PERANCANGAN DAN INOVASI PEMBUATAN LOKER
DENGAN METODE PAHL & BEITZ SECARA ERGONOMI
SKRIPSI
OLEH :
HARLY ARFIMIANTO
0932010032
J URUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
J AWA TIMUR
SKRIPSI
PERANCANGAN DAN INOVASI PEMBUATAN LOKER DENGAN
METODE PAHL & BEITZ SECARA ERGONOMI
OLEH :
HARLY ARFIMIANTO
NPM : 0932010032
Telah Dipertahankan dan Diterima Oleh Tim Penguji Skripsi J urusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri UPN “Veteran” J awa Timur Pada tanggal 25 April 2013
Dosen Penguji Dosen Pembimbing
1. 1.
Dr. Ir. Minto Waluyo, MM Ir. Handoyo, MT
NIP. 1961130 199003 1 001 NIP. 19550708 198903 1 001
2. 2.
Ir. Sumiati, MT Enny Ariyani, ST, MT
NIP . 19601213 199103 2 001 NPY. 3 7009 95 0041 1
Mengetahui
Kepala J ur usan Teknik Industri
Univer sitas Pembangunan Nasional ” Veteran ” J awa Timur
SKRIPSI
PERANCANGAN DAN INOVASI PEMBUATAN LOKER DENGAN
METODE PAHL & BEITZ SECARA ERGONOMI
Disusun Oleh :
HARLY ARFIMIANTO
NPM. 0932010032
Telah dipertahankan dihadapan dan diter ima oleh Tim Penguji Skr ipsi J ur usan Teknik Industri Fakultas Teknologi Industr i
Universitas Pembangunan Nasional “Veter an” J awa Timur Pada Tanggal : 25 April 2013
Tim Penguji : Dosen Pembimbing :
1. 1.
Dr. Ir. Minto Waluyo, MM Ir. Handoyo, MT
NIP. 19630125 198803 2 001 NIP. 19550708 198903 1 001
2. 2.
Ir. Sumiati, MT Enny Ariyani, ST, MT
NIP . 19601213 199103 2 001 NPY. 3 7009 95 0041 1
3.
Ir. Handoyo, MT
NIP. 19550708 198903 1 001
Mengetahui,
Dekan Fakultas Teknologi Indsutri
Univer sitas Pembangunan Nasional “Veteran” J awa Timur
KATA PENGANTAR
Puji Tuhan, segala puji syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulisan Tugas Akhir ini
dengan judul “Perancangan dan Inovasi Pembuatan Loker Dengan Metode Pahl
& Beitz Secara Ergonomi” bisa terselesaikan.
Skripsi ini disusun guna mengikuti syarat kurikulum tingkat sarjana ( S1 )
bagi setiap mahasiswa jurusan Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri
UPN “Veteran” Jawa Timur. Kami menyadari bahwa Tugas Akhir ini masih
kurang sempurna, penulis menerima adanya saran dan kritik untuk
membenahinya.
Dalam penyusunan Tugas Akhir ini, penulis mendapatkan banyak sekali
bimbingan dan juga bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini
penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu dan ayah saya tersayang terima kasih sebesar-besarnya atas doa dan
dukungannya, tanpa kalian saya tidak akan bisa menyelesaian tugas akhir
ini.
2. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Sudarto, MP. selaku Rektor Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
3. Bapak Ir. Sutiyono, MT. selaku Dekan Fakultas Teknologi Industri
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
4. Bapak Dr. Ir. Minto Waluyo, MM selaku Ketua Jurusan Teknik Industri,
Fakultas Teknologi Industri Universitas Pembangunan Nasional
5. Bapak Drs. Pailan selaku Sekertaris Jurusan Teknik Industri, Fakultas
Teknologi Industri Universitas Pembangunan Nasional
“Veteran” Jawa Timur.
6. Bapak Ir. Handoyo, MT selaku dosen pembimbing I dan Ibu Enny
Ariyani, ST, MT selaku dosen pembimbing II yang telah membimbing
saya.
7. Bapak dan Ibu penguji yang membantu dalam pembenahan laporan
skripsi saya ini serta bantuan-bantuan lainnya.
8. Semua dosen yang pernah mengajar dan membimbing saya dan juga staff
UPN yang membantu saya dalam proses pencapaian Tugas Akhir ini.
9. Ibu dan ayah saya tersayang terima kasih sebesar-besarnya atas doa dan
dukungannya, tanpa kalian saya tidak akan bisa menyelesaian tugas akhir
ini.
10.Bapak Ir. Rus Indiyanto, MT selaku Kepala Laboratorium dan juga
teman-teman dari Laboratorium Proses Manufaktur yang memberi
semangat dalam pembuatan Tugas Akhir ini.
11.Teman – teman angaktan 2009 saya tercinta yang sudah membantu saya
baik melalui waktu maupun pendapat saya ucapkan terima kasih
sebanyak-banyaknya.
12.Untuk orang yang pernah ada namun jauh disana dan selalu memberi
semangat walaupun hanya ucapan, Terima kasih.
13.Semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan Tugas Akhir ini
Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun yang
dapat membantu penulis dimasa yang akan datang. Semoga laporan ini dapat
bermanfaat sekaligus dapat menambah wawasan serta berguna bagi semua pihak
yang membutuhkan.
Surabaya, 10 Mei 2013
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR TABEL ... vii
ABSTRAKSI ... ix
BAB I PENDAHULUAN. ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 2
1.3 Batasan Masalah ... 2
1.4 Asumsi - asumsi ... 2
1.5 Tujuan Penelitian ... 3
1.6 Manfaat Penelitian ... 3
1.7 Sistematika Penulisan ... 4
BAB II TINJ AUAN PUSTAKA ... 6
2.1 Definisi Perancangan, Pengembangan dan Inovasi Produk ... 6
2.1.1 Perancangan Produk ... 6
2.1.2 Pengertia Inovasi ... 9
2.1.2 Pengembangan Produk... 9
2.2 Ergonomi ... 10
2.2.1 Sejarah dan Perkembangan Ergonomi ... 10
2.2.2 Definisi Ergonomi ... 13
2.3.1 Definisi Anthropometri ... 15
2.3.2 Data Anthropometri dan cara pengukurannya... 16
2.3.3 Aplikasi Distribusi Normal dan Persentil Dalam Penetapan Data Anthropometri ... 25
2.4 Loker... 28
2.5 Pengujian Data ... 29
2.5.1 Persamaan Bernoulli ... 29
2.5.2 Uji Keseragaman Data ... 29
2.5.3 Uji Kecukupan Data ... 31
2.6 Pengujian Data ... 32
BAB III METODE PENELITIAN ... 35
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 35
3.2 Identifikasi Variabel ... 35
3.3 Langkah-langkah Pemecahan Masalah ... 35
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 42
4.1 Pengumpulan Data ... 42
4.1.1 Data Anthropometri Pengguna ... 42
4.1.2 Desain Loker ... 44
4.1.3 Pembuatan Loker dan Inovasinya... 45
4.2 Pengolahan Data ... 46
4.2.1 Loker Lama ... 46
4.2.2 Loker ... 46
4.2.2.1 Uji Keseragaman Data ... 46
4.2.2.3 Menentukan Persentil ... 51
4.2.2.4 Perancangan Loker Informasi Menurut Metode Pahl & Beitz... 53
4.2.2.5 Uji Coba Pemakaian Loker Informasi Usulan ... 55
4.2.2.6 Desain Loker Usulan ... 56
4.3 Hasil dan Pembahasan ... 60
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 63
5.1 Kesimpulan ... 63
5.2 Saran ... 63
DAFTAR PUSTAKA
ABSTRAKSI
Kenyamanan dalam sebuah aktifitas adalah sebuah kebutuhan mutlak yang sangat dicari dan dioptimalkan oleh setiap creator maupun innovator di bidang human comfortable. Berbagai macam bentuk model perlindungan maupun peralatan yang menunjang sebuah nilai keamanan pada diri manusia, seperti halnya pakaian yang melindungi manusia dari kondisi alam di sekitar tubuh yang dibalutnya, dan sudah tentu hal ini membutuhkan campur tangan seorang desaigner sebagai pencipta sekaligus pemberi nilai lebih dibidang estetika dan daya persuasive.
Loker merupakan tempat penyimpanan yang digunakan oleh banyak kalangan. loker pada umumnya digunakan sebagai tempat penyimpanan tas atau data–data yang diperlukan. Dalam kehidupan sehari–hari kita sering menmukan banyak sekali loker yang kurang ergonomis atau bentuknya terlalu monoton dimana loker hanya bisa digunakan untuk menyimpan tas dan barang-barang yang kecil, disamping itu juga kalau membuka loker terasa ruang yang ada di dalam loker terlalu sempit dan gelap jadi kurang nyaman.
Dari permasalahan di atas dimana loker yang digunakan di masyarakat penggunanya masih sangat kurang ergonomis dan terlalu sederhana. sehingga dilakukan penelitian yang bertujuan untuk merancang loker yang sudah ada saat ini menjadi lebih ergonomis sesuai dengan kebutuhan konsumen sehingga memberi kenyamanan pada penggunanya dan memberikan kelebihan terhadap loker yang sudah ada dengan menambah fungsi penerangan bagi penggunanya dan menambah luas kapasitas dari loker tersebut.
Metode Pahl & Beitz dapat membantu proses perancangan loker yang ergonomis, sehingga di dapat hasil perhitungan penentuan ukuran adalah panjang loker informasi adalah 66 cm, lebar loker informasi adalah 183 cm, lebar masing-masing box loker informasi adalah 46cm, tinggi loker informasi adalah 183 cm. rancangan loker informasi usulan saat ini mempunyai beberapa kelebihan disbandingkan dengan loker awal, selain luas tempat penyimpanan yang lebih besar, loker informasi ini mempunyai kotak besar yang di tutupi oleh kaca sehingga barang-barang yang tersimpan disana dapat terjaga baik dan rapi. Selain itu loker informasi ini menggunakan kayu yang sagat ringan yaitu kayu multiplex yang juga dapat bertahan lebih lama dan tahan karat. Hal tersebut juga di perkuat oleh hasil kuisioner indikator Antropometri loker informasi bahwa, sangat sesuai sebanyak 76 jawaban, sesuai sebanyak 178 jawaban, cukup sebanyak 44 jawaban, tidak sesuai sebanyak 2 jawaban, sangat tidak sesuai sebanyak 0 jawaban dan kuisioner indikator Ergonomi loker informasi bahwa sangat layak sebanyak 187 jawaban, layak sebanyak 204 jawaban, cukup sebanyak 19 jawaban, tidak layak sebanyak 10 jawaban, sangat tidak layak sebanyak 0 jawaban.
ABSTRAKSI
Comfort in an activity is an absolute necessity are very sought after and optimized by each creator and innovator in the field of human comfortable. Various kinds of models and tools that support the protection of a security value on human beings, as well as clothing that protects humans from the natural environment around the body dibalutnya, and of course this requires the intervention of a desaigner as the creator and giver of more value in the field of aesthetic and persuasive power.
Storage lockers are used by many people. lockers are generally used as a storage bag or data required. In everyday life we often menmukan lot of lockers or less ergonomic shape too monotonous where lockers can only be used to store bags and small goods, and also it feels that open locker room there in the locker too narrow and dark be less comfortable
Pahl & Beitz method can help the process of designing an ergonomic locker, so it can result in the determination of the calculation is a measure of the length lockers information is 66 cm, width is 183 cm lockers information, the width of each box lockers information is 46cm, height is 183 cm lockers information . locker design information current proposal has several advantages disbandingkan with lockers earlier, in addition to extensive bigger storage, lockers information has a big box on the cover by the glass so that the items stored there can be well maintained and tidy. Additionally locker this information using light Sagat wood is wood multiplex can also last longer and corrosion resistance. It is also strengthened by the results of questionnaires locker Anthropometry indicators that information, it is appropriate answers as many as 76, according to as many as 178 answers, just answer as many as 44, does not match the answer by 2, so is not suitable as an indicator 0 answer questionnaires Ergonomics and locker information that is very worth as much as 187 answers, worth as much as 204 answers, just answer as many as 19, not worth as much as 10 answer, it is not worth as much as 0 answers
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Kenyamanan dalam sebuah aktifitas adalah sebuah kebutuhan mutlak yang
sangat dicari dan dioptimalkan oleh setiap creator maupun innovator di bidang
human comfortable. Berbagai macam bentuk model perlindungan maupun
peralatan yang menunjang sebuah nilai keamanan pada diri manusia, seperti
halnya pakaian yang melindungi manusia dari kondisi alam di sekitar tubuh yang
dibalutnya, dan sudah tentu hal ini membutuhkan campur tangan seorang
desaigner sebagai pencipta sekaligus pemberi nilai lebih dibidang estetika dan
daya persuasive.
Loker merupakan tempat penyimpanan yang digunakan oleh banyak
kalangan. loker pada umumnya digunakan sebagai tempat penyimpanan tas atau
data–data yang diperlukan. Dalam kehidupan sehari–hari kita sering menmukan
banyak sekali loker yang kurang ergonomis atau bentuknya terlalu monoton
dimana loker hanya bisa digunakan untuk menyimpan tas dan barang-barang yang
kecil, disamping itu juga kalau membuka loker terasa ruang yang ada di dalam
loker terlalu sempit kurang nyaman.
Dari permasalahan di atas dimana loker yang digunakan di masyarakat
penggunanya masih sangat kurang ergonomis dan terlalu sederhana. sehingga
dilakukan penelitian yang bertujuan untuk merancang loker yang sudah ada saat
ini menjadi lebih ergonomis sesuai dengan kebutuhan konsumen sehingga
loker yang sudah ada dengan menambah fungsi penerangan bagi penggunanya
dan menambah luas kapasitas dari loker tersebut.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan yang
dihadapi, yaitu :
“ Bagaimana merancang loker yang ergonomis sehingga mampu
memberikan manfaat dalam penggunaanya khususnya bermanfaat bagi Jurusan
Teknik Industri UPN “Veteran” Jawa Timur ?”
1.3 Batasan Masalah
Untuk menghindari terlalu luasnya permasalahan maka dilakukan
pembatasan masalah sebagai berikut:
1. Data antrophometri untuk desain loker adalah 52 mahasiswa yang dapat
mewakili dari ukuran tubuh dari pengguna loker.
2. Persentil yang digunakan adalah persentil 5.
3. Penelitian dilakukan pada lingkungan Teknik Industri UPN “Veteran” JATIM.
4. Tidak dilakukannya perhitungan biaya.
5. Tingkat keyakinan sebesar 95% dan tingkat ketelitian sebesar 5%.
6. Desain loker bermanfaat bagi Dosen, Mahasiswa, Pekerja dll serta bisa secara
pribadi atau kelembagaan.
1.4 Asumsi-asumsi
Asumsi-asumsi yang diperlukan dalam melaksanakan penelitian yaitu:
Desain disesuaikan dengan permasalahan yang ada dan kebutuhan pengguna.
1. Kondisi pengguna diukur dalam keadaan normal.
2. Desain disesuaikan dengan permasalahan yang ada dan kebutuhan pengguna.
3. Tidak terdapat kelalaian dalam melakukan pengukuran data anthropometri.
4. Jumlah pengguna yang diukur dapat mewakili semua pengguna loker.
5. Loker yang dirancang dan dibuat ini bisa digunakan secara umum,
diantaranya adalah Dosen, Mahasiswa, Pekerja dll serta bisa secara pribadi
atau kelembagaan.
1.5 Tujuan Penelitian
Melakukan perancangan dan pembuatan loker informasi yang Ergonomis
sehingga mampu memberikan manfaat dalam penggunaannya khususnya
bermanfaat bagi jurusan teknik industri UPN “Veteran” JATIM.
1.6 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diperoleh dengan melakukan penelitian ini adalah :
a. Bagi Peneliti
Sebagai latihan untuk menerapkan teori yang diberikan dibangku kuliah dalam
permasalahan nyata.
b. Bagi Pengguna (penguna loker)
1. Hasil penulisan ini diharapkan dapat menjadi pegangan bagi penggunanya
tentang faktor-faktor apa saja yang dapat digunakan untuk
2. Mengetahui pengaruh-pengaruh apa saja yang dihasilkan dari kombinasi
beberapa faktor dominan tersebut.
3. Dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang faktor-faktor
konsumen dalam pengembangan produk dengan pendekatan ergonomi.
c. Bagi Ilmu Pengetahuan
Dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam memecahkan masalah sejenis
dengan penulisan ini, khususnya tentang faktor-faktor yang dominan terhadap
perancangan dan pengembangan produk sehingga masih dapat dikembangkan
dalam penelitian-penelitian selanjutnya.
1.7 Sistematika Penelitian
Pada dasarnya sistematika penyusunan adalah suatu hal yang sangat
diperlukan dalam pembuatan karya tulis karena sistematika penyusunan memuat
seluruh isi karya tulis secara berurutan sehingga dapat terlihat dengan jelas
mengenai masalah-masalah yang dibahas. Dalam hal ini makalah skripsi yang
dibuat oleh penyusun adalah membahas mengenai hal-hal sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Menjelaskan secara umum mengenai latar belakang, tujuan ruang
lingkup sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisikan teori-teori mengenai obyek produk yaitu, teori
mengenai desain perancangan produk loker dan pendekatan disain
BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini berisikan lokasi penelitian ,metode pengumpulan data dan
langkah pemecahan masalah.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Menjelaskan pengumpulan data dan perancangan loker yang
ergonomis.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Berisi tentang kesimpulan terhadap permasalahan yang telah dibahas
serta memberikan saran yang bermanfaat.
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
TINJ AUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Perancangan, Pengembangan dan Inovasi Produk.
2.1.1 Perancangan Pr oduk.
Kesejahteraan dan kualitas hidup manusia yang telah mencapai tingkat
yang tinggi saat ini, sebagian besar adalah akibat diciptakan, dibuat dan
dimanfaatkannya berbagai produk dan jasa yang tak terhitung macam dan
jumlahnya oleh para insinyur dan ahli-ahli teknik lainnya. Kontribusi para ahli
teknik dalam meningkatkan kesejahteraan manusia tersebut adalah dalam kegiatan
mencipta, merancang dan membuat produk dan jasa yang berguna bagi manusia
karena meringankan beban hidupnya dan membuat hidup lebih nyaman. Produk
dan jasa tersebut juga harus memenuhi beberapa persyaratan modern seperti tidak
merusak lingkungan, hemat energi dan lain sebagainya.
Perancangan Merupakan kegiatan awal dari usah merealisasikan suatu
produk yang kebutuhannya sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Setelah
perancangan selesai maka kegiatan yang menyusul adalah pembuatan produk.
Kedua kegiatan tersebut dilakukan dua orang atau dua kelompok orang dengan
keahlian masing-masing, yaitu perancangan dilakukan oleh tim perancang dan
pembuatan produk oleh tim kelompok pembuatan produk.
Pahl dan Beitz mengusulkan cara merancng produk sebagaimana yang
dijelaskan dalam bukunya; Engineering Desaign : A Systematic Approach. Cara
merancang Pahl dan Beitz tersebut terdiri dari 4 kegiatan atau fase, yang masing
1. Perancangan dan penjelasan tugas
Tugas fase ini adalah menyusun spesifikasi produk yang mempunyai fungsi
khusus dan karakteristi terrentu yang memenuhi kebutuhan msyarakat.
Produk ini dengan fungsi khusus dan karakteristik tertentu tersebut
merupakan olahan hasil survei bagian pemasaran atau atas permintaan
segmen pasar.
2. Perancangan Konsep Produk
Berdasarkan spesifikasi prosuk hasil fase pertama, dicarilah beberapa konsep
prosuk yang dapt memenuhi persyaratan-persyaratan dalam spesifikasi
tersebut. Konsep produk biasanya berupa gambar skets atau gambar skema
sederhana.
3. Perancangan bentuk produk (embodiment desaign)
Pada fase perancangan bentuk ini, konsep produk “diberi bentuk”, yaitu
komponen – komponen konsep produk yang dalam gambar skema atau
gambar skets masih berupa garis atau batang saja, kini harus diberi bentuk
sedemikian ruapa sehingga komponen – komponen tersebut secara bersama
menyusun bentuk produk, sehingga produk dapat melakukan fungsinya.
4. Perancangan Detail
Pada fase detail, maka susunan komponen produk, bentuk, dimensi,
kehalusan permukaan, material dari setiap komponen produk ditetapkan.
Demikian juga kemungkinan cara pembuatan setiap produk diselesaikan dan
perkiraan biaya sudah dihitung. Hasil fase ini adalah gambar rancangan
(Sumber : Pahl & Beitz ;
web&cd=2&cad=rja%ved=0CC0QFjAB&url=http%3A%2F%2Fdp2m.umm.ac.i
d%2Ffile%2FARSIP%250DOKUMEN%2520RISTEK%2FMetodeDesainPAHL-
BEITZ.doc&ei=AIzJUNjDN8XUrQfcioHoAQ&usg=AFQjCNFXGqIV-xW6ss6mQcokeD4s6aQ7BVM=BV.1355272958,D.bmk Di akses tanggal 6
desember 2012)
Dalam bentuk yang paling sederhana, hasil rancangan dapat berupa sebuah
sketsa atau gambar sederhana dari produk yang akan dibuat. Dalam hal si pembuat
produk adalah si perancang sendiri, maka sketsa atau gambar yang dibuat cukup
sederhana saja asalkan dapat dimengertinya sendiri.
2.1.2 Pengertian Inovasi.
Inovasi adalah adalah suatu penemuan baru yang berbeda dari yang sudah
ada atau yang sudah dikenal sebelumnya.
Menurut para ahli Inovasi adalah :
a. Everett M. Rogers (1983), Mendefisisikan bahwa inovasi adalah suatu
ide, gagasan, praktek atau objek/benda yang disadari dan diterima
sebagai suatu hal yang baru oleh seseorang atau kelompok untuk
diadopsi.
b. Stephen Robbins (1994), Mendefinisikan, inovasi sebagai suatu gagasan
baru yang diterapkan untuk memprakarsai atau memperbaiki suatu
produk atau proses dan jasa
2.1.3 Pengembangan Produk.
Pengembangan produk merupakan usaha meningkatkan mutu dari barang
atau jasa dan penemuan barang atau jasa baru yang akan menambah kepuasan
segala bentuk barang dan jasa yang dihasilkan selalu berkaitan dengan kepuasan
konsumen. Agar proses pengembangan produk dapat berjalan secara tepat dan
akurat yang sesuai dengan keinginan konsumen dalam menunjang kelancaran
usaha pada perusahaan maka diperlukan suatu biaya yang maksimal, sehingga ada
pemisahan yang jelas antara biaya pengembangan produk dengan biaya volume
penjualan.
Tujuan perusahaan dalam mengembangkan produk adalah agar dapat
memenangkan persaingan terhadap barang sejenis, sehingga volume penjualan
dan laba perusahaan dapat meningkat serta perusahaan dapat mempertahankan
kelangsungan hidupnya dan dapat memperluas usahanya. Pengembangan produk
dapat pula dilakukan dengan cara memperbaiki produk yang sudah ada
(modifikasi produk), perbaikan produk yang sudah ada dilakukan dengan cara:
perbaikan mutu/kualitas, perbaikan segi/feature baru, dan perbaikan corak/motif.
Disamping menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan
konsumen, perusahaan juga menciptakan suatu strategi pengembangan pr0duk
2.2 Ergonomi
2.2.1 Sejar ah dan Perkembangan Ergonomi
Istilah "ergonomi" mulai dicetuskan pada tahun 1949, akan tetapi aktivitas
yang berkenaan dengannya telah bermunculan puluhan tahun sebelumnya.
Beberapa kejadian penting diilustrasikan sebagai berikut:
1. C.T. Thackrah, England., 1831.
Thackrah adalah seorang dokter dari Inggris/England yang meneruskan
yang berhubungan dengan lingkungan kerja yang tidak nyaman yang dirasakan
oleh para operator ditempat kerjanya. la mengamati postur tubuh pada saat
bekerja sebagai bagian dari masalah kesehatan. Pada saat itu Thackrah
mengamati seorang penjahit yang bekerja dengan posisi dan dimensi kursi,
meja yang kurang sesuai secara anthropometri, serta pencahayaan yang tidak
ergonomis sehingga mengakibatkan membungkuknya badan dan iritasi indera
penglihatan. Disamping itu juga mengamati para pekerja yang berada pada
lingkungan kerja dengan temperatur tinggi, kurangnya ventilasi, jam kerja yang
panjang, dan gerakan kerja yang berulang-ulang (repetitive work).
2. F. W. Taylor, U.S.A., 1898.
Frederick W. Taylor adalah seorang insinyur Amerika yang menerapkan
metoda ilmiah untuk menentukan cara yang terbaik dalam melakukan suatu
pekerjaan. Beberapa metodanya merupakan konsep ergonomi dan manajemen
modern.
3. F .B. Gilberth, U.S.A., 1911.
Gilbreth juga mengamati dan mengoptimasi metoda kerja, dalam hal ini lebih
mendetail dalam Analisa Gerakan dibandingkan dengan Taylor. Dalam
bukunya Motion Study yang diterbitkan pada tahun 1911 ia menunjukkan
bagaimana postur membungkuk dapat diatasi dengan mendesain suatu sistem
meja yang dapat diatur naik-turun (adjustable).
4. Badan Penelitian untuk Kelelahan Industri (Industrial Fatigue Research Board),
England, 1918.
Badan ini didirikan sebagai penyelesaian masalah yang terjadi di pabrik
setiap harinya meningkat dengan jam kerja per hari-nya yang menurun.
Disamping itu mereka juga mengamati waktu siklus optimum untuk sistem
kerja berulang (repetitive work systems) dan menyarankan adanya variasi dan
rotasi pekerjaan.
5. E. Mayo dan teman-temannya, U.S.A., 1933.
Elton Mayo seorang warga negara Australia, memulai beberapa studi di suatu
Perusahaan Listrik yaitu Western Electric Company, Hawthorne,Chicago.
Tujuan studinya adalah untuk mengkuantifikasi pengaruh dari variabel fisik
seperti misalnya pencahayaan dan lamanya waktu istirahat terhadap faktor
efisiensi dari para operator kerja pada unit perakitan.
6. Perang Dunia Kedua, England dan U.S.A.
Masalah operasional yang terjadi pada peralatan militer yang berkembang
secara cepat (seperti misalnya pesawat terbang) harus melibatkan sejumlah
kelompok interdisiplin ilmu secara bersama-sama sehingga mempercepat
perkembangan ergonomi pesawat terbang. Masalah yang ada pada saat itu
adalah penempatan dan identifikasi untuk pengendali pesawat terbang,
efektifitas alat peraga (display), handel pembuka, ketidaknyamanan karena
terlalu panas atau terlalu dingin, desain pakaian untuk suasana kerja yang
terlalu panas atau terlalu dingin dan pengaruhnya pada kinerja operator.
7. Pembentukan Kelompok Ergonomi.
Pembentukan Masyarakat Peneliti Ergonomi (the Ergonomics Research
Society) di England pada tahun 1949 melibatkan beberapa profesional yang
telah banyak berkecimpung dalam bidang ini. Hal ini menghasilkan jurnal
Perkumpulan Ergonomi Internasional (The International Ergonomics
Association) terbentuk pada tahun 1957, dan The Human Faktors Society di
Amerika pada tahun yang sama. Di samping itu patut diketahui pula bahwa
Konperensi Ergonomi Australia yang pertama diselenggarakan pada tahun
1964, dan hal ini mencetuskan terbentuknya Masyarakat Ergonomi Australia
dan New Zealand (The Ergonomics Society of Australia and New Zealand).
2.2.2 Definisi Ergonomi
Ergonomi atau ergonomics (bahasa inggrisnya) sebenarnya berasal dari
kata Yunani yaitu Ergo yang berarti kerja dan Nomos yang berarti hukum. Dengan
demikian ergonomi dimaksudkan sebagai disiplin keilmuan yang mempelajari
manusia dalam kaitannya dengan pekerjaannya. Istilah ergonomi lebih populer
digunakan oleh beberapa Negara Eropa barat. Di Amerika istilah ini biasa disebut
dengan human factors engineering atau human engineering. Demikian pula ada
banyak istilah lainnya yang secara praktis mempunyai maksud yang sama seperti
Biomechanis.Bio-technology, Engineering Psychology atau Arbeltswissensschaft
(Jerman). Disiplin ergonomi secara khusus akan mempelajari keterbatasan dari
kemampuan manusia dalam berinteraksi dengan teknologi dan produk-produk
buatannya. Disiplin ini berangkat dari kenyataan bahwa manusia memiliki batas
kemampuan baik jangka pendek maupun jangka panjang pada saat berhadapan
dengan keadaan lingkungan system kerjanya yang berupaperangkat keras (mesin,
peralatan kerja dll) dan atau perangkat lunak (metode kerja, system dan prosedur,
dll). Dengan demikian terlihat jelas bahwa ergonomi adalah suatu keilmuan yang
multidisplin, karena disini akan mempelajari pengetahuan-pengetahuan dari ilmu
(sosiologi). Pada prinsipnya disiplin ergonomi akan mempelajari apa akibat-akibat
jasmani, kejiwaan dan sosial dari teknologi dan produk-produknya terhadap
manusia melalui pengetahuan-pengetahuan tersebut pada jenjang mikro maupun
makro. Karena yang dipelajari adalahdampak dari teknologi dan
produk-produknya, makapengetahuan yang khusus dipelajari berkaitan engan
Biomekanika, Anthropometri teknik, Teknologi produksi, Lingkungan fisik
(temperature, pencahayaan, dsb) dan lain-lain.
Maksud dan tujuan dari disiplin ergonomi ialah untuk mendapatkan suatu
pengetahuanyang utuh tentang permasalahan-permasalahan interaksi manusia
dengan teknologi dan produk-produknya, sehingga dimungkinkan adanya suatu
rancangan system manusia-manusia (teknologi) yang optimal. Dengan demikian
disiplin ergonomic melihat permasalahan interaksi tersebut sebagai suatu system
dengan pemecahan-pemecahan masalahnya melalui proses pendekatan system
pula.
Human engineering atau sering pula disebut ergonomi didefinisikan
sebagai perancangan “man-machine interface” sehingga pekerja dan mesin
(ataupun produk lainnya) bisa berfungsi lebih efektif dan efisien sebagai
sistemmanusia-mesin yang terpadu. Disiplin ini akan mencoba membawa ke arah
proses perancangan mesin yang tidak saja memiliki kemampuan produksi yang
lebih canggih lagi, melainkan juga memperhatikan aspek-aspek yang berkaitan
dengan kemampuan dan keterbatasan manusia yang mengoperasikan mesin
tersebut. Tujuan pokoknya adalah terciptanya desain sistem manusia-mesin yang
Berkaitan dengn perancangan stasiun kerja dalam industri, ada beberapa
aspek pendekatan ergonomis yang harus dipertimbangkan, antara lain :
a. Sikap dan posisi kerja
b. Kondisi Lingkungan Kerja.
c. Efisiensi Ekonomi Gerakan dan Pengaturan Fasilitas Kerja.
(Agung Kristanto, dkk, 2011)
2.3 Anthr opometri
2.3.1 Definisi Anthropometr i
Menurut Sritomo Wignjosoebroto dalam bukunya istilah antropometri
berasal dari "anthro" yang berarti manusia dan "metri" yang berarti ukuran.
Secara definitif antropometri dapat dinyatakan sebagai satu studi yang berkaitan
dengan pengukuran dimensi tubuh manusia. Manusia pada dasarnya akan
memiliki bentuk, ukuran (tinggi, lebar dsb.) berat dan lain-lain. Yang berbeda satu
dengan yang lainnya. Antropometri secara luasakan digunakan sebagai
pertimbangan-pertimbangan ergonomis dalam proses perancangan (desain)
produk maupun sistem kerja yang akan memerlukan interaksimanusia. Data
antropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara luasantara lain
dalam hal :
1. Perancangan areal kerja (work station, interior mobil, dll ).
2. Perancangan peralatan kerja seperti mesin, equipment, perkakas (tools) dan
sebagainya.
3. Perancangan produk-produk konsumtif seperti pakaian, kursi/meja komputer
dll.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data antropometri akan
menentukan bentuk, ukuran dan dimensi yang tepat yang berkaitan dengan produk
yangdirancang dan manusia yang akan mengoperasikan / menggunakan produk
tersebut. Dalam kaitan ini maka perancangan produk harus mampu
mengakomodasikan dimensi tubuh dari populasi terbesar yang akan menggunakan
produk hasil rancangannya tersebut. Secara umum sekurang - kurangnya 90 % -
95 % dari populasi yang menjadi target dalam kelompok pemakai suatu produk
haruslah mampu menggunakannya dengan selayaknya.
2.3.2 Data Anthropometr i dan Cara Pengukurannya
Manusia pada umumnya akan berbeda – beda dalam hal bentuk dan
dimensi ukuran tubuhnya. Ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi ukuran
tubuh manusia , yaitu (Stevenson, 1989; Nurmianto, 2003) :
1. Umur
Secara umum dimensi tubuh manusia akan tumbuh dan bertambah besar
seiring dengan bertambahnya umur yaitu sejak awal kelahiran sampai dengan
umur sekitar 20 tahunan. Dari suatu penelitian ysng dilakukan oleh A. F.
Roche dan G. H. Davila (1972) di USA diperoleh kesimpulan bahwa laki-laki
akan tumbuh dan berkembang naik sampai dengan usia 21,2 tahun, sedangkan
wanita 17,3 tahun. Meskipun ada 10 % yang masih terus bertambah tinggi
sampai usia 23,5 tahun (laki-laki) dan 21,1 tahun (wanita). Setelah itu, tidak
lagi akan terjadi pertumbuhan bahkan justru akan cenderung berubah menjadi
pertumbuhan menurun ataupun penyusutan yang dimulai sekitar umur 40
2. Jenis kelamin (sex)
dimensi ukuran tubuh laki-laki umumnya akan lebih besar dibandingkan
dengan wanita, terkecuali untuk beberapa bagian tubuh tertentu seperti pinggul,
dan sebagainya.
3. Suku bangsa (etnic)
Setiap suku bangsa ataupun kelompok etnic akan memiliki karakteristik fisik
yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dimensi tubuh suku bangsa Negara
Barat pada umumnya mempunyai ukuran yang lebih besar daripada dimensi
tubuh suku bangsa negara Timur.
4. Keacakan / Random
Hal ini menjelaskan bahwa walaupun telah terdapat dalam satu kelompok
populasi yang sudah jelas sama jenis kelamin, suku atau bangsa, kelompok usia
dan pekerjaannya, namun masih akan ada perbedaan yang cukup signifikan
antara berbagai macam masyarakat.
5. Jenis Pekerjaan
Beberapa jenis pekerjaan tertentu menuntut adanya persyaratan dalam seleksi
karyawan. Misalnya, buruh dermaga harus mempunyai postur tubuh yang
relatif lebih besar dibandingkan dengan karyawan perkantoran pada umumnya.
Apalagi jika dibandingkan dengan jenis pekerjaan militer.
6. Pakaian
Tebal tipisnya pakaian yang dikenakan, dimana faktor iklim yang berbeda akan
memberikan varisi berbeda-beda pula dalam bentuk rancangan dan spesifikasi
pakaian. Dengan demikian dimensi tubuh orangpun akan berbeda dari satu
7. Faktor Kehamilan
Kondisi semacam ini akan mempengaruhi bentuk dan ukuran tubuh khususnya
bagi perempuan. Hal tersebut jelas memerlukan perhatian khusus terhadap
produk-produk yang dirancang bagi segmen seperti ini.
8. Tubuh Cacat
Hal ini jelas menyebabkan perbedaan antara yang cacat dengan yang tidak
terhadap ukuran dimensi tubuh manusia.
9. Posisi tubuh (posture)
Sikap ataupun posisi tubuh akan berpengaruh terhadap ukuran tubuh oleh
karena itu harus posisi tubuh standar harus diterapkan untuk survei
pengukuran.
Berkaitan dengan posisi tubuh manusia dikenal dua cara pengukuran, yaitu:
a. Antropometri Statis (Structural Body Dimensions).
Disini tubuh diukur dalam berbagai posisi standard dan tidak bergerak (tetap
tegak sempurna). Dimensi tubuh yang diukur meliputi berat badan, tinggi
tubuh, dalam posisi berdiri, maupun duduk, ukuran kepala, tinggi/panjang
lutut, pada saat berdiri/duduk, panjang lengan, dan sebagainya.
b. Antropometri Dinamis (Functional Body Dimensions).
Disini pengukuran dilakukan terhadap posisi tubuh pada saat berfungsi
melakukan gerakan-gerakan tertentu yang berkaitan dengan kegiatan yang
harus diselesaikan (Sritomo Wignjosoebroto, 1995) .
Selanjutnya untuk memperjelas mengenai data antropometri yang tepat
diaplikasikan dalam berbagai rancangan produk ataupun fasilitas kerja, diperlukan
dimensi antropometri tubuh yang diperlukan dalam perancangan dijelaskan pada
gambar 2.1.
Gambar 2.1. Antropometri untuk Perancangan Produk
Gambar 2.2. Antropometri Tinggi Badan Berdiri dan Duduk Sumber : Sritomo Wignjosoebroto, 2003
Keterangan Gambar 2.1 di atas, yaitu:
1 : Dimensi tinggi tubuh dalam posisi tegak (dari lantai sampai dengan ujung
kepala).
2 : Tinggi mata dalam posisi berdiri tegak.
3 : Tinggi bahu dalam posisi berdiri tegak.
4 : Tinggi siku dalam posisi berdiri tegak (siku tegak lurus).
5 : Tinggi kepalan tangan yang terjulur lepas dalam posisi berdiri tegak (dalam
gambar tidak ditunjukkan).
6 : Tinggi tubuh dalam posisi duduk (di ukur dari alas tempat duduk pantat
sampai dengan kepala).
7 : Tinggi mata dalam posisi duduk.
8 : Tinggi bahu dalam posisi duduk.
9 : Tinggi siku dalam posisi duduk (siku tegak lurus).
11 : Panjang paha yang di ukur dari pantat sampai dengan. ujung lutut.
12 : Panjang paha yang di ukur dari pantat sampai dengan bagian belakang dari
lutut betis.
13 : Tinggi lutut yang bisa di ukur baik dalam posisi berdiri ataupun duduk.
14 : Tinggi tubuh dalam posisi duduk yang di ukur dari lantai sampai dengan
paha.
15 : Lebar dari bahu (bisa di ukur baik dalam posisi berdiri ataupun duduk).
16 : Lebar pinggul ataupun pantat.
17 : Lebar dari dada dalam keadaan membusung (tidak tampak ditunjukkan dalam
gambar).
18 : Lebar perut.
19 : Panjang siku yang di ukur dari siku sampai dengan ujung jari-jari dalam
posisi siku tegak lurus.
20 : Lebar kepala.
21 : Panjang tangan di ukur dari pergelangan sampai dengan ujung jari.
22 : Lebar telapak tangan.
23 : Lebar tangan dalam posisi tangan terbentang lebar kesamping kiri kanan
(tidak ditunjukkan dalam gambar).
24 : Tinggi jangkauan tangan dalam posisi berdiri tegak.
25 : Tinggi jangkauan tangan dalam posisi duduk tegak.
26 : Jarak jangkauan tangan yang terjulur kedepan di ukur dari bahu sampai
Tabel 2.1. Perkiraan Antrophometri Untuk Masyarakat Hongkong, Dewasa, Dapat Diekivalensikan Sementara Untuk Masyarakat Indonesia (Kesamaan Etnis Asia)
(mm)
No. Dimensi Tubuh Pria Wanita
5% X 95% S.D 105% X 195% S.D 1 Tinggi Tubuh Posisi
Berdiri Tegak 1.585 1.680 1.775 58 1.455 1.555 1.655 60
6 Tinggi Badan Posisi
Duduk 845 900 955 34 780 840 900 37 12 Jarak dari Lipat Lutut
(Popliteal) ke Pantat 405 450 495 26 385 435 485 29 13 Tinggi Lutut 450 495 540 26 410 455 500 27 14 Tinggi Lipat Lutut
(Popliteal) 365 405 445 25 325 375 425 29 23 Jarak Bentang dari Ujung
Jari tangan Kanan ke Kiri 1.480 1.635 1.790 95 1.350 1.480 1.610 80 24
Tinggi Pegangan Tangan (grip) pada Posisi tangan Vertikal ke atas & duduk
1.835 1.970 2.105 83 1.685 1.825 1.965 86
25
Tinggi Pegangan Tangan (grip) pada Posisi tangan Vertikal ke atas & duduk
Tabel 2.2. Antrophometri Masyarakat Indonesia Yang Didapat Dari Interpolasi Masyarakat British Dan Hongkong (Phesant, 1286) Terhadap Masyarakat
Indonesia (mm)
No. Dimensi Tubuh Pria Wanita
5% X 95% S.D 105% X 195% S.D 1 Tinggi Tubuh Posisi
Berdiri Tegak 1.532 1.632 1.732 61 1.464 1.563 1.662 60
6 Tinggi Badan Posisi
Duduk 809 864 919 33 775 834 893 36 12 Jarak dari Lipat Lutut
(Popliteal) ke Pantat 405 450 495 27 488 537 586 30 13 Tinggi Lutut 448 496 544 29 428 472 516 27 14 Tinggi Lipat Lutut
(Popliteal) 361 403 445 26 337 382 428 28 23 Jarak Bentang dari Ujung
Jari tangan Kanan ke Kiri 1.520 1.663 1.806 87 1.400 1.523 1.646 75 24
Tinggi Pegangan Tangan (grip) pada Posisi tangan Vertikal ke atas & duduk
1.795 1.923 2.051 78 1.712 1.841 1.969 79
25
Tinggi Pegangan Tangan (grip) pada Posisi tangan Vertikal ke atas & duduk
Tabel 2.3. Anthropometri Telapak Tangan Orang Indonesia (mm) 12 Lebar Telapak Tangan
(metacarpal) 74 81 88 4 68 73 78 3 13 Lebar Telapak Tangan
(sampai ibu jari) 88 98 108 6 82 89 96 4 14 Lebar Telapak Tangan
(minimum) 68 75 82 4 64 59 74 3
15 Tebal Telapak Tangan
(metacarpal) 28 31 34 2 25 27 29 1 16 Tebal Telapak Tangan
(sampai ibu jari) 41 48 47 2 41 44 47 2 17 Diameter Genggaman
(maksimum) 45 48 51 2 43 46 49 1 18 Lebar Maksimum (ibu
2.3.3 Aplikasi Distribusi Normal dan Persentil Dalam Penetapan Data Anthropometri
Data anthropometri diperlukan agar supaya rancangan suatu produk bisa
sesuai dengan orang yang akan mengoperasikannya. Ukuran tubuh yang
diperlukan pada hakekatnya tidak sulit diperoleh dari pengukuran secara
individual. Adanya variansi ukuran sebenarnya akan lebih mudah diatasi bilamana
kita mampu merancang produk yang memiliki fleksibilitas dan sifat “mampu
suai” dengan suatu ukuran tertentu. Pada penetapan data anthropometri,
pemakaian distribusi normal akan umum diterapkan. Distribusi normal dapat
diformulasikan berdasarkan harga ratarata dan simpangan standarnya dari data
yang ada. Berdasarkan nilai yang ada tersebut, maka persentil (nilai yang
menunjukkan persentase tertentu dari orang yang memiliki ukuran pada atau di
bawah nilai tersebut) bisa ditetapkan sesuai tabel probabilitas distribusi normal.
Bilamana diharapkan ukuran yang mampu mengakomodasikan 95% dari populasi
yang ada, maka diambil rentang 2,5th dan 97,5th percentile sebagai
batas-batasnya (Sritomo Wignjosoebroto, 1995).
Gambar 2.3. Distribusi Normal Yang Mengakomodasi 95% Dari Populasi
Sumber: SritomoWignjosoebroto, 2003
Disamping berbagai variasi, pola umum dari suatu distribusi data
seperti pada distribusi Gaussian. Distribusi semacam itu, bila disajikan melalui
grafik dengan membandingkan kejadian yang muncul terhadap besaran, biasanya
berbentuk kurva simetris atau berbentuk lonceng. Ciri umum kurva berbentuk
lonceng tersebut adalah besarnya prosentase pada bagian tengah dengan sediki
saja perbedaan yang mencolok pada bagian ujung dari skala grafik tersebut.
Secara statistik sudah diperlihatkan bahwa data hasil pengukuran tubuh
manusia pada berbagai populasi akan terdistribusi dalam grafik sedemikian rupa
sehingga data-data yang bernilai kurang lebih sama akan terkumpul di bagian
tengah grafik. Sedangkan data-data dengan nilai penyimpangan yang ekstrim akan
terletak pada ujung-ujung grafik. Telah disebutkan pula bahwa merancang untuk
kepentingan keseluruhan populasi sekaligus merupakan hal yang tidak praktis.
Oleh karena itu sebaiknya dilakukan perancangan dengan tujuan dan data yang
berasal dari segmen populasi dibagian tengah grafik. Jadi merupakan hal logis
untuk mengesampingkan perbedaan yang ekstrim pada bagian ujung grafik dan
hanya menggunakan segmen terbesar yaitu 90% dari kelompok populasi tersebut.
Adapun distribusi normal ditandai dengan adanya nilai mean (rata-rata)
dan SD (standar deviasi). Sedangkan persentil adalah suatu nilai yang menyatakan
bahwa persentase tertentu dari sekelompok orang yang dimensinya sama dengan
atau lebih rendah dari nilai tersebut. Misalnya: 95% populasi adalah sama dengan
atau lebih rendah dari 95 persentil; 5% dari populasi berada sama dengan atau
lebih rendah dari 5 persentil (Nurmianto, 2008).
Persentil ke-50 memberi gambaran yang mendekati nilai rata-rata dari
suatu kelompok tertentu, namun demikian pengertian ini jangan disalah artikan
ukuran tubuh yang dimaksudkan tadi. Ada dua hal penting yang harus selalu
diingat bila menggunakan persentil. Pertama, persentil anthropometrik dari tiap
invidu hanya berlaku untuk satu data dimensi tubuh saja. Kedua, tidak dapat
dikatakan seseorang memilki persentil yang sama, ke-95 atau ke-90 atau ke-5,
untuk keseluruhan dimensi tubuhnya.
Pemakaian nilai-nilai persentil yang umum diaplikasikan dalam
perhitungan data anthropometri, ditunjukan dalam tabel 2.4.
Tabel 2.4. Macam Persentil Dan Cara Perhitungan Dalam Distribusi Normal
Percentile Perhitungan 1-st X −2,235σx 2,5-th X −1,96σx
5-th X −1,645σx 10-th X −1,28σx
50-th X
90-th X +1,28σx 95-th X +1,645σx 97,5-th X +1,96σx
Keterangan tabel 2.4. di atas, yaitu:
x = mean data
σ = standar deviasi dari data x
Pada pengolahan data anthropometri yang digunakan adalah data
anthropometri hasil pengukuran dimensi tubuh manusia yang berkaitan dengan
dimensi dari perancangan fasilitas kerja.
Sedangkan pada penentuan dimensi rancangan fasilitas kerja perakitan
dibutuhkan beberapa persamaan berdasarkan pendekatan anthropometri. Ini
berkaitan dengan penentuan penggunaan persentil 5 dan 95 (Panero dan Zelnik,
2003).
Perhitungan nilai persentil 5 dan persentil 95 dari setiap jenis data yang
diperoleh, dilanjutkan dengan perhitungan untuk penentuan ukuran rancangan dan
pembuatan rancangan berdasarkan ukuran hasil rancangan. Menurut Sritomo
Wignjosoebroto (1995), untuk menghitung persentil 5 dan persentil 95
menggunakan rumus pehitungan yang terdapat pada tabel 2.1. sebelumnya.
P5 = x - 1,645 σ x P50 = x
P95 = x + 1,645 σ x 2.4 Locker
Locker merupakan salah satu alat penunjang dalam hal penyimpanan.
Locker yang ada pada saat ini masih belum bias memenuhi kebutuhan yang ada.
luas dalamnya serta data yang ada masih berantakan. yang menyebabkan data
yang dimiliki masing–masing Dosen selalu tercampur.
2.5 Pengujian Data
2.5.1Persamaan Bernoulli
Adapun cara untuk menentukan jumlah sampel minimum dalam
penelitianuntuk menentukannya dapat di gunakan rumus Bernoulli.
q
Dimana : N = Jumlah sampel minimum
Z = Tingkat Kesalahan
e = Tingkat Kesalahan
p = Proporsi jumlah kuisioner yang dianggap benar
q = Proporsi jumlah kuisioner yang dianggap salah
2.5.2Uji Keseragaman Data
Tes keseragaman data secara visual dilakukan secara sederhana mudah dan
cepat. Di sini kita hanya sekedar melihat data yang terkumpul dan seterusnya
mengidentifikasikan data yang telalu “ekstrim”. Yang dimaksudkan dengan data
ekstrim disini ialah data yang terlalu besar atau terlalu kecil dan jauh menyimpang
dari trend rata-ratanya. Data yang terlalu ekstrim ini sewajarnya kita buang
jauh-jauh dan tidak dimasukkan dalam perhitungan selanjutnya. Langkah pertama
dalam uji keseragaman data yaitu menghitung besarnya rata-rata dari setiap hasil
pengamatan, dengan persamaan berikut :
x =
n xi
Dimana:
x = Rata-rata data hasil pengamatan. x = Data hasil pengukuran.
Langkah kedua adalah menghitung deviasi standar berikut:
Dimana:
σ = Standar deviasi dari populasi.
n = Banyaknya jumlah pengamatan.
x = Data hasil pengukuran.
Langkah ketiga adalah menentukan batas kontrol atas (BKA) dan batas
kontrol bawah (BKB) yang digunakan sebagai pembatas dibuangnya data ektrim
berikut :
BKA = X + kσ
BKB = X - kσ
Dimana:
X = Rata-rata data hasil pengamatan.
σ = Standar deviasi dari populasi.
k = Koefisien indeks tingkat kepercayaan, yaitu:
Tingkat kepercayaan 0 % - 68 % harga k adalah 1.
Tingkat kepercayaan 69 % - 95 % harga k adalah 2.
2.5.3Uji Kecukupan Data
Analisis kecukupan data dilakukan dengan tujuan untuk menguji apakah
data yang diambil sudah mencukupi denganmengetahui besarnya nilai N’. Apabila
N’ ≤ N maka data pengukuran dianggap cukup sehingga tidak perlu dilakukan
pengambilan data lagi. Sedangkan jika N’ > N maka data dianggap masih kurang
sehingga diperlukan pengambilan data kembali. Adapun tahapan dalam uji
kecukupan data adalah sebagai berikut :
1. Menentukan Tingkat Ketelitian dan Tingkat Keyakinan.
Tingkat ketelitian menunjukan penyimpangan maksimum hasil pengukuran
dari waktu penyelesaian sebenarnya. Hal ini biasanya dinyatakan dalam persen.
Sedangkan tingkat keyakinan atau kepercayaan menunjukan besarnya
keyakinan atau kepercayaan pengukuran bahwa hasil yang diperoleh memenuhi
syarat tadi. Ini pun dinyatakan dalam persen. Jadi tingkat ketelitian 5% dan
tingkat keyakinan 95% memberi arti bahwa pengukuran membolehkan rata-rata
hasil pengukuranya menyimpang sejauh 5% dari rata-rata sebenarnya dan
kemungkinan berhasil mendapatkan hal ini adalah 95%. Atau dengan kata lain
berate bahwa sekurang-kurangnya 95 dari 100 harga rata-rata dari sesuatu yang
diukur akan memiliki peyimpangan tidak lebih dari 5%.
2. Pengujian Kecukupan Data.
Dimana:
N’ = Jumlah pengamatan yang seharusnya dilakukan.
x = Data hasil pengukuran.
s = Tingkat ketelitian yang dikehendaki (dinyatakan dalam desimal).
k = Harga indeks tingkat kepercayaan, yaitu:
Tingkat kepercayaan 0 % - 68 % harga k adalah 1.
Tingkat kepercayaan 69 % - 95 % harga k adalah 2.
Tingkat kepercayaan 96 % - 100 % harga k adalah 3.
Setelah mendapatkan nilai N’ maka dapat diambil kesimpulan apabila N’≤ N
maka data dianggap cukup dan tidak perlu dilakukan pengambilan data kembali,
tetapi apabila N’ > N maka data belum mencukupi dan perlu dilakukan
pengambilan data lagi.
2.7 Penelitian Terdahulu
Yang dijadikan landasan pada penelitian ini adalah :
1. ”The Development of Ergonomics Method : Pendekatan Ergonomi Menjawab
Probelamatika Industri” oleh : Sritomo Wignjosoebroto, Institut Teknologi
Sepuluh November. Pada penelitian tersebut menyatakan bahwa evaluasi
ergonomis dalam hal ini merupakan salah satu langkah pengujian agar sebuah
rancangan produk pada saat dioperasikan tidak saja mampu memberikan
fungsi-fungsi yang telah direncanakan, akan tetapi juga mampu memberikan
keselamatan, kesehatan dan juga kenyamanan pada saat dioperasikan.
Akhirnya, rancangan produk yang ergonomis itu jelas akan mampu pula
2. “Redesain Locker Dosen Dengan Pendekatan Ergonomis” oleh : Petrus
Wisnubroto, Rina Susilawati, Institut Sains & Teknologi AKPRIND
Yogyakarta, 2008. Pada penelitian tersebut diketahui hasil produk Locker
Dosen dengan desain yang menarik dan kuat untuk pemakaiannya serta praktis
untuk digunakan, serta semua data dapat tersusun dengan rapid dan dimensi
sesuai dengan dimensi tubuh pengguna.
3. ”Perancangan Alat Permainan Untuk Pasien Pasca Stroke” oleh : Zaenal
Fanani Rosyada Dkk, Universitas Diponegoro, 2010. Pada penelitian tersebut
diketahui untuk menghasilkan alat yang merupakan pengembangan dari pin
boarda yang digunakan untuk menfasilitasi proses terapi untuk penderita pasca
stroke, dengan penambahan aspek tambahan sehingga pengguna merasa
nyaman dalam menggunakan alat tersbut.
4. “Perancangan Meja dan Kursi Anak Manggunakan Metode Quality Function
Deployment (QFD) Dengan Pendekatan Athropometri dan Bentuk Fisik Anak”
oleh : Denny Nurkertamnda, dkk, Universitas Diponegoro, 2006. Pada
penelitian tersebut dihasilkan rancangan menja dan kursi anak usia 4-6 tahun
yang sesu dengan data Athropometri anak dan bentuk fisik anak pada usia
tersbut sihingga kenyamann pada anak disaat belajar dan bermain
5. “Perancangan Meja dan Kursi Restoran Cepat Saji dengan Pendekatan
Ergonomis di Café GajahMada Mojokerto” oleh : Atim Puji Lesmono,
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, 2011.
6. “Analisis Ergonomi Pada Proses Mesin Tenun Dengan Oendekatan
Subjektifitas Pada PT Industri Sandang Nusantaea Unit Makatea Makassar”,
7. “Perancangan Meja dan Kursi yang Ergonomis Pada Stasiun Kerja
Pemotongan Sebagai Upaya Peningkatan Produktivitas”, Oleh : Agung
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di lingkungan Teknik Industri UPN “Veteran” Jawa
Timur pada tanggal 21 Desember 2012 sampa dengan selesai.
3.2 Identifikasi Variabel
Variabel dapat diartikan sebagai faktor yang mempunyai besaran dan variasi
dalam penelitian. Jenis variabel dalam penelitian ada dua yaitu:
1. Variabel Terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena
variabel bebas, dalam hal ini varabel terikatnya adalah Locker Dosen yang
ergonomis.
2. Variabel Bebas adalah variabel yang perubahannya tidak tergantung pada
variabel yang lain. Adapun variabel bebas yang berpengaruh dalam penelitian
ini adalah :
Data Anthropometri
a. Panjang jangkauan tangan ke atas adalah tinggi jangkauan tangan berdiri
tegak.
b. Maksimum jangkauan tangan ke depan Jarak jangkauan tangan yang
terjulur kedepan di ukur dari bahu sampai dengan ujung jari tangan
3.3 Langkah – langkah Pemecahan Masalah
Dalam memecahkan suatu masalah dalam penelitian, maka perlu adanya
langkah-langkah penelitian sebagai pegangan dalam menyelesaikan masalah yang
Langkah-langkah pemecahan masalah ini berguna untuk mempermudah bagi
peneliti untuk menyelesaikan masalah yang ada, karena sudah adanya alur yang
jelas mengenai bagaimana dan apa yang harus dikerjakan terlebih dahulu sebelum
mengerjakan tahapan penelitian yang lain.
Selain itu langkah-langkah dalam pemecahan masalah ditetapkan dengan
tujuan untuk memberikan arahan dan tahapan-tahapan bagi penelitian untuk
melaksanakan penelitian.
Secara sistematis langkah-langkah pemecahan masalah ini berisi tentang
studi lapangan, studi pustaka, perumusan masalah, tujuan penelitian, identifikasi
variabel, pengumpulan data, pengolahan data, Hasil dan pembahasan serta
kesimpulan dan saran.
Adapun langkah-langkah pemecahan masalah tersebut secara singkat dapat
digambarkan dalam kerangka atau bagan seperti yang digambarkan pada gambar
A
Perancangan desain Locker Usulan
Gambar desain Locker Usulan
Pembuatan Lockeri Usulan
Uji coba Locker Usulan
Desain Ergonomis?
Hasil dan pembahasan
Kesimpulan dan saran
Selesai
Tidak B
Membandingkan dengan Desain Loker Awal dan
Desain Loker Baru
Ya
Penjelasan langkah – langkah pemecahan masalah :
1. Mulai
2. Studi Lapangan
Penelitian dilakukan langsung dari lokasi penelitian di lingkungan Teknik
Industri UPN JATIM
3. Studi Pustaka
Studi pustaka dilakukan untuk menambah bobot dan menunjang hasil
penelitian
4. Perumusan Masalah
Perumusan masalah didapatkan setelah studi lapangan dan studi pustaka
5. Penetapan Tujuan
Selanjutnya dilakukan penetapan tujuan dari tugas akhir
6. Identifikasi Variabel
Selanjutnya menentukan identifikasi variabel dari tugas akhir
7. Pengumpulan Data Anthropometri
Melakukan pengumpulan terhadap obyek (manusia) untuk mendapatkan
ukuran dari dimensi tubuh yang diperlukan untuk desain locker. Disini tubuh
manusia diukur dalam keadaan diam atau statis (Static Anthropometri)
8. Desain Locker
Mengamati desain Locker beserta dengan pengukuran untuk ukuran
9. Gambar Desain Locker yang telah ada
Dari ukuran yang diperoleh desain Locker digambar beserta dengan
ukurannya dilihat dari beberapa sudut pandang yang telah ada
10. Desain Locker
11. Uji Keseragaman Data
Uji keseragaman data dilakukan untuk menetapkan data yang seragam. Untuk
mengaplikasikannya dapat digunakan peta kontrol, melalui peta kontrol dapat
terlihat apakah data seragam atau tidak, ada atau tidak data ekstrim. Data
ekstrim adalah data yang menyimpang atau melebihi dari batas kontrol yang
selanjutnya data itu harus dibuang
12. Uji Kecukupan Data
Uji kecukupan data dilakukan untuk mengetahui apakah jumlah data yang
diambil telah mencukupi untuk kemudian data tersebut dapat dilanjutkan
pengolahannya. Apabila data tidak mencukupi (N>N’) maka harus dilakukan
pendataan (pengukuran) ulang sampai data mencukupi
13. Menentukan Persentil
Dari data yang ada selanjutnya dihitung nilai persentilnya yang meliputi P5,
P50 dan P95, dari nilai persentil ini nantinya akan digunakan untuk
menentukan ukuran desain Locker
14. Perancangan Desain Locker terbaru
Merancang desain Locker dengan memperhatikan hasil perhitungan persentil
15. Gambar Desain Locker terbaru
Dari perancangan desain Locker terbaru yang usulan dapat digambar beserta
ukurannya dari beberapa pandangan
16. Pembuatan Locker terbaru
Dari gambar yang dihasilkan maka dilakukan proses pembuatan Locker
terbaru.
17. Simulasi/ Uji Coba Pemakaian Locker terbaru
Setelah Locker terbaru jadi harus dilakukan proses uji coba pemakaian
18. Membandingkan Desain Locker terbaru yang Telah Ada dengan Desain
Locker terbaru
Desain lama beserta ukurannya dengan desain usulan beserta ukurannya
dibandingkan agar dapat diketahui perbedaan dan perubahan yang terjadi.
Pengaturan Locker lama dibandingkan dengan pengaturan Locker Terbaru.
19. Ergonomis
Mengetahui apakah Locker terbaru yang baru sudah berada dalam pendekatan
secara ergonomi atau tidak dengan cara menyebar kuisioner kepada pengguna
20. Hasil dan Pembahasan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pengumpulan Data
4.1.1 Data Antr opometr i Pengguna
Ukuran untuk pembuatan dan perancangan loker ini diambil dari data
Antropometri yang disesuaikan dengan pengguna dalam hal ini yang dimaksud
pengguna pada umumnya khususnya yang ada di lingkungan FTI dan umumnya
rata-rata ukuran tubuh orang dewasa masyarakat di Jawa Timur, dimana tinggi
jangkauan tangan rata-rata antara 179-205 cm dengan jangkauan tangan rata-rata
minimal 64 cm dan maksimal 76 cm (Sumber Eko Nurmianto.2008:65)
berdasarkan data antropometri tersebut diambilah smpling sebanyak 52 orang
dengan menggunakan persamaan bernaoulli.
Adapun dimensi tubuh yang diukur adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1 Pengukuran Dimensi Tubuh dalam Cm
Tabel Kelanjutan Pengukuran Dimensi Tubuh dalam Cm
No TJT (Cm) PJT (Cm)
48 195 70
49 204 71
50 200 70
51 201 72
52 204 74
∑ X 10.326 3.687
Keterangan :
a. Tjt = Tinggi jangkauan tangan ke atas di ukur dari kaki hingga jagkauan
tangan ke atas
b. Pjt = Panjang jangkauan tangan maksimum ke depan dalam posisi berdiri
tegak.
4.1.2 Desain Loker
Berdasarkan data antropometri maka dapat dibuat desain loker dengan
memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Tjt = Tinggi jangkauan tangan ke atas di ukur dari kaki hingga jagkauan
tangan ke atas minimal 181 cm maksimum 204cm.
b. Pjt = Panjang jangkauan tangan maksimum ke depan dalam posisi berdiri
tegak minimum 64cm dan maksimum 75cm.
Keseluruhan desain loker berukuran Panjang 196 cm, Tinggi 204 cm dan Lebar 60
cm pengembangan desain loker dapat digunakan menjadi 2 fungsi sebagai inovasi
Gambar 4.1 Loker
4.1.2 Pembuatan Loker dan Inovasinya
Berdasarkan inovasi desain dan fungsi ergonomis maka telah diselesaikan
pembuatan loker dengan bentuk dan ukuran sebagai berikut :
Gambar 4.2 Inovasi Loker
Dari inovasi loker yang telah dibuat maka loker tersebut telah memiliki 2 fungsi
sebagai berikut :
LOKER PERMANEN LOKER TEMPORER
A
B
1
2
3
4
5
6
a. Loker Permanen terdiri dari 10 box loker dengan fungsi utama untuk
menyimpan dokumen umum dan lain-lain.
b. Loker Temporer terdiri dari 2 box loker A dan B yang terletak dibagian
atas yang berfungsi untuk menyimpan barang-barang tertentu yang
sifatnya sementara.
4.2 Pengolahan Data
4.2.1 Loker Lama
Gambar loker awal dapat dilihat pada Gambar 4.1 dibawah ini :
Gambar 4.3 Loker Awal
Loker di atas rungan yang disediakan sangat terlalu sempit hanya bias
menyimpan tas. Ukuran dari loker di atas panjang Loker 50 cm, tinggi 185 cm dan
lebar 37 cm, dengan ukuran tersebut loker di atas kurang luas dalam menyimpan
data/dokumen serta barang.
4.2.2 Loker
4.2.2.1 Uji Keseragaman Data
Uji keseragaman data digunakan untuk pengendalian proses bagian data
a. Tinggi jangkauan tangan dalam posisi berdiri tegak ( Tjt)
Dari Tabel 4.1 diperoleh nilai tinggi jangkauan tangan dalam posisi berdiri
tegak (Tjt) untuk mencari nilai dan σx adalah sebagai berikut:
=
=
198,57 cmσx = ( , ) ( , ) ( , ) = 7,48
Uji keseragaman data tinggi jangkauan tangan dalam posisi berdiri tegak (Tjt)
dengan tingkat kepercayaan yang digunakan 95%, maka k = 2, yaitu:
BKA = + k. σx
BKA = 198,57 + (2) 7,48 = 213,53
BKB = - k. σx
BKB = 198,57 - (2) 7,48 = 183,58
Dari data diatas dapat dibuat tabel uji keseragaman tinggi jangakauan tangan ke
atas dalam posisi berdiri tegak (Tjt) sebagai berikut :
Gambar 4.4 Uji Keseragaman Tinggi Jangkauan Tangan Ke Atas Dalam Posisi Berdiri Tegak (Tjt)
204205205
b. Panjang jangkauan tangan maksimum ke depan saat berdiri tegak (Pjt)
Dari Tabel 4.1 diperoleh nilai panjang jangkauan tangan maksimum ke depan
saat berdiri tegak (Pjt) untuk mencari nilai dan σx adalah sebagai berikut:
=
=
70,90 cmσx = ( . ) ( . ) ( . ) = 2,83
Uji keseragaman panjang jangkauan tangan maksimum ke depan saat berdiri
tegak (Pjt) yang digunakan 95%, maka k = 2, yaitu:
BKA = + k. σx
BKA = 70.90 + (2) 2,83 = 76.56
BKB = - k. σx
BKB = 70.90 - (2) 2.83 = 65.24
Dari data diatas dapat dibuat tabel uji keseragaman panjang jangkauan tangan
ke depan saat berdiri tegak (Pjt) sebagai berikut:
Gambar 4.5 Uji Keseragaman Panjang Jangkauan Tangan Maksimum Ke Depan Saat Posisi Tegak (Pjt)
Tabel 4.2 Hasil Uji Keseragaman Data
4.2.2.2 Uji Kecukupan Data
Uji kecukupan data digunakan untuk menganalisa jumlah pengukuran
apakah sudah representative, dimana tujuannya membuktikan bahwa data sampel
yang diambil sudah dapat mewakili populasi.
Untuk uji kecukupan data digunakan tingkat ketelitian 5% dan tingkat
kelayakan 95% maka rumus uji kecukupan data adalah:
N’=
∑ (∑ )
∑
Nilai k = 2 dan nilai s = 0,05
Jika, N’ ≤ N maka data sudah cukup untuk melakukan perancangan
N’ > N maka data belum cukup untuk melakukan perancangan.
• Tinggi Jangkauan Tangan ke atas dalam posisi berdiri tegak (Tjt)
Data Tinggi jangkauan tangan ke atas dalam posisi berdiri tegak (Tjt) dari
Tabel 4.1 diperoleh nilai :
∑ X = 10.326
∑ X 2 = 2.053.360
Maka : N’= ,
( ) ( )
Kesimpulan:
N’ = 1,49 ≤ N = 52
Maka data hasil pengukuran yang dilakukan sudah cukup untuk melakukan
perancangan.
• Panjang jangkauan tangan maksimum ke depan saat berdiri tegak (Pjt)
Data Panjang jangkauan tangan maksimum ke depan saat berdiri tegak (Pjt)
dari Tabel 4.1 diperoleh nilai:
∑ X = 3.657
∑ X 2 = 261.837
Maka : N’= ,
( ) ( )
=
5,28Kesimpulan:
N’ = 5,28 ≤ N = 52
Maka data hasil pengukuran yang dilakukan sudah cukup untuk melakukan
perancangan.
Tabel 4.3 Hasil Uji Kecukupan Data
No Dimensi Tubuh N N' Keterangan
1 Tinggi jangakuan tangan saat berdiri tegak
(Tjt) 52 1,49 Data Cukup
2 Panjang jangkauan tangan ke depan
maksimum (Pjt) 52 5,28 Data Cukup
4.2.2.3 Menentukan Persentil
Berdasarkan data-data dimensi tubuh pemakai loker yang telah diperoleh