• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANAN PROGRAM ADIWIYATA DALAM MEMBINA KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN SISWA DI SMP NEGERI 6 BANDUNG.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERANAN PROGRAM ADIWIYATA DALAM MEMBINA KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN SISWA DI SMP NEGERI 6 BANDUNG."

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Ajeng Ayu Milanti (1103498) Peranan Program Adiwiyata dalam Membina Karakter Peduli Lingkungan Siswa di SMP Negeri 6 Bandung

Berbagai permasalahan lingkungan yang terjadi akhir-akhir ini, sangat berdampak pada permasalahan internasional, untuk menanggulangi permasalahan lingkungan, dapat dimulai dari lingkup terkecil salah satunya sekolah. Sesuai dengan hasil kesepakatan bersama antara Kementerian Lingkungan Hidup dengan Departemen Pendidikan Nasional melalui KEPMEN 07/MENLH/06/2005 dan Nomor: 05/VI/KB/2005 yaitu mengadakan program Adiwiyata. Program Adiwiyata merupakan salah satu cara untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan melalui pembinaan karakter peduli lingkungan terhadap siswa dan seluruh warga sekolah. Grand Theory yang digunakan dari I Gusti Putu Diva Awatara tentang sumber kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, untuk mengetahui peranan program Adiwiyata dalam membina karakter peduli lingkungan siswa, maka dibuat rumusan masalah sebagai berikut: (1) Bagaimana perencanaan program sekolah Adiwiyata di SMP Negeri 6 Bandung? (2) Bagaimana proses pembinaan karakter peduli lingkungan pada siswa di SMP Negeri 6 Bandung? (3) Hambatan apa saja yang selama ini ditemukan dalam melakukan pembinaan karakter peduli lingkungan melalui program Adiwiyata di SMP Negeri 6 Bandung serta bagaimana upaya dalam mengatasi hambatan tersebut?. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan menggunakan metode studi kasus. Penelitian dilakukan di SMP Negeri 6 Bandung, sedangkan yang menjadi subjek penelitian adalah kepala sekolah, wakasek kesiswaan, ketua Adiwiyata, guru PKn, guru PLH, dan siswa SMP Negeri 6 Bandung. Hasil Penelitian yang penulis peroleh yaitu: (1) Perencanaan dilakukan dengan kerjasama tim yang kuat dengan melibatkan seluruh warga sekolah. Perencanaan dilakukan dengan memperhatikan karakteristik, situasi dan kondisi yang terdapat di sekolah. (2) Proses pembinaan yang dilakukan telah memenuhi skala makro dan mikro. Pada skala makro, pembinaan peduli lingkungan telah melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi hasil. Sedangkan dalam skala mikro pembinaan telah dilakukan melalui terintegrasi dengan seluruh mata pelajaran, melalui budaya sekolah saling megingatkan, melalui ekstrakurikuler sispeling dan tim Adiwiyata, dan melalui kegiatan-kegiatan sekolah yang mendukung program Adiwiyata. Adapun kegiatan-kegiatan yang ada di SMP Negeri 6 Bandung yaitu lomba kebersihan kelas, Road Show Event, pemilahan jenis sampah organik dan sampah anorganik, bank sampah, pengolahan limbah sampah, One day without waste, LISAP (Lihat Sampah Pungut), GPS (Gerakan Pungut Sampah), LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa). (3) Hambatan yang muncul berasal dari tiga sumber yaitu siswa, guru dan pedagang sekitar sekolah. Adapun upaya yang dilakukan adalah dengan mengadakan pengarahan yang mendatangkan narasumber dari luar, study banding, sosialisasi kembali dengan para pedagang.

(2)

ABSTRACT

Ajeng Ayu Milanti (1103498) The Role Of Adiwiyata Program In Fostering Environmental Conscious Character Of Students at SMP Negeri 6 Bandung.

Various environmental problems occurring lately, very impact to the international problems for overcome the environmental probles can start from the smallest scope that is school. Appropiate with the agreement between Ministry of Environment and Departement of national education by KEPMEN 07/MENLH/06/2005 and number: 05/VI/KB/2005 that is to held Adiwiyata program. Adiwiyata program is one way to solve environmental problems through character building to care about environmental concerning for students and the entire school community. Grand Theory that used is from I Gusti Diva Awatara about source of environmental damage. Therefore, to know about Adiwiyata role program within character building to care about environmental for students, so made problem formulation such as: (1) How does the planning of Adiwiyata program at SMP Negeri 6 Bandung? (2) How is the process of character building to care about environmental for students at SMP Negeri 6 Bandung? (3) What is the obstacle has been found within doing character building to care about environmental of Adiwiyata program at SMP 6 Bandung and how about the efforts to overcome the obstacles?. This research using qualitative approach and using the case study method. This research was conducted at SMP Negeri 6 Bandung, whereas the subject of research is the principal, vice principal of student, chairman of Adiwiyata, civics teacher, PLH teacher, and students at SMP Negeri 6 Bandung. Result of the research that the others got are: (1) Planning is done with the strong team work and involve the whole school community. Planning is done by giving attention of characteristics, circumstances and conditions be found at the school. (2) Character building process is done had fulfill macro and micro scale. Character building to care about environmental had through planning step, implementation and evaluation results. Meanwhile, in the micro scale character building is done through integration with all of the lesson, cultur of the scholl, sispeling extracurricular and Adiwiyata team, and activities of the school that supporting Adiwiyata program. Now activities at SMP Negeri 6 Bandung that is cleaning class competition, Road Show Event, assessment to various organic trash and anorganic trash, trash bank, trash waste management, One day without waste, LISAP, GPS, LDKS. (3) The obstacle appeared from three source that is students, teachers and traders around the school. The efforts is done was held briefing bring about informant from out of the school, comparing study, resocialization with the trader.

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lingkungan hidup merupakan segala sesuatu yang berada di bumi, yang

terdiri dari komponen biotik maupun abiotik. Lingkungan hidup abiotik terdiri dari tanah, air, udara dan matahari. Adapun yang dimaksud lingkungan hidup

biotik yaitu terdiri dari makhluk hidup seperti tumbuhan, hewan dan manusia.

Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009, tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Bab 1 Pasal 1 dirumuskan bahwa:

Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.

Menurut Otto Soemarwoto dalam (Nursid Sumaatmadja, 2012, hlm. 80) menyatakan bahwa:

Environment adalah istilah Inggris untuk lingkungan. Di Indonesia banyak digunakan istilah lingkungan hidup atau lingkungan. Yang dimaksud dengan lingkungan suatu organisasi hidup ialah segala sesuatu di sekeliling organisme itu yang berpengaruh pada kehidupannya.

Lingkungan hidup erat kaitannya dengan manusia, karena ia memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Lingkungan hidup selain menjadi tempat tinggal bagi manusia, ia juga digunakan sebagai pemuas kebutuhan manusia, misalnya pohon ditebang untuk diolah menjadi barang-barang rumah tangga. Pemanfaatan lingkungan hidup bagi kebutuhan manusia harus diimbangi dengan pengelolaan yang baik, maka akan tercipta keseimbangan dalam kehidupan.

(4)

kualitas udara, air dan tanah yang baik bagi manusia, serta aktivitas manusia yang ramah terhadap lingkungan dan pengelolaannya. Apabila keseimbangan ini dapat berlangsung dengan baik, maka idealnya lingkungan hidup memiliki kualitas tinggi, misalnya tanah subur, udara sejuk, air berlimpah, hutan hijau, dan keanekaragaman spesies tanaman dan hewan akan terhindar dari kepunahan.

Lingkungan hidup berkualitas hanya dapat tercipta apabila manusia

sebagai makhluk hidup yang memiliki kelebihan dari makhluk hidup lainnya dapat menjaga dan mengelolanya dengan baik. Pengelolaan dan penjagaan

tersebut dapat dilakukan apabila manusia memiliki kesadaran akan pentingnya lingkungan hidup sebagai penyeimbang kehidupan. Sebagaimana dikemukakan oleh Mellyana dkk. (2013, hlm. 4-5) bahwa “kesadaran lingkungan adalah perubahan dalam diri seseorang atau kelompok orang yang terwujud dalam pemikiran, sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab dalam pemanfaatan lingkungan”. Kesadaran lingkungan dapat diperoleh salah satunya melalui pendidikan di lingkungan sekolah.

Lingkungan sekolah merupakan segala sesuatu yang berada di sekolah, baik bangunan, tanaman, udara, tanah, air dan lain sebagainya. Unsur-unsur lingkungan sekolah saling mempengaruhi satu sama lain dalam proses pendidikan. Lingkungan dalam dunia pendidikan didefinisikan oleh Ngalim Purwanto (2009, hlm. 63) yang mengungkapkan bahwa

Dalam pendidikan, lingkungan merupakan setiap pengaruh yang terpancar dari orang-orang lain, binatang, alam, kebudayaan, agama, adat istiadat, iklim dan sebagainya, terhadap diri manusia yang sedang berkembang.

Penjelasan tersebut mengungkapkan bahwa lingkungan hidup tidak dapat dipisahkan dari pendidikan, karena keduanya merupakan satu kesatuan utuh salah satunya dapat berupa pendidikan lingkungan hidup. Nurjhani dalam (Lendrawati dkk, 2013, hlm. 24) mengemukakan bahwa

(5)

menata kehidupan dalam kesalarasan dengan alam. (c) Aspek Psikomotorik, pendidikan lingkungan hidup berperan meniru, memanipulasi dalam upaya meningkatkan budaya mencintai lingkungan.

Secara umum, lingkungan hidup merupakan suatu pengaruh dalam proses perkembangan manusia. Proses perkembangan manusia dapat dilakukan di keluarga sebagai elemen utama pembentuk kepribadian seseorang, sekolah dan masyarakat.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memegang peranan penting dalam proses perkembangan manusia dengan cara mengembangkan dan membina potensi, minat serta karakter siswa sehingga dapat menghasilkan sumber daya manusia yang bermakna bagi pembangunan nasional. Pembangunan nasional dan pendidikan yang berkualitas akan muncul dari sekolah yang menyeimbangkan antara pengembangan ilmu pengetahuan dengan pembinaan karakter siswa.

Adapun yang dimaksud dengan karakter dikemukakan oleh Dharma Kusuma dkk (2012, hlm. 11) bahwa ”suatu nilai yang diwujudkan dalam bentuk perilaku anak itulah yang disebut karakter”. Definisi lain secara khusus diungkapkan oleh Zaenul, F (2012, hlm. 20-21) bahwa

Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan, yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat.

(6)

penjelasan tujuan pendidikan nasional salah satunya adalah kepribadian, karena dalam kamus Psikologi, arti karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral.

Karakter yang baik dapat dimiliki dengan pembinaan yang dilakukan sejak usia dini. Pembinaan karakter yang dilakukan di sekolah dapat diberikan kepada siswa melalui berbagai cara baik melalui pengintegrasian dengan setiap mata

pelajaran, maupun aktivitas di luar pembelajaran seperti pembiasaan di lingkungan sekolah.

Karakter yang perlu dimiliki oleh siswa terdiri dari 18 nilai karakter yang dikembangkan di sekolah. Berikut merupakan 18 nilai karakter yang harus dikembangkan disekolah dijelaskan oleh Zaenul, F (2012, hlm. 40) yaitu, religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab. Salah satu dari nilai karakter adalah karakter peduli lingkungan. Karakter peduli lingkungan sangat penting dimiliki oleh siswa. Pada dasarnya sekolah merupakan suatu sistem sosial dimana siswa melakukan interaksi sosial dengan guru, teman sebaya, dan lingkungan hidup. Dengan demikian lingkungan hidup tidak dapat dipisahkan dari aktivitas siswa. Sebagaimana dikemukakan oleh Andriana Marsianti (2014) yang dilansir dalam http://www.rakyatpos.com bahwa

Karakter peduli lingkungan yaitu suatu sikap yang dimiliki seseorang untuk memperbaiki dan mengelola lingkungan secara benar dan bermanfaat sehingga dapat dinikmati secara terus menerus tanpa merusak keadaannya, turut menjaga dan melestarikan sehingga ada manfaat yang berkesinambungan.

Kepedulian lingkungan merupakan sikap yang dimiliki seseorang dalam bertindak terhadap lingkungannya seperti mengelola, menjaga dan melestarikan.

Pembinaan karakter peduli lingkungan dibentuk melalui pengetahuan, sikap dan tindakan.

(7)

membuang sampah tidak pada tempatnya, penggunaan teknologi canggih yang tidak ramah lingkungan, pemakaian kendaraan bermotor yang mengakibatkan polusi, serta penebangan hutan yang dilakukan terus menerus, sehingga mengakibatkan hutan menjadi gundul. Aktivitas-aktivitas tersebut mengakibatkan kondisi lingkungan hidup yang semakin memprihatinkan. Menurut I Gusti Putu Diva Awatara (2011, hlm. 105) menyatakan bahwa “kerusakan lingkungan yang

terjadi saat ini juga bersumber dari kesalahan perilaku manusia terhadap cara pandang dan kesalahan eksplorasi sumber daya alam”.

Hasil dari sebuah penelitian dalam buku “Islamic Green Living” (2011, hlm. vi) mengungkapkan bahwa akibat dari aktivitas transportasi yang ada di kota-kota besar Indonesia pada tahun 90-an saja telah menunjukan angka yang sangat memprihatinkan. Menurut penelitian tersebut, di kota Jakarta misalnya telah menyumbang pencemaran CO sebesar 98,80% yang berasal dari kendaraan bermotor.

Aktivitas manusia yang tidak memiliki karakter kepedulian lingkungan, menimbulkan suatu permasalahan lingkungan hidup secara global yang kompleks, yang kini sedang menjadi perhatian masyarakat dunia yaitu pemanasan global. Hal ini diperkuat dari hasil Konferensi Tingkat Tinggi yang berlangsung pada 1-5 September 2002 di Johannesburg mengenai WSSD (World Summit on Sustainable Development). Dimana hasil dari konferensi tersebut mengungkapkan bahwa

lingkungan global terus mengalami kerusakan (Siahaan, 2007, hlm. 120).

Kerusakan lingkungan hidup global berupa pemanasan global bila tidak dilakukan upaya-upaya penanggulangan akan berakibat buruk baik dalam jangka waktu pendek maupun panjang bagi generasi muda selanjutnya. Sebuah jurnal penelitian oleh Syahri (2010, hlm. 13) menyatakan bahwa:

Dampak pemanasan global dalam jangka pendek; di Indonesia kurang lebih 70% pencemaran udara disebabkan oleh emisi kendaraan bermotor. Perubahan iklim yang terjadi akibat pemanasan global akan meningkatkan berbagai macam penyakit terhadap manusia, juga akan berpengaruh langsung terhadap ketahanan pangan, karena tumbuhan terganggu.

(8)

Beberapa dampak pemansan global dalam jangka panjang antara lain sebagai berikut: tenggelamnya pulau dan kota, secara perlahan air laut naik kedarat setinggi 1 meter. Kenaikan permukaan air laut berpotensi menenggelamkan 50 meter daratan dari garis pantai kepulauan Indonesia.

Dampak dari pemanasan global apabila dibiarkan, akan berakibat buruk bagi kelangsungan hidup generasi selanjutnya. Dengan demikian diperlukan upaya-upaya untuk mengatasi permasalahan lingkungan hidup, baik berupa preventif maupun upaya penanggulangan. Upaya preventif dapat dilakukan

melalui pendidikan di sekolah dengan pembinaan karakter kepedulian siswa terhadap lingkungan.

Upaya pembinaan karakter kepedulian lingkungan siswa selaras dengan program sekolah adiwiyata yang merupakan hasil kesepakatan bersama antara Kementerian Lingkungan Hidup dengan Departemen Pendidikan Nasional melalui KEPMEN 07/MENLH/06/2005 dan Nomor: 05/VI/KB/2005.

Adiwiyata merupakan sebuah penghargaan yang diberikan kepada sekolah yang berbudaya dan berwawasan lingkungan. Dari penyataan tersebut maka dapat dikatakan bahwa sekolah Adiwiyata merupakan sekolah yang peduli terhadap lingkungan yang bersih, sehat dan juga indah. Diwujudkan dengan aktivitas pembinaan siswa untuk dapat memiliki kepedulian dalam memelihara dan melestarikan lingkungannya.

(9)

Dari hasil observasi awal, kegiatan pembinaan di SMP Negeri 6 Bandung tersebut cukup memberikan dampak terhadap karakter kepedulian lingkungan siswa. Melalui berbagai kegiatan peduli lingkungan, siswa merasa semakin terarah untuk memiliki pemahaman, kepedulian dan tanggung jawab yang tinggi terhadap lingkungan di sekitarnya, yang diwujudkan melalui perilaku membuang sampah ditempatnya, menjaga lingkungan hidup disekitarnya, baik di sekolah

maupun di luar sekolah. Oleh karena itu, program Adiwiyata ini dijadikan upaya mengurangi kerusakan lingkungan dengan penyadaran dan pembinaan karakter

peduli lingkungan.

Program Adiwiyata sesuai dengan hasil dari pertemuan para pakar lingkungan di New York pada tahun 1987, yang memunculkan sebuah hipotesis yang belum pernah terfikirkan sebelumnya. Pertemuan ini merupakan evaluasi dari pertemuan sebelumnya yang diselenggarakan di Stockholm pada tahun 1972, menyebutkan bahwa yang memberikan kontribusi besar dalam upaya pelestarian lingkungan adalah moral atau karakter serta agama (Ziaulhaq, 2011, hlm. vi). Hasil jurnal penelitian yang dilakukan oleh Syahri (2010, hlm. 9) juga mengungkapkan bahwa “ masalah lingkungan hidup merupakan masalah moral, persoalan perilaku manusia”.

Selain itu, juga diperkuat pendapat yang dikemukakan oleh Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Kota Bandung, Ahmad Rekotomo (2012) yang dilansir dalam http://www.pikiranrakyat.com mengungkapkan bahwa

Sekolah harus meningkatkan perannya dalam membentuk karakter peduli lingkungan kepada siswa. Pasalnya saat ini permasalahan lingkungan menjadi isu dunia dan tidak dapat diselesaikan hanya dengan upaya teknis semata. Yang terpenting adalah perubahan paradigma dan perilaku secara bertahap dan berkesinambungan dan pembinaan perilaku ini adalah hal strategis yang harus dilakukan sekolah dengan cara yang menyenangkan Berdasarkan uraian tersebut maka yang perlu ditekankan disini dalam

(10)

Karakter kepedulian lingkungan berkaitan erat dengan pendidikan kewarganegaraan, karena hakikatnya sumber karakter bangsa Indonesia adalah Pancasila. Sebagaimana diungkapkan oleh Qomaruzzaman, B (2011, hlm. 88) bahwa “Pancasila sebagai sumber karakter”. Pancasila terdiri dari sila-sila yang menjadi pedoman dalam kehidupan bangsa Indonesia. Dari pedoman Pancasila, apabila dilaksanakan dengan baik, tingkah laku warga negara dalam bertindak

baik terhadap diri sendiri, masyarakat dan lingkungan akan mencerminkan karakter Pancasila.

Menurut Qomaruzzaman, B (2011, hlm. 89-90) menyatakan bahwa

Sebagai makhluk sosial, manusia berkarakter adalah memberikan perbaikan bagi kehidupan bersama dengan mentalitas berkelimpahan. Sebagai warga negara, manusia berkarakter berarti dapat mengutamakan persatuan dan kesatuan serta mengupayakan penyelesaian masalah-masalah kebangsaan dengan cara-cara yang menjamin persatuan dan kesatuan.

Dengan demikian, karakter peduli lingkungan berasal dari ideologi bangsa, Pancasila. Karakter peduli lingkungan berdasarkan nilai Pancasila diimplementasikan dalam partisipasi warga negara, karena warga negara yang baik adalah warga negara yang taat hukum dan turut berpartisipasi dalam upaya menyelesaikan masalah-masalah kebangsaan, salah satunya adalah masalah lingkungan hidup. Pada dasarnya, karakter warga negara yang baik merupakan tujuan utama dalam Pendidikan Kewarganegaraan yaitu “to be good citizen”.

Menurut Wahab dan Sapriya dalam (Nur Ilmi S, 2013, hlm. 2) mengemukakan mengenai warga Negara yang baik sebagai berikut:

(11)

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka penulis merasa tertarik untuk mengadakan penelitian dengan mengangkat judul skripsi “Peranan Program Adiwiyata dalam Membina Karakter Peduli Lingkungan Siswa di SMP Negeri 6 Bandung”.

B. IDENTIFIKASI MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka penulis

dapat mengidentifikasikan masalah, yaitu:

1. Kondisi lingkungan hidup yang semakin memprihatinkan, kerusakan

lingkungan bersumber dari perilaku manusia yang tidak mempedulikan lingkungan

2. Adanya Keputusan Menteri Lingkungan Hidup KEPMEN 07/MENLH/06/2005 dan Nomor: 05/VI/KB/2005 tentang program Adiwiyata, menuntut sekolah untuk dapat menerapkan kepedulian lingkungan hidup di lingkungan sekolah

3. Belum semua sekolah menerapkan program Adiwiyata di lingkungan sekolah 4. Sekolah yang telah mampu menerapkan program Adiwiyata masih perlu

diteliti lebih lanjut bagaimana penerapan pembinaan karakter kepedulian lingkungan siswa

C. RUMUSAN MASALAH

Secara umum penelitian dirumuskan: “Bagaimana Peranan Program

Adiwiyata dalam Membina Karakter Peduli Lingkungan Siswa di SMP Negeri 6 Bandung?. Adapun secara khusus dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana perencanaan program Adiwiyata di SMP Negeri 6 Bandung? 2. Bagaimana proses pembinaan karakter peduli lingkungan pada siswa di SMP

Negeri 6 Bandung?

3. Hambatan apa saja yang selama ini ditemukan dalam melakukan pembinaan karakter peduli lingkungan melalui program Adiwiyata di SMP Negeri 6 Bandung serta bagaimana upaya dalam mengatasi hambatan tersebut?

(12)

Berdasarkan rumusan masalah yang diajukan pada penelitian ini maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran

bagaimana peranan program Adiwiyata dalam membina karakter peduli lingkungan siswa di SMP Negeri 6 Bandung.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengidentifikasi perencanaan program Adiwiyata di SMP Negeri 6 Bandung

b. Untuk mengidentifikasi proses pembinaan karakter peduli lingkungan hidup pada siswa di SMP Negeri 6 Bandung

c. Untuk mengidentifikasi hambatan dan upaya apa saja yang selama ini ditemukan dalam melakukan pembinaan karakter peduli lingkungan melalui program Adiwiyata di SMP Negeri 6 Bandung

E. MANFAAT PENELITIAN

Dari informasi yang ada, diharapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat secara:

1. Teoritis

Informasi yang diperoleh dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dan sarana informasi bagi dunia pendidikan mengenai pentingnya pengembangan pendidikan yang berbasis pada wawasan lingkungan, yang dimulai dari kesadaran tiap individu khususnya para siswa.

2. Praktis

a. Penulis

(13)

pengetahuan mengenai pembinaan karakter siswa sebagai komponen masyarakat yang peduli lingkungan.

b. Sekolah

1) Sekolah dengan program Adiwiyata dapat menjadi sekolah percontohan untuk sekolah yang lain dalam menerapkan sekolah berbasis budaya dan berwawasan lingkungan dan menjadi kesan yang baik bagi masyarakat pada

umumnya.

2) Sekolah dapat menjadi wadah dalam membina karakter siswa sebagai warga

negara Indonesia melalui program Adiwiyata, sehingga siswa memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan hidup disekitarnya.

c. Guru

Guru diharapkan mampu membina karakter siswa melalui program Adiwiyata, dengan menjadikannya alternatif dalam pembelajaran yang ingin menonjolkan keaktifan, rasa tanggung jawab, dan kepedulian siswa yang dapat diintegrasikan dengan materi mata pelajaran.

d. Siswa

Siswa dapat lebih aktif, bertanggung jawab, memperoleh pemahaman lingkungan dan peduli terhadap lingkungan. Kepedulian ini kemudian menjadi suatu kebiasaan baik, baik di lingkungan sekolah itu sendiri maupun di lingkungan masyarakat dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan hidup.

F. SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika penulisan pada bagian awal berisikan judul yaitu, “Peranan Program Adiwiyata dalam Membina Karakter Peduli Lingkungan Siswa di SMP Negeri 6 Bandung”, pernyataan mengenai maksud karya ilmiah yaitu diajukan untuk memenuhi sebagian syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan

(14)

Sistematika penulisan penelitian ini meliputi lima bab, BAB I yaitu pendahuluan. Dalam bab ini diuraikan mengenai latar belakang masalah, Identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

Pada BAB II yaitu kajian pustaka. Pada bab ini diuraikan dokumen- dokumen atau data-data yang berkaitan dengan fokus penelitian serta teori-teori

yang mendukung penelitian penulis.

Pada BAB III membahas mengenai metodologi penelitian. Pada bab ini

penulis menjelaskan pendekatan yang digunakan, metodologi penelitian, teknik pengumpulan data, serta tahapan penelitian yang digunakan dalam penelitian yang penulis teliti. Pada bab ini pula penulis menentukan subjek penelitian yang diperlukan dalam proses pengumpulan data.

Pada bagian BAB IV berisi hasil penelitian dan pembahasan. Dalam bab ini penulis menganalisis hasil data tentang Peranan Program Adiwiyata dalam Membina Karakter Peduli Lingkungan Siswa di SMP Negeri 6 Bandung.

Selanjutnya, pada BAB V yaitu kesimpulan dan saran. Dalam bab ini penulis berusaha mencoba memberikan kesimpulan dan saran sebagai penutup dari hasil penelitian dan permasalahan yang telah diidentifikasi dan dikaji dalam skripsi.

(15)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Subjek Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian merupakan tempat yang dipilih untuk melakukan penelitian dilengkapi dengan alamat lengkap lokasi, pelaku serta kegiatan yang akan diteliti. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Nasution (2003, hlm. 43)

bahwa “lokasi penelitian menunjukan pada pengertian tempat, atau lokasi penelitian yang dicirikan oleh adanya unsur yaitu pelaku, tempat dan kegiatan

yang dapat diobservasi”. Adapun yang menjadi lokasi dalam penelitian ini adalah SMP Negeri 6 Bandung, yang terletak di Jalan Haji Yakub No. 36, Telp. (022) 4203435, Bandung.

Penulis mengambil lokasi ini didasarkan atas pertimbangan: SMP Negeri 6 Bandung merupakan sekolah yang mendapatkan penghargaan Adiwiyata dua kali dalam satu tahun, yaitu penghargaan Adiwiyata tingkat Kota pada bulan Agustus 2014 dan Provinsi pada bulan November 2014. Ditahun yang sama pula SMP Negeri 6 sedang merintis menuju penghargaan Adiwiyata tingkat Nasional. Selain itu, daerah sekitar sekolah yang kurang mendukung, karena sekolah terletak dekat dengan terminal dan pasar, sehingga merupakan suatu prestasi SMP Negeri 6 Bandung mendapatkan penghargaan Adiwiyata. Dengan demikian penulis ingin mengetahui bagaimana pembinaan kepedulian lingkungan yang dilakukan oleh sekolah kepada peserta didik yang ada di SMP Negeri 6 Bandung.

2. Subjek Penelitian

(16)

yang dapat memberikan informasi yang sesuai dengan tujuan penelitian yang akan dilaksanakan.

Dalam penelitian ini teknik sampling yang digunakan adalah teknik purposive sampling. Menurut Sugiyono (2009, hlm. 53-54) mengungkapkan

bahwa

Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini, misalnya orang tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi objek/situasi sosial yang diteliti.

Berdasarkan pengertian tersebut, maka yang dijadikan sebagai subjek penelitian dalam penelitian ini adalah:

a. Kepala sekolah SMP Negeri 6 Bandung sebagai pihak yang dapat memberikan informasi berkenaan dengan penyusunan kebijakan dan perencanaan serta penyedia sarana prasana sekolah di SMP Negeri 6 Bandung

b. Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan sebagai pemberi informasi berkenaan dengan gambaran umum sikap kepedulian lingkungan yang dimiliki oleh peserta didik SMP Negeri 6 bandung

c. Ketua Adiwiyata SMP Negeri 6 Bandung merupakan informan yang sangat baik dalam memberikan gambaran tentang penerapan program Adiwiyata di sekolah SMP Negeri 6 Bandung

d. Guru PKn merupakan informan yang sangat baik dalam memberikan gambaran tentang karakter peduli lingkungan kaitannya dengan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan

e. Guru Pendidikan Lingkungan Hidup sebagai pemberi informasi tentang upaya

menanamkan kepedulian lingkungan peserta didik yang terintegrasi dalam mata pelajaran

f. Peserta didik sebagai objek dalam pembinaan karakter peduli lingkungan melalui program Adiwiyata di SMP Negeri 6 Bandung

(17)

B. Tahap-Tahap Penelitian

Dalam mencapai tujuan penelitian yang diharapkan diperlukan tahapan-tahapan penelitian agar penelitian dapat berjalan dengan baik dan maksimal. Oleh karena itu, penulis menyusun tahapan-tahapan penelitian guna memperoleh hasil yang maksimal. Adapun tahapan-tahapan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Tahap Pra Penelitian

Tahap pra penelitian merupakan langkah awal dalam melakukan sebuah penelitian. Hal yang pertama kali dilakukan adalah menentukan masalah yang akan diteliti, objek atau sasaran penelitian serta lokasi penelitian kemudian dibentuk menjadi sebuah judul penelitian. Adapun yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah masalah kepedulian lingkungan, sasarannya adalah peserta didik di SMP Negeri 6 Bandung yang terletak di Jalan Haji Yakub No. 36, Telp. (022) 4203435, Bandung.

Setelah ditetapkan judul penelitian, tahap selanjutnya yang perlu dilakukan adalah pra penelitian atau penelitian pendahuluan. Tahap ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum tentang permasalahan atau situasi lokasi penelitian apakah sesuai dengan fokus penelitian atau tidak. Pada tahap ini dilakukan penelitian pendahuluan dengan pihak SMP Negeri 6 Bandung dan memperkenalkan identitas, serta menjelaskan maksud dan tujuan penulis datang ke sekolah.

Setelah penulis mendapatkan gambaran umum tentang kondisi masalah kepedulian lingkungan siswa SMP Negeri 6 Bandung, selanjutnya penulis mengajukan rancangan penelitian yang terdiri dari judul penelitian, latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian metode dan

pendekatan penelitian, lokasi dan subjek penelitian serta teknik dalam pengumpulan data dan analisis data.

2. Tahap Perizinan Penelitian

(18)

diketahui oleh peneliti ialah siapa saja yang berkuasa dan berwenang memberikan

izin bagi pelaksanaan penelitian”. Perolehan izin dari pihak-pihak yang terkait ini guna memberikan kelancaran dalam proses penelitian. Adapun tahapan perizinan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Peneliti mengajukan surat permohonan izin penelitian kepada Ketua Departemen Pendidikan Kewarganegaraan Fakultas Pendidikan Ilmu

Pengetahuan Sosial (FPIPS) UPI Bandung

b. Selanjutnya, surat permohonan izin penelitian yang sudah ditandatangani oleh Ketua Departemen PKn, kemudian diserahkan kepada Dekan FPIPS UPI melalui Dekan Pembantu Bidang Akademik dan Kemahasiswaan untuk mendapatkan surat rekomendasi dan ijin penelitian kepada pihak sekolah c. Surat permohonan izin penelitian kemudian diserahkan kepada lokasi

penelitian dalam penelitian ini adalah SMP Negeri 6 Bandung

d. Setelah surat sampai pada pihak sekolah, kemudian penulis melakukan konfirmasi kepada pihak sekolah SMP Negeri 6 Bandung terkait izin sekolah sebagai lokasi penelitian

e. Penulis menyiapkan segala sesuatu yang menjadi langkah awal penelitian dengan membuat format wawancara terlebih dahulu

3. Tahap Pelaksanaan Penelitian

Setelah tahap pra penelitian selesai dan penulis mendapatkan izin dari sekolah untuk penelitian, maka barulah penelitian dapat dilaksanakan. Dalam tahap pelaksanaan penelitian, penulis mencari segala hal yang dapat dijadikan sebagai informasi dari subjek penelitian di lokasi penelitian sebagaimana yang

telah dirancang. Informasi yang diperoleh, selanjutnya dianalisis dan diolah sesuai dengan fokus permasalahan sehingga diperoleh suatu kesimpulan. Adapun

langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Menentukan responden yang akan diwawancarai, dengan cara mendatangi dan

menghubunginya

(19)

d. Sambil memproses data, penulis mengkaji literatur yang berkaitan dengan fokus masalah dalam penelitian ini

e. Setelah data diperoleh, kemudian diolah dan dianalisis sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan

C. Pendekatan dan Metode Penelitian

Dalam mencapai keberhasilan penelitian diperlukan adanya pendekatan dan metode yang menunjang. Pada penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif yaitu penelitian yang menggambarkan suatu fenomena atau situasi sosial dalam ruang lingkup tertentu yang hasil analisisnya berupa pemaparan gambaran dalam bentuk uraian naratif. Hal ini sesuai dengan definisi yang diungkapkan oleh Syaodih (2012, hlm. 60) bahwa “Penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok”.

Secara lebih detail Sugiyono (2009, hlm. 1) mengartikan penelitian kualitatif sebagai

Metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.

Sejalan dengan pendapat di atas Creswell (dalam Patilima, 2010, hlm. 2-3) mendefinisikan bahwa

Penelitian kualitatif sebagai sebuah proses penyelidikan untuk memahami masalah sosial atau masalah manusia berdasarkan pada penciptaan gambar holistik yang dibentuk dengan kata-kata, melaporkan pandangan informan secara terperinci, dan disusun dalam sebuah latar ilmiah

Adapun karakteristik penelitian kualitatif menurut Sugiyono (2009, hlm. 9) bahwa penelitian kualitatif itu:

(20)

2. Penelitian kualitatif lebih bersifat deskriptif. Data yang terkumpul berbentuk kata-kata atau gambar, sehingga tidak menekankan pada angka

3. Penelitian kualitatif lebih menekankan pada proses daripada produk atau outcome

4. Penelitian kualitatif melakukan analisis data secara induktif

5. Penelitian kualitatif lebih menekankan makna (data dibalik yang teramati)

Berdasarkan pengertian yang diungkapkan oleh para ahli di atas mengenai penelitian kualitatif, dapat diambil kesimpulan bahwa penelitian kualitatif merupakan suatu penelitian yang meneliti permasalahan sosial atau fenomena yang terjadi dalam masyarakat dimana untuk mencari informasi peneliti dijadikan sebagai alat utama, setelah data diperoleh kemudian disusun secara terperinci dalam bentuk kata-kata atau uraian naratif.

Sebagaimana penelitian yang akan dilakukan oleh penulis yang merupakan kajian analitis terhadap fenomena sosial yang terjadi dalam kehidupan berkenaan dengan kepedulian lingkungan yang diterapkan oleh peserta didik di lingkungan sekolah melalui program Adiwiyata. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif yang hasil dari penelitian yang telah dianalisis berupa pemaparan gambaran mengenai fenomena yang terjadi selama proses penelitian berlangsung dalam bentuk uraian naratif yang menunjukan bagaimana karakter peduli lingkungan melalui adanya program Adiwiyata di sekolah.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka dalam melakukan penelitian kualitatif penulis harus memiliki kompetensi-kompetensi tertentu agar tujuan penelitian dapat tercapai dengan baik. Adapun beberapa kompetensi yang diperlukan penulis dalam melakukan penelitian kualitatif dikemukakan oleh

Sugiyono (2009, hlm. 26) sebagai berikut:

1. Memiliki wawasan yang luas dan mendalam tentang bidang yang akan diteliti

2. Mampu menciptakan rapport kepada setiap orang yang ada pada konteks sosial yang akan diteliti. Menciptakan rapport berarti mampu membangun hubungan yang akrap dengan setiap orang yang ada pada konteks sosial

(21)

4. Mampu menggali sumber data dengan observasi partisipan, dan wawancara mendalam secara triangulasi serta sumber-sumber lain 5. Mampu menganalisis data kualitatif secara induktif berkesinambungan

mulai dari analisis deskriptif, domain, komponensial, dan tema kultural/budaya

6. Mampu menguji kredibilitas, dependabilitas, konfirmabilitas dan trasferabilitas hasil penelitian

7. Mampu mengahasilkan temuan pengetahuan, hipotesis atau ilmu baru 8. Mampu membuat laporan secara sistematis, jelas, lengkap dan rinci

Berdasarkan pemaparan di atas, maka penulis dapat dikatakan sebagai instrumen kunci dalam penelitian kualitatif. Hal ini didasarkan pada beberapa kompetensi yang perlu dimiliki oleh peneliti dalam melakukan penelitian kualitatif. Dengan demikian proses penelitian bergantung pada peneliti itu sendiri dalam mengumpulkan informasi yang menjadi fokus permasalahan, proses pengumpulan informasi ini akan dianggap berakhir ketika dalam mengumpulkan informasi telah ditemukan sesuatu dan datanya sudah jenuh artinya sudah tidak ada lagi informasi baru.

Untuk dapat mencapai tujuan penelitian yang diharapkan maka diperlukan suatu metode yang digunakan untuk memecahkan masalah yang akan diteliti. Metode merupakan cara yang digunakan dalam penelitian untuk mencapai suatu tujuan penelitian yang diharapkan. Menurut Syaodih (2012, hlm. 52) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “metode penelitian adalah rangkaian cara atau kegiatan pelaksanaan penelitian yang didasari oleh asumsi-asumsi dasar, pandangan-pandangan filosofis dan ideologis, pertanyaan dan isu-isu yang dihadapi”.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus.

Adapun pengertian metode studi kasus dikemukakan oleh Danial dan Warsiah (2009, hlm. 63) bahwa “metode penelitian studi kasus merupakan metode yang

(22)

Studi kasus memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan mendetail. Subjek yang diselidiki terdiri dari satu unit (kesatuan unit) yang dipandang sebagai kasus. Karena studi kasus sifatnya mendalam dan mendetail, maka studi kasus pada umumnya menghasilkan gambaran yang longitudinal, yaitu hasil pengumpulan dan analisis dalam suatu jangka waktu.

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendapatkan gambaran yang mendetail tentang fokus permasalahan yaitu kepedulian peserta didik terhadap lingkungan melalui program Adiwiyata secara intensif, terperinci dan mendalam yang diterapkan di SMP Negeri 6 Bandung. Dengan menggunakan studi kasus ini penulis berharap dapat mengidentifikasi, menggambarkan dan mengkaji peranan program Adiwiyata dalam membina karakter peduli lingkungan siswa di SMP Negeri 6 Bandung secara rinci dan menyeluruh.

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling penting dalam penelitian, karena pada langkah ini bertujuan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian. Dalam penelitian kualitatif alat yang digunakan sebagai pengumpul data adalah peneliti itu sendiri. Sesuai dengan pernyataan Sugiyono (2009, hlm. 2) bahwa “dalam penelitian kualitatif, peneliti menjadi instrument. Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif instrumennya adalah orang atau human instrument”. Selain mengandalkan pada kemampuan dari peneliti itu sendiri perlu juga menggunakan pedoman wawancara dan observasi. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Sugiyono (2009, hlm. 63) mengatakan bahwa

Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada natural setting (kondisi yang alamiah), sumber data primer, dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperan serta (participant observation), wawancara mendalam (in depth interview) dan dokumentasi.

(23)

1. Wawancara

Wawancara menurut Esterberg dalam (Sugiyono, 2009, hlm. 72) sebagai

berikut “a meeting of two persons to exchange information and idea through question and responses, resulting in communication and joint construction of

meaning about a particular topic”. Wawancara adalah merupakan pertemuan dua

orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat

dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu.

Sejalan dengan pendapat di atas Moleong (2002, hlm. 135) mendefinisikan bahwa

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.

Definisi dari wawancara juga diungkapkan oleh Herdiansyah (2013, hlm. 31) yang menyatakan bahwa

Wawancara adalah sebuah proses interaksi komunikasi yang dilakukan oleh setidaknya dua orang, atas dasar ketersediaan dan dalam setting alamiah, dimana arah pembicaraan mengacu kepada tujuan yang telah ditetapkan dengan mengedepankan trust sebagai landasan utama dalam proses memahami.

Berdasarkan penjelasan di atas, penelitian ini menggunakan wawancara

dalam proses pengumpulan data dengan menjadikan responden sebagai sumber lengkap yang diharapkan dapat menjawab semua pertanyaan dengan jelas secara lisan, agar penulis dapat mengetahui secara mendalam tentang hal-hal yang akan diteliti serta mendapatkan informasi jelas mengenai karakter peduli lingkungan siswa melalui program Adiwiyata. Pada penelitian ini wawancara ditujukan kepada kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, ketua Adiwiyata, guru PLH, guru PKn dan perwakilan siswa-siswi SMP Negeri 6 Bandung.

2. Observasi

(24)

dari yang diteliti. Definisi observasi menurut Syaodih (2012, hlm. 220)

merupakan ”suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung”. Menurut Danial dan Warsiah (2009, hlm. 77) bahwa

Observasi merupakan alat yang digunakan untuk mengamati, dengan melihat, mendengarkan, merasakan, mencium, mengikuti, segala hal yang terjadi dengan cara mencatat/merekam segala sesuatunya tentang orang atau kondisi suatu penomena tertentu.

Selain itu, Herdiansyah (2013, hlm. 131) menyatakan bahwa

Observasi didefinisikan sebagai suatu proses melihat, mengamati, dan

mencermati serta ”merekam” perilaku secara sistematis untuk suatu tujuan

tertentu. Observasi ialah suatu kegiatan mencari data yang dapat digunakan untuk memberikan suatu kesimpulan atau diagnosis.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka melalui observasi dalam penelitian

ini penulis melakukan pengamatan langsung terhadap kegiatan-kegiatan siswa yang berkenaan dengan lingkungan dan kondisi sekolah dengan segala fasilitas sekolah yang ada dalam mendukung terwujudnya karakter peduli lingkungan. Selain itu, penulis akan melihat program Adiwiyata yang dirancang sekolah dalam mewujudkan karakter peduli lingkungan siswa.

3. Studi Literatur

Menurut Danial dan Warsiah (2009, hlm. 30) bahwa “studi kepustakaan (literature) adalah penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan mengumpulkan sejumlah buku-buku, majalah, liflet yang berkenaan dengan masalah dan tujuan

penelitian”.

(25)

4. Studi Dokumentasi

Menurut Danial dan Warsiah (2009, hlm. 30) mendefinisikan studi dokumentasi sebagai

Studi dokumentasi adalah mengumpulkan sejumlah dokumen yang diperlukan sebagai bahan data informasi sesuai dengan masalah penelitian, seperti peta, data statistik, jumlah dan nama pegawai, data siswa, data penduduk, grafik, gambar, surat-surat, foto, akte dsb.

Sejalan dengan pengertian di atas, Sugiyono (2009, hlm. 82)

mendefinisikan dokumentasi sebagai ”catatan peristiwa yang sudah berlalu.

Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari

seseorang”. Dari beberapa pengertian dokumentasi, dapat disimpulkan bahwa

studi dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan catatan-catatan selama melakukan penelitian berupa buku yang relevan, peraturan, laporan kegiatan, foto dan lain-lain yang dihimpun dipilih yang sesuai dengan tujuan dan fokus masalah. Studi dokumentasi digunakan untuk melengkapi data dari teknik wawancara dan observasi.

5. Triangulasi

Dalam teknik pengumpulan data menurut Sugiyono (2009, hlm. 83)

”triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat

menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang

telah ada”. Lebih lanjut Sugiyono (2009, hlm. 83) membagi triangulasi menjadi dua jenis yaitu

Triangulasi teknik, berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Peneliti menggunakan observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk sumber data yang sama secara serempak. Triangulasi sumber berarti, untuk mendapatkan data dari sumber yang berbeda-beda dengan teknik yang sama.

(26)

Sumber Data Sama Observasi

Partisipatif

Wawancara Mendalam

Dokumentasi dan Literatur

Guru PKn dan Guru PLH

Siswa/Siswi Kepala Sekolah,

Wakasek Kesiswaan dan Ketua Adiwiyata

Bagan 3.1

Triangulasi Teknik Pengumpulan Data (bermacam-macam cara pada sumber yang sama)

Sumber: Sugiyono (2009, hlm. 84)

Bagan 3.2

Triangulasi dengan tiga sumber Sumber: Bagan diolah penulis tahun 2014

E. Tahap Pengolahan dan Analisis Data

Pada tahap ini merupakan langkah penting dalam penelitian, karena dapat

memberikan makna terhadap data atau informasi yang didapat dari proses penelitian yang dilakukan oleh penulis. Adapun pengertian dari analasis data

dijelaskan oleh Moleong (2002, hlm. 103) bahwa “analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja

(27)

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.

Dalam penelitian kualitatif tahap analisis data dilakukan dari sebelum memasuki lapangan, selama penelitian itu berlangsung sampai penelitian selesai dilakukan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Nasution dalam (Sugiyono, 2009, hlm. 89) bahwa

Analisis telah mulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan, dan berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian. Analisis data menjadi pegangan bagi penelitian selanjutnya sampai jika mungkin, teori yang grounded”.

Berdasarkan pernyataan di atas, analisis data dalam penelitian kualitatif sebelum penulis memasuki lapangan yaitu dengan melakukan studi pendahuluan atau pra penelitian untuk menentukan fokus permasalahan. Kemudian pada saat penelitian berlangsung dilapangan analisis data dilakukan secara interaktif yaitu pada saat pengumpulan data berlangsung. Hal ini sejalan dengan Miles dan Huberman dalam (Sugiyono, 2009, hlm. 91) mengemukakan bahwa

Aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa komponen yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification. Berikut merupakan penjelasan dari tiga

komponen dalam analisis data, yaitu

1. Reduksi Data

(28)

karena data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak untuk itu maka proses reduksi ini dilakukan. Dengan demikian data yang telah direduksi dapat memudahkan penulis untuk mengetahui gambaran dengan lebih jelas dan untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya bila masih diperlukan.

Dalam penelitian ini data yang akan direduksi adalah mengenai karakter peduli lingkungan siswa melalui program Adiwiyata, sehingga memberikan

gambaran jelas kepada penulis mengenai hal-hal pokok apa saja yang sesuai dengan karakter peduli lingkungan, serta memudahkan penulis untuk dapat menentukan pengumpulan data selanjutnya apabila masih diperlukan untuk melengkapi.

2. Display Data

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplay data. Menurut Sugiyono (2009, hlm. 95) menyatakan bahwa “dengan mendisplaykan data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan

kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut”. Dari pendapat di atas maka untuk memudahkan penulis dalam memahami data, display data dapat disajikan berupa uraian naratif, tabel, grafik dan sejenisnya.

Adapun data yang disajikan dalam penelitian ini berupa gambaran uraian naratif mengenai peranan program Adiwiyata dalam membina karakter peduli lingkungan siswa di SMP Negeri 6 Bandung.

3. Conclusion Drawing/Verification (Kesimpulan dan Verifikasi)

Langkah terakhir dalam analisis data kualitatif adalah penarikan

kesimpulan dan verifikasi. Menurut Sugiyono (2009, hlm. 99) bahwa

Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan kasual atau interaktif, hipotesis atau teori.

(29)

mudah dipahami sehingga mudah dalam menyimpulkan bagaimana gambaran peran program Adiwiyata dalam membina karakter peduli lingkungan siswa di SMP Negeri 6 Bandung.

Demikian tahapan pengolahan dan analisis data yang dilakukan penulis dalam penelitian ini. Melalui tahapan-tahapan penelitian yang telah dijelaskan sebelumnya, diharapkan penelitian yang dilakukan dapat memperoleh data-data

(30)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan pembahasan hasil penelitian yang telah dipaparkan pada bab IV, maka pada bab V ini penulis akan merumuskan beberapa kesimpulan dari

pembahasan hasil penelitian. Selanjutnya, pada bagian akhir penulis mengajukan beberapa saran atau rekomendasi kepada pihak-pihak yang terkait.

A. Kesimpulan

1. Kesimpulan Umum

Program Adiwiyata memiliki peranan yang sangat penting dalam membina karakter peduli lingkungan siswa di SMP Negeri 6 Bandung, karena dalam melakukan pembinaan karakter peduli lingkungan program Adiwiyata menggunakan seluruh elemen yang ada di sekolah seperti kebijakan, kurikulum, kegiatan dan sarana prasarana. Selain itu, program Adiwiyata juga melibatkan seluruh warga sekolah, siswa, guru, staf karyawan, kepala sekolah hingga para pedagang di sekitar sekolah.

2. Kesimpulan Khusus

Disamping kesimpulan umum di atas, kesimpulan khusus dari hasil penelitian ini, yaitu sebagai berikut:

a. proses perencanaan dilakukan dengan musyawarah bersama dengan mengikutsertakan seluruh warga sekolah. Pertama, perencanaan kebijakan berwawasan lingkungan dapat dilihat dari perencanaan pembuatan visi dan misi SMP Negeri 6 Bandung. Kedua, kurikulum berbasis lingkungan juga direncanakan agar pembinaan karakter peduli lingkungan dapat dilakukan juga

(31)

pendukung ramah lingkungan dilakukan dengan melihat sarana apa saja yang dibutuhkan oleh sekolah sesuai dengan bidikan Adiwiyata.

b. Penerapan pembinaan karakter yang dilakukan oleh SMP Negeri 6 Bandung telah memenuhi pembentukan karakter baik skala makro maupun skala mikro. Pada skala makro pembinaan karakter peduli lingkungan SMP Negeri 6 Bandung telah dilakukan melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan dan

evaluasi hasil. Sedangkan secara mikro pembinaan karakter peduli lingkungan di SMP Negeri 6 Bandung dapat dikategorikan menjadi empat yaitu

pembinaan yang dilakukan di kelas, pembinaan melalui budaya sekolah, pembinaan melalui kegiatan ekstrakurikuler, pembinaan melalui kegiatan kesehatan di sekolah, khusus di SMP Negeri 6 Bandung terdapat satu lagi bentuk pembinaan yang dilakukan yaitu melalui sarana prasarana sekolah. c. Hambatan-hambatan yang ditemukan dalam melakukan pembinaan karakter

peduli lingkungan di SMP Negeri 6 Bandung berasal dari tiga sumber yaitu siswa, guru dan pedagang di sekitar sekolah. Hambatan yang berasal dari siswa yaitu masih belum optimalnya kepedulian siswa terhadap lingkungan. Hambatan yang kedua yaitu berasal dari guru berupa perbedaan pemahaman sesama guru dalam memaknai Adiwiyata. Hambatan selanjutnya yaitu berasal dari pedagang sekitar sekolah yang menolak adanya kegiatan one day without waste atau satu hari tanpa sampah. Adapun upaya yang dilakukan oleh SMP

Negeri 6 Bandung dalam mengatasi hambatan yang berasal dari siswa yaitu sekolah akan berusaha terus salah satunya dengan mendatangkan berbagai narasumber dari luar dan mengadakan study banding ke tempat lain termasuk ke sekolah-sekolah yang sudah jauh lebih baik karakter peduli lingkungannya. Selain itu, guru tidak boleh bosan menghimbau, mengingatkan, mengajak dan mencontohkan karakter peduli lingkungan melalui tindakan dalam kehidupan

(32)

hingga tersampaikannya visi misi Adiwiyata di Kota Bandung ini khususnya SMP Negeri 6 Bandung. Sedangkan upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan yang berasal dari pedagang sekitar sekolah adalah dengan melakukan sosialisasi kembali dengan para pedagang serta mengikutsertakannya dalam pembinaan karakter peduli lingkungan.

B. Saran

Dengan mempertimbangkan hasil penelitian, maka beberapa saran yang

dapat penulis berikan adalah sebagai berikut:

1. Bagi Sekolah

a. Sekolah hendaknya mengikutsertakan orang tua dalam upaya membina karakter peduli lingkungan siswa, sehingga apa yang diterapkan di sekolah dapat diaplikasikan kembali di rumah.

b. Sekolah hendaknya mengevaluasi secara rutin dan intensif terhadap setiap pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan

2. Bagi Guru

a. Guru hendaknya menyamakan pemahaman terlebih dahulu mengenai pelaksanaan dan tujuan Adiwiyata

b. Guru hendaknya lebih memberikan contoh karakter peduli lingkungan secara langsung berupa tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari

3. Bagi Siswa

a. Siswa lebih mempunyai sikap kepedulian terhadap lingkungan dengan tanpa harus ada yang mengawasi artinya karakter peduli lingkungan sudah harus tertanam dalam diri setiap siswa

(33)

4. Bagi Departemen PKn Universitas Pendidikan Indonesia

Departemen PKn hendaknya dapat terus mengembangkan tujuan dari Pendidikan Kewarganegaraan yaitu sebagai mata pelajaran yang mengembangkan pendidikan karakter. Sebagaimana Permendiknas No. 22 Tahun 2006 bagian Pendahuluan Standar Isi Pendidikan Kewarganegaraan paragraph terakhir menyatakan bahwa

“…Selain itu, perlu ditanamkan kesadaran bela negara, penghargaan terhadap hak azasi manusia, kemajemukan bangsa, pelestarian lingkungan hidup, tanggung jawab sosial, ketaatan pada hukum, ketaatan membayar pajak, serta sikap dan perilaku anti korupsi, kolusi dan nepotisme.”

5. Bagi Peneliti Selanjutnya

a. Bagi peneliti selanjutnya hendaknya bisa meneliti bagaimana karakter peduli lingkungan siswa di sekolah yang belum mendapatkan penghargaan

Adiwiyata

(34)

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku :

Budimansyah, D. (2010). Penguatan Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Membangun Karakter Bangsa. Bandung: Widya Aksara Press.

Danial, E dan Nanan W. (2009). Metoda Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: Laboratorium PKn Universitas Pendidikan Indonesia.

Daryono, M. (2008). Pengantar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Herdiansyah, H. (2013). Wawancara, Observasi, dan Focus Groups Sebagai Instrumen Penggalian Data Kualitatif. Jakarta: Rajawali Pers.

Majid, A & Dian A. (2011). Pendidikan Karakter Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Moleong, L. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Nasution. (2003). Metode Research. Jakarta: Bumi Aksara.

Keraf, S. (2006). Etika Lingkungan. Jakarta: Kompas

Kusuma Darma dkk.(2011). Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktek di Sekolah. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.

Lickona, T. (2012). Educating For Character, Mendidik Untuk Membentuk Karakter. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Patilima, H. (2011). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Purwanto, N. (2009). Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

(35)

Safei, AA & Nanih M. (2001). Pengembangan Masyarakat Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Samani, M & Hariyanto. (2012). Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung: Pt Remaja Rosdakarya.

Siahaan, NHT. (2007). Hutan, Lingkungan dan Paradigma Pembangunan. Jakarta: Pancuran Alam.

Soemarwoto, O. (1991). Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta: Djambatan.

Subana & Sudrajat. (2009). Dasar-Dasar Penelitian Ilmiah. Bandung: CV Pustaka Setia.

Sugiyono. (2009). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Sumaatmadja, N. (2012). Manusia Dalam Konteks Sosial, Budaya dan Lingkungan Hidup. Bandung: Alfabeta.

Syaodih, S.N. (2012). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Winarno. (2013). Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Isi, Strategi dan Penilaian. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Zaenul, F.A. (2012). Pendidikan Karakter Berbasis Nilai & Etika Di Sekolah. Jakarta: Ar-Ruzz Media.

Ziaulhaq, M. (2011). Islamic Green Living. Bandung: PT Grafindo Media Pratama.

, (2013). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Sumber Jurnal:

(36)

Lingkungan Terhadap Kinerja Karyawan Berwawasan Lingkungan. Jurnal EKOSAINS, 3 (2), hlm. 105-120.

Keraf, A. Sonny. (2000). Manusia dan Lingkungan Hidup: Mencari Model Etika Lingkungan. Jurnal Respons Etika Sosial, 5(2), hlm. 75-89.

Meliyana dkk. (2013). Gerakan Lingkungan Hidup Dalam Menumbuhkan Kesadaran Lingkungan Masyarakat Belitung. Jurnal PPKN UNJ Online, 1(2), hlm. 1-12.

Mulyana, R. (2009). Penanaman Etika Lingkungan Melalui Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan. Jurnal Tabularasa PPS UNIMED, 6 (2), hlm. 175-180.

Syahri, M. (2010). Pendidikan Kewarganegaraan Dan Lingkungan Hidup. Jurnal Civicus. Pembangunan Karakter Dalam Konteks Otonomi Daerah,14 (1), hlm. 8-18.

Peraturan Perundang-undangan:

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 05 Tahun 2013

UU RI No 32 Tahun 2009

UU RI No 20 Tahun 2003

Sumber Lain:

Andriani, S. (2014). Peranan Organisasi Pecinta Alam Dalam Meningkatkan Kesadaran Lingkungan Hidup (Studi Kasus Terhadap Organisasi Pecinta Alam UPI Bandung). Skripsi Sarjana pada FPIPS UPI Bandung: tidak diterbitkan.

(37)

Rahmawati, S. (2014). Meningkatkan Karakter Peduli Lingkungan Melalui Sekolah Berbudaya Lingkungan Hidup (Studi Deskriptif di SMP N 7 Bandung). Skripsi Sarjana pada FPIPS UPI Bandung: tidak diterbitkan.

Setianingsih, N. I. (2013). Pembinaan Karakter Melalui Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Meningkatkan Kedisiplinan Siswa Di Sekolah. Skripsi Sarjana pada FPIPS UPI Bandung: tidak diterbitkan.

Kementerian Lingkungan Hidup. (2012). Panduan Pelaksanaan Adiwiyata

http://www.rakyatpos.com

Referensi

Dokumen terkait

IMPLEMENTASI PROGRAM MOVING CLASS SEBAGAI WAHANA PENGEMBANGAN CIVIC SKILL PADA MATA PELAJARAN PPKn (Studi Kasus Pada Siswa SMP Negeri 34 Bandung).. Universitas