• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN SOLUTION-FOCUSED COUNSELING UNTUK PENINGKATAN PERILAKU ASERTIF : Penelitian Single Subject pada Siswa Kelas VIII SMP Kartika XIX-2 Bandung Tahun Ajaran 2013/2014.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENERAPAN SOLUTION-FOCUSED COUNSELING UNTUK PENINGKATAN PERILAKU ASERTIF : Penelitian Single Subject pada Siswa Kelas VIII SMP Kartika XIX-2 Bandung Tahun Ajaran 2013/2014."

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN SOLUTION-FOCUSED COUNSELING UNTUK PENINGKATAN PERILAKU ASERTIF

(Penelitian Single Subject pada Siswa Kelas VIII SMP Kartika XIX-2 Bandung Tahun Ajaran 2013/2014)

TESIS

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Magister Pendidikan dalam Bidang Bimbingan dan Konseling

Oleh, ALREFI NIM 1201126

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING SEKOLAH PASCASARJANA

(2)

Penerapan Solution-Focused

Counseling untuk Peningkatan

Perilaku Asertif

Oleh, Alrefi

S.Pd FKIP UNSRI, 2011

Sebuah Tesis yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd.) pada Fakultas Bimbingan dan Konseling

© Alrefi 2014

Universitas Pendidikan Indonesia Oktober 2014

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

(3)

ALREFI 1201126

PENERAPAN SOLUTION-FOCUSED COUNSELING UNTUK MENINGKATKAN PERILAKU ASERTIF

(Penelitian Single Subject Terhadap Siswa Kelas VIII SMP Kartika XIX-2 Bandung Tahun Ajaran 2013/2014)

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH PEMBIMBING :

Pembimbing I

Prof. Dr. Kusdwiratri Setiono

Pembimbing II

Dr. Ilfiandra, M.Pd NIP. 19721124 199903 1 003

Mengetahui,

Ketua Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Pendidikan Indonesia

(4)

DAFTAR ISI

B. Identifikan dan Rumusan Masalah ...……… C. Tujuan Penelitian ……….. BAB II TEKNIK SOLUTION-FOCUSED COUNSELING UNTUK MENINGKATKAN PERILAKU ASERTIF SISWA A. Konsep Perilaku Asertif...………...… 1. Pengertian Perilaku Asertif……… 2. Komponen Perilaku Asertif ……….. 3. Ciri-ciri Individu yang Asertif... ……….... 4. Hal-hal yang Mempengaruhi Perkembangan Perilaku Asertif…….. 5. Pengembangan Perilaku Asertif melalui Solution-Focused Counseling

C. Asumsi dan Hipotesis Penelitian 36 BAB III METODE PENELITIAN E. Definisi Operasional Variabel Penelitian ……….…

F. Instrumen Penelitian ………..………...

G. Langkah-Langkah Penelitian………...………...

H. Analisis data...…………...………

(5)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Profil Perilaku Asertif Siswa ………... 1. Profil Tingkat Perilaku Asertif Siswa ………...……… 2. Profil Perilaku Asertif Siswa Sebelum Intervensi...………...

a) Profil Konseli JN ………..

b) Profil Konseli IQ ……….

c) Profil Konseli YD ……….

B. Proses Pelaksanaan Solution-Focused Counseling untuk Meningkatkan

Perilaku Asertif...………...

1. Kasus Konseli JN ………...

2. Kasus Konseli IQ ………...

3. Kasus Konseli YD ………...

C. Gambaran Efektivitas Solution-Focused Counseling untuk Meningkatkan Perilaku Asertif Siswa ...……….... 1. Analisis Profil Konseli JN Setelah Intervensi ……… 2. Analisis Profil Konseli IQ Setelah Intervensi ……… 3. Analisis Profil Konseli YD Setelah Intervensi ……….. D. Analisis Temuan Penelitian Solution-Focused Counseling untuk

Meningkatkan Perilaku Asertif Siswa ………....………..

E. Keterbatasan Penelitian .………...………

53

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan ………... 120

B. Rekomendasi ……… 120

DAFTAR PUSTAKA ……… 122

LAMPIRAN-LAMPIRAN…………..………... 128

(6)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Kisi-Kisi Instrumen Perilaku Asertif...……….. 41

Tabel 3.2 Kategori Pemberian Skor Alternatif Jawaban...………...……….. 42 Tabel 3.3 Sasaran Intervensi …...………. 47

Tabel 3.4 Panduan Interpretasi Skor Percentage Non-Overlapping Data

(PND) ...……….

52

Tabel 4.1 Tingkat Perilaku Asertif Siswa Kelas VIII SMP Kartika XIX-2

Bandung Tahun Ajaran 2013/2014 …………...…………. 53

Tabel 4.2 Tingkat Perilaku Asertif Siswa Kelas VIII SMP Kartika XIX-2

Bandung yang menjadi Partisipan dalam Penelitian Ajaran

2013/2014... 56

Peubahan Skor Aspek Bebas Mengemukakan Pikiran dan

Pendapat ...

Perubahan Skor Aspek Mampu Berkomunikasi Secara Langsung,

Terbuka dan Jujur.

Perubahan Skor Aspek Mampu Menyatakan Perasaan dengan

tepat...

Perubahan Skor Aspek Memiliki Sikap dan Pandangan yang Aktif

Terhadap Kehidupan ...……….... Perubahan Skor Aspek Menerima Keterbatasan yang Ada dalam

diri …... Tabel Perubahan Skor Perilaku Asertif Konseli IQ …………...

Perubahan Skor Aspek Bebas Mengemukakan Pikiran dan

Pendapat...

Perubahan Skor Aspek Mampu Berkomunikasi secra Langsung,

Terbuka dan Jujur ...

Perubahan Skor Aspek Mampu Menyatakan Perasaan dengan

tepat ...

98

(7)

Tabel 4.13 Perubahan Skor Aspek Menerima Keterbatasan yang Ada dalam

diri ...………

Tabel Perubahan Skor Perilaku Asertif Konseli YD...….…..… Perubahan Skor Aspek Bebas Mengemukakan Pikiran dan

Pendapat ...

Perubahan Skor Aspek Mampu Berkomunikasi secara Langsung,

Terbuka dan Jujur pada Konseli ...

Perubahan Skor Aspek Mampu Menyatakan Perasaan dengan

Tepat ...

Perubahan Skor Aspek Memiliki Sikap dan Pandangan yang Aktif

Terhadap Kehidupan ...

Perubahan Skor Aspek Menerima Keterbatasan yang ada dalm

diri ...

Perbedaan Rata-Rata Skor Perilaku Asertif dan Standar Deviasi

Antara Baseline (A) dan Intervensi (B)...

112

(8)

DAFTAR GRAFIK

Grafik 4.1 Profil Perilaku Asertif Konseli JN sebelum mendapatkan

Intervensi

57

Grafik 4.2 Profil Perilaku Asertif Konseli IQ sebelum mendapatkan

Intervensi

59

Grafik 4.3 Profil Perilaku Asertif Konseli YD sebelum mendapatkan

Intervensi

61

Grafik 4.4 Profil Perilaku asertif Konseli JN Setelah Mendapatkan

Intervensi

84

Grafik 4.5 Aspek Bebas Mengemukakan Pikiran dan Pendapat 86

Grafik 4.6 Aspek Mampu Berkomunikasi Secara Langsung, Terbuka dan

Jujur

88

Grafik 4.7 Aspek Mampu Menyatakan Perasaan dengan Tepat 89

Grafik 4.8 Aspek Memiliki Sikap dan Pandangan yang Aktif terhadap

Kehidupan

91

Grafik 4.9 Aspek Menerima Keterbatasan yang ada dalam diri 92

Grafik 4.10 Profil Perilaku asertif Konseli IQ Setelah Mendapatkan

Intervensi

94

Grafik 4.11 Aspek Bebas Mengemukakan Pikiran dan Pendapat 96

Grafik 4.12 Aspek Mampu Berkomunikasi Secara Langsung, Terbuka dan

Jujur

Aspek Mampu Menyatakan Perasaan dengan Tepat

Aspek Memiliki Sikap dan Pandangan yang Aktif terhadap

Kehidupan

Aspek Menerima Keterbatasan yang Ada dalam Diri

Profil Perilaku asertif Konseli YD Setelah Mendapatkan Profil

Aspek Bebas Mengemukakan Pikiran dan Pendapat

Aspek Mampu Berkomunikasi secara Langsung, Terbuka dan

99

101

102

104

(9)

Grafik 4.19

Grafik 4. 20

Grafik 4. 21

Jujur

Aspek Mampu Menyatakan Perasaan dengan Tepat

Aspek Memiliki Sikap dan Pandangan yang Aktif terhadap

Kehidupan

Aspek Menerima Keterbatasan yang ada dalam Diri

108

109

111

(10)

ABSTRAK

Alrefi. (2014). Penerapan Solution-Focused Counseling Untuk Peningkatan Perilaku Asertif. (Penelitian Single Subject terhadap Siswa Kelas VIII SMP Kartika XIX-2 Bandung Tahun Ajaran 2013/2014).

Penelitian mengenai perilaku asertif dilatabelakangi oleh perilaku yang tidak asertif pada siswa seperti ketidakmampuan mengemukakan pikiran dan pendapat dan ketidakmampuan menyatakan perasaan dengan tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan solution-focused counseling untuk meningkatkan perilaku asertif yang dialami oleh siswa dengan kategori perilaku asertif rendah. Penelitian menggunakan metode penelitian single subject dengan desain A-B. Populasi penelitian yaitu siswa kelas VIII SMP Kartika XIX-2 Bandung tahun ajaran 2013 / 2014 dengan sampel penelitian sebanyak tiga orang siswa dengan kategori rendah dan dominan pada aspek bebas mengemukakan pikiran dan pendapat dan mampu menyatakan perasaan dengan tepat. Teknik analisis data menggunakan analisis visual dengan melihat arah kecenderungan garis (trend) dan analisis statistik menggunakan dua standar deviasi dan pedoman Percentage overlapping Non-Data (PND) untuk menguji keefektifan intervensi. Hasil penelitian menunjukkan terjadinya perbedaan skor yang signifikan antara fase baseline dan fase intervensi dengan meningkatnya skor perilaku asertif yang dialami oleh siswa. Temuan ini menjelaskan bahwa solution-focused counseling efektif untuk meningkatkan perilaku asertif. Berdasarkan temuan penelitian, maka solution-focused counseling dapat dijadikan modus intervensi dalam menangani konseli yang berperilaku tidak asertif.

(11)

ABSTRACT

Alrefi. (2014). Application of Solution-Focused Counseling to Improve Assertive Behavior. (Single Subject Research of the Eight Grade Students of SMP Kartika XIX-2 Academic Year 2013/2014).

The research on assertive behavior might be caused by nonassertive behavior students, for instance the inabilty to express their thoughts, opinions and feelings exactly. This research was aimed at testing the effectiveness of solution-focused counseling to improve assertive behavior students. Single subject AB design was used in this research. The participants was the Eighth Grade Students of SMP Kartika XIX-2 Bandung academic year 2013/2014. The sample was three students with low category and dominant aspects of mind, free to express their opinions, and able to express feelings appropriately. Analysis using visual analysis by looking at the trajectory line (trend) and statistical analysis using two standard deviations and guidelines from Percentage overlapping Non-Data (PND) to test the effectiveness of interventions. The result showed that there was significant difference in scores between the baseline phase and the intervention with scores increasing assertive behavior experienced by students. This finding explains that solution-focused counseling improve effective to assertive behavior. Based on the research finding, the solution-focused counseling can be used as a mode of intervention in addressing non-assertive counselees.

(12)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masa awal remaja adalah masa seorang anak memiliki keinginan untuk

mengetahui berbagai macam hal serta ingin memiliki kebebasan dalam

menentukan apa yang ingin dilakukannya (Hurlock, 1980). Dalam keseharian

tidak semua remaja dapat berperilaku asertif. Perilaku asertif didefinisikan sebagai

suatu pengungkapan ekspresi secara langsung dan jujur yang memungkinkan

remaja untuk mempertahankan hak-hak pribadi tanpa melakukan tindakan agresif

yang mengganggu hak-hak pribadi orang lain (Lange dan Jackubowski,

1985:132). Hal ini dikarenakan tidak semua baik remaja laki-laki maupun

perempuan sadar bahwa mereka memiliki hak untuk berperilaku asertif.

Seorang remaja memiliki kecemasan atau ketakutan untuk berperilaku

asertif, bahkan banyak individu selain anak remaja yang kurang terampil dalam

mengekspresikan diri secara asertif (Eskin, 2003). Hal ini dipengaruhi oleh latar

belakang budaya, keluarga tempat anak remaja tinggal, urutan anak tersebut

dalam keluarga, pola asuh orang tua, jenis kelamin, status sosial ekonomi orang

tua dan sistem kekuasaan orang tua (William, 2008).

Berperilaku asertif memiliki banyak manfaat terutama dalam hubungan

sosial siswa karena perilaku ini mengedepankan segi-segi kejujuran dengan tetap

menghargai orang lain. Berperilaku asertif berarti individu selalu memikirkan

orang lain dan reaksi mereka tidak mengorbankan hak pribadi (Alberti dan

Emmons, 2008). Perilaku asertif berbeda dengan perilaku agresif, dalam perilaku

asertif seorang remaja dituntut untuk tetap mengahargai orang lain dan tanpa

melakukan kekerasan secara fisik maupun verbal, sedangkan perilaku agresif

cenderung untuk menyakiti orang lain apabila kehendaknya tidak dituruti

(Zulkaida, 2006). Perilaku tidak asertif jelaslah merugikan diri sendiri karena

seseorang yang tidak asertif merasakan tidak nyaman dan mengorbankan hak-hak

(13)

2

Fensterheim dan Baer (1980: 14-15) berpendapat seseorang dikatakan

mempunyai sikap asertif apabila mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: Bebas

mengemukan pikiran dan pendapat, dapat berkomunikasi secara langsung, terbuka

dan jujur, mampu menyatakan perasaan, baik yang menyenangkan maupun yang

tidak menyenangkan dengan cara yang tepat, memiliki sikap dan pandangan yang

aktif terhadap kehidupan dan menerima keterbatasan yang ada di dalam dirinya

dengan tetap berusaha untuk mencapai apa yang diinginkannya sebaik mungkin,

sehingga baik berhasil maupun gagal ia akan tetap memiliki harga diri dan

kepercayaan diri.

Fenomena tidak asertif dapat terlihat dengan banyaknya kasus bolos

sekolah pada siswa yang tidak asertif terhadap ajakan temannya seperti pada kasus

berikut, Tribbun News (2013) menyatakan pada operasi gabungan antara pihak

kepolisian, Satpol PP, dan Disdikpora, sebanyak 130 siswa dibawa ke Mapolres

Cimahi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 17 siswa di antaranya diamankan saat

berkeliaran di Kota Cimahi, adapun sisanya yakni 113 siswa diamankan dari

wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Dari kasus tersebut penulis menemukan beberapa penyebab siswa yang

bolos seperti tidak suka terhadap guru, bosan dengan mata pelajaran dan sikap

tidak asertif siswa karena tidak berani menolak ajakan teman. Perilaku tidak

asertif yang ditunjukkan oleh siswa di kota Cimahi tersebut jelas sangat

merugikan diri sendiri karena siswa sudah tidak sekolah, tidak mendapatkan ilmu

pengetahuan dari bangku sekolah dan yang lebih memalukan adalah siswa

tersebut diamankan oleh pihak kepolisian.

Selain bolos sekolah hasil penelitian Novalia dan Dayakisni (2013)

menunjukkan terdapat 31,7% remaja (14-16) menjadi korban bullying akibat

perilaku tidak asertif. Menjadi korban bullying sangat tidak diinginkan oleh

siswa-siswi yang sedang sekolah tetapi hal itu dapat terjadi kalau siswa lebih

memilih perilaku tidak asertif daripada perilaku asertif. Lightsey dan Barnes

(2007) juga menjelasakan remaja yang tidak asertif berdampak negatif terhadap

(14)

Hal tersebut jika dibiarkan akan menghambat tugas perkembangan seorang remaja

(Erikson, 1963).

Perilaku asertif sangat penting dalam perkembangan remaja, karena

apabila seorang remaja tidak dapat berperilaku asertif, disadari ataupun tidak,

remaja akan kehilangan hak-hak pribadi sebagai individu dan cenderung tidak

dapat menjadi individu yang bebas dan akan selalu berada dibawah kekuasaan

orang lain (Erikson, 1963). Hal ini didukung oleh penelitian Daniel (2008) remaja

tidak dapat berperilaku asertif karena belum menyadari bahwa remaja memiliki

hak untuk berperilaku asertif.

Dalam kehidupan sehari-hari remaja berperilaku tidak asertif, remaja tidak

menyadari dampak perilaku yang dilakukan dengan membiarkan diri tidak

berperilaku asertif justru akan merusak hubungan interpersonal dengan individu

lain (Daniel, 2008), dengan tidak membiasakan berperilaku asertif membuat

remaja dirugikan oleh orang lain, sehingga perilaku yang muncul dari remaja

adalah perilaku yang tidak sesuai dengan keinginan hati nurani remaja tersebut

(Omeje, 2013).

Fenomena tidak asertif sangat merugikan remaja, hasil penelitian

Novitriani (2013) menunjukkan fakta bahwa kebanyakan remaja mulai merokok

karena dipengaruhi oleh temannya terutama sahabat yang lebih dahulu merokok.

Remaja yang lingkungannya merokok akan lebih mudah ikut-ikutan merokok

terutama bila remaja tersebut rentan terhadap tekanan teman sebaya. Demikian

juga pada penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya (Napza)

dan seks bebas yang membuat remaja tersebut ikut ikutan teman sebaya yang

sudah melakukan seks bebas dan memakai Napza. Hasil penelitian

mengungkapkan bahwa perilaku negatif tersebut berkaitan dengan

ketidakmampuan remaja untuk bersikap asertif.

Jika digambarkan dalam sebuah perilaku di sekolah siswa yang tidak

mampu berperilaku asertif merasa dirugikan oleh temannya sehingga yang

muncul adalah hubungan yang tidak harmonis pada siswa, siswa yang tidak

mampu mengatakan tidak cenderung disepelekan oleh temannya. Banyak siswa

(15)

4

komunitas anak-anak lainya, disadari atau tidak dengan berperilaku tidak asertif

justru merugikan diri sendiri, misalnya ketika anak di ajak membolos dan dia

sebenarnya tidak mau membolos akan tetapi karena ketidakmampuannya untuk

mengatakan tidak akhirnya dia pun membolos, dalam hal ini sebenarnya siswa

tersebut dirugikan karena sudah tidak bejalar, dan pastinya siswa tersebut akan

tertinggal dalam pelajaran dan jika dikaitkan dengan peraturan sekolah siswa akan

mendapat suatu masalah karena telah melanggar peraturan sekolah yaitu

membolos (Nurfaizal, 2012).

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan lima siswa SMP Kartika

Siliwangi 2 Bandung selama Praktik Pengalaman Lapangan (2013), perilaku yang

ditunjukkan siswa di sekolah seperti berpura-pura, memendam perasaan, menahan

perbedaan pendapat atau bersikap agresif dan terdapat beberapa siswa ikut

temannya bolos sekolah karena menghormati teman padahal sangat bertentangan

dengan keinginan siswa tersebut. Hal ini disebabkan karena remaja memiliki rasa

khawatir, takut mengecewakan orang lain, takut tidak diterima oleh lingkungan,

dan takut menyakiti hati orang lain sehingga perilaku siswa di sekolah memilih

berperilaku tidak asertif.

Hasil wawancara dengan guru BK SMP Kartika Siliwangi 2 Bandung

(2013), hasil observasi selama PPL dan hasil daftar kehadiran siswa masih

ditemukan siswa yang melanggar peraturan sekolah seperti membolos di

lingkungan sekolah yang disebabkan ketidakmampuan remaja untuk menolak

ajakan teman dan juga munculnya fenomena tidak asertif dari siswa sepert siswa

yang dirugikan oleh temannya karena ketidakberanian untuk mengungkapkan

keinginan menolak ajakan teman sehingga yang terjadi adalah timbulnya masalah

pada siswa tersebut dilingkungan sekolah, siswa yang ikut merokok

teman-temannya karena alasan menghormati teman padahal bertentangan dengan hati

nurani anak tersebut, siswa merasa sulit untuk menolak ajakan dari temannya

sehingga perilaku kurang asertif muncul pada siswa. Permasalahan ini muncul

karena siswa tidak mau dijauhi temannya jika tidak mengikuti ajakan dari

temannya dan siswa lebih memilih berperilaku tidak asertif terhadap ajakan

(16)

siswa karena siswa merasa tidak mendapatkan kenyamanan di lingkungan

sekolah.

Permasalahan tidak asertif yang dialami oleh remaja mengancam siswa

tidak memiliki ikatan identitas melainkan krisis identitas dan perkembangan

remaja tidak tercapai secara optimal (Erikson, 1963). Dengan adanya

permasalahan tersebut maka sangat dibutuhkan peran bimbingan dan konseling,

bimbingan dan konseling yang bertujuan membantu remaja pada permasalahan di

bidang sosial berkaitan erat dengan permasalahan tidak asertif pada remaja.

Konselor perlu merancang layanan bimbingan pribadi-sosial yang bersifat

responsif.

Konselor dapat membantu siswa meningkatkan perilaku asertif melalui

layanan konseling individu. Berdasarkan wawancara dengan tiga guru BK di

sekolah (2013) guru BK menginginkan inovasi teknik konseling yang singkat

karena selama ini konseling yang dilaksanakan adalah berfokus pada pengkajian

permasalahan siswa. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru BK, peneliti

berpendapat bahwa Solution-Focused Counseling merupakan teknik yang tepat

digunakan untuk meningkatkan perilaku asertif siswa karena teknik SFC lebih

dominan berfokus pada solusi daripada berfokus pada pengkajian masalah (Corey,

2009:426; Gladding, 2012: 284).

Solution-Focused Counseling (SFC) merupakan salah satu teknik

konseling pendekatan postmodern. Tumbuh dari orientasi terapi strategis di

lembaga penelitian jiwa, SFC menggeser fokus dari penyelesaian masalah untuk

fokus pada solusi lengkap. SFC berbeda dengan terapi tradisional dengan

mengulas masa lalu dalam mendukung baik saat ini maupun masa depan (Corey,

2009:426).

Solution-Focused Counseling (SFC), pertama kali dikembangkan oleh

Steve de Shazer dan Insoo Kim Berg di Milwaukee, Wisconsin (Corey,

2009:425). SFC merupakan pendekatan konseling yang menekankan pada

kekuatan-kekuatan konseli dan berfokus pada solusi (O’Connell, 2004). Kelly, dkk (2008) juga menjelaskan bahwa SFC adalah teknik yang tepat untuk setting

(17)

6

yang berjudul “Effects of Solution-Focused Counseling on Student’s Self

-Regulation and Academic Achievement” menunjukkan bahwa Solution-Focused Counseling memiliki dampak positif terhadap prestasi belajar siswa. Hasil

penelitian tersebut didukung oleh pernyataan Franklin (2001) menunjukkan

pengaruh positif Solution-Focused Counseling terhadap masalah perilaku dan

masalah belajar siswa.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perilaku tidak asertif remaja dapat

ditingkatkan melalui Solution-Focused Counseling karena perilaku asertif

berhubungan dengan permasalahan sosial dan pribadi (Kelly, 2008:41).

Solution-Focused Counseling memiliki tujuan menumbuhkembangkan kesadaran,

memfokuskan pada solusi, kekuatan dan kemampuan serta meningkatkan

kemampuan berpikir positif terhadap suatu masalah dan Solution-Focused

Counseling efektif untuk mengatasi perilaku anak dan remaja dalam setting

sekolah (Corey, 2009:437; Franklin, 2008:15).

B. Identifikasi dan Rumusan Masalah

Atas dasar uraian latar belakang penelitian, diperoleh kejelasan

permasalahan sebagai berikut, seorang remaja memiliki kecemasan atau ketakutan

untuk berperilaku asertif, bahkan banyak individu selain anak remaja yang kurang

terampil dalam mengekspresikan diri secara asertif (Eskin, 2003). Hal ini

dipengaruhi oleh latar belakang budaya, keluarga tempat anak remaja tinggal,

urutan anak tersebut dalam keluarga, pola asuh orang tua, jenis kelamin, status

sosial ekonomi orang tua dan sistem kekuasaan orang tua (William, 2008).

Permasalahan siswa SMP Kartika Siliwangi sering menyebabkan mereka

sulit untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang

salah. Sehingga kadang kala siswa mempunyai perilaku yang sulit untuk diatur,

mudah sekali terpengaruh oleh teman sebaya dan lingkungan, sehingga siswa

mudah ikut-ikutan dengan apa yang dilakukan oleh teman dan lingkungannya. Hal

ini sesuai dengan pendapat Hurlock (1980), dan Erikson (Hall & Lindzey, 1993)

bahwa masa remaja merupakan tahap pencarian indentitas dan sebagai ambang

(18)

Dalam kehidupan sehari-hari siswa-siswi SMP Kartika Siliwangi

menampakkan perilaku tidak asertif, remaja tidak menyadari dampak perilaku

yang dilakukan dengan membiarkan diri tidak berperilaku asertif justru akan

merusak hubungan interpersonal dengan individu lain, dengan tidak membiasakan

berperilaku asertif membuat remaja dikuasai dan dirugikan oleh orang lain,

sehingga perilaku yang muncul dari remaja adalah perilaku yang tidak sesuai

dengan keinginannya. Siswa-siswi sangat tidak nyaman dengan perilaku yang

tidak asertif yang ditunjukkan sehingga perilaku tidak asertif yang dialami oleh

siswa tidak tercapai secara optimal. Dengan adanya permasalahan tersebut maka

sangat dibutuhkan peran bimbingan dan konseling, bimbingan dan konseling yang

bertujuan membantu remaja pada permasalahan di bidang sosial berkaitan erat

dengan permasalahan tidak asertif pada remaja.

Dari permasalahan perilaku tidak asertif yang dialami oleh remaja

tersebut, sangat jelas bahwa perilaku asertif sangat diperlukan oleh remaja agar

dapat bertindak sesuai dengan keinginan remaja untuk mempertahankan hak-hak

pribadi tanpa melakukan tindakan agresif yang mengganggu hak-hak pribadi

orang lain. Untuk meningkatkan perilaku asertif siswa SMP Kartika Siliwangi II

diperlukan adanya sebuah metode yang efektif dan sistematis untuk meningkatkan

perilaku asertif diantaranya adalah teknik Focused Counseling.

Solution-Focused Counseling memiliki tujuan menumbuhkembangkan kesadaran,

memfokuskan pada solusi, kekuatan dan kemampuan serta meningkatkan

kemampuan berpikir positif terhadap suatu masalah dan Solution-Focused

Counseling efektif untuk mengatasi perilaku anak dan remaja (Corey, 2009:437;

Franklin, 2008:15). Selain itu, Solution-Focused Counseling digunakan di sekolah

untuk menambah skill bagi guru bimbingan dan konseling untuk melaksanakan

layanan responsif khususnya konseling individual, karena selama ini guru

bimbingan dan konseling memerlukan inovasi teknik-teknik konseling dalam

menangani beragam permasalahan siswa yang ada di sekolah.

Berdasarkan masalah yang telah diidentifikasi, dirumuskan masalah,

Solution-Focused Counseling belum diketahui keefektivitannya terhadap

(19)

8

mendalam terhadap penerapan Solution-Focused Counseling untuk meningkatkan

perilaku asertif siswa.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan Solution-Focused Counseling

yang efektif untuk meningkatkan perilau asertif siswa SMP Kartika Siliwangi II

Bandung.

D. Manfaat penelitian

Hasil penelitian diharapkan dapat memiliki manfaat bagi siswa dan guru

bimbingan dan konseling.

1. Siswa

Manfaat penelitian Penerapan Solution-Focused Counseling untuk

Peningkatan Perilaku Asertif Siswa SMP Kartika Siliwangi II bagi siswa

adalah siswa mendapatkan layanan responsif untuk meningkatkan perilaku

asertif melalui teknik Solution-Focused Counseling.

2. Guru Bimbingan dan Konseling

Guru bimbingan dan koseling di sekolah dapat berkolaborasi dan

berdiskusi dengan peneliti mengenai solution-focused counseling dan

memanfaatkan hasil studi untuk menambah pengetahuan dan keterampilan

terkait teknik Solution-Focused Counseling untuk meningkatkan perilaku

asertif siswa, sehingga diharapkan menambah skill konseling dalam

melaksanakan layanan responsif khususnya konseling individual.

3. Peneliti Selanjutnya

Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat dijadikan sebagai

referensi yang berkaitan dengan perilaku asertif dan solution-focused

(20)

E.Sistematika Penulisan

Penelitian ditulis dalam lima bab, dengan struktur organisasi pada halaman

berikutnya.

1. Bab I Pendahuluan mencakup uraian dari latar belakang; identifikasi dan

rumusan masalah penelitian; tujuan penelitian; manfaat penelitian; dan

sistematika penulisan tesis.

2. Bab II Kajian Pustaka mencakup uraian konsep atau teori utama dan teori-teori

turunannya dalam bidang yang dikaji; hasil penelitian terdahulu dan hasil

temuannya; kerangka pemikiran; serta asumsi dan hipotesis.

3. Bab III Metode Penelitian mencakup pembahasan secara berurutan tentang

pendekatan penelitian; metode penelitian; desain penelitian; lokasi dan subjek

penelitian; definisi operasional tentang variabel-variabel penelitian; instrumen

penelitian; teknik pengumpulan data dan analisisnya.

4. Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan mendiskusikan temuan penelitian

dengan menggunakan dasar teoritik yang telah dibahas dalam Bab II dan berisi

uraian tentang dua hal utama yaitu; hasil pengolahan atau analisis data dalam

bentuk temuan penelitian; dan pembahasan atau analisis temuan penelitian.

5. Bab V Kesimpulan dan Rekomendasi mencakup penafsiran dan pemaknaan

terhadap hasil analisis temuan penelitian yang disajikan dalam bentuk

kesimpulan; dan rekomendasi yang ditujukan kepada konselor; dosen

(21)

37

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mendapatkan data

numerikal berupa persentase perilaku asertif peserta didik kelas VIII SMP Kartika

Siliwangi II Bandung tahun ajaran 2013/2014. Creswell (2012) menjelaskan

pendekatan kuantitatif dipilih sebagai pendekatan penelitian ketika tujuan

penelitian yaitu menguji teori, mengungkapkan fakta-fakta, menunjukkan

hubungan antar variabel dan memberikan deskripsi.

B. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen kuasi dengan desain

single subject yang memungkinkan peneliti menentukan sampel penelitian sesuai

dengan kriteria-kriteria tertentu yang akan diteliti. Single Subject Research

biasanya digunakan dalam penelitian tentang perubahan tingkah laku yang timbul

akibat adanya intervensi yang dilakukan secara berulang-ulang dalam kurun

waktu tertentu. Juang (2006; 11) menjelaskan dalam proses penelitian single

subject ada empat kegiatan utama yang perlu dilakukan, yaitu mengidentifikasi

masalah dan mendefinisikan dalam bentuk perilaku yang akan diubah yang

teramati dan terukur, menentukan tingkat perilaku yang akan diubah sebelum

memberikan intervensi, memberikan intervensi, dan menindaklanjuti untuk

mengevaluasi apakah perubahan perilaku yang terjadi menetap atau bersifat

sementara. Dalam istilah penelitian single subject , perilaku yang akan diubah

disebut perilaku sasaran atau target behavior yang dalam penelitian eksperimen

pada umumnya disebut variabel terikat.

.

C. Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah single subject design yang

menggunakan desain A-B dan melibatkan satu peserta saja, tetapi biasanya juga

(22)

Setiap subjek berfungsi sebagai kontrol bagi dirinya sendiri yang dapat dilihat dari

kinerja subjek sebelum, selama, dan setelah diberi perlakuan (Horner et al., 2005:

168). Desain A-B merupakan desain dasar dari penelitian single subject. Prosedur

desain disusun atas dasar apa yang disebut dengan logika baseline yang

menunjukkan suatu pengulangan perilaku atau target behavior

sekurang-kurangnya dua kondisi yaitu kondisi baseline (A) dan kondisi intervensi (B). Oleh

karena itu, dalam penelitian single subject akan selalu ada pengukuran perilaku

pada fase baseline dan pengulangannya pada sekurang-kurangnya satu fase

intervensi Hasselt dan Hersen (Sunanto, 2005).

Desain yang digunakan adalah sebagai berikut:

A-B

(Sunanto et al., 2006: 42)

Keterangan :

A : Baseline

B : Intervensi

D. Populasi dan Sampel Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SMP Kartika Siliwangi II Bandung yang

beralamat di jalan Pak Gatot Raya No.73 KPAD Gegerkalong Bandung. Hasil

studi pendahuluan terhadap kelas VIII SMP Kartika Siliwangi II Bandung

menunjukkan adanya peserta didik yang berperilaku asertif rendah.

Populasi penelitian adalah peserta didik yang secara administratif terdaftar

dan aktif dalam pembelajaran di kelas VIII SMP Kartika Siliwangi II Bandung.

Sampel penelitian adalah peserta didik yang memiliki skor rendah pada perilaku

asertif.

Teknik pengambilan sampel menggunakan maximal variation sampling

yaitu strategi pemilihan sampel yang memiliki kesamaan dalam aspek tertentu

(23)

39

konteks penelitian, sampel memiliki persamaan dan perbedaan dalam aspek

perilaku asertif yang dominan.

E. Definisi Operasional Variabel Penelitian 1. Perilaku Asertif

Fensterheim (1980: 14) menjelaskan kata kerja assert berarti menyatakan

atau bersikap positif, yakni berterus terang, atau tegas. Perilaku asertif adalah

perilaku seseorang dalam hubungan antar pribadi yang menyangkut ekspresi

emosi yang tepat, jujur, relatif terus terang, dan tanpa perasaan cemas terhadap

orang lain. Fensterheim (1980) menyatakan bahwa seseorang dikatakan asertif

hanya jika dirinya mampu bersikap tulus dan jujur dalam mengekspresikan

perasaan, pikiran dan pandangannya pada pihak lain sehingga tidak merugikan

atau mengancam integritas pihak lain. Asertif bukan hanya berarti seseorang dapat

bebas berbuat sesuatu seperti yang diinginkannya, juga di dalam perilaku asertif

terkandung berbagai pertimbangan positif mengenai baik dan buruknya suatu

sikap dan perilaku yang akan dimunculkan.

Perilaku asertif dalam penelitian merupakan suatu perilaku peserta didik

kelas VIII SMP Kartika Siliwangi II Bandung laki-laki dan perempuan yang tulus

dan jujur dalam mengekspresikan perasaan, pikiran, dan pandangan serta

keterbukaan diri kepada pihak lain, tanpa mengurangi hak dan kepentingan

pribadi maupun orang lain. Aspek perilaku asertif merujuk pada pendapat

Fensterheim dan Baer (1980) meliputi, (a) bebas mengemukakan pikiran dan

pendapat, baik melalui kata-kata maupun tindakan; (b) dapat berkomunikasi

secara langsung, terbuka dan jujur; c) mampu menyatakan perasaan, baik yang

menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan dengan cara yang tepat; (d)

memiliki sikap dan pandangan yang aktif terhadap kehidupan; dan (e) menerima

keterbatasan yang ada di dalam dirinya dengan tetap berusaha untuk mencapai apa

yang diinginkannya sebaik mungkin, sehingga baik berhasil maupun gagal ia akan

(24)

2. Solution-Focused Counseling

Secara operasional, solution-focused counseling yang dimaksud dalam

penelitian adalah suatu teknik bimbingan dan konseling yang diberikan oleh

konselor kepada konseli secara individu dengan adanya kolaborasi antara konselor

dan konseli untuk mencari solusi bersama, menumbuhkan potensi dan sumber

daya yang dimiliki konseli dengan menggunakan lima strategi konseling yaitu

exception questions, miracle questions, scaling questions, coping questions dan

compliments. Tujuannya agar siswa menemukan solusi, menumbuhkan potensi

dan sumber daya yang dimiliki terkait dengan perilaku asertif siswa.

F. Instrumen Penelitian 1. Kalibrasi Instrumen

Instrumen penelitian adalah instrument penelitian tentang indikator

perilaku asertif yang dikembangkan oleh Nuirfaizal pada tahun 2012. Angket

tersebut dikembangkan atas dasar perspektif kajian perilaku asertif dari

Fensterheim dan Baer (1980) dan Alberti & Emmons (2008). Reliabilitas

instrumen sebelumnya adalah 0,885 setelah diuji coba lagi reliabilitasnya

0,869. Instrumen yang dikembangkan oleh Nurfaizal digunakan lagi karena

berkaitan erat dengan aspek yang akan diukur pada perilaku asertif siswa SMP

Kartika Siliwangi.

Instrumen dalam penelitian yaitu angket tertutup (angket berstruktur)

artinya angket yang disajikan dalam bentuk pernyataan yang telah tersedia

alternatif pilihan jawabannya, sehingga responden diminta untuk memilih satu

jawaban yang sesuai dengan karakteristik dirinya dengan cara memberikan

tanda silang (x) atau tanda checklist (√). Jumlah item pernyataan yang harus

dijawab oleh responden yaitu 52 butir item.

2. Kisi-Kisi Instrumen

Kisi-kisi instrumen untuk mengungkap perilaku asertif peserta didik yang

dikembangkan dari definisi operasional variabel penelitian. Kisi-kisi dari

(25)

41

Mampu berkomunikasi kepada teman 11, 12,

13, 3

Menjadi pribadi yang optimis 38, 39,

40 3 dihormati diri sendiri dan orang lain Mengedepankan harga diri 51, 52 2

(26)

3. Hasil Kalibrasi Instrumen

Validitas merupakan tingkat penafsiran kesesuaian hasil yang

dimaksudkan instrumen dengan tujuan yang diinginkan oleh suatu instrumen

(Creswell, 2012:159). Pengujian validitas butir item dilakukan terhadap seluruh

item yang terdapat dalam angket pengungkap perilaku asertif pada peserta didik.

Pengujian validitas butir item bertujuan untuk mengetahui apakah instrumen yang

digunakan mampu mengukur apa yang diinginkan. Validitas butir item yang

dilakukan dalam penelitian yang diuji adalah seluruh item yang terdapat dalam

angket yang mengungkap perilaku asertif siswa.Pengolahan data dalam penelitian

dilakukan dengan bantuan program MS. Excel. Pengujian validitas alat

pengumpul data menggunakan korelasi biserial titik.

Pengujian validitas dilakukan terhadap 52 item pernyataan dengan jumlah

subjek 202 siswa. Dari 52 item diperoleh 47 item yang valid dan 5 item tidak

valid. Hasil uji reliabilitas menunjukan nilai reliabilitas instrumen sebesar 0,72

artinya tingkat korelasi atau derajat keterandalan tinggi, yang menunjukkan bahwa

instrumen yang digunakan sudah baik dan dapat dipercaya sebagai alat

pengumpul data.

4. Pedoman Skoring

Butir pernyataan pada alternatif jawaban peserta didik diberi skor 1 dan 0. Jika peserta didik menjawab pada kolom “Ya” diberi skor 1 dan kolom “Tidak” diberi skor 0. Ketentuan pemberian skor perilaku asertif peserta didik dapat dilihat

pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2

Kategori Pemberian Skor Alternatif Jawaban

Alternatif Jawaban Positif

Ya 1

(27)

43

G. Langkah-Langkah Penelitian

1. Pengambilan Sampel Sebelum Baseline

Populasi penelitian adalah peserta didik yang secara administratif terdaftar

dan aktif dalam pembelajaran di kelas VIII SMP Kartika Siliwangi II Bandung.

Sampel penelitian adalah peserta didik yang memiliki skor rendah pada aspek

perilaku asertif. Teknik pengambilan sampel menggunakan maximal variation

sampling yaitu strategi pemilihan sampel yang memiliki kesamaan dalam aspek

tertentu tetapi memiliki perbedaan pada aspek lainnya (Creswell, 2012: 208).

Dalam konteks penelitian, sampel memiliki persamaan dan perbedaan dalam

aspek perilaku asertif yang dominan. Penyebaran angket perilaku asertif dilakukan

di kelas VIII SMP Kartika Siliwangi II Bandung, selain itu pemberian informed

consent juga diberikan kepada peserta didik agar peserta didik memahami

prosedur penelitian. Hasil penyebaran angket mendapatkan dua belas siswa yang

berperilaku tidak asertif.

2. Pelaksanaan Baseline

Prosedur utama yang ditempuh dalam desain A-B meliputi pengukuran

target behavior (variabel terikat) pada kondisi baseline dan setelah

kecenderungan arah dan level datanya stabil kemudian intervensi mulai diberikan.

Intervensi diberikan ketika secara kontinu kondisi baseline mencapai data yang

stabil (Lovaas, 2003). Pelaksanaan pengukuran dan pencatatan data pada kondisi

baseline secara kontinyu dilaksanakan 3 kali selama 3 minggu untuk siswa yang

berperilaku tidak asertif, partisipan yang dipilih dalam penelitian berdasarkan

hasil kestabilan baseline pada siswa yang berperilaku tidak asertif. Penentuan

baseline dapat dilaksanakan dengan penyebaran angket kepada siswa.

3. Perancangan Intervensi

Pemberian intervensi dengan menggunakan solution-focused counseling

dilakukan terhadap siswa yang memiliki skor Perilaku asertif yang rendah

berdasarkan hasil baseline. Komponen rancangan intervensi solution-focused

(28)

a. Rasional

Seorang remaja memiliki kecemasan atau ketakutan untuk berperilaku

asertif, bahkan banyak individu selain anak remaja yang kurang terampil dalam

mengekspresikan diri secara asertif (Eskin, 2003). Hal ini dipengaruhi oleh latar

belakang budaya, keluarga tempat anak remaja tinggal, urutan anak tersebut

dalam keluarga, pola asuh orang tua, jenis kelamin, status sosial ekonomi orang

tua dan sistem kekuasaan orang tua (William, 2008).

Permasalahan siswa SMP Kartika Siliwangi sebenarnya bersumber pada

pencarian identitas diri yang sering menyebabkan mereka sulit untuk

membedakan antara yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah.

Sehingga kadang kala siswa mempunyai perilaku yang sulit untuk diatur, mudah

sekali terpengaruh oleh teman sebaya dan lingkungan, sehingga siswa mudah

ikut-ikutan dengan apa yang dilakukan oleh teman dan lingkungannya. Hal ini

sesuai dengan pendapat Hurlock (1980), dan Erikson (Hall & Lindzey, 1993)

bahwa masa remaja merupakan tahap pencarian indentitas dan sebagai ambang

masa dewasa.

Dalam kehidupan sehari-hari siswa-siswi SMP Kartika Siliwangi

menampakkan perilaku tidak asertif, remaja tidak menyadari dampak perilaku

yang dilakukan dengan membiarkan diri tidak berperilaku asertif justru akan

merusak hubungan interpersonal dengan individu lain, dengan tidak membiasakan

berperilaku asertif membuat remaja dikuasai dan dirugikan oleh orang lain,

sehingga perilaku yang muncul dari remaja adalah perilaku yang tidak sesuai

dengan keinginannya. Siswa-siswi sangat tidak nyaman dengan perilaku yang

tidak asertif yang ditunjukan sehingga perilaku tidak asertif yang dialami oleh

remaja mengancam siswa tidak memiliki ikatan identitas melainkan krisis

identitas dan perkembangan remaja tidak tercapai secara optimal (Erikson, 1963).

Dengan adanya permasalahan tersebut maka sangat dibutuhkan peran bimbingan

dan konseling, bimbingan dan konseling yang bertujuan membantu remaja pada

permasalahan di bidang sosial berkaitan erat dengan permasalahan tidak asertif

(29)

45

Dari permasalahan perilaku kurang asertif yang dialami oleh remaja

tersebut, sangat jelas bahwa perilaku asertif sangat diperlukan oleh remaja agar

dapat bertindak sesuai dengan keinginan remaja untuk mempertahankan hak-hak

pribadi tanpa melakukan tindakan agresif yang mengganggu hak-hak pribadi

orang lain. Untuk meningkatkan perilaku asertif siswa SMP Kartika Siliwangi II

diperlukan adanya sebuah metode yang efektif dan sistematis untuk meningkatkan

perilaku asertif diantaranya adalah teknik Focused Counseling.

Solution-Focused Counseling memiliki tujuan menumbuhkembangkan kesadaran,

memfokuskan pada solusi, kekuatan dan kemampuan serta meningkatkan

kemampuan berpikir positif terhadap suatu masalah dan Solution-Focused

Counseling efektif untuk mengatasi perilaku anak dan remaja dalam setting

sekolah (Corey, 2009:437; Franklin, 2008:15). Selain itu, Solution-Focused

Counseling digunakan di sekolah untuk menambah skill bagi guru bimbingan dan

konseling untuk melaksanakan layanan responsif khususnya konseling individual,

karena selama ini guru bimbingan dan konseling memerlukan inovasi

teknik-teknik konseling dalam menangani beragam permasalahan siswa yang ada di

sekolah.

b. Tujuan Intervensi

Secara umum tujuan intervensi adalah meningkatkan perilaku asertif

peserta didik kelas VIII SMP Kartika Siliwangi Bandung tahun ajaran 2013/2014.

Secara khusus tujuan intervensi adalah mengembangkan keterampilan peserta

didik untuk;

1. Mampu mengemukakan pikiran dan pendapat, baik melalui kata-kata

maupun tindakan.

2. Mampu berkomunikasi secara langsung, terbuka dan jujur.

3. Mampu menyatakan perasaan, baik yang menyenangkan maupun yang

tidak menyenangkan dengan cara yang tepat.

4. Memiliki sikap dan pandangan yang aktif terhadap kehidupan.

5. Menerima keterbatasan yang ada di dalam dirinya dengan tetap berusaha

(30)

berhasil maupun gagal ia akan tetap memiliki harga diri dan kepercayaan

diri.

c. Asumsi Intervensi

1) Perilaku asertif memberikan kepuasan baik pada diri sendiri maupun orang

lain dan mendukung terbentuknya hubungan interpersonal yang positif

dengan orang lain (Ames, 2008; Rizkani, 2009).

2) Solution-Focused Counseling berpijak pada asumsi optimis bahwa

individu unik, memiliki kekuatan dan sumber daya yang dapat digunakan

untuk membuat perubahan dalam hidupnya (Corey, 2008; Dahlan, 2011).

3) Solution-Focused Counseling memungkinkan konselor dan konseli

berkolaborasi dalam mencari solusi terhadap permasalahan konseli.

(Gladding, 2009).

d. Kompetensi Peneliti

Dalam melaksanakan teknik solution-focused counseling untuk

meningkatkan perilaku asertif harus didukung oleh kompetensi memadai yang

dimiliki oleh peneliti yang sekaligus berperan sebagai pemberi intervensi.

Berbagai sumber menyatakan bahwa solution-focused counseling dapat diberikan

oleh berbagai kalangan dan tidak menuntut lisensi profesional tertentu. Beberapa

kalangan yang terbiasa memberikan intervensi ini diantaranya adalah Guru, Guru

BK, Konselor, Terapis dan Social Worker. Hal ini mengimplikasikan bahwa

peneliti memenuhi syarat untuk melaksanakan solution-focused counseling.

Kompetensi lainnya adalah:

1. Memiliki pemahaman dan pengetahuan yang memadai mengenai konsep

perilaku asertif.

2. Memiliki pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan yang memadai dalam

solution-focused counseling.

3. Memahami karakteristik remaja SMP Kartika Siliwangi yang merupakan

(31)

47

4. Menunjukkan penerimaan tanpa syarat terhadap konseli sebagai manusia yang

tidak lepas dari kesalahan.

e. Sasaran Intervensi

Populasi yang menjadi subjek intervensi/konseli dalam konseling melalui

pendekatan solution-focused counseling untuk meningkatkan perilaku asertif

adalah peserta didik kelas VIII SMP Kartika Siliwangi II Bandung, yang

teridentifikasi memiliki tingkat perilaku tidak asertif.

Sasaran intervensi adalah peserta didik yang memiliki skor rendah pada

aspek perilaku asertif seperti dikemukakan Fensterheim dan Baer (1980) yang

meliputi aspek sebagai berikut 1) bebas mengemukakan pikiran dan pendapat, 2)

Mampu berkomunikasi secara langsung, terbuka dan jujur, 3) Mampu menyatakan

perasaan dengan tepat, 4) Memiliki sikap dan pandangan yang aktif terhadap

kehidupan dan 5) Menerima keterbatasan yang ada di dalam diri. Pemilihan

subjek penelitian berdasarkan jumlah aspek yang memiliki skor rendah paling

banyak diantara peserta didik yang memenuhi kriteria subjek penelitian.

Tabel 3.3

Sasaran Intervensi

Nama Jenis Kelamin Usia Aspek yang Rendah

YDP Laki-laki 14 Tahun Aspek 1, 2, dan 3

IQJ Laki-laki 13Tahun Aspek 1, 2 dan 3

JDA Laki-laki 14 Tahun Aspek 1, 2, dan 3

f. Pelaksanaan Intervensi

Pelaksanaan intervensi solution-focused counseling untuk meningkatkan

perilaku asertif disusun berdasarkan hasil baseline perilaku asertif dan

karakteristik sampel penelitian. Pelaksanan solution-focused counseling meliputi

beberapa tahapan seperti yang dipaparkan oleh Neukrug (2012: 131-133) a)

membentuk hubungan kolaboratif, b) mendeskripsikan masalah, c) menetapkan

tujuan, d) berfokus solusi, e) mencapai tujuan dan termination. Adapun

(32)

a) Membentuk Hubungan Kolaboratif

Konselor membantu konseli mengidentifikasi kekuatan dan sumber daya

konseli, sehingga konselor membangun kepercayaan, kolaborasi dan hubungan

yang setara dengan menunjukkan (rasa hormat, penerimaan, dan rasa ingin

mengetahui), menjadi pendengar yang baik dan bersikap empati.

b) Mendeskripsikan Masalah

Meskipun fokus konseling secara khusus berfokus pada solusi, masalah

adalah hal penting ketika konseli masuk pada sesi konseling yang pertama karena

konseli merasa perlu didengarkan masalahnya, banyak skill yang digunakan untuk

membangun hubungan kolaborasi yang awalnya adalah mendengarkan masalah

konseli. De Jong dan Berg (2002) menyarankan bahwa masalah hanya perlu

didengarkan sekitar 15 menit sebelum konselor mulai menggunakan teknik-teknik

yang akan digunakan pada sesi konseling.

c) Menetapkan Tujuan

Langkah pertama membantu konseli fokus kepada tujuan yang ingin

dicapai adalah merespon pertanyaan tentang apa yang konseli suka mengenai masa depannya. O’Connell (2003) menyarankan tipe-tipe pertanyaan untuk memfasilitasi tujuan yang ingin dicapai konseli, diantaranya: 1) “Apa harapan terbaik yang kamu inginkan pada sesi ini?”, 2) “Bagaimana kamu akan mengetahui perubahan yang lebih baik?”, 3) Bagaimana kamu mengetahui bahwa kedatangan kamu bisa bermanfaat? Bentuk-bentuk pertanyaan tersebut dapat

digunakan pada saat sesi konseling berlangsung.

d) Berfokus Solusi

Tahap ini membantu konseli semakin fokus pada solusi bukan pada

masalah, teknik-teknik yang dapat digunakan adalah exception questions, miracle

questions, coping questions. Konselor mendukung solusi konseli yang terdiri dari

amplification dan complimenting. Amplification yaitu mendukung konseli

meningkatkan kekuatan dan sumber daya agar tercapainya tujuan. Complimenting,

(33)

49

e) Mencapai Tujuan dan Termination

Pada akhir sesi pertama konseling, menggeser fokus konseli dari fokus

masalah menuju fokus solusi. Pada sesi pertama dan sesi berikutnya, konseli

mengimplementasikan dan mencari tujuan yang ingin dicapai. Konselor

membantu konseli mengevaluasi keefektivan solution-focused counseling

menggunakan Scaling Questions, yaitu skala penilaian untuk mengukur kemajuan.

Konselor memperkuat konseli dengan menjadi pendengar yang baik,

menunjukkan empati dan memuji usaha yang dilakukan konseli.

g. Proses Intervensi

Pelaksanaan intervensi dilakukan sesuai dengan rancangan intervensi yang

telah dibuat. Pelaksanaan intervensi dilakukan setelah kondisi baseline sudah

stabil. Pelaksanaan intervensi dilaksanakan selama 4-6 sesi , setiap sesi dilakukan

seminggu sekali dengan waktu antara 60-80 menit persesi. Penentuan jadwal

intervensi berdasarkan kesepakatan antara peneliti dan siswa.

h. Evaluasi dan Indikator Keberhasilan

Evaluasi keberhasilan intervensi solution-focused counseling untuk

meningkatkan perilaku asertif siswa dilakukan pada setiap sesi intervensi dan

setelah seluruh intervensi selesai dilaksanakan. Intervensi ini dikatakan berhasil

apabila siswa:

1. Mampu mengemukakan pikiran dan pendapat, baik melalui kata-kata maupun

tindakan.

2. Dapat berkomunikasi secara langsung, terbuka dan jujur.

3. Mampu menyatakan perasaan, baik yang menyenangkan maupun yang tidak

menyenangkan dengan cara yang tepat.

4. Memiliki sikap dan pandangan yang aktif terhadap kehidupan.

5. Menerima keterbatasan yang ada di dalam dirinya dengan tetap berusaha untuk

mencapai apa yang diinginkannya sebaik mungkin, sehingga baik berhasil

(34)

Siswa yang berhasil mengikuti kegiatan intervensi adalah siswa yang

mampu meningkatkan potensi dan sumber daya yang dimiliki pada setiap dan

setelah sesi intervensi. Sumber utama untuk evaluasi ini adalah analisis terhadap

catatan konseling setiap sesinya yang dicatat oleh konseli. Analisis catatan

konseling dijadikan ukuran untuk mengetahui perubahan konstruk yang menjadi

indikator keberhasilan dari setiap sesi intervensi.

4. Kondisi Intervensi

Setelah intervensi dilaksanakan maka akan mendapatkan hasil kondisi

siswa setelah diberikan intervensi, kondisi intervensi tersebut akan terlihat apakah

siswa mengalami perubahan perilaku atau tidak.

H. Analisis Data

Penelitian ini memiliki pertanyaan mengenai efektivitas penerapan

solution-focused counseling dirumuskan ke dalam hipotesis “solution-focused

counseling efektif dalam meningkatkan perilaku asertif siswa”. Ada dua teknik

analisis data yang digunakan dalam menjawab pertanyaan penelitian ini yakni

a. Analisis Visual

Dalam penelitian ini, analisis datanya dimaksudkan untuk mengetahui efek

atau pengaruh intervensi terhadap perilaku sasaran yang ingin diubah dengan

menggunakan analisis visual yakni analisis dilakukan dengan melakukan

penggalian data secara langsung dan ditampilkan dalam bentuk grafik

(split-middle technique). Menurut Barlow, Nock & Hersen (2008), menjelaskan bahwa

bukti adanya intervensi yang efektif adalah ditunjukkan oleh perbedaan yang

berarti antara nilai rata-rata peserta dikondisi. Untuk itu komponen penting yang

dianalisis dengan cara ini adalah banyaknya data dalam setiap kondisi yang

disebut dengan panjang kondisi (level) dan kecenderungan arah grafik (trend).

b. Analisis Statistik

Untuk melihat keefektifan data perubahan yang terjadi, maka dilakukan

analisis statistik sederhana. Nourbakhsh & Ottenbacher (1994) menjelaskan

(35)

51

statistik yang dapat digunakan untuk melihat efektivitas atau perubahan antara

kondisi baseline dan intervensi. Nourbakhsh & Ottenbacher menjelaskan

langkah-langkah sebagai berikut mencari dua standar deviasi yakni : 1) mencari terlebih

dahulu standar deviasi pada kemudian dikalikan dua dan hasilnya adalah dua

standar deviasi; 2) mencari rata-rata baseline dan membuat garis lurus dengan

menggunakan titik rata-rata baseline; 3) membuat garis dari titik rata-rata setelah

dikurangi dua standar deviasi dibawah garis baseline; 4) intervensi dikatakan

terjadi perubahan secara efektif jika ada dua titik yang berada di atas garis dua

standar deviasi.

Analisis lain yang digunakan adalah dengan melihat penurunan atau

kenaikan pada kecenderungan arah grafik (trend). Untuk itu, seperti yang

dikatakan oleh Tankersley, Harjusala-Webb, dan Landrum (2008) menyarankan

bahwa perubahan tren adalah bukti terbaik untuk mendukung efek pengobatan

dalam desain penelitian subjek tunggal. Untuk tujuan ini, peneliti menganalisis

menaik atau menurun tren dalam data seluruh kondisi dan dihitung "kenaikan atau

penurunan garis lurus" dengan menghitung kuadrat regresi (Horner etal., 2005).

Koefisien nilai determinasi juga dihitung untuk menilai tren diprediksi dengan

menggunakan SPSS 20. Nilai R2 yang ditafsirkan mengikuti pedoman Cohen

(1988). Menurut Cohen, nilai R2 dari 0.01 menunjukkan efek yang kecil, nilai R2

dari 0,09 menunjukkan efek sedang, dan nilai R2 dari 0,25 menunjukkan efek yang

besar. Hal ini mengandung pengertian, semakin nilai koefisien regresi mendekati

1, maka semakin tinggi prediksi akan terjadi.

Untuk menegaskan besarnya efek intervensi dianalisis dengan menghitung

percentage Non-Overlapping Data (PND) antara baseline dan fase intervensi

(Morgan &Morgan, 2009). Karena solution-focused counseling diharapkan dapat

meningkatkan perilaku asertif siswa, PND dihitung dengan menggunakan data

yang paling bawah dari skor baseline dan dibuat garis lurus dari titik tersebut.

Secara khusus, analisis visual dan deskriptif dilakukan untuk memeriksa jumlah

titik pada fase intervensi yang berada dibawah garis titik terbawah pada baseline.

(36)

dijumlahkan dan dikalikan dengan 100. Adapun pedoman interpretasi skor PND

digunakan panduan oleh Morgan & Morgan (2008).

Tabel 3.4

Panduan Interpretasi Skor Percentage Non-Overlapping Data (PND)

Nilai PND Interpretasi

> 90% Sangat Efektif

70 - 90% Efektif

50 - 70% Dipertanyakan

(37)

120

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan

Hasil intervensi yang telah diberikan dapat disimpulkan bahwa

solution-focused counseling efektif untuk meningkatkan perilaku asertif siswa. Efektivitas

ini dilihat dari beberapa hal diantaranya adalah dengan adanya peningkatan skor

perilaku asertif berdasarkan analisis grafik pada fase baseline dan intervensi.

Selain itu, berdasarkan dari hasil uji Percentage Non-Overlapping Data (PND)

menunjukkan solution-focused counselingsangat efektif untuk meningkatkan

perilaku asertif konseli JN dan IQ serta efektif untuk meningkatkanperilaku asertif

konseli YD.

Selain itu, hasil wawancara dengan guru dan teman-teman konseli

menunjukkan bahwa konseli mengalami perubahan dengan adanya perubahan

perilaku asertif. Setelah 45 hari diberikan intervensi, partisipan diberikan angket

kembali untuk mengukur perubahan perilaku asertif, hasilnya konseli JN tetap

konsisten memiliki perilaku asertif, konseli IQ juga konsisten memiliki perilaku

asertif dan konseli YD konsisten memiliki perilaku asertif. Temuan ini

menunjukkan bahwa solution-focused counseling efektif untuk meningkatkan

perilaku asertif siswa JN, IQ dan YD.

B. Rekomendasi

Berdasarkan hasil penelitian, direkomendasikan hal-hal sebagai berikut:

1. Bagi Konselor

Hasil penelitian menunjukkan solution-focused counseling efektif untuk

peningkatan perilaku asertif siswa. Dengan demikian, konselor dapat menerapkan

solution-focused counseling disertai dengan pemahaman teori dan praktek agar

solution-focused counseling tetap bermanfaat kegunaannya di sekolah dan

solution-focused counseling dapat menjadi pilihan pendekatan konseling ketika

konselor menemui berbagai macam kasus atau permasalahan siswa di sekolah.

(38)

exception questions, miracle questions, scaling questions, coping questions dan

compliments.

2. BagiPenelitiSelanjutnya

Peneliti selanjutnya diharapkan dapat menggunakan design penelitian

single subject A-B-A atau A-B-A-B sehingga konsistensi perubahan setelah

diberikan intervensi lebih kuat dibandingkan design A-B. Peneliti selanjutnya

tidak hanya menggunakan pengukuran melalui angket dan wawancara saja, tetapi

perlu dilengkapi dengan menggunakan lembar observasi sehingga data yang

(39)

122

DAFTAR PUSTAKA

Abbassi, A., dan Singh, R. N. (2006). “Assertiveness in Marital Relationships Among Asian Indians in the United States.” Journal of the Family. 14, (4), 392-399.

Alberti, R.E. & Emmons, M.L. (2008). Your Perfect Right: Assertiveness and Equality in Your Life and Relationships (9th ed.). Atascadero, CA: Impact Publishers.

Ames, D. R. (2008). “In Search of the Right Touch: Interpersonal Assertiveness in Organizational Life.” Journal of Psychological Science,17, 381-385.

Ames, D. R., and Wazlawek, A.S. (2014). “Pushing in the Dark: Causes and Consequences of Limited Self-Awareness for Interpersonal

Assertiveness.” Personality and Social Psychology Bulletin, 1-16.

Barlow, D. H, Mathew K. Nock & Michael Hersen. (2008). Single case experimental designs: Strategies for studying behavior change (3rd Edition). New York: Pearson

Bertolino, B. Dan O’Hanlon, W. H. (2002). Collaborative, Competency-Based Counseling and Therapy.Boston: Allyn & Bacon.

Charlesworth, J.R., dan Jackson, C.M. (2004). Solution-Focused Brief Counseling: An Approach for Professional School Counselor. Dalam Erford, B.T. (ed.). Professional School Counseling: A Handbook of Theories, Programs and Practices. Austin, TX: Caps Press.

Cheng, C., dan Chun, W, Y. (2008). “Cultural Differences and Similarities in

Request Rejection: A Situational Approach.” Journal of Cross-Cultural Psychology. 39, (6), 745-764.

Cohen, J. (1988). Statistical power analysis for the behavioral sciences (2nd edition.). New York, NY: Academic Press.

Corcoran, J. (2006). “A comparison group study of solution-focused therapy versus treatment-as-usual for behavior problems in children.” Journal of Social Service Research, 33, 69−81.

Corey, G. (2009). Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. Belmont, California: Brooks/Cole.

(40)

Dahlan, T. H. (2011). Model Konseling Singkat Berfokus Solusi (Solution Focused Brief Counseling) dalam Setting Kelompok untuk Meningkatkan Daya Psikologis Mahasiswa (Penelitian dan Pengembangan Model Konseling Singkat Berfokus Solusi pada Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia Angkatan 2009). Disertasi pada Program Studi Bimbingan dan Konseling Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia: tidak diterbitkan.

Daniel, R.A. (2008). “Assertiveness Expectancies: How Hard People Push Depends on the Consequences They Predict”. Journal of Personality and Social Psychology. 95, (6), 1541–1557.

DeJong, P., & Berg, I. K. (2002). Interviewing for solutions (2nd ed.). Pacific Grove, CA: Brooks/Cole.

Destari, A dan Andrianto, S. (2005). Hubungan Antara Kemandirian dengan Asertivitas pada Remaja yang Tinggal di Panti Asuhan Yatim Piatu. Naskah Publikasi Fakultas Psikologi Universitas Islam Indoneisa Yogyakarta.

Erickson, M. H. (1954). “Special Techniques of Brief Hypnotherapy. Journal of Clinical and Experiment Hypnosis, 109-129.

Erikson, E.H. (1963). Childhood and Society (2nd ed). New York: W. W. Norton.

Eskin, M. (2003). “Self-reported assertiveness in Swedish and Turkish adolescents: A cross-cultural comparison”. Journal of Psychology. 44, 7–12.

Fensterheim dan Baer, J. (1980). Jangan Bilang Ya Jika Anda mengatakan Tidak. Jakarta: Gunung jati.

Fernando, D. (2007). “Existential theory and solution-focused strategies: Integration and application.” Journal of Mental Health Counseling, 29, (3), 226-241.

Franklin, C. (2001). The effectiveness of Solution–Focused Therapy with children in a school setting. Texas and Lake Universities.

Franklin, C., Biever, J. L., Moore, K. C., Clemons, D., & Scamardo, M. (2001).

“Effectiveness of solution-focused therapy with children in a school

setting.” Research on Social Work Practice, 11, 411−434.

(41)

124

Froeschle, J. G., Smith, R. L., & Ricard, R. (2007). “The efficacy of a systematic substance abuse program for adolescent females.” Professional School Counseling, 10, 498−505.

Furqon. (2008). Statistika Terapan Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Gladding, S.L. (2009). Counseling: A Comprehensive Profession. New Jersey: Pearson Education, Inc.

Gladding, S.L. (2012). Counseling: A Comprehensive Profession (Terjemahan). Jakarta: Indeks .

Hall, C.S. & Lindzey, G. 1993. Psikologi Kepribadian 1: Teori-Teori Psikodinamik (Klinis). Yogyakarta: Kanisius. Editor: A. Supratiknya.

Horner, R. H. et al. (2005). “The Use of Single-Subject Research to Identify Evidence-Based Practice in Special Education”. Council for Exceptional Children, 71, (2), 165-179.

Hurlock, E.B. (1980) Depelopment Psychology: A Life Span Approach. Alih Bahasa. (1997). Istiwidayanti dan Soedjarwo. Psikologi Perkembangan Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Helwig, C. C., & Turiel, E. (2002). “Rights, autonomy, and democracy: Children's perspectives.” International Journal of Law and Psychiatry,25, 253-270.

Hopson, L. M., & Kim, J. S. (2005). A solution-focused approach to crisis intervention with adolescents. Journal of Emotional and Behavioral Disorders, 15, 66-92.

Jacobson, K.L., Hood, J.N., and Buren, H.V. (2014). “Workplace bullying across cultures: A research agenda.” International Journal of Cross Cultural Management. 14, (1), 47-65.

Kelly, M.S., Kim, J.S., and Franklin, C. (2008). Solution-Focused Brief Therapy in Schools: A 360-Degree View of Research and Practice. New York: Oxford University Press.

Lange, A.J & Jackubowski, P. (1985). Responsible assertive behavior: Cognitive behavioral procedures training. Illionis: Research Press

Lawson, B. R. (1994). Design in Mind. Oxford, Butterworth Architecture.

Gambar

Tabel 4.13
Tabel 3.1
Tabel 3.3 Sasaran Intervensi
Tabel 3.4 Panduan Interpretasi Skor Percentage Non-Overlapping Data (PND)

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan dukungan sosial orang tua melalui solution focused therapy dalam rangka memulihkan kualitas hidup anak dengan riwayat

Perhitungan skor tingkat asertif adalah dengan menjumlahkan seluruh skor dari tiap-tiap pernyataan sehingga didaptkan skor totol perilaku asertif siswa, untuk

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai perilaku asertif peserta didik kelas X SMA Pangudi Luhur Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 dalam

Tujuan Penelitian ini adalah Untuk meningkatkan perilaku asertif antar sebaya peserta didik kelas VIII MTs Negeri Karanganyar tahun ajaran 2014/20151. melalui teknik diskusi

Untuk Meningkatkan Perilaku Asertif Antar Sebaya Peserta Didik Kelas VIII MTs Negeri Karanganyar Tahun Ajaran 2014/2015” untuk memenuhi sebagian syarat

mampu meningkatkan perilaku asertif siswa melalui isi atau konten yang beragam.. dari perilaku asertif itu sendiri. Teknik sosiodrama dapat dipandang tepat karena.. teknik ini

Abstrack. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui : 1) Gambaran tingkat compulsive internet use siswa di SMA Negeri 3 Pangkep. 2) Efektivitas penerapan solution focused

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan perilaku asertif terhadap perilaku negatif berpacaran siswa kelas X Pemasaran 1 di SMK Negeri 1 Depok Sleman Yogyakarta melalui