commit to user
STRATEGI ADAPTASI EKONOMI PENGUSAHA KERAJINAN LOGAM (Studi Deskriptif Eksploratif pada Sentra Industri Kerajinan Logam di dusun
Tumang, Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali)
Skripsi
Oleh:
Ghufronudin NIM. K8408043
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA Mei 2012
commit to user ii
STRATEGI ADAPTASI EKONOMI PENGUSAHA KERAJINAN LOGAM (Studi Deskriptif Eksploratif Pada Sentra Industri Kerajinan Logam di dusun
Tumang, Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali)
Oleh:
Ghufronudin NIM. K8408043
Skripsi
Ditulis dan Diajukan untuk Memenuhi Syarat Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sosiologi Antropologi
Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA Mei 2012
commit to user iii
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini
Nama : Ghufronudin
NIM : K8408043
Jurusan/Program Studi : P.IPS/Pendidikan Sosiologi Antropologi
Menyatakan bahwa skripsi saya berjudil “STRATEGI ADAPTASI EKONOMI PENGUSAHA KERAJINAN LOGAM”(Studi Deskriptif Eksploratif pada Sentra Industri Kerajinan Logam dusun Tumang, Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali) ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri. Selain itu, sumber informasi yang dikutip dari penulis telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka.
Apabila pada kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini hasil jiplakan saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan saya.
Surakarta, Juni 2012 Yang membuat pernyataan
Ghufronudin
commit to user iv
PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Persetujuan
Pembimbing I
Drs. Basuki Haryono, M. Pd NIP. 19500225 197501 1 002
Pembimbing II
Siany Indria L, S. Ant, M. Hum NIP. 19800905 200501 2 002
commit to user v
PENGESAHAN
Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.
Pada Hari : Tanggal :
Tim Penguji Skripsi
Nama Terang Tanda Tangan
Ketua : Drs. Slamet Subagya, M. Pd --- Sekertaris : Drs. Suparno, M. Si --- Anggota I : Drs. Basuki Haryono, M. Pd --- Anggota II :Siany Indria L, S. Ant, M. Hum ---
Disahkan Oleh
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret
Dekan
u.b Pembantu Dekan I
Prof. Dr. rer. Nat. Sajidan, M. Si NIP. 19660415 199103 1 002
commit to user vi ABSTRAK
Ghufronudin. K8408043, STRATEGI ADAPTASI EKONOMI PENGUSAHA KERAJINAN LOGAM (Studi Deskriptif Eksploratif pada Sentra Industri Kerajinan Logam dusun Tumang, Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali). Skripsi. Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret, 2012.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) strategi yang dilakukan pengusaha kerajinan logam di dusun Tumang dalam memperoleh peluang pasar dan memperbesar pangsa pasar, (2) strategi yang dilakukan pengusaha kerajinan logam dalam memeperoleh akses terhadap sumber-sumber permodalan, (3) strategi yang dilakukan pengusaha kerajinan logam dalam memanajemen sumber daya manusia yang dimilikinya, (4) jaringan usaha yang terbentuk diantara sesama pengusaha kerajinan logam, (5) iklim persaingan usaha yang terbentuk diantara pengusaha kerajinan logam dan (6) pembinaan yang dilakukan pemerintah terhadap pengusaha kerajinan logam di dusun Tumang.
Penelitian ini menggunakan metode pendekatan deskriptif eksploratif dengan strategi studi kasus tunggal terpancang. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari kata-kata, dan tindakan informan serta data tambahan yaitu dokumen. Sampling diambil dengan teknik purposive snowball sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi langsung, wawancara mendalam (in depth interiview) dan dokumentasi. Validitas data diuji menggunakan teknik trianggulasi yaitu trianggulasi sumber. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisis interaktif yang meliputi dilakukan melalui empat komponen yaitu tahap pengunpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan serta verifikasinya.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) persoalan internal yang dihadapi pengusaha kerajinan logam dalam menjaga kelangsungan usahanya meliputi persoalan kaitannya dengan manajemen sumber daya manusia, persolan kaitannya jaringan usaha yang terbentuk di antara sesama pengusaha kerajinan logam dan persoalan tentang iklim persaingan usaha yang terjadi di antara pengusaha kerajinan logam. (2) Persoalan eksternal yang dihadapi pengusaha kerajinan logam meliputi persoalan dalam memperoleh peluang dan memperbesar pangsa pasar, persoalan dalam mengakses sumber-sumber permodalan dan persoalan kaitannya dengan pembinaan yang dilakukan pemerintah terhadap pengusaha kerajinan logam di dusun Tumang. (3) pengusaha kerajinan logam menerapkan berbagai strategi dalam menghadapi berbagai persoalan internal dan eksternal dalam menjaga kelangsungan usahanya.
Kata Kunci: Strategi Adaptasi Ekonomi, Industri Kerajinan Logam, Pengusaha
commit to user vii MOTTO
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa yang pada diri mereka”.
(QS Ar-Ra‟d Ayat 11)
“Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu
beruntung”
(QS Al Jum‟ah Ayat 10)
commit to user viii
PERSEMBAHAN
Dengan segenap rasa syukur kepada Allah SWT, kupersembahkan karya kecil ini kepada:
Ibu Semi dan Bapak Wiryanto tercinta
Untuk kakak Mutmainah atas segala dukungan dan motivasinya
Almamater
commit to user ix
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur Kami haturkan kepada Allah SWT atas segala limpahan rahmat, hidayah dan inayah-Nya, sehingga proses penelitian dan penyusunan skripsi ini berjalan dengan cukup baik. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah dan terlimpahkan pada junjungan Kita Rasullulah SAW.
Skripsi ini ditulis untuk memenuhi syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Sosiologi- Antropologi Jurusan Imu Pengetahuan Sosial, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Selama masa penyelesaian skripsi ini, cukup banyak hambatan yang menimbulkan kesulitan, dan berkat karunia Allah SWT dan peran berbagai pihak, kesulitan yang pernah timbul dapat diatasi. Tidak lupa, ucapan terima kasih diucapkan kepada yang terhormat:
1. Prof.Dr.H.M. Furqon Hidayatullah, M.Pd dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Drs. Saiful Bachri, M.Pd Ketua Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial FKIP UNS.
3. Drs. MH Sukarno, M.Pd Ketua Program Pendidikan Sosiologi-Antropologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
4. Drs. Basuki Haryono, M.Pd Pembimbing I sekaligus sebagai Pembimbing Akademik dan Siany Indria Liestyasari, S. Ant, M. Hum Pembimbing II yang telah memberikan motivasi, masukan dan saran dalam penyusunan skripsi ini.
5. Dadang Suhayat BA Kepala Kantor Kesbangpol Boyolali Kasi Seni, Budaya, Agama, Kemasyarakatan dan Ekonomi.
6. Teman-teman Prodi Pendidikan Sosiologi-Antropologi angkatan 2008 khususnya kelas A yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini.
7. Berbagai pihak yang tidak bisa disebutkan satu-persatu.
commit to user x
Semoga segala amal baik dan keikhlasan membantu penulis tersebut mendapatkan imbalan dari Allah SWT dan semoga hasil penelitian yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada khususnya dan pembaca pada umumnya.
Surakarta, Juni 2012
Penulis
commit to user xi DAFTAR ISI
JUDUL ... i
PERNYATAAN ... ii
PENGAJUAN SKRIPSI ... iii
PERSETUJUAN ... iv
PENGESAHAN ... v
ABSTRAK ... vi
MOTTO ... x
PERSEMBAHAN ... xi
KATA PENGANTAR ... xii
DAFTAR ISI ... xiv
DAFTAR TABEL ... xvii
DAFTAR GAMBAR ... xviii
DAFTAR LAMPIRAN ... xix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 6
BAB I KAJIAN PUSTAKA ... 7
A. Kajian Teori dan Hasil Penelitian yang Relevan ... 7
1. Tinjauan Tentang Masyarakat Desa ... 7
a. Pengertian Masyarakat ... 7
b. Masyarakat Desa ... 8
2. Tinjauan Tentang Industri ... 12
a. Pengertian Industri ... 12
b. Klasifikasi Industri ... 13
c. Industri Kecil ... 14
3. Tinjauan Tentang Manajemen Sumber Daya Manusia ... 17
commit to user xii
a. Pengertian Manajemen ... 17
b. Manajemen Sumber Daya Manusia ... 18
4. Tinjauan Tentang Manajemen Pemasaran ... 19
5. Tinjauan Tentang Jaringan Usaha ... 21
6. Tinjauan Tentang Strategi Adaptasi Ekonomi ... 23
7. Strategi Adaptasi Ekonomi Sebagai Sebuah Tindakan Sosial ... 25
8. Hasil Penelitian yang Relevan ... 29
B. Kerangka Pemikiran ... 30
BAB III METODE PENELITIAN... 34
A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 34
B. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 36
C. Data dan Sumber Data ... 38
D. Teknik Sampling (Cuplikan) ... 41
E. Teknik Pengumpulan Data ... 42
F. Uji Validitas Data ... 45
G. Analisis Data ... 46
H. Prosedur Penelitian ... 48
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 50
A. Deskripsi Lokasi Penelitian... 50
1. Gambaran Umum dusun Tumang ... 50
2. Sejarah Perkembangan Industri Kerajinan Logam dusun Tumang 52 B. Deskripsi Temuan Penelitian ... 54
1. Persoalan Internal yang Dihadapi Pengusaha Kerajinan Logam Dalam Menjaga Kelangsungan Usaha ... 54
a. Persoalan Manajemen Sumber Daya Manusia ... 55
b. Persoalan Jaringan Usaha yang Terbentuk Di antara Sesama Pengusaha Kerajinan Logam ... 57
c. Persoalan Iklim Persaingan Usaha yang Terbentuk Di antara Pengusaha Kerajinan Logam ... 58
2. Persoalan Eksternal yang Dihadapi Pengusaha Kerajinan Logam Dalam Menjaga Kelangsungan Usaha ... 61
commit to user xiii
a. Persoalan Dalam Memperoleh Peluang Pasar dan Memperbesar
Pangsa Pasar ... 61
b. Persoalan Dalam Memperoleh Akses Terhadap Sumber-Sumber Permodala ... 63
c. Pembinaan yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Pengusaha Kerajinan Logam ... 63
3. Strategi yang Dilakukan Pengusaha Dalam menghadapi Persoalan Internal dan Eksternal ... 71
a. Strategi Dalam Manajemen Sumber Daya Manusia... 71
1) Kurangnya Tenaga Kerja pada Waktu Banyak Pesanan ... 72
2) Kurangnya Ketersediaan Tenaga Kerja yang „Berkualitas ... 75
3) Kendala Dalam Sistem Pengupahan ... 76
4) Persoalan Terkait dengan Efektivitas dan Produktivitas Tenaga Kerja... 78
b. Strategi Dalam Membentuk Jaringan Usaha Di antara Sesama Pengusaha Kerajinan Logam ... 85
c. Strategi Dalam Menghadapi Iklim Persaingan Usaha yang Terjadi Di antara Sesama Pengusaha Kerajinan Logam ... 94
d. Strategi Dalam Memperoleh Peluang Pasar dan Memperbesar Pangsa Pasar ... 1) Persaingan dalam Memperoleh Peluang Pasar dan Memperbesar Pangsa Pasar ... 97
2) Persaingan Harga yang Tidak Sehat ... 106
e. Strategi Dalam Memperoleh Akses Terhadap Sumber-Sumber Permodalan ... 109
C. Pembahasan ... 120
1. Karakteristik Jaringan Usaha Sentra Industri Kerajinan Logam dusun Tumang ... 120
2. Coping Strategies Pengusaha Kerajinan Logam ... 124
3. Strategi Adaptasi Ekonomi Pengusaha Kerajinan Logam Sebagai Sebuah Tindakan Sosial ... 126
commit to user xiv
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN ... 138
A. Simpulan ... 138
B. Implikasi ... 144
C. Saran ... 146
DAFTAR PUSTAKA ... 149
LAMPIRAN ... 152
commit to user xv
DAFTAR TABEL
1. Waktu Penelitian ... 36 2. Strategi Dalam Manajemen Sumber Daya Manusia Pengusaha
Kerajian Logam dusun Tumang ... 82 3. Strategi Pengusaha Kerajinan Logam dusun Tumang Dalam
Memperoleh Peluang Pasar dan Memperbesar Pangsa Pasar ... 108 4. Temuan Strategi Adaptasi Ekonomi Pengusaha Kerajinan Logam
dusun Tumang ... 116 5. Klasifikasi Tipe Tindakan Sosial Dalam Strategi Adaptasi Ekonomi
Pengusaha Kerajinan Logam dusun Tumang... 135
commit to user xvi
DAFTAR GAMBAR
1. Kerangka Pemikiran ... 33 2. Komponen Analisis Data Model Interaktif (Interactive Model) ... 48 3. Jaringan Usaha Industri Kerajinan Logam dusun Tumang ... 92 4. Alur Pemasaran Pengusaha Kerajinan Logam Skala Mikro
(Perkakas Rumah Tangga) dusun Tumang ... 103
commit to user xvii
DAFTAR LAMPIRAN
1. Pedoman Wawancara (Interview Guides) dan Observasi ... 153
2. Catatan Lapangan (Fieldnote) ... 158
3. Dokumentasi Penelitian ... 215
4. Surat Permohonan Izin Menyusun Skripsi ... 219
5. Surat Keputusan Dekan FKIP UNS ... 220
6. Surat Permohonan Izin Observasi ... 221
commit to user
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu komoditas unggulan Jawa Tengah di Kabupaten Boyolali adalah Industri kerajinan logam. Sentra industri ini berada di Lereng Gunung Merapi tepatnya di dusun Tumang, Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali. Sejak sekitar akhir tahun 70an kerajinan di dusun Tumang dikenal sebagai sentra produksi tembaga dan kuningan. Keterampilan masyarakat dalam mengolah bahan baku menjadi kerajinan dimiliki secara turun temurun dari generasi ke generasi. Berbekal keahlian, ketelatenan dan kerja keras para pengrajin, maka dusun Tumang pun semakin populer sebagai sentra industri kerajinan logam baik lingkup nasional maupun internasional. Hasil dari industri ini sudah merambah ke berbagai daerah di Indonesia bahkan sampai manca negara di antaranya Amerika serikat, Australia, Jepang, Philipina, Inggris, negara-negara timur tengah dan berbagai negara tujuan ekspor lainnya.
Proses industrialisasi di dusun tersebut tumbuh dan berkembang melalui inisiatif masyarakat lokal sekaligus mempunyai keunikan tersendiri. Di dusun Tumang terdapat beberapa pelaku usaha kerajinan logam. Secara lebih spesifik dapat terbagi menjadi dua kelompok industri kerajinan logam yaitu industri kerajinan logam untuk barang seni dan industri kerajinan logam untuk perkakas rumah tangga. Masing-masing kelompok industri tersebut mempunyai keunikan masing-masing. Pada industri kerajinan logam untuk barang seni keunikannya terletak pada hiasan ukiran dan tempaan yang melekat pada produknya.
Sedangkan pada industri kerajinan logam untuk perkakas rumah tangga, keunikannya terletak pada produk yang dihasilkan yang memiliki perbedaan dengan perkakas buatan pabrik yakni terdapat tempaan yang menjadi ciri khas pada produk tersebut.
Dalam perkembangannya, industri kerajinan logam di dusun Tumang telah memasuki sebuah era baru. Pada awalnya para pengrajin hanya terbatas pada
commit to user
memproduksi perkakas rumah tangga seperti kwali, dandang, ceret dan perkakas rumah tangga lainnya yang berbahan baku dasar tembaga. Namun seiring dengan kemajuan zaman, kini perkembangan dari industri tersebut telah banyak mengalami perubahan dibanding era sebelumnya. Saat ini ada 44 pengusaha yang menekuni usaha ini dengan omzet total rata-rata perbulan sebesar Rp.1.988.000.000,00. Para pengusaha mulai menggunakan variasi baik dalam penggunaan bahan baku, pengolahan produk, penggunaan teknologi hingga proses pemasarannya. Mereka telah menciptakan inovasi produk dengan sentuhan „ukir‟
disamping mendiversifikasikan bahan bakunya. Rata-rata total produksi mereka mencapai 400.000 buah/tahun. Di antara produk-produk yang diciptakan tersebut adalah washtafel, bathtub, baki (nampan), wadah buah-buahan, tempat lilin hingga produk hiasan interior seperti patung dari logam, hiasan dinding, lukisan mozaik logam tempa, asbak, paidon, vas bunga, lampu gantung, kendi, bokor, kap lampu, ornament arsitektur, perlengkapan rumah tangga dan lain-lain.
Perdagangan bebas yang memungkinkan adanya persaingan industri dagang yang berat bisa mengancam keberlangsungan industri kerajinan logam tersebut. Namun hingga saat ini industri tersebut masih tetap eksis di tengah persaingan industri sejenis secara global. Globalisasi yang berlangsung dewasa ini menjadi sebuah wacana atau perhatian serius dari berbagai kalangan masyarakat baik masyarakat di tingkat lokal maupun masyarakat global. Secara umum ada pihak yang pro dan kontra terhadap permasalahan globalisasi ini. Pihak yang pro globalisasi berasumsi bahwa globalisasi akan membawa pada kesejahteraan dunia dengan tidak lupa mengikutsertakan demokrasi dalam jalannya pemerintahan. Di sisi lain pihak yang kontra (anti globalisasi) berasumsi bahwa globalisasi hanya akan menumbuhkan jalan baru bagi terbukanya mekanisme pergagangan bebas (free trade) antar negara. Adanya sistem ini menyebabkan munculnya bentuk neo- kolonialisme yang berakibat pada pengerukkan aset negara-negara berkembang atas intervensi negara barat sebagai aktor utama.
Globalisasi juga menyebabkan timbulnya berbagai bentuk krisis yang dialami berbagai negara termasuk Indonesia. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang seringkali mengalami krisis multdimensi seperti krisis politik,
commit to user
pertahanan dan keamanan, agama, budaya, sosial, dan juga krisis ekonomi.
Masalah ekonomi dipandang sebagai persoalan krusial bagi bangsa ini, karena masalah ekonomi menjadi masalah yang menyangkut pemenuhan kebutuhan primer orang banyak. Pengalaman krisis ekonomi yang telah dihadapi bangsa ini setidaknya membuat rakyat terutama para pelaku industri merasa trauma akan dampak krisis yang terjadi terhadap kelangsungan usaha mereka.
Menyusul dicanangkannya perjanjian perdagangan bebas antara Cina dengan enam anggota ASEAN termasuk Indonesia dalam AC-FTA (ASEAN China Free Trade Agreement) yang berlaku sejak 1 Januari 2010 semakin membuka kesempatan bagi negara ASEAN maupun Cina memasarkan komoditas industri mereka. Di satu sisi memang hal ini juga membuka kesempatan bagi Indonesia untuk masuk ke berbagai negara tersebut untuk memasarkan komoditas industrinya. Namun disisi lain, justru dengan adanya perjanjian ini semakin merugikan perekonomian Indonesia. Sebanyak 20% industri gulung tikar dan pengurangan tenaga kerja mencapai 15% pada tahun 2010 atau tahun pertama pemberlakuan AC-FTA. Sedangkan defisit perdagangan Indonesia-Cina lebih dari US$ 5 milyar, dengan rincian ekspor Indonesia ke Cina sebesar 14,072 milyar dan impor dari Cina US$ 19,687 milyar.
Sejalan dengan fakta tersebut menurut Wajdi, “Implikasi dari adanya mekanisme perdagangan bebas adalah perdagangan suatu komoditi ditentukan oleh keunggulan yang dimiliki komoditi tersebut secara ekonomi. Secara umum hal ini kurang menguntungkan bagi perekonomian negara-negara berkembang, karena tentunya kalah dalam keunggulan kompetitifnya dibanding negara maju”
(2005: 140).
Produk dalam negeri yang bersaing ketat di pasar adalah industri kerajinan seperti properti dan furniture, industri hasil hutan serta industri tekstil yang selama ini menjadi unggulan Indonesia dalam pasar domestik maupun mancanegara. Tahun 2008 impor produk Cina mengambil alih 70 persen pangsa pasar domestik yang semula dikuasai sektor UMKM. Banjir produk murah dari Cina menyebabkan pangsa pasar usaha tekstil dan produk terkait (TPT) domestik menurun dari 57 persen pada 2005 menjadi 23 persen pada 2008.
commit to user
Melihat kondisi semacam itu, sudah dapat dipastikan bahwa akan terjadi perang harga di pasaran antara produk lokal Indonesia dengan produk luar terutama Cina yang tidak jarang berujung pada kalahnya produk lokal. Hal ini disebabkan karena masyarakat lebih memilih produk luar yang kualitas dirasa tidak jauh beda dan kisaran harganya yang lebih murah jika dibandingkan dengan harga produk lokal bangsa kita. Dengan melihat fakta ini jelas bahwa industri lokal banyak mengalami kebangkrutan bahkan gulung tikar akibat produknya kalah saing dengan produk luar.
Dalam menghadapi situasi ini para pelaku industri kecil dan menengah lah yang paling terkena dampaknya secara langsung. Industri kecil yang diharapkan pemerintah dapat menjadi solusi atas berbagai persoalan yang menyangkut ketenagakerjaan maupun kemiskinan terpaksa harus gulung tikar akibat sudah tidak lagi mampu mempertahankan usahanya. Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menyatakan, pada tahun 2010 banyak industri manufaktur tutup dan jumlah pekerja yang kehilangan pekerjaan bakal mencapai 7,5 juta. Itu berarti, angka pengangguran terbuka yang saat ini sekitar 8,9 juta akan membengkak menjadi 17,8 juta orang.
Ditambah lagi industri kecil di Indonesia juga banyak mengalami permasalahan terkait dengan eksistensi industri tersebut dalam menghadapi perubahan zaman dan tuntutan pasar. Studi yang dilakukan Kuncoro menunjukkan bahwa berbagai permasalahan yang sering dialami industri kecil di Indonesia diantaranya yaitu:
Pertama kelemahan dalam memperoleh peluang pasar dan memperbesar pangsa pasar; Kedua, kelemahan dalam struktur permodalan dan keterbatasan untuk memperoleh jalur terhadap sumber-sumber permodalan; Ketiga, kelemahan di bidang organisasi dan manajemen sumber daya manusia; Keempat, keterbatasan jaringan usaha kerjasama antar pengusaha kecil; Kelima, iklim usaha yang kurang kondusif karena persaingan usaha yang mematikan; Keenam, pembinaan yang dilakukan pemerintah kurang terpadu dan kurangnya kepedulian dan kepercayaan masyarakat terhadap industri kecil (2000: 8).
Selaras dengan hasil studi di atas, maka dibutuhkan suatu upaya untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut. Strategi adaptasi ekonomi sebagai
commit to user
salah satu upayanya perlu dilakukan pelaku industri kecil agar industri kecil dapat mempertahankan eksistensi kelangsungan usahanya dalam menghadapi tuntutan pasar maupun perubahan zaman. Eksistensi industri kerajinan logam dusun Tumang sebagai bagian dari industri kecil hingga saat ini menarik peneliti untuk melakukan kajian dan penelitian tentang strategi adaptasi ekonomi yang diterapkan para pelaku pengusaha kerajinan logam di dusun ini dalam mempertahankan kelangsungan usahanya. Melalui penelitian ini peneliti ingin mengetahui strategi adaptasi ekonomi seperti apa yang diterapkan para pengusaha kerajinan logam dalam mempertahankan eksistensi usahanya baik dalam menghadapi persaingan perdagangan bebas maupun tantangan perubahan jaman di era globalisasi.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian permasalahan tersebut, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana persoalan internal yang dihadapi pengusaha kerajinan logam dalam menjaga kelangsungan usahanya?
2. Bagaimana persoalan eksternal yang dihadapi pengusaha kerajinan logam dalam menjaga kelangsungan usahanya?
3. Bagaimana strategi yang dilakukan pengusaha kerajinan logam dalam menghadapi persoalan internal dan eksternal tersebut?
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui persoalan internal yang dihadapi pengusaha kerajinan logam dalam menjaga kelangsungan usahanya
2. Untuk mengetahui persoalan eksternal yang dihadapi pengusaha kerajinan logam dalam menjaga kelangsungan usahanya
3. Untuk mengetahui strategi yang dilakukan pengusaha kerajinan logam dalam dalam menghadapi persoalan internal dan eksternal.
commit to user D. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat Praktis
a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang eksistensi industri kerajinan logam dusun Tumang sehingga dapat digunakan sebagai acuan perencanaan sosial yang mencakup manfaat usaha dan pengembangan sumber daya manusia terkait dengan industri kerajinan logam tersebut.
b. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam eksistensi industri logam dusun Tumang dan dapat memberikan masukan kepada pemerintah tentang penyuluhan mengenai strategi dalam pengembangan industri kerajinan logam dusun Tumang.
c. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sebuah acuan bagi pemerintah khususnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan maupun Dinas Koperasi dan UMKM setempat serta masyarakat pelaku industri kecil pada khususnya dalam mencari sebuah alternatif strategi adaptasi ekonomi untuk mempertahankan kelangsungan usahanya.
2. Manfaat Teoritis
a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengkajian teori tindakan sosial yang dikemukakan oleh Max Weber.
b. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengkajian dan pengembangan bidang kajian sosiologi ekonomi maupun sosiologi industri.
c. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan pada pokok bahasan stratifikasi sosial pada mata pelajaran sosiologi di SMA.
commit to user
7 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori dan Hasil Penelitian yang Relevan
1. Tinjauan Tentang Masyarakat Desa a. Pengertian Masyarakat
Menurut Parsons, “Masyarakat adalah suatu sistem sosial yang swasembada (self subsistent) melebihi masa hidup individu normal, dan merekrut anggota secara reproduksi biologis serta melakukan sosialisasi terhadap generasi berikutnya” (Sunarto, 2004: 54).
Syani mengungkapkan bahwa masyarakat ditandai ciri-ciri sebagai berikut: “Pertama, adanya interaksi; Kedua ikatan pola tingkah laku yang khas di dalam semua aspek kehidupan yang bersifat mantap dan kontinyu; Ketiga adanya rasa identitas terhadap kelompok, di mana individu yang bersangkutan menjadi anggota kelompoknya” Basrowi (2005: 40-41).
Tonnies membagi masyarakat menjadi dua yaitu masyarakat desa (gemeinschaft) dan masyarakat kota (gesselchaft). Masyarakat desa dan masyarakat kota memiliki perbedaan, perbedaan tersebut mendasar dari keadaan lingkungan yang mengakibatkan dampak dari personalitas dan segi- segi kehidupan. Masyarakat desa lebih bersifat kekeluargaan dan gotong royong di dalamnya dan masih dijunjung tinggi. Sedangkan masyarakat kota, kehidupannya lebih individualistik dan pemikiran yang dimiliki realistik (Sunarto, 2004).
Salah seorang sosiolog Indonesia, Soekanto memberikan istilah community untuk menyebut masyarakat setempat. Menurut Soekanto,
“Masyarakat setempat merujuk pada warga sebuah desa, kota, suku, atau bangsa. Apabila anggota-anggota suatu kelompok, baik kelompok itu besar maupun kecil, hidup bersama sedemikian rupa sehingga merasakan bahwa kelompok tersebut dapat memenuhi kepentingan-kepentingan hidup yang utama, kelompok tadi disebut sebagai masyarakat setempat” (1982: 132-134).
commit to user
Soekanto memberikan penjelasan mengenai unsur-unsur perasaan komuniti (community sentiment) sebagai berikut:
1) Seperasaan
Unsur seperasaan timbul akibat seseorang berusaha untuk mengidentifikasikan dirinya dengan sebanyak mungkin orang dalam kelompok tersebut sehingga kesemuanya dapat menyebutkan dirinya sebagai “kelompok kami”, “perasaan kami” dan lain sebagainya.
2) Sepenanggungan
Setiap individu sadar akan peranannya dalam kelompok dari keadaan masyarakat sendiri memungkinkan peranannya dalam kelompok dijalankan sehingga dia mempunyai kedudukan yang pasti dalam dagingnya sendiri.
3) Saling memerlukan
Individu yang tergabung dalam masyarakat setempat merasakan dirinya tergantung “komuniti” nya meliputi kebutuhan fisik maupun kebutuhan-kebutuhan psikologis (1982: 134)
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa masyarakat adalah sekelompok manusia yang tinggal dalam suatu wilayah tertentu dengan batas- batas yang jelas. Di dalamnya terdapat interaksi di antara individu-individu serta terdapat ikatan pola tingkah laku yang khas di dalam semua aspek kehidupan yang bersifat mantap dan kontinyu dan adanya rasa identitas terhadap kelompok, di mana individu yang bersangkutan menjadi anggota kelompoknya serta mempunyai rasa seperasaan, sepenanggungan dan saling memerlukan satu sama lain.
b. Masyarakat Desa
Fokus kajian dalam penelitian adalah di daerah pedesaan sehingga dalam penelitian akan banyak membahas tentang masyarakat desa. Secara umum desa diidentikkan dengan sektor pertanian yang menjadi pola hidup atau mata pencaharian utama masyarakatnya Sebelum membahas lebih jauh tentang masyarakat desa, terlebih dahulu akan diuraikan tentang pengertian desa.
Siagian (1983) menjelaskan bahwa desa didefinisikan sebagai suatu daerah hukum yang ada sejak beberapa keturunan dan mempunyai ikatan sosial yang hidup serta tinggal menetap di suatu daerah tertentu dengan adat-istiadat yang
commit to user
dijadikan landasan hukum dan mempunyai seorang pemimpin yaitu kepala desa (Yayuk dan Poernomo, 1985).
Siagian (1983) menambahkan bahwa kehidupan masyarakat desa umumnya tergantung daru usaha tani, nelayan dan sering disertai dengan usaha kerajinan tangan dan dagang kecil-kecilan. Kegiatan perekonomian di desa umumnya terjalin erat dengan kegiatan-kegiatan atau bidang sosial lainnya.
Pada masa silam, masyarakat desa dikenal sebagai ekonomi terpimpin yaitu produksi dan tukar menukar barang-barang dan jasa-jasa berlaku dalam batas- batas desa. Walaupun tidak lagi demikian namun ciri-ciri yang tersisa di saat ini masih nyata di mana produksi terutama hanya ditujukan untuk keperluan sendiri atau lebih dikenal dengan istilah subsistensi (subsistence) (Yayuk dan Poernomo, 1985)
Mengenai pengertian masyarakat desa, Munandar berpendapat,
“Masyarakat desa sebagai suatu persekutuan hidup permanen pada suatu tempat, kampung, babakan dengan sifat khas yaitu kekeluargaan, adanya kolektivitas, ada kesatuan ekonomis yang memenuhi kebutuhannya sendiri”
(2001: 130).
Parsons menggambarkan masyarakat desa sebagai masyarakat tradisional (gemeinshaft) yang dicirikan sebagai berikut:
1) Afektifitas ada hubungannya dengan perasaan kasih sayang, cinta, kesetiaan, dan kemesraan. Perwujudannya dalam sikap dan perbuatan tolong-menolong, menyatakan simpati terhadap musibah yang diderita orang lain dan menolongnya tanpa pamrih.
2) Orientasi kolektif sifat ini merupakan konsekuensi dari afektifitas yaitu mereka mementingkan kebersamaan, tidak suka menonjolkan diri, tidak suka orang yang berbeda pendapat, intinya semua harus memperlihatkan keseragaman persamaan.
3) Partikularisme pada dasarnya adalah semua hal yang ada hubungannya dengan keberlakuan khusus untuk suatu tempat atau daerah tertentu. Perasaan subyektif, perasaa kebersamaan sesungguhnya yang hanya berlaku untuk kelompok tertentu saja.
4) Askripsi yaitu berhubugan dengan mutu atau sifat khusus yang tidak diperoleh berdasarkan suatu usaha yang tidak sengaja, tetapi merupakan suatu keadaan yang sudah merupakan kebiasaan atau keturunan.
commit to user
5) Kekabaran (diffuseness) merupakan sesuatu yang tidak jelas terutama dalam hubungannya antara pribadi tanpa ketegasan yang dinyatakan eksplisit (Sunarto, 2004: 54).
Siagian (1983) menambahkan walaupun ada persamaan antara masyarakat di pedesaan dan perkotaan, akan tetapi masyarakat di pedesaan mempunyai ciri khas yang tidak dimiliki oleh masyarakat perkotaan yaitu:
1) Kehidupan di pedesaan erat hubungannya dengan alam, mata pencaharian tergantung dari alam serta terikat pada alam.
2) Umumnya semua anggota keluarga mengambil bagian dalam kegiatan bertani, walaupun keterlibatannya berbeda.
3) Orang desa sangat terikat pada desa dan lingkungannya, apa yang ada di desa sukar dilupakan sehingga perasaan rindu akan desanya merupakan ciri yang nampak.
4) Di pedesaan segala sesuatu seolah-olah membawa hidup yang rukun, perasaan sepenanggungan dan jiwa tolong-menolong sangat kuat dihayati.
5) Corak feodalisme masih nampak walaupun derajatnya sudah mulai berkurang.
6) Hidup di pedesaan banyak bertautan dengan adat-istiadat dan kaidah-kaidah yang diwarisi dari satu generasi ke generasi berikutnya sehingga sering masyarakat desa dicap “statis”.
7) Di beberapa daerah jiwa masyarakat terbuka kepada perkara-perkara rohani sehingga mereka tidak mudah melepaskan keterikatan- keterikatan dan ketakutannya terhadap Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
8) Karena keterikatan pada lingkungan dan kebiasaan-kebiasaan yang ada mereka mudah curiga terhadap sesuatu yang lain dari yang biasa, terutama terhadap hal-hal yang lebih menurut rasionalitas. Mereka lebih tertarik dan lebih suka mengikuti suara mistik, sehingga menimbulkan sikap yang kurang kritis akan lingkungan dan tuntutan zaman.
9) Banyak daerah pedesaan yang penduduknya sangat padat padahal lapangan kerja dan sumber penghidupan relatif sedikit mengakibatkan kemelaratan sehingga sering mendorong jiwa apatis (Yayuk dan Poernomo, 1985: 82).
Seiring dengan perkembangan zaman, desa telah mengalami banyak perubahan dan perkembangan, salah satunya yaitu industrialisasi yang terjadi pada masyarakat desa. Industrialisasi pada masyarakat desa menyebabkan berubahnya tatanan sosial kehidupan masyarakat desa yang dahulunya sangat
commit to user
bergantung hidupnya pada sektor pertanian, dengan adanya industrialisasi perekenomian masyarakat menjadi beralih ke sektor industri.
Ada keterkaitan antara aspek-aspek kemasyarakatan tertentu seperti perubahan sosial, stratifikasi sosial, mobilitas sosial, keluarga inti dan keluarga luas dan daya serap sosial dengan industri, sehingga akan tampak hubungan saling mempengaruhi di antara keduanya. Di antara konsep-konsep tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pertama perubahan sosial, dengan adanya industri akan mengakibatkan terjadiya perubahan sosial yakni perubahan pada lembaga-lembaga sosial yang mempengaruhi sistem sosial termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok di dalam masyarakat.
Kedua stratifikasi sosial, bahwa apabila proses industrialisasi pada suatu masyarakat dipelajari dengan seksama, maka akan tampak bahwa faktor- faktor yang mempengaruhi (atau setidak-tidaknya secara potensial dapat mempengaruhi) kedudukan (strata) warga masyarakat yaitu okupasi, pendapatan, pendidikan dan kelahiran. Kesemuanya itu menjadi indikator penentu tinggi rendahnya status sosial yang dimiliki oleh masyarakat.
Ketiga mobilitas sosial, bahwa dengan adanya industrialisasi menjadi pendorong orang untuk melakukan mobilitas sosial yaitu sebuah proses yang merupakan gerak dalam struktur sosial. Biasanya dibedakan antara mobilitas sosial horizontal dan mobilitas sosial vertikal. Mobilitas sosial horizontal adalah suatu proses peralihan individu dari suatu kelompok ke kelompok lain yang sederajad kedudukannya. Mobilitas sosial vertikal adalah proses pindahnya individu atau kelompok dari suatu kedudukan tertentu ke kedudukan yang relatif tinggi atau yang lebih rendah.
Keempat keluarga inti dan keluarga luas, proses industrialisasi pada suatu masyarakat akan menyebabkan berkurangnya fungsi keluarga luas.
Berpudarnya fungsi keluarga luas juga mempunyai pengaruh negatif terhadap pengendalian sosial dalam masyarakat. Apabila semula pengendalian sosial banyak didasarkan pada tradisi yang sudah ada, maka setelah adanya industri peranan tradisi dalam pengendalian sosial agak berkurang. Nilai-nilai dan
commit to user
kaidah-kaidah dalam masyarakat industri telah berubah dan bersifat agak bebas apabila dibandingkan dengan tradisi atau adat istiadat sebelumnya. Sebab hal- hal tradisional yang bertentangan dengan nilai-nilai dan kaidah-kaidah masyarakat industri dengan sendirinya dianggap menghalangi proses industrialisasi.
Kelima daya serap sosial, industrialisasi menyebabkan masyarakat mampu menerima perubahan-perubahan sosial sehingga bermanfaat bagi mereka. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya serap sosial baik individu maupun kolektif yaitu sistem nilai-nilai yang dianut, perangkat kaidah-kaidah sosial, pola interaksi sosial yang berlaku, taraf pendidikan formal dan informal, tradisi yang dipelihara turun-temurun, sikap terbuka terhadap hal-hal baru dan adanya panutan yang mampu menyerasikan konservatisme dengan inovatisme (Soekanto, 1987).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat desa adalah suatu persekutuan hidup permanen pada suatu tempat dengan memiliki beberapa sifat khas yaitu kekeluargaan, adanya kolektivitas, ada kesatuan ekonomis yang memenuhi kebutuhannya sendiri, terikat dengan alam atau lingkungan dan kehidupannya banyak berkaitan dengan adat-istiadat, nilai dan norma yang diwarisi dari satu generasi ke generasi berikutnya.
2. Tinjauan Tentang Industri a. Pengertian Industri
Seorang ahli ekonomi secara rinci merumuskan pengertian industri dalam dua batasan sebagai berikut:
Pertama, industri dapat berarti himpunan perusahaan-perusahaan sejenis; Kedua, Industri dapat pula merujuk ke suatu sektor ekonomi yang di dalamnya terdapat kegiatan produktif yang mengolah bahan mentah menjadi barang jadi atau barang setengah jadi. Kegiatan pengolahan itu sendiri dapat bersifat masinal, elektrikal, atau bahkan manual (Dumairy, 1997: 227).
Lebih lanjut Hasibuan mengartikan industri secara makro, yaitu kumpulan dari perusahaan-perusahaan yang menghasilkan barang-barang yang
commit to user
homogen, atau barang-barang yang mempunyai sifat saling mengganti yang sangat erat. Namun demikian dari segi pendapatan yakni cenderung bersifat makro, industri adalah kegiatan ekonomi yang menciptakan nilai tambah (1993).
Dalam konteks ini, yang dimaksud dengan industri adalah industri pengolahan (manufaktur). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa industri adalah usaha atau kegiatan mengolah barang mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi yang dapat memberikan nilai tambah yang dalam hal ini menghasilkan keuntungan.
b. Klasifikasi Industri
Untuk keperluan pengembangan sektor industri, serta berkaitan dengan administrasi Departeman Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia, Dumairy menjelaskan industri di Indonesia dapat diklasifikasikan berdasarkan hubungan arus produknya menjadi:
1) Industri hulu, terdiri atas a) Industri kimia dasar
b) Industri mesin, logam dasar dan elektronika 2) Industri hilir, terdiri atas:
a) Aneka industri b) Industri kecil
Industri hulu merupakan industri yang hanya mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi. Industri ini sifatnya hanya menyediakan bahan baku untuk kegiatan industri yang lain. Industri hulu terbagi menjadi dua bagian yaitu: a) industri kimia dasar yakni merupakan industri yang memerlukan modal yang besar, keahlian yang tinggi dan menerapkan teknologi maju, b) industri mesin logam dasar dan elektronika merupakan industri yang mengolah bahan mentah menjadi mesin-mesin berat dan rekayasa mesin perakitan.
Industri hilir merupakan industri yang mengolah barang setengah jadi menjadi barang jadi, yang bisa langsung dinikmati oleh para konsumen.
commit to user
Industri ini dapat dibagi menjadi yaitu a) Aneka industri dimana industri ini merupakan indistri yang tujuannya menghasilkan barang-barang kebutuhan sehari-hari, b) Industri kecil, merupakan industri yang bergerak dengan jumlah pekerja sedikit dan dengan menggunakan teknologi yang sederhana (1997).
Penggolongan industri dengan pendekatan besar kecilnya skala usaha dilakukan oleh beberapa lembaga, dengan kriteria yang berbeda. Biro Pusat Statistik (BPS) membedakan skala industri menjadi empat lapisan berdasarkan jumlah tenaga kerja per unit usaha yaitu:
1) Perusahaan/ industri besar jika mempekerjakan 100 orang atau lebih 2) Perusahaan/ industri sedang jika memperjakan 20 sampai 99 orang 3) Perusahaan/ industri kecil jika mempekerjakan 5 sampai 19 orang
4) Industri kerajinan rumah tangga jika mempekerjakan < 5 orang (termasuk tenaga kerja yang tidak dibayar)
c. Industri Kecil
Salah satu bentuk industri adalah industri kecil. Industri kecil memberikan pengaruh dalam kontribusinya terhadap perekonomian negara dan dalam hal ketenegakerjaan dan peningkatan pendapatan masyarakat. Menurut Saleh, “industri kecil merupakan unit usaha industri yang mempekerjakan antara 5 sampai dengan 19 orang tenaga kerja” (1986: 4). Biro Pusat Statistik (BPS) memberikan batasan tentang industri kecil adalah suatu usaha atau badan usaha yang menggunakan tenaga kerja umumya sampai 19 orang, kecuali untuk bidang kegiatan, usaha tertentu dan menggunakan tenaga penggerak 20 tenaga ke bawah.
Industri yang terdapat di daerah pedesaan macam ragamnya. Dalam pengembanganya, industri kecil berdasarkan eksistensi dinamisnya dapat dibagi dalam tiga kelompok kategori yakni industri lokal, industri sentra serta industri mandiri. Secara lebih rinci dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Industri lokal, merupakan kelompok jenis industri yang menggantungkan kelangsungan hidupnya kepada pasar setempat yang terbatas, serta relatif terbesar dari segi lokasinya. Skala
commit to user
sarana transportasi sederhana. Pemasaran hasil produksinya ditangani sendiri, maka industri lokal ini kurang menggunakan pedagang perantara. Hal menarik yang dapat dikemukakan dari industri lokal adalah bahwa sebagian besar di antaranya merupakan usaha kerajinan rumah tangga yang sebagian besar di antaranya dikerjakan oleh anggota keluarga. Ada gejala bahwa industri lokal ini lebih merupakan aktivitas sambilan atau musiman, dengan berpangkal tolak dari „kultur petani‟ yang secara tradisional memang berpengaruh terhadap berbagai kegiatan perkeonomian Indonesia pada umumnya.
2) Industri sentra, merupakan kelompok jenis industri yang dari segi satuan usaha mempunyai skala kecil, tetapi membentuk suatu pengelompokan atau kawasan produksi yang terdiri dari kumpulan unit usaha yang menghasilkan barang sejenis. Target pemasaran dari industri ini umumnya menjangkau pasar yang lebih luas daripada kategori yang pertama. Sehingga peranan pedagang perantara menjadi cukup menonjol. Mengenai industri sentra ada indikasi bahwa pertumbuhannya sangat dipengaruhi oleh terkonsentrasinya bahan mentah bagi suatu produksi di daerah-daerah tertentu. Dalam hal ini berperan sebagai penarik (pull factor) bagi terciptanya suatu sentra industri kecil dari jenis produk yang bersangkutan. Sementara keahlian dan keterampilan tertentu yang memang (atas dasar bakat, kultur, dan berbagai alasan lainya) telah dipunyai kelompok masyarakat di suatu daerah sebaliknya mengambil peran sebagai pendorong (push factor) bagi terciptanya sentra-sentra industri kecil.
3) Industri mandiri, merupakan jenis industri yang masih mempunyai sifat-sifat industri kecil, namun telah berkemampuan mengadaptasi kemampuan teknologi produksi yang cukup canggih. Pemasaran hasil produksi kelompok ini relatif tidak tergantung kepada pedagang perantara. Dimaksudkan dengan sifat-sifat industri kecil yang masih dipunyai oleh kelompok industri ini, adalah skala unit- usaha yang relatif kecil dari penggunaan sistem manajemen yang boleh dikatakan cukup. Pada dasarnya kelompok industri mandiri ini tidaklah sepenuhnya sebagai bagian dari industri kecil, mengingat kemampuanya yang tergolong tinggi dalam mengakomodasi berbagai aspek modernitas (Saleh, 1986: 50-51).
Munculnya industri kecil dalam masyarakat khususnya dalam masyarakat pedesaan tentunya sangat memberikan kontribusi terhadap pengurangan pengangguran maupun dalam peningkatan taraf perekonomian masyarakat. Berbagai manfaat yang diberikan oleh keberadaan industri kecil yaitu:
1) Industri kecil dapat memberikan kesempatan berusaha yang luas dengan pembiayaan yang relatif murah.
commit to user
2) Industri kecil turut mengambil peranan dalam peningkatan dan mobilisasi tabungan domestik.
3) Industri kecil mempunyai kedudukan komplementer terhadap industri besar dan sedang. Karena industri kecil menghasilkan produk yang murah dan relatif sederhana yang biasanya tidak dihasilkan oleh industri besar dan sedang. Lokasi industri kecil yang tersebar pada gilirannya telah menyebabkan biaya transportasi menjadi minim sehingga dengan demikian akan memungkinkan barang-barang hasil produksi dapat sampai ke tangan konsumen secara cepat, mudah dan murah (Saleh, 1986: 5).
Dalam perkembangannya, eksistensi industri kecil banyak mengalami kendala baik dalam kelangsungannya bertahan menghadapi persaingan maupun kendala secara internal yang menyangkut masalah manajemen usahanya.
Berbagai permasalahan mendasar yang seringkali dihadapi oleh industri kecil di Indonesia yaitu:
Pertama, kelemahan dalam memperoleh peluang pasar dan memperbesar pangsa pasar; Kedua, kelemahan dalam struktur permodalan dan keterbatasan untuk memperoleh jalur terhadap sumber- sumber permodalan; Ketiga, kelemahan di bidang organisasi dan manajemen sumber daya manusia; Keempat, keterbatasan jaringan usaha kerjasama antar pengusaha kecil (sistem informasi pemasaran);
Kelima, iklim usaha yang kurang kondusif, karena persaingan yang saling mematikan; Keenam, pembinaan yang telah dilakukan masih kurang terpadu dan kurangnya kepercayaan serta kepedulian masyarakat terhadap usaha kecil (Kuncoro, 2000: 8).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa industri kecil adalah unit usaha industri yang mempekerjakan tenaga kerja antara 5 sampai dengan 19 orang tenaga kerja, dimana secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga jenis yaitu industri lokal, industri sentra dan industri mandiri. Industri ini pada umumnya memberikan manfaat terhadap penyerapan tenaga kerja yang luas pada masyarakat sekitar maupun sebagai pelengkap bagi penyediaan produk bagi industri sedang maupun industri besar.
commit to user
3. Tinjauan Tentang Manajemen Sumber Daya Manusia a. Pengertian Manajemen
Dalam perkembangannya, para praktisi maupun teoritisi mulai menaruh perhatian yang besar pada abad keduapuluhan meskipun sebenarnya konsep manajemen telah jauh hadir sebelumnya. Masing-masing dari mereka memiliki pemahaman yang berbeda terhadap konsep manajemen, akibatnya terdapat perbedaan pembatasan arti tentang konsep manajemen itu sendiri. Dalam setiap organisasi tentunya terdapat manajemen sebagai suatu kegiatan atau usaha yang ditujukan untuk mengatur dan mengorganisasikan segala sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Adapun pengertian manajemen yang diungkapkan oleh beberapa ahli adalah sebagai berikut:
1) Stoner dan Wankel (1996) memberikan definisi manajemen sebagai berikut
“Management is the process of planning, organizing, leading, and controlling the efforts of organizing members and of using all other organizational resources to achieve stated organizational goals”.
Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya anggota organisasi dan penggunaan seluruh sumber daya organisasi lainnya demi tercapainya tujuan organisasi yang telah ditetapkan (Sastrohadiwiryo, 2003: 22).
2) Hersey dan Blanchard (1990) memberikan definisi manajemen sebagai berikut “Management is workig with and through individuals and groups to accomplish organizational goals”. Manajemen adalah suatu usaha yang dilakukan dengan dan melalui individu-individu dan kelompok untuk mencapai tujuan organisasi (Sastrohadiwiryo, 2003: 22).
Dari telaah konsep-konsep di atas, maka dapat disimpulkan yang dimaksud dengan manajemen adalah suatu usaha atau proses yang meliputi proses perencanaan, pengorganisasian, menggerakkan serta mengawasi aktivitas-aktivitas anggota suatu organisasi dan penggunan sumber daya organisasi lainnya dalam rangka upaya mencapai suatu koordinasi individu- individu yang terlibat didalamnya untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan.
commit to user b. Manajemen Sumber Daya Manusia
Mengenai pengertian manajemen sumber daya manusia (SDM), Mangkuprawira menjelaskan bahwa manajemen sumber daya manusia merupakan penerapan pendekatan SDM di mana secara bersama-sama dua tujuan ingin dicapai, yaitu tujuan untuk perusahaan dan untuk karyawan. Dua kepentingan tujuan tersebut tidak dapat dipisahkan dalam kesatuan kebersamaan yang utuh. Jika kepentingan yang satu tercapai sedangkan yang lain tidak, pendekatan MSDM ini dinilai gagal. Pendekatan ini terbilang baru.
Latar belakangnya, SDM tidak saja dipandang sebagai unsur produksi, tetapi juga sebagai manusia yang memiliki emosi dan kepribadian aktif yang dapat dijadikan sebagai kekuatan untuk menggerakkan perusahaan (2003).
Lanjut Flippo (1976) dalam memberikan batasan tentang definisi manajemen sumber daya manusia sebagai berikut “personnel management is the planning, organizing, directing, and controlling of the procurement, development, compensation, integration, and maintenance of people for the purpose of contributing to organizational, individual and societal goals”.
Manajemen tenaga kerja (sumber daya manusia) adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian dari pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi dan pengendalian dari tenaga kerja untuk tujuan membantu atau menunjang tujuan organisasi, individu dan sosial (Sastrohadiwiryo, 2003: 28).
Manajemen sumber daya manusia sebagai seni dan ilmu dalam fungsi pokok manajemen dalam hubungan dengan pelaksanaan fungsi administratif dan fungsi operasional terhadap tenaga kerja dalam rangka mencapai daya guna dan hasil guna yang sebesar-besarnya. Fungsi administratif meliputi sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja, penyelenggaraan pemeiharaan kesehatan, pedaftaran organisasi pekerja, pelaporan dan pemeriksaan kecelakaan, jaminan sosial tenaga kerja dan perlindungan tenaga kerja. Sedangkan fungsi operasional meliputi analisis pekerjaan, perekrutan, seleksi, penempatan, induksi dan orientasi, pemberian kompensasi, pendidikan
commit to user
moral kerja, pembinaan disiplin kerja, penyeliaan dan pemutusan hubungan kerja (Sastrohadiwiryo, 2003).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan manajemen sumber daya manusia adalah suatu ilmu atau seni untuk mengatur anggota suatu organisasi atau tenaga kerja yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian dari pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi dan pengendalian dari tenaga kerja untuk tujuan membantu atau menunjang tujuan organisasi, individu maupun sosial.
4. Tinjauan Tentang Manajemen Pemasaran
Mengenai definisi manajemen pemasaran, Kotler dan Keller alih bahasa Molan mengartikan, “Pemasaran sebagai suatu proses sosial yang di dalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain lain” (2007: 6).
Dalam dunia bisnis, kebanyakan orang sering mengalami kesalahan yang menganggap bahwa yang paling penting dari sebuah pemasaran bukanlah penjualan. Seorang ahli teori manajemen terkemuka Peter Drucker, mengatakan sebagai berikut:
Orang dapat mengasumsikan akan selalu ada kebutuhan penjualan.
Akan tetapi, tujuan pemasaran bukan untuk memperluas penjualan hingga ke mana-mana. Tujuan pemasaran adalah mengetahui dan memahami pelanggan sedemikian rupa sehingga produk atau jasa itu cocok dengan pelanggan dan selanjutnya menjual dirinya sendiri.
Idealnya, pemasaran hendaknya menghasilkan seorang pelanggan yang siap untuk membeli. Semua yang dibutuhkan selanjutnya adalah menyediakan produk atau jasa itu (Kotler dan Keller alih bahasa Molan, 2007: 7).
Kotler dan Keller alih bahasa Molan (2007) menjelaskan bahwa:
Tujuan utama pemasaran adalah mengembangkan hubungan agar bertahan lama dan mendalam dengan semua orang atau organisasi yang dapat secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi keberhasilan kegiatan pemasaran perusahaan. Pemasaran relasi mempunyai tujuan membangun kepentingan utama seperti pelanggan, pemasok, distributor
commit to user
dalam rangka mendapatkan serta mempertahankan preferensi dan kelangsungan bisnis jangka panjang mereka. Pemaran membangun ikatan ekonomi, teknik dan sosial yang kuat di antara pihak-pihak yang berkepentingan. hubungan jangka panjang yang saling memuaskan dengan pihak-pihak yang memiliki (hlm. 21-22)
Lebih lanjut Kotler dan Keller alih bahasa Molan (2007) menambahkan bahwa:
Hasil akhir suatu pemasaran berdasarkan hubungan adalah membangun suatu asset perusahaan berupa jaringan pemasaran. Jaringan pemasaran terdiri dari suatu perusahaan dan pemercaya (stakeholder) pendukungnya (pelanggan, karyawan, pemasok, distributor, pengecer, agen periklanan, ilmuwan universitas dan lain-lain) yang dengannya perusahaan membangun hubungan bisnis timbal balik yang semakin menguntungkan (hlm. 22).
Dalam pemasaran terdapat proses pertukaran yang memerlukan banyak tenaga kerja dan keterampilan. Untuk itulah dalam pemasaran diperlukan adanya sebuah manajemen untuk mengatur keseluruhan proses dengan tujuan untuk memberikan kepuasan terhadap konsumen. Kotler dan Susanto alih bahasa Molan mengartikan, “Manajemen pemasaran sebagai proses yang mencakup menganalisis peluang pemasaran, menyeleksi pasar sasaran, merancang strategi pemasaran, mengembangkan program pemasaran dan mengelola usaha pemasaran” (2007: 32). Proses ini mencakup barang, jasa serta gagasan berdasarkan pertukaran dan tujuannya adalah memberikan kepuasan bagi pihak yang terkait.
Manajemen pemasaran biasanya dihubungkan dengan tugas dan orang- orang yang bergerak dalam pelanggan. Kotler dan Keller alih bahasa Molan (2007) secara rinci menjelaskan mengenai tugas manajemen pemasaran sebagai berikut:
a. Mengembangkan stratagi dan rencana pemasaran b. Merebut pencerahan pemasaran
c. Berhubungan dengan pelanggan d. Membangun merek yang kuat
e. Membentuk tawaran pemasaran (hlm. 35-36)
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen pemasaran
commit to user
perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan dari suatu barang atau jasa yang pada intinya adalah memberikan kepuasan bagi pihak-pihak yang terkait.
5. Tinjauan Tentang Jaringan Usaha
Menurut Prabatmodjo mengartikan, “Jaringan usaha (networks) sebagai suatu tatanan organisasi ekonomi yang mengatur koordinasi dan kerjasama antar unit usaha. Tatanan tersebut berbeda dengan pengintegrasian unit-unit usaha dalam satu perusahaan (konglomerasi) atau koordinasi antar unit usaha dengan menggunakan isyarat- isyarat pasar yang terkadang bersifat kolusif”
(1996: 41).
Grandori dan Soda (1995) menjelaskan bahwa jaringan usaha dapat berbentuk mulai dari yang paling sederhana misalnya komunikasi informal, agak kompleks seperti asosiasi dan konsorsium sampai ke yang lebih kompleks seperti joint-venture, sub-kontrak ataupun franchising (Prabatmodjo, 1996: 40).
Selanjutnya Jarillo (1988) menjelaskan bahwa pembentukan jaringan usaha dicapai melalui berbagai interaksi antar unit usaha yang pada akhirnya menentukan 'konsistensi' jaringan usaha yang terbentuk (Prabatmodjo, 1996:
40).
Lebih lanjut Jarillo (1988) merumuskan tentang jaringan usaha bahwa:
Jaringan usaha bukanlah sesuatu yang terjadi demikian saja, tetapi merupakan hasil keputusan dan upaya para usahawan untuk meningkatkan daya saing melalui kerjasama dengan unit-unit usaha lain. Daya saing yang lebih tinggi dapat dicapai karena para pelakunya dapat: Pertama, melakukan spesialisasi sehingga lebih efisien; Kedua, menekan biaya-biaya transaksi; Ketiga, meningkatkan fleksibilitas karena adanya rekanan yang terpercaya (Prabatmodjo, 1996: 40).
Dalam realitanya, seorang pengusaha dalam mempertahankan kelangsungan usahanya membutuhkan peran jaringan usaha untuk mendukung arah terciptanya eksistensi bagi usaha yang dijalankannya maupun untuk menghadapi persaingan usaha yang ada. Dalam jaringan usaha, pada umumnya terdapat suatu hubungan kerjasama antara pengusaha dengan pelaku usaha lain untuk membantu kelangsungan usahanya. Hubungan kerjasama yang terjadi biasanya dilandasi dengan faktor kepercayaan untuk kepentingan sifatnya
commit to user
cenderung jangka panjang. Prabatmodjo menjelaskan tiga model teoritis yang dapat menjelaskan terbentuknya jaringan usaha yaitu sebagai berikut:
a. Menurut perspektif 'pertukaran' (exchange perspective) yang dikembangkan antara lain oleh Blau (1964), jaringan usaha dapat dipandang sebagai suatu struktur sosial yang terbentuk karena adanya relasi-relasi sosial di antara pelaku-pelakunya (dapat berupa perseorangan atau unit usaha). Interaksi yang terjadi dimaksudkan untuk melakukan pertukaran secara langsung maupun tidak langsung hal-hal yang dianggap berharga yang dapat berupa materi, informasi maupun lambang-lambang. Selain itu, pelaku-pelaku tersebut berinteraksi dapat juga karena ingin memperoleh penghargaan atau takut terhadap sangsi-sangsi tertentu. Lebih jauh, posisi kekuasaan amat penting dalam struktur sosial yang terbentuk.
Ketidakseimbangan kekuasaan dalam relasi pertukaran maupun struktur jaringan pertukaran bahkan dapat mendorong terjadinya perubahan-perubahan struktural. Nampak bahwa perspektif ini menempatkan jaringan usaha sebagai bagian gejala sosial yang lebih luas.
b. Model 'ketergantungan sumberdaya' (resource dependence) yang banyak mengilhami studi-studi organisasi dan bisnis menjelaskan bahwa terbentuknya jaringan usaha adalah hasil upaya strategis unit usaha (organisasi) yang beroperasi dalam lingkungan usaha yang tidak stabil untuk mengamankan sumberdaya penting yang dikuasai oleh pihak-pihak lain. Situasi lingkungan yang selalu berubah mencirikan keadaan umum yang harus dihadapi oleh kebanyakan usaha, namun perubahan-perubahan yang berlangsung pada masa mendatang diperkirakan akan semakin cepat dan dramatis. Melalui kerjasama dengan pihak-pihak lain (yang berarti juga terbentuknya jaringan usaha), pemenuhan kebutuhan sumber daya dapat lebih terjamin (Pfeffer dan Salancik, 1978). Begitu jaringan usaha terbentuk, pelaku-pelaku yang terlibat di dalamnya akan berusaha menyesuaikan perilaku mereka dengan mekanisme dan aturan-aturan yang berlaku.
c. Pembentukan jaringan usaha juga dapat dijelaskan oleh model 'ekonomi biaya transaksi' (transaction cost economy) yang terutama dikembangkan oleh Williamson (1975). Menurut model ini, sebuah usaha dapat memperoleh kebutuhannya secara efisien melalui 'pasar' atau 'hirarki'. Pasar adalah pertemuan antara penjual dan pembeli produk tertentu. Mekanisme pasar dianggap dapat mengatur pelaku- pelaku ekonomi untuk menghasilkan barang dan jasa secara efisien.
Namun, untuk mendapatkan produk yang dibutuhkan melalui pasar akan diperlukan biaya-biaya transaksi yang merupakan produk keterbatasan informasi, perilaku oportunistik dari pelaku-pelaku ekonomi (memanfaatkan kesempatan demi keuntungan diri sendiri,
commit to user
pelaku-pelaku ekonomi. Kalau biaya-biaya transaksi terlalu besar sehingga dinilai dapat merongrong efisiensi usaha, beberapa perusahaan akan menggunakan 'hirarki' untuk memperoleh kebutuhannya (1996: 40-41).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa jaringan usaha adalah suatu tatanan organisasi ekonomi yang mengatur koordinasi dan kerjasama antar unit usaha yang mana jaringan usaha ini terbentuk melalui interaksi antar berbagai unit usaha, hasil keputusan dan upaya para pengusaha untuk meningkatkan daya saing melalui kerjasama dengan unit-unit usaha lain.
Jaringan usaha dalam konteks ini adalah keterkaitan antara para aktor ekonomi yang terlibat dalam industri kerajinan logam dusun Tumang seperti pengusaha kerajinan logam, tenaga kerja, pemasok bahan baku, serta pihak-pihak lainnya yang terlibat dalam keseluruhan proses industri kerajinan logam dusun Tumang ini berlangsung.
6. Tinjauan Tentang Strategi Adaptasi Ekonomi
Mengenai definisi strategi, Tjiptono berpendapat bahwa, “Secara konseptual strategi diartikan sebagai suatu siasat atau cara untuk mencapai suatu tujuan. Strategi dapat pula diartikan sebagai langkah khusus bersifat menggambarkan arah yang mengikuti lingkungan serta pedoman untuk mengalokasikan sumber daya” (1995: 3).
Lanjut Soekanto (2000) memberi batasan tentang pengertian dari adaptasi sosial yaitu :
a. Proses mengatasi halangan-halangan dari lingkungan
b. Penyesuaian terhadap norma-norma untuk menyalurkan ketegangan c. Proses perubahan-perubahan menyesuaikan dengan situasi yang
berubah
d. Mengubah agar sesuai dengan situasi yang diciptakan
e. Memanfaatkan sumber-sumber yang terbatas untuk kepentingan lingkungan dan sistem
f. Penyesuaian budaya dan aspek lainya sebagai hasil seleksi alamiah (Wahyudi dan Sismudjito, 2007: 85-86)
Dari batasan-batasan di atas dapat disimpulkan bahwa adaptasi merupakan proses penyesuaian-penyesuaian atau sebuah strategi aktif dari
commit to user
individu, kelompok maupun unit sosial terhadap norma-norma, proses perubahan ataupun suatu kondisi yang diciptakan sebagai usaha untuk memelihara kondisi kehidupan dalam menghadapi perubahan dengan cara memanfaatkan sumber-sumber yang terbatas untuk diri, lingkungan dan sistem.
Definisi adaptasi tersebut kemudian berkaitan erat dengan tingkat pengukuran yang dihubungkan dengan tingkat keberhasilannya agar dapat bertahan hidup (survival).
Strategi adaptasi dalam konteks kemiskinan dimaksud oleh Suharto (2002) seorang pengamat kemiskinan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) disebut juga sebagai “Coping Strategies”, secara umum “Coping Strategies dapat didefinisikan sebagai kemampuan seseorang dalam menerangkan seperangkat cara untuk mengatasi berbagai permasalahan yang melingkupi kehidupannya” (24). Lebih lanjut Suharto (2002) menjelaskan bahwa, “Dalam konteks keluarga miskin menurut Moser (1998) strategi penanganan masalah ini pada dasarnya merupakan kemampuan segenap anggota keluarga dalam mengelola segenap aset yang dimilikinya. Moser mengistilahkannya dengan nama “asset portofolio management” Bisa juga dinamakan dengan kapabilitas keluarga miskin dalam menanggapi goncangan dan tekanan (shock and stress)”.
Berdasarkan konsepsi ini Moser (1998) membuat kerangka analisis yang disebut “The Analysis Framework” kerangka analisis ini meliputi berbagai pengolahan aset yang dapat digunakan untuk melakukan penyesuaian atau pengembangan strategi tertentu dalam mempertahankan kelangsungan hidup seperti:
a. Asset tenaga kerja (labour assets), misalnya meningkatkan keterlibatan wanita dan anak-anak dalam keluarga untuk bekerja membantu ekonomi rumah tangga.
b. Asset produktif (productive assets), misalnya menggunakan rumah, sawah, ternak, tanaman untuk keperluan hidupnya.
c. Asset modal manusia (human capital assets), misalnya memanfaatkan status kesehatan yang dapat menentukan kapasitas orang untuk bekerja atau keterampilan dan pendidikan yang menentukan kembalian atau hasil kerja (return) terhadap tenaga
commit to user
d. Asset relasi rumah tangga atau keluarga (household relation assets), misalnya memanfaatkan jaringan dan dukungan dari sistem keluarga besar, kelompok etnis, migrasi tenaga kerja dan mekanisme “uang kiriman”.
e. Asset modal sosial (social capital assets), misalnya memanfaatkan lembaga-lembaga sosial lokal, arisan, dan pemberi kredit informal dalam proses dan sistem perekonomian keluarga (Suharto, 2002) (2).
Lebih lanjut coping strategis dalam mengatasi goncongan dari tekanan ekonomi terdapat berbagai cara yang ditempuh oleh keluarga yang diteliti. Cara- cara tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu:
a. Strategi aktif yaitu strategi yang mengoptimalkan segala potensi keluarga misalnya melakukan aktivitas sendiri, memperpanjang jam kerja, memanfaatkan sumber atau tanaman liar di lingkungan sekitarnya.
b. Strategi pasif yaitu mengurangi pengeluaran keluarga misalnya mengurangi pengeluaran biaya untuk sandang, pangan, pendidikan dan lainnya.
c. Strategi jaringan pengaman yaitu menjalin relasi baik secara formal maupun informal dengan lingkungan sosialnya maupun lingkungan kelembagaan misalnya meminjam uang di Bank, meminjam uang tetangga dan lainnya. (Suharto: 2002) (3).
Dengan demikian strategi adaptasi ekonomi yang dimaksud dalam konteks ini adalah suatu siasat atau cara yang dilakukan individu (pengusaha kerajinan logam) untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap norma- norma, proses perubahan ataupun suatu kondisi yang diciptakan sebagai usaha untuk memelihara kondisi kehidupan dalam menghadapi perubahan dengan cara memanfaatkan sumber-sumber yang ada dalam konteks pemenuhan kebutuhan ekonomi dengan tujuan agar mampu bertahan (survival) dalam lingkungan atau sistem.
7. Strategi Adaptasi Ekonomi Sebagai Sebuah Tindakan Sosial Dalam melihat kasus mengenai strategi adaptasi ekonomi pengusaha kerajinan logam di dusun Tumang ini, paradigma yang digunakan adalah paradigma definisi sosial yang fokus berbicara tentang tindakan sosial yang dikemukakan oleh Max Weber. Paradigma ini merumuskan sosiologi sebagai ilmu yang berusaha untuk menafsirkan dan memahami (interpretative