-standar ideal tentang penampilan fisik yang ada di lingkungan mereka. Hal ini dimaksudkan supaya remaja dapat diterima oleh lingkungan sosial atau kelompoknya.

(47)

lingkungan atau teman sebaya dibandingkan dengan remaja putra karena remaja putri lebih mudah dipengaruhi. Selain itu, remaja putri juga suka menyesuaikan diri dengan kelompok yang disebabkan oleh besarnya keinginan untuk menjaga harmonisasi kelompok dan penerimaan sosial. Keinginan untuk tampil sama dan mengikuti nilai-nilai yang dianut kelompok dikenal dengan istilah konformitas.

Konformitas terbentuk tidak terlepas dari nilai-nilai yang dianut dalam kelompok atau yang ada dalam masyarakat. Nilai-nilai yang menjadi standar dalam kelompok tersebut kemudian memunculkan adanya tekanan dalam kelompok bagi individu untuk bersikap sama dengan kelompok. Remaja yang konformis akan mengikuti standar pemikiran kelompok dan menjadikannya sebagai pemikirannya karena menganggap bahwa pemikiran kelompoknya adalah benar. Selain itu, remaja juga mengikuti perilaku kelompok dan meniru berperilaku yang sama dengan tujuan agar diterima dan disukai oleh kelompok. Remaja takut dianggap aneh dan tampak berbeda dengan teman sebayanya.

(48)

yakni dengan ukuran pinggul yang kecil dan bentuk tubuh yang lebih kurus dari tubuh aslinya (Maria, Prihanto, & Sukamto, 2001).

Remaja melakukan penilaian terhadap tubuhnya berdasarkan penilaian sosial atau kelompoknya terhadap penampilan fisik. Penilaian terhadap tubuh tersebut kemudian dikenal dengan citra tubuh, yakni gambaran internal individu terhadap penampilan fisiknya sendiri (Thompson, 1999). Citra tubuh dipahami pula sebagai suatu evaluasi terhadap ukuran tubuh, berat maupun aspek lain yang mengarah pada penampilan fisik (Thompson, 1999). Penilaian remaja tersebut mencakup evaluasi kognitif, perilaku, serta perseptual, seperti yang telah dipaparkan oleh Thompson (1999) dalam dimensi citra tubuh.

(49)

tidak menyenangkan serta melakukan hal-hal yang mampu mengatasi kecemasan terhadap penampilan fisiknya. Perilaku tersebut dilakukan dengan merawat tubuh maupun melakukan diet. Hal tersebut dilakukan dengan mengikuti tindakan yang dilakukan oleh teman-teman sebaya dalam kelompok.

(50)

Bagan Dinamika Hubungan antara Konformitas dengan Citra Tubuh

- Persept ual : perbandingan t ubuh sendiri dan t ubuh

(51)

F. HIPOTESIS

(52)

33

BAB III

METODE PENELITIAN

A. JENIS PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif-korelasional yang bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan antara dua variabel. Peneliti memilih jenis penelitian ini karena penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan antara konformitas dengan citra tubuh pada remaja putri.

B. IDENTIFIKASI VARIABEL PENELITIAN

Variabel bebas : Konformitas Variabel tergantung : Citra tubuh

C. DEFINISI OPERASIONAL

1. Konformitas :

(53)

memuat empat jenis respon, yakni SS (Sangat Setuju), S (Setuju), TS (Tidak Setuju), dan STS (Sangat Tidak Setuju). Subyek diminta untuk memilih salah satu dari keempat pilihan respon tersebut. Hasil skor yang tinggi pada skala konformitas ini menunjukkan remaja yang semakin konformis pada kelompok teman sebayanya.

2. Citra tubuh :

Citra tubuh adalah gambaran seseorang mengenai tubuhnya, yakni persepsi, pikiran serta perasaan individu terhadap tubuhnya sendiri, yakni individu tersebut mengevaluasi penampilan fisiknya. Dalam penelitian ini, variabel citra tubuh diukur dengan menggunakan skala citra tubuh. Skala citra tubuh merupakan skala Likert yang disusun berdasarkan aspek citra tubuh Thompson (dalam Thompson, et al., 1999), yakni aspek kognitif, perseptual dan perilaku. Subyek diberikan empat pilihan respon pada setiap aitemnya, yakni SS (Sangat Sesuai), S (Sesuai), TS (Tidak Sesuai), dan STS (Sangat Tidak Sesuai). Hasil skor yang tinggi pada skala citra tubuh menunjukkan citra tubuh yang semakin tinggi atau positif pada remaja.

D. ALAT PENGUMPULAN DATA

(54)

Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala konformitas dan skala citra tubuh. Berikut ini dijelaskan masing-masing variabel yang diukur.

1. Pengukuran Konformitas

Konformitas diukur dengan menggunakan metode summated rating dengan skala Likert yang berisi pernyataan sikap dengan menggunakan respon sebagai dasar penentuan nilai skalanya (Azwar, 2010). Skala Likert tentang konformitas berisi aitem-aitem pernyataan yang masing-masing aitemnya mengandung empat macam pilihan respon, yakni SS (Sangat Setuju), S (Setuju), TS (Tidak Setuju), dan STS (Sangat Tidak Setuju). Skala Konformitas terdiri dari 20 aitem favorable dan 20 aitem unfavorable yang disusun berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan oleh Aronson, Wilson, dan Akert (2005).

(55)

Tabel 1

Blue print Skala Konformitas

No. Aspek

Nomor Aitem Total

Favorable Unfavorable 1 Informasional 1*,5,7,15,21,

23,25,29*,35*,39

Pengukuran untuk mengukur citra tubuh menggunakan skala Citra Tubuh dengan metode penskalaan Likert. Skala Likert yang diberikan merupakan metode summated rating, yakni suatu metode yang berisi pernyataan sikap dengan menggunakan respon sebagai dasar penentuan nilai skalanya (Azwar, 2010).

(56)

aspek-aspek citra tubuh yang dikemukakan oleh Thompson (dalam Thompson, et al., 1999), yakni aspek kognitif, perseptual dan perilaku.

Berikut ini disajikan blueprint skala Citra Tubuh

Tabel 2

Blue print Skala Citra Tubuh

No. Aspek

(57)

di bangku SMP dan SMA. Peneliti mengambil sampel pada siswi SMP dan SMA sebab siswi pada jenjang pendidikan tersebut mempunyai karakteristik usia remaja, yakni berusia 13 s.d. 18 tahun. Pengambilan sampel subyek dengan Purposive Sampling. Hadi (2004) menyatakan bahwa purposive sampling merupakan pemilihan sekelompok subyek didasarkan atas ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang dipandang mempunyai keterkaitan erat dengan ciri-ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Purposive sampling menunjukkan bahwa teknik ini digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Clark-Carter (2004) menambahkan bahwa teknik purposive sampling digunakan ketika peneliti menginginkan penelelitiannya dilakukan pada suatu sampel yang terdefinisi dengan jelas.

(58)

F. UJI COBA ALAT PENGUMPULAN DATA

Uji coba untuk skala konformitas dan citra tubuh dilakukan kepada siswi SMP dan SMA di kota Yogyakarta, yang sesuai dengan karakter subyek penelitian yakni remaja putri berusia 13 sampai dengan 18 tahun. Keempat alat ukur diujicobakan kepada 84 orang remaja putri, yakni 44 remaja merupakan siswi SMP dan 40 remaja merupakan siswi SMA. Skala yang diberikan kepada 84 orang remaja putri semua diisi lengkap.

Pengambilan sampel pada uji coba ini dilakukan dengan metode purposive sampling, yakni pengambilan subyek uji coba dengan memperhatikan sekelompok subyek yang mempunyai ciri atau sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Peneliti melakukan pengambilan sampel subyek uji coba pada siswi-siswi SMP dan SMA di Kota Yogyakarta sebab siswi-siswi tersebut memenuhi karakteristik usia remaja putri yakni berusia 13 s.d. 18 tahun. Uji coba alat ukur ini diberikan kepada 44 siswi SMP Pangudi Luhur Yogyakarta, 26 siswi SMA Pangudi Luhur Yogyakarta, serta 14 remaja putri yang berasal dari beberapa sekolah di kota Yogyakarta.

G. VALIDITAS DAN RELIABILITAS ALAT PENGUMPULAN DATA

(59)

Berikut informasi mengenai validitas dan reliabilitas skala konformitas dan skala citra tubuh.

1. Validitas dan Reliabilitas Skala Konformitas

a. Uji Validitas Skala Konformitas

Validitas skala ini dapat dilihat berdasarkan isi aitem-aitemnya. Aitem-Aitem pada skala ini menunjukkan kesesuaian dengan teori mengenai konformitas. Aitem-aitem dalam skala ini memuat isi yang relevan dengan teori yang digunakan dan tidak keluar dari batasan tujuan ukurnya. Salah satu contoh, aitem pada nomor 30 yang berbunyi “Saya mengikuti tindakan yang banyak dilakukan oleh teman-teman supaya diterima dan disukai oleh mereka”. Aitem tersebut sesuai dengan teori mengenai Konformitas, bahwa pengaruh sosial normatif muncul ketika pengaruh dari orang lain mendorong individu untuk menyesuaikan diri dengan tujuan agar disukai oleh orang lain (Aronson, Wilson, & Akert, 2005).

(60)

b. Uji Kesahihan Aitem Skala Konformitas (Seleksi Aitem)

Peneliti menetapkan korelasi aitem total sebagai standar yang umum digunakan untuk pengguguran aitem. Pada skala ini terdapat 10 aitem yang mempunyai korelasi aitem total di bawah 0.3 dari keseluruhan aitem yang berjumlah 40. Aitem-aitem tersebut adalah aitem nomor 1 dengan korelasi aitem total sebesar 0.245, aitem nomor 6 dengan korelasi aitem total sebesar 0.288, aitem nomor 9 dengan korelasi aitem total sebesar -0.014, aitem nomor 10 dengan korelasi aitem total sebesar -0.101, aitem nomor 13 dengan korelasi aitem total sebesar 0.292, aitem nomor 16 dengan korelasi aitem total sebesar 0.272, aitem nomor 19 dengan korelasi aitem total sebesar 0.218, aitem nomor 29 dengan korelasi aitem total sebesar 0.097, aitem nomor 32 dengan korelasi aitem total sebesar 0.153, dan aitem nomor 35 dengan korelasi aitem total sebesar 0.289. Meskipun demikian, peneliti mempertimbangkan adanya aitem yang mempunyai korelasi aitem total mendekati 0.3.

(61)

demikian, peneliti mengikutsertakan aitem nomor 13 sebagai aitem dalam penelitian, sehingga jumlah aitem yang digunakan sebagai alat ukur dalam penelitian sejumlah 31 aitem. Setelah melakukan pengguguran terhadap 9 aitem tersebut, didapatkan koefisien alpha yang meningkat menjadi 0.90. Untuk lebih jelas mengenai aitem yang gugur dapat dilihat pada Tabel 1, aitem yang gugur mempunyai tanda *.

c. Uji Reliabilitas Skala Konformitas

Berdasarkan analisis reliabilitas yang dilakukan dengan teknik Alpha Cronbach, yang dibantu dengan menggunakan program SPSS Statistic 17, diperoleh koefisien Alpha sebesar 0.888. setelah seleksi aitem, diperoleh koefisien Alpha yang meningkat menjadi sebesar 0.90. Hasil ini menunjukkan bahwa skala Konformitas ini reliabel karena koefisien alpha yang dihasilkan mendekati 1.00.

2. Validitas dan Reliabilitas Skala Citra Tubuh

a. Uji Validitas Skala Citra Tubuh

(62)

dengan teori yang digunakan dan tidak keluar dari batasan tujuan ukurnya. Sebagai contoh, aitem pada nomor 1 berbunyi “Saya merasa saya terlalu gemuk”. Aitem tersebut sesuai dengan teori mengenai citra tubuh yang menyatakan bahwa salah satu indikator ketidakpuasan seseorang terhadap tubuhnya adalah mempunyai penilaian yang terlalu tinggi pada ukuran tubuh diri sendiri yang dikaitkan dengan perasaan individu tersebut (Thompson, 1999).

Aitem-aitem pada skala ini berisi mengenai beberapa respon individu yang dapat muncul ketika individu tersebut melakukan penilaian terhadap tubuhnya. Dengan demikian, skala ini mempunyai validitas yang baik karena aitem-aitemnya memiliki kesesuaian dengan apa yang ingin diukur yakni sikap dan penilaian individu terhadap tubuhnya sendiri. Selain itu, uji validitas juga dilakukan dengan proffesional judgement, yakni dengan dosen pembimbing.

b. Uji Kesahihan Aitem Skala Citra Tubuh (Seleksi Aitem)

(63)

mengurangi jumlah dan proporsi aitem yang baik untuk digunakan sebagai alat ukur penelitian. Oleh sebab itu, peneliti mempertimbangkan untuk menurunkan standar pengguguran aitem, yakni aitem yang gugur adalah aitem yang korelasi aitem totalnya di bawah 0.25.

Azwar (2010) menyatakan bahwa apabila jumlah aitem yang lolos ternyata masih tidak mencukupi jumlah yang diinginkan, peneliti dapat mempertimbangkan untuk menurunkan sedikit batas kriteria 0.30 menjadi 0.25, sehingga jumlah aitem yang diinginkan dapat tercapai. Hal tersebut diperkuat dengan pertimbangan bahwa aitem tersebut mempunyai nilai koefisien Alpha yang lebih rendah daripada koefisien Alpha keseluruhan aitem pada Skala Citra Tubuh, yang sebesar 0.890.

(64)

total sebesar -0.244, aitem nomor 30 dengan korelasi aitem total sebesar 0.059, aitem nomor 33 dengan korelasi aitem total sebesar 0.249, aitem nomor 41 dengan korelasi aitem total sebesar 0.050, aitem nomor 42 dengan korelasi aitem total sebesar 0.156, dan aitem nomor 43 dengan korelasi aitem total sebesar 0.006.

(65)

gugur dapat dilihat pada Tabel 2, aitem yang gugur mempunyai tanda*.

c. Uji Reliabilitas Skala Citra Tubuh

Berdasarkan analisis reliabilitas yang dilakukan dengan teknik Alpha Cronbach, yang dibantu dengan menggunakan program SPSS Statistic 17, skala citra tubuh mempunyai koefisien Alpha sebesar 0.890. setelah dilakukan seleksi aitem, diperoleh koefisien Alpha yang meningkat menjadi 0.915. Skala ini dapat dikatakan reliabel karena besarnya koefisien Alpha mendekati 1.00.

d. Uji Validitas Konkuren

(66)

Uji validitas konkuren dilakukan dengan melakukan uji korelasi pada skor total setiap subyek pada skala citra tubuh dengan alat ukur Contour Drawing Rating Scale yang telah teruji valid. Contour Drawing Rating Scale adalah alat ukur berupa rating gambar sembilan bentuk tubuh dari tubuh kurus hingga gemuk.

Responden atau subyek uji coba diberikan rating kontur gambar tubuh tersebut sebanyak 2 (dua) kali. Rating gambar kontur tubuh yang pertama hendak mengetahui tubuh yang dipersepsikan oleh responden, yakni tubuh penilaian terhadap tubuhnya sendiri. Rating gambar kontur tubuh yang kedua hendak mengetahui tubuh yang diinginkan oleh responden, yakni tubuh ideal menurut responden. Kemudian, dihitung selisih atau jarak antara tubuh yang dipersepsikan dan tubuh ideal. Berikut ini disajikan rating gambar kontur tubuh.

Gambar 1

Contour Drawing Rating Scale

(67)

Peneliti menguji validitas konkuren dengan mengkorelasikan skor total skala citra tubuh dengan Contour Drawing Rating Scale yang dikenakan pada subyek yang sama pada uji coba alat ukur. Uji validitas konkuren ini menghasilkan koefisien korelasi sebesar 0.517 dengan p < 0.05. Uji validitas konkuren tersebut menunjukkan bahwa alat ukur skala citra tubuh yang disusun oleh peneliti valid untuk digunakan sebagai alat ukur penelitian.

Selain itu, peneliti juga melakukan uji validitas konkuren dengan mengkorelasikan antara skor Contour Drawing Rating Scale dengan skor total pada aitem-aitem yang menggambarkan dimensi perseptual citra tubuh. Pada skala uji coba, terdapat 15 aitem dari dimensi perseptual. Berdasarkan hasil uji korelasi, diperoleh koefisien korelasi sebesar 0.343 dengan p sebesar 0.001 (p<0.05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa alat ukur citra tubuh dengan 15 aitem yang mengukur dimensi perseptual tersebut valid untuk digunakan sebagai alat ukur penelitian.

(68)

yang mengukur perseptual. Beberapa bunyi aitem tersebut adalah “Saya merasa saya terlalu gemuk”, “Saya tidak ingin punya tubuh yang lebih langsing karena tubuh saya sekarang sudah terlihat cantik dan menarik”, dan “Saya menginginkan berat badan yang lebih ringan daripada berat badan sata saat ini”. Aitem-aitem tersebut mengukur hal yang sama dengan alat ukur Contour Drawing Rating Scale. Oleh sebab itu, peneliti memutuskan untuk tidak menggunakan alat ukur Contour Drawing Rating Scale sebagai alat ukur penelitian karena hanya akan menggambarkan hal yang sama dengan skala citra tubuh pada dimensi perseptual.

H. METODE ANALISIS DATA

(69)

50

BAB IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A. PELAKSANAAN PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 14 September 2011 hingga 20 September 2011. Peneliti memberikan skala penelitian kepada siswa-siswa SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta dan SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. Dari sejumlah 80 angket penelitian yang disebar, terkumpul dan kembali 75 angket. Sebanyak 5 subyek penelitian tidak mengembalikan angket penelitian.

B. HASIL PENELITIAN

1. Deskripsi Subyek Penelitian

Jumlah subyek dalam penelitian ini adalah 75 orang. Keseluruhan data yang terkumpul dapat diproses dan dianalisis lebih lanjut karena sesuai dengan karakteristik subyek yang diminta. Selain itu, para responen mengisi angket tersebut dengan lengkap, sehingga tidak ada angket yang digugurkan. Subyek dalam penelitian ini adalah remaja putri yang berusia 13 s.d. 18 tahun, sesuai dengan rentang usia remaja menurut Hurlock (1997). Penelitian ini melibatkan 75 subyek yang berusia 13 s.d. 18 tahun.

(70)

yang berusia 16 s.d 18 tahun. Berdasarkan usia, karakteristik subyek dapat dijelaskan sebagai berikut, subyek dengan usia 13 tahun sebanyak 14 orang, subyek dengan usia 14 tahun sebanyak 12 orang, subyek dengan usia 15 tahun sebanyak 12 orang, subyek dengan usia 16 tahun sebanyak 13 orang, subyek yang berusia 17 tahun sebanyak 14 orang, dan subyek yang berusia 18 tahun sebanyak 10 orang. Subyek yang berasal dari SMP sejumlah 38 orang dan subyek yang berasal dari SMA sejumlah 37 orang. Berdasarkan data tersebut, dapat dihitung rerata usia subyek penelitian ini adalah 15,41 tahun.

2. Deskripsi Data Penelitian

a. Variabel Konformitas

Berikut ini adalah deskripsi data penelitian variabel konformitas :

Tabel 3

Deskripsi Statistik Data Penelitian Variabel Konformitas

N 75

Min 42

Maks 88

Mean Teoretik 77.50

Mean Empirik 69.24

Median 69

SD Teoretik 7.67

(71)

Tabel 4

Uji t Mean Empirik dan Mean Teoretik Skala Konformitas

T df

Sig. (2-tailed)

Mean Difference

95% Confidence Interval of the

Difference Lower Upper 73.752 74 0.000 69.240 67.37 71.11

(72)

b. Variabel Citra Tubuh

Berikut ini adalah deskripsi data penelitian variabel citra tubuh :

Tabel 5

Deskripsi Statistik Data Penelitian Variabel Citra Tubuh

N 75

Uji t Mean Empirik dan Mean Teoretik Skala Citra Tubuh

(73)

empirik yakni sebesar 83.213. Berdasarkan hasil uji t, mean empiris memiliki perbedaan yang signifikan dengan mean teoritis karena memiliki nilai signifikan lebih kecil dari 0.05 yaitu 0.00 (p<0.05). Mean empirik pada variabel citra tubuh mempunyai nilai yang lebih tinggi daripada mean teoretiknya. Hal ini menunjukkan bahwa subyek dalam penelitian ini mempunyai citra tubuh yang cenderung tinggi. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa skala citra tubuh mempunyai standar deviasi sebesar 10.310.

3. Kategorisasi Data Penelitian

Skor skala psikologis yang menjadi alat ukur dalam penelitian ini ditentukan melalui prosedur penskalaan yang menghasilkan angka-angka pada pengukuran interval, yakni dengan metode penskalaan summated rating. Meskipun demikian, skor pada keseluruhan skala yang dijawab dengan respon tersebut tidak dapat diletakkan pada kontinum interval melainkan pada kategori-kategori ordinal (Azwar, 2010). Oleh sebab itu, peneliti melakukan kategorisasi pada kedua skala penelitian untuk mengetahui distribusi skor skala pada subyek dan hal tersebut dapat menjadi informasi mengenai keadaan subyek pada aspek atau variabel yang diteliti.

a. Kategorisasi Skala Konformitas

(74)

tersebut didasarkan pada nilai rerata dan simpangan baku pada masing-masing variabel. Skala konformitas terdiri dari 31 item yang masing-masing mempunyai skor dari 1, 2, 3, dan 4. Rentang antara skor maksimum dan minimum adalah 46 yang diperoleh dari selisih skor maksimal 88 dan skor minimal 42. Perhitungan standar deviasi (SD) pada data yang berdistribusi normal memiliki enam satuan standar dengan tiga di sebelah kiri dan tiga di sebelah kanan (Azwar, 2010). SD yang diperoleh adalah 7.67 yang berasal dari perhitungan 46 : 6. Kategorisasi skala konformitas disajikan pada tabel 7.

Tabel 7

Kategorisasi Skor pada Skala Konformitas

Kategori Interval Skor Frekuensi Prosentase

Tinggi 74 – 88 23 30.67%

Sedang 58 – 73 47 62.67%

Rendah 42 – 57 5 6.67%

Total 75 100%

(75)

konformitas yang sedang, sedangkan hanya sedikit subyek yang mempunyai tingkat konformitas rendah.

b. Kategorisasi Skala Citra Tubuh

Data hasil penelitian ini dapat dikategorisasikan ke dalam tiga kelompok, yakni tinggi, sedang, dan rendah. Pengkategorisasian tersebut didasarkan pada nilai rerata dan simpangan baku pada masing-masing variabel. Skala citra tubuh terdiri dari 32 item yang masing-masing mempunyai skor dari 1, 2, 3, dan 4. Rentang antara skor maksimum dan minimum adalah 46 yang diperoleh dari selisih skor maksimal 108 dan skor minimal 62. Perhitungan standar deviasi (SD) pada data yang berdistribusi normal memiliki enam satuan standar dengan tiga di sebelah kiri dan tiga di sebelah kanan (Azwar, 2010). SD yang diperoleh adalah 7.67 yang berasal dari perhitungan 46 : 6. Kategorisasi skala konformitas disajikan pada tabel 8.

Tabel 8

Kategorisasi Skor pada Skala Citra Tubuh

Kategori Interval Skor Frekuensi Prosentase

Tinggi 94 – 108 11 14.67%

Sedang 78 – 93 39 52%

Rendah 62 – 77 25 33.33%

(76)

Berdasarkan hasil kategorisasi skor subyek pada skala citra tubuh, terlihat bahwa sebanyak 11 subyek mempunyai citra tubuh yang tinggi, sebanyak 39 subyek mempunyai citra tubuh yang sedang, dan sebanyak 25 subyek mempunyai citra tubuh yang rendah. Dengan demikian, subyek dalam penelitian ini paling banyak mempunyai citra tubuh yang sedang, cukup banyak subyek yang mempunyai citra tubuh rendah, dan sedikit subyek yang mempunyai citra tubuh tinggi.

4. Analisis Data

a. Uji Normalitas

Pada uji normalitas ini, peneliti tidak hanya melakukan uji normalitas pada keseluruhan subyek namun juga melakukan uji normalitas pada subyek siswi SMP dan subyek siswi SMA.

i. Uji Normalitas pada Keseluruhan Subyek

(77)

menggunakan program SPSS Statistics 17. Hasil uji normalitas keseluruhan subyek disajikan pada tabel 9.

Tabel 9

Uji Normalitas Residu

K-S Z Sig. Keterangan Normalitas Residu

Konformitas – Citra Tubuh

0.093 0.181 Normal

(78)

ii. Uji Normalitas pada Subyek SMP

Tabel 10

Uji Normalitas Residu Subyek SMP

K-S Z Sig. Keterangan Normalitas Residu

Konformitas – Citra Tubuh

0.176 0.004 Tidak Normal

(79)

Tabel 11

Uji Normalitas Residu Subyek SMP outlier dihapus

(80)

datanya tidak normal, maka penarikan kesimpulan dari hasil penelitian tersebut tidak dapat dikenakan pada ranah subyek yang lebih luas, melainkan hanya dapat ditarik kesimpulan pada keseluruhan subyek dalam penelitian tersebut.

iii. Uji Normalitas pada Subyek SMA

Tabel 12

Uji Normalitas Residu Subyek SMA

K-S Z Sig. Keterangan Normalitas Residu

Skala Konformitas – Skala Citra Tubuh

0.112 0.200 Normal

(81)

b. Uji Linearitas

Pada uji linearitas, peneliti tidak hanya melakukan uji linearitas pada keseluruhan subyek namun juga melakukan uji linearitas pada subyek siswi SMP dan subyek siswi SMA.

i. Uji Linearitas pada Keseluruhan Subyek

Uji linearitas digunakan untuk melihat apakah hubungan antar variabel, yakni variabel bebas dan variabel terikat mempunyai hubungan linear atau tidak. Uji linearitas dilakukan dengan menggunakan program SPSS Statistic 17. Hasil dari perhitungan tersebut ditunjukkan pada tabel 13.

Tabel 13

(82)

dengan citra tubuh bersifat tidak linear. Selain itu, pada scatter plot, tampak bahwa data tersebar tidak mengikuti garis linear.

Gambar 2

Scatter Plot Variabel Citra Tubuh dan Variabel Konformitas

ii. Uji Linearitas Subyek SMP

Tabel 14

Uji Linearitas Subyek SMP

F Sig.

Skala

Konformitas *

Skala Citra

Tubuh

Combined 0.733 0.754 Linearity 0.000 0.993 Deviation from

Linearity

(83)

Uji linearitas dilakukan untuk menguji hubungan linear antara konformitas dengan citra tubuh pada subyek siswi SMP. Hasil dari uji linearitas yang menguji hubungan antara skala konformitas dan skala citra tubuh pada subyek siswi SMP diperoleh nilai F sebesar 0.000 dengan nilai signifikansi (p) sebesar 0.993. Karena p > 0.05, maka hubungan antara skala konformitas dengan citra tubuh pada subyek siswi SMP bersifat tidak linear. Selain itu, pada scatter plot, tampak bahwa data tersebar tidak mengikuti garis linear.

Gambar 3

Figur

Gambar 1. Contour Drawing Rating Scale......................................................47

Gambar 1.

Contour Drawing Rating Scale......................................................47 p.18
gambar ukuran tubuh dari kurus hingga gemuk. Hasil dari penelitian dengan

gambar ukuran

tubuh dari kurus hingga gemuk. Hasil dari penelitian dengan p.21
Tabel 1 Blue print Skala Konformitas

Tabel 1

Blue print Skala Konformitas p.55
Tabel 2 Blue print Skala Citra Tubuh

Tabel 2

Blue print Skala Citra Tubuh p.56
gambar tubuh tersebut sebanyak 2 (dua) kali. Rating gambar

gambar tubuh

tersebut sebanyak 2 (dua) kali. Rating gambar p.66
Tabel 3 Deskripsi Statistik Data Penelitian Variabel Konformitas

Tabel 3

Deskripsi Statistik Data Penelitian Variabel Konformitas p.70
Tabel 4

Tabel 4

p.71
Tabel 6  Uji t Mean Empirik dan Mean Teoretik Skala Citra Tubuh

Tabel 6

Uji t Mean Empirik dan Mean Teoretik Skala Citra Tubuh p.72
Tabel 7 Kategorisasi Skor pada Skala Konformitas

Tabel 7

Kategorisasi Skor pada Skala Konformitas p.74
Tabel 8 Kategorisasi Skor pada Skala Citra Tubuh

Tabel 8

Kategorisasi Skor pada Skala Citra Tubuh p.75
Tabel 9 Uji Normalitas Residu

Tabel 9

Uji Normalitas Residu p.77
Tabel 10

Tabel 10

p.78
Tabel 11

Tabel 11

p.79
Tabel 12 Uji Normalitas Residu Subyek SMA

Tabel 12

Uji Normalitas Residu Subyek SMA p.80
Tabel 13 Uji Linearitas

Tabel 13

Uji Linearitas p.81
Scatter Plot Gambar 2 Variabel Citra Tubuh dan Variabel Konformitas

Scatter Plot

Gambar 2 Variabel Citra Tubuh dan Variabel Konformitas p.82
Scatter Plot Gambar 3 Variabel Citra Tubuh dan Variabel Konformitas

Scatter Plot

Gambar 3 Variabel Citra Tubuh dan Variabel Konformitas p.83
Uji Linearitas Subyek SMP Tabel 15 outlier dihapus

Uji Linearitas

Subyek SMP Tabel 15 outlier dihapus p.84
Gambar 4

Gambar 4

p.85
Tabel 16 Uji Linearitas Subyek SMA

Tabel 16

Uji Linearitas Subyek SMA p.86
Gambar 5

Gambar 5

p.87
Uji Linearitas Subyek SMA Tabel 17 outlier dihapus

Uji Linearitas

Subyek SMA Tabel 17 outlier dihapus p.88
Tabel 18 Uji Hipotesis

Tabel 18

Uji Hipotesis p.90
Uji Hipotesis Tabel 19 outlier dihapus

Uji Hipotesis

Tabel 19 outlier dihapus p.91
Uji Hipotesis SMP Tabel 21 outlier dihapus

Uji Hipotesis

SMP Tabel 21 outlier dihapus p.92
Tabel 22 Uji Hipotesis Subyek SMA

Tabel 22

Uji Hipotesis Subyek SMA p.93
Uji Hipotesis Subyek SMA Tabel 23 outlier dihapus

Uji Hipotesis

Subyek SMA Tabel 23 outlier dihapus p.94

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :