• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dalam lintasan sejarah, wakaf merupakan sebuah lembaga Islam yang berkembang pesat dan maju, sehingga menjadi salah satu tonggak penyokong kegiatan ekonomi pemerintahan.129 Akan tetapi, dampak dari pendudukan kolonial serta runtuhnya system kekhalifahan, menjadikan perkembangan wakaf di berbagai Negara Muslim sangat lamban. Di samping kondisi yang buruk dengan adanya berbagai tanah aset wakaf tidak produktif dan buruknya system administrasi

127 Majelis Ulama Indonesia, Himpunan Fatwa MUI Sejak 1975, (Jakarta: Emir, 2015), h. 9-10

128 Majelis Ulama Indonesia, Himpunan Fatwa MUI Sejak 1975…h. 9-10

129 M. Boudjellal, ‚The need for a new approach to the role in socioeconomic development of waqf in the 21st century‛. Review of Islamic Economics, 2008. 12 (2), pp.

125–136.

84

lembaga pengelola wakaf. Hal inilah yang kemudian mendorong sejumlah Negara Muslim untuk mengkaji ulang serta merevitalisasi peranan dan fungsi lembaga wakaf. Secara umum, tujuan revitalisasi wakaf adalah untuk menjadikan wakaf sebagai salah satu instrument penting dalam menciptakan perekonomian masyarakat yang lebih baik. Oleh karena itu, pengembangan wakaf di berbagai Negara mengalami perubahan paradigma, baik dari sisi orientasi, maupun objek wakaf itu sendiri. Semula wakaf dipahami masyarakat hanya berorientasi pada kegiatan social keagamaan, setelah adanya revitalisasi wakaf, orientasi tersebut terus dikembangkan sehingga memiliki nilai ekonomis (economic values). Adapun objek wakaf juga mengalami pergeseran dari dominasi wakaf harta tak bergerak menjadi wakaf harta bergerak. Perubahan orientasi dan objek wakaf tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.130

Pembaharuan wakaf melalui upaya revitalisasi, telah dilakukan di berbagai Negara Muslim. Negara Turki, Arab Saudi, Yordania, Kuwait dan Mesir merupakan di antara sekian Negara yang memiliki perhatian besar terhadap pengembangan wakaf. Pengembangan tersebut dilakukan secara produktif dan profesional melalui berbagai bentuk seperti hotel, pabrik, toko, fasilitas budaya yang komersial, rumah untuk usaha, asrama mahasiswa, rumah atau apartemen, berbagai industri, dan properti lainnya. Bahkan di Bangladesh, Malaysia, dan Singapura, wakaf dikelola secara modern, di mana wakaf tidak hanya berupa property, melainkan sudah berkembang dalam bentuk wakaf uang (cash waqf). Di Indonesia, pembaharuan wakaf dimulai dari aspek legal-konstitusional dan kelembagaan. Aspek legal-konstitusional, persoalan wakaf dipayungi oleh Undang-undang (UU) Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 42 Tahun 2006 sebagai petunjuk pelaksanaan UU nomor 41 Tahun 2004.

Adapun aspek kelembagaanya, pemerintah membentuk Badan Wakaf Indonesia (BWI), untuk mengelola wakaf agar lebih terstruktur dan terorganisasi secara kelembagaan. Dalam tataran praktis, dengan paradigma baru tersebut pengembangan harta benda wakaf tidak saja difokuskan pada harta tak bergerak (berupa tanah dan bangunan), melainkan juga berbagai benda (harta bergerak) yang memiliki muatan ekonomi produktif seperti uang, saham, obligasi (sukuk) dan instrumen lainnya.131

Fakta historis dan perubahan paradigma di atas, disadari atau tidak pada dasarnya diinisiasi oleh fatwa. Fatwa merupakan salah satu bentuk pembaharuan hukum Islam di samping fikih, putusan peradilan (yurisprudensi), dan perundang-undangan. Secara umum, fatwa dapat dilakukan secara individu dan kolektif.

Namun saat ini, para ulama tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk mengeluarkan fatwa secara individual, tapi masih memerlukan keterlibatan para ahli dari berbagai disiplin ilmu dan tidak mungkin dapat dilakukan oleh seseorang

130 Muhammad Afdi Nizar, ‚Pengembangan Wakaf Produktif Di Indonesia: Potensi Dan Permasalahan‛ dalam Penguatan Fundamental Sektor Keuangan Dalam Mendukung Stabilitas Perekonomian, Yoopi Abimanyu dkk. (ed.) (Jakarta: PT. Nagakusuma Media Kreatif, 2017), h. 194

131 Muhammad Afdi Nizar, ‚Pengembangan Wakaf Produktif Di Indonesia : Potensi Dan Permasalahan‛,… h. 195-196

85

spesialis pada satu bidang saja, sehingga untuk mengeluarkan fatwa pada masa sekarang ini, dilakukan melalui ijtihad jama>’i (ijtihad kolektif) sebagaimana yang dilakukan oleh ulama-ulama yang tergabung dalam organisasi kemasyarakatan seperti NU, Muhammadiyah, dan MUI. Masing-masing organisasi mempunyai lembaga khusus yang melakukan pembaharuan hukum Islam dalam bentuk fatwa.

Pembaharuan hukum Islam, melalui fatwa yang dikeluarkan oleh organisasi tersebut, memiliki kegunaan praktis terutama bagi yang membutuhkannya, baik oleh pemerintah maupun para pemimpin dan anggota masyarakat, yang pada gilirannya fatwa dapat menjadi acuan dalam penerapan hukum Islam.132

Berangkat dari fakta tersebut, maka pembahasan pada bab ini akan diuraikan beberapa isu fatwa tentang wakaf yang dikeluarkan oleh beberapa lembaga fatwa di Mesir yang akan diwakili oleh Da>r al-Ifta>’ al-Mis}riyyah dan Indonesia yang diwakili oleh Lajnah Bah}th al-Masa>’il, Majelis Tarjih dan Kamisi Fatwa MUI . Isu-isu fatwa tentang wakaf yang dikeluarkan oleh Da>r al-Ifta>’

diperoleh dari kitab al-Fata>wa> al-Isla>miyah min Da>r al-Ifta>’ al-Mis}riyyah yang terdiri dari 39 jilid. Kitab ini merupakan representasi dari seluruh fatwa yang telah dikeluarkan oleh Da>r Ifta>’ mulai dari tahun 1895 dimana lembaga fatwa Da>r al-Ifta>’ didirikan hingga tahun 2003, susunan fatwanya dilakukan secara tematik, dan pembahasan tentang wakaf terdapat pada jilid 5-9, ditambah beberapa halaman pada jilid 25. Adapun fatwa setelah tahun 2003 hingga sekarang ditelusuri melalui website resmi Dar> al-Ifta>’ -http://dar-alifta.org/Module.aspx?Name=aboutdar- dengan cara memasukkan kata kunci ‚wakaf‛ dan sejenisnya pada mesin pencari.

Setelah data yang dicari keluar, kemudian dipilah-pilah yang termasuk pembahasan tentang wakaf diinventarisir.

Kemudian isu-isu fatwa wakaf yang dikeluarkan oleh lajnah Bah}th al-Masa>’il ditelusuri melalui buku ah}ka>m al-fuqa>ha> fi> muqarrara>t mu’tamara> nahd}ah al-‘ulama>’, yang merupakan kumpulan-kumpulan fatwa mulai tahun 1926 hingga tahun 2015. Sedangkan putusan fatwa setelah tahun 2015, dilakukan pelacakan di perpustakaan PBNU. Adapun Isu-isu fatwa wakaf Majelis Tarjih didapatkan pada buku Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah: Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sementara isu-isu fatwa wakaf Komisi fatwa MUI, diperoleh melalui buku Himpunan Fatwa MUI Sejak 1975 yang diterbitkan oleh Emir, salah satu imprint Penerbit Erlangga. Buku tersebut merupakan representasi dari seluruh fatwa-fatwa MUI semenjak tahun 1975 hingga tahun 2015 yang meliputi berbagai macam bidang.

Sebagai lembaga fatwa tertua, Da>r al-Ifta>’ al-Mis}riyyah telah banyak mengeluarkan fatwa baik skala nasional maupun internasional. Berdasarkan penelitian penulis terdapat 465 fatwa tentang wakaf. Dari 465 fatwa, ada 23 fatwa tentang persoalan inovasi objek wakaf dan istibda>l objek wakaf. Untuk memberikan

132 Muhammadong, ‚Dinamika Pembaharuan Hukum Islam di Indonesia dan Tantangannya‛ dalam Jurnal Sulesana, Volume 8, Nomor 2, Tahun 2013… h. 84

86

gambaran tentang persoalan-persoalan dalam fatwa-fatwa tersebut, berikut adalah daftar fatwa disertai dengan tanggal dikeluarkannya:133

1. Hukum menukar tanah wakaf dengan uang, 26 Januari 1896, syaikh Hasunah Al-Nawawi

2. Tukar Guling objek wakaf, 26 September 1899, Syaikh Muhammad ‘Abduh 3. Tukar Guling objek wakaf dan membeli gantinya, 19 Mei 1900, Syaikh

Muhammad ‘Abduh

4. Tukar guling objek wakaf yang rusak, 6 Juni 1900, Syaikh Muhammad Abduh

5. Tukar guling objek wakaf, 25 April 1901, Syaikh Muhammad Abduh 6. Penukaran dalam wakaf, 22 September 1902, Syaikh Muhammad ‘Abduh 7. Mengganti/menukar barang wakaf dengan uang, 1 Februari 1916, Syaikh

Bakhit al-Mut}i>’i>

8. Hukum tukar guling objek wakaf (tanpa tahun)

9. Hukum seorang wakil dalam melakukan istibda>l, 14 Maret 1938, Syaikh Abdul Majid Sali>m

10. Tukar guling objek wakaf, 25 Desember 1938, Syaikh Abdul Majid Sali>m 11. Hukum tukar guling objek wakaf, 22 Juli 1997, Shaykh Nashr Fari>d Wasil 12. Tukar guling tanah yang diwakafkan dengan yang lainnya, 22 Juli 1997,

Nashar Fari>d Wa>s}il

13. Merubah wakaf masjid untuk pembangunan pesantren atau universitas al-Azhar, 23 Januari 2007, Syaikh Ali Jum’ah

14. Tukar guling sebagian tanah dengan bagian tanah masjid, 18 Mei 2008, Syaikh Ali Jum’ah

15. Tukar guling objek wakaf, 7 Juni 2012, Syaikh Ali Jum’ah

16. Tukar guling tanah yang diwakafkan untuk masjid, 24 Juli 2013, Syaikh Syauqi Ibrohim ‘Alla>m

17. Merubah sifat wakaf utuk kemaslahatan, 17 Agustus 2017, Syaikh Syauqi Ibrohim ‘Alla>m

18. Tukar guling objek wakaf, 19 Juni 2018, Syaikh Syauqi Ibrohim ‘Alla>m 19. Mewakafkan manfaat, 19 Oktober 1920, Syaikh Muhammad Isma>’il

Al-Bardi>si>

20. Wakaf saham dan menyalurkan manfaatnya, 13 Mei 2006, Syaikh Ali Jum’ah

21. Mewakafkan uang yang disimpan di bank dengan system deposito untuk sekolah yang berafiliasi dengan al-Azhar, 19 Juli 2006, Syaikh Ali Jum’ah 22. Menggunakan dana zakat mal untuk memiliki saham kemudian diwakafkan

untuk kemaslahatan umum. 11 Nopember 2010, Syaikh Ali Jum’ah

23. Mewakafkan uang yang disimpan di bank dengan system deposito, 13 Mei 2006, 05 Oktober 2011, Syaikh Ali Jum’ah

133 Jumhu>riyyah Mis}r al-‘Arabiyyah, Fata>wa> Isla>miyyah min Da>r Ifta>’ al-Mis}riyyah, (al-Qa>hirah: Da>r al-Ifta>’ al-Mis}riyyah, Jilid 5, 6, 7, 8, 9, dan 25, 2010). Dan lihat pula http://dar-alifta.org/Module.aspx?Name=aboutdar

87

Adapun fatwa tentang wakaf yang dikeluarkan oleh lembaga fatwa Indonesia, berjumlah 25 dengan perincian 13 fatwa dikeluarkan oleh Lajnah Bahth al-Masa>’il NU, 5 fatwa dikeluarkan oleh Majelis Tarjih Muhammadiyah, dan 7 fatwa dikeluarkan oleh Komisi Fatwa MUI. Dari 25 fatwa, ada 9 fatwa yang membahas tentang inovasi objek wakaf dan istibda>l objek wakaf. Untuk memberikan gambaran tentang persoalan-persoalan yang dibicarakan dalam fatwa, berikut adalah daftar fatwa disertai dengan tanggal dikeluarkannya fatwa:

1. Menukar tanah wakaf untuk masjid dengan tanah yang lebih banyak manfaatnya, 25 Maret 1937, Muktamar NU 1937

2. Uang wakaf untuk pembangunan masjid digunakan untuk membiayai pekerjaan bangunan, 19 September 1929, LBM-NU

3. Menukar tanah wakaf masjid, 1996, LBM-NU

4. Masalah yang terkait dengan wakaf, 26 Januari 2009, Komisi Fatwa MUI 5. Mengubah masjid di atas tanah wakaf menjadi gedung taman kanak-kanak,

Muhammadiyah

6. Wakaf dengan uang kontan atau cash, 28 Juli 2002, LBM-NU 7. Wakaf uang, 11 Mei 2002, Komisi Fatwa MUI.

8. Wakaf manfaat asuransi dan manfaat investasi pada asuransi jiwa syari’ah, l06/DSN-MUIIXl2016, DSN-MUI

9. Hak Cipta, 18 Januari 2003, Komisi Fatwa MUI No. 1 Tahun 2003

88

89 BAB IV

PENGUJIAN ATAS FATWA-FATWA INOVASI OBJEK WAKAF

Bab ini menguraikan tentang pengujian atas fatwa inovasi objek wakaf, yang meliputi fatwa mengenai wakaf uang, wakaf saham, wakaf manfaat dan wakaf hak kekayaan intelektual. Pengujian ini menggunakan teknik lima langkah yaitu sebagai berikut: (1) mengidentifikasi hukum dari fatwa-fatwa yang dikeluarkan; (2) mengidentifikasi argument dan dalil-dalil yang digunakan; (3) membandingkan pendapat hukum, argument dan dalil-dalil yang digunakan dengan pendapat hukum, argument dan dalil-dalil ulama madzhab dan klasik; (4) membandingkan pendapat hukum, argument dan dalil-dalil yang digunakan dengan pendapat ulama modern;

(5) membandingkan pendapat hukum, argument dan dalil-dalil yang digunakan dengan undang-undang yang berlaku, jika ada.