IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Kondisi Umum Wilayah dan Karakteristik Lahan Hasil Pengamatan
Gambar 4.1 Peta Administrasi Desa Jayagiri
Hutan Desa Jayagiri merupakan salah satu hutan yang berada di area Gunung Tangkuban Perahu. Wilayah ini ditetapkan sebagai kawasan wisata berdasarkan Surat Keputusan Mentri Pertanian NO. 528/KPTS/UM-IX.
Namun, selain dijadikan sebagai kawasan wisata Hutan Jayagiri juga tetap digunakan untuk pertanian bagi petani setermpat. Sebagian besar petani di Desa Jayagiri bercocok tanam sayuran, pohon karet, dan tanaman untuk pakan hewan ternak. Wilayah hutan Desa Jayagiri memiliki keragaman tanaman diantaranya pohon karet, pinus, mahoni, dan kopi. Sebagian besar wilayah hutan Desa Jayagiri ditanami pohon karet, dan yang paling sedikit adalah kopi.
Hutan Desa Jayagiri memiliki karakteristik lahan tersendiri. Temperatur udara yang ada di Hutan Desa Jayagiri berkisar antara 21-24 ºC dengan curah hujan sebesar 1400 mm/tahun dan kelembaban sekitar 70-85 %.
Kemiringan lereng di Hutan Desa Jayagiri cukup bervariasi dari kemiringan
23
commit to user
lereng datar sampai kemiringan lereng miring, namun bahaya erosi sangat kecil.
Daerah penelitian evaluasi kemampuan dan kesesuaian ini terbagi menjadi 2 Satuan Peta Tanah (SPT). Site sampling SPT 1 terletak pada LS 6˚47’15’’ BT 107˚37’40”, ketinggian 1.132 m dpl dengan kemiringan lereng yang datar yaitu 8-15 % dan terletak di Desa Jayagiri, dengan penggunaan lahan berupa perkebunan. SPT 1 memiliki vegetasi seperti paku, rumput benggala, bambu dan pohon pinus. Site sampling SPT 2 terletak pada LS 6˚46’15’’dan BT 107˚37’00”. Ketinggian tempat 1.478 m dpl, serta kemiringan lereng landai yaitu 15-30%, dengan penggunaan lahan berupa Hutan pinus, yang didominasi oleh vegetasi pohon pinus dan mahoni.
Gambar 4.2 Peta Jenis Tanah Hutan Jayagiri
SPT 1 merupakan tanah Andisol dan SPT2 merupakan tanah Entisol.
Tanah Andisol merupakan tanah yang berbahan induk abu vulkan, khas gunung berapi, tanah andisol memiliki kandungan organik yang tinggi > 2%, bewarna gelap dan menunjukan sifat smeary (lumur seperti minyak) apabila dipirid di antara dua jari (Mujiyo et al., 2018).
commit to user
Tanah Andisol umumnya memiliki solum yang agak dalam, mempunyai horison A umbrik dan horison B yang baru berkembang. Mempunyai truktur tanah umumnya remah, konsistensi tanah gembur. Tekstur tanah dicirikan oleh kandungan debu yang tinggi. Berat volume sekitar 0.8 gr/cm3, kejenuhan basa sedang, fiksasi P tinggi, kapasitas tukar kation rendah, kandungan unsur hara rendah, terutama N, P dan K serta memiliki permeabilitas yang baik (Sartohadi, dkk, 2012).
SPT 2 tergolong dalam Ordo Entisol karena memiliki epipedon okrik, dimana lapisan atas SPT 1 memiliki ketebalan horizon ≤ 18 cm, memiliki value/kroma gelap > 3 yaitu memiliki value 3.5. SPT 2 memilliki tingkat sub ordo psamments yang memiliki tekstur pasir berlempung. Great group Udiptsamments yang memiliki rejim kelembaban udik. Sub group typic udiptsamments yang tidak memenuhi persyaratan sub group yang lain.
Menurut Surya, (2014) tanah Entisol merupakan jenis tanah marjinal. Tanah entisol memiliki sifdat fisika, kimia, dan biologi yang kurang subur karena mempunyai tekstur berpasir, struktur lepas dan mempunyai hara dan bahan iorganik yang rendah.
B. Kelas Kesesuaian Lahan
Gambar 4.4 Peta Kesesuaian Lahan Aktual
commit to user
Gambar 4.5 Peta Kesesuaian Lahan Potensial
Menurut Djaenuddin dkk. (2011) kesesuaian lahan pada prinsipnya adalah dengan mencocokan antara data kualitas atau karakteristik lahan dari tiap-tiap satuan peta tanah untuk masing-masing komoditas yang dievaluasi.
Dataran & Gayo, (2012) menyatakan bahwa kelas kesesuaian lahan mencakup iklim dan tanah. Iklim dapat diidentifikasi dari ketinggian tempat di atas permukaan laut. Ketinggian tempat secara umum dapat menentukan unsur iklim terutama suhu. Sedangkan untuk tanah, dapat diidentifikasi dari kemiringan lereng.
Evaluasi kesesuaian lahan dibagi menjadi kesesuaian lahan aktual dan potensial. Kesesuaian lahan aktual merupakan kesesuaian lahan yang didasarkan penggunaan lahan pada saat ini tanpa perbaikan apapun. Menurut Arlius et al., (2017), kesesuaian lahan berguna untuk mengetahui kecocokan kondisi lahan dengan tipe penggunaan lahan tertentu, dan untuk mendapatkan kelas kesesuaian lahan, pada masing- masing atribut SPT akan dibandingkan dengan kriteria kelas kesesuaian lahan. Pada kasus ini adalah untuk penggunaan lahan tanaman kopi arabika.
commit to user
Tabel 4.1 Kelas Kesesuaian Lahan
Persyaratan SPT 1 SPT 2
Nilai Kesesuaian Nilai Kesesuaian
Temperatur (tc)
Suhu rata-rata
23.6 S3 23.6 S3Ketersediaan Air (wa)
Curah Hujan (mm/tahun)
1400 S1 1400 S1Kelembaban(%)
74 S2 81 S3Media Perakaran (rc)
Drainase
Baik S1 Baik S1Tekstur
SL S2 SCL S2Bahan Kasar (%)
5% S1 5% S1Kedalaman Tanah (cm)
>150 cm S1 >150 cm S1Retensi Hara (nr)
KTK Liat (cmol)
13.25 S2 8.62 S2Kejeuhan Basa (%)
43.70% S2 35.40% S2pH
5.833 S2 6.405 S1C-organik (%)
7.62 S1 8.84 S1Hara Terseida
N total (%)
Sangat Tinggi S1 Sangat Rendah S3P
2O
5(mg/100g)
Sangat
Rendah S3 Sangat Rendah S3
K
2O (mg/100g)
Rendah S2 Sangat Rendah S3Toksisitas (xc)
Salinitas (dS/m)
0.47 S1 0.28 S1Bahaya Erosi (eh)
Lereng (%)
8-15% S2 15-30 % S2Bahaya Erosi
Tidak Ada S1 Tidak ada S1Bahaya
Banjir/genangan pada Masa Tanam (fh)
Tinggi (cm)
0 S1 0 S1Lama (hari)
< 1 Hari S1 < 1 Hari S1Penyiapan Lahan (lp) Batuan di Permukaan
(%)
<0.1% S1 <0.1% S1Singkapan Batuan (%)
0% S1 0% S1Kelas Kesesuaian
Lahan Aktual
S3 S3commit to user
Kelas Kesesuaian
Lahan Potensial
S2 S2Faktor Pembatas
Temperatur, dan Ketersediaan Hara PTemperatur, Kelembaban, Kemiringan Lereng dan Ketersediaan Hara N, P, K Sumber: Hasil Analisis Laboratorium dan Lapangan
Hasil evaluasi kesesuaian lahan terbagi dalam tiga kelas, yaitu kelas lahan sesuai (S1), kelas lahan cukup sesuai (S2), kelas lahan sesuai marginal (S3), dan kelas lahan tidak sesuai (N). Rayes (2007) menyatakan bahwa kelas lahan (S1) merupakan kelas kesesuaian lahan yang paling optimal untuk kebutuhan tanaman atau penggunaan lahan. Sedangkan kualitas lahan dibawah nilai optimum akan ditempatkan di kelas cukup sesuai (S2) dan atau kelas lahan sesuai marginal (S3) perbedaannya hanyalah terletak pada batasan dari faktor pembatas. Diluar batasan tersebut akan digolongkan pada kelas tidak sesuai (N).
Tabel 4.2 menunjukan curah hujan/tahun pada SPT 1 sebesar 1400 mm/tahun dan kelembaban udara 74% yang sesuai dengan pertumbuhan tanaman kopi arabika. Selain itu, SPT 1 memiliki drainase yang baik dan memiliki tekstur yang mendukung pertumbuhan tanaman kopi arabika. SPT 1 juga memiliki kejenuhan basa 43,7% yang dinilai sesuai untuk tanaman kopi arabika. SPT 1 terletak di area dengan kemiringan 8-15% yang dinilai cukup sesuai untuk pertumbuhan tanaman kopi arabika.
Kandungan C-organik pada SPT 1 sangat tinggi yaitu 7,64 dan memiliki pH 5,83 yang sangat sesuai dengan pertumbuhan tanaman kopi arabika. Ketersediaan hara N di SPT 1 sangat tinggi, namun untuk ketersediaan hara K dinilai rendah (S2) dan hara P sangatlah rendah (S3) sehingga perlu pemupukan lagi untuk menambah ketersediaan hara, terutama ketersediaan hara P di SPT 1.
Tanah tidak mampu menyediakan unsur hara dalam jumlah yang cukup untuk memacu pertumbuhan tanaman agar memberikan hasil maksimal, sehingga perlu dilakukan pemupukan untuk menyediakan dan mengganti unsur hara yang habis terpakai oleh tanaman selama proses pertumbuhan dan perkembangan (Setyamidjaja, 2009).
SPT 2 memiliki keadaan curah hujan/tahun yang sama dengan SPT 1 yaitu 1400 mm/tahun dan kelembaban udara 81% yang sesuai marginal (S3)
commit to user
dengan pertumbuhan tanaman kopi arabika serta menjadi faktor penghambatnya. Selain itu, SPT 2 memiliki drainase yang baik dan memiliki tekstur tanah yang mendukung pertumbuhan tanaman kopi arabika. SPT 2 juga memiliki kejenuhan basa 35,4% yang dinilai cukup sesuai untuk tanaman kopi arabika.
SPT 2 terletak di area dengan kemiringan 15-30% yang dikategorikan sesuai marginal (S3) untuk pertumbuhan tanaman kopi arabika. Menurut Kartasapoetra (2010), lahan yang memiliki kemiringan dapat lebih mudah terganggu atau rusak, terlebih lagi jika derajat kemiringannya >15%, dengan curah hujan tinggi maka akan mengakibatkan longsor tanah.
Kandungan C-organik pada SPT 2 sangat tinggi yaitu 8,84 dan memiliki pH 6,40 yang sangat sesuai dengan pertumbuhan tanaman kopi arabika.
Namun, ketersediaan hara N, P, dan K sangatlah rendah (S3) sehingga perlu pemupukan untuk menambah ketersediaan hara di SPT 2.
C. Faktor Pembatas Kelas Kesesuaian Lahan
Kelas kesesuaian lahan pada SPT 1 adalah S3 yaitu sesuai marginal. Hal ini dikarenakan adanya faktor pembatas berupa Temperatur dan ketersediaan hara P yang sangat rendah. Menurut Eka & Anggraini (2017) defisiensi hara p pada tanaman kopi arabika dapat menyebabkan kemunculan bercak yang menjadi pertanda matinya sel-sel jaringan dari daun serta dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan akar tanaman.
SPT 2 memiliki kelas kesesuaian lahan untuk tanaman kopi arabika sesuai marginal (S3). Terdapat beberapa faktor pembatas pada SPT 2 diantaranya adalah kemiringan lereng, temperatur, kelembaban, dan kurangnya ketersediaan hara N, P, dan K. SPT 2 memiliki nilai kemiringan lereng sebesar 15-30%, nilai kemiringan lereng sebesar itu dapat menghambat perumbuhan tanaman kopi arabika karena terdapat potensi erosi yang cukup tinggi. Lahan yang memiliki kelerengan yang tinggi tidak dapat digunakan untuk lahan pertanian (Setiawan et al., 2018). Selain itu, pada SPT 2 nilai temperatur dan kelembaban juga menjadi fakjtor penghambat karena memiliki nilai masing-masing sebesar 23.6 ºC dan 40- 70%, SPT 2 juga memiliki ketersediaan hara N, P, dan K yang sangat rendah sehingga memiliki kelas sesuai marginal. Kekurangan hara N pada tanaman kopi arabika akan mengalami gejala klorois pada daun muda dan klorotik pada
commit to user
daun yang sudah tua, pertumbuhan tunas pada tanaman juga dapat terhambat, sedangkan kekurangan hara K akan menyebabkan sel jaringan pada daun mati (Eka & Anggraini, 2017).
D. Upaya Perbaikan terhadap Faktor Pembatas
Dengan adanya faktor pembatas pada SPT 1 dan SPT 2 dapat dilakukan upaya perbaikan untuk memaksimalkan potensi dari lahan tersebut. Faktor pembatas pada SPT 1 adalah temperatur dan kurangnya ketersediaan hara P. dalam hal ini upaya perbaikan yang dapat dilakukan adalah dengan menambah pupuk P. Menurut Afrida (2009) pupuk P adalah unsur hara makro kedua setelah N yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang cukup banyak.
Ketersediaan P dalam tanah ditentukan oleh bahan induk tanah serta faktor- faktor yang mempengaruhi seperti reaksi tanah (pH). Pemberian pupuk yang tepat (jenis, dosis, waktu, dan cara) akan membantu memperbaiki ketersediaan hara dan meningkatkan produksi (Adnyana, 1993).
Upaya perbaikan untuk SPT cukup banyak karena banyaknya faktor pembatas. Faktor pembatas kemiringan lereng pada SPT 2 dapat dilakukan upaya perbaikan dengan cara pembuatan teras yang akan membantu menurunkan kemiringan lereng pada area tersebut. Menurut Ferry et al.
(2015) jika kemiringan lereng di lapangan > 8%, maka perlu dibut teras bangku. Teras bangku dibuat dengan memotong panjang lereng dan meratakan tanah yang ada di bawahnya sehingga berbentuk seperti tanga atau bangku. Menurut Priyano, et.al. (2002), kemiringan lereng harus 10-15%
dengan kedalaman tanah >30cm, pembuatan teras bangku dapat dilakukan dengan memasang patok induk di sepanjang tempat drainase, dengan kode 1, 2, 3, dst sebagai batas galian dan timbunan tanah. Selain kemiringan lereng, ketersediaan hara N, P, dan K juga menjadi masalah pada SPT 2.
Upaya perbaikan yang dapat dilakukan adalah dengan pemupukan N, P, dan K pada area SPT 2.