• Tidak ada hasil yang ditemukan

FATWA INOVASI DAN TUKAR GULING WAKAF (Studi Perbandingan Metode Ijtihad Ulama Indonesia dan Mesir) Oleh : Ali Mutakin NIM:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "FATWA INOVASI DAN TUKAR GULING WAKAF (Studi Perbandingan Metode Ijtihad Ulama Indonesia dan Mesir) Oleh : Ali Mutakin NIM:"

Copied!
282
0
0

Teks penuh

(1)FATWA INOVASI DAN TUKAR GULING WAKAF (Studi Perbandingan Metode Ijtihad Ulama Indonesia dan Mesir) Disertasi. Diajukan kepada Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Doktor Bidang Pengkajian Islam Konsentrasi Syari’ah. Oleh : Ali Mutakin NIM: 31161200000032. Promotor Prof. Dr. M. Atho Mudzhar, MSPD Prof. Dr. Said Aqil Husin Al Munawar, MA. PROGRAM DOKTOR PENGKAJIAN ISLAM SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2021 M/1442 H.

(2) KATA PENGANTAR. ‫بسم هللا الرحمن الرحيم‬ Alhamdulillah, segala puji dan syukur saya persembahkan kepada Allah Swt yang telah memberikan kemampuan yaitu kekuatan dan kesehatan sehingga disertasi yang berjudul Fatwa Inovasi dan Tukar Guling Wakaf: Studi Komparatif Metode Ijtihad Ulama Indonesia dan Mesir ini dapat diselesaikan. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan alam Nabi Muhammad Saw, keluarga, para sahabat, dan kaum muslimin yang istiqamah menjalankan ajaran sucinya. Penulis yakin atas rahmat dan petunjuk-Nya disertasi ini telah diselesaikan sampai pada tahap akhir. Namun dari sejumlah rangkain proses yang sudah dilewati ada banyak pihak yang turut membantu, mendorong dan memotivasi, baik secara materi maupun moril. Sebab itu, patut kiranya penulis sampaikan ucapan terima kasih yang tulus dan setinggi-tingginya. Penghargaan dan ucapan terima kasih yang tulus dan penuh hormat, pertama-tama penulis sampaikan kepada: 1. Rektor UIN Syarif Hidayutllah Jakarta Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis, Lc., MA. beserta jajarannya, Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Phil. Asep Saepudin Jahar, M.A. beserta Wakil Direktur dan seluruh Jajaran SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Ketua Program Studi Doktoral UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. H. Didin Saepudin, MA dan Sekretaris Prodi doktoral Dr. Usep Abdul Martin, MA. 3. Promotor I, Prof. Dr. M. Atho Mudzhar, MSPD dan Promotor II, Prof. Dr. Said Aqil Husin Al-Munawar, MA. selaku Pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, saran dan kritik membangun secara kontinue kepada penulis sehingga penyelesaian disertasi ini bisa tepat waktu dan sampai pada ujian tahap akhir. Kesediaan beliau melakukan sharing dan berdiskusi secara langsung tentang konsep yang dibahas dalam disertasi ini mempermudah penulis dalam menuangkan pikiran secara sistematis dan terarah sehingga menghasilkan tulisan ini meski masih ditemukan banyak kekurangan yang harus diperbaiki lagi. 4. Para penguji Proposal; Prof. Dr. Didin Saepuddin, M.A., Dr. Yusuf Rahman, M.A., dan Dr. Fuad Jabali, M.A., yang telah memberikan input-input pencerahan. Para penguji WIP-1; Prof. Dr. Didin Saepuddin, M.A., Prof. Dr. Zainun Kamaluddin Al Fakih, M.A., Prof. Dr. Abudi Nata, M.A. Para penguji WIP-2; Dr. Asmawi, M.Ag., Dr. JM. Muslimin, M.A., Dr. Abdurrahman Dahlan, M.A. yang telah memberikan arahan dan saran perbaikan dan kelengkapan penelitian disertasi ini secara utuh. Para penguji Konprehensif Lisan; Prof. Dr. H. Didin Saepuddin M.A., Dr. JM. Muslimin, M.A., Dr. Usep Abdul Martin, M.A. yang mempertajam isi disertasi ini. Para penguji Pendahuluan; Prof. Dr. Didin Saepuddin, M.A., Prof. Dr. Huzaimah Tahido Yanggo, M.A., Prof. Dr. Muhammad Amin Suma, S.H., M.A., M.M., Prof. Dr. Zaitunah Subhan, M.A., Prof. Dr. M. Atho Mudzhar, MSPD., Prof. Dr. Said Aqil Husin Al Munawar,. ii.

(3) M.A. yang telah mengoreksi serta memberikan arahan dan saran perbaikan untuk kesempurnaan isi disertasi ini. 5. Kementerian Agama RI yang telah memberikan beasiswa Program 5000 Doktor angkatan 2016. Dukungan keuangan dari MORA 5000 Doktor, telah memberikan keringanan biaya studi Doktor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 6. Seluruh civitas akademika SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mulai dari para Dosen yang telah memberi ilmu kepada penulis sehingga menjadi bekal yang baik dalam memperkuat kosep keilmuan dan aplikasinya. Kegiatan pembelajaran yang bermutu tidak lepas dukungan dari seluruh pegawai dan staf Sekretariat SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, staf Perpustakaan SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan penuh dedikasi mereka melayani penulis dengan ikhlas dalam menyiapkan berbagai kebutuhan dan fasilitas yang dibutuhkan sehingga penyelesaian disertasi ini berjalan secara baik. 7. Kepada pimpinan Yayasan Al-Ashriyyah Nurul Iman Islamic Boarding School, Pimpinan Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Iman (STAINI). Khususnya Abah, Al-‘Alim Al-‘Allamah Al-‘Arif Billah Sayyiduna Syekh Habib Saggaf bin Mahdi bin Syekh Abu Bakar bin Salim dan Umi Waheeda binti H. Abdul Rahman, S.Psi., M.Si beserta Ahlul Bait. KH. Muhammad Syamsudldlucha Muslih dan Ibu Nyai Hj. Umi Hanik beserta keluarga, yang telah merestui saya untuk melanjutkan proses pendidikan formal di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mudah-mudahn Allah memberikan balasan yang terbaik untuk mereka semua. Amin-Amin Ya Rabbal ‘Alamin. 8. Keluarga, kepada orang tua saya Ibu Niswatin dan Bapak Rubadi, Bapak Tasroni (alm) dan Ibu Khotijah mertua, terima kasih atas doa tulus kalian semua, semoga kasih sayang Allah selalu dilimpahkan kepada mereka semua. Istri tercinta Isroiliyah, S.Sy, yang ikhlas mendampingi dan memberikan dukungan pada saat-saat kritis. Kepada ketiga buah hati tersayang Nabila Zahra, Ahmad Nailun Nabhan dan Naura Nuril Azizah yang selalu di sebelah saya dan membuat saya tersenyum dalam keadaan terbaik dan terburuk, saya sangat berterima kasih kepada kalian semua. Kakak-kakak dan adik-adik saya yang memberikan spirit dalam menyelesaikan studi ini. Semoga Allah senantiasa memberikan balasan yang setimpal kepada kita semua, sehingga kesuksesan selalu menyertai kita semua. 9. Rekan-rekan dan sahabat perkuliahan S.3 SPs angkatan 2016 terimakasih atas kebersamaan selama studi, serta banyak memberikan inspirasi untuk tetap semangat sehingga dapat menyelesaikan studi ini. 10. Para Guru SD, SMP dan SMA Al-Ashriyyah Nurul Iman, Para Dosen STAINI, dan sahabat-sahabat yang turut serta memberikan support dan dukungan doa kesuksesan. Para Santri Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman. Para mahasiswa/i STAINI yang telah mendoakan untuk keberhasilan studi S.3 dan penelitian disertasi ini. Akhirnya, penulis sadar bahwa dalam penulisan disertasi ini masih banyak kekurangan dan kekeliruan dalam berbagai aspek sehingga mengurangi kebulatan dan keutuhan isi dan kandungan disertasi ini di mata pembaca. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan saran dan masukan yang konstruktif penyempurnaan iii.

(4) disertasi ini. Semoga Allah SWT selalu menyertai langkah perjuangan kita dengan rahmat dan ridhaNya. Amin Ya Rabbal ‘Alamin. Penulis. iv.

(5) FATWA INOVASI DAN TUKAR GULING WAKAF: Studi Perbandingan Metode Ijtihad Ulama Indonesia dan Mesir Abstrak Kajian ini membahas mengenai perbandingan fatwa ulama Indonesia dan Mesir tentang inovasi dan tukar guling (istibda>l) objek wakaf, yang difokuskan pada prosedur pemberian fatwa, isi fatwa, argumen dan metodologi fatwa. Ditemukan bahwa terdapat kesamaan antara ulama Indonesia dan Mesir tentang prosedur pemberian fatwa, yakni tidak selalunya mengikuti prosedur yang telah ditetapkannya. Beberapa fatwa mengikuti suatu pola tertentu yang telah ditetapkan, namun ada juga sejumlah kecil fatwa yang tidak mengikutinya. Tentang isi fatwa, terdapat kesamaan persepsi antara ulama Indonesia dan Mesir mengenai kebolehan wakaf uang dan saham, namun di sisi lain, ulama Indonesia membolehkan manfaat dijadikan sebagai objek wakaf, sedangkan ulama Mesir melarangnya. Fatwa tukar guling objek wakaf, ulama Indonesia dan Mesir sepakat tentang kebolehannya, walaupun sebenarnya menyalahi hukum asli yang terdapat pada wakaf. Tentang argumen dan metodologi fatwa, ulama Indonesia menggunakan mas}lah}ah} al-mursalah untuk menentukan wakaf uang, saham, manfaat dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), sedangkan ulama Mesir, Kias digunakan untuk menentukan wakaf uang dan saham. Adapun fatwa tukar guling objek wakaf ulama Indonesia di satu sisi menggunakan metode mas}lah}ah} almursalah, di sisi yang lain bersama dengan Mesir menggunakan istihsan. Ditemukan pula bahwa maslahat menjadi landasan metode ijtihad yang mandiri dalam menyelesaikan problematika hukum Islam, khususnya tentang inovasi dan tukar guling objek wakaf. Kesimpulan kajian ini menguatkan kesimpulan al-T{u>fi> (w. 716 H), Abd al-Wahha>b Khalaf (w. 1411 H), Zaki> al-Di>n Sha’ba>n (w. 1385 H), dan penelitian ini tidak sependapat dengan Muhammad Said Ramad}a>n al-Bu>t}i> (w. 1435 H), Amir Syarifuddin (w. 1429 H). Sumber primer penelitian ini adalah naskah-naskah fatwa mengenai inovasi dan tukar guling objek wakaf, di samping juga kitab-kitab ushul fikih yang digunakan untuk memotret bangunan metodologi fatwa inovasi dan tukar guling wakaf. Sumber sekundernya berupa buku-buku, jurnal yang ada kaitannya dengan pokok pembahasan baik secara langsung maupun tidak. Penelitian ini, berusaha mendeskripsikan secara lengkap muatan fatwa inovasi dan tukar guling objek wakaf, baik dalam bidang filsafat hukum dan metode ijtihad yang digunakannya maupun bidang materi hukumnya. Kemudian isi dari data tersebut dianalisis dan diintrepretasikan guna memetakan serta mengklasifikasi muatan yang terdapat dalam fatwa di dua negara tersebut. Adapun pendekatan yang digunakan adalah pedekatan yuridis-filosofis dan ushul fikih. Pendekatan-pendekatan tersebut digunakan untuk mengkaji filsafat hukum dan landasan metodologi fatwa inovasi dan tukar guling objek di dua negara tersebut. Kata Kunci: Fatwa, Wakaf, Inovasi, Tukar Guling, Mas{lah}ah al-Mursalah, Kias, Istihsan. xi.

(6) FATWA OF INNOVATION AND ISTIBDAL WAQF Comparative Study of Ijtihad Methods of Indonesian and Egyptian Ulama Abstract This study discusses the comparison of the fatwas of Indonesian and Egyptian ulama on innovation and istibda>l of waqf objects, which focused on the procedure for giving fatwas, fatwa content, arguments, and fatwa methodology. It found that there are similarities between Indonesian and Egyptian ulama regarding the mechanism for making fatwas, namely that they do not always follow the sturdy procedures. Some fatwas follow a predetermined pattern, but there are also a small number of fatwas that do not. As for the contents of the fatwa, there are similarities in the perceptions between Indonesian and Egyptian ulama regarding the permissibility of cash and share waqf, however, on the other hand, Indonesian ulama allow benefits to be used as an object of waqf, while Egyptian ulama prohibit it. Fatwa istibda>l, Indonesian and Egyptian ulama agree on its ability, even though it violates the original law contained in waqf. As for the arguments and methodology of the fatwa, the Indonesian ulama use mas}lah}ah al-mursalah to determine cash waqf, shares, benefits, and intellectual property rights (HKI), while the Egyptian ulama, Qiyas is used to determine cash and share waqf. The fatwa istibdal Indonesian ulama on the one hand uses the method mas}lah}ah al-mursalah, on the other hand, together with Dar al-Ifta>’ uses istih}sa>n. It was also found that mas}lah}ah became the basis for the independent method of ijtihad in solving problems of Islamic law, particularly regarding innovation and the discipline of waqf. The conclusion of this study strengthens the conclusions of al-T{u>fi> (w. 716 H), ‘Abd al-Wahhab Khalaf (w. 1411 H), Zaki> al-Di>n Sha‘ba>n (w. 1385 H), and this study does not agree with Muh}ammad Sa’i>d Ramad}a>n al-Bu>t}I> (w. 1435 H), Amir Syarifuddin (w. 1429 H). The primary sources of this research are fatwa texts on innovation and istibda>l waqf, as well as the books us}u>l al-fiqh that are used to illustrate the building of the innovation fatwa methodology and istibda>l waqf. Secondary sources are books, journals that are related to the subject matter, either directly or indirectly. This research attempts to describe completely the content of the fatwa on innovation and istibda>l of waqf, both in the field of legal philosophy and the ijtihad method it uses and in its legal material field. Then the contents of the data were analyzed and interpreted to map and classify the content contained in the fatwas in the two countries. The approaches used are juridical-philosophical and us}u>l fiqh approaches. These approaches are used to examine the philosophy of law and the methodological basis of innovation and discipline fatwas in the two countries. Keywords: Fatwa, Waqf, Innovation, Istibda>l, Mas}lah}ah al-Mursalah, Qiya>s, Istih}sa>n.. xii.

(7) ‫فتوى االبتكار و استبدال الوقف‬. ‫دراسة مقارنة لطرق االجتهاد في العلماء اإلندونيسيين والمصريين‬ ‫ملخص‬ ‫ىذه الدراسة تبحث عن مقارنة فتاوى العلماء اإلندونيسيني وادلصريني يف االبتكار واستبدال‬ ‫الوقف‪ ،‬وترتكز ىذه الدراسة على إجراءات اإلفتاء وزلتوياهتا وحججها ومنهجها ادلستخدمة‪ .‬تبني أن ىناك‬ ‫دائما‬ ‫أوجو شبو بني العلماء اإلندونيسيني وادلصريني فيما يتعلق بإجراءات اإلفتاء‪ ،‬أي أهنم ال يتبعون ً‬ ‫زلددا كما وضعوا‪ ،‬ولكن ىناك رلموعة قليلة من الفتاوى‬ ‫اإلجراءات اليت مت وضعها‪ .‬بعض الفتاوى تتبع منطًا ً‬ ‫مل يطبقوهنا‪ .‬احلديث عن زلتويات الفتوى‪ ،‬فيها أوجو تتشابو يف التصورات بني العلماء اإلندونيسيني‬ ‫وادلصريني وذلك عن جواز الوقف ادلايل والوقف ادلشرتكي‪ .‬ومن ناحية أخرى‪ ،‬العلماء اإلندونيسيون قد‬ ‫يسمحون الستخدام ادلنافع يف الوقف‪ ،‬بينما مينعها العلماء ادلصريون عن ذلك فعال‪ .‬فتوى االستبدال‪ ،‬اتفق‬ ‫العلماء اإلندونيسيون وادلصريون على قدرهتا‪ ،‬رغم أهنا ختالف القانون األساسي ادلتضمن يف الوقف‪ .‬وأما‬ ‫احلديث عن احلج ومنهجية الفتوى‪ ،‬يستخدمها العلماء اإلندونيسيون بصفة ادلصلحة ادلرسلة لتقرير الوقف‬ ‫ادلايل‪ ،‬واألسهم‪ ،‬وادلزايا وحقوق ادللكية الفكرية )‪ ،(HKI‬بينما كان العلماء ادلصريون استخدموا طريقة القياس‬ ‫لتقرير الوقف ادلايل واألسهم‪ .‬رغم أن فتوى االستبدال يف إندونيسيا قد استخدموا طريقة ادلصلحة ادلرسلة‬ ‫وادلصريون استخدموا طريقة االستحسان‪ .‬ظهر تأكيدا أن ادلصلحة أصبحت أساسا للطريقة ادلستقلة يف حل‬ ‫مشاكل الشريعة اإلسالمية‪ ،‬وخاصة فيما يتعلق باالبتكار واستبدال الوقف‪ .‬فنتيجة ىذه الدراسة تقوي‬ ‫استنتاجات الطويف (‪617‬ه)‪ ،‬عبد الوىاب اخلالف (‪ 1111‬ه)‪ ،‬وزكي الدين الشعبان (‪ 1831‬ه)‪ ،‬وغري‬ ‫ذلك‪ ،‬ىذه الدراسة ال تتفق مع آراء زلمد سعيد رمضان البوطى(‪ 1181‬ه)‪ ،‬وأمري شريف الدين (‪1111‬‬ ‫ه)‪.‬‬ ‫ادلصدر األساسي ذلذا البحث ىو نصوص الفتاوى يف االبتكار واالستبدال الوقف‪ ،‬باإلضافة إىل‬ ‫كتب الفقو ادلستخدمة لتصوير بناء ادلنهجية‪ .‬وادلصادر الثانوية ىي الكتب واجملالت اليت تتعلق بادلوضوع‬ ‫بشكل مباشر أو غري مباشر‪ .‬حياول ىذا البحث أن يصف بشكل كامل اليت فيها من زلتوياهتا االبتكار‬ ‫واستبدال الوقف‪ ،‬سواء يف رلال الفلسفة الشرعية أو طريقة االجتهاد أو يف رلاالت ادلواد القانونية‪ .‬مث ستم‬ ‫حتليل زلتويات البيانات وتفسريىا من أجل حتديد وتصنيف احملتويات الواردة يف الفتاوى بني البلدين‪ .‬وادلنه‬ ‫ادلتبع ىو ادلنه الفقهي الفلسفي واألصول الفقهية‪ ،‬تستخدم ىذه ادلناى دلراجعة فلسفة القانون وادلنه‬ ‫األساسي للفتاوى ابتكارا وانضباطا بني البلدين‪.‬‬ ‫الكلمات المفتاحية‪ :‬الفتوى‪ ،‬الوقف‪ ،‬االبتكار‪ ،‬االستبدال‪ ،‬ادلصحة ادلرسلة‪ ،‬القياس واالستحسان‬ ‫‪xiii‬‬.

(8) PEDOMAN TRANSLITERASI. Teknik penulisan dalam buku ini menggunakan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang ditetapkan berdasarkan Permendikbud No. 50 Tahun 2015. Adapun pedoman transliterasi Arab-Latin menggunakan ALA-LC Romanization Tables sebagaimana berikut: A. Konsonan Initial. Romanization. Initial. Romanization. ‫ا‬. omit. ‫ض‬. d}. ‫ب‬. b. ‫ط‬. t}. ‫ت‬. t. ‫ظ‬. z}. ‫ث‬. th. ‫ع‬. ‘. ‫ج‬. j. ‫غ‬. gh. ‫ح‬. h}. ‫ؼ‬. f. ‫خ‬. kh. ‫ؽ‬. q. ‫د‬. d. ‫ؾ‬. k. ‫ذ‬. dh. ‫ؿ‬. l. ‫ر‬. r. ‫ـ‬. m. ‫ز‬. z. ‫ف‬. n. ‫س‬. s. ‫ة‬,‫ق‬. h. ‫ش‬. sh. ‫ك‬. w. ‫ص‬. s}. ‫ي‬. y. B. Vokal Tunggal Tanda. Nama. Huruf Latin. Nama. ...َ.... fath}ah. a. a. ...ِ.... Kasrah. i. i. ...ُ.... d}ammah. u. u. xv.

(9) C. Vokal Rangkap (Diftong) Tanda. Gabungan Huruf. Bacaan. Contoh. Bacaan. ‫ ػ ػػي‬... َ. fath}ah dan ya>. ai. H{usain. ‫ ػ ػػو‬... َ. fath}ah dan waw. au. ‫ُح َس ْين‬ ‫َح ْوؿ‬. Tanda. Gabungan Huruf. Bacaan. Contoh. Bacaan. ‫ػ ػ ػا‬... َ. fath}ah dan alif. a>. Na>ma. ‫ ػ ػػي‬... ِ. kasrah dan ya>. i>. ‫ُػػو‬.‫ن ػ‬... d}ammah dan waw. u>. ‫نَ َاـن‬ ِ ‫ين‬ َْ‫ح‬ ‫ُس ْوَرة‬. H{aul. D. Vokal Panjang. H{i>na Su>rah. E. Ta>’ Marbu>t}ah (‫)ة‬ Transliterasi ta>’ marbu>t}ah (‫ )ة‬di akhir kata bila dimatikan ditulis h.. ‫ َم ْرأَة‬: mar’ah. Contoh:. ‫ َم ْد َر َسة‬: madrasah. F. Shaddah Shaddah atau tashdi>d dalam transliterasi ini dilambangkan dengan huruf, yaitu huruf yang sama dengan huruf yang ber-shaddah itu. Contoh: ‫ َربػَّنَا‬: rabbana> ‫ َش َّواؿ‬: shawwa>l G. Kata Sandang Alif + Lam (..‫) ال ـ ــ‬ Kata sandang (..‫ ) ال ػ ػػ‬tidak melebur ke dalam huruf yang mengikutinya, melainkan tetap ditulis al meskipun diikuti oleh huruf Shamsiyah maupun Qamariyah. Contoh: ‫س‬ ‫َّم ن‬ ْ ‫ الش‬: al-Shamsu. ُ. ‫ ال َقلَ ُمن‬: al-Qalamu. H. Pengecualian Transliterasi Adalah kata-kata bahasa Arab yang telah lazim digunakan di dalam bahasa Indonesia dan menjadi bagian dalam bahasa Indonesia, seperti kata ‚salat‛ tidak ditransliterasi dengan s}alah kecuali menghadirkannya dalam konteks aslinya.. xvi.

(10) DAFTAR ISI KATA PENGANTAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ABSTRAK PEDOMAN TRANSLITERASI DAFTAR ISI BAB I. BAB II. BAB III. BAB IV. :. :. :. :. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ………………………………... B. Permasalahan …………………………………………… 1. Identifikasi Masalah ………………………………... 2. Perumusan Masalah…………………..…………….. 3. Pembatasan Masalah ……………...…..……………. C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ………………………… D. Penelitian Tedahulu yang Relevan ……………………... E. Metode Penelitian …………………………………......... F. Sistematika Penulisan ………………………………….. AKAR PEMIKIRAN TENTANG WAKAF A. Wakaf Dalam Perspektif Ulama ………………………... B. Tukar Guling dan Paradigma Ta’bi>d Objek Wakaf …..... C. Inovasi Objek Wakaf: Antara Material vs Nonmaterial .. D. Konsep Maqa>s}id al-Shari>‘ah Sebagai Basis Penetapan Hukum Perwakafan …………………………………….. KELEMBAGAAN DAN ISU-ISU FATWA WAKAF INDONESIA DAN MESIR A. Perkembangan Wakaf di Indonesia dan Mesir………….. B. Kelembagaan Fatwa di Indonesia dan Mesir…………… C. Metode dan Prosedur Ijtihad Lembaga Fatwa di Indonesia dan Mesir …………………………………….. D. Isu-Isu Fatwa Wakaf di Indonesia dan Mesir ………….... 1 7 7 8 8 9 10 14 15 17 29 38 42 DI 51 59 72 81. PENGUJIAN FATWA-FATWA TENTANG INOVASI OBJEK WAKAF A. Pengujian Atas Fatwa Wakaf Uang ……………………. 85 1. Mewakafkan harta yang disimpan di bank dengan system deposito untuk sekolah yang berafiliasi dengan al-Azhar …………………………………… 85 2. Wakaf dengan uang kontan atau cash ……………. 93 3. Wakaf uang ...……………………………………... 104 B. Pengujian Atas Fatwa Wakaf Saham …………………... 118 xvii.

(11) 1. Wakaf Saham dan Menyalurkan Manfaatnya …….. 2. Menggunakan dana zakat mal untuk memiliki saham kemudian diwakafkan untuk kemaslahatan umum………………………………………………. C. Pengujian Atas Fatwa Wakaf Manfaat ………………... 1. Wakaf Manfaat …………………………………… 2. Wakaf Manfaat Asuransi Dan Manfaat Investasi Pada Asuransi Jiwa Syariah ………………………. D. Pengujian Atas Fatwa Wakaf Hak Kekayaan Intelektual 1. Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) …... 118 127 130 130 136 146 147. BAB V. :. PENGUJIAN FATWA-FATWA TENTANG TUKAR GULING OBJEK WAKAF A. Pengujian Atas Fatwa Tukar Guling Objek Wakaf Dengan Syarat Wakif ……….…..……………………… 161 1. Tukar Guling Sepenggal Tanah Wakaf Untuk Masjid……………………………………………….. 161 2. Tukar Guling Tanah Wakaf dengan yang Lain……. 171 B. Pengujian Atas Fatwa Tukar Guling Objek Wakaf yang Rusak …………………………………………………… 179 1. Tukar Guling Objek Wakaf ……………….............. 179 2. Tukar Guling Objek Wakaf yang Rusak ………….. 187 C. Pengujian Atas Fatwa Tukar Guling Objek Wakaf yang Masih Baik …………………………............................... 193 1. Tukar Guling Tanah Masjid ………………………... 193 2. Tukar Guling Benda Wakaf ………...……………… 202 D. Pengujian Atas Fatwa Tukar Guling Tanah Masjid …… 207 1. Menukar Tanah Wakaf untuk Masjid dengan Tanah yang Lebih Banyak Manfaatnya …………………… 207 2. Mengubah Masjid di atas Tanah Wakaf Menjadi Gedung Taman Kanak-Kanak ……………………... 212 3. Tukar Guling Tanah yang Diwakafkan untuk Masjid 216. BAB VI. :. PENUTUP A. Kesimpulan …………………………………………….. B. Saran-Saran …………………………….……………….. 227 231. DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………... GLOSARIUM ………………………………………………………………... INDEKS ……………………………………………………………………… BIODATA……………………………………………………………………... 233 253 259 265. xviii.

(12) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Metode ijtihad yang digagas oleh para ahli hukum, baik secara personal maupun kolektif1 belum sepenuhnya mampu menyelesaikan berbagai macam persoalan umat, khususnya tentang penanganan kemiskinan. Hal ini dapat dilihat dari fatwa-fatwa wakaf yang belum mampu menyelesaikan problem kemiskinan. Sukses pengelolaan wakaf di Mesir, Saudi Arabia, Turki dan Yordania masih dalam skala terbatas, belum sampai mengangkat kemakmuran negara-negara tersebut.2 Padahal wakaf merupakan salah satu ajaran Islam, selain berdimensi spiritual, juga merupakan ajaran yang mengandung dimensi sosial-keagamaan dan berpotensi meningkatkan ekonomi serta kesejahteraan umat Islam. Dengan demikian, jika wakaf diberdayakan dengan baik akan dapat mengatasi problematika kemiskinan, serta mampu meningkatkan kesejahteraan sosial dengan cara-cara yang islami.3 Wakaf sebagai salah satu bentuk kegiatan filantropi Islam, memiliki potensi untuk meningkatkan ekonomi serta kesejahteraan umat Islam. Oleh karena itu, persoalan wakaf mendapat perhatian yang cukup serius dari para pemegang kebijakan di berbagai negara Islam. Eksistensi wakaf di berbagai negara Islam modern, pada umumnya diatur dalam bentuk undang-undang yang berada di bawah departemen keagamaan dimana urusan wakaf ditempatkan. Walaupun pada 1. Menurut Atho Mudzhar, di Indonesia hingga abad ke-20 fatwa-fatwa tentang keagamaan masih diberikan oleh ulama secara perorangan. Adapun pada kuartal kedua abad ke-20 beberapa fatwa telah diberikan oleh para ulama secara kolektif. Ormas yang dianggap pertama kali memberikan fatwa secara kolektif adalah Nahdlatul Ulama (NU) melalui forum Lajnah Bah}th al-Masa>’il (LBM). NU yang didirikan oleh sejumlah ulama tradisional, memberikan fatwa-fatwa secara kolektif bersamaan waktunya dengan kongres pertamanya pada tahun 1926. Menyusul kemudian Muhammadiyah, yaitu ormas yang didirikan pada tahun 1912 melalui forum Majlis Tarjih Muhammadiyah. Fatwa secara kolektif pertama kali dikeluarkan oleh forum tersebut pada tahun 1927, satu tahun setelah NU. Lihat Muhammad Atho Mudzhar, Fatwa-Fatwa Majelis Ulama Indonesia: Sebuah Studi tentang Pemikiran Hukum Islam di Indonesia,1975-1988. edisi dwibahasa, (Jakarta: INIS, 1993), h. 4. 2 Lihat Mustafa E. Nasution, ‚Wakaf Tunai dan Sektor Volunteer‛, dalam Mustafa E. Nasution dan Uswatun Hasanah (eds), Wakaf Tunai Inovasi Finansial Islam, (Jakarta: PSTTI-UI, 2006), h. 37. 3 Hal ini didasarkan pada sistem kapitalis dan sosialis yang telah lama menguasai dunia dianggap belum memenuhi harapan dalam mewujudkan keadilan dan kesejahteraan social. Sementara sistem syariah telah memberikan pegaruh terhadap skema hukum baik di negara muslim maupun non muslim bahkan telah masuk ke wilayah privat termasuk masalah pemeliharaan anak, warisan, hadiah dan juga wakaf. Terkait dengan wakaf, telah terjadi perubahan bentuk beberapa bagian dalam syariah kearah ‚English Law‛. Lihat Habibollah Salarhezi & Hamed Armesh, ‚Waqf as a Social Entrepreneurship Model in Islam‛, dalam International Journal of Business and Management Vol. 5, No. 7, July 2010, h. 108. Lihat juga Wael B. Hallaq, Sharia: Theory, Practice, Transformations, (Cambridge Uniersity Press, 2009), h. 443.. 1.

(13) dasarnya merupakan lembaga Islam yang hukumnya sunnah, wakaf dapat berkembang dengan baik di beberapa negara Islam.4 Hal ini menunjukkan bahwa, wakaf memiliki peranan yang cukup signifikan dalam rangka mensejahterakan kehidupan masyarakat, sehingga mendapatkan perhatian yang cukup serius dari berbagai negara Islam, bahkan di negara sekuler pun wakaf dapat berkembang dengan baik.5 Negara-negara Islam secara terus menerus melakukan upaya pembaharuan pengelolaan dan inovasi objek wakaf melalui lembaga wakaf yang mengelolanya. Di Mesir, wakaf dikelola oleh badan wakaf yang berada di bawah kementerian wakaf (wiza>rat al-awqa>f). Salah satu kemajuan yang telah dicapai oleh badan wakaf Mesir adalah berperannya harta wakaf dalam meningkatkan ekonomi masyarakat. Hal ini disebabkan, diantaranya oleh beragamnya benda yang diwakafkan, baik berupa benda tidak bergerak maupun bergerak, yang dikelola dengan baik dan benar. Universitas Al-Azhar sebagai salah satu Nazhir (pengelola) di Mesir, telah mampu menjalankan aktivitasnya secara mandiri melalui pemanfaatan dana wakaf, yang pengelolaannya dilakukan dengan cara menginvestasikan harta wakaf di bank Islam (jika berupa uang) dan berbagai perusahaan di Terusan Suez, seperti perusahaan besi dan baja. Guna menyempurnakan pengelolaan wakaf, badan wakaf membeli saham dan obligasi dari perusahaan-perusahaan penting.6 Selaku pengelola wakaf, Universitas Al-Azhar hanya mengambil hasil dari investasi wakaf untuk keperluan pendidikan termasuk pemberian beasiswa. Pengelolaan wakaf secara profesional yang dikembangkan Universitas Al-Azhar tidak hanya mampu memajukan dan mengembangkan pendidikan, tapi juga sanggup menalangi masa kritis operasional pemerintah negeri piramida tersebut.7 4. Lihat Said Aqil Husin Al-Munawar, Hukum Islam dan Pluralitas Sosial, (Jakarta: Penamadani, 2004), h. 126. Departemen Agama RI, Pedoman Pengelolaan dan Pengembangan Wakaf, (Jakarta: Direktorat Pemberdayaan Wakaf. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, 2006), h. 18-24. 5 Diantara Negara sekuler yang wakaf bisa berkembang dengan baik adalah Singapura dan Thailand. Pengelolaan wakaf di Singapura ditangani oleh lembaga WAREES, sebuah perusahaan real estsate yang sahamnya 100% dimiliki oleh MUIS. Sedangkan di Thailand, wakaf dikelola oleh Komite wakaf yang berada dibawah naungan Muslim Religious Committee Council (MRCC). Lihat Alaiddin Koto dan Wali Saputra, ‚Wakaf Produktif di Negara Sekuler Kasus Singapura dan Thailand‛ dalam Jurnal Sosial Budaya, Vol. 13, No. 2, Desember 2016, h. 127-135. Selain kedua negara tersebut, Amerika termasuk Negara yang mampu mengembangkan wakaf secara produktif, yang dikelola oleh The Islamic Cultural Center of New York (ICCNY) melalui bantuan wakaf dari Kuwait Awqaf Public Foundation (KAPF). Lihat Uswatun Hasanah, ‚Inovasi Pengembangan Wakaf di Berbagai Negara‛, dari https://bwi.or.id/index.php/ar/publikasi/artikel/222-inovasipengembangan-wakaf-di-berbagai-negara.html. Diakses pada 6 Maret 2018. 6 Lihat Uswatun Hasanah, ‚Wakaf Produktif untuk Kesejahteraan Dalam Perspektif Hukum Islam di Indonesia‛ (Jakarta: Naskah Pidato Pengukuhan Guru Besar di Universitas Indonesia, 6 April 2009). Lihat Departemen Agama RI, Pedoman Pengelolaan dan Pengembangan Wakaf,…h. 20-22. 7 Lihat https://bwi.or.id/index.php/en/publikasi/news/532-ketika-wakaf-uangmenjadi-gaya-hidup.html. (diakses pada 20 Februari 2018).. 2.

(14) Di Indonesia,8 perkembangan wakaf mulai tampak setelah dikeluarkannya fatwa MUI tentang wakaf Uang pada tahun 2002, yang berimplikasi pada lahirnya UU No. 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf. Undang-undang tersebut merupakan terobosan baru bagi masa depan perwakafan di Indonesia agar dapat diberdayakan secara lebih produktif dan profesional. Pemberdayaan wakaf setidaknya menjadi semakin lebih baik lagi ketika dari sisi implementasinya, pemerintah juga mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan UU No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf. Lahirnya UU No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf membawa konsekuensi lahirnya Badan Wakaf Indonesia (BWI), yaitu suatu lembaga pofesional dan independen yang memiliki kapasitas dan kapabilitas dalam memberdayakan aset wakaf agar lebih produktif.9 Pembaharuan bidang wakaf, melalui munculnya undang-undang merupakan terobosan baru dalam mengubah paradigma wakaf menjadi produktif. Akan tetapi, disadari atau tidak lahirnya undang-undang tersebut, merupakan hasil inspirasi dari fatwa-fatwa ulama. Fatwa sebagai produk ijtihad memiliki kedudukan yang cukup strategis serta mempunyai peranan signifikan dalam perkembangan hukum Islam. Sebagai upaya pengembangan hukum Islam, fatwa di samping memerlukan suatu metodologi yang sistematis sebagai landasan Islam yang kokoh, juga memerlukan landasan teori yang lebih tegas dan konsisten. Hal ini dimaksudkan agar produk hukum yang dihasilkan benar-benar bersifat komprehensif dan berkembang secara konsisten.10 Perkembangan manusia yang selalu dinamis menuntut selalu adanya jawaban atas permasalahan hukum (waqi>’iyyah) yang dihadapi oleh umat muslim mengenai status permasalahan hukum tersebut. Saking urgennya kedudukan fatwa dalam tradisi Hukum Islam, sehingga diakui dalam nash al-Qur’an maupun Hadits. Hal ini ditunjukan oleh adanya kata fatwa dengan berbagai macam derivasinya, telah disebutkan beberapa kali dalam al-Qur’an,11 sehingga keberadaan nash-nash tersebut menjadi argumen dan dasar atas eksistensi fatwa dalam ajaran Islam. Dalam potret sejarah penetapan hukum Islam, berdasarkan realitas empiric dapat diidentifikasi secara sistematis sejak periode Rasulullah Saw. hingga era kontemporer saat ini. Nabi Muhammad Saw. adalah orang yang pertama kali memberikan fatwa kepada manusia dalam agama Islam, beliau memberi fatwa dengan wahyu yang diturunkan kepadanya. Sepeninggal beliau gelar pemberi fatwa disandang oleh para sahabatnya seperti Abu> Bakar (w. 13 H), ‘Umar bin Khat}t}ab (w. 23 H), ‘Ali> bin Abi> T{a>lib (w. 40 H), ‘Abdullah bin Mas‘u>d (w. 51 H), ‘Ayshah (w. 58 H), Zayd bin Tha>bit (w. 15 H), ‘Abdullah bin ‘Abba>s (w. 68 H), dan lain 8. Sebenarnya praktik perwakafan sudah diterima oleh bangsa sejak sebelum merdeka di berbagai kawasan Nusantara, terutama di kerajaan-kerajaan Islam seperti kerajaan Aceh, Demak, Banten dan Cirebon. Lihat Mustafa Edwin Nasution, ‚Peran Badan Wakaf Indonesia (BWI) Dalam Pengembangan Wakaf Di Indonesia‛ dalam Jurnal AlAwqaf, Vol. 1. Nomor 01, Desember 2008, h. 2. 9 Undang-Undang Republik Indonesia No. 41 tahun 2004 Tentang Wakaf. 10 Lihat Yusdani, Peranan Kepentingan Umum dan Reaktualisasi Hukum: Kajian Konsep Hukum Islam Najm al-Di>n al-T{u>fi>, (Yogyakarta: UII Press, 2000), h. 3 11 Lihat QS. Al-Nisa>’ [4]: 127 176. QS. Al-S}affa>t [37]: 11, 149. QS. Yusuf [12]: 43,46. QS. Al-Naml [27]: 32 dan QS. Al-Kahfi [18]: 22.. 3.

(15) sebagainya. Kemudian setelah generasi sahabat, pemberi fatwa dipegang oleh para tabi’in yang tersebar di berbagai wilayah kekuasaan Islam. Di Madinah ada Sa‘i>d bin Musayyab (w. 94 H), di Makkah terdapat Atha’ bin Rabah (w. 732 M), di Kufah terdapat Ibra>him al-Nakha>’i (w. 96 H), dan lain-lain. Pada masa sahabat dan tabi’in orang-orang Islam telah terbiasa meminta fatwa kepada para mufti tanpa menentukan mufti tertentu, kebiasaan tersebut berlanjut hingga pada masa sekarang, dan hanya ulama’ yang memenuhi syarat berijtihadlah yang berani memegang amanat fatwa tersebut.12 Menurut Atho Mudzhar, dalam konteks Tata Negara Islam di zaman modern ini, fungsi fatwa dapat dikelompokan menjadi tiga. Pertama, Negara yang menempatkan Syari’at Islam sebagai dasar dan Undang-undang Negara yang diterapkan secara utuh dan sempurna, sehingga fatwa menjadi keputusan hukum yang mengikat, baik yang berkaitan dengan hukum perorangan maupun dalam soal politik. Negara Arab Saudi adalah suatu contoh penting, di mana peralihan kekuasaan kepada Raja Faisal pada tahun 1964 telah dimungkinkan oleh sejumlah fatwa ulama Saudi. Kedua, Negara yang berdasarkan hukum sekuler, maka fatwa tidak berperan dan tidak berfungsi apapun dalam kehidupan bernegara. Negara Turki adalah contoh yang tetap, di mana praktik pemberian fatwa dianggap menjadi persoalan yang kurang menonjol, bahkan boleh dikatakan tidak ada. Ketiga, Negara yang menggabungkan atau mengkompromikan antara hukum sekuler dengan hukum Islam, maka fatwa berfungsi hanya dalam ranah hukum Islam. Negara Mesir, Tunisia, Irak, Siria, dan Indonesia adalah merupakan contoh konkrit dari jenis Negara yang ketiga ini, karena di samping mereka menerima hukum sekuler yang merupakan warisan dari negara-negara penjajah, juga masih mempertahankan sejenis peradilan agama untuk undang-undang keluarga, sehingga praktik pemberian fatwa pada negara jenis ketiga ini, diharapkan berjalan terus serta merupakan gejala yang sangat penting bagi perkembangan hukum Islam. Dengan diterimanya unsur-unsur hukum sekuler dan perkembangan modern lainnya, diharapkan akan menampilkan ciri khas, terutama dalam hal upaya mempertahankan syariat sebagaimana tersurat dalam naskah-naskah klasik disamping juga menghadapi tantangan-tantangan modern.13 Eksistensi fatwa sebagai produk ijtihad para mufti, meniscayakan adanya perbedaan pendapat. Hal ini disebabkan karena beberapa factor mulai dari perbedaan memahami nash (al-Qur’an dan Hadits), perbedaan tingkat sosio cultural masyarakat, tempat berdomisili hingga perbedaan metodologi.14 Implikasi dari pro dan kontra tersebut, terdapat pandangan yang beranggapan bahwa perbedaan merupakan biang perpecahan, namun tidak sedikit pula yang beranggapan bahwa perbedaan merupakan sebuah hikmah yang mendorong perkembangan dalam hukum Islam itu sendiri. Demikian ini dikarenakan dengan terjadinya pro dan kontra, dapat menimbulkan pemikiran-pemikiran baru dalam hukum Islam, 12. Muhammad Salam Madkur, al-Qadla>’ fi> al-Isla>m, (Beirut: Da>r al-Nahd}ah al‘Arabiyyah, 1964), h. 137. 13 Muhammad Atho Mudzhar, Fatwa-Fatwa Majelis Ulama Indonesia…h. 3 14 Dedi Supriyadi, Sejarah Hukum Islam dari Kawasan Jazirah Arab Sampai Indonesia, (Bandung: Pustaka Setia, 2007), h. 130. 4.

(16) sehingga hukum Islam dapat menjadi hukum yang dinamis dan berlaku sepanjang masa. Pada dasarnya, landasan pembaharuan pengelolaan dan inovasi objek wakaf, bermula dari memegangi doktrin satu mazhab sudah tidak lagi memadai. Oleh karena itu, guna mengatasi problem tersebut, penyusunan undang-undang maupun fatwa banyak yang melakukan takhayyur.15 Penggunaan serta pemilihan konsep takhayyur ini, semata-mata dilakukan karena berdasarkan kepada kemaslahatan (kepentingan umum) bagi umat Islam. Titik poinnya adalah pendapat yang dipilih merupakan pendapat yang otoritatif dan legal, dapat menyesuaikan dan menghadapi problem umat Islam kontemporer khususnya bidang muamalat yang semakin luas dan kompleks. Berdasarkan konsep takhayyur tersebut, di Mesir wakaf keluarga (ahli>) boleh dilepaskan setelah jatuh tempo masa wakafnya (wakaf berjangka). Hal ini adalah pendapat minoritas di kalangan para ahli hukum. Bandingannya adalah wakaf masjid yang menjadi abadi (ta’bi>d), sebagaimana dikemukakan oleh pendapat mayoritas ahli hukum, dan wakaf khairy (selain masjid) tidak boleh dikekalkan (abadi) berdasarkan kepada pendapat sebagian ahli hukum.16 Penggunaan metode takhayyur meskipun menghasilkan ketetapan hukum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern, namun karena tidak ditopang dan dilandasi oleh bangunan ushul fikih yang sistematis dan terpadu, sehingga sering menimbulkan inkonsistensi penalaran dan memberi kesan oportunis yang hanya merupakan penyelesaian sementara bagi masalah hukum yang dibutuhkan masyarakat. Dengan demikian, prinsip takhayyur ini pada dasarnya memiliki kelemahan ushul fikih yang serius.17 Oleh karena itu, dalam rangka pembaharuan hukum Islam bidang wakaf di negara-negara Islam, seharusnya berangkat dan diawali dari pembaharuan bangunan ushul fikihnya. Dalam konteks ini, Da>r al-Ifta>’ al-Mis}riyyah merupakan lembaga fatwa pertama yang didirikan di dunia Islam, pada tahun 1895 berdasarkan surat keputusan dari Khedive Mesir Abbas Hilmi yang ditujukan kepada Nidzarah Haqqaniyah No 10 tanggal tanggal 21 November 1895. Surat tersebut telah diterima oleh Nidzarah yang bersangkutan tanggal 7 Jumad al-Akhir 1313 nomor 55. Lembaga fatwa Mesir ini, merupakan salah satu pilar institusi Islam di Mesir selain al-Azhar al-Syarif, Universitas al-Azhar dan Kementrian Wakaf. Jangkauan Da>r al-Ifta>’ dalam memberikan fatwa tidak terbatas hanya di Mesir saja, namun menjamah ke seluruh dunia. Hal itu dapat diketahui dengan banyaknya pertanyaan yang dilayangkan ke lembaga fatwa tersebut dimana para penanyanya berasal dari berbagai penjuru dunia, ditambah dengan diadakaanya pelatihan fatwa untuk 15. Metode takhayyur adalah metode dengan cara menyeleksi beberapa pendapat dalam mazhab fikih tertentu dan tidak memilih pendapat dominan di dalam mazhab arus utama, termasuk mengizinkan seleksi mazhab sunni lainnya. Lihat Abdulla>h Ah}mad AlNa‘i>m, Toward and Islamic Reformation, (Yogyakarta: LKis, 2011), h. 76. 16 Lihat Muh}ammad Must}afa> al-Shalabi>, Muh}a>d}ara>t fi> al-Waqf wa al-Was}iyyah, (al-Iskandariyyah: Da>r al-Ta’li>f, 1957), h. 37 17 Wael B. Hallaq, A History of Islamic Legal Theories: An Introduction to Sunni Us}u>l al-Fiqh, (Cambridge: Cambridge University Press, 1997), h. 211.. 5.

(17) mahasiswa asing, di samping itu, posisi Da>r al-Ifta>’ yang selalu dijadikan rujukan (marji>‘iah) oleh seluruh umat Muslim karena metodenya yang moderat (tawasut}).18 Da>r al-Ifta>’ Al-Mis}riyyah telah mengeluarkan 465 fatwa tentang wakaf sepanjang tahun 1895 hingga 2003, yang terhimpun dalam kitab Al-Fata>wa> Al-Isla>miyyah Min Da>r Al-Ifta>’ Al-Mis}riyyah yang terdiri dari 39 jilid. Adapun tahun setelah 2003 hingga sekarang putusan fatwanya terdapat dalam website resmi Dar> al-Ifta>’ (http://dar-alifta.org/Module.aspx?Name=aboutdar). Dalam persoalan inovasi19 objek wakaf, Da>r al-Ifta>’ pernah mengeluarkan fatwa mengenai bolehnya wakaf uang yang disimpan di bank dengan system deposito, bolehnya wakaf saham, dan menganggap tidak sah wakaf manfaat tanah sewa. Adapun tentang pengelolaan wakaf agar dapat produktif, Da>r al-Ifta>’ pernah mengeluarkan fatwa mengenai bolehnya tukar guling objek wakaf (istibda>l). Fatwafatwa tersebut membutuhkan penjelasan lebih lanjut dalam sebuah bentuk kajian yang mendalam. Latar belakang di atas menjadi alasan kajian ini untuk melakukan kajian terhadap metode penetapan fatwa inovasi dan tukar guling objek wakaf (istibda>l) wakaf yang dilakukan oleh Da>r al-Ifta>’ Al-Mis}riyyah, khususnya jika dikaitkan dengan pertimbangan kemaslahatan. Atas dasar itu, penelitian ini hendak melakukan kajian terhadap fatwa inovasi dan tukar guling (istibda>l) wakaf serta berusaha menelusuri ushul fikihnya (argumen) yang menjadi landasan penetapan fatwa-fatwa tersebut. Dengan diketahui landasan ushul fikihnya, maka pada gilirannya dapat dikembangkan bangunan ushul fikih yang ada pada fatwa-fatwa tersebut sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap upaya pembaharuan hukum Islam bidang wakaf. Dengan demikian, pembaharuan serta pengembangan hukum Islam bidang wakaf, tidak akan menarik jika tidak dimulai dengan mendudukkan ushul fikihnya sebagai metodologi mendasar yang melahirkan produk hukum wakaf. Hal ini dikarenakan, dalam diskursus pemikiran hukum Islam kontemporer, problem yang dihadapi bukan hanya pada materi hukum Islam seperti apa yang sesuai dengan konteks masyarakatnya, tetapi justeru pada teori dan metodologi (ushul fikih) yang menjadi landasan dalam penetapan hukum Islam yang bersumber pada al-Qur’an dan Hadits tersebut sesuai dengan konteks dan kondisi masyarakat kontemporer. Dengan demikian pembaharuan hukum Islam bidang wakaf yang berangkat dari mendudukan ushul fikih sebagai epistemologi hukum Islam dapat diformulasikan lebih sitematis dan kontekstual.. 18. http://dar-alifta.org/Module.aspx?Name=aboutdar. diakses pada 23 Januari 2019 pukul 22.30 19 Inovasi yang dimaksud disini adalah usaha yang dilakukan oleh seseorang (mujtahid) dengan mendayagunakan pemikiran, kemampuan imajinasi, berbagai stimulant, dan individu yang mengelilinginya untuk membawa sesuatu hal yang baru atau hal lama yang tidak populer yang dapat memudahkan kehidupan manusia dan membawa ke dalam kondisi kehidupan yang lebih baik.. 6.

(18) B.. Permasalahan 1. Identifikasi Masalah Dari latar belakang masalah tersebut, terdapat beberapa masalah yang dielaborasi dalam bentuk identifikasi masalah, diantaranya adalah sebagai berikut: a. Fatwa sebagai produk ijtihad mufti>, memiliki landasan filosofis yang mendasari lahirnya fatwa tersebut. Dalam kajian ushul fikih, landasan filosofis tersebut dikenal sebagai philosophy of Islamic law atau Islamic legal theory. Apa saja yang menjadi latar belakang filosofis atas fatwafatwa inovasi dan tukar guling (istibda>l) wakaf? b. Fatwa memiliki kedudukan serta peranan yang strategis dan signifikan sebagai upaya pengembangan hukum Islam, oleh karena itu dibutuhkan suatu metodologi sistematis dan landasan teori yang lebih tegas dan konsisten agar produk hukum yang dihasilkan benar-benar bersifat komprehensif dan berkembang secara konsisten. Bagaimanakah metodologi fatwa dirumuskan sehingga menghasilkan fatwa-fatwa tersebut? Dan teori apakah yang digunakan dalam menentukan fatwa-fatwa tersebut? c. Pemilihan metode takhayyur dalam menyelesaikan problematika hukum kontemporer, meskipun menghasilkan ketetapan hukum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern, namun karena tidak dilandasi dengan bangunan ushul fikih yang sistematis maka sering menimbulkan inkonsistensi penalaran dan memberi kesan oportunis yang hanya merupakan penyelesaian sementara bagi masalah hukum, sehingga prinsip takhayyur ini pada dasarnya memiliki kelemahan ushul fikih yang serius. Bagaimanakah gambaran pemilihan metode takhayyur dalam menentukan fatwa-fatwa tersebut? d. Sejarah dan perkembangan wakaf di dunia Islam telah mangalami kemajuan yang signifikan baik dalam pengembangan objek wakaf maupun menejemen wakaf, namun tujuan wakaf yang sejatinya (mensejahterakan umat) belum terealisasikan secara sempurna. Apa saja factor yang menghambat terealisasinya fungsi wakaf secara sempurna? e. Inovasi objek wakaf yang merupakan pengembangan dari objek wakaf harta benda bergerak telah memberikan terobosan baru bagi kaum muslim untuk mewakafkan sebagian harta bendanya. Kebolehan wakaf uang, telah memberikan dampak terhadap bolehnya wakaf saham. Meskipun sebenarnya uang oleh sebagian ulama diperbolehkan untuk dijadikan sebagai objek wakaf dan sebagian yang lain dilarang untuk dijadikan sebagai objek wakaf. Hal ini dikarenakan uang akan hilang setelah digunakan, sehingga sifat keabadian yang menjadi syarat dalam perwakafan tidak terpenuhi. Pro-kontra mengenai boleh tidaknya wakaf uang dan saham tersebut, akan dapat diselesaikan dengan baik jika dilihat dari perspektif ilmu ushul fikih, karena sebenarnya pro-kontra tersebut berpangkal dari pemahaman unsur keabadian, dalam memahami Hadits tentang petunjuk Nabi atas Umar bin Khat}t}a>b (w. 23 H). Bagaimanakah landasan ushul fikih dalam menentukan kebolehan wakaf uang dan saham tersebut? 7.

(19) f.. Inovasi objek wakaf di atas selain mencakup tentang objek wakaf yang bersifat material, juga mencakup objek wakaf yang bersifat nonmaterial. Objek wakaf nonmaterial berupa manfaat yang nantinya dapat mengahasilkan harta benda atau uang sebagaimana harta benda material. Inovasi objek wakaf manfaat ini berupa wakaf manfaat hasil sewa, dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) baik berupa hak paten, hak cipta, hak merek dan hak-hak lainnya. Sikap para ulama tentang inovasi objek wakaf yang berupa manfaat tersebut belum menunjukan titik temu, sehingga terjadi kesepakatan diantara mereka. Bagaimanakah sikap ulama Indonesia dan Mesir dalam menyikapi wakaf manfaat tersebut? Dan bagaimana kerangka ushul fikihnya? g. Tukar guling objek wakaf (istibda>l) sebenarnya menjadi salah satu solusi permasalahan wakaf agar dapat memberikan kemanfaatan kepada mawqu>f ‘alayh-nya secara maksimal. Namun keberadaan tukar guling (istibda>l) menjadi perdebatan ulama, sebagian membolehkan tukar guling (istibda>l) dengan syarat-syarat tertentu dan sebagian yang lain tidak membolehkannya dalam kondisi apapun. Perbedaan tersebut berawal dari perbedaan pemahaman tentang prinsip wakaf yang mengharuskan selamanya (ta’bi>d al-as}l) namun juga harus memberikan kemanfaatan (tasbi>l al-manfa’ah). Dengan demikian, perlu kiranya masalah tukar guling (istibda>l) ini tidak hanya melihat bagaimana pendapat ulamanya, tapi dilihat dari sisi metode ijtihad yang digunakannya, baik dari sisi landasan normatifnya maupun sisi kemaslahatannya. Bagaimanakah bentuk dan model tukar guling (istibda>l) yang dibolehkan? Dan bagaimanakah landasan ushul fikihnya?. 2. Perumusan Masalah Kajian ini bermaksud menjelaskan tentang persamaan dan perbedaan metode fatwa inovasi dan tukar guling objek wakaf yang dilakukan oleh Da>r alIfta>’ Al-Mis}riyyah dengan Komisi Fatwa MUI, Lajnah Bah}th al-Masa>’il NU dan Majelis Tarjih Muhammadiyah. Karena itulah, maka rumusan masalah yang ingin dijawab adalah bagaimana persamaan dan perbedaan hukum, metode dan argument fatwa ulama Mesir dan Indonesia tentang inovasi dan tukar guling wakaf? Rumusan masalah mayor tersebut diturunkan menjadi beberapa pertanyaan minor sebagai berikut: a. Bagaimanakah persamaan dan perbedaan prosedur pemberian fatwa ulama Mesir dan Indonesia tentang inovasi dan tukar guling wakaf? b. Bagaimanakah persamaan dan perbedaan fatwa ulama Mesir dan Indonesia tentang hukum inovasi dan tukar guling wakaf? c. Bagaimanakah persamaan dan perbedaan metode dan argumen fatwa ulama Mesir dan Indonesia tentang inovasi dan tukar guling wakaf? 3. Pembatasan Masalah Kajian disertasi ini dibatasi pada fatwa tentang inovasi dan tukar guling (istibda>l) objek wakaf yang dikeluarkan oleh lembaga fatwa di Indonesia dan Mesir. 8.

(20) Indonesia diwakili oleh Komisi Fatwa Majlis Ulama Indonesia (KF-MUI), Lajnah Bah}th al-Masa>’il (LBM-NU), dan Majlis Tarjih Muhammadiyah dan Mesir diwakili oleh Da>r al-Ifta>’ al-Mis}riyyah. Rentang fatwa yang diteliti adalah fatwa yang dikeluarkan pada periode 1929-2019 di Indonesia dan periode 1896-2019 di Mesir. Secara keseluruhan fatwa tentang inovasi dan tukar guling (istibda>l) sebanyak 32 fatwa, dikarenakan banyaknya jumlah fatwa yang diteliti, maka untuk memudahkan pelaksanaanya, kajian ini membatasi diri hanya meneliti 17 fatwa. Adapun uraiannya adalah fatwa Indonesia sebanyak 7, yang meliputi 4 fatwa tentang inovasi objek wakaf dan 3 fatwa tentang tukar guling (istibda>l), sedangkan fatwa Mesir sebanyak 10 yang meliputi fatwa tentang inovasi objek wakaf sebanyak 4 fatwa, dan fatwa-fatwa tentang tukar guling (istibda>l) sebanyak 6 fatwa. Karena keterbatasan waktu, dana dan kemampuan, fatwa-fatwa lainnya yang berkaitan dengan wakaf, ditinjau secara umum untuk tetap mendapatkan gambarannya yang menyeluruh. Di samping itu, aspek dampak dan respon atas fatwa-fatwa tersebut tidak akan dibahas dalam kajian ini. C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian disertasi ini adalah untuk memahami persamaan dan perbedaan isi dan argument fatwa ulama Mesir dan Indonesia tentang inovasi dan tukar guling wakaf. Secara khusus tujuan penelitian ini adalah: a. Untuk memahami persamaan dan perbedaan prosedur pemberian fatwa ulama Mesir dan Indonesia tentang inovasi dan tukar guling wakaf; b. Untuk memahami persamaan dan perbedaan isi fatwa ulama Mesir dan Indonesia tentang inovasi dan tukar guling wakaf; c. Untuk memahami persamaan dan perbedaan argumen dan metodologi fatwa ulama Mesir dan Indonesia tentang inovasi dan tukar guling wakaf. 2. Manfaat Penelitian Sedangkan hasil penelitian ini secara umum diharapkan dapat memberikan pemahaman tentang persamaan dan perbedaan isi dan argument fatwa ulama Mesir dan Indonesia tentang inovasi dan tukar guling wakaf. Sedangkan secara spesifik diharapakan: a. Memberikan kontribusi dan gambaran yang utuh tentang persamaan dan perbedaan prosedur pemberian fatwa ulama Mesir dan Indonesia tentang inovasi dan tukar guling wakaf; b. Memberikan kontribusi pemikiran dalam mengembangkan isi fatwa secara utuh tentang inovasi dan tukar guling wakaf, dari ulama Mesir dan Indonesia, sehingga menjadi alternative dalam pengelolaan wakaf di Indonesia c. Memberikan kejelasan argument dan kerangka metodologi bagi upaya pembaharuan hukum perwakafan, sehingga hasil penelitian ini tidak hanya bermanfaat bagi Indonesia saja tapi juga negara-negara Islam yang lainnya. Hal ini penting, mengingat pembaharuan hukum perwakafan. 9.

(21) secara epistemology kurang progresif dalam merespon perkembangan zaman yang cepat berubah. D. Penelitian Terdahulu yang Relevan Di antara penelitian tentang inovasi objek wakaf adalah penelitian yang dilakukan oleh Mannan tentang sertifikat wakaf uang pada tahun 1999.20 Sebuah penelitian yang menjadi rujukan dalam mengeluarkan sertifikat wakaf uang. Penelitian sekaligus pengalaman yang dilakukan di SIBL (Sosial Investmen Bank Limited) tersebut, menyimpulkan bahwa investasi wakaf uang dapat dilakukan pada berbagai kegiatan investasi sosial yang mempunyai manfaat jangka panjang. Ia juga menguraikan sasaran wakaf uang dan garis-garis operasional sertifikat wakaf uang yang menjadi pedoman bagi perbankan syari’ah dalam menginvestasikan wakaf uang. Adapun penelitian tentang menejemen pengelolaan wakaf uang, dilakukan oleh Dian Masyita pada 2005.21 Ia menyatakan bahwa dana wakaf dapat menjadi sarana pengurangan kemiskinan di Indonesia, terutama melalui program microfinance (pembiayaan usaha kecil dan menengah). Jika rencana ini diterapkan dengan mulus perusahaan mikro dapat menjalankan usaha maksimum, sehingga dapat menghapuskan kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia. Penelitian diatas diperkuat oleh Hendra melaui penelitian disertasi tentang peranan wakaf uang pada 2008,22 dan Omar Ahmad Kachkar melalui artikel yang ditulisnya tentang wakaf uang untuk para pengungsi pada tahun 2017.23 Duddy Roesmara Donna dan Mahmudi juga menyatakan bahwa melalui pendekatan matematika dalam mengelola wakaf uang, dapat mengoptimalkan alokasi dana wakaf dari waktu ke waktu dengan memelihara jumlah dana wakaf secara prinsipil. Optimalisasi model ini didasarkan pada pemaksimalan nilai guna (utility) dengan perubahan jumlah dana wakaf secara terbatas. Dengan demikian, dapat dibuat perencanaan arus kas keuangan (cash flow), yaitu berapa banyak dana yang akan dialokasikan untuk produktif dan konsumtif setiap tahun. Secara teoritis, hasil 20. Mannan, ‚Cash Waqf Certificate Global Opportunities for Developing the Social Capital Market in 21st-Century Voluntary-Sector Banking‛, Proceeding of the Third Harvard University Forum on Islamic Finance, Cambridge, Massachussetts, Harvard University, 30 September-2 Oktober 1999. 21 Dian Masyita, dkk, ‚A Dynamic Model for Cash Waqf Management as One of The Alternative Instruments for The Poverty Alleviation in Indonesia‛, makalah disampaikan pada The 23rd International Conference of The System Dynamics Society, Massachussets Institute of Technology (MIT), Boston, 17-21 Juli 2005. 22 Lihat Hendra, ‚Wakaf Uang dalam Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia: Studi Kasus Tabung Wakaf Indonesia dan Wakaf uang Muamalat Baitul Ma>l Muamalat.‛Disertasi, SPS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008. 23 Lihat Omar Ahmad Kachkar, ‚Towards the establishment of cash waqf microfinance fund for refugees‛ dalam Journal ISRA International Journal of Islamic Finance, Vol. 9 Issue: 1, pp.81-86, https://doi.org/10.1108/IJIF-07-2017-007. Permanent link to this document: https://doi.org/10.1108/IJIF-07-2017-007. Downloaded on: 26 March 2019, At: 20:51 (PT).. 10.

(22) model optimalisasi ini menjadi lebih kuat sejak wakaf uang dirilis secara linier dan asumsi statistik. 24 Tahun 2011, Doddy Afandi Firdaus menulis disertasi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tentang pemanfaatan wakaf tunai untuk kebutuhan hidup keluarga miskin, dengan mengambil objek penelitian di Dompet Dhuafa Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi, di mana ia ingin melihat respon masyarakat miskin terhadap wakaf tunai. Data penelitian diperoleh melalui hasil wawancara dan penyebaran kuesioner pada 50 responden dari keluarga miskin. Lokasi penelitian dilakukan pada RS Bersalin Cuma-Cuma yang didirikan oleh Dompet Dhuafa Bandung hasil dari wakaf. Penelitian tersebut menemukan bahwa 45 orang (90%) menyetakan senang, 5 orang (10%) menyatakan cukup senang, (0%) kurang senang, dan (0%) menyatakan tidak senang. Kesimpulannya adalah wakaf dalam bentuk RS telah memberikan manfaat yang cukup besar bagi keluarga miskin di Bandung.25 Pada tahun 2012, Hasbullah Hilmi, menulis disertasi tentang dinamika pengelolaan wakaf uang, dengan mengambil objek penelitian pada lembaga keuangan syari’ah yang telah ditunjuk oleh pemerintah. Dalam penelitiannya ia focus pada kajian bagaimana wakaf uang dipahami, diterima dan diterapkan oleh lembaga-lembaga pengelola wakaf uang, serta bagaimana perkembangan pengelolaan wakaf uang yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pengelola wakaf uang setelah enam tahun diundangkan di Indonesia. Dalam kesimpulannya ia menyatakan bahwa terdapat pemahaman dan tingkat penerimaan regulasi yang berbeda dalam pengelolaan wakaf uang oleh sembilan lembaga wakaf uang yang diteliti. Kecenderungan perkembangan pengelolaan wakaf uang berbeda. Wakaf uang sesuai dengan desain UU kurang mendapat sambutan dari masyarakat. Wakaf uang yang dipahami sebagai perantara untuk diwujudkan menjadi asset wakaf social atau produktif berkembang di masyarakat dengan pesat.26 Pada tahun 2013. Hj. Abd. Shakor bin Borham, meneliti tentang pelaksanaan wakaf saham yang dilakukan oleh perusahaan di Malaysia serta manfaat yang diraih oleh masyarakat setempat.27 Dalam tulisannya tersebut, ia sebatas menganalisa pelaksanaan wakaf saham serta kritikan beberapa pihak yang 24. Duddy Roesmara Donna dan Mahmudi, ‚The Dynamic Optimization of Cash Waqf Management: an Optimal Control Theory Approach: an Optimal Control Theory Approach‛, makalah disampaikan pada the International Conference: Management from Islamic Perspectives International Islamic University Malaysia (IIUM), Kuala Lumpur, 1516 Mei, 2007. 25 Doddy Afandi Firdaus, ‚Pemanfaatan Wakaf Tunai untuk Kebutuhan Hidup Keluarga Miskin di Dompet Dhuafa Bandung‛, Disertasi Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2011. 26 Hasbullah Hilmi, ‚Dinamika Pengelolaan Wakaf Uang (Studi Tentang Pengelolaan Wakaf Uang Pasca Pemberlakuan UU No. 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf‛, Disertasi: IAIN Walisongo, 2012. 27 Hj. Abd. Shakor, ‚Pelaksanaan Pembangunan Wakaf Korporat Johor Corporation Berhad (Jcorp): Suatu Tinjauan‛, International Conference on Humanities, 2011, Asian Economic and Financial Review, 3(6):736-748, 2013. Journal Homepage: http://aessweb.com/journal-detail.php?id=5002. 11.

(23) menduga bahwa wakaf saham yang dilakukan oleh Jcrop hanyalah untuk menghindari pajak. Tulisan tersebut sama sekali belum menganalisa berbagai keistimewaan yang diberikan oleh Pemerintah Negara Bagian Johor kepada Jcrop. Pada tahun yang sama, Norma Md Saad cs. menulis artikel tentang keterlibatan perusahaan dalam menejemen wakaf.28 Dalam tulisannya tersebut ia menjelaskan tentang menejemen perwakafan saham yang telah dilaksanakan di Malaysia melalui perusahaan An-Nur Berhad dan IIUM Endowment Fund serta di Singapore melalui perusahaan Warees Limited Majelis Ugama Islam Singapore (MUIS). Ia lebih banyak membahas tentang perbandingan praktik wakaf dikedua lembaga yang berbeda Negara tersebut. Siti Muflichah menulis disertasi pada 2016 di Universitas Gadjah Mada jurusan Ilmu Hukum dengan tema pengaturan dan pelaksanaan wakaf tunai. Disertasi tersebut mengambil objek penelitian pada Tabungan Wakaf Indonesia (TWI) Dompet Dhuafa (DD) Jakarta. disertasi ini menemukan setidaknya tiga hal. Pertama, Undang-undang no. 41 tahun 2004 tentang wakaf dapat memberikan pijakan hukum yang pasti, kepercayaan public, serta perlindungan terhadap asset wakaf di TWI DD Jakarta; kedua, pengelolaan wakaf tunai yang dilakukan oleh TWI DD Jakarta sebagian besar digunakan untuk kegiatan social belum menyentuh pada pemberdayaan ekonomi; ketiga, Undang-undang no. 41 tahun 2004 tentang wakaf memberikan prospek yuridis yang positif bagi pengelolaan wakaf tunai di masa yang akan datang.29 Pada tahun yang sama (2016) Dodik Iswandi juga menulis disertasi di Universitas Indonesia jurusan Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dengan tema rekontruksi akuntabilitas lembaga wakaf tunai Indonesia. Kajian disertasi ini menggunakan pendekatan ekonomi dengan metode pengukuran N-helik. Temuan disertasi ini pada kasus lembaga wakaf di Indonesia yang berkaitan dengan akuntabilitas, yakni masih banyak lembaga wakaf yang belum akuntabel. Demikian ini dikarenakan dalam praktiknya, lembaga wakaf tidak melakukan evaluasi kinerja, dan tidak melakukan audit keuangan.30 Penelitin tentang tukar guling (istibda>l) objek wakaf, terdapat beberapa penelitian, diantaranya tahun 2010, Luqman Haji Abdullah menulis artikel tentang istibda>l.31 Dalam artikel tersebut disimpulkan bahwa madzhab Syafi’i telah menerapkan persyaratan yang sangat ketat untuk dilakukannya istibda>l atas objek wakaf. Hanya saja, dalam artikel tersebut tidak dijelaskan sebab mengapa begitu 28. Norma Md Saad cs, ‚Involvement of Corporate Entities in Waqaf Management: Experiences of Malaysia and Singapore‛ dalam Journal Asian Economic and Financial Review, 3(6): 736-748, 2013. Journal homepage: http://aessweb.com/journaldetail.php?id=5002 29 Siti Muflichah, ‚Pengaturan dan Pelaksanaan Wakaf Tunai: Studi Kasus pada Tabungan Wakaf Indonesia (TWI) Dompet Dhuafa Jakarta‛, Disertasi, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Ilmu Hukum, 2016 30 Dodik Iswandi, ‚Rekonstruksi Akuntabilitas Lembaga Wakaf Tunai di Indonesia‛, Disertasi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2016 31 Luqman Haji Abdullah, ‚Istibdal Harta Wakaf dari Perspektif Madzhab Sha>fi’e‛, dalam Journal of Fiqh No. 7, 2010. 12.

(24) ketatnya persyaratan yang diberlakukan dalam madzhab tersebut. Mohd Afendi Mat Rani juga menulis artikel tantang mekanisme istibdal.32 Dalam kesimpulannya, ia menyatakan bahwa pelaksanaan istibda>l tanah wakaf yang diambil oleh kerajaan tidak boleh ditunda atau dilambatkan. Istibda>l harus dilakukan dengan cepat oleh pemangku kepentingan demi menjaga kepentingan wakif dan umat Islam seluruhnya. Pelaksanaan istibda>l harus memperhatikan semua pandangan ulama fikih tanpa terikat dengan satu madzhab tertentu dan disesuaikan dengan keputusan jawatan kuasa fatwa negeri dan kebangsaan. Pada tahun yang sama, Mohd. Ridzuan Awang, juga menulis artikel tentang konsep istibda>l di Malaysia.33 dalam artikelnya tersebut ia menyatakan bahwa konsep istibda>l tanah wakaf di negeri-negeri Malaysia telah diamalkan oleh Majlis Agama Islam Negeri-negeri (MAIN). Pelaksanaan istibda>l harta benda wakaf di negeri-negeri harus mendapat persetujuan dari Jawatan Kuasa Syariah Negeri-Negeri atau Mufti. Penelitian di atas diperkuat oleh Zuraidah Mohamed Isa,34 Jasni bin Sulong pada tahun 2011,35 dan S. Hisham dkk pada 2013.36 Adapun penelitian tentang istibda<l yang secara spesifik dilakukan di Negara bagian Malaysia, telah dilakukan oleh bebrapa orang, diantaranya Afiffudin Mohammed Noor dan Mohd Ridzuan Awang menulis artikel tentang pelaksanaan istibda>l di Negeri Kedah, pada tahun 2013.37 Zahri Hamat, yang mengambil kasus di Negeri Kelantan, tahun 2014.38 Pada tahun yang sama, Che Zuina Ismail dan Marina Abu. 32. Mohd Afendi Mat Rani, ‚Mekanisme Istibdal dalam Pembangunan Tanah Wakaf: Kajian Terhadap Isu Pengambilan Tanah Wakaf oleh Pihak Berkuasa Negar di Malaysia‛, Jurnal Pengurusan Jawhar, Vol. iv , No. 1 (2010) 33 Mohd. Ridzuan Awang, ‚Konsep Istibdal: Sejauhmana Amalannya di Malaysia‛ Jurnal Pengurusan Jawhar, Vol. iv , No. 1 (2010) 34 Lihat Zuraidah Mohamed Isa et al., ‚A Corporative Study of Waqf Managemen in Malaysia‛, international Conference on Sociality and Economics Development IPEDR, Vol. 10 (2011), IACSIT Press Singapore, 564, http://www.ipedr.com/vol10/105-S10085.pdf. 35 Lihat Jasni bin Sulong, ‚Permissibility of Istibda>l in Islamic Law and The Practice in Malaysia‛, Journal of US-China Public Administration, Vol. 10 No. 7 (July 2013) 36 Lihat S. Hisham, Hazel Adria Jasiran and Kamaruzaman Jusoff, ‚Substitution of Waqf Properties (Istibdal) in Malaysia: Statutory Provisions and Implementations‛ dalam journal Middle-East Journal of Scientific Research 13 (Research in Contemporary Islamic Finance and Wealth Management): 23-27, 2013; ISSN 1990-9233 © IDOSI Publications, 2013. DOI: 10.5829/idosi.mejsr.2013.13.1877. 37 Afiffudin Mohammed Noor dan Mohd Ridzuan Awang, ‚The Implementation of Istibdal Endowment in The State of Kedah Darul Aman‛, Journal Islamiyyat The International Journal of Islamic Studies, Vol. 35, No.1 (2013). 49 – 56. http://eresources.pnri.gi.id/library.php?id=00001 38 Lihat Zahri Hamat ‚Substitution of Special Waqf (Istibdal): Case Study at the Religious and Malay Custom Council of Kelantan (MAIK)‛ dalam journal The Macrotheme Review The Macrotheme ReviewA multidisciplinary journal of global macro trends. The Macrotheme Review 3(4), Spring 2014. 13.

(25) Bakar meneliti tantang faktor-faktor istibda>l wakaf dengan mengambil kasus di Negeri bagian Penang.39 Tahun 2013, Achmad Siddiq telah menulis disertasi tentang praktik maslahah istibda>l wakaf.40 Diantara kesimpulannya adalah (1) pemahaman Nazhir wakaf tentang kemaslahatan dalam istibda>l (mas}lah}ah al-istibda>l) terorientasi pada aspek nilai ekonomi (nilai jual objek pajak tanah, letak kestrategisan tanah, produktifitas tanah). (2) praktik istibda>l terjadi bukan hanya karena kemaslahatan mendesak (mas}lah}ah al-d}aru>ri>), namun juga karena kemaslahatan yang sangat dibutuhkan (mas}lah}ah al-h}aji>y), seperti mengeluarkan harta benda wakaf dari ketidak-berdayaannya dalam memberikan manfaat, atau alasan kepentingan umum yang lebih besar terhadap pemanfaatan harta benda wakaf . (3) fungsi hukum dalam praktif kemaslahatan dalam istibda>l antara lain adalah (a) mengontrol masyarakat, sehingga masyarakat melakukan praktik maslahah istibdal sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku, (b) merekayasa masyarakat, sehingga masyarakat memiliki paradigma produktif dalam mengelola harta benda wakaf, dan (c) memberikan kontribusi hukum bahwa praktik mas}lah}ah al-istibda>l dalam masyarakat tidak selalu terjadi karena kemaslahatan yang mendesak (mas}lah}ah aldaru>riyah). Penelitian yang hampir sama dilakukan oleh Fahruroji pada 2005 tentang pengembangan harta melalui istibda>l.41 Dalam penelitiannya ia mengatakan bahwa kasus-kasus istibda>l wakaf yang diteliti cenderung membawa dampak positif terhadap pengembangan harta benda wakaf, seperti tanah wakaf menjadi lebih luas, nilainya lebih tinggi, lokasinya lebih strategis, manfaat atau hasilnya lebih banyak dan lebih produktif. Hanya sedikit sekali yang berdampak negative terhadap harta benda wakaf, seperti turunnya harga tanah wakaf dan lokasinya yang tidak strategis. Selanjutnya tahun 2017, Muhammad Aiz juga melakukan penelitian disertasi tentang istibda>l wakaf saham.42 Dalam penelitiannya, ia menyatakan bahwa status hukum Isibda>l wakaf saham yang dipraktikan oleh Tabung Wakaf Indonesia dapat dibenarkan secara fikih, meskipun menurut hukum positif yang berlaku praktik wakaf tersebut menyalahi ketentuan karena tidak melibatkan pemerintah atau Badan Wakaf Indonesia (BWI). Penelitian yang agak dini dilakukan oleh Mohammed Farid Ali al-Fijawi dan kawan-kawan tentang istibda>l dilihat dari sudut pandang maqa>s}id al-shari>‘ah 39. Che Zuina Ismail & Marina Abu Bakar. ‚Fact and Implementation Analysis of. Istibdal Method on Waqf Land in the State of Penang. journal December 2017, Vol. 1, Issue. 1 ISSN: 2590-4337 40. Achmad Siddiq, ‚Praktik Maslahah Istibdal Wakaf (Studi Penukaran Tanah Wakaf Masjid Baitul Qodim di Loloan Timur Negra Jembrana Bali, Tanah Wakaf Masjid Kampung Bugis Suwung Sesetan Denpasar Bali dan Tanah beserta Bangunan Wakaf Persyarikatan Muhammadiyah Kota Blitar)‛ Disertasi Program Pascasarjana IAIN Walisongo, 2013 41 Fahruroji, ‚Pengembangan Harta Benda Wakaf Dengan Istibda>l: Studi Kasus Istiba>l Wakaf Tahun 2007-2012‛. Disertasi, SPS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2015. 42 Muammad Aiz, ‚Legalitas dan Dampak Istibda>l Wakaf Saham Pada Tabung Wakaf Indonesia‛. Disertasi, SPS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2017.. 14.

(26) tahun 2018.43 Kesimpulan dalam penelitian tersebut adalah wakaf adalah amal di mana aset (harta pokok) dipertahankan dan hasil atau manfaat diberikan kepada penerima manfaat. Kontinuitas pemanfaatan hasil tergantung pada pemeliharaan dan pengelolaan aset. Salah satu model yang digunakan baik di zaman klasik maupun modern untuk mempertahankan sifat-sifat wakaf adalah penggantian satu sifat wakaf dengan yang lain yang dikenal sebagai istibdāl. Di samping itu, model Istibdāl yang diizinkan oleh hukum Islam adalah mewujudkan tujuan syariah wakaf secara bersamaan. Dengan demikian, model istibda>l yang tidak diizinkan oleh hukum Islam, dinilai akan berbenturan dengan tujuan-tujuan Sharī'ah. E.. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif karena mengkaji tentang ketentuan hukum, argument dan dalil, serta perbandingan tentang inovasi dan tukar guling (istibda>l) objek wakaf yang dikeluarkan oleh ulama Mesir dalam hal ini diwakili oleh Da>r al-Ifta>’ al-Mis}riyah dan ulama Indonesia yang diwakili oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah naskah-naskah fatwa tentang inovasi dan tukar guling (istibda>l) wakaf yang dikeluarkan oleh Da>r al-Ifta>’ al-Mis}riyah yang terdapat dalam kitab al-Fata>wa> al-Isla>miyah min Da>r al-Ifta>’ alMis}riyyah yang terdiri dari 39 jilid. Kitab ini merupakan representasi dari seluruh fatwa yang telah dikeluarkan oleh Da>r al-Ifta>’ mulai dari tahun 1895 dimana lembaga fatwa da>r al-ifta>’ didirikan hingga tahun 2003. Adapun fatwa setelah tahun 2003 hingga sekarang ditelusuri melalui website resmi Dar> al-Ifta>’ http://dar-alifta.org/Module.aspx?Name=aboutdar- dengan cara memasukkan kata kunci ‚wakaf‛ dan sejenisnya pada mesin pencari. Setelah data yang dicari keluar, kemudian dipilah-pilah yang termasuk pembahasan diinventarisir. Selanjutnya buku ah}ka>m al-fuqa>ha> fi> muqarrara>t mu’tamara> nahd}ah al-‘ulama>’, yang merupakan kumpulan-kumpulan fatwa Lajnah Bah}th al-Masa>’il NU (LBM-NU) mulai tahun 1926 hingga tahun 2015. Putusan fatwa setelah tahun 2015, dilakukan pelacakan di perpustakaan PBNU. Buku Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah: Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah digunakan untuk melacak fatwa Majelis Tarjih Muhammadiyyah, dan buku Himpunan Fatwa MUI Sejak 1975 yang diterbitkan oleh Emir, salah satu imprint Penerbit Erlangga untuk melacak fatwa Komisi Fatwa MUI. Buku tersebut merupakan representasi dari seluruh fatwafatwa MUI semenjak tahun 1975 hingga tahun 2015 yang meliputi berbagai macam bidang. Berbagai kitab yang dijadikan rujukan dalam kitab-kitab tersebut juga dipandang sebagai sumber primer dalam kajian ini. Data sekundernya adalah berbagai kitab yang membahas serta mengkaji persoalan wakaf baik dalam konteks klasik maupun kontemporer, sehingga didapatkan referensi-referensi yang dijadikan argumentasi pendukung atau penolak 43. Mohammed Farid Ali al-Fijawi, Maulana Akbar Shah U Tun Aung, and Alizaman D. Gamon ‚Waqf, Its Substitution ( Istibdāl), and Selected Resolutions of Islāmic Fiqh Academy India: A Maqāṣid al-Sharī’ah Perspective‛ dalam journal Intellectual Discourse, Special Issue (2018) 1093–1108 Copyright © IIUM Press. ISSN 0128-4878 (Print); ISSN 2289-5639 (Online). 15.

(27) terhadap permasalahan inovasi dan istibda>l wakaf yang sedang dianalisa. Pengumpulan data dilakukan dengan cara dokumentasi, yaitu penelusuran terhadap fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh institusi fatwa di dua negara tersebut dalam bidang wakaf. Sebanyak 32 fatwa tentang inovasi dan istibda>l dipilah dan dikelompokkan dengan menggunakan teknik purposive sampling yang membagi fatwa tersebut menjadi delapan bagian: 1. Fatwa Wakaf Uang 2. Fatwa Wakaf Saham 3. Fatwa Wakaf Manfaat 4. Fatwa Wakaf Hak Kekayaan Intelektual 5. Fatwa Tukar Guling Objek Wakaf Dengan Syarat Wakif 6. Fatwa Tukar Guling Objek Wakaf yang Rusak 7. Fatwa Tukar Guling Objek Wakaf yang Masih Baik 8. Fatwa Tukar Guling Tanah Masjid Dari fatwa yang telah dikelompokkan tersebut kemudian diambil sejumlah 17 fatwa yang dipandang proporsional dan mewakili setiap pembahasan. Adapun pendekatan yang digunakan untuk menganalisi data yang sudah terkumpul adalah pedekatan yurudis-filosofis dan ushul fikih. Pendekatan-pendekatan tersebut digunakan untuk mengkaji filsafat hukum dan landasan metodologi penetapan hukum. Ilmu-ilmu pendukung lainnya seperti takhri>j al-h}adi>th, qawa>’id al-tafsi>r, sosiologi, ekonomi juga dijadikan pendekatan lain untuk digunakan menguji fatwafatwa tersebut. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis perbandingan. Menurut Peter Mahmud Marzuki studi perbandingan hukum adalah suatu kegiatan untuk membandingkan hukum suatu negara dengan hukum negara lain, atau membandingankan suatu putusan pengadilan yang satu dengan putusan pengadilan lainnya untuk masalah yang sama.44 Studi ini membandingkan fatwa ulama Mesir dan Indonesia tentang inovasi dan tukar guling (istibda>l) objek wakaf dari aspek prosedur pemberian fatwa, muatan-muatan fatwa, argument dan metodologi fatwa. Secara lebih rinci, teknik analisa dan pengujian fatwa penulis menggunakan teknik lima langkah, yaitu sebagai berikut: 1. Mengidentifikasi hukum dari fatwa-fatwa yang dikeluarkan; 2. Mengidentifikasi argument dan dalil-dalil yang digunakan; 3. Membandingkan pendapat hukum, argument dan dalil-dalil yang digunakan dengan pendapat hukum, argument dan dalil-dalil ulama madzhab dan klasik; 4. Membandingkan pendapat hukum, argument dan dalil-dalil yang digunakan dengan pendapat ulama modern; 5. Membandingkan pendapat hukum, argument dan dalil-dalil yang digunakan dengan undang-undang yang berlaku, jika ada.. 44. Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana, 2017), cet. Ke-. 13, h. 173. 16.

Referensi

Dokumen terkait