159 6.1 Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perkembangan kota kecil di Joglosemar dalam konteks sistem perkotaan wilayah Jawa Tengah dan DIY. Ada empat pertanyaan yang ingin dijawab melalui penelitian ini. Dari analisis dan pendalaman yang dilakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.
Pertanyaan pertama penelitian ini adalah bagaimana perkembangan kota-kota kecil di koridor Joglosemar dalam konstelasi perkembangan perkotaan wilayah Jawa Tengah dan DIY. Terhadap pertanyaan tersebut ada beberapa kesimpulan, yaitu:
1. Perkembangan kota-kota kecil di Joglosemar terjadi dalam kondisi perekonomian wilayah yang cenderung moderat, dengan rata-rata pertumbuhan 4,8% per tahun dan pendapatan per kapita Rp 13,4 juta per tahun. Kota-kota kecil berkembang dalam konstelasi perkembangan perekonomian wilayah yang maju di ketiga pusat pertumbuhannya sedangkan perkembangan perekonomian wilayah di sepanjang koridornya merupakan percampuran antara wilayah berkembang, mundur dan tertinggal.
2. Perkembangan kota-kota kecil di Joglosemar terjadi dalam proses integrasi perkotaan di sepanjang koridor wilayah. Kota-kota kecil berkembang dalam konteks perubahan karakteristik populasi wilayah yang semakin mengkota yang ditandai dengan meningkatknya proporsi penduduk perkotaan di wilayah koridor.
3. Perkembangan kota kecil di Joglosemar berada dalam sistem perkotaan wilayah yang cenderung seimbang. Perkembangan kota kecil di Joglosemar memberikan kontribusi bagi meningkatnya kondisi distribusi perkotaan yang seimbang tersebut.
Pertanyaan kedua penelitian ini adalah bagaimana faktor perkembangan awal yang menyangkut faktor lokasi dan faktor keterkaitan berperan dalam perkembangan kota-kota kecil yang menjadi kasus. Ada beberapa kesimpulan berkaitan dengan pertanyaan penelitian ini, yaitu:
1. Faktor kedekatan dengan kota besar yang berkedudukan lebih tinggi dalam struktur perkotaan wilayah menjadi faktor awal perkembangan kota kecil di koridor Joglosemar. Keempat kota berada pada jarak 10 km dari kota besar terdekatnya.
2. Faktor awal kedua yang menentukan perkembangan awal kota kecil adalah perkembangan jaringan transportasi, khususnya jaringan kereta api. Faktor awal ini memberikan pengaruh terhadap perkembangan kota kecil pada tahap perkembangan berikutnya.
Pertanyaan ketiga penelitian adalah bagaimana faktor perkembangan saat ini yang menyangkut aspek perubahan populasi, struktur perekonomian dan kawasan terbangun berperan dalam perkembangan kota-kota kecil yang menjadi kasus. Terhadap pertanyaan penelitian, hasil kajian mengarah kepada beberapa kesimpulan sebagai berikut ini:
1. Perkembangan penduduk perkotaan mengalami pertumbuhan mulai 1980 sampai dengan 2000. Pada periode 2000-2010 terdapat kecenderungan perkembangan yang melambat. Ini memberikan konfirmasi terhadap diskusi dalam berbagai literatur bahwa perkembangan kota kecil cenderung mengalami stagnasi. Dari keempat kota hanya Ampel yang tumbuh tinggi, dengan pertumbuhan lebih dari 2% per tahun.
2. Struktur perekonomian kota kecil ditandai dengan dominasi sektor tersier. Hal ini mengindikasikan bahwa kota-kota kecil cenderung berkembang sebagai pusat pelayanan (service center). Agak berbeda dengan ketiga kota lain, Ampel cenderung berkembang sebagai pusat industri pengolahan. Ampel menyumbang 9% dari keseluruhan industri di Boyolali.
3. Perkembangan kawasan terbangun pada kota kecil meningkat dengan pertumbuhan yang rendah. Perluasan kota berjalan secara lambat. Pada kasus Ampel, perkembangan yang cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan tiga kota lainnya karena perkembangan industri di bagian wilayah kotanya.
Pertanyaan keempat penelitian ini adalah bagaimana fungsi kota-kota kecil yang menjadi kasus dalam proses perkembangannya memberikan kontribusi bagi perkembangan kota dan wilayah. Beberapa kesimpulan bisa ditarik dari hasil penelitian ini, yaitu:
1. Pada fungsi pembangunan (development function), kota-kota kecil berkembang dengan beberapa fungsi yang berbeda. Secara umum kota-kota kecil berkembang dengan fungsi sebagai pusat pelayanan sosial, pusat perdagangan dan pusat pemerintahan dan pelayanan umum. Ampel mulai berkembang sebagai pusat industri pengolahan.
2. Perkembangan fungsi-fungsi pembangunan tersebut didorong oleh diversifikasi kegiatan perekonomian. Kota kecil mempunyai sektor basis yang beragam di mana keberagaman ini menjadi potensi bagi keberlangsungan perkembangan kota kecil di masa yang akan datang.
3. Fungsi keterkaitan kota-kota kecil berkembang karena adanya fasilitas transportasi yang berkembang telah lama. Faktor perkembangan awal masih menjadi penciri fungsi keterkaitan pada kota kecil.
4. Terdapat kecenderungan menurunnya peran fasilitas dan moda transportasi umum dalam perkembangan kota kecil yang ditandai dengan berkurangnya volume penggunaan fasilitas transportasi ini.
5. Fungsi-fungsi yang melekat pada kota kecil belum terakomodasi secara baik dalam dokumen perencanaan wilayah, khususnya dalam rencana tata ruang wilayah. Arahan pengembangan fungsi kota kecil masih bersifat umum.
6.2 Rekomendasi
6.2.1 Rekomendasi untuk Pengembangan Keilmuan
Perkembangan kota kecil bisa terjadi karena beberapa faktor. Sebagaimana dinyatakan oleh Rondinelli (1983a) faktor penentu awal yang membuat sebuah kota kecil berkembang atau tidak. Faktor penentu awal ini bisa merupakan kombinasi dari berbagai macam hal, seperti kedudukan dalam sistem ruang lebih luas, basis ekonomi awal wilayah sekitar kota tersebut, dan pengaruh sistem keterkaitan. Kombinasi di antara berbagai faktor ini bisa bersifat kuat atau lemah tergantung dari jenis keterkaitan yang terjadi di antara berbagai faktor tersebut. Ada kasus di mana faktor awal tersebut kuat karena kota tertentu menjadi basis ekonomi ekstraktif seperti pertambangan, namun dalam perkembangannya ketika terjadi penurunan nilai ekonomis dari kegiatan tersebut perkembangan kotanya juga mengalami penurunan, bahkan pada akhirnya menyebabkan hilangnya kota-kota tersebut dalam sistem keruangan wilayah. Dengan demikian, kedudukan dan potensi ekonomi pada awal perkembangan bukan menjadi satu-satunya penentu perkembangan kota-kota kecil.
Hinderink dan Titus (2002) memberikan argumentasi bahwa faktor-faktor yang bersifat lokal sangat berpengaruh terhadap perkembangan kota kecil. Untuk kota-kota di Asia Tenggara umumnya dan Indonesia khususnya, keberadaan lahan pertanian subur yang berada di wilayah belakang kota kecil menjadi faktor penting. Kekayaan sumberdaya alam di wilayah perdesaan menyebabkan terjadinya surplus produksi pertanian. Surplus ini sejalan dengan meningkatnya permintaan terhadap produk pertanian pada kawasan perkotaan besar. Surplus produksi dan permintaan yang meningkat ini mendorong terjadinya transaksi ekonomi, dan transaksi ekonomi ini memberikan keuntungan bagi kota-kota kecil yang berada di antaranya untuk berkembang. Dengan demikian, hubungan desa-kota dalam kontinum produksi-konsumsi ini menyediakan sebuah konteks yang tepat bagi kota kecil untuk berkembang (lihat juga Douglass, 1998).
Sejalan dengan pandangan-pandangan tersebut, perkembangan kota-kota kecil akan berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya tergantung bagaimana pola hubungan antara kota kecil tersebut dengan kota yang lebih besar dan wilayah belakangnya yang bercirikan pedesaan. Menurut argumentasi Rondinelli (1983a) pola hubungan dalam perjalanan waktu akan menciptakan keunggulan berbanding (comparative advantage), efek pengganda (mutiplier effect), dan ekonomi skala (economic of scale). Kombinasi ketiga hal ini menjadi faktor perkembangan baru yang mengkonsolidasikan perkembangan kota kecil ke tahap berikutnya, yang ditandai dengan perubahan ukuran kota. Dengan kata lain, perkembangan ini akan secara evolutif mengubah kedudukan kota-kota kecil menjadi kota dengan orde yang lebih tinggi dalam sistem kewilayahan.
Dalam penelitiannya yang dilakukan di berbagai tempat di negara-negara sedang berkembang, Hinderink dan Titus (2002) sampai pada temuan penting bahwa kota-kota kecil di negara berkembang berperan secara biasa saja (modest role) dalam pengembangan pertanian wilayah belakang. Seringkali pengembangan pertanian di wilayah belakang dilakukan melalui program-program sektoral yang bersifat mikro yang langsung berhubungan dengan petani. Kondisi ini sedikit banyak memotong peran kota kecil sebagai awal dari kemajuan bagi perkembangan wilayah belakangnya. Pada akhirnya, kota-kota kecil ini tetap pada fungsi awalnya yakni sebagai tempat penyedia jasa layanan dan pusat perdagangan bagi wilayah belakang. Dengan kecenderungan yang seperti ini, menurut Hinderink dan Titus (2002), kota kecil mempunyai peran yang tidak penting dalam pengembangan wilayah. Argumentasi ini sejalan dengan pendapat Douglass (1998) bahwa hubungan kota-desa pada proses perkembangan wilayah di negara berkembang sering mengalami kondisi yang terputus (truncated linkage).
Terganggunya pola keterkaitan ini bisa membawa implikasi pada dua hal. Pertama, kesenjangan makin besar antara wilayah pedesaan dengan kawasan perkotaan besar.
Kedua, pola keterkaitan ini bisa menyebabkan terjadinya stagnasi perkembangan kota kecil.
Kondisi stagnasi perkembangan ini pernah dibahas oleh Hinderink dan Titus (2002) serta Firman (2016b). Stagnasi ini bisa terjadi karena beberapa hal. Hinderink dan Titus (2002) menyatakan bahwa kota-kota kecil mempunyai karakter bergantung (dependent). Ketergantungan ini terutama berhubungan dengan keberadaan surplus produksi pada wilayah perdesaan di belakangnya. Jika terjadi surplus pada sistem pertanian perdesaan, maka fungsi kota kecil sebagai perantara dan pusat layanan akan berkembang, demikian sebaliknya. Selain itu, kondisi struktur perekonomian lokal pada
wilayah yang melingkupi kota kecil ini memberikan pengaruh terhadap kondisi stagnasi tersebut atau tidak.
Hasil penelitian sebagaimana dibahas dalam bagian sebelumnya telah mengemukakan mengenai perkembangan kota-kota kecil di koridor Joglosemar. Dari pembahasan tersebut dapat diketahui ada tiga tipe perkembangan kota kecil yang terjadi, yaitu:
1. Kota kecil yang mengalami perkembangan secara menyeluruh. Semua indikator perkembangan kota mengalami perubahan secara positif. Perkembangan jenis ini bisa disebut sebagai promosi. Ampel termasuk dalam kategori ini.
2. Kota kecil yang mengalami perkembangan secara parsial. Pada kasus seperti ini, perkembangan hanya terjadi pada sebagian indikator perkembangan kota. Muntilan termasuk dalam kelompok ini.
3. Kota kecil yang cenderung mengalami stagnasi. Kondisi ini menggambarkan ada perkembangan yang tidak signifikan karena berada di bawah nilai rata-rata wilayah.
Dua kota, yaitu Ambarawa dan Delanggu tergolong dalam kelompok ini.
Pemahaman terhadap aspek teoritis serta mengkaitkannya dengan hasil penelitian dapat membawa implikasi adanya pengetahuan yang menjadi kebaruan (novelty) dari penelitian ini. Dari refleksi teoritik terhadap hasil penelitian dan mendiskusikannya dengan telaah pustaka yang berasal dari hasil penelitian lain, maka penelitian ini mengusulkan sebuah model yang dinamai Model Perkembangan Kota Kecil. Model ini adalah model deskriptif tentang proses perkembangan kota kecil. Model ini dapat berlaku umum, tetapi karena model berasal dari refleksi hasil penelitian yang dilakukan pada kasus Indonesia yang sedang berkembang, model ini seharusnya dipahami dalam konteks Indonesia dan negara sedang berkembang.
Di dalam Model Perkembangan Kota Kecil ini terdapat beberapa komponen penting yang menjadi faktor perkembangan kota. Komponen tersebut adalah:
1. Sistem keruangan wilayah makro. Yang dimaksud dengan sistem keruangan wilayah makro ini adalah konfigurasi ruang wilayah di mana di dalamnya terdapat dua komponen utama yakni kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan atau kota.
Perdesaan adalah wilayah produksi pertanian, sementara kota adalah pusat permukiman dan pusat kegiatan ekonomi. Kota-kota dalam sistem keruangan wilayah makro ini membentuk tata jenjang (orde) di mana kota-kota berbeda dalam ukuran (urban size) terorganisasi dalam sebuah kontinum. Ukuran bisa berhubungan dengan jumlah penduduk, luas wilayah, perekonomian ataupun kombinasi dari beberapa faktor. Selain ukuran di dalam konfigurasi sistem keruangan wilayah makro terdapat elemen jarak. Jarak yang dimaksudkan dalam hal ini adalah jarak dari kawasan perdesaan yang berada di wilayah belakang (hinterland) kota kecil tertentu ke kota- kota yang berada pada hirarki di atasnya. Jarak dalam hal ini bisa dalam bentuk jarak fisik maupun jarak nonfisik, yang pada era sekarang bisa ditandai dengan kecepatan akses terhadap informasi dan sumber pengetahuan. Pertimbangan jarak dalam pengertian akses ini penting pada era di mana dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, jarak fisik mulai berkurang signifikansinya dalam banyak urusan mobilitas sumberdaya.
2. Komponen ruang wilayah. Di dalam sistem keruangan wilayah makro tersebut terdapat tiga elemen penting. Pertama adalah kota besar, yaitu kota-kota yang di dalam tata jenjang sistem perkotaan wilayah berada pada urutan lebih tinggi dibandingkan dengan kota-kota kecil. Kedua adalah kota kecil yakni pusat permukiman yang kedudukannya dalam sistem perkotaan berada pada orde yang
rendah (lower order center). Ketiga adalah kawasan perdesaan yang beberapa di antara mempunyai pusat perdesaan yang menjadi titik akhir dalam kontinum perkotaan. Kota-kota kecil dalam sistem keruangan ini mempunyai fungsi perantara (intermediary function) yang menjembatani kota besar dan kawasan perdesaan.
Gambar 6.1 berikut ini menjelaskan gambaran sistem keruangan wilayah makro dalam Model Perkembangan Kota Kecil ini.
Gambar 6.1 Kerangka Dasar Sistem Keruangan Wilayah Makro
Berdasarkan kerangka dasar sistem keruangan makro tersebut, kota-kota kecil dapat berkembang ataupun tidak berkembang. Berkembang dan tidaknya kota kecil sangat tergantung pada beberapa kondisi yang terjadi pada wilayah makro yang menjadi konteks perkembangan kota kecil itu. Ada tiga kemungkinan perkembangan yang bisa terjadi, yaitu:
1. Stagnasi, yakni kondisi di mana dengan berjalannya waktu kota kecil mengalami perkembangan yang tetap atau tidak mengalami perkembangan tetapi tidak
mengalami kemunduran. Dengan kata lain, perkembangan kota kecil tersebut tidak signifikan.
2. Promosi, yakni kondisi di mana dengan berjalannya waktu kota kecil mengalami perubahan ukuran sehingga kedudukan dalam sistem keruangan wilayah bergeser.
3. Degradasi, yakni kondisi di mana kota kecil mengalami kemunduran sehingga tidak lagi bisa mengemban fungsi sebagai pusat pelayanan wilayah belakang.
Ketiga kemungkinan tersebut dapat tergambarkan dalam Model Perkembangan Kota Kecil (Gambar 6.2). Pertama, kemungkinan di mana kota kecil mengalami stagnasi perkembangan. Stagnasi perkembangan ini terjadi jika surplus yang terjadi pada wilayah belakang seimbang dengan perkembangan permintaan pada kawasan perkotaan dengan orde yang lebih tinggi. Dalam kondisi yang demikian, kota kecil tidak mengalami perubahan peran dalam perkembangan wilayah. Peran kota kecil dalam Gambar 6.2 diagram (a) tersebut cenderung tetap, meskipun secara nyata ada perkembangan baik pada kotanya itu sendiri, kawasan perdesaan di wilayah belakangnya, maupun kota pada orde yang lebih tinggi.
Kedua, kota kecil bisa juga mengalami promosi dalam peran dan fungsi bagi perkembangan wilayah. Kondisi ini bisa terjadi karena alasan alamiah maupun karena adanya intervensi kebijakan pengembangan wilayah. Perkembangan secara alamiah bisa terjadi karena surplus pada wilayah belakang mendorong munculnya peluang ekonomi baru pada kota kecil. Peluang ekonomi baru akan menciptakan keuntungan aglomerasi sehingga kota kecil akan berubah secara ukuran dan fungsi. Selain perkembangan secara alamiah, perubahan peran kota kecil ini dalam makro wilayah ini bisa terjadi karena intervensi pembangunan, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta.
Intervensi ini bisa dalam bentuk upaya pembangunan infrastruktur skala besar,
pengembangan ekonomi wilayah maupun dalam bentuk investasi swasta melalui relokasi industri, pengembangan obyek wisata, serta pengembangan kawasan permukiman skala besar. Model seperti ini tertera dalam diagram (b) pada Gambar 6.2. Pada saat kota kecil mengalami promosi, satu atau beberapa kawasan perdesaan bisa mengalami kenaikan peran dalam sistem perwilayahan.
Ketiga, sama dengan kondisi kedua, pada kondisi perkembangan ini kota kecil mengalami perkembangan karena faktor tarikan dan kedekatan dengan kota dengan orde lebih tinggi. Sebagaimana tercantum dalam Gambar 6.2 diagram (c), perkembangan kota kecil yang berpola seperti ini akan cenderung menciptakan kesenjangan yang semakin besar dengan kawasan perdesaan di wilayah belakangnya.
Keempat, ada kemungkinan kota kecil mengalami penurunan peran (lihat diagram (d) pada Gambar 6.2). Bila stagnasi yang terjadi pada perkembangan kota kecil tidak memperoleh respon kebijakan yang tepat melalui strategi pembangunan wilayah, maka akan terjadi pergeseran peran. Pergeseran peran ini bisa diikuti dengan perubahan ukuran bisa juga tidak. Meskipun belum terdapat bukti empirik yang meyakinkan dalam sejarah perkembangan kota di Indonesia ada sebuah kota yang “ditinggalkan”
(abandoned), kemungkinan munculnya kejadian tersebut tetap terbuka, meskipun sangat kecil. Dalam hal ini, keterikatan penduduk dengan kotanya dalam sejarah perkembangan kota di Indonesia mendorong munculnya sense of place dan kultur primordial yang kuat.
Keterikatan ini pada akhirnya memberikan keuntungan bagi perkembangan kota, karena migrasi penduduk keluar kota diimbangi dengan migrasi masuk sumberdaya modal melalui remitansi, baik yang menerus dan periodik maupun yang musiman.
Berdasarkan pembahasan pada bagian sebelumnya, maka sesuai dengan model tersebut, kota-kota kecil di koridor Joglosemar memenuhi 3 kondisi, yakni:
1. Delanggu dan Ambarawa mengalami kondisi yang sesuai dengan Model A;
2. Ampel mengalami kondisi yang sesuai dengan Model B; dan 3. Muntilan mengalami kondisi yang sesuai dengan Model C.
Gambar 6.2 Model Perkembangan Kota Kecil
6.2.2 Rekomendasi untuk Kebijakan Pengelolaan Kota
Penelitian perkembangan kota kecil ini dapat memberikan implikasi kebijakan pengelolaan kota. Terdapat dua aspek mendasar yang berhubungan dengan perkembangan kota kecil dan cara-cara pengelolaannya. Pertama, perkembangan kota kecil belum terakomodasi secara baik dalam perencanaan. Hal ini terjadi karena terjadi ketidaksinkronan secara substantif antara perencanaan pada skala wilayah dengan perencanaan pada skala kota. Kedua, pengelolaan kota dilakukan dalam kendali pemerintahan yang jauh, karena pemerintah kecamatan hampir tidak mempunyai peran yang berarti dalam proses pengambilan keputusan. Untuk memperbaiki kondisi ini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan dalam proses perumusan kebijakan pembangunan kota kecil di masa yang akan datang sebagaimana tertuang dalam Tabel 6.1.
Tabel 6.1 Rekomendasi untuk Kebijakan Pengelolaan Kota Kecil
No Aspek Kondisi Saat Ini Rekomendasi
1 Proses perencanaan
Perencanaan dilakukan dengan pendekatan sinoptik yang teknokratik
Perlu peningkatan partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan. Forum musrenbang bisa diperkuat dengan bahasan rencana tta ruang
2 Substansi perencanaan Fokus pada aspek perencanaan fisik/tata ruang
Perlu rencana pengembangan ekonomi lokal (kecamatan/
perkotaan)
3 Peran pemerintah kecamatan
Terbatas pada aspek administatif pemerintahan/kependudukan
UU 23/2014 membuka peluang kecamatan diberikan
kewenangan tambahan sesuai kebutuhan.
4 Peran pemerintah desa
Mempunyai otonomi dan sumberdaya pembiayaan sebagai implikasi UU Desa
Perlu integrasi potensi keuangan desa dalam sistem pembiayaan pembangunan kota kecil.
5 Peran masyarakat dan dunia usaha
Sangat terbatas, bahkan nyaris tidak ada dalam proses perencanaan
Perlu diberikan wadah dan mekanisme keterlibatan untuk mengakomodasi nilai-nilai lokal dalam perencanaan dan pengelolaan kota.
6.3 Implikasi Penelitian
Sebagaimana telah didiskusikan pada bagian kajian pustaka, kecenderungan bias kota besar dalam studi perkotaan dan perencanaan wilayah dan kota masih mewarnai dan dominan dalam pada tataran teoritik. Pada konteks Indonesia, pengembangan pengetahuan teoritik yang menyangkut perkembangan kota dan cara-cara penanganannya juga belum menunjukkan kemajuan yang berarti. Studi mengenai pola dan kecenderungan urbanisasi memang telah banyak dilakukan dalam perspektif disiplin ilmu yang beragam juga. Studi yang secara spesifik membahas mengenai kota-kota Indonesia baik dari sudut pandang mikro, meso maupun makro belum banyak dilakukan.
Konsepsi teoritik McGee (1991) mengenai desakota telah memberikan kontribusi penting bagi pengembangan pengetahuan yang berhubungan dengan urbanisasi di negara berkembang. Tesis Ford (1993) tentang struktur kota di Indonesia belum banyak menarik kajian lanjutan mengingat begitu beragamnya variasi kota-kota di Indonesia. Hasil karya klasik Rutz (1987) yang memotret perkembangan kota-kota di Indonesia pada periode 1980an belum diikuti dengan kajian yang sama dalam konteks yang lebih terkini, meskipun komposisi dan struktur sistem perkotaan Indonesia mengalami perubahan yang cukup signifikan pada dasawarsa 1990 hingga 2000. Lebih daripada itu, hal yang paling kurang mendapatkan perhatian adalah mengkaitkan tesis, konsep, model atau teori tentang perkotaan tersebut dalam konteks kota kecil. Sebagaimana kurangnya perhatian terhadap kota kecil dalam studi perkotaan secara umum, hal yang sama juga berlangsung di Indonesia.
Dengan latar belakang yang demikian itu, penelitian ini dan penelitian-penelitian yang sejenis yang berhubungan dengan kota-kota kecil akan memberikan kontribusi yang cukup berarti dalam pengembangan pengetahuan teoritik mengenai perkembangan kota
kecil, baik secara internal maupun dalam perspektif kewilayahan. Selain memberikan sumbangan secara substantif untuk mengisi celah pengetahuan yang ada, penelitian dengan tema kota-kota kecil juga akan membuka cakrawala baru tentang minimnya sumber informasi penting yang berkaitan dengan perkembangan kota di Indonesia.
Penelitian-penelitian tentang kota kecil tersebut selain dapat memberikan sumbangan penting pada tataran ontologis, juga membuka peluang munculnya metode pendekatan baru dalam penelitian perkotaan, baik jika dilakukan dalam ranah disiplin geografi perkotaan maupun perencanaan kota. Jadi, selain ada manfaat secara ontologis, penelitian mengenai kota kecil juga mendorong pengayaan pengetahuan secara epistemologis.
Penguatan pada kedua hal tersebut tentunya akan membawa manfaat yang besar bagi pengembangan kebijakan pengelolaan kota, tidak saja di Indonesia, tetapi bisa juga untuk negara lain khususnya negara berkembang. Untuk itu, ada beberapa penelitian lanjutan yang direkomendasikan, di antaranya:
1. Penelitian tentang dinamika perubahan struktur dan bentuk ruang kota kecil; yang bisa dilihat dari bermacam variasi geografis yang ada di Indonesia (Jawa-Luar Jawa, pesisir-pedalaman, dan sebagainya).
2. Penelitian tentang nilai-nilai lokal yang menjadi penentu perkembangan kota kecil;
dengan berbagai macam variasinya sesuai konteks sosio-kultural yang berlaku.
3. Penelitian tentang model/pendekatan pengelolaan kota kecil, untuk berbagai ukuran kota.
Penelitian-penelitian yang diusulkan tersebut bisa dilakukan dalam kerangka disiplin geografi perkotaan maupun multidisiplin bahkan transdisiplin. Dalam konteks keindonesiaan, penelitian dengan pendekatan tersebut dan dengan fokus pada kota-kota kecil akan sangat memperkaya kazanah keilmuan dalam beragam disiplin itu.