1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Tahun 2019 dunia digemparkan oleh virus Covid-19 yang menyebar begitu cepat dan virus tersebut pertama kali ditemukan di negara China, kota Wuhan pada akhir Desember 2019. Virus tersebut dikenal dengan virus Corona yang bersumber dari hewan seperti kucing, unta, dan kelelawar. Virus Corona kemudian dapat menyebar dari hewan ke manusia, dan menyebar dari manusia ke manusia melalui percikan air liur pengidap saat batuk atau bersin. Setiap orang yang terkena virus memiliki gejala yang berbeda tetapi kebanyakan gejala yang muncul adalah hilangnya penciuman, demam, dan sesak nafas (Anshori M. F., 2020). Mereka yang terkena Covid-19 harus di karantina selama 14 hari dan tidak boleh berkontak langsung dengan orang lain. Wabah Covid-19 tersebut mulai menyebar ke seluruh dunia, khususnya di Indonesia pada bulan Maret 2020. Pandemi Covid-19 membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk membatasi aktivitas masyarakat atau disebut dengan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan peraturan tersebut telah tercatat dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020 (KOMINFO, 2020). Tidak hanya Indonesia tetapi seluruh dunia menerapkan kebijakan seperti PSBB tetapi memiliki perbedaan istilah. Peraturan tersebut dibuat untuk mencegah dan mengurangi penyebaran Covid-19, sehingga semua orang yang bekerja, sekolah, kuliah dan aktivitas di luar rumah harus melaksanakan tanggung jawabnya dirumah masing-masing atau istilah yang dikenal saat ini adalah work from home (KOMINFO, 2020). Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat memudahkan masyarakat untuk bekerja dari rumah, semua orang dapat memanfaatkan gadget, aplikasi virtual, dan teknologi lainnya untuk menyelesaikan pekerjaan atau tugas sekolah dari rumah.
Situasi pada saat pandemi juga berpengaruh pada cara berdiplomasi para diplomat atau pemimpin dunia, dimana sebelumnya kunjungan diplomatik dilakukan secara langsung tetapi munculnya pandemi Covid-19 pertemuan internasional dan pidato dapat dilakukan secara virtual (Wardah F. , 2021). Seperti yang dilakukan oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Ibu Retno Marsudi pada gambar 1.1, melalui postingan media sosialnya, Menlu membagikan pengalamannya mengikuti pertemuan secara virtual. Pembahasan dalam pertemuan tersebut
2
terkait dengan perkembangan isu global yang sedang terjadi dan kebijakan politik luar negeri Indonesia.
Gambar 1. 1 Pertemuan Internasional Secara Virtual Sumber : https://twitter.com/Menlu_RI
Diplomasi merupakan suatu hubungan yang terjadi antara aktor negara dengan negara, dan aktor negara dengan aktor non-negara untuk melakukan dialog atau negosiasi serta menyusun dan melaksanakan kebijakan luar negeri. Diplomasi tidak terlepas dengan kepentingan nasional dan juga bertujuan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan melaporkan informasi tentang negara tuan rumah. Perkembangan teknologi memberi pengaruh pada komunikasi internasional khususnya pada cara berdiplomasi, melalui teknologi digital para aktor dapat memanfaatkannya untuk melacarkan kepentingan nasional seperti mempromosikam kebijakan luar negeri, menciptakan citra negara yang positif dan ikut dalam menanggapi isu-isu internasional (Saudi, 2021). Diplomasi digital merupakan komunikasi dua arah yaitu pemerintah dengan pemerintah dan pemerintah dengan publik asing. Kemampuan diplomasi digital dapat membantu para aktor negara dan aktor non-negara untuk mengelola dinamika internasional, serta mampu mengumpulkan informasi, bernegosiasi, memberi respon, dan melakukan praktek diplomasi dengan menggunakan teknologi digital.
Sebelum pandemi diplomasi digital telah banyak digunakan oleh para diplomat, dapat dilihat diberbagai media massa dan media sosial bahwa banyak pemimpin dunia yang
3
menyampaikan pesan-pesan politik, menyebarkan nilai, budaya dan mempromosikan suatu negara kepada seluruh lapisan masyarakat. Aktor negara menyadari bahwa media sosial memiliki kekuatan yang besar karena dapat mempengaruhi pengetahuan, sikap dan tindakan individu, sehingga media sosial yang kini tidak hanya menjadi komunikasi para individu dari jarak jauh namun bisa menjadi tempat untuk kepentingan para elit politik dalam melakukan komunikasi internasional (Saudi, 2021). Diplomasi digital biasanya dioperasikan oleh Kementrian Luar Negeri suatu negara kemudian mengeksplor cara-cara yang inovatif dalam aktivitas komunikasi internasional, dengan tujuan untuk menarik seluruh kalangan masyarakat. Hal tersebut juga dapat membantu pemerintah menyusun kebijakan luar negerinya dengan melibatkan opini publik dalam suatu isu internasional (Saudi, 2021).
Diplomasi digital menjadi alat untuk memperkenalkan dan membentuk image suatu negara, seperti adanya media massa dan media sosial dapat memberikan masyarakat internasional sebuah pengetahuan atau informasi tentang berbagai negara dunia, sehingga masyarakat internasional dapat menilai serta memberikan opini terkait negara yang mereka lihat melalui media. Media memiliki peran penting dalam pembentukan diplomasi digital khususnya dalam kehidupan berpolitik karena bisa menjangkau dan menyebarluaskan informasi publik dan mampu melewati berbagai batas seperti wilayah, kelompok usia, gender, sosial-ekonomi, serta perbedaan paham dan orientasi (Saudi, 2021). Indonesia menjadi negara yang aktif dalam diplomasi digital, dilihat dari berbagai akun media sosial yang di kelola oleh Menteri Luar Negeri Indonesia yang sering update tentang pertemuan dengan aktor internasional dari berbagai negara, kemudian mempromosikan kebijakan luar negeri, menyapaikan pesan-pesan politik dan isu-isu internasional. Seperti pada gambar 1.2, yang memperlihatkan pertemuan antara aktor- aktor Internasional seperti PBB dan para diplomat yang berdisukusi terkait dengan pentingnya kerjasama antara DK PBB dengan organisasi regional untuk memerangi terorisme global.
Selanjutnya pada gambar 1.3 melalui unggahan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, menyatakan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara yang menanggapi isu internasional antara konflik Afghanistan dan Taliban. Indonesia memberikan komitmennya untuk membantu Afghanistan dalam pemberdayaan perempuan dan pendidikan untuk seluruh warga termasuk perempuan Afghanistan, hal tersebut merupakan bentuk diplomasi Indonesia dengan Afghanistan.
4
Gambar 1. 2 Pertemuan Dengan Aktor Internasional Sumber : https://twitter.com/Kemlu_RI
Gambar 1. 3 Pernyataan Indonesia Dalam Isu Internasional di Afghanistan Sumber : https://twitter.com/Menlu_RI
Penggunaan diplomasi digital di Indonesia telah dimulai setelah reformasi Kementrian Luar Negeri 2002. Namun pada tahun 2016 baru diakui bahwa pentingnya penerepan diplomasi digital yang tercantum dalam Peraturan Menteri Luar Negeri No 2 Tahun 2016, diplomasi digital pada saat itu hanya sebagai dukungan dari media dan juru bicara atau hanya melihat hubungan
5
baik antara Kementrian Luar Negeri dengan media dan publik (Erna Kurniawati, 2020). Tahun 2017 Keputusan Menteri Luar Negeri No 84/B/RO/I/2017/01 direvisi kembali menjadi perubahan peta Strategi dan Indikator Kerja Utama Kementrian Luar Negeri Indonesia, sehingga kegunaan diplomasi digital tidak lagi hanya menjadi alat dalam memberikan informasi tetapi dapat menjadi fungsi yang lebih strategis. Media sosial menjadi wadah yang paling sering digunakan oleh pemerintah Indonesia dalam menjalankan diplomasi digital untuk membangun kesepahaman dan berbagi nilai yang baik dengan masyarakat dalam negara maupun di luar negara. Media sosial yang digunakan oleh Kementrian Luar Negeri Indonesia berupa Facebook, Twitter, dan Youtube (A, 2020), media sosial tersebut merupakan bentuk implementasi Kementrian Luar Negeri Indonesia untuk memperluas jangkauan komunikasi dan kebijakan luar negeri.
Akselarasi teknologi digital sangat dirasakan pada saat Pandemi Covid-19 berlangsung, sehingga diplomasi digital menjadi pemeran utama bagi para diplomat untuk melakukan kerjasama dalam menangani dampak virus Covid-19. Namun pandemi Covid-19 menghambat pertemuan langsung para diplomat untuk melakukan kerjasama sehingga, kekuatan diplomasi digital tidak hanya bergantung pada media sosial tetapi penggunaan aplikasi virtual menjadi jembatan khusus dalam diplomasi digital bagi para pembuat kebijakan untuk mencapai tujuan mereka. Menteri Luar Negeri Indonesia memiliki prioritas kerja diplomasi selama pandemi dan salah satu cara untuk mencapai kepentingan nasionalnya, Indonesia harus melakukan berbagai pendekatan dan kerjasama secara bilateral dan multilateral dengan berbagai negara dan organisasi internasional. Kerjasama tersebut dilakukan dengan berbagai pertemuan yang diikuti oleh Menlu Retno secara virtual, komunikasi internasional dengan penggunaan teknologi digital menjadi salah satu cara bagi Indonesia untuk mencapai kepentingan nasionalnya. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis ingin menganilisis efektivitas penerapan diplomasi digital yang dijalankan oleh Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia di era pandemi Covid-19. Untuk mengetahui diplomasi digital berjalan efektif, penulis akan menggunakan pendekatan sistem dan tiga perspektif efektivitas untuk melihat aktivitas Menlu Retno dalam mencapai tujuannya melalui diplomasi digital selama pandemi Covid-19 berlangsung.
6 1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang ditulis oleh penulis, maka rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana efektivitas penerapan diplomasi digital yang dijalankan oleh Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia selama Pandemi Covid-19?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini untuk menganalisa penerapan diplomasi digital di era Covid-19 yang dilakukan oleh Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia yang telah berjalan dengan efektif untuk mencapai kepentingan nasional.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat Penelitian terbagi menjadi dua yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis : 1.2.1 Manfaat Teoritis :
1. Memberikan pemikiran mengenai efektivitas dengan pendekatan sistem, untuk melihat penerapan diplomasi digital di era pandemi Covid-19 yang dilakukan oleh Menlu Retno Marsudi.
2. Memberikan referensi mengenai penggunaan diplomasi digital oleh Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia selama pandemi Covid-19 untuk mencapai kepentingan nasional.
1.2.2 Manfaat Praktis :
1. Bagi penulis, adanya penelitian ini menambah pengetahuan mengenai penggunaan diplomasi digital, khususnya di era Pandemi Covid-19. Kemudian dapat menganalisa sejauh mana efektivitas dari penerapan diplomasi digital yang di jalankan oleh Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia untuk mencapai tujuan.
2. Manfaat bagi pembaca, penulis berharap dengan adanya penelitian ini dapat menambah refrensi tentang diplomasi digital bagi mahasiswa baik di Jurusan Hubungan Internasional maupun jurusan lainnya.
7 1.5 Batasan Penelitian
Batasan penelitian sesuai dengan judul yang di angkat oleh penulis yaitu penerapan Diplomasi Digital oleh Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia selama pandemi Covid-19 berlangsung yaitu tahun 2020-2021. Virus Covid-19 terjadi pada tahun 2020 dan membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), sehingga seluruh aktivitas masyarakat Indonesia terbatas. Dampak tersebut juga dirasakan oleh para pemimpin dunia atau para diplomat, karena keterbatasan dalam melakukan diplomasi. Namun adanya teknologi digital aktivitas diplomasi diahlihkan secara virtual untuk tetap membuat kebijakan dan mencapai kepentingan nasional. Maka dari itu penulis akan melakukan penelitian ini dari mulai pandemi Covid-19 pada tahun 2020 hingga 2021.
1.6 Definisi Konsep 1.5.1 Teori Evektivitas
Efektivitas berasal dari kata “efek” artinya yaitu sebab dan akibat, sehingga efektivitas merupakan tujuan yang telah direncanakan sebelumnya untuk bisa tercapai melalui berbagai proses. Menurut Mardiasmo (2017:134) bahwa efektivitas di ukur dari keberhasilan suatu organisasi yang berjalan dengan efektif. Indikator efektivitas merupakan jangkauan dari (outcome) atau akibat dan dampak dari output program untuk mencapai tujuan dan sasaran.
Apabila kontribusi output semakin besar pencapaian tujuannya maka organisasi tersebut semakin efektif dalam proses kerjanya, efektivitas memiliki lima aspek kriteria menurut pandangan James L Gibsom, yaitu produksi, efesien, kepuasan, adaptasi dan pengembangan. Efektivitas menurut pendapat Handoko (2001:7) adalah memilih sebuah tujuan yang tepat dan telah ditetapkan, kemudian melakukan pekerjaan tersebut dengan benar. Efektivitas mengukur seberapa jauh tujuan yang dicapai, baik secara kualitas, waktu dan orientasi yang dihasilkan (Rinaldy, 2016).
1.5.2 Diplomasi Digital
Diplomasi merupakan sebuah upaya untuk memperjuangkan kepentingan nasional suatu negara, diplomasi biasanya dilakukan oleh aktor negara atau Kementrian Luar Negeri untuk mempromosikan kebijakan luar negeri dan bernegosiasi dengan aktor negara lainnya untuk mencapai kepentingan bersama. Diplomasi tidak hanya dilakukan secara tradisional tetapi
8
dengan perkembangan zaman, diplomasi kini dapat dilakukan secara digital. Diplomasi digital merujuk pada penggunaan internet dan teknologi dalam menjalankan diplomasi atau mempromosikan kebijakan luar negeri kepada masyarakat luas.
Teknologi informasi dan komunikasi dalam diplomasi digital dapat berupa konferensi vidio secara virtual dan penggunaan media sosial (Bjola, 2016). Menurut Sotiriu (2016) diplomasi digital dapat menjanjikan beberapa hal yang dapat mempemudah menjalankan diplomasi. Pertama, adanya diplomasi digital dapat menarik partisipasi dan kepentingan yang luas dalam pembuatan kebijakan. Kedua, diplomasi digital dapat mempromosikan negara secara global. Ketiga, meningkatkan popularitas para diplomat dan keempat diplomasi digital memfasilitasi pengetahuan bagi para remaja (Anshori M. F., 2020). Penggunaan diplomasi digital merujuk pada cara komunikasi antara aktor negara dengan audiens luar untuk menyampaikan kepentingan nasional dan citra suatu negara.