AKHLAK DAN KEPEMIMPINAN
Pengantar
Pada dasarnya, istilah akhlaq menunjukan pada sejumlah sifat tabiat yang fitri (asli) dan sejumlah sifat yang diusahakan manusia. Maka, sifat fitriyah akhlak ini memiliki dua bentuk; yakni bersifat batiniyah (kejiwaan) dan zaghiriyah yang terwujud dalam perilaku. Oleh karena itu, baik yang ikhtiyari maupun fitriyah, tergambarkan dalam perilaku seseorang. Baik buruknya perilaku seseorang seringkali dihubungkan dengan masalah moral dan pengetahuannya tentang hukum.
Dalam Islam, moral dan hukum cenderung saling melengkapi. Setiap tindakan yang membahayakan pelakunya atau orang-orang lainnya adalah imoral, dan karenanya bertentangan dengan jiwa hukum Islam. Dan, di mata hukum, semua orang sama. Tidak seorang pun kebal terhadap hukum, sebagaimana telah dicontohkan dalam sejarah Islam bahwa para penguasa mendapat perlakuan hukum yang persis sama dengan yang diterima oleh rakyatnya. Dalam kontek inilah, maka dalam proses pembinaan masyarakat, peran kepemimpinan dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai moral yang bersumberkan kepada akhlaq Rasulullah mutlak diperlukan.
Prinsip dasar Perilaku akhlaqi
Ada beberapa prinsip dasar akhlak yang harus dimiliki para pemimpin sekaligus menjadi pilar dalam proses kepemimpinannya, yaitu: Pertama, kebebasan dalam bertindak dengan memiliki sikap dan tanggung jawab. Prinsip akhlak ini merupakan yang paling menonjol dalam Islam. Manusia bebas melakukan tindakan-tindakannya, ia mempunyai kehendak untuk berbuat dan tidak berbuat sesuatu, Ia merasa bertanggung jawab terhadap semua yang dilakukannyua dan harus menjaga apa yang dihalalkan dan diharamkan Allah. Oleh karena itulah, semua urusan keagamaan seseorang selalu disandarkan pada tanggung jawab pribadi ini.
Kedua, bersikap adil dan ihsan; keduanya merupakan sifat yang menghimpun sifat-sifat yang baik yang mencakup seluruh kebaikan. Oleh karena itu, setiap muslim dituntut untuk merwujudkan keadilan dalam semua ucapan dan perbuatannya, merealisasikan keadilan terhadap dirinya sendiri dan terhadap orang lain, berbuat adil kepada orang lain baik yang bersnagkutan itu jauh darinya maupun berada dihadapannya. Adil berurusan antara manusia dengan manusia dan antara manusia dengan Tuhannya. Dalam pengertian ini, adil itu tiada lain mengutamakan hak Allah dari kepentingan diri sendiri dan mendahulukan
keridhaanNya daripada mengikuti hawa nafsunya, menjauhi apa yang dilarang oleh Allah dan menjalankan perintahNya.
Sedangkan yang dimaksudkan adil terhadap dirinya sendiri ialah menghalangi segala sesuatu yang dapat mencelakaknnya. Memadamkan rasa tamak dan rakus, sebaliknya bersikap qana’ah dalam segala situasi dan kondisi. Adapun adil terhadap sesama manusia adalah suka memberi nasehat, tidak mengkhianatinya, baik sedikit maupun banyak, memenuhi haknya dengan baik, tidak menyakiti sesama baik dengan perkataan maupun perbuatannya, dan bersabar atas cobaan yang dating dari mereka kepadamu, paling tidak engkau harus menyadarinya dan tidak membalas menyakitinya”.
Sedangkan yang dimaksudkan dengan ihsan dapat dilihat dari dua bentuk, yaitu: 1) ihsan dalam bentuk ibadah seperti memperbaiki ibadah, mencermatinya, dan menunaikannya dalam bentuknya yang sempurna dan benar sebagaimana yang diajarkan Rasulullah saw, serta selalu merasa diawasi Allah dalam setiap tindakannya. 2) ihsan kepada sesama manusia, dalam pengertian bahwa kita menyampaikan kepada mereka apa yang bermanfaat bagi mereka di dunia dan di akherat selama kita mampu melakukannya. Ihsan tidak hanya dilakukan kepada manusia, tetapi juga ihsan dilakukan kepada semua makhluk ciptaan Allah. Ketiga; mencegah perbuatan fahsya’, munkar, dan baghyu. Yang dimaksud dengan fahsya’ adalah semua keburukan dan kekejian berupa perkataan atau perbuatan; sedangkan munkar adalah segala sesuatu yang diingkari oleh syara’ dengan ditetapkan larangan terhadapnya, dan munkar itu mencakup semua kemaksiatan serta kehinaan. Adapun yang dimaksud dengan al-baghyu ialah kibr (sombong), zhulm (zalim), hiqd (dendam), dan perbuatan melampaui batas. Al-Baghyu merupakan kemaksiatan yang paling buruk dan paling besar madaratnya bagi orang lain. Nilai-nilai akhlak yang menjadi pilar utama dalam membangun masyarakat Muslim itu adalah menjadi milik dan ciri khas umat Islam, yang memang tidak dijumpai dalam agama dan peraturan mana pun.
Untuk itu, kepemimpinan yang berakhlaqi dapat menjadi motivasi utama umat untuk menjadi “umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia”. Predikat yang dapat memberikan kekuatan dan daya gerak kepada mereka, sehingga bisa eksis ditengah-tengah manusia dan menyeru mereka ke jalan Allah. Ketiga pilar akhlak itulah yang harus menjadi benteng bagi kepemimpinan umat. Ketiga pilar ini pula yang dapat menjadi filter dari pengaruh-pengaruh buruk yang muncul dan terjadi ditengah-tengah masyarakat yang semakin hari semakin berkembang, baik budayanya maupun kehidupan sosial lainnya.
Kepemimpinan Akhlaqi dan Dinamika (budaya) Masyarakat
Suatu budaya tertentu pasti hidup di suatu masyarakat tertentu pula. Antara masyarakat dan budaya keduanya saling mengisi. Masyarakat yang beragam dan dinamis, menunjukkan budayanya pun beragam dan dinamis pula. Oleh karena itu, proses tranformasi budaya yang berlangsung di masyarakat sudah barang tentu menjadi proses multi dimensional. Paling tidak, berlangsungnya transformasi budaya yang terjadi dapat di lihat dari dua sisi: Pertama; pada satu sisi transformasi itu adalah transformasi dari lingkungan budaya yang berorientasi kepada “masyarakat kesukuan” menuju suatu lingkungan budaya yang berorientasai kepada “masyarakat negara kebangsaan”. Pada beberapa masyarakat atau negara yang baru mnembebaskan diri dari penjajahan, proses transformasi ini menjadi pilihan utamanya. Sebab, kekejaman dan ketidakadilan penjajah telah mendorong untuk memerdekakan diri dengan meninggalkan status quo budaya kwesukuan dan mewnggantinya dengan suatu lingkungan budaya yang lebih luas dan tangguh yakni suatu budaya “negara kebangsaan”.
Kedua; pada sisi yang lain transformasi budaya itu adalah dari budaya “masyarakat pertanian” menuju ke budaya “masyarakat pasca-pertanian”. Proses ini merupakan konsekuensi dari pilihan pertama. Memilih menjadi suatu negara kewbangsaan adalah tidak saja bersedia membuka batas-batas berbagai lingkungan budaya masyarakat kesukuan yang pertanian, akan tetapi juga bersedia membuka semua batas lingkungan budaya negara kebangsaan asing yang “industri maju”. Dalam kenyataan hidup seharai-hari, kedua macam transformasi itu saling timpang tindih dan saling isi mengisi.
Bagi seorang pemimpin khususnya, dan masyarakat pada umumnya, yang menjadi masalah bukanlah hidup itu sendiri, tetapi bagaimana proses menjalani hidup dan kehidupannya, termasuk didalamnya apa yang menjadi tujuannya. Oleh karena itu sejak pertama kali dilahirkan ke alam dunia, Islam telah mengajarkan tentang arti dan tujuan hidup di dunia. Oleh karena seorang Muslim atau beberapa orang dalam sebuah komunitas Muslim berusaha untuk mengisi kehidupan ini dengan cara dan proses yang bernilai sesuai dengan tujuan Islam dalam membangun sebuah masyarakat Muslim.
Untuk memenuhi dan mengisi kehidupan itu diperlukan pranata-pranata sebagai suatu media dan ukuran-ukuran dalam pencapaian tujuan. Semua ahli bersepakat bahwa pranata adalah cara perilaku yang mapan. Tetapi, pranata juga dapat melibatkan aspek material, seperti gedung dan organisasi yang dikaitkan kepadanya. Dapat juga dikatakan bahwa pranata merupakan bentuk prosedur atau kondisinya yang mapan, yang menjadi karakteristik suatu masyarakat. Pranata juga merupakan kompleks luas norma-norma yang
dibangun masyarakat dalam suatu cara yang teratur mengurusi apa yang dipandang sebagai kebutuhan masyarakat yang fundamental. Dihubungkan dengan nilai Islam, maka pranata keislaman adalah pranata yang dapat dipandang sebagai perwujudan atau cerminan nilai-nilai keislaman.
Dalam proses kepemimpinan yang berakhlaqi, Islam mengajarkan prinsip-prinsip kemanusiaan, atau mengatur hubungan antar manusia. Prinsip-prinsip itu antara lain: Pertama, Islam pada essensinya memandang manusia dan kemanusiaan secara sangat positif dan optimis. Menurut Islam, manusia berasal dari satu asal yang sama; keturunan Adam dan Hawa. Tetapi kemudian manusia menjadi bersuku-suku, berkaum-kaum atau berbangsa-bangsa lengkap dengan kebudayaan dan peradaban khas masing-masing. Semua perbedaan ini mendorong manusia untuk saling kenal-mengenal dan menumbuhkan apresiasi dan respek satu sama lain.
Dalam pandangan Islam, perbedaan itu, bukanlah warna kulit dan bangsa, tetapi hanyalah tergantung pada tingkat ketaqwaan masing-masing. Inilah yang menjadi dasar perspektif Islam tentang “kesatuan umat manusia” (universal humanity), yang pada gilirannya akan mendorong berkembangnya solidaritas antar manusia (ukhuwah insaniyah). Kedua, dalam perspektif Islam, manusia dilahirkan dalam keadaan suci (fithrah). Dengan fitrahnya setiap manusia dianugerahi kemampuan dan kecenderungan bawaan untuk mencari, mempertimbangkan dan memahami kebenaran, yang pada gilirannya akan membuatnya mampu mengakui Tuhan sebagai sumber kebenaran tersebut. Kemampuan dan kecenderungan inilah disebut sebagai “sikap hanif”. Atas dasar prinsip ini, Islam menegaskan prinsipnya bahwa setiap manusia adalah homo religious.
Di dalam al-Qur’an, manusia hanif itu diidentifikasikan dengan Nabi Ibrahim yang dalam pencarian kebenaran pada akhirnya menemukan Tuhan yang sejati. Menurut yang saya ketahui, Ibrahim dipandang sebagai tiga panutan agama: Yahudi, Kristen dan Islam, sehingga dikalangan ahli Ilmu Perbandingan Agama disebut sebagai “agama Abrahamik” (Abrahamic Religions).
Berkaitan dengan proses pengembangan kemasyarakatan ini, yang paling menonjol adalah bahwa masyarakat dituntut oleh syari’at untuk mencegah ahli kemunkaran dan perbuatan munkar. Kalau masyarakat tidak melaksanakannya maka mereka berdosa.
Dengan demikian, maka masyarakat yang dimaksud adalah masyarakat yang memiliki ciri-ciri tertentu, yaitu penduduknya beriman dan didalamnya terdapat mekanisme kelembagaan yang bisa berfungsi melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Dengan demikian,
masyarakat yang ingin dikembangkan adalah masyarakat yang berpatokan pada prinsip-prinsip Islam, suatu masyarakat beriman dan beretika.
Masyarakat etis yang digambarkan al-Qur’an adalah masyarakat yang berproses menuju dan memiliki kecenderungan pada nilai-nilai keutamaan (khayr), yang landasannya iman tawhid dalam melaksanakan amr ma’ruf nahi munkar. Maka, filsuf muslim Abad Pertengahan, al-Farabi, menamakan masyarakat dengan ciri-ciri itu sebagai al-Madinat alFadlilah (masyarakat utama), dan al-Qur’an menyebutnya dengan tiga macam nama, yaitu : Khayr Ummah atau masyarakat terbaik; Ummah Wasath (Masyarakat Pertengahan atau Masyarakat yang seimbang); dan Ummah Muqtashidah (Masyarakat Moderat atau Pertengahan).
Fazlur Rahman menafsirkan istilah “pertengahan” itu sebagai pertengahan antara etika Yahudi yang terlalu legal-formal sehingga cenderung terlalu keras, dan etika Kristiani yang terlalu spiritual dan lembah lembut. Oleh karena itu, seorang pemimpin yang berhasil adalah yang bisa berdiri di tengah-tengah dan bersikap moderat. Menurut istilah Ibnu Taymiyah, masyarakat itu memiliki al-aqidat al-wasithiyah atau etos moderat. [Reza]
PUSTAKA
Nata, Abuddin. Akhlak Tasawuf. Jakarta: Rajawali pres. 2012. Amin, Ahmad. Ilmu akhlak. Jakarta: Bulan bintang. 1995.
Fakhry, Majid. Etika Dalam Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offsed. 1996
Jujun S Suriasumantri dalam, Esti Ismawati, 2012. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Yogyakarta: Ombak. Hlm 100