• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar 1. Peta Sebaran Penyuluh Perikanan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Gambar 1. Peta Sebaran Penyuluh Perikanan"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

KERAGAAN PENYULUH PERIKANAN INDONESIA UNTUK MENDUKUNG PEMBANGUNAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

Tidak dapat dipungkiri peran penting penyuluh perikanan untuk memajukan pembangunan kelautan dan perikanan khususnya di tingkat lapangan. Penyuluh perikanan merupakan orang terdepan yang setiap waktu berinteraksi dengan pelaku utama dan pelaku usaha KP. Wilayah Indonesia yang terdiri atas 2/3 laut dengan letak geografis unik dan luas, disisi lain merupakan karunia Tuhan Yang Maha Kuasa dengan berbagai potensi kelautan dan perikanan yang perlu dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Pada sisi lain, kondisi ini menuntut kuantitas dan kualitas penyuluh perikanan Indonesia yang memadai untuk melayanan penyuluhan. Masyarakat kelautan dan perikanan yang tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia tentunya membutuhkan pelayanan penyuluhan untuk memajukan usaha mereka ke arah yang lebih baik. Pertanyaannya, bagaimana keragaan penyuluh perikanan Indonesia saat ini, apakah dari segi jumlah sudah memadai? Bagaimana dengan kualitas dan lainnya sebagainya?

Berdasarkan data Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (SIMLUHKP) sampai akhir bulan Agustus 2013, jumlah penyuluh perikanan di Indonesia berjumlah 9.729 orang. Jumlah penyuluh perikanan PNS berjumlah 3.385 orang, CPNS berjumlah 84 orang, PPTK berjumlah 1398 orang, dan penyuluh perikanan swadaya berjumlah 4.862 orang. Penyuluh perikanan dengan jumlah terbanyak terdapat pada Provinsi Jawa Tengah (907 orang), sedangkan jumlah perikanan paling sedikit terdapat pada Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (74 orang) (Gambar 1 dan 2).

(2)

ambar 1. Peta Sebaran Penyuluh Perikanan .

Gambar 2. Penyuluh Perikanan Berdasarkan Jenis Penyuluh

Berdasarkan Grafik di atas, menunjukan jumlah penyuluh perikanan swadaya lebih banyak dibandingkan penyuluh perikanan PNS/CPNS dan PPTK. Hal ini dikarenakan jumlah penyuluh perikanan PNS yang berkurang karena pensiun, pindah menjadi struktural dan pada beberapa tahun terakhir tidak ada rekrutmen PNS termasuk penyuluh perikanan. Beberapa daerah seperti di Provinsi Bangka Belitung, Kepulauan Riau dan daerah lainnya telah berupaya merekrut penyuluh perikanan tenaga kontrak dari dana APBD Provinsi dan Kab/kota sebagai alternatif solusi untuk menyediakan tenaga penyuluh perikanan di lapangan.

Penyuluh perikanan swadaya adalah orang yang mau dan mampu untuk melaksanakan kegiatan penyuluhan perikanan. Penyuluh perikanan swadaya umumnya pembina dan pengurus kelompok. Penyuluh perikanan PNS di lapangan selalu bersinergi dengan penyuluh swadaya dalam mengembangkan perikanan.

Penyuluh Perikanan Berdasarkan Jabatan Fungsional

Jumlah penyuluh perikanan terampil (Pemula, Pelaksana, Pelaksana Lanjutan, Penyelia) yaitu sebesar 1.075, sedangkan untuk jumlah penyuluh perikanan ahli (Pertama, Muda, Madya, Utama) yaitu 1.708 penyuluh. Pada Grafik dibawah ini menjelaskan bahwa jumlah penyuluh perikanan ahli paling banyak dengan dengan jabatan fungsional pertama yaitu mencapai 1.043 orang (61,06%) dan untuk penyuluh perikanan terampil paling banyak dengan jabatan fungsional pelaksana yang berjumlah 340 orang (31,62 %).

Dari grafik ini, menunjukan bahwa jumlah penyuluh perikanan jenjang terampil lebih sedikit dibandingkan penyuluh perikanan ahli. Secara umum jenjang jabatan fungsional idealnya berbentuk piramid dimana jenjang ahli relatif sedikit dibandingkan jenjang terampil. Tetapi karena jumlah penyuluh perikanan PNS masih jauh dari memadai maka perlu upaya

(3)

peningkatan jumlah penyuluh perikanan PNS baik terampil dan ahli agar mencapai taraf ideal.

Gambar 3. Penyuluh Perikanan Berdasarkan Jabatan Fungsional Penyuluh Perikanan Berdasarkan Usia

Bagaimana keragaan penyuluh perikanan berdasarkan usia? Kondisi lapangan di bidang kelautan dan perikanan khususnya di daerah pesisir dan pulau-pulau menuntut kesiapan fisik yang prima dari penyuluh perikanan di Indonesia. Usia berpengaruh langsung pada kesiapan dan kebugaran penyuluh perikanan dalam melaksanakan kegiatan penyuluh perikanan di lapangan.

Pada Gambar 4 menunjukan jumlah penyuluh perikanan (PNS, CPNS, SWADAYA, dan PPTK) berdasarkan usia. Penyuluh perikanan PNS yang berusia <= 30 berjumlah 820 (24,22 %), sedangkan untuk usia 31-35 berjumlah 550 (16 %), 36-40, 41-45, 46-50, dan 51-55 secara berurut dengan jumlah 371 (10,9 %), 447 (13 %), 572 (16,8%), dan 475 (14%) orang. Jumlah penyuluh perikanan yang berusia >= 56 ,mencapai 150 atau sebesar 4,4 %. Sedangkan jumlah penyuluh perikanan CPNS yang berusia <= 30 berjumlah 47 (55,9 %), sedangkan untuk usia 31-35 berjumlah 22 (26 %), 36-40, 41-45, 46-50, 51-55, dan >=56 secara berurut dengan jumlah 6 (7 %), 4 (4,7 %), 1 (1 %), 1 (1 %) dan 3 orang (3,5 %). Kemudian untuk jumlah penyuluh perikanan tenaga kontrak (PPTK) berdasarkan usia yaitu usia <= 30 berjumlah 1057 (76%), sedangkan untuk usia 31-35 berjumlah 254 (18%), 36-40, 41-45, 46-50, dan >=56 secara berurut dengan jumlah 61 (4%), 15 (1%), 3 (0,1%), dan 8 orang (1%). Jumlah penyuluh perikanan swadaya yang berusia <= 30 berjumlah 1620 (33%), sedangkan untuk usia 31-35 berjumlah 614 (13%), 36-40, 41-45, 46-50, 51-55 dan >=56 secara berurut dengan jumlah 732 (15%), 859 (18%), 484 (10%), 260 (5 %) dan 293 orang (6%).

Data di atas menunjukan adanya jumlah penyuluh perikanan PNS diprediksikan berkurang secara drastis beberapa tahun ke depan karena memasuki masa pensiun, disisi lain rekrutmen penyuluh perikanan PNS mengalami stagnasi dalam beberapa tahun terakhir. Untuk itu, upaya rekrutmen penyuluh perikanan PNS oleh pemda perlu dilakukan yang dimulai dengan mengusulkan formasi penyuluh perikanan setiap tahun sampai terpenuhi jumlah penyuluh di masing-masing daerah. Salah satu opsi lain menambah jumlah penyuluh perikanan PNS yaitu dengan alih jabatan bagi staf teknis PNS di daerah yang berlebih untuk menjadi penyuluh perikanan PNS.

(4)

Gambar 4. Penyuluh (PNS, CPNS, SWADAYA dan PPTK) Berdasarkan Usia Penyuluh Perikanan Berdasarkan Keahlian

Gambar 5. menerangkan penyuluh perikanan berdasarkan keahlian. Penyuluh perikanan berdasarkan keahlian terbagi atas keahlian budidaya, penangkapan, pengolahan, manajemen sumberdaya kelautan, ilmu kelautan, ilmu kelautan, penyuluhan, perikanan lainnya dan non perikanan. Penyuluh perikanan (PNS,CPNS, PPTK, dan Swadaya) paling banyak memiliki keahlian bidang budidaya. Jumlah penyuluh perikanan PNS, CPNS, PPTK dan Swadaya dengan keahlian budidaya secara berurut berjumlah 2321 (69 %), 62 (74 %), 861 (62 %), dan 4138 (85%), sedangkan dengan keahlian penangkapan secara berurut berjumlah 219 (6 %), 2 (2 %), 160 (11 %), 410 (8 %). Penyuluh perikanan (PNS, CPNS, PPTK dan Swadaya) dengan keahlian Pengolahan dan Pemasaran berjumlah 202 (6 %), 4 (5 %), 235 (17 %), 203 (4 %). Sedangkan untuk keahlian penyuluhan berjumlah 265 (8 %) untuk penyuluh PNS, 2 (2 %) untuk penyuluh CPNS, penyuluh swadaya berjumlah 3 orang (1%), dan penyuluh perikanan tenaga kontrak berjumlah 53 orang (4 %).

Mengingat perkembangan teknologi KP semakin berkembang, adanya kebutuhan teknologi di lapangan, maka upaya peningkatan kapasitas penyuluh perikanan khususnya teknis perikanan dalam berbagai kegiatan misalnya pelatihan, magang, studi banding ke daerah yang berhasil perlu dilakukan secara bersama-sama melibatkan unit teknis KKP dan pemerintah daerah.

(5)

Gambar 5. Penyuluh Perikanan Berdasarkan Keahlian Penyuluh Perikanan Berdasarkan Pendidikan

Gambar 6. menyatakan penyuluh perikanan berdasarkan pendidikan. Penyuluh perikanan PNS yang memiliki jenjang pendidikan SI/D4 berjumlah 2242 orang (66 %), D3/SM berjumlah 535 (16 %), jenjang pendidikan S2 berjumlah 61 (2%), jenjang pendidikan S3 1 orang dan SLTA berjumlah 529 (156%). Penyuluh Perikanan CPNS dengan jenjang pendidikan S1/D4 berjumlah 62 (74 %), D3/SM berjumlah 12 (14 %), dan SLTA berjumlah 7 (8 %). Sedangkan untuk penyuluh perikanan swadaya dengan jenjang pendidikan S1/D4 berjumlah 1186 (24 %),jenjang pendidikan D3/SM berjumlah 108 (3 %) SLTA berjumlah 3084 (64 %), dan SLTP berjumlah 264 ( 6%). Penyuluh Perikanan Tenaga Kontrak dengan pendidikan S1/D4 berjumlah 1149 (82%), D3/SM berjumlah 241 (17%), sedangkan jenjang pendidikan S2 berjumlah 3 orang (0.1 %) dan SLTA berjumlah 4 orang( 1 %).

Data ini menunjukan bahwa pendidikan penyuluh perikanan cukup memadai. Secara umum dominan pendidikan DIV/S1. Bahkan ada penyuluh perikanan PNS di Maros Sulawesi Selatan sudah menyelesaikan S3 dan bergelar Doktor. Upaya STP Jakarta mulai tahun 2013 membuka program studi penyuluhan perikanan setara S2 (Spesialis) dan juga pada perguruan tinggi lainnya membawa angin segar untuk penyuluh perikanan untuk terus meningkakan pendidikn guna meningkatkan pelayanan penyuluhan kepada masyarakat kelautan dan perikanan.

(6)

Keragaan penyuluh perikanan Indonesia saat ini masih kurang memadai dari segi kuantitas dan kualitas. Upaya-upaya peningkatan kapasitas dan rekrumen penyuluh perikanan perlu terus dilakukan dan dilanjutkan guna mendukung kemajuan pembangunan kelautan dan perikanan khususnya pada tataran akar rumput (gross root).

Gambar

Gambar 1. Peta Sebaran Penyuluh Perikanan
Gambar 2. Penyuluh Perikanan Berdasarkan Jenis Penyuluh
Gambar 3. Penyuluh Perikanan Berdasarkan Jabatan Fungsional
Gambar 4.  Penyuluh (PNS, CPNS, SWADAYA dan PPTK) Berdasarkan Usia  Penyuluh Perikanan Berdasarkan  Keahlian
+2

Referensi

Dokumen terkait

Dimana dalam genius anak tersebut akan dibimbing serta dibina untuk memahami pelajarannya yang mungkin kurang difahami saat berada di sekolah, serta menjadikan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat 32 jenis dan 18 famili vegetasi dasar yang ditemukan pada lahan gambut pasca kebakaran di Desa

Untuk itu diperlukan pengembangan pada sistem tersebut seperti menambahkan menu peminjaman dan pengembalian peralatan praktek, menu peminjaman peralatan praktek oleh

Sebahagian besar penerimaan kanak-kanak terhadap irama adalah berkembang tanpa latihan, tetapi kebolehan untuk mempersembahkannya, menyusunnya menerusi nota muzik

Evaluasi pembelajaran merupakan keharusan yang dilakukan oleh guru atau pendidik. Hal ini dilakukan sebagai hasil proses pembelajaran selama 1 semester, yang terakumulasi

Perkara pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh

Kemudian menurut Porteous (1977) paths dapat dianggap sebagai elemen mental map yang paling utama untuk sebagian besar orang, karena dengan mengamati jalur pergerakan seseorang

Pada usia 18 tahun mereka baru saja menyelesaikan pendidikan SMA dan lepas dari pakaian berseragam sehingga nantinya akan menentukan ciri berpakaian tertentu, prestise dapat