DAFTAR ISI
PERNYATAAN ...i
SURAT HASIL PENILAIAN SKRIPSI ... iv
ABSTRAK ... v
KATA PENGANTAR ... vi
BAB 1 ... 1
PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 2
1.3 Tujuan Penelitian ... 2
1.4 Manfaat Penelitian ... 2
1.5 Batasan Penelitian ... 2
1.6 Kerangka Berfikir ... 3
BAB 2 ... 4
TINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1 Pengertian dan Fungsi Atap ... 4
2.2 Material Atap ... 5
2.3 Bentuk Atap ... 13
2.4 Kenyaman Termal ... 23
2.4.1 Defenisi Kenyamanan Termal ... 23
2.4.2 Faktor Kenyamanan Termal ... 24
2.5 Rumah ... 26
BAB 3 ... 27
METODOLOGI PENELITIAN ... 27
3.1 Jenis Penelitian ... 27
3.2 Objek dan Kawasan Penelitian ... 28
3.3 Waktu Penelitian ... 29
3.4 Variabel Penelitian ... 29
3.5 Metoda Pengumpulan Data ... 30
3.6 Prosedur Pengumpulan Data ... 31
BAB 4... 32
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 32
4.1 Lokasi Penelitian ... 32
4.2 Hasil Pengukuran dan Analisa ... 34
BAB 5... 45
KESIMPULAN ... 45
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Atap Sirap ... 5
Gambar 2.2 Bangunan dengan Atap Sirap… ... 6
Gambar 2.3 Atap Genteng Tanah Liat… ... 7
Gambar 2.4 Bangunan dengan Atap Genteng Tanah Liat… ... 7
Gambar 2.5 Atap Genteng Beton…... 8
Gambar 2.6 Bangunan dengan Atap Genteng Beton… ... 8
Gambar 2.7 Atap Genteng Metal… ... 9
Gambar 2.8 Bangunan dengan Atap Genteng Metal… ... 9
Gambar 2.9 Atap Seng… ... 10
Gambar 2.10 Bangunan dengan Atap Seng… ... 10
Gambar 2.11 Atap Dak Beton… ... 11
Gambar 2.12 Atap Polikarbonat… ... 11
Gambar 2.13 Atap PVC… ... 12
Gambar 2.14 Penggunaan Atap PVC… ... 12
Gambar 2.15 Atap Pelana ... 13
Gambar 2.16 Atap Pelana ... 13
Gambar 2.17 Atap Perisai… ... 14
Gambar 2.18 Atap Perisai… ... 14
Gambar 2.19 Atap Datar ... 15
Gambar 2.20 Atap Tenda ... 16
Gambar 2.21 Atap Kombinasi Pelana-Perisai… ... 17
Gambar 2.22 Atap Menara ... 18
Gambar 2.23 Atap Menara ... 18
Gambar 2.24 Atap Mansard… ...19
Gambar 2.25 Atap Mansard… ...19
Gambar 2.26 Atap Sandar… ... 20
Gambar 2.27 Atap Sandar… ... 20
Gambar 2.28 Atap Setengah Bola (Kubah)… ... 21
Gambar 2.29 Atap Gergaji ... 22
Gambar 2.30 Atap Gergaji ... 22
Gambar 3.1 Peta Kawasan Penelitian… ... 28
Gambar 3.2 Hygrometer Digital… ... 30
Gambar 4.1 Peta Kawasan Penelitian… ... 32
Gambar 4.2 Jalan Masuk Kawasan Penelitian… ... 32
Gambar 4.3 Kawasan Penelitian… ... 33
Gambar 4.4 Grafik Pengukuran Suhu Rumah Tinggal hari ke-1 ... 34
Gambar 4.5 Grafik Pengukuran Suhu Rumah Tinggal hari ke-2… ... 37
Gambar 4.6 Grafik Pengukuran Suhu Rumah Tinggal hari ke-3… ... 40
BAB 1
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Atap merupakan bagian dari bangunan yang berfungsi sebagai penutup/pelindung ruangan yang berada dibawahnya, baik itu dari hujan, panas, dan keadaan cuaca lainnya. Adanya atap pada suatu bangunan juga diharapkan dapat mengontrol suhu dan kenyamanan pada ruang dalam bangunan.
Negara Indonesia merupakan negara yang mempunyai iklim tropis dengan kelembaban udara tinggi yang dapat mencapai 80%, serta suhu udara yang relatif tinggi (dapat mencapai 35°C). Sedangkan suhu udara yang nyaman berkisar antar 22,5°C- 29°C dengan kelembapan udara berkisar antara 20% - 50% (Lippsmeir, 1994). Maka dari itu, perlu untuk menciptakan kenyamanan termal pada ruang dimana orang melakukan pergerakan dan aktivitas.
Di negara yang beriklim tropis seperti Indonesia, penggunaan atap sangat berpengaruh terhadap suhu dan kenyamanan dalam ruang, terutama dalam hal penggunaan material serta pemilihan bentuk atap bangunan. Pengunaan bentuk atap dengan material yang berbeda tentu akan menciptakan efek yang berbeda pula pada bangunan.
Objek pada penelitian yaitu atap rumah tinggal 1 lantai dengan material dan bentuk yang berbeda-beda. Hal ini dimaksudkan untuk mencari tahu bagaimana pengaruh material serta bentuk atap yang berbeda-beda terhadap suhu dan kenyamanan termal dalam bangunan rumah tinggal.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh material dan bentuk atap terhadap kenyamanan termal dalam rumah tinggal?
2. Atap dengan material dan bentuk yang bagaimanakah yang paling efektif diterapkan pada rumah tinggal agar tercapai kenyamanan termal?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengidentifikasi pengaruh material dan bentuk atap terhadap kenyamanan termal dalam rumah tinggal.
2. Penerapan material dan bentuk atap yang paling efektif untuk rumah tinggal agar tercapai kenyaman termal.
1.4 Manfaat Penelitian
Sebagai upaya penerapan atap dengan bentuk dan material yang paling cocok pada rumah tinggal yang berada di wilayah dengan iklim tropis seperti Indonesia agar tercapai kenyamanan termal.
1.5 Batasan Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kawasan Jalan Bawang, perumnas Simalingkar, Medan, Sumatera Utara. Variabel yang diteliti yaitu material dan bentuk atap pada rumah tinggal. Material atap yang diteliti yaitu seng dan genteng, sedangkan bentuk atap yang diteliti yaitu pelana dan perisai.
Rumah tinggal yang diteliti yaitu rumah tinggal 1 lantai dengan ukuran dan orientasi sama.
Latar Belakang
Di negara yang beriklim tropis seperti Indonesia, penggunaan atap sangat berpengaruh terhadap suhu dan kenyamanan dalam ruang, terutama dalam hal penggunaan material serta pemilihan bentuk atap bangunan. Pengunaan bentuk atap dengan material yang
berbeda tentu akan menciptakan efek yang berbeda pula pada bangunan.
Judul Penelitian
Pengaruh Material dan Bentuk Atap Terhadap Kenyaman Termal Dalam Bangunan Rumah Tinggal
Tujuan Penelitian
1. Untuk mengidentifikasi pengaruh material dan bentuk atap terhadap kenyamanan termal dalam rumah tinggal.
2. Penerapan material dan bentuk atap yang paling efektif untuk rumah tinggal agar tercapai kenyaman termal.
Kesimpulan
Pengukuran 1.6 Kerangka Berfikir
Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh material dan bentuk atap terhadap kenyamanan termal dalam rumah tinggal?
2. Atap dengan material dan bentuk yang bagaimanakah yang paling efektif diterapkan pada rumah tinggal agar tercapai kenyamanan termal?
Metodologi Kuantitatif Studi Pustaka
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian dan Fungsi Atap
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), atap merupakan penutup rumah (bangunan) sebelah atas; benda yang dipakai untuk menutup atas rumah.
Atap adalah suatu bagian dari bangunan yang berfungsi sebagai penutup seluruh ruangan yang ada di bawahnya terhadap pengaruh panas, hujan, angin, debu dan untuk keperluan perlindungan (Rahayu, 2015).
Selain memiliki fungsi untuk melindungi bangunan, atap juga dapat menambah nilai estetika sebuah bangunan. Ada berbagai jenis bentuk atap yang dapat membuat bangunan terlihat indah dan menarik. Ada pula berbagai material atap yang dapat dipilih dan disesuaikan dengan kebutuhan pada bangunan itu sendiri.
Pada saat memilih atap yang sesuai untuk sebuah bangunan, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan, yaitu keadaan iklim wilayah sekitar, bentuk dan material atap itu sendiri, serta besarnya biaya yang diperlukan. Untuk pemilihan bentuk dan material atap sebaiknya disesuaikan dengan bangunan yang akan didirikan.
Menurut Nila Rury (2015) fungsi dari atap bangunan dapat dikategorikan dalam beberapa poin penting yaitu:
1) Sebagai penahan/pelindung dari panas matahari 2) Sebagai penahan/pelindung dari air hujan
3) Sebagai penahan/pelindung dari hembusan angin
2.2 Material Atap
Berikut merupakan beberapa material yang sering digunakan sebagai penutup atap:
1. Atap Sirap
Atap sirap merupakan penutup atap yang terbuat dari kepingan-kepingan tipis kayu jati dan kayu ulin. Kayu jati dan kayu ulin memiliki daya tahan yang lebih jika dibandingkan dengan jenis kayu lainnya, sehingga menjadika atap sirap lebih tahan terhadap serangan cuaca dan rayap.
Gambar 2.1 Atap Sirap (Sumber: Google)
Gambar 2.2 Bangunan dengan Atap Sirap (Sumber: Google)
2. Atap Genteng Tanah Liat
Seperti namanya, material penutup atap ini terbuat dari tanah liat. Material genteng tanah liat banyak digunakan pada rumah tinggal di Indonesia. Penggunaan atap genteng tanah liat bermula pada saat masa penjajahan kolonial Belanda. Atap genteng tanah liat digunakan sebagai atap rumah pribumi, setelah adanya serangan wabah pes. Para peneliti tim kesehatan kolonial Belanda pada waktu itu menyatakan bahwa penularan pes oleh tikus diakibatkan oleh penggunaan rumbia sebagai atap rumah.
Hingga sekarang, genteng tanah liat menjadi material atap yang banyak digunakan pada rumah tinggal di Indonesia.
Gambar 2.3 Atap Genteng Tanah Liat (Sumber: Google)
Gambar 2.4 Bangunan dengan Genteng Tanah Liat (Sumber: Google)
3. Atap Genteng Beton
Atap genteng beton mempunyai bentuk dan ukuran yang hampir sama dengan genteng tanah liat, hanya saja bahan dasarnya yaitu campuran semen PC dan pasir kasar. Bagian luarnya diberi lapisan tipis yang berfungsi sebagai pewarna dan lapisan kedap air
Gambar 2.5 Atap Genteng Beton (Sumber: Google)
Gambar 2.6 Bangunan dengan Atap Genteng Beton (Sumber: Google)
4. Atap Genteng Metal
Atap ini berbentuk material lembaran, mirip seng. Sifatnya juga hamper sama seperti seng yaitu merupakan konduktor panas sehingga menyebabkan suhu dalam bangunan menjadi panas.
Gambar 2.7 Atap Genteng Metal (Sumber: Google)
Gambar 2.8 Bangunan dengan Atap Genteng Metal (Sumber: Google)
5. Atap Seng
Material atap ini terbuat dari lembaran baja tipis yang diberi lapisan seng secara elektrolisis yang tujuannya untuk membuatnya jadi tahan karat. Jenis ini akan bertahan selama lapisan seng ini belum hilang. Namun jika lapisan seng nya sudah
hilang maka akan berkarat. Material seng ini dapat menyerap panas sehingga menyebabkan suhu di dalam rumah ikut panas pula.
Gambar 2.9 Atap Seng (Sumber: Google)
Gambar 2.10 Bangunan dengan Atap Seng (Sumber: Google)
6. Atap Dak Beton
Atap dak beton adalah atap dengan konstruksi yang pada dasarnya sama dengan plat lantai, yang terbuat dari coran beton. Karena terbuat dari beton, atap ini kokoh, kuat pijakan, serta mampu menjadi tempat untuk beraktivitas.
Gambar 2.11 Atap Dak Beton (Sumber: Google)
7. Atap Polikarbonat
Atap polikarbonat adalah satu diantara material sejenis thermoplastic polymer.
Keunggulan polikarbonat adalah pada kualitas materialnya dan ketahanannya terhadap radiasi matahari. Atap jenis ini biasanya dipakai pada kanopi atau atap tambahan.
Gambar 2.12 Atap Polikarbonat (Sumber: Google)
8. PVC (Polyvinyl Chloride)
Material PVC cenderung mengandung lebih banyak bahan aditif pembuat plastik karena telah melalui tahap plasticized (proses penambahan zat ke bahan agar lebih lembut dan fleksibel, untuk meningkatkan plastisitasnya , untuk mengurangi viskositasnya , atau untuk mengurangi gesekan selama penanganannya dalam pembuatan.). Proses ini memberikan sifat fleksibel pada material PVC.
Gambar 2.13 Atap PVC (Sumber: Google)
Gambar 2.14 Penggunaan Atap PVC (Sumber: Google)
2.3 Bentuk Atap
Ada berbagai jenis dan bentuk atap yang umumnya digunakan pada bangunan rumah tinggal, akan dijelaskan pada pembahasan berikut:
1. Atap Pelana
Atap pelana merupakan atap yang terdiri atas dua bidang miring yang ujung atasnya bertemu pada satu garis lurus yang biasa kita sebut bubungan. Sudut kemiringan antara 30-45 derajat.
Gambar 2.15 Atap Pelana (Sumber: Google)
Gambar 2.16 Atap Pelana (Sumber: Google)
2. Atap Perisai
Bentuk atap perisai merupakan penyempurnaan dari bentuk atap pelana, yang terdiri atas dua bidang atap miring yang berbentuk trapezium. Dua bidang atapnya berbentuk segitiga dengan kemiringan yang biasanya sama.
Gambar 2.17 Atap Perisai (Sumber: Google)
Gambar 2.18 Atap Perisai (Sumber: Google)
3. Atap Datar
Model atap yang paling sederhana adalah atap berbentuk datar atau rata. Atap datar biasanya digunakan untuk bangunan/ rumah bertingkat, balkon yang bahannya bisa dibuat dari beton bertulang, untuk teras bahannya dari asbes maupun seng yang tebal.
Agar air hujan yang tertampung bisa mengalir, maka atap dibuat miring ke salah satu sisi dengan kemiringan yang cukup.
Modelnya bidang datar memanjang horizontal biasanya dipakai untuk atap teras atau untuk membuat taman di atas rumah.
Gambar 2.19 Atap Datar (Sumber: Google)
4. Atap Tenda
Atap tenda biasanya digunakan pada bangunan yang panjangnya sama dengan lebarnya, sehingga kemiringan bidang atap sama. Bentuk atap tenda terdiri dari empat bidang atap yang bertemu disatu titik puncak, pertemuan bidang atap yang miring adalah dibubungan miring yang disebut jurai.
Gambar 2.20 Atap Tenda (Sumber: Google)
5. Atap Kombinasi Pelana Perisai
Bentuk atap ini adalah kombinasi atau gabungan dari atap jenis pelana dan perisai (limasan). Ada yang juga menyebut jenis atap ini sebagai atap tenda patah atau atap joglo.
Gambar 2.21 Atap Kombinasi Pelana-Perisai (Sumber: Google)
6. Atap Menara
Bentuk atap menara sama dengan atap tenda, bedanya atap menara ini mempunyai puncak yang lebih tinggi sehingga kelihatan lebih lancip. Atap ini banyak kita jumpai pada bangunan – bangunan gereja atau masjid.
Gambar 2.22 Atap Menara (Sumber: Google)
Gambar 2.23 Atap Menara (Sumber: Google)
7. Atap Mansard
Atap mansard memiliki bentuk yang seolah – olah terdiri dari dua atap yang terlihat bersusun atau bertingkat. Atap mansard jarang digunakan untuk bangunan rumah di
wilayah Indonesia, karena sebetulnya atap ini dibangun oleh pemerintah belanda pada masa penjajahan di Indonesia.
Gambar 2.24 Atap Mansard (Sumber: Google)
Gambar 2.25 Atap Mansard (Sumber: Google)
8. Atap Sandar
Atap sandar bercirikan satu atap tunggal yang terpasang pada dinding-dinding di mana satu dinding lebih tinggi dari dinding lainnya. Bila dibandingkan dengan bentuk atap lainnya yang memiliki dua atau lebih atap miring, bangunan dengan atap sandar hanya dinaungi oleh satu atap miring.
Gambar 2.26 Atap Sandar (Sumber: Google)
Gambar 2.27 Atap Sandar (Sumber: pinterest)
9. Atap Setengah Bola (Kubah)
Model atap berbentuk melengkung setengah bola. Atap ini banyak digunakan untuk bangunan masjid dan gereja.
Gambar 2.28 Atap Setengah Bola (Kubah) (Sumber: architectaria.com)
10. Atap Gergaji
Atap gergaji terdiri dari dua bidang atap yang tidak sama lerengnya. Biasanya lereng- lereng bidang atap tersebut mempunyai sudut 30° dan 60°. Atap semacam ini banyak dibuat pada pabrik, gudang, bengkel.
Gambar 2.29 Atap Gergaji (Sumber: Google)
Gambar 2.30 Atap Gergaji (Sumber: Google)
2.4 Kenyaman Termal
2.4.1 Defenisi Kenyamanan Termal
Kata “kenyamananan” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti keadaan nyaman; kesegaran; kesejukan. Sedangkan kata “termal” berarti berkaitan dengan panas.
Menurut Snyder (1989) defenisi kenyamanan thermal yaitu suatu keadaan yang berhubungan dengan alam yang dapat mempengaruhi manusia dan dapat dikendalikan oleh arsitektur.
Kenyamanan dalam kaitannya dengan bangunan dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana dapat memberikan perasaan nyaman dan menyenangkan bagi penghuni bangunan tersebut (Karyono, 2001). Menurut Olgyay (1963) kenyamanan termal yaitu suatu kondisi di mana manusia berhasil meminimalkan pengeluaran energi dari dalam tubuhnya dalam rangka menyesuaikan (mengadaptasi) terhadap lingkungan termal di sekitarnya.
Menurut Mclntyre (1980), kenyamanan thermal tercapai ketika ia tidak merasa perlu untuk meningkatkan ataupun menurunkan suhu dalam ruangan.
Dapat disimpulkan bahwa kenyamanan termal merupakan suatu keadaan dimana manusia merasa nyaman dengan suhu dalam ruang, tanpa harus meningkatkan atau menurunkan suhu dalam ruangan tersebut.
2.4.2 Faktor Kenyamanan Termal
Kenyamanan termal ditentukan oleh faktor iklim dan faktor individu atau faktor personal. Faktor iklim yang mempengaruhi terdiri dari: suhu udara, suhu radiasi rata- rata, kelembaban udara, serta kecepatan angin. Sementara faktor individu yang turut menentukan keadaan suhu nyaman adalah laju metabolisme (jenis aktifitas) serta jenis pakaian yang dikenakan (Karyono, 2001).
Menurut LPMB PU (dalam Talarosha, 2005) suhu nyaman orang Indonesia berkisar pada suhu 22,8°C - 25,8°C dengan kelembaban udara 70%. Sedangkan di Indonesia, suhu dapat mencapai 35°C dengan kelembapan udara 80% sehingga menimbulkan ketidaknyamanan terutama pada saat beraktivitas.
Pada wilayah yang beriklim tropis seperti Indonesia, ada beberapa hal yang dapat menghambat tercapainya kenyamanan termal, yaitu:
1. Suhu udara tinggi
2. Kelembapan udara tinggi 3. Kecepatan udara rendah
Menurut Nur (2015) dalam bukunya yang berjudul “Fisika Bangunan 1” ada 3 kondisi cuaca yang diperlukam agar tercapai kenyaman termal pada wilayah Indonesia yaitu:
1. Suhu udara 24ºC < T < 26ºC
2. Kelembapan udara 40% < RH < 60%
3. Kecepatan udara 0,6 m/det < v < 1,5 m/det
Berikut merupakan suhu nyaman menurut Standar Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung :
Sejuk nyaman : 20,5°C - 22,8°C
Ambang batas : 24°C Kelembapan : 80%
Nyaman optimal : 22,8°C - 25,8°C
Ambang batas : 28°C Kelembapan : 70%
Hangat nyaman : 25,8C – 27,1°C
Ambang batas : 31°C Kelembapan : 60%
Ada beberapa faktor yang dapat menentukan kenyamanan terhadap panas menurut penelitian yang dilakukan oleh University of Arizona, tahun 2006, yaitu factor lingkungan dan faktor individual:
a) Faktor Lingkungan :
1. Suhu udara kering (dry bulb temperature / DBT) 2. Kelembaban udara (relative humidity / RH) 3. Pergerakan udara (kecepatan v dalam m/detik) 4. Radiasi (Mean radiant temperature / MRT) b) Faktor Individual :
1. Aktivitas
2. Pakaian / baju yang dikenakan.
2.5 Rumah
Pengertian rumah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu : 1. Bangunan untuk tempat tinggal
2. Bangunan pada umumnya (seperti gedung)
Menurut Undang-undang No 4 tahun 1992, rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal dan sarana pembinaan keluarga.
Rumah harus menjamin kepentingan keluarga, yaitu untuk tumbuh, memberi kemungkinan untuk hidup bergaul dengan tetangganya, dan lebih dari itu, rumah harus memberi ketenangan, kesenangan, kebahagiaan, dan kenyamanan pada segala peristiwa hidupnya. (Frick,2006)
Menurut Doxiadis dalam Dian (2009) , rumah memiliki fungsi-fungsi berikut:
Rumah harus memenuhi kebutuhan pokok jasmani manusia.
Rumah harus memenuhi kebutuhan pokok rohani manusia.
Rumah harus melindungi manusia dari penularan penyakit.
Rumah harus melindungi manusia dari gangguan luar.
Rumah menunjukan tempat tinggal.
Rumah merupakan mediasi antara manusia dan dunia.
Rumah merupakan arsenal, yaitu tempat manusia mendapatkan kekuatan kembali.
Ditinjau dari pengertian dan fungsi rumah diatas, maka dapat disimpulkan bahwa rumah tinggal merupakan tempat untuk tinggal, bertumbuh, serta tempat untuk berlindung dari segala ancaman maupun kondisi alam (iklim dan cuaca).
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini, metode yang cocok digunakan yaitu metode penelitian kuantitatif.
Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang dimaksud untuk mengungkapkan gejala secara holistik-konstektual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci.
Urutan pelaksanaan adalah sebagai berikut:
■ Melakukan studi pustaka, yaitu dengan membaca buku dan jurnal.
■ Menentukan rancangan eksperimen, yaitu menentukan waktu untuk melaksanakan pengukuran suhu pada rumah tinggal.
■ Melaksanakan eksperimen, yaitu melaksanakan pengukuran suhu pada rumah tinggal.
■ Melakukan Analisa dari hasil eksperimen
3.2 Objek dan Kawasan Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada Jl. Bawang kawasan perumnas Simalingkar, Medan, Sumatera Utara.
Gambar 3.1 Peta Kawasan Penelitian (Sumber: Google Maps)
Objek yang diteliti pada penelitian ini yaitu rumah tinggal 1 lantai di Jl. Bawang, perumnas Simalingkar, Medan, Sumatera Utara.
Rumah tinggal yang diteliti memiliki ketentuan sebagai berikut:
Rumah tinggal 1 lantai
Berorientasi sama yaitu kearah utara
Memiliki luas -+ 72m2
Bentuk atap pelana dan perisai
Material atap seng dan genteng.
3.3 Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada siang hari (12.00-13.00 WIB) saat kondisi matahari berada pada puncaknya, untuk mengetahui suhu dan kelembapan dalam rumah pada kondisi paling panas.
Ruang yang akan diukur suhu dan kelembapannya yaitu ruang tamu, karena ruangan tersebut adalah ruangan yang tidak menggunakan pendingin ruang (AC).
3.4 Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian meliputi:
1. Material atap 2. Bentuk atap
Variabel dalam penelitian ini akan disilangkan antara material dan bentuk atap yang berbeda.
1. Bentuk atap pelana dengan material atap seng.
2. Bentuk atap pelana dengan material atap genteng tanah liat.
3. Bentuk atap perisai dengan material atap seng.
4. Bentuk atap perisai dengan material atap genteng tanah liat.
Pemilihan bentuk atap dan material disesuaikan dengan bangunan rumah tinggal pada kawasan penelitian yang banyak menggunakan bentuk atap pelana dan perisai serta penggunaan material seng dan genteng tanah liat.
3.5 Metoda Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder.
a. Data Primer
Pengambilan data primer dilakukan langsung pada lokasi penelitian, yaitu dengan melakukan eksperimen pada beberapa kombinasi antara material dan bentuk atap lalu dilakukan pengukuran suhu dan kelembapan dalam ruang menggunakan alat hygrometer digital pada bangunan rumah tinggal.
Gambar 3.2 Hygrometer Digital (Sumber: Peneliti)
b. Data Sekunder
Data sekunder didapat dengan mengumpulkan data dan mencatat hal-hal penting yang berkaitan dengan masalah penelitian, didapat dari jurnal, buku, serta literatur dan dokumen-dokumen lain.
3.6 Prosedur Pengumpulan Data
Data yang diperlukan pada penelitian ini yaitu suhu dan kelembapan dalam rumah tinggal.
Langkah-langkah pengambilan data sebagai berikut:
Mengukur suhu dan kelembapan dalam rentang waktu 1 jam dari pukul 12.00-13.00 WIB.
Mencatat perubahan suhu dari waktu ke waktu.
Mencatat suhu tertinggi dan suhu terendah.
Menghitung suhu rata-rata.
Membuat grafik.
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada Jl. Bawang kawasan perumnas Simalingkar, Medan, Sumatera Utara.
Gambar 4.1 Peta Kawasan Penelitian (Sumber: Google Maps)
Gambar 4.2 Jalan masuk kawasan penelitian (Sumber: Peneliti)
Gambar 4.3 Kawasan penelitian (Sumber: Peneliti)
Pada kawasan penelitian, dipilih 4 rumah dengan kriteria:
1. Rumah tinggal dengan bentuk atap pelana dengan material atap seng.
2. Rumah tinggal dengan bentuk atap pelana dengan material atap genteng tanah liat.
3. Rumah tinggal dengan bentuk atap perisai dengan material atap seng.
4. Rumah tinggal dengan bentuk atap perisai dengan material atap genteng tanah liat.
4.2 Hasil Pengukuran dan Analisa
Pengukuran dilakukan pada waktu siang hari pukul 12.00-13.00 WIB, saat matahari berada pada puncaknya yang menyebabkan suhu udara paling panas. Hasil pengukuran selama 3 hari disajikan dalam grafik berikut:
1. Hari Pertama
Gambar 4.4 Grafik pengukuran suhu rumah tinggal hari ke 1 (Sumber: Peneliti)
Atap Pelana Seng
Hasil pengukuran pada rumah tinggal dengan atap pelana seng hari pertama yaitu:
Pukul 12.00 WIB: 29,5°C Pukul 12.15 WIB: 30,5°C Pukul 12.30 WIB: 31,5°C
Grafik Suhu Hari Pertama
33 32 31 30 29 28 27
26
12.00 WIB 12.15 WIB 12.30 WIB 12.45 WIB 13.00 WIB
Pelana Seng Perisai Seng Pelana Genteng Perisai Genteng
Pukul 12.45 WIB: 30°C Pukul 13.00 WIB: 30,5°C
Suhu terendah yaitu 29,5°C pada pukul 12.00 WIB, suhu tertinggi yaitu 31,5°C pada pukul 12.30 WIB, dengan kelembapan udara 74%. Selisih antara suhu tertinggi dan suhu terendah yaitu 2°C.
Atap Perisai Seng
Hasil pengukuran pada rumah tinggal dengan atap perisai seng hari pertama yaitu:
Pukul 12.00 WIB: 31,5°C Pukul 12.15 WIB: 30,5°C Pukul 12.30 WIB: 31°C Pukul 12.45 WIB: 32°C Pukul 13.00 WIB: 31,5°C
Suhu terendah yaitu 30,5°C pada pukul 12.15 WIB, suhu tertinggi yaitu 32°C pada pukul 12.45 WIB, dengan kelembapan udara 74%. Selisih antara suhu tertinggi dan suhu terendah yaitu 1,5°C.
Atap Pelana Genteng
Hasil pengukuran pada rumah tinggal dengan atap pelana genteng hari pertama yaitu:
Pukul 12.00 WIB: 28,5°C Pukul 12.15 WIB: 29,5°C
Pukul 12.30 WIB: 30°C Pukul 12.45 WIB: 29,5°C Pukul 13.00 WIB: 30°C
Suhu terendah yaitu 28,5°C pada pukul 12.00 WIB, suhu tertinggi yaitu 30°C pada pukul 12.30 WIB, dengan kelembapan udara 74%. Selisih antara suhu tertinggi dan suhu terendah yaitu 1,5°C.
Atap Perisai Genteng
Hasil pengukuran pada rumah tinggal dengan atap perisai genteng hari pertama yaitu:
Pukul 12.00 WIB: 29°C Pukul 12.15 WIB: 30,5°C Pukul 12.30 WIB: 29,5°C Pukul 12.45 WIB: 30°C Pukul 13.00 WIB: 30,5°C
Suhu terendah yaitu 29°C pada pukul 12.00 WIB, suhu tertinggi yaitu 30,5°C pada pukul 12.30 dan 13.00 WIB, dengan kelembapan udara 74%. Selisih antara suhu tertinggi dan suhu terendah yaitu 1,5°C.
2. Hari Kedua
Gambar 4.5 Grafik pengukuran suhu rumah tinggal hari ke 2 (Sumber: Peneliti)
Atap Pelana Seng
Hasil pengukuran pada rumah tinggal dengan atap pelana seng hari kedua yaitu:
Pukul 12.00 WIB: 29,3°C Pukul 12.15 WIB: 30,5°C Pukul 12.30 WIB: 30°C Pukul 12.45 WIB: 29,4°C Pukul 13.00 WIB: 30,2°C
Grafik Suhu Hari Kedua
32
31 31
31,5
31 31,3
30,3 30,5
30
29,5
30,6 30,2 29,7 29,3
30,5 30 29,5
29,1 29,4
29
28,4 28,6
28 28
27
26
12.00 WIB 12.15 WIB 12.30 WIB 12.45 WIB 13.00 WIB
Pelana Seng Perisai Seng Pelana Genteng Perisai Genteng
Suhu terendah yaitu 29,3°C pada pukul 12.00 WIB, suhu tertinggi yaitu 30,5°C pada pukul 12.15 WIB, dengan kelembapan udara 76%. Selisih antara suhu tertinggi dan suhu terendah yaitu 1,2°C.
Atap Perisai Seng
Hasil pengukuran pada rumah tinggal dengan atap perisai seng hari kedua yaitu:
Pukul 12.00 WIB: 30,3°C Pukul 12.15 WIB: 31°C Pukul 12.30 WIB: 30,5°C Pukul 12.45 WIB: 31,5°C Pukul 13.00 WIB: 31,3°C
Suhu terendah yaitu 30,3°C pada pukul 12.00 WIB, suhu tertinggi yaitu 31,5°C pada pukul 12.45 WIB, dengan kelembapan udara 76%. Selisih antara suhu tertinggi dan suhu terendah yaitu 1,2°C.
Atap Pelana Genteng
Hasil pengukuran pada rumah tinggal dengan atap pelana genteng hari kedua yaitu:
Pukul 12.00 WIB: 29,3°C Pukul 12.15 WIB: 30,5°C Pukul 12.30 WIB: 30°C Pukul 12.45 WIB: 29,4°C
Pukul 13.00 WIB: 30,2°C
Suhu terendah yaitu 29,3°C pada pukul 12.00 WIB, suhu tertinggi yaitu 30,5°C pada pukul 12.15 WIB, dengan kelembapan udara 76%. Selisih antara suhu tertinggi dan suhu terendah yaitu 1, 2°C.
Atap Perisai Genteng
Hasil pengukuran pada rumah tinggal dengan atap perisai genteng hari kedua yaitu:
Pukul 12.00 WIB: 29,5°C Pukul 12.15 WIB: 30,5°C Pukul 12.30 WIB: 29,5°C Pukul 12.45 WIB: 31°C Pukul 13.00 WIB: 30,6°C
Suhu terendah yaitu 29,5°C pada pukul 12.00 dan 12.30 WIB, suhu tertinggi yaitu 30,6°C pada pukul 13.00 WIB, dengan kelembapan udara 76%. Selisih antara suhu tertinggi dan suhu terendah yaitu 1,1°C.
3. Hari Ketiga
Gambar 4.6 Grafik pengukuran suhu rumah tinggal hari ke 3 (Sumber: Peneliti)
Atap Pelana Seng
Hasil pengukuran pada rumah tinggal dengan atap pelana seng hari ketiga yaitu:
Pukul 12.00 WIB: 29,4°C Pukul 12.15 WIB: 30,6°C Pukul 12.30 WIB: 29,7°C Pukul 12.45 WIB: 30°C Pukul 13.00 WIB: 30,5°C
Suhu terendah yaitu 29,4°C pada pukul 12.00 WIB, suhu tertinggi yaitu 30,6°C pada pukul 12.15 WIB, dengan kelembapan udara 76%. Selisih antara suhu tertinggi dan suhu terendah yaitu 1,2°C.
Grafik Suhu Hari Ketiga
33 32 31 30 29 28 27
26
12.00 WIB 12.15 WIB 12.30 WIB 12.45 WIB 13.00 WIB Pelana seng Perisai Seng Pelana Genteng Perisai Genteng
Atap Perisai Seng
Hasil pengukuran pada rumah tinggal dengan atap perisai seng hari ketiga yaitu:
Pukul 12.00 WIB: 30,5°C Pukul 12.15 WIB: 31,3°C Pukul 12.30 WIB: 30,7°C Pukul 12.45 WIB: 32°C Pukul 13.00 WIB: 31,6°C
Suhu terendah yaitu 30,5°C pada pukul 12.00 WIB, suhu tertinggi yaitu 32°C pada pukul 12.45 WIB, dengan kelembapan udara 76%. Selisih antara suhu tertinggi dan suhu terendah yaitu 1,5°C.
Atap Pelana Genteng
Hasil pengukuran pada rumah tinggal dengan atap pelana genteng hari ketiga yaitu:
Pukul 12.00 WIB: 28,6°C Pukul 12.15 WIB: 29°C Pukul 12.30 WIB: 29,5°C Pukul 12.45 WIB: 28,5°C Pukul 13.00 WIB: 29,8°C
Suhu terendah yaitu 28,5°C pada pukul 12.45 WIB, suhu tertinggi yaitu 29,8°C pada pukul 13.00 WIB, dengan kelembapan udara 76%. Selisih antara suhu tertinggi dan suhu terendah yaitu 1,3°C.
Atap Perisai Genteng
Hasil pengukuran pada rumah tinggal dengan atap perisai genteng hari ketiga yaitu:
Pukul 12.00 WIB: 30°C Pukul 12.15 WIB: 30,1°C Pukul 12.30 WIB: 29,8°C Pukul 12.45 WIB: 30,7°C Pukul 13.00 WIB: 31,3°C
Suhu terendah yaitu 29,8°C pada pukul 12.30 WIB, suhu tertinggi yaitu 31,3°C pada pukul 13.00 WIB, dengan kelembapan udara 76%. Selisih antara suhu tertinggi dan suhu terendah yaitu 1,5°C.
Setelah dilakukan pengukuran suhu selama 3 hari berturut-turut, maka diperoleh rata-rata suhu pada masing-masing rumah tinggal:
Rumah dengan atap Pelana Seng
Suhu rata-rata pada rumah tinggal dengan atap pelana seng yaitu 30,1°C
Rumah dengan atap Perisai Seng
Suhu rata-rata pada rumah tinggal dengan atap perisai seng yaitu 31,14°C
Rumah dengan atap Pelana Genteng
Suhu rata-rata pada rumah tinggal dengan atap pelana genteng yaitu 29,4°C
Rumah dengan atap Perisai Genteng
Suhu rata-rata pada rumah tinggal dengan atap perisai genteng yaitu 30,16°C
Menurut LPMB PU (dalam Talarosha, 2005) suhu nyaman orang Indonesia berkisar pada suhu 22,8°C - 25,8°C dengan kelembaban udara 70%. Menurut Standar Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung, kategori suhu nyaman terbagi atas:
Sejuk nyaman : 20,5°C - 22,8°C
Ambang batas : 24°C Kelembapan : 80%
Nyaman optimal : 22,8°C - 25,8°C
Ambang batas : 28°C
Kelembapan : 70%
Hangat nyaman : 25,8C – 27,1°C Ambang batas : 31°C
Hasil pengukuran pada rumah tinggal dengan atap pelana seng, suhu rata-rata 30,1°C kelembapan udara rata-rata 75,3%. Berdasarkan Standar Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung, maka masuk kedalam kategori hangat nyaman.
Hasil pengukuran pada rumah tinggal dengan atap perisai seng, suhu rata-rata 31,14°C kelembapan udara rata-rata 75,3%. Berdasarkan Standar Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung, maka masuk kedalam kategori hangat nyaman.
Hasil pengukuran pada rumah tinggal dengan atap pelana genteng, suhu rata-rata 29,4°C kelembapan udara rata-rata 75,3%. Berdasarkan Standar Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung, maka masuk kedalam kategori hangat nyaman.
Hasil pengukuran pada rumah tinggal dengan atap perisai genteng, suhu rata-rata 30,16°C kelembapan udara rata-rata 75,3%. Berdasarkan Standar Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung, maka masuk kedalam kategori hangat nyaman.
Dari keempat hasil pengukuran, ternyata semuanya masuk kedalam kategori hangat nyaman.
Tetapi walaupun masuk kedalam kategori yang sama, suhu rata-rata tiap rumah tinggal yang telah diukur berbeda. Suhu rata-rata tertinggi yaitu pada rumah tinggal dengan atap perisai seng yaitu 31,14°C. Suhu rata-rata terendah yaitu pada rumah tinggal dengan atap pelana genteng yaitu 29,4°C.
Hasil pengukuran menunjukkan bahwa suhu dalam rumah yang menggunakan atap dengan material seng cenderung lebih panas dibandingkan dengan atap genteng.
BAB 5
KESIMPULAN
Dari hasil pengukuran suhu dan kelembapan pada rumah tingga dengan bentuk dan material atap yang berbeda, dapat diketahui bahwa:
1. Pada atap pelana seng, suhu rata-rata 30,1°C dengan kelembapan udara rata-rata 75,3%.
2. Pada atap perisai seng, suhu rata-rata: 31,14°C dengan kelembapan udara rata-rata 75,3%.
3. Pada atap pelana genteng, suhu rata-rata: 29,4°C dengan kelembapan udara rata-rata 75,3%.
4. Pada atap perisai genteng, suhu rata-rata: 30,16°C dengan kelembapan udara rata-rata 75,3%.
5. Keempat rumah tinggal tersebut sama-sama dikategorikan dalam suhu hangat nyaman.
Maka dapat ditarik kempulan bahwa:
1. Bangunan rumah tinggal yang suhunya paling tinggi yaitu rumah dengan atap perisai seng.
2. Bangunan rumah tinggal yang suhunya paling rendah yaitu rumah dengan atap pelana genteng.
3. Rumah yang menggunakan atap dengan material seng, memiliki suhu yang cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan rumah yang atapnya menggunakan material genteng.
4. Kenyamanan termal pada bangunan rumah tinggal lebih terasa pada rumah tinggal yang menggunakan atap dengan material atap genteng dengan bentuk atap pelana.
Saran dan Solusi Design:
Dari hasil penelitian didapatkan kesimpulan bahwa atap bangunan yang dapat menciptakan kenyamanan termal pada rumah tinggal yaitu atap dengan material genteng dengan bentuk pelana. Maka saran yang dapat diberikan yaitu:
Menggunakan atap dengan material genteng tanah liat dibandingkan dengan seng untuk mengurangi panas dalam bangunan.
Pemilihan bentuk atap pelana pada bangunan rumah tinggal.
DAFTAR PUSTAKA
Talarosha, Basaria (2005). “Menciptakan Kenyamanan Thermal Dalam Bangunan”. Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 6, No. 3 Juli 2005.
Rury, Nila dkk (2015). “Pengaruh Material dan Bentuk Atap Rumah Tinggal Terhadap Suhu Di Dalam Ruang”. AGORA, Jurnal Arsitektur, Volume 15, Nomor 1, Juni 2015.
Latifah, Nur Laela (2015). Fisika Bangunan 1. Jakarta: Griya Kreasi (Penebar Swadaya Grup).
Kholiq, Afrizal dkk (2016). “Pengaruh Bentuk Atap Terhadap Karakteristik Thermal Pada Rumah Tinggal Tiga Lantai”. Vitruvian Jurnal Arsitektur, Bangunan, & Lingkungan | Vol.5 No.3 Juni 2016 : 105-162.
H.H, Tiara Klaudia dkk (2019). “Analisis Pengaruh Karakteristik Thermal Material Atap Terhadap Kenyamanan Ruangan”. Ranah Research : Journal of Multidicsiplinary Research and Development Volume 1, Issue 3, May 2019.
Misbach, Yogi dkk. “Pengaruh Konfigurasi Atap pada Rumah Tinggal Minimalis Terhadap Kenyamanan Termal Ruang”.
Rahmat, Amat dkk (2017). “Studi Pengaruh Bahan Penutup Atap Terhadap Kondisi Termal Pada Ruang Atap”. ARCADE: Vol. I No. 1, Juli 2017.
Fatimah dkk (2019). “Jenis Atap, Suhu dan Kelembaban Dalam Rumah”. Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 16 No. 1, Januari 2019.
Alahudin, Muchlis (2012). “Kenyamanan Termal Pada Bangunan Hunian Tradisional Toraja (Studi Kasus Tongkonan Dengan Material Atap Seng)”. Jurnal Ilmiah Mustek Anim Ha Vol.1 No. 2, Agustus 2012 ISSN 2089-6697.
Sugini (2004). “Pemaknaan Istilah- Istilah Kualitas Kenyamanan Thermal Ruang Dalam Kaitan Dengan Variabel Iklim Ruang”. LOGIKA, Vol. 1, No. 2, Juli 2004.
Sudarmadji (2014). “Analisa Sisi Positif dan Negatif Pemilihan Bentuk Atap Berpenutup Genteng Untuk Rumah Tinggal”. PILAR Jurnal Teknik Sipil, Volume 10, No. 1, Maret 2014.
Prianto, Eddy (2002). “Alternatif Disain Arsitektur Daerah Tropis Lembab Dengan
Pendekatan Kenyamanan Thermal”. DIMENSI TEKNIK ARSITEKTUR Vol. 30, No. 1, Juli 2002: 85 – 94.
Utomo, Udi Prasetyo dkk (2016). “Hubungan Jenis Atap Dengan Suhu dan Kelembaban Kamar Tidur Di Desa Karangmangu Rw 01 Kecamatan Baturraden Kabupaten Benyumas Tahun 2015”. Keslingmas Vol. 35 Hal. 86 – 151 Juni 2016 | 112.
Rilatupa, James (2008). “Aspek Kenyamanan Termal Pada Pengkondisian Ruang Dalam”.
Jurnal Sains dan Teknologi EMAS, Vol. 18, No. 3, Agustus 2008.