BLENDED LEARNING. Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah ICT Dosen Pembimbing: Saiful Amien, M. Pd

Teks penuh

(1)

BLENDED LEARNING

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah ICT Dosen Pembimbing: Saiful Amien, M. Pd

Disusun Oleh Kelompok 4:

NASRAN ADZIDZAH HAMZAH 201410010311062

RENDY ORCHIDA TRIHANI 201410010311064

FAHMI HUSAINI 201410010311065

NURUL APRILIA 201410010311066

INNAYATURRAHMANIYA 201410010311067

RIZKI PUTRI AYU MUSLIMAH 201410010311068

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JURUSAN TARBIYAH

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2015

(2)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahiim, segala puji dan syukur bagi Allah SWT yang telah memberikan kemampuan, kekuatan, serta keberkahan baik waktu, tenaga, maupun pikiran kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Blended Learning” tepat pada waktunya.

Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang berperan membantu dalam pembuatan makalah ini, semoga Allah SWT senantiasa memberi kemudahan dan kelancaran dalam segala urusan.

Makalah ini penulis buat untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen pembimbing mata kuliah ICT, Bapak Saiful Amien, M. Pd. Selain memenuhi tugas tersebut, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi khalayak pembaca pada umumnya dan penulis khususnya.

Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada penulisan makalah ini. Maka dari itu, saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan dari pembaca sekalian. Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Aamiin Yaa Rabbal’aalamiin.

(3)

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR...i DAFTAR ISI ... ii BAB I...1 PENDAHULUAN...1 1.1 Latar belakang... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 2 1.3 Tujuan Penulisan ... 2 BAB II ... 3 PEMBAHASAN ... 3

2.2 Konsep Blended Learning ... 3

2.2 Karakteristik Blended Learning ... 4

2.3 Model Blended Learning ... 6

2.4 Kelebihan dan Kekurangan Blended Learning ... 6

2.5 Penerapan Blended Learning...7

BAB III ... 9

PENUTUP... 9

3.1 Kesimpulan ... 9

(4)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dewasa ini, perkembangan kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) berlangsung sangat pesat, sehingga pantaslah para ahli menyebut gejala ini sebagai revolusi. Sekalipun kemajuan tersebut masih dalam proses berjalan, sejak sekarang sudah dapat diperkirakan akan terjadi berbagai perubahan dibidang informasi maupun bidang-bidang kehidupan lain yang berhubungan, sebagai implikasi dari perkembangan tersebut. Perubahan-perubahan yang akan dan sedang terjadi, terutama disebabkan oleh potensi dan kemampuan TIK yang memungkinkan manusia untuk saling berhubungan dan memenuhi kebutuhan mereka akan informasi hampir tanpa batas. Dalam berhubungan satu dengan yang lain terdapat beberapa keterbatasan yang dialami, seperti faktor jarak, waktu, jumlah, kapasitas, kecepatan, dan lain-lain, kini dapat diatasi dengan dikembangkannya berbagai teknologi informasi dan komunikasi mutakhir. Dengan menggunakan satelit misalnya hampir tidak ada lagi batas, jarak, dan waktu untuk menjangkau khalayak yang dituju dimanapun dan kapanpun. McLuhan (1965) mengemukakan pendapatnya bahwa teknologi baru menjanjikan kepada umat manusia akan terbentuknya “jendela dunia”, dan teknologi informasi dan komunikasi baru akan membentuk “desa dunia”. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa teknologi informasi dan komunikasi baru membuat dunia semakin “kecil”.1

Mukhopadhyay M (1995) berpendapat bahwa pengaruh teknologi informasi dan komunikasi dalam dunia pendidikan semakin terasa sejalan dengan adanya pergeseran pola pembelajaran dari tatap muka yang konvensional kearah pendidikan yang lebih terbukan dan bermedia. Dengan adanya perkembangan teknologi informasi dalam bidang pendidikan, maka pada saat ini sudah dimungkinkan untuk diadakan belajar jarak jauh dengan menggunakan media internet untuk menghubungkan mahasiswa dengan dosennya, melihat mahasiswa secara online, mengecek keuangan, melihat jadwal kuliah, mengirimkan berkas tugas yang dikirimkan tugas dan lain sebagainya.2

1 Rusman dkk, Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi, (Jakarta: PT RajaGrafindo

Persada, 2012). Hal. 239

(5)

Pembelajaran konvensional tidak lagi sepenuhnya dapat diandalkan, Namun ditangan kemajuan saat ini diperlukan variasi metode yang memberikan kesempatan untuk belajar dengan memanfaatkan aneka sumber, tidak hanya dari main power seperti halnya guru. Pembelajaran yang dibutuhkan adalah dengan memanfaatkan unsur teknologi informasi dengan tidak meninggalkan pola bimbingan langsung dari pengajar dan pemanfaatan sumber belajar yang lebih luas. Konsep ini sering diistilahkan dengan pencampuran antara blended e-learning dengan konvensional sehingga disebut dengan

blended learning.3

Pada era teknologi saat ini, hampir semua aktivitas manusia membutuhkan bantuan perangkat canggih yang dapat dengan mudah membantu aktivitasnya. Hal ini tentu mengisyaratkan kepada para pendidik maupun calon pendidik agar mampu menerapkan cara belajar dengan pemanfaatan teknologi yang mutakhir. Artinya, pendidik atau calon pendidik harus bisa dan paham akan teknologi agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Oleh karena itu, makalah ini menyajikan bagaimana menggunakan dan mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran melalui konsep blended learning. Pembahasan lebih jauh mengenai blended learning, akan dibahas dalam bab II pada makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana Pengertian Blended Learning? 2. Apa Karakteristik Blended Learning? 3. Apa Model Blended Learning?

4. Apa Kelebihan dan Kekurangan Blended Learning? 5. Bagaimana Penerapan Blended Learning ?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Memahami Pengertian Blended Learning

2. Memahami Karakteristik Blended Learning

3. Memahami Model Blended Learning

4. Memahami Kelebihan dan Kekurangan Blended Learning

5. Memahami Penerapan Blended Learning

3 Ibid., hal. 242

(6)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Konsep Blended Learning

Secara etimologi istilah Blended Learning terdiri dari dua kata yaitu blended dan learning. Kata blend berarti “campuran, bersama untuk meningkatkan kualitas agar bertambah baik” (Collins Dictionary), atau formula suatu penyelarasan kombinasi atau perpaduan (Oxford English Dictionary) (Heinze and Procter, 2006 (dalam buku pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi). Sedangkan learning memiliki makna pola pembelajaran yang mengandung unsur pencampuran, atau penggabungan antara satu pola dengan pola lainnya. Apa yang dicampurkan? Elenena Mosa (2006) menyampaikan bahwa yang dicampurkan adalah dua unsur utama, yakni pembelajaran di kelas (classroom lesson) dengan online learning.4

Gambar 1.1 (Sumber: http://www.elearningserv.com)

Garrison dan Vaughan (2008) mendefinisikan yang dikutip oleh Francine S.Glazer, “Blended learning adalah proses pembelajaran campuran tatap muka dengan

online, sehingga menjadi pengalaman belajar yang unik. Menurut Josh Bersin, “Blended learning merupakan pembelajaran secara tradisional yang dilengkapi media elektronik/media teknologi”.5

Sedangkan menurut Catlin R.Tucker, “Blended learning merupakan satu kesatuan yang kohesif (berpadu/melekat), maksudnya adalah memadukan atau menggabungkan pembelajaran tradisional tatap muka dengan komponen online”.6

4 Ibid., hal 242

5 Francine S.Glazer, Blended Learning, (Virginia: Stylus Publishing, 2012), hal. 1.

(7)

Selanjutnya menurut Kaye Thorne dan David Mackey, blended learning

merupakan pembelajaran campuran yang memanfaatkan teknologi multimedia, CD-rom, voice-mail, e-mail, video streaming, dan lain sebagainya. Dari definisi tersebut maka blended learning dapat diartikan sebagai suatu pembelajaran yang menggabungkan atau mengombinasikan pembelajaran tatap muka (face to face) dengan media TIK, seperti komputer (online maupun offline), multimedia, kelas virtual, internet dan sebagainya.7

2.2 Karakteristik Blended Learning

Adapun karakteristik dari blended learning yaitu:

a) Pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pembelajaran, gaya pembelajaran, serta berbagai media berbasis teknologi yang beragam.

b) Sebagai sebuah kombinasi pembelajaran langsung (face to face), belajar mandiri, dan belajar mandiri via online.

c) Pembelajaran yang didukung oleh kombinasi efektif dari cara penyampaian, cara mengajar dan gaya pembelajaran.

d) Guru dan orangtua peserta belajar memiliki peran yang sama penting, guru sebagai fasilitator, dan orangtua sebagai pendukung.8

Pembelajaran berbasis blended learning dimulai sejak ditemukan komputer, walaupun sebelum itu juga sudah terjadi adanya kombinasi (blended). Terjadinya pembelajaran, awalnya karena adanya tatap muka dan interaksi antara pengajar dan pelajar, setelah ditemukan mesin cetak maka guru memanfaatkan media cetak. Pada saat ditemukan media audio visual, sumber belajar dalam pembelajaran mengombinasi antara pengajar, media cetak, dan audio visual. Namun blended learning muncul setelah berkembangnya teknologi informasi sehingga sumber dapat diakses oleh pembelajaran secara online maupun offline. Saat ini, pembelajaran berbasis blended learning dilakukan dengan menggabungkan pembelajaran tatap muka, teknologi cetak, teknologi audio, teknologi audio visual, teknologi komputer, dan teknologi m-learning (mobile learning). Dalam blended learning terdapat enam unsur yang harus ada, yaitu:

7 IAIN Antasari, Blended Learning, 2015.diakses di

http://idr.iain-antasari.ac.id/12/1/Makalah%20Kelompok%20TI-Kelas%20Khusus.pdf, pada tanggal 20 November 2015 pukul 13:08. hal. 2

8 Novia Gilang, Blended Learning, 2014. diakses dihttp:// noviagilang.blogspot.com/2014/04/makalah-blended-learning.html, pada tanggal 20 November 2015 pukul 15:11

(8)

(1) Tatap Muka, (2) Belajar Mandiri, (3) Aplikasi, (4) Tutorial, (5) Kerjasama, Dan (6) Evaluasi.

1. Tatap Muka

Pembelajaran tatap muka sudah dilakukan sebelum ditemukannya teknologi cetak, audio visual, dan komputer, pengajar sebagai sumber belajar utama.

2. Belajar Mandiri

Dalam pembelajaran berbasis blended learning, akan banyak sumber belajar yang harus diakses oleh peserta didik, karena sumber-sumber tersebut tidak hanya terbatas pada sumber belajar yang dimiliki pengajar atau perpustakaan lembaga pendidikannya saja, melainkan sumber-sumber belajar yang ada di perpustakaan seluruh dunia.

3. Aplikasi

Aplikasi dalam pembelajaran berbasis blended learning dapat dilakukan melalui pembelajaran berbasis masalah, pelajar akan secara aktif mendefinisikan masalah, mencari berbagai alternatif pemecahan, dan melacak konsep, prinsip, dan prosedur yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah tersebut.

4. Tutorial

Pada tutorial, peserta didik yang aktif untuk menyampaikan masalah yang dihadapi, seorang pengajar akan berperan sebagai tutor yang membimbing. Meskipun aplikasi teknologi dapat meningkatkan keterlibatan pelajar dalam belajar, peran pengajar masih diperlukan sebagai tutor.

5. Kerjasama

Keterampilan kolaborasi harus menjadi bagian penting dalam pembelajaran berbasis blended learning. Hal ini tentu berbeda dengan pembelajaran tatap muka konvensional yang semua peserta didik belajar di dalam kelas yang sama di bawah pengawasan pengajar. Sedangkan dalam pembelajaran berbasis blended, maka peserta didik bekerja secara mandiri dan berkolaborasi

6. Evaluasi

Evaluasi pembelajaran berbasis blended learning tentunya akan sangat berbeda dibanding dengan evaluasi pembelajaran tatap muka. Evaluasi harus didasarkan pada proses dan hasil yang dapat dilakukan melalui penilaian evaluasi kinerja belajar pelajar berdasarkan portofolio. Demikian pula penilaian perlu melibatkan bukan hanya otoritas pengajar, namun perlu ada penilaian diri oleh pelajar.

(9)

2.3 Model Blended Learning

Dalam Blended Learning secara umum terdapat 6 model, yaitu: 1. Face-to-Face Driver

Melibatkan siswa tidak hanya sekedar tatap muka di ruang kelas atau laboratorium, melainkan melibatkan siswa dalam kegiatan di luar kelas dengan mengintegrasikan teknologi web secara online.

2. Rotation

Mengintegrasikan pembelajaran online sambil bertatap muka di dalam kelas dengan pengawasan guru atau pendidik.

3. Flex

Memanfaatkan media internet dalam menyampaikan pembelajaran kepada siswa. Dalam hal ini siswa dapat membentuk kelompok diskusi.

4. Online Lab

Pembelajaran yang berlangsung di dalam ruang laboratorium komputer dengan semua materi pembelajaran di sediakan secara softcopy, dimana para peserta berinteraksi dengan guru secara online. Dalam hal ini guru dibantu oleh pengawas agar disiplin dalam belajar tetap terjaga.

5. Self Blend

Dalam hal ini siswa mengikuti kursus online, hal ini sebagai pelengkap kelas tradisional yang dilakukan tidak harus di dalam ruang kelas akan tetapi bisa di luar kelas.9

6. Online Driver

Merupakan pembelajaran secara online, dimana dalam hal ini seorang guru bisa mengupload materi pembelajaran di internet, sehingga dapat mendownload/ mengunduhnya dari jarak jauh agar siswa bisa belajar mandiri di luar kelas dan dilanjutkan dengan tatap muka berdasarkan waktu yang telah disepakati.

2.4 Kelebihan dan Kekurangan Blended Learning

Adapun kelebihan blended learning adalah: a) Hemat waktu

b) Hemat biaya,

c) Pembelajaran lebih efektif dan efisien,

(10)

d) Peserta mudah dalam mengakses materi pembelajaran,

e) Peserta didik leluasa untuk mempelajari materi pelajaran secara mandiri, f) Memanfaatkan materi-materi yang tersedia secara online,

g) Peserta didik dapat melakukan diskusi dengan guru atau peserta didik lain di luar jam tatap muka,

h) Pengajar tidak terlalu banyak menghabiskan tenaga untuk mengajar, Menambahkan materi pengayaan melalui fasilitas internet,

i) Memperluas jangkauan pembelajaran/pelatihan,

j) Hasil yang optimal serta meningkatkan daya tarik pembelajaran, dan lain sebaginya.

Adapun kekurangan dari blended Learning:

a) Sulit diterapkan apabila sarana dan prasarana tidak mendukung, b) Tidak meratanya fasilitas yang dimiliki peserta,

c) Akses internet yang tidak merata di setiap tempat, dan lain sebagainya.10

2.5Penerapan Blended Learning

Blended e-Learning kini banyak digunakan oleh para penyelenggara pendidika terbuka dan jarak jauh. Kalau dahulu hanya Universitas Terbuka yang diizinkan menyelengarakan pendidikan jarak jauh, maka kini dengan terbitnya Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional NO.107/U/2001 (2 juli 2001 ) tentang‘penyelenggaraan

program pendidikan tingi jarak jauh’, maka perguruan tinggi tertentu yang mempunyai kapasitas menyelenggarakan pendidikan terbuka dan jarak jauh mengunakan blended e-learning, juga telah diizinkan penyelenggaraanya.11

Materi pengajaran dan pembelajaran yang disampaikan melalui media ini mempunyai teks, grafik, animasi, simulai, audio, dan video. Perbedaan pembelajaran tradisional dengan blended e-learning yaitu ‘tradisional’, guru dianggap sebagai orang yang serba tahu dan ditugaskan untuk menyalurkan ilmu pengetahuan kepada pelajarnya. Sedangkan di dalam pembelajaran ‘blended e-learning’ fokus utamanya adalah pelajar. Pelajar mandiri pada waktu tertentu dan bertanggung jawab untuk pembelajarannya.

Penerapan Blended Learning dalam pendidikan dasar dan menengah tidak begitu dibutuhkan jika penerapannya disamakan dengan penerapan Blended Learning di Perguruan Tinggi. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan pendekatanan dan metode

10 IAIN Antasari, Op Cit., hal. 5-6 11 Rusman dkk, Op Cit., hal. 249

(11)

pendidikan terutama di perguruan tinggi yang melaksanakan pendidikan jarak jauh. Pada pelaksanaan pendidikan dasar dan menengah, harus menerapkan tatap muka dalam pembelajarannya, akan tetapi bukan berarti dalam pendidikan dasar dan menengah tidak dapat menerapkan Blended Learning. Pada pendidikan dasar dan menengah juga dapat menerapkan Blended Learning, hanya saja secara teknis pelaksanaan pembelajaran tidak dapat disamakan dengan pelaksanaan pembelajaran di perguruan tinggi yang melaksanakan pembelajaran jarak jauh.

Proses pembelajaran Blended Learning ini dibutuhkan pada saat penyampaian atau pemberian materi pelajaran, pemberian tugas hingga penugasan-penugasan kepada peserta didik yang dilaksanakan di luar jam sekolah.

Blended Learning dibutuhkan pada saat :

 Proses belajar mengajar tidak hanya tatap muka, namun menambah waktu pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi internet.

 Mempermudah dan mempercepat proses komunikasi non-stop antara pendidik dan siswa.

 Siswa dan pendidik dapat diposisikan sebagai pihak yang belajar.

 Membantu proses percepatan pendidikan yang salah satunya dengan menerapkan

flip classroom yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi.12

12 Wendhie Prayitno, Implementasi Blended Learning dalam Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Menengah, 2015, diakses di http://lpmpjogja.org, pada tanggal 20 November 2015 pada pukul 13:20

(12)

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Model blended learning merupakan kombinasi dari beberapa pendekatan pembelajaran yaitu pembelajaran conventional berupa tatap muka dan e-learning yang berbasis internet. Dalam pembelajaran ‘blended e-learning’ fokus utamanya adalah pelajar. Pelajar mandiri pada waktu tertentu dan bertanggung jawab untuk pembelajarannnya. Suasana pembelajaran ‘blended e-learning’ akan ‘memaksa’ pelajar memainkan peranan yang lebih aktif dalam pembelajarannya.

Adapun karakteristik dari blended learning yaitu:

a) Pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pembelajaran, gaya pembelajaran, serta berbagai media berbasis teknologi yang beragam.

b) Sebagai sebuah kombinasi pembelajaran langsung (face to face), belajar mandiri, dan belajar mandiri via online.

c) Pembelajaran yang didukung oleh kombinasi efektif dari cara penyampaian, cara mengajar dan gaya pembelajaran.

d) Guru dan orangtua peserta belajar memiliki peran yang sama penting, guru sebagai fasilitator, dan orangtua sebagai pendukung

Pelajar membuat perancangan dan mencari materi dengan usaha, dan inisiatif sendiri. Adapun model-model pembelajaran: (1) Face-to-Face Driver, (2) Rotation, (3)

Flex, (4) Online Lap, (5) Self Blend, (6) Online Driver.Blended learning juga memiliki berbagai kelebihan dan kekurangan yang mana hal itu telah disampaikan pada makalah di atas.

Penerapan Blended Learning, yang mana metode itu tidak begitu dibutuhkandalam pendidikan dasar dan menengah jika penerapannya disamakan dengan penerapan

Blended Learning di Perguruan Tinggi. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan pendekatanan dan metode pendidikan terutama di perguruan tinggi yang melaksanakan pendidikan jarak jauh. Pada pelaksanaan pendidikan dasar dan menengah, harus menerapkan tatap muka dalam pembelajarannya, akan tetapi bukan berarti dalam pendidikan dasar dan menengah tidak dapat menerapkan Blended Learning. Pada pendidikan dasar dan menengah juga dapat menerapkan Blended Learning, hanya saja secara teknis pelaksanaan pembelajaran tidak dapat disamakan dengan pelaksanaan pembelajaran di perguruan tinggi yang melaksanakan pembelajaran jarak jauh.

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Catlin R.Tucker, 2012. Blended Learning in Grades 4–12. London: Corwin Press Francine S.Glazer. 2012. Blended Learning. Virginia: Stylus Publishing

Gilang, Novia. 2014. Blended Learning. diakses dihttp://noviagilang.blogspot.com/2014/04/

makalah-blended-learning.html, pada tanggal 20 November 2015 pukul 15:11

IAIN Antasari. 2015. Blended Learning. diakses di http://idr.iainantasari.ac.id/12/1/Makalah %20Kelompok%20TI-Kelas%20Khusus.pdf. pada tanggal 20 November 2015 pukul 13:08

Prayitno, Wendhie. 2015. Implementasi Blended Learning dalam Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Menengah. diakses di http://lpmpjogja.org, pada tanggal 20 November 2015 pada pukul 13:20

Rusman, dkk. 2012. Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

Figur

Memperbarui...

Related subjects :