B
anyak sudah kontribusi yang diberikan para pengembang Linux kepada dunia. Dan dunia juga sadar akan hal itu. Dukungan para vendor peranti keras dan peranti lunak maupun para perusahaan pembuat teknologi buat Linux, semakin hari semakin tidak terbendung. Sebut saja IBM, Intel, Oracle, nVIDIA, dan lainnya, sudah dengan lantang menyatakan dukungannya buat Linux.Tidak hanya itu, sebelum para vendor-vendor itu mengikrarkan dukungannya buat Linux, sudah banyak perusahaan di dunia yang menggunakan Linux untuk membantu kegiatannya sehari-hari. Mulai badan meteorologi sampai perusahaan eksplorasi minyak dan gas bumi, memanfaatkan Linux sebagai sistem yang mampu menjalankan beberapa mesin Linux sekaligus (clustering). Tidak hanya itu, sebuah bank di sebelah barat Kanada menggunakan Linux buat sistem Internet Banking-nya.
Perusahaan-perusahaan dalam negeri pun tidak ketinggalan mengadopsi si penguin ke dalam mesin-mesin yang banyak di antaranya sedang
menganggur. Tindakan mengadopsi Linux di mesin nganggur, mendapat respon positif dari pihak manajemen.
Mengingat, mesin itu dianggap sudah tidak layak pakai lagi, tetapi nyatanya masih bisa dijalankan tanpa harus sering di-restart. Dan jika mau jujur tentu hal itu sangat membantu keuangan yang ada di perusahaan.
Dinamika Linux
Jika Anda perhatikan situs-situs yang di dalamnya memberikan informasi mengenai proses pengembangan aplikasi open source, hampir setiap hari ada rilis aplikasi open source
terbaru yang sudah bisa Anda cicipi. Tidak hanya itu, terkadang dalam sehari rilis yang dikeluarkan bisa lebih dari tujuh aplikasi sekaligus.
Namun, hal itu tidak terjadi pada jantungnya Linux, yakni kernel. Dan kita tentu bisa memakluminya.
Karena orang tentu tidak mau menggunakan sebuah kernel yang masih belum stabil digunakan, kecuali
hangat tentu kita sama-sama tahu, yaitu rilis terbaru dari tiga pembuat distro Linux dunia. Distro yang berpusat di Perancis, Mandrake Linux, yang pertama kali memukulkan genderang perang.
Lima hari kemudian bola pun
disongsong RedHat, sebuah distro dari daratan Amerika, dan terakhir (tujuh hari kemudian) ditutup oleh pengembang Linux yang berpusat di Jerman, SuSE Linux.
Apa sebenarnya arti dari peperangan ini? Pengguna Linux, terutama
perorangan, yang bisa secara langsung mengomentarinya. Karena, rilis terbaru ketiga distro itu cenderung mengusung
mudah, siapapun bisa menggunakannya.
Pilih yang mana?
Walaupun para pengembang atau pembuat distro Linux terus berpacu dengan grafical user interface, selera orang akan aplikasi open source tentu tidak sama satu dengan yang lainnya.
Jangankan distro, selera terhadap sebuah makanan dalam satu keluarga pun biasanya beragam. Yang satu sukai gulai, yang satunya lagi suka rendang, dan mungkin yang satunya
lagi tidak suka keduanya.
Dan yang pasti di antara orang-orang (dalam keluarga) tersebut pasti menghormati perbedaan selera itu, tidak lantas saling berbaku hantam.
Perbedaan juga terjadi di lingkungan pengguna Linux.
Dari pertanyaan polling yang InfoLINUX buat, hanya sedikit jawaban yang menang mutlak. Artinya,
atau b saja, kecuali jawaban tentang prosesor. Dari tiga pilihan yang kami
ajukan, hanya Cyrix saja yang tidak dipilih oleh para responden polling InfoLINUX. Dan itu sah-sah saja!
Dari sepuluh pertanyaan yang kami ajukan, kami hanya menggunakan pertanyaan yang berhubungan dengan Linux (tidak berhubungan dengan InfoLINUX). Tidak hanya itu, kami juga akan memberikan pilihan yang mewakili
pilihan redaksi InfoLINUX. Jadi, tidak menutup kemungkinan pilihan Anda sama dengan pilihan kami dan begitu juga sebaliknya.
Pertanyaan yang akan kami ulas berkenaan dengan polling InfoLINUX, di antaranya, prosesor, distro, desktop, browser, office, mail client, multimedia, dan editor yang ada di Linux. Untuk menyemarakan polling InfoLINUX, kami juga menjalin kerja sama dengan para sponsor. Dan itu sebagai salah satu ungkapan terimakasih kami kepada para responden polling InfoLINUX. Tunggu apalagi simak ulasannya, siapa yang terbaik di dunia Linux, apakah pilihan Anda sama dengan pilihan kami dan yang penting, siapa yang beruntung mendapat hadiah polling InfoLINUX ini?
Silakan Anda buka halaman selanjutnya!
Dua perusahaan jantungnya komputer (prosesor) dunia, AMD dan Intel, masih terus berpacu dalam pengembangan teknologi guna memacu kinerja masing- masing produknya. Padahal jika diperhatikan lebih dalam tidak hanya mereka produsen prosesor di dunia ini, seperti Cyrix, Motorola, atau Transmeta.
Tetapi, karena keduanya yang paling cepat pengimplementasian teknologi prosesor, maka merekalah yang lebih terlihat head-to-head.
Teknologi prosesor
Intel Corp. pertama kali berdiri pada awal tahun 80-an. Sejak itu pula, Intel mulai mendominasi pasar pengguna rumahan.
Dalam perjalanannya, Intel akhirnya ikut merambah ke pasar prosesor untuk laptop. Terakhir, Intel mengeluarkan sebuah prosesor khusus untuk server (64-bit). Perjalanan Intel di dunia prosesor tidak begitu saja berjalan mulus. Intel pun dikuntit oleh IBM, Cyrix, dan kemudian AMD.
AMD K6-2 merupakan produk pertama buatan AMD. Dan prosesor itu ternyata menjadi rivalnya Pentium Pro dan Pentium II keluaran Intel.
Perkembangan teknologi terus berjalan, akhirnya memaksa AMD mengeluarkan Duron untuk menyaingi Celeron dan
Athlon pesaing Pentium III.
Jika diperhatikan secara saksama, Intel Corp. merupakan perusahaan prosesor yang lebih sering merilis produk baru mereka dibandingkan AMD. Dan itu tentu bukan tidak ada perencanaan. Informasi
yang kami terima, Intel Corp. sudah
membuat prototipe dari prosesor Pentium 4 10GHz.
Bahkan sebelum akhir tahun 2002 pun, Intel telah merilis prosesor terbarunya, Pentium 4 3GHz.
Teknologi prosesor pun berjalan secepat angin. Jika awal tahun sampai pertengahan 2002 masing-masing produsen prosesor masih menggunakan teknologi 0,18 mikron, akhir tahun 2002 mereka sudah menggunakan
Perang Itu Masih Berlanjut...
Intel masih memimpin!
Pilihan polling InfoLINUX kami berikan tiga pilihan produsen prosesor sekaligus. Dari ketiga pilihan itu, hanya Cyrix yang tidak memiliki responden. Artinya, persaingan hanya terjadi antara AMD dan Intel saja. Responden yang memilih Intel dua kali lebih banyak dibandingkan respondennya AMD.
Pengujian yang pernah kami lakukan terhadap kedua prosesor pun menghasilkan nama yang sama, yaitu Intel. Kolaborasi antara Intel dengan vendor peranti keras lain, seperti nVIDIA merupakan pasangan yang pas. Dan itu tidak kami dapati pada AMD dan nVIDIA. Pasangan terakhir itu lebih sering mengalami masalah.—Heriyadi ([email protected])
teknologi 0,13 mikron. Teknologi itu pun mempunyai banyak arti. Salah satunya, dengan teknologi yang semakin kecil, maka biaya yang akan dikeluarkan akan semakin kecil pula.
Dan itu bisa dilihat langsung di situs produsen prosesor bersangkutan, AMD (www.amd.com) dan Intel
(www.intel.com). Teknologi itu pun akan terus berkembang sampai 0,9 mikron.
Fenomena prosesor
Peperangan antara AMD dengan Intel pun tidak hanya berlangsung di wilayah komputer desktop, tetapi melebar sampai lingkungan server dan prosesor mobile. Prosesor terbaru yang bisa Anda lihat di pasar sekarang adalah prosesor 64-bit. Dan salah satu sistem operasi yang mampu dijalankan di atasnya adalah Linux.
Yang jelas, semakin tinggi spesifikasi sebuah prosesor, maka proses eksekusi aplikasi yang ada akan semakin cepat.
Apalagi jika Anda berniat membuat sebuah clustering komputer.
Penggunaan spesifikasi prosesor yang tinggi dan si penguin tentu
merupakan pasangan yang klop.
Salah satu yang sangat fenomenal di dunia prosesor adalah para pembuat prosesor itu, khususnya Intel, mulai mendekati para pengembang distro Linux. Secara kasat mata, kita bisa melihat Intel sedikit demi sedikit berkurang dukungannya terhadap Microsoft. Dengan begitu, Anda sebagai pengguna prosesor Intel akan lebih menikmati aplikasi-aplikasi yang jalan di Linux.
Favorit bukan terbaik. Sangat sulit bagi kami menentukan distro terbaik karena setiap distro memiliki kelebihan dan kekurangan, tergantung selera dan tujuan pengguna. Pilihan kami yang pertama jatuh pada Mandrake, lalu RedHat.
Mengapa Mandrake dan RedHat yang menjadi dua pilihan utama dalam polling InfoLINUX? Kami memperoleh informasi ranking distro dari beberapa situs, salah satunya http://www.distrowatch.com.
Dari 96 distro yang terdaftar di situs tersebut, Mandrake dan RedHat menempati ranking teratas dalam page hit, disusul Gentoo dan Debian. Lalu, menurut http://www.linux.web.id, RedHat tercacah digunakan paling banyak di Indonesia, diikuti Mandrake dan SuSE.
RedHat memiliki kelebihan dalam dalam hal kemudahan instalasi dan kelengkapan paket. Namun, bagi sebagian pengguna Linux, RedHat kurang praktis karena pengguna harus menyiapkan minimal tiga CD untuk sekadar instalasi Linux sebagai desktop.
Demikian pula Mandrake, mulai versi 8.2 juga perlu minimal tiga CD untuk instalasi Mandrake secara lengkap.
Namun, Mandrake punya sedikit kelebihan dibandingkan RedHat dalam hal instalasi, yaitu tidak harus dua atau bahkan tiga CD untuk sekadar instalasi sebagai desktop. Salah satu kelemahan Mandrake adalah tidak dapat diinstalasi pada komputer lama (i486 ke bawah). Ini semua baru penilaian dari sisi kebutuhan pada saat instalasi.
Beberapa distro yang disebut-sebut oleh pembuatnya sangat mudah diinstalasi dan digunakan, antara lain Lindows dan Xandros. Sayangnya, tidak tersedia versi free untuk men-download dua distro tersebut. Jika sekadar ingin menjalankan Linux tanpa harus menginstalasi ke dalam harddisk, KNOPPIX merupakan pilihan yang baik (Lihat Ulasan CD InfoLINUX edisi ini).
SuSE juga punya versi Live CD ini, tapi sayangnya tidak menyediakan secara free untuk di-download.
Mandrake, Distro Favorit 2002
Mandrake 9.0
Mandrake 9.0 merupakan distro yang sangat fleksibel dalam hal instalasi.
Untuk instalasi pertama (bukan upgrade), Anda dapat memilih menginstalasi dengan sebuah CD saja, dua CD atau tiga CD. Pembatalan instalasi CD kedua dan ketiga tidak mengganggu proses instalasi, sehingga Anda dapat meneruskan instalasi hingga selesai.
Penambahan atau pengurangan paket aplikasi dengan mudah dapat dilakukan melalui perintah urpmi (modus teks) atau rpmdrake (modus grafis atau di X Window).
Jika telah memiliki sistem Mandrake 8.x, Anda dapat meng-upgrade secara keseluruhan atau hanya meng-upgrade aplikasi tanpa mengubah konfigurasi.
Konfigurasi sistem dan aplikasi server Mandrake 9.0 juga sangat praktis
dengan adanya Pusat Kontrol Mandrake (Mandrake Control Center).
Mandrake versi download tersedia secara free, sehingga Anda dapat memiliki tiga buah CD Mandrake 9.0 dengan men-download dari Internet. Jika kesulitan dalam melakukan download, Anda dapat membeli buku Mini Linux plus tiga CD Mandrake 9.0 yang baru saja diterbitkan majalah InfoLINUX.
Mandrake 9.0 sangat cocok untuk menggantikan sistem desktop Windows, karena sudah menyertakan OpenOffice sebagai pengganti MS Office dan berbagai aplikasi multimedia seperti MP3 player dan VCD player. Untuk admi- nistrasi sistem, selain Pusat Kontrol Mandrake, Mandrake 9.0 juga menyer- takan Webmin, yakni aplikasi web untuk konfigurasi sistem dan setup server seperti Apache, Sendmail, dan lain-lain.
RedHat disalip Mandrake
“Anak harus lebih baik dari Bapak,” itulah salah satu prinsip yang dipegang oleh sebagian masyarakat kita. Rupanya prinsip itu juga berlaku untuk distro Mandrake, yang berhasil mengungguli distro
“bapaknya”, RedHat. Dari sisi aplikasi, sangat jelas Mandrake lebih lengkap dari RedHat, terutama untuk kebutuhan desktop. Mandrake 9.0 menyertakan alsa-lib dan xine-lib untuk multimedia, yang tidak ada di RedHat 8.0. Untuk administrasi sistem, Mandrake 9.0 memiliki Sentral Kontrol Mandrake, Linuxconf, dan Webmin, sedangkan RedHat 8.0 hanya punya beberapa tool. Data dari Linuxword.com menunjukkan, untuk instalasi dasar Mandrake 9.0 perlu waktu 31 menit, sedangkan RedHat 8.0 perlu 63 menit.—Rusmanto ([email protected])
C o n t r o l Center di G N O M E Mandrake 9
Tidak dapat dipungkiri, keberadaan sebuah desktop environment yang berbasis grafis akan memudahkan pengguna Linux yang banyak bekerja dengan aplikasi Internet, office, ataupun multimedia.
Dua lingkungan desktop yang terpo- puler adalah KDE (K Desktop Environ- ment) dan GNOME (GNU Netwok Object Model Environment). Kedua- duanya sama-sama bersifat open source dan sudah dikemas oleh hampir semua distro.
Ada pula pengguna Linux yang memilih untuk menggunakan window manager saja alias kebutuhan minimum.
Ini bisa dipenuhi dengan WindowMaker, IceWM, BlackBox, dan berbagai window manager lainnya. Hasil polling InfoLINUX memperlihatkan bahwa KDE adalah yang paling digemari. Mayoritas pengguna Linux menggandrungi Linux Mandrake, tidak heran kalau KDE jadi favorit lantaran memang KDE adalah pilihan yang lazim untuk Mandrake.
Untuk kebanyakan pengguna, terutama yang masih pemula, KDE dan GNOME memberikan kenyaman bekerja karena lingkungan yang digunakan serupa dengan platform, semisal Microsoft Windows ataupun Mac OS.
Yang beralih dari dunia Unix lain, seperti HP UX atau Solaris, juga tidak akan mengalami kesulitan dalam beradaptasi.
Belum lagi tersedianya segudang aplikasi, dari Internet dialer hingga browser, yang terintegrasi dengan baik.
Sebut saja misalnya Konqueror (di KDE), yang berfungsi sebagai file manager sekaligus juga browser web.
Atau Nautlius (di GNOME), yang mampu bekerja sama dengan Galeon untuk menjelajahi web.
Sesungguhnya, lingkungan desktop seperti KDE dan GNOME menawarkan lebih banyak hal. Kalau window manager seperti IceWM atau Sawfish hanya menangani pengaturan window aplikasi, plus barangkali menu, panel, atau shortcut, maka baik KDE maupun GNOME memberikan kerangka aplikasi
yang dapat dimanfaatkan oleh seseorang untuk membangun program berbasis grafis dengan mudah.
Sebagai contoh, terdapat berbagai teknologi mutakhir yang terdapat di KDE, mulai KParts untuk pengem- bangan komponen (ala CORBA atau COM), KIO untuk abstraksi sistem input output, Arts (Advanced Real-Time Synthesizer) guna memproduksi beragam efek multimedia, serta DCOP (Desktop Communication Protocol) sebagai protokol antaraplikasi.
Belum lagi tersedianya puluhan elemen pembangun antarmuka (user interface) yang sudap siap
dimanfaatkan. Bagi pengembang, kekayaan pustaka (library) seperti ini sangat menguntungkan.
Dan meskipun terjadi kompetisi yang sehat antara KDE dan GNOME dalam memperebutkan posisi desktop nomor wahid, tampaknya keduanya akan terus
KDE: Masih yang terbaik
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi pilihan seseorang akan desktop yang digunakannya. KDE, tidak pelak lagi, punya
keunggulan lebih dibandingkan lingkungan desktop lainnya. Relatif mudah diinstalasi karena pengaturan paketnya cukup sederhana, berbagai aplikasi KDE serasa lebih terintegrasi dan lebih menyatu.
Soal tampilan, KDE adalah rajanya karena hampir semua aspek antarmuka, mulai sekadar pilihan ikon hingga tata warna, bisa dikonfigurasi dengan mudah.
Pemanfaatan teknologi KPart dan KIO dengan baik terlihat dari kemampuan Konqueror yang andal lagi kaya akan fitur.
Terakhir, sebagai proyek open source KDE benar-benar menerapkan asas release early, release often, sehingga perbaikan demi perbaikan dihantarkan dengan segera ke para penggemarnya.—Ariya Hidayat ([email protected])
saling memperkaya satu dengan yang lain. Saat ini, masih mustahil menggu- nakan desktop yang murni KDE 100%
atau murni GNOME 100%.
Ada banyak hal yang dapat
ditemukan di dunia GNOME yang belum ada padanannya di KDE, misalnya Gimp untuk olah citra. Di sisi lain, ada pula hal-hal khas KDE yang justru belum berkembang di GNOME, seperti KPresenter untuk menyajikan presentasi.
Hasil akhir, meski seseorang telah terpaut hatinya ke satu desktop, apakah itu KDE atau GNOME, orang tersebut terkadang juga akan mengandalkan pertolongan aplikasi lain. Banyak fans KDE yang mengutak-atik dan memper- baiki foto-foto pribadinya dengan Gimp.
Pun ada penggemar GNOME yang merasa lebih nyaman menggunakan KWord tatkala menyusun dokumen.
Itulah salah satu keindahan dunia open source, terus dapat saling melengkapi.
Desktop: KDE
K D E s a n g j u a r a
Apalah jadinya apabila di dunia ini tidak tersedia sebuah aplikasi yang bernama browser. Dampaknya yang paling besar adalah Anda tidak bisa mendapatkan informasi aktual dari seluruh penjuru dunia. Browser merupakan sebuah aplikasi yang bisa Anda jalankan di mana Anda mau, meski sistem dan medianya berbeda.
Lalu, apakah browser juga bisa Anda dapatkan dan jalankan di Linux? Tentu bisa. Hebatnya browser yang ada di Linux bisa Anda dapatkan dalam dua versi, yaitu versi teks dan grafis. Jadi, apabila Anda salah seorang yang tidak menyukai tampilan X Window, masih bisa tetap terhubung dengan dunia maya menggunakan browser teks.
Proses loading sebuah situs yang lambat karena banyaknya animasi yang terdapat di dalamnya, merupakan keluhan yang sering dilontarkan para netter. Untuk mengakalinya, Anda bisa menggunakan browser teks, seperti Lynx dan Links. Tetapi, mungkin hanya sedikit saja orang yang mau
menggunakannya.
Linux yang open source membuat aplikasi-aplikasi yang berjalan di dalamnya harus open source.
Meskipun banyak pula aplikasi non- open source yang bisa berjalan di Linux. Begitu juga pembahasan browser kali ini. Banyak browser open source yang bisa Anda gunakan untuk menjelajahi dunia maya, sebut saja Konqueror, Galeon, Netscape, dan Mozilla (untuk lebih jelas pembahasan tentang browser lihat InfoLINUX Agustus 2002).
Dilepasnya source code Netscape ke publik, ternyata hanya membuat geram para programer. Tetapi, dari sana pula akhirnya banyak browser open source yang mengadopsi mesin gecko-nya Mozilla ke masing-masing browser.
Sebut saja Galeon dan Netscape, keduanya menggunakan mesin yang sama dengan Mozilla. Kini,
ketangguhan Mozilla sudah tidak terbantahkan lagi.
Para programer pun tidak hanya mengembangkan sebuah browser sebatas aplikasi yang bisa digunakan untuk surfing di Internet. Lihat saja, apa yang sudah dilakukan oleh para programer Konqueror. Mereka memadukan sebuah browser dengan file manager menjadi satu kesatuan yang tangguh.
Fenomena lain dunia browser di Linux adalah Opera.
Browser yang bermarkas di Norwegia ini mengenalkan produknya pertama kali kompatibel dengan Windows.
Melihat perkembangan Linux yang semakin membumi, akhirnya mereka pun mendukung si penguin. Dan sampai saat Opera masih satu- satunya browser yang bisa berjalan di Linux tetapi tidak open source.
Opera juga mampu
menunjukkan kelasnya di dunia browser. Hanya Opera-lah yang mampu menyaingi kedigdayaan Mozilla. Bahkan jika mau jujur, Opera masih lebih baik dibandingkan Mozilla dilihat dari kecepatan loading dan dukungannya terhadap aplikasi-aplikasi plugin.
Dan sekali lagi sangat disayangkan browser ini masih belum open source. Sehingga, apa yang menjadi faktor utama dalam Opera bisa diadopsi ke browser lainnya.
Antara Konqueror, Mozilla, dan Opera
Hasil polling InfoLINUX membuktikan kedigdayaan Mozilla di dunia browser, khususnya Linux. Meskipun hasil polling itu tidak mutlak dimenangkan Mozilla, tetapi setidaknya itu membuktikan bahwa Mozilla tidak bisa dipandang sebelah mata. Di urutan kedua bertengger Konqueror, sebuah browser plus file manager. Dan sangat dimungkinkan itu pula yang mendasari para partisipan polling InfoLINUX mengapa memilih Konqueror.
Berat memang, menentukan sebuah pilihan yang mengatasnamakan Redaksi InfoLINUX. Satu yang jelas, bahwa untuk browser open source Mozilla masih yang terbaik. Dan untuk browser non-open source, Opera-lah yang pantas menyandang gelar Pilihan Redaksi.—Heriyadi ([email protected])
Browser di LINUX
Mozilla masih menjadi pilihan favorit responden polling InfoLINUX
Konqueror, browser dengan fungsi ganda
Buat pecinta GNOME, pasti mengenal Galeon
Ketika kami bertanya kepada seseorang manajer TI sebuah perusahaan mengenai penggunaan Office Linux oleh karyawan bagian lain di perusahaan itu, dia mengatakan bahwa Office di Linux masih belum maksimal kerjanya. Dalam artian, ketika mereka membuat sebuah surat buat pelanggan misalnya, hasilnya belum tentu sama dengan apa yang mereka kirimkan. Apalagi yang menerima masih banyak menggunakan Microsoft Office sebagai medianya.
Memang hal itu tidak kita pungkiri.
Mengingat, kedua Office itu berbeda.
Perbedaan yang sangat jelas di antara keduanya adalah lisensi. Untuk bisa menggunakan Microsoft Office, Anda tentu harus memiliki lisensi, sedangkan Office di Linux tidak. Anda cukup download, bila desktop yang ada tidak
menyediakan Office dan Anda bisa memakai sampai kapan pun Anda inginkan.
Tetapi, sebenarnya para pengembang office di Linux pun sadar bahwa sebenarnya masih banyak pula yang menggunakan Microsoft Office untuk keperluan sehari-hari. Lihat saja OpenOffice, StarOffice, dan HancomOffice, ketiga office itu bisa berjalan di Linux dan mendukung penyimpanan file dalam format Microsoft Office. Hanya yang diperlu digarisbawahi
adalah HancomOffice dan StarOffice 6 bersifat komersial.
Sebuah solusi agar office yang Anda gunakan di Linux bisa juga diakses di office lain, katakan saja Microsoft Office, Anda cukup menyimpan file yang bersangkutan dalam format .rtf. Dan hampir semua office di Linux mampu menyimpan file dalam format itu. Jadi, sebenarnya masalah yang didapati
manajer TI di atas terjawab sudah.
Selain OpenOffice, StarOffice, dan Hancom- Office, Anda juga bisa menggunakan KOffice dan GNOME Office. Omong- omong masalah OpenOffice, sebenarnya office ini berasal dari StarOffice, sebuah aplikasi office milik Sun Microsystems. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Sun melepaskan StarOffice sebagai produk
Yang cepat atau yang...
Mengingat keterbatasan yang ada, untuk polling InfoLINUX mengenai office kami hanya bisa memberikan tiga pilihan saja.
Padahal ada cukup banyak office yang bisa berjalan di Linux dengan mantap. Dari tiga pilihan yang kami berikan OpenOffice
mendominasi pilihan para peserta polling InfoLINUX. OpenOffice dibuntuti oleh KOffice dan ditutup oleh StarOffice diurutan ketiga. Dan kami tidak mendapatkan pilihan jawaban alternatif untuk office ini.
Bila Anda membutuhkan kompatibilitas yang tinggi, bisa menggunakan OpenOffice. Kemudian apabila uang bukan masalah penting buat Anda, gunakan saja StarOffice 6 yang dilengkapi layanan after sales dari Sun. Alternatif lain, apabila Anda merasa OpenOffice terlalu berat buat mesin Anda, gunakan HancomOffice. Sebagai catatan, HancomOffice adalah office komersial.—
Heriyadi ([email protected])
Office Terbaik untuk Anda
open source. Yang kemudian nama itu berubah menjadi OpenOffice, tetapi StarOffice masih menjadi nama produk milik Sun. Sayangnya, Sun kini
mengomersialkan StarOffice 6 alias tidak lagi gratis.
Lalu, apakah office milik sistem operasi lain juga bisa berjalan di Linux?
Yang jelas jalannya sebuah aplikasi office di Linux tergantung pada platform pengembangan office itu sendiri.
Contohnya, ThinkFree Office. Walaupun aplikasi office ini sifatnya komersial, tetapi karena platform-nya Java, maka ia pun bisa berjalan di Linux dan sistem operasi yang sudah support Java.
Alternatif lain apabila ingin menjalankan office milik sistem operasi lain di Linux, Anda bisa menggunakan sebuah emulator, WINE misalnya.
Apa yang Anda cari ada di O p e n O f f i c e
KOffice, lebih ringan
E-mail adalah salah satu layanan tertua dari Internet. Keberadaan e-mail membuat terobosan yang berarti dibandingkan mail (surat) yang konvensional. Kebutuhan akan pemuasan komunikasi global, membuat semakin banyak orang yang menggunakan Internet untuk mengakses e-mail.
Dewasa ini, ada dua pilhan
penggunaan e-mail. Yang pertama adalah yang berbasiskan server e-mail dan menggunakan protokol standar, seperti SMTP (Simple Mail Transfer Protocol), POP (Post Office Protocol), dan IMAP (Internet Message Access Protocol).
Alternatif lain adalah webmail, populer akibat meluasnya jasa layanan mail gratis seperti Hotmail dan Yahoo!
Mail. Penggunaan webmail cukup sederhana, hanya membutuhkan koneksi ke Internet dan browser web (misalnya Mozilla). Namun demikian, untuk efisiensi pemakaian e-mail pilihan pertama adalah yang paling optimal.
Untuk akses ke server mail tersebut, dibutuhkan aplikasi yang sering disebut sebagai mail client.
Linux sendiri menyediakan banyak pilihan untuk mail client, mulai yang berbasis teks seperti Pine dan Mutt hingga yang memanfaatkan antarmuka grafis seperti KMail, Evolution, atau Balsa. Polling InfoLINUX menunjukkan, baik Evolution maupun KMail sama-sama populer dan digemari.
Sebetulnya, Evolution sendiri adalah lebih dari sekadar aplikas e-mail karena juga berfungsi sebagai PIM (Personal Information Manager). DIkembangkan oleh Ximian dan akhirnya menjadi bagian resmi dari proyek GNOME, Evolution memiliki antarmuka dan fungsionalitas yang serupa dengan Microsoft Outlook di sistem operasi Windows.
Dengan demikian, mereka yang sudah merasa familiar dengan tampilan ala Outlook tidak akan kesulitan
mengoperasikan Evolution. Sementara itu, KMail yang merupakan bagian dari
Mail: Evolution dan KMail
KDE bersasaran hanya sebagai mail client.
Untuk urusan PIM, KDE mengandalkan aplikasi yang terpisah, yaitu KOrganizer. Yang akrab dengan Eudora di
Windows akan segera menyukai gaya tampilan KMail.
Dalam soal fitur, KMail dan Evolution cukup sebanding, mulai dukungan terhadap banyak account, server SMTP/
POP/IMAP, sekuriti dengan PGP/GnuPG, serta kemampuan konfigurasi dengan mudah.
Tentu masing-masing punya
kelemahan. Untuk Evolution, masalah sering dijumpai dalam hal dukungan Unicode dan internasionalisasi. Hasilnya, Evolution akan susah digunakan di Rusia atau Jepang yang punya karakternya khusus.
Dibandingkan KMail, usia Evolution juga lebih belia sehingga keandalannya masih harus dibuktikan. Sementara itu,
Evolution dan KMail: saling bersaing
Dalam soal fitur, KMail dan Evolution cukup sebanding, mulai dukungan terhadap banyak account, server SMTP/POP/IMAP, sekuriti dengan PGP/GnuPG, serta kemampuan konfigurasi dengan mudah.
Dalam berbagai penilaian untuk pemberian award, kedua-duanya saling rebutan posisi nomor satu. Memandang kekayaan fitur Evolution serta kestabilan KMail, susah untuk mengambil mana yang terbaik.
Persaingan ini semakin diperuncing dengan fakta bahwa Evolution adalah apli- kasi PIM pilihan GNOME, sementara KMail merupakan mail client resmi dari KDE.
Baik KMail maupun Evolution juga memperoleh dukungan yang berimbang dari distro-distro besar, seperti Mandrake, RedHat, maupun SuSE.—Ariya Hidayat ([email protected])
bagi yang menikmati aplikasi PIM (seperti Outlook), KMail akan terasa terbatas sekali. Repot sekali kalau Anda harus beralih ke KOrganizer guna menambah informasi kolega baru dan KNotes untuk membuat daftar To do.
Jadi, yang mana yang pantas Anda pilih? Coba dua-duanya dan ikut saja selera Anda!
S a n g p e m e n a n g k a t e g o r i e - m a i l
Alternatif O u t l o o k , g u n a k a n s a j a E v o l u t i o n
Selamat untuk sistem multimedia X
Dari ketiga program multimedia yang dibahas sebelumnya, jawara kami jatuh kepada XMMS. Mulai dari tampilan yang bisa diperindah dengan berbagai skin yang ada, sampai kemampuannya untuk membuka berbagai format multimedia. Katakanlah Anda hanya ingin mendengarkan musik dari MP3 atau OGG, XMMS akan sangat memuaskan Anda. Atau ketika Anda berada dalam jaringan, Anda bisa
mengandalkan kemampuan streaming XMMS untuk memutar musik. Baru saja men-download file audio dari Internet? Nikmati saja dengan XMMS!
Bukan hanya itu, punya video baru? Coba putar dengan XMMS. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, kemampuan pemutaran video di XMMS juga tidak kalah dengan program lainnya.
Dengan pengasosiasian file audio dan video yang baik dengan XMMS, Anda bisa mendengarkan musik dan menonton video dengan sekali dua kali klik di file manager Anda. Selamat untuk XMMS, sistem multimedia untuk X!—Noprianto ([email protected])
Bicara hidup sehari-hari, rasanya susah dipisahkan dari hiburan. Beberapa hiburan yang umum ditemui adalah mendengarkan lagu dan menonton film.
Dukungan multimedia di Linux kini terus menerus ditingkatkan. Bicara soal nonton, kita mengenal cukup banyak program yang bisa digunakan untuk keperluan tersebut. Kami akan membahas beberapa yang cukup terkenal: mplayer, xine, dan xmms.
Mplayer
Dari namanya saja bisa diartikan sebagai program pendukung multimedia.
Didukungnya format-format standar multimedia membuatnya patut diacungi jempol. Berikut ini beberapa format- format video yang didukung: AVI (Audio Video Interleaved), ASF (Active Streaming Format) /WMV, QuickTime, RealMedia, NUV, FLI, dan lain sebagainya. Sedangkan format-format audio yang didukung, di antaranya MP3, Ogg Vorbis, WAV, WMA, dan lain sebagainya.
Tidak hanya itu, peranti lunak yang dibuat oleh Arpad Gereoffy dan kawan- kawan ini juga bisa diperindah dengan berbagai skin yang ada. Anda bisa menampilkan Mplayer dalam tampilan standar atau bahkan tampilan-tampilan superindah nan mulus dengan skin tersebut. Dapatkan skin-skin Mplayer di situsnya http://www.mplayerhq.hu/
homepage/.
Salah satu kehebatan Mplayer yang sangat penulis kagumi adalah kecepatan dalam seek video. Anda hanya perlu menekan panah kanan atau kiri dan Mplayer akan melakukan seek untuk Anda dalam waktu yang sangat cepat.
Luar biasa! Jika Anda belum mencoba program ini, pertimbangkanlah untuk mencobanya.
Xine
Xine datang dengan pustaka-pustaka sehingga programer-programer lain dengan mudah bisa membuat antarmuka berdasarkan pustaka Xine
Multimedia
(libxine). Salah satu yang sederhana adalah sinek.Xine mendukung format MPEG1 dan MPEG2, AVI, Ogg, dan lainnya.
Dukungan codec untuk QuickTime juga tersedia, akan tetapi, karena QuickTime sendiri adalah format berpemilik, maka Xine tidak mendukung kebanyakan codec tersebut.
Dengan Xine, tentu Anda bisa memutar VCD, SVCD, dan DVD. Walau sayangnya, proteksi pada DVD
membuat beberapa pengguna Xine tidak bisa menikmati DVD. Akan tetapi, itu bisa disiasati dengan menggunakan program lain atau plugins yang bisa menangani proses otentikasi.
Untuk Audio, Xine mendukung OSS, ALSA, ESD, dan ARTSD. Seperti halnya Mplayer, program ini juga bisa diper- indah dengan menggunakan skin. Akan tetapi, di luar semua fitur yang datang bersamanya, kemampuan untuk mela- kukan seek secara cepat masih belum memuaskan. Dapatkan informasi xine di situsnya http://xine.sourceforge.net.
XMMS
X Multi Media System. Begitulah media player yang satu ini menyebut dirinya.
Dan tidak bisa dipungkiri, XMMS boleh dibilang sebagai media player yang sangat terkenal di GNU/Linux. Hampir tidak ada distro Linux standar yang tidak melengkapi dirinya dengan program ini.
Dukungan format file yang datang bersama program ini sangatlah banyak.
Sebut saja format audio MP3 dan OGG serta sangat banyak format audio lainnya sampai format video seperti MPEG. Ya, XMMS dapat digunakan untuk memutar video dengan mulus.
XMMS juga dapat memutar video dalam modus satu layar penuh, lengkap dengan kemampuan seek yang cepat!
Bravo!
Anda menyukai tampilan yang indah? Jangan khawatir, XMMS melengkapi dirinya dengan skin-skin yang bisa Anda download di berbagai situs, termasuk situsnya http://
www.xmms.org.
Nonton dengan Xine
XMMS, sang juara
Mengetik adalah pekerjaan universal di dunia komputer. Tidak terkecuali di GNU/
Linux. Siapapun dia, entah pengguna rumahan, administrator sistem, atau developer pasti harus mengetik, entah mengetik tugas sehari-hari, membuat laporan keuangan, mengubah file konfigurasi sampai mengetik kode program. Dan semua itu perlu editor.
vi
Salah satu editor yang di GNU/Linux adalah vi dan versi yang telah ditambah kemampuannya, vim. Sekilas nama, kita akan kesulitan untuk menebak fungsi dari program ini. Editor yang beralamat di http://www.vim.org ini, memang sedikit susah dan merepotkan bagi sebagian orang. Memang benar, tetapi dengan kemampuan yang ditawarkan, rasa- rasanya setimpal dan tidak menjadi masalah.
Tidak seperti halnya editor lain, vi memiliki modus pengerjaan. Ketika kita mengetikkan isi file, kita berada pada modus inser, ketika kita memberikan perintah, misalnya untuk penyimpanan file, kita berada di modus command. Hal ini biasanya menjadikan orang yang baru berpindah dari sistem operasi lain keberatan. Dengan vi, Anda tidak akan menjumpai menu-menu interaktif selama pengetikan. Sebagai gantinya, Anda dapat menggunakan modus command dan mengetikkan berbagai perintah.
Modus command yang dimiliki oleh vi memiliki kemampuan yang hebat.
Sebagai contoh, katakanlah Anda ingin membuka file di lokasi tertentu, Anda juga bisa menggunakan file name completion yang akan sangat
memudahkan dalam mengetikkan nama file yang panjang dan aneh. Jika Anda menginginkan editor yang baik tetapi yang tidak terlalu susah, vi mungkin salah satu alternatifnya.
Pico
Penggemar yang baru berpindah dari sistem operasi MS Windows mungkin akan menyukai editor ini. Pico, yang
datang bersama e-mail client pine ini adalah editor yang sangat mudah digunakan. Dengan tampilan standar, pico memiliki serangkaian petunjuk shortcut di panel bawah, sehingga pengguna dapat mengakses fungsi- fungsi yang diinginkan. Hebatnya, shortcut-shortcut yang dimiliki pun cukup mudah digunakan.
GNU Emacs
Editing macros. Editor supercanggih ini dibuat oleh Richard M. Stallman, dedengkot Free Software Foundation.
Sebenarnya terlalu sederhana apabila program ini hanya dikatakan sebagai editor. Sambil mengetik, Anda juga bisa membaca dan mengirimkan e-mail. Bagi sang developer, GNU emacs juga bisa digunakan untuk membantu otomatisasi proses kompilasi. Bahkan emacs dapat digunakan untuk eksplorasi sederhana filesystem.
vi masih yang terbaik
Dari berbagai editor yang ada, pilihan favorit kami jatuh kepada vi.
Walau cukup rumit bagi pemula, adaptasi bisa dilakukan dalam waktu yang relatif tidak lama. Bagi sang administrator atau deve- loper, kemudahan dalam mengaktifkan syntax highlighting juga cukup membantu dalam pengetikan konfigurasi atau source code program. Pencarian teks juga sangat mudah dilakukan, cukup dengan penakanan tombol / atau ? diikuti teks yang ingin dicari. Singkatnya, sedikit rumit tapi memuaskan.—Noprianto ([email protected])
Katakanlah Anda telah begitu capai mengetik, GNU emacs bahkan meleng- kapi dirinya dengan automated psycho- therapy (Doctor). Sang psikoterapi akan membantu mendengarkan dan menang- gapi keluhan Anda. Penerapan Artificial Intelligent-nya juga cukup
menyenangkan.
Tetapi walau demikian, GNU emacs bukanlah editor semudah pico atau bahkan pine. Mungkin tidak susah, tetapi mungkin kurang biasa dalam pemakaian.
Editor lainnya
Seperti yang telah dibahas, mengetik adalah pekerjaan yang sangat umum.
Dan untuk itu, berbagai editor pun bisa
Anda gunakan. Vi, pico, dan GNU emacs adalah contoh editor-editor yang cukup terkenal. Tetapi di luar itu, kita bisa mendapatkan sangat banyak editor lainnya. Mulai versi non-interaktif seperti sed yang sangat berguna untuk administrasi sistem, mcedit yang dipaketkan bersama file manager Midnight Commander, sampai Kate atau Gedit yang jalan di sistem X Window.
Semua itu terserah kepada selera Anda masing-masing tentunya.
Editor
Warna warni dengan vi
Mengetik dengan pico
Sang editor superkomplit
Hadiah I
1 buah Motherboard ASUS P4B266
Adrianus Yoga
Jl. Letjen S. Parman 8 Yogyakarta 55262
Inilah Pemenangnya!
InfoLINUX telah mengadakan polling di seputar dunia penguin. Sampai batas waktu 15 November 2002, kami
mendapatkan 49 responden melalui e-mail dan 6 responden via pos. Jika dilihat jumlah responden, memang sedikit dan banyak faktor yang mempengaruhi hal itu.
Meskipun demikian, kami tetap mengundi siapa yang berhak mendapatkan hadiah dari sponsor kami, ASUS dan D-Net.
Pengundian kami lakukan pada hari Kamis, 21 November 2002 di markas Redaksi InfoLINUX. Dan inilah hasil pengundiannya:
Hadiah II
1 buah CD-RW ASUS CRW-4816A
Jayadi
Jl. Tanah Abang I No. 12D Jakarta Pusat 10160 09.5207.311.077.0188
Hadiah III
Voucher Internet 100 jam
Suranto
Jl. Manggarai Selatan V 004/010 Kel.
Manggarai Kec. Tebet, Jakarta Selatan Sri Ardiani
Jl. Kesemek No. 10A 001/13 Jakarta 14130
Aris Abdul Rahim
Pondok Mitra Lestari A 11/7 M. Yusuf S
Jl. Tanah Seratus 002/01 No. 57 Ciledug Tangerang
Broto Winarno
Garuda Computer Center Soekarno- Hatta, Jakarta 19120
Septiyoko Yoewananto
Jl. Teluk Sibolga No. 11 009/010, Pondok Bambu, Jakarta Timur 13430
Hadiah IV
Merchandise D-Net
Jun Fui
Jl. Imam Bonjol Gg. Tanjung Sari No.
16 Pontianak 78124 Yoga
Komp. Kodim Jl. Kapt. Muslim No. K8 Kec. Helvetia Kota Medan
Agus Hartanto
Jl. Beteng 7, Semarang 50137 Hermawan
Jl. Ikan Bandeng II/2 Sukomulyo, Lamongan 62116
Bagi Anda yang berdomisili di Jakarta Anda bisa mengambilnya di Redaksi InfoLINUX, Jl. Kramat IV/11 Jakarta Pusat 10430. Buat Anda yang berdomisili di luar Jakarta, kami akan mengirimkannya langsung ke alamat Anda.
GNU/Linux hadir dengan segala kemampuan untuk dikustomisasi. Dalam kehidupan administrator sehari-hari, update dan upgrade mungkin pekerjaan yang sering ditemui agar sistem senantiasa berjalan lancar dan terjaga.
Untuk itu, tools untuk mengatur paket- paket program di sistem haruslah bisa memenuhi semua kebutuhan sang administrator.
Selain itu, bagi sang administrator atau bahkan developer, kemudahan bekerja dalam console sangatlah diperlukan. Sebagian besar tugas administrasi sistem dapat dikerjakan melalui console. Dan salah satu faktor untuk memperlancar pekerjaan adalah shell. Shell yang komplit mungkin menyenangkan bagi sebagian orang, walau shell yang sederhana juga kadang sangat diperlukan.
Package management
Package management adalah tool yang sangat diperlukan untuk menjaga agar sistem senantiasa berjalan lancar.
Instalasi, uninstalasi, ataupun update dan upgrade haruslah menjadi tugas yang tidak merepotkan. Distro-distro pun berlomba supaya manajemen paket program semakin optimal. Berikut ini kita akan membahas dua package manage- ment yang cukup terkenal dan package management lainnya.
RPM
RPM singkatan dari RedHat Package Manager (RPM Package Manager).
Pertama kalinya dikembangkan oleh RedHat. RPM adalah package manage- ment yang canggih dan dapat
digunakan untuk membangun paket, melakukan instalasi, mencari informasi paket di sistem, memeriksa keabsahan paket, serta melakukan update ataupun menghapus paket tertentu dari sistem.
Dengan adanya RPM, semua tugas yang berhubungan dengan manajemen paket akan terasa semakin mudah. Dan administrator pun akan semakin bahagia.
Tolls Sang Administrator
Package management ini digunakan di distro-distro besar. RedHat, Mandrake, SuSE, dan United Linux adalah contoh- contohnya. Bagi pemula pun, instalasi program atau penghapusan program menjadi tugas semudah memeriksa jumlah file di direktori.
DEB/APT-GET
Package management DEB, yang digunakan di distro Debian (dan
turunannya) adalah package management canggih dan mengklaim dirinya sebagai package management yang terbaik. DEB sendiri cenderung kurang lebih sama seperti RPM. Asal nama DEB berasal dari Debra, yang saat ini menjadi istri dari Ian, pencetus Debian. Akan tetapi, sebenar- nya DEB saja tidaklah menjadi daya tarik utama. Kehadiran APT-GET-lah yang menjadikan package management ini semakin menggoda untuk dipakai.
Sebagai contoh, jika Anda ingin melakukan instalasi GNOME dan segala yang berhubungan dengannya, Anda cukup menjalankan apt-get install gnome*, dan segala dependencies akan diatur sendiri oleh APT-GET. Dan untuk menjalankan perintah tersebut, Anda bisa berada di direktori mana saja dan APT- GET akan meminta Anda untuk memasukkan CD-ROM yang diperlukan atau langsung mencari ke Internet atau lokasi lainnya yang telah dispesifikasikan.
Package management lainnya
Berbagai distro biasanya mencoba memberikan yang terbaik bagi penggunanya. Beberapa distro
menggunakan RPM atau DEB. Beberapa distro menawarkan yang lain. Contohnya adalah portage yang digunakan di Gentoo, yang berbasiskan pada python.
Jika Anda memiliki koneksi Internet yang bisa diandalkan, package management ini bisa sangat berguna. Contoh lainnya adalah package management di distro Slackware. Walau cenderung merepotkan, juga patut diacungkan jempol.
Shell
Para administrator terkadang lebih menyukai console dalam tugas admi- nistrasi sistem. Sederhana dan ringkas!
Terkadang pula, administrator perlu untuk membuat beberapa proses otomatisasi dan biasanya pula dikerjakan dengan shell script. Yang terakhir ini, jelas membutuh- kan shell yang andal. Tetapi dengan segala perbedaan, tidak jarang pula administrator yang melirik shell-shell yang sederhana dan kecil. Berikut ini kita akan membahas beberapa di antaranya.
BASH
Shell yang satu ini mungkin adalah shell yang umum ditemui sebagai shell default di distro-distro modern. Shell yang satu ini menawarkan sangat banyak fitur yang jelas akan memudahkan tugas sehari-hari.
Sebut saja kemampuan shell script yang ditawarkan. Berbagai distro mengandal- kan ini untuk proses booting.
TCSH
Para maniak C mungkin akan mengguna- kan shell yang satu ini dalam pekerjaan sehari-harinya. Kemiripan perintah yang digunakan dalam shell script-nya dengan bahasa C menjadikan para programer C serasa sedang menulis program C.
BUSYBOX dan KISS
Setelah membahas shell-shell besar, kini kita pindah ke shell kecil. Jika Anda menggunakan BASH misalnya, maka itu hanyalah sebuah shell. Anda masih memerlukan ls, rm, dan program lainnya.
Jika Anda ingin yang praktis dan sebagian besar program disediakan oleh shell, maka gunakanlah busybox atau kiss. Seperti halnya command.com di dos, kiss bisa dianggap memiliki internal command. Sedangkan, busybox lain lagi, kita membuat softlink ke busybox dengan nama-nama program, seperti ls, rm, dan yang lainnya.
Demikianlah dua tool yang sering digunakan oleh para administrator sistem. Dengan berbagai pilihan yang ada, masalah utama mungkin pada selera sang administrator. Selamat
beradministrasi ria!
Noprianto ([email protected])