BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bangkitan dan Tarikan Pergerakan (Tamin, 2000)
Bangkitan pergerakan adalah tahapan pemodelan yang memperkirakan jumlah pergerakan yang berasal dari suatu zona atau tata guna lahan dan jumlah pergerakan yang tertarik ke suatu zona atau tata guna lahan. Pergerakan lalu lintas merupakan fungsi tata guna lahan yang menghasilkan pergerakan lalu lintas.
Bangkitan pergerakan lalu lintas mencakup dua hal, yaitu lalu lintas yang meninggalkan suatu lokasi (trip production) dan lalu lintas yang menuju atau tiba ke suatu lokasi (trip attraction). Bangkitan lalu lintas dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 2.1 Bangkitan dan tarikan pergerakan
Hasil keluaran dari perhitungan bangkitan lalu lintas dan tarikan lalu lintas berupa jumlah kendaraan, orang, atau angkutan barang per satuan waktu.
2.2 Perparkiran
Parkir adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan yang tidak bersifat sementara. Penyelenggaraan fasilitas parkir adalah suatu metode perencanaan dalam menyelenggarakan fasilitas parkir kendaraan, baik di badan jalan maupun di luar badan jalan (Dirjend hubdat, 1996). Fasilitas parkir merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sistem transportasi apapun. Lalu lintas berjalan menuju suatu tempat dan setelah mencapai tempat tersebut kendaraan harus diparkir. Sementara pengendaranya melakukan beberapa urusan.
Parkir merupakan suatu kebutuhan bagi setiap pemilik kendaraan dan mereka menginginkan parkir yang mudah untuk dicapai. Kekurangan dalam hal penyediaan fasilitas parkir yang memadai sesuai dengan permintaan yang diharapkan dan diizinkan dapat menyebabkan kemacetan dan frustasi. Jika
j i
Pergerakan lalu lintas dari zona i
Pergerakan lalu lintas menuju ke zona j
alternatif dan fasilitas parkir tidak disediakan, maka keadaan ini akan menyebabkan penurunan kepentingan dan nilai daerah tersebut yang pada saat itu dianggap paling diinginkan untuk kegiatan bisnis dalam sebuah kota oleh penduduknya Pada umumnya kenaikan kepemilikan kendaraan akan menimbulkan peningkatan permintaan parkir. Fasilitas parkir dapat dibagi menjadi dua yaitu parkir di badan jalan dan parkir di luar badan jalan (Hobbs, 1995).
2.2.1 Parkir di jalan (on-street parking)
Tempat yang paling jelas dan biasanya paling cocok bagi pengemudi untuk memarkir kendaraannya adalah di tepi jalan. Namun parkir jenis ini mempunyai beberapa kerugian, yaitu terhambatnya lalu lintas di sepanjang jalan yang berpotensi menimbulkan kemacetan dan kelambatan pada seluruh kendaraan, serta penurunan kapasitas jalan. Meskipun terdapat kerugian, namun beberapa parkir di tepi jalan masih diperlukan dan bila keadaan jalan memungkinkan.
2.2.2 Parkir di luar jalan
Ketika fasilitas parkir di tepi jalan sudah tidak memenuhi permintaan lagi, maka diperlukan fasilitas parkir di luar jalan (off-street parking) untuk menambah kapasitas parkir. Tempat parkir di luar jalan secara umum dapat digolongkan menjadi enam macam, yaitu: (a) pelataran parkir di permukaan tanah, (b) garasi bertingkat, (c) garasi bawah tanah,(d) gabungan, (e) garasi mekanis, dan (f) drive-in.
Pedoman perancangan untuk bangunan parkir dan tempat parkir di permukaan tanah didasarkan pada ukuran kendaraan saat ini, sebagaimana diindikasikan bahwa ukuran mobil tidak berubah secara radikal.
2.3 Survei-survei perparkiran
Survei dilakukan untuk memperoleh data aktual yang terjadi di lapangan.
Ofyar Z Tamin (2000) dalam Perencanaan dan Pemodelan Transportasi menjelaskan bahwa survei dilakukan untuk inventarisasi dan kebutuhan parkir yang meliputi lokasi, kapasitas tampung parkir, waktu pengendalian, tempat larangan dan pembatasan parkir, tarif parkir, dimensi celukan, tujuan parkir, durasi parkir, akumulasi parkir, laju pergantian parkir, indeks parkir, dan jarak berjalan kaki.
Survei perparkiran dibedakan menjadi 3 macam, yaitu survei cordon, survei dengan wawancara langsung, dan survei patroli (Hobbs, 1995).
2.3.1 Penghitungan di tapal batas daerah perencanaan (cordon count) Daerah perencanaan yang akan disurvei dikelilingi oleh pos-pos pengawasan. Pada tiap pos, dilakukan penghitungan terpisah antara kendaraan yang masuk dan yang keluar, per jam atau per periode waktu yang lebih pendek.
Penjumlahan secara aljabar semua kendaraan yang masuk dan yang keluar menghasilkan akumulasi seluruh kendaraan pada area tersebut. Akumulasi ini menunjukkan jumlah kendaraan yang diparkir dan yang berjalan pada area tersebut, dan jumlah ini merupakan ukuran fasilitas parkir yang dibutuhkan.
2.3.2 Wawancara langsung
Pengendara kendaraan yang berparkir pada daerah studi diwawancarai tentang asal dan tujuan perjalananya serta maksud melakukan parkir. Informasi dan informasi lama waktu parkir, memungkinkan perumusan karakteristik parkir utama.
Wilayah survei dibagi menjadi beberapa bagian yang ukuran tiap bagian ditetapkan sedemikian hingga area tersebut dapat diliput dalam satu hari oleh tim pewawancara. Hal-hal yang dicatat oleh pewawancara meliputi:
1. Nomor plat kendaraan.
2. Jenis kendaraan.
3. Sifat parkir.
4. Waktu kendaraan berhenti untuk parkir.
5. Waktu kendaraan meninggalkan tempat parkir.
6. Tempat berhenti paling akhir sebelum menuju ke tempat parkir.
7. Tempat tujuan pengemudi setelah meninggalkan kendaraannya.
8. Maksud pengemudi memarkir kendaraanya.
2.3.3 Survei cara patroli
Wilayah studi dibagi menjadi beberapa wilayah dengan ukuran sedemikian hingga dapat melakukan patroli setiap setengah jam, sejam atau interval waktu yang memadai. Pada tiap kali patroli, dihitung jumlah kendaraan yang berparkir di tiap bagian wilayah studi, dengan demikian dapat diperoleh jumlah akumulasi
Pemilihan interval perjalanan yang memadai tergantung dari waktu, uang dan tenaga yang tersedia untuk pelaksanaan survei, serta karakteristik kendaraan parkir. Setiap kendaraan parkir dan kemudian segera berangkat kembali diantara waktu kedatangan pengamat tidak akan tercatat dalam survei, dan interval pengamatan yang panjang. Meskipun menghemat waktu survei dan analisisnya, akan berakibat terabaikannya parkir-parkir yang singkat waktunya.
2.4 Penentuan Satuan Ruang Parkir (SRP) (Dirjend hubdat, 1996)
Satuan ruang parkir (SRP) adalah ukuran luas efektif untuk meletakkan kendaraan (mobil penumpang, bus/truk, atau sepeda motor), termasuk ruang bebas dan lebar buka pintu. Satuan ruang parkir digunakan sebagai dasar dalam menentukan kebutuhan ruang parkir. Penentuan ruang parkir tidak terlepas dari pertimbangan-pertimbangan hal sebagai berikut:
• Dimensi standar untuk mobil penumpang
• Ruang bebas untuk kendaraan parkir
• Lebar bukaan pintu kendaraan
Lebar bukaan pintu merupakan fungsi karakteristik pemakai kendaraan yang memanfaatkan fasilitas parkir. Tabel berikut menunjukkan karakteristik pengguna parkir dengan lebar bukaan pintu yang dibutuhkan untuk penentuan satuan ruang parkir.
Tabel 2.1 Lebar bukaan pintu kendaraan
Jenis Bukaan Pintu Pengguna dan/atau peruntukan Fasilitas Parkir
Gol Pintu depan/belakang
terbuka tahap awal 55cm
• Karyawan/pekerja kantor
• Tamu/pengunjung pusat kegiatan perkantoran, perdagangan, pemerintahan, universitas
I
Pintu depan/belakang terbuka penuh 75 cm
• Pengunjung tempat olahraga, pusat
hiburan/rekreasi, hotel, pusat perdagangan
eceran/swalayan, rumah sakit, bioskop
II
Pintu depan terbuka penuh dan ditambah untuk pergerakan kursi roda
Orang cacat
III
Berdasarkan tabel di atas, penentuan satuan ruang parkir dibagi atas tiga jenis kendaraan dan berdasarkan penentuan SRP untuk mobil penumpang diklasifikasikan menjadi tiga golongan:
Tabel 2.2 Satuan Ruang Parkir (Petak parkir)
Jenis Kendaraan Satuan Ruang Parkir (m2) 1. a. Mobil penumpang untuk golongan I
b. Mobil penumpang untuk golongan II c. Mobil penumpang untuk golongan III 2. Bus/truk
3. Sepeda motor
2,30 x 5,00 2,50 x 5,00 3,00 x 5,00 3,40 x 12,50
0,75 x 2,00
Sumber: Dirjend hubdat, 1996
Satuan ruang parkir atau petak parkir untuk mobil penumpang dapat dilihat pada gambar 2.2 di bawah ini yang selanjutnya menjadi dasar penentuan satuan ruang parkir untuk mobil penumpang dan mobil barang.
Sumber: Dirjend hubdat, 1996
Gambar 2.2 Satuan ruang parkir untuk mobil penumpang (dalam cm) Keterangan :
B = lebar total kendaraan L = panjang total kendaraan
O = lebar bukaan pintu a1, a2 = jarak bebas arah longitudinal R = jarak bebas arah lateral
Gol I : B = 170 a1 = 10 Bp = 230 = B + O + R O = 55 L = 470 Lp = 500 = L + a1 + a2 R = 5 a2 = 20
Gol II : B = 170 a1 = 10 Bp = 250 = B + O + R O = 75 L = 470 Lp = 500 = L + a1 + a2 R = 5 a2 = 20
Gol III : B = 170 a1 = 10 Bp = 300 = B + O + R O = 80 L = 470 Lp = 500 = L + a1 + a2 R = 50 a2 = 20
Penentuan satuan ruang parkir untuk sepeda motor adalah 0.75 x 2 m2 sesuai dengan gambar 2.3 di bawah ini.
Sumber: Dirjend hubdat, 1996
Gambar 2.3 Satuan ruang parkir untuk sepeda motor (dalam cm) 2.5 Pola parkir
Idealnya, kawasan parkir di luar jalan sebaiknya ditempatkan pada titik tengah dari tempat-tempat tujuan yang diminati oleh para pemarkir. Jalan masuk atau keluar kendaraan dari lokasi parkir paling cocok ditempatkan pada jalan satu arah, sebab hal ini akan memudahkan gerakan lalu lintas dan menghilangkan keinginan untuk memotong arus lalu lintas utama.
Pola parkir yang ada saat ini adalah pola parkir paralel dan pola parkir menyudut. Pola parkir parkir paralel terjadi ketika pemarkir memarkir kendaraannya sejajar dengan jalan. Parkir menyudut terjadi ketika kendaraan yang diparkir membentuk sudut tertentu dengan jalan. Adapun besar sudut yang diatur dalam pedoman teknik penyelenggaraan fasilitas parkir oleh direktorat jenderal perhubungan darat adalah 30o, 45o, 60o, dan 90o. Gambar 2.4 dan 2.5 akan memperjelas perbedaan antara pola parkir paralel dan pola parkir menyudut.
Sumber: Dirjend hubdat, 1996
Gambar 2.4 Pola parkir paralel
Sumber: Dirjend hubdat, 1996
Gambar 2.5 Pola parkir menyudut
Adapun pola parkir mobil menyudut dapat terjadi apabila memenuhi kriteria seperti yang disebutkan tabel 2.3 berikut ini.
Tabel 2.3 Kriteria untuk pola parkir menyudut Kriteria Parkir Sudut Parkir
(no)
Lebar Ruang Parkir A
(m)
Ruang Parkir Efektif D
(m)
Ruang Manuver M
(m)
D + M (E) (m) 0
30 45 60 90
2,3 2,5 2,5 2,5 2,5
2,3 4,5 5,1 5,3 5,0
3,0 2,9 3,7 4,6 5,8
5,3 7,4 8,8 9,9 10,8
Sumber: Dirjend hubdat, 1996
A = lebar ruang parkir (m) D = ruang parkir efektif (m) M = ruang manuver (m)
2.6 Survei Fasilitas Parkir yang Ada
Survei parkir memberikan informasi mengenai sebagian atau seluruh karakteristik parkir.
2.6.1 Pengukuran Parkir (Hobbs, 1995)
Karakteristik-karakteristik perparkiran yang digunakan dalam survei adalah:
i. Durasi rata-rata
Lama waktu parkir atau durasi parkir adalah lama waktu yang dihabiskan oleh pengguna jasa parkir pada ruang parkir. Durasi parkir dapat diketahui dengan cara mengurangkan waktu kedatangan kendaraan di lokasi parkir dengan waktu kendaraan meninggalkan lokasi parkir.
Berdasarkan perhitungan durasi parkir dapat diketahui rata-rata lama penggunaan ruang parkir oleh pemarkir. Durasi ini mengindikasikan apakah diperlukan suatu pembatasan waktu parkir atau tidak.
Tabel 2.4 memperlihatkan pengaruh maksud perjalanan dan ukuran kota terhadap lama (durasi) parkir. Lama parkir meningkat seiring dengan peningkatan ukuran kota. Hal ini dapat dijelaskan bahwa kemudahan untuk berbelanja dan melakukan bisnis yang dibatasi kebebasan parkirnya, menuntut pengemudi untuk memarkir kendaraan jauh dari tempat tujuannya dan mendorong pengemudi untuk melakukan kegiatan lainnya sebelum meninggalkan tempat tersebut dan sebelum parkir di tempat yang lain.
Sebaliknya pada kota yang kecil, kendaraan dapat diparkir berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain dengan leluasa. Lebih lanjut, pada kota kecil, kemungkinan bahwa perjalanan menuju pusat kota hanya sedikit, membutuhkan waktu sebentar, dan beberapa perjalanan dilakukan pada siang hari pada waktu yang tidak sama dan sebentar. Peningkatan durasi parkir pekerja di kota yang lebih besar mungkin sekali terjadi karena kecenderungan untuk memarkir kendaraan sepanjang hari dari pada meninggalkan kawasan tersebut untuk makan siang sebagaimana terjadi pada kota-kota kecil.
Tabel 2.4 Lama waktu parkir
Lama waktu parkir dalam jam Jumlah
penduduk (ribuan jiwa)
Belanja dan bisnis
Bekerja Lain-lain Semua maksud
<50 50 s/d 250 250 s/d 500
>500
0,6 0,9 1,2 1,5
3,3 3,8 4,8 5,2
0,9 1,1 1,4 1,6
1,2 1,5 1,9 2,6
Sumber: Hobbs, 1995
ii. Akumulasi parkir
Akumulasi parkir merupakan jumlah kendaraan yang diparkir di suatu tempat pada waktu tertentu dan dapat dibagi sesuai dengan kategori jenis maksud perjalanan. Berdasarkan hasil yang diperoleh, selanjutnya dibuat grafik yang menunjukkan jumlah kendaraan parkir dalam satuan jam kendaraan selama waktu tertentu. Grafik ini dikenal dengan nama kurva akumulasi parkir. Kurva tersebut menunjukkan integrasi beban parkir dalam satuan periode tertentu sehingga dapat diketahui jam-jam puncak (peak time) parkir serta rata-rata akumulasinya. Perbandingan akumulasi antara akumulasi pada jam-jam puncak dengan akumulasi rata-rata menunjukkan efisiensi fasilitas yang terpakai.
iii. Volume parkir
Volume parkir menyatakan jumlah kendaraan yang termasuk dalam beban parkir (yaitu jumlah kendaraan per periode waktu tertentu, biasanya per hari). Hasil dari perhitungan volume parkir dapat digunakan sebagai petunjuk apakah ruang parkir yang tersedia dapat memenuhi kebutuhan parkir kendaraan atau tidak. Berdasarkan volume parkir tersebut maka dapat direncanakan besarnya ruang parkir yang diperlukan apabila dibutuhkan pembangunan areal parkir baru.
iv. Indeks parkir
Indeks parkir adalah prosentase jumlah parkir yang ditempati oleh kendaraan parkir dengan jumlah ruang parkir yang tersedia. Berdasarkan indeks parkir ini dapat diketahui tingkat pemenuhan kebutuhan parkir oleh fasilitas parkir yang tersedia. Semakin besar prosentase indeks parkir
menunjukkan semakin rendahnya tingkat pemenuhan kebutuhan parkir.
Apabila indeks parkir mencapai lebih dari 100%, berarti dapat dikatakan areal parkir yang tersedia sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan parkir yang ada sehingga dapat dibuat perencanaan untuk menambah ruang parkir baru atau mengalihkannya pada area parkir yang lain.
v. Pergantian parkir (parking turnover)
Parking turnover menunjukkan tingkat penggunaan ruang parkir, dan diperoleh dengan membagi volume parkir dengan luas ruang parkir untuk periode waktu tertentu. Perhitungan parking turnover dapat menunjukkan kapan ruang parkir penuh atau sibuk dan kapan waktu longgar. Ketika waktu-waktu tersebut telah diketahui maka dapat ditentukan perencanaan pemberlakuan pembatasan waktu parkir serta pemberlakuan perbedaan tarif parkir. Perlakuan tersebut dapat dilakukan pada saat peak time dengan membatasi waktu parkir dan atau memperbesar tarif parkir.
2.6.2 Kebutuhan Petak Parkir
Menurut Yosi Alwinda dkk (2001) dalam Karakteristik Bangkitan Perjalanan dan Kebutuhan Parkir Kendaraan Pada Satu Tataguna Lahan Campuran, jumlah satuan ruang parkir yang dibutuhkan dapat diketahui dengan menggunakan rumus Lautso yaitu dengan mengalikan rata-rata kedatangan kendaraan dan durasi parkir rata-rata yang terjadi di suatu lokasi parkir.
2.6.3 Taksiran Pendapatan
Sesuai dengan buku Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Parkir yang diterbitkan oleh Dirjend Perhubungan Darat, taksiran pendapatan per hari yang diperoleh dapat dihitung dengan mengalikan volume parkir yang terjadi dengan tarif parkir yang berlaku. Sedangkan untuk lokasi yang menerapkan tarif progresif, taksiran pendapatan per hari dapat dihitung dengan cara mengalikan tarif parkir yang berlaku tiap jamnya dengan jumlah kendaraan parkir dengan durasi parkir tertentu. Masing-masing rumus taksiran pendapatan dikalikan dengan faktor penggunaan yang telah ditetapkan oleh Dirjend Perhubungan Darat sebedar 0,9.
2.6.4 Jarak berjalan kaki
Kadang-kadang keadaan memungkinkan pengemudi untuk dapat memarkir kendaraan dekat dengan tempat tujuannya di pusat kota. Biasanya, pengendara harus berjalan dari tempat parkir dan kadang-kadang harus sengaja memilih berjalan untuk menghemat tarif parkir, yang lebih dekat pusat kota, lebih tinggi. Namun, ada jarak batas yang sebagian besar pengemudi bersedia untuk memarkir kendaraannya. Dalam bukunya yang berjudul “Perencanaan dan Teknik Lalu lintas”, F. D. Hobbs menyatakan bahwa pada kota kecil, 90% kendaraan diparkir kurang dari 185 m (600 ft) dari tempat tujuannya, sedangkan pada kota besar hanya 66% kendaraan yang parkir sangat berdekatan dengan tujuannya.
Diketahui pula, semakin lama seseorang akan memarkir kendaraanya, semakin jauh pula ia bersedia untuk berjalan kaki.
Secara ideal lokasi parkir yang dibutuhkan harus dibangun tidak terlalu jauh dari tempat yang ingin dituju oleh pemarkir, kurang lebih 300-400 m adalah jarak parkir yang pada umumnya masih dianggap dekat. Bila lebih dari jarak tersebut maka pemarkir akan mencari alternatif tempat parkir lain agar jarak yang ditempuh ke tempat tujuan lebih dekat (Suwardjoko, 1998).
2.7 Manajemen Parkir
Bila permintaan terhadap parkir meningkat dan tidak mungkin untuk memenuhinya maka perlu untuk mempertimbangkan penerapan suatu kebijaksanaan parkir untuk mengendalikannya (Dirjend hubdat, 1998).
Pengendalian parkir di jalan maupun di luar jalan merupakan hal yang paling penting untuk mengendalikan lalu lintas agar kemacetan, polusi, dan kebisingan dapat ditekan sehingga dapat meningkatkan kualitas lingkungan. Pengendalian dapat pula mendistribusikan ruang parkir lebih adil diantara pemakai dan dapat memberikan pengaruh yang penting pada kebijaksanaan transportasi dan pemilihan moda transport. Pemilihan cara pengendalian parkir di jalan didasarkan pada pembatasan waktu dan lokasi serta dipengaruhi oleh peraturan-peraturan, dan sistem pembayaran parkir (Hobbs, 1995). Faktor-faktor yang mempengaruhi metode tersebut didasari oleh biaya petugas, pelaksanaan, dan biaya perbaikan selanjutnya, pengaruh lingkungan (tanda-tanda, marka, dan sebagainya), kebutuhan bagi kendaraan pelayanan niaga dan umum dan bagi penduduk
setempat. Pendapatan daerah, pembatasan lalu lintas, pelaksanaan pengendalian harga, waktu atau hari pelaksanaan merupakan pertimbangan lebih lanjut.
Manajemen parkir adalah istilah umum dari satu atau lebih strategi pemanfaatan lahan parkir dengan lebih efisien (Atlanta Regional Comission, 2003). Manajemen parkir timbul karena banyaknya pengembangan kebijakan yang tidak mencerminkan kebutuhan aktual dalam masyarakat. Manajemen parkir digunakan untuk tujuan ekonomis, perlindungan lingkungan, dan perancangan komunitas. Dalam konteks ini manajemen parkir dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai macam kebijakan atau peraturan untuk:
a. Mempengaruhi permintaan parkir.
b. Mengoptimalkan utilitas dari ketersediaan fasilitas parkir.
Fasilitas parkir adalah lokasi yang ditentukan sebagai tempat pemberhentian kendaraan yang tidak bersifat sementara untuk melakukan kegiatan pada suatu kurun waktu (Dirjend hubdat, 1996). Tabel 2.5 menunjukkan masalah-masalah umum perparkiran dan strategi-strategi potensial untuk mengatasinya.
Tabel 2.5 Permasalahan parkir dan strategi potensial Masalah perparkiran Strategi
Ketersediaan fasilitas parkir yang terbatas, harga yang mahal
Penyediaan fasilitas parkir,
Transportation Demand Management Informasi yang kurang Pembuatan tanda-tanda, brosur, dan
informasi lain yang memberitahukan ketersediaan fasilitas parkir dan tarif Tidak ada pilihan bagi
konsumen pengguna parkir
Meningkatkan kenyamanan parkir dan penentuan tarif yang layak bagi konsumen
Harga yang tidak cocok Mengembangkan sistem pembayaran yang nyaman dan penentuan pemilihan waktu
Pemanfaatan kapasitas parkir yang tidak efisien
Membagi fasilitas parkir, menerapkan manajemen transport dan permintaan parkir. Tarif parkir. Penyediaan fasilitas alur parkir.
Penggunaan kendaraan yang berlebihan dan parkir berlebih
Memperbaiki aksesibilitas dan pilihan moda transport. Program manajemen transport dan permintaan parkir.
Tidak tercukupinya parkir karena masalah dari lokasi lain
Menggunakan strategi manajemen untuk menanggapi permasalahan.
Memperketat pelaksanaan peraturan parkir
Sumber: Atlanta Regional Comission, 2003
2.7.1 Keuntungan Manajemen Parkir
Beberapa keuntungan yang dapat diambil dari penerapan manajemen parkir yang efektif menurut Atlanta Regional Comission (2003) dalam Parking Management yaitu:
1. Pemanfaatan lahan dengan lebih efisien.
Lot parkir, secara kumulatif mempengaruhi perkembangan ekonomi lokal, dengan menggunakan properti yang dapat memberikan keuntungan lebih seperti perumahan, parkir, retail dan layanan masyarakat.
2. Meningkatkan kualitas udara.
Fasilitas parkir gratis akan mendorong adanya lebih banyak tarikan lalu lintas yang akan menurunkan kualitas udara. Di sisi lain, manajemen parkir dapat menyediakan kesempatan untuk parkir di lokasi pusat, dimana orang dapat berjalan ke berbagai tujuan sehingga mengurangi pemakaian kendaraan.
3. Mendorong adanya moda transportasi alternatif lain.
Pengelolaan parkir dapat mendorong terhadap munculnya jenis moda transportasi lain.
4. Memberikan keadilan terhadap tarif penggunaan ruang parkir.
Sistem perparkiran konvensional umumnya tidak mempertimbangkan kepentingan transit, atau waktu keseharian dimana ada kebutuhan yang berbeda terhadap ruang parkir. Peraturan biasanya ditetapkan untuk memenuhi kebutuhan parkir pada waktu sibuk. Sebagai hasilnya, di Amerika banyak sekali terdapat fasilitas parkir gratis. Secara umum tarif parkir adalah satu paket dengan biaya pengembangan. Hal ini akan meningkatkan harga sebagian besar produk dan pelayanan yang dijual di daerah yang menawarkan parkir gratis. Masyarakat dapat menggunakan strategi pasar dalam menentukan tarif parkir yang cocok dengan fasilitas parkir yang mereka pakai. Michael Kodama yang merupakan presiden konsultan perencanaan Michael R Kodama mengatakan bahwa hal penting yang perlu dicatat adalah:
• Aktifitas dan fasilitas parkir tidaklah gratis.
• Manajemen parkir diciptakan berdasar pada teori supply dan demand.
• Manajemen parkir adalah problem solving tool.
2.7.2 Perencanaan Manajemen Parkir
Penerapan manajemen parkir diawali dengan beberapa studi. Tujuan dari studi tersebut harus terlebih dahulu ditetapkan terhadap permasalahan apa yang akan diselesaikan, pilihan dan sumber daya apa yang tersedia, dan strategi apa yang dapat diterima oleh masyarakat (Atlanta Regional Comission, 2003). Studi ini akan membantu untuk memfokuskan usaha-usaha penanggulangan pada permasalahan parkir. Studi ini harus memasukkan analisis kondisi parkir yang terjadi, dengan meramalkan permintaan parkir pada masa mendatang, evaluasi berbagai macam strategi, dan juga cara-cara untuk meningkatkan efisiensi dari fasilitas parkir yang tersedia.
Peraturan yang dibuat memiliki kewenangan yang sangat besar terhadap penanganan parkir. Pendekatan-pendekatan manajemen parkir berikut telah sukses diterapkan di banyak komunitas masyarakat.
a. Pengembangan tarif untuk mengurangi kebutuhan ruang parkir.
b. Teknik-teknik untuk memaksimalkan nilai ruang parkir yang tersedia Beberapa hal yang harus dilakukan dalam studi ini adalah:
• Survei inventory dari semua ruang parkir on dan off-street yang diteliti.
• Survei tarif parkir yang berlaku.
• Perhitungan jam sibuk dan longgar (peak and off peak time).
• Estimasi durasi jangka pendek dan jangka panjang.
• Pendataan jumlah lantai dan jenis kendaraan yang diijinkan untuk parkir.
• Analisis lalu lintas dan dampak parkir on dan off-street.
• Tingkat utilisasi ruang parkir yang tersedia.
Beberapa strategi manajemen parkir yang dapat dipertimbangkan menurut Centralina Council Government dan Catawba Regional Council of Governments, 2003 adalah:
• Mengurangi persyaratan minimum parkir dan membebani kendaraan yang mempunyai durasi parkir jangka panjang.
• Menyediakan lebih banyak fasilitas parkir on-street.
• Pembatasan terhadap durasi parkir on-street berjangka panjang
• Melarang kendaraan berukuran besar untuk parkir di lokasi on-street untuk
• Penerapan parkir bersama (shared parking) antar sesama lokasi parkir yang berdekatan.
• Pemanfaatan daerah-daerah yang belum termanfaatkan(sudut tempat parkir, daerah kosong)
• Memperbaiki perencanaan parkir. Parkir yang mahal sering dirancang untuk menghadapi permintaan parkir pada waktu sibuk (peak time) yang biasa terjadi pada hari-hari khusus atau hari libur.
• Membangun fasilitas parkir sepeda.
Di dalam buku pedoman perencanaan dan pengoperasian parkir yang diterbitkan Direktorat Bina Sistem Lalu Lintas Angkutan Kota, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, dijelaskan bahwa saat ini berbagai instrumen kebijaksanaan yang tersedia bagi pemerintah, yang dapat digunakan untuk mempengaruhi penyelenggaraan parkir, atau memecahkan masalah parkir, dalam rangka mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan. Instrumen-instrumen kebijaksanaan parkir ditunjukkan dalam tabel 2.6 berikut:
Tabel 2.6 Instrumen kebijaksanaan parkir menurut Direktorat Jenderal Perhubungan Darat
Kebijaksanaan On-street Off-street
Kebijaksanaan tarif parkir
• Peningkatan tarif
• Penggunaan meter parkir
• Izin penggunaan
• Pajak terhadap penyediaan ruang parkir
• Struktur tarif untuk mempengaruhi minat pemarkir lama untuk parkir
Kebijaksanaan pembatasan
• Melarang parkir
• Melarang parkir dengan pengecualian kepada penghuni
• Relokasi tempat parkir
• Membekukan
pembangunan tempat parkir baru
• Mengurangi ruang parkir yang ada
• Mengendalikan parkir di masa mendatang
• Variasi waktu buka ruang parkir
• Relokasi tempat parkir
Sumber: Dirjend hubdat, 1998
Masalah yang timbul dalam penggunaan instrumen-instrumen tersebut adalah instrumen mana yang harus digunakan untuk mencapai suatu tujuan.
Pemilihan instrumen yang akan digunakan tergantung masalah apa yang dihadapi, tujuan apa yang ingin dicapai, dampak-dampak apa yang mungkin timbul dan sebagainya.
Dalam penerapan berbagai instrumen, kadang-kadang dijumpai bahwa untuk pemecahan suatu masalah atau untuk mencapai suatu tujuan, tidak cukup hanya diterapkan satu instrumen. Untuk mencapai suatu tujuan mungkin perlu diterapkan beberapa instrumen kebijaksanaan sekaligus.
2.7.3 Pengendalian Waktu
Jika tidak ada batas waktu lama parkir, maka kendaraan dapat diparkir di tepi jalan yang mempunyai permintaan tinggi dengan banyak ruang parkir yang dihabiskan oleh pemarkir kendaraan berjangka waktu lama yang seharusnya dapat ditempati lebih banyak kendaraan parkir berjangka pendek. Pada umumnya, parkir berjangka pendeklah yang seringkali memberi sumbangan lebih banyak terhadap pendapatan daerah tersebut. Parkir lama biasanya dilakukan oleh pekerja sedangkan parkir jangka pendek biasanya dilakukan oleh para pembeli atau langganan bisnis kawasan tersebut dan jika tidak terdapat tempat parkir yang memuaskan maka mereka akan mencari tempat parkir lainnya yang lebih memuaskan (Hobbs, 1995).
Batas waktu pada dasarnya ditentukan tergantung pada keseimbangan antara penawaran dan permintaan yang ada (Dirjend hubdat, 1998). Demi ketertiban yang diusahakan supaya pemarkir yang lama agar parkir di tempat yang jauh, jika mungkin mereka harus parkir pada daerah parkir di luar jalan, sedangkan parkir di jalan hanya untuk pemarkir yang tidak lama. Karakteristik-karakteristik dasar yang mengindikasikan kondisi tersebut di atas adalah:
• Tingginya angka pergantian parkir dan tingkat pemakaian ruang parkir pada batas waktu yang ada.
• Angka pergantian parkir rendah dan tingkat pemakaian tinggi di sekitar daerah yang tidak diterapkan batas waktu.
• Banyak kendaraan yang berlalu lalang untuk mencari ruang parkir.
Berdasarkan buku Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Parkir Dirjend perhubungan darat, petunjuk umum yang dapat digunakan untuk pembatasan waktu (lamanya) parkir adalah:
• Satu jam untuk daerah perkotaan.
• Dua jam untuk daerah pinggiran dan sekitarnya.
• 10-20 menit di daerah tertentu seperti misal Bank, kantor pos, dan sebagainya.
Dua faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan batas waktu lama parkir adalah sifat kegiatan bisnis kawasan sekitarnya dan ukuran kota. Kantor pos, bank, agen Koran, toko rokok, dan beberapa tipe kegiatan pembangkit parkir lainnya membutuhkan batas waktu 15 atau 20 menit. Sedangkan toko serba ada, ruang pamer kendaraan dan perabot serta lainnya membutuhkan jangka waktu yang lebih lama (Hobbs, 1995).
Menurut Bochner (1993) dalam Studi Sistem Perparkiran di Kodya Malang oleh Surjono dkk (1998), parkir untuk kegiatan belanja biasanya kurang dari 4 jam, serta lebih dari 4 jam untuk aktifitas parkir perkantoran, rekreasi, dan bongkar muat. Karakteristik utama lama waktu (durasi) parkir dapat dilihat pada tabel 2.4 (berdasar data Amerika).
2.7.4 Kebijaksanaan Tarif Parkir
Pertimbangan yang perlu diambil oleh pemerintah daerah dan retribusi parkir ini adalah bagaimana menetapkan tarif parkir yang paling tepat, tidak terlalu murah ataupun tidak terlalu mahal. Dengan menggunakan pendekatan ekonomi dapat ditetapkan tarif parkir yang paling optimal sehingga retribusi parkir ini dapat digunakan sebagai alat untuk mendapatkan pendapatan asli daerah tetapi juga sebagai alat untuk mengendalikan penggunaan kendaraan pribadi (Dirjend hubdat, 1998).
Di dalam penjelasan pasal 6 huruf c Peraturan Pemerintah No. 20 tahun 1997 tentang retribusi dikatakan bahwa tarif retribusi parkir di tepi jalan umum yang rawan kemacetan dapat ditetapkan lebih tinggi daripada di tepi jalan umum yang kurang rawan kemacetan dengan sasaran mengendalikan kelancaran lalu lintas. Selain itu juga dijelaskan bahwa dalam penetapan tarif retribusi jalan umum pada dasnya disesuaikan dengan peraturan perundangan yang berlaku mengenai jenis-jenis retribusi yang berhubungan dengan kepentingan nasional dan
memperhatikan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri dalam Negeri dan atau Menteri Teknis terkait, dalam hal ini Keputusan Menteri Perhubungan No. 66 Tahun 1993 tentang fasilitas parkir untuk umum dan Keputusan Menteri Perhubungan No. 4 tahun 1994 tentang tata cara parkir kendaraan bermotor di jalan.
Satuan biaya untuk fasilitas parkir dapat dihitung berdasarkan penggunaan fasilitas parkir per jam, per hari atau perjanjian penggunaan dalam jangka waktu tertentu. Besarnya biaya penyelenggaraan fasilitas parkir untuk umum dan pemungutan biaya terhadap penggunaan fasilitas parkir ditetapkan dengan Peraturan daerah yang bersangkutan.
Penetapan tarif parkir diterapkan untuk beberapa tujuan, antara lain untuk memaksimalkan retribusi parkir ataupun untuk mengurangi kegiatan parkir suatu daerah dalam kaitannya dengan pembatasan lalu lintas kendaraan pribadi. Parkir di luar jalan sangat efisien diterapkan di tempat-tempat yang tingkat kesibukannya relatif tinggi. Bagaimanapun lahan parkir di luar jalan mampu menangani permintaan dan harga lahan yang tinggi. Sebagaimana uraian di atas tentu saja menciptakan harga fasilitas parkir yang berbeda antara wilayah satu dengan yang lain. Hal mana disebabkan oleh perbedaan harga lahan yang berbeda pada masing- masing wilayah. Lahan merupakan salah satu komponen untuk menentukan harga fasilitas parkir, tetapi masih banyak komponen lain yang menyebabkan harga fasilitas parkir berbeda pada tiap-tiap wilayah (Dirjend hubdat, 1998).
Pemerintah sering menentukan suatu kebijaksanaan untuk mengatasi kemacetan dengan harga tarif yang tinggi bagi kendaraan yang akan dan sedang parkir di kawasan yang rawan kemacetan. Mungkin bagi pengguna jasa fasilitas parkir menganggap kebijaksanaan ini tidak wajar akan tetapi kebijaksanaan seperti ini lebih baik apabila kemacetan dibiarkan begitu saja tanpa suatu pemecahan.
2.7.5 Peraturan Daerah Kota Surakarta No. 6 Tahun 2004
Perda kota Surakarta No. 6 tahun 2004 berisi tentang aturan retribusi parkir di tepi jalan umum. Pada pasal 8 dijelaskan bahwa pengelola parkir mempunyai hak sebagai berikut:
a. Mengelola tempat lahan parkir yang ditentukan.
b. Memperoleh hasil pungutan retribusi yang telah dilakukan petugas parkir sebesar 20% dari potensi pendapatan parkir.
c. Mendapat perlindungan keamanan dari pemerintah terhadap kegiatan pengelolaan parkir ilegal/tidak resmi.
Sedangkan hak bagi petugas parkir tertuang dalam pasal 9 yaitu:
a. Memperoleh penghasilan sebesar 25% dari potensi pendapatan parkir.
b. Memungut retribusi parkir sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
c. Mendapat jaminan sosial dari pengelola parkir sesuai peraturan perundang- undangan yang berlaku.
d. Memperoleh pakaian seragam dan kelengkapannya.
Pengguna jasa parkir juga mempunyai hak-hak sesuai pasal 10 yaitu:
a. Memperoleh bukti pembayaran retribusi parkir.
b. Mendapat pelayanan yang baik dari petugas parkir.
c. Mendapat perlindungan keamanan.
d. Mendapat ganti rugi atas terjadinya kehilangan dan/ atau kerusakan yang dialami.
Selain hak-hak yang diperoleh, seorang pengelola parkir mempunyai kewajiban-kewajiban sebagaimana tertuang dalam pasal 11. kewajiban-kewajiban tersebut adalah:
a. Mematuhi dan mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b. Menjaga keamanan, ketertiban, keindahan dan kelancaran lalu lintas di kawasan lokasi parkir yang diusahakan.
c. Menempatkan papan nama parkir di tempat/lokasi usahanya menurut ketentuan yang ditetapkan walikota.
d. Menyerahkan hasil pungutan retribusi kepada walikota melalui dinas sebesar 40% dari jumlah potensi pendapatan parkir sesuai kontrak yang disepakati.
e. Memungut tarif retribusi sesuai ketentuan peraturan yang berlaku.
f. Memberikan seragam dan kelengkapannya kepada petugas parkir.
g. Mematuhi dan melaksanakan hubungan perburuhan/ketenagakerjaan sesuai peraturan perundang yang berlaku di bidang ketenagakerjaan.
h. Memberikan jaminan sosial dan hak-hak lainnya kepada pekerja atau petugas parkir sebesar 15% dari potensi pendapatan parkir.
i. Bertanggung jawab atas kehilangan kendaraan termasuk kelengkapannya karena kesengajaan atau kealpaan sesuai ketentuan peraturan perundang- undangan yang berlaku.
Para petugas parkir juga mempunyai beberapa kewajiban sebagaimana tertuang dalam pasal 12 yaitu:
a. Menyerahkan bukti retribusi parkir.
b. Memberikan pelayanan kepada pengguna jasa parkir dengan baik.
c. Memberikan perlindungan keamanan.
d. Bertanggung jawab atas kehilangan kendaraan termasuk kelengkapannya karena kesengajaan atau kealpaan sesuai dengan kesepakatan yang ditentukan.
e. Memenuhi ketentuan tarif retribusi yang berlaku.
Sedangkan kewajiban-kewajiban bagi pengguna jasa parkir tertuang dalam pasal 13. kewajiban-kewajiban tersebut adalah:
a. Mentaati pola parkir yang sudah ditetapkan dalam rambu-rambu dan pembatas parkir.
b. Membayar retribusi parkir.
Dalam pasal 20 dijelaskan besar retribusi parkir yang diterapkan di tepi jalan umum untuk wilayah kota Surakarta. Besarnya retribusi parkir adalah:
Tabel 2.7 Besar retribusi parkir yang berlaku di kota Surakarta No. Jenis Kendaraan Tarif sekali parkir
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Sepeda
Andong/Dokar Sepeda Motor Mobil Penumpang Bus/Truck sedang Bus/Truck besar
Rp. 300 Rp. 500 Rp. 500 Rp. 1000 Rp. 1500 Rp. 3000
Sumber: Perda kota Surakarta No. 6 tahun 2004
2.7.6 Peraturan Daerah Kota Surakarta No. 7 Tahun 2004
Perda kota Surakarta No. 7 tahun 2004 berisi tentang peraturan penyelenggaraan tempat parkir khusus. Dalam perda tersebut diatur tentang persyaratan lahan atau bangunan yang akan digunakan untuk fasilitas parkir. hal tersebut tertuang dalam pasal 4. Pembangunan fasilitas parkir yang dipergunakan untuk umum harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Apabila berupa gedung parkir, harus memenuhi persyaratan konstruksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b. Apabila berupa Taman Parkir/Pelataran, harus memiliki batas-batas tertentu.
c. Dalam gedung parkir, Taman Parkir maupun Pelataran diatur sirkulasi dan posisi parkir kendaraan yang dinyatakan dengan rambu lalu lintas atau marka jalan.
d. Setiap lokasi yang digunakan untuk parkir kendaraan diberi tanda berupa huruf atau angka yang memberikan kemudahan bagi pengguna jasa untuk menemukan kendaraannya.
Pasal 23 ayat 1 berisi tentang tarif retribusi parkir yang diterapkan di fasilitas parkir khusus. Tarif-tarif tersebut dapat ditunjukkan oleh tabel 2.8.
Tabel 2.8 Besar tarif retribusi fasilitas parkir khusus yang berlaku di Surakarta
Jenis Tempat Jenis Kendaraan Tarif sekali parkir a. Pelataran/
Lingkungan
Sepeda Motor
Mobil Penumpang/barang Bus/Truck sedang
Bus/Truck besar
Rp. 500 Rp. 1000 Rp. 2000 Rp. 3000 b. Taman Sepeda Motor
Mobil Penumpang/barang Bus/Truck sedang
Bus/Truck besar
Rp. 500 Rp. 1000 Rp. 3000 Rp. 5000 c. Gedung Sepeda Motor
Mobil Penumpang/barang Bus/Truck sedang
Bus/Truck besar
Rp. 1000 Rp. 2000 Rp. 4000 Rp. 5000
Sumber: Perda kota Surakarta No. 7 tahun 2004
Sedangkan pada ayat 2 dijelaskan bahwa tarif di atas berlaku hanya untuk satu kali parkir maksimum 2 (dua) jam. Lebih dari 2 (dua) jam, tiap 1 (satu) jam kelebihan dikenakan tarif tambahan 50% dari besarnya retribusi yang ditetapkan.
Kelebihan jam parkir kurang dari 1 (satu) jam dihitung 1 (satu) jam. Selanjutnya dalam ayat 3 dijelaskan bahwa tarif langganan parkir bulanan dikenakan sebesar
2.8 Penelitian-penelitian Tentang Perparkiran
Beberapa penelitian tentang perparkiran yang sebelumnya telah dilakukan dapat dilihat pada tabel 2.9.
Tabel 2.9 Penelitian-penelitian tentang perparkiran
Nama Peneliti Judul penelitian Keterangan Purwoko dan Nanang
Aryantono
Penentuan Lokasi Parkir Yang Efektif Dan Optimal Melalui Penerapan
Manajemen Parkir Yang Profesional (Studi Kasus Lokasi Parkir Jl. Raya Ciampelas Bandung)
Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif melalui perhitungan akumulasi, volume, durasi, indeks parkir dan parking turnover. Survei yang digunakan adalah survei patroli. Penilaian keefektifan lokasi parkir didasarkan pada nilai indeks parkir, semakin rendah nilai indeks parkir maka semakin tidak efektif lokasi parkir tersebut.
Surjono, A Wahid, dan Hem S
Studi Sistem Perparkiran Di Kodya Malang (Dengan Jalan Basuki Rahmat Sebagai Studi Kasus)
Tujuan studi ini adalah untuk mengevaluasi sistem perparkiran yang ada di pusat Kota Malang dan merumuskan sistem perparkiran yang lebih optimal melalui pendekatan penataan ruang, desain parkir, peraturan bangunan dan fungsi waktu (manajemen perparkiran). Variabel yang digunakan
adalah kebutuhan ruang parkir melalui pendekatan tata guna tanah, keadaan ruang parkir,
jumlah pemakai parkir, dan lama parkir.
Yosi Alwinda, ST. MT, Ir. Titi Liliani S, M.sc, dan
Ir. Sri Hendarto, M.Sc
Karakteristik Bangkitan Perjalanan Dan Kebutuhan Parkir Kendaraan Pada Satu Tata Guna Lahan Campuran (Studi Kasus:
Pusat Perbelanjaan Ilir Barat Permai Di
Penelitian dilakukan dengan survei wawancara langsung terhadap
pengunjung untuk mendapatkan
karakteristik bangkitan perjalanan dan kebutuhan parkir pada tataguna