Self-regulation Training untuk Mengurangi Compulsive Buying
TESIS
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Memperoleh Derajat Gelar S-2 Program Studi Magister Psikologi Profesi
Disusun Oleh:
Resty Puspitaliani Irawan 201910500211023
MAGISTER PSIKOLOGI PROFESI PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2022
SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan dibawah ini, saya:
Nama : Resty Puspitaliani Irawan
NIM : 201910500211023
Program Studi : Magister Psikologi Profesi
Dengan ini menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa:
1. TESIS dengan judul: SELF-REGULATION TRAINING UNTUK MENGURANGI COMPULSIVE BUYING adalah karya saya dalam naskah Tesis ini tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan oleh orang lain untuk memperoleh gelar akademiik di suatu Perguruan Tinggi dan tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, baik sebagian maupun keseluruhan, kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan dalam daftar pustaka.
2. Apabila ternyata naskah Tesis ini dapat dibuktikan terdapat unsur-unsur plagiasi, saya bersedia Tesis ini DIGUGURKAN dan GELAR AKADEMIK YANG TELAH SAYA PEROLEH DIBATALKAN, serta diproses sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
3. Tesis ini dapat dijadikan sumber pustaka yang merupakan HAK BEBAS ROYALTY NON EKSKLUSIF.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.
Malang, 13 Januari 2022 Yang Menyatakan
Resty Puspitaliani Irawan
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan karunia-Nya, tak lupa shalawat serta salam senantiasa tercurahkan pada junjungan besar Nabi Muhammad SAW sehingga tesis dengan judul “Self- regulation Training untuk Mengurangi Compulsive Buying” ini dapat dapat terselesaikan dengan baik. Tesis ini disusun guna memenuhi syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Strata-2 di Magister Psikologi Profesi Universitas Muhammadiyah Malang.
Dalam proses penyusunan tesis ini, penulis tidak lepas dari segala bimbingan yang bermanfaat dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Fauzan, M.Pd., selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Malang
2. Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., selaku Direktur Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang dan seluruh civitas akademik di Direktorat Program Pascasarjana.
3. Ibu Dr. Cahyaning Suryaningrum, M. Si., Psikolog, selaku Ketua Prodi Magister Psikologi Profesi Universitas Muhammadiyah Malang.
4. Ibu Assoc. Prof. Dr. Iswinarti, M.Si., Psikolog dan bapak Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi,Ph.D, Psikolog selaku dosen pembimbing I dan II yang telah banyak memberikan inspirasi, waktu, tenaga, dan pikiran untuk bimbingan dan arahan yang sangat bermanfaat, hingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan baik.
5. Seluruh dosen Magister Psikologi Profesi Universitas Muhammadiyah Malang yang telah memberikan ilmu yang sangat bermanfaat bagi penulis selama mengikuti kegiatan perkuliahan.
6. Seluruh subjek penelitian yang telah bersedia membantu proses penelitian berlangsung
7. Orangtua tercinta, Papa Roli Irawan dan Mama Linawati R Irawan yang selalu memberikan dukungan, doa, nasehat dan motivasi agar segera menyelesaikan tugas akhir ini. Mama dan Papa terima kasih atas segala
i usahanya untuk membuatku menjadi anak yang dapat dibanggakan atas kerja kerasku sendiri.
8. Kakakku Syahrendra Nugroho Irawan, Umi Aisyah Tusadiah dan Adikku Syahrecky Hidayat Irawan, terima kasih atas dukungannya.
9. Ietio Irwan dan Ie yatik selaku om dan tante penulis yang berusaha semaksimal mungkin ketika penulis membutuhkan bantuan selama di Malang dan membantu hal apapun saat penulis berada di Malang disaat susah ataupun senang.
10. Sepupuku Eric, Evan, Jessica, Rezi, Adam, dan Tasya makasih ya buat lelucon yang buat penulis menjadi terhibur.
11. Sahabat-sahabatku yang selalu mau mendengarkan curhatan dan mendukung penulis Ria Rizki Utami, Baiq Sopia I.A, Mutiara Sadjad, Ahmad Khusairi, Mira Ageng Larasati, M. Haris M.A.
12. Sahabat sambat konferensi meja lopelope, Betari, Diesmy, Frida, Noventia, Izhdiharnada, Privinia, Nurul fitri, Tioria, Trisna, Tutut, Yana, Arbita yang selalu mendukung satu sama lain,
13. Rekan-rekan Magister Psikologi Profesi 2019 yang saling memberikan dukungan dalam penyelesaian tesis ini.
14. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu-persatu, yang telah banyak memberikan bantuan kepada penulis selama mengikuti kegiatan perkuliahan hingga menyelesaikan tesis ini.
Semoga Allah SWT memberikan balasan yang berlipat ganda atas segala kebaikan yang telah diberikan kepada penulis. Dalam penulisan tesis ini penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dan kelemahan. Meski demikian, penulis berharap semoga tesis ini dapat memberikan maanfaat bagi peneliti khususnya dan pembaca pada umumnya.
Malang, 13 Januari 2022 Penulis
Resty Puspitaliani Irawan
i DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... i
ABSTRAK ... iv
PENDAHULUAN ... 1
TINJAUAN PUSTAKA... 5
Compulsive buying dalam Prespektif Islam ... 5
Compulsive buying ... 6
Self-regulation training ... 8
Self-Regulation training untuk mengurangi Compulsive buying ... 9
Kerangka Berfikir ... 10
Hipotesa Penelitian ... 10
METODE PENELITIAN ...10
Rancangan Penelitian ... 10
Subjek Penelitian ... 10
Variabel dan Instrumen Penelitian ... 11
Prosedur Penelitian ... 12
Analisa Data ... 13
HASIL PENELITIAN ...14
Manipulation Check ... 14
Hasil Analisa Data ... 15
PEMBAHASAN ... 19
KESIMPULAN... 21 REFERENSI ...23
ii DAFTAR TABEL
TABEL 1. Rancangan Penelitian ... 11
TABEL 2. Hasil Uji Wilcoxon Self-regulation ... 14
TABEL 3. Hasil Uji Mann-whithney Self-regulation ... 14
TABEL 4. Hasil Uji Wilcoxon Compulsive Buying ... 15
TABEL 5. Hasil Uji Hiotesis Mann-whithney ... 15
TABEL 6. Deskripsi Perubahan Self-regulation ... 17
TABEL 7. Deskripsi Perubahan Compulsive Buying ... 18
iii DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Kerangka Berfikir ... 10 Gambar 2. Perbedaan Skor Kelompok Eksperimen Compulsive Buying ... 16 Gambar 3. Perbedaan Skor Keliompok Kontrol Compulsive Buying ... 17
iv Self-regulation Training untuk Mengurangi Compulsive Buying
Resty Puspitaliani Irawan Email: [email protected]
Assoc. Prof. Dr. Iswinarti, M.Si. (NIDN: 0713056402)
Muhammad Salis Yuniardi, S.Psi,.M.Psi, Ph.D (NIDN: 0705067701) Magister Psikologi Profesi, Universitas Muhammadiyah Malang
ABSTRAK
Compulsive buying merupakan perilaku berbelanja dan membeli barang secara berlebihan yang mengarah pada gangguan yang disebabkan untuk mengubah emosi negatif menjadi emosi positif. Dampak jangka pendek dari compulsive buying yang dirasakan setelah berbelanja adalah adanya kepuasan tertentu dan hilangnya perasaan tidak nyaman yang sebelumnya dan mengurangi stres. Dampak jangka panjang dari compulsive buying umumnya bersifat negatif seperti kerugian finansial, kecemasan, rasa frustasi dan rasa bersalah. Salah satu yang menyebabkan individu memiliki perilaku compulsive buying adalah rendahnya self-regulation pada dirinya. Intervensi yang digunakan untuk melihat apakah self-regulation training dapat menurunkan compulsive buying. Tujuan penelitian ini mengetahui pengaruh self-regulation training untuk menurunkan compulsive buying. Subjek penelitian ini berjumlah 14 orang perempuan berusia 22-29 tahun, memiliki compulsive buying tinggi dengan skor > 56 dan self-regulation yang rendah dengan skor < 72. Subjek penelitian dibagi secara random menjadi dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan dua instrumen yakni the short self-regulation questionnaire dan compulsive buying scale. Hasil penelitian menunjukkan adanya signifikansi hasil manipulasi pada self-regulation training dengan nilai Z sebesar -0,512, sehingga dapat dikatakan jika self-regulation training yang diberikan efektif. Sedangkan hasil uji hipotesis dengan nilai Z -2,366, artinya intervensi berupa self-regulation training yang diberikan berhasil menurunkan compulsive buying. Sehingga dapat disimpulkan bahwa self- regulation training dapat menurunkan compulsive buying secara signifikan
Kata Kunci: Compulsive Buying, Self-regulation, Self-regulation training, Quasi Ekperimen
v Self-regulation Training to Reduce Compulsive Buying
Resty Puspitaliani Irawan Email: [email protected]
Assoc. Prof. Dr. Iswinarti, M.Si. (NIDN: 0713056402)
Muhammad Salis Yuniardi, S.Psi,.M.Psi, Ph.D (NIDN: 0705067701) Master of Psychology, Profession, University of Muhammadiyah Malang
ABSTRACT
Compulsive buying is the behavior of excessive shopping and buying of goods that leads to distractions that turn negative into positive emotions. The short- term effects of compulsive buying felt after shopping are the presence of certain satisfaction, loss of previous feelings of discomfort, and reduced stress. The long- term effects of compulsive buying are generally adverse such as financial loss, anxiety, frustration, and guilt. One of the reasons that compulsive buying behavior happens is because of the low self-regulation in them. In this research, the interventions are used to see whether self-regulation training can reduce compulsive buying or not. The purpose of this study is to know the effects of self- regulation training aims to reducecompulsive buying. The subject of this research is 14 women aged 22-29 years who had high compulsive buying, with a score more than 56 (>56) and low self-regulation less than 72 scores (<72). The study subjects were randomly divided into two groups, i.e., the experimental group and the control group, with two instruments are the short self-regulation questionnaire and the compulsive buying scale. This research showed the significance of manipulation results inself-regulation training of Z value of -0.512, which can be deduced that the self-regulation trainingprovided is adequate. While the hypothesis test results of a Z value of -2.366, it means that the intervention in the form ofself-regulation training provided succeeded in reducing compulsive buying. Thus, it can be concluded that self-regulation training can reduce compulsive buyingsignificantly.
Keywords: Compulsive Buying, Self-regulation, Self-regulation training, Quasi Experiments
1 PENDAHULUAN
Compulsive buying merupakan perilaku pembelian yang disebabkan oleh dorongan untuk membeli barang yang tidak dapat ditolak (Williams & Grisham, 2012). Pembelian kompulsif bercirikan pada individu yang berperilaku belanja dan membeli barang secara berlebihan yang mengarah pada gangguan dan terjadi secara eksklusif dalam episode hipomania atau mania (Claes et al., 2010). Compulsive buying telah dikemukakan sebagai gangguan spectrum obsesif-kompulsif yang dapat dianggap sebagai gangguan kontrol impuls (Dell’Osso et al., 2006).
Pembelian kompulsif ditandai dengan keasyikan membeli dan berbelanja, sering kehilangan kendali atas pembelian dan pembelian barang-barang yang tidak diperlukan ataupun digunakan (Mueller et al., 2011). Ketidakmampuan untuk melakukan kontrol merupakan elemen kunci dari compulsive buying dan menjadi bagian untuk membedakan membeli atau berbelanja secara kompulsif dengan yang biasanya (Faber, 2004).
Penelitian Spinella, Lester, & Yang (2014), menemukan bahwa seseorang yang memiliki perilaku pembelian kompulsif sangat berkaitan dengan kontrol impulsif yang buruk, kurangnya perencanaan dan kurang mampu mengatur keuangan pribadi dan memiliki kecemasan mengenai uang. Pembelian kompulsif berdampak negatif pada hubungan pribadi, menghabiskan waktu dengan percuma, menyebabkan kesusahan dan masalah keuangan serta mengganggu fungsi sosial atau pekerjaan (Mueller et al., 2011).
Penelitian sebelumnya menyatakan jika pembelian kompulsif lebih mungkin terjadi ketika individu mencoba untuk menangani keadaan suasana hati yang negatif (Miltenberger et al., 2003). Compulsive buying terjadi merupakan sebuah respon yang dimana semakin tinggi compulsive buying pada individu tersebut akan lebih mudah mengalami kecemasan (Williams, 2012). Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dimana pembelian kompulsif berkaitan dengan komorbitas psikiatri terutama depresi, kecemasan (Mueller et al., 2010), dan perilaku makan (Faber et al., 1995).
Individu yang memiliki perilaku compulsive buying mengalami perubahan pengambilan keputusan dalam pembelian. Keputusan individu dalam membeli
2 barang disebabkan karena ingin adanya kepuasan diri yang irasional dan menarik individu kepada sisi emosionalnya (Parboteeah et al., 2009). Beberapa barang yang dibeli, merupakan barang yang spontan dan dianggap kurang fungsional dalam kehidupan individu tersebut. Sehingga individu yang berperilaku compulsive buying memiliki rasa penyesalan setelah membeli barang tersebut (O’Guinn &
Faber, 1989). Penelitian yang dilakukan Black, Shaw, McCormick, Bayless, &
Allen (2012), menyatakan jika individu yang mengalami compulsive buying cenderung mengambil keputusan secara cepat, tanpa berfikir serta kurangnya perencanaan dalam berbelanja.
Individu dengan compulsive buying akan mengalami dampak jangka panjang maupun jangka pendek. Dampak jangka pendek yang dirasakan ialah adanya kepuasan tertentu, hilangnya perasaan tidak nyaman yang sebelumnya dirasakan dan mengurangi stres. Sedangkan dampak jangka panjangnya ialah umumnya bersifat negatif, seperti adanya kerugian finansial, kecemasan, dan rasa bersalah (Mangestuti, 2014; Workman & Paper, 2010). Dampak psikologis lainnya yang dialami individu ialah gejala tekanan psikologis, kecemasan, gejala depresi, obsesif kompulsif dan somatis (Villardefrancos & Otero-López, 2016).
Penelitian studi kasus terdahulu menggunakan cognitive behavior therapy (CBT) efektif untuk menangani perilaku pembelian kompulsif (Braquehais et al., 2012; Filomensky & Tavares, 2009; Kellett & Bolton, 2009). Namun, penelitian ini menyatakan CBT perlu diberikan dalam waktu yang cukup panjang, harus adanya keinginan yang gigih untuk menghentikan perilaku, banyak menghabiskan waktu dan kegiatan sosial, pekerjaan atau rekreasi yang penting dihentikan atau dikurangi karena intervensi ini. CBT didasarkan pada asumsi bahwa perilaku individu didasarkan pada pemikiran disfungsional dan menunjukkan emosi dan perilaku yang merusak. Begitu individu belajar mengelola pemikirannya, individu dapat berhasil merubah perilakunya. Namun, pendekatan ini terhambat oleh kurangnya bukti mengenai elemen kognitif mana yang berkaitan dengan perilaku compulsive buying (Madewell & Shaughnessy, 2009).
Penelitian lainnya menunjukkan jika individu yang mengalami compulsive buying memiliki kontrol diri yang rendah (Elger et al., 2011). Namun, penelitian ini
3 menggunakan ukuran sifat umum dari pengendalian diri dan tidak secara khusus meneliti upaya konsumen untuk mengontrol perilaku pembeliannya. Penelitian lainnya menyarankan jika individu dengan compulsive buying memang perlu untuk berusaha mengontrol perilaku pembeliannya. Misalnya penelitian studi kasus Sohn
& Choi (2012), menunjukkan bahwa sistem kepercayaan dan proses pengaturan diri dapat mempengaruhi perilaku compulsive buying.
Individu yang mengalami compulsive buying dapat dipahami sebagai kegagalan individu dalam pengaturan self-regulation yang erat berkaitan dengan strategi pengaturan diri (Faber & Vohs, 2011). Berawal rasa keragu-raguan untuk membeli barang tersebut. namun karena spontanitas compulsive buying, keraguan tersebut menjadi pemikiran sekilas yang tidak diperhatikan dengan tujuan untuk membuat suasana hatinya menjadi senang (Pradipto et al., 2016). Hasil penelitian Vohs & Faber (2007), menunjukkan bahwa individu yang memiliki regulasi diri yang rendah akan lebih mudah untuk berperilaku compulsive buying.
Self-regulation didefinisikan sebagai sebagai kemampuan yang melibatkan kemampuan kognitif untuk mengatur diri sendiri berdasarkan hasil yang diterima dan dievaluasi untuk menetapkan keputusan dalam berperilaku, serta merencanakan, membimbing dan memantau perilakunya demi mencapai tujuan yang diinginkannya (Neal & Carey, 2005). Melalui regulasi diri, individu akan terbantu dan mudah menemukan gambaran masa depannya, serta regulasi diri menjadi hal yang penting untuk dimiliki individu agar dapat mengembangkan keterampilan pada setiap aktivitas yang melibatkan diri individu serta keterkaitannya dengan berbagai aspek lainnya (Taylor, 2009).
Self-regulation menjadikan individu dapat memotivasi diri dan berpikir dalam menetapkan tujuan personal, kemampuan dalam merencanakan strategi, mengevaluasi dan memanipulasi lingkungan sehingga terjadi perubahan lingkungan sehingga terjadi perubahan lingkungan akibat kegiatan tersebut (Pervin et al., 2010). Individu yang memiliki regulasi diri yang rendah mengakibatkan dirinya sulit untuk mengambil keputusan dalam hal pembelian (Feist & Feist, 2010). Individu yang memiliki regulasi diri yang rendah akan membuatnya kurang mampu mengontrol perilaku compulsive buying sehingga individu tersebut tidak
4 mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan dan akan mengalami kecemasan, ketidakbahagiaan serta menurunnya kesejahteraan psikologis (Zebardast et al., 2011).
Self-regulation training merupakan pelatihan yang dirancang untuk mengembangkan pengaturan diri yang efisien serta berhubungan positif dengan pengendalian motivasi dan pengendalian emosi (Leach et al., 2005). Self-regulation training dapat diberikan dalam berbagai bidang seperti interaksi sosial, performa akademik, kesehatan mental, organisasi, kesehatan fisik dan well-being. Pelatihan Self-regulation mengajarkan individu untuk mengendalikan diri, melakukan perencanaan dan mencari alternatif lain jika ia kembali mengalami perilaku yang sama sehingga ia mampu konsisten pada tujuan di berbagai konteks untuk jangka waktu yang lama (Inzlicht & Schmeichel, 2012). Peran fungsi kognitif dan motivasi dalam self-regulation training juga juga menjadi salah satu pencapaian tujuan dalam peningkatan self-regulation yang dimana fungsi kognitif dilakukan untuk memproses tujuan intervensi, keyakinan tentang diri sendiri dan kebiasaan belajar.
Sedangkan motivasi fokus pada kemauannya untuk melakukan sebagai titik pengaruhnya (Inzlicht & Schmeichel, 2012).
Intervensi menggunakan self-regulation training menunjukkan efek yang signifikan untuk meningkatkan konsumsi makanan pada individu yang berperilaku diet (Schnoll, 2019) dan mengurangi perilaku makanan yang berlebihan (Warschburger, 2015). Selain itu self-regulation training juga efektif membantu siswa berkebutuhan khusus belajar dan dapat mengontrol perilakunya, serta anak yang memiliki gangguan perilaku (Graziano & Hart, 2016; Kang, 2010).
Penelitian compulsive buying sebelumnya lebih berfokus pada kontrol diri dan reaktivitas emosional (Claes et al., 2010). Sedikit literatur yang membahas mengenai compulsive buying dengan self-regulation training. Model intervensi yang sering dalam mengatasi individu dengan permasalahan compulsive buying ialah terapi perilaku, terapi perilaku kognitif dan terapi keluarga (Hague et al., 2016). Jika dikaji pada penjelasan sebelumnya bahwa compulsive buying terjadi dikarenakan individu kurang mampu melakukan perencanaan dalam pembelian yang bertujuan untuk mengurangi stres namun dampak jangka panjangnya ia akan
5 mengalami kerugian finansial dan kecemasan (Villardefrancos & Otero-López, 2016; Workman & Paper, 2010). Sehingga dengan pelatihan self-regulation individu akan dilatih untuk mengendalikan diri, melakukan perencanaan dan mencari alternatif lain jika ia kembali mengalami perilaku yang sama sehingga ia mampu konsisten pada tujuan di berbagai konteks untuk jangka waktu yang lama (Inzlicht & Schmeichel, 2012).
Berdasarkan uraian diatas, peneliti menduga bahwa self-regulation training mampu mengurangi compulsive buying. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh self-regulation training terhadap compulsive buying pada mahasiswa.
Diharapkan penelitian ini dapat memberikan sumbangan dalam perkembangan ilmu dan praktik dalam bidang psikologi klinis. Selain itu, self-regulation training dapat dijadikan salah satu cara untuk mengurangi compulsive buying.
KAJIAN PUSTAKA
Compulsive Buying dalam Perspektif Islam
Compulsive buying dapat mengarah pada perilaku boros dan berlebihan. Hal ini dapat disebabkan karena pembelian impulsif merupakan pembelian yang tidak terencana, pembelian tersebut bukan berdasarkan pada kebutuhan, namun lebih mengarah pada pemuasan diri dengan mendahulukan keinginan daripada kebutuhan. Tentunya hal ini dilarang oleh agama islam. Dalam al-qur’an telah dijelaskan bahwa Allah SWT telah melarang perilaku boros dan berlebihan ini.
Allah ta’ala berfirman dalam QS. Al-furqon 67:
“Dan (hamba-hamba Allah yang beriman adalah) orang-orang yang apabila mereka membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan mereka) di tengah- tengah antara yang demikian”.
6 Selain itu, dalam surat Al-isro‟ ayat 26-27 dijelaskan:
“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur- hamburkan (hartamu) secara boros” (26). “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”(27).
Dari ayat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam membelanjakan harta, dilarang boros, berlebihan serta tidak boleh kikir. Boros dan berlebihan itu dapat mengarah kepada compulsive buying, sehingga islam mengajarkan kepada hamba-Nya dalam membelanjakan harta seharusnya berada pada kondisi normal, dengan kata lain tidak berperilaku boros, berlebihan dan tidak pula kikir.
Compulsive buying
Compulsive buying adalah perilaku berbelanja yang abnormal yang dimana perilaku ini tidak dapat terkontrol, dilakukan secara berulang dan memiliki dorongan kuat untuk berbelanja yang dianggap sebagai cara untuk menghilangkan perasaan negatif seperti stres dan kecemasan (Edwards, 1993). Selain itu, compulsive buying merupakan sebuah dorongan yang tak tertahankan untuk membeli, adanya ketergantungan pada belanja dan ekstrimnya dapat menyebabkan hilangnya kendali diri yang ditandai dengan sindrom menarik diri dikarenakan ketidaknyamanan hingga gangguan psikosomatis (Achtziger et al., 2015).
Compulsive buying juga didefinisikan sebagai keasyikan individu dalam membeli barang, dorongan untuk melakukan pembelian yang tidak dapat ditolak atau membeli barang yang tidak diperlukan (Marcello Spinella et al., 2015). Berdasarkan pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa compulsive buying merupakan perilaku berbelanja secara berlebihan yang tidak dapat dikontrol dikarenakan adanya dorongan dari dalam diri untuk membeli barang yang tidak berguna untuk menghilangkan perasaan negatif seperti stres ataupun kecemasan.
7 Saat ini compulsive buying tidak terdapat pada klasifikasi khusus pada DSM-5, namun saat ini definisi operasional yang tersedia untuk compulsive buying mengandalkan kesamaan dengan gangguan spektrum kontrol impulsif, terutama terkait dengan gangguan penggunaan zat, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan makan, dan gangguan lainnya (Granero et al., 2016).
Compulsive buying merupakan gangguan impuls yang memiliki dampak positif atau jangka pendek dan negatif atau jangka panjang. Adapun dampak jangka pendeknya yakni, menghilangkan stres dan mengembalikan suasana hati. Namun dampak jangka panjangnya, subjek mengalami gejala mental lainnya seperti kecemasan, merasa bersalah dan terganggunya finansial (Mangestuti, 2014).
Edwards (1993), mengemukakan bahwa terdapat lima aspek compulsive buying yakni 1) Tendency to spend merupakan tingkatan kecenderungan individu untuk berbelanja dan membeli secara berlebihan yang ditandai dengan banyaknya perilaku pembelian berulang yang sering dilakukan; 2) compulsion/drive to spend merupakan dorongan dorongan yang terdapat dalam diri individu sehingga membentuk pola berulang dalam pembelian; 3) feeling (joy) about shopping and spending merupakan perasaan senang setelah melakukan aktivitas berbelanja; 4) dysfunctional spending yaitu menggambarkan masalah yang muncul dari hasil perilaku berbelanja yang dilakukan oleh individu; 5) post-purchase guilt ini menggambarkan perasaan bersalah, menyesal dan rasa malu yang dirasakan setelah individu melakukan pembelian secara berlebihan.
Self-regulation Training
Miller & Brown (1991), mendefinisikan pengaturan diri sebagai kemampuan untuk menghubungkan keterampilan kognitif dengan pengaturan diri berdasarkan informasi yang diterima dan dievaluasi untuk membuat keputusan perilaku, serta untuk merencanakan, membimbing, dan memantau perilaku untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pengaturan diri adalah proses dimana orang dapat mengatur kinerja dan tindakan mereka sendiri dengan menetapkan tujuan, mengevaluasi perilaku mereka ketika mereka mencapai tujuan mereka, dan memberi penghargaan pada diri mereka sendiri dalam mencapai tujuan tersebut (Friedman & Schustack, 2011). Sedangkan Bandura (1997) mendefinisikan
8 pengaturan diri sebagai kemampuan individu untuk mengatur diri sendiri, mempengaruhi perilakunya dengan memodifikasi lingkungan, memberikan dukungan kognitif, dan menimbulkan konsekuensi atas perilakunya sendiri.
Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pengaturan diri adalah kemampuan seseorang untuk mengatur dan mengontrol perilakunya dengan menggunakan proses berpikir untuk menentukan keputusan yang dibuat untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Self-regulation training merupakan pelatihan yang dirancang untuk mengembangkan pengaturan diri yang efisien serta berhubungan positif dengan pengendalian motivasi dan pengendalian emosi (Leach et al., 2005). Tujuan dari self-regulation training ialah mengajarkan individu mengendalikan diri, melakukan perencanaan dan mencari alternatif lain jika ia kembali mengalami perilaku yang sama sehingga ia mampu konsisten pada tujuan di berbagai konteks untuk jangka waktu yang lama (Inzlicht & Schmeichel, 2012).
Terdapat tujuh komponen didalam self-regulation training, (Fuente et al., 2016; Miller & Brown, 1991), yakni 1) receiving yaitu menerima informasi yang relevan; 2) evaluating, yaitu mengevaluasi informasi dan membandingkannya dengan norma-norma masyarakat; 3) triggering, yaitu melakukan perubahan; 4) searching, yaitu mencari pilihan; 5) formulating, yaitu merumuskan rencana; 6) implementing yaitu melaksanakan rencana; 7) assessing yaitu menilai efektifitas rencana.
Self-regulation Training untuk Mengurangi Compulsive Buying
Self-regulation training merupakan proses pelatihan yang dilakukan untuk memberikan keterampilan regulasi diri mencakup perilaku yang diarahkan pada tujuan dan memungkinkan individu dapat menunda kepuasan jangka pendeknya agar mencakup hasil yang diinginkan dimana depan (Carey et al., 2004). Melalui self-regulasi training, individu diberi kemampuan untuk merencanakan, memantau dan mengarahkan perilakunya sendiri dalam situasi yang ingin diubahnya (Brown, 1998).
9 Self-regulation mengacu pada kapasitas atau kemampuan untuk mengendalikan pikiran, emosi dan perilaku. Melalui self-regulasi training, individu dapat secara sadar mengontrol diri, apakah bertindak atas dorongan hati, pikiran obsesif dan sejauh mana dapat mendengarkan atau memahami emosi diri. Sehingga dapat dikatakan jika self-regulasi training adalah pelatihan yang memungkinkan orang berperilaku secara memadai, melaksanakan tugas dengan benar dan menjauhkan diri dari kegiatan yang membahayakan (Baumeister & Heatherton, 1996).
Compulsive buying merupakan perilaku pembelian kronis yang berulang yang sulit dihentikan dan mengaitkan konsekuensi yang berbahaya (R.J Faber &
O’Guiin, 1992). Compulsive buying memiliki komponen kognitif dan perilaku yang keduanya dapat dimanifestasikan melalui kesesuaian pribadi, disfungsi sosial, perkawinan atau pekerjaan dan masalah keuangan atau hukum. Compulsive buying termasuk kategori gangguan kontrol impuls yang disebabkan oleh ketidakmampuan mengontrol impuls atau godaan untuk memuaskan diri (Black, 2001).
Individu yang mengalami compulsive buying cenderung akan melakukan pembelanjaan secara berlebihan yang berulang yang didorong oleh dalam dirinya hingga membentuk menjadi sebuah pola. Tujuan dari berperilaku compulsive buying ialah untuk mendapatkan perasaan senang atau bahagia ketika ia berbelanja.
Namun, masalah akan muncul ketika perilaku ini tidak dikurangi akibat dari perilaku belanja yang terus berulang. Kemudian, muncul rasa bersalah, menyesal pada individu setelah ia berbelanja secara berlebihan. Individu tersebut tidak memikirkan berbelanja untuk kebutuhannya melainkan ia berbelanja hanya untuk memuaskan diri demi mendapatkan kesenangan sesaat (Edwards, 1993).
Self-regulation training merupakan pelatihan untuk mengajarkan kemampuan individu dalam merencanakan, memantau dan mengarahkan perilakunya sendiri dalam situasi yang ingin diubahnya. Sehingga individu yang mengalami compulsive buying dapat mengurangi perilaku pembelanjaan dengan cara mengajarkan perencanaan sebelum melakukan pembelanjaan dan mengontrol diri. Adapun cara self-regulasi training memungkinkan untuk menurunkan compulsive buying yakni: 1) mengobservasi diri sendiri (self-report); 2) evaluasi
10 diri dengan cara menyadari jika perilaku tidak memenuhi standar atau norma tertentu; 3) mencari pilihan dalam mengatasi permasalahan 4) membuat rencana 5) melaksanakan rencana; 6) mengetahui efektifitas rencana (De la Fuente et al., 2016).
Gambar 1. Kerangka Berpikir Hipotesa
Hipotesis pada penelitian ini adalah self-regulation training efektif menurunkan compulsive buying.
METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian jenis quasi eksperimental dengan cara manipulasi semu. Jenis desain penelitian eksperimen yang digunakan adalah control group pretest posttest design. Desain ini terdapat dua kelompok yang diacak secara random, kemudian diberikan alat ukur sebagai pre-test untuk mengetahui keadaan awal kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Setelah memberikan intervensi pada kelompok eksperimen, dilakukanlah pengukuran kembali menggunakan alat ukur yang sama pada kedua kelompok (Sugiyono, 2010).
Adapun rancangan penelitian sebagai berikut:
Tabel 1. Rancangan Penelitian
Kelompok Rancangan Penelitian
Eksperimen X1---T---X2
Kontrol X1---X2
Keterangan
X1 = Pengukuran pertama/pre-test T = Perlakuan
X2 = Pengukuran kedua/post-test
Menurunkan Compulsive buying Self-regulation training Meningkatkan Self-
regulation
11 Subjek Penelitian
Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling. Purposive sampling merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu sebagai responden sampel (Sugiyono, 2010). Adapun kriteria subjek pada penelitian ini adalah 1) Berusia 22-29 tahun; 2) Compulsive buying scale yang tinggi dengan skor >56; 3) The Short Self-Regulation Questionnaire yang rendah dengan skor <72. Jumlah subjek sebanyak 14 orang yang terbagi menjadi dua kelompok yakni kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang terdiri dari 7 orang pada masing-masing kelompok.
Variabel dan Instrumen Penelitian
Variabel penelitian ini yakni compulsive buying sebagai variabel terikat (Y), self-regulation sebagai variabel bebas (X) dan self-regulation training sebagai treatment. Self-regulation dalam penelitian ini adalah sejauh mana individu mampu melibatkan kemampuan kognitif, emosi, perilaku dalam mengatur diri sendiri, merencanakan, menimbang, memantau dan mengevaluasi pencapaiannya sesuai dengan targetnya serta mengadakan konsekuensi bagi tingkah lakunya sendiri.
Instrumen yang digunakan untuk mengukur self-regulation ialah The Short Self- Regulation Questionnaire (SSRQ) versi bahasa Indonesia yang diterjemahkan oleh Tresnadiani & Taufik (2020), dari skala asli yang dikembangkan oleh Miller &
Brown, (1991). Skala ini terdiri dari 31 item dan tujuh aspek yakni receiving, evaluating, triggering, searching, formulating implementing dan assessing. SSRQ versi Bahasa Indonesia ini sudah teruji reliabilitasnya dengan hasil yang baik yakni 0,822.
Sedangkan yang dimaksud dari compulsive buying dalam penelitian ini adalah sejauh mana individu memiliki perilaku berbelanja abnormal dan berulang terhadap barang-barang yang tidak diperlukan yang dianggap sebagai cara untuk menghilangkan emosi negatif seperti stres dan cemas. Instrumen yang digunakan untuk mengukur compulsive buying yakni menggunakan Compulsive Buying Scale (CBS) yang dikembangkan oleh Valence, D’astous, & Fortier (1988), yang terdiri dari 16 dengan empat aspek yakni tendency to spend, reactive aspect, postpurchase
12 guilt dan family environment. Skala ini sudah teruji reliabilitasnya dengan hasil yang baik yakni 0,965.
Prosedur Penelitian
Penelitian ini dimulai dari beberapa prosedur penelitian, diantaranya yaitu dimulai dengan memilih judul, rumusan masalah, menyusun kerangka berfikir, serta menyusun instrumen penelitian untuk digunakan dalam pre-test dan post-test.
Intrumen yang dipakai kemudian dilakukan piloting untuk mengetahui penggunaan bahasa yang tepat dalam instrumen yang digunakan. Kemudian, instrumen tersebut disebarkan secara online melalui media sosial dan didapatkanlah 23 responden.
Dari 23 responden tersebut dilakukanlah proses screening yang diawali dengan pemberian inform consent kepada individu. Individu tersebut diberikanlah dua skala dan individu yang mengalami compulsive buying kategori tinggi skala CBS dengan skor > 56 dan memiliki self-regulation kategori rendah skala SRQ dengan skor <72 dijadikan sebagai subjek penelitian. Hasil dari proses skrining didapatkanlah subjek sejumlah 14 orang yang sesuai dengan kriteria penelitian.
Setelah subjek bersedia menjadi subjek penelitian, dilakukanlah pembagian kelompok secara rendom menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Sebelum intervensi dimulai, dilakukanlah pembuatan modul mengenai self- regulation training untuk menurunkan compulsive buying yang digunakan sebagai pedoman selama proses intervensi berlangsung. Modul yang akan diberikan, diproses terlebih dahulu dengan uji kelayakan kepada expert judgment. Setelah itu dilakukanlah try out modul pada individu yang mengalami compulsive buying tinggi dan regulasi diri yang rendah guuna melihat sejauhmana keefektifitassan modul tersebut. Setelah efektif, modul digunakan sebagai panduan intervensi pada kelompok ekperimen yang dilakukan secara berkelompok.
Adapun pelaksanaan intervensi yang dilaksanakan sebanyak 7 sesi yang dilakukan secara tatap muka yakni 1) sesi 1 Building rapport dan kontrak merupakan sesi perkenalan, membentuk kelompok, membuat kontrak kelompok, eksplorasi permasalahan masing-masing anggota dan memberikan informasi yang relevan mengenai self-regulation training; 2) sesi 2 observasi diri yakni subjek diminta untuk mengidentifikasi secara kognitif, perilaku dan emosi sebelum dan
13 setelah berbelanja, menginternalisasikan aturan atau standar masyarakat berkaitan dengan perilaku berbelanja; 3) sesi 3 proses penilaian kognitif yakni mengetahui bagaimana proses berbelanja ditinjau dari aspek kognitif, memberikan penilaian, menginternalisasikan standar masyarakat secara kognitif dan mengubah pola pikir ketika keinginan berbelanja muncul; 4) sesi 4 proses penilaian perilaku yakni mengetahui bagaimana proses berbelanja ditinjau dari aspek perilaku, memberikan penilaian, menginternalisasikan standar masyarakat secara perilaku dan strategi lain ketika keinginan berbelanja muncul; 5) sesi 5 proses penilaian emosi yakni mengetahui bagaimana proses berbelanja ditinjau dari aspek emosi, memberikan penilaian, menginternalisasikan standar masyarakat secara emosi dan strategi lain ketika keinginan berbelanja muncul.
Sesi 6 yakni reaksi diri afektif yang dimana subjek mampu mengevaluasi diri sendiri berdasarkan pengamatannya baik itu positif maupun negatif. 7) sesi 7 evaluasi & terminasi merupakan sesi untuk memonitor, menilai dan menghargai perubahan yang sudah dilakukan serta mengevaluasi kegiatan secara keseluruhan.
Setelah selesai memberikan intervensi, keseluruhan kelompok diberikan kembali dua instrumen sebagai post-test sebagai pembanding dengan hasil pre-test. Hasil instrumen yang telah didapatkan kemudian dianalisis sebagai hasil intervensi yang telah dilaksanakan.
Analisa Data
Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis non- parametrik yang terdiri dua tahap yakni uji manipulasi dan uji hipotesis. Adapun masing-masing analisa data pada kedua tahap ini menggunakan uji Wilcoxon dan uji Mann-Whitney. Uji wilcoxon untuk melihat perbedaan pre-test dan post-test pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Sedangkan uji Mann-Whitney digunakan untuk melihat perbandingan hasil antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang dilakukan dalam penelitian ini.
14 HASIL PENELITIAN
Hasil Analisa Data
Analisa pertama dilakukan untuk mengetahui adakah manipulasi berhasil dilakukan. Oleh karena itu Uji Wilcoxon pada SPSS digunakan untuk mengetahui hasil perbandingan antara pretest dan posttest variabel self-regulation pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Tabel 2. Hasil Uji Wilcoxon Self-Regulation Kelompok Mean Pre-
test
SD Pre- test
Mean Post-test
SD Post- test
Sig
Eksperimen 68,14 8,275 128,86 5,699 0.018
Kontrol 66,57 6,528 65,43 5,473 0,609
Berdasarkan Tabel 2 diperoleh hasil variabel self-regulation pada kelompok eksperimen terdapat selisih skor sebesar 60,72 dengan nilai signifikansi <0,05.
Artinya terdapat peningkatan skor yang signifikan antara nilai post-test dan pre-test pada variabel self-regulation pada kelompok eksperimen. Selain itu, pada tabel 3 juga menunjukkan hasil dari kelompok kontrol terdapat selisih skor -1,14 dengan nilai signifikansi >0,05. Artinya terdapat penurunan skor yang tidak signifikan antara nilai post-test dan pre-test pada variabel self-regulation pada kelompok kontrol.
Selanjutnya Mann-whitney U pada self-regulation dilakukan guna mengetahui perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Tabel 3. Uji Mann-whitney Self-Regulation
Kelompok N U Z Sig, (2-
tailed)
Self-Regulation 14 0.000 -0,512 0.002
Tabel 3 menunjukkan hasil uji mann-whitney pada self-regulation menunjukkan nilai sebesar p< 0,05 dengan selisih nilai -0,512, artinya terdapat perbedaan yang signifikan self regulation antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol.
Perbedaan yang signifikan ini membuktikan intervensi berupa self-regulation
15 training yang diberikan berhasil meningkatkan self-regulation pada kelompok eksperimen.
Analisa kedua dilakukan untuk membuktikan hipotesis bahwa self- regulation training dapat menurunkan compulsive buying. Tahapan analisis sebagaimana pada uji manipulasi yaitu diawali dengan Uji Wilcoxon untuk mengetahui hasil perbandingan antara pretest dan posttest variabel compulsive buying pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Tabel 4. Hasil Uji Wilcoxon Compulsive Buying Kelompok Mean Pre-
test
SD Pre- test
Mean Post-test
SD Post- test
Sig
Eksperimen 66,86 3,934 35,43 4,237 0.018
Kontrol 68,00 2,160 70.00 1,915 0,034
Pada Tabel 4 diperoleh hasil perbandingan antara pretest dengan posttest compulsive buying setelah diberikan intervensi berupa self-regulation training.
Terdapat selisih skor -31,43 dengan signifikansi < 0,05. Artinya terdapat penurunan yang signifikan nilai rata-rata post-test dan pre-test pada variabel compulsive buying di kelompok eksperimen yang diberikan intervensi self-regulation training.
Sedangkan pada kelompok kontrol, selisih antara pre-test dan post-test compulsive buying adalah 2,00 dengan nilai signifikansi < 0,05. Artinya terdapat peningkatan skor yang signifikan nilai rata-rata post-test dan pre-test pada kelompok kontrol sebagai kelompok yang tidak diberi perlakuan.
Selanjutnya uji Mann-whitney dilakukan untuk mengetahui perbedaan compulsive buying antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan hasil sebagai berikut:
Tabel 5. Hasil Uji Hipotesis Mann-whitney
Kelompok N U Z Sig, (2-
tailed) Compulsive
buying
14 0.000 -2,366 0.018
Tabel 5 menunjukkan hasil uji mann-whitney untuk menguji hipotesis menunjukkan nilai sebesar p < 0,05 dengan selisih skor -2,366, artinya terdapat perbedaan yang signifikan compulsive buying antara kelompok eksperimen dengan
16 kelompok kontrol. Perbedaan yang signifikan ini membuktikan bahwa hipotesis diterima yakni intervensi berupa self-regulation training yang diberikan berhasil menurunkan compulsive buying pada kelompok eksperimen.
Selanjutnya merupakan diagram perbandingan antara skor pre-test dan post- test kelompok ekperimen pada variabel compulsive buying.
Gambar 2. Perbedaan Skor Pre-test & Post-test Compulsive Buying Kelompok Experimen
Berdasarkan Gambar 2 dapat diketahui bahwa adanya perubahan skor compulsive buying pada masing-masing subjek kelompok ekperimen atau kelompok yang diberi inttervensi self-regulation training. Subjek yang mengalami penurunan skor compulsive buying yang paling rendah adalah subjek 6 dan subjek 7 diikuti oleh subjek 2, subjek 3 dan subjek 5.
Sedangkan hasil perbandingan skor pre-test dan post-test kelompok kontrol dengan variabel compulsive buying sebagai berikut:
0 10 20 30 40 50 60 70 80
Subjek 1 Subjek 2 Subjek 3 subjek 4 Subjek 5 Subjek 6 Subjek 7 Pre-test Post-test
17 Gambar 3. Perbedaan Skor Pre-test & Post-test Compulsive Buying Kelompok Kontrol
Gambar 3 menunjukkan skor compulsive buying pada masing-masing subjek pada kelompok kontrol sebagai kelompok yang tidak diberi intervensi. Adanya peningkatan skor compulsive buying pada subjek 1, subjek 3, subjek 4 dan subjek 7. Sedangkan pada subjek 2 dan subjek 6 tidak adanya peningkatan skor compulsive buying.
Hasil Deskripsi Intervensi
Pemberian intervensi menunjukkan adanya peningkatan skor self- regulation pada semua subjek untuk kelompok eksperimen. Adanya peningkatan skor self-regulation ditandai dengan adanya perubahan diri subjek menjadi lebih mampu dalam mengarahkan perasaan, keinginan, tindakan dan pemikiran dalam mengontrol perilaku membelinya.
Tabel 6. Deskripsi Perubahan Self-regulation
No Sebelum intervensi Setelah intervensi 1 Subjek berpikir apabila tidak
membeli barang tersebut maka akan muncul penyesalan
Subjek berfikir barang tersebut bukanlah barang yang harus dimiliki saat ini dan barang tersebut bukanlah barang yang dibutuhkan. Lebih baik uangnya ditabung atau menabung untuk membeli barang yang diinginkan.
60 62 64 66 68 70 72 74
Subjek 1 Subjek 2 Subjek 3 Subjek 4 Subjek 5 Subjek 6 Subjek 7 Pre-test Post-test
18 2 Subjek tetap membeli walapun
barang tersebut mahal, bisa membuat bahagia ketika memilikinya dan panik jika tidak membeli
Subjek menyeleksi terlebih dahulu apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan, membuat skala prioritas kebutuhan belanja, mengurangi perilaku untuk membuka e- commerce.
3 Munculnya emosi gelisah, cemas dan panik sebelum berbelanja.
Namun setelah berbelanja, muncul perasaan sedih, menyesal, senang namun berujung penyesalan
Mengontrol emosi dengan cara tidak berbelanja dan mengalihkan ke hal yang lebih positif seperti menonton film, berolahraga dan membereskan kamar menjadi salah satu cara untuk tidak berbelanja.
Tabel 6 menunjukkan adanya perubahan yang terjadi pada setiap subjek, dimana dalam setiap aspek self-regulation training seluruh subjek mempelajari dan mengevaluasi dirinya menjadi lebih baik. Intervensi self-regulation training membantu subjek dalam mengendalikan perilaku berbelanjanya secara kognitif, perilaku dan emosi.
Tabel 7. Deskripsi Perubahan Compulsive Buying
No Sebelum intervensi Setelah intervensi 1 Keinginan subjek kuat untuk
berbelanja, walaupun barang itu bukanlah barang yang dibutuhkan
Keinginan subjek menurun untuk berbelanja walaupun ada keinginan dari dalam diri untuk terus berbelanja 2 Adanya respon yang kuat dari
dalam diri subjek untuk selalu berbelanja
Lebih mengontrol diri dan tidak langsung merespon ketika dirinya ingin berbelanja dengan kembali membangun komitmen diri untuk tidak berbelanja
3 Munculnya perasaan bersalah setelah membeli terutama barang yang tidak sesuai ekspektasi
Tidak muncul perasaan bersalah dikarenakan membeli barang yang menjadi prioritas terlebih dahulu 4 Lingkungan pertemanan
mempengaruhi untuk berbelanja terus menerus
Lingkungan pertemanan masih mempengaruhi diri untuk berbelanja, namun kembali mengingatkan diri untuk mengurangi perilakunya dengan kembali mengontrol diri
Perubahan yang terjadi pada Tabel 7 menunjukkan adanya perubahan berbelanja pada subjek. Perubahan-perubahan ini berkaitan dengan aspek-aspek compulsive
19 buying yakni tendency to spend, reactive aspect, postpurchase guilt dan family environment.
PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan compulsive buying dikarenakan meningkatnya self-regulation setelah diberikan intervensi berupa self- regulation training. Kelompok eksperimen yang diberikan intervensi memiliki self- regulation yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Sehingga compulsive buying secara signifikan menurun pada kelompok eksperimen. Adanya pengaruh peningkatan self-regulation terhadap penurunan compulsive buying juga dijelaskan pada penelitian sebelumnya yang dimana ketika individu yang memiliki self- regulation yang tinggi maka compulsive buyingnya akan menurun, begitu pula sebaliknya ketika memiliki self-regulation yang rendah maka compulsive buyingnya akan meningkat (Faber & Vohs, 2004; Pradipto et al., 2016).
Meningkatnya self-regulation pada individu terjadi karena diberikan pelatihan mengenai self-regulation. Pelatihan self-regulation ini membuat individu mampu untuk memantau keadaannya saat ini, termasuk perkembangan dirinya dengan lingkungan, mengevaluasi kemajuan akan tujuannya serta mengevaluasi hasil yang diinginkannya. Dengan meningkatnya self-regulation individu maka ia mampu untuk mengatur strategi dalam pembelanjaannya (Faber & Vohs, 2011).
Keseluruhan subjek penelitian ini mengalami compulsive buying dikarenakan emosi negatif stres, cemas dan tertekan. Emosi negatif ini kemudian memunculkan keinginan berbelanja secara berlebihan guna untuk mendapatkan kebahagiaan, kesenangan dan emosi positif lainnya. Namun dikarenakan perilaku berbelanja ini terus menerus dilakukan keseluruhan subjek memunculkan perasaan bersalah (Reeves et al., 2012). Perasaan bersalah yang muncul yakni, subjek tidak dapat menabung untuk masa depan dan mendapatkan barang yang kualitas yang tidak sesuai.
Meningkatkan self-regulation yakni subjek diajak untuk berfikir untuk mengevaluasi diri apakah perilaku berbelanja sesuai dengan norma masyarakat (Faber & Vohs, 2011). Keseluruhan subjek menyadari jika perilaku berbelanjanya
20 tidak sesuai dengan norma masyarakat yakni belanja secara berlebihan dan berbelanja karena ingin mendapatkan emosi positif. Kemudian, keseluruhan subjek mencari pemecahan solusi untuk mengurangi perilaku berbelanjanya serta bagaimana mengalihkan emosi negatifnya ke arah yang lebih baik. Keseluruhan subjek membuat daftar barang kebutuhan terlebih dahulu selama periode 1 bulan.
Selain membuat daftar barang kebutuhan, keseluruhan subjek melakukan aktivitas untuk menggantikan perilaku berbelanjanya yakni, dua dari tujuh subjek mengalihkan perilaku berbelanjanya dengan cara mengeksplor masakan. Subjek lainnya mengalihkan perilaku berbelanjanya dengan cara, meronce, merajut dan menyulam, berolahraga, membersihkan rumah dan kamar, berkebun serta mewarnai.
Hasil evaluasi dari perencanaan yang telah dilakukan diketahui jika keseluruhan subjek mampu melakukan perencanaan walaupun di awal untuk melakukan perencanaan keseluruhan subjek mengalami kesulitan untuk melakukannya. Namun, dikarenakan keinginan keseluruhan subjek untuk berubah, maka seluruh subjek mampu melakukannya dengan cara bertahap. Kesulitan dalam pelaksanaan intervensi dikarenakan adanya faktor-faktor lainnya yang membuat subjek tidak konsisten dengan perencanaannya yakni adanya event promosi untuk membeli barang yang berkaitan dengan idolanya dikarenakan subjek dirayu oleh teman-temannya untuk membeli barang tersebut. Menurut Zimmerman (2000), faktor ekternal yakni lingkungan mempengaruhi self-regulation seseorang menjadi menurun.
Penelitian ini menemukan bahwa, individu yang memiliki perilaku compulsive buying dikarenakan akses untuk membeli barang cukup mudah.
Individu cenderung akan membeli barang menggunakan aplikasi online seperti e- commerce dikarenakan semua barang yang dibutuhkan tersedia serta memiliki harga yang lebih murah dibandingkan ketika membeli di toko secara langsung.
Sejalan dengan hasil penelitian Lim et al., (2017), compulsive buying seseorang, berdampak kuat pada niat berbelanja secara e-commerce dikarenakan kemudahan akses untuk berbelanja serta tidak ada batasan waktu ketika berbelanja.
21 Selain itu, pada penelitian ini ditemukan adanya individu yang memiliki compulsive buying dikarenakan adanya keterikatan individu dengan idolanya.
Individu tersebut sering berbelanja dikarenakan ia ingin menghilangkan perasaan cemas dan stres ketika sudah memiliki barang-barang yang berkaitan dengan idolanya. Dengan membeli barang-barang yang berkaitan dengan idolanya, maka individu akan merasa senang, bahagia dan memiliki emosi positif lainnya. Hal ini menyebabkan individu terus menerus membeli barang-barang yang berkaitan dengan idolanya tersebut. Sejalan dengan penelitian (Putri & Rositawati, 2020) yang menyebutkan bahwa individu yang memiliki keterkaitan diri dengan idola, maka ia akan terus menerus membeli barang merchandise sebagai kompensasi untuk menghilangkan emosi negatif seperti cemas, sedih, perasaan inferior yang seakan hilang.
Adapun kelebihan penelitian ini yaitu menjadi salah satu kajian baru terkait self-regulation training untuk menurunkan compulsive buying dikarenakan belum adanya penelitian yang mengkaji tentang self-regulation training untuk menurunkan compulsive buying. Adapaun keterbatasan dalam penelitian yakni jarak waktu untuk melakukan sesi follow up terlalu pendek yakni satu minggu.
Efektivitas self-regulation training dapat dilihat perkembangan atau perubahan pada subjek dilihat satu bulan setelah sesi terminasi. Namun, dikarenakan keterbatasan waktu, maka dilakukanlah sesi follow up satu minggu setelah sesi terminasi. Penelitian ini juga tidak dilakukannya penyamaan jumlah berbelanjanya dalam satu periode tertentu dan jumlah pengeluaran yang digunakan untuk berbelanja. Selain itu, tidak diketahui jumlah pendapatan pada masing-masing subjek sehingga tidak diketahui seberapa pengaruh pendapatan subjek untuk melakukan perbelanjaan selama periode tertentu.
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan terdapat penurunan compulsive buying dikarenakan meningkatnya self-regulation dengan menggunakan pelatihan self-regulation. Penelitian selanjutnya yang ingin meneliti mengenai compulsive buying disarankan untuk subjek tidak hanya perempuan, namun juga subjek laki-laki. Jumlah pemasukan dan pengeluaran serta jumlah
22 perbelanjaan yang dilakukan dalam satu periode diharapkan menjadi pertimbangan kedepan untuk dilakukannya penelitian. Adapun implikasi dalam penelitian ini menjelaskan bahwa self-regulation training dapat digunakan untuk mendukung dalam meningkatkan self-regulation dan mengurangi perilaku berbelanja serta mengantisipasi timbulnya gejala compulsive buying pada individu maupun kelompok.
23 REFERENSI
Achtziger, A., Hubert, M., Kenning, P., Raab, G., & Reisch, L. (2015). Debt out of control: The links between self-control, compulsive buying, and real debts.
Journal of Economic Psychology, 49, 141–149.
https://doi.org/10.1016/j.joep.2015.04.003
Baumeister, R. F., & Heatherton, T. F. (1996). Self-regulation failure: An overview.
Psychological Inquiry ISSN:, 7(1), 1–15.
https://doi.org/10.1207/s15327965pli0701_1
Black, D.W. (2001). Compulsive buying disorder. Therapy in Practice, 15(1), 17–
27. https://doi.org/10.1007/978-3-319-43153-6_11
Black, Donald Wayne, Shaw, M., McCormick, B., Bayless, J. D., & Allen, J.
(2012). Neuropsychological performance, impulsivity, ADHD symptoms, and novelty seeking in compulsive buying disorder. Psychiatry Research, 200(2–
3), 581–587. https://doi.org/10.1016/j.psychres.2012.06.003
Braquehais, M. D., Del Mar Valls, M., Sher, L., & Casas, M. (2012). Pathological collecting: A case report. International Journal on Disability and Human Development, 11(1), 81–83. https://doi.org/10.1515/IJDHD.2012.001
Brown, J. . (1998). Self-regulation and the addictive behaviours. In W. . Miller &
N. Heather (Eds.), Treating Addictive Behaviors (2nd ed.) (pp. 61–73). Plenum Press.
Carey, K. B., Neal, D. J., & Collins, S. E. (2004). A psychometric analysis of the self-regulation questionnaire. Addictive Behaviors, 29(2), 253–260.
https://doi.org/10.1016/j.addbeh.2003.08.001
Claes, L., Bijttebier, P., Eynde, F. Van Den, Mitchell, J. E., Faber, R., Zwaan, M.
de, & Mueller, A. (2010). Emotional reactivity and self-regulation in relation to compulsive buying. Personality and Individual Differences, 49(5), 526–
530. https://doi.org/10.1016/j.paid.2010.05.020
De la Fuente, J., Zapata Sevillano, L., Peralta, F. J., & López, M. (2016). Personal self-regulation, academic achievement, and satisfaction of learning (product).
International Journal of Developmental and Educational Psychology. Revista
INFAD de Psicología., 4(1), 187.
https://doi.org/10.17060/ijodaep.2014.n1.v4.602
Dell’Osso, B., Altamura, A. C., Allen, A., Marazziti, D., & Hollander, E. (2006).
Epidemiologic and clinical updates on impulse control disorders: A critical review. European Archives of Psychiatry and Clinical Neuroscience, 256(8), 464–475. https://doi.org/10.1007/s00406-006-0668-0
Edwards, E. . (1993). Development of a new scale for measuring compulsive buying behaviour. Financial Counseling and Planning, 4, 67–85.
Elger, C. E., Raab, G., Neuner, M., & Weber, B. (2011). A neurological study of Compulsive buying behaviour. Journal of Consumer Policy, 34(4), 401–413.
https://doi.org/10.1007/s10603-011-9168-3
24 Faber, R.J. (2004). Self-control and compulsive buying. In T. Kasser & A. . Kanner
(Eds.), Psychology and consumer culture: The struggle for a good life in a materialistic world (pp. 169–187). American Psychological Association.
Faber, R.J, & O’Guiin, T. . (1992). A clinical screener for compulsive buying.
Journal of Consumer Research, 19(3), 459–469.
Faber, R.J, & Vohs, K. . (2004). To buy or not to buy?: Self-control and self- regulatory failure in purchase behavior. In Handbook of self-regulation:
Research, theory, and applications (pp. 509–524). The Guilford Press.
Faber, R.J, & Vohs, K. . (2011). Self-regulation and spending: Evidence from impulsive and compulsive buying. In Handbook of self-regulation: Research, theory, and applications (pp. 537–550).
Faber, Ronald J., Christenson, G. A., de Zwaan, M., & Mitchell, J. (1995). Two Forms of Compulsive Consumption: Comorbidity of Compulsive Buying and Binge Eating. Journal of Consumer Research, 22(3), 296.
https://doi.org/10.1086/209451
Feist, J., & Feist, G. . (2010). Teori kepribadian, edisi 7. Salemba Humanika.
Filomensky, T., & Tavares, H. (2009). Cognitive restructuring for compulsive buying. Revista Brasileira de Psiquiatria, 31, 76–81.
https://doi.org/10.1590/S1516-44462009000100018
Granero, R., Fernández-Aranda, F., Mestre-Bach, G., Steward, T., Baño, M., del Pino-Gutiérrez, A., Moragas, L., Mallorquí-Bagué, N., Aymamí, N., Gómez- Peña, M., Tárrega, S., Menchón, J. M., & Jiménez-Murcia, S. (2016).
Compulsive buying behavior: Clinical comparison with other behavioral addictions. Frontiers in Psychology, 7(JUN), 1–12.
https://doi.org/10.3389/fpsyg.2016.00914
Graziano, P. A., & Hart, K. (2016). Beyond behavior modification: Benefits of social–emotional/self-regulation training for preschoolers with behavior problems. Journal of School Psychology, 58, 91–111.
https://doi.org/10.1016/j.jsp.2016.07.004
Hague, B., Hall, J., & Kellett, S. (2016). Treatments for compulsive buying: A systematic review of the quality, effectiveness and progression of the outcome evidence. Journal of Behavioral Addictions, 5(3), 379–394.
https://doi.org/10.1556/2006.5.2016.064
Inzlicht, M., & Schmeichel, B. J. (2012). What Is ego depletion? Toward a mechanistic revision of the resource model of self-control. Perspectives on
Psychological Science, 7(5), 450–463.
https://doi.org/10.1177/1745691612454134
Kang, Y. (2010). Self-regulatory training for helping students with special needs to learn mathematics. Lowa Research Online, 71, 1–131.
http://gateway.proquest.com/openurl?url_ver=Z39.88-
2004&rft_val_fmt=info:ofi/fmt:kev:mtx:dissertation&res_dat=xri:pqdiss&rft _dat=xri:pqdiss:3422152%5Cnhttp://ovidsp.ovid.com/ovidweb.cgi?T=JS&P
25 AGE=reference&D=psyc7&NEWS=N&AN=2011-99070-294
Kellett, S., & Bolton, J. V. (2009). Compulsive buying : A cognitive – behavioural model. Clinical Psychology & Psychotherapy, 16(2), 83–99.
Leach, M. P., Liu, A. H., & Johnston, W. J. (2005). The role of self-regulation training in developing the motivation management capabilities of salespeople?
Journal of Personal Selling and Sales Management, 25(3), 269.
https://doi.org/10.1080/08853134.2005.10749063
Lim, S. H., Lee, S., & Kim, D. J. (2017). Is online consumers’ compulsive buying beneficial for e-commerce companies? An empirical investigation of online consumers’ past Compulsive buying behaviors. Information Systems
Management, 34(1), 85–100.
https://doi.org/10.1080/10580530.2017.1254458
Madewell, J., & Shaughnessy, M. F. (2009). An interview with Judith Beck about cognitive therapy. North American Journal of Psychology, 11, 29–36.
Mangestuti, R. (2014). Model pembelian kompulsif pada remaja. Universitas Gajah Mada.
Miller, W. ., & Brown, J. . (1991). Self-regulation as a conceptual basis for the prevention and treatment of addictive behaviours. In Self-control and the addictive behaviours (pp. 3–79). Maxwell Macmillan.
Miltenberger, R. G., Redlin, J., Crosby, R., Stickney, M., Mitchell, J., Wonderlich, S., Faber, R., & Smyth, J. (2003). Direct and retrospective assessment of factors contributing to compulsive buying. Journal of Behavior Therapy and Experimental Psychiatry, 34(1), 1–9. https://doi.org/10.1016/S0005- 7916(03)00002-8
Mueller, A., Claes, L., Mitchell, J. E., Faber, R. J., Fischer, J., & De Zwaan, M.
(2011). Does compulsive buying differ between male and female students?
Personality and Individual Differences, 50(8), 1309–1312.
https://doi.org/10.1016/j.paid.2011.02.026
Mueller, A., Mitchell, J. E., Black, D. W., Crosby, R. D., Berg, K., & de Zwaan, M.
(2010). Latent profile analysis and comorbidity in a sample of individuals with compulsive buying disorder. Psychiatry Research, 178(2), 348–353.
https://doi.org/10.1016/j.psychres.2010.04.021
Neal, D. ., & Carey, K. . (2005). A follow-up psychometric analysis of the self- regulation questionnaire. Psychol Addict Behavavior, 19(4), 414–422.
O’Guinn, T. C., & Faber, R. J. (1989). Compulsive buying: A phenomenological exploration. Journal of Consumer Research, 16(2), 147.
https://doi.org/10.1086/209204
Parboteeah, D. V., Valacich, J. S., & Wells, J. D. (2009). The influence of website characteristics on a consumer’s urge to buy impulsively. Information Systems Research, 20(1), 60–78. https://doi.org/10.1287/isre.1070.0157
Pervin, L. ., Cervone, D., & John, O. . (2010). Psikologi kepribadian: Teori
26 danpenelitian edisi 9. Prenada Media Group.
Pradipto, Y. D., Winata, C., Murti, K., & Azizah, A. (2016). Think again before uou buy : The relationship between self- regulation and impulsive buying behaviors among Jakarta young adults. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 222, 177–185. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2016.05.209
Putri, D. E., & Rositawati, S. (2020). Pengaruh celebrity worship terhadap perilaku compulsive buying pada dewasa awal anggota komunitas baia Bandung.
Prosiding Psikologi, 6(1), 1–6.
Reeves, R. ., Baker, G. ., & Truluck, C. . (2012). Celebrity worship, materialism, compulsive buying, and the empty self. Psychology & Marketing, 29(9), 674–
679. https://doi.org/10.1002/mar.20553
Schnoll, R. (2019). Self-regulation training improves dietary behavior. Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics, 119(10), A131.
https://doi.org/10.1016/j.jand.2019.08.110
Sohn, S. H., & Choi, Y. J. (2012). A model of compulsive buying: Dysfunctional beliefs and self-regulation of compulsive buyers. Social Behavior and Personality, 40(10), 1611–1624. https://doi.org/10.2224/sbp.2012.40.10.1611 Spinella, M, Lester, D., & Yang, B. (2014). Compulsive buying tendencies and
personal finances. Psychological Reports, 115, 670–674.
Spinella, Marcello, Lester, D., & Yang, B. (2015). Compulsive buying tendencies.
Psychological Reports, 117(3), 649–655.
https://doi.org/10.2466/15.PR0.117c28z1
Sugiyono. (2010). Metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
Taylor, S. E. (2009). Psikologi sosial. Kencana.
Tresnadiani, D., & Taufik, A. (2020). The development and validation of short self- regulation scale (SSR) on indonesian college students. Conference:
Proceedings of the 5th International Seminar of Public Health and Education, ISPHE 2020. https://doi.org/10.4108/eai.22-7-2020.2300264
Valence, G., D’astous, A., & Fortier, L. (1988). Compulsive buying : A theoretical framework. Journal of Consumer Policy, 11(1981), 419–433.
Villardefrancos, E., & Otero-López, J. M. (2016). Compulsive buying in university students: Its prevalence and relationships with materialism, psychological distress symptoms, and subjective well-being. Comprehensive Psychiatry, 65, 128–135. https://doi.org/10.1016/j.comppsych.2015.11.007
Vohs, K. D., & Faber, R. J. (2007). Spent resources: Self-regulatory resource availability affects impulse buying. Journal of Consumer Research, 33(4), 537–547. https://doi.org/10.1086/510228
Warschburger, P. (2015). SRT-Joy - computer-assisted self-regulation training for obese children and adolescents: Study protocol for a randomized controlled
27 trial. Trials, 16(1), 1–10. https://doi.org/10.1186/s13063-015-1078-2
Williams, A. D. (2012). Quality of life and psychiatric work impairment in compulsive buying: Increased symptom severity as a function of acquisition behaviors. Comprehensive Psychiatry, 53(6), 822–828.
https://doi.org/10.1016/j.comppsych.2011.11.001
Williams, A. D., & Grisham, J. R. (2012). Impulsivity, emotion regulation, and mindful attentional focus in compulsive buying. Cognitive Therapy and Research, 36(5), 451–457. https://doi.org/10.1007/s10608-011-9384-9
Workman, L., & Paper, D. (2010). Compulsive Buying : A Theoretical Framework.
The Journal of Business Inquiry, 9(1), 89–126.
Zebardast, A., Ali, M., & Hghighatgoo, M. (2011). Social and The relationship between self-regulation and time perspective in students. Procedia - Social
and Behavioral Sciences, 30, 939–943.
https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2011.10.182
Zimmerman, B. J. (2000). Attaining self-regulation: A social cognitive perspective.
In P. . M. Boekaerts, Pintrich, & M. Zeidner (Eds.), Handbook of self- regulation (pp. 13–39). Academic Press.