• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Pengujian Atas Fatwa Tukar Guling dengan Syarat Wakif 1. Tukar Guling Sebidang Tanah Wakaf Untuk Masjid

1. Tukar Guling Objek Wakaf

Fatwa pertama yang diuji adalah tukar guling objek wakaf, yang dikeluarkan oleh Da>r al-Ifta>’ pada 19 Juni 2018, dengan nomor seri 4354. Dalam fatwa tersebut Da>r al-Ifta>’ ditanya ‚apa pandangan hukum shara’ mengenai istibda>l objek wakaf?’‛. berdasarkan pertanyaan tersebut, Da>r al-Ifta>’ menjawab bahwa menurut hukum shara’, boleh melakukan istibda>l objek wakaf ketika terjadi kerusakan, manfaat yang dikehendaki pada saat akad wakaf telah berkurang, atau karena adanya maslahat yang nyata bagi penerima manfaat wakaf (mawqu>f

‘alayh) bukan maslahat yang semu. Atau benda pengganti lebih banyak manfaatnya dan lebih bernilai. Adapun yang memiliki kewenangan terhadap penentuan boleh tidaknya melakukan tukar guling (istibda>l) adalah hakim yang secara khusus menangani wakaf, atau siapa saja yang secara legal memiliki kewenangan terhadap persoalan wakaf.54

Dari jawaban di atas, terdapat dua poin yang perlu diperhatikan. Pertama, alasan atau argument yang membolehkan praktik tukar guling (istibda>l) objek wakaf. Argument tersebut adalah kondisi objek wakaf sudah rusak, manfaat yang dikehendaki mulai berkurang, adanya nilai kemaslahtan dan benda pengganti lebih bermutu baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Kedua, pihak yang memiliki

52 Afiffudin Mohammed Noor, ‚The Implementation of Istibda>l Endowment in the State of Kedah Darul Aman‛, Journal Islamiyyat The Intenational Journal of Islamic Studies, Vol. 35, No. 1 (2013): I. http://ejounal.ukm.my/islamiyyat/article/view/4191/

(diakses pada 25 Oktober 2018).

53 Kayhan Orbay, ‚The Economic Efficiency of Imperial Waqfs in the Ottoman Empire‛, http://www.helsinki.fi/iehc2006/papers3/Orbay121.pdf. (diakses pada 21 Oktober 2018.

54 Da>r al-Ifta>’ al-Mis}riyyah, ‚Istibda>l al-Waqf‛ No. seri 4354, tahun 19 Juni 2018

186

kewenangan untuk melakukan tukar guling (istibda>l), yaitu hakim atau pemerintah.

Dalam menjawab pertanyaan di atas, Da>r al-Ifta>’ memulainya dengan menukil atau mengutip beberapa pendapat dari berbagai mazhab, dan juga pendapat-pendapat individu. Pengutipan tersebut dilakukan dalam rangka memberikan penjelasan secara konkrit dan jelas mengenai persoalan tukar guling (istibda>l) objek wakaf yang sedang dipertanyakan. Pertama-tama Da>r al-Ifta>’

mengutip pendapat Ibn ‘A<biddi>n (1198-1252 H) dalam kitab Al-Durr al-Mukhta>r, Al-Shirbi>ni> (w. 977 H) dalam kitab Mughni> al-Muh}ta>j, dan Bahu>ti> (w. 1051 H) dalam kitab Kashf al-Qana>’. Pengutipan tersebut dalam rangka menjelaskan devinisi wakaf secara istilah yang sering dibicarakan oleh para ulama. Kutipan tersebut adalah:

‚Wakaf adalah menahan harta yang memungkinkan dapat diambil manfaatnya serta tetap utuh bendanya, dimana wakif telah terputus haknya untuk mempergunakan harta tersebut, yang ditasharrufkan secara syar’i untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam hal ini, kepemilikan harta dari wakif berubah menjadi milik Allah, oleh karenanya ia dilarang untuk dipergunakannya.‛

Dari kutipan di atas, Da>r al-Ifta>’ hendak menjelaskan bahwa:

1. Mawqu>f harus berupa harta benda yang dapat menghasilkan manfaat, tahan lama.

2. Wakif dan yang lainnya tidak diperkenankan menggunakan benda wakaf, karena sudah tidak ada hak bagi mereka.

3. Peralihan kepemilikan harta wakaf, semula milik wakif berubah menjadi milik Allah.

4. Tidak diperkenankan bagi siapa pun termasuk wakif, untuk menggunakan atau membelanjakan harta wakaf.

5. Hanya manfaat yang dihasilkan oleh benda wakaflah yang dapat dipergunakan atau dinikmati oleh para penerima manfaat wakaf.

Penjelasan diatas, poin ke-3 yakni ‚Peralihan kepemilikan harta wakaf, semula milik wakif berubah menjadi milik Allah‛ memberikan pengertian bahwa prinsip wakaf diantaranya adalah, harta benda wakaf harus tetap utuh dan terjaga.

Tidak diperbolehkan segala bentuk perbuatan yang dapat mengancam kerusakan, atau hilangnya eksistensi harta wakaf, misalnya menjual, mengganti atau merubah, menghibahkan pada orang lain dan menjadikannya harta warisan (tirkah). Menurut Da>r al-Ifta>’ pada prinsipnya dalam wakaf dilarang melakukan penggantian benda wakaf (istibda>l), kecuali jika dalam penggantian tersebut terdapat kemanfaatan atau kemaslahatan yang nyata. Adapun orang yang berhak

187

atau memiliki kewenangan dalam menentukan adanya kemaslahatan atau tidak dalam penggantian (istibda>l) adalah qa>d}i> atau hakim yang secara khusus menangani persoalan wakaf atau orang yang diberi kewenangan untuk mengurusinya guna menjaga terwujudnya kemaslahatan yang hakiki bukan kemaslahatan yang semu. Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa, ada sebagian ulama yang tetap bersikukuh untuk melarang terjadinya penukaran, hal ini dikhawatirkan terjadinya penyia-nyiakan wakaf dan penggelapan uang hasil penjualan. Akan tetapi, jika terdapat jaminan keamanan dari kekhawatiran tersebut, maka berdasarkan keputusan qa>d}i> diperbolehkan melakukan istibda>l wakaf baik secara keseluruhan maupun sebagiannya, sesuai dengan kemaslahatan yang ada. Dari sinilah kemudian, Da>r al-Ifta>’ mengutip pendapat Ibnu Nujaim (w.

970 H), salah seorang ulama yang mengikuti mazhab H{anafi>. Kutipan tersebut menggantinya, maka apabila dia menggantinya dengan sesuatu yang hasilnya lebih banyak dan di tempat yang lebih baik, maka menurut Qa>d}i>

Abu> Yu>su>f hal itu dibolehkan. Dan pendapat inilah yang dipraktikkan, jika tidak demikian maka tidak boleh.‛

Dalam kitab yang sama, Da>r al-Ifta>’ melanjutkan kutipannya yang menyatakan bahwa penggantian atau penukaran (istibda>l) benda wakaf atas rekomendasi hakim karena adanya kemaslahatan dalam penggantian tersebut, tetap dilaksanakan, meskipun wakif mensyaratkan hakim atau pemerintah tidak boleh ikut campur dalam persoalan wakaf. Demikian ini karena, posisi kewenangan yang dimiliki hakim jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan wakif, sehingga syarat yang diajukan wakif tersebut tidak berlaku, karena persyaratan wakif dapat dianggap tidak berguna bagi wakaf. Kutipan tersebut adalah:

55 Ibnu Nujaim, Al-Bah}r al-Ra>’iq Sharh} Kanz al-Daqa>’iq,… h. 241

188

ُهَرَ َن َّن َِل ْعَأ َل َو ،ى َى َذ ْرَش ا ِف ٌط لما ُتيِوفَت ِوي ْص

ِل ِةحَل َع ِفوُقوَم ْل َل

ْم ِّي َو ْعَ ت ِل ٌليِط َ ف ، ِفقَو ْل َي ُك

ُنو .

56

ىا ُلَب ْقُ ي َلا َف ،َة َحَل ْصَم َلا َو ِف ْقَو ِل ْل ِوي ِف َةدِئا َف َلا اًط ْرَش

‚Jika pemberi wakaf menetapkan syarat agar benda wakafnya tidak diganti, atau Nazhir wakaf dipecat sebelum menggantinya atau ketika bermaksud menggantinya, maka dalam semua kondisi seperti ini apakah diperbolehkan mengganti benda wakaf itu? Al-T{arsu>si> berkata: ‘tidak ada naql (penjelasan ulama terdahulu) mengenai hal itu. Kalau didasarkan pada kaidah mazhab, maka hakim memiliki kewenangan untuk menggantinya jika menurutnya ada kemaslahatan di dalamnya. Hal itu karena para ulama mengatakan bahwa apabila pemberi wakaf menetapkan syarat bahwa hakim atau penguasa tidak berhak campur tangan dalam urusan wakaf itu, maka syarat itu tidak sah. Dan hakim tetap memiliki kewenangan untuk memberikan pendapat dalam persoalan wakaf ini, karena kewenangannya lebih tinggi. Di samping itu, syarat yang ditetapkan oleh pemberi wakaf ini dapat menghilangkan kemaslahatan bagi para penerima manfaat wakaf dan mematikan wakaf itu sendiri, sehingga syarat tersebut tidak berfungsi dan tidak memiliki kemaslahatan bagi wakaf itu sendiri, oleh karena itu, ia tidak dapat diterima.‛

Kemaslahatan yang nyata, sebagai syarat diperbolehkan penggantian atau penukaran benda wakaf (istibda>l), adalah kemaslahatan yang kembali pada benda wakaf itu sendiri bukan yang lainnya. Dalam hal ini, benda wakaf apakah benar-benar membutuhkan pengganti untuk dapat berfungsi sebagaimana mestinya atau tidak. Oleh karena itu, tolok ukur apakah benda wakaf tersebut butuh terhadap pengganti atau tidak adalah jika benda wakaf dalam kondisi yang sudah tidak meghasilkan manfaat sama sekali karena rusak, atau nilai kemanfaatannya mulai berkurang. Dalam kondisi demikian, maka penukaran benda wakaf yang bertujuan untuk keberlangsungan manfaat yang didapat oleh mawqu>f ‘alayh dapat terealisasi secara berkesinambungan, dapat dibenarkan.

Ibn ‘A<bid al-Di>n mengatakan bahwa praktik istibda>l tersebut dapat dibenarkan meskipun hanya karena kemaslahatan yang nyata. Jadi menurutnya alasan praktik istibda>l tidak hanya benda wakaf dalam kondisi rusak. Hal ini nampak pada kebolehan istibda>l benda wakaf pada sesuatu yang lain yang lebih baik dan lebih banyak.57 ‘Umar bin ‘Ali> (w. 829 H) dalam kitab Fata>wa> Qa>ri>’ al-Hida>yah juga mengatakan bahwa praktik istibda>l diperbolehkan jika kondisi benda wakaf sudah tidak dapat menghasilkan manfaat, kemudian ditukar dengan sesuatu benda yang bermanfaat. Istibda>l juga dapat dibenarkan apabila benda wakaf masih dapat menghasilkan manfaat, kemudian ditukar dengan benda lain yang lebih baik dan lebih banyak manfaatnya.58

56 Ibnu Nujaim, Al-Bah}r al-Ra>’iq Sharh} Kanz al-Daqa>’iq,… h. 241

57 Ibn ‘A<bid al-Di>n, al-‘Uqu>d al-Durriyyah fi> Tanqi>h} al-Fata>wa> al-H{a>midiyyah, (t.k.: t.p. Juz 1, t.t.), h. 115

58 ‘Umar bin ‘Ali>, Fata>wa> Qa>ri>’ al-Hida>yah, (t.k.: t.p., t.t.). lihat juga Ibnu Nujaim (w. 970 H), Al-Bah}r al-Ra>’iq Sharh} Kanz al-Daqa>’iq,… h. 241

189

Kebolehan praktik istibda>l tersebut, tidak hanya terbatas pada penukaran benda wakaf dengan benda yang lain, tetapi menurut Ibnu Nujaim (w. 970 H) dan Ibn ‘A<bid al-Di>n penukaran tersebut meliputi pengganti berupa dirham dan dinar.

Ibn ‘A<bid al-Di>n mengatakan bahwa kebolehan istibda>l menggunakan uang tersebut apabila dalam penukaran terdapat kemaslahatan didalamnya. Hal ini telah masyhur dikalangan ulama seperti Al-Khayr al-Ramli>, al-Sayyid ‘Abd al-Rah}i>m al-Lut}t}fi>, Isma>’i>l al-H{a>’ik dan lain-lain.59

Dari rangkaian uraian ulama-ulama H{anafiyah di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa mereka lebih fleksibel dalam menangani urusan penukaran harta benda wakaf. Hal ini nampak pada pendapat yang membolehkan praktik istibda>l objek wakaf tidak hanya berdasarkan pada kondisi harta wakaf mengalami kerusakan. Akan tetapi, demi kemaslahatan yang nyata baik kemaslahatan bagi harta wakaf (mawqu>f) maupun pihak yang menerima wakaf (mawqu>f ‘alayh). Di samping itu fleksibelitas juga ditunjukan oleh pendapat yang membolehkan bahwa praktik istibda>l tidak harus dengan barang yang sesuai atau setidaknya memiliki fungsi yang sama. Akan tetapi, barang pengganti dari harta wakaf boleh berupa uang yang kemudian dikelola secara baik dan benar agar dapat mendatangkan manfaat.

Da>r al-Ifta>’ selain mengutip pendapat-pendapat H{anafiyyah, juga mengutip pendapat-pendapat Ma>likiyyah. Hal ini dilakukan untuk perbandingan diantara pendapat-pendapat para fuqa>ha>’, sehingga dapat diambil satu rumusan hukum yang lebih komprehensif, karena suatu persoalan telah ditinjau dari berbagai pendapat mazhab, tidak didominasi satu pendapat yang ada. Menurut ulama Ma>likiyyah praktik istibda>l objek wakafyang berupa harta tidak bergerak diperbolehkan dengan alasan kemaslahatan yang nyata. Sajalma>si> menjelaskan bahwa pekarangan atau tanah wakaf yang dalam kondisi rusak sehingga tidak dapat menghasilkan manfaat secara sempurna, maka ia boleh dijual. Sebagaimana ulama Ma>likiyyah yang membolehkan menjual benda wakaf yang masih baik karena khawatir terjadi kerusakan padanya. Hal ini pernah difatwakan oleh al-Qa>d}i> Abu> al-H{asan ‘Ali> bin Mah}su>d dan dikutip oleh Ibn Rih}a>l dari al-Lukhami>

dan ‘Abd al-H{ami>d.

Adapun pendapat ulama Sha>fi’iyyah yang dikutip adalah fatwa Ibn al-Shala>h} dalam kitab Fata>wa wa Masa>’il Ibn Shala>h}. Dalam fatwanya ia mengungkapkan bahwa menjual benda wakaf yang rusak atau dikhawatirkan akan terjadi kerusakan hukumnya boleh, kemudian hasil penjualan tersebut diinfaqkan untuk kemaslahatan wakaf.60 Imam Nawawi> (w. 676 H) dalam kitab Al-Majmu>’

mengklasifikasi harta benda wakaf yang rusak, apakah ia berupa masjid atau yang lainnya. Apabila berupa masjid, maka masjid tersebut tidak boleh dijual maupun diganti. Ia dibiarkan apa adanya, karena meskipun masjid tersebut dalam kondisi rusak, jamaah masih dapat memilih tempat yang tidak rusak atau tingkat kerusakannya tidak terlalu parah untuk melaksanakan sholat. Artinya adalah

59 Ibn ‘A<bid al-Di>n, ‘Uqu>d Durriyyah fi> Tanqi>h} Fata>wa> al-H{a>midiyyah,…h. 115

60 ‘Uthma>n bin Abd al-Rah}ma>n Ibn Shala>h}, Fata>wa> wa Masa>’il Ibn al-Shala>h}, (Beiru>t: Da>r al-Ma’rifah, Juz 1, 1986), cet. Ke-1, h. 387-388