1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di tahun 2015 ini, banyak sekali fenomena yang terjadi dalam masyarakat Indonesia mulai dari masalah politik, sosial, teknologi, hingga bencana alam. Secara tidak langsung beberapa dari fenomena ini berkaitan terhadap kesehatan. Misalnya seperti fenomena susu formula berbakteri, masalah banjir di awal tahun 2015, hingga pencemaran udara yang terjadi akibat kebakaran hutan di pulau Sumatera dan Kalimantan. Pemerintah Indonesia juga saat ini sedang gencar-gencarnya mensosialisasikan program kesehatan bagi masyarakat melalui kartu jaminan kesehatan BPJS. Melalui serangkaian fenomena tersebut membawa perilaku masyarakat Indonesia menuju masyarakat yang lebih peduli dan sadar terhadap pentingnya menjaga kesehatan.
Fenomena meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap kesehatan tercermin dari banyaknya muncul komunitas dan organisasi yang peduli terhadap kesehatan khususnya pada beberapa penyakit seperti osteoporosis, kanker payudara, kanker paru-paru. Selain itu juga maraknya penggunaan masker oleh warga Indonesia di kota-kota besar seperti Jakarta, sebagai wujud kesadaran individu terhadap kesehatan paru-parunya. Kegiatan sosialisasi sadar akan kebersihan dan kesehatan diciptakan masyarakat dan pemerintah dalam bentuk campaign-campaign, dan aksi nyata.
Kegiatan tersebut berupa program hari bebas kendaraan bermotor, campaign untuk jalan sehat seribu langkah, pemeriksaan kanker serviks secara gratis, sosialisasi penggunaan masker di daerah-daerah yang terkena kabut asap selama kebakaran hutan 2015, dengan membagikan masker N95 secara cuma-cuma.
3M merupakan salah satu perusahaan global yang masuk dalam 500 fortune company. Produk yang dimiliki oleh 3M saat ini kurang lebih berjumlah 70000 produk dan hanya 6000 hingga 7000 produk yang dijual di Indonesia pada saat ini.
Salah satu produk yang dijual 3M adalah produk dalam bidang kesehatan yang digunakan baik oleh professional ataupun masyarakat awam. 3M Indonesia memiliki
lima macam bisnis grup antara lain Consumer Business Group, Healthcare Business Group, Industrial Business Group, Electronics and Energy Business Group, Safety and Graphics Business Group.
Safety dan Healthcare business group memiliki produk yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan. Tetapi yang menjadi fokus customer mereka adalah kalangan professional dan B2B, tidak diperuntukan untuk B2C atau retailer-retailer.
Oleh karena itu Consumer Business Group mencoba untuk menggandeng target pasar tersebut, melalui platform teknologi yang sudah dimiliki oleh Healthcare dan Safety business group. Produk tersebut dimodifikasi ulang supaya penggunaannya cocok untuk kebutuhan rumah tangga dan kemudian dijual dengan merek yang bernama Nexcare.
Consumer Business group dibagi menjadi empat divisi antara lain sebagai berikut; Consumer Healthcare Division, Construction and Home Improvement Division, Stationary and Office Supply Division, dan Home Care Division.
Tabel 1. 1 Data Kontribusi Penjualan 3M Business Group Data Kontribusi Penjualan 3M Business Group
Januari-Oktober 2015
Nama Business Group Kontribusi penjualan (persentase)
Industrial Business Group 50%
Safety and Graphics Business Group 15%
Consumer Business Group 14%
Electronics & Energy Business Group 13%
Healthcare Business Group 8%
Sumber: Hasil Interview dengan Division Head CHCD & SOSD 3M Indonesia
Tabel 1. 2 Data Kontribusi Penjualan Consumer Business Group Data Kontribusi Penjualan Consumer Business Group
Januari-Oktober 2015
Nama Divisi Kontribusi penjualan (persentase)
Home Care Division 62%
Stationary and Office Supply Division 20%
Consumer Health Care Division 13%
Construction and Home Improvement Division
5%
Sumber: Hasil Interview dengan Division Head CHCD & SOSD 3M Indonesia
Tabel 1. 3 Data Kontribusi Penjualan Consumer Health Care Division 2015 Data Kontribusi Penjualan Consumer Health Care Division
Januari-Desember 2015
Merek Kategori Produk Jenis Produk
Kontribusi penjualan
(%)
Nexcare
Bandages
Plester anti air, dan plester bergambar
Disney.
4%
First Aid, Tapes &
Dressing (FAD) Micropore tapes 11%
Skin Care & Others
Acne Cover 8%
Body Sponges 17%
Masker 48%
Futuro Health Support untuk
tulang dan sendi. 12%
Total 100%
Sumber: Hasil Interview dengan Division Head CHCD & SOSD 3M Indonesia
Berdasarkan tabel 1.5, tercatat bahwa Consumer Health Care Division mengalami pertumbuhan bisnis yang positif dari tahun ke tahun, hanya saja intensitas tingkat pertumbuhannya melemah terutama terjadi penurunan yang signifikan dari tahun 2014 menuju 2015. Angka pertumbuhan bisnis didapat dari membandingkan tingkat penjualan dari salah satu tahun dengan tahun sebelumnya. Sedangkan angka penjualan didapat dari intensitas dan tingkat pembelian dari konsumen. Secara tidak langsung pertumbuhan bisnis yang melemah atau kurang baik dapat disebabkan salah
satunya, karena minat pembelian konsumen. Melalui tabel 1.5, kita melihat terdapat pelemahan pertumbuhan bisnis, oleh karena itu penulis mencoba melakukan hipotesis untuk menguji keterkaitan minat pembelian konsumen dengan beberapa faktor yang mempengaruhinya.
Tabel 1. 4 Data Kontribusi Penjualan Consumer Health Care Division 2014 Data Kontribusi Penjualan Consumer Health Care Division
Januari-Desember 2014
Merek Kategori Produk Jenis Produk
Kontribusi penjualan
(%)
Nexcare
Bandages
Plester anti air, dan plester bergambar
Disney.
9%
First Aid, Tapes &
Dressing (FAD) Micropore tapes 13%
Skin Care & Others
Acne Cover 9%
Body Sponges 21%
Masker 46%
Futuro Health Support untuk
tulang dan sendi. 2%
Total 100%
Sumber: Hasil Interview dengan Division Head CHCD & SOSD 3M Indonesia
Tabel 1. 5 Pertumbuhan Bisnis CHCD
Data Pertumbuhan Binis CHCD (Local Currency Growth)
Tahun Pertumbuhan Bisnis (%)
2012 – 2013 +72%
2013 – 2014 +48%
2014 – 2015 +16%
Sumber: Hasil Interview dengan Division Head CHCD & SOSD 3M Indonesia
Jika di tinjau lebih dalam, dapat kita lihat pada tabel 1.3, salah satu produk yang menyumbang kontribusi penjualan paling rendah adalah kategori produk bandage dari merek Nexcare. Sebagai perbandingan juga ditampilkan data kontribusi penjualan tahun sebelumnya pada tabel 1.4. Dari kedua data tersebut terlihat bahwa bandage Nexcare selalu menempati urutan terbawah dari kontribusi penjualan, dan juga penjualannya semakin menurun pada tahun berikutnya. Bandage atau plester merupakan alat penutup luka yang berfungsi untuk mencegah terjadinya infeksi akibat kontak dari luar. Di Indonesia terdapat beberapa merek plester, seperti Nexcare, Amanplast, Betadine, dan Hansaplast sebagai market leader-nya. Melalui hasil interview dengan salah satu marketer dan division head dari Nexcare didapat data market share untuk plester Nexcare adalah 2% dan market share untuk Hansaplast adalah 32% berdasarkan data dari Marketeers.com, 66% adalah sisanya diluar merek Nexcare dan Hansaplast. Padahal jika dibandingkan, Nexcare yang berada di bawah perusahaan 3M memiliki reputasi yang lebih baik dari pada Hansaplast dari perusahaan Beiersdorf, lihat table 1.6. Karena itu Nexcare seharusnya memiliki potensi untuk dapat bersaing dengan Hansaplast.
Tabel 1. 6 Company Reputation Score
Company Reputation 2015
Beiersdorf (Hansaplast) 3M (Nexcare)
Category Pulse Score Category Pulse Score
Performance 73.7 Performance 75.6
Product/Services 73.3 Product/Services 80.2
Innovation 74.2 Innovation 78.3
Workplace 73.6 Workplace 75.3
Governance 65.2 Governance 73.8
Citizenship 63.6 Citizenship 72.8
Leadership 69.4 Leadership 76.0
Summary 67.8 Summary 78.4
Sumber: www.reputationinstitute.com
Gambar 1. 1 3M Company Reputation Sumber: www.reputationinstitute.com
“Tren pasar consumer goods di tanah air akan meningkat di tahun depan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi ini juga mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat kelas menengah yang berdampak pada meningkatnya permintaan terhadap pendidikan, kesehatan, pembangunan, dan adanya perubahan perilaku konsumen. Unilever Indonesia merupakan salah satu perusahaan Consumer Goods yang mencatat pertumbuhan yang sangat baik dari tahun ke tahun. Keberhasilan ini adalah buah dari strategi yang menyeluruh di sepanjang rantai nilai perusahaan. Dua elemen yang memegang peranan penting dalam keberhasilan perusahaan adalah inovasi dan pemasaran.” (Unilever, Press release. Industri Consumer Goods. 2012).
“Inovasi adalah motor penggerak bisnis kami. Inovasi ini tidak terbatas pada inovasi produk, melainkan juga mencakup berbagai aspek lain, seperti proses produksi, teknologi, kemasan, cara pemasaran dan lain-lain. Sebagai perusahaan multinasional, kami memperoleh dukungan penuh keahlian global dalam bidang riset, teknologi dan pengembangan. Di lain pihak, karena kami telah berada di Indonesia sejak tahun 1933, kedekatan kami dengan masyarakat Indonesia membuat kami dapat memahami keinginan, harapan dan aspirasi mereka. Sensitivitas lokal
untuk mengetahui insight dari masyarakat, yang didukung oleh keahlian global ini merupakan salah satu kunci penting dalam kesuksesan Unilever Indonesia,” kata Sancoyo Antarikso, External Relations Director & Corporate Secretary PT Unilever Indonesia, Tbk. Hal ini membuahkan pertumbuhan pesat Unilever Indonesia dari tahun ke tahun, hingga mencatat omset sebesar Rp 23,5 triliun pada tahun 2011. Di kuartal ketiga 2012, omset mencapai Rp 20,3 triliun, tumbuh 17,4% dari tahun sebelumnya. Sementara laba bersih naik 20,8% menjadi Rp 3,6 triliun. (Unilever, Press release. Industri Consumer Goods. 2012).
Berdasarkan press release dari perusahaan Unilever di atas, dapat dirangkum bahwa industri consumer goods sedang mengalami pertumbuhan yang sangat baik di Indonesia, dan merupakan salah satu bisnis yang menopang pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Dalam press release tersebut Unilever menyebutkan bahwa element penting dalam perusahaan adalah inovasi dan pemasaran. Inovasi merupakan motor penggerak bisnis. Maka dari hal tersebut dapat ditarik sebuah pertanyaan inovasi seperti apa yang harus dilakukan supaya kinerja pemasaran dalam hal penjualan mengalami peningkatan.
Menurut Kraus, Harms & Fink (dalam Hamali, 2013), pemasaran dalam usaha kecil dan baru (new and small ventures) menghadapi beberapa tantangan yang dapat diatasi dengan pendekatan kewirausahaan (entrepreneurship) pada pemasaran (marketing). Tetapi, bagaimanapun banyak juga perusahaan besar yang menggunakan inovasi dalam pemasaran bahkan yang beresiko sekalipun.
Entrepreneurship dan marketing merupakan dua bidang studi yang berbeda. Istilah entrepreneurial dapat diartikan sebagai orientasi strategi yang mempengaruhi fungsi organisasi pemasaran. Dengan demikian, entrepreneurship adalah kata sifat yang menggambarkan pendekatan pemasaran yang mencakup peluang pasar dalam hal pelaksanaan yang efektif dari harga, tempat, promosi, dan taktik produk (4P) dengan menjadi berani mengambil resiko, inovatif, dan proaktif (Kraus, et.al, 2009). Sebuah kesadaran akan pentingnya entrepreneurship dan inovasi untuk pemasaran, serta pemasaran untuk sukses berwirausaha, menyebabkan upaya untuk menggabungkan dua disiplin ilmu sebagai entrepreneurial marketing.
Ada berbagai definisi yang dikemukakan para peneliti mengenai entrepreneurial marketing, diantaranya Kraus, et.al (2009) mendefinisikan Entrepreneurial Marketing is an organizational function and a set of process for
creating, communicating and delivering value to customers and for managing customers relationships in ways that benefit the organization and its stakeholders, and that is characterized by innovativeness, risk-taking, proactiveness, and may be performed without resources currently controlled.
Morris, Schindehutte et al. (2002) mendefinisikan Entrepreneurial Marketing is proactive identification and exploration of opportunities for acquiring and retaining profitable customers through innovative approach to risk management, resource leveraging and value creation. Kemudian masih ada Strokes (2000), Morrish, Miles et al. (2010), Hills and Hultman (2008), Kotler & Amstrong (2012). Begitu banyak definisi dari para peneliti, namun sayangnya belum ada teori pemersatu. Selain definisi yang berbeda-beda, dimensi dari entrepreneurial marketing juga memiliki beberapa pendapat, diantaranya Morris, et.al (2002) menyatakan ada tujuh dimensi yang didukung oleh Morrish & Deacon (2009), Miles & Darroch (2006), sementara itu pendapat dari Mort, et.al (2012) menyatakan ada empat dimensi.
Entrepreneur biasanya selalu identik dengan perusahaan start-up atau kegiatan yang berhubungan dengan membangun dan menciptakan sebuah usaha. Sebenarnya entrepreneur sendiri berasal dari kata “entre” dan “prende” dalam bahasa Perancis.
Sebutan ini digunakan pertama kali pada abad ke-18. Sebutan ini untuk orang yang sebagai “perantara” atau beberapa pihak dalam proses perdagangan. Secara umum menurut pendapat para ahli entrepreneur sendiri memiliki arti yang sangat luas.
Melalui para ahli entrepreneur memiliki definisi antara lain, Kasmir (2006) entrepreneur adalah orang yang berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan. Sedangkan menurut Peggy A. Lambing &
Charles R. Kuehl (dalam Hendro dan Chandra, 2006), kewirausahaan adalah suatu usaha yang kreatif yang membangun suatu value dari yang belum ada menjadi ada dan bisa dinikmati oleh orang banyak. Ilmu mengenai entrepreneur telah berkembang begitu luas, misalnya technopreneur, socialpreneur, greenpreneur, brandpreneur, intrapreneur, dan entrepreneur marketing. Dalam hal ini penulis tertarik untuk mempelajari ilmu entrepreneur lebih dalam khususnya yang berorientasi dari sisi marketing suatu perusahaan atau dapat sebut sebagai Entrepreneurial Marketing menurut para ahli.
Seperti yang telah disebutkan dalam paragraf sebelumnya entrepreneurial dapat diartikan sebagai orientasi strategi yang mempengaruhi fungsi organisasi pemasaran. Strategi pemasaran digunakan untuk mencapai penjualan dengan menarik minat konsumen, yang dikomunikasikan melalui gambaran, persepsi, akan kualitas dan fungsi produk. Komunikasi merupakan bagian yang tidak dapat dilepaskan dengan kegiatan marketing. Secara garis besar tujuan kegiatan marketing adalah bagaimana untuk mengkomunikasikan suatu produk yang dimiliki perusahaan untuk disampaikan kepada konsumen mengenai fungsi dan benefitnya, dengan memberikan penawaran-penawaran dan promosi. Komunikasi yang baik membantu konsumen untuk dapat mengenali dan mengingat suatu produk melalui merek tertentu atau iklan tertentu, yang mana dalam dunia bisnis dikenal dengan istilah brand awareness.
Komunikasi dan metode-metode pemasaran yang umum sudah tidak lagi efektif untuk memikat konsumen. Konsumen sudah terlalu jenuh dan apatis dengan promosi-promosi yang diberikan oleh perusahaan, sementara persaingan di pasar menjadi semakin kompetitif. Perlu disadari bahwa ilmu-ilmu pemasaran yang dipelajari dari buku ataupun melalui jalur pendidikan tidaklah cukup. Oleh karena itu penting bagi berusahaan untuk menerapkan nilai-nilai entrepreneur sebagai orientasi strategi yang dapat mempengaruhi fungsi organisasi pemasaran, sehingga meningkatkan inovasi.
Bagi perusahaan kecil seperti UKM atau start-up untuk bisa mendapatkan profit dari penjualan supaya bisnis tersebut dapat sustainable merupakan sebuah prestasi besar, dan biasanya masih menjadi objective utama bagi perusahaan start-up tersebut, tetapi lain halnya dengan perusahaan besar, yang mana mereka sudah masuk dalam tahap maturity dan memiliki sebuah brand sebagai aset. Objective mereka lebih dari sekedar mendapatkan penghasilan untuk keberlangsungan usahanya, melainkan jauh di atas itu adalah bagaimana mereka dapat mengolah aset mereka serta mewujudkan visi atau idealisme dari perusahaan tersebut.
Sebagai Multi National Corporation yang sudah beroperasi selama 114 tahun, 3M telah berhasil menciptakan sekitar 70.000 produk. Pada setiap produk yang dijual selalu diberi sebuah lambang/merek yang tertera pada sisi luar kemasan produk.
Merek adalah nama, tanda, simbol, atau logo, yang mengidentifikasi produk dan jasa
dari satu perusahaan dan membedakan mereka dari pesaing. (Michael, Thomas, 2010, p210). Sedangkan brand awareness adalah kemampuan konsumen untuk mengetahui dan mengingat suatu kategori sebuah merek secara rinci untuk melakukan pembelian (Kotler & Keller, 2012, p483).
Gambar 1. 2 3M Global RepTrak 2012 Sumber: www.reputationinstitute.com
Melalui gambar 1.2 menjelaskan reputasi untuk merek 3M secara global pada tahun 2012, dengan nilai rata-rata yaitu 72.8, turun beberapa angka dari tahun sebelumnya yaitu 74.3. Sementara 3M Indonesia memiliki reputasi brand sebesar 64.0, yang mana nilai ini masih di bawah nilai rata-rata 3M global yaitu 72.8. Data ini dikumpulkan melalui badan research yaitu Reputation Institute pada tahun 2012.
Kemudian pada tahun 2014 nilai rata-rata 3M global reputation turun menjadi 72.37, lalu pada tahun 2015 turun lagi menjadi 72.16 (lihat gambar 1.2 dan tabel 1.7). Hal
tersebut menunjukkan adanya pelemahan brand awareness dari 3M yang mungkin akan berdampak pada minat pembelian konsumen.
RepTrak® adalah gold standard untuk pengukuran reputasi, menyediakan salah satu pengukuran dari bagiamana masyarakat melihat perusahaan paling terkenal di dunia, memeriksa 15 kelompok stakeholder di lebih dari 25 industri dan lebih dari 50 negara dari lebih 7000 perusahaan. Peringkat tahunan RepTrak berdasarkan “pulse” dari setiap perusahaan, yang merupakan keterikatan emosional konsumen terhadap sebuah brand. Hasil yang lebih spesifik dipecah menjadi tujuh dimensi dari rasionalitas, yang mana menerangkan mengapa konsumen merasakan hal yang mereka lakukan. Dimensi tersebut antara lain, Products/Services, Innovation, Workplace, Governance, Citizenship, Leadership, dan Performance.
Tabel 1. 7 3M Global RepTrak 2015 vs 2014
Company Rank
(2015)
RepTrak Pulse Score (2015)
Rank (2014)
RepTrak Pulse Score (2014)
BMW Group 1 78.95 3 77.21
Google 2 78.95 2 77.25
Daimler 3 77.85 8 75.35
Rolex 4 77.65 4 77.17
LEGO Group 5 77.55 9 75.11
The Walt Disney 6 77.11 1 77.30
Canon 7 76.64 6 75.71
Apple 8 76.50 7 75.61
Sony 9 76.49 5 75.91
Intel 10 76.16 13 74.87
Microsoft 11 76.11 10 75.03
Adidas 12 75.53 14 74.54
Nike 13 75.25 20 73.00
Volkswagen 14 75.02 12 74.94
Rolls-Royce Aerospace 15 74.49 19 73.18
Nestle 16 74.48 17 73.72
Samsung Electronics 17 74.46 11 74.97
Johnson & Johnson 18 74.27 16 73.75
Michelin 19 74.07 15 74.24
Ferrero 20 74.01 22 72.62
Levi Strauss & Co. 21 73.74 New New
Philips Electronics 22 73.70 18 73.46
Nintendo 23 73.20 32 71.59
Amazon.com 24 73.12 21 72.65
Colgate-Palmolive 25 72.84 25 72.39
L’Oréal 26 72.79 24 72.42
Visa 27 72.55 30 72.21
Bridgestone 28 72.44 31 71.96
Panasonic – Formerly Matsushita
Electric Industrial 29 72.35 36 71.29
Robert Bosch 30 72.34 28 72.26
Danone 31 72.20 35 71.49
3M 32 72.16 27 72.37
BBC 33 72.11 45 70.57
Kellogg’s 34 71.70 34 71.51
Toyota 35 71.65 33 71.55
Hewlett-Packard 36 71.64 43 70.87
Giorgio Armani 37 71.61 26 72.38
Pirelli 38 71.60 37 71.20
FedEx 39 71.45 54 69.58
IBM 40 71.47 29 72.25
The Estate Lauder Companies 41 71.45 New New
Volvo Group 42 71.24 49 70.24
IKEA 43 71.16 40 71.06
LVMH Group (Moet Hennessy – Louis
Vuitton) 44 71.15 38 71.17
Goodyear 45 71.05 23 72.62
Barilla 46 71.03 55 69.47
Deutsche Lufthansa 47 70.97 46 70.50
Dell 48 70.84 62 69.00
MasterCard 49 70.60 New New
Whirlpool 50 70.59 50 70.19
Sumber: www.reputationinstitute.com
3M sudah berdiri selama 114 tahun dan sudah 40 tahun resmi beroperasi di Indonesia. Tetapi masih banyak konsumen yang masih belum mampu mengenali dan mengingat merek 3M pada kategori produk tertentu. Maka dari itu hal tersebut dapat dijadikan sebuah pembelajaran dan bahan yang menarik untuk diteliti. Dalam hal ini penulis ingin meneliti lebih jauh faktor mana yang paling berpengaruh diantara entrepreneurial marketing, perceive quality, dan brand awareness terhadap purchase intention pada produk 3M yaitu Nexcare Bandages.
1.2 Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian
Ruang lingkup dari penelitian ini difokuskan kepada variable Entrepreneurial Marketing, Innovation Capability, Brand Awareness, Perceived Quality, dan Purchase Intention yang diduga mengalami masalah pada produk minat pembelian. Metode untuk pengumpulan data penelitian dilakukan dengan cara membagikan kuesioner kepada masyarakat Indonesia khususnya di kota Jakarta dengan jumlah populasi tidak diketahui.
1.3 Identifikasi Masalah
Melalui tinjauan lapangan penulis menemukan issue lemahnya kontribusi penjualan berkaitan dengan kurangnya minat beli konsumen pada produk multi brand 3M yaitu Nexcare, khususnya pada jenis produk plester. PT 3M INDONESIA yang sudah berdiri selama kurang lebih 40 tahun hingga saat ini, merupakan usia yang terbilang cukup mapan dan sukses untuk ukuran sebuah perusahaan yang beroperasi di Indonesia. Sementara 3M sendiri memiliki 70,000 produk dan hanya 7,000 jenis produk yang dipasarkan di Indonesia.
Identifikasi masalah yang akan dibahas sebagai berikut:
1. Seberapa besar pengaruh Entrepreneurial Marketing terhadap Product Innovation.
2. Seberapa besar pengaruh Product Innovation terhadap Purchase Intention.
3. Seberapa besar pengaruh Entrepreneurial Marketing terhadap Purchase Intention, melalui Product Innovation.
4. Seberapa besar pengaruh Brand Awareness terhadap Purchase Intention.
5. Seberapa besar pengaruh Perceived Quality terhadap Purchase Intention.
1.4 Tujuan dan manfaat penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah disimpulkan sebelumnya, maka tujuan penelitian ini adalah:
1.4.1 Tujuan penelitian
1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Entrepreneurial Marketing terhadap Product Innovation.
2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Product Innovation terhadap Purchase Intention.
3. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Entrepreneurial Marketing terhadap Purchase Intention, melalui Product Innovation.
4. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Brand Awareness terhadap Purchase Intention.
5. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Perceived Quality terhadap Purchase Intention.
1.4.2 Manfaat penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut : 1. Bagi Penulis:
Menambah wawasan dan pengetahuan penulis dalam memahami ilmu entrepreneur marketing, dan mengetahui faktor mana diantara ketiga variable, yaitu brand awareness, perceived quality, dan entrepreneurial marketing yang paling berpengaruh terhadap purchase intention serta menambah pengetahuan di dalam membuat penelitian yang baik dan benar.
2. Bagi Perusahaan:
Diharapkan melalui penelitian ini didapat suatu hal yang maksimal yang menjadi bahan masukan bagi perusahaan melalui riset dan survey yang penulis lakukan. Serta mengetahui tolok ukur dan persepsi tentang brand Nexcare di mata konsumen saat ini.
3. Bagi Pihak Lain:
Menjadi bahan referensi yang dapat menambah wawasan bagi pembaca, khususnya untuk melakukan pengembangan dari penelitian yang sudah ada.
1.5 State of the Art Nama
Peneliti atau Institusi
Judul Penelitian Kesimpulan
Dr. Hsin Kuang Chi (2009)
The Impact of Brand Awareness on Consumer Purchase Intention: The Mediating Effect of Perceived Quality and Brand Loyalty
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa pengaruh dari kesadaran merek, persepsi kualitas, loyalitas merek dan intensi konsumen dalam membeli barang dan jasa. Hasi dari penelitian ini adalah : Konsumen Loyal terhadap Brand dikarenakan oleh kualitas dari produk yang dibeli atau digunakannya dan akan meningkatkan perilaku pembelian ulang dimasa yang akan datang. Perusahaan harus memperhatikan bahwa konsumen akan mengevaluasi tentang persepsi kualitas dari produk dari pengalaman pembelian yang telah mereka lakukan.
Tingginya tingkat evaluasi produk oleh konsumen mengindikasikan bahwa konsumen merasa puas yang pada akhirnya akan mengalami kenaikan dari Brand Loyalty.
Rita Ratama (2013)
Analysis Perceived Quality, Brand Image and Perceived Value on Buying Interest and Implications for Purchasing Decisions
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode SEM dengan software Lisrel. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh yang positif yang diberikan brand image terhadap perceived quality dan perceived value.
(Case Study on Singtel Cellular Card in Malaysia)
Sambudi Hamali (2013)
Meningkatkan Inovasi Melalui Entrepreneurial Marketing dan Dampak Pada Kinerja Pemasaran UKM-UKM Garment di Jawa Barat
Untuk meningkatkan inovasi pada industry pakaian jadi di Jawa Barat, dapat diatasi dengan pendekatan Entrepreneurial Marketing. Dengan pendekatan menggabungkan unsur kewirausahaan (peluang, proaktif, berani mengambil resiko) dan Pemasaran (focus pada pelanggan, memanfaatkan sumber daya, penciptaan nilai dan mendapatkan legitimasi), sehingga permasalahan pemasaran dan biaya produksi yang tinggi dapat diatasi. Sedangkan inovasi untuk meningkatkan kinerja pemasaran dilakukan melalui inovasi produk, proses, pemasaran, stratejik dan organisasi.
Dina Uliana (2012)
Pengaruh Inovasi Produk Terhadap Purchase Intention (Studi Pada Starbucks VIA)
Penelitina ini bertujian untuk melihat bagaimana pengaruh antara inovasi produk terhadap purchase intention yanga dilakukan dengan studi kasus terhadap pelanggan Starbucks VIA. Maka Peneliti membuat kesimpulan berdasarkan hasil analisis data, bahwa terdapat pengaruh inovasi produk Starbucks VIA terhadap purchase intention konsumen Starbuck.