1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Perfilman India sudah diproduksi sejak tahun 1930an, yakni sejak India menjadi bagian jajahan Inggris. Seperti di Amerika Serikat, media dan budaya di India berkembang secara cepat. Bila di dunia barat memiliki Hollywood, India memiliki Bollywood. Bollywood sampai saat ini sudah menelurkan berbagai macam jenis film, misalnya saja film drama romantis, action, bahkan drama historis. Salah satu film "paling populer disepanjang masa" yang diproduksi oleh India adalah Awaara (Vagabond, dirilis pada 1951) (Thussu, 2012, p.280,). Film ini berhasil masuk dalam 100 film terbaik menurut majalah TIME (Joshi, 2012).
Gambar 1.1 Awara
Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Awaaraposter.jpg
Dalam film ini diceritakan seseorang bernama Raj yang rela dipenjara karena memberikan kado kalung untuk seorang perempuan cantik bernama Rita. Drama serial ini menggambarkan perempuan yang menggunakan kecantikannya sebagai pemikat laki - laki. Selain Awara, India juga memproduksi drama serial berjenis historis mitologi. Film - film tersebut antara lain Mahabarata, Mahadewa, Saraswatichandra dan Jodha Akbar.
Film Mahabarata dan Mahadewa merupakan film drama serial yang sama - sama melibatkan peran perempuan yang menonjol. Dalam film Mahabarata, peran perempuan diceritakan melalui tokoh Drupadi (istri dari pandawa). Drupadi diceritakan sebagai perempuan yang sangat cantik dan diperebutkan oleh banyak raja melalui sayembara.
Gambar: 1.2 Mahabarata
Sumber: http://pixshark.com/mahabharata-antv-pandawa.htm
Gambar: 1.3 Mahadewa
Sumber: http://tvguide.co.id/program_acara_rutin/mahadewa-antv
Sama halnya dengan Sati, istri dari Dewa Siwa, dalam Mahadewa. Sati adalah seseorang yang dicintai oleh Dewa Siwa karena kecantikannya dan selalu taat dengan apa yang dikatakan oleh Siwa. Ketaatan dan kecantikan merupakan dua hal yang
dimiliki oleh dua tokoh perempuan ini, sehingga mereka dapat memikat para laki - laki (Observasi Peneliti, 2015).
Dalam budaya India, ada sebuah kalimat yang terkenal, "dengan apa perempuan menerima dan bahkan menginginkan kesucian dan kesetiaan ibu sebagai ekspresi tertinggi dan kepribadian mereka," Kalimat ini berasal dari sebuah konsep pativata atau kesetiaan ibu. Seperti yang dijelaskan oleh Kamla Bhasin (dalam Retnowulandari, 2010. p.25), konsep pativata yang dianut oleh masyarakat India hingga sekarang ini menunjukkan pengabdian para perempuan di India mau yang menerima apapun perlakuan suami terhadap mereka. Hal itu disebabkan karena yang terpenting bagi mereka adalah menjunjung tinggi pativata. Konsep itu disosialisasikan sendiri oleh kaum perempuan. Konsekuensinya, status rendah perempuan tidak tampak dan ideologi atau budaya patriarki pun dengan kuat ditegakkan sebagai ideologi yang kelihatannya alamiah. Namun, tidak demikian dengan drama serial Jodha Akbar.
Gambar 1.4 Jodha Akbar
Sumber: http://smeaker.com/hiburan/wp-content/uploads/2015/03/
Jodha Akbar adalah drama serial yang bercerita mengenai kisah di balik berdirinya Taj Mahal. Kisah ini dimulai dari hidupnya seorang raja penguasa Hindustan, Jalaludin Muhammad dan pergolakan yang terjadi di negara maupun negara jajahannya. Sejak hadirnya Jodha, istri raja dan penguasa Kerajaan Mughal, terdapat berbagai sistem yang diubah olehnya. Bahkan keputusan suaminya,
Jalaludin, sebagai raja-pun dipengaruhi oleh pemikiran - pemikiran Jodha. Jodha pun berani untuk mengambil sikap tidak mau disentuh oleh Jalal, walaupun ia adalah istri dari Jalal. Bila dalam Mahabarata dan Mahadewa perempuan digambarkan sebagai sosok yang memikat karena kecantikannya dan kerapuhannya, Jodha justru 'dikejar - kejar' oleh laki - laki karena kecerdasan dan prinsipnya yang kuat, walaupun di sisi lain ia tetap digambarkan sebagai perempuan yang cantik. Dalam episode yang pertama Jodha mengatakan "Mengapa hanya perempuan yang harus tetap berada di banyak batas?" Ada pula adegan di mana Jodha melanggar aturan untuk keluar dari istana dan para pegawai istana mengatakan, "Bukankah kamu tahu bahwa tidak ada putri yang pernah melangkah keluar dari istana tanpa izin?" Demikian film serial ini menampilkan wacana mendekonstruksi peran gender khususnya perempuan.
Film serial yang hadir di ANTV pukul 20.30 WIB ini, menjadi perbincangan utama oleh kalangan perempuan, tidak hanya ibu - ibu tetapi juga para pemudi. Sudah dua bulan film serial ini masuk dalam lima besar rating program televisi berdasarkan Rating Program Televisi Indonesia (Facebook RPTI, 2015). Pada bulan Februari 2015, Jodha Akbar menempati posisi pertama dengan TV Rating atau TVR (prosentase jumlah penonton dibagi dengan total pemilik TV) 6,00 dan TV Share atau TVS (Prosentase jumlah penonton dibagi dengan total penonton disemua TV yang sedang menonton) 23,5. Jauh mengungguli D'Academy dengang TVR 4,6 dan TVS 20,1 (Rayendra, 2015). Muncul juga fans club Jodha Akbar di dunia maya, yang sengaja dibuat untuk membicarakan hal - hal seputar film serial tersebut. Kebanyakan dari anggota grup tersebut adalah perempuan, baik dari pelajar, ibu rumah tangga, hingga bekerja (Observasi Peneliti, 2015).
Lebih dari 80.000 orang yang masuk dalam grup Jodha Akbar di sosial media mengaku memiliki alasan - alasan mengapa menyukai film serial tersebut. Alasan - alasan yang dikemukakan antara lain: senang dengan kisah cinta Jalal dan Jodha;
senang dengan cerita politik di kerajaan; senang melihat sosok Jodha yang memiliki prinsip, tegas, dan berani membela kebenaran (wawancara, anggota grup Facebook Jodha Akbar, 16 Februari 2015). Ketika ditanya mengenai pendapat perempuan yang
ada dalam politik dan mengambil keputusan, anggota fans club tersebut juga tidak keberatan dengan hal itu. Dalam film inilah digambarkan sebuah tatanan gender yang dikonstruksikan berbeda dari yang biasanya.
Tatanan gender di masyarakat merupakan sebuah sistem yang diterima secara hegemoni selama bertahun tahun. Secara tidak sadar sosialisasilah yang membentuk adanya peran yang berbeda antara laki - laki dan perempuan. Hal tersebut mengkonstruksikan sebuah ideologi yang disebut ideologi gender (Murniati, 2004, p.xviii). Ideologi genderlah yang membedakan pola berpikir antara laki - laki dan perempuan. Lahirlah budaya patriarki yang membuat kedudukan perempuan berada di bawah laki - laki.
Seks dan gender adalah dua hal yang berbeda. Seks adalah perbedaan jenis kelamin antara perempuan dan laki - laki. Perbedaan ini ada secara biologis, merupakan kodrat atau ketentuan Tuhan, yang sifatnya universal dan permanen.
Sedangkan gender adalah perbedaan perilaku antara perempuan dan laki - laki yang dikonstruksikan, yaitu suatu proses yang dibentuk dari masyarakat melalui kehidupan sosial, kultural, dan bukan kodrat yang berasal dari Tuhan (Fakih, 1999, p.8). Dengan demikian, gender merupakan konstruksi dari suatu budaya masyarakat.
Dalam perkembangan diskusi mengenai identitas perempuan, proses sejarahlah yang membuat perempuan Indonesia dikonstruksikan oleh berbagai macam mitos. Murniati menyebutkan terdapat tiga mitos yang mempengaruhi perkembangan perempuan (Murniati, 2004, p.45). Pertama, mitos penciptaan yang telah menganggap perempuan sebagai penolong laki -laki. Sejak dahulu, laki - laki memiliki posisi sebagai kepala atau pemimpin. Sedangkan perempuan hanya berada di rumah mengurus urusan rumah tangga. Kedua, mitos kecantikan, merupakan mitos terhadap stereotip perempuan. Pada akhirnya mitos ini membuat pernyataan bahwa laki - laki perkasa akan mendapatkan perempuan yang cantik. Perempuan cantik tersebut adalah perempuan yang secara produktif lebih berhasil. Mitos yang terakhir adalah mitos perempuan sebagai ibu bangsa. Mitos ini mengajarkan mengenai tanggung jawab dan peran ganda perempuan dalam keluarga.
Patriarki adalah tata kekeluargaan yang sangat mementingkan garis turunan bapak. Secara etimologis, patriarki berkaitan dengan sistem sosial di mana laki - laki, dalam hal ini suami, menguasai seluruh anggota keluarganya, harta miliknya, seta sumber - sumber ekonomi. Ia juga yang membuat semua keputusan bagi keluarga (Retnowulandari, 2010, p.17). Adanya budaya patriarki membuat perempuan selama ini menjadi inferior dibanding laki - laki. Budaya patriarki memiliki dua bagian besar, yakni patriarki privat dan patriarki publik. Patriarki privat bermula dari wilayah rumah tangga. Wilayah ini merupakan wilayah awal dari kekuasaan laki - laki atas perempuan. Sedangkan patriarki publik menempati kekuasaan laki - laki atas lapangan kerja dan negara (Retnowulandari, 2010, p.18). Hingga saat ini budaya ini masih berlaku dalam kedudukan laki - laki dan perempuan. Dalam Retnowulandari (2010) juga dijelaskan bahwa orang Jawa menyebut perempuan adalah wadon.
Wadon berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti abdi, abdi dari lelaki. Sebutan lain adalah wanita, akronim dari wani ditata.
Berbagai macam stereotip muncul untuk memandang diri perempuan.
Stereotip yang muncul antara lain perempuan adalah makhluk yang emosional, pasif, lemah, dependen, dekoratif, tidak asertif, dan tidak kompeten kecuali untuk tugas rumah tangga (Gardiner, 1996, p.218). Sejak tahun 90-an hingga saat ini, sebagian perempuan karir memiliki pendapatan lebih rendah daripada laki - laki. Semakin tinggi jenjang kepangkatan, maka semakin sedikit juga perempuan yang berada di sana (Gardiner, 1996, p.213). Berikut adalah gambaran perempuan karir yang ada di Indonesia: banyak pabrik yang memilih penggunaan buruh perempuan karena upahnya lebih murah daripada laki - laki; pengambilan keputusan politik masih dikuasai oleh laki - laki; dan lain sebagainya (Murniati, p.50). Apabila perempuan keluar dari peran gender yang diharapkan oleh masyarakat, maka akan mendapat sanksi yang cukup serius (Amanatullah, 2012).
Kebanyakan perempuan memilih untuk menjalankan peran ganda. Sudah bukan menjadi hal yang tabu untuk seorang perempuan bekerja di luar rumah. Di Indonesia sendiri terdapat seorang presiden perempuan. Gerakan feminisme
merupakan gerakan hasil dari manifestasi karena rasa ketidakadilan dalam struktur sosial antara laki - laki dan perempuan. Gerakan ini adalah gerakan emansipatoris yang mempersoalkan ketidakadilan gender melalui analisis di berbagai bidang kehidupan (Murniati, 2004. p.xxv). Selain itu, salah satu bentuk gerakan emansipasi dimanifestasikan dalam produk media massa.
Media massa berperan aktif dalam menegaskan kedudukan dan peran perempuan dengan mempresentasikan perempuan baik sebagai ibu maupun sebagai istri yang selalu terkait dengan rumah, anak, masakan, pakaian, kecantikan, kelembutan dan keindahan (Abdullah, 1997, p.7). Selain itu, media massa memiliki berbagai fungsi salah satunya adalah untuk mengonstruksikan dan mendekonstruksikan suatu nilai, kepercayaan, dan tradisi dari suatu masyarakat (Nurudin, 2009, p.73).
Melihat fenomena di atas, peneliti ingin melihat bagaimana penerimaan penonton terhadap peran gender perempuan pada tokoh Jodha dalam Jodha Akbar.
Selain itu, peneliti, melalui film serial Jodha Akbar melihat pesan film serial ini sebagai teks media. Argumen penting di balik pemilihan serial ini adalah karena drama serial ini menampilkan peran perempuan yang berbeda dari tokoh perempuan yang biasanya dikonstruksikan. Peneliti menggunakan penelitian audience research dengan metode reception analysis. Melalui reception analysis, peneliti melihat bagaimana audience (penonton) yang memiliki frame of reference dan field of experience yang berbeda memaknai pesan tersebut. Reception analysis memiliki fokus untuk melihat bagaimana audience yang memiliki pengalaman yang berbeda memaknai suatu teks media dan membuat makna dari pengalaman pribadi mereka (Hadi, 2008, p.1-7).
Reception analysis melihat bahwa audience sebagai audience yang aktif.
Audience memiliki hak untuk memaknai setiap teks yang dikirimkan oleh media.
Pemaknaan tersebut didasarkan atas latar belakang yang berbeda - beda dari setiap orang. Rutinitas dan pengalaman hidup yang berbeda akan membuat teks dimaknai secara berbeda. Makna diciptakan karena audience menonton teks yang ada di dalam
media. Analisis penerimaan dilakukan pada proses decoding serta berfokus kepada perhatian tiap individu dalam proses pemaknaan dan pemahaman mendalam atas teks media dan bagaimana isi media diintepretasikan oleh individu tersebut (Baran, 2003, p.269-270).
Tradisi Penelitian Komunikasi
Massa
Uses and Gratifications
Research
Studi Resepsi Media Ethnography
Mulai 1930 1960 1970 1985
Katakunci Efek Media Kebutuhan Makna Rutinitas
Fokus
Efek isi media massa pada sikap publik
Penggunaan media massa untuk
memenuhi kebutuhan khalayak
Hubungan antara isi media massa dan khalayak
Rutinitas penggunaan media massa dalam kehidupan sehari - hari
Khalayak dilihat sebagai
Sasaran yang pasif
Khalayak sebagai pengguna media yang aktif
Khalayak sebagai active interpreter
Khalayak sebagai active consumer
Tabel 1.1 Studi khayalak dalam komunikasi massa Sumber: Hadi, 2010
Studi resepsi menempatkan khalayak sebagai khalayak yang aktif dalam membangun dan mengintepretasikan makna dalam teks media. Fokus dari penelitian studi resepsi adalah hubungan anatara isi media massa dan khalayaknya. Pada studi khayalak yang sebelumnya media massa ditempatkan hanya sebagai penyalur informasi. Namun pada studi resepsi, media massa membawa audience-nya untuk memberi makna yang lebih luas (Hadi, 2010). Peneliti memilih menggunakan studi resepsi karena melalui studi resepsi peneliti dapat menemukan khalyak sebagai active interpreter memberi makna pada teks media. Pemaknaan tersebut disebabkan oleh berbagai faktor yang mempengaruhi audience untuk memberi makna. Sehingga dapat
melihat apa sebenarnya yang terjadi pada individu yang mengonsumsi teks media dan bagaimana mereka memandang dan memahami teks media. Pemaknaan ini berguna untuk melihat faktor - faktor apa saja yang mempengaruhi individu.
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif karena paradigma kualitatif mengasumsikan bahwa setiap orang memiliki kehidupan yang dinamis berbeda dengan kuantitatif yang melihat kehidupan yang statis. Tujuan dari peneltian kualitatif adalah untuk melihat cara pandang dari orang lain (Silalahi, 2012, p.79).
Dengan demikian, penelitian kualitatif dapat menciptakan teori baru yang tidak dapat dilakukan oleh penelitian kuantitatif.
Peneliti memilih informan dengan berbagai macam latar belakang. Namun, peneliti juga akan memberikan syarat untuk menjadikan seseorang sebagai informan.
Syarat tersebut antara lain informan merupakan penonton minimal dua kali dalam seminggu dan dalam kurun waktu tiga bulan selama penelitian ini dilakukan.
Terakhir, informan adalah seseorang yang dengan sukarela menjadi informan dalam penelitian ini.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana penerimaan penonton terhadap peran gender perempuan pada tokoh Jodha, dalam serial film Jodha Akbar?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerimaan penonton terhadap peran gender perempuan pada tokoh Jodha, dalam serial film Jodha Akbar.
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat Akademis
Penelitian dengan metode penerimaan (reception analysis) dilakukan untuk menambah wawasan mengenai penelitian penerimaan khalayak, khususnya untuk
khalayak televisi. Selain itu, berkaitan dengan topik yang digali, yakni peran gender perempuan hasil riset ini juga bermanfaat untuk melihat penerimaan audience yang berbeda - beda antara satu dengan yang lainnya dilihat dari berbagai latar belakang sosial-budaya.
1.4.2. Manfaat Praktis
Relasi sosial antara laki - laki dan perempuan acapkali direpresntasikan secara timpang dalam media. Maka penelitian ini membantu melihat fenomena yang sedang terjadi di masyarakat saat ini mengenai peran gender perempuan. Selain itu juga membantu melihat realitas relasi sosial antara laki - laki dan perempuan dan sebab- akibat yang ditimbulkan dari memaknai peran gender perempuan.
1.5 Batasan Penelitian
Peneliti membatasi penelitian ini pada analisis penerimaan (reception analysis) dari episode yang sudah pernah ditonton oleh informan. Peneliti akan memberikan stimuli kepada informan berupa scene yang menggambarkan adanya peran gender perempuan yang sesuai maupun yang bertentangan dengan peran gender dalam masyarakat. Mengacu pada penelitian terdahulu yang dilakukan Indra mengenai "Penerimaan Anak-Anak Perempuan Usia Pra Sekolah Terhadap Konsep Gender Dalam Serial Kartun Dora The Explorer" yang juga dilakukan Morley mengenai "Nationwide" (Deveraux dalam Indra, 2010), maka Peneliti juga memilih informan dari penonton yang minimal menonton Jodha Akbar dua kali dalam seminggu (baik dari TV, CD, maupun internet) dalam kurun waktu tiga bulan hingga penelitian ini dilaksanakan. Informan dibagi menjadi tiga kategori, yaitu perempuan yang belum menikah, perempuan yang sudah menikah, dan laki - laki yang sudang menikah. Mengenai pemilihan informan akan dijelaskan pada bab 3.
1.6 Sistematika Penulisan
Sistematika penelitian akan terbagi menjadi lima bagian, yaitu sebagai berikut:
1.6.1 Pendahuluan
Berisi tentang latar belakang masalah pengambilan drama serial Jodha Akbar, rumusan masalah penerimaan penonton perempuan terhadap peran gender dalam Jodha Akbar, tujuan penelitian, manfaat akademis dan manfaat praktis penelitian, batasan penelitian serta sistematika penelitian.
1.6.2 Tinjauan Pustaka
Berisi tentang definisi secara singkat mengenai televisi sebagai media massa, fungsi televisi sebagai media massa, program drama televisi, gender, peran gender perempuan, audience, teori penerimaan, teks, konteks, interteks serta nisbah antar konsep dan kerangka pemikiran.
1.6.3 Metode Penelitian
Berisi mengenai cara dan metode penelitian yang digunakan untuk memperoleh data, yaitu definisi konseptual, jenis penelitian, metode penelitian, sasaran penelitian, unit analisis, teknik pengumpulan data, teknik analisis data dan triangulasi.
1.6.4 Analisis Data
Berisi mengenai gambaran umum penelitian yaitu penjelasan mengenai serial film Jodha Akbar, identitas informan, setting penelitian, hasil wawancara baik secara dua arah maupun diskusi dalam FGD, analisis dan intepretasi data, serta triangulasi data.
1.6.5 Simpulan dan Saran
Berisi mengenai simpulan dari hasil penerimaan dari informan dan saran untuk penelitian selanjut