• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Menopause 2.1.1 Pengertian Menopause

Menopause adalah periode menstruasi terakhir yang disebabkan oleh hormon-hormon yang mengontrol siklus menstruasi berada pada kadar yang sangat rendah sehingga menstruasi tidak akan terjadi lagi (Fox-spencer & Brown, 2007).

Menopause berasal dari bahasa Yunani, yang dapat diartikan dengan sebutan

‘’bulan’’ yang secara bahasa disebut dengan ‘’menocease’’ yang mempunyai arti berhentinya masa menstruasi (Mulyani, 2013).

Premenopause seringkali mempunyai dua pengertian yaitu satu atau dua tahun lebih cepat sebelum menopause atau pada semua periode reproduktif sebelum menopause. Definisi dari premenopause adalah permulaan transisi klimaterik, yang dimulai beberapa (2-5) tahun sebelum menopause (Proverawati & Sulistyawati, 2017). Pada fase premenopause akan ditandai dengan siklus haid yang sudah tidak teratur, dengan keluarnya darah haid yang jarang atau mungkin banyak yang disertai dengan rasa nyeri. Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi premenopause diantaranya faktor fisik dan psikologis yang berhubungan dengan menurunya kadar estrogen (Chandranita, 2009).

2.1.2 Perubahan Menopause a. perubahan fisik

Ketika seseorang akan memasuki masa menopause ada beberapa gejala yang akan terjadi yaitu (Fox-spencer & Brown, 2007) :

1. Hot Flush / rasa panas

Hot flush terjadi karena berfluktuasinya kadar hormon dikarenakan adanya penurunan kadar hormon estrogen yang menyebabkan pembuluh darah membesar secara mendadak sehingga menyebabkan tubuh merasakan panas. Rasa panas ini biasanya berlangsung hanya sekitar 15 detik sampai

(2)

dengan 1 menit, frekuensi hot flush biasanya berbeda-beda pada setiap wanita, ada yang muncul beberapa kali dalam setiap ulan namun ada juga yang muncul beberapa kali dalam satu jam, dan hot flush ini tidak bisa diprediksi terkait kemunculannya (Salim & Enterprise, 2015;

Wirakusumah, 2004).

2. Berkeringat di malam hari

Berkeringat pada malam hari disebabkan oleh hot flush sehingga menyebabkan kemerahan pada kulit wanita menopause disertai dengan keringat yang mengucur di seluruh tubuh wanita menopause. Rasa panas ini tidak membahayakan serta cepat berlalu tetapi menyebabkan tidak nyaman wanita menopause (Mulyani, 2013).

3. Susah tidur

Beberapa wanita menglami kesulitan tidur, wanita menopause tidak dapat tidur dengan mudah dan nyenyak, gelisah atau bahkan bangun terlalu pagi. Terkadang wanita menopause mungkin perlu ke kamar mandi di tengah malam hari kemudian sulit untuk bisa tidur kembali, gangguan insomnia memang sering dialami pada wanita menopause. Penyebab dari insomnia yang dialami wanita menopause ini adalah disebabkan karena hormon serotonin yang rendah Insomnia telah terbukti adanya dan sangat mengganggu pada wanita premenopause dan pada wanita di usia menopause, wanita menopause lebih banyak yang mengalami susah tidur (insomnia) daripada wanita premenopause (Kumalanigsih, 2014;

Hekhmawati, 2016).

4. Inkontinensia

Pada masa menopause, seorang wanita menopause akan mengalami kesulitan dalam mengendalikan buang air kecil (inkontinensia) atau sering disebut dengan mengompol, inkontinensia ini disebabkan oleh kekurangan hormon estrogen selain kekurangan hormon estrogen inkontinensia juga disebabkan karena penurunan tonus otot vagina dan pintu otot saluran kemih (uretra) sehingga menyebabkan kapasitas dari uretra menurun sampai 200ml dan menyebabkan frekuensi BAK meningkat dan tidak dapat dikontrol (Karjoyo, 2017; Waluyo, 2010).

(3)

5. Mudah Lelah (Fatigue)

Saat menjelang masa menopause tubuh akan terasa sering lelah.

Rasa Lelah ini disebabkan karena massa tulang kontinu sudah mencapai batas maksimal yaitu pada usia 30-35 tahun, setelah itu akan terjadi penurunan aktivitas osteoblash atau sel tulang yang diakibatkan menurunnya hormon estrogen, vitamin D dan parathyroid hormon (PTH) yang mengakibatkan wanita menopause mudah lelah serta nyeri pada bagian otot dan sendi (Suparni & Astutik, 2016; Astutik & Palupi, 2019).

b. Perubahan psikologis

Wanita yang memasuki masa menopause akan mengalami gejala-gejala psikologis sebagai berikut :

1. Mudah tersinggung.

Saat menopause terjadi ada perubahan tubuh yang terjadi yang diakibatkan karena berhentinya poduksi hormon estrogen dimana hormon tersebut yang paling aktif dalam pembentukan jaringan pada saluran alat kelamin wanita. Penurunan kadar estrogen juga dapat mempengaruhi neurotansmiter dalam otak yang terdiri dari dopamine, serotonin dan endorfin. Neurotransmiter yang mempengaruhi wanita menopause menjadi mudah tersinggung (Proverawati & Sulistyawati, 2017; Ulfah, 2017).

2. Depresi

Depresi seringkali terjadi pada wanita menopause dikarenakan menurunya kadar hormon estrogen. Dengan adanya penurunan hormon estrogen ini dapat menyebabkan penurunan neurotransmiter dalam otak, dimana neurotransmiter ini berfungsi untuk mempengaruhi suasana hati sehingga jika kadar neurotransmiter rendah maka akan menimbulkan perasaan cemas yang dapat menyebabkan depresi pada wanita menopause.

Depresi pada wanita menopause juga dapat disebabkan oleh beberapa gangguan fisik yang telah menahun seperti diabetes, darah tinggi, penyakit hati yang kronis dan sulit untuk disembuhkan (Mulyani, 2013; Santoso, 2009).

3. Cemas

(4)

Pada masa menopause wanita akan mengalami kecemasan, hal ini berkaitan dengan penurunan hormon estrogen sehingga menyebabkan wanita menalami kecemasan atau bahkan sampai mengalami stres.

Kecemasan tidak hanya sakit secara emosional melainkan karena ada kesalahan dalam pengetahuan, semakin banyak pengetahuan yang dimiliki wanita menopause akan semakin mudah ia mengatasi kecemasan (Proverawati & Sulistyawati, 2017).

4. Sering lupa

Hubungan antara masa menopause dengan memori yang tidak sepenuhnya jelas atau merasa sering lupa yang sebenarnya disebabkan oleh beberapa hormon yang ada pada dalam diri wanita menopause, salah satunya seperti penurunan pada hormon estrogen. Penurunan hormon estrogen pada sistem syaraf pusat sangat mempengaruhi kognitif pada diri wanita menopause, dikarenakan hormon estrogen pada wanita usia subur konsentrasinya sangat tinggi daripada wanita usia menopause (Fox- spencer & Brown, 2007; Hekhmawati, 2016).

2.1.3 Penyebab menopause

Menopause disebabkan karenakan pembentukan dari hormon estrogen dan progesteron dari ovarium wanita berkurang sehingga ovarium berhenti untuk melepaskan sel telur, maka aktivitas menstruasi berkurang dan akhirnya berhenti sama sekali. Pada masa menopause terjadi penurunan jumlah dari estrogen yang sangat penting untuk mempertahankan faat tubuh. Wanita menopause sudah tidak lagi mempunyai sel telur sehingga tidak dapat dibuahi, bahkan siklus anovulasi ini sudah berlangsung sejak wanita masih mengalami premenopause (Proverawati &

Sulistyawati, 2017).

2.1.4 Faktor yang mempengaruhi menopause

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi masa menopause diantaranya adalah : 1. Faktor psikis

Perubahan-perubahan psikologis maupun perubahan fisik ini berhubungan dengan hadar hormon estrogen, gejala yang paling menonjol adalah berkurangnya tenaga dan gairah, berkurangnya konsentrasi dan

(5)

akademik lalu timbulnya perubahan emosi seperti mudah tersinggung lalu susah tidur, kesepian, menjadi tidak sabar dan lain-lain. Perubahan psikis ini berbeda-beda pada setiap orang, tergantung bagaimana kemampuan wanita menopause ini menyikapinya. Kebanyakan kasus psikis ini dikarenakan karena adanya tekanan hidup misalnya merasa sudah tidak dibutuhkan lagi oleh anak-anaknya yang sudah dewasa dan mandiri, perceraian, kehilangan anggota keluarga serta adanya penyakit yang diderita (Suparni & Astutik, 2016; Mulyani, 2013).

2. Sosial ekonomi

Keadaan sosial ekonomi seseorang juga akan mempengaruhi faktor fisik, kesehatan dan pendidikan seseorang. Tersedianya suatu fasilitas akan menentukan status ekonomi seseorang yang diperlukan untuk kegiatan tertentu. Dalam menghadapi masa menopause, wanita yang dari golongan ekonomi lemah cenderung pasrah akan tetapi masih dapat beradaptasi dengan baik saat mengalami menopause. Pendidikan juga mempengaruhi faktor wanita dalam menghadapi menopause, wanita yang lebih banyak mengalami kekhawatiran dan menganggap bahwa meopause itu gejala alami berasal dari wanita yang kurang berpendidikan dan ekonomi menengah kebawah (Wigati, 2017; Bong, 2019).

3. Budaya dan lingkungan

Pengaruh dari budaya serta lingkungan sudah dibuktikan dan sangat mempengaruhi wanita untuk dapat tidaknya menyesuaikan diri dengan menopause dini, adapun faktor budaya yang mempengaruhi seperti pola konsumsi makanan mengandung anti oksidan tinggi yang dapt menghambat proses penuaan. Oleh karenannya faktor budaya dan lingkungan dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari sangat berpengaruh pada diri wanita menopause (Mulyani, 2013; Fibrila & Ridwan, 2014).

4. Faktor lain

Faktor lain yang mempengaruhi masa menopause adalah wanita yang belum menikah, wanita yang sibuk dengan kariernya yang sudah maupun belum berumah tangga. Menarch (haid pertama) juga dapat mempengaruhi terjadinya menopause, semakin dini menarch maka akan

(6)

semakin lambat menopause begitu juga sebaliknya, semakin lambat menarch maka akan semakin cepat memasuki masa menopause. Faktor lain yang juga mempengaruhi menopause adalah pemakaian alat kontraseps.

Alat kontresepsi dapat mempengaruhi menopause karena hormone estrogen dan progesterone dapat memberikan umpan balik terhadap kelenjar hipofisis melalui kelenjar hipotalamus sehingga terjadi hambatan terhadap perkembangan foikel dan proses ovulasi oleh karena itu apabila ibu terpapar homon estrogen lebih lama maka akan terjadi pelambatan ovulasi (Proverawati & Sulistyawati, 2017; Harnani, 2015; Fibrila & Ridwan, 2014).

2.1.5 Jenis – jenis menopause

Jenis-jenis menopause pada wanita terbagi menjadi 3 jenis yaitu : a. Menopause dini

Menopause dini atau premature dimana wanita pada usia 35 tahun sampai 40 tahun sudah mulai berhenti haid baik secara alamiah ataupun secara tindakan medis yang ditandai dengan rasa sakit di kepala lalu haid mulai tidak teratur dan akhirnya tidak haid sama sekali. Bagi para remaja hal ini sangatlah ditakuti apabila hal ini terjadi pada dirinya karena selain rasa sakit hal ini juga diikuti dengan awal proses penuaan (Wulandari, 2015;

Kumalanigsih, 2014).

b. Menopause normal

Menurut Andrews. G, 2010 menopause pada umumnya sering terjadi pada usia akhir 40 tahun atau di awal 50 tahun. Menopause normal banyak terjadi pada wanita. Hal ini disebabkan karena jumlah folikel yang mengalami atresia terus meningkat sehingga menjadikan tidak tersediannya lagi folikel yang cukup. produksi hormon estrogen sehingga menyebabkan seorang wanita tidak mengalami haid lagi yang berakhir dengan menopause.

(Suparni & Astutik, 2016).

c. Menopause terlambat

Seseorang yang disebut mengalami menopause terlambat yaitu seseorang yang mengalami siklus menstruasi pada umur lebih dari 55 tahun.

(7)

Namun apabila wanita yang masih memiliki siklus menstruasi di usia 55 tahun, ada beberapa faktor penyebab yang diantaranya yaitu konstitusional, fibromioma uteri dan tumor ovarium yang menghasilkan hormon estrogen.

Menopause terlambat juga dapat menyebabkan konsekuensi karena tubuh harus memproduksi estrogen lebih lama daripada normalnya yang secara teoritis dapat menyebabkan kanker rahim dan kanker payudara (Pasaribu, 2017; Sibagariang, 2016).

2.1.6 Penatalaksaan pada menopause Penatalaksaan pada menopause meliputi:

a. Terapi sulih hormon (TSH)

TSH (terapi sulih hormon) merupakan pilihan untuk mengurangi keluhan pada wanita menopause. Dengan memberikan terapi penggantian hormon untuk menggantikan hormone yang kurang kadarnya karena sudah tidak diproduksi lagi secara cukup akibat menurunnya fungsi organ-organ endokrin. Adapun jenis-jenis terapi sulih hormon diantara lain yaitu : 1. Combined hormone replacement therapy (CHRT)

Yaitu TSH dengan estrogen estradiol hemyhdrate drospirenone.

Drospirenone merupakan salah satu jenis progesterone, pada CHRT ini menggunakan kombinasi antara progesterone dan estrogen.

2. Estrogen replacement therapy (ERT)

Merupakan estrogen alami yang lebih efektif dan lebih ditoleransi oleh tubuh serta tidak menyebabkan beban berat pada liver, contohnya seperti estradiol hemyhidrate. (Mulyani, 2013; Proverawati &

Sulistyawati, 2017).

b. Terapi hormon alami fitoestrogen

Fitoestrogen merupakan pilihan untuk mengurangi keluhan yang terjadi pada wanita menopause yang alami, murah, berasal dari tanaman, efektif dan dapat diterima wanita menopause. Fitoestrogen dapat diperoleh pada tumbuhan yang memiliki efek estrogenik dan antiestrogenik seperti

(8)

yang terdapat pada kacang kedelai dan olahannya (Kumalanigsih, 2014;

Mulyani, 2013).

c. Psikofarmakologi

Penggunaan obat psikofarmakologi biasanya menggunakan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) merupakan sejenis antidepresan seperti Effexor, Prozac, sarafem, paxil dan lainnya yang dapat mengurangi gejala pada menopause dalam dosis kecil (Proverawati &

Sulistyawati, 2017).

d. Medikasi Herbal

Medikasi herbal atau yang biasa disebut dengan suplemen. Banyak konsumen yang menganggap bahwa medikasi herbal lebih aman, walaupun ada beberapa bahan aktif yang membuat kesehatan tidak baik. Contoh obat- obatan herbal yang banyak dipakai di Indonesia adalah gingseng dan ginkgo biloba (120-160mg) yang digunakan untuk mengurangi gejala menopause penurunan daya ingat (Proverawati & Sulistyawati, 2017).

2.2 Konsep Kesiapan 2.2.1 Definisi Kesiapan

Kesiapan adalah tingkat perkembangan dari kematangan atau kedewasaan yang menguntungkan dalam mempraktikkan suatu hal, dapat juga diartikan dengan keadaan siap siaga untuk mereaksikan atau menanggapi sesuatu. Kesiapan di penelitian ini dapat diartikan sebagai suatu keadaan ibu untuk mempersiapkan dirinya dalam menghadapi menopause baik secara fisik maupun secara fisiologis.

Menopause merupakan sindrom yang normal, sedangkan penerimaan dapat berbeda-beda pada setiap wanita. Resiko keluhan yang timbul dapat menurun jika seorang wanita premenopause mempersiapkan dirinya secara fisiologis dan psikologis sejak jauh-jauh hari dan apabila keluhan tersebut masih ada maka seorang ibu tersebut harus mempersiapkan diri dengan lebih baik lagi, artinya segala perubahan yang akan dialami dapat lebih diterima dengan baik Chaplin (2005) dalam (Utami, 2017).

(9)

2.2.2 Faktor yang mempengaruhi kesiapan

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kesiapan antara lain yaitu : a. Pengetahuan

Pengetahuan adalah suatu hasil informasi yang telah didapatkan dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Penginderaan terjadi dengan melalui panca indera manusia seperti penghlihatan, penciuman pendengaran, raba dan rasa. Sebagian besar pengetahuan manusia didapat dengan melalui pendengaran serta penglihatan. Pengetahuan yang cukup akan membantu wanita yang akan mengalami menopause lebih memahami dan mempersiapkan dirinya menghadapi menopause dengan baik. Diperlukan sebuah persiapan dan pengetahuan yang memadai dalam menghadapinya. Pemahaman wanita tentang menopause diharapkan wanita dapat melakukan upaya pencegahan sedini mungkin untuk siap memasuki usia menopause tanpa harus mengalami keluhan yang berat. Pendidikan serta pengetahuan yang baik dapat membuat seorang wanita premenopause lebih banyak bersikap positif dalam menghadapi menopause diantaranya wanita premenopause akan siap menghadapi menopause dan menerima adanya perubahan fisik maupun psikologis dan tidak menganggap bahwa proses penuaan merupakan hal yang harus dihindari (Notoatmodjo, 2014; Estiani, 2015;

Fitriani, 2012).

b. Pendidikan

Tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan, selain itu informasi dan faktor pengalaman akan menambah pengetahuan tentang suatu hal yang bersifat tidak formal.

Wanita yang berpendidikan tinggi akan mempunyai kesehatan yang lebih baik daripada wanita yang kurang dalam pendidikan sehingga wanita yang berpendidikan akan lebih mudah meyerap informasi, mengembangkan, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, dengan peningkatan pengetahuan tentang menopause maka akan meningkatkan kesiapan ibu menghadapi masa menopause (Ismiyati, 2010).

c. Sosial ekonomi

(10)

Keadaan sosial ekonomi juga sangat mempengaruhi faktor dari kesehatan, pendidikan serta fisik seseorang. Wanita yang berasal dari golongan ekonomi yang rendah pasrah saat mengalami menopause sedangkan jika wanita dengan ekonomi yang baik memungkinkan wanita lebih mudah mendapatkan sarana dan fasilitas yang menunjang seperti majalah, koran, buku kesehatan dan fasilitas penunjang lainya sebagai saraana untuk memperoleh informasi kesehatan dan pengetahuan tentang menopause (Lannywati, 2013).

d. Budaya dan lingkungan

Budaya dan lingkungan sangat besar mempengaruhi cara wanita menanggapi proses berhentinya haid. Wanita Indonesia yang mayoritas muslim umumnya dapat menerima menopause dengan sangat baik.

Masalah yang dihadapi oleh wanita premenopause adalah dimana tanggapan masyarakat tentang menopause semakin meningkat baik positif maupun negatif menurut Prawirohardjo (2005) dalam (Utami, 2017).

e. Umur

Semakin bertambahnya umur seseorang, pengalaman seseorang tersebut juga semakin akan bertambah sehingga akan lebih siap dalam menghadapi masa menopause (Notoatmodjo, 2014).

2.2.3 Kategori Kesiapan

Kesiapan wanita menghadapi masa menopause terdiri dari kesiapan siap dan tidak siap. Kesiapan disini meliputi kesiapan fisiologis, psikologis dan kesiapan spiritual :

1. Kesiapan fisiologis

Kesiapan fisik terdiri dari gaya hidup, olah raga teratur, pola makan dan minum serta pekerjaan sehari-hari yang dapat berdampak besar bagi kesehatan tubuh. Pemenuhan gizi yang mewadahi akan sangat membantu dalam menghambat berbagai dampak negatif menopause terhadap kinerja otak, mencegah kering pada kulit serta penyakit lainnya. Olahraga juga sangat penting selain dapat menguatkan tulang juga dapat mencegah penyakit jantung, diabetes dan lain-lain. Olahraga yang dapat dilakukan

(11)

seperti jogging, bersepeda, berenang serna naik turun tangga.

(Notoatmodjo, 2014; Sabatini, 2016; Melani, 2007) 2. Kesiapan psikologis

Kesiapan psikologis meliputi beberapa hal seperti keadaan yang membebani fikiran yang pada akhirnya dapat berdampak pada kesehatan tubuh seperti gelisah, kecemasan, dan ketakutan. Dalam hal ini dapat dilakukan upaya agar beban tersebut dapat berkurang dengan cara menjaga pola makan dan dukungan dari orang terdekat. Gaya hidup rileks dan menghindari tekanan yang dapat membebani pikiran perlu dibiasakan. Hal ini penting untuk menghindari dampak psikologis akibat menopause.

Dukungan dari orang terdekat khususnya seperti dari suami dan anak dapat menjadikan ibu yang sedang menopause dapat berjalan dengan lancar dengan adanya kemauan diri memandang hidup yang akan datang sebagai sebuah harapan yang membahagiakan, sehingga peristiwa yang dialami selalu dipandang dari segi baik. Peran positif ini menumbuhkan perasaan bahwa dirinya masih sangat dibutuhkan oleh keluarga. (Melani, 2007;

Notoatmodjo, 2014; Sabatini, 2016) 3. Kesiapan spiritual

Keadaan spiritual ini meliputi peningkatan ibadah sesuai kepercayaan, serta rutin mengikuti bimbingan agama dan mengikuti acara agama yang dapat meningkatkan kepercayaan diri untuk mempersiapkan diri menghadapi masa menopause. (Notoatmodjo, 2014)

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pasar efisien bentuk setengah kuat pada pengumuman Jakarta Islamic Index, perbedaan rata-rata perbedaan rata-rata abnormal

• Tujuan kegiatan ini adalah terdapatnya nilai survei tarikan dan bangkitan perjalanan pada pusat perbelanjaan dan nilai koefisien kebutuhan ruang parkir yang dapat dibuat

Dengan asumsi data SST Niño3.4 dapat diwakili oleh data ESPI, maka sesuai dengan landasan teori sebelumnya yang menyatakan bahwa akan terjadi kering yang relatif sangat

Hasil yang diharapkan adalah curah hujan luaran RegCM3 tidak berbeda secara nyata dengan data observasi sehingga data curah hujan luaran RegCM3 tersebut dapat

Bangun Samudra jangan sampai menyekutukan Allah dalam bentuk tandingan apapun, kita wajib iman kepada Allah. Sehingga kita tidak termasuk umat yang musyrik. jadi

Nama pengapalan yang sesuai dengan PBB : Tidak diatur Kelas Bahaya Pengangkutan : Tidak diatur Kelompok Pengemasan (jika tersedia) : Tidak diatur. Bahaya Lingkungan :

b.2. Berdasarkan tabel di atas, persentase aktivitas guru dalam proses pembelajaran guling dengan menggunakan media bantu pada siklus II pertemuan ke 2 ini adalah

Sedangkan sosialisasi lalu lintas adalah penyampaian pendidikan lalu lintas tentang peraturan lalu lintas, tata cara berlalu lintas yang baik dan benar, kebijakan pemerintah atau