• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keyword : Evidence of Power, Notarization Evidence of Process, Civil of Cases

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Keyword : Evidence of Power, Notarization Evidence of Process, Civil of Cases"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

KEKUATAN PEMBUKTIAN AKTA NOTARIS DALAM PROSES PERADILAN PERKARA PERDATA

I Dewa Made Suartha, I Ketut Sudjana.

Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Udayana, Jl. Bali No. 1 Denpasar.

Telp/Fax : 0361 222666/0361 234888.

[email protected]

ABSTRACT

The title of this research its the strenght of evidence in the notarial deed proving process civil court cases No. : 82/PDT.G/2013/PN.DPS in Denpasar district court. This problems : 1) Why is autentic deed in the case of No. 82/PDT.G/2013/PN.Dps to vain of the clar of the law ?, 2) What is the legal this other evidence with document is not the clar in the law from judges ?, 3) What is formale deed the clar of vain with the law from sentence by the judges in the court ?That ower problems to analytic this of authority theory, responsibility of law theory and ecidence theory. This research to use empirical method in the cases studies on the sivil cases No. : 82/PDT.G/2013/PN.DPS, and used used of description analytic. In the even of cancallation at the research its one problem found that the ded of sale will be made publies notary, as well as the judges raling on the law suit plantiffs with the mayority, in favor of the praintiffs on the law suit the fedaut I, II, III its evidences anlawfull. That the second problem are the fedaut II is not legality and this object of cases to selling and ower yield its to pay to by plaintiff in that case.

Keyword : Evidence of Power, Notarization Evidence of Process, Civil of Cases

PENDAHULUAN

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta arus globalisasi dan transportasi yang demikian pesat, membawa pengaruh akan pola pikir dan mobilitas manusia merambah tempat tinggal dari satu benua ke benua lain untuk berpindah domisili baik secara tetap maupun sementara demikian tinggi. Namun disisi lain sering terjadi warga negara yang terperangkap aturan di suatu negara tempat mereka beraktivitas, seperti melakukan usaha bisnis. Praktek yang mereka lakukan sering diperdaya oleh oknum maupun

(3)

perorangan yang memanfaatkan kelemahan mereka, walaupun sejak semula ada yang beritikat baik untuk menanamkan modalnya guna kepentingan bersama. Namun kenyataannya orang asing atau pihak investor terjebak dan terjerumus ke dalam hukum sebagaimana terungkap dalam putusan perkara perdata No. 82/Pdt.G/2013/PN.Dps yang pada amar putusannya menyebutkan akta notaris dinyatakan batal demi hukum. Fenomena demikian sering mengemuka dalam kehidupan praktek sosio-yuridis berupa perjanjian formal yang dibuat pihak asing sebagai investor (pemilik modal) dengan pihak warga negara Indonesia. Dalam hal ini Notaris merupakan pejabat umum yang memberikan jaminan kepastian hukum kepada masyarakat yang berhubungan dengan pembuatan akta otentik baik itu dalam masalah hukum, ekonomi, sosial, maupun politik. Akta otentik yang dibuat oleh notaries sebagai alat bukti yang sempurna dalam proses pembuktian perkara perdata. Terkait dengan uraian tersebut diatas, maka permasalahannya sebagai berikut :

a. Mengapa akta notaris dalam perkara No. 82/Pdt.G/2013/PN.Dps dinyatakan batal demi hukum?.

b. Bagaimana kekuatan pembuktian terhadap akta notaris yang dinyatakan batal demi hukum oleh hakim?.

c. Apa akibat hukum dari akta notaris yang batal demi hukum tersebut ?

(4)

METODE PENELITIAN 1. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah jenis penelitian hukum empiris, karena mengacu pada permasalahan yang terjadi di masyarakat secara nyata terkait dengan masalah hukum khusunya hukum perdata yang melibatkan pejabat umum yang bertanggungjawab atas akta otentik yang telah dibuat sehingga dalam kenyataannya menimbulkan suatu sengketa sehingga sering berakhir di Pengadilan.

2. Sifat Penelitian

Penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini bersifat deskriptif analitis artinya penelitian ini bersifat menggambarkan, menjelaskan, menganalisis dan membuktikan maupun dalam bentuk secara jelas dan akurat terhadap masalah yang diambil sebagai objek penelitian ini tidak di kurangi dan di tambahkan.

3. Jenis Data

Jenis data ada 2 (dua), yakni :

a) Data Primer adalah data pokok yang diperoleh langsung melalui pihak-pihak yang terkait melalui para responden dengan tahap observasi dan praktik di lapangan, melakukan wawancara, melakukan kuisioner baik secara terbuka ataupun tertutup dan secara tatap muka, serta melakukan uji coba;

(5)

b) Data sekunder merupakan data yang diperoleh sebagai pembanding dalam data primer yang diperoleh dari bahan-bahan kepustakaan sebagai penunjang penelitian seperti buku-buku, dokumen-dokumen, karya ilmiah , jurnal dan sumber lain yang terkait sehingga penelitian ini mudah dilakukan baik melalui pengumpulan data primer maupun data sekunder.

4. Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian hukum ini bersumber dari :

a) Data Primer (field research) merupakan data yang diperoleh dari sumber utama yaitu dari lapangan dalam hal ini adalah data dokumen dan para responden yaitu para pihak yang terlibat dalam kasus yang diperkarakan di Pengadilan Negeri seperti wawancara langsung dengan Hakim yang terlibat atau dari pihak yang bersengketa seperti advokatnya / kuasanya.

b) Data Sekunder merupakan data yang bersumber dari data kepustakaan (libraryresearch) yang diperoleh dari Buku-buku dan dokumen-dokumen resmi hasil-hasil penelitian yang berwujud sebagai laporan merupakan data yang tingkatanya kedua bukan yang utama.1

c) Data Tersier berupa kamus, ensiklopedia, jurnal, makalah dan lain- lain.

(6)

5. Langkah-Langkah Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data diperoleh dari berbagai sumber diantaranya:

a) Melakukan studi kepustakaan (study document) yaitu dengan cara mempelajari peraturan-peraturan yang terkait dengan penelitian, mempelajari berbagai teori dan kasus yang terkait, memahami buku- buku, jurnal - jurnal, karya ilmiah dari berbagai hasil penelitian yang terkait pula serta dokumenlain yang diperlukan baik dari media maupun dari berbagai sumber.2

b) Dalam tahap selanjutnya dilakukan melalui tahap uji dilapangan dengan membuat suatu daftar jenis pertanyaan dalam suatu wawancara yang digunakan kepada beberapa responden sehingga terstruktur dari setiap jenis masalah maupun jalan keluar dari studi kasus penelitian baik secara langsung maupun tidak langsung serta mencari data pendukung yang diambil dari narasumber ataupun responden.

6. Lokasi Penelitian

Penelitian berlokasi di Pengadilan Negeri Denpasar, dan dalam melakukan penelitian telah mendapatkan izin dari Ketua Pengadilan Negeri serta izin dari Pemerintah Kota Denpasar. Peneliti melakukan penelitian dengan mengikuti beberapa sidang perkara di Pengadilan Negeri Denpasar, sehingga memudahkan Penulis untuk melakukan tahap

(7)

pencarian sumber data terhadap studi kasus yang diambil dalam penelitian ini.

7. Teknik Pengolahan Data

Teknik pengolahan dan analisis data apabila data primer maupun sekunder telah dihimpun, dilakukan tahap analisis data untuk mengetahui kebenarannya. Data yang diperoleh baik dari studi lapangan maupun studi dokumen pada dasarnya merupakan data lapangan yang dianalisis secara kualitatif. Setelah data terkumpul kemudian dituangkan dalam bentuk uraian logis dan sistematis, selanjutnya dianalisis untuk memperoleh kejelasan penyelesaian masalah, kemudian ditarik kesimpulan secara induktif, yaitu dari hal yang bersifat umum menuju hal yang bersifat khusus.3

8. Teknik Analisis Data

Adapun data yang dianalisis terkait kasus nominee di Pengadilan Negeri Denpasar berupa data dari Putusan No. 82/Pdt.G/2013/PN.Dps, dengan penggugat berhadapan dengan para tergugat. Penggugat mendalilkan haknya atas pembelian sebidang tanah dengan uang milik penggugat untuk membeli obyek sengketa yang dilakukan bertindak atas nama tergugat I. Dalam rangkaian kasus tersebut tergugat mengalihkan tanah sengketa berupa menjual obyek lagi pada tergugat II, obyek sengketa sudah atas nama tergugat I yang dokumen hukumnya dibuat di depan pejabat publik dengan akta jual beli yang dibuat notaris.

(8)

Penggugat merasa dirugikan haknya atas obyek (miliknya – versi perjanjian nominee), maka penggugat menggugat ke Pengadilan Negeri Denpasar. Dalam putusan pengadilan hakim memeriksa dan memutus mengabulkan gugatan sebagian gugatan penggugat berupa tergugat I mesti mengembalikan harga sebesar nilai pembelian obyek tanah sengketa karena sesuai bukti – bukti (tertulis) yang dipegang penggugat ada bukti transfer uang kepada tergugat I untuk pembelian obyek tanah sengketa, walaupun obyek sengketa atas nama tergugat I (disini telah terjadi pembuatan dokumen akta jual beli antara penggugat dan tergugat I secara terselubung), hal inilah indikasi ciri perjanjian / perbuatan hukum dengan istilah nominee.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Akta Notaris Dinyatakan Batal Demi Hukum Perkara Perdata Nomor : 82/PDT.G/2013/PN.DPS

Pengambilan keputusan seorang hakim tergantung dari keadaan akta Notaris yang dijadikan bukti tersebut. Tidak semua akta Notaris yang dipandang salah oleh Hakim harus dinyatakan batal demi hukum. Bahkan ada juga yang cukup di-nyatakan bahwa akta Notaris tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum. Putusan Hakim dapat memuat:

1. Isi Akta (peristiwa/perbuatan hukumnya) batal dan aktanya itu sendiri juga batal. Hal ini terjadi bila bentuk akta itu menjadi persyaratan dari sahnya perbuatan hukum tersebut, seperti:

- Hibah harus dibuat dengan akta Notaris (Pasal 1682 KUHPerdata) - Perjanjian kawin harus dibuat dengan akta Notaris (Pasal

147 KUHPerdata) Kalau akta-akta ini dibatalkan oleh Hakim, maka akta itu batal sebagai akta autentik dan perbuatan hukumnya tersebut juga ikut batal.

(9)

2. Isi akta batal, aktanya sendiri tidak batal.

Ini dapat terjadi bila akta tersebut tidak mengandung cacat yuridis. Yang dibatalkan hanyalah perbuatan hukum/peristiwa hukum yang disebutkan dalam akta tersebut. Akta batal tetapi isi akta (perbuatan hukum dan peristiwa hukum tersebut) tidak batal. Hal ini terjadi apabila misalnya ada Akta Pernyataan Keputusan Rapat yang dijadikan bukti di persidangan, sedang seharusnya bentuk akta tersebut adalah Berita Acara Rapat. Apabila Hakim berpendapat akta tersebut salah, maka seharusnya Hakim memutuskan membatalkan akta tetapi peristiwa hukumnya tidak dibatalkan. Pembatalan yang diputuskan oleh seorang hakim atas suatu akta notaris dapat berbentuk: batal demi hukum atau dapat dibatalkan, apabila akta notaris tersebut tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh undang-undang yaitu: tidak terpenuhinya syarat subyektif (sepakat mereka yang mengikatkan dirinya, cakap untuk membuat suatu perjanjian) atau syarat obyektif (suatu hal tertentu, sebab yang halal). Dengan pertimbangan tersebut, hakim dapat membatalkan akta tersebut dalam bentuk batal demi hukum apabila tidak memenuhi syarat obyektif, atau dapat dibatalkan apabila tidak memenuhi syarat subyektif.

3. Terkait dengan Putusan Pengadilan Negeri Denpasar terhadap kasus sengketa jual - beli tersebut belum tepat karena pemeriksaan dalam tingkat kasasi hanya melihat ancaman kelalaian notaris yang akhirnya mengeluarkan putusan berupa pembatalan akta Jual Beli Tanah dan Bangunan, artinya pembatalan akta Jual -Beli tanah dan bangunan yang telah dilakukan oleh para pihak (Tergugat I, II, dan Turut tergugat) dihadapan notaris (Tergugat III) tidak dianggap ada atau hapus (batal demi hukum).

Sedangkan kesepakatan para pihak sebelum membuat akta telah terjadi dengan adanya pembayaran, dan dari pihak penggugat sendiri tidak mengetahui akan perjanjian jual beli tersebut. Akta autentik yang dibatalkan

(10)

oleh Pengadilan tidak serta merta menjadi hapus, melainkan akta tersebut masih berfungsi sebagai akta dibawah tangan, sebagaimana diatur dalam Pasal 1869 KUHPerdata: "Suatu akta, yang karena tidak berkuasa atau tidak cakapnya pegawai dimaksud diatas, atau karena suatu cacat dalam bentuknya, tidak dapat diperlakukan sebagai akta autentik, namun demikian mempunyai kekuatan sebagai tulisan di bawah tangan jika ditandatangani oleh para pihak". Artinya: apabila akta autentik yang dibuat oleh notaris tidak sesuai dengan bentuk yang ditentukan oleh undang-undang maka otentisitas dari akta tersebut menjadi hilang dan berubah menjadi akta dibawah tangan. Seperti dalam kasus sengketa tanah, oleh karena notaris tidak memperhatikan syarat-syarat yang ditentukan dalam Undang-Undang Jabatan Notaris Pasal 41, maka akta perpanjangan sewa tanah yang dibuat oleh notaris tersebut akan menjadi akta di bawah tangan. Pada Pasal 41 Undang-Undang Jabatan Notaris (UUJN) yang menyebutkan bahwa:

"Apabila ketentuan Pasal 39 dan Pasal 40 tidak dipenuhi (Pasal 39 yaitu penghadap yang datang menghadap Notaris harus memenuhi syarat dan dikenal oleh Notaris), akta tersebut hanya mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta dibawah tangan. Artinya : Apabila Akta Autentik yang dibuat oleh Notaris tidak memenuhi syarat formal seperti status/identitas penghadap, maka akta tersebut akan menjadi akta di bawah tangan.

Kajian hukum secara teori atas fakta dan putusan pengadilan No.

82/PDT.G/2013/PN.DPS atas kasus Nominee tersebut dimana hakim dalam putusannya mengabulkan sebagian gugatan penggugat adalah menurut analisis penulis adalah telah tepat, karena hakim dalam perbuatan hukum yang terjadi akan perbuatan hukum yang telah dilakukan penggugat dengan tergugat I berupa adanya bukti perjanjian dibuat di Notaris, secara materiil memang telah ada ikatan hukum perjanjian nominee antara penggugat dengan tergugat I. Tampak faktanya bahwa tergugat I dengan segala tipu daya muslihatnya memperdayakan niat baik dari penggugat, sehingga berlanjut dapat mengalihkan pada pihak ketiga obyek perjanjian dalam Nominee tersebut

(11)

Begitu pula hakim tidak mengabulkan gugatan selebihnya karena fakta-fakta hukum Tergugat II dan Tergugat III dan pihak BPN Badung ikut tergugat mesti dilindungi secara hukum. Karena dalam beracara perdata kebenaran formal atas fakta – fakta hukum yang ada dan dimiliki oleh para pihak tergugat tersebut mesti dilindungi hukum baik secara hukum administrasi, hukum perdata maupun hukum pidana. Hal tersebut sesuai konsep kepastian hukum bahwa segala perbuatan hukum perdata mesti ada kepastian hukumnya. Hakim sesuai dengan teori kewenangan diberikan kewenangan atributif untuk memutus berdasarkan pertimbangan hukum dan fakta-fakta hukum yang terungkap dimuka persidangan.

2. Kekuatan Pembuktian Terhadap Akta Notaris Yang Dinyatakan Batal Demi Hukum Oleh Hakim.

Akta yang dibuat oleh Notaris berkaitan dengan masalah keperdataan yaitu mengenai perikatan yang dibuat oleh dua pihak atau lebih meskipun memungkinkan dibuat secara sepihak (sifatnya hanya menguatkan). Sifat dan asas yang dianut oleh hukum perikatan khususnya perikatan yang lahir karena perjanjian, bahwa undang-undang hanya mungkin dan boleh diubah atau diganti atau dinyatakan tidak berlaku, hanya oleh mereka yang membuatnya, maksudnya kesepakatan kedua belah pihak yang dituangkan dalam suatu akta otentik mengikat kedua belah pihak sebagaimana mengikatnya undang-undang. Kesepakatan itu tidak dapat ditarik selain terjadi kesepakatan kedua belah pihak pula yang membuatnya (Pasal 1138 KUH Perdata). Oleh karena itu suatu perjanjian atau persetujuan, yang mempunyai kekuatan seperti/sebagai undang-undang itu, hanya dapat dlbatalkan oleh atau atas persetujuan pihak-pihak yang membuatnya. Hal yang sangat prinsip, bahwa suatu akta tidak mungkin dibatalkan, kalaupun ada suatu kekhilafan / kekeliruan atau kesalahan hanya mungkin melalui proses/prosedur hukum, dengan cara membuat rectificatie (pembetulan/perbaikan) atau dengan kata lain hanya dapat dilakukan dengan membuat akta lagi guna memperbaiki kesalahan tadi. Akta-akta yang keliru

(12)

tadi, masih tetap harus berada, tersimpan dalam protokol pembuat akta tadi.

Hal ini berarti bahwa jika ditinjau dan segi hukum perdata, apabila pembuat akta yang keliru, maka akta tersebut akan disimpan oleh pembuat akta yang bersangkutan. Pasal 84 UUJN (Undang – Undang Jabatan Notaris) menetapkan bahwa "dapat menjadi alasan bagi pihak yang menderita kerugian untuk menuntut penggantian biaya. ganti rugi dan bunga kepada Notaris". Dalam hal ini. Notaris sebagai pejabat pembuat akta otentik, jika terjadi kesalahan baik disengaja maupun karena kelalaiannya mengakibatkan orang lain (akibat dibuatnya akta) menderita kerugian, yang berarti Notaris telah melakukan perbuatan melanggar hukum.

3. Akibat Hukum AktaNotaris Yang Dinyatakan Batal Demi Hukum.

Notaris sebagai pejabat umum yang menjalankan sebagian dan kekuasan negara di bidang Hukum Perdata terutama untuk membuat alat bukti autentik (akta Notaris). Dalam pembuatan akte Notaris baik dalam bentuk partij akta maupun relaas akta, Notaris bertanggungjawab supaya setiap akta yang dibuatnya mempunyai sifat otentik sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1868 KUHPerdata. Kewajiban Notaris untuk dapat mengetahui peraturan hukum yang berlaku di Negara Indonesia juga serta untuk mengetahui hukum apa yang berlaku terhadap para pihak yang datang kepada Notaris untuk membuat akta. Hal tersebut sangat penting agar supaya akta yang dibuat oleh Notaris tersebut memiliki otentisitasnya sebagai akta autentik, karena sebagai alat bukti yang sempurna. Namun dapat saja Notaris melakukan suatu kesalahan dalam pembuatan akta. Kesalahan-kesalahan yang mungkin dapat terjadi, yaitu :

a. Kesalahan ketik pada salinan Notaris, dalam hal ini kesalahan tersebut dapat diperbaiki dengan mernbuat salinan baru yang sama dengan yang asli dan hanya salinan yang sama dengan yang asli baru mempunyai kekuatan sama seperti akta asli.

(13)

b. Kesalahan bentuk akta Notaris, dalam hal ini dimana seharusnya dibuat berita acara rapat tapi oleh Notaris dibuat sebagai pernyataan keputusan rapat.

c. Kesalahan isi akta Notaris, dalam hal ini mengenai keterangan dan para pihak yang menghadap Notaris, dimana saat pembuatan akta dianggap benar tapi ternyata kemudian tidak benar. Apabila ada akta Notaris dipermasalahkan oleh para pihak atau yang berkepentingan, maka untuk menyelesaikan harus didasarkan pada kebatalan dan pembatalan, akta Notaris sebagai suatu alat bukti yang sempuma. Kesalahan-kesalahan yang terjadi pada akta-akta vang dibuat oleh Notaris akan dikoreksi oleh hakim pada saat akta Notaris tersebut diajukan ke pengadilan sebagai alat bukti. Berdasarkan Studi Kasus dari objek sengketa yaitu Subaliku Villa yang terletak di Kerobokan, Kabupaten Badung, Propinsi Bali, dalam hal ini diikutsertakan menjadi Tergugat II karena dianggap turut serta dalam membantu melancarkan perbuatan yang melawan hukum dalam hal ini membuat akta-akta perjanjian sebagai berikut :

a. Akta Perjanjian No. 52 tertanggal 12 Januari 2012, tentang Perjanjian perikatan Jual Beli yang dibuat oleh dan dihadapan Eddy Nyoman Winarta,SH., Notaris di Kabupaten Badung;

b. Akta Kuasa No. 53 tertanggal 12 Januari 2012, tentang Kuasa Menjual atau melepaskan hak yang dibuat oleh dan dihadapan Eddy Nyoman Winarta,SH., Notaris di Kabupaten Badung;

c. Akta jual beli No. 304/2012 tertanggal 6 Agustus 2012 tentang Peralihan hak atas tanah dan bangunan dengan SHM No. 8939, surat ukur 354/1999, luas 1,450 M2, yang dibuat oleh dan dihadapan Eddy Nyoman Winarta,SH., PPAT di Kabupaten Badung;

Akta yang dibuat oleh Notaris, dalam pelaksanaannya bermasalah karena Akta Perjanjian tersebut cacat hukum sebagaimana objek sengketa adalah sah milik dari Penggugat dimana Tergugat I dengan menyalahi kewenangan sebagai Nominee dari penggugat telah melakukan tindakan melawan hukum yang berindikasi merugikan berbagai pihak yang tidak

(14)

sesuai dengan KUH Perdata Pasal 1320 yang disebutkan bahwa sahnya suatu perjanjian diperlukan 4 (empat) syarat yaitu: adanya sepakat mengikatkan diri dalam perjanjian, cakap dalam melakukan perbuatan hukum, hal tertentu, dan sebab yang halal. Jika salah satu syarat tidak terpenuhi dalam melakukan perjanjian, maka perjanjian yang di lakukan tersebut menjadi tidak sah. Pada Pasal 1266 KUHPerdata terdapat dua kebatalan (nulitas) dalam suatu perikatan yakni: suatu perikatan dianggap selalu mempunyai suatu syarat batal (Pasal 1266 ayat 1 KUHPerdata), dan pembatalan harus diberikan oleh suatu majelis hakim (Pasal 1266 ayat 2 KUHPerdata).

Dikaji dari teori kewenangan menurut Indoharto, bahwa wewenang sebagai suatu kemampuan yang diberikan oleh suatu peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk menimbulkan akibat-akibat hukum yang sah. Sejalan dengan inti teori kewenangan tersebut, bahwa notaris yang membuat akta dan dibuktikan pengadilan cacat secara hukum, adalah tepat untuk dibebani tanggung jawab secara hukum atas batalnya akta yang dibuatnya.

Pertanggung-jawaban yang dapat dibebankan kepada notaris tersebut berupa pertanggung jawaban secara hukum administrasi, hukum perdata maupun hukum pidana. Karena sesuai esensi pembuatan akta tersebut mendapat kewenangan secara atributif, artinya notaris dalam perbuatan hukumnya diberikan kewenangan oleh undang-undang dalam hal ini oleh Undang – Undang Jabatan Notaris, yakni No. 02 Tahun 2014 atas Perubahan UU sebelumnya, yakni UU No. 30 Tahun 2004 tentang UUJN (Undang- Undang Jabatan Notaris).

Simpulan

1. Akta notaris dinyatakan batal demi hukum dalam proses persidangan perkara perdata No. 82/PDT.G/2013/PN.DPS, karena telah terbukti cacat hukum, yakni salah satu pihak dalam hal ini tergugat (I, II, dan III) terbukti melakukan perbuatan melawan hukum atas perjanjian jual beli No. 52 tanggal 12 Januari 2012, Kuasa No.53 tanggal 12 Januari 2012, dan akta jual beli 304/2012 tanggal 6 Agustus 2012.

(15)

2. Kekuatan pembuktian akta notaris yang dinyatakan batal demi hukum oleh hakim bahwa akta notaris tersebut tidak bersifat otentik lagi atau tidak mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna lagi dalam proses persidangan perkara perdata, melainkan hanya memiliki kekuatan pembuktian sebagai akta dibawah tangan.

3. Akibat hukum akta notaris yang dinyatakan batal demi hukum adalah akta notaris tersebut dalam hal ini dinyatakan tidak sah, maka bila ada pihak-pihak yang merasa dirugikan atas terbitnya akta notaris yang dinyatakan batal demi hukum tersebut dapat menuntut melalui hukum administrasi, hukum perdata, dan hukum pidana.

Saran

1. Hendaknya notaris lebih hati-hati sebelum menerbitkan akta (otentik), dengan memperhatikan etika profesi dan peraturan perundang- undangan yang berlaku.

2.Hendaknya notaris lebih meningkatkan perhatiannya terhadap syarat- syarat sahnya suatu perjanjian yang akan menjadi bahan dalam pembuatan akta otentik.

3.Hendaknya notaries ke depan lebih selektif memperhatikan upaya hukum sesuai kebutuhan dan kekuatan bahan pembuktian yang dimiliki.

DAFTAR PUSTAKA

Adjie. Habib, 2008, Hukum Notarial di Indonesia-Tafsiran Tematik Terhadap UU No. 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, PT.

Rafika Aditama, Bandung.

Ali Achmad dan Wiwie Heriyani, 2013, Asas-asas Hukum Pembuktian, Kencana Perdana, Media Group, Jat

Fuady, Munir. 2006. Teori Hukum Pembuktian (Pidana dan Perdata), Citra Aditya Bakti, Bandung.

Imelda, 2009, Analisis Yuridis Kekuatan Pembuktian Akta Perjanjian Musyawarah Yang Dibuat Notaris Studi Balik Sumut Syariah, Medan.

(16)

Jan Michiel Otto, 2003, Reele Rechtszekerheidin Otwikke Lingslanden, (Terjemahan : Tristan Moeliono : Kepastian Hukum Yang Nyata di Negara Berkembang), KHN-RI, Jakarta.

Joko P. Subagyo, 1997, Metodologi Penelitian Dalam Teori dan Praktek, Rineka Cipta Jakarta.

Kie, Tan Thong, 2000, Studi Notaris Serba Serbi Praktek Notaris, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta.

Latumeneten, Pleter E, 2005, Dapatkah Notaris Dipidana, Jika KTP Penghadap Palsu dan Dalam Akta Tercantum Penghadap Saya Notaris Kenal,Renvoi, Nomor 11.23.II., 3 April.

Muljadi. Kartini dan Gunawan Widjaja, 2010, Perikatan yang Lahir dan Perjanjian, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Soegondo, R, 1991,”Hukum Pembuktian”, PT. Pradnya Paraniita. Jakarta.

Soerjono, Soekanto dan Sri Mamudji, 2007, Penelitian Hukum Normatif (Suatu Tinjauan Singkat), PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Syaifurrachman, 2011,Aspek Pertanggungjawaban Notaris Pembuatan Akta, Mandar Maju, Bandung.

Tedjosapatro,Liliana, 1991. Mal Praktek Notaris dan HukumPidana CV Agung, Semarang.

(17)

Referensi

Dokumen terkait

7 Menelisik lebih jauh hibah wasiat penulis memfokuskan penelitian pada tanah bekas adat sebagai objek dengn melihat Putusan Pengadilan yang memutus perkara kasus sengketa