Hak Cipta © 2020, Andi Samsir
Cetakan Pertama, 2020
Penulis : Andi Samsir Penyunting : Anis Kurniawan
Aswati Asri Layout isi & cover : Aris Wijayanto
Diterbitkan oleh:
Capiya Publishing
Jl. B. Kadir No. 1, Surabaya
Jl. Flamboyan 2 No. 14A, Babadan Baru, Yogyakarta untuk
KRKP KATALIS OXFAM
ISBN 978-602-52844-5-8
Ilustrasi cover : https://www.freepik.com/free-vector/monochromat ic-yellow-background-with-leaves_5823863.htm
Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apa pun, termasuk fotokopi, tanpa izin tertulis dari Penerbit.
SAMBUTAN PERKUMPULAN KATALIS
Indonesia dikaruniai banyak sumber daya alam untuk menopang kebutuhan penduduknya. Namun, faktanya kemiskinan dan ketimpangan masih menjadi tantangan besar. Ada beberapa alternatif pilihan untuk mengatasi kemiskinan dan ketimpangan.
Buku ini memaparkan pilihan untuk melihat pembangunan yang terjadi di pedesaan. Salah satu alternatif yang diberikan adalah pembangunan desa yang terintegrasi. Pembangunan di desa harus saling memperkuat dengan aspek lainnya, seperti kerjasama antar desa, kebijakan Pemerintah Kabupaten, Provinsi maupun nasional.
Upaya pembangunan ekonomi desa, tak cukup bila hanya mendorong desa untuk melahirkan produk, namun juga perlu diikuti pertimbangan pasar melalui penciptaan pasar, yang kemungkinan merupakan tugas bagi beberapa sektor di pemerintahan, termasuk pelibatan swasta dan masyarakat sipil dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sesuai yang dibutuhkan dan penataan kelembagaan. Pada aspek inilah, maka pemerintah seharusnya perlu memikirkan ulang penentuan prioritas pembangunan, khususnya yang dapat memberikan efek domino dalam menggerakkan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Undang-undang No. 6 tahun 2014 tentang Desa, dalam hal pembangunan ekonomi desa, Pasal 187 disebutkan bahwa “Desa dapat mendirikan Badan Usaha Milik Desa yang dikelola dengan semangat kekeluargaan dan kegotongroyongan dimana dapat menjalankan usaha di bidang ekonomi dan atau pelayanan umum sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.” Berkaitan dengan hal tersebut, BUMDes kemudian diatur melalui Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI No 4 tahun 2015 tentang Pendirian, Pengurusan dan Pengelolaan dan Pembubaran Badan Usaha Milik Desa. Bersandar dari regulasi tersebut, meskipun sebelumnya pada beberapa daerah di Indonesia
telah mengembangkan BUMDes sebagai mandat dari UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Salah satu daerah di Sulawesi Selatan yang telah mengembangkan BUMDes dalam menggerakkan ekonomi desa adalah Kabupaten Bantaeng. Pada tahun 2016, Perkumpulan KATALIS melakukan riset untuk mempelajari model pengembangan BUMDes yang efektif, sebagai bahan pembelajaran pada pendampingan kelembagaan desa, yang dijalankan pada beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan dalam Program Memperkuat Ketahanan Pangan.
Riset tersebut, memilih beberapa BUMDes yang relatif dapat menjadi pembelajaran, mulai perencanaan, manajemen, tata kelola maupun produk bisnis yang dijalankan.
Demi memberikan kemanfaatan yang lebih luas kepada pembaca, maka Perkumpulan KATALIS memandang perlu untuk menerbitkan hasil riset tersebut menjadi sebuah buku yang dapat menjadi referensi, baik secara akademik, pengambilan kebijakan, maupun dalam praktik di lapangan untuk pemberdayaan masyarakat atau penguatan ekonomi desa.
Ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi- tingginya kami ucapkan kepada saudara Andi Samsir yang telah melakukan penelitian hingga penulisan naskah buku ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada saudara Anis Kurniawan dan Aswati Asri yang telah menyunting dan melakukan penataan bahasa sesuai ejaan yang disempurnakan, saudara Akbar sebagai program offi cer dalam pelaksanaan Program Memperkuat Ketahanan Pangan Sulawesi Selatan.
Tak lupa pula, kami ucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi atas kontribusi tim Perkumpulan KATALIS Bapak M. Khudri Arsyad, Bapak Baharuddin, dan Ibu Sitti Rohani A.
Mapparimeng dalam menjalankan Program tersebut. Terakhir kepada Pihak Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Oxfam dan Yayasan Unilever atas kepercayaan dan dukungannya dalam
implementasi program serta kepada semua pihak yang terlibat dalam program ini yang tak dapat kami sebutkan satu persatu.
Semoga kehadiran buku ini dapat bermanfaat bagi pembaca, baik sebagai referensi yang memperkaya khazanah pemikiran maupun referensi dalam penyusunan kebijakan pembangunan, pengelolaan BUMDes dan pemberdayaan masyarakat. Semoga dapat menjadi lahan amal saleh dalam bentuk kontribusi pemikiran, maupun pengalaman dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, yang dapat berimplikasi pada pemenuhan ketahanan pangan di masyarakat.
Makassar, Agustus 2018 Perkumpulan KATALIS
S I S W A N DirekturEksekutif
DAFTAR ISI
Sambutan Perkumpulan Katalis ... iii
Daftar Isi ...vi
Prolog Desa adalah Surga bagi Sebuah Bangsa ...1
Bab I Sengkarut Pembangunan Desa di Indonesia ...4
Bab II Konsep Pembangunan Pedesaan ...16
Bab III Potret Ketahanan Pangan Pedesaan di Indonesia: Studi Kasus dari Dua Desa di Takalar ...53
Bab IV Membangun Desa Lewat Bumdes: Pembelajaran dari Kabupaten Bantaeng ...84
Bab V Kontribusi Sektor Pertanian di Sulawesi Selatan dalam Pembangunan Nasional ...108
Epilog Pembangunan Desa Terintegrasi: Sebuah Jalan ...154
Daftar Pustaka ...160
Biodata Penulis dan Penyunting ...165
Prolog
DESA SEBAGAI SURGA BAGI SEBUAH BANGSA
Desa harus jadi kekuatan ekonomi Agar warganya tak hijrah ke kota Sepinya desa adalah modal utama Untuk bekerja dan mengembangkan diri Desa harus jadi kekuatan ekonomi
(Lirik lagu Iwan Fals, “Desa”) Sejatinya, desa jauh lebih sejahtera dari kehidupan kota.
Mengapa? Karena desa memiliki segalanya yang dibutuhkan orang- orang di kota. Desa tidak memiliki infrastruktur dan segala fasilitas modern. Namun orang kota bisa makan apabila tidak disuplai oleh petani dan nelayan dari desa?
Sayangnya, petani dan nelayan yang hidup di desa tidak bisa hidup sejahtera sebagaimana orang di kota. Lapangan pekerjaan tersedia di kota. Maka, mitos orang desa mengepung kota melalui urbanisasi, sungguh sulit ditepis. Dari waktu ke waktu, menjadi petani atau nelayan dianggap tidak bergengsi (tidak bisa membuat hidup kaya)—akhirnya semakin sedikit orang yang ingin bekerja sebagai petani dan lahan pertanian di desa semakin sempit akibat gempuran pembangunan dari kota.
Orang yang merantau ke kota lalu sukses secara ekonomi, sebagian pulang ke desa sekadar untuk bertamasya. Pengaruh kehidupan kota akhirnya berdampak ke desa. Nilai-nilai sosial (sosial
capital) seperti gotong-royong, kekerabatan, tolong menolong, pelan- pelan tergerus. Meski, masih tetap ada, nilai-nilai tersebut tidak lagi sekuat dahulu sebelum urbanisasi massal terjadi di berbagai pelosok desa di Indonesia.
Sebagai sebuah ruang, desa dan kota tentulah berbeda. Kota tetaplah sebagai ruang transaksional ekonomi, budaya, politik dan seterusnya—desa adalah ruang dimana sumber daya alam digarap dan diproduksi sebagai bahan dasar kebutuhan manusia. Perbincangan soal desa dan kota tidak dalam konteks menggiring pada logika opisisi biner, dimana kota dan desa adalah dua dunia yang bersinggungan.
Desa dan kota, semestinya adalah dua ruang yang saling berhubungan, saling membutuhkan, saling menguntungkan. Dalam konteks demikian, desa mestilah sejahtera juga—sebagaimana kota. Jika benar bahwa ekonomi bisa bangkit bila infrastruktur diperkuat, maka saatnyalah, infrastruktur di desa juga diperbaiki. Sentuhan kebijakan (policy) yang berpihak untuk kepentingan pembangunan desa juga harus didukung.
Visi membangun desa adalah menjadikan desa sebagai subjek utama dari agenda pembangunan. Desa harus lebih aktif dan menjadi pelaku utama sebuah kebijakan. Asumsinya, kesejahteraan yang terbangun di desa akan memperkuat modernisasi di perkotaan. Jika desa lebih sejahtera, maka kerumitan kehidupan kota bisa diretas secara perlahan, sehingga semakin banyak orang yang berpaling mencari kehidupan di desa.
Buku ini, menjadi penting di tengah derasnya gelombang ekspektasi pemerintah untuk membangun dari desa. Konsep pembangunan desa terintegrasi penting diwujudkan karena dua hal:
pertama, desa memiliki potensi yang besar dan berbeda-beda serta memiliki potensi ekonomi yang besar untuk dikembangkan: kedua, potensi yang dibangun dari desa harus terintegrasi dengan kebijakan daerah dan nasional, termasuk integrasi dan konektitas antara daerah atau antara desa satu dan lainnya.
Pembangunan desa perlu melibatkan banyak pihak. Dalam beberapa tahun terakhir, telah ada beberapa desa di Indonesia yang sukses berkembang secara mandiri dengan mengedepankan ciri khasnya masing-masing. Sebagai catatan, sebagian besar desa yang maju dan berkembang tersebut disebabkan oleh potensi pariwisata yang ada. Sektor pariwisata yang berkembang di suatu daerah yang didukung oleh warga setempat, dengan sendirinya akan memperkuat potensi dan kreatifi tas yang dibangun pada level desa.
Betapa pun itu, saatnya desa bisa membaca peluang dan lebih kreatif dengan memanfaatkan segala potensi secara mandiri.
Keragaman setiap desa di Indonesia pada akhirnya juga membutuhkan suatu diff erensiasi, agar konsep perencanaan di suatu desa tidak sekadar copypaste dari desa lainnya (sebagaimana dibahas pada buku ini).
Sosiolog kelahiran Belanda W.F Wertheim dalam tulisannya
“Indonesian Society in Transition, a study of Sosial Change”
menyatakan, ciri kehidupan nusantara adalah ruang bernama desa.
Nusantara diperkuat oleh tradisi yang berkembang dari desa dengan beragam budaya. Tesis Wetheim ini menunjukkan seberapa pentingnya desa menjadi prioritas utama dalam logika pembangunan bernegara.
Desa harus dibangun,
sebab desa adalah surga bagi sebuah bangsa.
Desa adalah kekuatan ekonomi.
(Meminjam lirik lagu Iwan Fals).
Maret 2018 Penyunting
Bab I
SENGKARUT PEMBANGUNAN DESA DI INDONESIA
Desa adalah sebuah representasi ruang terpencil dari sebuah negara. Tak heran, bila desa selalu identik dengan keterbelakangan, marjinalisasi, bahkan kemiskinan. Desa berbanding terbalik dengan ilusi kita tentang kota yang penuh hingar-bingar, kemajuan, dan modernisasi. Desa dan kota adalah potret bagaimana pembangunan berlangsung timpang dalam negara. Padahal, desa merupakan pemasok segala sumber penghidupan bagi masyarakat di perkotaan. Desa adalah pusat berkembangnya basis material dari sebuah kebudayaan seperti pertanian, kelautan, dan segala sumber daya alam lainnya.
Maka, pembangunan harus juga berorientasi pada pengembangan desa. Potensi desa harus bisa dikapitalisasi secara maksimal agar ekonomi bertumbuh, justru dari desa. Masyarakat desa harus diarahkan untuk secara mandiri mengelola sumber daya yang ada, sehingga orang desa tidak lagi tergiur mengepung kota.
Masyarakat di desa bisa mencari uang di desa dan membelanjakan uangnya di desa.
Membangun desa adalah sebuah jalan untuk mengakhiri sengkarut pembangunan yang terkonsentrasi di kota. Pekerjaan rumah kita semua adalah bagaimana menjalankan suatu konsep membangun desa secara baik. Mempertimbangkan keragaman potensi dari setiap desa, pelibatan seluruh pihak stakeholders, serta bagaimana mengintegrasikan potensi satu sama lain.
URGENSI MEMBANGUN DESA
Pembangunan pedesaan tidak terlepas dari agenda pembangunan nasional yang bertujuan dan diarahkan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Menurut Djiwadono (Nurman, 2015), tujuan pembangunan pedesaan meliputi; pertama, tujuan ekonomi diarahkan meningkatkan produktivitas di daerah.
Kedua, tujuan sosial diarahkan kepada pemerataan kesejahtraan penduduk desa. Ketiga, tujuan kultural dalam arti meningkatkan kualitas hidup pada umumnya dari masyarakat pedesaan. Keempat, tujuan kebijakan menumbuhkan dan mengembangkan partisipasi masyarakat desa secara maksimal dalam menunjang usaha-usaha pembangunan serta dalam memanfaatkan dan mengembangkan hasil- hasil pembangunan.
Desa diharapkan mampu memainkan peran yang besar tidak hanya sebatas penunjang pembangunan ekonomi tetapi juga mampu menjadi kekuatan ekonomi nasional. Menurut Todaro (2006) para pakar ekonomi pembangunan dewasa ini mulai menyadari bahwa daerah pedesaan umumnya dan sektor pertanian pada khususnya ternyata tidak bersifat pasif, tetapi jauh lebih penting dari sekedar penunjang dalam proses pembangunan ekonomi secara keseluruhan.
Keduanya harus ditempatkan pada kedudukan sebenarnya, yakni sebagai unsur atau elemen unggulan yang penting, dinamis, dan terutama pada negara sedang berkembang yang berpendapatan rendah.
Mulyana (2012) menunjukan bahwa penguatan ketahanan pangan untuk menekan jumlah penduduk miskin dengan rentan pangan nasional dan regional sehingga kebijakan pemantapan ketahanan pangan menjadi isu sentral dan merupakan salah satu prioritas utama dalam pembangunan nasional.
Hal tersebut juga dapat terlihat dari kebutuhan pangan nasional bahkan regional ASEAN yang sangat besar masih di pasok oleh negara-negara non ASEAN sehingga kebijakan pangan harus berorientasi pada empat sasaran pokok ketahanan pangan yaitu akses,
ketersediaan, distribusi dan keamanan pangan nasional (Hariyati dan Raharto, 2012).
Oleh karena itu, salah satu peran dari desa sebagai penyedia pangan nasional perlu mendapat perhatian yang sangat besar dalam proses perencanaan pembangunan nasional. Selain itu, kemampuan desa menyediakan lapangan kerja yang lebih luas di sektor pertanian diharapkan mampu menyerap kelebihan penawaran tenaga kerja (labor supply accesses) dari sektor lainnya.
MENYUDAHI GEJOLAK URBANISASI
Data badan pusat statistik (BPS) menunjukan tingkat partisipasi angkatan kerja di sektor pertanian sebesar 37.770.165 jiwa atau 30,11 persen dari jumlah angkatan kerja pada tahun 2016 di Indonesia.
Angka tersebut lebih kecil dari tahun sebelumnya yang menunjukan adanya trend pertumbuhan tenaga kerja di sektor pertanian yang semakin kecil. Sementara itu, angka urbanisasi semakin meningkat dimana jumlah penduduk perkotaan sudah mencapai angka 54 persen dari jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2016 meningkat 5 persen dibandingkan pada tahun 2010.
Munculnya fenomena urbanisasi tersebut disebabkan oleh adanya beberapa faktor, yaitu faktor pendorong (push factor) dan faktor penarik (pull factors). Ketersediaan tanah dan rendahnya produktivitas lahan pertanian di pedesaan menjadi salah satu faktor pendorong terjadinya urbanisasi.
Selain itu, makin berkurangnya sumber-sumber kehidupan, seperti menurunnya daya dukung lingkungan dan menurunnya permintaan atas barang-barang tertentu yang bahan bakunya susah diperoleh seperti hasil pertambangan, kayu, atau bahan dari pertanian (Adioetomo & Samosir, 2010). Hal tersebut secara tidak langsung menjadi penyebab rendahnya daya beli masyarakat di pedesaan.
Adanya ketimpangan pendapatan yang dirasakan oleh sebagian masyarakat sehingga mereka menjadikan kota sebagai
tempat menggantungkan harapan akan memperoleh kesempatan untuk memperbaiki kehidupan. Ketersediaan fasilitas pendidikan, kesehatan dan hiburan serta fasilitas publik lainnya di kota yang lebih memadai juga menjadi faktor penarik lainnya.
Penelitian yang dilakukan Upasak Das (2015) menemukan bahwa rendahnya kesempatan kerja dan ketidakberhasilan di sektor pertanian menjadi alasan terjadinya peningkatan urbanisasi di India.
Sebuah fenomena menunjukan adanya kaitan positif antar urbanisasi dan pendapatan perkapita dalam proses pembangunan.
Umumnya, semakin maju suatu negara yang diukur dengan menggunakan pendapatan perkapita, semakin banyak penduduk yang tinggal di daerah perkotaaan (Todaro, 2006).
Maka, sulit untuk menolak suatu asumsi klasik bahwa penduduk miskin adalah mereka yang umumnya bertempat tinggal di daerah-daerah pedesaan, dengan mata pencaharian pokok di bidang- bidang pertanian dan kegiatan-kegiatan lainnya yang erat berhubungan dengan sektor tradisional. Menyandang predikat wong deso atau petani menjadi momok tersendiri bagi masyarakat yang tinggal di pedesaan.
Bahkan sebagian masyarakat di pedesaan yang kondisi ekonomi rumah tangganya mengalami peningkatan lebih memilih berinvestasi di daerah perkotaan, seperti membeli property atau menyekolahkan anak mereka di kota dengan harapan mereka tidak memiliki nasib yang sama dengan orang tua mereka di masa depan.
Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa desa lebih cocok sebagai tempat tinggal bagi kelas masyarakat kurang mampu.
Sebaliknya, kota menjadi tempat bagi orang-orang yang berasal dari desa sebagai bentuk penegasan terhadap eksistensi mobilisasi sosial ke atas mereka. Pada masa orde baru kelompok ini lebih dikenal dengan istilah orang kaya baru (OKB).
Fenomena sosial tersebut malah semakin berdampak buruk terhadap pembangunan di desa. Meningkatnya permintaan rumah tangga akibat membaiknya pendapatan masyarakat pedesaan malah
tidak diikuti dengan meningkatnya aspek penawaran dari desa itu sendiri.
Peningkatan pendapatan masyarakat yang seharusnya menjadi stimulan dalam mendorong produksi di desa, malah dibelanjakan di luar dari daerah desa. Teori konsumsi Keynes menyatakan bahwa peningkatan pendapatan disposiable (disposable income) akan meningkatkan konsumsi rumah tangga. Peningkatan yang terus menerus akan menggeserkan permintaan masyarakat dari barang normal (normal goods) ke barang mewah (luxery goods).
Ketidakmampuan sisi penawaran merespon fenomena tersebut menjadi masalah tersendiri yang harus mendapatkan perhatian dari pelaku ekonomi lainnya (stakeholder).
Walaupun sebagian besar penduduk dengan kemiskinan absolute tinggal di daerah pedesaan, bagian terbesar dari pengeluaran pemerintah di Negara-negara berkembang selama seperempat abad terakhir justru tercurahkan ke daerah-daerah perkotaan dan berbagai sektor ekonominya, yakni sektor manufaktur modern dan sektor komersial. Pengeluaran pemerintah berupa investasi langsung ke dalam sektor ekonomi produktif atau pengeluaran di bidang pendidikan, kesehatan, perumahan, dan pelayanan masyarakat tercurahkan berat sebelah, ke sektor modern di perkotaan.
Kebijakan pemerintah yang ditujukan untuk menanggulangi kemiskinan seharusnya diarahkan lebih pada pembangunan daerah pedesaan karena sebagian besar penduduk miskin tinggal di daerah ini.
Hubungan yang erat antara urbanisasi dan pembangunan memberikan dampak yang signifi kan terhadap pembangunan daerah pedesaan. Rendahnya kualitas sumber daya manusia (Human Capital) di daerah ini disebabkan oleh rendahnya pelayanan di sektor pendidikan dan kesehatan. Hal ini di dukung oleh kajian yang dilakukan Alam (2014) menunjukan bahwa adanya hubungan yang erat antara pengeluaran pemerintah di bidang pendidikan terhadap peningkatan mutu sumber daya manusia.
Pada umumnya, fasilitas pendidikan yang tersedia hanya sekolah dasar (SD) dengan fasilitas sarana dan prasarana yang sangat terbatas. Hal yang sama juga terlihat pada fasilitas kesehatan masyarakat yang letaknya di pusat kecamatan dengan jangkauan pelayanan melingkupi beberapa desa dengan jarak yang sangat luas sehingga akses masyarakat terhadap fasilitas tersebut membutukan fasilitas pendukung seperti mobil ambulance. Namun, keterbatasan tenaga medis dan tenaga pendukung yang ada di daerah tersebut menjadi salah satu penyebab rendahnya kualitas layanan bagi masyarakat setempat. Oleh karena itu, sebagian penduduk memilih hidup di daerah perkotaan untuk mendapatkan pelayanan pendidikan dan kesehatan yang lebih memadai.
RENDAHNYA DAYA BELI MASYARAKAT DI DESA
Rendahnya daya beli juga menjadi masalah tersendiri yang dihadapi oleh masyarakat pedesaan terutama mereka yang tinggal di daerah terluar, terpencil, dan tertinggal (3T). Harga kebutuhan bahan pokok jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga yang ada di daerah perkotaan.
Hal ini disebabkan oleh tingginya biaya distribusi barang dan panjangnya rantai pemasaran. Kebijakan pemerintah dalam mengurangi subsidi atau penyesuaian harga bahan bakar minyak terhadap harga keekonomian sangat dirasakan dampaknya bagi masyarakat miskin pedesaan. Kenaikan harga-harga secara umum tersebut berarti akan mengurangi pendapatan rill mereka.
Hal yang sama juga terlihat pada harga komoditas pertanian yang dihasilkan petani pedesaan. Besarnya margin harga yang terjadi menyebabkan rendahnya harga yang diterima ditingkat produsen.
Panjangnya rantai pemasaran dan adanya faktor kelembagaan merupakan penyebab utama terjadinya perbedan harga tersebut.
Adanya keterbatasan petani dalam mengakses pasar di daerah hilir sehingga mereka bersedia melepas hasil pertaniannnya dengan
harga yang ditetapkan oleh pedagang pengumpul. Ketergantungan mereka terhadap pihak tersebut juga umumnya disebabkan oleh adanya perjanjian yang mengikat diantara kedua belah pihak secara non formal. Kemudahan dalam mengakses pinjaman, baik untuk modal usaha atau kebutuhan rumah tangga, melahirkan system ijon.
Praktek ini yang dilakukan oleh tengkulak sudah mengakar menjadi bagian dari tradisi perdagangan hasil pertanian di pedesaan.
Studi investigasi yang pernah dilakukan dalam menganalisis rantai pemasaran di Kabupaten Banyumas menemukan bahwa praktek ini pada komoditas rempah-rempah dan buah-buahan melibatkan banyak aktor dalam satu rantai yang berperan sebagai distributor pinjaman dan sekaligus sebagai pengumpul hasil pertanian dengan system multilevel.
Rendahnya harga yang diterima oleh petani dan tingginya harga yang mereka harus bayar menjadi topik yang selalu hangat dibicarakan dalam forum-forum publik. Tarik ulur kebijakan publik selalu saja berdampak buruk terhadap petani. Fenomena yang menarik dapat kita lihat dari hasil survey ketahanan pangan yang dilakukan OXFAM pada tahun 2015 menunjukan bahwa banyak petani yang menghasilkan padi dengan kualitas premium harus mengkonsumsi beras Raskin, yang selalu dikeluhkan kualitasnya oleh konsumen, disebabkan oleh adanya selisih harga yang mereka harapkan untuk menutupi kebutuhan mereka selama musim tanam. Berbagai cara coba ditempuh oleh petani untuk dapat terus bertahan meski harus mengorbankan kualitas pangan mereka.
PARADIGMA PEMBANGUNAN DAN RELASI KUASA Ketimpangan yang terjadi antara kota dan desa serta dampak yang ditimbulkannya selama ini tidak lepas dari strategi pembangunan nasional yang diadopsi oleh setiap rezim yang berkuasa.
Pendekatan rasional komprehensif yang bersifat sentralistik untuk semua sektor ekonomi mulai diadopsi pada tahun 1952 di Indonesia. Untuk keperluan penyusunan perencanaan pembangunan
tersebut pemerintah membentuk biro perencana negara yang diketuai oleh sumitro Djojohadikusimo dan dilanjutkan oleh Djuanda dan Ali Budiardjo dengan menyusun dokumen perencanaan pembangunan yang lebih komperhensif dengan judul rencana pembangunan lima tahun 1956-1960.
Ketidakstabilan politik waktu itu, menyebabkan pelaksanaan rencana pembangunan ini ternyata juga tidak dapat berjalan dengan baik. Pada masa orde baru, di bawah kepemimpinan presiden Soeharto dengan memanfaatkan para teknokrat dari universitas Indonesia, pemerintah membentuk badan perencanaan pembangunan nasional (BAPPENAS) yang diketuai oleh Widojo Nitisastro. Badan ini merumuskan dokumen perencanaan baru yang diberi nama rencana pembangunan lima tahun (REPELITA).
Selama pemerintahan Orde Baru atau era pemerintahan Soeharto (1966-1998) pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami sebuah proses pembangunan ekonomi yang sangat pesat dengan laju pertumbuhan ekonomi rata-rata 8 persen per tahun (Tambunan, 2016).
Upaya pemerintah untuk mengurangi kemiskinan lewat modernisasi pembangunan ekonomi pedesaan, pertanian dan industralisasi secara makro dianggap berhasil. Dengan pencapaian tersebut Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan pada tahun 1984 dengan produksi beras mencapai 25,8 juta ton. Namun, di sisi lain berbagai persoalan timbul diantaranya; (i) peningkatan produksi pertanian tidak diikuti oleh penyempurnaan teknik produksi namun lebih mengandalkan ekstensifi kasi pertanian; (ii) peningkatan produksi tidak dibarengi dengan kenaikan kesejahtraan bagi petani yang bergantung pada sektor tersebut; (iii) tidak adanya keterkaitan antara sektor pertanian dengan sektor industri sehingga proses pembangunan lebih bersifat sektoral.
Keyakinan pemerintah terhadap pendekatan tersebut yang dianggap dapat menimbulkan efek “tetes ke bawah (trickle down eff ect) sehingga pertumbuhan ekonomi nasional menjadi prioritas pembangunan. Perencanaan yang bersifat sentralistik tersebut
mengabaikan aspek perbedaan karateristik wilayah-wilayah yang ada di Indonesia. Dengan mengandalkan data-data statistik para teknokrat pembangunan menyusun dokumen perencanaan dengan berbagai macam asumsi-asumsi yang dipercaya dapat digenaralisasikan pada setiap wilayah.
Namun, sebuah studi yang dilakukan oleh Rustiadi dkk (2010) menunjukan bahwa pulau Jawa mengalami sebuah krisis spasial dan lingkungan. Hal tersebut disebabkan oleh ekpolitasi yang berlebihan dari pemanfaatan lingkungan dengan berbagai dimensi seperti pertumbuhan populasi dan aktivitas ekonomi di pulau jawa yang mana berkaitan dengan pembangunan yang tidak seimbang antara pulau jawa dan luar jawa. Sementara itu, Puspitasari dkk (2010) menemukan bahwa dampak pertumbuhan terhadap kemiskinan di jawa timur secara geografi s memiliki perbedaan. Ada beberapa klaster wilayah yang mana memiliki tingkat elastisitas kemiskinan yang tinggi dan juga ada klaster wilayah yang dampaknya kecil bahkan tidak terlihat sama sekali terhadap pengurangan kemiskinan.
Pada tahun 2001, di era orde reformasi terjadi perubahan system pemerintahan yang cukup drastis, yaitu dengan dimulainya penerapan system otonom daerah (OTODA). Dengan berlakunya system OTODA tersebut maka system perencanaan pembanguan yang berlaku di Indonesia mengalami perubahan yang sangat signifi kan.
Perubahan tersebut dituangkan dalam undang-undang nomor 25 tahun 2004 tentang system perencanaan pembangunan nasional (SPPN 2004). Dalam SPPN ini menggambarkan bahwa system perencanaan nasional mengadopsi system perencanaan strategis yang bersifat desentralistik.
NAWA CITA DAN MASA DEPAN PEMBANGUNAN DESA Dengan tetap mengacuh pada SPPN 2004, salah satu upaya pemerintahan Jokowi untuk menjawab permasalahan pembangunan selama ini, yang tertuang dalam sembilan agenda prioritas yang
lebih dikenal dengan istilah Nawa Cita, salah satu diantaranya adalah membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dengan asas desentralisasi asimetris. Dalam kebijakan pemberdayaan desa ditetapkan delapan prioritas program utama. Konsep perencanaan pembangunan tersebut yang bertolak dari desa didasarkan oleh adanya ketimpangan yang selama ini terjadi antara desa dan kota.
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDT), berupaya mendorong terbangunnya keterkaitan antara desa dan kota sebagai bagian dari strategi pembangunan kawasan pedesaan di Indonesia. Mengacuh pada Perpres 2/2015 tentang RPJMN 2015-2019, Kementerian desa, PDT, dan transmigrasi membuat pemetaan tahapan-tahapan prosesnya. Untuk 5.000 desa tertinggal menjadi desa berkembang, tahapannya adalah tahun 2015- 2016 sebanyak 500 desa, kemudian 2016-2017 sebanyak 1.000 desa, lalu tahun 2017-2018 sebanyak 1.500 desa, dan tahun 2018-2019 sebanyak 2.000 desa, sehingga dalam lima tahun total 5.000 desa tertinggal menjadi desa berkembang.
Salah satu upaya yang dilakukan dengan mengembangkan ekonomi kawasan pedesaan sebagai wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman pedesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan mengembangkan sentra produksi, sentra industri pengolahan hasil pertanian dan perikanan, serta membangun destinasi pariwisata.
Selanjutnya akses transportasi desa dengan pusat pusat pertumbuhan ekonomi lokal atau pun wilayah harus terus ditingkatkan. Disamping itu, dikembangkan juga kerja sama antar desa, antar daerah, dan antar pemerintah–swasta, termasuk kerjasama pengelolaan BUM Desa serta mendorong pembangunan sarana bisnis atau pun pusat bisnis di pedesaan. Ruang lingkup pengembangan ekonomi pedesaan meliputi:
1. Meningkatkan kegiatan ekonomi desa yang berbasis komoditas unggulan, melalui pengembangan rantai nilai, peningkatan produktivitas, serta penerapan ekonomi hijau;
2. Menyediakan dan meningkatkan sarana dan prasarana produksi, pengolahan, dan pasar desa;
3. Meningkatkan akses masyarakat desa terhadap modal usaha, pemasaran dan informasi pasar. Mengembangkan lembaga pendudkung ekonomi desa seperti BUM Des, koperasi dan lembaga mikro lainnya.
Menindaklanjuti kebijakan tersebut, kapasitas stakeholder dari tingkat pusat hingga desa menjadi variabel yang sangat menentukan dalam mengeksekusi putusan tersebut. Perangkat desa sebagai barisan terdepan yang bersentuhan langsung dengan objek pembangunan harus mampu menafsirkan kebijakan tersebut ke dalam berbagai program strategis pembangunan desa.
Penetapan program tersebut tidak lepas dari hasil analisis potensi desa yang dilakukan sebagai tahapan awal dalam proses perencanaan pembangunan di desa. Namun, fenomena yang sering ditemukan di lapangan, banyaknya dokumen perencaaan yang dimiliki desa merupakan dokumen lama atau copypaste milik desa lain yang tidak sesuai dengan keadaan desa tersebut saat ini. Bahkan tidak jarang juga ditemukan bahwa banyak desa yang tidak memiliki dokumen perencanaan pembangunan sendiri.
Faktanya, setiap desa memiliki kondisi geografi s maupun sosial yang berbeda beda sehingga dokumen perencanaan tersebut perlu ditindaklanjuti ke tingkat yang lebih tinggi agar terbangun integeritas pembangunan di kawasan tersebut. Pembangunan desa yang terintegerasi menjadi pembangunan daerah maupun nasional dapat menjadi jembatan yang menghubungkan sektor sektor ekonomi yang saling terkait baik keterkaitan ke depan maupun ke belakang (forward and backward linkages).
Dengan mengintegrasikan pembangunan desa dengan agenda pembangunan daerah dan nasional, desa dapat diarahkan sebagai sentrum terciptanya beragam produk-produk ekonomi—yang secara langsung terkoneksi atau memiliki akses pasar ke luar. Pola ini jelas dapat mengurangi ketimpangan ekonomi antara kota dan desa.
Perekonomian yang bergerak dan berbasis di desa, tidak saja dapat mengurangi gejolak urbanisasi, tetapi juga memberdayakan warga desa dan segala potensi di dalamnya.
Bagaimana strategi membangun desa dengan konsep pembangunan terintegrasi? Salah satu pendekatan konsep yang menarik dipakai adalah startegi pembangunan tidak seimbang (Kajian Teori Pembangunan dibahas di Bab selanjutnya). Poin penting dari pendekatan ini, selain pembangunan yang terintegrasi, juga soal pelibatan peran semua stakeholders di masyarakat. Desa harus dibangun secara kolektif dan bersama-sama sebagai basis sosial dan kebudayaan masyarakat desa.
Bab II
KONSEP PEMBANGUNAN PEDESAAN
PARADIGMA PEMBANGUNAN
Pengalaman pada dekade 1950-an dan dekade 1960-an, ketika banyak di antara negara-negara dunia ketiga berhasil mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, sesuai dengan target mereka. Namun, gagal memperbaiki taraf hidup sebagian besar penduduknya, menunjukan bahwa ada sesuatu yang salah dalam defi nisi pembangunan yang dianut selama itu.
Banyak ekonom dan perumus kebijakan mulai mempertimbangkan untuk mengubah strategi pembangunan, guna mengatasi secara langsung berbagai masalah mendesak, seperti tingkat kemiskinan absolut yang semakin parah, ketimpangan distribusi pendapatannya makin mencolok, dan tingkat pengangguran yang terus melonjak.
Pada dekade tahun 1970-an, pembangunan ekonomi mengalami redefi nisi, penghapusan atau pengurangan tingkat kemiskinan, penanggulangan tingkat ketimpangan pendapatan.
Bahkan, sampai pada penyediaan lapangan kerja dalam konteks perekonomian yang terus berkembang.
Penggantian atau penyesuaian defi nisi pembangunan ekonomi yang kini lebih didasarkan pada konsep “redistribusi hasil pertumbuhan”
merupakan slogan yang popular pada masa itu. Selama dekade tahun 1960-an dan dekade 1970-an, sejumlah negara berkembang berhasil mencapai pertumbuhan pendapatan perkapita yang cukup tinggi.
Namun masalah-masalah pengangguran, kesenjangan pendapatan, dan pendapatan rill dari 40 persen penduduknya paling miskin tidak banyak mengalami perbaikan. Bahkan, dalam banyak kasus justru semakin buruk (Todaro & Smith, 2006).
Fenomena pembangunan atau adanya situasi keterbelakangan yang kronis, sesungguhnya bukan semata-mata merupakan persoalan ekonomi atau sekedar soal pengukuran tingkat pendapatan, masalah ketenagakerjaan, atau penaksiran tingkat ketimpangan penghasilan secara kuantitiatif. Keterbelakangan merupakan sebuah kenyataan rill dalam kehidupan sehari-hari.
Bank dunia dalam sebuah publikasi resminya World Development Report (Todaro & Smith, 2006) mengatakan bahwa tantangan utama dalam pembangunan adalah bagaimana memperbaiki kualitas kehidupan. Meskipun syarat untuk mencapai kehidupan yang lebih baik diukur dari tingkat pendapatan yang lebih tinggi. Namun, hal itu hanya merupakan salah satu syarat dari sekian banyak syarat yang ada, antara lain: pendidikan yang lebih baik; peningkatan standar kesehatan dan nutrisi; pemberantasan kemiskinan; perbaikan kondisi lingkungan hidup; pemeratan kesempatan; peningkatan kebebasan individu; dan pelestarian ragam kehidupan budaya.
Dengan demikian, pembangunan harus dipandang sebagai suatu proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial, sikap-sikap masyarakat, dan institusi- institusi nasional, di samping tetap mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi, penanganan ketimpangan pendapatan, serta pengetasan kemiskinan.
Pemenang Hadiah Nobel untuk bidang ekonomi tahun 1998, Amartya Sen (Todaro & Smith, 2012), berpendapat bahwa untuk dapat memahami konsep kesejahtraan manusia secara umum, dan kemiskinan secara khusus, kita harus berfi kir lebih dari sekedar ketersediaan komoditi-komoditi dan memperhatikan kegunaannya.
Hal ini membantu memperjelas apa yang disebut oleh Sen sebagai
fungsi, yaitu apa yang dapat dilakukan seseorang terhadap suatu komoditi dengan karatersitik-karateristik tertentu yang dimiliki atau dikendalikan oleh orang tersebut.
Kebebasan memilih atau kontrol yang dimiliki seseorang terhadap hidupnya sendiri adalah aspek utama dalam memahami kesejahtraan secara mendalam. Aspek sosial digunakan untuk mengukur pembangunan sosial negara (Perkin, Radelet, Snodgrass, Gill, & Romer,2001), diperkenalkan oleh United Nation Development Program (UNDP) pada tahun 1990, yang mengukur tingkat harapan hidup, tingkat pendidikan dan pendapatan perkapita.
Studi pembangunan ekonomi menurut Jhingan (2010) merupakan suatu cabang dari disiplin ilmu yang lebih luas, yaitu ilmu ekonomi (economic) dan Ilmu ekonomi politik (political economic), studi ini dikembangkan sebagai suatu disiplin ilmu tersendiri, yang mengkaji secara lebih sistematis permasalahan-permasalahan yang dihadapi negara-negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, yang umumnya merupakan negara-negara yang baru merdeka.
Istilah pembangunan ekonomi digunakan secara bergantian dengan istilah pertumbuhan ekonomi, kesejahtraan ekonomi, kemajuan ekonomi dan perubahan jangka panjang. Akan tetapi beberapa ahli ekonomi tentunya, seperti Schumpeter dan Nyonya Ursula Hicks, telah menarik perbedaan yang lebih lazim antara istilah pembangunan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi.
Pembangunan ekonomi mengacu pada masalah negara terbelakang sedangkan pertumbuhan mengacu pada masalah negara maju. Perkembangan menurut Schumpeter (Jhingan, 2010), adalah perubahan spontan dan terputus-putus dalam keadaan stasioner yang senatiasa mengubah dan mengganti situasi keseimbangan yang ada sebelumnya; sedangkan pertumbuhan adalah perubahan jangka panjang secara perlahan dan mantap yang terjadi melalui kenaikan tabungan dan penduduk. Nyonya Hicks mengemukakan, masalah negara terbelakang menyangkut pengembangan sumber-sumber yang
tidak atau belum dipergunakan, kendati penggunaannya telah cukup dikenal, sedang masalah negara maju terkait pada pertumbuhan, karena kebanyakan dari sumber mereka sudah diketahui dan dikembangkan sampai batas tertentu (Jhingan, 2010).
Menurut Todaro dan Smith (2012) bahwa perbandingan ruang lingkup ilmu ekonomi pembangunan terhadap ilmu ekonomi tradisional dan ilmu politik, dimana ilmu ekonomi tradisional (traditional economics) memusatkan perhatiannya pada pengalokasian sumber daya yang langka secara efi sien, serta upaya-upaya untuk memanfaatkan pertumbuhan optimal sumber-sumber daya tersebut, dari waktu ke waktu, agar dapat menghasilkan sebanyak mungkin barang dan jasa.
Apa yang dimaksud dengan ilmu ekonomi tradisional di sini adalah ilmu ekonomi klasik dan neoklasik. Cakupan ilmu ekonomi politik (political economy) lebih luas dari jangkuan ilmu ekonomi tradisional. Fokusnya antara lain adalah proses-proses sosial serta institusional yang memungkinkan kelompok-kelompok elit ekonomi dan politik mempengaruhi alokasi sumber daya produktif yang persediaannya selalu terbatas (langka), sekarang atau masa yang akan datang, baik secara khusus untuk keuntungan sendiri atau kelompok maupun secara umum untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang lebih luas.
Ilmu ekonomi pembangunan (development economics) mempunyai ruang lingkup yang lebih luas lagi. Selain memperhatikan masalah efi sensi alokasi sumber daya produktif yang langka (atau yang tidak terpakai), serta kesinambungan pertumbuhan dari waktu ke waktu, ilmu ekonomi pembangunan juga memberi perhatian pada mekanisme-mekanisme ekonomi, sosial, politik, dan kelembagaan, baik yang terkandung dalam sektor swasta maupun yang terkandung dalam sektor publik.
Berdasarkan pandangan dari berbagai tokoh di atas, dapat kita simpulkan bahwa pembangunan ekonomi merupakan suatu proses yang mencakup aspek multidimensional dengan mengukur
tingkat pertumbuhan ekonomi, penanganan ketimpangan pendapatan dan pengetasan kemiskinan, serta adanya perubahan mendasar dari struktur sosial, politik dan kelembagaan.
TEORI PEMBANGUNAN EKONOMI 1. Aliran Ekonomi Klasik
Adam Smith, tokoh utama mashab klasik, dengan karya utamanya yang sangat terkenal The Wealth of Nation terbit pada 1776. Menurut Smith proses pertumbuhan itu bersifat mengumpul (kumulatif), artinya apabila timbul kemakmuran sebagai akibat dari kemajuan di bidang pertanian, industri manufaktur dan perdagangan akan menarik pada akumulasi modal, kemajuan teknologi, pertumbuhan populasi dan peluasan pasar serta pembagian kerja secara terus-menerus.
Kondisi ini oleh Smith disebut dengan “situasi progresif”.
Pada akhirnya akan sampai pada titik kelangkaan sumber daya yang akan menghentikan pertumbuhan tersebut. Smith mengatakan bahwa negara yang telah mencapai titik ini tidak akan dapat maju lebih jauh lagi. Bahkan, akan mengalami kemunduran. Upah buruh dan keuntungan akan berada pada titik terendah. Penurunan tersebut yang terus menerus mengakibatkan investasi mengalami penurunan hingga perkonomian membentuk garis stasioner (Jhingan, 2010).
Seperti halnya Smith, David Ricardo, dengan bukunya Principle of Political Economy and Taxation terbit pada 1817, konsepnya didasarkan pada beberapa asumsi dasar di antaranya (Adisasmita, 2013; Jhingan, 2010): pertama, seluruh tanah digunakan untuk produksi. Kedua, the law of diminishing returns berlaku bagi tanah. Ketiga, persediaan tanah adalah tetap. Keempat, buruh dan modal adalah input yang bersifat variabel.
Berdasarkan asumsi tersebut Ricardo membangun teorinya tentang saling keterkaitan antara tiga kelompok dalam perekonomian,
yaitu tuan tanah, kapitalis, dan buruh. Kepada mereka inilah keseluruhan pendapatan nasional dibagikan berupa sewa, laba dan upah. Menurut Ricardo, pemupukan modal merupakan keuntungan, sebab keuntungan merupakan kekayaan yang selisinya membentuk modal. Pemupukan modal sangat bergantung pada dua faktor, yaitu
“kemampuan” dan “kemauan” untuk menabung. Kemampuan untuk menabung diukur dari pendapatan bersih masyarakat yang berasal dari selisih keseluruhan pendapatan setelah dikurangi dengan biaya hidup minimum buruh. Sedangkan kemauan untuk menabung diukur dari besarnya surplus, semakin besar surplus semakin besar kemauan untuk menabung. Tuan tanah dan pemilik modal menanamkan modalnya berdasarkan besarnya tingkat keuntungan yang diperoleh.
Keadaan stasioner menurut Ricardo (Jhingan,2010) adalah kecendrungan alamiah sehingga negara akan mencapai tahap stasioner apabila pemupukan modal meningkat sebagai akibat meningkatnya keuntungan, maka jumlah keseluruhan produksi meningkat sehingga upah juga meningkat yang pada gilirannya akan menaikan permintaan gandum dan harganya. Menurut Ricardo, pembangunan ekonomi tergantung pada perbedaan antara konsumsi dan produksi.
Makin kecil rasio konsumsi produksi, maka pertumbuhan ekonomi dapat terjadi lebih cepat. Modal dapat ditingkatkan dengan menaikan produksi atau mengurangi konsumsi. Dengan adanya penggunaan mesin, peningkatan keterampilan, pembagian kerja akan baik, penemuan pasar yang baru dapat membuat banyak pertukaran yang menguntungkan. Dengan meningkatnya upah, penduduk dan pada gilirannya menaikan permintaan gandum dan harganya mengakibatkan permintaan jumlah tanah yang subur akan meningkat. Pada akhirnya sewa tanah mengalami peningkatan yang mengakibatkan berkurangnya keuntungan dan rendahnya upah hingga jatuh pada tingkat minimum, bahkan keuntungan berada pada titik nol.
Thomas Robert Malthus yang selalu dikaitkan dengan teori kependudukan, menulis buku dengan judul Principle of
Political Economy yang terbit pada 1820. Menurut Malthus proses pembangunan tidak terjadi dengan sendirinya, diperlukan berbagai upaya yang konsisten untuk mencapai tingkat tinggi dari pembangunan (Adisasmitha,2013; Jhingan,2010). Perekonomian tidak mengalami keadaan stasioner, seperti yang digambarkan oleh Smith dan Ricardo, namun mengalami kemerosotan yang berulang kali sebelum mencapai tingkat tersebut.
Malthus menitiberatkan perekonomian pada perkembangan kesejahtraan suatu negara, yaitu pembangunan dapat dicapai dengan meningkatkan kesejahtraan suatu negara. Kesejahtraan sangat bergantung pada produk yang dihasilkan baik dari segi kuantitas maupun kualitas dari produk tersebut, tetapi kesejahtraan suatu negara tidak selalu mengalami peningkatan yang proporsional pada nilai.
Terkadang peningkatan tersebut bisa terjadi atas dasar penyusutan aktual pada komoditi.
Dalam bukunya tersebut Malthus lebih realistis dalam menganalisis dibandingkan dalam bukunya Essay of Population.
Menurut Malthus (Jhingan,2010), pertumbuhan penduduk saja tidak cukup untuk berlangsungnya pembangunan tanpa adanya peningkatan kesejahtraan yang sebanding. Jika akumulasi modal meningkat, permintaan tenaga kerja juga mengalami peningkatan. Kondisi tersebut mendorong pertumbuhan penduduk. Namun, pertumbuhan penduduk tidak meningkatkan kesejahtraan. Pertambahan penduduk dapat meningkatkan kesejahtraan jika pertumbuhan penduduk meningkatkan permintaan efektif (eff ective demand).
Produksi dan distribusi menjadi unsur utama kesejahtraan (Adisasmitha,2013). Malthus mendefi nisikan problem pembangunan ekonomi sebagai sesuatu yang menjelaskan perbedaan antara gross national product (GNP) potensial dan gross national product (GNP) aktual. Problem pokoknya adalah bagaimana mencapai tingkat gross national product (GNP) potensial yang tinggi. Besarnya gross national product (GNP) potensial menurut Malthus adalah tergantung
pada tanah, tenaga kerja, modal dan organisasi. Bila keempat faktor ini digunakan secara proporsional maka akan memaksimalkan produksi dua sektor utama perkonomian yaitu sektor pertanian dan sektor industri secara berkesinambungan. Akumulasi modal, kesuburan tanah dan kemajuan teknologi adalah penyebab utama peningkatan produksi pertanian maupun produksi industri. Selain itu Malthus juga menekankan pentingnya faktor nonekonomi dalam pembangunan ekonomi, yang termasuk dalam politik dan moral.
Malthus tidak sependapat dengan hukum Say (Jhingan,2010) yang mengatakan bahwa dalam pasar bebas tidak mungkin terjadi kelebihan produksi (supply creates its own demand). Dalam kenyataan terdapat kelebihan komoditas di pasar dibandingkan dengan permintaan. Hal ini berarti terdapat kekurangan permintaan efektif (eff ective demand). Oleh karena itu, langkah-langkah untuk meningkatkan pembangunan ekonomi, Malthus mengemukakan beberapa saran (Adisasmitha,2013), yaitu: pertumbuhan berimbang antara sektor pertanian dan sektor industri; menaikan permintaan efektif, yang dilaksanakan dengan pendistribusian kesejahtraan dan pemilikan tanah.
Sama halnya dengan beberapa tokoh sebelumnya, Jhon Stuart Mill (Admisasmita, 2013; Jhingan,2010) menganggap pembangunan ekonomi sebagai fungsi dari tanah, tenaga kerja dan modal. Sementara tanah dan tenaga kerja merupakan dua faktor produksi yang asli, sedangkan modal adalah persediaan yang dikumpul dari produksi turunan. Peningkatan kesejahtraan hanya mungkin bila tanah dan modal mampu meningkatkan produksi lebih cepat dibandingkan angkatan kerja. Kesejahtraan terdiri dari peralatan, mesin, dan keterampilan angkatan kerja.
Tenaga kerja produktif inilah yang merupakan penciptaan kesejahtraan dan akumulasi modal. Laju akumulasi modal merupakan fungsi dari bagian angkatan kerja yang dipekerjakan secara produktif.
Mill percaya pada teori penduduk Malthus. Pembatasan penduduk
merupakan langkah yang penting sehingga dapat menikmati hasil kemajuan teknologi dan akumulasi modal.
Mill dalam Adisasmitha (2013) mengatakan bahwa laju akumulasi modal tergantung pada, (1) Jumlah dana yang dapat menghasilkan tabungan atau besarnya sisa hasil usaha, (2) Kuatnya kecederungan untuk menabung. Modal adalah hasil dari tabungan dan tabungan berasal dari penghematan konsumsi saat ini demi kepentingan konsumsi di masa yang akan datang. Tabungan adalah pengeluaran yang menggambarkan keyakinan Mill pada hukum Say.
Tidak adanya kemajuan di sektor pertanian dan bertambahnya penduduk berdasarkan laju pertumbuhan Malthus yang lebih tinggi daripada laju akumulasi modal, maka tingkat laba berada pada tingkat terendah. Untuk mencegah penurunan laba tersebut, dilakukan;
pertama, perbaikan teknik, kedua, peningkatan perdagangan luar negeri, ketiga mengekspor modal ke negara jajahan untuk memproduksi barang konsumsi untuk keperluan negara asal.
Keadaan stasioner akan terjadi dalam waktu dekat. Keadaan stasioner pada akhirnya akan membawa ke arah perbaikan distribusi pendapatan dan upah bagi tenaga kerja. Hanya mungkin terjadi dengan melakukan pengendalian jumlah kelas pekerja melalui kebiasaan berhemat dan melalui pendidikan. Adanya peran pemerintah, meskipun seminimal mungkin dalam perekonomian, dalam pandangan Mill di antaranya memperbaiki redistribusi pemilikan sarana produksi dengan rencana seperti pembagian laba dan kerja sama.
Dengan demikian kita dapat menyimpulkan pandangan Smith, Ricardo hingga Mill yang lebih dikenal sebagai aliran klasik atau teori klasik. Pertama, kebijakan pasar bebas. Ahli ekonomi klasik percaya pada keampuhan pasar bebas dalam memecahkan masalah masalah pembangunan. Peran pemerintah seminimal mungkin dalam perekonomian merupakan poin utama dalam teori ini. Kedua, pemupukan modal. Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pemupukan modal memainkan peran yang
penting, sehingga tabungan dalam jumlah yang besar menjadi sumber investasi.
Ketiga, keuntungan sebagai rangsangan bagi investasi. Agar dapat menabung dan meningkatkan investasi, investasi harus mampu dirangsang melalui keuntungan. Keempat, keadaan stasioner. Bahwa akan timbulnya keadaan stasioner pada akhir proses pemupukan modal. Sekali keuntungan mulai menurun, proses ini akan berlangsung terus sampai keuntungan menjadi nol, pertumbuhan pendudukan dan pemupukan modal terhenti, dan tingkat upah mencapai tingkat kebutuhan hidup minimal.
Malthus selanjutnya menunjukan adanya korelasi khusus antara pertumbuhan penduduk dan persediaan makanan. Malthus mengatakan bahwa jika pertumbuhan penduduk tidak dikendalikan maka ia akan melampaui pertumbuhan modal dan juga sarana bagi kebutuhan hidup.
2. Teori Karl Marx tentang Pembangunan Ekonomi
Berbeda halnya dengan aliran klasik, Marx lebih dikenal dengan aliran kiri yang lebih banyak mengkritik teori-teori ekonom klasik. Marx menyumbang kepada teori pembangunan ekonomi dalam tiga hal, yaitu: dalam arti luas memberikan penafsiran sejarah dari sudut ekonomi, dalam arti lebih sempit merinci kekuatan yang mendorong perkembangan kapitalis, dan akhirnya menawarkan jalan alternatif tentang pembangunan ekonomi terencana. Berdasarkan teori nilai lebih, Marx menganggap tenaga lebih memperbesar keuntungan kapitalis. Kapitalis memaksimalkan keuntungan melalui tiga cara yaitu (1) dengan memperjuangkan jam kerja, (2) dengan mengurangi jumlah jam yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhannya, (3) dengan meningkatkan produktivitas (Admisasmitha, 2013).
Sebetulnya skema bagian Marx yang bisa diterapkan di negara-negara terbelakang. Negara seperti itu terutama memiliki perekonomian yang dualistis, terdiri dari sektor kapitalis dan
sektor pertanian pangan dan usaha skala kecil yang bisa dikatakan mewakili “dua bagian dari Marx. Sektor kapitalis inilah yang lebih banyak menghasilkan surplus ekonomi dibandingkan dengan sektor pangan. Pembangunan ekonomi dapat dipacu lebih cepat dengan mereorganisasikan dan memperluas sektor kapitalis dan mengubah sektor pangan menjadi sektor kapitalis dalam rangka menigkatkan surplus ekonomi. Proses ini membutuhkan perencanaan industrialisasi dan peningkatan persediaan komoditi pertanian untuk memenuhi permintaan sektor kapitalis yang semakin berkembang tersebut.
3. Teori Keynes
Menurut Keynes dalam Adisasmitha (2013) bahwa pendapatan total merupakan fungsi dari pekerjaan total (total employment).
Semakin besar pendapatan nasional, semakin besar volume pekerjaan yang dihasilkan dan sebaliknya semakin kecil pendapatan nasional semakin kecil volume tenaga kerja yang dihasilkan. Besarnya volume kesempatan kerja tergantung pada permintaan efektif, yang menentukan tingkat keseimbangan kesempataan kerja dan pendapatan.
Permintaan efektif terdiri atas permintaan konsumsi dan permintaan investasi. Permintaan efektif tergantung pada kecendrungan untuk mengkonsumsi. Jika volume investasi yang diperlukan tidak terpenuhi maka akan menyebabkan penurunan permintaan agregat, yang lebih rendah dari harga penawaran (Jhingan,2010). Akibatnya pendapatan dan kesempatan kerja turun pada titik terendah hingga dimana adanya investasi. Jadi letak perbedaan antara kesempatan kerja dan pendapatan ada pada besarnya investasi. Volume investasi bergantung pada efi sensi marginal dari modal dan suku bunga.
Bangsa-bangsa di dunia sudah lama menganggap bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan tujuan utama perekonomian, masyarakat ingin mengetahui sumber dari pertumbuhan ekonomi, apakah kenaikan standar kehidupan yang dinikmati masyarakat selama ini disebabkan oleh banyaknya modal yang tersedia atau
karena kemajuan teknologi, pertanyaan lain adalah apa yang dapat dilakukan oleh suatu negara untuk memperbaiki prestasi ekonominya.
Pertanyaan pertanyaan tersebut merupakan masalah utama yang dibahas dalam teori dan kebijakan pertumbuhan ekonomi.
4. Model Perubahan Structural Lewis
Salah satu model dasar (model teoritis) pembangunan yang paling terkenal, yaitu memusatkan perhatian pada transformasi struktural (structural transformation) suatu perekonomian subsisten, dirumuskan oleh W. Athur Lewis, salah satu ekonom besar. Model dua sektor Lewis, yang diakui sebagai teori umum yang membahas teori umum yang membahas proses pembangunan di negara-negara dunia ketiga yang mengalami kelebihan penawaran tenaga kerja selama dekade 1960-an dan awal dekade 1970-an.
Menurut model Lewis perekonomian yang terbelakang terdiri dari dua sektor (Todaro & Smith,2006), yakni (1) sektor tradisional, yaitu sektor pedesaan subsisten yang kelebihan penduduk dan ditandai dengan produktivitas marginal tenaga kerja yang sama dengan nol.
Lewis mendefi nisikan kondisi surplus tenaga kerja sebagai suatu fakta bahwa jika sebagian tenaga kerja tersebut ditarik dari sektor pertanian maka sektor tersebut tidak akan kehilangan outputnya (2) sektor industri perkotaan modern yang tingkat produktivitasnya tinggi dan menjadi penampungan tenaga kerja yang ditransfer dari sedikit demi sedikit dari sektor subsisten. Perhatian utama model ini diarahkan pada terjadinya proses pengalihan tenaga kerja, pertumbuhan output dan peningkatan penyerapan di sektor modern (Jhingan,2010).
Pengalihan tenaga kerja dan pertumbuhan kesempatan kerja dimungkinkan oleh adanya peluasan output pada sektor tersebut.
Adapun laju dan kecepatan peluasan tersebut ditentukan oleh tingkat investasi di bidang industri dan akumulasi modal secara keseluruhan di sektor modern. Yang terakhir, tingkat upah di sektor industri perkotaan (sektor modern) di asumsikan konstan dan berdasarkan
suatu premis tertentu, jumlahnya ditetapkan melebihi rata-rata upah di sektor pertanian subsisten tradisional. Lewis berasumsi bahwa tingkat upah di daerah perkotaan sekurang-kurangnya harus 30 persen lebih tinggi dari pada rata-rata pendapatan di daerah-daerah pedesaan untuk memaksa para pekerja pindah dari desa ke kota.
Karena pada tingkat upah di daerah perkotaan yang konstan, maka kurva penawaran tenaga kerja pedesaan dianggap elastis sempurna.
5. Teori Pertumbuhan Neo Klasik
Sejak pertengahan tahun 1950an berkembang teori pertumbuhan ekonomi neoklasik, dipelopori oleh R.M. Solow yang menulis artikel “Contribution to The Theory of Economic, pada tahun 1956 yang kemudian diikuti oleh beberapa ahli ekonomi lainnya, di antaranya Edward Phelps, Harry Johnson, dan J.E. Meade.
Dalam analisis neoklasik, permintaan masyarakat tidak menentukan lajunya pertumbuhan, pertumbuhan ekonomi tergantung pada pertambahan dalam penawaran faktor-faktor produksi dan kemajuan teknologi. Neoklasik beranggapan bahwa perekonomian akan tetap mengalami tingkat kesempatan kerja penuh dan kapasitas alat-alat modal akan tetap sepenuhnya digunakan dari masa ke masa (Adisasmitha, 2013; Perkin et al, 2001). Solow mengatakan bahwa determinan penting dari pertumbuhan adalah technical progress, kenaikan penawaran tenaga kerja, dan akumulasi modal. Determinan yang paling penting dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) perkapita adalah technical progress dan akumulasi modal (Dornbusch,2008).
6. Teori Pertumbuhan Scumpeter: Peranan Pengusaha dalam Pembangunan
Dalam beberapa dasawarsa pertama abad ke-20, salah satu di antaranya yang terkemuka adalah Joseph Schumpeter, menulis salah satu bukunya yang terkenal The Theory of Economic
Development, yang terbit pada tahun 1911. Salah satu pendapat dari Schumpeter yang penting, yang selanjutnya merupakan landasan bagi teori pembangunannya, adalah keyakinannya sistem kapitalis merupakan sistem ekonomi yang paling tepat untuk melakukan pembangunan ekonomi yang pesat. Schumpeter tidak sependapat dengan pandangan ahli ekonomi klasik yang menganggap bahwa pembangunan ekonomi merupakan suatu program yang paling gradual dan berjalan secara harmonis. Menurutnya, pertambahan dalam pendapatan nasional dari masa ke masa perkembangan sangat tidak stabil dan keadaannya ditentukan oleh besarnya peluang pembentukan modal yang menguntungkannya yang akan dilakukan oleh para pengusaha. Ketidakstabilan ini berarti bahwa dalam proses pembangunan ekonomi, kemakmuran dan depresi akan timbul secara silih berganti. Pada suatu masa tertentu perekonomian akan mencapai tingkat penggunaan tenaga kerja yang tinggi dan pada masa lainnya pengangguran yang serius akan terjadi (Adisasmitha, 2013).
Schumpeter berkeyakinan bahwa pembangunan ekonomi terutama diciptakan oleh inisiatif dari golongan pengusaha yang inovatif dan golongan entrepreneur, yaitu golongan masyarakat yang mengorganisasi dan menggabungkan berbagai faktor produksi untuk memperoleh nilai tambah dari faktor produksi tersebut. Mereka merupakan masyarakat yang menciptakan inovasi atau penemuan baru dalam perekonomian (Adisasmitha, 2013).
Pandangan Schumpeter mengenai jalannya proses pembangunan ekonomi, dalam keadaan tidak terjadi perkembangan atau stasioner, tidak terdapat perkembangan penduduk, tidak ada penambahan modal baru, dan pengangguran baru. Dalam keadaan tersebut terdapat peluang untuk melakukan pembaharuan yang menguntungkan. Kondisi ini akan disadari oleh pengusaha untuk melakukan penanaman modal baru untuk melaksanakan dan menciptakan berbagai pembaharuan. Pada tahap awal hanya ada sedikit pengusaha yang masuk dan pada akhirnya akan diikuti
oleh banyak pengusaha lainnya, yang terdorong oleh keuntungan pada sektor tersebut, disertai dengan penanaman modal yang akan mengakibatkan peningkatan kegiatan ekonomi yang tinggi.
7. Teori Harrod-Domar: Syarat untuk Mencapai Pertumbuhan Mantap (Stasionary Growth)
Teori Harro-Domard merupakan peluasan dari analisis Keynes mengenai kegiatan ekonomi nasional dan masalah penggunaan tenaga kerja. Berbeda halnya denga Keynes yang berbicara pertumbuhan dalam jangka pendek, analisis Harrod-Domar bertujuan menutupi kelemahan analisis Keynes. Pada dasarnya, teori Harrod-Domar berusaha untuk menunjukan syarat yang diperlukan agar pertumbuhan yang mantap atau steady growth, merupakan pertumbuhan yang akan selalu menciptakan penggunaan sepenuhnya alat-alat modal akan selalu berlaku dalam perekonomian (Adisasmitha, 2013).
Harrod-Domar tetap mempertahankan pendapat dari ahli-ahli ekonomi terdahulu yang menanamkan tentang peranan pembantukan modal dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi, tetapi berbeda dengan pandangan kaum klasik dan Keynes, yang memberikan pada satu aspek saja. Teori Harrod-Domard memperhatikan (1) fungsi dari pembentukan modal dari kaum klasik, dan (2) tingkat pengeluaran masyarakat dari Keynes. Teori Harrod-Domar bersesuaian dengan pendapat Keynes yang menganggap bahwa pertambahan dalam kesanggupan memproduksi tidak secara sendirinya akan menciptakan pertambahan produksi dari kenaikan pendapatan nasional.
Pertambahan produksi dan pendapatan nasional bukan ditentukan oleh pertambahan dalam kapasitas memproduksi tetapi oleh kenaikan pengeluaran masyarakat. Dengan demikian, walaupun kapasitas memproduksi bertambah, pendapatan nasional baru akan bertambah dan pertumbuhan ekonomi tercapai, apabila pengeluaran masyarakat mengalami kenaikan bila dibandingkan pada masa sebelumnya.
Bertitik tolak dari pandangan ini, analisis Harrod-Domar bertujuan
untuk menunjukan kemampuan masyarakat yang bertambah dari masa ke masa akan selalu digunakan (Adisasmitha, 2013). Teori petumbuhan Harrod-Domar mengatakan bahwa tingkat pertumbuhan ditentukan secara bersama-sama oleh besarnya rasio tabungan nasional, serta rasio modal-output nasional (Todaro & Smith,2006) 8. Teori Pembangunan Seimbang
Istilah pembangunan seimbang (balanced development) diciptakan oleh Ragnar Nurkse (1960), tetapi teori tersebut pertama kali dikemukakan oleh Rosentein Rodam (1957), yang beranggapan bahwa melaksanakan industralisasi di daerah yang kurang berkembang merupakan cara untuk menciptakan pembagian pendapatan yang lebih merata di daerah kurang berkembang dengan lebih cepat dari pada di daerah lebih kaya. Dalam pembangunan seimbang harus dilakukan pembangunan berbagai jenis industri yang mempunyai kaitan erat satu sama lain secara serentak, sehingga setiap industri akan memperoleh eksternalitas ekonomi sebagai akibat dari industrialisasi, misalkan pengangguran di sektor pertanian (disguised unemployment) dipekerjakan dalam suatu industri, produksi suatu industri tersebut meningkat, pendapatan pekerja bertambah, sebagaian dibelanjakan untuk membeli berbagai barang hasil produksi industri lain dan sebagaian sisanya digunakan untuk membeli bahan makanan hasil sektor pertanian, produksi industri industri secara luas meningkat. Di samping itu, produksi sektor pertanian meningkat pula, maka terjadi pembangunan yang seimbang meliputi sektor industri dan sektor pertanian (Adisasmita,2013; Perkin, et al,2001).
Pendapat Nurkse tidak banyak berbeda dengan Rosenstein- Rodan dalam mengemukakan alasan tentang perlunya melaksanakan program pembangunan seimbang dalam pembangunan ekonomi bukan hanya menghadapi kesuksesan dalam memperoleh modal yang diperlukan tetapi juga dalam mendapatkan pasaran untuk barang-barang yang dihasilkan oleh berbagai industri yang akan
dikembangkan. Penanaman modal sangat rendah karena rendahnya pendapatan rill masyarakat, yang disebabkan oleh rendahnya produktivitas, dapat dikatakan bahwa dorongan untuk melakukan penanaman modal dibatasi oleh luasnya pasar. Faktor yang terpenting yang menentukan luasnya pasar adalah tingkat produktivitas (Adisasmitha,2013).
Teori pembangunan seimbang menganjurkan pembangunan sektor pertanian dan sektor industri dilaksanakan bersama-sama secara simultan secara serentak dan serempak. Sektor pertanian merupakan sektor yang dominan karena negara-negara berkembang sebagaian besar penduduk berdomisili dan bermata pencaharian di sektor pertanian, nilai produksi sektor pertanian mempunyai peranan besar dalam produk domestik bruto (PDB). Sektor industri diharapkan menjadi soko guru perekonomian, yaitu memberikan lapangan kerja banyak, memberikan pendapatan kepada masyarakat, menghasilkan devisa negara, memperlunak dampak turunnya harga komoditias pertanian di pasar internasional, dan akan memperkokoh struktur perekonomian, meskipun pada dewasa ini kontribusinya terhadap nilai pendapatan dalam negeri masih kecil (Adisamsitha, 2013; Jhingan,2010).
Dengan melaksanakan pembangunan ekonomi yang seimbang terutama ditekankan pada sektor pertanian dan sektor industri diharapkan akan memperkokoh struktur perekonomian yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dalam rangka mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan meningkatkan kesejahtraan masyarakat yang lebih tinggi.
Kesimbangan juga dibutuhkan antara sektor dalam negeri dan sektor luar negeri. Penerimaan ekspor adalah sumber penting untuk membiayai pembangnan; impor meningkat begitu produksi dan tenaga kerja meluas, dan perdagangan dalam negeri sendiri membutuhkan peningkatan impor untuk bahan-bahan dan peralatan yang perlu. Untuk membayar peningkatan impor sambil memberi
kemungkinan pada ekspor membiayai pembangunan sebanyak mungkin, negara tidak dapat memperluas perdagangan dalam negeri dengan mengorbankan perdagangan luar negeri. Sektor dalam negeri harus dapat tumbuh seimbang dengan perdagangan luar negeri.
Nurkse melihat bahwa pertumbuhan berimbang adalah pondasi kuat untuk perdagangan internasional dan juga suatu cara untuk mengatasi kekosongan pada batas luar.
9. Teori Permbangunan Tidak Seimbang
Berbeda dengan teori pertumbuhan seimbang, teori pertumbuhan tidak seimbang menyatakan bahwa tidak ada negara yang memiliki modal dalam jumlah yang sangat besar untuk melakukan pembangunan di semua sektor. Oleh karena itu, investasi seharusnya dilakukan pada beberapa sektor atau industri yang telah terpilih agar hasilnya cepat berkembang, dan hasil tersebut dapat digunakan untuk membangun sektor-sektor yang lain. Dengan demikian perekonomian secara berangsur-angsur akan tumbuh dan berkembang dari tidak seimbang menuju ke arah pertumbuhan yang seimbang. Ahli ahli ekonomi ini di antaranya C.P. Kindleberge, H.W.
Singer dan Albert Hirschman (Jhingan, 2010; Perkin, et al,2001).
Pedukung strategi pertumbuhan tidak seimbang lebih menyukai investasi pada sektor terpilih dari pada investasi secara serentak pada semua sektor ekonomi. Investasi pada sektor terpilih menghasilkan peluang-peluang investasi baru. Hal ini hanya dapat dicapai dengan cara membuat ketidakseimbangan ekonomi dengan sengaja.
Hirschman menganjurkan pendirian industri tahap akhir lebih dahulu. Dalam pembuatan industri, suatu negara sedang berkembang tidak perlu mengusahakan semua tahap produksi secara serentak, tapi ia dapat mengimpor pabrik “converting, assembelling dan mixing”
bagi sentuhan akhir, produk yang hampir jadi. Industri tahap akhir juga dikenal sebagai industri kantong impor (import enclave industries).
Meskipun demikian, industri ini jauh berbeda dengan industri
kantong ekspor (export enclave industries). Industri kantong ekspor terpaksa menghasilkan dampak kaitan maju bagi perekonomian.
Akan tetapi industri kantong impor tersebut memberikan dampak kaitan mundur yang sangat luas dan mendalam. Dampak kaitan mundur adalah penting tidak hanya dari produksi sekunder dan produksi primer. Dampak kaitan mundur yang merupakan hasil kombinasi berbagai industri tahap akhir dalam suatu negara adalah penting lagi. Kaitan mundur lahir karena kenaikan permintaan. Oleh karena itu, permintaan atas barang-barang yang sekali waktu paling ekonomis jika diimpor mungkin pada waktu tertentu meningkat begitu besar sehingga membenarkan produksi tahap akhir di dalam negeri. Dengan kata lain, sampai permintaan pada batas tertentu, akan lebih menguntungkan untuk memproduksi di dalam negeri, setelah batas itu tercapai lebih menguntungkan untuk mengimpornya.
Pada tahap pra-natal tidak perlu memberikan jenis perlindungan industri bayi sampai industri tersebut mapan. Pemberian kelonggaran pajak merupakan piranti yang sesuai bagi perlindungan sementara semacam ini. Hirchman berpendapat bahwa negara terbelakang tidak memberikan peranan penting kepada ekspor di dalam pembangunan ekonomi mereka. Mereka sering memperlakukan ekspor seperti anak tiri, tapi memang tidak ada pilihan nyata antara promosi ekspor dan subtitusi impor. Yang mana impor merupakan satu-satunya cara praktis untuk mencapai yang kemudian itu.
Hirchman meringkaskan strategi pembangunan ekonominya dalam ungkapan berikut ini, pembangunan ekonomi secara khas berjalan menurut lintasan pertumbuhan tak berimbang bahwa keseimbangan pulih sebagai akibat dari tekanan, rangsangan dan paksaan; bahwa lintasan efi sen ke arah pembangunan ekonomi mungkin agak tak teratur dan dipenuhi dengan kemacetan dan kekurangan keterampilan, fasilitas, jasa dan produksi; bahwa pembangunan industri akan berlanjut sebagian besar melalui kaitan mundur yakni dari industri terakhir ke industri menengah dan industri dasar.
Meskipun berbeda dalam pendekatan kedua doktrin pertumbuhan tersebut, namun mempunyai dua masalah yang sama, yaitu (1) berhubungan dengan peranan negara, dan (2) keterbatasan penawaran modal. Diperlukan peranan negara dan tersedianya modal untuk investasi (Adisasmitha, 2013).
KONSEP PEMBANGUNAN DESA
Pembangunan desa merupakan discourses yang masuk dalam kajian ekonomi pembangunan. Daerah pedesaan merupakan representative kehidupan social-ekonomi di negara-negara berkembang. Sebab, sebagian besar penduduk di negara berkembang bermukim di pedesaan dan mayoritas penduduknya bergantung pada sektor pertanian dan berada di bawah garis kemiskinan. Salah satu ciri penting dari penduduk pedesaan adalah masalah kepemilikan tanah.
Tahan masih merupakan modal utama dari kesejahtraan dan kekuatan politik di wilayah pedesaan. Di sini, untuk mengklasifi kasi penduduk desa menurut akses terhadap tanah atau keterlibatan dalam pertanian dapat dilihat dari tingkat keterlibatan rumah tangga tersebut dalam aktivitas lain dan mengamati struktur pendapatan dari sumber-sumber yang lebih luas. Beberapa penulis menggunakan istilah “household survival strategies” sebagai cara penduduk desa mengatasi persoalan- persoalan yang muncul (Todaro & Smith,2006).
Dalam prespektif pembangunan, Boeke yang pernah melakukan penelitian di Indonesia khususnya pulau Jawa menemukan bahwa perekonomian terbagi dalam sektor tradisional dan modern yang saling tidak berhubungan. Dalam rangka mengatasi ketidakseimbangan akibat perekonomian dualistic tersebut, menurut Boeke, sektor tradisional perlu dirangsang melalui insentif ekonomi dan peningkatan teknologi produksi meskipun hasilnya tak akan segera tampak.
Sebaliknya, Geertz menyatakan upaya perbaikan apa pun tidak akan berhasil dilakukan. Menurut Scott persoalan yang berlaku
pada masyarakat pedesaan adalah rasionalitas social yang lebih mementingkan kebersamaan ketimbang persaingan. Prinsip moral lebih dominan daripada rasionalitas ekonomi sehingga pendekatan ekonomi akan sulit bekerja pada masyarakat desa. Penetrasi dari luar, baik menyangkut aspek kelembagaan maupun teknologi, malahan akan menimbulkan resitensi. Ketidakmampuan menangkap kultur dan nilai-nilai masyarakat desa inilah yang membuat banyak kebijakan pembangunan pedesaan gagal diterapkan di lapangan (Yustika, 2013).
Ide dualisme ekonomi yang diinisiasikan oleh Boeke tersebut pada akhirnya, diakui atau tidak, menjadi diskursus penting dalam proses pembangunan pedesaan di negara-negara berkembang.
Seperti yang telah disarikan oleh Ellis dan Biggs, model dualisme ekonomi menjadi isu strategis pembangunan pedesaan di negara- negara berkembang pada akhir tahun 1950-an. Pada fase pertama ini, tujuan pembangunan pedesaan diarahkan dari semula pembangunan komunitas ke penekanan pertumbuhan usaha tani kecil. Kedua, pertumbuhan usaha tani kecil dilanjutkan kepada upaya pembangunan pedesaan yang terintegerasi di antaranya melalui kebijakan transfer teknologi, mekanisasi dan penyuluhan pertanian.
Ketiga, pergeseran pembangunan pedesaan yang dipandu negara menuju liberalisasi pasar melalui kebijakan penyesuaian struktural dan pasar. Keempat, pembangunan pedesaan diarahkan untuk penguatan pendekatan proses, partisipasi, pemberdayaan, dan pelaku. Kelima, pentingnya penghidupan yang berkesinambungan sebagai sebuah kerangka kerja yang terintegrasi dalam pembangunan pedesaan, di antaranya lewat penguatan kredit mikro, jaringan pengamanan pedesaan, dan peran perempuan dalam pembangunan.
Keenam, menempatkan pembangunan pedesaan sebagai strategi untuk mengurangi kemiskinan.
Dari fase-fase tersebut bisa diidentifi kasi bahwa proses komersialisasi sektor pedesaan sudah lama terjadi (sejak tahun 1960- an) melalui serangkaian kebijakan yang berupaya meningkatkan