5
LANDASAN TEORI
2.1 Umum
Perkembangan dalam bidang komunikasi dan pengaruh globalisasi serta arus informasi, masyarakat modern memerlukan adanya sarana Telekomunikasi yang lebih canggih. Kebutuhan masyarakat untuk mengirim informasi dalam jumlah besar, dengan kerahasiaan yang dapat di jamin serta kecepatan transmisi tinggi semakin mendesak.
Kemajuan teknologi elektronika dan digital telah berkembang dengan pesat. Hal ini telah mewujudkan tersedianya media transmisi serat optik yang dapat menyediakan kapasitas dengan jumlah yang sangat besar dan pula tehnik digital untuk mentransmisikan telah di tentukan sistem Plesiochronous digital hierarchy (PDH) dengan kecepatan transmisi tinggi yaitu ordo Mega sampai Gega bit per second (Mbps s/d Gbps).
Teknologi SDH diawali dengan konsep Synchronous optical Network
(SONET) yang dirancang oleh Bell Core oleh CCITT, SONET dikembangkan
kemungkinan menjadi sistem SDH sehingga kecepatan transmisi yang diperoleh
dapat sangat tinggi dan dapat digunakan secara internasional. Sebelum sistem
SDH ditemukan, maka yang digunakan adalah sistem PDH (Plesiochronous Digital Hierarchy) yaitu yang digunakan asinkron digital, sehingga kecepatan transmisi hanya sampai 45 Mbps.
2.2 Pengenalan MUX PDH
Plesiochronous Digital Hierarchy (PDH) adalah Suatu sistem transmisi digital untuk ‘komunikasi suara' dengan sistem plesiochronous sinkronisasi atau hampir sinkronisasi. Karakteristik dari Sinyal PDH, yaitu:
Sinyal Plesiokron merupakan adanya pergeseran Clock.
Multipleksing bit-per-bit.
Penyelarasan terhadap bit rate dari frame dilakukan dengan cara Positive justification.
Setiap tahapan Multiplek memiliki Struktur Frame yang khusus/berbeda.
Sinyal input di sisi F2-in tidak mengalami sinkronisasi.
Hubungan fasa antara Frame dan bit-bit informasinya tidak tetap (tidak disimpan dalam memori), oleh karena itu diperlukan proses demultipleks disisi penerima. Pengaksesan ke kanal individu secara langsung tidak mungkin.
Selama dalam proses multipleks, tidak ada sinkronisasi antara sinyal input
a dan b, dan Akses langsung ke informasi tributary dari kanal a dan b tidak
mungkin.
Gambar 2.1
Multipleksing Asinkron Pada Teknik (PDH) Keterangan:
S = Frame aligment word untuk sinyal c A = Frame aligment word untuk sinyal a B = Frame aligment word untuk sinyal b
2.3 Prinsip Dasar Elemen SDH
Prinsip elemen dasar pada SDH antara lain :
Container (C)
Virtual Container (VC)
Administrative Unit (AU)
Administrative Unit Group (AUG)
Tributary Unit (TU)
Tributary Unit Group (TUG)
2.3.1 Container (C)
Container berfungsi sebagai penampung byte-byte informasi sinyal digital baik sinkron maupun asinkron dalam jumlah yang di tetapkan. Container digunakan untuk transmisi sinyal tributary ke dalam jaringan asinkron. Besar container diberikan dalam byte. Setiap container memiliki selang waktu 125 mikro second. Jenis jenis container adalah sebagai berikut:
C-11 : untuk mentransmisikan sinyal 1544 Kbps.
C-12 : untuk mentransmisikan sinyal 2048 Kbps.
C-2 : untuk mentransmisikan sinyal 6312 Kbps.
C-3 : untuk mentransmisikan sinyal 34368 atau 44736 Kbps.
C-4 : untuk mentransmisikan sinyal 139264 Kbps.
Setiap tributary akan disusun kedalam salah satu container diatas dan selanjutnya akan ditempatkan kedalam frame STM-1.
2.3.2 Virtual Container (VC)
Setiap Container akan diberi byte-byte tambahan untuk keperluan
pengawasan Container didalam suatu Path Overhead (POH). Gabungan antara
Container dengan POH-nya dinamakan Virtual Container (VC). VC merupakan
struktur informasi yang tidak berubah selama transmisinya didalam suatu path
tertentu. VC mensupport hubungan pada path layer. Didalam POH terdapat byte-
byte yang fungsinya memonitor dan mengendalikan container yang bersangkutan
selama proses transmisi sinyal dari pengirim ke penerima. Virtual Container
dibedakan menjadi dua tingkatan yaitu High Order (HO-VC) dan Low Order
(LO-VC). Virtual Container yang harus disusun lagi kedalam VC yang lebih
tinggi tingkatannya termasuk dalam kategori LO-VC sedangkan VC yang langsung disusun dalam Frame STM-1 termasuk jenis HO-VC.
2.3.3 Administrative Unit (AU)
Bagian dari Frame STM-1 dimana posisi HO-VC bersifat fleksibel, dinamakan AU. AU merupakan struktur informasi yang memberikan fungsi adaptasi antara higher order path layer dan multiplex section layer. AU-PTR menunjukkan posisi HO-VC didalam AU, sedangkan AU sendiri merupakan bagian dari Frame STM-1.
Ada dua jenis AU, yaitu: AU-4 dan AU-3. Dalam satu Frame STM-1 bisa terdapat: 1 x AU-4 atau 3 x AU-3. Penempatan VC-3 bisa langsung ke Frame STM-1 (melalui AU-3) atau secara tidak langsung melalui AU-4, dimana 3 buah VC-3 disusun ke dalam satu VC-4.
2.3.4 Administrative Unit Group (AUG)
Beberapa AU dapat disusun (secara byte interleaved) menjadi satu AUG.
AUG bias dikatakan STM-1 tanpa SOH. Satu AUG bias terdiri dari 1 x AU-4 atau 3 x AU-3.
2.3.5 Tributary Unit (TU)
Semua VC kecuali VC-4, bias digabungkan kedalam satu VC yang lebih
besar. Posisi VC yang kecil (LO-VC) di dalam VC yang lebih besar (HO-VC)
sifatnya fleksibel. Untuk itu diperlukan pointer. Isi dari TU adalah LO-VC plus
pointernya (TU-pointer). TU sendiri merupakan bagian dari HO-VC.Terdapat
empat jenis TU : TU-11, TU-12, TU-2, TU-3.
2.3.6 Tributary Unit Group (TUG)
Sebelum digabungkan kedalam HO-VC, beberapa TU terlebih dahulu digabungkan menjadi satu (multiplexing byte-per-byte) dan dinamakan TUG.
2.4 Sistem TDM Plesiokron
Time Division Multiplexing (TDM) adalah proses menggabungkan informasi yang berasal dari sejumlah sumber dan mentransmisikan informasi tersebut melalui suatu media transmisi bersama ke satu tujuan Secara historis.
sistem TDM dibedakan menjadi dua, yaitu :
1. Primary TDM System, dimana informasi yang akan digabungkan berupa sinyal “analog”. Harga-harga dari daya sinyal tersebut berubah secara kontinyu dan sebelum proses multiplexing biasanya diubah dulu menjadi bentuk sinyal biner melalui apa yang dinamakan teknik PCM (Pulse Code Modulation).
2. Plesiochronous (High Order) TDM System, dimana informasi yang akan digabungkan sudah berupa sinyal biner.
2.4.1 Hierarki Perangkat MulDex Plesiokron
Pada Plesiokron yang dimaksud disini adalah bahwa sinyal-sinyal
informasi (digital) yang akan digabungkan tersebut memiliki bit rate nominal
yang sama, tetapi memungkinkan terjadinya variasi bit rate dengan batasan-
batasan tertentu. Digital Multiplexing adalah proses dimana sejumlah sinyal
digital terpisah digabungkan untuk membentuk satu aliran digital yang
mempunyai bit rate lebih tinggi.
Proses pemisahan aliran digital menjadi komponen-komponennya, yang merupakan proses kebalikan dari digital multiplexing, dikenal dengan istilah Demultiplexing. Meskipun penggunaan istilah perangkat multiplex sudah mencakup kedua fungsi (multiplex dan demultiplex), tetapi untuk menggunakan istilah MULDEX yang sudah menguraikan kombinasi perangkat multiplex dan demultiplex. [2]
Gambar 2.2
Hirarchy dari Perangkat MULDEX Digital Plesiokron
12 3 4
1 2 3 4
1 2 3 4
1 2 3 4
1 2 3 4
1 2 3 4
1 2 3 4
1 2 3 4
MUX DEMUX
140 Mbit/s DEMUX
34 Mbit/s DEMUX
8 Mbit/s DEMUX
To 2 Mbit/s DEMUX 140 Mbit/s
MUX
34 Mbit/s MUX
8 Mbit/s MUX
From 2 Mbit/s
MUX
7680 CH
139264 kbit/s 1920 CH
34368 kbit/s 460 CH
8448 kbit/s 120 CH 565 Mbit/s 565 Mbit/s
2.4.2 Muldex (Digital Multiplexing)
Digital Multiplexing adalah proses dimana sejumlah sinyal digital terpisah digabungkan untuk membentuk satu aliran digital tunggal yang mempunyai bit rate lebih tinggi. Sedangkan proses pemisahan dari digital tunggal tersebut menjadi komponen-komponennya, disebut dengan Demultiplex.
2.4.2.1 Sinkronisasi Antara Multiplexer dan Demultiplex
Multiplexer dan Demultiplexer, atau disingkat Mux dan Demux, dapat