• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

45

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Pengumpulan Data

Berdasarkan penjelasan dari Dawson (2007, hlm 14), metode penelitian merupakan prinsip pendekatan yang digunakan untuk memperoleh data dan memperdalam topik penelitian. Metode tersebut dibagi menjadi dua, yaitu kualitatif dan kuantitatif. Metode penelitian kualitatif berfungsi untuk mengeksplor topik lebih dalam seperti pengalaman, perilaku, dan sikap, sedangkan kuantitatif berfungsi sebagai penguji teori dengan analisis variable statistik yang dapat diukur.

Untuk penelitian ini, metode penelitian yang digunakan adalah campuran atau hybrid yaitu penggabungan antar metode kuantitatif dan kualitatif.

Pengumpulan data kuantitatif dilakukan melalui kuesioner via Google Form untuk mengetahui serta memahami perilaku (behavior) target perancangan terkait topik gaya hidup sedentari. Sedangkan pengumpulan data kualitatif dikumpulkan dengan mengadakan wawancara bersama beberapa ahli di bidang kesehatan untuk menambah wawasan dan memahami lebih dalam mengenai gaya hidup sedentari, dampak dan cara mengatasinya. Selain wawancara, data kualitatif juga diperoleh melalui studi literatur melalui buku, jurnal penelitian, dan pencarian data melalui internet.

3.1.1 Wawancara

Menurut Dawson (2007, hlm 27-29), wawancara dapat dibagi menjadi 3 jenis yaitu: terstruktur, semi-struktur, dan tidak struktur. Wawancara untuk perancangan ini dilakukan secara semi-stuktur dan online dengan tujuan memahami dan menambah wawasan seputar dampak dan cara mengatasi gaya hidup sedentari.

Mengubah suatu perilaku atau kebiasaan bukanlah hal yang mudah karena diperlukan waktu, keinginan yang kuat untuk menjadi lebih baik serta

(2)

46

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

pengorbanan atas hal-hal yang sebelumnya membuat kita nyaman. Penulis ingin memahami bagaimana pola pikir atau sikap seperti apa yang diperlukan agar seseorang berhasil mengubah perilakunya. Maka dari itu, penulis mengadakan wawancara dengan beberapa ahli psikolog yang berfokus pada pengembangan diri remaja dan dewasa.

3.1.1.1 Wawancara Psikolog

Pada 19 September 2021, penulis mengadakan wawancara bersama Nena Mawar Sari, S.Psi, Psikolog, Cht selaku psikolog klinis dari Denpasar Mental Health Centre via Zoom meeting pukul 13:00 WIB/14:00 WITA.

Beliau berpengalaman dalam menangai kasus gangguan mental terutama anak-anak dan remaja dan sudah menjadi pembicara di beberapa webinar.

Wawancara ini bertujuan untuk mendapatkan insight dari pengalaman beliau saat berhadapan dengan remaja dan memahami dampak psikologis terhadap remaja akibat kurangnya aktivitas fisik.

Gambar 3. 1 Wawancara bersama Nena Mawar Sari, S.Psi, Psikolog, Cht

Sebelum wawancara dimulai, penulis membantu meluruskan pengertian dan contoh gaya hidup sedentari agar satu pengertian dengan narasumber. Pertama, beliau menjelaskan bahwa perkembangan manusia memiliki arti adanya suatu perubahan ke arah yang positif, seperti tubuh tidak pernah olahraga menjadi bugar atau sakit hingga menjadi sembuh dan

(3)

47

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

sebagainya. Beliau memberi makna bahwa gaya hidup sedentari memiliki dampak terhadap perkembangan tersebut karena kurangnya interaksi dengan aspek-aspek di luar ruang lingkup orang tersebut yang dapat berpengaruh kepada kemampuan interaksi seseroang.

Secara fisik, gaya hidup ini dalam arti kurangnya aktivitas fisik dan penggunaan gadget berlebihan dapat menimbulkan hambatan dalam pertumbuhan dan kesehatan tubuh yang seiring waktu dapat berdampak ke perkembangan mental. Beliau memberi contoh kasus gangguan mental baru yang timbul akibat penggunaan zoom meeting berlebihan disebut dengan zoom fatigue. Saat menggunakan zoom meeting dari rumah, seseroang dapat menghabiskan lebih banyak tenaga dan konsentrasi karena perlu adanya pandangan yang fokus ke layar. Bila kamera sedang dinyalakan, seseorang bisa mendapatkan kesan seperti ia sedang di depan cermin dan dipandang oleh banyak partisipan zoom lainnya sehingga mengganggu mood orang tersebut. Penggunaan zoom yang berlebihan seperti jadwal zoom yang memiliki jeda pendek dapat menimbulkan rasa burn out atau kelelahan. Tidak hanya itu, beliau juga menjelaskan bahwa dengan aktivitas sekolah, kuliah atau kerja dilaksanakan di rumah dapat meminimalisir tingkat rasa privasi dan menghambat jadwal aktivitas berkualitas yang seimbang. Selain itu, gaya hidup ini juga berpotensi untuk meningkatkan rasa individualis dengan mengurangi rasa empati atau efeksi. Maka itu, penting untuk adanya keseimbangan antara beban, waktu kerja, serta interaksi dengan aktivitas di luar ruang lingkup tersebut.

Menurut beliau, memang ada dampak yang signifikan dari gaya hidup sedentari terhadap perkembangan manusia dan kualitas hidup.

Perkembangan manusia tidak hanya berbasis IQ namun juga secara emosional bahkan spiritual dengan cara berinteraksi dengan elemen dan orang di luar ruang lingkupnya untuk meningkatkan kemampuan problem solving dan beradaptasi saat berada di situasi yang rumit. Contohnya seperti, perkembangan intelejen yang baik tidak dilakukan dengan hanya belajar atau

(4)

48

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

membaca buku lebih dari 10 jam, tapi bagaimana ia mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkannya dengan melakukan suatu aktivitas, bereksperimen didukung dengan interaksinya bersama orang-orang lain.

Beliau menjelaskan apabila pola hidup sedentari yang disebabkan pandemic Covid-19 ini tidak mengalami perubahan, maka dampak jangka panjangnya akan ada perubahan nilai-nilai, penurunan standard dan kualitas hidup. Seperti peningkatan interaksi melalui teknologi atau gadget, sehingga interaksi lebih banyak dengan benda mati dibanding tatap muka. Kurangnya aktivitas fisik juga dapat akan meningkatkan dampak fisik seperti obesitas akibat sering kali menyemil saat tugas atau membeli makan melalui fasilitas online seperti Grabfood atau Gojek. Pola hidup ini menyebabkan generasi muda lebih terbiasa untuk memilih kemudahan (instan) dan kurang menikmati progresnya.

Namun di era saat ini, penggunaan teknologi atau pola hidup sedentari juga sulit dihindari dan tidak bisa ditolak sepenuhnya, dalam arti pola hidup dan perilaku manusia akan terus berkembang dan berubah.

Penggunaan internet, wifi, email, listrik sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang esensial. Menurut beliau, pola hidup yang cenderung instan timbul karena memang sudah tersedia fasilitasnya. Maka itu, perlu adanya kesadaran dari manusia itu sendiri terhadap keseimbangan kualitas hidupnya.

Kita perlu adanya evalusi diri dengan belajar mendengar badan dan pikiran serta sadar bahwa seseorang selalu memiliki pilihan baik untuk mengambil keputusan dan bertindak. Contoh sederhananya seperti adanya fasilitas lift atau eskalator namun juga ada tangga, bila kita merasa tubuh kita sudah terasa kaku atau tenggang maka kita dapat memilih tangga untuk memperbanyak aktivitas fisik sehingga memperlancar peredaran darah dan mengendurkan otot. Namun di situasi dimana seseroang perlu bergerak cepat karena terlambat dan sebagainya maka ia bisa memilih lift atau eskalator. Dari contoh tersebut, beliau menegaskan bahwa kita perlu memiliki kesadaran

(5)

49

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

terhadap perilaku dan kondisi tubuh saat ini, mengevalusi dan membuat pilihan yang paling sesuai dengan kebutuhan kita.

Selanjutnya beliau menjelaskan, dalam berkembang terutama di masa remaja, faktor yang dapat memengaruhinya adalah pola asuh dan lingkungan. Pola asuh terdiri dari nilai-nilai yang diberikan oleh keluarga.

Maka dari itu, orang tua memiliki penting untuk memonitor dan menanamkan nilai-nilai yang positif kepada anaknya sejak dini. Adanya aturan dan ajakan di lingkungan keluarga dapat mendorong remaja untuk mengembangkan pola hidup yang lebih sehat. Lingkungan seperti sekolah, tempat kerja, serta kondisi dan nilai masyarakat yang dianut saat itu juga berpengaruh dalam adopsi pola pikir atau perilaku remaja. Seperti topik-topik yang sedang trending di kalangan masyakarat tersebut akan mendorong seseorang untuk mengikuti arus..

Dengan merasa terbuka dan melakukan lebih banyak aktivitas, seseroang akan memiliki kesehatan fisik dan mental yang baik.

Keseimbangan hidup terdiri dari interaksi antar manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan. Kesehatan fisik yang bagus otomatis meningkatkan kesehatan mental, begitu pula sebaliknya.

Terakhir beliau mengatakan dengan adanya kesadaran dan memahami perilakunya masing-masing serta dampaknya, seseorang dapat mengevalusi diri dan mempelajari solusi-solusi yang tersedia untuk menjadi lebih baik atau sehat. Menurut beliau, dengan adanya pemaparan gambaran solusi seperti tips-tips sederhana yang dapat dilakukan orang agar tidak merasa tertekan atau terpaksa dan menjadikan sebuah kebiasaan.

3.1.1.2 Wawancara Dokter Ahli

Pada 27 September 2021, penulis mengadakan wawancara bersama Dr.I Putu Belly Sutrisna, M.Biomed, SpKJ selaku Pembina Komunitas Kesehatan Jiwa FAM Health Indonesia, ahli bidang Kesehatan Mental, Hipnoterapi dan Adiksi; kecanduan internet bagi anak-remaja dan psikolog

(6)

50

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

klinis di Denpasar Mental Health Care via Zoom Meeting pukul 12:00 WIB/13:00 WITA. Beliau memiliki pengalaman dalam mengatasi sebuah kecanduan dari penelitannya yang berkaitan dengan penggunaan internet.

Wawancara ini bertujuan untuk mendapatkan insight dari pengalaman beliau serta mamahami hambatan dalam mengubah suatu perilaku atau cara pencegahannya sebelum terlambat.

Gambar 3. 2 Wawancara bersama Dr.I Putu Belly Sutrisna, M.Biomed, SpKJ

Sebelum wawancara dimulai penulis menjelaskan tujuan dan maksud perancangan untuk membatasi pembahasan topik. Pertama, beliau menjelaskan pengertian gaya hidup sedentari yang diambil dari buku panduan dari World Health Organization (WHO) yaitu kurangnya aktivitas fisik. Hal ini dapat dikategorikan berdasarkan umum, karena cara penanganan dan pencegahannya dapat berbeda-beda, seperti rekomendasi aktivitas fisik berat untuk remaja pada umumnya adalah 1 jam/sehari, untuk dewasa cukup 30 menit/sehari, dan 15-20 menit/sehari. Bila kurang dari itu, dapat dikatakan bahwa seseorang sudah memiliki perilaku sedentari.

Kemudian beliau menjelaskan faktor yang dapat mempengaruhi suatu pola hidup adalah lingkungan dan kondisinya. Melihat kondisi lingkungan saat ini yaitu pandemi Covid-19, resiko untuk memiliki pola hidup sedentari juga meningkat karena hambatan untuk beraktivitas di luar rumah sehingga terbiasa untuk memilih diam di rumah.

(7)

51

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

Berdasarkan beliau, kurangnya aktivitas fisik dapat menimbulkan hambatan pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Kurangnya aktivitas fisik menyebabkan aliran darah yang kurang lancar menyebabkan metabolisme yang lemah. Hal ini menyebabkan pertumbuhan fisik seperti tulang menjadi kurang baik. Secara mental, kurangnya aktivitas fisik juga dapat menyebabkan gangguan mental seperti kecemasan, emosi tidak stabil atau pun gangguan tidur akibat aliran darah yang kurang lancar ke otak. Maka itu, dibutuhkan suatu terobosan bagaimana masyarakat baik anak-anak hingga lansia dapat menjalani aktivitas fisik yang cukup.

Melakukan mobilitas adalah hal yang paling penting untuk melawan pola hidup sedentari. Salah satunya caranya dapat dengan mengikuti rekomendasi pergerakan fisik yang sudah diberikan oleh WHO dan melakukan hal-hal kecil seperti peregangan atau mengubah posisi duduk setelah beberapa waktu agar aliran darah tetap lancar. Namun menurut beliau, waktu yang dibutuhkan dan dihabiskan untuk melakukan aktivitas yang wajib seperti sekolah atau bekerja memang sulit dihindari. Maka itu, kemampuan untuk membagi waktu (time management) menjadi hal yang penting untuk mencapai hidup yang seimbang. Mayoritas waktu yang dihabiskan dalam sehari adalah jam kerja dan tidur, sisanya dapat dimanfaatkan untuk aktivitas untuk diri sendiri, hobi atau aktivitas fisik yang dapat menyeimbangkan dan membantu meningkatkan kesehatan fisik maupun mental.

Berikutnya beliau berpendapat mengenai kendala yang mungkin dihadapi, salah satunya adalah kondisi mental di masa remaja. Pada umumnya, remaja masih memiliki emosi yang lebih sensitif dan kurang stabil karena kematangan emosinya belum pada waktunya. Ditambah pengaruh dari lingkungan yang dapat baik mendukung atau menghambat emosi remaja tersebut. Maka itu, disini peran orang tua dibutuhkan untuk membantu mengedukasi dan menjelaskan pola hidup yang sehat. Selain itu, tantangan yang mungkin dihadapi saat ingin mengkomunikasikan informasi

(8)

52

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

terkait kesehatan adalah sangkalan (denial) dan stigma dari masyarakat. Hal ini sebabkan sikap seseorang yang keras kepala dan meremehkan. Maka disini terdapat tantangan bagaimana menyadarkan orang-orang tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan menyalurkan informasi terkait gejala, efek, dampak buruknya. Terkadang dengan menyampaikan informasinya saja tidak cukup, sebagai komunikator yang baik kita juga harus membantu atau mengajak mereka untuk mengevaluasi diri sehingga sadar bahwa perilakunya sudah mengarah tidak sehat. Terakhir, beliau mengatakan semakin cepat orang tahu dan sadar, semakin cepat pula orang dapat mencari bantuan untuk melakukan pencegahan atau perubahan. Maka itu, menanamkan perilaku dan pola pikir yang dapat mengevalusi dan bertindak sesuai kebutuhan adalah hal yang dapat dan sebaiknya sejak dini.

3.1.1.3 Kesimpulan Wawancara

Berdasarkan dua wawancara yang sudah dilakukan bersama ahli bidang kesehatan dapat disimpulkan bahwa gaya hidup sedentari atau kurangnya aktivitas fisik memiliki dampak yang signifikan bahkan di jangka panjang. Terutama dengan kondisi saat ini dengan adanya perkembangan zaman yang menyediakan fasilitas-fasilitas yang lebih instan sehingga memudahkan kita untuk menyelesaikan suatu kegiatan tanpa mengeluarkan energi lebih banyak. Hal tersebut dapat menghambat seseroang dalam mencapai kualitas hidup yang seimbang. Kualitas hidup yang seimbang adalah saat seseorang dapat memenuhi keinginannya tanpa melupakan kebutuhannya dengan baik. Namun, gaya hidup sedentari memiliki kecenderungan perilaku yang hanya berfokus kepada keinginan. Maka itu, perlu adanya kesadaran untuk mengevalusi diri agar memahami kebutuhan yang penting dipenuhi. Kesadaran terhadap perilaku sedentari selama ini dimiliki menjadi hal esensial untuk memulai perbaikan karena dengan adanya kesadaran maka dapat diikuti dengan tindakan atau keinginan untuk memperbaiki pola hidupnya.

(9)

53

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

Berdasarkan wawancara, perlu diperhatikan juga dengan adanya perkembangan zaman ditambah pandemi yang meningkatkan resiko pola hidup sedentari, sulit bagi masyarakat untuk sepenuhnya menghindari pola hidup tersebut. Menurut Dr.Nena, karena adanya fasilitas maka masyarakat terbiasa untuk memilih kemudahan atau hal yang lebih instan dibanding zaman dulu. Maka itu, diperlukan kesadaran bahwa kita sebenarnya memiliki kebebasan untuk memilih (free will / free of choice). Hal pertama yang mungkin diperlukan untuk memperbaiki pola hidup yang kurang sehat adalah memilih untuk ingin melakukannya, kemudian diikuti dengan adanya motivasi. Menurut Dr.Belly, memenuhi kebutuhan belajar atau kerja memang menjadi hal yang esensial, namun seseorang harus menyeimbangkannya dengan kegiatan lain yang dapat mendorong kebutuhan fisiknya. Hal tersebut sering kali terhambat karena kemampuan target dalam mengatur waktu masih kurang. Kita juga perlu sadar bahwa kualitas hidup yang sehat juga bergantung bagaimana kita memanfaatkan waktu. Dengan memenuhi waktu kosong dengan kegiatan yang lebih produktif atau aktivitas fisik, maka sudah menjadi langkah untuk menghindari pola hidup sedentari.

Kedua narasumber memberi masukan mengenai target bahwa di masa remaja, seseroang masih sangat terpengaruh oleh lingkungannya baik lingkungan keluarga, teman atau kondisi masyarakatnya pada saat itu. Hal ini dikarenakan kematangan emosi masih belum stabil. Maka dari itu, perlu adanya ajakan atau dorongan agar remaja dapat merasa terlibat. Hal ini menjadi salah satu cara untuk mendorong remaja untuk bertindak atau berperilaku sesuai yang diharapkan.

3.1.2 Kuisioner

Menurut Sugiyono (2008), kuisioner adalah teknik pengumpulan data dengan memberikan daftar pertanyaan atau pernyataan tertulis untuk dijawab oleh responden. Penulis telah menyebarkan dua kuisioner menggunakan google form dengan metode skala Likert. Pengambilan data dilakukan secara

(10)

54

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

random sampling. Kuisioner ini dilakukan untuk mengetahui dan memahami perilaku target terkait gaya hidup sedentari disaat ini.

Jumlah sampel diambil berdasarkan perhitungaan rumus Slovin dengan derajat ketelitian 10% disesuakan dengan target demografis di Jakarta dan berusia 17-25 tahun sebanyak 1.643.897 jiwa (BPS, 2020). Perhitungan jumlah sampel dengan rumus Slovin dapat dilihat sebagai berikut:

= 𝒏

(𝟏 + 𝑵. (𝒆)𝟐) Keterangan:

S = jumlah sampel N/n = jumlah populasi e = derajat ketelitian

𝑺 = 𝟏. 𝟔𝟒𝟑. 𝟖𝟗𝟕

(𝟏 + 𝟏. 𝟔𝟒𝟑. 𝟖𝟗𝟕 (𝟎. 𝟏)𝟐)= 𝟗𝟗. 𝟗𝟗

Berdasarkan perhitungan diatas, besaran sampel dengan derajat ketelitian 10% adalah sebanyak 99.99 dibulatkan menjadi 100 responden.

3.1.2.1 Kuisioner 1

Kuisioner pertama disebarkan pada tanggal 8 September 2021 dan telah diisi oleh 124 responden per 13 September 2021. Hasil data demografis responden dapat dilihat dalam bentuk tabel sebagai berikut:

Tabel 3. 1 Data Demografis Responden

Variabel Kategori Frekuensi (n) Presentase

Jenis Kelamin Laki-laki 51 41.1%

Perempuan 73 58.9%

Usia <17 tahun 13 10.5%

18-21 tahun 92 74.2%

23-25 tahun 19 15.3%

Domisili Jakarta 102 82.3%

Luar Jakarta 22 17.7%

(11)

55

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

Okupasi Mahasiswa/Pelajar 105 84.7%

Magang/Kerja 19 15.3%

Entrepreneur/Bisnis 0 0%

Perdapatan per bulan

250.000-500.000 24 19.4%

500.000-1.000.000 23 18.5%

1.000.000-3.000.000 49 39.5%

3.000.000-5.000.000 20 16.1%

5.000.000-8.000.000 8 6.5%

8.000.000-12.000.000 0 0%

>12.000.000 0 0%

Berdasarkan tabel diatas, responden terdiri dari 51 laki-laki dan 73 perempuan dan mayoritasnya berumur 18-21 tahun. Responden yang tidak dianggap valid sebagai pengisi kuisioner berjumlah 22 jiwa karena berdomisili di luar Jakarta (tidak sesuai dengan target geografis yang dituju).

Saat ini, mayoritas responden memiliki okupasi sebagai mahasiswa atau pelajar (84,7%) dan lainnya sedang magang atau kerja (15.3%).

Sebesar 39,5% responden memiliki pendapatan sebesar Rp.1.000.000–Rp.3.000.000, 19% responden berpendapatan sebesar Rp.250.000–Rp.500.000, 18,5% responden berpendapatan sebesar Rp.500.000–Rp.1.000.000, 16,1% berpendapatan sebesar Rp.3.000.000- Rp.5.000.000 dan 6.5% berpendapatan sebesar Rp.5.000.000–Rp.8.000.000.

Dari data tersebut, dapat dikatakan bahwa mayoritas responden memiliki SES B-AB.

Bagian pertama kuisioner menanyakan kondisi fisik dan mental yang dialami target selama pandemi Covid-19. Hal ini untuk melihat dan memastikan bila ada efek yang dialami target yang disebabkan karena pandemic baik cara fisik atau/dan mental. Penulis menyediakan beberapa pernyataan dan dijawaban oleh responden menggunakan skala Likert dengan nilai 1 sampai 5.

(12)

56

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

Keterangan:

1 = Sangat tidak setuju 2 = Tidak setuju 3 = Netral 4 = Setuju 5 = Sangat setuju

Gambar 3. 3 Grafik tingkat kelelahan selama pandemi

Gambar 3. 4 Grafik tingkat gangguan mental selama pandemi

Tabel 3. 2 Tabel hasil perhitungan rata-rata kondisi target salama pandemi

Pernyataan Mean Keterangan

Saya merasa lebih cepat lelah sejak pandemi

Covid-19 dimulai 80% Sangat Setuju

Saya lebih mudah merasa stress/tertekan sejak

pandemic Covid-19 dimulai 74% Setuju

(13)

57

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata jawaban responden menggunakan rumus Likert, selama pandemi Covid-19 mayoritas responden merasakan efek fisik yang cukup signifikan seperti mengalami kelelahan subjektif dengan rata-rata presentasi sebesar 80% (sangat setuju). Selain itu, dengan jumlah rata-rata sebesar 74% (setuju), gangguan mental juga mengalami peningkatkan seperti merasa lebih mudah merasa stress atau tertekan. Namun di bagian ini, kurang dapat diperjelas apabila efek tersebut memang timbul akibat kurangnya aktivitas fisik atau penyebab perilaku sedentari lainnya. Hal ini perlu diperhatikan untuk penelitian di masa depan.

Bagian berikut membahas tentang salah satu faktor penyebab perilaku gaya hidup sedentari yang paling umum dan sering kali disebut dalam artikel berita yaitu malas bergerak. Penulis menyediakan pertanyaan yang dapat disetujui, tidak disetujui atau netral (tidak yakin). Selain itu, penulis juga menanyakan faktor penyebab dari kebiasaan malas bergerak target dengan menyediakan beberapa pilihan yang dapat dipilih berdasarkan faktor internal atau eksternal target. Pertanyaan bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan target dalam mengevaluasi perilakunya.

Gambar 3. 5 Diagram kebiasaan malas bergerak

(14)

58

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

Gambar 3. 6 Grafik faktor penyebab malas bergerak

Berdasarkan tabel diatas, mayoritas responden sadar bahwa mereka memiliki kebiasaan malas bergerak (64.5%) dan sisa responden lainnya mengganggap mereka tidak memiliki kebiasaan malas bergerak. Hanya sebagian kecil sebesar 0.8% responden merasa tidak yakin apabila mereka memiliki kebiasaan ini.

Perlu diketahui bahwa suatu kebiasaan tidak timbul secara tiba-tiba.

Suatu kebiasaan berkembang akibat suatu keputusan atau kegiatan yang dilakukan berkali-kali. Kebiasaan malas bergerak dapat dipengengaruhi oleh beberapa faktor yang diperjelas di bagian berikut. Berdasarkan hasil kusioner, sebanyak 37.9% responden merasa kurang memiliki motivasi atau tujuan untuk lebih banyak beraktivitas fisik. Hal ini dapat ditimbulkan akibat kurangnya kesadaran atau pengetahuan mengenai pentingnya beraktivitas fisik. Lalu, sebanyak 34.7% responden merasa kurangnya arahan. Bentuk arahan yang dimaksud kurang dapat diperjelas dalam pernyataan ini, namun dapat diperjelas dari pertanyaan mendatang. Kemudian, sebanyak 32.3%

responden merasa tidak memiliki waktu luang untuk aktif beraktivitas fisik.

Faktor tersebut dapat diikuti oleh faktor berikutnya yaitu banyaknya proporsi waktu untuk belajar atau kerja atau/dan tidak tahu cara membagi waktu. Dari jawaban responden faktor lainnya yang dapat mempengaruhi mereka untuk malas bergerak atau beraktivitas fisik seperti merasa cepat menyerah atau

(15)

59

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

terlalu berat, pada dasarnya tidak menyukai aktivitas fisik yang terlalu berat, tidak tahu jenis aktivitas fisik yang cocok, lingkungan sekitar yang kurang nyaman, cuaca yang memadai, fasilitas kurang lengkap, cedera saat beraktivitas, mudah lelah, dan kebiasaan bermain gadget.

Bagian kuisoner berikutnya menyediakan pernyataan lebih spesifik seputar karakterisik atau tanda-tanda dari gaya hidup sedentari seperti kebiasaan duduk atau/dan menggunakan fasilitas yang lebih instan. Sama seperti bagian-bagian sebelumnya, pernyataan ini dapat disetuju atau tidak disetujui berdasarkan nilai skala 1 (sangat tidak setuju) sampai 5 (sangat setuju). Hasil data tersebut diolah menggunakan perhitungan skala Likert dan diringkas dalam bentuk tabel sebagai berikut:

Tabel 3. 3 Hasil perhitungan rata-rata karakteristik sedentari target

Pernyataan Mean Keterangan

Saya memiliki kesibukan (belajar/kerja) yang

konsisten setiap hari 82% Sangat Setuju

Saya memiliki kesibukan/hobi yang

melibatkan duduk lebih dari 6-8 jam sehari 88% Sangat Setuju Saya sering menggunakan fasilitas online

untuk membeli makanan/produk 77% Setuju

Saya merasa lebih puas setelah menggunakan

fasilitas yang lebih instan 82% Sangat Setuju

Berdasarkan tabel diatas, dapat dikatakan bahwa mayoritas responden memiliki karakteristik atau tanda-tanda dari pola hidup sedentari.

Hal ini mungkin disebabkan karena adanya kesibukan baik belajar atau kerja sehingga menghabiskan waktu kira-kira 6-8 jam duduk setiap hari yang disetujui lebih dari 80% responden. Responden juga setuju dalam seringnya menggunakan fasilitas online untuk memenuhi suatu kebutuhan, menimbulkan rasa puas yang lebih cepat karena sifatnya yang instan.

(16)

60

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

Gambar 3. 7 Diagram kesadaran target terhadap efek kurang aktivitas fisik

Pertanyaan berikut menanyakan kesadaran target mengenai dampak perilaku sedentari terhadap kesehatan. Menurut diagram diatas, 81,5%

respondent ahu dan sadar akan pengaruh kurangnya aktivitas fisik terhadap tubuh, 16,9% responden masih tidak tahu perngaruhnya, dan hanya sebagian kecil responden tidak yakin. Kurangnya pengetahuan atau kesadaran 16,9%

responden kurang diperjelas di bagian ini dan akan lebih diperhatikan dalam penelitian di masa depan.

Menurut WHO, salah satu upaya untuk mengurangi perilaku sedentari adalah dengan melakukan aktivitas fisik dalam waktu dan pengeluaran energi sesuai batas yang rekomendasi. WHO sudah merekomendasi bentuk-bentuk aktivitas fisik yang dapat dilakukan, namun beberapa orang mungkin masih mengalami kesulitan dalam melakukannya.

Di bagian kuisioner berikut, penulis ingin tahu upaya dan tindakan yang sudah dilakukan oleh target untuk mengurangi karakterisik gaya hidup sedentari serta bagaimana perilaku dan pola pikir mereka terhadapnya.

(17)

61

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

Gambar 3. 8 Diagram frekuensi aktivitas fisik

Gambar 3. 9 Diagram keberhasilan target dalam beraktivitas fisik

Pertanyaan pertama pada bagian ini menanyakan upaya responden yang sudah dilakukan untuk beraktivitas fisik. Hasilnya, sebanyak 86,3%

responden sudah pernah berupaya untuk rajin berolahraga sedangkan 13,7%

responden lainnya belum pernah berupaya untuk rutin berolahraga. Namun, berdasarkan diagram berikutnya, sebanyak 49,5% responden tidak berhasil menjaga rutinitas aktivitas fisiknya, 41,1% responden lainnya hanya bertahan untuk beberapa waktu lalu berhenti, dan hanya 9,3% responden yang berhasil.

Faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan target dalam upayanya untuk berkativitas fisik akan dibahas di bagian berikut.

(18)

62

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

Gambar 3. 10 Grafik motivasi untuk beraktivitas fisik

Untuk memahami faktor penyebab keberhasilan dan kagagalan target dalam beraktivitas fisik, penulis ingin memahami motivasi yang dimiliki target saat ingin beraktivitas fisik di pertanyaan berikut. Berdasarkan diagram diatas, jawaban terbanyak dengan jumlah presentase 79% responden memiliki keinginan untuk menjaga kebugaran atau kesehatan tubuh. Hal ini mempunyai nilai yang positif karena memperlihatkan bahwa responden memiliki kesadaran akan pentingnya untuk menjada kesehatan tubuh.

Kemudian sebanyak 51,6% responden ingin mengurangi berat badan dan 39,5% responden ingin meningkatkan kekebalan sistem tubuh dan meningkatkan stamina. Hal tersebut dapat berkaitan dengan keingin untuk memiliki tubuh dan stamina yang lebih kuat atau faktor body image. Lalu sebanyak 30,6% responden ingin mengurangi stress, 24,2% responden ingin membangun otot, 13,7% responden beraktivitas fisik karena ajakan orang lain, dan 1,6% responden lainnya beraktivtias fisik karena merasa trendy atau gengsi. Faktor lainnya diikuti karena olahraga membuat responden lebih senang dan untuk bertemu orang baru.

(19)

63

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

Gambar 3. 11 Grafik kesulitan yang dialami target saat beraktivitas fisik

Pertanyaan berikut bertujuan untuk memahami kesulitan yang dihadapi oleh target saat ingin beraktivitas fisik. Berdasarkan diagram diatas, jawaban terbanyak dengan presentase 51,4% responden merasa cepat bosan dengan program latihan atau bentuk aktivitasnya. Sebagai permula, hal ini dapat diatasi dengan menyediakan variasi aktivitas yang dapat dilakukan untuk menjaga minat dan rasa semangat target setiap hari. Sebanyak 41,1%

responden kehilangan motivasi di tengah jalan. Alasan mengapa motivasi responden berkurang seiring waktu kurang dapat diperjelas namun dapat berkaitan dengan kesulitan lainnya. Kemudian sebanyak 37,4% responden memiliki kesibukan lain yang harus diprioritaskan, 35,5% responden sulit menjaga konsistensi setiap hari dan 34,6% responden sering menunda-nunda jadwal olahraga. Ketiga hal tersebut dapat berkaitan dengan kurangnya kemampuan responden dalam mengatur waktu. Lalu sebanyak 24,3%

responden memiliki pola makan yang kurang cocok. Faktor lainnya diikuti oleh kurangnya pengalaman, merasa tertekan, aktivitas yang dipilih kurang cocok, merasa overthinking, takut dihakimi orang lain dan lingkungan kurang memadai. Hal-hal tersebut dapat diakibatkan karena kurangnya wawasan yang lebih banyak mengenai aktivitas fisik yang dapat dilakukan dan adanya pola pikir buruk atau kurang sehat sehingga terjadi gangguan emosi.

(20)

64

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

Gambar 3. 12 Grafik faktor pendukung target dalam beraktivitas fisik

Berikut bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mendukung responden untuk lebih banyak beraktivitas fisik. Berdasarkan diagram diatas 57,3% responden merasa lebih suka beraktivitas fisik bila bersama orang lain.

Orang lain yang dimaksud dapat berarti keluarga, teman atau pihak yang lebih professional. Hal ini membuktikan bahwa target lebih termotivasi bila ada rasa kebersamaan. Bagi 34,6% responden, memiliki tujuan atau goal yang ingin mereka capai membuat mereka lebih termotivasi. Hal ini berkaitan dengan data sebelumnya yang membahas mengenai motivasi untuk beraktivitas fisik seperti menjaga kesehatan, mengurangi stress, dan lainnya.

Kemudian sebanyak 32,7% responden memiliki time management yang baik memudahkan mereka menjaga rutinitas. Sebanyak 28% responden merasa informasi yang tersedia di internet membantu mereka mencari alternatif program latihan. Informasi tersebut dapat berupa tutorial, artikel dan lainnya.

Faktor pendukung seperti 27,1% responden merasa tidak memerlukan alat- alat seperti di gym sehingga beraktivitas fisik di rumah tidak menjadi masalah, 23,4% responden yang mendengarkan musik merasa lebih termotivasi karena tingkat dopamin atau relaksasinya meningkat, 19,6% responden merasa nyaman beraktivitas fisik di lingkungan yang bersih, 18,7% responden merasa adanya pihak profesional yang mendampingi sangat membantu, 9,3%

responden memiliki pola pikir yang realistik, dan terakhir 3,7% responden merasa dengan adanya aplikasi aktivitas fisik di internet membantu.

(21)

65

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

Bagian terakhir kuisoner adalah pertanyaan seputar konsumsi media target, bertujuan untuk mengetahui dan memahami lebih mendalam mengenai perilaku target dalam penggunaan dan pencarian informasi berkaitan dengan kesehatan baik melalui internet atau media konvensional lainnya.

Gambar 3. 13 Grafik konsumsi perangkat elektronik

Gambar 3. 14 Grafik konsumsi media sosial

Berdasarkan diagram di atas, jawaban terbanyak adalah 98,4%

responden paling sering menggunakan smartphone dan 95,2% responden menggunakan laptop/PC. Sebanyak 41,9% responden menggunakan televisi, 19,4% responden menggunakan video game console, 16,1% responden menggunakan tablet, dan hanya 3,2% responden masih menggunakan radio.

Berdasarkan hasil kusioner, konsumsi media sosial yang paling sering digunakan oleh responden adalah Instagram (84,7%). Media sosial lain

(22)

66

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

yang digunakan oleh responden seperti Whatsapp (29,8%), LINE (27,4%), Tiktok (22,6%), Youtube (22,6%), Twitter (8,1%), Facebook (3,2%), dan Snapchat (0,8%).

Gambar 3. 15 Diagram konsumsi informasi seputar aktivitas fisik

Pertanyaan terakhir menanyakan bentuk media disukai responden saat mengkonsumsi informasi seputar aktivitas fsiik. Dari diagram diatas, dapat dikatakan bahwa 80,6% responden merasa lebih nyaman dengan menonton media yang terdiri dari visual bergerak dan audio. Media lainnya yang disukai berbentuk visual statis (18,5%) seperti poster, infografik, ilustrasi dan sebagainya. Hanya 1 responden yang lebih memilih media berbentuk teks yang dapat dibaca.

3.1.2.2 Kuisioner 2

Kuisioner tambahan disebarkan penulis untuk melengkapi dan memahami data-data yang terlewat di kuisioner pertama. Kuisioner ini disebar pada 15 September 2021 dan telah diisi oleh 107 responden per 19 September 2021. Hasil data demografis responden di kuisioner kedua dapat dilihat dalam bentuk tabel sebagai berikut:

Tabel 3. 4 Tabel demografis responden kuisioner 2

Variabel Kategori Frekuensi (n) Presentase

Jenis Kelamin Laki-laki 49 45.8%

Perempuan 58 54.2%

Usia <17 tahun 12 11.2%

18-21 tahun 90 84.1%

(23)

67

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

23-25 tahun 5 4.7%

Domisili Jakarta 103 96.3%

Luar Jakarta 4 3.7%

Okupasi Pelajar 11 10.3%

Mahasiswa 90 84.1%

Magang 5 4.7%

Pekerja kantoran 1 0.9%

Entrepreneur 0 0%

Perdapatan per bulan

250.000-500.000 18 16.8%

500.000-1.000.000 50 46.7%

1.000.000-3.000.000 33 30.8%

3.000.000-5.000.000 4 3.7%

5.000.000-8.000.000 1 0.9%

>8.000.000 1 0.9%

Berdasarkan tabel diatas, responden terdiri dari 49 laki-laki dan 58 perempuan dan mayoritasnya berumur 18-21 tahun (84,1%). Responden yang tidak dianggap valid sebagai pengisi kuisioner berjumlah 44 jiwa karena berdomisili di luar Jakarta (tidak sesuai dengan target geografis yang dituju).

Saat ini, mayoritas responden memiliki okupasi sebagai mahasiswa atau pelajar lebih dari 85% dan magang atau pekerja kantoran kurang lebih 5%.

Sebesar 46,7% responden berpendapatan sebesar Rp.500.000–

Rp.1.000.000, 30,8% responden memiliki pendapatan sebesar Rp.1.000.000–

Rp.3.000.000, 16,8% responden berpendapatan sebesar Rp.250.000–

Rp.500.000, 3,7% berpendapatan sebesar Rp.3.000.000-Rp.5.000.000 dan 0,9% berpendapatan sebesar Rp.5.000.000–Rp.8.000.000. Dari data tersebut, dapat dikatakan bahwa mayoritas responden memiliki SES B-AB.

Bagian pertama kuisioner membahas seberapa banyak pengetahuan target mengenai gaya hidup sedentari secara umum. Berikut adalah beberapa pertanyaan mengenai pengertian, contoh, dan dampak yang dirasakan atau diketahui oleh target.

(24)

68

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

Gambar 3. 16 Diagram pengetahuan target terhadap gaya hidup sedentari

Berdasarkan diagram diatas, mayoritas responden dengan jumlah presentase 91,6% tidak mengetahui mengenai istilah gaya hidup sedentari itu sendiri. Penulis memaparkan informasi singkat mengenai definisi gaya hidup sedentari dan menanyakan apabila responden memahaminya di pertanyaan berikut dengan hasil 100%.

Gambar 3. 17 Diagram target yang memiliki pola hidup sedentari

(25)

69

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

Gambar 3. 18 Grafik perilaku sedentari yang dimiliki target

Di bagian berikutnya, penulis menanyakan apabila target memiliki pola hidup sedentari. Hal ini untuk menguji kesadaran dan kemampuan target dalam memahami perilakunya. Berdasarkan 98,1% responden merasa memiliki pola hidup sedentari, hal ini kemudian diperjelas dalam pertanyaan berikut yang berisi beberapa contoh perilaku sedentari pada umumnya.

Jawaban terbanyak dengan presentase 78,5%, responden merasa adanya kepentingan untuk mengerjakan tugas membuat mereka memiliki perilaku sedentari yang kemungkin adalah duduk untuk waktu yang cenderung lama.

Kemudian lebih dari 60% responden memiliki kebiasaan malas bergerak yang mungkin timbul akibat kelebihan penggunaan gadget atau hobi menonton TV/streaming. Sebesar 30,7% responden memiliki kebiasaan untuk menggunakan transportasi untuk berpergian. Faktor lainnya diikuti dengan penggunaan fasilitas online, dan hobi membaca buku. Beberapa responden juga menyebutkan bahwa dengan sulitnya keluar rumah dan kegiatan di luar rumah yang ditiadakan akibat pandemi mempengerahuinya untuk memiliki pola hidup sedentari.

Selanjutnya adalah pembahasan mengenai dampak yang diakibatkan oleh gaya hidup sedentari baik secara fisik atau mental. Hal ini dapat bertujuan untuk memahami apabila target memiliki kesadaran terhadap efek yang timbul dari perilakunya yang cenderung kurang sehat.

(26)

70

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

Gambar 3. 19 Diagram dampak fisik pola hidup sedentari target

Gambar 3. 20 Diagram dampak mental gaya hidup sedentari target

Berdasarkan kedua diagram diatas dapat dikatakan bahwa mayoritas responden lebih dari 85% memiliki pengetahuan atau kesadaran mengenai pengaruh pola hidup sedentari baik secara fisik ataupun mental.

(27)

71

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

Gambar 3. 21 Grafik dampak fisik gaya hidup sedentari

Berdasarkan grafik diatas, terlihat bahwa responden pernah mengalami pengaruh atau dampak dari pola hidup sedentari secara fisik.

Lebih dari 65% responden merasa berat tubuh bertambah, sakit punggung dan justru lebih mudah lelah (subjective fatigue) karena metabolisme tubuh yang kurang baik akibat kurang aktivitas fisik. Kemudian, kurang lebih dari 39%

responden juga merasa tubuh menjadi kurang fleksibel akibat sendi yang kaku. Saat tidur, 29% responden juga merasa kurang nyenyak. Dampak lainnya diikuti oleh tingkat kelaparan meningkat, sakit jantung, tekanan darah tinggi, sakit kepala atau pusing, dan leher yang pegal.

Gambar 3. 22 Grafik dampak mental gaya hidup sedentari target

Secara mental, responden juga mengalami beberapa gangguan mental yang timbul akibat kurangnya aktivitas fisik. Mayoritas responden

(28)

72

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

dengan presentase sebesar 70,1% mengalami stress. Hal ini dapat disebabkan karena 60% responden mengalami tidur yang kurang nyenyak karena memiliki gejala insomnia, kecemasan, overthinking, dan depresi. Beberapa responden juga merasa bahwa dengan kurangnya aktivitas fisik, mereka merasa kurang adanya interaksi dengan lingkungan diluar rumah.

Dari beberapa hasil kuisioner diatas, dapat dikatakan bahwa mayoritas target memiliki dan merasakan pengaruh dari pola hidup sedentari.

Responden memiliki kesadaran bahwa pola hidup ini tidak membawa pengaruh yang positif bagi mereka dan justru merugikan mereka. Maka itu, perlu adanya perbaikan agar pola hidup ini tidak berlanjut ke masa tuanya.

Bagian berikut dalam kuisioner, membahas mengenai kesadaran dan keinginan target terhadap pentingnya mengevaluasi perilaku diri untuk memiliki pola hidup yang lebih sehat. Penulis menyediakan beberapa pernyataan yang memiliki konteks keuntungan (benefits) yang diperoleh bila pola hidup sedentari dapat diperbaiki dan mencapai hidup yang lebih sehat dan berkualitas. Pernyataan yang tersedia dapat disetujui atau tidak disetujui oleh responden dengan memberi nilai dari 1 (sangat tidak setuju) sampai 5 (sangat setuju). Hasil kuisoner diolah menggunakan perhitungan skala Likert dan hasilnya sebagai berikut:

Tabel 3. 5 Tabel hasil perhitungan Likert kepedulian target terhadap kesehatannya

Pernyataan Mean Keterangan

Saya merasa perlu memperbaiki pola

hidup/kebiasaan sedentari saya 82,9% Sangat setuju Pola hidup yang sehat adalah kebutuhan

penting bagi saya 86,1% Sangat setuju

Pola hidup yang sehat membantu saya mengembangkan skill yang saya butuhkan atau inginkan

84,6% Sangat setuju

Pola hidup yang sehat memaksimalkan potensi/perfoma saya dalam kegiatan sehari- hari

86,3% Sangat setuju

(29)

73

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

Pola hidup yang sehat membantu saya

mencapai cita-cita/impian di masa depan 84,6% Sangat setuju Tubuh yang sehat membantu saya merasa

lebih percaya diri 82,9% Sangat setuju

Dari hasil rata-rata tabel diatas, lebih dari 80-85% responden memiliki kesadaran dan/atau keinginan untuk memperbaiki perilaku sedentarinya. Dengan mencapai gaya hidup yang lebih sehat, responden dapat meningkatkan perfomanya dalam aktivitas sehari-hari sehingga dapat mengembangkan dirinya dari aspek tertentu. Dengan perkembangan dan keseimbangan kualitas hidup yang baik, responden merasa lebih percaya diri sehingga dapat mendukung ambisinya dalam hal-hal tertentu seperti meraih cita-citanya. Dapat dikatakan bahwa responden sudah memiliki kesadaran mengenai pentingnya dan keuntungan yang didapatkan dari memiliki pola hidup yang lebih baik dan sehat.

Bagian berikut kuisioner membahas mengenai hambatan-hambatan berupa kesulitan yang dialami target dalam memperbaiki pola hidupnya.

Seperti bagian sebelumnya penulis menyediakan beberapa pernyataan yang dapat disetujui atau tidak disetujui dalam skala 1 sampai 5. Berikut adalah hasil perhitungan skala Likert:

Tabel 3. 6 Tabel hasil perhitungan Likert hambatan memperbaiki gaya hidup sedentari

Pernyataan Mean Keterangan

Saya tidak tahu cara memperbaiki pola

hidup/kebiasaan sedentari saat ini 73% Setuju Saya tidak tahu langkah-langkah cara

mengubah suatu kebiasaan 74,2% Setuju

Saya memiliki kesulitan mengurangi perilaku

malas bergerak (mager) 78,5% Setuju

Saya memiliki kesulitan memahami

penyebab perilaku malas bergerak (mager) 75,3% Setuju Saya memiliki kesulitan mengurangi

penggunaan gadget 83,3% Sangat setuju

(30)

74

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

Saya memiliki kesulitan mengurangi

kebiasaan penggunaan fasilitas online/olshop 69,1% Setuju Saya memiliki kesulitan membagi waktu

untuk lebih banyak bergerak 81,6% Sangat setuju Menurut saya, pola hidup sehat lebih baik

dipelajari / dimulai selagi muda 69,3% Setuju

Dari data diatas, lebih dari 70% remaja tidak tahu cara atau langkah- langkah untuk memperbaiki pola hidup sedentarinya. Hal ini dapat diakibatkan karena responden memiliki kesulitan dalam mengurangi kebiasaan malas gerak, penggunaan gadget atau fasilitas online, atau kurangnya kemampuan dalam mengatur waktu untuk beraktivitas fisik.

Namun, mayoritas responden setuju bahwa pola hidup yang sehat lebih baik ditanam sejak dini atau secepatnya lebih baik untuk mengurangi resiko keberlanjutan pola hidup yang buruknya saat sudah dewasa.

Bagian terakhir kuisioner yang berisi seputar gaya hidup sedentari membahas mengenai ketertarikan target untuk mengetahui atau mempelajari informasi. Hal ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ingin tahu target, tingkat kepentingan dan sub-topik apa yang paling ingin diketahui.

Gambar 3. 23 Diagram kepentingan informasi gaya hidup sedentari

(31)

75

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

Gambar 3. 24 Diagram kebutuhan informasi gaya hidup sedentari

Gambar 3. 25 Diagram sub-topik gaya hidup sedentari

Berdasarkan diagram diatas, sebanyak 100% responden setuju bahwa informasi mengenai gaya hidup sedentari penting untuk dipahami atau paling tidak diketahui saat ini. Hal ini diikuti dan didukung dengan 90%

responden yang merasa membutuhkan informasi tersebut. Informasi yang paling ingin diketahui oleh target adalah solusi sederhana untuk memperbaiki pola hidup sedentari yang dapat dilakukan di kalangannya. Beberapa responden juga ingin tahu faktor penyebab pola hidup sedentari. Hal ini mungkin berkaitan agar dapat membantu target mengevaluasi diri. Informasi tambahan yang dapat mendukung adalah contoh perilaku dan resiko penyakit dari pola hidup sedentari.

(32)

76

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

Gambar 3. 26 Grafik konsumsi media target

Terakhir penulis ingin melengkapi data dari kuisioner pertama terkait konsumsi media target terkait topik kesehatan. Berdasarkan grafik diatas, menurut responden media yang cocok untuk memaparkan informasi yang lebih lengkap mengenai gaya hidup sedentari adalah website atau/dan melalui media sosial. Media sosial dapat digunakan untuk sebagai sumber pertama untuk membuat target aware akan keberadaaan topik atau web tersebut. Kurang lebih 15 % responden memiliki buku digital (ebook) atau aplikasi. Beberapa responden juga merekomendasi penggunaan media audio dan visual bergerak (motion) seperti video yang ada di Youtube.

3.1.2.3 Kesimpulan kusioner

Dari kedua kuisoner yang telah disebar dan dianalisis dengan kurang lebih 100 responden berusia 17-25 tahun, berdomisili di Jakarta, target merasa penting atau/dan butuh untuk memperbaiki pola hidup sedentarinya.

Hal ini dibuktikan karena mayoritas responden telah atau pernah merasakan dampak fisik dan mental yang diakibatkan karena kurangnya aktivitas fisik.

Hal tersebut membuat target merasa tidak nyaman dalam beraktivitas karena tubuh yang kurang kondusif. Dari hal tersebut, target sudah cukup memiliki kepedulian, keinginan dan kesadaran terhadap pentingnya untuk menjaga kesehatan. Menurut mereka, dengan mencapai pola hidup yang sehat dapat membantu mereka meningkatkan kualitas hidup. Namun, hal tersebut masih

(33)

77

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

terhambat karena beberapa faktor baik internal atau eksternal. Dari hasil kuisioner, target sudah pernah berupaya untuk meningkatkan aktivitas fisik namun karena faktor internal seperti kurangnya motivasi, kebiasaan, kurangnya arahan dan kemampuan time management yang kurang baik.

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa target memerlukan bantuan berupa pemaparan solusi atau cara-cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kebiasaan sedentari sebagai bentuk pencegahan agar pola hidup ini tidak berlanjut saat sudah lebih dewasa. Hal ini didukung dengan mayoritas responden setuju dengan pentingnya menanamkan pola hidup yang lebih sehat sejak dini. Tidak hanya itu, responden juga perlu ajakan untuk meningkatkan dan mendorong motivasi target untuk melakukan tindakan yang diperlukan agar menghasilkan suatu progress yang bermakna hingga mencapai hasil dari pola hidup sehat tersebut.

3.1.3 Studi Literatur

Untuk melengkapi dan mengungkapkan teori-teori yang relevan dengan gaya hidup sedentari, penulis melakukan studi literatur dengan membaca, mempelajari dan mengkaji beberapa literatur seperti:

1) WHO Guidelines on Physical Activity & Sedentary Behaviour, dirilis oleh World Health Organization pada tahun 2020. Buku ini berisi panduan mengenai aktivitas fisik dan pengeluaran energi dalam sehari yang direkomendasi berdasarkan kategori umur.

Gambar 3. 27 WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour

(34)

78

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

2) Youth Physical Activity and Sedentary Behaviour oleh Alan L.Smith, Phd., dipublikasikan pada 2008. Secara singkat, buku ini memaparkan informasi mengenai perilaku sedentari di kalangan generasi muda serta hambatan dan solusinya.

Gambar 3. 28 Youth Physical Activity and Sedentary Behaviour

3) Atomic Habit: Perubahan Kecil yang Memberikan Hasil Luar Biasa oleh James Clear, dipublikasikan pada 2018. Buku ini menjelaskan psikologi dalam mengembangkan kebiasaan yang positif dalam kegiatan sehari-hari dengan progres yang konsisten.

Gambar 3. 29 Atomic Habits: Perubahan Kecil yang Memberikan Hasil Luar Biasa

(35)

79

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

4) Website kesehatan seperti WHO, Mayo Clinic, Harvard, dan lainnya.

5) Serta berbagai jurnal riset terbaru mengenai gaya hidup sedentari yang berhubungan dengan generasi muda saat ini.

3.1.3.1 Definisi Gaya Hidup Sedentari

Menurut World Health Organization (WHO), aktivitas fisik sebagai setiap pergerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang membutuhkan pengeluaran energi. Aktivitas fisik berhubungan dengan gerakan yang dilakukan selama waktu senggang, transportasi ke/dari tempat tertentu, serta sebagian dari pekerjaan seseorang. Perilaku sedentari ditandai dengan pengeluaran energi yang rendah (METS <1.5).

Pada umumnya, seseorang menghabiskan waktu seharinya di rumah, tempat kerja, sekolah, saat berpergian, dan waktu luang. Perilaku sedentari sering terjadi saat dalam posisi duduk atau berbaring (kecuali saat tidur).

Aktivitas sedentari yang umum termasuk pekerjaan berbasis meja, pengunaan komputer (screentime), menonton TV, mengemudi mobil, membaca, bermain video game, atau menggunakan fasilitas online.

3.1.3.2 Karakteristik Gaya Hidup Sedentari

Menurut Smith dan Biddle (2008, hlm 8), perilaku sedentari dapat dikatakan sebagai subdomain dari aktivitas fisik, setidaknya dari perspektif pengeluaran energi. Berikut adalah beberapa karakteristik utama aktvitas fisik yang juga dapat digunakan untuk menggambarkan perilaku sedentari:

1) Frekuensi

Frekuensi mengarah pada berapa kali aktivitas fisik dilakukan dalam jangka waktu tertentu seperti per minggu, bulan atau tahun.

2) Intensitas

Intensitas mengarah pada seberapa besar respon fisiologis terhadap fisik dan dapat diukur menggunakan jumlah kerja metabolik. Karena

(36)

80

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

sulit mengukur metabolisme secara langsung, maka dapat dihitung dengan jumlah kalori yang dikeluarkan, denyut jantung atau kategori persepsi (berat, sedang atau ringan). Intensitas relatif diartikan sebagai beban kerja yang dinyatakan sebagai presentase kapasitas maksimum seseorang, sedangkan intensitas absolut mengacu pada beban kerja yang dinyatakan dalam unit yang independen dari kapasitas atau toleransi individu.

3) Durasi

Durasi mengarah pada lamanya waktu aktivitas tersebut dilakukan (biasa dalam hitungan menit).

4) Jenis

Jenis mengarah pada sistem fisiologis utama yang digunakan misal aerobik atau anaerobik selama aktivtias. Hal itu juga merujuk pada fitur perilaku aktivitas itu sendiri seperti berjalan, melompat, berlari dan lainnya.

5) Domain

Mengarah pada konteks atau pengaturan di mana aktivitas fisik terjadi dan berguna untuk memahami tujuan atau maksud dibalik kegiatan tersebut.

3.1.3.3 Dampak Gaya Hidup Sedentari

Menurut artikel mayoclinic.org yang berjudul “What are the risk of sitting too much?” (2020), saat kita duduk, energi yang digunakan lebih sedikit dibanding saat berdiri atau bergerak. Penelitian telah menghubungkan duduk untuk waktu yang lama dengan sejumlah masalah kesehatan. Terlalu banyak duduk secara keseluruhan juga meningkatkan resiko kematian akibat penyakit kardiovaskular dan kanker. Sebuah analisis dari 13 studi tentang sitting time dan tingkat aktivitas menemukan bahwa duduk lebih dari 8 jam

(37)

81

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

sehari tanpa aktivitas fisik memiliki resiko kematian serupa dengan obesitas dan merokok.

Berikut adalah beberapa potensi penyakit yang diakibatkan karena kurangnya aktivitas fisik bagi kaum muda menurut Smith dan Biddle (2008, hlm 31-49) dan WHO:

1) Kelebihan berat tubuh / Obesitas

Obesitas atau kegemukan didefinisikan sebagai akumulasi lemak abnormal atau berlebihan. Indeks massa tubuh (IMT) lebih dari 25 dianggap kelebihan berat badan dan lebih dari 30 dianggap obesitas.

Kurangnya aktivitas fisik juga berarti kurangnya pengeluaran kalori atau pembakaran lemak pada tubuh.

2) Diabetes Tipe 2

Berdasarkan WHO, diabetes tipe 2 (non-insulin-dependent atau onset dewasa) terjadi akibat penggunaan insulin yang tidak efektif oleh tubuh. Sebagian besar jenis diabetes ini merupakan hasil dari kelebihan dari kelebihan berat badan dan kurangnya aktivitas fisik.

Saat ini, jenis diabetes ini hanya terlihat pada orang dewasa namun sekarang juga semakin sering terjadi pada anak-anak. Selain itu, meski obat baru telah tersedia untuk pengobatan diabetes tipe 2, hal tersebut masih memiliki efek samping serius termasuk gagal jantung. Seiring waktu diabetes dapat merusak jantung, pembuluh darah, mata, ginjal dan saraf. Orang dewasa dengan diabetes memiliki resiko 2-3 kali lipat dalam serangan jantung dan stroke.

3) Resiko Penyakit Kardiovaskular

Menurut WHO, penyakit Kardioviskular (CVDs) adalah kelompok gangguan jantung dan pembuluh darah seperti penyakit jantung koroner, penyakit serebrovaskular, penyakit arteri perifer, dan masih banyak lagi. Sebagian besar penyakit kardiovascular dapat dicegah

(38)

82

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

dengan mengatasi faktor perilaku seperti penggunaan tembakau, diet dan obesitas, kurangnya aktivitas fisik dan penggunaan alkohol yang berbahaya. Efek penyakit ini mungkin muncul dari peningkatkan tekanan darah, peningkatan glukosa darah, peningkatan lipid darah dan kelebihan berat tubuh. Pengobatan hipertensi, diabetes dan lipid darah tinggi dibutuhkan untuk mengurangi resiko kardiovaskular dan mencegah serangan jantung dan stroke.

4) Kesehatan Rangka

Menurut Smith dan Biddle (2008), masa anak-anak dan remaja adalah periode penting untuk perkembangan tulang. Kerangka manusia prapubertas adalah stimulasi mekanis yang sensitif ditimbulkan oleh aktivitas fisik. Maka itu, banyaknya aktivitas fisik sebelum dan selama masa pubertas penting untuk mencapai puncak masaa tulang. Beberapa uji coba intervensi, menunjukan bahwa aktivitas fisik dapat meningkatkan kepadatan mineral tulang dan mengurangi resiko patah tulang di kemudian hari bila dipertahankan sampai dewasa. Kerangka tulang dewasa tidak dapat meletakan tulang baru seefektif di masa muda. Orang dewasa yang tidak beraktivitas fisik dan tidak adanya stimulus pemuatan meningkatkan resiko penipisan tulang yang menua. Maka itu, penting agar kaum muda untuk mempertahankan aktivitas fisik yang cukup untuk menghindari penyakit tulang.

5) Kesehatan Mental

Menurut Smith dan Biddle (2008), pola hidup sedentari telah berkaitan dengan gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, self esteem dan kinerja kognitif. Beberapa penelitian menunjukan bahwa duduk lebih dari 8 jam sehari dapat menurunkan motivasi dan kelelahan sehingga mempersulit pengelolaan emosi.

(39)

83

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

Berdasarkan artikel dari pikiran-rakyat.com yang berjudul “Dampak Psikologis yang Mungkin Dialami Jika Remaja Hobi Rebahan dan Malas Bergerak”, aktivitas fisik dapat merangsang aliran darah menuju otak yang dipenuhi oksigen sehingga dapat memperbaiki sel dan jaringan otak yang rusak. Namun dengan berdiam di kasur, sulit untuk memicu dam menstimulasi produksi hormon endorfin yang membawa suasana positif dan gairah dalam aktivitas.

3.1.3.4 Penyebab Perilaku Sedentari & Aktivitas Fisik

Menurut Smith dan Biddle (2008, hlm 141-143), saat ini sudah ada bukti yang menunjukan ketidakseimbangan antara peningkatan perilaku menetap dan penurunan tingkat aktivitas. Aktivitas fisik dapat dikatakan sebagai perilaku yang multidimensi sedangkan kebugaran dan keterampilan adalah dimensi penting lainnya. Konteks adalah dimensi terpenting dalam aktivitas fisik yang sering kali diabaikan. Konteks mengarah pada jenis dan pengaturan aktivitas seperti bermain, pendidikan jasmani, olahraga, bekerja dan lainnya. Konteks dan maknanya bervariasi di antara kelompok budaya.

Tingkat aktivitas fisik secara signifikan dipengaruhi oleh budaya dan kondisi lingkungan masyarakat tertentu saat itu. Salah satu contohnya seperti transportasi motor berkontribusi pada kurangnya aktivitas berjalan.

Biokultural adalah istilah yang lebih iklusif sebagai budaya melampaui psikologis dan sosial. Meski definisi budaya bervariasi, pada umumnya dapat dilihat sebagai sistem makna dan nilai yang terkait ditanamkan pada individu atau/dan kelompok. Makna mempengaruhi keyakinan, sanksi, definisi, dan akhirnya perilaku manusia.

Pada umumnya, tugas pada masa anak-anak hingga remaja adalah untuk bertumbuh secara fisik, menjadi dewasa (matang secara biologis), dan untuk berkembang (memperlajari aspek kognitif, sosial, moral, motorik dan perilaku). Pertumbuhan dan pematangan adalah proses biologis, sedangkan perkembangan adalah proses perilaku yang sering diungkapkan. Ketiga

(40)

84

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

proses itu merupakan hal yang berbeda namun tetap saling berinterkasi dan mendominasi kehidupan kaum muda kurang lebih dua dekade pertama.

Interaksi antar pertumbuhan, pematangan dan perkembangan bervariasi antar individu dan kelompok budaya, namun tetap mempengaruhi kehidupan yang aktif atau perilaku sedentari. Maka itu, penting untuk menanamkan perilaku hidup yang sehat dan positif di masa-masa ini.

Gambar 3. 30 Keterkaitan antara budaya, individu, keluarga, dan aktivitas fisik (Smith dan Biddle, 2008)

3.1.3.5 Menghindari Perilaku Sedentari

Pada tahun 2020, WHO merilis buku panduan berisi mengenai rekomendasi akivitas fisik yang harus dilakukan dalam sehari. Aktivitas fisik dibagi berdasarkan umur dari anak-anak (5-17 tahun), dewasa (18-64 tahun), dan dewasa lebih tua (65 tahun keatas). Selain itu, WHO juga melengkapi rekomendari aktivitas yang dapat dilakukan dan hindari bagi ibu hamil, dalam kondisi penyakit tertentu, atau dengan disabilitas.

(41)

85

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

WHO mengatakan bahwa semua orang dewasa harus melakukan aktivitas fisik secara teratur dan reguler. Orang dewasa dengan kondisi tubuh yang cukup normal harus melakukan setidaknya 150-200 menit dengan intensitas yang sedang, 75-150 menit aktivitas fisik dengan intensitas yang tinggi atau kombinasi setara dari intensitas sedang dan berat sepanjang minggu untuk meningkatkan kesehatan yang substansial. Orang dewasa dapat meningkatkan intensitas sedang aktivitas fisik aerobik lebih dari 300 menit atau lebih dari 150 menit aerobik intensitas berat atau kombinasi setara moderat dalam seluruh minggu untuk manfaat kesehatan tambahan.

Gambar 3. 31 Rekomendasi aktvitas fisik untuk orang dewasa (WHO, 2020)

Gambar 3. 32 Tambahan menit untuk manfaat kesehatan tambahan (WHO, 2020)

(42)

86

Perancangan Kampanye Interaktif mengenai Gaya Hidup Sedentari, Tamariska Disa Nugroho, Universitas Multimedia Nusantara

Selain itu, orang dewasa juga direkomendasi melakukan aktivitas yang mendukung penguatan otot dengan intensitas sedang atau lebih besar yang melibatkan semua kelompok otot utama (dada, punggung, lengan, pundak, kaki, dan betis) selama 2 hari atau lebih dalam seminggu.

Gambar 3. 33 Aktvitas penguat otot (WHO, 2020)

Menurut WHO, semua orang harus membatasi jumlah waktu yang dihabiskan dalam kegiatan yang kurang aktif / perilaku sedentari. Untuk membantu mengurangi efek merugikan dari perilaku sedentari yang tinggi, orang dewasa dapat mengganti waktu sedentarinya dengan aktivitas fisik dengan intensitas apapun (termasuk intensitas cahaya).

1) Gunakan meja berdiri (standing desk).

2) Beristirahat dari layar digital setiap 30 menit.

3) Mengatur reminder dan berdiri setelah duduk setiap 30 menit.

4) Berjalan selama 5 menit setiap 2 jam.

5) Berjalan saat istirahat makan siang.

6) Berjalan ke tempat kerja atau tempat dengan jarak dekat.

7) Berjalan setiap kali berbicara di telepon atau menonton televisi.

Gambar

Tabel 3. 1 Data Demografis Responden
Tabel 3. 2 Tabel hasil perhitungan rata-rata kondisi target salama pandemi
Gambar 3. 6 Grafik faktor penyebab malas bergerak
Tabel 3. 3 Hasil perhitungan rata-rata karakteristik sedentari target
+7

Referensi

Dokumen terkait

Metodologi yang digunakan meliputi: evaluasi kinerja jalan Pantura menggunakan MKJI 1997; analisa lalu lintas yang teralihkan ke jalan tol menggunakan kurva

Jenis kelamin responden yaitu laki-laki sebanyak 64% sedangkan wanita sebanyak 36% dari jumlah tersebut dapat diketahui bahwa penduduk laki-laki desa wiyurejo

Entonces evoco la historia de Fernández Barberá, dentro del edificio de Fisac, mostrando a Alexanco las entrañas de 7090, para que el escul- tor pudiese libremente generar

Namun perlu di perhatikanbagipengidap penyakit asam urat atau gout da lam mengkonsumsi kerang sebaiknya sangat dibatasi atau lebih baik lagi dihindari, karena kerang

reperesentasi ulama nusantara yang hidup pada abad ke19 dan ke 20. Perbedaan pendidikan dan pengalaman itulah yang menyebabkan Muhammadiyah dan NU menjadi dua organisasi

Belanja pemerintah konsolidasian mengalami kontaksi sebesar minus 11,42 persen dibandingkan belanja pemerintah pada periode yang sama tahun 2018 sebesar Rp2,85 triliun

menjaga kestabilan harga dan kesediaan komoditas yang bersifat memiliki persistensi inflasi yang tinggi dan berkontribusi tinggi di Kota Palangka Raya seperti mie,

Skripsi dengan judul “Analisis Kesenjangan Pendapatan Kota/Kabupaten Propinsi Jawa Timur 2008 - 2012” adalah hasil karya saya, dan dalam naskah skripsi ini tidak terdapat