1.1. Latar Belakang Penyusunan Kebijakan Umum Perubahan APBD Kebijakan Umum APBD (KUA) merupakan tahapan perencanaan pembangunan untuk menghasilkan dokumen yang berisi kebijakan bidang pendapatan, belanja, dan pembiayaan serta asumsi yang mendasarinya untuk periode 1 (satu) tahun sebagai perincian teknis dari dokumen Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Tersusunnya dokumen KUA APBD merupakan landasan dalam penyusunanAPBD.
Namun demikian, dinamika sosial pemerintahan dalam pelaksanaan APBD akan sangat mempengaruhi kebijakan umum ataupun asumsi dalam penyusunan APBD. Dengan mendasarkan pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang perubahan kedua atas Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, khususnya dalam Pasal 154 (1) huruf a, b, c, dan d, bahwa Perubahan APBD dapat dilakukan apabila terjadi perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi KUA, keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antar unit organisasi, antar kegiatan, dan antar jenis belanja, keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun sebelumnya harus digunakan dalam tahun berjalan, serta keadaan darurat.
Selanjutnya, dijelaskan dalam Pasal 155 (1) bahwa perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi KUA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 154 ayat (1) huruf a dapat berupa terjadinya pelampauan atau tidak tercapainya proyeksi pendapatan daerah, alokasi belanja daerah, sumber dan penggunaan pembiayaan yang semula ditetapkan dalam KUA.
BAB I
PENDAHULUAN
KUPA Kota Payakumbuh Tahun Anggaran 2017 I-2 APBD Kota Payakumbuh Tahun Anggaran 2017 telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kota Payakumbuh Nomor 19 Tahun 2016 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Payakumbuh Tahun Anggaran 2017, dan telah berjalan selama 2 (dua) triwulan pada Tahun Anggaran 2017. Seiring dengan pelaksanaan APBD tersebut, Pemerintah Kota Payakumbuh juga melaksanakan penyusunan laporan pertanggungjawaban keuangan pemerintah daerah tahun 2016, yang telah diaudit oleh BPK. Salah satu bagian dalam Laporan Pertanggungjawaban Keuangan Pemerintah Daerah tersebut adalah telah ditetapkannya penghitungan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) APBD 2016 yang kemudian akan menjadi bagian dalam proses penyusunan Perubahan APBD Tahun Anggaran 2017.
Pemerintah Kota Payakumbuh juga perlu mempertimbangkan kebijakan dari pemerintahan yang lebih tinggi, baik Pemerintah Pusat ataupun Pemerintah Provinsi. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 31 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2017 telah mengatur Penyusunan Perubahan APBD sebagai akibat dari kondisi sebagaimana dimaksud di atas. Berbagai pendapatan yang bersumber dari Pemerintah Pusat ataupun Pemerintah Provinsi yang mengalami perubahan setelah APBD Tahun Anggaran 2017 ditetapkan, agar dianggarkan melalui mekanisme Perubahan APBD Tahun Anggaran 2017.
Pemerintah Kota Payakumbuh dalam rangka mengakomodir perubahan kebijakan pemerintah pusat seperti pengalokasian Dana Alokasi Khusus Fisik Tahun 2017 telah menampungnya melalui pergeseran anggaran sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Walikota Nomor 32 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Walikota Nomor 112 Tahun 2016 tentang Penjabaran APBD Tahun Anggaran 2017 sebagai dasar pelaksanaan, untuk selanjutnya dianggarkan dalam rancangan peraturan daerah tentang Perubahan APBD Tahun 2017.
Dengan selesainya proses Pelaporan Keuangan Daerah Tahun Anggaran 2016 telah diketahui SiLPA-APBD tahun anggaran 2016. Disamping itu, dengan berbagai pertimbangan kebijakan lainnya seperti perubahan asumsi maupun sinkronisasi anggaran yang berhubungan dengan pemerintah provinsi
dan pemerintah pusat, maupun perubahan yang berkaitan kebijakan daerah dalam upaya mengimplementasikan kebijakan visi, misi dan program unggulan Walikota dan Wakil Walikota, serta untuk lebih mengoptimalkan kinerja tahun 2017, perlu kiranya Pemerintah Kota Payakumbuh melaksanakan Perubahan APBD Tahun Anggaran 2017. Proses perubahan tersebut,harus dilakukan melalui proses sebagaimana ketentuan yang telah ditetapkan, dengan tahapan proses dimulai dari Perubahan RKPD, Kebijakan Umum Perubahan Anggaran- PPAS Perubahan APBD Tahun 2017 selanjutnya menuju ke tahap Perubahan APBD Tahun Anggaran 2017, dengan memperhitungkan waktu serta penjadwalan yang optimal, agar perubahan tersebut dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
APBD Kota Payakumbuh Tahun Anggaran 2017 ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kota Payakumbuh Nomor 19 Tahun 2016 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Payakumbuh Tahun Anggaran 2017, yang sebelumnya didahului dengan adanya Nota Kesepakatan antara Pemerintah Kota Payakumbuh dengan DPRD Kota Payakumbuh Nomor :
𝟏𝟓/𝐍𝐊−𝐖𝐊−𝐏𝐘𝐊/𝟐𝟎𝟏𝟔
𝟏𝟎/𝐍𝐊−𝐃𝐏𝐑𝐃/𝟐𝟎𝟏𝟔 tanggal 27 Oktober 2016 tentang Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Payakumbuh Tahun Anggaran 2017 dan Nota Kesepakatan antara Pemerintah Kota Payakumbuh dengan DPRD Kota Payakumbuh Nomor 𝟏𝟔/𝐍𝐊−𝐖𝐊−𝐏𝐘𝐊/𝟐𝟎𝟏𝟔
𝟏𝟏/𝐍𝐊−𝐃𝐏𝐑𝐃/𝟐𝟎𝟏𝟔 tanggal 27 Oktober 2016 tentang Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara APBD Kota Payakumbuh Tahun Anggaran 2017, yang merujuk pada Peraturan Walikota Payakumbuh Nomor 37 Tahun 2016 tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kota Payakumbuh Tahun 2017.
Berbagai perubahan kebijakan dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat maupun Pemerintah Kota Payakumbuh serta perubahan kebijakan terkait dengan penganggaran lainnya yang harus disesuaikan, maka kiranya perlu dilakukan penyesuaian dan perubahan Kebijakan Umum APBD Kota Payakumbuh Tahun Anggaran 2017 tersebut.
Perubahan-perubahan tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:
KUPA Kota Payakumbuh Tahun Anggaran 2017 I-4 1. Adanya beberapa perubahan terkait dengan penerimaan daerah, baik yang
berasal dari PAD (Pendapatan Asli Daerah), penyesuaian alokasi pendapatan dari Pemerintah Pusat yang perlu segera untuk dilakukan agar dapat dimanfaatkan sesuai peruntukannya. Hal ini dengan mempertimbangkan hasil capaian realisasi sampai dengan triwulan kedua Tahun Anggaran 2017;
2. Pengalokasian anggaran yang bersumber dari Pemerintah Pusat seperti dana perimbangan pada penetapan APBD Tahun 2017 masih didasarkan pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2016 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 2017 serta Peraturan Presiden Nomor 97 tahun 2016 tentang Rincian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2017. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 19.PMK.07/2017 terdapat penambahan pada DBH PPh Pasal 21, 25 & 29, DBH CHT, DBH SDA Kehutanan, DBH SDA Pertambangan Panas Bumi dan DBH Mineral dan Batu Bara. Oleh karena itu, pada Perubahan APBD Tahun Anggaran 2017 harus disesuaikan dalam Perubahan APBD Kota Payakumbuh Tahun 2017;
3. Pemerintah Kota Payakumbuh dalam rangka mengakomodir perubahan kebijakan pemerintah pusatseperti pengalokasian Dana Alokasi Khusus Fisik Tahun 2017 telah menampungnya melalui pergeseran anggaran sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Walikota Nomor 32 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Walikota Nomor 112 Tahun 2016 tentang Penjabaran APBD Tahun Anggaran 2017 sebagai dasar pelaksanaan, untuk selanjutnya dianggarkan dalam rancangan peraturan daerah tentang Perubahan APBD Tahun 2017;
4. Pengalokasian Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang merupakan dana transfer dari Pemerinah Pusat kepada Pemerintah Provinsi yang penyalurannya dilakukan melalui pemindahbukuan dari Rekening Kas Umum Negara ke Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) Provinsi, selanjutnya disalurkan oleh Pemerintah Provinsi dari RKUD langsung kepada masing- masing Satuan Pendidikan melalui mekanisme hibah dianggarkan pada APBD Perubahan Tahun 2017;
5. Adanya perubahan terkait dengan pemanfaatan belanja daerah yang bersifat mendesak dan harus segera disesuaikan, antara lain : penyesuaian hak keuangan dan administratif pimpinan dan anggota DPRD Kota Payakumbuh sebagai konsekuensi atas terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2017 tentang Hak Keuangan dan Administratif Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, penyesuaian anggaran atas evaluasi kebutuhan operasional rutin SKPD dan kegiatan yang dipandang urgen serta efisiensi anggaran maupun hal-hal yang terkait penyesuaian alokasi belanja lainnya;
6. Dengan selesainya Laporan Keuangan Daerah Tahun 2016 perlu kiranya dilakukan penyesuaian pemanfaatan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) tahun 2016 sesuai dengan peruntukannya, seperti SiLPA BLUD dan SiLPA DAK Non Fisik.
Berbagai kondisi tersebut merupakan gambaran umum yang melatar belakangi Pemerintah Kota Payakumbuh untuk melakukan perubahan ataupun penyesuaian terhadap Kebijakan Umum APBD Kota Payakumbuh Tahun Anggaran 2017. Penyesuaian atas Kebijakan Umum Perubahan Anggaran diharapkan dapat mewujudkan keterpaduan perencanaan dengan mempertajam prioritas kegiatan pembangunan daerah yang ingin dicapai secara merata bagi kesejahteraan masyarakat.
1.2. Tujuan penyusunan Kebijakan Umum Perubahan APBD
Tujuan dari penyusunan Kebijakan Umum Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2017 antara lain :
a. Memberikan penjelasan serta informasi tentang berbagai perubahan asumsi dasar dengan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) yang ditetapkan sebelumnya;
b. Sebagai landasan atau dasar acuan penyusunan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2017 yang disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah;
KUPA Kota Payakumbuh Tahun Anggaran 2017 I-6 c. Evaluasi terhadap capaian target kinerja program dan kegiatan baik
yang dikurangi maupun yang ditingkatkan dari asumsi KUA sebelumnya;
d. Pemerintah Kota Payakumbuh dalam rangka mengakomodir perubahan kebijakan pemerintah pusat seperti pengalokasian Dana Alokasi Khusus Fisik Tahun 2017 telah menampungnya melalui pergeseran anggaran sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Walikota Nomor 32 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Walikota Nomor 112 Tahun 2016 tentang Penjabaran APBD Tahun Anggaran 2017 sebagai dasar pelaksanaan, untuk selanjutnya dianggarkan dalam rancangan peraturan daerah tentang Perubahan APBD Tahun 2017.
1.3. Dasar Hukum Penyusunan Kebijakan Umum Perubahan APBD Penyusunan Kebijakan Umum Perubahan APBD Tahun Anggaran 2017 ini berpedoman pada beberapa regulasi atau peraturan yang digunakan sebagai rujukan, antara lain :
1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);
2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3455);
3) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400);
4) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
5) Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
6) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049);
7) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
8) Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengawasan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 202, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4022);
9) Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4502);
10) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
11) Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4585);
12) Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah;
13) Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010
KUPA Kota Payakumbuh Tahun Anggaran 2017 I-8 14) Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 114, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5887);
15) Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2017 tentang Hak Keuangan dan Administratif Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 106, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6057);
16) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2015- 2019;
17) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2016 tentang Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2017;
18) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;
19) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah;
20) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara, Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;
21) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 sebagaimana yang telah diubah terakhir kalinya dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 14 Tahun 2016 tentang Perbahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial yang Bersumber dari APBD;
22) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 2016 tentang Pedoman Pengelolaan Barang Milik Daerah;
23) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 31 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2017;
24) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 62 Tahun 2017 Tentang Pengelompokan Kemampuan Keuangan Daerah Serta Pelaksanaan Dan Pertanggungjawaban Dana Operasional;
25) Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 61/2911/SJ Tahun 2016 tentang Tindak Lanjut PP Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah;
26) Peraturan Daerah Kota Payakumbuh Nomor 03 Tahun 2010 tentang Pokok- Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Payakumbuh;
27) Peraturan Daerah Kota Payakumbuh Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Payakumbuh Nomor 4 Tahun 2013 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Payakumbuh Tahun 2012-2017;
28) Peraturan Daerah Kota Payakumbuh Nomor 17 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah (Lembaran Daerah Tahun 2016 Nomor 17);
29) Peraturan Daerah Kota Payakumbuh Nomor 19 Tahun 2016 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Payakumbuh Tahun Anggaran 2017;
30) Peraturan Daerah Kota Payakumbuh Nomor 3 Tahun 2017 tentang Hak Keuangan dan Administratif Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Payakumbuh;
31) Peraturan Walikota Payakumbuh Nomor 112 Tahun 2016 tentang Penjabaran APBD Tahun Anggaran 2017;
32) Peraturan Walikota Payakumbuh Nomor 32 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Walikota Nomor 112 Tahun 2016 Penjabaran APBD Tahun Anggaran 2017;
33) Peraturan Walikota Payakumbuh Nomor 55 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Walikota Payakumbuh Nomor 37 Tahun 2016 tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Payakumbuh Tahun 2017.
KUPA Kota Payakumbuh Tahun Anggaran 2017 I-10
2.1. Perubahan Asumsi Dasar Kebijakan Umum APBD
Penyusunan Kebijakan Umum APBD Kota Payakumbuh Tahun 2017 didasarkan atas berbagai asumsi dasar antara lain asumsi indikator makro ekonomi baik nasional maupun daerah, serta berbagai asumsi serta estimasi terhadap perolehan pendapatan daerah yang bersumber baik dari Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan atau Dana transfer dari Pemerintah Pusat maupun yang bersumber dari Dana Bagi Hasil ataupun Bantuan Provinsi, disamping juga asumsi terkait dalam penggunaan anggaran guna memenuhi belanja daerah.
Perubahan asumsi indikator makro ekonomi sesuai dengan Nota Keuangan RAPBN-P Tahun Anggaran 2017, secara nasional terjadi perubahan yang tentunya berdampak pula terhadap kondisi ekonomi daerah yang cenderung akan memberikan pengaruh terhadap struktur keuangan daerah.
2.1.1. Perubahan Asumsi Dasar Ekonomi Makro dalam RAPBNP Tahun 2017
Sejak ditetapkannya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2016 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2017, perkembangan beberapa indikator ekonomi makro mengindikasikan perlunya dilakukan penyesuaian pada beberapa asumsi dasar ekonomi makro, seperti harga minyak mentah Indonesia (ICP) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, termasuk perubahan target pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan lebih tinggi dari target dalam APBN tahun 2017. Perubahan asumsi dasar ekonomi makro tersebut, yang kemudian diikuti dengan
BAB II
PERUBAHAN KEBIJAKAN
UMUM APBD
KUPA Kota Payakumbuh Tahun Anggaran 2017 II-2 penyesuaian dan perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal, berdampak pada perubahan postur APBN tahun 2017.
Sehubungan dengan itu, dalam rangka menjaga pelaksanaan APBN tahun 2017 sebagai instrumen dalam pencapaian berbagai target pembangunan, penyesuaian atas berbagai besaran APBN tahun 2017 diperlukan melalui kombinasi kebijakan fiskal seperti pelebaran defisit anggaran, efisiensi belanja negara, serta melanjutkan upaya optimalisasi pendapatan negara secara lebih realistis. Penyesuaian tersebut dilakukan sebagai upaya menjaga keseimbangan, antara pencapaian sasaran prioritas pembangunan dengan tetap menjaga kesinambungan fiskal dalam jangka menengah dan jangka panjang.
Memasuki tahun 2017, perekonomian global masih dihadapkan pada ketidakpastian yang antara lain dipengaruhi oleh faktor kebijakan moneter Amerika Serikat yang akan menaikkan tingkat suku bunga the Fed Fund Rate (FFR), kebijakan perdagangan Amerika Serikat dibawah pemerintahan baru, serta keberlanjutan rebalancing ekonomi Tiongkok.
Meskipun demikian, di awal tahun 2017, perekonomian Indonesia mampu tumbuh dengan baik dan kondisi makro ekonomi yang stabil. Pada triwulan I tahun 2017 pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,0 persen atau membaik dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada periode yang sama tahun 2016. Perbaikan tersebut antara lain di dorong oleh kinerja ekspor serta pertumbuhan konsumsi dan investasi yang stabil. Sampai dengan akhir tahun diperkirakan momentum perbaikan kinerja ekspor dan investasi serta sektor- sektor kunci dalam perekonomian yang berdampak positif terhadap konsumsi rumah tangga dapat terus berlanjut. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi dapat tumbuh lebih tinggi dari yang direncanakan pada APBN tahun 2017.
Dengan memperhatikan capaian tersebut serta mempertimbangkan perkembangan berbagai indikator ekonomi makro sampai dengan pertengahan tahun 2017, Pemerintah perlu untuk melakukan penyesuaian atas beberapa komponen asumsi dasar ekonomi makro dalam APBN tahun 2017 sebagai berikut:
a. Pertumbuhan ekonomi naik dari 5,1 persen menjadi 5,2 persen;
b. Inflasi naik dari 4,0 persen menjadi 4,3 persen;
c. Tingkat bunga SPN 3 Bulan turun dari 5,3 persen menjadi 5,2 persen;
d. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dari Rp13.300 per dolar Amerika Serikat menjadi Rp13.400 per dolar Amerika Serikat;
e. Harga minyak mentah naik dari 45 dolar Amerika Serikat per barel menjadi 50 dolar Amerika Serikat per barel;
Pada sisi pendapatan negara, penyesuaian dilakukan utamanya pada komponen penerimaan pajak non migas, dengan mengacu pada realisasi tahun 2016 agar target yang ditetapkan lebih realistis dan tetap optimis. Dengan demikian, secara nominal target penerimaan pajak non migas mengalami penurunan dibandingkan dengan target dalam APBN tahun 2017, namun pertumbuhannya lebih baik (14,2 persen) dibandingkan pertumbuhan tahun sebelumnya (5,8 persen) yang didukung oleh perbaikan basis data perpajakan yang lebih baik sebagai dampak kebijakan tax amnesty dan reformasi perpajakan yang terus dilakukan.
Di sisi belanja negara, penyesuaian secara umum dilakukan untuk meningkatkan kualitas belanja negara dalam rangka mendukung pencapaian berbagai tujuan pembangunan, serta pendanaan untuk berbagai kebutuhan yang mendesak, dengan rincian sebagai berikut:
Pertama, kebijakan efisiensi belanja barang berdasarkan realisasi tahun 2016 dengan tetap memperhatikan kegiatan-kegiatan prioritas, untuk kemudian direalokasi ke belanja/kegiatan yang lebih mendesak dan bersifat prioritas.
Kedua, menampung tambahan belanja yang bersifat mendesak dan/atau merupakan prioritas nasional, seperti alokasi untuk antisipasi bencana alam, penyelenggaraan Asian Games tahun 2018, persiapan tahapan Pilkada tahun 2018/Pemilu tahun 2019, percepatan sertifikasi tanah, dan pembangunan pertanian.
Ketiga, perubahan pagu belanja akibat perubahan pagu penggunaan PNBP/BLU dan penarikan pinjaman dan hibah luar negeri.
Keempat, penyesuaian besaran subsidi energi sebagai dampak belum diimplementasikannya beberapa kebijakan pembatasan yang telah diperhitungkan dalam APBN tahun 2017.
KUPA Kota Payakumbuh Tahun Anggaran 2017 II-4 Kelima, penyesuaian besaran dana alokasi umum (DAU) seiring dengan penurunan pendapatan dalam negeri neto sesuai kebijakan DAU dalam APBN tahun 2017 yang tidak bersifat final.
Berdasarkan penyesuaian besaran pendapatan dan belanja negara tersebut, defisit anggaran tahun 2017 akan meningkat dibandingkan dengan besaran yang ditetapkan dalam APBN tahun 2017. Namun demikian, dengan memperhatikan realisasi belanja negara dalam beberapa tahun terakhir, khususnya belanja Kementerian/Lembaga, dana alokasi khusus, dan dana desa, tingkat penyerapannya yang masing-masing sekitar 96 persen, 95 persen, dan 97 persen dari pagu yang ditetapkan, sehingga outlook defisit sampai dengan akhir tahun 2017 dapat dijaga pada kisaran 2,67 persen terhadap PDB. Jumlah tersebut masih dibawah jumlah kumulatif defisit APBN dan APBD maksimal yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
Untuk mengakomodasi berbagai perubahan tersebut, Pasal 36 ayat (1) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2016 tentang APBN Tahun Anggaran 2017 mengatur bahwa apabila terjadi deviasi yang signifikan antara realisasi indikator ekonomi makro dengan asumsinya dalam tahun 2017, perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal, pergeseran anggaran antar unit organisasi atau antar program, serta pemanfaatan saldo anggaran lebih (SAL) dalam tahun 2017, maka Pemerintah dapat mengajukan rancangan perubahan Undang- Undang tentang APBN Tahun Anggaran 2017. Berdasarkan kondisi-kondisi sebagaimana pada pasal dimaksud, maka Pemerintah menyampaikan RUU APBNP tahun 2017 agar pelaksanaan APBN tahun 2017 yang telah mengakomodasi perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal dapat berjalan secara efektif serta tercipta kesinambungan fiskal (fiscal sustainability).
Berdasarkan realisasi dan prospek perekonomian global dan domestik terkini, beberapa indikator asumsi dasar ekonomi makro tahun 2017 diusulkan untuk disesuaikan. Melihat potensi kuatnya konsumsi rumah tangga dan membaiknya kinerja ekspor sampai dengan akhir tahun, outlook pertumbuhan ekonomi tahun 2017 diperkirakan sebesar 5,2 persen, atau lebih tinggi dari asumsinya dalam APBN tahun 2017 sebesar 5,1 persen. Sumber pertumbuhan ekonomi pada tahun 2017 juga akan didukung oleh keberlanjutan proyek
infrastruktur serta potensi masuknya aliran modal ke dalam negeri pasca peningkatan rating menjadi investment grade oleh lembaga rating Standard &
Poor’s (S&P) yang diharapkan akan mendorong kinerja dari sisi investasi.
Sementara itu, laju inflasi pada tahun 2017 diperkirakan sebesar 4,3 persen atau lebih tinggi jika dibandingkan dengan asumsi inflasi APBN tahun 2017 sebesar 4,0 persen. Tekanan inflasi sampai dengan akhir tahun 2017 diperkirakan akan sejalan dengan peningkatan harga minyak dunia. Pemerintah tetap berupaya mengendalikan pergerakan harga dengan menjaga ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat serta memperkuat koordinasi antara Pemerintah dan Bank Indonesia baik ditingkat pusat maupun daerah dalam menjaga tingkat inflasi agar tetap berada pada kisaran sasaran inflasi nasional yaitu 4,1 persen.
Nilai tukar rupiah dalam RAPBNP tahun 2017 diusulkan sebesar Rp 13.400 per dolar Amerika Serikat atau melemah dibandingkan dengan asumsinya dalam APBN tahun 2017 sebesar Rp 13.300 per dolar Amerika Serikat. Outlook nilai tukar rupiah tersebut mempertimbangkan potensi risiko terutama terkait rencana kebijakan moneter Amerika Serikat yang akan menaikkan kembali tingkat suku bunga acuan dan kebijakan proteksi perdagangannya. Di sisi lain, status investment grade dari beberapa lembaga rating internasional dan stabilitas ekonomi makro yang terjaga dengan baik diperkirakan akan berdampak positif terhadap aliran modal masuk ke dalam negeri dan dapat menahan risiko pelemahan nilai tukar rupiah serta sekaligus menurunkan yield surat berharga negara.
Oleh karena itu, tingkat suku bunga SPN 3 bulan diperkirakan sebesar 5,2 persen atau lebih rendah dari asumsi APBN tahun 2017 sebesar 5,3 persen .
Berdasarkan tren peningkatan harga minyak, rata-rata ICP sampai dengan akhir tahun 2017 diperkirakan sebesar 50 dolar Amerika Serikat per barel, lebih tinggi dari asumsinya dalam APBN tahun 2017 sebesar 45 dolar Amerika Serikat per barel. Sementara lifting minyak dan gas bumi sampai dengan akhir tahun diperkirakan tidak berbeda dengan asumsi lifting migas APBN tahun 2017 yaitu rata-rata mencapai 815 ribu barel per hari untuk minyak dan 1.150 ribu barel per hari setara minyak untuk gas bumi.
KUPA Kota Payakumbuh Tahun Anggaran 2017 II-6 Perubahan asumsi dasar ekonomi makro tersebut tetap mengacu pada pencapaian sasaran pembangunan jangka menengah yang terdapat pada RPJMN 2015-2019 serta sasaran tahunan sebagaimana tercantum dalam RKP tahun 2017. Rincian asumsi dasar ekonomi makro dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1
ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO TAHUN 2016 DAN 2017
No Indikator 2016 2017
Realisasi APBN RAPBN-P
1. Pertumbuhan Ekonomi (%) 5,0 5,1 5,2
2. Inflasi (%) 3,02 4,0 4,3
3. Nilai Tukar Uang (Rp/US$1) 13.307 13.300 13.400
4. Suku Bunga SPN 3 bulan (%) 5,66 5,3 5,2
5. Harga Minyak Mentah (US$/barel) 40,2 45 50
6. Lifting Minyak Bumi (ribu barel/hari) 829 815 815
7. Lifting Gas Bumi (ribu barel setara minyak per hari) 1.180 1.150 1.150 Sumber : Nota Keuangan RAPBN-P 2017
2.1.2. Perubahan Kebijakan dalam RAPBNP Tahun 2017
Pemerintah mengajukan RAPBNP tahun 2017, selain untuk menyesuaikan asumsi dasar ekonomi makro, juga untuk menampung perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal, khususnya penyesuaian beberapa komponen belanja. Hal tersebut dilakukan agar pelaksanaan APBN tahun 2017 lebih berkualitas dan aman, dengan tetap menjaga pencapaian berbagai sasaran pembangunan nasional.
Dalam rangka mengamankan pendapatan negara, Pemerintah melakukan berbagai langkah kebijakan, baik untuk penerimaan perpajakan maupun penerimaan negara bukan pajak.
Kebijakan di bidang perpajakan antara lain (1) optimalisasi perpajakan dalam rangka peningkatan tax ratio melalui perbaikan basis data pajak sebagai hasil program tax amnesty; (2) mempertahankan stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat; (3) meningkatkan produktivitas dan daya saing industri domestik; (4) mendukung era transparansi informasi di bidang perpajakan; (5)
penguatan kebijakan tarif kepabeanan dan cukai antara lain melalui penetapan tarif kelebihan kuota; dan (6) pemberantasan penyelundupan.
Untuk melaksanakan kebijakan tersebut, langkah-langkah yang akan dilakukan adalah memperbaiki basis data perpajakan sebagai hasil penerapan kebijakan tax amnesty dan melakukan extra effort atas penerimaan pajak serta kepabeanan dan cukai. Selain itu, kebijakan insentif fiskal berupa tax allowance, tax holiday, dan pembebasan PPN untuk sektor industri strategis nasional juga tetap akan diberikan untuk menjaga daya saing industri dan mendorong produktivitas industri domestik.
Sementara itu, kebijakan PNBP diarahkan antara lain untuk (1) menahan turunnya lifting minyak dan gas serta efisiensi cost recovery; (2) penerapan production sharing contract (PSC) gross split pada kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang akan terminasi dan/atau melakukan perpanjangan kontrak kerja sama; (3) optimalisasi penerimaan royalti (iuran produksi) dari pertambangan mineral dan batubara; (4) penyempurnaan berbagaiperaturan PNBP, seperti revisi Undang-Undang PNBP dan Peraturan Pemerintah terkaittarif PNBP; dan (5) penerapan kebijakan payout ratio yang tepat untuk mendukung penguatan permodalan BUMN.
Selanjutnya pada sisi belanja pemerintah pusat, perubahan dalam RAPBNP tahun 2017 mencakup (1) perubahan belanja akibat perubahan asumsi
dasar ekonomi makro seperti perubahan pembayaran bunga utang dan subsidi;
(2) efisiensi belanja barang K/L untuk dialokasikan pada belanja/kegiatan yang
produktif dan prioritas dalam rangka meningkatkan kualitas belanja;
(3) tambahan alokasi pada beberapa komponen belanja, baik untuk kebutuhan mendesak dan prioritas maupun untuk penyelesaian kewajiban kewajiban Pemerintah.
Penyesuaian anggaran Transfer Ke Daerah dan Dana Desa dalam RAPBNP tahun 2017 pada dasarnya tetap mengacu pada kebijakan APBN tahun 2017, antara lain (1) perubahan besaran DAU sejalan dengan perubahan PDN Neto, sesuai kebijakan pagu DAU nasional tidak bersifat final; (2) penyaluran
anggaran berdasarkan kinerja pelaksanaan untuk setiap tahapannya di daerah;
(3) pengalokasian DAK fisik berdasarkan usulan daerah dan prioritas nasional,
KUPA Kota Payakumbuh Tahun Anggaran 2017 II-8 dan transmigrasi; serta (4) tambahan alokasi untuk kewajiban/kurang bayar beberapa komponen transfer ke daerah (DBH dan DAK fisik).
Perubahan kebijakan pembiayaan anggaran dalam RAPBNP tahun 2017 terutama terdapat pada pembiayaan investasi. Perubahan dalam pembiayaan investasi antara lain untuk (1) mendukung PT Kereta Api Indonesia (Persero) dalam rangka penugasan penyelenggaraan operasional prasarana dan sarana Light Rail Transit (LRT) Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi (Jabodebek) melalui alokasi PMN; (2) mendukung pembangunan infrastruktur melalui alokasi pembiayaan investasi kepada BLU Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) untuk pendanaan pengadaan tanah bagi Proyek Strategis Nasional; (3) penguatan kelembagaan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui skema sovereign wealth fund (SWF) di bidang pendidikan untuk menjamin keberlangsungan pendanaan pendidikan bagi generasi berikutnya; dan (4) mendukung penajaman program pembiayaan perumahan khususnya sinkronisasi antara program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dan Subsidi Selisih Bunga (SSB).
Dengan adanya perubahan kebijakan, baik pada sisi pendapatan negara, belanja negara, maupun pembiayaan investasi, maka pembiayaan utang akan mengalami kenaikan untuk menutupi defisit. Selain itu, dalam RAPBNP tahun 2017 mengakomodasi perubahan anggaran pendidikan dan anggaran kesehatan sejalan dengan perubahan volume belanja negara untuk memenuhi amanat peraturan perundang-undangan dengan tetap menjaga kesinambungan fiskal.
2.1.3. Perubahan Asumsi Makro Ekonomi Dalam APBD Tahun 2017
Terkait dengan situasi perekonomian global dan nasional sebagaimana dijelaskan di atas, serta melihat capaian kinerja perekonomian Kota Payakumbuh pada tahun 2017, maka semua asumsi tentang target capaian indikator makro ekonomi yang telah dituangkan didalam Kebijakan Umum APBD (KUA) Kota Payakumbuh tahun 2017 perlu direvisi didalam Kebijakan Umum Perubahan APBD (KUPA) Kota Payakumbuh tahun 2017.
a. Pertumbuhan PDRB
Berdasarkan data BPS kondisi terakhir, pertumbuhan ekonomi Kota Payakumbuh tahun 2016 adalah 6,08%, turun sebesar 0,12% dari pertumbuhan tahun 2015. Angka capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 6,08% di bawah target pertumbuhan yang tertuang didalam RKPD dan KUA tahun 2017 serta RPJMD tahun 2012 - 2017 tahun kelima yaitu, masing- masing 6,62%. Laju pertumbuhan ekonomi tahun 2015 untuk setiap lapangan usaha dapat dilihat pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2
Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Payakumbuh Tahun 2015 - 2016 Tahun Dasar 2010
No Lapangan Usaha 2015 2016
(%) (%)
1 2 3 4
A Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 3,24 2,51
B Pertambangan dan Penggalian 4,61 3,66
C Industri Pengolahan 1,98 1,98
D Pengadaan Listrik dan Gas 1,78 7,24
E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah
dan Daur Ulang 3,15 1,31
F Konstruksi 9,16 7,56
G
Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi
Mobil dan Sepeda Motor 5,28 4,81
H Transportasi dan Pergudangan 7,93 4,95
I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 8,32 13,35
J Informasi dan Komunikasi 9,88 9,93
K Jasa Keuangan danAsuransi 3,94 8,05
L Real Estate 5,49 4,59
M,N Jasa Perusahaan 5,92 5,42
O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan
Jaminan Sosial Wajib 3,45 3,34
P Jasa Pendidikan 8,69 8,01
Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 6,48 4,62
R,S,T
,U Jasa lainnya 6,86 7,02
KUPA Kota Payakumbuh Tahun Anggaran 2017 II-10
No Lapangan Usaha
2015 2016
(%) (%)
1 2 3 4
ProdukDomestikRegionalBruto 6,19 6,08
Sumber : PDRB Kota Payakumbuh Menurut Lapangan Usaha Tahun 2017
Perekonomian Kota Payakumbuh selama dua tahun terakhir tumbuh stabil pada kisaran angka di atas 6,19%, cukup tinggi di Sumatera Barat (kedua tertinggi di Sumatera Barat pada tahun 2015). Pada tahun 2016 laju pertumbuhan ekonomi mencapai angka 6,08% dimana pertumbuhan tertinggi berada di lapangan Penyediaan akomodasi dan makanan (13,35%) dan pertumbuhan yang terendah pada lapangan pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang (1,31 %).
Trend kenaikan laju pertumbuhan ekonomi pada tahun 2015 turun dari tahun 2016 yaitu dari 6,19% menjadi 6,08%. Terjadinya penurunan pertumbuhan ekonomi terkait dengan krisis global dan situasi perekonomian Nasional dan Provinsi. Walaupun tidak secara langsung, namun lemahnya daya beli berdampak pada penurunan produksi dan investasi masyarakat.
Trend pertumbuhan perekonomian selama dua tahun terakhir di dukung oleh perkembangan lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum, informasi dan komunikasi, kemudian diikuti lapangan usaha jasa keuangan dan asuransi, lapangan usaha jasa pendidikan dan asuransi, konstruksi, lapangan usaha pengadaan listrik dan gas, dan transportasi dan pergudangan, meskipun laju pertumbuhan lapangan usaha tersebut lebih kecil dibandingkan sektor lapangan usaha informasi dan komunikasi.
b. Laju Inflasi
Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus berkaitan dengan mekanisme pasar yang disebabkan oleh faktor permintaan (demand) dan penawaran (supply) barang yang beredar di pasar. Berbagai faktor yang menyebabkan kenaikan harga secara menyeluruh antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi, atau akibat adanya
ketidaklancaran distribusi barang. Tingginya inflasi berdampak pada penurunan daya beli masyarakat yang pada akhirnya mempengaruhi kesejahteraan masyarakat.
Laju inflasi Kota Payakumbuh pada tahun 2012-2016 mengacu pada angka inflasi ibu kotaProvinsi Sumatera Barat yaitu kota Padang karena karakteristik usaha di Kota Payakumbuh lebih mendekati dengan Kota Padang. Secara keseluruhan laju inflasi dapat dilihat pada Tabel 2.3.
Tabel 2.3
Nilai Inflasi Rata-Rata Tahun 2012 s.d. 2016 Kota Payakumbuh
Uraian 2012 2013 2014*) 2015*) 2016**)
Inflasi (%) 4,16 10,87 11,90 1,08 4,17
Sumber : PDRB Kota Payakumbuh dan Provinsi Sumatera Barat Tahun 2014
*) Data Sementara
**) Data diambil dari data Biro Perekonomian Provinsi Sumatera Barat
Tingkat inflasi Kota Payakumbuh pada tahun 2014 yang dihitung menggunakan angka inflasi Provinsi Sumatera Barat (Kota Padang) meningkat secara signifikan yaitu sebesar 11,90% lebih tinggi dari inflasi tahun 2013 sebesar 10,87 % dan nasional sebesar 8,36 %. Pada tahun 2015 turun sangat signifikan menjadi 1,08%. Sumatera Barat mencatatkan diri sebagai provinsi dengan laju inflasi IHK tahun 2015 terendah secara nasional.
Beberapa faktor utama penunjang membaiknya laju inflasi tahun 2015 antara lain relative lebih terjaganya pasokan pangan, tidak adanya kebijakan kenaikan harga energi strategis oleh pemerintah dan indikasi pelemahan daya beli masyarakat sebagai dampak perlambatan ekonomi selama 2015. Pada tahun 2016 tingkat inflasi kembali meningkat pada angka 4,17%. Hal ini disebabkan oleh konsumsi masyarakat yang meningkat dan membaiknya daya beli masyarakat.
c. PDRB per kapita
Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat adalah PDRB per-kapita. PDRB per kapita merupakan total produksi domestik dan regional dibagi dengan jumlah
KUPA Kota Payakumbuh Tahun Anggaran 2017 II-12 penduduk di suatu daerah. Pada tahun 2016 PDRB per kapita Kota Payakumbuh hanya 35.02 juta rupiah menurun sebesar 1,53 persen dari tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 6,94 persen. Perkembangan PDRB per kapita Kota Payakumbuh selama lima tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 2.4.
Tabel 2.4
PDRB Per Kapita Atas Dasar Harga Berlaku dan Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2010 s.d. 2014 Kota Payakumbuh (2000 = 100)
No Tahun PDRB (juta rupiah) Jumlah penduduk
PDRB per kapita (ribu rupiah)
ADHB ADHK ADHB ADHK
1 2012 3313.64 2947.64 121.502 27272.32 24260.05
2 2013 3703.34 3140.91 123.654 29949.18 25400.76
3 2014 4180.16 3343.97 125.690 33257.69 26604.87
4 2015 4546.30 3551.03 127.826 35566.30 27780.13
5 2016 4984.53 3767.82 129.807 35023.51 29026.31
Sumber : PDRB Kota Payakumbuh Tahun 2016 *) data sementara
Secara umum PDRB per kapita Kota Payakumbuh setiap tahunnya meningkat baik atas dasar harga berlaku maupun harga konstan, kecuali pada tahun terakhir yang disebabkan oleh jumlah penduduk yang meningkat dan perlambatan ekonomi di Kota Payakumbuh.
d. Nilai Tukar Petani (NTP)
Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan perbandingan/rasio antara Indeks Harga Yang Diterima Petani (It) dengan Indeks Harga Yang Dibayar Petani (Ib). Hubungan Nilai Tukar Petani (NTP) dengan tingkat kesejahteraan petani sebagai produsen secara nyata terlihat dari posisi itu yang berada pada pembilang (enumerator) dari angka NTP. Apabila harga barang/produk pertanian naik, dengan asumsi volume produksi tidak berkurang, maka penerimaan/pendapatan petani dari hasil panennya juga akan bertambah.
Disisi lain, untuk melihat tingkat kesejahteraan petani secara utuh perlu juga dilihat faktor pembentuk yang lain yaitu perkembangan jumlah pengeluaran/pembelanjaan mereka baik untuk kebutuhan konsumsi maupun untuk produksi. Dalam hal ini petani sebagai produsen dan juga konsumen dihadapkan kepada pilihan dalam mengalokasikan pendapatannya yaitu: Pertama, untuk memenuhi kebutuhan pokok
(konsumsi) demi kelangsungan hidup petani beserta keluarganya. Kedua, pengeluaran untuk produksi/budidaya pertanian yang merupakan ladang penghidupannya yang mencakup biaya operasional produksi dan investasi atau pembentukan barang modal. Unsur kedua ini hanya mungkin dilakukan apabila kebutuhan pokok petani telah terpenuhi, dengan demikian investasi dan pembentukan barang modal merupakan faktor penentu bagi tingkat kesejahteraan petani.
Penghitungan Nilai Tukar Petani (NTP) di Kota Payakumbuh baru dimulai pada tahun 2014, Nilai Tukar Petani (NTP) tahun 2014 cukup baik yaitu sebesar 100,68 persen (lebih dari 100 persen) meskipun belum mencapai kondisi yang ideal. Tahun 2015, NTP Kota Payakumbuh turun menjadi 100,18, dan pada tahun 2016 diharapkan naik kembali menjadi 100,44 persen. Kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) di Kota Payakumbuh terus diupayakan melalui peningkatan indeks yang diterima petani terutama pada sub sektor yang dibawah 100 persen yaitu subsektor tanaman perkebunan rakyat dan subsektor peternakan diantaranya melalui stabilisasi harga komoditas pertanian/perikanan, insentif usaha tani/perikanan, fasilitasi permodalan bagi petani/peternak ikan dan penguatan kelembagaan dan kemitraan petani/peternak ikan dengan stakeholder pertanian/perikanan. Hal tersebut dapat terlihat pada tabel 2.5.
Tabel 2.5
Nilai Tukar Petani (NTP) Tahun 2014 s.d. 2016 Kota Payakumbuh
No Uraian 2014 2015 2016*
1 NTP Subsektor Tanaman Pangan (%) 107,43 98,40 100,50 2 NTP Subsektor Tanaman Hortikultura
(%)
113,28 103,58 105,58 3 NTP Subsektor Tanaman Perkebunan
Rakyat (%)
74,88 101,46 103,46
4 NTP Subsektor Perikanan 118,16 96,94 99,14
5 NTP Subsektor Peternakan 95,39 100,54 101,54
Total 100,68 100,18 100,44
Sumber : Buku Nilai Tukar Petani (NTP) Kota Payakumbuh Tahun 2015
*) Data Sementara
e. Tingkat Pengangguran dan Kemiskinan
Sejalan dengan prioritas pembangunan Nasional dan Provinsi Sumatera Barat, Pemerintah Kota Payakumbuh menempatkan program pengurangan angka kemiskinan dan pengangguran pada prioritas ketiga
KUPA Kota Payakumbuh Tahun Anggaran 2017 II-14 dari sembilan prioritas yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Payakumbuh Tahun 2012 - 2017.
Kebijakan pembangunan untuk pengurangan angka kemiskinan dan pengangguran antara lain adalah sebagai berikut :
1. Dilaksanakannya pemberdayaan masyarakat miskin dengan fokus mengatasi faktor utama yang mempengaruhi keberadaan orang miskin, kurangnya keterampilan dan pendidikan, kurangnya akses modal, kurangnya pemberdayaan, dan kurangnya fasilitas fisik penunjang, termasuk kurangnya akses terhadap pekerjaan;
2. Dilaksanakan upaya perlindungan sosial untuk kelompok rumah tangga miskin, berupa jaminan pendidikan untuk anak-anak miskin, jaminan pembiayaan kesehatan, serta jaminan tempat tinggal dan pekerjaan;
3. Pendataan dan penataan sektor informal yang banyak menjadi lapangan usaha bagi pencari kerja dan sering memunculkan pengangguran tersembunyi di kawasan perkotaan.
Dengan menerapkan kebijakan diatas, upaya penanggulangan kemiskinan di Kota Payakumbuh dalam beberapa tahun terakhir sudah memperlihatkan indikasi keberhasilan. Perkembangan data kemiskinan Kota Payakumbuh dapat dilihat pada Tabel 2.6.
Tabel 2.6
Perkembangan Data Kemiskinan Tahun 2012 s.d. 2016 Kota Payakumbuh
No Uraian Satua
n
Tahun
2012 2013 2014 2015 2016 1
2 3 4
1 Jumlah penduduk 2 Jumlah Penduduk
Miskin
3 Jumlah KK Miskin 4 Tingkat Kemiskinan
Jiwa Jiwa KK
%
122.45 0 10.800 2.226 9,00
123.564 9.700 1.940 7,81
125.690 8.840 2.344 7,01
127.826 8.510 2.300 6.67
129.807 8.510*
2.300*
6.67*
Sumber : BPS Kota Payakumbuh 2016 *) Data Sementara
Pada tahun 2012 dengan jumlah penduduk 122.450 jiwa, tingkat kemiskinan Kota Payakumbuh sebesar 9,00% atau turun sebesar 1,09%.
Pada tahun 2013 dengan jumlah penduduk 123.654 jiwa, tingkat kemiskinan Kota Payakumbuh sebesar 7,81%, atau turun sebesar 1,19%.
Sedangkan pada tahun 2014 dengan jumlah penduduk 125.690 jiwa,
tingkat kemiskinan Kota Payakumbuh sebesar 7,01%, atau turun sebesar 0.8%. Dan pada tahun 2015 tingkat kemiskinan Kota Payakumbuh sebesar 6.67%, Penurunan tingkat Kemiskinan di Kota Payakumbuh dari tahun 2011 sampai tahun 2015 adalah sebesar 3.42%.
Pada tahun 2015, pemerintah mendata jumlah rumah tangga sasaran yang akan mendapatkan program perlindungan sosial berdasarkan status kesejahteraan masyarakat melaluikegiatan Pemutakhiran Basis Data Terpadu (PBDT). Berdasarkan hasil data PBDT tahun 2015 tersebut, RTS untuk 40% masyarakat dengan pendapatan terendah didapat jumlahnya sebanyak 6.431 RTS dengan jumlah individu sebanyak 28.949 jiwa.
Pertumbuhan ekonomi di berbagai sektor yang terjadi pada tahun 2011- 2015 mendorong terciptanya lapangan kerja baru. Idealnya pertumbuhan lapangan kerja baru dapat lebih tinggi dari pertumbuhan angkatan kerja, sehingga tingkat pengangguran akan terkurangi setiap tahunnya. Angka pengangguran merupakan salah satu indikator penting dalam mewujudkan kemandirian di Kota Payakumbuh. Pengangguran yang terjadi di Kota Payakumbuh disebabkan oleh angkatan kerja yang pada umumnya tenaga kerja non formal, kurang terdidik dan minat generasi muda bekerja dibidang pertanian masih rendah. Oleh karena itu dibutuhkan perhatian khusus dari Pemerintah Kota Payakumbuh. Pada tahun 2015 Tingkat Pengangguran Terbuka di Kota Payakumbuh sebesar 7,07%, ini berarti bahwa dalam 100 orang pencari kerja yang tergolong angkatan kerja terdapat sekitar 6-7 orang yang sedang mencari kerja/mempersiapkan usaha atau tidak mencari kerja karena putus asa.
Dalam jangka panjang, Pemerintah Kota Payakumbuh telah memformulasi kebijakan dan berkomitmen penuh bahwa pembangunan sumber daya manusia merupakan kunci utama bagi pengentasan persoalan pengangguran yang perlu terus ditangani melalui perbaikan kualitas pendidikan. Selain itu, peningkatan kapasitas, kualitas, produktifitas dan daya saing angkatan kerja perlu terus dipacu agar menghasilkan tenaga kerja yang handal, terlatih dan siap bersaing serta mampu menciptakan lapangan kerja baru ditengah-tengah masyarakat. Tingkat pengangguran
KUPA Kota Payakumbuh Tahun Anggaran 2017 II-16 terbuka di Kota Payakumbuh tahun 2012 mengalami peningkatan dari tahun 2011 yaitu dari 6,78 % pada tahun 2011 menjadi 7,42 % di tahun 2012, kemudian pada tahun 2013 turun menjadi 7,16 %, lalu turun kembali di tahun 2014 menjadi 6,36 % dan 7,07 % pada tahun 2015.
Tabel 2.7
Tingkat Pengangguran Terbuka Penduduk yang Berumur 15 Tahun ke Atas Tahun 2011 s.d. 2016 Kota Payakumbuh
No Tahun Tingkat Pengangguran (%)
1 2011 6,78
2 2012 7,42
3 2013 7,16
4 2014 6,36
5 2015 7,07
6 2016* 6,76
Sumber : Statistik Kesejahteraan Rakyat Kota Payakumbuh Tahun 2016; *data sementara
2.2. Perubahan Kebijakan Pendapatan Daerah
Perubahan kebijakan pendapatan daerah pada APBD Kota Payakumbuh Tahun Anggaran 2017 disesuaikan berdasarkan evaluasi realisasi pendapatan daerah triwulan II Tahun Anggaran 2017 dan Rancangan Peraturan Daerah Kota Payakumbuh Tahun 2017 tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2016 serta prognosis semester II Tahun Anggaran 2017.
Perubahan kebijakan pendapatan disebabkan oleh beberapa faktor, baik faktor ekonomi yang bersifat kondisional maupun adanya perubahan faktor regulasi, seperti perubahan anggaran dana perimbangan dalam APBN Perubahan 2017. Dana perimbangan bertujuan untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi, yang terdiri atas dana transfer umum dan dana transfer khusus.
Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan salah satu jenis dana perimbangan yang mempunyai peranan penting dalam meningkatkan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi, terutama bagi daerah-daerah yang bukan merupakan penghasil pajak dan sumber daya alam. Sesuai dengan ketentuan UU Nomor 33 Tahun 2004, besaran DAU nasional yang ditetapkan dalam APBN sekurang-kurangnya sebesar 26 persen dari PDN neto. Sedangkan, kebijakan
DAU dalam APBN tahun 2017 adalah sebesar 28,7 persen dari PDN neto dan tidak bersifat final atau dapat berubah sesuai perubahan PDN neto dalam APBN Perubahan, dimana dalam Nota Keuangan RAPBN Perubahan Tahun 2017, DAU diproyeksikan sebesar Rp.392.301,3 miliar, lebih rendah Rp18.538,0 miliar atau 4,5 persen dari pagunya dalam APBN tahun 2017. Dengan demikian apabila terjadi penurunan pagu DAU nasional, maka daerah harus bisa mengelola APBD-nya mengikuti perkembangan PDN neto dengan tetap menjaga capaian output yang telah direncanakan.
Dalam perubahan kebijakan pendapatan pada APBD Kota Payakumbuh Tahun Anggaran 2017 ini, telah disesuaikan berdasarkan evaluasi realisasi pendapatan daerah semester pertama tahun 2017. Perubahan kebijakan pendapatan disebabkan oleh beberapa faktor, baik faktor ekonomi yang bersifat kondisional maupun adanya perubahan faktor regulasi. Perubahan kebijakan pada beberapa komponen pendapatan daerah mengakibatkan pendapatan daerah mengalami kenaikan sebesar Rp.12.480.534.734,- dari APBD TA 2017 awal. Kenaikan tersebut berasal Pendapatan Asli Daerah bertambah sebesar Rp.18.532.128.899,- sementara Dana Perimbangan turun sebesar Rp.7.101.594.165,- sementara untuk Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah naik sebesar Rp.1.050.000.000,-
Kenaikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) berasal dari kenaikan Pajak Daerah sebesar Rp.259.500.000,- dan kenaikan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah sebesar Rp.23.196.282.250,-, Retribusi Daerah turun sebesar Rp.1.802.007.861,- dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan turun sebesar Rp.3.121.645.490,-. Kenaikan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah berasal Dana BOS Tahun 2017 sebesar Rp.17.536.100.000,-, pendapatan dari BLUD Rumah Sakit Dr. Adnaan WD bertambah sebesar Rp.7.202.600.000,-, pendapatan dari jasa layanan BLUD UPTD Fasilitas Pembiayaan bertambah sebesar Rp.200.000.000,-, pendapatan dari BLUD Puskesmas turun sebesar Rp.208.551.750,-, pendapatan bunga deposito turun sebesar Rp.1.380.000.000,-.
Untuk Dana Perimbangan, terjadi penurunan yang cukup signifikan terhadap alokasi DAU sebesar Rp.7.826.413.000,- atau sebesar 1,76%. Dana
KUPA Kota Payakumbuh Tahun Anggaran 2017 II-18 Alokasi Khusus Non Fisik turun sebesar Rp.315.034.870,-, sementara Dana Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak bertambah sebesar Rp.1.039.853.705,-.
Pengurangan DAU sebesar 1,76% tersebut dilakukan karena dalam laman website Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Kementerian Keuangan yang di posted oleh Humas DJPK pada tanggal 9 Agustus 2017 terdapat Rincian Alokasi Dana Alokasi Umum dan Tambahan Dana Alokasi Khusus Fisik Menurut Provinsi/Kabupaten/Kota Dalam APBN-P TA 2017, dan khusus untuk Kota Payakumbuh DAU turun dari Rp.445.523.347.000,- menjadi Rp.437.696.934.000,- turun sebesar Rp.7.826.413.000,- atau turun sebesar 1,76%, sementara untuk Tambahan Dana Alokasi Khusus Fisik tidak ada.
Kebijakan DAU dalam APBN tahun 2017 adalah sebesar 28,7 persen dari PDN neto dan tidak bersifat final atau dapat berubah sesuai perubahan PDN neto dalam APBN Perubahan. Dengan demikian, apabila terjadi penurunan pagu DAU nasional, maka daerah harus bisa mengelola APBD-nya mengikuti perkembangan PDN neto dengan tetap menjaga capaian output yang telah direncanakan. Selanjutnya, dengan adanya perubahan DAU yang cukup signifikan tersebut, daerah perlu melakukan langkah-langkah perbaikan pengelolaan keuangan daerah (APBD).
Target pendapatan daerah pada Perubahan APBD Tahun Anggaran 2017 dapat dilihat pada tabel 2.8 berikut :
Tabel 2.8
Target Pendapatan Daerah Pada Perubahan APBD Tahun Anggaran 2017
Catatan :
NO URAIAN APBD AWAL
TA 2017 (Rp) P-APBD (Rp) SELISIH (Rp)
1 2 3 4 5 = 4 - 3
1 PENDAPATAN DAERAH
732.632.934.067 745.113.468.801 12.480.534.734 1,1 Pendapatan Asli
Daerah
94.430.804.067 112.962.932.966 18.532.128.899 1.1.1 Pajak Daerah 12.366.836.939 12.626.336.939 259.500.000 1.1.2 Retribusi Daerah 8.142.367.961 6.340.360.100 (1.802.007.861) 1.1.3 Hasil Pengelolaan
Kekayaan Daerah yang dipisahkan
12.000.000.000 8.878.354.510 (3.121.645.490)
1.1.4 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah
61.921.599.167 85.117.881.417 23.196.282.250
1,2 Dana Perimbangan 616.634.989.000 609.533.394.835 (7.101.594.165) 1.2.1 Bagi Hasil Pajak/Bagi
Hasil Bukan Pajak
14.419.924.000 15.459.777.705 1.039.853.705 Bagi Hasil Pajak 12.334.392.000 13.553.063.072 1.218.671.072 Bagi Hasil PBB 4.629.500.000 4.691.021.964 61.521.964
BH PPh Pasal 25 &
29 dan PPh 21
7.107.952.000 8.218.937.683 1.110.985.683
BH CHT 596.940.000 643.103.425 46.163.425
BH PBB Migas - - -
Bagi Hasil Bukan Pajak/SDA
2.085.532.000 1.906.714.633 (178.817.367) DBH SDH Kehutanan 223.009.000 259.529.726 36.520.726
DBH SDA Perikanan 1.493.124.000 1.269.155.400 (223.968.600)
DBH SDA Pertambangan Panas
Bumi
34.545.000 40.070.003 5.525.003
DBH Mineral dan Batu Bara
334.854.000 337.959.504 3.105.504
1.2.2 Dana Alokasi Umum 445.523.347.000 437.696.934.000 (7.826.413.000) 1.2.3 Dana Alokasi Khusus 105.902.321.000 105.587.286.130 (315.034.870)
DAK Fisik 60.968.000.000 60.968.000.000 - DAK Non Fisik 44.934.321.000 44.619.286.130 (315.034.870)
TPG 34.653.033.000 34.653.033.000 -
Tambahan Penghasilan Guru
816.000.000 816.000.000 -
BOK 3.553.767.000 3.343.589.678 (210.177.322) Akreditasi
Puskesmas
611.502.000 611.502.000 -
Jaminan Persalinan 622.297.000 622.297.000 -
BOKB 396.700.000 375.242.452 (21.457.548)
BOP PAUD 3.573.000.000 3.489.600.000 (83.400.000)
ADM Kependudukan 708.022.000 708.022.000 -
KUPA Kota Payakumbuh Tahun Anggaran 2017 II-20 1.2.4 Dana Insentif Daerah 50.789.397.000 50.789.397.000 -
1,3 Lain-lain Pendapatan Daerah
yang sah
21.567.141.000 22.617.141.000 1.050.000.000
1.3.1 Pendapatan Hibah - 1.050.000.000 1.050.000.000
1.3.3 Dana Bagi Hasil Pajak Propinsi
21.567.141.000 21.567.141.000 - 1.3.4 Dana Penyesuaian
dan Otonomi Khusus
- - -
1.3.5 Bantuan Keuangan Propinsi atau Pemerintah daerah
lainnya
- - -
Jumlah Pendapatan 732.632.934.067 745.113.468.801 12.480.534.734
Berkaitan dengan kondisi pendapatan daerah di atas, maka kebijakan pendapatan daerah pada Perubahan APBD tahun anggaran 2017 sebagai berikut:
a. Pendapatan Asli Daerah
Pendapatan Asli Daerah (PAD) terdiri dari Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan serta Lain- Lain PAD yang Sah. Dengan melihat kondisi aktual kinerja ekonomi daerah serta memperhatikan realisasi APBD Tahun Anggaran 2016 dan evaluasi kinerja bidang pendapatan sampai dengan bulan Juni 2017, dimana pada Perubahan APBD Tahun 2017 ini Pendapatan Asli Daerah bertambah sebesar Rp.18.532.128.899,-atau naik sebesar 19,6% dari Rp.94.430.804.067,- menjadi Rp.112.962.932.966,-. Berdasarkan kondisi ini maka kebijakan pendapatan asli daerah di Perubahan APBD Tahun 2017 diarahkan sebagai berikut :
Penyesuaian penerimaan pajak daerah, dimana pada Perubahan APBD penerimaan dari pajak mengalami kenaikan sebesar Rp.259.500.000,- menjadi Rp.12.626.336.939,- dari yang ditargetkan diawal sebesar Rp.12.366.836.939,-. Dari pos-pos PAD ini terdapat kenaikan dan penurunan.Kenaikan terjadi pada Pajak Hiburan sebesar Rp.51.400.000,-, Pajak Reklame sebesar Rp.103.000.000,-, Pajak Air
Tanah sebesar Rp.5.100.000,-, Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sebesar Rp.800.000.000,-. Sedangkan yang mengalami penurunan adalah penurunan target penerimaan dari Pajak PBB P2 yang turun sebesar Rp.700.000.000,-,- atau turun sekitar 28%. Penurunan tersebut setelah dilakukan pemutakhiran data ternyata ada beberapa objek dan subjek pajak yang tidak ditemui dan ada juga objek pajak yang tercatat dua kali. Berdasarkan hal tersebut, Pemerintah Kota Payakumbuh harus menyesuaikan target pendapatan dari sumber pendapatan ini.
Penyesuaian Retribusi Daerah, juga mengalami penurunan sebesar Rp.1.802.007.861,- sehingga dari Rp.8.142.367.961,- menjadi Rp.6.340.360.100,- atau turun sebesar 22,13%. Penurunan ini terjadi pada Retribusi Jasa Umum sebesar Rp.243.401.200,- Retribusi Jasa Usaha sebesar Rp.1.554.606.661,-, dan Retribusi Perizinan Tertentu sebesar Rp.4.000.000,-.
Penyesuaian penerimaan dari hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. Untuk Perubahan APBD 2017, penerimaan dari sektor ini mengalami penurunan yang sangat signifikan yaitu sebesar Rp.3.121.645.490,- atau 26,01% dari Rp.12.000.000.000,- menjadi Rp.8.878.354.510,-, akibat penurunan penerimaan dari target yang telah ditetapkan diawal. Bagian laba atas penyertaan modal pada Bank Nagari berupa jasa giro mengalami penurunan sebesar Rp.2.890.144.702,- karena persentase kepemilikan saham Pemerintah Kota Payakumbuh pada Bank Nagari yang turun, karena dalam beberapa tahun terakhir ini Pemerintah Kota Payakumbuh tidak melakukan penyertaan modalnya pada Bank Nagari. Sementara, untuk laba PDAM yang diawal ditetapkan sebesar Rp.1.500.000.000,- tapi pada perubahan mengalami penurunan sebesar Rp.231.500.788,- sehingga menjadi Rp.1.268.499.212,-
Penyesuaian penerimaan dari Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah, dimana pada Perubahan APBD mengalami kenaikan sebesar Rp.23.196.282.250,- dari target awal sebesar Rp.61.921.599.167,- menjadi Rp.85.117.881.417,- atau naik sebesar 37,5%. Kenaikan ini berasal dari Pengalokasian Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)