• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Konsep utama

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Konsep utama"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1 TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Konsep utama Ekspor dan kesiapan ekspor

Menurut Ferrel (2016), ekspor didefinisikan sebagai “The sale of goods and services to foreign markets”. Ekspor suatu negara ke negara lain bisa dalam bentuk barang atau jasa (goods or services). Menurut Krugman (2003) dalam buku International Economics, “A country has a comparative advantage in producing a good if the opportunity cost of producing that good in terms of other goods is lower in that country than it is in other countries. … Trade between two countries can benefit both countries if each country exports the goods in which it has a comparative advantage. This is a statement about possibilities, not about what will actualli happen … International production and trade is determined in the marketplace where supply and demand rule.”. Sehingga dapat disimpulkan ekspor merupakan bentuk dari perdagangan luar negeri yang memberikan dampak keuntungan bagi suatu negara, perdagangan yang dilakukan selain memberi keuntungan juga akan memberi peluang untuk setiap negara jika mengekspor menggunakan sumber daya yang melimpah dan mengimpor untuk mendapat sumber daya langka dari negara lain. Ekspor atau perdagangan luar negeri merupakan kegiatan berdagang antar negara, dimana keduanya akan terjadi saling tukar-menukar produk, pengiriman barang dari satu negara ke negara lain didasari dengan permintaan dari pembeli di negara tersebut, secara lebih eksplisit perdagangan ekspor adalah perdagangan dengan cara mengeluarkan atau mengirim barang dari wilayah pabean keluar wilayah suatu negara. (Risa 2018, 2:3)

Berdasarkan kamus psikologi kesiapan (readiness) merupakan sikap tertentu dalam mencapai titik kematangan seseorang dalam menerima serta mempraktekan. Menurut Putra dan Huda (2021), kesiapan adalah kondisi saat seseorang siap untuk memberi respon atau feedback terhadap situasi tertentu. Penelitian terdahulu yang berkaitan antara kesiapan UKM dan ekspor dilakukan oleh Ermawati dan Supeni (2021), membahas mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan manajemen UKM dalam menghadapi era baru, dengan hasil adanya faktor yang memiliki pengaruh terhadap kesiapan UKM meliputi, produktivitas, akses pembiayaan, penerapan IT, kompetensi SDM, tingkat pendidikan dan kemampuan inovasi, hanya faktor skala usaha yang tidak berpengaruh terhadap kesiapan.

(2)

2 2.2 UMKM

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) adalah kegiatan usaha dengan tujuan memperluas lapangan kerja dan memberi pelayanan ekonomi secara luas untuk masyarakat.

UMKM juga memiliki peran sebagai pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat, juga pendorong pertumbuhan ekonomi dan memiliki peran mewujudkan stabilitas nasional (Hastuti, Nurofik et al 2020, 158:159).

Berdasarkan UU No.9 Tahun 1999 tentang Usaha kecil kemudian diubah ke Undang- Undang No. 20 Tahun 2008 mengenai Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, pengertian UMKM dalam pasal 1 adalah:

1. Usaha Mikro merupakan usaha produktif milik perseorangan atau badan usaha perseorangan yang telah memenuhi kriteria Usaha Mikro.

2. Usaha Kecil merupakan usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, serta dilakukan perseorangan atau badan usaha yang tidak termasuk dalam anak perusahaan atau anak cabang yang dmiliki, dikuasai atau menjadi bagian baik langsung atau tidak langsung dari Usaha Menengah dan Usaha Besar.

3. Usaha Menengah merupakan usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, serta dilakukan perseorangan atau badan usaha yang tidak termasuk dalam anak perusahaan atau anak cabang yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian baik langsung atau tidak langsung dari Usaha Kecil dan Usaha Besar.

4. Usaha Besar merupakan usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh badan usaha dengan pendapatan tahunan dari hasil penjualan lebih besar dari Usaha Menengah, meliputi usaha nasional milik negara atau swasta, usaha patungan, dan usaha asing yang dalam kegiatannya dilakukan di Indonesia.

Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, didapat kriteria UMKM dalam pasal 6 dalam bentuk permodalan sebagai berikut:

1. Kriteria Usaha Mikro

• Memiliki jumlah kekayaan bersih maksimal Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah), tanah dan bangunan tempat usaha tidak termasuk.

• Memiliki pendapatan tahunan dari penjualan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

2. Kriteria Usaha Kecil

(3)

3

• Memiliki jumlah kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai maksimal Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah), tanah dan bangunan tidak termasuk.

• Memiliki pendapatan tahunan dari penjualan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai maksimal Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

3. Kriteria Usaha Menengah

• Memiliki jumlah kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai maksimal Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah), tanah dan bangunan tidak termasuk.

• Memiliki pendapatan tahunan dari penjualan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai maksimal Rp50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).

2.3 Faktor pendorong dan penghambat UMK dalam ekspor

Menurut Salvatore Salavatore (2007) dalam Muchtar dan Suganda (2021), terdapat faktor yang menjadi pendorong sebuah negara untuk melakukan ekspor antara lain: Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita, harga barang, nilai tukar riil dan jumlah populasi. Pada penelitian yang dilakukan Muchtar dan Suganda (2021) dalam jangka panjang jumlah UMKM merupakan faktor yang dominan dalam peningkatan ekspor, sedangkan dalam jangka pendek besaran kredit usaha rakyat lebih berpengaruh.

Selain itu terdapat juga hal yang sering menjadi faktor penghambat dari Usaha Mikro sehingga sering menjadi kelemahan UMKM seperti penelitian Pratiwi (2021) meliputi:

a) Faktor internal

• Kemampuan sumber daya manusia.

• Dalam pemasaran produk sebagian banyak yang memprioritaskan pada produksi sehingga dalam aspek pemasaran kurang terakses, terutama pada pangsa pasar.

• Konsumen yang cenderung meragukan kualitas produk.

• Permodalan usaha yang menjadi kendala karena menggunakan modal sendiri yang relatif kecil.

b) Faktor eksternal

Faktor eksternal adalah masalah pemahaman tentang pasar sasaran yang berada di luar negeri, pemahaman tentang berbagai syarat dan prosedur untuk melakukan ekspor.

(4)

4 2.4 Penelitian Terdahulu

Penelitian Sudarso (2018), meneliti tentang faktor keberhasilan suatu usaha berbasis ekspor yang ada di Kota Magelang, pada penelitian tersebut didapatkan hasil yang telah diambil dari beberapa sampel 30 UKM yang berbasis ekspor faktor teknis, faktor SDM, faktor operasional dan faktor keuangan adalah yang terpenting dalam mendukung kegiatan dan keberlangsungan usaha, kecil dan menegah, hal tersebut terbukti dengan didapatnya respon dari pelaku usaha terdapat peningkatan kapasitas, laba yang meningkat dan penjualan yang meningkat sehingga signifikan dengan faktor yang telah diteliti.

Penelitian terdahulu yang dilakukan Razak et al (2018) membahas mengenai isu dan tantangan dengan membandingkan UKM di Turki dan Malaysia, mendapatkan hasil terdapat beberapa faktor yang sama menjadi kendala UKM seperti, kendala keuangan, pengetahuan tentang UKM dan bantuan pemasaran. Hal tersebut membuat peneliti memiliki asumsi bahwa UKM di Turki harus melakukan mobilisasi agennya untuk membantu UKM dalam menyediakan lebih banyak pembiayaan, dalam melakukannya dapat dilakukan dengan meningkatkan akses UKM terhadap pembiayaan perbankan, meningkatkan kesadaran pelaku UKM tentang sistem jaminan kredit ekspor dan modal ventura. Menghadapi masalah pengetahuan hal yang perlu dilakukan UKM di Turki adalah agen/pengembang harus memberi akses pada pelaku UKM untuk meningkatkan keterampilan dasar dan operasi dengan tujuan agar mengenal teknologi dan meningkatkan pengetahuan mereka dalam inovasi. Terakhir untuk mengatasi masalah bantuan pemasaran dapat dilakukan dengan mengatur program dukungan kewirausahaan untuk UKM di Turki dengan cara melibatkan pihak yang terkait seperti Pemerintah, LSM dan Universitas dalam pelatihan pengusaha untuk menyiapkan rencana bisnis.

Penelitian yang dilakukan Magdalena dan Pardede (2018) mengenai pelatihan pemahaman peluang dan tantangan UMKM di era MEA, dengan tujuan agar UMKM di Bogor dapat menyesuaikan pasar dan mengikuti kemajuan teknologi sekarang, tantangan yang dihadapi UKM di Indonesia dalam menghadapi MEA meliputi, penentuan harga agar dapat bersaing dan terjangkau oleh konsumen tanpa harus mengurangi kualitas produk, infrastruktur yang lemah dalam akses transportasi menyebabkan biaya ekonomi lebih tinggi sehingga berdampak bagi sektor produksi dan pasar, secara akses finansial UKM masih kesulitan dalam mendapat pinjaman dari bank karena dari pihak bank sendiri masih ragu, pemanfaatan teknologi yang masih kurang disebabkan kurangnya pengetahuan dan akses sehingga

(5)

5

berdampak bagi kegiatan promosi, investasi UKM pada pengembangan dan penelitian produk atau jasa masih rendah dikarenakan lebih berfokus pada pemasaran atau kebutuhan operasional, serta dalam perencanaan bisnis untuk UKM belum matang. Dengan beberapa tantangan tersebut penelitian ini mendapat hasil beberapa hal yang perlu dilakukan pelaku UMKM dalam menghadapi MEA seperti : mempelajari mekanisme dalam MEA terkait pasar bebas dan produk apa saja yang disepakati, pemahaman pelaku UMKM terhadap regulasi pemerintah menyikapi adanya MEA dengan ikut sosialisasi, kualitas produk seperti bahan baku, pembuatan produk, kontrol terhadap kualitas, inovasi produk, jaminan kontinuitas mengenai ketersediaan barang dan meningkatkan semangat wirausaha serta motivasi.

Penelitian yang dilakukan Oktavian (2018) menganalisis keuangan usaha mikro dengan orientasi ekspor yang berada di Kecamatan Laweyan Kota Surakarta. Dari penelitian tersebut didapat hasil di Kecamatan Laweyan ada 43 Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), namun dari jumlah tersebut hanya 25 UMKM yang berorientasi ekspor, produk yang dihasilkan masih didominasi oleh industry batik. Seiring berkembangnya UMKM di Kecamatan Laweyan ditemukan beberapa permasalahan pada pelaku usaha tersebut seperti, kurangnya modal yang membuat UMKM tidak bisa mengembangkan potensi produk-produknya yang menjadi unggulan, SDM yang masih rendah sehingga membuat bagi para pelaku UMKM belum bisa memanfaatkan teknologi untuk memasarkan produknya, dalam kegiatan ekspor terkendala biaya dan persoalan perizinan.

Penelitian lain yang berkesinambung dilakukan oleh Suriadi (2021) membahas mengenai peluang dan tantangan UKM di NTB dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dari analisis peluang UMKM didapatkan 2 faktor eksternal dan internal yakni;

a. Secara eksternal peluang bagi pelaku usaha di NTB cukup besar dilihat dari munculnya pasar ASEAN dengan pertumbuhan Direct Investment dari luar negeri ke wilayah ASEAN mengalami peningkatan yang signifikan 75%. Selain itu negara di ASEAN juga mengalami pertumbuhan, sehingga menciptakan peluang bagi UMKM di NTB dalam bersaing.

b. Secara internal peluang yang dimiliki UMKM di Indonesia cukup besar, dikarenakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dibanding negara ASEAN lainnya. Selain itu dengan potensi pengembangan industri nasional yang berfokus pada kegiatan produksi dengan adanya pasar domestik yang besar, penduduk usia muda/produktif, investasi yang naik dan sumber daya alam yang cukup dimiliki negara Indonesia.

(6)

6

Dari analisis tantangan UMKM di NTB dalam menghadapi MEA dibagi menjadi 2 faktor:

a. Secara internal permasalahan yang dihadapi berasal dari kemampuan/keahlian sumber daya manusia (SDM) yang kurang dibandingkan dengan usaha dengan skala sedang dan besar yang menggunakan (SDM) profesional dan memiliki skill tinggi, sistem manajerial UMKM yang masih tradisional, dimana pengambilan keputusan masih pada satu orang saja, selain itu dari segi pemasaran yang belum luas dan keterbatasan modal.

b. Secara eksternal pembinaan kepada UMKM berupa pelatihan manajemen baik dari pemerintah pusat atau daerah masih kurang, selain itu tumpang tindih program dan kebijakan berkaitan dengan UMKM antara pemerintah pusat dan daerah masih kurang dalam menghadapi MEA.

Referensi

Dokumen terkait

Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau

Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau

Usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau

Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau

Usaha menengah adalah ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan

Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang

Kriteria Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan

Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau