PRESIDEN PADA MEDIA REPUBLIKA.CO.ID
Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar sarjana Sosial (S.Sos.)
Oleh : Muzaki
NIM 11140510000201
PROGRAM STUDI JURNALISTIK
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF
HIDAYATULLAH JAKARTA 1441 H. / 2020 M.
“ANALISIS FRAMING PEMBERITAAN PASCA DEBAT CALON DAN WAKIL CALON PRESIDEN PADA MEDIA REPUBLIKA.CO.ID”
Pemberitaan pasca debat keempat calon presiden ramai menjadi sorotan media massa di Indonesia karena banyak kejadian-kejadian yang terjadi pada saat debat berlangsung seperti sindiran-sindiran dari masing-masing kubu kedua pasangan calon presiden. Setiap media massa memiliki sudut pandang yang berbeda dalam memahami suatu realitas sosial yang ada. Termasuk Republika Online.
Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti ingin mengetahui bagaimana konsep independensi dalam pemberitaan pasca debat keempat Calon dan Wakil Calon Presiden di Republika Online dilihat pada level teks berdasarkan Analisis framing model Robert N. Entman.
Konsep Independensi Kode Etik Jurnalistik memiliki makna yaitu: setiap wartawan dalam meberitakan suatu peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain.
Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis dengan pendekatan kualitatif, Metode analisis yang digunakan adalah framing model Robert N. Entman. Robert N. Entman melihat seleksi isu dan penonjolan aspek tertentu dari suatu isu yang dikonstruksi. Peneliti juga ingin mengetahui bagaimana praktisi media memandang Konsep Independensi serta apa tantangan dan harapan kehidupan pers di Indonesia.
Hasil analisis menunjukan bahwa Republika Online melakukan pembingkaian dalam memberitakan isu yang ada Republika Online cenderung menonjolan karakter dan citra diri dari sosok Jokowi.
Kata Kunci: Independensi, Cover Both Side, Framing, Republika Online
i Bismillahirahmanirrahim.
Puji syukur penulis sampaikan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Karunia-Nya. Shalawat teriring salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat, dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.
Alhamdulillah, atas izin Allah SWT penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan judul Analisis Framing Pemberitaan Pasca Debat Calon Dan Wakil Calon Presiden Pada Media Republika.Co.Id.
Dalam Penyusunan Skripsi ini, Penulis menyadari betul masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Tentu bukan perkara yang mudah bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, Dengan kerendahan hati penulis ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini, diantaranya kepada:
1. Suparto M.Ed, Ph.d., selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Dr. Siti Napsiah, MSW., selaku Wakil Dekan I Bidang
Akademik, Dr. Sihabudin Noor, MA. selaku Wakil Dekan II Bidang Administrasi Umum, serta Drs. Cecep Castrawijaya, MA selaku Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan., Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Kholis Ridho M.Si selaku Ketua Program Studi Jurnalistik dan Dra. Hj. Musfirah Nurlaily, M.A., selaku
ii
Jakarta.
4. Ade Masturi, MA, sebagai dosen Pembimbing Akademik Jurnalistik A.
5. Siti Nurbaya M.Si, sebagai dosen Pembimbing Skripsi yang sudah dengan sabar membimbing dan membatu peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini.
6. Seluruh dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah mengajari dan memberikan ilmu yang bermanfaat.
7. Seluruh staff Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang sudah menyediakan referensi-referansi yang dibutuhkan oleh mahasiswa.
8. Kepada Pihak Republika Online, yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian, dan memberikan informasi serta keperluan penulis dalam proses penelitian.
9. Keluarga penulis, Orang Tua Penulis (Alm) Ayahanda H. Iwan Rusli, Ibunda Hj. Syuliah, Kakak Penulis Arirudin Syurur, Fitrah Syawaludin, Agus Aulia, Ika Diani Putri yang selalu Mendo’akan, memberikan dukungan, bantuan, nasihat dan motivasi tanpa harus diminta oleh penulis. Mereka adalah alasan utama penulis dalam meneyelesaikan skripsi ini, terutama untuk (Alm)
iii
10. Keluarga besar Jurnalistik angkatan 2014 yang memberi warna dalam perkuliahan ini. Sampai jumpa di lain waktu. 11. Sahabat terkasih, Pernanda Priatna, Fiqi Agustiansah, Aab Abdullah, Desi Eliska, Isrojah Muniroh, Siti Afifah, Ikrimah, yang telah mendukung dan membantu peneliti dari awal hingga akhir pembuatan skripsi. Tanpa kalian, skripsi ini akan terasa sangat sulit.
12. Keluarga besar Kosan E-Sport Abdul Majid, Ade Reza Baidhowi, Eko Zulmi Bachtiar, Ahdani Samsul Anwar, M. Ikamlul Huda, Umar Rafiqi, Mustaqim, Yaser Chaerafy, Alfandi, yang selalu setia menemani dan membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 13. Kepada semua pihak yang telah membantu dan
berpartisipasi dalam penyelesaian skripsi ini, yang tidak bisa disebutkan satu persatu, tanpa mengurangi rasa hormat. Penulis mengucapkan terima kasih.
Jakarta, 5 Februari 2020
Muzaki
iv
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... vii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Batasan dan Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7
D. Metodologi Penelitian ... 8
E. Tinjauan Pustaka ... 13
F. Sistematika Penulisan ... 14
BAB II LANDASAN TEORI
A.
Konseptualisasi Media Massa Online, Berita, Wartawan ... 171. Media Massa Online ... 17
2. Berita ... 18
3. Wartawan ... 20
4. Jurnalistik Islami ... 23
B.
Kode Etik Jurnalistik ... 251. Pengertian Kode Etik Jurnalistik ... 25
2. Kode Etik Jurnalistik dalam Penerapannya.... 29
3. Independensi Dalam Kode Etik Jurnalistik .... 30
v
3. Efek Framing ... 40
BAB III GAMBARAN UMUM LATAR PENELITIAN
A.Gambaran Umum Republika Online ... 43BAB IV DATA DAN TEMUAN PENELITIAN A. Analisis Temuan Data pada pemberitaan di Republika Online pasca Debat Calon dan Wakil Calon Presiden Keempat ... 49
B. Analisis Framing Pemberitaan Pasca Debat Keempat di Republika Online ... 50
BAB V PEMBAHASAN A. Analisis Framing Model Robert N. Entman ... 57
1. Berita 1: Erick Thohir: Jokowi Tunjukkan kematangan Seorang Pemimpin ... 57
a) Problems Identifications ... 59
b) Diagnose Cause ... 59
c) Make Moral Judgement ... 60
d) Treatment Recommendations ... 60
2. Berita 2: Jokowi Jawab Tuduhan Tak Aktif Di Forum Internasional ... 61
a) Problems Identifications ... 63
b) Diagnose Cause ... 63
c) Make Moral Judgement ... 63
vi
a) Problems Identifications ... 67
b) Diagnose Cause ... 67
c) Make Moral Judgement ... 68
d) Treatment Recommendations ... 68
B. Interpretasi Penelitian... 69
C. Tantangan dan Harapan Praktisi Media ... 76
1. Tantangan ... 77 2. Harapan ... 83 BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan ... 87 B. Saran ... 88 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
vii
Tabel 2.1 : Skema Framing Model Robert N. Entman ... 44 Tabel 4.1 : Berita dan Artikel Pemberitaan Pasca Debat Capres Keempat 2019 ... 52 Tabel 4.2 : Berita dan Narasumber Berita ... 53 Tabel 5.1 : Perangkat Framing Berita “Erick Thohir: Jokowi Tunjukan Kematangan Seorang Pemimpin” ... 60 Tabel 5.2 : Perangkat Framing Entman Berita “Jokowi Jawab Tuduhan tak Aktif di Forum Internasional” ... 64 Tabel 5.3 : Perangkat Framing Entman Berita “Soal Hasil Debat, Hasto: Prabowo Tak Update Informasi” ... 68 Tabel 6.1 : Hasil Konstruksi Republika Online dalam pemberitaan pasca debat keempat calon Presiden 2019 ... 73
1
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Beberapa waktu yang lalu seluruh masyarakat Indonesia yang memiliki hak pilih telah ikut andil dalam pesta demokrasi untuk menentukan pemimpin negeri ini selama lima tahun ke depan. Tahun seperti ini disebut sebagai tahun politik karena berlangsungnya proses pemilihan umum kembali setelah sebelumnya dilaksanakan pada tahun 2014.
Momentum tersebut tidak mungkin dapat luput dari pemberitaan-pemberitaan yang ada di media massa baik tradisional hingga elektronik. Isu-isu dan opini dari media massa kepada masyarakat seolah tidak bisa dibendung lagi. Ditambah dengan modernisasi yang ada dalam dunia jurnalistik kini siapa pun dengan mudah dan cepat dapat menemukan informasi bahkan terkadang atas proses percepatan informasi tersebut membuat informasi tidak bisa disaring sepenuhnya sehingga memunculkan berita yang tidak bersumber atau sumbernya tidak jelas yang sering kita kenal dengan sebutan Hoax (Berita Bohong).
Dalam dunia jurnalistik terdapat etika-etika yang harus selalu ditaati yang disebut dengan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). KEJ pada dasarnya dibuat agar wartawan dapat bertanggung jawab dalam menjalankan profesinya, yaitu mencari dan menyajikan informasi. KEJ berperan untuk
mengawasi, melindungi sekaligus membatasi kerja sebuah profesi, termasuk profesi sebagai wartawan.1
Dewan Pers selaku lembaga yang mengembangkan dan melindungi kehidupan pers di Indonesia serta menetapkan sekaligus mengawas pelaksanaan KEJ di Indonesia.
KEJ Dewan Pers merupakan landasan moral profesi dan rambu-rambu serta pemberi arah kepada wartawan tentang apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan dalam tugas jurnalistiknya. KEJ Dewan Pers ini dibuat oleh wartawan dan untuk wartawan sebagai acuan moral dan undang-undang yang harus ditaati, oleh wartawan.
Wartawan harus bersikap independen yang berlandaskan itikad yang tinggi untuk melakukan pengecekan kepada pihak-pihak yang memberikan informasi sehingga tidak merugikan khalayak pembaca. Wartawan harus memberitakan peristiwa atau fakta tanpa campur tangan ataupun paksaan dari pihak manapun, serta harus akurat, dapat dipercaya serta harus adil dan berimbang.
Pada 2017 Pelanggaran KEJ meningkat sebanyak 20 persen dibanding tahun sebelumnya2. Menurut Dewan Pers,
1
Wina Armada Sukardi, Kode Etik Jurnalistik dan Dewan Pers (Jakarta: Dewan Pers, 2008) h. 5
2 Diakses dari https://m.antaranews.com/berita/648173/dewan-pers-jurnalis-langgar-kode-etik-meningkat diakses pada tanggal 7 Januari 2019, pukul 10.10 WIB
sebanyak 30 persen media Online melanggar kode etik dan yang dilanggar adalah tentang keakuratan data.3
Bukan hanya pelanggaran mengenai keakuratan data saja yang di temukan di lapangan. Bahkan ketua Dewan Pers Indonesia Bagir Manan mengungkapkan bahwa saat ini kepentingan pemilik media di luar nilai-nilai dari profesi kewartawananan terus menggerus independensi dari kehidupan pers. Hal ini tidak lepas dari pola kemitraan antara pers dengan pemangku kepentingan, pejabat publik, hingga kalangan pengusaha mewarnai independensi dan daya kritis pers4.
Pada pasal yang tertuang dalam Kode Etik Jurnalistik Dewan Pers, disebutkan “Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang dan tidak beritikad buruk” bunyi dari pasal tersebut dapat ditafsirkan bahwa setiap wartawan dalam memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers itu sendiri.
Dari pemaparan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa setiap Wartawan di tuntut harus bersikap independen bahkan dari tuntutan perusahaan pers itu sendiri. Tapi hal ini mungkin akan menyulitkan para wartawan, karena mungkin
3 Diakses dari https://nasional.tempo.co/read/671086/dewan-pers-30-persen-media-online-langgar-kode-etik diakses pada tanggal 7 Januari 2019, pukul 10.45 WIB
4 Diakses dari https://www.rappler.com/indonesia/121792-dewan-pers-independensi-media-terancam-kepentingan-pemilik diakses pada tanggal 15 Januari 2019, pukul 13:24 WIB
saja bisa diberhentikan dari pekerjaannya sebagai wartawan karena tidak tunduk pada pemilik perusahaan.
Contoh dari pemberitaan dalam media yang belum menyajikan prinsip dari Cover Both Side dalam Kode Etik Jurnalistik secara menyeluruh adalah pada media Online Republika.co.id. pemberitaan mengenai debat calon presiden memang menjadi topik yang selalu hangat untuk diberitakan. Media massa berbondong-bondong memberitakan mengenai isu-isu yang hadir dalam debat tersebut begitu juga dengan Republika.co.id yang turut memberitakan isu pasca debat tersebut.
Namun dalam pemberitaan yang dimuat oleh Republika.co.id dengan judul berita “Erick Thohir: Jokowi
Tunjukan Kematangan Seorang Pemimpin”5 Prinsip dari
Kode Etik Jurnalistik tentang keberimbangan dalam menyampaikan informasi belum sesuai dengan aturan yang ada dalam Kode Etik Jurnalistik karena sisi yang dihadirkan dalam pemberitaan tersebut hanya satu sudut pandang dalam berita ini sudut pandang yang dihadirkan adalah pendukung dari kubu Jokowi, Erick Thohir yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf.
Isi dari berita tersebut adalah tentang citra diri dari sosok Calon Presiden Jokowi yang dibangun oleh Erick Thohir dalam kalimat “Saya menilai, Jokowi sangat tenang
5
Diakses dari
https://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/pp6urs354/erick-thohir-jokowi-tunjukan-kematangan-seorang-pemimpin diakses pada tanggal 3 April 2019, pukul 19:24 WIB
sekali dan menguasai materi debat seri empat itu. Ia mampu mementahkan segala argumentasi Prabowo, dengan menunjukkan hasil kerja. Bahkan, dengan istilah yang kekinian, Dilan, atau Digital Melayani, Jokowi menunjukkan ketenangan saat debat berlangsung”.
Alasan peneliti untuk mengangkat penelitian ini karena untuk mengetahui bagaimana Republika.co.id mengonstruksi berita tersebut. Penelitian ini juga bertujuan untuk melihat bagaimana suatu realitas yang di pandang oleh media dalam hal ini Republika.co.id. Republika yang sebagaimana kita tahu selalu mengedepankan komunitas muslim sebagai basis dari pengunjungnya melihat polemik serta ingin mengetahui sikap yang diambil oleh Republika.
Jika melihat kasus di atas apakah sebenarnya yang terjadi dalam melaksanakan prinsip dari Kode Etik Jurnalistik perihal keberimbangan berita pada prosesnya. Apakah wartawan yang lalai dalam menjalankan prinsip tersebut atau ada tuntutan dari perusahaan pers dalam hal ini Republika.co.id.
Oleh karenanya, berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti bermaksud menyusun skripsi dengan judul “Analisis Framing Pemberitaan Pasca Debat Calon Dan Wakil Calon Presiden Pada Media Republika.Co.Id”. Dengan tujuan untuk melihat bagaimanakah para wartawan memandang dan menyikapi dilema tersebut. Dengan alasan tersebut peneliti bertujuan untuk mencoba menggali bagaimana praktisi di bidang jurnalistik memandang konsep
dari independen itu sendiri serta apa saja kendala dalam mewujudkan independensi yang ideal menurut Kode Etik Jurnalistik Dewan Pers.
B. Batasan dan Rumusan Masalah 1. Batasan Masalah
Atas latar belakang tersebut maka peneliti untuk mempermudah membatasi hanya pada media Online Republika.co.id pada 30-31 Maret 2019 dalam pemberitaan pasca debat calon presiden keempat. Karena isu-isu pemberitaan pasca debat keempat pada tanggal tersebut menjadi isu yang hangat karena membahas kedua pasang calon dan wakil calon Presiden.
2. Rumusan Masalah
Dari batasan penelitian di atas, maka peneliti membuat rumusan masalah sebagai berikut:
a. Bagaimana proses penerapan Konsep independensi dalam pemberitaan pasca debat keempat calon dan wakil calon Presiden di Republika.co.id dilihat pada level teks berdasarkan Analisis framing model Robert N. Entman?
b. Bagaimana praktisi media memandang konsep independensi serta tantangan dan harapan yang dihadapi khususnya wartawan dari Republika.co.id.
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah
a. Untuk mengetahui bagaimana penerapan konsep independensi dalam pemberitaan pasca debat keempat calon dan wakil calon Presiden di Republika.co.id dilihat pada level teks berdasarkan Analisis framing model Robert N. Entman.
b. Untuk mengetahui bagaimana para praktisi media memandang konsep independensi serta tantangan dan harapan yang dihadapi.
2. Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan memberi gambaran pada perkembangan keilmuan dunia Jurnalistik bahwa pada saat ini media-media di Indonesia masih terdapat keberpihakan dalam menyampaikan suatu informasi dengan menggunakan analisis Framing model Robert N. Entman. Dan juga pemahaman mengenai Kode Etik Jurnalistik dan sedikit memberikan pemahaman mengenai konsep dari independensi. b. Manfaat Praktis
Memberi kontribusi dan masukan pada wartawan, praktisi serta pihak-pihak yang terkait
dalam penerbitan media baik cetak maupun Online mengenai pentingnya Kode Etik Jurnalistik dan sedikit pemahaman mengenai konsep independensi yang ideal bagi pers di Indonesia dalam pandangan para praktisi jurnalis sendiri di era sekarang ini. Dan juga memberi kontribusi pada praktisi media Online dalam menganalisis berita melalui analisis framing dan sekaligus memberikan gambaran dalam menganalisis suatu berita dalam media dengan menggunakan analisis framing.
D. Metodologi Penelitian 1. Paradigma Penelitian
Karena penelitian ini menggunakan analisis framing, yaitu analisis yang melihat wacana sebagai hasil dari konstruksi realitas sosial, maka penelitian ini termasuk ke dalam paradigma konstruktivis.
Konstruktivis meneguhkan asumsi bahwa individu -individu selalu berusaha memahami dunia di mana mereka hidup dan bekerja. Mereka mengembangkan makna-makna subjektif atas pengalaman-pengalaman mereka – makna-makna yang diarahkan pada objek-objek atau benda-benda tertentu. Makna-makna ini pun cukup banyak dan beragam sehingga peneliti di tuntut untuk mencari kompleksitas pandangan-pandangan ketimbang
mempersempit makna-makna menjadi sejumlah kategori dan gagasan.6
Konstruktivis mempunyai pandangan tersendiri
mengenai media dan teks yang ada. Konstruktivis memandang realitas kehidupan sosial bukanlah realitas yang natural, tetapi hasil dari sebuah konstruksi. Pendekatan ini secara tidak langsung lebih terfokus pada sebuah scope khusus. Dalam artian hanya melihat bagaimana bahasa dan simbol diproduksi dan direproduksi dihasilkan lewat berbagai hubungan yang terbatas antara sumber dan narasumber yang menyertai proses hubungan tersebut. Dalam bahasa sederhananya hanya menyentuh level mikro (konsepsi diri sumber) dan level meso (lingkungan dimana sumber itu berada) dan tidak menyentuh hingga level makro( sistem politik, budaya, ekonomi dll).
Dalam Konstruktivis, bahwa yang ada adalah pemaknaan kita tentang empiris dan kebenaran itu dibangun, sifatnya pluralistis dan plastisis. Pluralistis yaitu realitas dapat diekspresikan dengan beragam simbol dan beragam sistem bahasa. Disebut plastisis karena realitas itu tersebar dan terbentuk sesuai dengan tindakan perilaku manusia yang berkepentingan.
6 John W. Cresswell, Research Design: Pendekatan Kualitatif,
2. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Penelitian ini menggunakan analisis framing model Robert N. Entman. Robert N. Entman adalah salah seorang ahli yang meletakkan dasar-dasar bagi analisis framing untuk strategi media. Konsep framing oleh Entman, digunakan untuk menggambarkan proses seleksi dan menonjolkan aspek tertentu dari realitas oleh media. Framing dapat dipandang sebagai penempatan informasi-informasi dalam konteks yang khas sehingga isu-isu tertentu mendapatkan alokasi lebih besar daripada isu yang lain.
Dengan metode ini penulis menganalisis framing yang di gunakan Republika.co.id dalam pemberitaan pemberitaan pasca debat keempat Calon Presiden. Kemudian, penulis menyimpulkan hasil temuan dari analisis tersebut. Hasil dari penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu memberikan gambaran bagaimana Republika.co.id membingkai suatu realitas.
3. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek dari penelitian ini adalah Republika.co.id pada tanggal 30-31 Maret 2019 sebagai pemuat dan penyampai berita, sementara itu objek dari penelitian ini adalah
pemberitaan pasca debat keempat Calon Presiden pada media tersebut.
4. Teknik Pengumpulan Data a. Wawancara Mendalam
Dalam penelitian ini, menggunakan teknik metode wawancara mendalam (in-depth interview). Wawancara mendalam bisa juga disebut sebagai wawancara tidak terstruktur mirip dengan percakapan informal. Metode ini bertujuan memperoleh bentuk-bentuk tertentu informasi dari semua responden, tetapi susunan kata dan urutannya disesuaikan dengan ciri-ciri setiap responden.7 Wawancara yang dimaksud dalam penelitian ini dengan Asisten Redaktur Pelaksana yaitu Didi Purwadi yang dilaksanakan di Kantor Republika di Jalan Warung Buncit Raya, Pejaten Barat, Pasar Minggu Jakarta Selatan. Dan beberapa Reporter Republika.co.id diantaranya Sapto Andika Candra, Muhammad Nursyamsi, dan Dea Alvi Soraya.
b. Dokumen
Analisis dokumen cukup berpengaruh bagi peneliti guna untuk melengkapi data-data yang berupa dokumen seperti otobiografi, memoar, catatan harian surat-surat, berita koran dan lain sebagainya. Dalam
7 Deddy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT.
proses dokumentasi penulis menyalin naskah pemberitaan pasca debat keempat calon dan wakil calon Presiden Indonesia dihalaman website resmi Republika.co.id. sebagai data pendukung
Akan tetapi, meskipun dokumen dijadikan sebagai sumber primer penelitian sebaiknya dilengkapi pula oleh data yang diperoleh dari wawancara dengan pihak-pihak terkait.
5. Teknik Analisis Data
Pengertian Analisis data kualitatif menurut (Bogdan & Biklen, 1982) adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskanya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. Dari definisi tersebut saya akan menggunakan model analisis framing.
Analisis Framing adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui bagaimana realitas (aktor, kelompok, atau apa saja) dikonstruksi oleh media. Analisa framing memiliki dua konsep yakni konsep psikologis dan sosiologis. Konsep psikologis lebih menekankan pada bagaimana seseorang memproses informasi pada dirinya sedangkan konsep sosiologis lebih melihat pada bagaimana konstruksi sosial atas realitas. Analisis
Framing sendiri juga merupakan bagian dari analisis isi yang melakukan penilaian tentang wacana persaingan antar kelompok yang muncul atau tampak di media.
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara interaktif. Menurut Sugiyono bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai selesai. Maksudnya, dalam analisis data peneliti ikut terlibat langsung dalam menjelaskan dan menyimpulkan data yang diperoleh dengan mengaitkan teori yang digunakan.
6. Pedoman Penulisan
Pedoman karya ilmiah ini mengacu pada Surat Keputusan (SK) Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta nomor 507 tahun 2017 tentang pedoman penulisan karya ilmiah (Skripsi, Tesis dan Disertasi).
E. Tinjauan Pustaka
Dalam menentukan judul skripsi ini, peneliti melakukan tinjauan pustaka di Perpustakaan Fakultas Dakwah dan Perpustakaan Utama (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Dalam tinjauan tersebut ditemukan beberapa judul skripsi yang berhubungan menggunakan metode penelitian analisis framing.
Untuk menentukan judul ini peneliti menemukan beberapa skripsi yang di jadikan sebagai rujukan dalam meneliti di antaranya :
1. Skripsi Karya Nurma Aulia Mahasiswa Konsentrasi Jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan Judul “Konstruksi Realitas Sosial Di Media Massa (Analisis Framing Pemberitaan Konflik Antara Organisasi Papua Merdeka {OPM} Dengan Aparat Keamanan Republik Indonesia (RI) di Kompas.com Edisi Oktober-November 2017”. Persamaan skripsi ini adalah perangkat analisis yang digunakan adalah analisis Framing model Robert N. Entman. Perbedaannya terletak pada media yang diteliti media yang dijadikan objek penelitian adalah Kompas.com sementara peneliti memilih media Republika.co.id.
2. Skripsi karya Hazhiyah Rif’at Fathaniyah dengan judul “Framing Pemberitaan Dugaan Penistaan Agama Oleh Sukmawati Soekarnoputri” skripsi ini peneliti jadikan tinjauan karena media yang diteliti sama yaitu Republika.co.id, sedangkan perbedaannya terletak pada metode analisis yang digunakan yaitu pada skripsi ini menggunakan metode analisis framing model Zhongdang Pan dan Gerlad M. Kosicki sementara peneliti menggunakan model Analisis Framing model Robert N. Entman.
F. Skripsi Karya Nurlaela Mahasiswa Konsentrasi Jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan judul “Analisis
Framing Pemberitaan Konflik Tolikara pada Harian Kompas dan Republika” alasan peneliti menjadikan skripsi ini sebagai tinjauan karena memiliki media yang sama yaitu Republika.co.id sedangkan perbedaannya adalah metode yang digunkan yaitu dalam skripsi ini menggunakan metode analisis framing model Zhongdang Pan dan Gerlad M. Kosicki sementara peneliti menggunakan model Analisis Framing model Robert N. Entman.Sistematika Penulisan
Untuk lebih jelas dan terarah dalam penelitian skripsi ini, maka peneliti membuat sistematika penulisan sesuai dengan masing-masing bab
BAB I : PENDAHULUAN
Pada bab ini, peneliti akan menjelaskan mengenai latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II : LANDASAN TEORI
Pada bab ini, peneliti akan menguraikan dan membahas teori yang digunakan yaitu teori konstruksi sosial (Konstruktivist), membahas konseptualisasi berita dan konseptualisasi framing model Robert N. Entman, Konsep Berita, Wartawan serta konsep dari Kode Etik Jurnalistik yang di terbitkan oleh Dewan Pers.
BAB III : GAMBARAN UMUM LATAR PENELITIAN
Pada bab ini, peneliti membahas sejarah perusahaan, serta menyampaikan visi dan misi perusahaan.
BAB IV : DATA DAN TEMUAN PENELITIAN Pada bab ini peneliti membahas dan menguraikan mengenai temuan data mulai dari pengemasan berita mengenai debat keempat Calon Presiden di media Republika.co.id..
BAB V : PEMBAHASAN
Pada Bab ini Peneliti menguraikan bagaimana Konsep Independensi dalam Pemberitaan mengenai debat keempat Calon Presiden di media Republika.co.id pada level teks menggunakan analisis framing model Robert N. Entman. Dan bagaimana para informan memandang konsep dari independensi tersebut dan kemudian menyimpulkannya
BAB VI : SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN Pada Bab ini merupakan tahap akhir dari penelitian skripsi yang berisikan mengenai kesimpulan mulai dari tahap awal sampai akhir penelitian kemudian penutup kesimpulan dan saran.
17
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Konseptualisasi Media Massa Online, Berita, Wartawan dan Jurnalistik Islami
Media adalah alat yang digunakan untuk memindahkan pesan dari sumber kepada penerima. Secara umum dipahami bahwa istilah “media” mencakup sarana komunikasi seperti pers, media penyiaran (broadcasting) dan sinema. Media merujuk pada pelbagai institusi atau bisnis yang berkomunikasi dengan para audiens, terutama dalam menyediakan pengisi waktu luang atau hiburan. Media merekonstruksi materi sumber dengan pelbagai cara, untuk pelbagai alasan, terutama untuk menjadikannya menarik bagi audiens1.
1. Media Massa Online
Proses perkembangan teknologi yang terus meningkat memiliki dampak yang signifikan dalam bidang media massa online. Hal ini dipicu oleh muncul nya media social dalam rupa seperti Facebook, Twitter, Instagram, Blog dan lain sebagainya.
Sejarah media massa memperlihatkan bahwa sebuah teknologi baru tidak pernah menghilangkan teknologi yang lama, namun mensubtitusinya. Radio tidak pernah menggantikan surat kabar, namun menjadi
1 Graeme Burton, Media dan Budaya Populer (Yogyakarta: Jalasutra,
sebuah alternatif, menciptakan sebuah Kerajaan dan khalayak baru. Demikian pula halnya dengan televisi, meskipun televisi melemahkan radio, tetap tidak dapat secara total mengeliminasinya. Maka, cukup adil juga untuk mengatakan bahwa jurnalisme Online mungkin tidak akan bisa menggantikan sepenuhnya bentuk-bentuk media lama2.
Penulisan dan penayangan berita Online hampir sama dengan media massa cetak, khususnya surat kabar. Namun, perbedaannya dalam pola pemuatannya, dimana medianya adalah internet. Umumnya, ketika berita online dibuka, awalnya hanya muncul judul dan lead atau intro berita. Bila ingin mengetahui lebih jauh, pembaca atau pemirsa internet harus membuka (meng-klik) halaman atau link selanjutnya3.
2. Berita
Menurut Willard C. Bleyer dalam buku Newspaper Writing and Editing mengemukakan, berita adalah sesuatu yang terkini melewati proses pemilihan oleh wartawan untuk dimuat di surat kabar karena dapat menarik atau mempunyai makna bagi pembaca atau karena ia dapat menarik pembaca-pembaca media cetak tersebut.
2
Septiawan Santana K, Jurnalisme Kontemporer (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005) h.135
3 Mondry, Pemahaman Teori dan Praktik Jurnalistik (Bogor: Ghalia
“Good News is no news, bad news is good news” ungkapan ini pernah diyakini kebenarannya oleh wartawan dalam kurun waktu lama. Bisa jadi, ungkapan itu benar. Bahwa berita buruk juga akan membuat rasa ingin tahu masyarakat besar. Dalam suasana perang, berita buruk menjadi fakta yang sangat diminati. Tetapi, apakah berita baik itu bukan berita? Jadi, berita-berita baik misalnya seperti penemuan-penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan juga tidak kalah menariknya dari peledakan bom nuklir yang menghancurkan peradaban manusia.4
Tidak ada aktivitas jurnalistik tanpa berita. Unsur terpenting dari aktivitas media dan jurnalistik adalah berita. Profesi wartawan pun sebagian besar berkaitan dengan berita. Salah satu tugas dari wartawan adalah mencari, menulis, dan menyajikan berita. Berita pun menempati porsi 90% dari isi keseluruhan media massa, baik media cetak, media elektronik, maupun media online.
Berita adalah informasi yang penting dan menarik perhatian orang banyak. Berita pun harus mempertimbangkan aspek waktu. Setiap berita terikat dengan waktu dan karenanya, kecepatan penyajian berita patut menjadi perhatian. Menurut M. Assegaf berita adalah laporan tentang fakta atau ide yang termasa, yang dipilih staf redaksi suatu media untuk disiarkan dan
4
menarik perhatian pembaca karena sifatnya yang luar biasa, penting, humor, emosional, dan penuh ketegangan5.
Dapat diargumentasikan bahwa jika media sebagai institusi mengomunikasikan ideologi kepada para audiensnya, maka berita sebagai operasi khusus dalam media adalah pembawa yang ampuh terhadap ideologi ini. Berita adalah sesuatu yang di produksi, seperti halnya banyak media yang lain. Gagasan bahwa hal tersebut digali dari tambang kebenaran adalah salah, meskipun hal itu merupakan metafora yang menarik bagi para wartawan yang memberi tekanan untuk “mendapatkan cerita yang nyata” dan “mendapatkan fakta apa adanya"6.
3. Wartawan
Ada banyak istilah yang digunakan untuk menyebut seseorang bekerja sebagai wartawan. Beberapa sebutan lain dari wartawan antara lain: pemburu berita, pewarta, jurnalis, reporter, newsgetter, dan sebagainya. Wartawan dapat dikatakan sebagai “ruh”-nya jurnalistik atau pers. Wartawan adalah kunci dalam aktivitas jurnalistik. Ketergantungan jurnalistik
5
Syarifudin Yunus, Jurnalistik Terapan (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010) h.45-47
6 Graeme Burton, Media dan Budaya Populer (Yogyakarta: jalasutra,
kepada wartawan sangat tinggi. Tanpa wartawan, maka jurnalistik pun pincang, seperti ada tapi tiada.
Bekerja sebagai wartawan atau jurnalis memiliki gengsi tersendiri, bahkan sebagian orang menilai profesi sebagai wartawan memiliki prestise yang tinggi. Profesi wartawan dianggap publik memiliki “kelas” yang berbeda dengan profesi lainnya. Hal ini dikarenakan profesi wartawan dianggap profesi yang didalamnya memadukan kekuatan pengetahuan dan keterampilan.7
Menurut Dr. Lakshamana Rao sebuah pekerjaan bisa disebut sebagai profesi jika memiliki empat hal yaitu:
a. Harus Ada Kebebasan Dalam Pekerjaan
Wartawan sebagai profesi memiliki kebebasan yang disebut kebebasan pers, yakni kebebasan mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan berita yang berisi gagasan dan informasi. Kebebasan pers di Indonesia tidak berarti bahwa wartawan dapat berbuat semaunya. Didalam menjalankan profesinya tersebut, wartawan terikat dengan aturan perundang-undangan yaitu Undang-Undang Pers.
b. Harus Ada Panggilan Dan Keterikatan Dengan Pekerjaan
Jam kerja wartawan adalah 24 jam sehari. Sebagai seorang profesional, dimana dan kapan saja
7
Syarifudin Yunus, Jurnalistik Terapan (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010) h.37
wartawan harus terjun ke lapangan untuk meliput. Itulah panggilan dan keterikatan wartawan dengan pekerjaannya.
c. Harus ada Keahlian
Keahlian yang dimaksud di sini adalah keahlian mencari, meliput, mengumpulkan wawancara, dan menulis berita, termasuk keahlian dalam berbahasa tulisan Bahasa Indonesia Ragam Jurnalistik (BIRJ). d. Harus ada tanggung jawab yang terikat pada kode
etik pekerjaan
Di bidang jurnalistik, kode etik sangat diperlukan karena adanya tuntutan yang sangat asasi, yaitu kebebasan pers.8
Wilayah kerja wartawan adalah ruang publik, area yang layak diketahui oleh publik atau masyarakat. Karena itu, wartawan dituntut memiliki kemampuan dalam mengungkap atau mengonfirmasikan suatu masalah secara lengkap dengan menjunjung tinggi nilai kebenaran dan nilai keadilan.
Seorang wartawan harus mengedepankan karya jurnalistik yang bersumber pada dua aspek yaitu faktual dan akurat. Faktual artinya hasil kerja wartawan mengenai suatu kejadian di lapangan disajikan secara apa adanya. Sedangkan akurat berkaitan dengan semua berita yang dapat di percaya dan selalu melakukan check
8 Indah Suryawati. Jurnalistik Suatu Pengantar (Bogor: Ghalia
dan recheck terhadap suatu informasi sehingga dapat dipertanggungjawabkan dalam setiap pemberitaannya9.
Peran dari wartawan bukan hanya mengumpulkan informasi yang mereka perlukan untuk menyampaikan beritanya, mereka harus memverifikasi informasi itu sebelum menggunakannya. Wartawan mengandalkan observasi dari tangan pertama sebisa mungkin dan banyak sumber lain untuk memastikan bahwa informasi yang mereka peroleh dapat diandalkan kecuali dalam kasus-kasus yang langka, mereka menyebutkan jati diri sumber informasi mereka sehingga khalayak dapat mengevaluasi kredibilitas informasi itu.10
4. Jurnalistik Islami
Dalam perspektif Islam, Jurnalistik dapat dimaknai sebagai suatu proses meliput, mengolah, dan menyebarluaskan berbagai peristiwa dengan berbagai muatan nilai-nilai Islam kepada khalayak, serta berbagai pandangan dengan perspektif ajaran islam. Menurut Suf Kasman dalam bukunya yang berjudul “Jurnalisme Universal: Menelusuri Prinsip-prinsip Da‟wah bi Al-Qalam dalam Al-Qur‟an” mengatakan bahwa jurnalis dapat dikatakan sebagai al-Qalam sebab sepanjang sejarahnya bertugas merekam apa yang sudah terjadi dan
9
Syarifudin Yunus, Jurnalistik Terapan (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010) h.39-42
10 Deborrah Potter, Buku Pegangan Jurnalisme Independen (Biro
memprediksi apa yang bakal terjadi. Jurnalis merupakan pemahat-pemahat yang mengabadikan peristiwa dan pandangan (news and views) dalam batu sejarah umat manusia.11
Peran signifikan dari jurnalistik islami untuk menentukan masa depan islam mendapatkan perhatian dari banyak cendekiawan Muslim. Karya-karya yang berupaya menggali peran jurnalistik di masa lampau dan prospeknya di masa datang sangat banyak berserak. Namun belum satupun mengkaji jurnalistik Islam dalam posisinya sebagai peluang syi’ar bi al-qalam, apalagi mencoba menggalinya secara langsung dari pesan-pesan Al-Qur’an.12
Menurut Dedi Jamaluddin yang dikutip Rusydi Hamka mengungkapkan empat prinsip dari Jurnalistik Islam sebagai berikut:
a. Pertama, Jurnalistik Islam harus kritis terhadap lingkungan luar dan sanggup menyaring informasi Barat yang kadang menanam bias kejahatan terhadap Islam.
b. Kedua, Jurnalistik Islam harus mampu menjadi penerjemah dan frontier spirit bagi pembaruan dan gagasan-gagasan kreatif kontemporer. Disini
11
Suf Kasman, Jurnalisme Universal: Menelusuri Prinsip-prinsip Da‟wah bi Al-qalam dalam Al-Qur‟an (Jakarta:TERAJU, 2004) h.2
12
Suf Kasman, Jurnalisme Universal: Menelusuri Prinsip-prinsip Da‟wah bi Al-qalam dalam Al-Qur‟an (Jakarta:TERAJU, 2004) h.4
Islam perlu diorientasikan ke depan agar sanggup berbicara mengenai berbagai problem sosial dewasa ini dan nanti.
c. Ketiga, Jurnalistik Islam hendaknya sanggup melakukan proses sosialisasi sebagai upaya untuk memelihara dan mengembangkan khazanah intelektual Islam.
d. Keempat, Jurnalistik Islam harus sanggup mempersatukan kelompok-kelompok umat sambil memberikan kesiapan untuk bersikap terbuka bagi perbedaan paham.13
Sebagaimana Al-Qur’an surat Al-Hujarat (49):6 sebagai berikut:
اوُبيِصُت ْنَأ اوُنَّيَبَتَف ٍإَبَنِب ٌقِساَف ْمُكَءاَج ْنِإ اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّيَأ اَي
ُتَف ٍةَلاَهَجِب اًمْوَق
َنيِمِداَن ْمُتْلَعَف اَم ٰىَلَع اوُحِبْص
“Hai Orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadannya yang
13
Suf Kasman, Jurnalisme Universal: Menelusuri Prinsip-prinsip Da‟wah bi Al-qalam dalam Al-Qur‟an (Jakarta:TERAJU, 2004) h. 8
menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”14
B. Kode Etik Jurnalistik
1. Pengertian Kode Etik Jurnalistik
Dari segi Bahasa, etika berasal dari Bahasa Yunani Kuno ethos. Kata ethos dalam bentuk tunggal mempunyai banyak arti, yaitu tempat tinggal, adat, kebiasaan, sikap, cara berfikir. Dalam bentuk jamak (to etho) artinya adalah adat kebiasaan. Sedangkan kode berasal dari Bahasa inggris code yang berarti himpunan atau kumpulan peraturan tertulis15. Dari istilah kata tersebut dapat dikatakan bahwa kode etik adalah kumpulan etika yang dibuat secara tertulis. Istilah etika memang masih bersifat umum, namun jika diawali dengan kata “kode” maka sudah pasti itu menunjuk kepada etika profesi tertentu.16
Pers atau wartawan dalam menjalankan tugasnya tentu memiliki kebebasan yang telah diatur dalam undang-undang dan tetap memiliki batasan-batasan serta aturan-aturan yang mengatur dalam kegiatannya, agar tidak bertentangan dengan Hak Asasi Manusia dan tetap
14 Https://tafsirq.com/topik/al-hujarat-ayat-6 diakses pada tanggal 29
Januari pukul 14:22.
15
Wina Armada Sukardi, Kode Etik Jurnalistik dan Dewan Pers (Jakarta: Dewan Pers, 2008) h. 5.
16
Wina Armada Sukardi, Kajian Tuntas 350 Tanya Jawab UU Pers Dan Kode Etik Jurnalistik (Jakarta: Dewan Pers, 2013) h. 301
menjunjung tinggi nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.
Kode Etik Jurnalistik pada dasarnya dibuat agar wartawan dapat bertanggung jawab dalam menjalankan profesinya, yaitu mencari dan menyajikan informasi. Kode Etik Jurnalistik berperan untuk mengawasi, melindungi sekaligus membatasi kerja sebuah profesi, termasuk profesi sebagai wartawan.
Meskipun kebebasan pers dijamin undang-undang, namun tidak ada satu surat kabar atau majalah, bahkan media massa yang bebas melakukan sesuatu kesalahan, kejahatan, atau penghinaan dan pencemaran nama terhadap seseorang, kelompok organisasi, atau instansi tertentu, baik disengaja maupun tidak, Karena suatu kelalaian17.
Kemerdekaan pers adalah sarana masyarakat untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi, guna memenuhi kebutuhan hakiki dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Dalam mewujudkan kemerdekaan pers itu, wartawan Indonesia juga menyadari adanya kepentingan bangsa, tanggung jawab sosial, keberagaman masyarakat, dan norma-norma agama.
Alwi Dahlan dalam bukunya sangat menekankan betapa pentingnya Kode Etik Jurnalistik bagi wartawan.
17 Kustadi Suhandang, Pengantar Jurnalistik: Seputar Organisasi,
Menurutnya, Kode Etik setidak-tidaknya memiliki lima fungsi, yaitu18:
a. Melindungi keberadaan seseorang profesional dalam berkiprah di bidangnya;
b. Melindungi masyarakat dari malpraktik oleh praktisi yang kurang profesional;
c. Mendorong persaingan sehat antarpraktisi; d. Mencegah kecurangan antar rekan profesi;
e. Mencegah manipulasi informasi oleh narasumber.
Dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban dan peranannya, pers menghormati hak asasi setiap orang, karena itu pers dituntut profesional dan terbuka untuk dikontrol oleh masyarakat. Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas, serta profesionalisme. Atas dasar itu, wartawan Indonesia menetapkan dan menaati Kode Etik Jurnalistik19.
18
Siregar, R.H. Setengah Abad Pergulatan Etika Pers (Jakarta: Dewan Kehormatan PWI, 2005)
19 Sirikat Syah, Rambu-rambu Jurnalistik dari Undang-undang Hingga
Berikut beberapa elemen etika yang patut mendapatkan perhatian dalam pelaksanaan tugas dan perilaku jurnalistik di lapangan:
a. Wartawan mengakui profesi sebagai wartawan: maksudnya adalah wartawan harus jujur untuk menyatakan diri sebagai wartawan jangan berpura-pura.
b. Melindungi kerahasiaan narasumber : Wartawan harus menghormati narasumber yang tidak mau disebutkan identitasnya apabila diminta.
c. Mencari narasumber yang memiliki kapasitas. d. Tidak menerima suap, hadiah, atau fasilitas lain
dari narasumber
e. Mengutamakan akurasi data. f. Memberi kesempatan klarifikasi g. Melaporkan secara berimbang.
h. Membedakan dengan tegas antara fakta dan pendapat pribadi.
i. Menggunakan bahasa yang tepat, j. Tidak menyembunyikan fakta.
2. Kode Etik Jurnalistik dalam Penerapannya
Dalam penerapannya kode etik jurnalistik dibuat bukan hanya sekedar aturan tertulis tetapi harus dilaksanakan oleh seluruh insan pers. Penerapan kode etik jurnalistik merupakan hal yang penting karena dapat
menjadi penentu arah industri jurnalistik yang dikembangkan oleh bangsa Indonesia.
Penerapan Kode Etik Jurnalistik yang konsisten dan penuh komitmen pada akhirnya akan menghasilkan persepsi masyarakat tentang praktik dan perilaku jurnalistik yang objektif dan profesional. Indikatornya akan terlihat melalui penyajian berita yang memiliki kualitas tinggi dan berbobot, adanya independensi yang terpelihara, dan menciptakan tatanan masyarakat yang sadar informasi yang bebas dan bertanggung jawab.20
Insan pers dan media massa sebagai pelaku industri jurnalistik yang ada saat ini menentukan penerapan kode etik secara konsisten. Hal ini dapat menjadi landasan yang membentuk persepsi publik tentang profesionalisme insan pers dan media massa. Kinerja dan reputasi insan pers sangat di pertaruhkan dalam setiap praktik dan perilaku jurnalistik yang diemban di lapangan. Insan pers atau wartawan dituntut untuk melekatkan syarat-syarat seperti: jujur, bertanggung jawab, akurat, dan menjunjung tinggi objektivitas dalam pemberitaan sebagai komitmen dalam penerapan kode etik jurnalistik.
20
Wina Armada Sukardi, Kode Etik Jurnalistik dan Dewan Pers (Jakarta: Dewan Pers, 2008) h. 5
3. Konsep Independensi dalam Kode Etik Jurnalistik Independensi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki makna Kemandirian. Kata kemandirian berasal dari kata diri yang mendapatkan awalan “ke” dan akhiran “an” yang kemudian membentuk suatu kata keadaan atau kata benda. Karena kemandirian berasal dari kata dasar diri, pembahasan mengenai kemandirian tidak dapat dilepaskan dari pembahasan mengenai diri itu sendiri karena diri itu merupakan inti dari kemandirian.21
Kemudian secara etimologi kata “independent” berasal dari bahasa Inggris yaitu independent yang berarti merdeka, berdikari tidak bergantung kepada orang lain, berdaulat. Penggunaan kata independen banyak digunakan pada berbagai hal seperti keuangan, profesi, politik, ekonomi, dan lain sebagainya.22
Independen sering disandingkan dengan kata netralitas, atau bahkan sering disamakan dalam definisinya, padahal keduanya jelas berbeda. Jika netralitas diartikan tak berpihak kepada siapa pun dan apa pun, independensi dimaknai bebas dari kepentingan, kecuali kebenaran. Sebuah media, atau seorang wartawan, bisa saja tak netral dengan memihak satu pihak karena menilai keburukan akan terjadi seandainya
21
Muhammad Ali, Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik (Jakarta: Bumi Aksara, 2006) h. 109
22 Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi (Jakarta: Rajawali Press, 1996) h.
mereka tak menyatakan keberpihakannya, karena publik yang buta tak menerima fakta yang benar dari pihak jahat di seberang pihak yang didukung mereka.23
Salah satu aspek profesionalisme, sebagaimana dijabarkan dalam Kode Etik Jurnalistik (KEJ) adalah independen. Dalam prinsip Kode Etik Jurnalistik sikap independen juga menjadi tuntutan bagi para praktisi jurnalistik karena tertuang dalam pasal satu yang bunyinya
“Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.”
Pengertian dari kalimat independen di atas memiliki makna yaitu: setiap wartawan dalam memberitakan suatu peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers itu sendiri. Akurat berarti dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi. Berimbang berarti semua pihak mendapat kesempatan setara dan tidak beritikad buruk berarti tidak ada niat secara sengaja dan semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.24
23 Dewan Pers, “Menakar Independesi dan Netralitas Jurnalisme dan
Media di Indonesia”. Mengungkap Independensi Media Edisi 09, Juli 2014 h. 6
24 Bekti Nugroho, Samsuri, Pers Berkualitas, Masyarakat Cerdas
Independensi juga dilihat dari tiga level, yaitu pandangan, sikap dan tindakan. Dalam dunia penyiaran, independensi harus menjalankan tidak hanya dalam tataran kognitif saja (pandangan dan sikap), tetapi juga dalam tataran operasional (tindakan).25
Perusahaan pers selaku pemilik modal dan juga yang mengatur segala kebijakan juga memiliki kode tersendiri di luar dari Kode Etik Jurnalistik. Kode dari perusahaan pers itu sendiri tercermin dalam budaya bekerjanya. Kode perusahaan media itu terdiri atas aturan-aturan yang dikeluarkan media pers untuk mengatur perilaku wartawan sebagai pelaku dalam media. Yang orientasinya selalu pada hal yang dianggap baik oleh media pers. Akan timbul kekhawatiran apabila kalau pemilik media pers ikut berpolitik. Independensi dari media tersebut patut untuk di pertanyakan karena secara tanpa sadar berita politik yang disiarkannya akan cenderung berpihak kepada pemilik media pers yang bersangkutan.26
Era komunikasi yang tanpa batas memungkinkan terjadinya pelanggaran Kode Etik Jurnalistik dari insan pers dan media massa dalam melakukan kegiatan jurnalistik. Industri media massa banyak mengundang
25
Dewan Pers, “Menakar Independesi dan Netralitas Jurnalisme dan Media di Indonesia”. Mengungkap Independensi Media Edisi 09, Juli 2014 h. 50
26 Ana Nadhya Abrar, “Tata Kelola Jurnalisme Politik” (Yogyakarta:
ketertarikan investor yang dapat mengancam konflik kepentingan aktivitas jurnalistik suatu media dan wartawannya. Sekalipun dalam naungan kelompok usaha tertentu, wartawan dan media massa harus tetap mengedepankan independensi dan objektivitas sehingga terhindar dari konflik kepentingan pihak-pihak tertentu.
Ada anggapan, semua karya jurnalistik bersifat subjektif. Sejak memilih peristiwa yang diberitakan, memilih narasumber, menentukan judul, meramu bahasa, hingga pilihan perspektif, kesemuanya berlaku subjektif. Peter Berger mengategorikan isi media massa itu sebagai realitas simbolik sosial yang dibangun dan dikonstruksi oleh produsen-produsen simbol yang sarat dengan realitas subjektif sosial. Sebagai sebuah simbol mustahil bisa sama dengan realitas objektif sosial yang ada di dunia nyata, yang kompleks, dinamis, dan tak terbatas.27
Persoalannya, menurut Henry Subiakto apakah kalau berita dan realitas objektif itu sesuatu yang terpisah, lalu wartawan bebas mengeksploitasi subjektivitas dirinya dalam pemberitaan? Objektivitas, betapa pun sulit harus dilakukan, karena merupakan landasan filosofi media. Bahkan norma etika yang tergantung dalam kode etik jurnalistik pun dasarnya
27
Kasiyanto Kasimin, Sisi Gelap Kebebasan Pers (Jakarta: Prenadamedia Group, 2014) h.75
upaya mewujudkan objektivitas. Tanpa objektivitas pers akan terjebak sebagai alat politik yang tidak bermoral.28
Wartawan juga berusaha bersikap adil dalam meliput dengan tidak menceritakan satu sisi berita saja. Mereka mencari pandangan yang berbeda dan melaporkannya tanpa berpihak pada satu sisi manapun. Selain memverifikasi pernyataan dengan fakta, mereka akan mencari pandangan berbeda dalam kasus-kasus yang sedang diperdebatkan.
Namun, adil tidak sama artinya dengan berimbang. Berimbang menyiratkan bahwa hanya ada dua pihak dalam sebuah berita, padahal kasus demikian ini jarang ada, dan bahwa setiap pihak harus diberi bobot yang setara. Wartawan yang berusaha mencari jenis keseimbangan semu seperti itu dalam berita mereka sebenarnya bahkan bisa menghasilkan liputan yang secara mendasar tidak akurat. Tantangan bagi wartawan adalah melaporkan semua sudut pandang yang penting dengan cara yang adil kepada orang-orang yang terlibat dan yang juga menyajikan gambaran yang lengkap dan jujur kepada khalayak.
Menurut Dan Gilmor dalam Buku “Buku Pegangan Jurnalisme Independen” menyatakan bahwa “Adil artinya, antara lain mendengarkan sudut-sudut pandang berbeda, dan memasukan mereka ke dalam
28 Kasiyanto Kasimin, Sisi Gelap Kebebasan Pers (Jakarta:
jurnalisme, Itu tidak berarti membebek kebohongan atau pelintiran untuk mencapai keseimbangan yang malas itu dan yang akan memaksa wartawan mencari kutipan-kutipan berlawanan ketika fakta-fakta yang ada sepenuhnya mendukung salah satu sisi.”29
C. Analisis Framing 1. Konsep Framing
Analisis framing pada dasarnya merupakan versi terbaru dari pendekatan analisis wacana, khususnya untuk menganalisis teks media. Analisis framing secara sederhana dapat digambarkan sebagai analisis untuk mengetahui bagaimana realitas (peristiwa, aktor, kelompok) dibingkai oleh media melalui proses konstruksi.
Analisis ini mencermati strategi seleksi, penonjolan, dan pertautan fakta ke dalam berita agar lebih bermakna, lebih menarik, lebih mudah diingat, untuk menggiring interpretasi khalayak sesuai perspektifnya. Kata penonjolan di sini didefinisikan sebagai sebuah informasi agar lebih di perhatikan, bermakna dan berkesan. Suatu peningkatan dalam penonjolan mempertinggi probabilitas penerima agar
29
Deborrah Potter, Buku Pegangan Jurnalisme Independen (Biro Program Informasi Internasional Departemen Luar Negeri A.S, 2009) h.10
lebih memahami informasi, melihat makna tajam, lalu memprosesnya dan menyimpannya dalam ingatan30
Jadi dapat dikatakan framing juga merupakan cara atau gaya bercerita yang digunakan oleh wartawan dalam media massa. Cara bercerita, berhubungan dengan apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan oleh wartawan. Perspektif wartawan dibutuhkan ketika menyeleksi dan menulis isu berita, karena perspektif ini yang nantinya akan menjadi parameter untuk menentukan hal-hal apa saja yang perlu ditonjolkanan dikabulkan dalam penulis berita.
Sebagai sebuah metode analisis teks, analisis
framing mempunyai karakteristik yang berbeda
dibandingkan dengan analisis isi kuantitatif. dalam analisis isi kuantitatif, yang ditekankan adalah isi (content) dari suatu pesan atau teks komunikasi. Sementara dalam analisis framing, yang menjadi pusat perhatian adalah pembentukan pesan dari teks.
Framing, terutama, melihat bagaimana
pesan/peristiwa dikonstruksi oleh media. Bagaimana wartawan mengonstruksi peristiwa dan menyajikannya kepada khalayak pembaca.31
30 Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis
Wacana, Analisis Semiotika, Analisis Framing, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002) h.161- 164
31 Eriyanto, Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media, (Yogyakarta:
2. Model Framing Robert Entman
Robert N. Entman adalah salah satu seorang ahli yang meletakkan dasar bagi analisis framing untuk studi media32. Entman melihat framing dalam dua dimensi besar, yaitu seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas.
Dimensi yang pertama yaitu seleksi isu menurutnya Aspek ini berhubungan dengan pemilihan fakta. Dari realitas yang kompleks dan beragam , aspek mana yang diseleksi untuk ditampilkan? Dari proses ini selalu terkandung di dalamnya ada bagian berita yang dimasukkan (include), tetapi ada juga berita yang dikeluarkan (exclude). Tidak semua aspek atau bagian dari isu ditampilkan, wartawan memilih aspek tertentu dari suatu isu.
Dimensi yang kedua adalah penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas. Kata penonjolan itu sendiri dapat di definisikan: membuat informasi terlihat jelas, lebih mudah diingat khalayak. Ketika aspek tertentu dari suatu peristiwa/isu tersebut telah dipilih, bagaimana aspek tersebut ditulis? Hal ini sangat berkaitan dengan pemakaian kata, kalimat, gambar, dan citra tertentu untuk ditampilkan kepada khalayak.
32 Eriyanto, Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media, (Yogyakarta:
Dibalik semua ini, pengambilan keputusan ini mengenai sisi mana yang ditonjolkan tentu melibatkan nilai dan ideologi para wartawan yang terlibat dalam proses produksi sebuah berita.33 Karena kemenonjolan adalah produk interaksi antara teks dan penerima, kehadiran frame dalam teks bisa jadi tidak seperti yang di deteksi peneliti, khalayak masih mungkin mempunyai pandangan atas suatu teks dan bagaimana teks berita tersebut di konstruksi dalam pikiran khalayak.
Dalam konsepsi Entman, framing pada dasarnya merujuk pada pemberian definisi, penjelasan, evaluasi, dan rekomendasi dalam suatu wacana untuk menekankan kerangka berpikir tertentu terhadap peristiwa yang diwacanakan. Menurut Entman, framing berita dapat dilakukan dengan empat teknik, yakni:
Tabel 2.1 Skema Framing Model Robert N. Entman
Problem Identifications Yaitu proses
mengidentifikasi masalah. Bagaimana suatu peristiwa atau isu dilihat? sebagai apa? Atau sebagai masalah apa?.
Diagnose Causes Yaitu memperkirakan
masalah atau sumber
33 Alex Sobur, Analisis Teks Media, (Bandung: PT. Remaja
masalah. Peristiwa itu dilihat disebabkan oleh apa? apa yang dianggap penyebab masalah? siapa (aktor) yang dianggap penyebab masalah. Make Moral Judgement Yaitu evaluasi moral. Nilai
moral apa yang disajikan untuk menjelaskan masalah? Nilai moral apa yang dipakai untuk melegitimasi atau mendelegitimasi suatu tindakan?
Treatment Recommedations
Yaitu menawarkan suatu cara penanggulangan masalah dan kadang memprediksikan
penanggulangannya34
Frame berita timbul dalam dua level. Pertama, konsepsi mental yang digunakan untuk memproses informasi dan sebagai karakteristik dari teks berita. Dan yang kedua adalah perangkat spesifik dari narasi berita yang dipakai untuk membangun pengertian mengenai suatu peristiwa.
34 Eriyanto, Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media, (Yogyakarta:
3. Efek Framing
Pendekatan analisis framing memandang wacana berita sebagai semacam arena perang simbolik antara pihak-pihak yang berkepentingan dan pokok persoalan wacana. Setiap pihak berusaha menonjolkan basis penafsiran, klaim atau argumentasi masing-masing, berkaitan dengan persoalan yang diberikan.
Kalangan pemerintah, media massa, aktivis sosial, dan pihak yang berkepentingan saling berpacu menggunakan media massa untuk menonjolkan klaim, konstruksi sosial, dan definisi masing-masing tentang peristiwa atau masalah itu. Keputusan atau kecenderungan media diantaranya juga dipengaruhi oleh sumber elite yang diwawancarai. Dampak perang simbolik ini menghasilkan efek mendukung atau menentang, yang dalam bentuk konkretnya berupa penggambaran positif mengenai diri sendiri.
43
BAB III
GAMBARAN UMUM LATAR PENELITIAN A. Gambaran Umum Republika.co.id
Sebagai salah satu media informasi di Indonesia, kehadiran Republika diawali sebagai media massa cetak berupa koran nasional. Republika didirikan pada tahun 1993 dan merupakan koran islam yang berasosiasi dengan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang pada saat itu diketuai oleh BJ Habiebie dan para wartawan profesional muda berhasil menembus pembatasan ketat sosial izin penerbitan. Hingga lahirnya pada tanggal 4 Januari 1993, lahirnya surat kabar komunitas muslim pertama bernama Republika. Setelah kiprah politik ICMI surut, kini sebagian besar saham Republika dimiliki oleh Mahaka Media. Tujuan awal didirikannya Republika adalah untuk menampung aspirasi komunitas muslim dalam konteks wacana nasional yang disalurkan melalui pluralisme informasi kepada masyarakat luas.
Sejak awal penerbitannya, oplah penjualan surat kabar Republika semakin meningkat. Penjualan surat kabar Republika mencapai 100.000 dalam sepuluh hari penerbitannya. Republika mencapai penjualan oplah mencapai 40.000 eksemplar per hari pada semester awal tahun 1993, kemudian semakin meningkat pada semester kedua mencapai 130.000 eksemplar per hari. Masih pada tahun yang sama, jumlah pembaca harian Republika
mencapai 550.000. menurut data SRI, harian Republika berada pada urutan kedua sebagai media nasional yang paling banyak dibaca serta memiliki daya beli lebih.
Dari tahun ke tahun Republika terus mengalami perkembangan dan berupaya untuk melakukan penyempurnaan seiring berkembangnya teknologi komunikasi. Pada tahun 1995, selain menyajikan informasi dalam bentuk surat kabar, Republika juga menampilkan situs website. Situs tersebut diberi nama Repubika Online (ROL). ROL hadir sejak 17 Agustus 1995, dua tahun setelah Harian Republika terbit. ROL merupakan portal berita yang menyajikan informasi secara teks, audio, dan video yang terbentuk berdasarkan teknologi hipermedia dan hiperteks. Pada tahun 1995 hingga tahun 1998, Republika Online hanya memindahkan berita dari versi cetak semata ke dalam versi online. Namun pada akhir tahun 1998, Republika Online mulai menambahkan berbagai fitur (canal) yaitu breaking news, jadwal shalat, dan konsultasi.
Dengan kemajuan informasi dan perkembangan sosial media, Republika Online kini hadir dengan berbagai fitur baru yang merupakan pencampuran komunikasi media digital. Informasi yang disampaikan diperbarui secara berkelanjutan yang terangkum dalam sejumlah kanal, menjadikan sebuah portal berita yang bisa dipercaya. Selain menyajikan informasi Republika Online juga menjadi rumah
komunitas. Republika Online kini juga hadir dalam versi English.1
B. Visi dan Misi Republika.co.id
Republika.co.id memiliki beberapa visi diantaranya: 1. Menegakkan amar ma’ruf nahi munkar
2. Membela, melindungi, dan melayani kepentingan umat 3. Mengkritisi tanpa menyakiti
4. Mencerdaskan, menyelidiki dan mencerahkan 5. Berwawasan Kebangsaan.
Sedangkan misi dari Republika.co.id dibagi ke dalam beberapa bidang diantaranya:
1. Bidang Politik
Memiliki misi mengembangkan demokrasi, optimalisasi peran lembaga Negara, mendorong partisipasi politik semua lapisan masyarakat, penghargaan kepada hak-hak sipil dan mendorong terbentuknya pemerintah yang bersih.
2. Bidang Ekonomi
Mendukung keterbukaan dan demokrasi ekonomi, berpihak pada ekonomi domestik dari pengaruh globalisasi, mempromosikan etika dan moral dalam berbisnis, mengembangkan ekonomi Syariah dan berpihak pada usaha kecil, menengah dan koperasi.
1 Profil Republika.co.id https://www.republika.co.id/page/about diakses
3. Bidang Budaya
Mengembangkan bentuk-bentuk Kesenian dan hiburan yang sehat, mencerdaskan menghaluskan perasaan dan mempertajam kepekaan nurani menolak bentuk-bentuk kebudayaan atau Kesenian yang merusak moral dan aqidah, menolak aksi pornografi dan pornoaksi dalam pemberitaannya.
4. Bidang Agama
Mempromosikan semangat toleransi, mewujudkan agama Islam sebagai agama yang cinta damai, melindungi dan melayani kepentingan umat.
5. Bidang Hukum
Yang mendorong terwujudnya masyarakat sadar hukum, menjunjung tinggi supremasi hukum dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM).
C. Susunan Manajemen dan Redaksi Republika.co.id Tabel 3.1 : Manajemen dan Redaksi Republika.co.id
Posisi Nama
Pemimpin Redaksi Irfan Junaidi Wakil Pemimpin Redaksi Nur Hasan Murtiaji Redaktur Pelaksana ROL Elba Damhuri Wakil Redaktur Pelaksana ROL Joko Sadewo
Asisten Redaktur Pelaksana ROL Didi Purwadi, Muhammad Subarkah, Budi Rahardjo
Tim Redaksi Agung Sasongko, Bayu
Indira Rezkisari, Israr Itah, Yudha Manggala Putra, Dwi Murdaningsih, Nidia Zuraya, Nur Aini, Teguh
Firmansyah, dll.
Tim Sosmed Fanny Damayanti, Asti Yulia Sundari, Dian Alfiah,
Ammar Said
Tim IT dan Desain Mohammad Afif, Abdul GAdir, Nandra Maulana Irawan, Mardiah, Kurnia Fakhrini, Mariz
Kepala Support dan GA Slamet Riyanto
Tim Support Riky Romadon, Firmansyah, Abidin, Nurudin Toto Rahedi, Haryadi Sekretaris Redaktur Erna Indriyanti
Tabel 3.2 : PT Republika Media Mandiri Komisaris Utama Muhammad Luthfi Direktur Utama Mira Rahardjo Djarot Direktur Operasional Arys Hilman Nugraha Direktur Konten Irfan Junaidi
Manager Senior Keuangan, SDM, Umum
Ruwito Brotowidjoyo Manager Iklan dan
Pengembangan Daerah
Indra Wisnu Wardhana Manager Promosi dan Event HR Kurniawan
Manager Produksi Nurrokhim