• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOMIK JEPANG DAN PENGETAHUAN MAHASISWA. (Studi Korelasi Pengaruh Komik Doraemon dan Kyo Samurai Deeper X

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KOMIK JEPANG DAN PENGETAHUAN MAHASISWA. (Studi Korelasi Pengaruh Komik Doraemon dan Kyo Samurai Deeper X"

Copied!
121
0
0

Teks penuh

(1)

KOMIK JEPANG DAN PENGETAHUAN MAHASISWA

(Studi Korelasi Pengaruh Komik Doraemon dan Kyo Samurai Deeper X Terhadap Pengetahuan Mahasiswa FISIP USU tentang Kebudayaan Jepang)

DISUSUN OLEH :

ANGGIE MARITTA REBECCA SITUMORANG 050904046

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2009

(2)

ABSTRAKSI

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah pengaruh Komik Jepang terhadap pengetahuan mahasiswa FISIP USU tentang Kebudayaan Jepang. Dalam hal ini Komik Jepang yang dipilih oleh peneliti adalah Komik Doraemon dan Kyo Samurai Deeper X. Adapun kerangka teori yang digunakan adalah teori Komunikasi dan Komunikasi Massa, Model S-O-R, Komik, Pengertian Pengetahuan, Kebudayaan, Budaya Populer.

Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa S1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara angkatan 2003-2008. Besarnya sampel ditentukan dengan menggunakan rumus Taro Yamane dengan presisi 10%

sehingga diperoleh sampel sebanyak 96 orang. Sedangkan teknik penarikan sampel menggunakan Stratified Propotional Random sampling dan Purposive Sampling.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode korelasi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner dan melakukan observasi. Setiap kuesioner masing-masing berisi 17 pertanyaan tertutup. Dalam menganalisa data penelitian digunakan dua cara yaitu, tabel tunggal dan tabel silang. Sedangkan untuk menguji hipotesis dilakukan dengan menggunakan koefisien korelasi Rank Spearman dan rumus Spearman’s Rho melalui SPSS 12.0.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka diketahui bahwa rs = 0,57.

Selanjutnya untuk mengetahui kuat lemahnya hubungan digunakan skala Guilford, berada pada skala 0,41 – 0,70. Artinya, terdapat hubungan yang cukup berarti antara Komik Jepang dengan Pengetahuan Mahasiswa FISIP USU tentang Kebudayaan Jepang. Kemudian dari hasil korelasi Rank Spearman tidak ada tanda (-) di depan angka ,573 pada tampilan korelasi Rank Spearman menunjukkan bahwa sifat hubungan linear positif atau searah positif dengan demikian dapat diinterpretasikan, bahwa hipotesis H0 ditolak. Sehingga hipotesis Ha diterima yaitu, ada pengaruh antara membaca Komik Doraemon dan Kyo Samurai Deeper X terhadap pengetahuan mahasiswa FISIP USU tentang Kebudayaan Jepang.

Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Komik Doraemon dan Kyo Samurai Deeper X mampu memberikan pengetahuan tentang Kebudayaan Jepang di kalangan mahasiswa FISIP USU yang pernah membaca Komik Doraemon dan Kyo Samurai Deeper X.

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Bapaku di Surga Tuhan Yesus Kristus atas berkat, hikmat, dan anugerah yang tidak terhingga yang senantiasa di berikanNya kepada peneliti.

Selama masa penyusunan skripsi ini, penulis menyadari bahwa usaha dan kerja keras yang dilakukan penulis tidak akan berjalan sukses tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Ucapan terima kasih yang terdalam peneliti persembahkan kepada kedua orang tua penulis yang telah banyak memberikan dukungan baik materil, moril, dan doa yang selalu tercurah. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan dan menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Prof. M. Arif Nasution, MA selaku Dekan FISIP USU.

2. Bapak Drs. Amir Purba, MA selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Emilia Ramadhani, S.sos sebagai Dosen Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu untuk membimbing, memberikan pandangan, dan membagi pengetahuan kepada peneliti hingga selesainya skripsi ini.

4. Ibu Dra. Dewi Kurniawati, Msi selaku Sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi.

5. Ibu Dra. Rusni, MA selaku Dosen Wali penulis selama masa perkuliahan.

6. Kepada staf dan pegawai Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU Kak Ros, Kak Icut, Kak Maya, Kak Hanim, Kak Puan dan Kak Windi.

7. Kepada Bang Hendra, Bang Haris, dan seluruh dosen selaku staf dan pengajar di FISIP USU, terima kasih atas bantuannya selama ini.

(4)

8. Buat Ompung Bos dan Omp Momku juga seluruh keluarga besarku dimana pun kalian berada terima kasih atas bantuan dan dukungannya.

9. Untuk adik-adikku Eiger dan Valdo, terima kasih atas doa dan motivasinya sehingga membuat aku selalu semangat.

10. Untuk sahabat-sahabatku Plesster cs, Lora, Nova, Uwi, dan Erika terima kasih atas banyak hal yang telah kalian berikan untukku.

11. Teman-teman angkatan 2005, Wulan, Mutiara, Tia, Randa, Putri, Nuri, Irene, T-J, Ola, Emma and the gank, Komik cs, dan semuanya terima kasih atas bantuan, kritikan, dorongan, dan masukannya selama ini.

12. Bang Andi ’02, Bang Rido ‘03, Bang Liston ’03, Kak Julika’04, terima kasih untuk bantuan juga masukannya dan adik-adikku stambuk 2006- 2008 yang sudah membantu mengisi kuesioner. Terima kasih.

Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan. Untuk itu peneliti mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Guna perbaikan da kesempurnaan skripsi ini. Peneliti berharap semoga skripsi ini akan bermanfaat bagi setiap orang yang membacanya.

Medan, Maret 2009 Peneliti

NIM. 050904046 Anggie M.R. Situmorang

(5)

DAFTAR ISI

Halaman LEMBAR PENGESAHAN

LEMBAR PERSETUJUAN

ABSTRAKSI ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR SKEMA ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah ... 1

I.2 Perumusan Masalah ... 5

I.3 Pembatasan Masalah ... 6

I.4 Tujuan ... 6

I.5 Manfaat Penelitian ... 6

I.6 Kerangka Teori ... 7

I.6.1 Teori Komunikasi dan Komunikasi Massa ... 7

I.6.2 Model S-O-R ... 10

I.6.3 Komik ... 12

I.6.4 Pengertian Pengetahuan ... 14

I.6.5 Kebudayaan ... 16

I.6.6 Teori Budaya Populer ... 17

I.6 Kerangka Konsep ... 17

I. 7 Model Teoritis ... 18

I. 8 Operasional Variabel ... 19

I. 9 Defenisi Operasional... 20

I.10 Hipotesis Penelitian ... 21

BAB II URAIAN TEORITIS II.1 Komunikasi dan Komunikasi massa ... 22

II.1.1 Pengertian Komunikasi ... 22

II.1.2 Pengertian Komunikasi Massa ... 24

II.2 Model S-O-R ... 32

II.3 Komik ... 34

II.4 Pengertian Pengetahuan ... 44

II.5 Kebudayaan ... 47

II.6 Teori Budaya Populer ... 53

BAB III METODOLOGI PENELITIAN III.1Deskripsi Lokasi Penelitian ... 57

III.1.1 Sejarah Singkat FISIP USU ... 57

III.1.2 Sarana dan Fasilitas yang Terdapat di FISIP USU ... 62

III.2 Metodologi Penelitian ... 63

(6)

III.3 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 63

III.4 Populasi dan Sampel ... 64

III.4.1 Populasi ... 64

III.4.2 Sampel ... 65

III.5 Teknik Penarikan Sampel ... 67

III.6 Teknik Pengumpulan Data ... 68

III.7 Teknik Analisis Data ... 70

III.8 Uji Hipotesis ... 70

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1 Pelaksanaan Pengumpulan Data ... 73

IV.1.1 Tahap Persiapan ... 73

IV.1.2 Tahap Pengumpulan Data ... 73

IV.2 Teknik Pengolahan Data ... 74

IV.3 Analisis Tabel Tunggal ... 75

IV.3.1 Karakteristik Responden ... 75

IV.3.2 Komik Jepang ... 78

IV.3.3 Tingkat Pengetahuan Mahasiswa FISIP USU tentang Kebudayaan Jepang ... 84

IV.4 Analisa Tabel Silang ... 91

IV.5 Pengujian Hipotesa ... 97

IV.6 Pembahasan... 98

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN V.1 Kesimpulan ... 107

V.2 Saran ... 118 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(7)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman Tabel 1 : Populasi Mahasiswa S1 Reguler dan Mandiri

FISIP USU Stambuk 2003-2008 ... 67

Tabel 2 : Jenis Kelamin ... 69

Tabel 3 : Uang Saku ... 77

Tabel 4 : Departemen ... 77

Tabel 5 : Stambuk ... 78

Tabel 6 : Tingkat Keseringan Membaca Komik Jepang ... 79

Tabel 7 : Intensitas Membaca ... 80

Tabel 8 : Komik Jepang ... 81

Tabel 9 : Karakter Tokoh ... 82

Tabel 10 : Gambar dalam Komik Jepang ... 84

Tabel 11 : Pemahaman terhadap pesan yang tersirat ... 85

Tabel 12 : Gaya penyampaian pesan ... 86

Tabel 13 : Pemahaman terhadap isi pesan ... 87

Tabel 14 : Perolehan pengetahuan ... 88

Tabel 15 : Tingkat pengetahuan Mahasiswa FISIP USU Tentang Kebudayaan Jepang... 89

Tabel 16 : Bentuk pengetahuan inderawi tentang Kebudayaan Jepang ... 90

Tabel 17 : Bentuk pengetahuan naluri tentang Kebudayaan Jepang ... 92

Tabel 18 : Bentuk pengetahuan inderawi tentang Kebudayaan Jepang ... 94

Tabel 19 : Hubungan Komik Jepang dengan Perolehan Pengetahuan ... 95

Tabel 20 : Hubungan Karakter Tokoh dengan Pengetahuan Inderawi ... 96

Tabel 21 : Hubungan Karakter Tokoh dengan Pengetahuan Naluri ... 98

(8)

Tabel 22 : Hubungan Pesan yang Tersirat dalam Gambar dan

Pengetahuan Rasional ... 100

(9)

DAFTAR SKEMA

SKEMA Halaman

Model Stimulus Organism Response ... 11

Model Teoritis Penelitian ... 19

Operasional Variabel Penelitian ... 19

Model Stimulus Organism Response ... 32

Correlations Rank Spearman ... 97

(10)

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Kuesioner

Lampiran 2 : Tabel Forton Cobol Lampiran 3 : Tabel Raw x dan y

Lampiran 4 : Surat izin penelitian ke FISIP USU Lampiran 5 : Biodata

Lampiran 6 : Lembar Bimbingan Skripsi

(11)

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah

Globalisasi mempertemukan momentum, kebudayaan dan hubungan antara pelaku bisnis dari negara lain semakin sering dan komunikasi adalah salah satu bentuk proses sosial yang berfungsi sebagai alat untuk menghubungkan interaksi antar manusia yang terpisah oleh jarak, ruang dan waktu tersebut.

Globalisasi dapat terjadi karena adanya jaringan-jaringan informasi dan komunikasi global.

Perkembangan teknologi sekarang ini telah memberikan andil yang besar bagi pertumbuhan komunikasi massa. Media komunikasi massa meliputi media elektronik (televisi, radio, dan film) serta media cetak (majalah dan surat kabar).

Media komunikasi massa dengan segala perangkat yang ada padanya kini semakin banyak dijadikan sebagai objek studi. Hal ini dimungkinkan karena semakin tingginya peran yang ada dan dilakukan media komunikasi massa.

Jepang adalah nama sebuah bangsa yang menyimpan banyak keunikan dan kompleksitas yang sangat dalam hal kebudayaan di era globalisasi pada saat ini. Suka atau tidak suka, Jepang memang sedang mengalami tranformasi budaya yang diakibatkan oleh penetrasi globalisasi kepada kebudayaan asli Jepang.

Berbicara mengenai Kebudayaan Jepang, kita bisa menyingkap segala keunikan, keindahan, kehalusan, dan kebersahajaan suatu budaya. Hampir setiap orang terkagum-kagum akan keunikan Kebudayaan Jepang. Di tengah teknologi Jepang yang pesat, nilai-nilai kebudayaan leluhur tetap lestari. Jepang dapat dikatakan berhasil mencontoh bangsa barat dengan menjadikan dirinya modern tanpa harus

(12)

menghilangkan tradisi yang dimilikinya. Jepang sukses memberikan orientasi baru pada nilai budaya tradisionalnya di era globalisasi, sehingga kekuatan tradisional itu dapat menjadi daya penggerak yang luar biasa bagi Negara Jepang dalam mengejar kebudayaan barat.

Salah satu keistimewaan Jepang adalah kemajuan untuk tidak mengubah sedikitpun cara hidup rakyatnya. Meskipun dikenal sebagai salah satu negara paling maju di dunia, rakyat Jepang masih menerapkan sebagian besar cara hidupnya sesuai tradisi. Nilai-nilai tradisional masih dapat dilihat dari sikap, cara, berpikir, bekerja, berpakaian, bahasa, dan makanan mereka.

Bangsa Jepang sadar bahwa untuk mencapai kemajuan mereka harus mampu menyesuaikan nilai tradisi dengan nilai baru dari luar. Setiap bangsa pasti akan mengalami perubahan pesat. Tradisi berubah jadi modern. Ini fenomena yang bersifat global dan tidak satu negara pun yang dapat menghindarinya.

Kelebihan Jepang adalah mereka mampu menyesuaikan diri dengan segala perubahan tanpa menghilangkan identitas dan jati diri yang telah mengakar kuat.

Ini di karenakan Jepang terlalu mengagungkan budaya bangsa mereka. Kemana saja mereka pergi tetap mempertahankan tradisi dan budayanya. Malah mereka berusaha mengembangkannya agar dapat diterima orang lain. Bagi bangsa Jepang budaya dan tradisi menjadi lambang identitas dan mereka bangga akan hal itu.

Sekarang Jepang telah membuktikan diri menjadi Negara Super Power dalam bidang kebudayaan. Coba perhatikan, hampir di seluruh dunia terutama Asia dan tidak terkecuali Indonesia, makin banyak beredar anime-anime Jepang dalam bentuk DVD maupun yang ditayangkan di televisi serta komik-komik Jepang yang beredar di toko-toko buku ternama. Sebagian orang menganggap

(13)

globalisasi merupakan sebuah tren dalam perkembangan kultural dan Popular Culture dapat disebut sebagai hasil dari tren globalisasi tersebut.

Kebudayaan Jepang yang paling terkenal dan di gemari di Indonesia adalah Manga atau Komiknya. Ketertarikan bangsa Indonesia terhadap karya seni Jepang yang satu ini memang cukup mencengangkan. Ada beberapa alasan mengapa Komik Jepang terus mengglobal. Pertama, karakter Komik Jepang yang mengeksploitasi imajinasi-imajinasi. Komik-komik Jepang membawa nilai-nilai perlawanan terhadap kenyataan (imajinasi) yang telah ada. Kedua, gambar- gambar yang disajikan dalam Komik Jepang juga dinilai lebih halus dan lebih indah dibandingkan komik-komik lainnya. Ketiga, adanya kebebasan pengarang untuk berekspresi dalam Komik (www.google.com/search/komik).

Dua diantara beberapa Komik Jepang yang paling digemari oleh anak bangsa adalah Komik Doraemon dan Kyo Samurai Deeper X. Dari serangkaian cerita seru dan kocak dari serial Doraemon, banyak hal yang dapat kita serap.

Salah satunya adalah mengenai kedisiplinan. Dalam cerita Doraemon digambarkan bagaimana setiap murid sekolah itu harus masuk kelas tepat pada waktunya dan akan dikenai hukuman dengan tidak dapat mengikuti pelajaran jika tidak mematuhinya. Di Jepang kelas memang dimulai rata-rata pukul 7 pagi dan berakhir pada pukul 4 sore. Sangat disiplin waktu dan teratur itulah kesan anak- anak Jepang yang tergambarkan dalam Komik Doraemon. Jepang memang terkenal sebagai Negara yang memiliki tingkat kedisiplinan yang tinggi.

Kebiasaan disiplin waktu atau budaya disiplin waktu yang dibina oleh masyarakat Jepang sejak dulu hingga saat ini dapat kita temui dalam kebiasaan-kebiasaan umum orang Jepang yang tergolong unik. Salah satu hal yang patut diperhatikan

(14)

adalah bahwa bagi bangsa Jepang jangan pernah menganggap satu menit itu tidak berguna. Setidaknya, terlambat beberapa detik saja sangat berpengaruh pada kegiatan perekonomian di Jepang.

Bahkan disebut-sebut kedisiplinan inilah yang menghantarkan Jepang menjadi salah salah satu Negara super power di dunia ini. Karena bagi Jepang waktu bukan lagi dari sekedar uang seperti yang selama ini di anut oleh paham budaya barat. Tetapi lebih mengena, waktu adalah Emas ( Time is not just money, but it’s Gold ) (The Japan Foundation, 2007:76).

Sedangkan dari cerita Komik Kyo Samurai Deeper X kita dapat mengetahui tentang sejarah, tokoh-tokoh serta klan-klan yang terdapat di Jepang pada masa restorasi Meiji seperti, Nobunaga Oda, Masamune Date, Klan Tokugawa, Klan Sanada, dsb. Karena Cerita komik yang satu ini menceritakan cerita heroik pada masa Jepang kuno. Walaupun cerita komik ini tidak secara khusus menceritakan tentang peperangan pada masa itu. Karena isi ceritanya sudah dikembangkan berdasarkan imajinasi si pengarangnya. Namun walaupun demikian dari alur komik serta setting (gambar komik) Kyo Samurai Deeper X ini kita dapat mengetahui bagaimana kehidupan Jepang pada masa itu.

Kentalnya Budaya Jepang yang disajikan dalam setiap komik-komik Jepang, menjadikan manga sebagai salah satu alat penyebaran Kebudayaan Jepang di seluruh dunia. Pemanfaatan popularitas tokoh kartun/komik sebagai duta penyampai pesan-pesan kenegaraan bisa saja dianggap sebagai langkah yang revolusioner. Selain dinilai efektif dalam diplomasi sebuah bangsa, penggunaan karakter rekaan yang akrab dengan kalangan anak itu juga sangat mengena untuk memperkenalkan budaya. Melalui media komik ini para komikus Jepang seakan-

(15)

akan berharap dapat membawa pesan kepada dunia tentang pola pikir, gaya hidup, dan impian masa depan bangsa Jepang. Dalam hal ini Jepang menggunakan Pop Culturenya sebagai salah satu ajang diplomasinya. Banyak cara unik untuk mempromosikan citra sebuah bangsa. Ada yang menonjolkan landmark mereka, ada yang menggencarkan sektor swasta, dan ada pula yang lebih suka memanfaatkan ketenaran tokoh komik.kartun. Kiat yang terakhir itu kini sedang santer terdengar dan pelopornya adalah Jepang. Di Indonesia sendiri, kebudayaan negeri kecil tersebut sampai dapat menyaingi trend barat yang sudah mengakar di Indonesia lebih dari 30 tahun lamanya. Semuanya memang seperti tidak masuk akal tapi hal itulah yang sebenarnya sedang terjadi. Sehingga tidak heran jika oleh peneliti Bangsa Jepang dianggap fenomenal dan berhasil menarik dunia akademik untuk mengkaji kebudayaannya lebih dalam.

Berdasarkan penjelasan tersebut di atas maka peneliti merasa tertarik meneliti adakah pengaruh Komik Jepang terhadap pengetahuan mahasiswa FISIP USU tentang Kebudayaan Jepang.

I.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dikemukakan perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: “Adakah pengaruh Komik Jepang terhadap pengetahuan mahasiswa FISIP USU tentang Kebudayaan Jepang?”

(16)

I.3 Pembatasan Masalah

a. Penelitian ini tidak bertujuan untuk membandingkan Kebudayaan Indonesia dengan Kebudayaan Jepang.

b. Komik Jepang yang akan diteliti adalah Komik Doraemon dan Kyo Samurai Deeper X.

c. Penelitian ini juga tidak bermaksud untuk membandingkan antara Komik Doraemon dan Kyo Samurai Deeper X

d. Responden dalam penelitian ini adalah mahasiswa FISIP USU angkatan 2003-2008.

I.4 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui apakah Komik Doraemon dan Kyo Samurai Deeper X dapat memberikan pengaruh dalam menambah pengetahuan Mahasiswa FISIP USU tentang Kebudayaan Jepang.

b. Untuk menemukan hubungan atau korelasi antara membaca Komik Jepang dengan pengetahuan mahasiswa FISIP USU tentang Kebudayaan Jepang.

1.5 Manfaat Penelitian 1. Akademis

Peneliti dapat menyumbangkan pemikiran yang berguna bagi studi Ilmu Komunikasi khususnya Komunikasi Massa tentang Komik.

(17)

2. Teoritis

Penelitian ini berguna untuk menambah pengetahuan peneliti mengenai media massa sebagai bagian dari Ilmu Komunikasi.

3. Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi Japan Foundation selaku salah satu lembaga yang menaungi hal-hal yang berhubungan dengan Jepang di Indonesia.

I.6 Kerangka Teori

Kerangka teori adalah suatu uraian yang memuat pokok-pokok pikiran yang menggambarkan dari sudut mana masalah penelitian akan disoroti (Nawawi 1995:40). Dengan adanya kerangka teoritis maka peneliti akan mempunyai landasan untuk menentukan tujuan dan arah penelitian. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teori-teori antara lain Teori Komunikasi dan Komunikasi Massa, Model S-O-R, Komik, pengertian Pengetahuan, Kebudayaan, dan Teori Budaya Populer.

I.6.1 Komunikasi dan Komunikasi Massa

Istilah Komunikasi berasal dari Bahasa Latin yaitu communicatio, yang bersumber dari kata communis yang artinya “sama” dan Communico, communication, atau communicare yang berarti “membuat sama.” Istilah yang paling sering sering disebut sebagai asal-usul kata Komunikasi yang merupakan akar dari kata-kata Latin adalah Communis (Effendy, 2003:30)

(18)

Komunikasi merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia dalam kaitannya dengan hubungan antar individu. Komunikasi merupakan sarana vital untuk mengerti diri sendiri, orang lain, dan memahami apa yang dibutuhkannya maupun apa yang dibutuhkan orang lain serta untuk mencapai pemahaman tentang dirinya dan sesama.

“Who says what in which channel to whom and with what effect?”

merupakan rumusan yang dibuat oleh Harold Laswell yang merupakan rumusan paling popular dikalangan orang-orang yang mempelajari Komunikasi dalam memberikan pengertian komunikasi. Melalui pertanyaan ini, Laswell menjabarkan lima komponen atau unsur yang ada dalam komunikasi, yaitu Siapa yang mengatakan (komunikator); Apa yang dikatakan (pesan); Media apa yang digunakan (Media); kepada Siapa pesan disampaikan (komunikan); dan dengan Akibat bagaimana yang terjadi (Efek) (Effendy, 2003:253).

Dari pengertian Laswell tersebut, media merupakan salah satu unsur yang terdapat dalam kegiatan komunikasi. Ketika kita berbicara mengenai media, maka hal yang cukup menarik untuk dibahas adalah media massa yang menjadikan komunikasi berperan sebagai penghubung sistem sosial. Dimana kegiatan ini dikenal sebagai Komunikasi Massa.

Komunikasi Massa dapat diartikan sebagai proses komunikasi yang berlangsung dimana pesannya dikirim dari sumber yang melembaga kepada khalayak yang sifatnya massal melalui alat-alat yang bersifat mekanis seperti radio, televisi, dan film (Cangara, 2002:36).

Pengertian Komunikasi Massa terutama dipengaruhi oleh kemampuan media massa untuk membuat produksi massal dan untuk menjangkau khalayak

(19)

dalam jumlah besar. Di samping itu ada pula makna lain yang dianggap makna asli dari kata massa, yakni suatu makna yang mengacu pada kolektivitas tanpa bentuk yang komponen-komponennya sulit dibedakan satu sama lain. Kamus Bahasa Inggris ringkas memberikan defenisi “massa” sebagai suatu kumpulan orang banyak yang tidak mengenal keberadaan individualitas. Defenisi ini hampir menyerupai pengertian massa yang digunakan oleh para ahli sosiologi khususnya bila dipakai dalam kaitannya dengan khalayak media.

Sedangkan dalam Saverin dan Tankard (dalam Effendy, 2005:21), menyatakan bahwa komunikasi massa adalah sebagian ketrampilan (skill), sebagian seni (art), dan sebagian ilmu (science). Maksudnya, tanpa adanya dimensi menata pesan tidak mungkin media massa dapat memikat khalayak yang pada akhirnya pesan tersebut dapat mengubah sikap, pandangan dan perilaku komunikan.

Perubahan teknologi juga sangat berpengaruh terhadap perubahan ilmu pengetahuan dan salah satunya adalah menyebabkan perubahan terhadap defenisi komunikasi massa (Saverin dan Tankard, 2007:4) sehingga menghasilkan tiga ciri:

1. Komunikasi Massa diarahkan kepada audiens yang relatif besar, heterogen dan anonim.

2. Pesan-pesan yang disebarkan secara umum, sering dijadwalkan untuk bisa mencapai sebanyak mungkin anggota audiens secara serempak dan sifatnya sementara.

3. Komunikator cenderung berada atau beroperasi dalam sebuah organisasi yang kompleks yang mungkin membutuhkna biaya yang besar.

Dari pengertian tersebut jelaslah bahwa media massa sangat diperlukan sebagai alat penyebaran isi komunikasi. Secara periodik, media massa terdiri atas

(20)

media periodik seperti surat kabar atau majalah, serta media non-periodik seperti buku termasuk di dalamnya adalah Komik.

I.6.2 Model S-O-R

Teori S-O-R merupakan singkatan dari Stimulus-Organism-Response.

Teori ini mengemukakan bahwa tingkah laku sosial dapat dimengerti mengenai suatu analisis dari stimulus yang diberikan dan dapat mempengaruhi reaksi yang spesifik dan didukung oleh hukuman maupun penghargaan sesuai dengan reaksi yang terjadi. Dengan kata lain, menurut Effendy efek yang ditimbulkan sesuai dengan teori S-O-R yang merupakan reaksi yang bersifat khusus terhadap stimulus khusus, sehingga seseorang dapat mengharapkan dan kesesuaian antara pesan dan reaksi komunikan (Effendy, 2003:254).

Prinsip teori ini pada dasarnya merupakan suatu prinsip belajar yang sederhana, dimana efek merupakan reaksi terhadap stimuli tertentu. Dengan demikian seseorang dapat mengharapkan atau memperkirakan suatu kaitan yang erat antara pesan-pesan media dan reaksi audiens. Dalam proses perubahan sikap, maka sikap komunikan hanya dapat berubah apabila stimulus yang menerpanya benar-benar melebihi dari apa yang pernah dialaminya. Prof. Dr. Mar`at dalam bukunya “Sikap Manusia, Perubahan, Serta Pengukurannya” menyatakan bahwa dalam menelaah sikap baru, ada tiga variabel penting, yaitu perhatian, pengertian, penerimaan (Effendy, 2003:255).

Berdasarkan uraian di atas, maka proses komunikasi dalam teori S-O-R ini digambarkan sebagai berikut :

(21)

Sumber : Effendy, 2003 : 255 Gambar I Model S-O-R

Gambar di atas menunjukkan bahwa perubahan sikap tergantung pada proses yang terjadi pada individu. Stimulus atau pesan yang disampaikan kepada komunikan mungkin diterima atau ditolak. Komunikasi akan berlangsung jika ada perhatian dari komunikan. Proses berikutnya komunikan mengerti.

Jika substansi teori diatas dikaitkan dengan penelitian mengenai Komik Jepang dan peranannya dalam menambah pengetahuan Mahasiswa FISIP USU tentang Kebudayaan Jepang, maka hubungannya dengan Teori S-O-R dapat dikemukakan sebagai berikut:

1. Stimulus (pesan) yang dimaksud adalah Komik Jepang Doraemon dan Kyo Samurai Deeper X.

2. Organisme (komunikan) yang menjadi sasaran adalah pembaca Komik Jepang Doraemon dan Kyo Samurai Deeper X yang dalam penelitian ini adalah Mahasiswa FISIP USU.

Organism :

- perhatian - pengertian - penerimaan

Response Stimulus

(22)

3. Response (efek) yang dimaksud adalah meningkatnya pengetahuan mahasiswa tentang Kebudayaan Jepang.

I.6.3 Komik

Secara umum, sebuah komik tidak lepas dari tampilan gambar-gambar dan lambang-lambang yang berurutan. Istilah gambar merupakan bagian seni visual yang dapat dilihat oleh mata. Lebih lanjut, seni visual harus dapat memberikan cerita yang berurutan. Sehingga dapat dikatakan bahwa komik merupakan media massa yang terdiri atas gambar-gambar yang bercerita. Sehingga komik bisa disajikan tanpa deretan kalimat yang panjang. Dimana, penyajiannya tergantung pada bagaimana komikus ingin menyampaikan cerita kepada pembacanya (Susiani, 2006:1-2).

Selama ini secara umum “komik” diartikan sebagai cerita bergambar yang bersifat lucu dan gampang untuk dipahami yang terdapat dalam majalah, surat kabar, juga buku. Namun, dewasa ini tidak semua cerita komik itu bersifat lucu terutama komik-komik yang alurnya menampilkan cerita-cerita serius.

Komik Jepang atau yang lebih dikenal dengan istilah Manga, adalah jenis komik yang menggunakan tipe gambar yang sederhana dan lebih dapat diterima serta digemari oleh anak-anak. Komik dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu comic strip yang merupakan jenis komik bersambung yang biasanya dapat kita temukan di surat-surat kabar maupun majalah dan comic books yang berisikan kumpulan cerita bergambar yang terdiri dari satu ataupun lebih judul dan tema cerita. Di Indonesia kita mengenalnya sebagai komik atau buku komik.

(23)

Menilik sejarah komik di Indonesia, ternyata sejak tahun 1930 di Indonesia sudah dikenal komik strip yang dimuat dalam surat kabar Sin Po.

Namun, sekitar tahun 80-an perkembangan komik di Indonesia sempat mengalami mati suri dan barulah bangkit kembali di sekitar tahun 90-an tahun dimana masuk dan diperkenalkannya komik Doraemon di Indonesia untuk pertama kalinya.

Sayangnya, komik-komik yang berkembang saat ini justru kebanyakan mengadopsi gaya “Manga”(Komik Jepang).

Sementara itu di Jepang sendiri sejarah komik itu dimulai pada akhir abad ke-19, ketika surat kabar memuat kartun mula-mula dengan satu gambar lalu kemudian banyak gambar yang bertujuan untuk menyindir maupun mengolok- olok ataupun juga untuk sekedar humor. Komik Jepang menjadi sangat populer disebabkan karena Komik Jepang memiliki keunikan dibanding komik-komik dari Negara lain. Dimana artworknya dibuat sangat sederhana. Ceritanya pun sarat dengan unsur kebudayaan. Pertama, karakter Komik Jepang yang mengeksploitasi imajinasi-imajinasi. Komik-komik Jepang membawa nilai-nilai perlawanan terhadap kenyataan (imajinasi) yang telah ada seperti Komik Doraemon dimana manusia (Nobita) yang bersahabat dengan robot dari masa depan yang berbentuk rubah yang dapat berbicara bahkan mampu mengeluarkan benda-benda ajaib dari kantong ajaibnya yang kecil untuk menolong Nobita jika berada dalam kesulitan. Kedua, gambar-gambar yang disajikan dalam Komik Jepang juga dinilai lebih halus dan lebih indah dibandingkan komik-komik lainnya. Bahkan saat ini telah timbul Budaya Cosplay (Costume Player, yaitu kegiatan meniru tokoh-tokoh komik atau kartun Jepang). Tidak hanya itu, perkembangan komik Indonesia pada saat ini pelan-pelan juga mulai bergerak ikut

(24)

terpengaruh dengan Manga (Komik Jepang). Ketiga, adanya kebebasan pengarang untuk berekspresi dalam komik. Ceritanya pun sarat dengan unsur kebudayaan.

Para komikus Jepang memang sepertinya selalu berusaha menampilkan sejarah maupun kebudayaan Jepang dalam setiap alur cerita yang mereka buat yang dikemas dengan sangat menarik oleh mereka. Sehingga tidak heran melalui komik-komik Jepang kita tidak hanya sekadar mendapat hiburan tetapi juga secara tidak langsung memahami Kebudayaan Jepang itu seperti apa. Kentalnya budaya Jepang yang disajikan dalam setiap komik-komik Jepang, menjadikan manga sebagai salah satu alat penyebaran Kebudayaan Jepang di seluruh dunia.

I.6.4 Pengertian Pengetahuan

Semua peristiwa komunikasi yang dilakukan secara terencana memiliki tujuan yakni, untuk mempengaruhi khalayak atau penerima. Pengaruh atau efek itu merupakan perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan.

Salah satu efek yang diharapkan dari sebuah proses komunikasi adalah menambahnya pengetahuan komunikan atau penerima informasi. Menambah pengetahuan komunikan biasanya merupakan target antara dari sebuah komunikasi oleh komunikator karena pada dasarnya mereka mengharapkan suatu tindakan yang akan dilakukan oleh komunikan setelah memperoleh informasi tersebut.

Pengetahuan ialah semua yang diketahui (Sobur, 2003:36 ). Sedangkan Partap Sing Mehra dan Jazir Burhan dalam buku mereka, Pengantar Logika Tradisional mengemukakan, “Pengetahuan adalah suatu sistem gagasan yang

(25)

bersesuaian dengan sistem benda-benda lain dan dihubungkan dengan keyakinan (Sobur, 2003:36 ). ”Pengetahuan pada hakikatnya merupakan segala sesuatu yang diketahui individu mengenai suatu bidang tertentu. Dengan pengetahuan manusia diharapkan dapat menjawab kesulitan ataupun persoalan yang ada dalam hidupnya. Bahkan dapat mengadakan penemuan-penemuan baru dalam di segala bidang kehidupan.

Secara umum pengetahuan manusia itu bersifat diagonal. Dimana manusia menerima pengaruh dari lingkungannya. Kemudian manusia berusaha untuk memahami dan mengungkapkannya. Lalu manusia memberikan makna kepada pengaruh itu.

Sesuai dengan hakekatnya pengetahuan manusia dibedakan menjadi :

• Pengetahuan Inderawi, yaitu pengetahuan yang dimiliki manusia melalui kemampuan inderanya. Pengetahuan ini disebabkan oleh adanya perbedaan antara indera yang satu dengan indera yang lain. Karena itu indera ini bersifat parsial. Pengetahuan ini sangat penting karena bertindak sebagai pintu gerbang untuk menuju pengetahuan yang lebih utuh.

• Pengetahuan Naluri, merupakan pengetahuan yang berdaya khas yang dimiliki manusia. Seperti terlihat dalam persepsi yang disertai emosi spontan misalnya: rasa takut, kegembiraan, kesedihan, dsb.

• Pengetahuan Rasional, yakni pengetahuan yang bersifat lebih tinggi dan khas yang dimiliki oleh manusia. Pengetahuan ini dicirikan oleh kesadaran akan suatu hal dalam keputusan dan tidak terbatas pada kepekaan indera tertentu. Pengetahuan ini memiliki dua tingkatan yaitu:

(26)

- Pengetahuan Biasa, yaitu pengetahuan yang diperoleh tanpa usaha khusus. Pengetahuan ini diperoleh dari pergaulan normal dengan lingkungan.

- Pengetahuan Ilmiah, yaitu pengetahuan yang terorganisasi dengan sistem dan metode berusaha untuk mencari hubungan-hubungan tetap diantara gejala-gejala (Burhannudin, 1995:7-8).

I.6.5 Kebudayaan

Kebudayaan seperti yang didefenisikan Geertz adalah “an historically transmitted pattern of meanings embodied in symbols, a system of inherited conceptions expressed in symbolic form by means of which men communicate, perpetuate, and develop their knowledge about and attitudes towards life,” atau intinya kebudayaan adalah sebuah sistem aturan untuk menghadapi realitas yang berada di benak kita dan wujudnya berupa simbol-simbol (The Japan Foundation, 2007:130-131). Menurut Oxford Dictionary (1993) Budaya adalah seni dan semua hasil prestasi intelektual manusia yang dilakukan secara kolektif (Oxford Dictionary 1993 dalam Dayakisni & Sulis Yuniardi, 2004:6 )

Budaya menyentuh semua aspek hidup dan kehidupan. Beberapa dari aspek tersebut merujuk pada hal yang material sifatnya, seperti: makanan dan pakaian. Beberapa yang lain merujuk pada hal yang bersifat sosial kemasyarakatan dan strukturnya seperti : organisasi pemerintahan dan struktur pemerintahan. Yang lain merujuk pada perilaku individu beberapa pada aktifitas organisasi semacam religi atau ilmu pengetahuan yang lainnya merujuk pada hal reproduksi (Dayakisni & Sulis Yuniardi, 2004:6).

(27)

I.6.6 Teori Budaya Populer

Pop Culture atau Budaya Populer atau bisa juga disebut dengan Budaya Massa merupakan sebuah hasil produksi dari Industri Budaya (Culture Industry) yang proses produksinya pun didasarkan pada mekanisme kekuasaan sang produser (Baca: Kapitalis) dalam bentuk penentuan gaya dan maknanya.

Singkatnya, Pop Culture merupakan kategori kebudayaan yang diciptakan untuk massa yang luas, sehingga cenderung menghasilkan budaya massa yang berselera rendah, cenderung tidak memiliki akar yang kuat pada nilai-nilai (values) luhur suatu kebudayaan, serta secara instrinsik dangkal (The Japan Foundation, 2007:141).

Budaya populer atau Pop Culture dapat dianggap sebagai suatu bentuk pengomandoan konsumer dari atas oleh beberapa elit saja yang ingin mengkonstruksi cara berpikir kita. Pada umumnya merupakan budaya massa rendahan.

I.7 Kerangka Konsep

Teori-teori yang dijadikan landasan pada kerangka teori harus dapat menghasilkan beberapa konsep yang disebut dengan kerngka konsep. Menurut Nawawi (1995 : 401) kerangka konsep merupakan hasil pemikiran rasional yang bersifat kritis dalam memperkirakan kemungkinan hasil penelitian yang akan dicapai. Agar konsep-konsep dapat diteliti secara empiris, maka harus dioperasionalkan dengan mengubahnya menjadi variabel.

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

(28)

1. Variabel Bebas (X)

Variabel bebas adalah segala gejala, faktor atau unsur yang menentukan atau mempengaruhi munculnya variabel kedua yang disebut variabel terikat. Tanpa variabel ini maka variabel berubah sehingga akan muncul menjadi variabel terikat yang berbeda atau yang lain atau bahkan sama sekali tidak ada yang muncul (Nawawi, 1995:57). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Komik Jepang.

2. Variabel Terikat (Y)

Variabel terikat adalah sejumlah gejala atau faktor maupun unsur yang ada atau muncul dipengaruhi atau ditentukan oleh adanya variabel bebas dan bukan karena adanya variabel lain (Nawawi, 1995:57). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah tingkat pengetahuan Mahasiswa FISIP USU tentang Kebudayaan Jepang.

3. Karakteristik Responden

Karakteristik / ciri-ciri yang dimiliki oleh individu yang membedakannya dengan individu yang lain.

I.8 Model Teoritis

Berdasarkan variabel-variabel yang telah dikelompokkan dalam kerangka konsep akan dibentuk menjadi suatu model teoitis sebagai berikut :

(29)

Komik Doraemon dan Kyo Samurai Deeper x

Variabel bebas (X)

Tingkat Pengetahuan Mahasiswa FISIP USU tentang Kebudayaan Jepang..

Variabel TerikatY)

Karakteristik Responden

I.9 Operasional Variabel

Berdasarkan kerangka teori dan kerangka konsep di atas maka dibuat operasional variabel yang berfungsi untuk kesamaan dan kesesuaian dalam penelitian yaitu sebagai berikut :

Variabel Teoritis Variabel Operasional Variabel Bebas (X)

Komik Doraemon dan Kyo Samurai Deeper X

1. Intensitas membaca 2. Karakter tokoh 3. Isi pesan

4. Gaya penyampaian pesan Variabel Terikat (Y)

Tingkat pengetahuan Mahasiswa FISIP USU tentang Kebudayaan Jepang

1. Pengetahuan Inderawi 2. Pengetahuan Naluri 3. Pengetahuan Rasional

Karakteristik Responden

1. Jenis Kelamin 2. Uang saku 3. Departemen 4. Stambuk

(30)

I.10 Defenisi Operasional

Untuk menghindari pengertian yang meluas pada variabel yang telah di operasionalkan, maka disusun defenisi batasan terhadap hal-hal yang akan dijadikan pembahasan dalam penelitian, yaitu :

a. Variabel Bebas (X)

- Intensitas membaca : Intensitas membaca responden.

- Karakter tokoh komik : Karakter tokoh dalam komik

- Isi pesan : Stimulus atau rangsangan yang diberikan suatu sumber akan direspon dengan cara tertentu oleh oleh pihak penerimanya.

- Gaya penyampaian pesan : Cara pengarang dalam menyampaikan materi pesan, menarik atau tidak.

b. Variabel Terikat (Y)

- Pengetahuan Inderawi : Pengetahuan yang dimiliki manusia melalui kemampuan inderanya. Disebabkan oleh adanya perbedaan antara indera yang satu dengan indera yang lain.

- Pengetahuan Naluri : Pengetahuan yang berdaya khas yang dimiliki manusia. Seperti terlihat dalam persepsi yang diesrtai emosi spontan.

- Pengetahuan Rasional : Pengetahuan yang bersifat lebih tinggi dan khas yang dimiliki oleh manusia.

Pengetahuan ini dicirikan oleh kesadaran

(31)

akan suatu hal dalam keputusan dan tidak terbatas pada kepekaan indera tertentu.

c. Karakteristik Responden

- Jenis kelamin : Jenis kelamin responden pria/wanita

- Uang saku : Uang yang diperoleh mahasiswa setiap bulannya.

- Departemen : Departemen dimana responden menuntut ilmu.

- Stambuk : Tahun dimana mahasiswa terdaftar sebagai mahasiswa di FISIP USU.

I.11 Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah :

H0 : “Tidak ada pengaruh membaca Komik Doraemon dan Kyo Samurai Deeper X terhadap pengetahuan Mahasiswa FISIP USU tentang Kebudayaan Jepang.”

Ho : “Ada pengaruh membaca Komik Doraemon dan Kyo Samurai Deeper X terhadap pengetahuan Mahasiswa FISIP USU tentang Kebudayaan Jepang.”

(32)

BAB II

URAIAN TEORITIS

II.1 Komunikasi dan Komunikasi Massa II.1.1 Pengertian Komunikasi

Sebagai makhluk sosial manusia senantiasa ingin berhubungan dengan manusia lainnya. Ia ingin mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan ingin mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya. Rasa ingin tahu ini memaksa manusia perlu berkomunikasi. Komunikasi adalah suatu kebutuhan yang sangat fundamental bagi seseorang dalam hidup bermasyarakat.

Menurut Harold Lasswel Komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu. Proses komunikasi pada hakekatnya adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Pikiran bisa merupakan gagasan, informasi, opini, dan lain-lain yang muncul dari benaknya. Perasaan bisa berupa keyakinan, kepastian keragu-raguan, kekhawatiran, kemarahan, keberanian, kegairahan, dan sebagainya yang timbul dari lubuk hati (Effendy, 2003:10-11).

Proses komunikasi terbagi menjadi dua tahap yakni secara primer dan secara sekunder. Secara primer, proses komunikasi adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya yang secara langsung mampu “menerjemahkan” pikiran dan atau perasaan komunikator

(33)

kepada komunikan. Sedangkan secara sekunder, proses komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. Surat, telepon, teleks, surat kabar, majalah, radio, televisi, film, dan banyak lagi termasuk di dalamnya buku komik adalah media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi.

Sedangkan menurut William F. Glueck, komunikasi dapat dibagi dalam dua bagian utama, yakni :

1. Interpersonal Communication atau komunikasi antar pribadi, yaitu proses pertukaran informasi serta pemindahan pengertian antara dua orang atau lebih di dalam suatu kelompok kecil.

2. Organizational Communication, yaitu dimana pembicara secara sistematis memberikan informasi dan memindahkan pengertian kepada orang banyak di dalam organisasi dan kepada pribadi-pribadi yang di luar lembaga yang ada hubungan (Widjaja, 1986 : 8).

Sekelompok sarjana komunikasi yang mengkhususkan diri pada studi komunikasi antar manusia (Human Communication) mengutarakan bahwa komunikasi adalah suatu transaksi, proses simbolik yang menghendaki orang- orang mengatur lingkungannya dengan (1) membangun hubungan antar sesama manusia (2) melalui pertukaran informasi (3) untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain (4) serta berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu (Cangara, 2002:19 ).

(34)

Menurut John R. Schermerhon cs mengatakan bahwa komunikasi itu dapat diartikan sebagai proses antar pribadi dalam mengirim dan menerima simbol- simbol yang berarti bagi kepentingan mereka (Widjaja, 1986:8). Sementara menurut Shannon dan Weaver bahwa komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling pengaruh mempengaruhi satu sama lainnya, sengaja atau tidak sengaja. Tidak terbatas pada bentuk komunikasi menggunakan bahasa verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni, dan teknologi. Karena itu jika seseorang berada dalam situasi berkomunikasi, maka terdapat adanya beberapa kesamaan dengan orang lain seperti, kesamaan bahasa atau kesamaan arti dari simbol-simbol yang digunakan dalam berkomunikasi.

Adapun fungsi dari komunikasi, adalah sebagai berikut:

a. Menyampaikan informasi (to inform) b. Mendidik (to educate)

c. Menghibur (to entertain) d. Mempengaruhi (to influence)

Adapun tujuan dari komunikasi, adalah sebagai berikut:

a. Perubahan sikap (attitude change) b. Perubahan pendapat (opinion change) c. Perubahan perilaku (behavior change)

d. Perubahan sosial (social change) (Effendy, 2003: 8)

II.1.2 Pengertian Komunikasi Massa

Pada dasarnya komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa (media cetak dan elektronik). Konsep komunikasi massa itu sendiri pada satu sisi

(35)

mengandung pengertian suatu proses dimana organisai media memproduksi dan menyebarkan pesan kepada publik secara luas dan pada sisi lain merupakan proses dimana pesan tersebut dicari digunakan dan dikonsumsi oleh audience (Sendjaja, 2002:21).

Komunikasi Massa menurut Werner L. saverin dan James W. Tankard, Jr adalah sebagian ketrampilan, sebagian seni, dan sebagian ilmu. Ketrampilan dalam pengertian meliputi teknik-teknik fundamental tertentu yang dapat dipelajari seperti memfokuskan kamera televisi, mengoperasikan tape recorder atau mencatat ketika berwawancara. Seni dalam pengertian bahwa tantangan- tantangan kreatif seperti menulis skrip untuk program televisi, mengembangkan tata letak yang estetis untuk iklan majalah, atau menampilkan teras berita yang memikat bagi sebuah kisah berita. Ilmu dalam pengertian meliputi prinsip-prinsip tertentu tentang bagaimana berlangsungnya komunikasi yang dapat dikukuhkan dan dipergunakan untuk membuat berbagai hal menjadi lebih baik.

Joseph A. Devito mengemukakan komunikasi massa sebagai berikut:

pertama, komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa, kepada khalayak yang luar biasa banyaknya. Ini tidak berarti bahwa khalayak meliputi seluruh penduduk atau semua orang yang membaca atau semua orang yang menonton televisi, Ini berarti bahwa khalayak itu besar dan pada umumnya agak sukar didefenisikan. Kedua, komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan oelh pemancar-pemancar yang audio atau yang visual. Komunikasi massa barangkali lebih muda dan logis apabila didefenisikan menurut bentuknya:

televisi, radio, surat kabar, film, buku, dan pita.

(36)

Defenisi paling sederhana tentang komunikasi massa dirumuskan Bittner (1980), yaitu komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa komunikasi itu harus menggunakan media massa. Banyak definisi dari komunikasi massa yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli komunikasi.

Tetapi, dari sekian banyak definisi itu ada benang merah kesamaan definisi satu sama lain. Melalui definisi itu dapat disimpulkan karakteristik dari komunikasi massa, yaitu ;

1. Komunikasi massa berlangsung satu arah

Komunikasi massa berlangsung satu arah berarti bahwa tidak terdapat arus balik dari komunikan kepada komunikator. Dengan kata lain, seorang komunikator tidak dapat mengetahui tanggapan khalayak yang dijadikan sasarannya yang dimaksud “tidak mengetahui” dalam arti tidak mengetahui pada waktu proses komunikasi itu berlangsung.

Mungkin komunikator dapat mengetahuinya namun setelah proses komunikasi selesai. Oleh karena itu, arus balik seperti itu dinamakan arus balik tertunda (delay feedback). Kalaupun terjadi arus balik seperti itu, maka terjadinya jarang sekali.

Dalam situasi komunikasi seperti ini, komunikator pada komunikasi massa harus melakukan perencanaan dan persiapan sedemikian rupa sehingga pesan yang disampaikannya kepada komunikan harus komunikatif dalam arti dapat diterima secara inderawi (received) dan secara rohani (accepted) pada satu penyampaian. Dengan demikian pesan komunikasi selain harus jelas

(37)

dapat dibaca (jika salurannya media cetak) dan jelas dapat di dengar (jika salurannya media elektronik) juga dapat dipahami maknanya seraya tidak bertentangan dengan kebudayaan komunikan yang menjadi sasaran komunikasi.

2. Komunikator pada komunikasi massa melembaga

Media massa sebagai saluran komunikasi massa merupakan lembaga, yakni suatu institusi atau organisasi. Oleh karena itu, komunikatornya melembaga (institutionalized communicator /organized communicator). Komunikator pada komunikasi massa dalam menyebarluaskan pesan komunikasinya bertindak atas nama lembaga, sejalan dengan kebijakan (policy) surat kabar dan stasiun televisi yang diwakilinya. Komunikator tidak mempunyai kebebasan individual.

Sesuai sifat komunikator yang melembaga ini, perannya dalam proses komunikasi ditunjang oleh orang-orang lain. Kemunculannya di dalam media komunikasi tidak sendirian, tetapi bersama orang lain.

Oleh karena itu, komunikator pada komunikasi massa dinamakan juga komunikator kolektif (collective communicator) karena tersebarnya pesan komunikasi massa merupakan hasil kerjasama sejumlah kerabat kerja. Karena sifatnya kolektif, maka komunikator yang terdiri atas sejumlah kerabat kerja itu mutlak harus mempunyai ketrampilan yang tinggi dalam bidangnya masing-masing. Dengan demikian

(38)

komunikator sekunder sebagai kelanjutan dari komunikasi primer itu akan berjalan sempurna.

3. Pesan pada komunikasi massa bersifat umum

Pesan yang disebarkan melalui media massa bersifat umum (public) karena ditujukan kepada umum dan mengenai kepentingan umum. Jadi tidak ditujukan kepada perseorangan atau kepada kelompok orang tertentu. Hal inilah yang membedakan media massa dengan media nirmassa. Surat, telepon, telegram, dan teleks merupakan contoh dari media nirmassa bukan media massa. Karena ditujukan kepada orang tertentu. Demikian pulalah majalah organisasi, surat kabar kampus, radio telegrafi atau radio citizen band, film dokumenter dan televisi siaran sekitar (closed circuit television) bukanlah media massa, melainkan media nirmassa karena ditujukan kepada masyarakat umum dan pesan-pesan yang disebarkannya menngenai kepentingan umum.

4. Media komunikasi menimbulkan keserempakan

Ciri lain dari media massa adalah kemampuannya untuk menimbulkan keserempakan (simultaneity) pada pihak khalayak dalam menerima pesan-pesan yang disebarkan. Hal inilah yang merupakan ciri yang paling hakiki dibandingkan dengan media komunikasi lainnya.

(39)

5. Komunikan komunikasi massa bersifat heterogen

Komunikan atau khalayak merupakan kumpulan anggota masyarakat yang terlibat dalam proses komunikasi massa sebagai sasaran yang dituju komunikator bersifat heterogen. Dalam keberadannya secara terpencar-pencar, dimana satu sama lainnya tidak saling mengenal dan tidak memiliki kontak pribadi, masing-masing berbeda dalam berbagai hal seperti, jenis kelamin, usia, agama, ideologi, pekerjaan, pendidikan, pengalaman, kebudayaan, pandangan hidup, keinginan, cita-cita, dan sebagainya. Heterogenitas khalayak seperti itulah yang menjadi kesulitan seorang komunikator dalam menyebarkan pesannya melalui media massa karena setiap individu dari khalayak itu menghendaki agar keinginannya dipenuhi. Bagi para pengelola media massa adalah suatu hal tidak mungkin untuk memenuhinya. Satu-satunya cara untuk dapat mendekati keinginan seluruh khalayak sepenuhnya ialah dengan mengelompokkan mereka menurut jenis kelamin, usia, agama, pekerjaan, pendidikan, kebudayaan, kesenangan (hobi), dan lain-lainnya berdasarkan perbedaan sebagaimana dikemukakan di atas (Effendy, 2003:20-25).

Sementara itu menurut Drs. A.W. Widjaja dalam bukunya Komunikasi dan Hubungan Masyarakat mengemukakan bahwa. “Komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa atau komunikasi yang menggunakan media massa.” Massa disini adalah kumpulan orang-orang yang hubungan antar sosialnya tidak jelas dan tidak mempunyai struktur tertentu. Komunikasi massa sangat efisien karena dapat menjangkau daerah yang luas dan pendengar yang

(40)

praktis tidak terbatas. Namun komunikasi massa kurang efektif dalam pembentukan sikap personal karena komunikasi massa tidak dapat langsung diterima oleh massa tetapi melalui opinion leader (Widjaja, 1993:19).

Dalam bukunya Dinamika Komunikasi, Onong U. Effendy menyebutkan bahwa komunikasi massa adalah komunikasi dengan menggunakan media massa yakni pers, film, radio, dan televisi. Ciri dari komunikasi massa adalah menyebarkan informasi, mendidik, dan menghibur. Ketiga fungsi tersebut mencakup juga mempengaruhi, membimbing, mengkritik, dan sebagainya (Effendy, 2003:61).

Menurut Wright (1959) dalam buku Teori Komunikasi (Saverin, 2007:4), perubahan teknologi baru menyebabkan perubahan dalam defenisi komunikasi yang mempunyai tiga ciri yaitu:

1. Komunikasi massa diarahkan kepada audiens yang relatif besar, heterogen dan anonim.

2. Pesan-pesan yang disebarkan secara umum, sering dijadwalkan untuk bisa mencapai sebanyak mungkin anggota audiens secara serempak dan sifatnya sementara.

3. Komunikator cenderung berada atau beroperasi dalam sebuah organisasi yang kompleks yang mungkin membutuhkan biaya yang besar.

Adapun fungsi komunikasi media massa sebagai bagian dari komunikasi massa terdiri atas:

1. Fungsi Pengawasan

Berupa peringatan dan kontrol sosial maupun kegiatan persuasif.

Pengawasan dan kontrol sosial dapat dilakukan untuk aktivitas preventif untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Fungsi persuasif sebagai upaya memberi reward dan punishment

(41)

2. Fungsi Sosial Learning

Melakukan guiding dan pendidikan sosial kepada seluruh masyarakat. Media massa bertugas untuk memberikan pencerahan- pecerahan kepada masyarakat dimana komunikasi massa itu berlangsung.

3. Fungsi Penyampaian Informasi

Yaitu menjadi proses penyampaian informasi kepada masyarakat luas yang memungkinkan informasi dari sebuah institusi publik tersampaikan kepada masyarakat secara luas dalam waktu cepat.

4. Fungsi Transformasi Budaya

Komunikasi massa menjadi proses transformasi budaya yang dilakukan bersama-sama oleh semua komponen komunikasi massa, terutama yang didukung oleh media massa.

5. Hiburan

Komunikasi massa juga digunakan sebagai medium hiburan, terutama karena komunikasi massa menggunakan media massa, jadi fungsi-fungsi hiburan yang ada pada media massa juga merupakan bagian dari fungsi komunikasi massa.

Adapun efek komunikasi massa oleh Lavidge dan Steiner (1961), terdiri atas enam langkah yang dikelompokkan dalam tiga dimensi atau kategori-kategori berikut: kognitif, afektif, dan konatif. Kognitif berhubungan dengan pengetahuan kita tentang segala sesuatu, afektif berhubungan dengan sikap kita terhadap sesuatu dan konatif berhubungan dengan tingkah laku kita terhadap sesuatu (Saverin, 2007:16).

(42)

Ii.2 Model S-O-R

Prinsip Teori S-O-R pada dasrnya merupakan suatu prinsip belajar yang sederhana. Dimana efek merupakan reaksi terhadap stimuli tertentu. Dengan demikian seseorang dapat mengharapkan atau memperkirakan suatu kaitan erat antara pesan-pesan media dan audiens. Elemen-elemen utama dari teori ini adalah:

(a). Pesan (stimulus); (b). Seorang penerima/receiver (organism); dan (c). Efek (respons).

Berdasarkan uraian di atas, maka proses komunikasi dalam teori S-O-R ini digambarkan sebagai berikut :

Prinsip teori ini merupakan dasar dari Teori Jarum Hipodermik, teori klasik mengenai proses terjadinya efek media massa yang sangat berpengaruh.

Dalam teori ini isi media dipandang sebagai obat yang disuntikkan ke dalam pembuluh darah audiens yang kemudian diasumsikan akan bereaksi seperti yang diharapkan. Di balik konsepsi ini sesungguhnya terdapat dua pemikiran yang mendasarinya:

Organism :

- perhatian - pengertian - penerimaan

Response Stimulus

(43)

1. Gambaran mengenai suatu masyarakat modern yang merupakan agregasi dari individu-individu yang relative terisolasi yang bertindak berdasarkan kepentingan pribadinya yang tidak terlalu terpengaruh oleh kendala dan ikatan sosial.

2. Suatu pandangan yang dominan mengenai media massa yang seolah- olah sedang melakukan kampanye untuk memobilisasi perilaku sesuai dengan tujuan dari berbagai kekuatan yang ada dalam masyarakat.

Dari pemikiran tersebut kemudian dikenal apa yang disebut dengan

“masyarakat massa”. Dimana prinsip teori ini mengasumsikan bahwa pesan dipersiapkan dan didistribusikan secara sistematik dan dalam skala yang luas.

Penggunaan teknologi untuk reproduksi dan distribusi diharapkan dapat memaksimalkan jumlah penerimaan dan respon oleh audiens. Selain itu diasumsikan pula bahwa terpaan pesan-pesan media dalam tingkat tertentu akan menghasilkan efek. Jadi kontak dengan media cenderung diartikan dengan adanya pengaruh tertentu dari media. Sedangkan individu yang tidak terjangkau oleh terpaan media tidak akan terpengaruh.

Sehingga jika substansi teori diatas dikaitkan dengan penelitian mengenai Komik Jepang dan peranannya dalam menambah pengetahuan Mahasiswa FISIP USU tentang Kebudayaan Jepang, maka hubungannya dengan Teori S-O-R dapat dikemukakan sebagai berikut:

1. Stimulus (pesan) yang dimaksud adalah Komik Jepang Doraemon dan Kyo Samurai Deeper X.

(44)

2. Organisme (komunikan) yang menjadi sasaran adalah pembaca Komik Jepang Doraemon dan Kyo Samurai Deeper X yang dalam penelitian ini adalah Mahasiswa FISIP USU.

3. Response (efek) yang dimaksud adalah meningkatnya pengetahuan Mahasiswa tentang Kebudayaan Jepang.

II.3 Komik

Para komunikolog umumnya merasa yakin bahwa akar dari ideologi tradisional jurnalis terletak pada media. Jika media menampilkan diri sesuai dengan peran yang diharapkan, dinamika masyarakat akan terbentuk. Mengapa, karena media sendiri adalah pesan (demikian Mc.Luhan, medium is a message).

Persoalannya sekarang adalah untuk mencapai khalayak perlu diperhitungkan kemampuan media untuk mengcover semua kepantingan pangsa khalayak sasaran.

Ada beberapa jenis media massa, yaitu media yang berorientasi pada aspek : (1) penglihatan (verbal visual), misalnya media cetak; (2) pendengaran (audio) semata-mata (radio, tape recorder), verbal vokal; dan (3) pada pendengaran dan penglihatan (televisi, Film, video) yang bersifat visual lokal (Liliweri, 2001:307).

Marshall Mc.Luhan mengembangkan model inovatif untuk membantu menjelaskan tentang media massa. Dalam pemikiran Mc.Luhan buku, majalah, dan surat kabar adalah media yang panas (hot media) karena membutuhkan tingkat berpikir yang tinggi untuk menggunakannya. Misalnya, untuk membaca sebuah buku, seseorang harus membenamkan dirinya untuk memperoleh apa saja dari buku tersebut. Hubungan antara media dan pembaca sangat erat. Hal ini juga sama dengan majalah, surat kabar, juga komik (Vivian, 1997:9).

(45)

Komik adalah suatu bentuk seni yang menggunakan gambar-gambar tidak bergerak yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk jalinan cerita.

Biasanya, komik dicetak di atas kertas dan dilengkapi dengan teks. Komik dapat diterbitkan dalam berbagai bentuk, mulai dari strip dalam koran, dimuat dalam majalah, hingga berbentuk buku tersendiri. Di tahun 1996, Will Eisner menerbitkan buku Graphic Storytelling, dimana ia mendefinisikan komik sebagai

"tatanan gambar dan balon kata yang berurutan dalam sebuah buku komik."

Sebelumnya di tahun 1986, dalam buku Comics and Sequential Art, Eisner mendefinisikan etnis dan struktur komik sebagai sequential art, yaitu "susunan gambar dan kata-kata untuk menceritakan sesuatu atau mendramatisasi suatu ide"

(www.wikipedia.com/search/komik).

Para ahli masih belum sependapat mengenai definisi komik. Sebagian diantaranya berpendapat bahwa bentuk cetaknya perlu ditekankan, yang lain lebih mementingkan kesinambungan image dan teks, dan sebagian lain lebih menekankan sifat kesinambungannya (sequential). Definisi komik sendiri sangat supel karena itu berkembanglah berbagai istilah baru seperti:

- Picture stories - Rodolphe Topffer (1845)

- Pictorial narratives - Frans Masereel and Lynd Ward (1930s) - Picture novella - dengan nama samaran Drake Waller (1950s).

- Illustories - Charles Biro (1950s) - Picto-fiction - Bill Gaine (1950s)

- Sequential art (graphic novel) - Will Eisner (1978) - Nouvelle manga - Frederic Boilet (2001)

(www.wikipedia.com/search/komik).

(46)

Untuk lingkup nusantara, terdapat sebutan tersendiri untuk komik seperti diungkapkan oleh pengamat budaya Arswendo Atmowiloto (1986) yaitu cerita bergambar atau disingkat menjadi cergam yang dicetuskan oleh seorang komikus Medan bernama Zam Nuldyn sekitar tahun 1970. Sementara itu Dr. Seno Gumira Ajidarma (2002), jurnalis dan pengamat komik, mengemukakan bahwa komikus Teguh Santosa dalam komik Mat Romeo (1971) mengiklankannya dengan kata- kata "disadjikan setjara filmis dan kolosal" yang sangat relevan dengan novel bergambar (www.wikipedia.com/search/komik).

Manga adalah istilah yang digunakan untuk menyebut komik Jepang. Kata

"manga" digunakan pertama kali oleh seorang seniman bernama Hokusai dan berasal dari dua huruf Cina yang artinya kira-kira gambar manusia untuk menceritakan sesuatu. Pada akhir abad 18, manga mulai muncul untuk pertama kalinya. Buku komik yang pertama muncul adalah Kibyoushi yang berisikan cerita dengan gambar beserta narasi dan dialog di sebelah/mengelilinginya. Tema yang diangkat pun bermacam-macam. Pada akhir abad 19, Jepang secara cepat menyerap budaya, pengetahuan dan teknologi Barat, sehingga Kibyoushi tergeser keberadaannya (http://exelfegf.blogspot.com/). Komik dan Manga pada dasarnya memiliki pengertian yang sama. Karena pada dasarnya kedua kata tersebut (Manga dan Komik) adalah sama-sama untuk merujuk arti kepada buku komik, perbedaan yang paling jelas antara sebutan untuk manga dan komik tersebut adalah untuk pembedaan pengelompokan, di mana manga lebih terfokus kepada komik-komik Jepang (kadang juga termasuk Asia), dan komik lebih kepada komik-komik buatan Eropa/Barat. Namun keduanya memiliki arti/maksud yang sama atau sebenarnya tidak ada perbedaan.

(47)

1. Komik sebagai Media Komunikasi

Komik merupakan media komunikasi yang penting. Bila ditinjau dari proses komunikasinya, maka akan ditemukan sebuah konteks komunikasi yang lebih khusus -yaitu komunikasi sebagai proses transaksi. Menurut Judy C. Pearson

& Paul E. Nelson (dalam [email protected]), komunikasi adalah proses memahami dan berbagi makna. Makna sendiri memiliki makna yang simpang siur. Umberto Eco yang dicuplik dari buku Kosa Semiotika menjelaskan secara terminologis semiotik dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa seluruh kebudayaan sebagai tanda (Eco, 1979 dalam Sobur, 2003:95) atau dapat dikatakan bahwa makna dari sebuah wahana tanda adalah satuan kultural yang diperagakan oleh wahana-wahana tanda yang lainnya dengan begitu secara semantik mempertunjukkan pula ketidaktergantungannya pada wahana tanda sebelumnya (http://exelfegf.blogspot.com).

Dalam komunikasi transaksional, proses pengamatan hanya atas aspek tertentu saja, misalnya pesan verbal saja atau pesan non verbal saja. Komunikasi ini tidak mengisyaratkan bahwa pihak-pihak yang berkomunikasi berada dalam keadaan interdependensi atau timbal balik. Selain itu, eksistensi satu pihak ditentukan oleh eksistensi pihak lainnya. Pendekatan transaksi ini juga mengatakan bahwa semua unsur dalam proses komunikasi saling berhubungan.

Tidak salah bila kemudian artikel yang ditulis Marcel Bonneff dalam buku Citra Masyarakat Indonesia (http://exelfegf.blogspot.com/) mengatakan bahwa "…..alat komunikasi yang penting, mau tidak mau akan mempengaruhi pembacanya

(48)

sendiri, hasil kesusastraan yang tentunya merupakan cermin masyarakat dan perubahannya."

Dengan demikian komik sebagai alat komunikasi yang penting karena dapat mempengaruhi pembacanya. Pengaruh tersebut bermacam-macam.

Tergantung dari seberapa ia berkonsentrasi untuk membaca komik, seberapa dia memahami makna-makna maupun pesan-pesan yang disampaikan dalam sebuah komik serta sikap hidup, prinsip, dan nilai-nilai hidup yang ia terima sejak kecil.

Pembaca bisa saja menyetujui pesan-pesan yang ia baca dan lebih memperkuat sikap hidupnya, atau sebaliknya. Pembaca juga bisa saja tak mau tahu dengan isi pesan sehingga pengaruh pesan yang disampaikan penulis komik tidak tepat sasaran.

Bila ditinjau dari jenis komunikasinya, maka perlu ditilik dari media apa dan bagaimana komik tersebut berlangsung. Bila dilihat dari proses berlangsungnya, maka dapat diidentifikasi 5 komponen dalam proses komunikasi.

Pertama, adalah sumber pesan. Sumber pesan ini merupakan pembuat/pengarang komik itu sendiri beserta perangkat organisasi yang rela mengeluarkan biaya besar untuk menerbitkan sebuah komik. Kedua, adalah khalayak. Terutama pembeli ataupun pembaca yang telah membaca komik. Ketiga, adalah pesan. Pesan yang disampaikan dalam Komik Jepang bermacam-macam sesuai dengan genre dari komik tersebut. Akan tetapi pada umumnya pesan yang disampaikan dalam komik adalah untuk mengambarkan Kebudayaan Jepang kepada para pembacanya. Pesan tersebut tersirat baik secara gamblang maupun halus atau sembunyi-sembunyi.

Keempat, proses komunikasi dalam pembacaan dan penerbitan komik sifatnya berlangsung satu arah karena umpan balik yang disampaikan tertunda.

(49)

Pembaca komik tidak dapat memberikan tanggapannya langsung pada penulis.

Tanggapan yang disampaikan biasanya dalam bentuk komentar di milis internet, surat penggemar maupun surat pembaca dalam media massa. Terakhir adalah mengenai konteks. Konteks ini tergantung pada cara bagaimana pembaca menginterpretasikan makna atau simbol sesuai dengan latar belakang yang dimiliki. Seorang pembela gender cenderung melihat masalah gender dalam sebuah komik. Seorang seniman akan memperhatikan unsur-unsur seni intrisik dalam sebuah komik. Sedangkan seseorang yang sedang membutuhkan kelucuan dalam sebuah komik lebih memperhatikan unsur jenaka dalam komik.

Dengan mempertimbangkan banyaknya jumlah komik yang disebarkan, khalayaknya yang beragam dan tidak dalam satu tempat serta memiliki umpan balik tertunda, maka jenis komunikasi dari penyebaran dan pembacaan komik atau manga ini dapat digolongkan dalam komunikasi massa.

2. Komik sebagai Media Representasi

Sebagai bagian dari media massa, terutama sebagai media representasi, komik mengemban fungsi penting sebagai fungsi informasi daripada sekedar hiburan belaka. Dengan komik, kita bisa belajar, menambah ilmu pengetahuan, memuaskan rasa ingin tahu tentang berbagai masalah praktis hingga mencari berita tentang peristiwa dan kondisi yang berhubungan dengan lingkungan terdekat, masyarakat, budaya bahkan dunia. Komik Doraemon dan Kyo Samurai Deeper X misalnya. Kedua komik ini peneliti pilih sebagai dua dari beberapa Komik Jepang yang isinya secara tidak langsung memperkenalkan Kebudayaan Jepang kepada para pembacanya. Kisah Doraemon dan kawan-kawan yang

(50)

dengan kocak dan ringan ditampilkan oleh pengarang Fujiko F.Fujio untuk menggambarkan kehidupan sehari-hari anak-anak Jepang dan juga bagaimana kehidupan keluarga di Jepang. Begitu juga dengan Komik Kyo Samurai Deeper X. Alur cerita komik ini mengisahkan tentang Kebudayaan Jepang dan peperangan di Jepang pada zaman Edo dan restorasi Meiji

Selain kedua Komik Jepang itu ada juga komik Petualangan Tintin yang menceritakan tentang kebudayaan bangsa-bangsa yang ada di dunia ini. Komik yang dibuat dengan referensi yang cukup akurat ini menceritakan tentang kebudayaan suatu bangsa maupun peristiwa penting dalam sejarah mengenai perang Jepang dan China. Tidak heran bila Pierre Assouline, penulis Biografi Herge menyebut Komik Tintin sebagai duta Eropa untuk dunia.

Komik dengan tampilannya yang sederhana dan segar juga memiliki keistimewaan yang tak dimiliki oleh media massa yang lain. Tatkala para pekerja media berusaha mengkonstruksi realitas, yaitu menyusun realitas sejumlah peristiwa yang semula terpenggal-penggal menjadi sistematis hingga membentuk cerita atau wacana yang bermakna, mereka terbentur pada struktur kelembagaan yang kaku. Belum lagi tekanan pasar pembaca, sistem politik yang berlaku, maupun kekuatan-kekuatan luar lainnya. Akibatnya masukan realitas dari masyarakat cenderung dibatasi. Selain itu, media tak mampu mengkonstruksikan realitas dengan cara yang lebih berani.

Kondisi di atas menekan para komunikator (dalam hal ini pekerja media) dengan mencari wilayah aman untuk menjamin keamanan dan keselamatannya dalam mengkonstruksikan realitas pada masyarakat luas. Wilayah aman yang mereka cari itu terletak dalam hal-hal yang menyangkut fiksi dan khayalan.

(51)

Komiklah wilayah aman yang mereka cari. Komik pula yang mampu menyajikan dan menghadirkan kembali realitas dengan cara yang unik. Ia mampu menciptakan ilusi realitas. Ketika kita membaca komik, seolah-olah cerita dalam komik merupakan realitas yang dapat dipercayai. Meski dalam pembuatan sebuah komik setting cerita didasarkan atas realitas yang sesungguhnya, namun karakter tokoh-tokohnya hanyalah bagian dari khayalan yang dinikmati pembacanya.

Sekali lagi, komik hanya merepresentasikan (menghadirkan kembali) sebuah realitas.

Kekuatan komik yang menjelma sebagai ilusi realitas ini telah dimanfaatkan sejak lama oleh negara-negara maju seperti Jepang, Amerika, Perancis dan negara-negara Eropa lainnya. Komik seringkali dimanfaatkan sebagai media pendidikan, media pergerakan atau propaganda, bahkan media kampanye. Komik memang memiliki kekuatan istimewa. Sebagai media yang mampu menghadirkan kembali realitas, otomatis komik mampu menyajikan image/citra tertentu pada komunikannya. Pada akhirnya, image/citra tersebut akan mempengaruhi opini/sikap pembacanya mengenai sesuatu.

3. Tubuh Komik

Tubuh sebuah komik terdiri atas beberapa bagian yang tidak mutlak ada karena disesuaikan pula dengan kreativitas dan gaya bercerita komikus. Beberapa bagian komik adalah (Susiani, 2006:5) :

a. Karakter, adalah semua tokoh dalam komik yang banyak memegang peran dalam menyampaikan ide.

b. Frame, yaitu ruangan yang membatasi adegan cerita yang satu dengan adegan yang lainnya. Keberadaan frame bisa tertutup, terbuka, atau tidak ada sama sekali. Tergantung pada adegan yang saat itu sedang diceritakan oleh

Gambar

Tabel 1  POPULASI
Tabel 2  SAMPEL
Tabel 4  Uang Saku
Tabel 5  Departemen
+5

Referensi

Dokumen terkait

Musi Banyuasin Tahun Anggaran 2012, dengan kami ini minta kepada Saudara Direktur untuk hadir dalam melakukan Pembuktian Kualifikasi dengan membawa berkas asli data perusahaan pada

Setelah melakukan analisa terhadap aplikasi penjualan ini dapat disimpulkan bahwa aplikasi ini selain membantu kelancaran usaha perusahaan juga dapat membantu manajemen perusahaan

Melalui website ini konsumen dapat melakukan pemesanan buku secara online, website ini diharapkan dapat mempermudah konsumen dalam berbelanja juga pemilik toko dalam memasarkan

Terdapat tiga faktor utama yang menjadi pertimbangan yaitu daya tahan produk, pengalaman dan reputasi dan jumlah maintenance, sementara untuk elemen alternatif

menunjukkan sekumpulan foto kotoran anjing yang  ditemui Akbar dan ditampilkan secara slide show. Masih 

(1) Pejabat Kejaksaan pada Perwakilan Negara Republik Indonesia di Singapura melaksanakan wewenang, tugas dan fungsi yang meliputi wilayah hukum Singapura dan

Diagram alir informasi adalah suatu model fisik atau proses yang dibuat untuk menggambarkan dari mana asal data dan kemana tujuan data yang keluar dari setiap entitas tersebut

Hasil analisis menunjukkan ekstraksi kolagen dengan menggunakan larutan asam asetat konsentrasi 0,1 M memiliki hasil rendemen kolagen lebih tinggi dibandingkan