• Tidak ada hasil yang ditemukan

SAKRAMEN AGUNG PERKAWINAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SAKRAMEN AGUNG PERKAWINAN"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

SERI DOKUMEN GEREJAWI

MAGNUM

MATRIMONII

SACRAMENTUM

Konstitusi Apostolik

Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II

Pengakuan Yuridis Lembaga Studi Kepausan tentang Perkawinan dan Keluarga

Roma, 7 Oktober 1982

DEPARTEMEN DOKUMENTASI DAN PENERANGAN KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA

2022

SAKRAMEN AGUNG PERKAWINAN

(2)

MAGNUM MATRIMONII SACRAMENTUM

Seri Dokumen Gerejawi

Konstitusi Apostolik

Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II

Pengakuan Yuridis Lembaga Studi Kepausan tentang Perkawinan dan Keluarga

Roma, 7 Oktober 1982

Penerjemah:

Th. Eddy Susanto, SCJ Desain & Tata Letak:

Benedicta Febriastri Cintya Lestari

Sakramen Agung Perkawinan

(3)

MAGNUM MATRIMONII SACRAMENTUM (Sakramen Agung Perkawinan) Konstitusi Apostolik Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II

Pengakuan Yuridis Lembaga Studi Kepausan tentang Perkawinan dan Keluarga Roma, 7 Oktober 1982

Seri Dokumen Gerejawi

Penerjemah :

Desain & Tata Letak : Penerbit :

Th. Eddy Susanto, SCJ

Benedicta F. C. L.

Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Jalan Cikini II No. 10, Jakarta 10330 Telp: 021-3901003

Email: [email protected]

Diterjemahkan dari Constitutio Apostolica MAGNUM MATRIMONII SACRAMENTUM Per La Definitiva Forma Giuridica Del Pontificio Istituto Di Studi Sul Matrimonio E Sulla Famiglia

(c) Libreria Editrice Vaticana, 1982

Departemen Dokpen KWI bertanggung jawab atas penentuan penerbitan dokumen dengan berpedoman pada kriteria seleksi yang menyangkut:

a. Urgensi; b. Aktualitas; c. Relevansi; d. Kelengkapan; e.

Harapan atau permintaan kalangan tertentu; f.

Pertimbangan pendanaan

Meskipun ada tata bahasa baku dalam bahasa Indonesia, namun setiap orang mempunyai gaya bahasa sendiri, maka Departemen Dokpen KWI berusaha menghindari intervensi dalam penerjemahan. Oleh karena itu, setiap isi terjemahan Seri Dokumen Gerejawi menjadi tanggung jawab

penerjemah yang bersangkutan.

Bila timbul keraguan dalam penafsiran teks suatu

dokumen, hendaknya dibandingkan dengan teks asli/resmi.

1.

2.

3.

Kebijakan tentang penerbitan terjemahan Seri Dokumen Gerejawi:

(4)
(5)

Magnum Matrimonii Sacramentum 5

KONSTITUSI APOSTOLIK PAUS YOHANES PAULUS II

MAGNUM MATRIMONII SACRAMENTUM

(Sakramen Agung Pernikahan)

Pengakuan Yuridis Lembaga Studi Kepausan tentang Perkawinan dan Keluarga

1. Gereja selalu memberikan perhatian pastoral khusus terhadap Sakramen Agung Perkawinan, karena menyadari bahwa perkawin- an dan keluarga adalah salah satu harta paling berharga dari umat manusia. “Sebenarnya, keselamatan pribadi dan masyarakat manu- sia serta Kristianitas terkait erat dengan kondisi bahagia komunitas suami-istri dan keluarga.”

Perlakuan luas yang diberikan oleh Konsili Vatikan Kedua untuk topik yang sama adalah kesaksian atas perhatian pastoral khusus ini.

Maka, Sri Paus dan para Uskup dari seluruh dunia tidak pernah berhenti untuk mengusulkan dan mengusulkan kembali serta mengilustrasikan kepada umat beriman citra yang paling sempurna dari pernikahan dan keluarga, menanggapi secara setara pertanyaan-pertanyaan zaman kita, seperti yang terjadi ketika Pendahulu kami Paulus VI mengumumkan Ensiklik “Humanae Vitae.”

Di antara banyak tanda kepedulian yang sungguh-sungguh ini, yang diberikan belakangan ini, Sinode Para Uskup Roma, yang dilaksana- kan dari tanggal 26 September hingga 25 Oktober 1980, dan pendirian Dewan Kepausan untuk Keluarga jelas menonjol.

(6)

Seri Dokumen Gerejawi 6

2. Di antara tugas-tugas utama yang dipercayakan kepada perutusan Gereja sehubungan dengan Perkawinan dan Keluarga harus dianggap kewajiban “menyatakan kepada semua, rencana Allah untuk perkawinan dan keluarga, yang terikat untuk men- jamin kekuatan penuh dan promosi kemanusiaan dan Kristianitas.”

Inilah alasan mengapa Gereja, khususnya setelah Konsili Vatikan II, menaruh minat baik dalam memajukan penelitian teologis tentang Perkawinan dan Keluarga, maupun dalam menghidupkan Institut, yang menangani pembinaan pastoral bagi mereka yang secara khusus terlibat dalam bidang kegiatan pastoral ini. Namun, sekarang tampaknya perlu dibentuk sebuah lembaga studi utama untuk memajukan penelitian teologis dan pastoral tentang Perkawinan dan Keluarga, demi kepentingan seluruh Gereja.

3. Oleh karena itu, setelah mempertimbangkan segala sesuatunya dengan saksama, kami menetapkan dan memutuskan bahwa Lembaga Kepausan untuk Perkawinan dan Keluarga, yang telah didirikan dan beroperasi di Universitas Kepausan Lateran, diberi- kan pengakuan hukum, sehingga kebenaran tentang Perkawinan dan Keluarga dapat terungkap, diselidiki dengan metode yang semakin ilmiah, dan agar kaum awam, religius dan imam dapat menerima pembinaan ilmiah dalam hal ini, baik filosofis maupun teologis, dan dalam ilmu-ilmu kemanusiaan, sehingga pelayanan pastoral dan gerejawi mereka dilakukan secara lebih cara yang tepat dan efektif untuk kemaslahatan Umat Allah.

Oleh karena itu Institut ini memiliki fakultas untuk memberikan gelar berikut kepada mahasiswa akademiknya dengan haknya sendiri:

 Gelar doktor Teologi dengan spesialisasi ilmu-ilmu teologi tentang Perkawinan dan Keluarga;

(7)

Magnum Matrimonii Sacramentum 7

 Lisensiat dalam Teologi tentang Pernikahan dan Keluarga;

 Diploma dalam ilmu Perkawinan dan Keluarga.

4. Institut akan mencapai tujuan yang ditetapkan ini:

A. Menyelenggarakan program doktor dalam bidang Teologi dengan spesialisasi ilmu-ilmu teologi tentang Perkawinan dan Keluarga bagi mereka yang telah memiliki lisensiat di bidang Teologi;

B. Menyelenggarakan Kursus Lisensiat dalam Teologi Perkawinan dan Keluarga bagi mereka yang telah mem- peroleh gelar Sarjana Teologi;

C. Menyelenggarakan program diploma Teologi tentang Perkawinan dan Keluarga bagi mereka yang di negaranya berhak mengakses Universitas;

D. Menyelenggarakan seminar-seminar studi, di mana orang- orang yang telah terbukti pengetahuannya, dan untuk pertanyaan-pertanyaan yang paling penting dan mendesak tentang Perkawinan dan Keluarga yang dikirim, menurut pendapat Otoritas Akademik Institut atau permintaan Departemen Kuria Romawi atau masing-masing Konferensi Waligereja.

5. Otoritas akademik Institut adalah: Rektor Agung dan Rektor Universitas Kepausan Lateran, Dekan dan Dewan Institut. Dekan, yang secara ex officio menjadi Senat Akademik Universitas Kepausan Lateran, diangkat oleh Sri Paus.

6. Ketentuan-ketentuan Konstitusi Apostolik ini akan diterapkan dengan baik, dengan undang-undangnya sendiri, yang harus disetujui oleh otoritas yang sah dari Tahta Suci, setelah mendengar Senat Akademik Universitas Pontifical Lateran.

(8)

Seri Dokumen Gerejawi 8

7. Institut akan dihubungkan dengan suatu ikatan khusus dengan Dewan Kepausan untuk Keluarga, menurut apa yang dijelaskan dalam Surat Apostolik, yang diterbitkan dalam bentuk Motu Proprio “Familia a Deo Instituta”, dalam nama Santa Perawan Maria.

8. Institut ini dipercayakan kepada perlindungan khusus Santa Perawan Maria dari Fatima.

9. Konstitusi ini, yang bertentangan dengan kebiasaan, diumumkan oleh surat kabar L'Osservatore Romano, akan mulai berlaku pada tanggal 14 Oktober 1982.

Akhirnya, kami ingin Konstitusi kami stabil, valid dan efektif dan dilaksanakan dengan cermat oleh semua orang yang ber- kepentingan dengannya, terlepas dari apa pun yang bertentangan.

Diberikan di Roma, di Basilika St. Petrus, pada tanggal 7 Oktober, pada Peringatan Santa Perawan Maria Ratu Rosario, tahun 1982, tahun keempat Kepausan Kami.

YOHANES PAULUS II

Referensi

Dokumen terkait

Dalam menyelasaikan perselisihan keluarga, BP4 sebagai lembaga penasihatan pembinaan dan pelestarian perkawinan tidak bersifat aktif artinya BP4 tidak mencari-cari

diharapkan akan lebih mencegah dan mengurangi konflik terutama yang terjadi di dalam lembaga perkawinan. 8 Namun demikian perjanjian perkawinan bukanlah hal yang

Secara normatif, pemaknaan seperti itu tidak koheren atau sejalan dengan ketentuan Pasal 1 UU Perkawinan yang memandang tujuan perkawinan untuk “ membentuk keluarga (rumah

Penelitian ini berjudul Pola Komunikasi Keluarga Dalam Pengambilan Keputusan Perkawinan Usia Remaja: Sebuah studi Kasus Pola Komunikasi Keluarga Dalam Pengambilan Keputusan

keluarga Nonomiya, keluarga Saiki, dan pihak rumah sakit untuk mempertimbangkan menukar Keita dan Ryusei atau tidak, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk menukar Keita dan Ryusei

Penelitian ini bertujuan untuk 1 Mendeskripsikan pelaksanaan bimbingan perkawinan di Kantor Urusan Agama Kecamatan Banyuwangi sebagai upaya mewujudkan keluarga sakinah, 2

Proses Penyelesaian Hukum Perkawinan Adat Yang Bertentangan Dengan Hukum Perkawinan Nasional Guna memelihara sebuah keluarga yang harmonis pada masyarakat tertentu di Indonesia, maka

Makalah ini membahasa tugas mata kuliah Konseling Perkawinan