PENERAPAN SOLUTION-FOCUSED COUNSELING UNTUK PENINGKATAN PERILAKU ASERTIF
(Penelitian Single Subject pada Siswa Kelas VIII SMP Kartika XIX-2 Bandung Tahun Ajaran 2013/2014)
TESIS
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Magister Pendidikan dalam Bidang Bimbingan dan Konseling
Oleh, ALREFI NIM 1201126
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING SEKOLAH PASCASARJANA
Penerapan Solution-Focused
Counseling untuk Peningkatan
Perilaku Asertif
Oleh, Alrefi
S.Pd FKIP UNSRI, 2011
Sebuah Tesis yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd.) pada Fakultas Bimbingan dan Konseling
© Alrefi 2014
Universitas Pendidikan Indonesia Oktober 2014
Hak Cipta dilindungi undang-undang.
ALREFI 1201126
PENERAPAN SOLUTION-FOCUSED COUNSELING UNTUK MENINGKATKAN PERILAKU ASERTIF
(Penelitian Single Subject Terhadap Siswa Kelas VIII SMP Kartika XIX-2 Bandung Tahun Ajaran 2013/2014)
DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH PEMBIMBING :
Pembimbing I
Prof. Dr. Kusdwiratri Setiono
Pembimbing II
Dr. Ilfiandra, M.Pd NIP. 19721124 199903 1 003
Mengetahui,
Ketua Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Pendidikan Indonesia
DAFTAR ISI
B. Identifikan dan Rumusan Masalah ...……… C. Tujuan Penelitian ……….. BAB II TEKNIK SOLUTION-FOCUSED COUNSELING UNTUK MENINGKATKAN PERILAKU ASERTIF SISWA A. Konsep Perilaku Asertif...………...… 1. Pengertian Perilaku Asertif……… 2. Komponen Perilaku Asertif ……….. 3. Ciri-ciri Individu yang Asertif... ……….... 4. Hal-hal yang Mempengaruhi Perkembangan Perilaku Asertif…….. 5. Pengembangan Perilaku Asertif melalui Solution-Focused Counseling
C. Asumsi dan Hipotesis Penelitian 36 BAB III METODE PENELITIAN E. Definisi Operasional Variabel Penelitian ……….…
F. Instrumen Penelitian ………..………...
G. Langkah-Langkah Penelitian………...………...
H. Analisis data...…………...………
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Profil Perilaku Asertif Siswa ………... 1. Profil Tingkat Perilaku Asertif Siswa ………...……… 2. Profil Perilaku Asertif Siswa Sebelum Intervensi...………...
a) Profil Konseli JN ………..
b) Profil Konseli IQ ……….
c) Profil Konseli YD ……….
B. Proses Pelaksanaan Solution-Focused Counseling untuk Meningkatkan
Perilaku Asertif...………...
1. Kasus Konseli JN ………...
2. Kasus Konseli IQ ………...
3. Kasus Konseli YD ………...
C. Gambaran Efektivitas Solution-Focused Counseling untuk Meningkatkan Perilaku Asertif Siswa ...……….... 1. Analisis Profil Konseli JN Setelah Intervensi ……… 2. Analisis Profil Konseli IQ Setelah Intervensi ……… 3. Analisis Profil Konseli YD Setelah Intervensi ……….. D. Analisis Temuan Penelitian Solution-Focused Counseling untuk
Meningkatkan Perilaku Asertif Siswa ………....………..
E. Keterbatasan Penelitian .………...………
53
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Kesimpulan ………... 120
B. Rekomendasi ……… 120
DAFTAR PUSTAKA ……… 122
LAMPIRAN-LAMPIRAN…………..………... 128
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Kisi-Kisi Instrumen Perilaku Asertif...……….. 41
Tabel 3.2 Kategori Pemberian Skor Alternatif Jawaban...………...……….. 42 Tabel 3.3 Sasaran Intervensi …...………. 47
Tabel 3.4 Panduan Interpretasi Skor Percentage Non-Overlapping Data
(PND) ...……….
52
Tabel 4.1 Tingkat Perilaku Asertif Siswa Kelas VIII SMP Kartika XIX-2
Bandung Tahun Ajaran 2013/2014 …………...…………. 53
Tabel 4.2 Tingkat Perilaku Asertif Siswa Kelas VIII SMP Kartika XIX-2
Bandung yang menjadi Partisipan dalam Penelitian Ajaran
2013/2014... 56
Peubahan Skor Aspek Bebas Mengemukakan Pikiran dan
Pendapat ...
Perubahan Skor Aspek Mampu Berkomunikasi Secara Langsung,
Terbuka dan Jujur.
Perubahan Skor Aspek Mampu Menyatakan Perasaan dengan
tepat...
Perubahan Skor Aspek Memiliki Sikap dan Pandangan yang Aktif
Terhadap Kehidupan ...……….... Perubahan Skor Aspek Menerima Keterbatasan yang Ada dalam
diri …... Tabel Perubahan Skor Perilaku Asertif Konseli IQ …………...
Perubahan Skor Aspek Bebas Mengemukakan Pikiran dan
Pendapat...
Perubahan Skor Aspek Mampu Berkomunikasi secra Langsung,
Terbuka dan Jujur ...
Perubahan Skor Aspek Mampu Menyatakan Perasaan dengan
tepat ...
98
Tabel 4.13 Perubahan Skor Aspek Menerima Keterbatasan yang Ada dalam
diri ...………
Tabel Perubahan Skor Perilaku Asertif Konseli YD...….…..… Perubahan Skor Aspek Bebas Mengemukakan Pikiran dan
Pendapat ...
Perubahan Skor Aspek Mampu Berkomunikasi secara Langsung,
Terbuka dan Jujur pada Konseli ...
Perubahan Skor Aspek Mampu Menyatakan Perasaan dengan
Tepat ...
Perubahan Skor Aspek Memiliki Sikap dan Pandangan yang Aktif
Terhadap Kehidupan ...
Perubahan Skor Aspek Menerima Keterbatasan yang ada dalm
diri ...
Perbedaan Rata-Rata Skor Perilaku Asertif dan Standar Deviasi
Antara Baseline (A) dan Intervensi (B)...
112
DAFTAR GRAFIK
Grafik 4.1 Profil Perilaku Asertif Konseli JN sebelum mendapatkan
Intervensi
57
Grafik 4.2 Profil Perilaku Asertif Konseli IQ sebelum mendapatkan
Intervensi
59
Grafik 4.3 Profil Perilaku Asertif Konseli YD sebelum mendapatkan
Intervensi
61
Grafik 4.4 Profil Perilaku asertif Konseli JN Setelah Mendapatkan
Intervensi
84
Grafik 4.5 Aspek Bebas Mengemukakan Pikiran dan Pendapat 86
Grafik 4.6 Aspek Mampu Berkomunikasi Secara Langsung, Terbuka dan
Jujur
88
Grafik 4.7 Aspek Mampu Menyatakan Perasaan dengan Tepat 89
Grafik 4.8 Aspek Memiliki Sikap dan Pandangan yang Aktif terhadap
Kehidupan
91
Grafik 4.9 Aspek Menerima Keterbatasan yang ada dalam diri 92
Grafik 4.10 Profil Perilaku asertif Konseli IQ Setelah Mendapatkan
Intervensi
94
Grafik 4.11 Aspek Bebas Mengemukakan Pikiran dan Pendapat 96
Grafik 4.12 Aspek Mampu Berkomunikasi Secara Langsung, Terbuka dan
Jujur
Aspek Mampu Menyatakan Perasaan dengan Tepat
Aspek Memiliki Sikap dan Pandangan yang Aktif terhadap
Kehidupan
Aspek Menerima Keterbatasan yang Ada dalam Diri
Profil Perilaku asertif Konseli YD Setelah Mendapatkan Profil
Aspek Bebas Mengemukakan Pikiran dan Pendapat
Aspek Mampu Berkomunikasi secara Langsung, Terbuka dan
99
101
102
104
Grafik 4.19
Grafik 4. 20
Grafik 4. 21
Jujur
Aspek Mampu Menyatakan Perasaan dengan Tepat
Aspek Memiliki Sikap dan Pandangan yang Aktif terhadap
Kehidupan
Aspek Menerima Keterbatasan yang ada dalam Diri
108
109
111
ABSTRAK
Alrefi. (2014). Penerapan Solution-Focused Counseling Untuk Peningkatan Perilaku Asertif. (Penelitian Single Subject terhadap Siswa Kelas VIII SMP Kartika XIX-2 Bandung Tahun Ajaran 2013/2014).
Penelitian mengenai perilaku asertif dilatabelakangi oleh perilaku yang tidak asertif pada siswa seperti ketidakmampuan mengemukakan pikiran dan pendapat dan ketidakmampuan menyatakan perasaan dengan tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan solution-focused counseling untuk meningkatkan perilaku asertif yang dialami oleh siswa dengan kategori perilaku asertif rendah. Penelitian menggunakan metode penelitian single subject dengan desain A-B. Populasi penelitian yaitu siswa kelas VIII SMP Kartika XIX-2 Bandung tahun ajaran 2013 / 2014 dengan sampel penelitian sebanyak tiga orang siswa dengan kategori rendah dan dominan pada aspek bebas mengemukakan pikiran dan pendapat dan mampu menyatakan perasaan dengan tepat. Teknik analisis data menggunakan analisis visual dengan melihat arah kecenderungan garis (trend) dan analisis statistik menggunakan dua standar deviasi dan pedoman Percentage overlapping Non-Data (PND) untuk menguji keefektifan intervensi. Hasil penelitian menunjukkan terjadinya perbedaan skor yang signifikan antara fase baseline dan fase intervensi dengan meningkatnya skor perilaku asertif yang dialami oleh siswa. Temuan ini menjelaskan bahwa solution-focused counseling efektif untuk meningkatkan perilaku asertif. Berdasarkan temuan penelitian, maka solution-focused counseling dapat dijadikan modus intervensi dalam menangani konseli yang berperilaku tidak asertif.
ABSTRACT
Alrefi. (2014). Application of Solution-Focused Counseling to Improve Assertive Behavior. (Single Subject Research of the Eight Grade Students of SMP Kartika XIX-2 Academic Year 2013/2014).
The research on assertive behavior might be caused by nonassertive behavior students, for instance the inabilty to express their thoughts, opinions and feelings exactly. This research was aimed at testing the effectiveness of solution-focused counseling to improve assertive behavior students. Single subject AB design was used in this research. The participants was the Eighth Grade Students of SMP Kartika XIX-2 Bandung academic year 2013/2014. The sample was three students with low category and dominant aspects of mind, free to express their opinions, and able to express feelings appropriately. Analysis using visual analysis by looking at the trajectory line (trend) and statistical analysis using two standard deviations and guidelines from Percentage overlapping Non-Data (PND) to test the effectiveness of interventions. The result showed that there was significant difference in scores between the baseline phase and the intervention with scores increasing assertive behavior experienced by students. This finding explains that solution-focused counseling improve effective to assertive behavior. Based on the research finding, the solution-focused counseling can be used as a mode of intervention in addressing non-assertive counselees.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa awal remaja adalah masa seorang anak memiliki keinginan untuk
mengetahui berbagai macam hal serta ingin memiliki kebebasan dalam
menentukan apa yang ingin dilakukannya (Hurlock, 1980). Dalam keseharian
tidak semua remaja dapat berperilaku asertif. Perilaku asertif didefinisikan sebagai
suatu pengungkapan ekspresi secara langsung dan jujur yang memungkinkan
remaja untuk mempertahankan hak-hak pribadi tanpa melakukan tindakan agresif
yang mengganggu hak-hak pribadi orang lain (Lange dan Jackubowski,
1985:132). Hal ini dikarenakan tidak semua baik remaja laki-laki maupun
perempuan sadar bahwa mereka memiliki hak untuk berperilaku asertif.
Seorang remaja memiliki kecemasan atau ketakutan untuk berperilaku
asertif, bahkan banyak individu selain anak remaja yang kurang terampil dalam
mengekspresikan diri secara asertif (Eskin, 2003). Hal ini dipengaruhi oleh latar
belakang budaya, keluarga tempat anak remaja tinggal, urutan anak tersebut
dalam keluarga, pola asuh orang tua, jenis kelamin, status sosial ekonomi orang
tua dan sistem kekuasaan orang tua (William, 2008).
Berperilaku asertif memiliki banyak manfaat terutama dalam hubungan
sosial siswa karena perilaku ini mengedepankan segi-segi kejujuran dengan tetap
menghargai orang lain. Berperilaku asertif berarti individu selalu memikirkan
orang lain dan reaksi mereka tidak mengorbankan hak pribadi (Alberti dan
Emmons, 2008). Perilaku asertif berbeda dengan perilaku agresif, dalam perilaku
asertif seorang remaja dituntut untuk tetap mengahargai orang lain dan tanpa
melakukan kekerasan secara fisik maupun verbal, sedangkan perilaku agresif
cenderung untuk menyakiti orang lain apabila kehendaknya tidak dituruti
(Zulkaida, 2006). Perilaku tidak asertif jelaslah merugikan diri sendiri karena
seseorang yang tidak asertif merasakan tidak nyaman dan mengorbankan hak-hak
2
Fensterheim dan Baer (1980: 14-15) berpendapat seseorang dikatakan
mempunyai sikap asertif apabila mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: Bebas
mengemukan pikiran dan pendapat, dapat berkomunikasi secara langsung, terbuka
dan jujur, mampu menyatakan perasaan, baik yang menyenangkan maupun yang
tidak menyenangkan dengan cara yang tepat, memiliki sikap dan pandangan yang
aktif terhadap kehidupan dan menerima keterbatasan yang ada di dalam dirinya
dengan tetap berusaha untuk mencapai apa yang diinginkannya sebaik mungkin,
sehingga baik berhasil maupun gagal ia akan tetap memiliki harga diri dan
kepercayaan diri.
Fenomena tidak asertif dapat terlihat dengan banyaknya kasus bolos
sekolah pada siswa yang tidak asertif terhadap ajakan temannya seperti pada kasus
berikut, Tribbun News (2013) menyatakan pada operasi gabungan antara pihak
kepolisian, Satpol PP, dan Disdikpora, sebanyak 130 siswa dibawa ke Mapolres
Cimahi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 17 siswa di antaranya diamankan saat
berkeliaran di Kota Cimahi, adapun sisanya yakni 113 siswa diamankan dari
wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Dari kasus tersebut penulis menemukan beberapa penyebab siswa yang
bolos seperti tidak suka terhadap guru, bosan dengan mata pelajaran dan sikap
tidak asertif siswa karena tidak berani menolak ajakan teman. Perilaku tidak
asertif yang ditunjukkan oleh siswa di kota Cimahi tersebut jelas sangat
merugikan diri sendiri karena siswa sudah tidak sekolah, tidak mendapatkan ilmu
pengetahuan dari bangku sekolah dan yang lebih memalukan adalah siswa
tersebut diamankan oleh pihak kepolisian.
Selain bolos sekolah hasil penelitian Novalia dan Dayakisni (2013)
menunjukkan terdapat 31,7% remaja (14-16) menjadi korban bullying akibat
perilaku tidak asertif. Menjadi korban bullying sangat tidak diinginkan oleh
siswa-siswi yang sedang sekolah tetapi hal itu dapat terjadi kalau siswa lebih
memilih perilaku tidak asertif daripada perilaku asertif. Lightsey dan Barnes
(2007) juga menjelasakan remaja yang tidak asertif berdampak negatif terhadap
Hal tersebut jika dibiarkan akan menghambat tugas perkembangan seorang remaja
(Erikson, 1963).
Perilaku asertif sangat penting dalam perkembangan remaja, karena
apabila seorang remaja tidak dapat berperilaku asertif, disadari ataupun tidak,
remaja akan kehilangan hak-hak pribadi sebagai individu dan cenderung tidak
dapat menjadi individu yang bebas dan akan selalu berada dibawah kekuasaan
orang lain (Erikson, 1963). Hal ini didukung oleh penelitian Daniel (2008) remaja
tidak dapat berperilaku asertif karena belum menyadari bahwa remaja memiliki
hak untuk berperilaku asertif.
Dalam kehidupan sehari-hari remaja berperilaku tidak asertif, remaja tidak
menyadari dampak perilaku yang dilakukan dengan membiarkan diri tidak
berperilaku asertif justru akan merusak hubungan interpersonal dengan individu
lain (Daniel, 2008), dengan tidak membiasakan berperilaku asertif membuat
remaja dirugikan oleh orang lain, sehingga perilaku yang muncul dari remaja
adalah perilaku yang tidak sesuai dengan keinginan hati nurani remaja tersebut
(Omeje, 2013).
Fenomena tidak asertif sangat merugikan remaja, hasil penelitian
Novitriani (2013) menunjukkan fakta bahwa kebanyakan remaja mulai merokok
karena dipengaruhi oleh temannya terutama sahabat yang lebih dahulu merokok.
Remaja yang lingkungannya merokok akan lebih mudah ikut-ikutan merokok
terutama bila remaja tersebut rentan terhadap tekanan teman sebaya. Demikian
juga pada penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya (Napza)
dan seks bebas yang membuat remaja tersebut ikut ikutan teman sebaya yang
sudah melakukan seks bebas dan memakai Napza. Hasil penelitian
mengungkapkan bahwa perilaku negatif tersebut berkaitan dengan
ketidakmampuan remaja untuk bersikap asertif.
Jika digambarkan dalam sebuah perilaku di sekolah siswa yang tidak
mampu berperilaku asertif merasa dirugikan oleh temannya sehingga yang
muncul adalah hubungan yang tidak harmonis pada siswa, siswa yang tidak
mampu mengatakan tidak cenderung disepelekan oleh temannya. Banyak siswa
4
komunitas anak-anak lainya, disadari atau tidak dengan berperilaku tidak asertif
justru merugikan diri sendiri, misalnya ketika anak di ajak membolos dan dia
sebenarnya tidak mau membolos akan tetapi karena ketidakmampuannya untuk
mengatakan tidak akhirnya dia pun membolos, dalam hal ini sebenarnya siswa
tersebut dirugikan karena sudah tidak bejalar, dan pastinya siswa tersebut akan
tertinggal dalam pelajaran dan jika dikaitkan dengan peraturan sekolah siswa akan
mendapat suatu masalah karena telah melanggar peraturan sekolah yaitu
membolos (Nurfaizal, 2012).
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan lima siswa SMP Kartika
Siliwangi 2 Bandung selama Praktik Pengalaman Lapangan (2013), perilaku yang
ditunjukkan siswa di sekolah seperti berpura-pura, memendam perasaan, menahan
perbedaan pendapat atau bersikap agresif dan terdapat beberapa siswa ikut
temannya bolos sekolah karena menghormati teman padahal sangat bertentangan
dengan keinginan siswa tersebut. Hal ini disebabkan karena remaja memiliki rasa
khawatir, takut mengecewakan orang lain, takut tidak diterima oleh lingkungan,
dan takut menyakiti hati orang lain sehingga perilaku siswa di sekolah memilih
berperilaku tidak asertif.
Hasil wawancara dengan guru BK SMP Kartika Siliwangi 2 Bandung
(2013), hasil observasi selama PPL dan hasil daftar kehadiran siswa masih
ditemukan siswa yang melanggar peraturan sekolah seperti membolos di
lingkungan sekolah yang disebabkan ketidakmampuan remaja untuk menolak
ajakan teman dan juga munculnya fenomena tidak asertif dari siswa sepert siswa
yang dirugikan oleh temannya karena ketidakberanian untuk mengungkapkan
keinginan menolak ajakan teman sehingga yang terjadi adalah timbulnya masalah
pada siswa tersebut dilingkungan sekolah, siswa yang ikut merokok
teman-temannya karena alasan menghormati teman padahal bertentangan dengan hati
nurani anak tersebut, siswa merasa sulit untuk menolak ajakan dari temannya
sehingga perilaku kurang asertif muncul pada siswa. Permasalahan ini muncul
karena siswa tidak mau dijauhi temannya jika tidak mengikuti ajakan dari
temannya dan siswa lebih memilih berperilaku tidak asertif terhadap ajakan
siswa karena siswa merasa tidak mendapatkan kenyamanan di lingkungan
sekolah.
Permasalahan tidak asertif yang dialami oleh remaja mengancam siswa
tidak memiliki ikatan identitas melainkan krisis identitas dan perkembangan
remaja tidak tercapai secara optimal (Erikson, 1963). Dengan adanya
permasalahan tersebut maka sangat dibutuhkan peran bimbingan dan konseling,
bimbingan dan konseling yang bertujuan membantu remaja pada permasalahan di
bidang sosial berkaitan erat dengan permasalahan tidak asertif pada remaja.
Konselor perlu merancang layanan bimbingan pribadi-sosial yang bersifat
responsif.
Konselor dapat membantu siswa meningkatkan perilaku asertif melalui
layanan konseling individu. Berdasarkan wawancara dengan tiga guru BK di
sekolah (2013) guru BK menginginkan inovasi teknik konseling yang singkat
karena selama ini konseling yang dilaksanakan adalah berfokus pada pengkajian
permasalahan siswa. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru BK, peneliti
berpendapat bahwa Solution-Focused Counseling merupakan teknik yang tepat
digunakan untuk meningkatkan perilaku asertif siswa karena teknik SFC lebih
dominan berfokus pada solusi daripada berfokus pada pengkajian masalah (Corey,
2009:426; Gladding, 2012: 284).
Solution-Focused Counseling (SFC) merupakan salah satu teknik
konseling pendekatan postmodern. Tumbuh dari orientasi terapi strategis di
lembaga penelitian jiwa, SFC menggeser fokus dari penyelesaian masalah untuk
fokus pada solusi lengkap. SFC berbeda dengan terapi tradisional dengan
mengulas masa lalu dalam mendukung baik saat ini maupun masa depan (Corey,
2009:426).
Solution-Focused Counseling (SFC), pertama kali dikembangkan oleh
Steve de Shazer dan Insoo Kim Berg di Milwaukee, Wisconsin (Corey,
2009:425). SFC merupakan pendekatan konseling yang menekankan pada
kekuatan-kekuatan konseli dan berfokus pada solusi (O’Connell, 2004). Kelly, dkk (2008) juga menjelaskan bahwa SFC adalah teknik yang tepat untuk setting
6
yang berjudul “Effects of Solution-Focused Counseling on Student’s Self
-Regulation and Academic Achievement” menunjukkan bahwa Solution-Focused Counseling memiliki dampak positif terhadap prestasi belajar siswa. Hasil
penelitian tersebut didukung oleh pernyataan Franklin (2001) menunjukkan
pengaruh positif Solution-Focused Counseling terhadap masalah perilaku dan
masalah belajar siswa.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perilaku tidak asertif remaja dapat
ditingkatkan melalui Solution-Focused Counseling karena perilaku asertif
berhubungan dengan permasalahan sosial dan pribadi (Kelly, 2008:41).
Solution-Focused Counseling memiliki tujuan menumbuhkembangkan kesadaran,
memfokuskan pada solusi, kekuatan dan kemampuan serta meningkatkan
kemampuan berpikir positif terhadap suatu masalah dan Solution-Focused
Counseling efektif untuk mengatasi perilaku anak dan remaja dalam setting
sekolah (Corey, 2009:437; Franklin, 2008:15).
B. Identifikasi dan Rumusan Masalah
Atas dasar uraian latar belakang penelitian, diperoleh kejelasan
permasalahan sebagai berikut, seorang remaja memiliki kecemasan atau ketakutan
untuk berperilaku asertif, bahkan banyak individu selain anak remaja yang kurang
terampil dalam mengekspresikan diri secara asertif (Eskin, 2003). Hal ini
dipengaruhi oleh latar belakang budaya, keluarga tempat anak remaja tinggal,
urutan anak tersebut dalam keluarga, pola asuh orang tua, jenis kelamin, status
sosial ekonomi orang tua dan sistem kekuasaan orang tua (William, 2008).
Permasalahan siswa SMP Kartika Siliwangi sering menyebabkan mereka
sulit untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang
salah. Sehingga kadang kala siswa mempunyai perilaku yang sulit untuk diatur,
mudah sekali terpengaruh oleh teman sebaya dan lingkungan, sehingga siswa
mudah ikut-ikutan dengan apa yang dilakukan oleh teman dan lingkungannya. Hal
ini sesuai dengan pendapat Hurlock (1980), dan Erikson (Hall & Lindzey, 1993)
bahwa masa remaja merupakan tahap pencarian indentitas dan sebagai ambang
Dalam kehidupan sehari-hari siswa-siswi SMP Kartika Siliwangi
menampakkan perilaku tidak asertif, remaja tidak menyadari dampak perilaku
yang dilakukan dengan membiarkan diri tidak berperilaku asertif justru akan
merusak hubungan interpersonal dengan individu lain, dengan tidak membiasakan
berperilaku asertif membuat remaja dikuasai dan dirugikan oleh orang lain,
sehingga perilaku yang muncul dari remaja adalah perilaku yang tidak sesuai
dengan keinginannya. Siswa-siswi sangat tidak nyaman dengan perilaku yang
tidak asertif yang ditunjukkan sehingga perilaku tidak asertif yang dialami oleh
siswa tidak tercapai secara optimal. Dengan adanya permasalahan tersebut maka
sangat dibutuhkan peran bimbingan dan konseling, bimbingan dan konseling yang
bertujuan membantu remaja pada permasalahan di bidang sosial berkaitan erat
dengan permasalahan tidak asertif pada remaja.
Dari permasalahan perilaku tidak asertif yang dialami oleh remaja
tersebut, sangat jelas bahwa perilaku asertif sangat diperlukan oleh remaja agar
dapat bertindak sesuai dengan keinginan remaja untuk mempertahankan hak-hak
pribadi tanpa melakukan tindakan agresif yang mengganggu hak-hak pribadi
orang lain. Untuk meningkatkan perilaku asertif siswa SMP Kartika Siliwangi II
diperlukan adanya sebuah metode yang efektif dan sistematis untuk meningkatkan
perilaku asertif diantaranya adalah teknik Focused Counseling.
Solution-Focused Counseling memiliki tujuan menumbuhkembangkan kesadaran,
memfokuskan pada solusi, kekuatan dan kemampuan serta meningkatkan
kemampuan berpikir positif terhadap suatu masalah dan Solution-Focused
Counseling efektif untuk mengatasi perilaku anak dan remaja (Corey, 2009:437;
Franklin, 2008:15). Selain itu, Solution-Focused Counseling digunakan di sekolah
untuk menambah skill bagi guru bimbingan dan konseling untuk melaksanakan
layanan responsif khususnya konseling individual, karena selama ini guru
bimbingan dan konseling memerlukan inovasi teknik-teknik konseling dalam
menangani beragam permasalahan siswa yang ada di sekolah.
Berdasarkan masalah yang telah diidentifikasi, dirumuskan masalah,
Solution-Focused Counseling belum diketahui keefektivitannya terhadap
8
mendalam terhadap penerapan Solution-Focused Counseling untuk meningkatkan
perilaku asertif siswa.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan Solution-Focused Counseling
yang efektif untuk meningkatkan perilau asertif siswa SMP Kartika Siliwangi II
Bandung.
D. Manfaat penelitian
Hasil penelitian diharapkan dapat memiliki manfaat bagi siswa dan guru
bimbingan dan konseling.
1. Siswa
Manfaat penelitian Penerapan Solution-Focused Counseling untuk
Peningkatan Perilaku Asertif Siswa SMP Kartika Siliwangi II bagi siswa
adalah siswa mendapatkan layanan responsif untuk meningkatkan perilaku
asertif melalui teknik Solution-Focused Counseling.
2. Guru Bimbingan dan Konseling
Guru bimbingan dan koseling di sekolah dapat berkolaborasi dan
berdiskusi dengan peneliti mengenai solution-focused counseling dan
memanfaatkan hasil studi untuk menambah pengetahuan dan keterampilan
terkait teknik Solution-Focused Counseling untuk meningkatkan perilaku
asertif siswa, sehingga diharapkan menambah skill konseling dalam
melaksanakan layanan responsif khususnya konseling individual.
3. Peneliti Selanjutnya
Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat dijadikan sebagai
referensi yang berkaitan dengan perilaku asertif dan solution-focused
E.Sistematika Penulisan
Penelitian ditulis dalam lima bab, dengan struktur organisasi pada halaman
berikutnya.
1. Bab I Pendahuluan mencakup uraian dari latar belakang; identifikasi dan
rumusan masalah penelitian; tujuan penelitian; manfaat penelitian; dan
sistematika penulisan tesis.
2. Bab II Kajian Pustaka mencakup uraian konsep atau teori utama dan teori-teori
turunannya dalam bidang yang dikaji; hasil penelitian terdahulu dan hasil
temuannya; kerangka pemikiran; serta asumsi dan hipotesis.
3. Bab III Metode Penelitian mencakup pembahasan secara berurutan tentang
pendekatan penelitian; metode penelitian; desain penelitian; lokasi dan subjek
penelitian; definisi operasional tentang variabel-variabel penelitian; instrumen
penelitian; teknik pengumpulan data dan analisisnya.
4. Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan mendiskusikan temuan penelitian
dengan menggunakan dasar teoritik yang telah dibahas dalam Bab II dan berisi
uraian tentang dua hal utama yaitu; hasil pengolahan atau analisis data dalam
bentuk temuan penelitian; dan pembahasan atau analisis temuan penelitian.
5. Bab V Kesimpulan dan Rekomendasi mencakup penafsiran dan pemaknaan
terhadap hasil analisis temuan penelitian yang disajikan dalam bentuk
kesimpulan; dan rekomendasi yang ditujukan kepada konselor; dosen
37
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mendapatkan data
numerikal berupa persentase perilaku asertif peserta didik kelas VIII SMP Kartika
Siliwangi II Bandung tahun ajaran 2013/2014. Creswell (2012) menjelaskan
pendekatan kuantitatif dipilih sebagai pendekatan penelitian ketika tujuan
penelitian yaitu menguji teori, mengungkapkan fakta-fakta, menunjukkan
hubungan antar variabel dan memberikan deskripsi.
B. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen kuasi dengan desain
single subject yang memungkinkan peneliti menentukan sampel penelitian sesuai
dengan kriteria-kriteria tertentu yang akan diteliti. Single Subject Research
biasanya digunakan dalam penelitian tentang perubahan tingkah laku yang timbul
akibat adanya intervensi yang dilakukan secara berulang-ulang dalam kurun
waktu tertentu. Juang (2006; 11) menjelaskan dalam proses penelitian single
subject ada empat kegiatan utama yang perlu dilakukan, yaitu mengidentifikasi
masalah dan mendefinisikan dalam bentuk perilaku yang akan diubah yang
teramati dan terukur, menentukan tingkat perilaku yang akan diubah sebelum
memberikan intervensi, memberikan intervensi, dan menindaklanjuti untuk
mengevaluasi apakah perubahan perilaku yang terjadi menetap atau bersifat
sementara. Dalam istilah penelitian single subject , perilaku yang akan diubah
disebut perilaku sasaran atau target behavior yang dalam penelitian eksperimen
pada umumnya disebut variabel terikat.
.
C. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah single subject design yang
menggunakan desain A-B dan melibatkan satu peserta saja, tetapi biasanya juga
Setiap subjek berfungsi sebagai kontrol bagi dirinya sendiri yang dapat dilihat dari
kinerja subjek sebelum, selama, dan setelah diberi perlakuan (Horner et al., 2005:
168). Desain A-B merupakan desain dasar dari penelitian single subject. Prosedur
desain disusun atas dasar apa yang disebut dengan logika baseline yang
menunjukkan suatu pengulangan perilaku atau target behavior
sekurang-kurangnya dua kondisi yaitu kondisi baseline (A) dan kondisi intervensi (B). Oleh
karena itu, dalam penelitian single subject akan selalu ada pengukuran perilaku
pada fase baseline dan pengulangannya pada sekurang-kurangnya satu fase
intervensi Hasselt dan Hersen (Sunanto, 2005).
Desain yang digunakan adalah sebagai berikut:
A-B
(Sunanto et al., 2006: 42)
Keterangan :
A : Baseline
B : Intervensi
D. Populasi dan Sampel Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMP Kartika Siliwangi II Bandung yang
beralamat di jalan Pak Gatot Raya No.73 KPAD Gegerkalong Bandung. Hasil
studi pendahuluan terhadap kelas VIII SMP Kartika Siliwangi II Bandung
menunjukkan adanya peserta didik yang berperilaku asertif rendah.
Populasi penelitian adalah peserta didik yang secara administratif terdaftar
dan aktif dalam pembelajaran di kelas VIII SMP Kartika Siliwangi II Bandung.
Sampel penelitian adalah peserta didik yang memiliki skor rendah pada perilaku
asertif.
Teknik pengambilan sampel menggunakan maximal variation sampling
yaitu strategi pemilihan sampel yang memiliki kesamaan dalam aspek tertentu
39
konteks penelitian, sampel memiliki persamaan dan perbedaan dalam aspek
perilaku asertif yang dominan.
E. Definisi Operasional Variabel Penelitian 1. Perilaku Asertif
Fensterheim (1980: 14) menjelaskan kata kerja assert berarti menyatakan
atau bersikap positif, yakni berterus terang, atau tegas. Perilaku asertif adalah
perilaku seseorang dalam hubungan antar pribadi yang menyangkut ekspresi
emosi yang tepat, jujur, relatif terus terang, dan tanpa perasaan cemas terhadap
orang lain. Fensterheim (1980) menyatakan bahwa seseorang dikatakan asertif
hanya jika dirinya mampu bersikap tulus dan jujur dalam mengekspresikan
perasaan, pikiran dan pandangannya pada pihak lain sehingga tidak merugikan
atau mengancam integritas pihak lain. Asertif bukan hanya berarti seseorang dapat
bebas berbuat sesuatu seperti yang diinginkannya, juga di dalam perilaku asertif
terkandung berbagai pertimbangan positif mengenai baik dan buruknya suatu
sikap dan perilaku yang akan dimunculkan.
Perilaku asertif dalam penelitian merupakan suatu perilaku peserta didik
kelas VIII SMP Kartika Siliwangi II Bandung laki-laki dan perempuan yang tulus
dan jujur dalam mengekspresikan perasaan, pikiran, dan pandangan serta
keterbukaan diri kepada pihak lain, tanpa mengurangi hak dan kepentingan
pribadi maupun orang lain. Aspek perilaku asertif merujuk pada pendapat
Fensterheim dan Baer (1980) meliputi, (a) bebas mengemukakan pikiran dan
pendapat, baik melalui kata-kata maupun tindakan; (b) dapat berkomunikasi
secara langsung, terbuka dan jujur; c) mampu menyatakan perasaan, baik yang
menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan dengan cara yang tepat; (d)
memiliki sikap dan pandangan yang aktif terhadap kehidupan; dan (e) menerima
keterbatasan yang ada di dalam dirinya dengan tetap berusaha untuk mencapai apa
yang diinginkannya sebaik mungkin, sehingga baik berhasil maupun gagal ia akan
2. Solution-Focused Counseling
Secara operasional, solution-focused counseling yang dimaksud dalam
penelitian adalah suatu teknik bimbingan dan konseling yang diberikan oleh
konselor kepada konseli secara individu dengan adanya kolaborasi antara konselor
dan konseli untuk mencari solusi bersama, menumbuhkan potensi dan sumber
daya yang dimiliki konseli dengan menggunakan lima strategi konseling yaitu
exception questions, miracle questions, scaling questions, coping questions dan
compliments. Tujuannya agar siswa menemukan solusi, menumbuhkan potensi
dan sumber daya yang dimiliki terkait dengan perilaku asertif siswa.
F. Instrumen Penelitian 1. Kalibrasi Instrumen
Instrumen penelitian adalah instrument penelitian tentang indikator
perilaku asertif yang dikembangkan oleh Nuirfaizal pada tahun 2012. Angket
tersebut dikembangkan atas dasar perspektif kajian perilaku asertif dari
Fensterheim dan Baer (1980) dan Alberti & Emmons (2008). Reliabilitas
instrumen sebelumnya adalah 0,885 setelah diuji coba lagi reliabilitasnya
0,869. Instrumen yang dikembangkan oleh Nurfaizal digunakan lagi karena
berkaitan erat dengan aspek yang akan diukur pada perilaku asertif siswa SMP
Kartika Siliwangi.
Instrumen dalam penelitian yaitu angket tertutup (angket berstruktur)
artinya angket yang disajikan dalam bentuk pernyataan yang telah tersedia
alternatif pilihan jawabannya, sehingga responden diminta untuk memilih satu
jawaban yang sesuai dengan karakteristik dirinya dengan cara memberikan
tanda silang (x) atau tanda checklist (√). Jumlah item pernyataan yang harus
dijawab oleh responden yaitu 52 butir item.
2. Kisi-Kisi Instrumen
Kisi-kisi instrumen untuk mengungkap perilaku asertif peserta didik yang
dikembangkan dari definisi operasional variabel penelitian. Kisi-kisi dari
41
Mampu berkomunikasi kepada teman 11, 12,
13, 3
Menjadi pribadi yang optimis 38, 39,
40 3 dihormati diri sendiri dan orang lain Mengedepankan harga diri 51, 52 2
3. Hasil Kalibrasi Instrumen
Validitas merupakan tingkat penafsiran kesesuaian hasil yang
dimaksudkan instrumen dengan tujuan yang diinginkan oleh suatu instrumen
(Creswell, 2012:159). Pengujian validitas butir item dilakukan terhadap seluruh
item yang terdapat dalam angket pengungkap perilaku asertif pada peserta didik.
Pengujian validitas butir item bertujuan untuk mengetahui apakah instrumen yang
digunakan mampu mengukur apa yang diinginkan. Validitas butir item yang
dilakukan dalam penelitian yang diuji adalah seluruh item yang terdapat dalam
angket yang mengungkap perilaku asertif siswa.Pengolahan data dalam penelitian
dilakukan dengan bantuan program MS. Excel. Pengujian validitas alat
pengumpul data menggunakan korelasi biserial titik.
Pengujian validitas dilakukan terhadap 52 item pernyataan dengan jumlah
subjek 202 siswa. Dari 52 item diperoleh 47 item yang valid dan 5 item tidak
valid. Hasil uji reliabilitas menunjukan nilai reliabilitas instrumen sebesar 0,72
artinya tingkat korelasi atau derajat keterandalan tinggi, yang menunjukkan bahwa
instrumen yang digunakan sudah baik dan dapat dipercaya sebagai alat
pengumpul data.
4. Pedoman Skoring
Butir pernyataan pada alternatif jawaban peserta didik diberi skor 1 dan 0. Jika peserta didik menjawab pada kolom “Ya” diberi skor 1 dan kolom “Tidak” diberi skor 0. Ketentuan pemberian skor perilaku asertif peserta didik dapat dilihat
pada Tabel 3.2.
Tabel 3.2
Kategori Pemberian Skor Alternatif Jawaban
Alternatif Jawaban Positif
Ya 1
43
G. Langkah-Langkah Penelitian
1. Pengambilan Sampel Sebelum Baseline
Populasi penelitian adalah peserta didik yang secara administratif terdaftar
dan aktif dalam pembelajaran di kelas VIII SMP Kartika Siliwangi II Bandung.
Sampel penelitian adalah peserta didik yang memiliki skor rendah pada aspek
perilaku asertif. Teknik pengambilan sampel menggunakan maximal variation
sampling yaitu strategi pemilihan sampel yang memiliki kesamaan dalam aspek
tertentu tetapi memiliki perbedaan pada aspek lainnya (Creswell, 2012: 208).
Dalam konteks penelitian, sampel memiliki persamaan dan perbedaan dalam
aspek perilaku asertif yang dominan. Penyebaran angket perilaku asertif dilakukan
di kelas VIII SMP Kartika Siliwangi II Bandung, selain itu pemberian informed
consent juga diberikan kepada peserta didik agar peserta didik memahami
prosedur penelitian. Hasil penyebaran angket mendapatkan dua belas siswa yang
berperilaku tidak asertif.
2. Pelaksanaan Baseline
Prosedur utama yang ditempuh dalam desain A-B meliputi pengukuran
target behavior (variabel terikat) pada kondisi baseline dan setelah
kecenderungan arah dan level datanya stabil kemudian intervensi mulai diberikan.
Intervensi diberikan ketika secara kontinu kondisi baseline mencapai data yang
stabil (Lovaas, 2003). Pelaksanaan pengukuran dan pencatatan data pada kondisi
baseline secara kontinyu dilaksanakan 3 kali selama 3 minggu untuk siswa yang
berperilaku tidak asertif, partisipan yang dipilih dalam penelitian berdasarkan
hasil kestabilan baseline pada siswa yang berperilaku tidak asertif. Penentuan
baseline dapat dilaksanakan dengan penyebaran angket kepada siswa.
3. Perancangan Intervensi
Pemberian intervensi dengan menggunakan solution-focused counseling
dilakukan terhadap siswa yang memiliki skor Perilaku asertif yang rendah
berdasarkan hasil baseline. Komponen rancangan intervensi solution-focused
a. Rasional
Seorang remaja memiliki kecemasan atau ketakutan untuk berperilaku
asertif, bahkan banyak individu selain anak remaja yang kurang terampil dalam
mengekspresikan diri secara asertif (Eskin, 2003). Hal ini dipengaruhi oleh latar
belakang budaya, keluarga tempat anak remaja tinggal, urutan anak tersebut
dalam keluarga, pola asuh orang tua, jenis kelamin, status sosial ekonomi orang
tua dan sistem kekuasaan orang tua (William, 2008).
Permasalahan siswa SMP Kartika Siliwangi sebenarnya bersumber pada
pencarian identitas diri yang sering menyebabkan mereka sulit untuk
membedakan antara yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah.
Sehingga kadang kala siswa mempunyai perilaku yang sulit untuk diatur, mudah
sekali terpengaruh oleh teman sebaya dan lingkungan, sehingga siswa mudah
ikut-ikutan dengan apa yang dilakukan oleh teman dan lingkungannya. Hal ini
sesuai dengan pendapat Hurlock (1980), dan Erikson (Hall & Lindzey, 1993)
bahwa masa remaja merupakan tahap pencarian indentitas dan sebagai ambang
masa dewasa.
Dalam kehidupan sehari-hari siswa-siswi SMP Kartika Siliwangi
menampakkan perilaku tidak asertif, remaja tidak menyadari dampak perilaku
yang dilakukan dengan membiarkan diri tidak berperilaku asertif justru akan
merusak hubungan interpersonal dengan individu lain, dengan tidak membiasakan
berperilaku asertif membuat remaja dikuasai dan dirugikan oleh orang lain,
sehingga perilaku yang muncul dari remaja adalah perilaku yang tidak sesuai
dengan keinginannya. Siswa-siswi sangat tidak nyaman dengan perilaku yang
tidak asertif yang ditunjukan sehingga perilaku tidak asertif yang dialami oleh
remaja mengancam siswa tidak memiliki ikatan identitas melainkan krisis
identitas dan perkembangan remaja tidak tercapai secara optimal (Erikson, 1963).
Dengan adanya permasalahan tersebut maka sangat dibutuhkan peran bimbingan
dan konseling, bimbingan dan konseling yang bertujuan membantu remaja pada
permasalahan di bidang sosial berkaitan erat dengan permasalahan tidak asertif
45
Dari permasalahan perilaku kurang asertif yang dialami oleh remaja
tersebut, sangat jelas bahwa perilaku asertif sangat diperlukan oleh remaja agar
dapat bertindak sesuai dengan keinginan remaja untuk mempertahankan hak-hak
pribadi tanpa melakukan tindakan agresif yang mengganggu hak-hak pribadi
orang lain. Untuk meningkatkan perilaku asertif siswa SMP Kartika Siliwangi II
diperlukan adanya sebuah metode yang efektif dan sistematis untuk meningkatkan
perilaku asertif diantaranya adalah teknik Focused Counseling.
Solution-Focused Counseling memiliki tujuan menumbuhkembangkan kesadaran,
memfokuskan pada solusi, kekuatan dan kemampuan serta meningkatkan
kemampuan berpikir positif terhadap suatu masalah dan Solution-Focused
Counseling efektif untuk mengatasi perilaku anak dan remaja dalam setting
sekolah (Corey, 2009:437; Franklin, 2008:15). Selain itu, Solution-Focused
Counseling digunakan di sekolah untuk menambah skill bagi guru bimbingan dan
konseling untuk melaksanakan layanan responsif khususnya konseling individual,
karena selama ini guru bimbingan dan konseling memerlukan inovasi
teknik-teknik konseling dalam menangani beragam permasalahan siswa yang ada di
sekolah.
b. Tujuan Intervensi
Secara umum tujuan intervensi adalah meningkatkan perilaku asertif
peserta didik kelas VIII SMP Kartika Siliwangi Bandung tahun ajaran 2013/2014.
Secara khusus tujuan intervensi adalah mengembangkan keterampilan peserta
didik untuk;
1. Mampu mengemukakan pikiran dan pendapat, baik melalui kata-kata
maupun tindakan.
2. Mampu berkomunikasi secara langsung, terbuka dan jujur.
3. Mampu menyatakan perasaan, baik yang menyenangkan maupun yang
tidak menyenangkan dengan cara yang tepat.
4. Memiliki sikap dan pandangan yang aktif terhadap kehidupan.
5. Menerima keterbatasan yang ada di dalam dirinya dengan tetap berusaha
berhasil maupun gagal ia akan tetap memiliki harga diri dan kepercayaan
diri.
c. Asumsi Intervensi
1) Perilaku asertif memberikan kepuasan baik pada diri sendiri maupun orang
lain dan mendukung terbentuknya hubungan interpersonal yang positif
dengan orang lain (Ames, 2008; Rizkani, 2009).
2) Solution-Focused Counseling berpijak pada asumsi optimis bahwa
individu unik, memiliki kekuatan dan sumber daya yang dapat digunakan
untuk membuat perubahan dalam hidupnya (Corey, 2008; Dahlan, 2011).
3) Solution-Focused Counseling memungkinkan konselor dan konseli
berkolaborasi dalam mencari solusi terhadap permasalahan konseli.
(Gladding, 2009).
d. Kompetensi Peneliti
Dalam melaksanakan teknik solution-focused counseling untuk
meningkatkan perilaku asertif harus didukung oleh kompetensi memadai yang
dimiliki oleh peneliti yang sekaligus berperan sebagai pemberi intervensi.
Berbagai sumber menyatakan bahwa solution-focused counseling dapat diberikan
oleh berbagai kalangan dan tidak menuntut lisensi profesional tertentu. Beberapa
kalangan yang terbiasa memberikan intervensi ini diantaranya adalah Guru, Guru
BK, Konselor, Terapis dan Social Worker. Hal ini mengimplikasikan bahwa
peneliti memenuhi syarat untuk melaksanakan solution-focused counseling.
Kompetensi lainnya adalah:
1. Memiliki pemahaman dan pengetahuan yang memadai mengenai konsep
perilaku asertif.
2. Memiliki pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan yang memadai dalam
solution-focused counseling.
3. Memahami karakteristik remaja SMP Kartika Siliwangi yang merupakan
47
4. Menunjukkan penerimaan tanpa syarat terhadap konseli sebagai manusia yang
tidak lepas dari kesalahan.
e. Sasaran Intervensi
Populasi yang menjadi subjek intervensi/konseli dalam konseling melalui
pendekatan solution-focused counseling untuk meningkatkan perilaku asertif
adalah peserta didik kelas VIII SMP Kartika Siliwangi II Bandung, yang
teridentifikasi memiliki tingkat perilaku tidak asertif.
Sasaran intervensi adalah peserta didik yang memiliki skor rendah pada
aspek perilaku asertif seperti dikemukakan Fensterheim dan Baer (1980) yang
meliputi aspek sebagai berikut 1) bebas mengemukakan pikiran dan pendapat, 2)
Mampu berkomunikasi secara langsung, terbuka dan jujur, 3) Mampu menyatakan
perasaan dengan tepat, 4) Memiliki sikap dan pandangan yang aktif terhadap
kehidupan dan 5) Menerima keterbatasan yang ada di dalam diri. Pemilihan
subjek penelitian berdasarkan jumlah aspek yang memiliki skor rendah paling
banyak diantara peserta didik yang memenuhi kriteria subjek penelitian.
Tabel 3.3
Sasaran Intervensi
Nama Jenis Kelamin Usia Aspek yang Rendah
YDP Laki-laki 14 Tahun Aspek 1, 2, dan 3
IQJ Laki-laki 13Tahun Aspek 1, 2 dan 3
JDA Laki-laki 14 Tahun Aspek 1, 2, dan 3
f. Pelaksanaan Intervensi
Pelaksanaan intervensi solution-focused counseling untuk meningkatkan
perilaku asertif disusun berdasarkan hasil baseline perilaku asertif dan
karakteristik sampel penelitian. Pelaksanan solution-focused counseling meliputi
beberapa tahapan seperti yang dipaparkan oleh Neukrug (2012: 131-133) a)
membentuk hubungan kolaboratif, b) mendeskripsikan masalah, c) menetapkan
tujuan, d) berfokus solusi, e) mencapai tujuan dan termination. Adapun
a) Membentuk Hubungan Kolaboratif
Konselor membantu konseli mengidentifikasi kekuatan dan sumber daya
konseli, sehingga konselor membangun kepercayaan, kolaborasi dan hubungan
yang setara dengan menunjukkan (rasa hormat, penerimaan, dan rasa ingin
mengetahui), menjadi pendengar yang baik dan bersikap empati.
b) Mendeskripsikan Masalah
Meskipun fokus konseling secara khusus berfokus pada solusi, masalah
adalah hal penting ketika konseli masuk pada sesi konseling yang pertama karena
konseli merasa perlu didengarkan masalahnya, banyak skill yang digunakan untuk
membangun hubungan kolaborasi yang awalnya adalah mendengarkan masalah
konseli. De Jong dan Berg (2002) menyarankan bahwa masalah hanya perlu
didengarkan sekitar 15 menit sebelum konselor mulai menggunakan teknik-teknik
yang akan digunakan pada sesi konseling.
c) Menetapkan Tujuan
Langkah pertama membantu konseli fokus kepada tujuan yang ingin
dicapai adalah merespon pertanyaan tentang apa yang konseli suka mengenai masa depannya. O’Connell (2003) menyarankan tipe-tipe pertanyaan untuk memfasilitasi tujuan yang ingin dicapai konseli, diantaranya: 1) “Apa harapan terbaik yang kamu inginkan pada sesi ini?”, 2) “Bagaimana kamu akan mengetahui perubahan yang lebih baik?”, 3) Bagaimana kamu mengetahui bahwa kedatangan kamu bisa bermanfaat? Bentuk-bentuk pertanyaan tersebut dapat
digunakan pada saat sesi konseling berlangsung.
d) Berfokus Solusi
Tahap ini membantu konseli semakin fokus pada solusi bukan pada
masalah, teknik-teknik yang dapat digunakan adalah exception questions, miracle
questions, coping questions. Konselor mendukung solusi konseli yang terdiri dari
amplification dan complimenting. Amplification yaitu mendukung konseli
meningkatkan kekuatan dan sumber daya agar tercapainya tujuan. Complimenting,
49
e) Mencapai Tujuan dan Termination
Pada akhir sesi pertama konseling, menggeser fokus konseli dari fokus
masalah menuju fokus solusi. Pada sesi pertama dan sesi berikutnya, konseli
mengimplementasikan dan mencari tujuan yang ingin dicapai. Konselor
membantu konseli mengevaluasi keefektivan solution-focused counseling
menggunakan Scaling Questions, yaitu skala penilaian untuk mengukur kemajuan.
Konselor memperkuat konseli dengan menjadi pendengar yang baik,
menunjukkan empati dan memuji usaha yang dilakukan konseli.
g. Proses Intervensi
Pelaksanaan intervensi dilakukan sesuai dengan rancangan intervensi yang
telah dibuat. Pelaksanaan intervensi dilakukan setelah kondisi baseline sudah
stabil. Pelaksanaan intervensi dilaksanakan selama 4-6 sesi , setiap sesi dilakukan
seminggu sekali dengan waktu antara 60-80 menit persesi. Penentuan jadwal
intervensi berdasarkan kesepakatan antara peneliti dan siswa.
h. Evaluasi dan Indikator Keberhasilan
Evaluasi keberhasilan intervensi solution-focused counseling untuk
meningkatkan perilaku asertif siswa dilakukan pada setiap sesi intervensi dan
setelah seluruh intervensi selesai dilaksanakan. Intervensi ini dikatakan berhasil
apabila siswa:
1. Mampu mengemukakan pikiran dan pendapat, baik melalui kata-kata maupun
tindakan.
2. Dapat berkomunikasi secara langsung, terbuka dan jujur.
3. Mampu menyatakan perasaan, baik yang menyenangkan maupun yang tidak
menyenangkan dengan cara yang tepat.
4. Memiliki sikap dan pandangan yang aktif terhadap kehidupan.
5. Menerima keterbatasan yang ada di dalam dirinya dengan tetap berusaha untuk
mencapai apa yang diinginkannya sebaik mungkin, sehingga baik berhasil
Siswa yang berhasil mengikuti kegiatan intervensi adalah siswa yang
mampu meningkatkan potensi dan sumber daya yang dimiliki pada setiap dan
setelah sesi intervensi. Sumber utama untuk evaluasi ini adalah analisis terhadap
catatan konseling setiap sesinya yang dicatat oleh konseli. Analisis catatan
konseling dijadikan ukuran untuk mengetahui perubahan konstruk yang menjadi
indikator keberhasilan dari setiap sesi intervensi.
4. Kondisi Intervensi
Setelah intervensi dilaksanakan maka akan mendapatkan hasil kondisi
siswa setelah diberikan intervensi, kondisi intervensi tersebut akan terlihat apakah
siswa mengalami perubahan perilaku atau tidak.
H. Analisis Data
Penelitian ini memiliki pertanyaan mengenai efektivitas penerapan
solution-focused counseling dirumuskan ke dalam hipotesis “solution-focused
counseling efektif dalam meningkatkan perilaku asertif siswa”. Ada dua teknik
analisis data yang digunakan dalam menjawab pertanyaan penelitian ini yakni
a. Analisis Visual
Dalam penelitian ini, analisis datanya dimaksudkan untuk mengetahui efek
atau pengaruh intervensi terhadap perilaku sasaran yang ingin diubah dengan
menggunakan analisis visual yakni analisis dilakukan dengan melakukan
penggalian data secara langsung dan ditampilkan dalam bentuk grafik
(split-middle technique). Menurut Barlow, Nock & Hersen (2008), menjelaskan bahwa
bukti adanya intervensi yang efektif adalah ditunjukkan oleh perbedaan yang
berarti antara nilai rata-rata peserta dikondisi. Untuk itu komponen penting yang
dianalisis dengan cara ini adalah banyaknya data dalam setiap kondisi yang
disebut dengan panjang kondisi (level) dan kecenderungan arah grafik (trend).
b. Analisis Statistik
Untuk melihat keefektifan data perubahan yang terjadi, maka dilakukan
analisis statistik sederhana. Nourbakhsh & Ottenbacher (1994) menjelaskan
51
statistik yang dapat digunakan untuk melihat efektivitas atau perubahan antara
kondisi baseline dan intervensi. Nourbakhsh & Ottenbacher menjelaskan
langkah-langkah sebagai berikut mencari dua standar deviasi yakni : 1) mencari terlebih
dahulu standar deviasi pada kemudian dikalikan dua dan hasilnya adalah dua
standar deviasi; 2) mencari rata-rata baseline dan membuat garis lurus dengan
menggunakan titik rata-rata baseline; 3) membuat garis dari titik rata-rata setelah
dikurangi dua standar deviasi dibawah garis baseline; 4) intervensi dikatakan
terjadi perubahan secara efektif jika ada dua titik yang berada di atas garis dua
standar deviasi.
Analisis lain yang digunakan adalah dengan melihat penurunan atau
kenaikan pada kecenderungan arah grafik (trend). Untuk itu, seperti yang
dikatakan oleh Tankersley, Harjusala-Webb, dan Landrum (2008) menyarankan
bahwa perubahan tren adalah bukti terbaik untuk mendukung efek pengobatan
dalam desain penelitian subjek tunggal. Untuk tujuan ini, peneliti menganalisis
menaik atau menurun tren dalam data seluruh kondisi dan dihitung "kenaikan atau
penurunan garis lurus" dengan menghitung kuadrat regresi (Horner etal., 2005).
Koefisien nilai determinasi juga dihitung untuk menilai tren diprediksi dengan
menggunakan SPSS 20. Nilai R2 yang ditafsirkan mengikuti pedoman Cohen
(1988). Menurut Cohen, nilai R2 dari 0.01 menunjukkan efek yang kecil, nilai R2
dari 0,09 menunjukkan efek sedang, dan nilai R2 dari 0,25 menunjukkan efek yang
besar. Hal ini mengandung pengertian, semakin nilai koefisien regresi mendekati
1, maka semakin tinggi prediksi akan terjadi.
Untuk menegaskan besarnya efek intervensi dianalisis dengan menghitung
percentage Non-Overlapping Data (PND) antara baseline dan fase intervensi
(Morgan &Morgan, 2009). Karena solution-focused counseling diharapkan dapat
meningkatkan perilaku asertif siswa, PND dihitung dengan menggunakan data
yang paling bawah dari skor baseline dan dibuat garis lurus dari titik tersebut.
Secara khusus, analisis visual dan deskriptif dilakukan untuk memeriksa jumlah
titik pada fase intervensi yang berada dibawah garis titik terbawah pada baseline.
dijumlahkan dan dikalikan dengan 100. Adapun pedoman interpretasi skor PND
digunakan panduan oleh Morgan & Morgan (2008).
Tabel 3.4
Panduan Interpretasi Skor Percentage Non-Overlapping Data (PND)
Nilai PND Interpretasi
> 90% Sangat Efektif
70 - 90% Efektif
50 - 70% Dipertanyakan
120
BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Kesimpulan
Hasil intervensi yang telah diberikan dapat disimpulkan bahwa
solution-focused counseling efektif untuk meningkatkan perilaku asertif siswa. Efektivitas
ini dilihat dari beberapa hal diantaranya adalah dengan adanya peningkatan skor
perilaku asertif berdasarkan analisis grafik pada fase baseline dan intervensi.
Selain itu, berdasarkan dari hasil uji Percentage Non-Overlapping Data (PND)
menunjukkan solution-focused counselingsangat efektif untuk meningkatkan
perilaku asertif konseli JN dan IQ serta efektif untuk meningkatkanperilaku asertif
konseli YD.
Selain itu, hasil wawancara dengan guru dan teman-teman konseli
menunjukkan bahwa konseli mengalami perubahan dengan adanya perubahan
perilaku asertif. Setelah 45 hari diberikan intervensi, partisipan diberikan angket
kembali untuk mengukur perubahan perilaku asertif, hasilnya konseli JN tetap
konsisten memiliki perilaku asertif, konseli IQ juga konsisten memiliki perilaku
asertif dan konseli YD konsisten memiliki perilaku asertif. Temuan ini
menunjukkan bahwa solution-focused counseling efektif untuk meningkatkan
perilaku asertif siswa JN, IQ dan YD.
B. Rekomendasi
Berdasarkan hasil penelitian, direkomendasikan hal-hal sebagai berikut:
1. Bagi Konselor
Hasil penelitian menunjukkan solution-focused counseling efektif untuk
peningkatan perilaku asertif siswa. Dengan demikian, konselor dapat menerapkan
solution-focused counseling disertai dengan pemahaman teori dan praktek agar
solution-focused counseling tetap bermanfaat kegunaannya di sekolah dan
solution-focused counseling dapat menjadi pilihan pendekatan konseling ketika
konselor menemui berbagai macam kasus atau permasalahan siswa di sekolah.
exception questions, miracle questions, scaling questions, coping questions dan
compliments.
2. BagiPenelitiSelanjutnya
Peneliti selanjutnya diharapkan dapat menggunakan design penelitian
single subject A-B-A atau A-B-A-B sehingga konsistensi perubahan setelah
diberikan intervensi lebih kuat dibandingkan design A-B. Peneliti selanjutnya
tidak hanya menggunakan pengukuran melalui angket dan wawancara saja, tetapi
perlu dilengkapi dengan menggunakan lembar observasi sehingga data yang
122
DAFTAR PUSTAKA
Abbassi, A., dan Singh, R. N. (2006). “Assertiveness in Marital Relationships Among Asian Indians in the United States.” Journal of the Family. 14, (4), 392-399.
Alberti, R.E. & Emmons, M.L. (2008). Your Perfect Right: Assertiveness and Equality in Your Life and Relationships (9th ed.). Atascadero, CA: Impact Publishers.
Ames, D. R. (2008). “In Search of the Right Touch: Interpersonal Assertiveness in Organizational Life.” Journal of Psychological Science,17, 381-385.
Ames, D. R., and Wazlawek, A.S. (2014). “Pushing in the Dark: Causes and Consequences of Limited Self-Awareness for Interpersonal
Assertiveness.” Personality and Social Psychology Bulletin, 1-16.
Barlow, D. H, Mathew K. Nock & Michael Hersen. (2008). Single case experimental designs: Strategies for studying behavior change (3rd Edition). New York: Pearson
Bertolino, B. Dan O’Hanlon, W. H. (2002). Collaborative, Competency-Based Counseling and Therapy.Boston: Allyn & Bacon.
Charlesworth, J.R., dan Jackson, C.M. (2004). Solution-Focused Brief Counseling: An Approach for Professional School Counselor. Dalam Erford, B.T. (ed.). Professional School Counseling: A Handbook of Theories, Programs and Practices. Austin, TX: Caps Press.
Cheng, C., dan Chun, W, Y. (2008). “Cultural Differences and Similarities in
Request Rejection: A Situational Approach.” Journal of Cross-Cultural Psychology. 39, (6), 745-764.
Cohen, J. (1988). Statistical power analysis for the behavioral sciences (2nd edition.). New York, NY: Academic Press.
Corcoran, J. (2006). “A comparison group study of solution-focused therapy versus treatment-as-usual for behavior problems in children.” Journal of Social Service Research, 33, 69−81.
Corey, G. (2009). Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. Belmont, California: Brooks/Cole.
Dahlan, T. H. (2011). Model Konseling Singkat Berfokus Solusi (Solution Focused Brief Counseling) dalam Setting Kelompok untuk Meningkatkan Daya Psikologis Mahasiswa (Penelitian dan Pengembangan Model Konseling Singkat Berfokus Solusi pada Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia Angkatan 2009). Disertasi pada Program Studi Bimbingan dan Konseling Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia: tidak diterbitkan.
Daniel, R.A. (2008). “Assertiveness Expectancies: How Hard People Push Depends on the Consequences They Predict”. Journal of Personality and Social Psychology. 95, (6), 1541–1557.
DeJong, P., & Berg, I. K. (2002). Interviewing for solutions (2nd ed.). Pacific Grove, CA: Brooks/Cole.
Destari, A dan Andrianto, S. (2005). Hubungan Antara Kemandirian dengan Asertivitas pada Remaja yang Tinggal di Panti Asuhan Yatim Piatu. Naskah Publikasi Fakultas Psikologi Universitas Islam Indoneisa Yogyakarta.
Erickson, M. H. (1954). “Special Techniques of Brief Hypnotherapy. Journal of Clinical and Experiment Hypnosis, 109-129.
Erikson, E.H. (1963). Childhood and Society (2nd ed). New York: W. W. Norton.
Eskin, M. (2003). “Self-reported assertiveness in Swedish and Turkish adolescents: A cross-cultural comparison”. Journal of Psychology. 44, 7–12.
Fensterheim dan Baer, J. (1980). Jangan Bilang Ya Jika Anda mengatakan Tidak. Jakarta: Gunung jati.
Fernando, D. (2007). “Existential theory and solution-focused strategies: Integration and application.” Journal of Mental Health Counseling, 29, (3), 226-241.
Franklin, C. (2001). The effectiveness of Solution–Focused Therapy with children in a school setting. Texas and Lake Universities.
Franklin, C., Biever, J. L., Moore, K. C., Clemons, D., & Scamardo, M. (2001).
“Effectiveness of solution-focused therapy with children in a school
setting.” Research on Social Work Practice, 11, 411−434.
124
Froeschle, J. G., Smith, R. L., & Ricard, R. (2007). “The efficacy of a systematic substance abuse program for adolescent females.” Professional School Counseling, 10, 498−505.
Furqon. (2008). Statistika Terapan Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Gladding, S.L. (2009). Counseling: A Comprehensive Profession. New Jersey: Pearson Education, Inc.
Gladding, S.L. (2012). Counseling: A Comprehensive Profession (Terjemahan). Jakarta: Indeks .
Hall, C.S. & Lindzey, G. 1993. Psikologi Kepribadian 1: Teori-Teori Psikodinamik (Klinis). Yogyakarta: Kanisius. Editor: A. Supratiknya.
Horner, R. H. et al. (2005). “The Use of Single-Subject Research to Identify Evidence-Based Practice in Special Education”. Council for Exceptional Children, 71, (2), 165-179.
Hurlock, E.B. (1980) Depelopment Psychology: A Life Span Approach. Alih Bahasa. (1997). Istiwidayanti dan Soedjarwo. Psikologi Perkembangan Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Helwig, C. C., & Turiel, E. (2002). “Rights, autonomy, and democracy: Children's perspectives.” International Journal of Law and Psychiatry,25, 253-270.
Hopson, L. M., & Kim, J. S. (2005). A solution-focused approach to crisis intervention with adolescents. Journal of Emotional and Behavioral Disorders, 15, 66-92.
Jacobson, K.L., Hood, J.N., and Buren, H.V. (2014). “Workplace bullying across cultures: A research agenda.” International Journal of Cross Cultural Management. 14, (1), 47-65.
Kelly, M.S., Kim, J.S., and Franklin, C. (2008). Solution-Focused Brief Therapy in Schools: A 360-Degree View of Research and Practice. New York: Oxford University Press.
Lange, A.J & Jackubowski, P. (1985). Responsible assertive behavior: Cognitive behavioral procedures training. Illionis: Research Press
Lawson, B. R. (1994). Design in Mind. Oxford, Butterworth Architecture.