• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK SMA NEGERI 9 GOWA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROFIL KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK SMA NEGERI 9 GOWA"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Oleh:

JUSRIANI 105391103117

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2022

(2)

i SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh:

JUSRIANI 105391103117

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2022

(3)

iv

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

(4)

v

Nama : Jusriani

NIM : 105391103117

Program Studi : Pendidikan Fisika

Judul Skripsi : Profil Keterampilan Berpikir Kritis Peserta Didik SMA Negeri 9 Gowa

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji adalah hasil karya sendiri dan bukan hasil ciptaan orang lain atau dibuatkan oleh siapapun.

Demikian pertanyaan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.

Makassar, Januari 2022 Yang Membuat Pernyataan

JUSRIANI

(5)

vi

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

SURAT PERJANJIAN Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Jusriani

NIM : 105391103117

Program Studi : Pendidikan Fisika

Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidika Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut :

1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesai penyusunan skripsi ini, saya saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).

2. Dalam menyusun skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pemimpin fakultas.

3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (plagiat) dalam penyusunan skripsi.

4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1, 2, dan 3, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.

Demi perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.

Makassar, Januari 2022 Yang Membuat Pernyataan

JUSRIANI

(6)

vii

(7)

viii

Kebanyakan dari kita tidak mensyukuri apa yang sudah kita miliki, tetapi kita selalu menyesali apa yang belum kita capai.

Hiduplah seperti pohon kayu yang lebat buahnya;

hidup di tepi jalan dan dilempari orang dengan batu, tetapi dibalas dengan buah.

PERSEMBAHAN

Kupersembahkan karya ini untuk:

Kedua orang tua, keluarga, dan sahabat Atas keikhlasan dan doanya dalam mendukung setiap langkah dan setiap proses yang kulalui dalam penulisan ini

(8)

ix

Jusriani. 2021. Profil Keterampilan Berpikir Kritis Peserta Didik SMA Negeri 9 Gowa. Skripsi. Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Rahmawati dan pembimbing II Nurazmi.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keterampilan berpikir kritis peserta didik SMA Negeri 9 Gowa. Jenis penelitian ini yaitu penelitian ex post facto yang bersifat deskriptif untuk memperoleh data kuantitatif karena peneliti tidak memberikan perlakuan kepada responden sehingga penelitian ini hanya mengungkap variable apa adanya tanpa menghubungkan dengan variable lain. Aapun populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh peserta didik kelas X MIPA SMA Negeri 9 Gowa tahun ajaran 2020/2021 sampelnya dipilih dengan pengambilan kelas secara utuh ialah kelas X MIPA 1 SMA Negeri 9 Gowa yang berjumlah 36 peserta didik dengan laki-laki 13 orang dan perempuan 22 orang yang menjadi sampel dalam penelitian ini.

Instrument yang digunakan ialah tes keterampilan berpikir kritis yang telah valid untuk dilakukan. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa skor rata-rata profil keterampilan berpikir kritis peserta didik SMA Negeri 9 Gowa berada dalam kategori tinggi dengan presentase 24,9%. Adapun hasil analisis untuk setiap indikator keterampilan berpikir kritis menunjukkan bahwa setiap indikator yang paling menonjol ialah menyimpulkan dengan skor rata-rata 8,7 dan indikator yang sedang ialah menyusun strategi dan taktik dengan skor rata-rata 5,5. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat keterampilan berpikir kritis peserta didik kelas X MIPA SMA Negeri 9 Gowa cukup tinggi.

Kata Kunci: Keterampilan berpikir kritis.

(9)

x

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Tiada kata indah selain ucapan syukur Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah SWT, sang penentu segalanya, atas limpahan Rahmat, Taufik, dan Hidayah- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya sederhana.

Salam dan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw yang telah menjadi pelopor peradaban manusia yang hakiki, pembawa cahaya kehidupan dan teladan akhlak pencinta ilmu yang menjadi figur panutan dan inspirasi penulis hadir sebagai penyambung rantai kesinambungan ilmu pengetahuan melalui karya sederhana.

Skripsi yang berjudul “PROFIL KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK SMA NEGERI 9 GOWA”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan akademik guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Fisika pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhahammadiyah Makassar.

Dari awal penyusunan skripsi, faktor luar sangat membakar api semangat penulis untuk selalu bertindak dengan sungguh-sungguh, sehingga skripsi ini bisa terselesikan. Penulis hanya bisa membalas mereka dengan do’a dan menyampaikan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada mereka yang turut membantu dalam setiap langkah penyelesaian karya ini.

(10)

xi

pihak, akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan. Olehnya itu, penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan dengan setulusnya kepada Kedua Orang Tua saya sendiri yang selalu memberikan dukungan dan tentunya do’a yang tiada hentinya kepada saya. Ibu Dr. Rahmawati, S.Pd.. M.Pd., selaku pembimbing I dan Ibu Nurazmi, S.Pd.. M.Pd., selaku pembimbing II yang selalu bersedia meluangkan waktunya dalam membimbing penulis, memberikan ide, arahan, saran, dan bijaksana dalam menyikapi keterbatasan pengetahuan penulis, serta memberikan ilmu dan pengetahuan yang berharga dalam penyusunan skripsi ini. Semoga Allah SWT., memberikan perlindungan, kesehatan, dan pahala yang berlipat ganda atas segala kebaikan yang telah dicurahkan kepada penulis selama ini.

Pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan ucapan terima kasih juga kepada:

1. Bapak Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag, selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Bapak Erwin Akib, M.Pd.,Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Ibu Dr. Nurlina, M.Pd., selaku Ketua beserta bapak Ma’ruf, S.Pd.,M.Pd., selaku Sekretaris Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Bapak Ishaq, S.Pd., M.Pd., selaku Penasehat Akademik penulis.

(11)

xii berjasa.

6. Bapak H. M. Nafsar, S.Pd.,M.Pd., selaku Kepala SMA Negeri 9 Gowa yang telah memberikan izin untuk meneliti.

7. Ibu Hj. Syamsiah S.Pd., selaku guru Fisika di SMA Negeri 9 Gowa yang telah memberikan bantuan dan masukannya selama penelitian.

Dengan ini penulis senantiasa, mengharapkan saran dan kritik sehingga penulis dapat berkarya yang lebih baik lagi pada masa yang akan datang. Dengan harapan dan do’a penulis, semoga skripsi ini memberikan manfaat dan menambah ilmu pengetahuan khususnya di bidang Pendidikan Fisika.

Billahi Fii Sabilil Haq. Fastabiqul Khaerat.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Makassar, Januari 2022

Penulis

(12)

xiii

LEMBAR PENGESAHAN………. ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

SURAT PERNYATAAN ... iv

SURAT PERJANJIAN ... v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN………....xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Manfaat Penelitian ... 4

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 6

A. Kajian berpikir ... 6

1. Defenisi berpikir……….6

2. Defenisi berpikir kritis………....8

3. Manfaat berpikir kritis………...13

(13)

xiv

6. Indikator keterampilan berpikir kritis………... 18

B. Penelitian Relevan……….. 20

C. Kerangka Berpikir……….. 22

BAB III METODE PENELITIAN ... 24

A. Jenis Penelitian ... 24

B. Populasi dan Sampel Penelitian ... 24

C. Definisi Operasional Variabel ... 25

D. Prosedur Peneltian ... 25

E. Instrumen Penelitian... 26

F. Teknik Pengumpulan data ... 29

G. Teknik Analisis Data ... 30

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 32

A. Hasil Penelitian ... 32

B. Pembahasan ... 37

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 40

A. Simpulan ... 40

B. Saran ... 40

DAFTAR PUSTAKA ... 41 LAMPIRAN-LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

(14)

xv

Tabel Halaman

Tabel 2.1 Indikator Keterampilan Berpikir Kritis Menurut Ennis………..18

Tabel 3.1 Distribusi peserta didik kelas X MIPA SMA Negeri 9 Gowa………24

Tabel 3.2 Kisi-kisi instrumen tes keterampilan berpikir kritis………27

Tabel 3.3 Hasil uji coba validitas item instrument keterampilan berpikir kritis…….28

Tabel 3.4 Jumlah item tiap indikator pada instrumen tes keterampilan………..29

Tabel 3.5 Kategori Skor keterampilan berpikir kritis………..31

Tabel 4.1 statistik deskriptif skor hasil tes keterampilan……….32

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pengkategorian Skor……….33

Tabel 4.3 Rata-Rata Skor Keterampilan Berpikir Kritis……….35

(15)

xvi

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

Gambar 2.1 Kerangka Pikir……….23

Gambar 4.1 Diagram distribusi frekuensi………34 Gambar 4.2 Diagram rata-rata skor keterampilan………...36

(16)

xvii

Lampiran Halaman

1.1 Kisi-kisi Instrumen Tes keterampilan berpikir kritis...45

1. 2 Pedomen penskoran Tes keterampilan berpikir kritis...49

2. 1 Instrumen Tes keterampilan berpikir kritis Sebelum Uji Coba...56

2. 2 Instrumen Tes keterampilan berpikir kritis Setelah Uji Coba ...60

3. 1 Data Hasil Uji Coba Instrumen Tes keterampilan berpikir kritis ...63

3. 2 Output SPSS Uji Validitas Instrumen Tes keterampilan berpikir kritis ...65

3. 3 Output SPSS Uji Coba Reliabilitas Instrumen Tes keterampilan ...68

4. 1 Data Hasil Tes keterampilan berpikir kritis...70

5. 1 Output SPSS Analisis Statistik Deskriptif Tes keterampilan...74

(17)

1 A. Latar Belakang

Pembelajaran abad ke-21 mengharuskan peserta didik memiliki kemampuan berpikir yang biasa dikenal dengan High Order Thingking and Skill (HOTS).

Berdasarkan HOTS peserta didik diharapkan mempunyai tingkat berpikir yang tinggi salah satunya adalah berpikir kritis, oleh karena itu berpikir kritis yang rendah juga merupakan masalah nasional yang perlu ditangani. Tindakan peningkatan berpikir kritis dibuktikan dengan beberapa peneli tian yang relevan di berbagai daerah di Indonesia (Dennis Filsaime, 2010).

Keterampilan berpikir kritis peserta didik erat kaitannya dengan keterampilan peserta didik mengolah informasi yang didapatnya. Keterkaitan berpikir kritis dalam pembelajaran yaitu perlunya mempersiapkan peserta didik agar memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah, membuat keputusan yang matang, dan menjadi orang yang tak pernah berhenti belajar. Untuk meningkatkan dan memperbaiki daya berpikir kritis, gaya belajar mengajar pasif harus diubah menjadi gaya belajar mengajar yang aktif, pendidik membiasakan peserta didik mengajukan pertanyaan- pertanyaan yang menuntut peserta didik untuk berpikir secara kritis (Dennis Filsaime, 2010).

(18)

Berpikir kritis terdiri dari dua kata, yaitu berpikir dan kritis. Berpikir bagaimana merumuskan masalah, merencanakan penyelesaiaan, mengkaji langkah-langkah penyelesaian, membuat dugaan apabila data yang disajikan kurang lengkap, maka dengan itu diperlukan sebuah kegiatan berpikir yang disebut berpikir kritis (Dwijananti dan Yulianti, 2010). Orang yang berpikir kritis, cenderung pikirannya harus terbuka, jelas, dan setiap keputusan yang diambil harus disertai alasan berdasarkan fakta dan juga harus terbuka terhadap perbedaan pendapat (Dwijananti dan Yulianti, 2010)

Keterampilan berpikir kritis merupakan keterampilan dalam memecahkan permasalahan yang sangat penting dan menuntun berpikir logis dan rasional.

Mengajarkan peserta didik untuk berpikir kritis merupakan salah satu tujuan utama pendidikan. Sebagai pendidik, seorang guru harus mampu menciptakan pembelajaran yang mampu melatih kemampuan berpikir kritis peserta didik untuk menemukan informasi belajar secara mandiri dan aktif menciptakan struktur kognitif pada peserta didik (Nuryanti, 2018). Upaya untuk pembentukan kemampuan berpikir kritis peserta didik yang optimal mensyaratkan adanya kelas interaktif, peserta didik dipandang sebagai pemikir bukan seorang yang diajar, dan guru berperan sebagai mediator, fasilitator, dan motivator yang membantu peserta didik dalam belajar bukan mengajar .(Nuryanti, 2018).

Berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara yang dilakukan pada tanggal 12 Agustus 2021 dengan salah satu guru fisika di SMA Negeri 9 Gowa diperoleh informasi dari guru di sekolah tersebut, bahwa peserta didik kesulitan dalam menyelesaikan soal dengan tingkat kognitif dapat dilihat dari hasil ulangan harian

(19)

dengan nilai tertinggi berada pada (60%) dan nilai rendah berada pada (40%). Untuk tahun 2021 mengalami penurunan drastis di sebabkan karena sistem ini belajar online siswa kadang ikut belajar kadang juga tidak dengan alasan tidak punya kuota internet.

Hal ini merupakan salah satu kendala yang menyebabkan menurungnya prestasi belajar fisika siswa selama masa pandemi.

Peserta didik sudah terbiasa dengan istilah berpikir kritis karena setiap pertemuan siswa senantiasa di minta untuk bertindak/aktif didalam kelas. Terlebih lagi saat ini guru hanya memberi arahan, didikan, serta menilai hasil kegiatan siswa. Guru masa sekarang tidak harus lagi ceramah di depan siswa akan tetapi siswa yang menggantikan menjelaskan pelajaran didepan kelas. Cara guru untuk membimbing siswa berpikir yaitu: (1) Meminta siswa menyatakan kembali permasalahan/soal dengan kata-katanya sendiri. (2) Memberi pertanyaan-pertanyaan pengarah, (3) Meminta siswa menjelaskan terkait materi yang akan dibahas pada pertemuan hari itu. (4) Meminta siswa mencermati kembali hasil pekerjaannya. (5) Membuat siswa membandingkan hasil pekerjaan mereka satu sama lain.

Berpikir kritis mampu mengembangkan dan meningkatkan daya pikir atau pola pikir anak. Anak yang mampu berpikir kritis mampu menjadi seorang anak yang berkarakter. Salah satu cara berpikir kritis siswa di tengah pandemic COVID-19 ini dengan memberi soal/tugas Keterampilan berpikir kritis siswa juga dibangun melalui stimulan-stimulan berupa bahan bacaan atau tugas yang membuat peserta didik berpikir kritis. Pembelajaran daring secara live dengan menggunakan aplikasi zoom, guru bersama peserta didik bisa melakukan curah pendapat, diskusi, studi kasus, dan sebagainya. Selain sebagai sumber belajar, guru bisa menjadi moderator pada saat

(20)

diskusi berlangsung. Akan tetapi ini tidak pernah terlaksana karena kemampuan siswa hanya sampai diaplikasi WA untuk Zoom mereka tidak bisa menjangkau karena terlalu menguras data internetnya. Pada saat pembelajaran daring yang tidak live, guru menyiapkan sejumlah tugas atau pertanyaan yang bisa dikerjakan oleh peserta didik.

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka fokus penelitian ini adalah Profil Keterampilan Berpikir Kritis Peserta Didik SMA Negeri 9 Gowa.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan dengan latar belakang diatas maka rumusan masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah: Bagaimanakah keterampilan berpikir kritis peserta didik SMA Negeri 9 Gowa?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah: Mendeskripsikan keterampilan berpikir kritis peserta didik SMA Negeri 9 Gowa.

D. Manfaat Penelitian 1. Secara Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi atau masukan bagi perkembangan mata pelajaran fisika serta menunjukkan keterampilan berpikir kritis peserta didik kelas X SMA Negeri 9 Gowa.

(21)

2. Secara Praktis

a.) Bagi peserta didik, adanya keterampilan berpikir untuk dapat memahami konsep dan aplikasi yang sesuai dengan pembelajaran.

b.) Bagi guru, dapat memberikan bahan masukan untuk memperbaiki metode metode mengajar guna meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik.

c.) Bagi peneliti sendiri sebagai calon guru fisika, penelitian ini sebagai langkah awal yang baik dalam rangka mempersiapkan diri sebagai pendidik yang berkualitas.

(22)

6 BAB II

KAJIAN TEORETIS

A. Kajian Berpikir 1. Defenisi Berpikir

Berpikir adalah usaha memanipulasi atau mengelola dan mentransformasi informasi dalam memori. Sering dilakukan untuk membentuk konsep, bernalar, dan berpikir secara kritis. Berpikir diperlukan manusia dalam kehidupan sehari- hari.

Melalui berpikir manusia dapat mengenali masalah, memahami, dan memecahkannya. Di kalangan pelajar, kegiatan berpikir amat diperlukan dalam pembelajaran (Rusyana: 2014).

Sejalan dengan pernyataan di atas, Rusyna dalam bukunya menyatakan bahwa para ahli keterampilan berpikir memberikan defenisi berpikir sangat beragam, diantaranya berpikir didefenisiskan sebagai berikut: (Rusyana: 2014)

a. kegiatan akal untuk mengelola pengetahuan yang telah diterima melalui panca indra dan ditujukan untuk mencapai suatu kebenaran

b. penggunaan otak secara sadar untuk mencari sebab, berdebat, mempertimbangkan , memperkirakan dan merefleksikan suatu objek

c. kegiatan yang melibatkan penggunaan konsep dan lambang sebagai pengganti objek atau peristiwa.

(23)

d. berbicara dengan dirinya sendiri di dalam batin dengan cara mempertimbangkan, merenungkab, menganalisis, membuktiakn sesuatu.

Keterampilan berpikir dapat didefinisikan sebagai salah satu proses kognitif yang digunakan sebagai panduan dalam proses berpikir, dengan menyusun kerangka berpikir dengan cara membagi-bagi kedalam kegiatan nyata. Satu contoh keterampilan berpikir adalah menarik kesimpulan (inferring), yang di definisikan sebagai kemampuan untuk menghubungkan berbagai petunjuk (clue) dan fakta atau informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki untuk membuat suatu prediksi hasil akhir yang terumuskan.

Ditinjau dari tingkat kesulitan dan kerumitannya, keterampilan berpikir dibagi menjadi dua kelompok yaitu keterampilan berpikir dasar dan keterampilan berpikir kompleks. Berpikir dasar adalah proses berpikir yang hanya melibatkan kemampuan siswa menerima dan mengucapkan kembali fakta-fakta atau menghafal suatu rumusan dengan cara melakukan pengulangan terus menerus. Sedangkan berpikir kompleks adalah proses berpikir yang mengharuskan siswa untuk memanipulasi informasi dan ide-ide dalam cara tertentu yang memberikan mereka pengertian dan implikasi baru.

Dari beberapa teori di atas dapat disimpulkan bahwa keterampilan berpikir menurut Jusriani merupakan suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang yang melibatkan proses kognitif untuk menerima segala macam informasi yang diperolehnya sehingga dapat memutuskan tindakan yang tepat untuk suatu permasalahan.

(24)

2. Defenisi Berpikir Kritis

Kata kritis berasal dari bahasa Yunani yaitu kritikos dan kriterion. Kata kritikos berarti pertimbangan sedangkan kriterion mengandung makna ukuran baku atau standar. Sehingga secara etimologi, kata kritis bermakna pertimbangan yang didasarkan pada suatu ukuran baku atau standar. Dengan demikian secara etimologi berpikir kritis mengandung makna suatu kegiatan mental yang dilakukan seseorang untuk dapat memberi pertimbangan dengan menggunakan ukuran atau standar tertentu (Lambertus. 2009:137).

Berpikir kritis adalah berpikir jernih dan cerdas. Berpikir kritis merupakan suatu proses berpikir yang memenuhi standar intelektual.Standar intelektual adalah parameter dalam berpikir yang menunjukan seberapa kritis suatu argumen. Berpikir kritis merupakan istilah umum yang diberikan untuk berbagai keterampilan kognitif dan disposisi intelektual yang diperlukan untuk mengidentifkasi, menganalisis, dan mengevaluasi argumen dan pengakuan kebenaran secara efektif; menemukan dan mengatasi pendapat yang bias; merumuskandan menyajikan alasan yang meyakinkan dalam mendukung kesimpulan; membuat keputusan yang masuk akal terhadap sesuatu dan apa yang harus dilakukan (Ennis. 2011)

Berpikir kritis adalah melakukan penalaran terhadap dunia dengan cermat, mengkaji proses berpikir untuk digunakan dalam mengklarifikasi dan meningkatan pemahaman. Dengan demikian sesorang yang mampu berpikir kritis dapat membuat keputusan dengan tepat, melakukan klarifikasi dalam berpikir yang kompleks (Fisher 2014:2).

(25)

Ennis (2011) memberikan definisi berpikir kritis, yaitu berpikir kritis adalah berpikir reflektif yang berfokus pada pola pengambilan keputusan tentang apa yang harus diyakini, dan harus dilakukan.

Berpikir kritis adalah suatu kegiatan yang harus dilakukan oleh setiap orang untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih dalam dan bermakna. Setiap orang pasti akan berpikir sebelum melakukan sesuatu sehingga akan mendapatkan pengatahuan- pengetahuan dan pengertian atau pemahaman tentang sesuatu (Sujanto, 2010)

Berpikir kritis adalah sebuah proses sistematis yang memungkinkan seseorang untuk merumuskan dan mengevaluasi keyakinan dan pendapatnya sendiri sehingga akan terbentuk hal-hal yang dianggap benar dan pantas diyakini. Dengan merumuskan dan mengevaluasi keyakinan tersebut maka akan tercapai suatu pengetahuan yang saling berhubungan. Berpikir kritis merupakan bagian dari berpikir tingkat tinggi dan pendalaman dari berpikir biasa sehingga dapat dikatakan bahwa tidak semua orang bisa berpikir kritis karena dibutuhkan keyakinan yang kuat dan mendasar agar tidak mudah dipengaruhi (Sujanto, 2010:56)

Menurut Noor (2014), berpikir kritis adalah sebuah konsep yang kompleks yang melibatkan keterampilan kognitif dan kepercayaan diri, hal ini dapat juga dipengaruhi oleh beberapa cara yang digunakan guru dalam menyampaikan konsep materi kepada peserta didik. Berpikir kritis juga membutuhkan penalaran logis dan kemampuan untuk memisahkan fakta dan opini, memeriksa informasi kritis dan bukti sebelum menerima atau menolak ide – ide pertanyaan sehubungan dengan masalah yang akan diselesaikan.

(26)

Menurut (Kusumaningsih, 2011), berpikir kritis bukan sekedar berpikir logis sebab berpikir kritis harus memiliki keyakinan dalam nilai-nilai, dasar pemikiran, dan percaya sebelum didapatkan alasan yang logis dari padanya. Jadi ketika seseorang telah berpikir kritis maka ia pun telah berpikir logis, sebab di dalam berpikir kritis membutuhkan pemikiran – pemikiran yang logis. Tetapi seseorang yang telah berpikir logis belum tentu ia juga telah berpikir kritis, berpikir kritis merupakan sebuah proses terarah dan jelas yang digunakan dalam kegiatan mental seperti memecahkan masalah, mengambil keputusan, membujuk, menganalisis asumsi, dan melakukan penelitian ilmiah.

Berpikir kritis sebagai cognitive skill, didalamnya terdapat kegiatan interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, penjelasan, serta pengelolaan diri. (Richard 1993)

1.) Interpretasi adalah kemampuan untuk memahami dan menjelaskan pengertian dari situasi, pengalaman, kejadian, data, keputusan, konvensi, kepercayaan, aturan, prosedur, dan kriteria.

2.) Analisis adalah mengidentifikasi hubungan dari konsep, deskripsi, dan berbagai model yang dipergunakan untuk merefleksikan pemikiran, pandangan, kepercayaan, keputusan, alasan, informasi, dan opini, mengevaluasi ide dan pendapat orang lain, mendeteksi argument dan menganalisis argument merupakan bagian dari analisis.

3.) Evaluasi adalah kemampuan untuk menguji kebenaran pernyataan yang digunakan untuk menyampaikan pemikiran, persepsi, pandangan, keputusan , alasan, serta opini, evaluasi juga merupakan kemampuan untuk menguji

(27)

hubungan berbagai pernyataan, deskripsi, pertanyaan, dan bentuk lain yang dipakai dalam merefleksikan pemikiran.

4.) Inferensi adalah kemampuan untuk mengidentifikasi dan memilih elemen yang dibutuhkan untuk menyusun simpulan yang memiliki alasan, untuk mempertimbangkan informasi apa sajakah yang dibutuhkan dan untuk memutuskan konsekuensi yang harus diambil dari data, informasi, pernyataan, keadaan, prinsip, opini dan konsep.

5.) Kemampuan menjelaskan adalah kemampuan menyatakan hasil pemikiran, penjelasan, alasan berdasarkan pertimbangan bukti, konsep metodologi.

Termasuk dalam keterampilan ini adalah kemampuan menyampaikan hasil menjelaskan prosedur, dan mempresentasikan argument.

6.) Self regulation adalah kemampuan seseorang untuk mengatur sendiri dalam berpikir. Dengan kemampuan ini seseorang akan selalu memeriksa ulang hasil berpikirnya untuk kemudian diperbaiki sehingga menghasilkan keputusan yang lebih baik.

Berbagai ahli mendefinisikan berpikir kritis. Setiap ahli mendefiniskan berpikir kritis berbeda-beda hal ini dikarenakan sudut pandang, profesi maupun bidang yang melatarbelakanginya. Berpikir kritis adalah reasonable and reflective thingking on the deciding wh at to believe or do. Artinya berpikir kritis adalah penalaran dan berpikir reflektif yang difokuskan terhadap keputusan apa yang diyakini atau dilakukan.

Berpikir reflektif adalah suatu pertimbangan yang aktif, persistent (terus menerus), dan teliti mengenai sebuah keyakinan atau bentuk pengetahuan yang diterima begitu

(28)

saja dipandang dari sudut alasan-alasan yang mendukung dan kesimpulan-kesimpulan lanjutan yang menjadi kecenderungan.

Ada beberapa pengertian berpikir kritis menurut para ahli yaitu:

a.) Menurut Dacey dan Kenny, pemikiran kritis merupakan “The ability to think logically, to apply this logical thinking to the assessment of situations and to make good jufgments and decision” yang berarti kemampuan berpikir secara logis, dan menerapkannya untuk menilai situasi dan membuat keputusan yang baik. (Desnita, 2010:153)

b.) Menurut Gerhand berpikir kritis adalah suatu proses kompleks yang akan melibatkan penerimaan dan penguasaan data, analisis data, evaluasi data dan mempertimbangkan aspek kualitatif dan kuantitatif, dan membuat seleksi atau membuat keputusan berdasarkan hasil evaluasi. (Suwarna, 2009)

c.) Menurut John Chaffe, berpikir kritis diartikan sebagai berpikir untuk menyelidiki secara sistematis proses berpikir itu sendiri. Yaitu tidak hanya memikirkan dengan sengaja, tetapi juga meneliti bagaimana kita dan orang lain menggunakan bukti dan logika. (Johnson, 2010:187)

d.) Menurut Seriven dan Paul berpikir kritis adalah sebuah proses intelektual dengan melakukan pembuatan konsep, penerapan, melakukan sintesis, dan mengevaluasi informasi yang di peroleh dari observasi, pengalaman, refleksi, pemikiran atau komunikasi sebagai dasar untuk meyakini dan melakukan suatu tindakan. (Daud dan Suharjana, 2010:11)

Berdasarkan beberapa pengertian berpikir kritis di atas dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan keterampilan berpikir kritis adalah suatu keterampilan

(29)

berpikir secara logis, reflektif, sistematis dan produktif yang diaplikasikan dalam menilai situasi untuk membuat pertimbangan dan keputusan yang baik

Dari beberapa teori diatas dapat disimpulkan bahwa berpikir kritis menurut Jusriani adalah suatu proses penalaran yang melibatkan proses berpikir yang kompleks dalam membuat keputusan atau pendapat. Seseorang yang memiliki kemampuan berpikir kritis dapat mengindentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi sebelum akhirnya meyakini dan membuat kesimpulan terhadap sesuatu. Setiap keputusan yang diambil merupakan hasil pertimbangan yang ia buat dengan melibatkan proses berpikir.

3. Manfaat Berpikir Kritis

Setelah mengetahui pengertian dan disposisi berpikir kritis, secara spesifik berikut adalah manfaat perlu adanya berpikir kritis. Manfaat berpikir kritis dibedakan menjadi berpikir kritis ketika di kelas (sekolah), di dunia kerja dan dalam kehidupan.

(Bassham, hl.7) Penjelasan mengenai manfaat tersebut adalah sebagai berikut:

1.) Berpikir kritis di ruang kelas (sekolah)

Pembelajaran berpikir kritis menuntut siswamengembangkan keterampilan seperti memahami argumen dan percaya terhadap orang lain, mengevaluasi secara kritis argumen dan kepercayaan tersebut, serta mengembangkan dan mempertahankan argumen yang didukung dengan baik oleh kepercayaan dan pendapat sendiri. Pembelajaran yang melibatkan berpikir kritis saat di sekolah dapat membuat siswa terbiasa ketika memasuki jenjang yang lebih tinggi dalam hal ini perguruan tinggi. Siswa yang terbiasa berpikir kritis dapat mengevaluasi

(30)

pembelajaran yang diikuti. Pembelajaran dengan adanya pemikiran kritis dapat menghasilkan strategi dalam penyelesaian masalah secara kritis.

2.) Berpikir kritis di dunia kerja

Kesesuaian lulusan jurusan perguruan tinggi dengan tempat bekerja menunjukan hasil yang rendahkarena sebagian besarpegawai bekerja tidak sesuai dengan jurusan ketika kuliah. Anggapan yang berkembang, hal-hal tertentu yang digunakan saat bekerja akan menyesuaikan dan dapat dipelajari saat bekerja. Akan tetapi pegawai yang memiliki keterampilan berpikir dan komunikasi dengan baik, cepat dalam menyelesaikan masalah, mampu menarik kesimpulan dari suatu data dengan tepat merupakan kelebihan dari adanya keterampilan berpikir kritis yang dimiliki.

3.) Berpikir kritis dalam kehidupan

Berpikir kritis ternyata sangat dibutuhkan baik saat belajar ataupun ketika sudah bekerja. Berpikir kritis membantu seseorang terhindar dalam membuat keputusan bodoh dalam segala permasalahan kehidupan. Keberadaan berpikir kritis pada seseorang dapat membuatnya memikirkan segala hal dengan lebih hati- hati, jelas dan logis.

4. Keterampilan Berpikir Kritis

Keterampilan berpikir kritis adalah keterampilan dalam proses penalaran yang melibatkan proses berpikir yang kompleks dalam membuat keputusan atau pendapat.

Keterampilan berpikir kritis sering juga disebut dengan kemampuan penguasaan pengetahuan dalam berpikir kritis (Ritdamaya. 2016:14)

(31)

Keterampilan berpikir kritis penting untuk dikembangkan karena dapat meningkatkan keterampilan intelektual siswa dengan memfasilitasi siswa untuk aktif dalam pembelajaran (Prani. 2017:103)

Keterampilan berpikir kritis mengacu pada kemampuan khusus yang diperoleh melalui pengalaman dan latihan yang dilakukan oleh seseorang. Istilah keterampilan berpikir kritis dipahami sebagai kemampuan yang ada dalam diri (inerrability)dan sebagai sesuatu operasi yang dapat diidentifikasi (Lambertus 2009:137)

Keterampilan berpikir kritis merupakan proses pertimbangan yang aktif terus menerus dan teliti mengenai sebuah keyakinan atau bentuk pengetahuan yang diterima begitu saja dengan menyertakan alasan-alasan yang mendukung dan kesimpulan-kesimpulan yang rasional (Kasdin, 2012:77)

Keterampilan berpikir kritis mengandung aktivitas mental dalam memecahkan masalah, menganalisis asumsi, melakukan penyelidikan, dan mengambil keputusan.

Keterampilan berpikir kritis akan memberikan arahan yang lebih tepat dalam berpikir yang dapat membantu lebih akurat dalam menentukan keterkaitan sesuatu dengan lainnya. Oleh sebab itu keterampilan berpikir kritis sangat diperlukan dalam pemecahan masalah atau pencarian solusi. Dengan demikian keterampilan berpikir kritis tidak hanya sekedar menghimpun informasi, namun seseorang berpikir kritis mampu menyimpulkan dan mengetahui cara memanfaatkan informasi untuk memecahkan masalah serta mencari sumber sumber yang relavan (Rahmat, 2014: 78)

Keterampilan kritis setiap orang berbeda-beda, hal ini didasarkan oleh banyaknya faktor yang mempengaruhi berpikir kritis setiap individu. Menurut (Rubenfeld & Scheffer) ada 8 faktor yaitu “(a). Kondisi fisik, (b). Keyakinan

(32)

diri/motivasi, (c). Kecemasan, (d). Kebiasaan dan rutinitas, (e). Perkembangan intelektual, (f). Konsistensi, (g). Perasaan, (h). Pengalaman”.

a.) Kondisi fisik Kondisi fisik mempengaruhi keterampilan seseorang dalam berpikir kritis. Ketika seseorang dalam kondisi sakit, Sedangkan ia dihadapkan pada kondisi yang menuntut pemikiran matang untuk memecahkan suatu masalah, tentu kondisi seperti ini sangat mempengaruhi pikirannya sehingga seseorang tidak dapat berkonsentrasi dan berpikir cepat.

b.) Keyakinan diri/motivasi Motivasi sebagai pergerakan positif atau negative menuju pencapaian tujuan. Motivasi merupakan upaya untuk menimbulkan rangsangan, dorongan ataupun pembangkit tenaga untuk melaksanakan sesuatu tujuan yang telah ditetapkannya.

c.) Kecemasan Kecemasan dapat mempengaruhi kualitas pemikiran seseorang.

semakin tinggi kecemasan siswa, maka akan semakin rendah pula kemampuan berpikir kritisnya.

d.) Kebiasaan dan rutinitas Salah satu faktor yang dapat menurunkan kemampuan berpikir kritis adalah terjebak dalam rutinitas. Rubenfeld & Scheffer mengatakan kebiasaan dan rutinitas yang tidak baik dapat menghambat penggunaan penyelidikan dan ide baru.

e.) Perkembangan intelektual berkenaan dengan kecerdasan seseorang untuk merespons dan menyelesaikan suatu persoalan, menghubungkan dan menyatukan satu hal dengan yang lain, dan dapat merespon dengan baik, terhadap stimulus.

(33)

f.) Konsistensi Faktor yang mempengaruhi konsistensi adalah makanan, minuman, suhu ruangan, cahaya, pakaian, tingkat energi, kekurangan tidur,penyakit dan waktu yang dapat menyebabkan daya berpikir menjadi naik turun.

g.) Perasaan Perasaan atau emosi biasanya diidentifikasikan dalam satu kata yaitu sedih, lega, senang, frustasi, bingung, marah, dan seterusnya. Seseorang harus mampu mengenali dan menyadari bagaimana perasaan dapat mempengaruhi pemikirannya dan mampu untuk memodifikasi keadaan sekitar yang memberikan kontribusi kepada perasaan.

h.) Pengalaman Pengalaman merupakan hal utama untuk berpindah dari seorang pemula menjadi seorang ahli.

Dapat disimpulkan berpikir kritis menurut Jusriani adalah berpikir reflektif yang berfokus pada pola pengambilan keputusan tentang apa yang harus diyakini dan dilakukan.

5. Ciri-Ciri Keterampilan Berpikir Kritis

Terdapat ciri-ciri tertentu yang dapat diamati untuk mengetahui bagaimana tingkat keterampilan berpikir kritis seseorang. Keterampilan berpikir kritis merupakan keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik untuk mengaplikasikan dan menghubungkan pembelajaran dengan hal-hal yang baru. Adapun beberapa ciri- ciri dari keterampilan berpikir kritis, yaitu sebagai berikut: (Fauziah, 2017: 40)

a.) Mampu membuat simpulan dan solusi yang akurat, jelas, dan relevan terhadap kondisi yang ada.

(34)

b.) Berpikir terbuka dengan sistematis dan mempunyai asumsi, implikasi, dan konsekuensi yang logis.

c.) Berkomunikasi secara efektif dalam menyelesaikan suatu masalah yang kompleks.

Berdasarkan ciri-ciri di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik mampu mendaftar segala akibat yang mungkin terjadi atau alternatif pemecahan masalah, ide, dan situasi, dan mampu menarik kesimpulan dari data yang telah ada dan dapat membedakan argumentasi yang logis dan tidak logis. Berpikir kritis merupakan cara untuk membuat pribadi yang terarah, disiplin, terkontrol dan korektif terhadap diri sendiri. Hal ini tentu saja membutuhkan kemampuan komunikasi efektif dan metode penyelesaian masalah serta komitmen untuk mengubah paradigma egosentris dan sosiosentris.

6. Indikator Keterampilan Berpikir kritis

Ennis 1985 menggolongkan indikator keterampilan berpikir kritis yang dikelompokkan menjadi lima besar aktivitas sebagai berikut:

Tabel 2.1 Indikator Keterampilan Berpikir Kritis Menurut Ennis No. Kelompok Keterampilan

Berpikir Kritis

Indikator

1. Memberikan penjelasan sederhana

1. Memfokuskan pertanyaan:

a.) Mengidentifikasi atau

memformulasikan pertanyaan b.) Mengidentifikasi atau

memformulasikan kriteria dalam penilaian jawaban c.) Menjaga kondisi berpikir 2. Menganalisis argument

(35)

a.) Mengidentifikasi kesimpulan b.) Mengidentifikasi alasan yang

dinyatakan

c.) Mengidentifikasi alasan yang tidak dinyatakan

d.) Mencari persamaan dan perbedaan

e.) Mengidentifikasi dan menangani suatu ketidaksesuaian

f.) Melihat struktur pada suatu argument

g.) Membuat ringkasan 3. Mengajukan pertanyaan dan

menjawab pertanyaan klarifikasi atau tantangan, contoh

a.) Kenapa?

b.) Apa yang menjadi poin utama?

c.) Apa yang dimaksud?

d.) Maukah kamu menyatakan hal lain tentang itu?

2. MembangunKeterampilan 4. Menilai kredibilitas sumber a.) Mempertimbangkan keahlian b.) Mempertimbangkan prosedur

yang tersedia

c.) Kemampuan memberikan alasan

5. Melakukan observasi dan menilai laporan observasi

a.) Meminimalkan kesimpulan b.) Bukti pendukung

c.) Kompeten atau sesuai dengan teknologi

3. Menyimpulkan 6. Deduksi dan menilai deduksi a.) Siklus logika euler b.) Interpretasi dan teknologi

logika

7. Induksi dan menilai induksi a.) Generalisasi terhadap

kekhususan data, pengambilan contoh

b.) Hipotesis penjelasan 8. Membuat pernyataan nilai

(36)

a.) Fakta

b.) Konsekuensi c.) Alternatif d.) Prinsip nilai

e.) Pertimbangan, keputusan 4. Memberikan Penjelasan

Lebih Lanjut

9. Mendefinisikan istilah dan menilai definisi

10. Mengidentifikasi asumsi

a.) Alasan yang tidak dinyatakan b.) Asumsi yang diperlukan untuk

rekonstruksi argument 5. Menyusun Strategi dan

Taktik

11. Menentukan tindakan

a.) Menyeleksi kriteria untuk menilai solusi yang mungkin b.) Mengamati penerapannya 12. Berinteraksi dengan orang lain

a.) Menggunakan tabel dan berinteraksi dengan tepat terhadap kesalahan table b.) Strategi yang logis

(Ennis, 1985) B. Penelitian Relevan

1. Hasil penelitian (Dwikoranto dan Khoirunnisa, 2021) “Profil Keterampilan Berpikir Siswa dalam Penyelesaian Masalah Materi Hukum Newton”Disimpulkan bahwa profil keterampilan berpikir kritis siswa kelas X di SMA Negeri 1 Babat masih dalam kriteria sedang namun ada beberapa yang masih kategori rendah.

Kemampuan penyelesaian masalah di sekolah SMA Negeri 1 Babat juga tergolong masih sedang dan beberapa yang rendah, kebanyakan siswa hanya mengerjakan setengah tahapan saja dan masih mengerjakan dengan logika dasar. Presentase keterampilan berpikir kritis berbanding lurus dengan kemampuan pemecahan masalah. Tingkat keterampilan berpikir kritis siswa bisa dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar. Faktor luar berupa bagaimana cara guru mengajar yang dapat

(37)

mempengaruhi tingkat keterampilan berpikir kritis siswa namun terlepas dari itu peningkatan atau penurunan keterampilan berpikir kritis siswa bergantung pada faktor dalam dari masing-masing siswa.

2. Hasil penelitian (Zulaiha, 2018)“Profil Keterampilan Berpikir Kritis Siswa dalam Penggunaan Worksheet dan Problemsheet Menggunakan Multi Modus Representasi” Penggunaan Worksheet dan problemsheet efektif meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dengan kategori peningkatan sedang. Sebanyak 22 % dengan kategori peningkatan rendah, 75 % siswa dengan peningkatan sedang, dan 3 % siswa dengan kategori peningkatan tinggi.

3. Hasil penelitian (Khumairok Dkk, 2021) “Profil Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMP Pada Materi Getaran Gelombang dan Bunyi Menggunakan Soal Berbantuan Prompting Question” Hasil penelitian terkait profil tingkat keterampilan berpikir kritis siswa SMP pada materi getaran, gelombang, dan bunyi menggunakan soal berbantuan prompting question dapat disimpulkan tingkat keterampilan berpikir kritis siswa rata-rata tergolong sedang.

4. Hasil penelitian (Nadiya Dkk, 2016) “Penerapan Model Pembelajaran Group Investigation (gi) untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa pada Materi Gerak Lurus Kelas X” Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator menyimpulkan dengan skor sebesar 0,65 dengan kategori sedang, indikator penyelidikan dengan skor sebesar 0,48 dengan kategori sedang, indikator menganalisis dengan skor sebesar 0,52 dengan kategori sedang, indikator pemecahan masalah dengan skor sebesar 0,48 dengan kategori sedang dan indikator membuat keputusan dengan skor sebesar 0,67 dengan kategori sedang

(38)

5. Hasil penelitian (Wuri dan Mulyaningsih, 2014) “Penerapan Pendekatan Saintifik Pada Pembelajaran Fisika Materi Kalor Terhadap Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Kelas X Sma” hasil penelitian disimpulkan bahwa pembelajaran fisika dengan pendekatan saintifik pada kelas eksperimen 1 dan 2 secara konsisten terlaksana, kualitas keterlaksanaan tersebut masing-masing adalah 61,84% dan 64,80%. Dengan kriteria baik. Aktivitas siswa yang direpresentasikan dalam bentuk persentase untuk kelas eksperimen 1 dan 2 masing masing adalah 55,42%

dan 58,75%, dan memiliki kriteria cukup.

C. Kerangka Pikir

Keterampilan berpikir kritis ialah kemampuan mendorong peserta didik untuk memandang setiap permasalahan yang dihadapi. Rendahnya hasil pembelajaran fisika diakibatkan dari permasalahan guru yang kurang menjelaskan dengan materi yang dianggap susah oleh siswa, maka siswa cenderung malas untuk berpikir dalam mengulangi pembelajaran tersebut.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, maka peneliti ingin mengetahui keterampilan berpikir kritis peserta didik dengan memberikan tes yang berupa soal essay yang memuat indikator keterampilan berpikir kritis. Dari tes yang diberikan maka dapat diketahui keterampilan berpikir kritis peserta didik tersebut.

Berpikir kritis suatu proses siswa secara mendalam yang diterapkan pada kegiatan pembelajaran yang menggolongkan beberapa indikator yaitu. (1) memberikan penjelasan sederhana. (2) membangun keterampilan. (3) menyimpulkan.

(4) memberikan penjelasan lebih lanjut. (5) menyusun strategi dan taktik. Dalam

(39)

pengkategorian keterampilan berpikir kritis di SMA Negeri 9 Gowa terdapat dalam kategori tinggi dan sedang.

.

Gambar 2.1 Kerangka Pikir

Belum maksimalnya pembiasan dalam aktivitas berpikir

Keterampilan berpikir kritis

Indikator keterampilan berpikir kritis:

1. Menyimpulkan

2. Memberikan penjelasan lebih lanjut 3. Menyusun strategi dan taktik

Profil keterampilan berpikir kritis Peserta didik pada materi Gerak Lurus

berada pada kategori Tinggi dan Sedang

(40)

24 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah non-eksperimen dengan tipe expost facto. Penelitian expost facto adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi.

B. Populasi dan Sampel a. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas X SMA Negeri 9 Gowa dengan 6 kelas paralel yang berjumlah 216 siswa. Distribusi jumlah siswa per kelas di tunjukkan pada tabel 3.1

Tabel 3.1 Distribusi peserta didik kelas X MIPA SMA Negeri 9 Gowa.

Kelas Siswa

X Mipa 1 36

X Mipa 2 36

X Mipa 3 36

X Mipa 4 36

X Mipa 5 36

X Mipa 6 36

Jumlah 216

(41)

b. Sampel

Sampel yang diambil dari penelitian ini menggunakan simple random sampling yaitu memilih sampel secara acak tanpa memperhatikan strata peserta didik adapun yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah kelas X Mipa 1 yang berjumlah 36 siswa.

C. Defenisi Operasional Variabel

Keterampilan berpikir kritis adalah skor total tentang pengetahuan yang dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran atau melalui tingkat berpikir kritis.

Dengan indikator (1) Menyimpulkan; (2) Memberikan penjelasan lebih lebih lanjut;

dan (3) Menyusun strategi dan taktik.

D. Prosedur Penelitian

Penelitian ini dilakukan 3 tahap, yakni: tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap akhir.

1. Tahap Persiapan

Sebelum melakukan penelitian terlebih dahulu peneliti melakukan beberapa persiapan yaitu:

a) Observasi ke sekolah

Melakukan observasi ke masing – masing sekolah dan beskonsultasi dengan masing – masing guru mata pelajaran Fisika guna mengetahui tentang keadaan peserta didik, perolehan prestasi belajar sebelumnya, memberitahukan materi fisika apa yang akan dijadikan tes prestasi belajar fisika serta waktu penelitian.

(42)

b) Menyusun instrumen penelitian yang digunakan untuk tes profil keterampilan berpikir kritis SMA Negeri 9 Gowa.

c) Melakukan validasi ke validator ahli d) Melakukan validasi item

2. Tahap Pelaksanaan

a.) Sebelum membagikan instrumen penelitian kepada peserta didik, peneliti menjelaskan terlebih dahulu jenis tes yang akan dilakukan serta memberikan contoh pengerjaan soal keterampilan berpikir kritis.

b.) Membagikan instrumen tes keterampilan berpikir kritis dan lembar jawaban.

3. Tahap Akhir

Setelah semua pelaksanaan penelitian selesai, maka selanjutnya peneliti menganalisis semua data yang telah terkumpul untuk mengetahui bagaimana keterampilan berfikir kritis peserta didik SMA Negeri 9 Gowa pada materi hukum newton dalam pembelajaran fisika terhadap keterampilan berpikir kritis.

E. Instrumen Penelitian

Jenis instrumen dalam penelitian ini adalah berupa tes keterampilan berpikir kritis sebanyak 5 indikator ialah, memberikan penjelasan sederhana, membangun keterampilan, menyimpulkan, memberikan penjelasan lebih lanjut, menyusun strategi dan taktik dengan jumlah soal sebanyak 10 nomor. Adapun kisi-kisi instrumen tes keterampilan berpikir kritis yang di gunakan dapat di lihat pada table 3.2

(43)

Tabel 3.2 Kisi-kisi instrumen tes keterampilan berpikir kritis setelah divalidasi

No. Indikator Sub Indikator Jumlah

Soal 1. Memberikan

penjelasan Sederhana

Memfokuskan pertanyaan 0

Menganalisis argument 0

Mengajukan pertanyaan dan

menjawab pertanyaan klarifikasi atau tantangan

0

2. Membangun Keterampilan

Menilai kredibilitas sumber 0 Melakukan observasi dan menilai

laporan observasi

0 3. Menyimpulkan Deduksi dan menilai deduksi 1 Induksi dan menilai induksi 0

Membuat pernyataan nilai 1

4. Memberikan penjelasan lebih lanjut

Mendefinisikan istilah dan menilai definisi

1

Mengidentifikasi asumsi 1

5. Menyusun strategi dan Taktik

Menentukan tindakan 1

Berinteraksi dengan orang lain 0

Jumlah soal 5

Adapun beberapa langkah-langkah yang dapat di pakai dalam penyusunan instrumen tes keterampilan berpikir kritis ialah:

1. Menyusun soal instrumen tes keterampilan berpikir kritis yang berjumlah 10 nomor

2. Mengkonsultasikan instrument penelitian kepada dosen pembimbing , selanjutnya instrument divalidasikan kepada tim validator.

(44)

3. Melakukan uji coba untuk mengetahui tingkat kesukaran instrumen. Uji coba yang dilakukan di kelas X MIPA 4 SMA Negeri 9 Gowa, dengan jumlah sampel sebanyak 10 orang. Kemudian data dari hasil uji coba dianalisis dengan menggunakan uji validitas dan uji reliabilitas.

a. Uji validitas

Perhitungan validitas dalam penelitian ini dibantu dengan program SPSS 16.

Berdasarkan hasil analisis data yang ditampilkan pada lampiran, didapatkan jumlah soal instrument tes keterampilan berpikir kritis yang dapat digunakan dalam penelitian ini.

Tabel 3.3 Hasil uji coba validitas item instrument keterampilan berpikir kritis Instrumen Jumlah Item

Awal

Nomor Item Drop

Nomor Item Valid Tes Keterampilan

Berpikir Kritis

10 1,2,3,4,10 5,6,7,8,9

Jumlah 5 5

b. Uji reliabilitas

Perhitungan pada penelitian ini dibantu oleh program SPSS 16.

Selanjutnya mengkategorikan hasil uji reliabilitas yang diperoleh, dimana nomor soal yang memenuhi kriteria valid akan memiliki koefisien reliabilitas tes yang tinggi.

Setelah melalui tahapan-tahapan, maka diperoleh instrumen tes keterampilan berpikir kritis yang berjumlah 5 nomor. Jumlah item tiap

(45)

indikator pada instrument tes keterampilan berpikir kritis dapat dilihat pada tabel 3.4

Tabel 3.4 Jumlah item tiap indikator pada instrumen tes keterampilan berpikir kritis

No. Indikator Nomor

Item

Jumlah Item

1. Menyimpulkan 1, 2 2

2. Memberikan Penjelasan Lebih Lanjut

3, 4 2

3. Menyusun strategi dan taktik 5 1

Jumlah 5

F. Teknik Pengumpulan data

Tes ini digunakan untuk mengetahui profil keterampilan berpikir kritis peserta didik. Tes dalam penelitian ini berupa soal dalam bentuk uraian. Tes tersebut berupa uraian dan berpedoman pada indikator keberhasilan untuk mengungkapkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam menyelesaikan soal uraian di SMA Negeri 9 Gowa. Jumlah soal yang diberikan kepada peserta didik sebanyak 10 nomor soal yang telah divalidasi oleh validator.

(46)

G. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif, kuantitatif.

Deskriptif Kuantitatif

Teknik analisis deskriptif yang digunakan untuk menyajikan atau mengungkapkan keterampilan berpikir kritis SMA N 9 Gowa pada materi hukum newton. Hal tersebut untuk mengetahui skor keterampilan berpikir kritis peserta didik ditampilkan dalam bentuk skor rata-rata.

1.) Menghitung Mean rata-rata

Skor rata-rata peserta didik ditentukan dengan rumus berikut:

𝑀 = Σ K

N

Keterangan:

M = Mean atau rata-rata2

ΣX = Jumlah skor total peserta didik Peserta didik N = Jumlah frekuensi

(Sudijono, 2016:86) 2.) Standar Deviasi

𝑆𝐷 = √Σ𝐾2

𝑁 − (𝑀)2 Keterangan

SD = Standar deviasi

ΣX =Skor total Peserta didik

(47)

N = Jumlah frekuensi Peserta didik M = Mean/rata-rata

(Purwanto, 2016:202) 3.) Kategori Skor Keterampilan Berpikir Kritis

Tabel 3.5 Kategori Skor keterampilan berpikir kritis

Rentang Skor Kategori

0 – 14 Rendah

15 – 21 Sedang

22 – 28 Tinggi

29 – 32 Sangat Tinggi

(Diadopsi oleh Riduwan, 2015. 20)

4.) Persentase

P = 𝐹

𝑁 x 100%

Keterangan :

P = Angka presentase F = Frekuensi

N = Jumlah frekuensi

(Sudijono, 2012:86-176)

(48)

32

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Hasil analisis statistik deskriptif keterampilan berpikir kritis peserta didik

Rangkuman hasil analisis statistik deskriptif yang berkaitan dengan keterampilan berpikir kritis peserta didik di tunjukan dengan kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan tes berupa soal uraian. Hasil perhitungan analisis deskriptif untuk tes keterampilan berpikir kritis peserta di dik dapat dilihat pada tabel 4.1 :

Tabel 4.1 Statistik Deskriptif Skor Hasil Tes Keterampilan Berpikir Kritis Peserta Didik Kelas X Mipa 1 SMA Negeri 9 Gowa

Tabel 4.1 mengenai statistik deskriptif skor tes keterampilan berpikir kritis peserta didik kelas X MIPA 1 SMAN 9 Gowa menunjukkan gambaran secara umum keterampilan berpikir kritis peserta didik pada pembelajaran fisika. Berdasarkan hasil analisis di atas, untuk keterampilan berpikir kritis peserta didik dari 36 responden

Statistik Skor Nilai Statistik

Jumlah sampel 36

Skor maksimum 32

Skor minimum 9

Rentang 23

Skor rata-rata 25,8

Standar deviasi 4,1

(49)

telah diperoleh skor tertinggi yaitu 32 dan skor terendah diperoleh 9. Sedangkan yang di jadikan sebagai skor ideal maksimum dalam penelitian ini dengan pertimbangan bahwa untuk keterampilan peserta didik SMA Negeri 9 Gowa yang dapat dicapai peserta didik dalam waktu 1 x 45 menit adalah 32. Dan skor rata-rata yang telah diperoleh peserta didik adalah 25,8 dengan standar deviasi 4.1.

Jika hasil tes keterampilan berpikir kritis peserta didik kelas X MIPA 1 SMA Negeri 9 Gowa dibuat dalam table statistik deskriptif, maka dapat pula di buat tabel untuk mengetahui kategori penilaian hasil tes keterampilan berpikir kritis peserta didik. Skor yang diperoleh peserta didik jika di kelompokkan menjadi tiga kategori yaitu rendah, sedang dan tinggi, maka kategori tingkat keterampilan berpikir kritis fisika kelas X MIPA 1 SMA Negeri 9 Gowa dapat ditunjukkan pada table berikut.

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Penkategorian Skor Hasil Tes Keterampilan Berpikir Kritis Peserta Didik Kelas X MIPA 1 SMAN 9 Gowa

Interval Skor Frekuensi Persentase

9 – 14 3 8.3 %

15 – 21 12 33,3 %

22 – 28 16 16,7 %

29 – 32 5 13,8 %

Dari table 4.2 dapat di simpulkan bahwa peserta didik dengan kategori tes keterampilan berpikir kritis dapat menunjukkan bahwa 3 peserta didik berada pada kategori rendah dan kategori sedang terdiri dari 12 peserta didik dan kategori tinggi

(50)

terdiri dari 16 peserta didik dan sangat tinggi 5. Berdasarkan table 4.2 kategorisasi hasil tes keterampilan berpikir kritis peserta didik dapat di tunjukkan dengan diagram batang seperti pada gambar 4.1

Gambar 4.1 Diagram distribusi frekuensi berdasarkan pengkategorian skor hasil tes keterampilan berpikir kritis peserta didik kelas X MIPA 1 SMA Negeri 9 Gowa

Berdasarkan Gambar 4.1 mengenai diagram distribusi frekuensi berdasarkan pengkategorian skor hasil tes keterampilan berpikir kritis peserta didik kelas X MIPA 1 SMA Negeri 9 Gowa terlihat bahwa keterampilan berpikir kritis peserta didik berada pada kategori sedang namun masih di katakan belum maksimal bahkan masih ada beberapa peserta didik yang berada pada kategori sedang..

2. Rata-rata skor hasil tes keterampilan berpikir kritis peserta didik untuk setiap indikator

Gambaran peserta didik terhadap keterampilan berpikir kritis yang mencakup tiga indikator di antaranya Menyimpulkan, Memberikan penjelasan lebih lanjut,

0

3

12

16

5

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18

Sangat rendah

Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi

frekuensi

(51)

Menyusun strategi dan taktik. Di lakukan dengan cara mencari rata-rata skor setiap jenis indikator.

Tabel 4.3 Rata-Rata Skor Keterampilan Berpikir Kritis Peserta Didik Untuk Setiap Indikator Kelas X MIPA 1 SMAN 9 Gowa

No. Indikator keterampilan berpikir kritis

Skor rata- rata

Persentase Kategori

1. Menyimpulkan 8,7 24,9 % Tinggi

2. Memberikan penjelasan lebih lanjut

8,1 23,1 % Tinggi

3. Menyusun strategi dan taktik 5,5 15,7 % Sedang Berdasarkan tabel 4.3 mengenai rata-rata skor keterampilan berpikir kritis peserta didik untuk setiap indikatornya terlihat bahwa indikator keterampilan berpikir kritis peserta didik yang di kembangkan dalam penelitian ini ada tiga indikator yang di gunakan yakni Menyimpulkan, Memberikan penjelasan lebih lanjut, dan Menyusun strategi dan taktik yang telah di adobsi menurut Ennis (1985). Berdasarkan hasil analisis keterampilan berpikir kritis per indikator diperoleh skor rata-rata untuk indikator pertama sebesar 8,7 dengan persentase 24,9 % sehingga dapat dikatakan untuk indikator menyimpulkan berada pada kategori tinggi. Skor rata-rata pada Indikator kedua sebesar 8,1 dengan persentase 23,1 % maka dikatakan indikator memberikan penjelasan lebih lanjut berada pada kategori tinggi, dan skor rata-rata pada indikator menyusun strategi dan taktik sebesar 5,5 dengan persentase 15,7 % maka termasuk dalam kategori sedang. Berdasarkan tabel 4.3 rata-rata skor untuk

(52)

setiap indikator keterampilan berpikir kritis pada peserta didik kelas X MIPA 1 dapat di lihat dalam bentuk diagram pada gambar 4.3.

Gambar 4.2 Diagram rata-rata skor keterampilan berpikir kritis peserta didik per indikator.

Secara analisis yang lebih spesifik pada keterampilan berpikir kritis peserta didik, maka dibuat tabel untuk mengetahui kategori penilaian tes keterampilan berpikir kritis peserta didik untuk setiap indikatornya.

B. Pembahasan

Berdasarkan kajian pustaka dan hasil penelitian yang telah di lakukan maka bagian ini akan di kemukakan pembahasan yang mengenai hasil penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan keterampilan berpikir kritis peserta didik SMA Negeri 9 Gowa pada materi gerak lurus yang berada pada kategori tinggi dengan skor rata-rata sebesar 25,8, dan skor standar deviasi sebesar 4,1.

24.9 23.1

15.7

0 5 10 15 20 25 30

Menyimpulkan Memberikan penjelasan lebih

lanjut

menyusun strategi dan taktik

keterampilan berpikir kritis perindikator

Presentase

(53)

Dari hasil analisis deskriptif pada tabel 4.2 yang mengenai distribusi frekuensi berdasarkan pengkategorian skor hasil tes keterampilan berpikir kritis peserta didik kelas X MIPA 1 SMA Negeri 9 Gowa dapat dilihat bahwa keterampilan berpikir kritis peserta didik berada pada kategori tinggi. Dari 5 butir soal yang diajukan dalam tes , peserta didik memperoleh skor tertinggi 32 dan skor terendah 9. Dari 36 peserta didik yang berada pada kategori rendah terdapat 3 peserta didik, kategori sedang terdapat 12 peserta didik, untuk kategori tinggi terdapat 16 peserta didik, dan untuk kategori sangat tinggi terdapat 5 peserta didik. Berdasarkan hasil analisis tersebut yang mengenai kategorisasi hasil tes keterampilan berpikir kritis peserta didik pada materi gerak lurus kelas X MIPA 1 SMA Negeri 9 Gowa secara rata-rata di katakan cukup tinggi.

Berdasarkan table 4.3 mengenai skor rata-rata setiap indikator keterampilan berpikir kritis peserta didik SMA Negeri 9 Gowa menunjukkan bahwa indikator menyimpulkan mendapatkan skor rata-rata tertinggi. Selanjutnya indikator memberikan penjelasan lebih lanjut berada pada kategori sedang. Sementara indikator menyusun strategi dan taktik berada pada kategori rendah.

Hasil analisis data statistik dan pembahasan di atas mengarah pada suatu kesimpulan bahwa tingkat keterampilan berpikir kritis peserta didik kelas X MIPA SMA Negeri 9 Gowa cukup tinggi. Maka disebabkan beberapa peserta didik yang masih terfokus menghafal suatu konsep tanpa memahami konsep itu sehingga beberapa peserta didik yang belum tepat dalam memilih konsep sebagai dasar alasan menjawab. Maka keterampilan dalam berpikir kritis peserta didik masih perlu ditingkatkan kembali terhadap proses pembelajaran yang dilakukan.

(54)

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh sundary dan sarkity pada tahun 2021 dengan judul penelitian “Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA pada Materi Suhu dan Kalor dalam Pembelajaran Fisika” penelitiannya bahwa keterampilan berpikir kritis siswa pada materi suhu dan kalor didapatkan skor tertinggi pada kategori membuat penjelasan sederhana dengan skor 67,42 (kriteria sedang). Diikuti dengan kemampuan membangun keterampilan keterampilan dasar dan mengatur strategi dan taktik dengan masing-masing skor 65,15 (kriteria sedang).

Sedangkan keterampilan siswa dalam membuat penjelasan lebih lanjut (skor 50,76) dan membuat kesimpulan (26,52) masing-masing dalam kategori rendah dan sangat rendah. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa keterampilan berpikir kritis rata-rata siswa masih dalam kategori rendah (skor 55,00). Rendahnya keterampilan berpikir kritis siswa menjadi sebuah tantangan bagi guru dalam mengimplementasikan pembelajaran fisika.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh A’yun, dkk pada tahun 2020 dengan judul penelitian “Profil Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMP Dalam Pembelajaran Ipa pada Materi Tekanan Zat” penelitiannya bahwa tingkat berpikir kritis siswa SMP Negeri 2 Selomerto pada kriteria sedang. Faktor-faktor yang mempengaruhi berpikir kritis siswa yaitu: siswa kurang menguasai konsep, kurang teliti dalam menyelesaikan soal yang diberikan. Implikasi dari penelitian ini dapat memberi informasi tentang tingkat keterampilan berpikir kritis siswa pada indikator yang disajikan.

(55)

39 A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis deskriptif maka dapat disimpulkan bahwa tingkat keterampilan berpikir kritis peserta didik SMA Negeri 9 Gowa pada materi gerak lurus kelas X MIPA 1 berada pada kategori tinggi dengan persentase 24,9 % dan skor mean yang di peroleh ialah 25,8.

B. Saran

Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini, penulis dapat memberikan beberapa saran yaitu:

1. Kepada pendidik diharapkan untuk lebih menekankan lagi kepada pemahaman konsep peserta didik serta diharapkan kepada para pendidik lebih kreatif dalam memilih dan menggunakan sarana yang terdapat dalam lingkungan sekolah yang relevan.

2. Kepada para peneliti di bidang pendidikan khususnya pendidikan fisika agar kiranya dapat melakukan penelitian untuk mengembangkan model pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik.

(56)

40

Agus S. 2010. Psikologi Umum. Jakarta: Bumi Aksara

Amir,D dan A, S. Kajian Kritis dalam Pembelajaran Matematika di SMP.

Yogyakarta: P4TK Matematika. (2010), hlm. 11.

Bassham, Gregory dkk. Critical Thinking: A Student’s Introduction 4th Edition.

Newyork: The McGraw-Hill Companies

Desnita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, (2010), hlm. 153.

Elaine B. Johnson, Centextual Teaching and Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna: terj, Ibnu Setiawan, (Bandung: Kaifa, 2010), hlm. 187.

Ennis, Robert. 2011. The Nature of critical thinking an: outline of critical thingking dispositions and abilities. Chicago: University of Illions.

Fisher, A. 2014. Berpikir Kritis Sebuah Pengantar. Terjemahan Oleh Benyamin Hadinata. Jakarta: Erlangga.

Group Ennis, R.H. (1985). The ennis-weir critical thinking essay test. Test manual, criteria, scoring, sheet an instrument for teaching and testing. USA:

Midwest Publications.

Kasdin, dkk. 2012. Critical Thinking “Membangun Pemikiran Logis” Jakarta:

Pustaka Sinar. Harapan.

Khumairok, W., Wulandari, A. Y. R., Qomaria, N., & Muharrami, L. K. (2021).

Profil Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Smp Pada Materi Getaran Gelombang Dan Bunyi Menggunakan Soal Berbantuan Prompting Question. Natural Science Education Research, 4(1), 35-44.

Kusumaningsih, Diah. 2011. Upaya Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas X-C SMA N 11 Yogyakarta melalui Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Contextual Skripsi : Yogyakarta. UNY Teaching

(57)

Lambertus, 2009. Pentingnya Melatih Keterampilan Berpikir Kritis Dalam Pembelajaran Matematika Di SD. Forum Pendidikan. Learning (CTL) pada Materi Perbandingan Trigonometri. 28(2).

Nadiya, N., Rosdianto, H., & Murdani, E. (2016). Penerapan Model Pembelajaran Group Investigation (gi) untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa pada Materi Gerak Lurus Kelas X. JIPF (Jurnal Ilmu Pendidikan Fisika), 1(2), 49-51.

Noor, Juliansyah. 2014. Metodologi Penelitian. Jakarta: Kencana Prenada Media Nuryanti, Lilis. Siti Zubaidah. & Markus Diantoro. 2018. Analisis Kemampuan

Berpikir Kritis Siswa SMP. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian dan Pengembangan.

Rahmat. 2014. Pengukuran Keterampilan berpikir Kritis. Jakarta: Gramedia Riduwan, 2015. Dasar-dasar Statistika. Bandung: Alfabeta

Ritdamaya D, Suhandi A. 2016. Konstruksi Instrumen Tes Keterampilan Berpikir Kritis Terkait Materi Suhu dan Kalor: Jakarta

Rusyna, A. 2014. Keterampilan Berpikir: Pedoman dan Acuan Para Peneliti Keterampilan Berpikir. Yogyakarta: Ombak

Sudijono, A. 2012. Pengantar Statistika Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.

Wuri, O.R (2014) Penerapan Pendekatan Saintifik pada Pembelajaran Fisika Materi Kalor Terhadap Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Kelas X SMA. Inovasi Pendidikan Fisika 3(3).

Zulaiha, F. (2018). Profil Keterampilan Berpikir Kritis Siswa dalam Penggunaan Worksheet dan Problemsheet menggunakan Multi Modus Representasi. Jurnal Pendidikan Fisika dan Sains (JPFS), 1(1), 28-32.

(58)

LAMPIRAN 1

1.1 KISI–KISI INSTRUMEN TES KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS

1.2 PEDOMAN PENSKORAN INSTRUMEN

TES KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil studi RP4D Kabupaten Ponorogo dapat diketahui kondisi prasarana dan sarana dasar permukiman beserta lingkungannya pada wilayah permukiman

Perbaikan gambaran histopatologi hati yang dinilai berdasarkan tampilan pewarnaan imunohistokimia TNF-α terdapat pada kelompok yang mendapat ekstrak etanol kulit

14 Description of your UltraOne: 1 Display 2 Hepa filter cover 3 Hepa filter 4 Parking slot 5 Power cord 6 Motor filter 7 Motor filter holder 8 S-bag® 9 Dust compartment cover 10

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Terdapat perbedaan peningkatan pemahaman konsep dan kompetensi strategis matematis antara siswa yang memperoleh pembelajaran

[r]

Berdasarkan pengamatan peneliti di SMAN 1 Sidoarjo bahwa dengan adanya sebuah bahan ajar cetak yang berbentuk modul Unit Kegiatan Belajar Mandiri tersebut berpengaruh terhadap

Motif adalah kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat satu dorongan.Rasa ingin tahu manusia mendasari segala aspek dari kognisi manusia yang senantiasa

Hasil dari sistem tersebut adalah dapat terbentuknya daftar mahasiswa beserta dosen pembimbing dan jadwal seminar tugas akhir dalam waktu satu periode dengan menggunakan dua