Media Prestasi Vol. XVII No.1 Juni 2016 /ISSN 1979 - 9225 80 Penerapan Pendekatan Konstruktivisme Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Materi Konsep FPB, KPK, Dan Faktor Persekutuan
Pada Siswa Kelas IV SD Negeri Cangakan 1 Kasreman Oleh: Sri Suwarni
,
S.Pd.SD Negeri Cangakan 1 Kasreman ABSTRAK
Secara realitas, pembelajaran matematika khususnya kelas IV SD Negeri Cangakan 1 Kasreman. sebagaian besar siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep FPB, KPK dan Faktor persekutuan. Untuk itu penelitian ini dilakukan dengan tujuan menerapkan pendekatan konstruktivisme untuk meningkatkan prestasi belajar matematika pada konsep FPB, KPK, dan Faktor Persekutuan bagi siswa Kelas IV SD Negeri Cangakan 1 Kasreman
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Cangakan 1 Kasreman. Adapun subjek penelitian adalah siswa kelas IV yang berjumlah 21 siswa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran yang berorientasi pada konstruktisvisme ternyata dapat membuat siswa antusias dan termotivasi dalam belajar matematika sehingga siswa terlibat baik secara intelektual maupun emosional. Selain itu telah terjadi peningkatan hasil belajar, yang diindikasikan (a) ketuntasan mengalami kenaikan (b) angka ketidaktuntasan mengalami penurunan, dan (c) rata-rata secara klasikal juga mengalami kenaikan yakni jika siklus I rata-rata sebesar 64 kemudian pada siklus II meningkat menjadi 68 dan pada siklus II meningkat menjadi 74. Dengan demikian pendekatan konstruktivistik benar-benar mampu meningkatkan prestasi belajar siswa
Kata kunci: penerapam, pendekatan, konstruktivisme, meningkatkan, prestasi PENDAHULUAN
Pada kurikulum 2006 tentang Ringkasan Kegiatan Belajar Mengajar disebutkan bahwa: belajar merupakan kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman. Pada buku itu juga disebutkan pula prinsip-prinsip kegiatan belajar mengajar diantaranya adalah berpusat pada siswa, belajar dengan melakukan serta mengembang kan kemampuan sosial. Dengan memperhatikan 3 prinsip kegiatan
belajar mengajar yang dikemukakan pada Kurikulum 2004 terlihat bahwa prinsip-prinsip tersebut mengacu pandangan Konstruktivis yaitu penciptaan kondisi yang memungkin kan siswa untuk mengkonstruksikan pengertian sendiri terhadap suatu konsep sehingga lebih menarik dan bermanfaat bagi siswa, bila dibandingkan dengan jika pengertian tersebut diperoleh secara langsung dari guru, sehingga pembelajaran sering
Media Prestasi Vol. XVII No.1 Juni 2016 /ISSN 1979 - 9225 81 disebut pembelajaran berpusat pada
siswa.
Kurangnya keaktifan dalam belajar (Matematika) dapat diduga akan berpengaruh besar terhadap gairah belajar. Jika hal ini dibiarkan maka siswa akan semakin tidak menyenangi Matematika bahkan pada taraf tertentu akan bersikap anti pati pada pelajaran Matematika. Akibat dari itu semua semua tentu prestasi belajar Matematika akan semakin rendah.
Matematika dianggap sangat penting bagi kehidupan manusia.
Matematika memiliki keterkaitan dan menjadi pendukung berbagai bidang ilmu serta berbagai aspek kehidupan manusia. Tetapi di sisi lain, Matematika juga dianggap sebagai mata pelajaran yang cukup sulit bagi siswa, bahkan cukup menakutkan bagi beberapa siswa di SD Negeri Cangakan 1 Kasreman. Hal ini terlihat pada saat pembelajaran berlangsung para siswa memiliki keaktifan dalam belajar Matematika masih rendah, data yang lain dapat dilihat dari hasil wawancara beberapa siswa. Sedikitnya siswa yang mengajukan pertanyaan dan berani menjawab pertanyaan atau
menanggapi pendapat temannya, kurang berani mengambil resiko (takut salah), kebiasaan mencontoh pekerjaan temannya dan kurang terlibat aktif dalam kelompok (cemas), merupakan indikasi lemahnya keaktifan (keuletan) siswa dalam belajar Matematika
Secara realitas, pembelajaran matematika khususnya kelas IV SD Negeri Cangakan 1 Kasreman.
sebagaian besar siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep FPB, KPK dan Faktor persekutuan, hal ini karena beberapa faktor, yang salah satunya adalah situasi pembelajaran.
Selama ini masih banyak dijumpai pembelajaran matematika yang sifatnya verbal dan prosedural. Dalam pembelajaran siswa nampak pasif dan menerima pengetahuan sesuai yang diberikan guru. Hal ini berdampak pada lemahnya siswa dalam memahami konsep-konsep dasar matematika khususnya konsep FPB.
KPK, dan Faktor persekutuan.
Sebagai tindak lanjut dari asumsi diatas maka, peneliti tertarik untuk memberikan tindakan, melalui alternatif pembelajaran yang berorientasi pada konstruktivisme yang diharapkan dapat meningkatkan
Media Prestasi Vol. XVII No.1 Juni 2016 /ISSN 1979 - 9225 82 pemahaman siswa pada konsep FPB.
KPK, dan Faktor persekutuan. Secara lebih rinci, akan dilihat kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan FPB.
KPK, dan Faktor persekutuan, faktor- faktor yang menyebabkan siswa melakukan kesalahan dan tindakan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep FPB. KPK, dan Faktor persekutuan.
Masalah yang ingin peneliti kaji melalui penelitian tindakan kelas ini dapat dirumuskan yakni bagaimanakah penerapan pendekatan konstruktivisme untuk meningkatkan prestasi belajar matematika pada konsep FPB, KPK, dan Faktor Persekutuan bagi siswa Kelas IV SD Negeri Cangakan 1 Kasreman?. Secara umum siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep FPB, KPK dan Faktor persekutuan, hal ini karena beberapa faktor, yang salah satunya adalah situasi pembelajaran. Selama ini masih banyak dijumpai pembelajaran matematika yang sifatnya verbal dan prosedural. Dalam pembelajaran siswa nampak pasif dan menerima pengetahuan sesuai yang diberikan
guru. Sebagai upaya yang diasumsikan mampu mengatasi masalah di atas maka adalah dengan penerapan pembelajaran yang berorientasi pada konstruktivisme. Dengan pendekatan konstruktivisme maka siswa akan mampu meningkatkan pemahaman konsef FPB dan KPK.
Tujuan dilaksanakan penelitian tindakan kelas ini selain pengembangan profesi guru dalam jabatan adalah menerapkan pendekatan konstruktivisme untuk meningkatkan prestasi belajar matematika pada konsep FPB, KPK, dan Faktor Persekutuan bagi siswa Kelas IV SD Negeri Cangakan 1 Kasreman. Dengan hasil ini diharapkan bisa memberi masukan mengenai pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme sehingga guru dapat menemukan salah satu cara meningkatkan prestasi balajar siswa pada mata pelajaran Matematika KAJIAN TEORITIS DAN
HIPOTESIS TINDAKAN
Kajian Teori Tentang Matematika Matematika berasal dari bahasa latin manthanein atau mathema yang berarti belajar atau hal yang dipelajari.
Matematika dalam hahasa Belanda
Media Prestasi Vol. XVII No.1 Juni 2016 /ISSN 1979 - 9225 83 disebut wiskunde atau ilmu pasti, yang
kesemuanya berkaitan dengan penalaran. (Kurikulum 2006) Ciri utama matematika adalah penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat logis dan kebenaran sebelumnya sehinga kaitan antar konsep atau pernyataan dalam matematika bersifat konsisten
Pembelajaran dan pemahaman konsep dapat diawali secara induktif melalui pengalaman peristiwa nyata atau intuisi. Proses induktif-deduktif dapat digunakan untuk mempelajari konsep matematika. Kegiatan dapat dimulai dengan beberapa contoh atau fakta yang teramati, membuat daftar sifat yang muncul (sebagai gejala), memperkirakan hasil baru yang diharapkan, yang kemudian dibuktikan secara deduktif. Cara belajar induktif dan deduktif dapat digunakan dan sama-sama berperan penting dalam mempelajari matematika. Penerapan cara kerja matematika diharapkan dapat membentuk sikap kritis, kreatif, jujur dan komunikatif pada siswa.
Pandangan Konstruktivisme Pandangan konstruktivistik
tentang pengetahuan, menurut O’Loughlin dalam Santyasa. (2000) didasarkan atas empat prisip dasar, yaitu:
a. Pengetahuan terdiri dan ‘post construction’,
b. Pengkonstruksian pengetahuan terjadi melalui proses asimilasi dan akomodasi,
c. Belajar sebagai suatu proses organik penemuan lebih daripada proses mekanik akumulasi, dan d. Mengacu kepada mekanisme pada
situasi perkembangan kognitif dapat berlangsung.
Menurut Nickson (dalam Hudojo, 1998) pembelajaran matema tika dalam pandangan konstruktivisme adalah membantu siswa untuk membangun konsep-konsep matema tika dengan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi sehingga konsep itu terbangun kembali melalui transformasi informasi untuk menjadi konsep baru. Dapat dikatakan bahwa pembelajaran matematika adalah membangun pemahaman.
Pemahaman/pengetahuan dapat dibangun oleh siswa sendiri berdasarkan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (Skemp, dalam
Media Prestasi Vol. XVII No.1 Juni 2016 /ISSN 1979 - 9225 84 Hudojo, 1998). Proses membangun
pemahaman ini lebih penting daripada hail belajar, sebab pemahaman akan bermakna pada materi yang dipelajari.
Pembelajaran matematika dalam pandangan konstrukvistik mempunyai ciri-ciri antara lain: (1) siswa terlibat aktif dalam belajar, (2) informasi dikaitkan dengan informasi lain sehingga menyatu dalam skemata, dan pemahaman terhadap informasi menjadi komplek; (3) orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan (Hudojo, 1998).
Menurut Von Glasersfeld (dalam Suparno, 1997) mengajar adalah membantu seseorang berpikir secara benar dengan membiarkannya berpikir sendiri. Jadi guru hanya berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar siswa berjalan dengan baik.
Sebagai implikasi konstruktivis me terhadap pembelajaran matematika, tugas guru adalah membantu siswa agar mampu mengkontruksi pengetahuannya. Menurut Hudojo (1998) guru perlu mengupayakan hal-
hal sebagai berikut:
a. Menyediakan pengalaman belajar dengan mengaitkan pengetahuan
yang sudah dimiliki siswa sehingga belajar melalui proses pembentuk an pengetahuan;
b. Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkret;
c. Mengintegrasikan pembelajaran yang memungkinkan terjadinya interaksi dan kerjasama seseorang dengan orang lain atau lingkungannya;
d. Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis; dan
e. Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga matematika menjadi menarik.
Selain itu langkah awal agar model pembelajaran konstruktivistik dapat diimplementasikan adalah guru hendaknya mengikuti pandangan konstruktivistik, Menurut Brooks dan Martin Brooks dalam Santyasa (2000), guru konstruktivistik memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Menganjurkan dan menerima otonomi dan inisiatif siswa,
b. Menggunakan data primer dan bahan mani pulatif dengan penekanan pada keterampilan
Media Prestasi Vol. XVII No.1 Juni 2016 /ISSN 1979 - 9225 85 berpikir kritis,
c. Ketika penyusunan tugas-tugas, memakai istilah istilah kognitif seperti kiasifikasi, analisis, ramalkan, dan ciptakan,
d. Menyertakan respons siswa dalam rangka pengendalian pelajaran, mengubah strategi pembelajaran, dan mengubah isi,
e. Menggali pemahaman siswa tentang konsep konsep yang akan dibelajarkan sebelum sharing pemahamannya tentang konsep- konsep tersebut,
f. Menyediakan kondisi agar siswa dapat berdiskusi baik dengan dirinya maupun dengan siswa yang lain,
g. Mendorong sikap inkuiri siswa dengan menanyakan sesuatu yang menuntut berpikir kritis, menggu nakan pertanyaan-pertanyaan terbuka, dan mendorong siswa agar berdiskusi antar teman,
h. Mengelaborasi respon awal siswa, i. Mengikutsertakan siswa dalam
pengalaman pengalaman yang dapat menimbulkan kontra diksi terhadap hipotesis awal mereka dan kemudian mendorong diskusi, j. Menyediakan waktu tunggu setelah
mengajukan pertanyaan-pertanyaan k. Menyediakan waktu untuk siswa dalam mengkonstruksi hubungan- hubungan dan menciptakan analogi atau kiasan-kiasan (metaphors), l. Memelihara sikap keingintahuan
alamiah siswa melalui peningkatan frekuensi pemakaian model sikius belajar.
Kebermaknaan materi matema tika yang dipelajari dapat membangun suatu konsep matematika. Dalam penelitian ini adalah terbangunnya Konsep FPB, KPK dan Faktor Persekutuan). Proses terbangunnya konsep ini berarti terjadinya asimilasi dan atau akomodasi.
Menurut cara ‘tradisional’
dalam pendekatan bottom-up untuk mengajarkan KPK adalah mengajarkan kepada siswa prosedur langkah demi langkah untuk mendapatkan jawaban yang benar dari suatu soal Hanya setelah siswa menguasai keterampilan dasar ini mereka baru diberi masalah- masalah terapan sederhana.
Dalam pendekatan konstruk tivis, bekerja dengan arah yang sebaliknya, yaitu dimulai dengan masalah dan selanjutnya membantu siswa menyelesaikan masalah menemu
Media Prestasi Vol. XVII No.1 Juni 2016 /ISSN 1979 - 9225 86 kan langkah-langkah memecahkan
masalah tersebut. Tugas guru memfasilitasi agar proses pembentukan (konstruksi) pengetahuan pada diri tiap-tiap siswa terjadi secara optimal.
Sebagai contoh, jika seseorang siswa membuat suatu kesalahan dalam mengerjakan sebuah soal, sebaiknya guru tidak langsung memberitahukan di mana letak kesalahannya.
Diharapkan guru mengajukan beberapa pertanyaan untuk menuntun siswa sehingga pada akhirnya siswa menemukan sendiri letak kesalahan tersebut. Agar proses konstruksi pengetahuan dalam pikiran siswa bisa berlangsung secara optimal, guru bisa membantu siswa dengan cara memilih pendekatan pembelajaran yang sesuai.
Konstruktivisme merupakan suatu teori atau faham yang menyatakan bahwa setiap pengetahuan atau kemampuan hanya bisa dikuasai (dipahami secara sungguh-sungguh) oleh seseorang apabila orang itu secara aktif mengkonstruksi membentuk pengetahuan atau kemampuan itu di dalam pikirannya. Aliran kognitif (konstruktivistik) berupaya mendiskrip sikan apa yang terjadi dalam diri seseorang ketika ia belajar Teori ini
lebih menaruh perhatian pada peristiwa-peristiwa internal. Belajar adalah proses pemaknaan informasi baru dengan jalan mengaitkannya dengan struktur informasi yang telah dimiliki. Belajar terjadi lebih banyak ditentukan karena adanya karsa individu. Penataan kondisi bukan sebagai penyebab terjadinya belajar, tetapi sekedar memudahkan belajar.
Keaktifan siswa menjadi unsur yang sangat penting dalam menentukan kesuksesan belajar. Kini teori ini diakui memiliki kekuatan yang dapat melengkapi kelemahan dan teori behavioristik bila diterapkan dalam pembelajaran.
METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas, yang dilakukan secara kolaboratif, dimana kepala sekolah sebagai kolaborator, sebagai pengamat, observer namun seluruh rancangan penelitian didesain oleh peneliti, sedangkan peneliti sendiri sebagai guru kelas IV yang melekukan proses pembelajaran.
Penggunaan Penelitian Tindak
Media Prestasi Vol. XVII No.1 Juni 2016 /ISSN 1979 - 9225 87 an Kelas ini dimaksudkan mendiskripsi
kan pemahaman konsep FPB, KPK dan Faktor Persekutuan dalam mata pelajaran Matematika penerapan pembelajaran yang berorientasi pada konstruktivisme dapat meningkatkan pemahaman konsep nilai tempat bagi siswa kelas IV SD Negeri Cangakan 1 Kasreman , dengan mengikuti alur pokok Siklus pertama merupakan identifikasi masalah, dilanjutkan alternatif pemecahan masalah dan rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, kemudian diobservasi dan dianalisa, terakhir penulis akan melakukan refleksi, apabila dalam siklus pertama belum berprestasi maka penulis akan meneruskan pada siklus kedua, dan juga apabila pada siklus keduapun belum berprestasi maka penulis akan melanjutkan pada siklus ketiga, seandaianya dalam siklus ketigapun belum berprestasi juga penulis akan menghentikan penelitian tindakan kelas ini dan akan mengevaluasi ulang dari keseluruhan komponen dalam penelitian tindakan kelas. Atau penulis menetapkan bahwa penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan 3 (tiga) siklus, maka penelitian tindakan kelas akan berhenti maksimal
pada siklus ketiga.
Lokasi dan Subjek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kelas IV SD Negeri Cangakan 1 Kasreman, Adapun jumlah siswa sebagai populasi dan sampel penelitian sebanyak 21 siswa. Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan yakni bulan Januari sampai Pebruari 2011 Pelaksanaan Tindakan
Tahap pelaksanaan tindakan ini adalah pelaksanaan yang merupakan penerapan isi rancangan, yaitu melaksanakan tindakan di kelas.
Semua rencana yang telah disiapkan di lapangan harus sesuai dengan rumusan yang telah ditetapkan dalam rancangan, keterkaitan antara pelaksanaan dengan perencanaan harus sinkron, harus berlaku wajar dan tidak dibuat-buat.
Observasi
Pengamatan pada penelitian ini dilakukan oleh kolaborator kepada peneliti yang sedang melakukan proses pembelajaran kelas IV dan prestasi belajar siswa sebagai sumber data penelitian. Pengumpulan data penelitian ini dengan wawancara,
Media Prestasi Vol. XVII No.1 Juni 2016 /ISSN 1979 - 9225 88 analisis dokumen guru, yang mana
untuk mengukur peningkatan prestasi belajar siswa, dengan membandingkan nilai awal sebelum pemberian tindakan, dengan perkembangan nilai evaluasi setiap siklus atau setelah pemberian perlakuan tindakan.
Refleksi
Peneliti bersama kolaborator mengkaji, melihat dan mempertimbang kan atas prestasi atau dampak dari tindakan yang sudah dilakukan, kemudian merivisi perbaikan untuk digunakan pada siklus berikutnya.
Peneliti bersama kolaborator mengkaji, melihat dan mempertimbangkan atas prestasi atau dampak dari tindakan yang sudah dilakukan, kemudian merivisi perbaikan untuk digunakan pada siklus ketiga.
Analisis data dalam penelitian ini dimulai sejak awal sampai berakhirnya pengumpulan data; dan dikerjakan secara intensif sesudah meninggalkan lapangan. Data yang berupa kata-kata/kalimat dari catatan lapangan dan hasil wawancara diolah menjadi kalimat-kalimat yang bermakna dan dianalisis secara disriptif kualitatif. Analisa data dalam
penelitian ini menggunakan analisa Diskriptif eksploratif, menurut Suharsimi (1989: 195) “Diskiriptif eksploratif adalah risearch atau penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan keadaan atau suatu fenomena”. Dalam hal ini peneliti hanya ingin mengungkapkan bahwa penerapan pembelajaran yang berorientasi pada konstruktivisme dapat meningkatkan pemahaman konsep FPB, KPK dan Faktor Persekutuan bagi siswa Kelas IV SD Negeri Cangakan 1 Kasreman
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pratindakan
Secara umum kelas IV Sekolah Dasar Negeri Karangrejo 2 Kecamatan Karangrejo sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep FPB, KPK dan Faktor persekutuan, hal ini karena beberapa faktor, yang salah satunya adalah situasi pembelajaran. Selama ini masih banyak dijumpai pembelajaran matematika yang sifatnya verbal dan prosedural. Dalam pembelajaran siswa nampak pasif dan menerima pengetahuan sesuai yang diberikan
Media Prestasi Vol. XVII No.1 Juni 2016 /ISSN 1979 - 9225 89 guru. Hal ini berdampak pada
lemahnya siswa dalam memahami konsep-konsep dasar matematika khususnya konsep FPB. KPK, dan faktor persekutuan.
Indikator rendahnya prestasi siswa tampak bahwa tingkat ketuntasan pada materi konsep FPB. KPK, dan faktor persekutuan dari 21 siswa sebanyak 10 siswa atau 48% siswa sedangkan 11 atau 52% masih belum tuntas. Oleh karena itu kondisi ini menjadi masalah tersendiri bagi guru sehingga perlu diatasinya.
Hasil Penelitian Siklus I
Dari hasil pengamatan yang dilakukan tim peneliti diperoleh hasil bahwa pada awal pembelajaran I pertemuan ke 1, siswa belum memahami betul konsep menentukan kelipatan bilangan satu angka, mengenal kelipatan bilangan dua angka (mulai dengan 10 dan 25), menentukan kelipatan persekutuan terkecil (KPK) dan 2 bilangan satu angka
Selanjutnya, pada pembelajaran tindakan I pertemuan ke 2 siswa mulai terlihat antusias dan termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. Adapun hasil atau prestasi belajar siswa pada siklus I
selengkapnya sebagaimana dalam grafik berikut.
0 2 4 6 8 10 12
Jumlah
50-59 60-69 70-79 80-89 90-100 Nilai
Grafik 1: Prestasi Belajar Siklus I
Berdasarkan grafik di atas dapat diketahui bahwa dengan penerapan siklus I diperoleh data dari 21 siswa terdapat 12 anak atau 69% yang dinyatakan tuntas. Sedangkan anak yang belum tuntas sebanyak 9 siswa atau 31%. Dengan hasil ini maka penelitian belum dinyatakan berhasil.
Berdasarkan hasil tersebut diterapkan bahwa tujuan pembelajaran tindakan I telah tercapai. Oleh karena itu tidak diperlukan mengulang tindakan, dalam arti dapat dilanjutkan ke tindakan II.
Hasil Penelitian Siklus II
Guru telah melaksanakan pembelajaran tindakan II-1 dan II-2 sesuai rencana yang ditetapkan. Selain itu peneliti telah berusaha menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif.
Pada tindakan II pertemuan ke 1 pertemuan ke 2, subjek penelitian sudah menampakan antusiasme dan
Media Prestasi Vol. XVII No.1 Juni 2016 /ISSN 1979 - 9225 90 motivasi yang tinggi. Hal ini nampak
dari keberanian siswa untuk bertanya dan mengemukkan pendapatnya.
Selanjutnya, pada pembelajaran tindakan II pertemuan ke 2 siswa mulai terlihat antusias dan termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. Adapun hasil atau prestasi belajar siswa pada siklus II selengkapnya sebagaimana dalam grafik sebagai berikut.
0 2 4 6 8 10 12 14 16
Jumlah
50-59 60-69 70-79 80-89 90-100 Nilai
Grafik 2: Prestasi Belajar Siklus II
Berdasarkan grafik di atas dapat diketahui bahwa dengan penerapan siklus II diperoleh data dari 21 siswa terdapat 15 anak atau 79% yang dinyatakan tuntas. Sedangkan anak yang belum tuntas sebanyak 6 siswa atau 21%. Dengan hasil peneliti berasumsi bahwa dengan penerapan siklus II hasil penelitian belum sesuai dengan tagret yakni ketuntasan secara klasikal sebesar 85%. Berdasarkan hasil yang dicapai pada tindakan II, konsep mencari faktor persekutuan terbesar (FPB), 2 bilangan (sampai
dengan bilangan 2 angka) dan mengenal ciri-ciri bilangan habis dibagi 2, 3, 4 dan 5. Suasana pembelajaran yang kondusif, ternyata sangat membantu siswa dalam belajar, sehingga tujuan pembelajaran tindakan II dapat tercapai namun tujuan penelitian secara umum belum tercapai Hasil Penelitian Siklus III
Peneliti telah melaksanakan pembelajaran tindakan III-1 dan III-2 sesuai rencana. Selain itu peneliti telah berusaha menciptakan suasana pembel ajaran yang kondusif sebagai mana di dalam siklus sebelumnya. Pada tidakan III-1 dan III-2 ini, subjek penelitian sudah terbiasa dengan situasi pembel ajaran yang diterapkan peneliti;
sehingga siswa hafal urutan yang harus dilakukan. Suasana pembelajaran sema kin menarik karena kelima subjek penelitian selalu berlomba dalam me nyelesaikan tugas dan melaporkannya.
Selanjutnya, pada pembelajaran tindakan II pertemuan ke 2 siswa mulai terlihat antusias dan termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. Adapun hasil atau prestasi belajar siswa pada siklus II selengkapnya sebagaimana dalam grafik di bawah ini.
Media Prestasi Vol. XVII No.1 Juni 2016 /ISSN 1979 - 9225 91
0 2 4 6 8 10 12 14 16
Jumlah
50-59 60-69 70-79 80-89 90-100 Nilai
Grafik 3: Prestasi Belajar Siklus III
Berdasarkan tabel dan grafik di atas dapat diketahui bahwa dengan penerapan siklus III diperoleh data dari 21 siswa terdapat 19 anak atau 93%
yang dinyatakan tuntas. Sedangkan anak yang belum tuntas sebanyak 2 siswa atau 7%. Dengan hasil peneliti berasumsi bahwa dengan penerapan siklus III hasil penelitian telah sesuai dengan tagret yakni ketuntasan secara klasikal sebesar 85%. Oleh karena itu penelitian telah dianggap cukup dan hasilnya telah mampu menunjukkan adanya keefektifan pembelajaran.
Pembahasan Hasil penelitian
Untuk membangun konsep konsep menentukan kelipatan bilangan satu angka, mengenal kelipatan bilangan dua angka (mulai dengan 10 dan 25), menentukan kelipatan persekutuan terkecil (KPK) dan 2 bilangan satu angka Pada tindakan I pertemuan ke 1, melalui aktivitas yang
berulang-ulang, siswa mampu membangun hubungan tiga komponen dasar pengetahuan nilai tempat.
Situasi pembelajaran tindakan I pertemuan ke 1 dan 2 yang lebih komunikatif ternyata dapat mempenga ruhi hasil tes formatif, Namun demikian jika dilihat hasil ulangan hasilnya masih 31% siswa yang mendapatkan nilai lebih dari atau sama dengan 70. Selain itu ketuntasan secara klasikal, peneliti menetapkan 85%
siswa yang dinyatakan tuntas.
Berdasarkan hasil yang dicapai pada tindakan II, konsep mencari faktor persekutuan terbesar (FPB), 2 bilangan (sampai dengan bilangan 2 angka) dan mengenal ciri-ciri bilangan habis dibagi 2, 3, 4 dan 5. Suasana pembelajaran yang kondusif, ternyata sangat membantu siswa dalam belajar, sehingga tujuan pembelajaran tindakan II dapat tercapai namun tujuan penelitian secara umum belum tercapai
Konsep mengenal faktor dari suatu bilangan. Misal, faktor dari 12 adalah 1,2,3,4,6, dan Mencari faktor suatu bilangan (dimantapkan dengan mencongak; soal yang mudah dan sederhana).dapat dipahami oleh siswa jika siswa terlibat aktif dalam
Media Prestasi Vol. XVII No.1 Juni 2016 /ISSN 1979 - 9225 92 pembelajaran melalui tahap-tahap
konkret, semi konkret/semi abstrak, dan abstrak. Pembelajaran yang berorientasi pada konstruktivisme nampak melibatkan siswa baik secara intelektual maupun emosional.
Suasana pembelajaran yang kondusif ternyata sangat membantu siswa dalam belajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Berdasarkan hasil penerapan tindakan tersebut tampak adanya peningkatan prestasi belajar siswa.
Peningkatan tersebut selengkapnya dipaparkan dalam tabel di bawah ini.
Tabel 1. Peningkatan Prestasi Belajar Siswa
No Interval Ketercapaian Siklus
I Siklus
II Siklus
1 50-59 5 1 III 0
2 60-69 4 5 2
3 70-79 12 15 15
4 80-89 0 0 2
5 90-100 0 0 2
Jumlah 21 21 21
Dari tabel 1 di atas maka dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar siswa pada siklus I, siklus II dan siklus III mengalami kenaikan yang diindikasikan (1) ketuntasan mengalami kenaikan yakni jika siklus I sebesar 69% pada siklus II meningkat menjadi 79% dan pada siklus III
meningkat menjadi 93%, (2) angka ketidaktuntasan mengalami penurunan yakni jika siklus I angka ketidaktuntasan sebesar 31% menurun menjadi 21% pada siklus II dan menurun menjadi 7% pada siklus III (3) rata-rata secara klasikal juga mengalami kenaikan yakni jika siklus I rata-rata sebesar 64 kemudian pada siklus II meningkat menjadi 68 dan pada siklus II meningkat menjadi 74..
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil-hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang berorientasi pada konstruktisvisme ternyata dapat membuat siswa antusias dan termotivasi dalam belajar matematika sehingga siswa terlibat baik secara intelektual maupun emosional. Selain itu telah terjadi peningkatan hasil belajar, yang diindikasikan (a) ketuntasan mengalami kenaikan (b) angka ketidaktuntasan mengalami penurunan, dan (c) rata-rata secara klasikal juga mengalami kenaikan yakni jika siklus I rata-rata sebesar 64 kemudian pada siklus II meningkat menjadi 68 dan pada siklus II meningkat menjadi 74.
Media Prestasi Vol. XVII No.1 Juni 2016 /ISSN 1979 - 9225 93 Dengan demikian pendekatan
konstruktivistik benar-benar mampu meningkatkan prestasi belajar siswa SARAN
Penelitian ini sebaiknya dilakukan secara terus menerus minimal selama 1 (satu) semester sehingga dapat diketahui apakah pendekatan konstruktivisme dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran lebih menyeluruh.
DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, Suharsiwi, 1989, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta, Bina Aksara.
Depdikbud. 1993. Kurikulum 1994 Sekolah Dasar. Jakarta:
Depdikbud.
Depdikbud. 1995. Petunjuk Pengajaran Berhitung Kelas I, II, III di SD. Jakarta: Depdikbud.
Hudojo, H. 4 April 1998.
Pembelajaran Matematika
Menurut Pandangan
Konstruktisvisme. Makalah disajikan pada Seminar Nasional
Upaya-Upaya Meningkatkan Peran Pendidikan Matematika dalam Menghadapi Era Globalisasi, Program Pasca Sarjana, IKIP Malang, Malang.
Ruseffendi, E.T. 1982. Dasar-Dasar Matematika Modern untuk Guru.
Edisi 3. Bandung: Tarsito.
Santyasa, dkk. 2000 Penerapan Kaidah-kaidah konstrukvistik Dalam Pembelajaran Fisika Dasar. Makalah disampaikan dalam Seminar dan Diskusi Panel
Nasional Teknologi
Pembelajaran V di UM tanggal 7 Oktober 2000.
Slamento. 1988. Belajar dan faktor- faktor yang mempengaruhinya.
Bina Aksara
Soedjadi. 2000. “Nuansa Kurikulum Matematika Sekolah Di Indonesia”. Dalam Majalah Ilmiah Himpunan Matematika Indonesia (Prosiding Konperensi Nasional Matematika X ITB, 17-20 Juli 2000)
Suparno, Paul. 1997 Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.