• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salahsatu bentuk persoalan yang sering terjadi di perkotaan adalah masalah sampah kota. Hingga pada saat ini, persoalan sampah di perkotaan tak juga kunjung selesai. Faktor seperti tingginya kepadatan penduduk membuat konsumsi pada masyarakat juga ikut meningkat. Sementara itu lahan untuk penampungan sisa konsumsi akhirnya juga ikut terbatas (Suryani, 2016). Pengelolaan sampah pada perkotaan yang tidak tuntas, tidak saja berdampak pada situasi pada lingkungan perkotaan yang nampak tidak estetis saja, namun juga menimbulkan persoalan- persoalan kerusakan lingkungan berupa bencana alam seperti, pencemaran lingkungan, banjir, penurunan kesehatan masyarakat, dan juga masalah social.

Setiap tahunnya volume sampah akan selalu bertambah seiring pola konsumerisme masyarkaat yang meningkat. Kota Balikpapan sendiri jumlah sampah yang masuk pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Manggar pada tahun 2016 tercatat kurang lebih 130.671 ton/tahun atau 358 ton/perhari, sedangkan timbulan sampah tiap tahunnya selalu meningkat (Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan, 2018). Adanya kegiatan pengurangan sampah bertujuan agar seluruh lapisan masyarakat, baik di lapisan pemerintah, lapisan dunia usaha, maupun pada masyarakat luas, membuat masyarakat sadar akan pentingnya lingkungan bagi kehidupan kedepannya.

Salah satu penyebab terjadinya permasalahan kerusakan lingkungan adalah kegiatan memakai bahan plastik sebagai kebutuhan sehari-hari, contohnya saja kantong plastik belanjaan. Kebiasaan masyarakat dalam menggunakan kantong plastik memang telah terjadi di belahan dunia, dikarenakan kantong plastk muncul karena kantong plastik dapat mempermudah masyarakat untuk membawa barang hasil belanjaan (Saraswaty, 2018). Disisi lain, kerugian dapat muncul dikarenakan plastik merupakan bahan yang tidak dapat terurai dengan cepat. Plastik akan mencemari lingkungan dikarenakan terakumulasi dalam jumlah besar dan akibatnya tidak dapat terurai dan menyebabkan kerusakan lingkungan.

(2)

2 Kantong plastik merupakan jenis plastik yang termasuk dalam jenis plastik LDPE (Low Density Polyethylene). Sifat LDPE ini cukup kuat, dapat tembus cahaya, fleksibel dan dapat memproteksi terhadap uap air tergolong baik. LDPE dapat didaur ulang tetapi untuk memuai di alam sangat sulit karena membutuhkan jangka waktu yang sangat lama, sehingga menimbulkan pencemaran pada lingkungan. Bahan baku dari kantong plastik terbuat dari penyulingan gas dan minyak yang biasa disebut dengan ethylene. Kantong plastik yang berwarna cenderung tipis dibandingkan dengan yang bewarna hitam, sehingga masyarakat cenderung menggunakan yang hitiam (Astuti, 2016). Biasanya yang terjadi pada umumnya kantong plastik yang sudah tidak dipakai oleh masyarakat nantinya akan dibuang dan akhirnya berubah fungsi menjadi sampah plastik.

Berikut merupakan jumlah timbulan sampah yang ada di Balikpapan dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2020;

Tabel 1. 1

Timbulan Sampah Balikpapan Pertahun

Tahun Rata-rata ton/hari Ton/tahun %perubahan

2016 358 130,670 -4%

2017 353 128,933 -1%

2018 348 127,100 -1%

2019 370 135,050 6%

2020 358 130,105 -3%

Sumber : Outline Business Case Pengelolaan Sampah Manggar

Pada data di atas dijelaskan bahwa timbulan sampah yang ada di Balikpapan mengalami kenaikan sebesar 4% dari tahun sebelumnya, selanjutnya pada tahun 2017 mengalami penurunan sebesar 3%, pada tahun 2018 mengalami penurunan 1%, pada tahun 2019 timbulan sampah mengalami kenaikan sebesar 6% dan di tahun 2020 mengalmi penurunan sebesar 3%.

(3)

3 Bahaya tersebut akan mengintai kota Balikpapan, karena dalam setiap harinya dapat menimbulkan 358 ton perhari. Seperti yang dapat kita lihat pada Laporan (Tim DIKPLHD (Dokumen Informasi Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah, 2017) pada halaman III-7 menyajikan table penggunaan sampah Plastik kota Balikpapan seperti yang telah diuraikan dibawah ini:

Tabel 1.2

Penggunaan Sampah Plastik di Kota Balikpapan

No Tipe Plastik Banyaknya/ton Persentase

1. Gelas Plastik Bewarna 0,330 0,18%

2. Gelas Plastik Transparan 0,660 0,36%

3. Botol Plastik Bewarna 0,650 0,36%

4. Botol Plastik Transparan 1,095 0,60%

5. Kantong Plastik Bewarna 20,105 10,99%

6. Kantong Plastik Transparan 5,165 2,82%

7. Kantong Plastik Belanjaan 0,465 0,25%

8. Lembaran Plastik 15,490 8,46%

9. Kemasan Plastik (Minuman) 0,290 0,16%

10. Kemasan Plastik (susu) 0,000 0,00%

11. Kemasan Plastik (Mie) 0,000 0,00%

12. Kemasan Plastik (Deterjen) 1,050 0,57%

13. Mainan Plastik 3,890 2,13%

14. Tali Plastik 1,030 0,57%

(4)

4

15. Kaning Plastik 6,590 3,60%

16. Jaring Plastik 2,575 1,41%

17. Sedotan Plastik 0,145 0,08

Sumber : Laporan DIKPLHD (Dokumen Informasi Kinerja Pengelolaan

Lingkungan Hidup Daerah) Tahun 2017 pada Halaman III-7.

Dari table diatas, dapat kita ketahui bahwa terdapat macam sampah plastik yang ada di kota Balikpapan, sehingga menunjukan jumlah sampah plastik sebesar 25,735 ton/hari dari keseluruhan sampah yang berjumlah 358 ton/hari. Jumlah tersebut akan bertambah sebanding dengan kenaikan jumlah penduduk kota Balikpapan apabila tidak dilakukan tindakan-tindakan preventuf oleh pemerintah kota Balikpapan guna meminimalisir penggunaan kantong plastik tersebut.

Undang-undang nomor 18 tahun 2008 terkait permasalahan Sampah, dijelaskan bahwa pengertian dari sampah sebagai sisa akhir dari kegiatan hari-hari masyarkat dari suatu proses alam yang telah berbentuk padat. Pengelolan sampah diartikan agar menciptakan kegiatan yang sistematis, keseluruhan, serta dapat berkesinambungan dengan meliputi pengurangan serta penanganan sampah yang ada di Indonesia. Berdasarkan siffat fisiknya dan kimianya sampah yang ada di indonesia di klasifikasikan menjadi;

1. Sampah yang tergolong organic seperti sayuran, sisa daging, daun.

2. Sisa sampah yang tidak mudah membusuk, ada plastik, karet, kertas, sisa bahan bangunan, dan logam.

3. Sampah berupa debu.

4. Sampah berbahaya (B3), sampah rumahsakit, industry yang dapat mengandung zat-zat berbahaya kimia dan yang lainnya (Marliani, 2014).

Merespon dikarenakan adanya pemakaian kantong plastik yang makin hari makain bertambah dan menimbulkan dampak negatif bagi kelangsungan lingkungan hidup, maka Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengeluarkan surat edaran terkait percobaan kantong plastik berbayar pada toko dan ritel modern yang telah diuji cobakan pada 23 kota di seluruh wilayah

(5)

5 Indonesia. Kebijakan ini dikeluarkan oleh Pemerintah melalui Surat Edaran Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan No S.1230/PSLB3-PS/2016 tentang harga dan mekanisme penerapan kantong plastik berbayar (Ismail, 2017).

Adanya Otonomi Daerah yang mana menurut Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tertkait dengan Pemerintah daerah dan pada akhirnya telah diubah akan menjadi Undang-undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah pada pasal 1 butir (6) menyatakan “otonomi daerah merupakan hak, wewenang dan keajiban daerah otonom untuk mengatur sendiri serta dapat mengurus sendiri urusan pemerintah dan kepentingan masyarkat setempat sesuai praturan perundang- undangan”(Mina, 2016). Karenanya pada saat kegiatan pelimpahan kewenangan pada pemerintah daerah pada bidang pengelolaan pelestarian lingkungan dan SDA terkandung tujuan guna meningkatkan keikutsertaan masyarakat local pada masalah perlindungan lingkungan hidup.

Di kota Balikpapan sendiri dalam penerapan pengurangan penggunaan kantong plastik dengan berbayar seperti yang atur oleh Surat Edaran dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah menerapkan.

Pemerintah kota Balikpapan serius dengan peratura yang diterbitkan oleh KLHK.

Bentuk keseriusanya dengan memberikan harga tariff kantong plastik melebih aturan yang telah ditetapkan yaitu Rp. 2000. Tetapi dengan seiring berjalannya waktu aturan pengurangan kantong plastik yang berbayar tidak efektif dikarenakan hasil dari pembayaran kantong plastik tidak masuk ke kas pendapatan daerah.

Sehingga dengan demikian pemerintah kota dan dinas terkait membuat Peraturan Walikota Balikpapan No 8 tahun 2018 terkait dengan Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik.

Kota Balikpapan dalam mengurangan volume pada sampah plastik, membuat kebijakan yaitu Peraturan Walikota Nomor 8 tahun 2018 tentang Pengurangan Kantong Plastik (Nur Avianto, 2020). Dimana isi dari peraturan tersebut terdapat pelarangan dalam menggunakan kantong plastik dalam berbelanja di tempat-tempat yang telah ditentukan seperti, Pusat perbelanjaan,Departemen Store, Hypermarket, Sumpermarket, Minimarket, dan Retail Modern.

(6)

6 Peraturan Walikota Balikpapan No. 8 tahun 2018 terkait dengan Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik, diperkuat dengan Perwali Balikpapan Nomor 28 tahun 2019, tentang jenis atau kemasan plastik sekali pakai. Bahwa untuk melaksanakan ketentuan dari pasal 5 ayat (2) Peraturan Daerah Nomor 1 tahun 2019 tentang Pengurangan Penggunaan Produk atau kemasan plastik sekali pakai untuk sekali pakai. Isi pasal (2) ayat (1) bahwa pengaturan terhadap pengurangan penggunaan produk atau kemasan plastik sekali pakai dimaksudkan guna untuk mengurangi dampak dari timbulan sampah produk atau kemasan plastik di sumber penghasil sampah.

Selanjutnya berdasarkan penjelasan diatas dapat diketahui bahwa dalam Implementasi Kebijakan, peneliti dapat mengetahui bagaimana kebijakan walikota Nomor 8 tahun 2018 Tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik diterapkan di Kota Balikpapan. Dalam hal ini peneliti menggunakan teori “Van Meter dan Van Horn, yaitu bahwa Implementasi Kebijakan merupakan suatu tindakan yang dilakukan baik individu-individu/pejabat-pejabat atau kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijaksanaan”(Mokodompis et al., 2019).

Oleh karena itu peneliti memutuskan untuk mengangkat penelitian tentang

“Implementasi Kebijakan Walikota Balikpapan Tentang Pengurangan Kantong Plastik Belanjaan (Studi Tentang Implementasi Peraturan Walikota Balikpapan No 8 Tahun 2018 Tentang Pengurangan Kantong Plastik)”

1.2. Rumusan Masalah

Bagaimana Impelementasi Kebijakan Peraturan Walikota Balikpapan Nomor 8 Tahun 2018 Tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik Belanjaan di Kota Balikpapan?

1.3 Tujuan Penelitian

Sejalan dengan rumusan masalah yang telah ditentukan, maka tujuan dari penelitian ini ada untuk mengetahui bagaimana Implementasi Kebijakan pemerintah daerah dalam pengurangan penggunaan kantong plastik di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

(7)

7 1.4. Manfaat Penelitian

a. Manfaat Teoritis

Penelitian terkait pelaksanaan Perwali No. 8 tahun 2018 terkait dengan pengurangan penggunaan kantong plastik diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepaada pengemban ilmu pengetahuan, terutama pada keilmuan kebijakan pemerintah, serta dapat menjadi rujukan bagi penelitian berikutnya yang akan meneliti permasalahan yang sama terkait pengurangan penggunaan kantong plastik.

b. Manfaat Praktis

Diharapkan Penelitian ini mampu memberikan saran serta masukan kepada Pemerintah Daerah Khususnya Pemerintah Kota Balikpapan terkait dengan Implementasi Peraturan Walikota tentang pengurangan penggunan kantong plastic agar peraturan tersebut dapat berjalan dengan baik lagi.

1.5. Definisi Konseptual

Definisi konseptual merupakan uraian tentang teori-teori yang digunakan dalam penelitian ini untuk menjelaskan masalah penelitian sekaligus juga menjadi landasan teori dalam penelitian ini. Pada bagian ini akan di uraikan mengenai implementasi kebijakan pengurangan penggunaan kantong plastik.

1.5.1 Konsep Implementasi Kebijakan

Mazmanian dan Sabiter merumuskan proses implemetasi kebijakan, merupakan keptusan sebagai kebijakan dasar, biasanya masuk dalam bentuk undang-undang. Biasanya keputusan tersebut dapat mengidentifikasikan masalah yang akan diatasi dengan menyebutkan secara tegas apa tujuan yang ingin dicapai dan berbagai cara untuk dapat mengatur implementasinya. Proses ini berlangsung setelah sejumlah tahapan dalam pengesahan UU, kemudian output dari kebijakan dalam bentuk keputusan oleh instansi pelaksana, kesediaan dilaksanakan keputusan oleh kelompok target sasaran, dampak baik yang dikehendaki atau yang tidak dari output tersebut berdampak keputusan dari dipersepsikan oleh badan yang mengambil keputusan

(8)

8 tersebut, dan pada akhirnya dalam perbaikan itu penting (Upaya guna melakukan perbaikan) terhadap UU/peraturan yang berkaitan.

Implementasi kebijakan dapat dianggap sebagai proses, keluaran (Output), dan hasil akhir (Outcome). Selanjutnya dari logika pemikiran ini, dapat disimpulkan bahwa implementasi kebijakan dapat dikonseptualisasikan untuk suatu proses, serangkaian keputusan (a serial of decisions), dan tindakan (action) dengan tujuan melaksanakan keputusan-keputusan pemerintah dan keputusan legislasi Negara yang telah dibuat atau dirumuskan sebelumnya. Didalam pandangan Smith dan Larimer, ialah figuring out how policy work (mencari tahu bagaimanakah kebijakan itu bekerja) atau sebaliknya how a policy does not work (bagaimana kebijakan tidak dapt

bekerja)(Prof. Dr. H. Solichijn Abdul Wahab, n.d.).

1.5.2 Peraturan Walikota Sebagai Produk Kebijakan

Peraturan Walikota Balikpapan No 8 tahun 2018 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik, diperkuat dengan adanya Perwali Balikpapan No. 28 tahun 2019, terkait dengan jenis atau kemasan plastik sekali pemakaian. Bahwa untuk melaksanakan ketentuan dari pasal 5 ayat (2) Peraturan Daerah Nomor 1 tahun 2019 tentang Pengurangan Penggunaan Produk atau kemasan plastik sekali pakai untuk sekali pakai. Isi pasal (2) ayat (1) bahwa pengaturan terhadap pengurangan penggunaan produk atau kemasan plastik sekali pakai dimaksudkan guna untuk mengurangi dampak dari timbulan sampah produk atau kemasan plastik di sumber penghasil sampah 1.5.3 Konsep Pengurangan Kantong Plastik

Surat Edaran yang pertama yang sudah dikeluarkan terkait dengan pengurngan penggunaan kantong plastik adalah SE dari Dirjen Pengelolaan Sampah Limbah dan Bahan Berbahaya dan dapat Beracun KLHK No: SE-06/PSLB3-PS/2015 Terkait dengan adanya Langkah

(9)

9 Antisipasi pada Penerapan Kebjakan Kantong Plastik Berbayar pada Usaha Ritel Moderen (SE 6/2015).

Dijelaskan pada surat keterangan tersebut adalah, salah satu arah kebijakan dari pemerintah terkait dengan pengurangan sampah plastik, merupakan kegiatan pemerintah dalam menerapkan kebijakan kantong plastik dengan system berbayar yang dilaksanakan di seluruh gerai dan pasar modern yang ada di wilayah Indonesia. Tujuan dilaksanakan dari kebijakan kantong plastik dengan berbayar merupakan strategi pemerintah untuk mengurangi timbulan sampah plastik yang pada saat ini menjadi permasalahan pada lingkungan.

Surat Edaran 1230/2016 dijelaskan bahwa ketentuan ini menindaklanjuti hasil pertemuan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan Badan Perlindungan Konsumen Indonesia (PKN) serta Asosiasi Pengusaha Ritel Seluruh Indonesia (APRINDO), berikut merupakan ketentuan dari Surat Edaran 1230/2016 ini antara lain:

1. Para pelaku Pengusaha ritel dengan ini tidak akan dapat menyediakan kantong plastik secara Cuma-Cuma (Gratis) kepada masyarkat/Konsumen. Apabila konsumen/masyarakat membutuhkan kantong plastik maka konsumen/masyarakat dibebankan untuk membeli kantong ramah lingkungan.

2. Terkait dengan harga kantong plastik, pemerintah, BPKN, YKLI, dan APRINDO menyepakati harga kantong plastik berbayar sejumlah RP 200,- perkantong itu sudah termasuk PPN

3. Harga Kantong Plastik dapat dievaluasi oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah bersama Aprindo

4. terkait dengan jenis kantong plastik yang telah disediakan oleh pengusaha ritel, Pemerintah, BPKN, YKLI, dan Aprindo menyepakati spesifikasi kantong plastik dipilih yang nantinya

(10)

10 dapat menimbulkan dampak lingkungan minimal dan harus standar nasional.

5. APRINDO menyepakati agar berkomitmen dengan mendukung adanya kegiatan pemberian insentif kepada konsumen, pengelolaan sampah, dan pengelolaan lingkungan hidup melalui program tanggungjawab social perusahaan, dengan mechanism yang telah diatur oleh masing masing pengusaha ritel.

6. Kententuan ini juga berlaku untuk usaha ritel modern yang bukan terdaftar sebagai anggota dari APRINDO.

Adanya pelaksanaan kebijakan serta adanya peraturan terait dengan adanya pengelolaan sampah, pemerintah sudah memberikan target dari pelaksanaan pengurangan sampah plastik dengan jumlah 20% dari total keseluruhan dari timbulan sampah ditahuun 2019. Dari penetapan yang telah di targetkan nantinya menghasilkan pertimbangan seperti, 1) penyusunan dengan skala yang prioritas dari jenis sampah plastik apa yang harus di tangani terlebih dahulu (misalnya pada Styrofoam, bungkus makanan, dan kantong plastik), 2) terdapat jumlah target dari pengurangan sampah plastik yang didasarkan pada hasil penghitungan realistic, terukur dan bertahap, 3) dapat memprioritaskan wilayah dari pengurangan dan daur ulang dari sampah platik (Suryani, 2016).

Terkait hal tersebut, maka dengan ini pemerintah sedang melakukan upaya seperti;

1. Pelaksanaan pembatsan kantong plastik belanjaan pada ritel modern dan pasar tradisional. Serta dapat menjadi pilihan dalam melaksanakan program dari green retailer dan green mall.

2. Optimalisasi pada pelaksanaan pengurangan serta daur ulang sampah plastik yang sudah dilaksanakan pemerintah yang ada di daerah, dan pada sektor informal serta pada masyarakat.

(11)

11 3. Pelaksanaan sosialisasi terkait dengan pelaksanaan daur ulang pada

sampah plastik melalui program bank sampah.

Harapannya dengan adanya pembatasan dalam penggunaan kantong plastik belanjaan pada ritel modern/tradisional atau adanya kerjasama pemerintah dan swasta (Pusat perbelanjaan) nantinya akan berdampak pada lingkungan, yaitu berkurangnya sampah plastic yang terdapat di TPA. Serta dengan adanya peraturan seperti diatas masyarakat Balikpapan akan beralih menggunakan kantong belanjaan yang tidak sekali pakai.

1.6. Definisi Oprasional

Dari penelitian terkait Perwali No.8 tahun 2018 terkait dengan pengurangan kantong plastik, definisi oprasional dapat memuat mengenai beberapa indicator-indikator yang nantinya akan di kaji pada penelitian. Definisi oprasional nantinya akan dapat memperjelas dan menjawab hasil penelitian pada rumusan masalah yang telah ditentukan peneliti sesuai dengan teori yang digunakan oleh peneliti. Adapun definisi oprasioanl dalam penelitian ini seperti yang di jelaskan dibawah adalah;

1. Sosialisasi kebijakan

2. Penataan kelembagaan pelaksana

3. Pelaksanaan pembatasan kantong plastik belanjaan 4. Penegakan hukum

5. Monitoring dan evaluasi 1.7. Metode Penelitian

A. Jenis Penelitian

Jenis-jenis penelitian yang di gunakan oleh peneeliti dalam menjawab pelaksanaan pengurangan penggunaan kantong plastik adalah deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif nantinya akan membantu penulis dalam menganalisa suatu femonena atau fakta-fakta dilapangan kedalam suatu tulisan kata-kata bukan yang berbentuk suatu angka. Terkait penelitian pada kualitatif

(12)

12 yang nantinya akan digunakan untuk memahami permasalahan yang akan di alami oleh subyek seperti persepsi dan tindakan perilaku yang pada akhirnya dideskripsikan secara nartif (Iii, 2002). Sesuai pada focus penelitian ini, metode pada deskriptif kualitatif akhirnya dapat membantu peneliti untuk mengumpulkan suatu data serta informasi yang berkaitan dengan Implementasi Kebijakan Walikota Balikpapan Tentang Pengurangan Kantong Plastik Belanjaan.

B. Sumber Data

Menurut pandangan Lofland, sumber yang ada pada data utama di dalam suatu penelitian berdasarkan kualitatif adalah sebuah tindakan maupun kata- kata, selanjutnya akan ditambahkan dengan adanya foto, gambar, dokumen, foto, serta yang lainnya (Basuki, 2019). Nantinya akan terdapat 2 sumber data yang akan digunakan dalam penelitian ini:

1. Data Primer

Data Primer adalah sebuah data yang di dapatkan peneliti secara langsung dari sesesorang narasumber atau informan yang telah ditetapkan oleh peneliti dengan cara mewawancarai dan pengamatan yang ada dialapangn.

Wawancara dilakukan dengan pertanyaan-pertanyaan terbuka dan diharapkan dapat menjawab hal-hal yang diperlukan oleh peneliti.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang akan menjadi patokan peneliti sebagai pendukung serta sebagai pelengkap dari sebuah data primer yang di dapatkan melalui foto-foto, gambar, informasi dari sebuah media serta dokumen pendukung yang nantinya akan berkaitan dengan Implementasi Kebijakan Walikota Balikpapan Tentang Pengurangan Kantong Plastik Belanjaan. Adapun dokumen pendukung dari sebuah penelitian dari pelaksanaan pengurangan penggunaan kantong plastik bisa dilihat melalui undang-undang, foto, renstra, gambar, dan renja pada Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemakaman (DKPP) Kota

(13)

13 Balikpapan, serta pada jurnal-jurnal yang dapat menjadi pendukung yang berkaitan dengan penelitian pelaksanaan pengurangan penggunaan kantong plastik di kota Balikpapan.

C. Teknik Pengumpulan Data

Menurut pendapat pada Moleong, pengumpulan data pada penelitian yang nanti akan di teliti merupakan aktifitas-aktifitas yang akan dilakukan untuk menemukan hasil data yang diperlukan (Saepudin, 2011). Dalam hal ini perlu membatasi penelitian agar peneliti bisa berfocus dengan permasalahan penelitian yang nantinya akan dibahas oleh peneliti. Penghimpunan data dalam hal ini nantinya akan didapatkan peneliti melalui teknik-teknik seperti Observasi, Dokumentasi, dan Wawancara.

1. Observasi

Observasi pada penelitian Perwali Tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik bisa dikerjakan dengan kegiatan peneliti melalui pengamatan dilapangan terhadap hal-hal yang nantinya akan menjadi focus peneliti dalam melakukan sebuah penelitian. Pengamatan bisa dilakukan dengan cara langsung serta dapat mengamati permaslahan dilapangan dan mencatat fakta-fakta permasalahan yang ada dilapangan supaya peneliti akan memahami suatu obyek dari sebuah penelitian yang diteliti.

Pengamatan ini akan dilaksanakan di Dinas Lingkungan Hidup, dan Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemakaman Kota Balikpapan. Observasi ini dilakukan untuk mengoptimalkan semua data-data yang akan didapatkan oleh peneliti.

2. Wawancara

Metode wawancara ini adalah sebuah cara peneliti untuk melakukan pengumpulan data dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan oleh peneliti kepada narasumber dari Kepla DLH dan Kepala Bidang Penataan Hukum dan LH Kota Balikpapan sesuai dengan adanya focus penelitian dari peneliti untuk mendapatkan sebuah jawaban yang dibutuhkan sebagai jawaban dari permasalahan dari suatu penelitian.

(14)

14 Peneliti nantinya akan diharapkan membawa interview guide agar pertanyaan yang akan menjadi focus penelitian menjadi tetap focus dengan penelitian yang dibahas oleh peneliti.

3. Dokumentasi

Dokumentasi adalah sebuah cara untuk mengumpulan data yang akan diperoleh peneliti dengan melalui data dokumen-dokumen berupa Undang- Undang Persampahan, Perwali no 8 tahun 2018 tentang pengurangan penggunaan kantong plastik, Perda Nomor 28 tahun 2019 tentang jenis atau kemasan plastik sekali, pakai yang dimiliki oleh Dinas Lingkungan Hidup, dan Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemakaman Kota Balikpapan, guna mendukung kebenaran dari sebuah data yang didapat oleh peneliti sebelumnya.

D. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dari penelitian Implementasi Kebijakan Perwali No. 8 Tahun 2018 Tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik Belanjaan adalah Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan dan DKPP, Jl. Ruhui Rahayu No 1, Sepinggan, Kecamatan Balikpapan Selatan, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur 76115.

E. Subyek Penelitian

Subyek pada penelitian merupakan berfokus pada suatu narasumber yang berkompeten pada bidang yang menjadi focus penelitian, sehingga mampu memberikan informasi tentang situasi lapangan dan kondisi dilapangan yang berkaitan pada focus suatu penelitian. Dalam menentukan sebuah obyek penelitian diperlukan untuk mempertimbangkan orang akan di wawancarai dan yang dianggap paling tahu tentan apa yang akan menjadi focus dari sebuah penelitian. Subyek penelitian ini dapat meliputi:

1. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan

2. Kepala Bidang Penataan Hukum dan Peningkatan Kapasitas LH Dinas Lingkungan Hidup dan DKPP Kota Balikpapan

(15)

15 3. Staf Bidang Penataan Hukum dan Peningkatan Kapasitas LH Dinas

Lingkungan Hidup Kota Balikpapan F. Teknik Analisi Data

Teknik dari analisis data yang peneliti gunakan dari penelitian pelaksanaan Perwali terkait dengan pengurangan penggunaan kantong plastik, menggunakan teknik analisis data kualitatif. Analisis dari penelitian ini dengan menyususn secara sistematis hasil data yang didapatkan dari obeservasi, dokumentasi, dan wawncara. Analisis kualitatif menggunakan kata-kata yang disuse untuk dimasukan kedalam teks. (Huberman & Miles, 1992) menjelasakan bahwa terdapat 3 tahap untuk menganalisis data dengan penelitian kualitatif, yaitu dengan adanya reduksi, penyajian data, serta adanya penarikan kesimpulan.

1. Reduksi Data

Pada penelitian Implementasi Kebijakan perwali No.8 Tahun 2018 tentang pengurangan penggunaan kantong plastik Blanjaan pada reduksi data, peneliti harus bisa menyederhanakan penelitian, meringkas serta memfokuskan data yang diperoleh pada saat melakukan penelitian dilapangan sesuai dengan focus penelitian perwali no 8tahun 2018 tentan pengurangan penggunaan kantong plastik. Selanjutnya peneliti dapat menggolongkan data, mengarahkan, membuang data-data yang sekiranya tidak perlu untuk dimasukan kedalam penulisan, dan mengorganisasi data dengan sedemikan rupa sehingga hanya data dengan yang menyangkut terkait penelitian saja yang dapat dimasukan kedalam sebuah penlitian, serta hal penting yang mencakup dengan focus penelitian yang berkaitan dengan proses Implementasi Kebijakan Walikota Balikpapan Tentang Pengurangan Kantong Plastik Belanjaan dapat dipahami dan mempermudah proses penyajian data (Rijali, 2019).

2. Penyajian Data

Dari penyajiian Data yang telah dilaukan penyederhanaan sesuai dengan focus penelitian dan sumber-sumber lainnya seperti informasi yang telah

(16)

16 di dapatkan peneiti mengenai pelaksanan Implementasi Kebijakan Walikota Balikpapan Tentang Pengurangan Kantong Plastik Belanjaan yang telah diperoleh selanjutnya dapat disusun serta dapat disajikan dengan bentuk narasi penelitian terkait pengurangan penggunaan kantong plastik sehingga pembaca dari hasil penelitian dapat memahaminya dengan mudah. Pada tahap selanjutnya peneliti dapat menampilkan hasil data dan menghubungkan data yang telah diperoleh peneliti untuk memaknai apa yang terjadi dan apa yang harus ditindaklanjuti supaya dapat mencapai penelitian yang diinginkan oleh peneliti (Ahmad &

Nasution, 2018).

3. Penarikan Kesimpulan

Tahap yang terakhir adalah adanya penarikan kesimpulan dari hasil data yang telah dilakukan peneliti dilakukan secara dinarasikan dalam bentuk naskah. Data mengenai Implementasi Kebijakan Walikota Balikpapan Tentang Pengurangan Kantong Plastik Belanjaan yang telah didapatkan diharuskan dapat sesuai dengan hasil dari pengumpulan data penelitian perwali no 8 tahun 2018 terkait pengurangan kantong plastik dengan jelas, akurat, dan dapat dipercaya hasilnya. Penarikian kesimpulan ini diharapkan nantinya akan menjawab hasil dari sebuah rumusan masalah yang sudah di uraikan oleh peneliti.

Referensi

Dokumen terkait

Jika mengutip dari website yang tidak diketahui nama penulisnya, judul lengkap website dapat ditulis dalam kalimat, atau 1 atau beberapa kata, dari judul awal website dalam

Fungsi keanggotaan (membership function) adalah suatu kurva yang menunjukkan pemetaaan titik-titik input data ke dalam nilai keanggotaannya (sering juga disebut

(5) Untuk kepentingan pemeriksaan di pengadilan dalam perkara pidana atau perdata, atas permintaan hakim sesuai dengan Hukum Acara Pidana dan Hukum Acara Perdata,

Telkom untuk mengungguli promosi yang dilakukan oleh pesaing, meningkatkan pembayaran berlangganan untuk membantu Langit Musik dalam pembayaran royalti,

[Type text] 19 Sebelum pelaksanaan praktik mengajar di kelas, mahasiswa PPL harus membuat skenario atau langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan di kelas yang

Dewan Pengawas di tahun 2013 berusaha untuk mening- katkan efektivitas hubungan kerja antara Komite Dewan Penga- was dengan Satuan Pengawas Intern (SPI) antara

tomis sąlygomis L. pažeidi- mas negalėjo sukelti nei autoįvykio, nei kūno sužaloji- mo R. Įvykio vietos apžiūros protokole ir įvykio vie- tos schemoje pažymėta, kad

Substansi Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah sudah sangat jelas bahwa di dalam Pasal 40 ayat (2) memberikan kewajiban kepada PPAT